Oleh: Reno Ismanto (anggota ISFI Malaysia)
Pengertian Itsar dan Pasar
Itsar, secara sederhana, bisa diartikan dengan sikap atau tindakan mendahulukan orang lain atas diri sendiri. Sifat itsar muncul dari orang yang memang hatinya bersih. Ia muncul dari hati orang yang sangat suka dengan kebaikan, merasa kebahagiaan ketika ia bisa membantu saudaranya.
Tentang itsar ini, kita teringat tentang kisah tiga tentara yang kesemuanya meninggal kehausan, dalam perang yarmuk. Kisahnya, seorang tentara mendapat tiga orang sudah terbaring, dengan luka di sekujur tubuh mereka dan mereka kehausan. Dengan cepat si prajurit memberikan air minum ke prajurit pertama. Akan tetapi ia menolak dan memerintahkan untuk diberikan ke kawan lainnya. Begitu juga seterusnya dengan prajurit kedua dan ketiga. Ketika ia mau kembali ke prajurit pertama, ia dapati prajurit tersebut telah gugur. Ia berlari ke prajurit kedua dan ketiga, pun sudah gugur. Sebegitu kuatnya sifat ini tertanam, bahkan dalam keadaan nyawa sebagai ancaman para prajurit islam tersebut lebih mengutamakan orang lain dari pada dirinya sendiri.
Itsar adalah sifat atau tingkatan tertinggi sebuah , melebihi kedermawanan. Ia bahkan disebut sebagai puncak ukhuwah(persaudaraan bukan karena sedarah).
Sedangkan pasar adalah tempat bertemunya calon penjual dan calon pembeli barang dan jasa. Tetapi yang ingin ditekankan di sini bukanlah pasar secara pengertiannya, tetapi aham yang diikuti secara dalam kegiatan pasar, yaitu prinsip ‘mencari untung sebanyak mungkin dengan modal sekecil mengkin’.
Integritas antara keduanya
Definisi di atas dirasa cukup untuk memberikan gambaran apa itu pasar dan itsar. Intinya, tujuan utama pasar adalah memperoleh sesuatu. Pedagang memperoleh uang dan pembeli memperoleh barang. Sementara istsar, tujuan utamanya adalah membantu, jiwa sosial dan kepedulian. Dalam istsar memang ada unsur memperoleh sesuatu, walaupun jika dikembalikan kepada cara pandang pasar, sebenarnya pemberi mengalami kerugian.
Beberapa hari yang lalu saya berbincang dengan teman saya tentang bisnis saya yang gagal. Saya meminta pendapatnya. Dia kemudian memberikan pandangan bahwa kegagalan bisnis saya adalah karena sikap istsar yang berlebihan pada saya. Dia mencoba membandingkan temannya yang lain yang bisnisnya berhasil. Katanya, dalam bisnis kita harus berpikir bagaimana mendapat untung sebanyak mungkin. Inilah kunci keberhasilan bisnis. Karenanya, itsar akan mempunyai andil yang cukup besar dalam kegagalan bisnis(dagang). Sifat itsar harus diminimalisir sebisa mungkin jika ingin untung dalam bisnis.
Sebenarnya saya tidak terlalu setuju dengan alasan yang dikemukakannya tentang kegagalan bisnis saya. Pada pandangan saya, kegagalan saya lebih disebabkan buruknya managemen dan lemahnya publikasi dan pendekatan kepada pembeli.
Tapi perbincangan tidak sampai di sini. Dari sini kami kemudian bicara banyak hal. Tentang itsar dan pasar ini, kami teringat dengan kehidupan di zaman Nabi ketika di madinah(fase madinah). Sebuah sejarah yang tidak pernah ada duanya di dunia ini adalah persaudaraan yang dijalin oleh nabi antara muhajirin dan anshar. Nama Muhajirin sendiri ketika disebut menggambarkan orang-orang yang teguh, kuat dan rela berkorban meninggalkan tanah kelahiran tercinta dan keluarga demi keyakinan yang dipegangnya. Sedang nama Anshar, menggambarkan orang-orang yang terdidik, berbudaya, mencintai kebenaran dan punya jiwa sosial yang tinggi dan dermawan dalam berkontribusi untuk kebenaran yang diyakininya.
Karakteristik yang unik antara keduanya adalah, bahwa kaum muhajirin kebanyakan berasal dari pedagang karena Mekkah adalah tempat pertemuan kabilah-kabilah arab pada musim haji. Sedangkan kaum anshar kebanyakan dari petani (agrarian) dan peternak. Kaum muhajirin berasal dari daerah yang panas dan persaingan hidup yang ketat di perkotaan. Sedangkan kaum muhajirin berasal dari/hidup di daerah yang suhu udaranya normal antara panas dan dingin, daerah agraris dan perkampungan yang keterhubungan serta jiwa sosial antara masyarakat satu sama lainnya masih sangat kuat. Paduan dua karakteristik yang dibangun atas spirit Islam inilah yang kemudian melahirkan sebuah kebudayaan agung, sebuah contoh tatanan masyarakat ideal, yang tidak pernah ada bandingannya dalam sejarah manusia.
Jika diringkas, pada kaum Muhajirin ada karakteristik pasar; orang-orang yang mampu membaca peluang terciptanya untung perniagaan. Sementara pada kaum anshar ada karakteristik itsar yang sangat tinggi, yang terlihat ketika mereka memberikan setengah harta kekayaan untuk para pendatang (Muhajirin) yang tidak membawa apa-apa karena terusir dari Mekkah. Bahkan direkamkan bahwa mereka menceraikan sebagian istri mereka untuk dinikahkan kepada saudaranya yang pendatang itu.
