<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Penulis Serat Cebolek Merekayasa Dan Mendramatisasi Cerita</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/analisis/penulis-serat-cebolek-merekayasa-dan-mendramatisasi-cerita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/penulis-serat-cebolek-merekayasa-dan-mendramatisasi-cerita/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 07:48:00 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
	<item>
		<title>By: em.yazid</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/penulis-serat-cebolek-merekayasa-dan-mendramatisasi-cerita/#comment-1202</link>
		<dc:creator>em.yazid</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 10:02:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2561#comment-1202</guid>
		<description>kelanjutannya piye kiye? jangan sampai kandek ing tengah laku !
salam tanbihun</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kelanjutannya piye kiye? jangan sampai kandek ing tengah laku !<br />
salam tanbihun</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Akhmad "Elang" Mutaqin</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/penulis-serat-cebolek-merekayasa-dan-mendramatisasi-cerita/#comment-1201</link>
		<dc:creator>Akhmad "Elang" Mutaqin</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 09:27:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2561#comment-1201</guid>
		<description>@ibn khabullah, Judul Buku tersebut klw saya tidak khilaf ada dikoleksi perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, karena secara sepintas saya pernah melihatnya. klw Bpk ada waktu ke Ciputat, nanti saya temanin cari. atau nanti saya copykan bukunya dan saya kirim ketempat bapak. trims</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ibn khabullah, Judul Buku tersebut klw saya tidak khilaf ada dikoleksi perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, karena secara sepintas saya pernah melihatnya. klw Bpk ada waktu ke Ciputat, nanti saya temanin cari. atau nanti saya copykan bukunya dan saya kirim ketempat bapak. trims</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ibn khasbullah</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/penulis-serat-cebolek-merekayasa-dan-mendramatisasi-cerita/#comment-1200</link>
		<dc:creator>ibn khasbullah</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 04:16:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2561#comment-1200</guid>
		<description>Pendapat Willem Van Der Molen tentang Repen Ripangi/ Serat Cebolek.

Willem Van Der Molen adalah seorang pustakawan pada Koninklijk Instituut voor Taal, Land- en Volkenkude/KITLV (Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribean Studies) di Leiden.

Dalam Papernya berjudul: Literature as a source for history, The case of the Repen Ripangi (1886), beliau membuat kajian yang menarik, yang intinya:

1- Karya sastra tidak memiliki landasan yang cukup layak untuk dipakai sebagai sumber penulisan karya sejarah, karena ditulis atas dasar fiksi tanpa menyebutkan sumber sejarahnya dan tanpa riset kesejarahan yang memadai. Tidak terkecuali pada Repen Ripangi.

Beliau menulis: &quot;One of the most notable differences is of course its fictional, non referential nature. It is becouse of his quality that literary texts have always been considered less fit as a source of historical research. The Repen Ripangi is no exception. (Hal 204- 205)

2. Tentang Repen Ripangi sendiri beliau membuat sebuah kesimpulan demikian:
a- Penulis Karya sastra tersebut  menggubah sebuah karya yang sejak awal dimaksudkan untuk memperingatkan  masyarakat terhadap ajaran Kiyai H.A.Rifa&#039;i.Ini terlihat dimana disetiap halaman ditemukan maksud tersebut yang disampaikan dengan berbagai cara dan  gaya bahasa.

(I found that the author in the first place wanted to warn againts the teachings of Kiyai Ahmad Rifa&#039;i. This is clear on almost every page where it is stated in so many words, and also by means of the many literary devices applied throughout the text, such as presentation, order, wording and many more.)

b- Pesan yang kedua yang ingin disampaikan melalui karya ini adalah mmemberikan propaganda tentang aturan pemerintahan Kolonial. Kedatangan Belanda di Indonesia tentu saja sangat tidak disukai oleh kebanyakan orang Indonesia. Kenyataan membuktikan bahwa tindakan kekerasan hanya menumbuhkan perlawanan yang keras. Sebagai tambahan dari sebuah tindakan keras pemerintah, sebuah karya sastra telah memainkan perannya. Fakta- fakta (Event) sejarah,- yang diabaikan pada penulisan Repen Ripangi, telah memberikan sebuah gambaran bahwa aturan kolonial, ditandai dengan cara  memberikan informasi yang keliru, berlebih- lebihan dan tidak adil.Pada tahun 1886 semua itu tidak bisa disampaikan melalui media press. Literature (karya satra) menawarkan sebuah jalan keluar yang tepat.
(A second message brought to light concerns colonial rule. The presence of the Dutch in Indonesia was of course not appreciated by many Indonesians, witness the many efforts to get rid of them by force. In addition to force, literature had role to play. The historical events revoke in the Repen Ripangi are presented in such a way that the rule of the Dutch is marked as ill-informed, superfluous and unfair. In 1886 such things could not be said in the press, literature offered a proper outlet. P.205)

