Berguru Kepada Maiyyah

Hosting Unlimited Indonesia


Tanbihun- Dari tahun 2005 hingga sekarang, alhamdulillah aku menemukan guru yang bisa membimbing spiritual, intelektual, emosional ku. Dulu, waktu di Yogyakarta aku berguru kepada beliau Muhammad Ainun Nadjib, atau biasa dikenal dengan Cak Nun, MH. Setiap bulan mengunjungi pengkajian kebersamaannya atau biasa dikenal dengan Maiyah Mocopat Syafaat. Tiap daerah mempunyai forum Maiyah dengan namanya yang khas. Forum yang ada di semarang diselenggarakan tiap bulan di halaman parkir masjid baiturrahman bernama Gambang Syafaat. Forum yang diselenggarakan di halaman TKIT Al-Hamdulillah Tamantirto Kasihan Bantul bernama Mocopat Syafaat, kemudian di Taman Ismail Marzuki Jakarta bernama Kenduri Cinta. Di Sumumbito Menturo Jombang forum ini biasa disebut: Padhang Mbulan. Di Malang: Obor Ilahi, di Pare-pare, dan secara berkala di beberapa Negara.

Saya bertekur mengikuti forum Maiyah ini dari ba’da isya, sampai jelang subuh. Tapi jasad, fikiran, batin tambah fresh, bukan stres. Maka daya tangkapku yang terbatas untuk menyerap ilmu Maiyah saya utarakan di tulisan ini untuk para sahabat yang sempat membacanya, semoga tidak menambah madlarat, barangkali bermanfaat.

CAK NUN

Cak Nun itu buku, atau lebih tepatnya orang kampus mengatakan Cak Nun itu teks, yang bisa dibaca dan menimbulkan banyak tafsir dan pengetahuan. Jadi seandainya banyak orang berjumpa dengan Cak Nun kemudian ia menulis tentang dia, dan ilmu kehidupan, maka itu niscaya, karena perjumpaannya adalah seperti membaca buku.

Cak Nun itu buku, bukan karangan saya sendiri. Ini saya dengar atas kalimat yang disampaikan beliau dalam pembacaan puisi Presiden Balkadaba. Kalau menurutku, ia membahasakan dirinya atas nama Mbah Sudrun, atau dia menganggap Mbah Sudrun sebagai buku, bisa juga sebagai sumber ilmu. Dan aku menganggap Cak Nun sebagai sumber ilmu. Laku hidupnya adalah sumber ilmu.

Di internet aku sempat mendengarkan pengajian Jalaluddin Rakhmat, ia menyampaikan tentang ilmu. Beliau mengaku bahwa dirinya tipe orang yang seandainya akan menulis harus membaca buku dulu. Makanya Kang Jalal mengagumi orang yang bisa menulis, tanpa harus membaca buku lebih dulu. Pentolan Ahlul Bait Indonesia ini kagum dengan Budayawan MH. Ainun Nadjib yang menulis ribuan tulisan, tentang multi fenomena, tanpa harus membaca buku lebih dulu. “Dia mendapatkan ilmu laduni.” Kata Kang Jalal.

Kalau tidak salah Cak Nun juga pernah mengatakan, dirinya cukup membaca satu lembar buku itu sudah cukup bisa membuat ratusan tulisan. Baginya membaca tak harus membaca buku, tetapi setiap hal yang sempat berjumpa dengannya, pasti ia baca.

Beliau mampir di tukang bakso saja sudah bisa menjadi tulisan yang hakekat: “bakso Khalifatullah”. Beliau berteman dengan Guk Nuki, bisa menelorkan karya dan berbagai macam tulisan tentnag fenomena markesot. Beliau bertemu dengan serombongan ‘orang salih’ yang tak mau berjabat tangan dengan ‘orang gila’, cukup bisa menjadi tulisan yang menginspirasi pembacanya, bahkan tulisannya mengetengahkan hakekat kebenaran yang sementara salah dipahami oleh banyak orang.

Beliau bercengkrama dengan ‘pencopet’, itu cukup baginya untuk menuliskan berlembar-lembar rangkaian kalimat. Beliau bertutur tentang budaya copet yang juga punya norma yang khas. Dari mulai bahasa copet, sampai pembagian wilayah pencopet. Bahkan dalam dirinya masih menyimpan jutaan ilmu yang belum sempat dituliskan. Lihat saja tulisannya ‘gerbang maiyah’ yang di akhir guratan itu ada dua kata “tak terhingga….” Karena ilmu Allah memang tak terhingga….juga jawaban beliau menanggapi sms jamaah maiyah yang bermimpi menjumpai Cak Nun bersama Ibu Halimah dan Ibu Cammana. Bahasanya “berjuta kilo meter ilmu…”

Sekali lagi saya tidak ngarang, tetapi berdasarkan pengakuan dalam tulisannya yang mengapresiasi tentang Ibu Camana dan kenangannya di sana yang seandainya dituliskan maka akan berderet rangkaian kalimat yang butuh tampungan beratus lembar.

Kalau menurutku Cak Nun tipe manusia seperti samudra. Saya berpendapat seperti ini pun karena terinspirasi pendapat beliau tentang Gus Dur yang menurutnya sebagai manusia samudra. Jadi setiap sesuatu, hal, musti ia tampung. Ia sangatlah luas. Daya tampungnya seperti tak bertepi dan menampung berbagai macam persoalan, ilmu, manusia, jin, malaikat, dan masih banyak lagi.

