Tanbihun – Nabi Muhammad SAW diutus setelah kerasulan Nabi Isa AS berakhir. Belajar dari pengalaman Isa as yang dinisbatkan Tuhan oleh kaumnya, Nabi Muhammad SAW mengambil metode yang berbeda dengan Rasul seniornya ini, yakni Nabi Isa as.
Nabi Isa as Nampak Sempurna
Sebagai seorang nabi sekaligus rasul Allah, Isa as dimata kaumnya terlihat begitu relative sempurna, beliau lahir atas kuasa Allah langsung, tanpa perantara hubungan biologis seorang bapak dan ibu, dalam kesehariannya pun beliau Nampak sempurna, seperti kita ketahui Isa as selama hidupnya membujang, praktis beliau tidak mempunyai masalah dengan anak atau istri, sehingga boleh dikatakan 100% hidupnya diabdikan diri untuk Tuhannya.
Nabi Muhammad SAW Sangat Manusiawi
Berbeda dengan pendahulunya, Muhammad SAW malah sebaliknya, beliau menonjolkan sisi manusiawinya, yang dalam kitab dikenal dengan sifat jaiz arodhul basyariyah,yaitu sifat-sifat sebagaimana manusia pada umumnya, berjalan-jalan ke pasar,punya anak-istri,sakit,marah, sedih dan sebagainya.
Nabi Muhammad SAW juga pernah sedih, sering menahan lapar,pernah dimarahi istri, pendek kata sama seperti kita, punya masalah, baik dalam rumah tangga maupun hubungan social lainnya. Namun justru inilah yang menyelamatkan umat islam dari pengkultusan atau penisbatan kepada Tuhan, yang paling berhak disembah hanya Allah, Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya, beliau utama-utamanya makhluk, beliau makhluk yang paling mulia,tapi umat Islam tidak pernah menganggap Nabinya sebagai Tuhan atau anak Tuhan.
Dalam kesehariannya Nabi Muhammad SAW sangat-sangat manusiawi, seperti saat beliau sholat malam, beliau tidak membuat atau menyiapkan sebuah ruangan khusus, beliau sholat ditempat dimana biasa beliau tidur bersama istrinya, ini mengajarkan kepada kita,untuk menjaga hubungan dengan Alloh tidak harus memutus hubungan atau memutuskan interaksi dengan keluarga atau masyarakat.
Dalam menyampaikan sabda-sabdanya yang kemudian disebut hadits beliau juga bersikap wajar, tidak mempersiapkan diri dengan pakaian khusus, tempat khusus layaknya seorang tokoh yang akan menyapaikan amanat penting yang sibuk dengan segala protokoler.
Hikmahnya Bagi Kita
Seandainya nabi Muhammad SAW tidak menonjolkan sifat-sifat manusiawinya, kehidupannya serba cukup, rumahnya megah, segala keperluannya tak pernah bertemu kurang, tentu sebagian orang akan berkata “Nabi Muhammad tegak berdakwah karena mendapat fasilitas yang mendukung,wajar sajalah”. Faktanya, beliau juga manusia punya masalah pribadi,punya keluarga,punya kekurangan dari segi ekonomi, tapi ditengah-tengah semuanya itu beliau tetap tegak menyeru kepada seluruh umat manusia untuk menyembah hanya kepada Allah,beliau juga menyempatkan diri untuk menyelesikan segala problematika yang dihadapi ummatnya.
Pun demikian dengan kita, hendaknya dalam berjuang,berdakwah tidak menunggu fasilitas atau keadaan yang longgar, jangan berkata :
“nanti kalau perekonomian sudah mapan saya akan berdakwah”.
“ntar,kalau studi saya sudah selesai, saya akan berjuang”.
“tunggu,kalau saya sudah sakti saya akan berjuang dibarisan paling depan”.
“bentar,kalau masalah sudah selesai, saya akan konsen ibadah”.
“kapan saja istri saya sudah tidak marah-marah,saya akan berdakwah”.
Justru dengan segala kekurangan yang melekat kepada kita inilah yang akan menyelamatkan kita. Kalau keadaan kita sudah mapan, ekonomi bagus,mobil bagus,rumah mewah,istri cantik,anak-anak tertata rapi, orang akan berkata”ya, wajarlah dia tegak berdakwah,lha wong semua sudah tersedia”.
Penutup
Marilah kita kembali meneladani junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW, yang tetap istiqomah menyerukan kebenaran tauhid ditengah-tengah keadaan yang tidak jauh berbeda dengan kita.(zid)



pendekar sakti tidak butuh ruang yang luas untuk menekuk musuhnya. ia diruang sempit tapi bisa berkelit, berjumpalit, dan ciat cit…cit…
banyak yang terjebak yang ingin mendapat pengakuan, ketika masuk dalam dunia
“perjuangan”. hingga sering timbul kesan persaingan,
bukanlah sangat tidak lucu pempermainkan dakwah seperti itu.
lagi-lagi keihlasan dalam setiap keadaan apapun, merupakan ujung tombak yang
tidak bisa ditolelir sebagai bekal dalam “perjuangan”.