Catatan:
Bagi yang memahami bahasa inggris, mohon agar terjemahan tersebut dikoreksi dan disempurnakan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pendapat Willem Van Der Molen tentang Repen Ripangi/ Serat Cebolek.</p>
<p>Willem Van Der Molen adalah seorang pustakawan pada Koninklijk Instituut voor Taal, Land- en Volkenkude/KITLV (Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribean Studies) di Leiden.</p>
<p>Dalam Papernya berjudul: Literature as a source for history, The case of the Repen Ripangi (1886), beliau membuat kajian yang menarik, yang intinya:</p>
<p>1- Karya sastra tidak memiliki landasan yang cukup layak untuk dipakai sebagai sumber penulisan karya sejarah, karena ditulis atas dasar fiksi tanpa menyebutkan sumber sejarahnya dan tanpa riset kesejarahan yang memadai. Tidak terkecuali pada Repen Ripangi.</p>
<p>Beliau menulis: &#8220;One of the most notable differences is of course its fictional, non referential nature. It is becouse of his quality that literary texts have always been considered less fit as a source of historical research. The Repen Ripangi is no exception. (Hal 204- 205)</p>
<p>2. Tentang Repen Ripangi sendiri beliau membuat sebuah kesimpulan demikian:<br />
a- Penulis Karya sastra tersebut  menggubah sebuah karya yang sejak awal dimaksudkan untuk memperingatkan  masyarakat terhadap ajaran Kiyai H.A.Rifa&#8217;i.Ini terlihat dimana disetiap halaman ditemukan maksud tersebut yang disampaikan dengan berbagai cara dan  gaya bahasa.</p>
<p>(I found that the author in the first place wanted to warn againts the teachings of Kiyai Ahmad Rifa&#8217;i. This is clear on almost every page where it is stated in so many words, and also by means of the many literary devices applied throughout the text, such as presentation, order, wording and many more.)</p>
<p>b- Pesan yang kedua yang ingin disampaikan melalui karya ini adalah mmemberikan propaganda tentang aturan pemerintahan Kolonial. Kedatangan Belanda di Indonesia tentu saja sangat tidak disukai oleh kebanyakan orang Indonesia. Kenyataan membuktikan bahwa tindakan kekerasan hanya menumbuhkan perlawanan yang keras. Sebagai tambahan dari sebuah tindakan keras pemerintah, sebuah karya sastra telah memainkan perannya. Fakta- fakta (Event) sejarah,- yang diabaikan pada penulisan Repen Ripangi, telah memberikan sebuah gambaran bahwa aturan kolonial, ditandai dengan cara  memberikan informasi yang keliru, berlebih- lebihan dan tidak adil.Pada tahun 1886 semua itu tidak bisa disampaikan melalui media press. Literature (karya satra) menawarkan sebuah jalan keluar yang tepat.<br />
(A second message brought to light concerns colonial rule. The presence of the Dutch in Indonesia was of course not appreciated by many Indonesians, witness the many efforts to get rid of them by force. In addition to force, literature had role to play. The historical events revoke in the Repen Ripangi are presented in such a way that the rule of the Dutch is marked as ill-informed, superfluous and unfair. In 1886 such things could not be said in the press, literature offered a proper outlet. P.205)</p>
<p>Catatan:<br />
Bagi yang memahami bahasa inggris, mohon agar terjemahan tersebut dikoreksi dan disempurnakan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ibn khasbullah</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/penulis-serat-cebolek-merekayasa-dan-mendramatisasi-cerita/#comment-1199</link>
		<dc:creator>ibn khasbullah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 03:46:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2561#comment-1199</guid>
		<description>Usul anda bagus dan itu menjadi pertimbangan kami,walaupun menurut para pakar seperti kang rifa&#039;i ,dll, tulisan ilmiyah dalam bentuk sebuah buku akan memiliki gaung yang lebih lama dan akan menjadi acuan, referensi dan sumber rujukan bagi para penulis berikutnya dibelakang hari.(Kalau nggak salah, mas nibros ini masih keponakan saya. betul nggak?).

Kembali tentang serat Cebolek.

