Kematian Nurdin M Top bukanlah jaminan akan berakhirnya aksi terorisme dinegara ini, sebab Nurdin hanyalah bagian kecil dari sebuah skenario besar yang sedang diusung oleh organisasi yang menyebut dirinya dengan Al Jamaah Al Islamiyyah.Kelompok ini bertujuan untuk menegakkan syariat Islam diseluruh penjuru dunia. Sepintas tujuan ini sungguh mulia dan semua orang Islam yang sadar akan ke Islamannyapun akan mengangguk dengan penuh semangat terhadap tujuan tersebut. Hanya saja sangat disayangkan kalau kemudian terjadi penyelewengan makna dari tujuan itu sendiri.
Mereka menganggap bahwa yang dimaksud dengan orang Islam adalah orang yang seide, sehaluan dan sepemahaman dengan mereka. Terhadap muslim lain yang kebetulan bersebrangan dengan pemikiran mereka, mereka tidak akan segan-segan untuk menempelkan label KAFIR pada tubuh ” saudaranya ” itu.
Sayyid Kutub yang diduga oleh Yusuf Qaradhawi sebagai biang dari paham radikalisme ini mengemukakan dengan sangat vulgar dalam tafsirnya Fi dzilaalil Qur’an, Bahwa semua orang yang berada dalam naungan negara yang tidak berlandaskan hukum Islam, maka orang tersebut adalah KAFIR, lalu beliau mensitir ayat yang berbunyi,” Waman lam yahkum bimaa anzalallohu fa ulaaika humul kaafiruun….”
Ketika ide kafirisasi ini mampir di kepala orang-orang macam Nurdin M Top, Amrozi dan kawan-kawannya, kemudian ditambah dengan pengalaman pribadi yang mencekam selama di Afghanistan dengan menyaksikan kedholiman dan kedajjalan Amerika Serikat, maka tumbuhlah sikap radikalisme tersebut sebagai bentuk pembalasan atas kelakuan negara Adi Daya tersebut sekaligus upaya penegakan hukum Islam menurut versi mereka.
Di kepala Nurdin M Top, membunuh penduduk tak berdosa dan memporak-porandakan negara berpenduduk Muslim terbesar ini adalah bukan perbuatan dosa, tapi merupakan sebuah ibadah kepada Alloh. Sebab mereka menganggap pemerintah Indonesia adalah Thoghut, pemimpin-pemimpinnya serta semua rakyatnya yang terlibat dalam kepemerintahan adalah kafir yang halal darahnya untuk dialirkan serta tidak segan-segan mereka untuk mengecapnya dengan sebutan ANJING JAHANNAM Naudzubillah.
Oleh sebab itu, langkah polisi jangan sampai hanya berhenti pada sosok Nudin M Top saja. Tapi juga harus berusaha membasmi virus pemikiran yang sudah kadung ditularkan kepada masyarakat awwam di negeri ini. Namun,Mengawasi dan membatasi dakwah serta mencurigai jamaah tertentu adalah naif dan tidak beretika disamping juga minim manfaatnya, sebab cara kerja teroris adalah secara sembunyi-sembunyi dan terorganisir dengan sangat rapi.Wallohu a’lam




