Tanbihun.com- Jama’ah Rifaiyah akhir-akhir ini diserang oleh orang-orang yang mengusung paham wahabi, para jama’ah yang tadinya hidup rukun damai menjalankan ibadah dengan khusu’, baik berupa ibadah mahdhoh, wajib, maupun sunnah, seperti sholat, tahlilan ketika ada saudara seiman yang meninggal dunia, ziarah qubur dan lain-lain.
Ketika paham wahabi muncul diteriakkan oleh sebagian kecil orang dengan teriakan memvonis “tahlilan bid’ah dholalah,dan pelakuknya akan dimasukkan neraka!”. sontak membuat jama’ah kaget sekaligus tersinggung. Saat pertama paham wahabi muncul ditengah-tengah warga rifaiyah mereka selalu menyerang dengan ucapan “mana ada mbah Rifa’i membolehkan tahlilan? yang ada malah beliau melarangnya”. Setelah penulis cermati dalil yang mereka ambil adalah dalil sepotong dan disalah artikan, seperti ;
lan ing hale siro kabeh moho kadosan
podho weruh siro kabeh ing kesalahan
weruh ing benere syara’ nejo ingumpetan
penggawe becik harom ginawe wor-woran
podho rame dzikiran kerono dunyane
dicampuri harom ing dalem majelisane
dzikir, tahlil lan maulud gede dosane
podho ringan akeh mungkar becampurane
akeh ngalim wajib amar naha katinggal
sabenere ilmu syara’ tan dingamal
podho buru sunnah tinggal wajibe ashal
syahadat ibadah nyengojo ginawe bathal
(Riayah Al Himmah Juz Akhir korasan 16)
(dan sebenarnya kalian semua itu sengaja berbuat dosa, karena kalian tahu tentang kesalahannya serta ilmu syara’ sengaja disembunyikan. Perbuatan baik dan haram dicampur adukkan. Melakukan dzikiran ramai karena dunia, dicampur perkara haram dalam majelisnya. Dzikir, tahlil dan maulid menjadi dosa besar sebab banyak kemungkaran di dalamnya. Banyak orang alim meninggalkan kjewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, tidak mengamalkan ilmu syariat yang benar. Mereka semua suka menjalankan sunnah meninggalkan yang wajib sehingga syahadat sholatnya seolah sengaja dibuat bathal).
Nadzoman di atas memberikan penjelasan terang benderang kepada kita bahwa tahlil da maulid Nabi sebenarnya adalah perkara baik dan bahkan sunnah, menjadi haram karena bercampur dengan perkara haram. Nadzoman tersebut beliau sebutkan saat beliau memberikan interpretasi tentang larangan mencampur adukkan perkara yang haq dengan perkara yang bathil. (Baca selengkapnya: Konsep Bid’ah Dalam Perspektif KH Ahmad Rifa’i ).
Melihat fenomena “pemaksaan” dalil untuk mendukung paham wahabi semakin memperjelas upaya oknum-oknum berpaham wahabi mau menyeret, membawa-bawa Syaikhina KH. Ahamd Rifa’i untuk mendukung paham yang mereka anut, maka penulis dan rekan-rekan Tanbihun Online tergerak untuk mengumpulkan dalil-dalil yang berhubungan dengan amaliyah-amaliyah yang dianggap sesat oleh mereka.
Pada kesempatan ini kami akan menghadirkan sebuah tulisan yang kami ambil dari kitab Syaikhina KH. Ahmad Rifa’i yaitu kitab Adabuttholab, berikut adalah scan asli kitabnya;

Kitab Adabuttholab hal 17
Silahkan Downlaod Kitab Adabuttholab versi lengkapnya DISINI
LAMUN BOPO BIYUNGMU WUS PODO MATI
MEKSIH WAJIB ING PITUTURE NGURMATI
NDONGA’AKEN LAN MOCO QUR’AN KANG TITI
SUPOYO BISO TEKO MARING KANG MATI
LUWIH UTOMO NDONGA’AKEN IKU ONO KUBUR
LAN MOCO QUR’AN UTOMO PINILAHUR
YEN TINEMU PEMACANE BISO JUJUR
UTAMANE DINO JUM’AH WUS TINUTUR
YEN ORA BISO MOCO QUR’AN KANG GENAH
MONGKO YO WACAKNO QULHU LAN FATIHAH
LAN ISTIGHFAR TASBIH SHOLAWAT KANG KATHAH
LAN DZIKIR KANG IKHLAS INGDALEM MANAH
Arti bebasnya; “Kalau kedua orang tuamu sudah meninggal dunia, masih wajib menghormati nasihat mereka. Mendo’akan dan membaca Al-Qur’an untuk mereka dengan hati-hati (dengan memenuhi tajwidnya) supaya pahalanya bisa sampai kepada yang telah wafat. Lebih utama mendo’akan mereka di kuburannya, dan membaca Al-Qur’an ketika menziarahinya itu lebih uatama, kalau bacaan Al-Qur’annya sudah benar. Utamanya ziarah itu hari jum’at. Kalau tidak bisa membaca Al-Qur’an dengan benar, maka bacakanlah surah ikhlas dan al-Fatihah, Istighfar, kalimah tasbih, sholawat yang banyak dan dzikir yang ikhlas dalam hati”.
Disini beliau tidak menyebutkan tahlilan secara langsung, tapi seperti kita ketahui tahlilan yang kita kenal sekarang ini isinya seperti yang disebutkan dalam kitab di atas. Lain daerah lain pula susunan urut-urutannya, ada yang ringkas ada juga yang panjang.