Masalah Alim Adil.
Salah satu masalah yang diperdebatkan dalam serat cebolek adalah tentang masalah &quot;Alim Adil&quot;, seperti pada: II. Pupuh Asmaradana 18.19.20, atau pada V. Pupuh sinom 7.8 + 17.
KH.A. Rifa&#039;i menyatakan dalam kitab kecilnya : &quot; Takhyiroh&quot; demikian: &quot;Utawai syarat sahe wongkang ginawe guru iku riningkes rong parkoro,,,,,,,,,dst = &quot; Bahwasanya keabsahan seseorang yang dapat diakui sebagai guru diringkas menjadi 2(dua) unsur, yakni:
1- Alim, artinya:Tahu tentang sumber- sumber dalil hukum agama Islam.
2- Adil riwayat, artinya: Track record nya ADIL, yakni tak pernah melakukan dosa besar, tak bergelimang dan menyepelekan dosa- dosa kecil, bila terkena dosa diapun langsung bertobat.(Lihat; LOr 7522 - R - 16.010. Takhyira, targama in prose on sahadat etc.by Ahmad Ripangi,copy made for Dr.Sn. Hurgronje- Dr. TH.Pigeaud: Literature of Java Vol. III.Leiden University Library).
Kriteria ALIM ADIL ini BERLAKU UMUM, walaupun beliau juga mengakui sebagai salah satu diantara para Alim dan Adil, yang akan menegakkan kekhalifahan di tanah Jawa.
Syekh Rifa&#039;i tidak pernah menyatakan bahwa semua alim di tanah Jawa adalah FASIK/ TIDAK ADIL. Akan tetapi SEBAGIAN DIANTARA MEREKA. beliau diantaranya menyatakan:
-Nyoto sasar SETENGAHE WONG ALIM
-podo anut maring sasare wong dholim
-pancene ing syara&#039; tan nejo taslim
-tan nggugu ing perintahe qur&#039;anil
 adhim.

Artinya:
Nyata sesatnya SEBAGIAN ORANG ALIM.
mereka mengikuti PERINTAHNYA ORANG DHOLIM (Raja Belanda).
memang mereka tak mau tunduk pada hukum syara&#039;
tak peduli pada perintah Al- Qur&#039;an yang agung. (Ri&#039;ayatul Himmah I/Ushuluddin. LOr 6944 - R- 16010. Dr. TH. Pigeaud: Literature of Java Vol III. Leiden university Library).

Kalimat- kalimat seperti diatas yang senada, bertebaran dalam kitab- kitab karya Syekh A.Rifa&#039;i,dimana disebutkan ;&quot;Sebagian alim = berarti tidak semuanya&quot;, justru menunjukkan bahwa beliau tidak menganggap sebagai SATU- SATUNYA Alim Adil. Beliau memang saat itu sedang melakukan sebuah kritik sosial melihat banyaknya para cendekiawan muslim yang sudah dapat &quot;DIBELI&quot; oleh pemerintah kolonial, sehingga menyebut mereka FASIK (lawan ADIL), yang tak pantas dijadikan panutan dalam hukum syar&#039;i.Seperti tulisan Sartono dalam Protest Movement In Rural Java: &quot;Most religious teachers neglected the task of teaching their pupils in these matters and were submissive in accepting ADAT (custom) of the infidel&quot;.(Hal 120)...&quot;Religious teachers and haji who shared allegiance to the RAJA KAFIR (infidel King) were also denounced.(Hal 121).Itu dilakukan setelah beliau pulang dari Mekkah dan melihat bahwa tatanan masyarakat muslim indonesia mulai rusak setelah kekalahan demi kekalahan para patriot menghadapi politik adu domba Belanda dan makin merasuknya budaya kafir dan adat kejawen ditengah kehidupan kaum muslimin:&quot;He came back (From Mecca)to his home village more disgusted than ever with the abuses and impurity which he had found all over Muslim Java, largely as a result of BLENDING OF ISLAM WITH PRE- ISLAMIC JAVANESE CULTURE, and OF SPREAD OF WESTERN INFLUENCE as well....(Hal.122).

