Tanbihun.com- Meminjam istilah psychologi, orang rifa’iyah sudah cukup lama mengalami INFERIORITY COMPELX, rasa rendah diri yang hebat sejak ditangkapnya Sang Guru Besar dan dihujatnya warna da’wah, perjuangan dan aktivitas murid- murid beliau. Maka warga rifa’iyah secara instinctif menghadapi keadaan itu dengan melakukan semacam “Taqiyyah” baik disadari atau tidak. Perlu diketahui bahwa “Taqiyah” adalah semacam tindakan self defensive yang secara resmi dipakai oleh aliran Syi’ah, tapi juga diamalkan baik diakui atau tidak oleh semua bangsa ataupun jama’ah yang sedang tertindas dan dihujat.
Secara gampangnya, “Taqiyah” (dissimulation: english) adalah perilaku menyembunyikan identitas (keagamaan/ kepercayaannya) demi untuk menjaga keselamatan jiwa dan hartanya (amrih slamete dunyo lan akherate) seraya tetap menjaga keyakinannya itu dalam dadanya. Dan sifat INFERIORITY COMPLEX yang sangat menghambat kemajuan rifa’iyah ini DISADARI BETUL ADANYA oleh para sesepuh rifa’iyah. Maka ditempuhlah berbagai usaha yang benar-benar menguras tenaga harta dan pikiran untuk menghapus “belenggu” ini selama-lamanya guna memunculkan “rasa bangga” didada warga rifa’iyah, diantaranya dengan:
-
Diperkenal kannya organisasi modern (yayasan atau jamiyyah)
-
Demitologi serat cebolek yang sangat merendahkan harga diri warga rifa’iyah pada seminar nasional Jogya,
-
Diangkat dan dihapuskannya Vonis “Aliran sesat” dari pengadilan negeri,dan.
-
Mengajukan diangkatnya Syekhina sebagai pahlawan nasional.
Harus diakui dengan jujur tanpa mengecilkan kiprah seluruh warga, keempat program besar tersebut terjadi di masa kepemimpinan KH. Syadlirin Amin). Saya sendiri amat yakin, sejak kini rasa “inferiority complex” dan “Taqiyah” warga rifa’iyah akan ber- angsur- angsur musnah seiring perjalanan waktu sejak keberhasilan 4 program diatas yang telah memutuskan mata rantai “belenggu” yang mengikat warga rifa’iyah, walaupun menurut Ibnu Kholdun dalam “Muqoddimahnya” akan butuh waktu -+ 40 tahun bagi suatu bangsa untuk bengkit dari keterpurukannya, sebagaimana waktu yang dibutuhkan oleh kaum bangsa Israel yang “terbelenggu inferioritas penghambaan Fir’aun” dengan menghabiskan waktu 40 tahun di padang “TIIH”, yang menggantikan generasi tua dengan generasi yang tidak pernah merasakan “enaknya” menghamba Fir’aun, generasi yang penuh percaya diri untuk tampil merebut kesuksesan.
Catatan Tambahan Dari Redaksi:
Setelah 4 program yang sudah gemilang diraih oleh para senior, kini apa yang harus kita lakukan untuk meneruskan pembangunan diatas pondasi yang sudah dicanangkan oleh para sesepuh?
Sebagai generasi penerus selayaknya kita lebih bersemangat,bernyali, dan lebih terorganisir agar tercipta sinergi yang akan menjadi motor penggerak bagi laju organisasi baik dimasa kini maupun di masa yang akan datang.
Sejarah seperti apa yang akan kita torehkan untuk generasi setelah kita? yang kita lakukan atau yang tidak kita lakukan, akan dicatat dan di baca oleh anak cucu kita. Apakah kita bangga dikenang sebagai generasi yang pandai menggerutu, mencibir,mencari kesalahan para pendahulu, sedangkan kita masih terlelap nyenyak di nina bobokkan oleh kesibukan dunia yang oleh Guru kita disebut “DUNYO TAN LONO” dunia tidak abadi. Mumpung nyawa masih dikandung badan, mumpung kesehatan masih diberikan, mumpung kantong masih tebal, mumpung tangan belum gemetar, mari kita kembali membagi waktu, harta, dan pikiran serta tenaga kita untuk meneruskan estafet perjuangan guru-guru kita.
Khusus untuk para penulis di Tanbihun.com, mari kita luangkan waktu untuk kembali menulis, mari kita bagi pikiran kita untuk kembali menghangatkan diskusi yang dulu pernah menyala, sebelum tangan kita gemetar dimakan oleh usia.
Salam tanbihun,
Em. Yazid
Tulisan ini diambil dari Diskusi Rifaiyah: Dulu, Kini Dan Nanti



Mas Yazid, gimana cara ngirim nakah ke tanbihun ini?
Silahkan ke sini: http://tanbihun.com/kirim-artikel-2/