6:27 am - Saturday May 25, 2013

Kesulitan Itu Saudaranya Kemudahan

Sunday, 3 June 2012 20:51 | Hikmah | 3 Comments | Read 585 Times

Tanbihun.com- Saudaraku yang satu ini cukup handal kalau main-main dengan Photoshop. Ia selalu apik untuk mendesign, meletakkan gambar, dan memilih paduan warna. Menurut dia, “mendesign itu tak sekedar tahu mengoperasikan program design, tetapi harus imajinatif, dan itu merupakan kelebihan yang datangnya laksana anugerah.” Saya akui teman-teman banyak yang lihai dalam mengemudikan software design graphic, tapi hanya orang-orang tertentu yang punyai bakat bisa memadukan gambar, warna, jarak, posisi, hingga menjadi karya design yang apik. Kata orang itu bakat. Dan tiap orang punya bakatnya masing-masing.

Versi ilmu pendidikan karakter mengatakan tiap orang punyai kelebihan kecerdasan masing-masing. Bagi yang handal mendesign disebut punya kecerdasan visual. Mereka yang lihai dalam gerak, misalnya menari atau pancaksilat, dia dikatakan sebagai pengidap kecerdasan motorik, dan masih banyak kecerdasan lainnya. Mereka para pakar menemukan sampai ada sembilan kecerdasan. Tugas guru, orang tua, atau siapapun adalah menemukan kecerdasan murid, anak, teman, atau dirinya sendiri. Karena mengetahui diri sendiri adalah titik pijak melangkah menuju kebenaran, bahkan menuju Allah. Man arafa nafsahu faqath arafa rabbahu.

Untuk tiap orang punya kelebihannya sendiri-sendiri. Al-Qur’an membahasakan dengan fauqa ba’dzuhum ba’dza (melebihkan sebagian di atas sebagian lainnya). Kalau seseorang dianggap punya kelebihan, pasti disamping kelebihannya terdapat kekurangan. Ibarat ujaran Kanjeng Nabi yang mengatakan bahwa pada sisi sayap lalat ada racun, tapi sayap satunya pasti membawa obat. Kalau ia punya kecerdasan emosional, tapi tak jarang jeblok dalam kecerdasan intelektual. Dan sudah pula ku amati ada temanku yang selalu kurang huruf dalam menulis, tetapi orang-orang yang sempat mendekatinya selalu bahagia dibuatnya. Dibuat lupa hutang, karena tingkah, omongannya selalu mengundang tawa. Temanku yang satu lagi teramat pandai mengerjakan soal-soal matematika, fisika, bahkan sudah maklum kalau ia menduduki ranking lima besar. Tetapi ia sedikit teman karena mungkin sikapnya.

Kecerdasan, dan kelebihan apapun itu anugerah, walau harus melalui perantara ikhtiyar. Orang pandai bicara itu ikhtiyarnya sering latihan ngomong di depan publik, tapi kalau Allah tidak manganugerahkan pendengaran sejak kecil ia tentu bisu. Atau kebetulan Allah memberi kegagapan pada hamba, seseorang seberapapun banyak ia latihan ngomong tentu hasilnya kurang memuaskan.

Dibalik kelemahan ada kekuatan, beserta kesulitan sungguh ada kemudahan begitulah kurang lebih maksud firman inna ma’al ‘usri yusra dalam surat alam nasyrah. Ayat itu biasa dimaknai dengan “sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.” Tak terbayang bagi sebagian orang bahwa kesulitan bisa berjalan beriringan dengan kemudahan, sehingga orang melanggar lafadz ‘ma’a’ dengan arti sesudah. Padahal dalam kamus Arab cap apapun, dari Munawir sampai Yunus mengartikan ma’a sebagai beserta. Tak terbayang bahwa orang sakit gigi satu, masih banyak gigi yang tak sakit. Tapi tabiat terburuk manusia adalah selalu mencari kesulitan dan melupakan kemudahan. Tabiat lanjutannya selalu menemukan kesalahan-kesalahan orang lain, dan sulit menemukan kebaikan-kebaikannya. Tugas manusia adalah menemukan kemudahan-kemudahan ketika mengalami kesulitan; Mengorek kebaikan-kebaikan orang lain, dan menguburkan keburukannya dengan kebaikan kebaikannya. Hingga tak mengalami ‘setetes nila merusak susu sebelanga.’

Paesan, 12 Rajab 1433 M/ 02 Juni 2012 H
Ahmad Saifullah Ahsa

Share on :

About

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with: , ,

Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site