Inti dari hakekat istilah Alim Adil ini difahami betul oleh para santrinya, dan mereka juga tidak menganggap semua Alim diluar Rifa&#039;iyah adalah FASIK. Bukti paling nyata adalah bertebarannya para santri Rifa&#039;iyah berguru ke- pesantren- pesantern NON RIFA&#039;IYAH seperti: Tremas-Pacitan,- Lir Boyo- Ploso- Tebuireng- Payaman= Lasem- Tayu, Pati, dsb. Ini menunjukkan PENGAKUAN secara tak tertulis, bahwa para Alim pengasuh pondok itu diakui juga sebagai Alim Adil. Apa sebab? karena bila para santri tak mengakui kealiman adilan mereka, tak bakalan mereka mau berguru kepada para Allaamah tersebut, karena mereka tidak mau bertentangan dan berusaha  sesuai dan mengikuti ajaran guru besarnya: &quot; Barang sopo wonge ora sah gurune wongiku pituturan, sabab BODO tuwin ALIM FASIK tan tobat, mongko SETAN GURUNE wongiku sasar brayan....&quot; (Takhyiiroh)= &quot; Barang siapa berguru kepada ajaran orang yang tak memenuhi syarat sebagai guru, sebab BODOH atau ALIM FASIK tak mau bertobat, maka sebenarnya SYETAN-LAH guru nya, mereka sesat menyesatkan....&quot; Para santri Rifa&#039;iyah yang sudah ngangsu kaweruh kesegala penjuru pesantren NON RIFA&#039;IYAH, tak mau dianggap ilmunya hasil dari guru yang tak layak.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Usul anda bagus dan itu menjadi pertimbangan kami,walaupun menurut para pakar seperti kang rifa&#8217;i ,dll, tulisan ilmiyah dalam bentuk sebuah buku akan memiliki gaung yang lebih lama dan akan menjadi acuan, referensi dan sumber rujukan bagi para penulis berikutnya dibelakang hari.(Kalau nggak salah, mas nibros ini masih keponakan saya. betul nggak?).</p>
<p>Kembali tentang serat Cebolek.</p>
<p>Masalah Alim Adil.<br />
Salah satu masalah yang diperdebatkan dalam serat cebolek adalah tentang masalah &#8220;Alim Adil&#8221;, seperti pada: II. Pupuh Asmaradana 18.19.20, atau pada V. Pupuh sinom 7.8 + 17.<br />
KH.A. Rifa&#8217;i menyatakan dalam kitab kecilnya : &#8221; Takhyiroh&#8221; demikian: &#8220;Utawai syarat sahe wongkang ginawe guru iku riningkes rong parkoro,,,,,,,,,dst = &#8221; Bahwasanya keabsahan seseorang yang dapat diakui sebagai guru diringkas menjadi 2(dua) unsur, yakni:<br />
1- Alim, artinya:Tahu tentang sumber- sumber dalil hukum agama Islam.<br />
2- Adil riwayat, artinya: Track record nya ADIL, yakni tak pernah melakukan dosa besar, tak bergelimang dan menyepelekan dosa- dosa kecil, bila terkena dosa diapun langsung bertobat.(Lihat; LOr 7522 &#8211; R &#8211; 16.010. Takhyira, targama in prose on sahadat etc.by Ahmad Ripangi,copy made for Dr.Sn. Hurgronje- Dr. TH.Pigeaud: Literature of Java Vol. III.Leiden University Library).<br />
Kriteria ALIM ADIL ini BERLAKU UMUM, walaupun beliau juga mengakui sebagai salah satu diantara para Alim dan Adil, yang akan menegakkan kekhalifahan di tanah Jawa.<br />
Syekh Rifa&#8217;i tidak pernah menyatakan bahwa semua alim di tanah Jawa adalah FASIK/ TIDAK ADIL. Akan tetapi SEBAGIAN DIANTARA MEREKA. beliau diantaranya menyatakan:<br />
-Nyoto sasar SETENGAHE WONG ALIM<br />
-podo anut maring sasare wong dholim<br />
-pancene ing syara&#8217; tan nejo taslim<br />
-tan nggugu ing perintahe qur&#8217;anil<br />
 adhim.</p>
<p>Artinya:<br />
Nyata sesatnya SEBAGIAN ORANG ALIM.<br />
mereka mengikuti PERINTAHNYA ORANG DHOLIM (Raja Belanda).<br />
memang mereka tak mau tunduk pada hukum syara&#8217;<br />
tak peduli pada perintah Al- Qur&#8217;an yang agung. (Ri&#8217;ayatul Himmah I/Ushuluddin. LOr 6944 &#8211; R- 16010. Dr. TH. Pigeaud: Literature of Java Vol III. Leiden university Library).</p>
<p>Kalimat- kalimat seperti diatas yang senada, bertebaran dalam kitab- kitab karya Syekh A.Rifa&#8217;i,dimana disebutkan ;&#8221;Sebagian alim = berarti tidak semuanya&#8221;, justru menunjukkan bahwa beliau tidak menganggap sebagai SATU- SATUNYA Alim Adil. Beliau memang saat itu sedang melakukan sebuah kritik sosial melihat banyaknya para cendekiawan muslim yang sudah dapat &#8220;DIBELI&#8221; oleh pemerintah kolonial, sehingga menyebut mereka FASIK (lawan ADIL), yang tak pantas dijadikan panutan dalam hukum syar&#8217;i.Seperti tulisan Sartono dalam Protest Movement In Rural Java: &#8220;Most religious teachers neglected the task of teaching their pupils in these matters and were submissive in accepting ADAT (custom) of the infidel&#8221;.(Hal 120)&#8230;&#8221;Religious teachers and haji who shared allegiance to the RAJA KAFIR (infidel King) were also denounced.(Hal 121).Itu dilakukan setelah beliau pulang dari Mekkah dan melihat bahwa tatanan masyarakat muslim indonesia mulai rusak setelah kekalahan demi kekalahan para patriot menghadapi politik adu domba Belanda dan makin merasuknya budaya kafir dan adat kejawen ditengah kehidupan kaum muslimin:&#8221;He came back (From Mecca)to his home village more disgusted than ever with the abuses and impurity which he had found all over Muslim Java, largely as a result of BLENDING OF ISLAM WITH PRE- ISLAMIC JAVANESE CULTURE, and OF SPREAD OF WESTERN INFLUENCE as well&#8230;.(Hal.122).</p>