Maka sebetulnya, antara kedua sikap ini tidak ada pertentangan. Bahwa karakteristik ‘pasar’ memang diperlukan dalam perniagaan. Tetapi sikap pasar ini tidak boleh sampai menjurus kepada sikap individualis, ignorance dan agnostik. karena sikap ini akan mengantarkan kepada perilaku cinta dunia, diperbudak oleh harta, yang pada akhirnya kehilangan jati diri dan terlalai dari tugas sebenarnya di dunia ini, bahwa dunia hanyalah ujian dan tempat berbekal untuk kehidupan yang kekal di sana, di sisi-Nya. Pada tataran ini, sikap peduli, dermawan dan itsar menjadi sangat penting. Tentunya tidak ada yang bisa menjadi pendorong munculnya sifat dermawan dan itsar pada seseorang melainkan dorongan dari agama. Karena hitung-hitunganan pasar, selamanya tidak akan bisa menjadi pendorong untuk sifat ini, karena ia dikategorikan rugi(margin) pada saat itu.
Sudah mulai bisa disimpulkan bahwa itsar tidak membunuh karakteristk ‘pasar’ pada seseorang. Justru ia memberikan balance, agar tidak tenggelam dari sifat ‘pasar’ yang melampau. Lebih jauh, jika dilihat dari kacamata sosial, maka itsar ini menjadi komponen penting bagi kehidupan masyarakat, yang tidak hanya menciptakan keharmonisan, tetapi juga rasa saling menghormati dan mencintai satu sama lain. Inilah tujuan beragama. Dan inilah misi yang diemban islam ketika ia diturunkan kepada manusia; untuk menjadi aturan yang akan menuntun manusia kepada keseimbangan, kesejahteraan, keharmonisan, bertolong-menolong dan berkasih sayang.
Tidak dinafikan bahwa Allah tidak menjadikan manusia sama. Allah melebihkan sebagian di antara yang lainnya dalam kekayaan, kecantikan dan lain-lain. Inilah sunnatullah(nature). Lalu kalau seperti ini, bagaimana Islam menyikapinya. Bagaimana Islam melihat adanya kaum miskin dan kaum kaya? Pada jawaban akan pertanyaan inilah orang akan mendapati keagungan nilai-nilai dan misi-misi luhur yang ada pada Islam.
Alquran menyebut ummat islam sebagai ummat wasatan, dalam segala hal. Islam sendiri datang dengan tujuan untuk menciptakan keseimbangan. Termasuk keseimbangan dalam kehidupan sebuah masyarakat. Maka, untuk permasalahan adanya kemiskinan pada sebagian orang, Islam memberikan instrumen yang bisa menjadi solusi, jika memang diikuti dan dilaksanakan dengan benar. Diantara instrument-instrumen itu ialah zakat, yang ini diwajibkan. Ada juga sadaqah, infaq, memberikan pinjaman hutang, dan termasuk diantaranya itsar.
Lihatlah nilai-nilai yang dibawa oleh Islam ini. Bahkan zakat dijadikan sebagai salahsatu bagian terpenting dari ajarannya. Kemudian untuk instrumen-instrumen lain yang bukan wajib, didapati islam menjanjikan pahala(reward) yang luar biasa bagi mereka yang mempraktekkannya. Dari isntrument-instrument inilah tercipta keseimbangan. Orang-orang miskin tidak akan terbiarkan. Orang-0rang kaya tertanam kepadanya kepedulian, tertanam di jiwanya paham bahwa pada hartanya juga terdapat hak orang lain, tertanam pada dirinya bahwa harta yang ada di tangannya bukan miliknya, tetapi amanah dari Allah untuk digunakan pada jalan yang telah ditentukan dalam agama, yaitu pada kebaikan diri sendiri, keluarga dan membantu sesama.
Inilah pentingnya agama. Sehingga, ketika agama tidak dipandang hanya sebagai praktek-praktek ritual, sebuah gerakan dan perubahan kepada terciptanya sebuah masyarakat yang berbudaya akan terwujud dengan mudah. Maka, agama tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.
Orang-orang zaman sekarang yang tenggelam dalam kehidupan yang mereka sebut modernization, masih bingung bagaimana mencari solusi akan ketimpangan dan kerusakan dalam masyarakat mereka. Sebabnya adalah mereka tidak punya pemahaman yang benar dalam memandang kehidupan ini, mereka masih bertanya-tanya bagaimana mereka hidup dan untuk apa, dan karena kebingungan ini mereka meninggalkan agama mereka. Jadilah mereka menciptakan agama mereka sendiri. Agama yang ajaran-ajarannya terpancar sangat jelas dari sikap hedonisme, menuhankan harta dan kesenangan, mementingkan diri sendiri, prinsp bahwa setiap kerja harus ada bayarannya, dan lain seterusnya.
Jika ingin disimpulkan, semua kerusakan itu berpunca dari sikap ‘pasar’ yang melampau sehingga ia mematikan rasa kepedulian, kedermawanan dan itsar dari mereka, yang penyebab utamanya adalah hilangnya tuntunan agama (yang benar) dari kehidupan mereka.
Wallahu’alam.