Kitab tersebut sudah cukup untuk memberikan pemahaman kepada kita bahwa Syaikhina KH. Ahmad Rifa’i rahimahullohu mengajurkan ziarah kubur utamanya kepada kedua orang tua dan mengiirim bacaan Al-Qur’an dan bacaan-bacaan kalimah-kalimah tasbih,sholawat juga dzikir tentu dengan memenuhi kaidah-kaidah ilmu tajwidnya.
Baca Juga:
Kitab ADABUZZIARAH Karya KH.Ahmad Rifa’i,Membahas Tata Cara Ziarah Beserta Do’anya
bacaan doa ziarah kubur,Doa ziarah kubur,doa Ziarah kubur orang tua,susunan doa tahlil,tahlilah menurut muktamar nu,sunnah membaca tahlil saat ziarah,ahli kubur ketika di kirm doa,Doa tahlil untuk ziarah kubur,doa tahlil lengkap



Beliau Syekh A.Rifa’i itu konsisten mengusung madzhab Syafii- Jelas sekali ditulis dihalaman depan seluruh kitab karangannya:SYAFI’IYYAH MADZHABE- AHLI SUNNY THORIQOTE. Maka dalam seluruh kitabnya bertebaran kalam Ulama’ Ahlussunnah, Itu harus menjadi indikasi dan wacana seluruh santrinya untuk meneruskan dakwah beliau jangan sampai tercampur dengan faham “yang bukan- bukan”.
Tulisan Nadhom diatas tidak terlepas dari konsistensi beliau terhadap ajaran madzhab Syafi’i beserta Ashabnya. Lihat dalam Riyadhus Sholihin Lin Nawawy Ad- Dimasyqi bab tentang:DO’A ATAS MAYIT SETELAH PENGUBURANNYA:
Dari Amr bin Ash RA, dia bewasiyat:”Apabila kamu sekalian telah menguburkanku, maka berdirilah disekitar kuburku sekadar tukang jagal menyembelih hewan dan membagikan dagingnya sehingga aku menjadi tenang dan dapat menjawab apa yang ditanyakan oleh utusan Tuhanku (Hadist riwayat Muslim).
Disana ada komentar Imam Nawawi (pensyarah Shohih Muslim):”Wa qoola As- Syaafi’i rohimahulloh: Wa Yustahabbu An Yaqro’a Indahu Syai un Minal Qur’an. Wa in Khotamuu Kaana Hasanan”
Artinya: Imam Syafi’i berkata: Dan disunnahkan agar membaca sesuatu dari Al- Qur’an disisi liang lahatnya. Apabila mereka mengkhotamkannya maka itu bagus”…..
terima kasih tambahannya ustadz, jurus pamungkas wahabi “semua perkataan ulama bisa diterima bisa ditolak,kecuali perkataannya Rosul”. Saya dari dulu menjawabnya “betul,termasuk perkataan ulama-ulama wahabi,apalagi perkataan kamu”.
Padahal sebenarnya mereka sedang berkata “perkataan ulama-ulama sunni bisa diterima bisa ditolak,kecuali perkataan ulama-ulama wahabi sudah pasti diterima sebab mereka mengkuti salafusshalih” begitulah salah satu ciri khas wahabi.mereka merasa diri mereka lah yang paling benar mengikuti salaf shalih.
apabila dikatakan kepada mereka: ikutilah apa2 yg telah alloh turunkan(kitabulloh), mereka brkata: bahkan kami cukup mengikuti apa2 yg nenek moyang kami lakukan. Demikiankah walau syaithon menyeru kpd adzab neraka yp menyala2?
Pelajari dan baca tafsirnya bung!
setiap ayat ada asbabul nuzulnya.jangan menerapkan dalil semau dan menurut selera hawa nafsu sendiri,untuk kepentingan sendiri atau golongan. Artikel ini untuk membantah orang2 yang selalu berusaha membawa2 nama KH.Ahamd Rifa’i untuk mendukung paling tidak sama pendapatnya dengan wahabi,terutama dg masalah ziarah kubur dan kirim do’a kepada mayit. Adapun pendapat yg melarang bahkan menyesatkan kedua amaliyah tersebut, kami tidak mempersoalkan,sebab itu sudah dari dulu menjadi arena khilafiyah antara ulama sunni dan wahabi. kami mempertegas KH.Ahamd Rifa’i yg menjadi guru besar jama’ah Rifaiyah mengikuti pendapat ulama sunni utamanya dalam masalah yg sedang dibahas,yakni ziarah kubur dan kirim do’a kepada mayit.
Kalau sdh terang benderang begini,apakah para penebar phm wahabi di Rifaiyah msh ndablek menyalahkan ziarah kubur dll?
wahabi tak pernah melarang ziaroh kubur, yang terlarang itu istighotsah kpd penghuni kubur. Smoga alloh menambah iman, hidayah, ilmu dan amal sholeh untuk qt smua.
Kalau begitu coba para wahabi mulai saat ini ziarah,tahlil dan membaca Al-Qur’an dimakam orang tua2nya. Lihat fakta dilapangan Bung!
hehehe..yakin nih wahabi berani diskusi ttg masalah istighotsah?. Yuuk mari..
Aminn….
Semoga Kita Semakin Dibukakan Hati Agar Bisa lebih lapang menerima Ilmu Alloh…
tidak dengan pandangan sempit…
[...] muridnya. Terutama kitab-kitab kecil yang terdiri dari 1-2 kuras (20-40 halaman), seperti kitab Adabuttholab yang membahas tentang problematika rumah tangga, didalamnya akan kita temukan juga pembahasan [...]
tahlil dan tahlilan ?? beda om!!