<p>Inti dari hakekat istilah Alim Adil ini difahami betul oleh para santrinya, dan mereka juga tidak menganggap semua Alim diluar Rifa&#8217;iyah adalah FASIK. Bukti paling nyata adalah bertebarannya para santri Rifa&#8217;iyah berguru ke- pesantren- pesantern NON RIFA&#8217;IYAH seperti: Tremas-Pacitan,- Lir Boyo- Ploso- Tebuireng- Payaman= Lasem- Tayu, Pati, dsb. Ini menunjukkan PENGAKUAN secara tak tertulis, bahwa para Alim pengasuh pondok itu diakui juga sebagai Alim Adil. Apa sebab? karena bila para santri tak mengakui kealiman adilan mereka, tak bakalan mereka mau berguru kepada para Allaamah tersebut, karena mereka tidak mau bertentangan dan berusaha  sesuai dan mengikuti ajaran guru besarnya: &#8221; Barang sopo wonge ora sah gurune wongiku pituturan, sabab BODO tuwin ALIM FASIK tan tobat, mongko SETAN GURUNE wongiku sasar brayan&#8230;.&#8221; (Takhyiiroh)= &#8221; Barang siapa berguru kepada ajaran orang yang tak memenuhi syarat sebagai guru, sebab BODOH atau ALIM FASIK tak mau bertobat, maka sebenarnya SYETAN-LAH guru nya, mereka sesat menyesatkan&#8230;.&#8221; Para santri Rifa&#8217;iyah yang sudah ngangsu kaweruh kesegala penjuru pesantren NON RIFA&#8217;IYAH, tak mau dianggap ilmunya hasil dari guru yang tak layak&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: nibrosulj</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/penulis-serat-cebolek-merekayasa-dan-mendramatisasi-cerita/#comment-1198</link>
		<dc:creator>nibrosulj</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 04:00:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2561#comment-1198</guid>
		<description>Gmna klo kt buat tulisan/artikel tntng ketidak benaran isi serat cebolek disertai pndapt2 dr para pakar sprt diatas truz kt kirimkan ke media cetak/koran,biar publik dpt dngn mudah dan cepat mengetahui tntng ktdk validtan isi serat cebolek, dgn bgitu bad image yg bergulir slama ini bs mnjd good image.. atau klo mau lbh top markotop lg kita buat smcam liputan atau dokumenter tntang Rifaiyah+sejarahny+ ajaranya truz kt kirimkan k televisi pst jozz saya ykin generasi tanbihun mampu dan mau untk melakukan ini..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Gmna klo kt buat tulisan/artikel tntng ketidak benaran isi serat cebolek disertai pndapt2 dr para pakar sprt diatas truz kt kirimkan ke media cetak/koran,biar publik dpt dngn mudah dan cepat mengetahui tntng ktdk validtan isi serat cebolek, dgn bgitu bad image yg bergulir slama ini bs mnjd good image.. atau klo mau lbh top markotop lg kita buat smcam liputan atau dokumenter tntang Rifaiyah+sejarahny+ ajaranya truz kt kirimkan k televisi pst jozz saya ykin generasi tanbihun mampu dan mau untk melakukan ini..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rifa'i Ahmad</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/penulis-serat-cebolek-merekayasa-dan-mendramatisasi-cerita/#comment-1197</link>
		<dc:creator>Rifa'i Ahmad</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 06:12:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2561#comment-1197</guid>
		<description>@ibn khasbullah, mantaaappp pak...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ibn khasbullah, mantaaappp pak&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ibn khasbullah</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/penulis-serat-cebolek-merekayasa-dan-mendramatisasi-cerita/#comment-1196</link>
		<dc:creator>ibn khasbullah</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 01:27:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2561#comment-1196</guid>
		<description>Ya kang, insyaallah segera.
Bagaimana kalau buku itu nanti diberi judul:
&quot;FALSIFIKASI DISERTASI DR.A.DJAMIL.MA&quot;?
        Yang artinya kira- kira:
&quot;Ketidak akuratan disertasi DR.A.Djamil
MA&quot;?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ya kang, insyaallah segera.<br />
Bagaimana kalau buku itu nanti diberi judul:<br />
&#8220;FALSIFIKASI DISERTASI DR.A.DJAMIL.MA&#8221;?<br />
        Yang artinya kira- kira:<br />
&#8220;Ketidak akuratan disertasi DR.A.Djamil<br />
MA&#8221;?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rifa'i Ahmad</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/penulis-serat-cebolek-merekayasa-dan-mendramatisasi-cerita/#comment-1195</link>
		<dc:creator>Rifa'i Ahmad</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 10:58:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2561#comment-1195</guid>
		<description>@ibn khasbullah, meskipun sulit sekali melakukan pembersihan nama..namun hal itu harus diupayakan kan pak...???. setidaknya bagi orang yg cerdas, dia akan dapat menimbang dg cermat mana yg benar mana yg salah, apabila disertai dg sanggahan yang logis dan memuat fakta yang akurat. Dan tak ada jalan lain kecuali mengupas serat cebolek dg dibandingkan dg pemikiran serta perilaku syaikhina...
Meskipun efeknya ngga signifikan, namun kehadiran tanbihun.com ini juga merupakan bentuk kontribusi nyata dari santri2 tarjumah dalam membersihkan image negatif yang sudah kadung melekat atau sengaja dilekatkan kepada kaum puritan ini...
Silahkan di share seratnya pak..biar kita bahas....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ibn khasbullah, meskipun sulit sekali melakukan pembersihan nama..namun hal itu harus diupayakan kan pak&#8230;???. setidaknya bagi orang yg cerdas, dia akan dapat menimbang dg cermat mana yg benar mana yg salah, apabila disertai dg sanggahan yang logis dan memuat fakta yang akurat. Dan tak ada jalan lain kecuali mengupas serat cebolek dg dibandingkan dg pemikiran serta perilaku syaikhina&#8230;<br />
Meskipun efeknya ngga signifikan, namun kehadiran tanbihun.com ini juga merupakan bentuk kontribusi nyata dari santri2 tarjumah dalam membersihkan image negatif yang sudah kadung melekat atau sengaja dilekatkan kepada kaum puritan ini&#8230;<br />
Silahkan di share seratnya pak..biar kita bahas&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ibn khasbullah</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/penulis-serat-cebolek-merekayasa-dan-mendramatisasi-cerita/#comment-1194</link>
		<dc:creator>ibn khasbullah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 03:18:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2561#comment-1194</guid>
		<description>Mas Imam, ditunggu nih tulisannya di tanbihun. com!!!!Salam untuk wong Cilomoyo/Cilamaya.

Untuk mas rifa&#039;i...
Bener mas, memang harus demikian, namun dalam pelaksanaannya dan kenyataannya, tidaklah begitu mudah untuk membalikkan sebuah BAD IMAGE yang sudah terbentuk. Islam saja sebagai sebuah agama, sudah kadung mendapat bad image sebagai agama yang di sebarkan melalui pedang, tidak mudah terhapus. Walaupun banyak bukti yang menyatakan sebaliknya. Sebagaimana penyebaran Islam di Indonesia, Malaysia, Philipina, agama Islam masuk dengan sentuhan kultural yang manis, tapi bukti- bukti itu belum cukup untuk membalikkan sebuah image yang MEMANG SENGAJA DIBENTUK dan DIPERTAHANKAN KELIHATAN BURUK. Sebaliknya agama lain yang punya track sejarah lebih kejam, bisa memiliki image yang BERADAB karena kekuatan media mereka. Lihat pengadilan INQUISISI di Spanyol, lihat peperangan- peperangan besar di Eropa, baik sebelum WWI seperti peperangan Napoleon maupun sesudah WWI, yakni WWII yang menelan korban JUTAAN JIWA.Belum pernah ada peperangan yang menelan korban begitu besar, kecuali dilakukan oleh mereka. Begitu juga semboyan GOLD GOSPEL &amp; GLORY yang terbukti memporak porandakan tatatan wilayah kenegaraan saat itu dan telah mengakibatkan punahnya beberapa bangsa seperti bangsa INDIAN di Amerika dan bangsa ABORIGIN di Australia, tetap saja tidak bisa membalikkan GOOD IMAGE yang telah dengan berhasil mereka bina. Mereka dengan cerdiknya membagi wilayah itu kedalam ranah politik, tidak ada urusannya dengan masalah agama.

Adapun fakta- fakta dilapangan sesudahnya tidak dapat seratus persen menggambarkan kondisi saat sejarah itu terjadi karena mungkin telah mengalami beberapa distorsi atau oleh karena pemahaman yang partial. Contoh, pada saat Mu&#039;tazilah berkuasa tidak bisa serta merta menjadi bukti bahwa itulah warna Islam yang sebenarnya karena islam versi mu&#039;tazilah adalah Islam yang sudah mengalami distorsi atau mendapatkan pemahaman yang partial. Kembali tentang masalah Bad/ good image. Ada contoh yang kebetulan saat ini sedang ramai dibicarakan yakni tentang BALIBO FIVE. Yakni tewasnya 5 wartawan asing pada peristiwa peperangan Balibo, Timor Timur pada 16- Oktober- 1975. Menurut versi Indonesia, wartawan itu tertembak karena terjebak dalam peperangan. Sedang menurut mereka ke 5 wartawan itu SENGAJA DITEMBAK oleh militer Indonesia agar tidak menyebarkan kekejaman yang terjadi di Balibo. Mana yang benar? Menurut saya, versi Indonesia yang benar. Menurut kebanyakan orang Australi, ceritera merekalah yang benar dan memasukkan peristiwa itu pada kategori WAR CRIME. Jadi kebenaran sejarah itu kadang semu.
Adapun bukti lapangan diantaranya adalah:
1. Tentang Memandikan modin sampai lecet: Tidak pernah ada seorangpun  yang menjadi anggota baru rifa&#039;iyyah harus mandi seperti itu. Sudah saya jelaskan tentang argument tekstualnya pada kitab- kitab beliau sebelumnya. Yang ada kalau seorang kafir(asli) mau masuk Islam, untuk menghalalkan hubungan suami istri dia harus mandi dulu, disebut mandi MANI&#039;,Ini kesepakatan para Ulama, bukan mandi penghilang dosa.
2. Tentang menikah harus dari Kiyai kelompok murid Rifa&#039;i sendiri atas dasar konsep Alim Adil: Terbukti beberapa tahun yang lalu anak sorang pimpinan paling top jama&#039;ah Rifa&#039;iyyah, justru oleh beliau akad nikahnya diserahkan kepada seorang Ulama dari Ciwaringin Cirebon, padahal Ulama Ciwaringin itu bukan warga Rifa&#039;iyyah. Ini berarti konsep Alim Adil itu bukan melulu berlaku untuk warga Rifa&#039;iyyah, tapi berlaku umum untuk siapa saja yang sudah memiliki kriterianya, yakni:PINTAR + BENAR.
3. Pendapat pakar yang objective, bahwa H.Pinang berdebat dibawah dukungan penuh pemerintah Hindia Belanda:

&quot; And it was, of course, the latter group (H.Pinang)that was BACKED BAY THE RULLER. The lines of religious factionalism thus coincided with lines of political division, separating the most vociferous opponents of colonial regime from those who at least passively accepted it. This pattern recurred with remarkable regularity in the history of colonial religious policy in Indonesia. The Dutch government WAS ON THE SIDE OF RELIGIOUS GROUP  WICH SHOWED LESS MILITANCY AND FANATICISM and hence coul be regarded as POLITICALLY HARMLESS.......(Sartono Kartodirjo: Protest Movement In Rural Jawa . P.125- 126).
Yang jelas adalah, bahwa untuk membalikkan image dan &quot;mengkandaskan image buruk &quot; dari Serat Cebolek, adalah butuh tenaga, pikiran, usaha YANG TERUS MENERUS, TAK KENAL LELAH DAN BUTUH WAKTU serta KESABARAN EKSTRA.
Dan itu ada ditangan anda semua......</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Imam, ditunggu nih tulisannya di tanbihun. com!!!!Salam untuk wong Cilomoyo/Cilamaya.</p>
<p>Untuk mas rifa&#8217;i&#8230;<br />
Bener mas, memang harus demikian, namun dalam pelaksanaannya dan kenyataannya, tidaklah begitu mudah untuk membalikkan sebuah BAD IMAGE yang sudah terbentuk. Islam saja sebagai sebuah agama, sudah kadung mendapat bad image sebagai agama yang di sebarkan melalui pedang, tidak mudah terhapus. Walaupun banyak bukti yang menyatakan sebaliknya. Sebagaimana penyebaran Islam di Indonesia, Malaysia, Philipina, agama Islam masuk dengan sentuhan kultural yang manis, tapi bukti- bukti itu belum cukup untuk membalikkan sebuah image yang MEMANG SENGAJA DIBENTUK dan DIPERTAHANKAN KELIHATAN BURUK. Sebaliknya agama lain yang punya track sejarah lebih kejam, bisa memiliki image yang BERADAB karena kekuatan media mereka. Lihat pengadilan INQUISISI di Spanyol, lihat peperangan- peperangan besar di Eropa, baik sebelum WWI seperti peperangan Napoleon maupun sesudah WWI, yakni WWII yang menelan korban JUTAAN JIWA.Belum pernah ada peperangan yang menelan korban begitu besar, kecuali dilakukan oleh mereka. Begitu juga semboyan GOLD GOSPEL &amp; GLORY yang terbukti memporak porandakan tatatan wilayah kenegaraan saat itu dan telah mengakibatkan punahnya beberapa bangsa seperti bangsa INDIAN di Amerika dan bangsa ABORIGIN di Australia, tetap saja tidak bisa membalikkan GOOD IMAGE yang telah dengan berhasil mereka bina. Mereka dengan cerdiknya membagi wilayah itu kedalam ranah politik, tidak ada urusannya dengan masalah agama.</p>
<p>Adapun fakta- fakta dilapangan sesudahnya tidak dapat seratus persen menggambarkan kondisi saat sejarah itu terjadi karena mungkin telah mengalami beberapa distorsi atau oleh karena pemahaman yang partial. Contoh, pada saat Mu&#8217;tazilah berkuasa tidak bisa serta merta menjadi bukti bahwa itulah warna Islam yang sebenarnya karena islam versi mu&#8217;tazilah adalah Islam yang sudah mengalami distorsi atau mendapatkan pemahaman yang partial. Kembali tentang masalah Bad/ good image. Ada contoh yang kebetulan saat ini sedang ramai dibicarakan yakni tentang BALIBO FIVE. Yakni tewasnya 5 wartawan asing pada peristiwa peperangan Balibo, Timor Timur pada 16- Oktober- 1975. Menurut versi Indonesia, wartawan itu tertembak karena terjebak dalam peperangan. Sedang menurut mereka ke 5 wartawan itu SENGAJA DITEMBAK oleh militer Indonesia agar tidak menyebarkan kekejaman yang terjadi di Balibo. Mana yang benar? Menurut saya, versi Indonesia yang benar. Menurut kebanyakan orang Australi, ceritera merekalah yang benar dan memasukkan peristiwa itu pada kategori WAR CRIME. Jadi kebenaran sejarah itu kadang semu.<br />
Adapun bukti lapangan diantaranya adalah:<br />
1. Tentang Memandikan modin sampai lecet: Tidak pernah ada seorangpun  yang menjadi anggota baru rifa&#8217;iyyah harus mandi seperti itu. Sudah saya jelaskan tentang argument tekstualnya pada kitab- kitab beliau sebelumnya. Yang ada kalau seorang kafir(asli) mau masuk Islam, untuk menghalalkan hubungan suami istri dia harus mandi dulu, disebut mandi MANI&#8217;,Ini kesepakatan para Ulama, bukan mandi penghilang dosa.<br />
2. Tentang menikah harus dari Kiyai kelompok murid Rifa&#8217;i sendiri atas dasar konsep Alim Adil: Terbukti beberapa tahun yang lalu anak sorang pimpinan paling top jama&#8217;ah Rifa&#8217;iyyah, justru oleh beliau akad nikahnya diserahkan kepada seorang Ulama dari Ciwaringin Cirebon, padahal Ulama Ciwaringin itu bukan warga Rifa&#8217;iyyah. Ini berarti konsep Alim Adil itu bukan melulu berlaku untuk warga Rifa&#8217;iyyah, tapi berlaku umum untuk siapa saja yang sudah memiliki kriterianya, yakni:PINTAR + BENAR.<br />
3. Pendapat pakar yang objective, bahwa H.Pinang berdebat dibawah dukungan penuh pemerintah Hindia Belanda:</p>
<p>&#8221; And it was, of course, the latter group (H.Pinang)that was BACKED BAY THE RULLER. The lines of religious factionalism thus coincided with lines of political division, separating the most vociferous opponents of colonial regime from those who at least passively accepted it. This pattern recurred with remarkable regularity in the history of colonial religious policy in Indonesia. The Dutch government WAS ON THE SIDE OF RELIGIOUS GROUP  WICH SHOWED LESS MILITANCY AND FANATICISM and hence coul be regarded as POLITICALLY HARMLESS&#8230;&#8230;.(Sartono Kartodirjo: Protest Movement In Rural Jawa . P.125- 126).<br />
Yang jelas adalah, bahwa untuk membalikkan image dan &#8220;mengkandaskan image buruk &#8221; dari Serat Cebolek, adalah butuh tenaga, pikiran, usaha YANG TERUS MENERUS, TAK KENAL LELAH DAN BUTUH WAKTU serta KESABARAN EKSTRA.<br />
Dan itu ada ditangan anda semua&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Imam Gozaly PP Rifa'iyah</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/penulis-serat-cebolek-merekayasa-dan-mendramatisasi-cerita/#comment-1193</link>
		<dc:creator>Imam Gozaly PP Rifa'iyah</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 17:10:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2561#comment-1193</guid>
		<description>Untuk Mas Ahmad Rifa dimohon kehadirannya pada rapat PP Rifa&#039;iyah tanggal 05 Desember 2009 MTS Al Islamdi Limpung Batang - Jateng. dari Imam Gozaly. Trimakasih 081586254277 or 081382764187</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Mas Ahmad Rifa dimohon kehadirannya pada rapat PP Rifa&#8217;iyah tanggal 05 Desember 2009 MTS Al Islamdi Limpung Batang &#8211; Jateng. dari Imam Gozaly. Trimakasih 081586254277 or 081382764187</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