Ketika di Yogyakarta dulu, dalam setiap bulan mengikuti Mocopat Syafaat, saya selalu mendapati keadaan langit terang benderang. Setiap Cak Nun hadir dalam Mocopat Syafaat pasti mendung tak menjadi hujan. Kehadirannya laksana kehadiran pawang hujan. Atas kehadirannya, sepertinya ‘kepala dinas’ hujan mempercepat hujan, atau memperlambat, atau bahkan membatalkan turunnya hujan, hingga mocopat syafaat selesai.

Tetapi ketika beliau tak hadir dalam Mocopat Syafaat, pernah pengkajian di TKIT Al Hamdulillah ini dirundung hujan. Hujan seperti ada remnya. Itu buktinya nyata saat mocopat syafaat dihadiri Amin Rais. Pentolan Muhammadiyah ini sempat ‘khawatir’ karena sepertinya hujan segera datang. Waktu itu Cak Nun sigap menenangkannya dengan bahasa khas beliau: “hujan akan menyesal seandainya jadi turun menyentuh kalian.” Suara krayak-krayak pun seperti di erem.

Beliau manusia merdeka, sekaligus memerdekakan. Untuk itu dia tak bisa menggunakan otoritasnya untuk membatasi siapapun, kapanpun, dimanapun. Bahkan ia telah memupuskan semua jenis kekuasaan atas dirinya. Dalam salah satu tulisannya kalau tidak salah. Ia menyatakan tak pernah menanam pohon dalam pot, karena itu sama halnya mengekang kebebasan pohon untuk tumbuh. Akar yang seharusnya bisa leluasa mekar, tak harus dibatasi oleh pot yang mengekang.

CARA

Cak Nun telah mengajarkan banyak cara, cara apapun, atau cara apa saja. Beliau mengajarkan cara berfikir yang benar. Kebenaran itu diambil dari logika yang sederhana dan mengena. Cak Nun mengajarkan metode berfikir pada awalnya. Dalam salah satu kasus ketika wacana presiden untuk Indonesia harus minimal berpendidikan sarjana, atau dia yang sudah mendapatkan gelar akademik strata satu. Cak Nun menimpalinya dengan pernyataan begini “dulu orang yang pertama kali memberi gelar itu mempunyai gelar tidak?” kalau tidak salah beliau meneruskan, “berarti orang yang bergelar dengan orang tak bergelar duluan mana?” pertanyaan itu sederhana tetapi menukik, dan saya kira cukup untuk menjawab sekian banyak kata ‘mubadzir’ yang lepas membahas syarat-syarat calon presiden.

Contoh lain lontaran pemikiran Cak Nun yang memakai metode pada awalnya, ketika membahas prioritas penggunaan akal dan wahyu. Cak Nun ngendiko: pada awal sejarah manusia tidak diberi wahyu, berarti ia hidup dengan akal tanpa firman. Setelah manusia banyak jumlahnya dan pengetahuannya berkembang, maka tambah pula daya ngeyelnya maka Allah memberi panduan hidup berupa kitab suci. Kalau ada pertanyaan kira-kira akal dan kitab suci kedudukannya mulia mana, maka cukup dijawab dengan ayat innal insana fi akhsani taqwim. Sesungguhnya manusia itu adalah sebaik-baiknya ciptaan. Kenapa begitu? Karena hanya manusia yang punya software akal. Maka kedudukan akal lebih mulia dari pada teks suci. Firman hanya membisu tak di mengerti tanpa akal. Akal bisa menjangkau mencari ayat-ayat kauniyah, seandainya tanpa ayat quliyah.

Metode berfikir lainn yang diajarkan Mbah Nun adalah berfikir meluas. Baru-baru ini muncul lagu keong racun. Bagi  nalar awam saya, mengartikan lagu itu layaknya searti dengan lagu kucing garong, karena isi lagunya juga sekitar ‘lelaki moto wedoan’ atau lelaki hidung belang.

Dalam nalar Cak Nun keong racun bisa di maknai secara meluas sebagai simpul salah satu wacana peradaban bangsa. Beliau mengaitkan dengan fabel lomba lari antara keong melawan kancil. Dalam fabel lomba itu si Kancil kalah telak dengan keong. Cak Nun mengidentikkan kancil sebagai simbol pemerintah sedangkan keong simbol rakyat. Dalam makna dongeng itu menunjukkan bahwa rakyat selalu menang kalau berhadapan dengan pemerintah, karena satu sebab: kebersamaan dan kekompakkan.

“lha sekarang keongnya sudah jadi racun!!!” dalam arti rakyatnya juga saling merusak, saling meracuni satu sama lain. Kaitan ini ditandai dengan deklarasi pemimpinnya: “bersama kita bisa” bisa disitu kalau seandainya dikaitkan dengan kenyataan kepemimpinan SBY kira-kira dimaknai sebagai “mampu” atau “racun” sebagaimana makna pada kalimat “Ular itu punya bisa”

Beberapa bulan lalu saya sempat nonton program TVRI yang mengapresiasi Ashadi Siregar. Disana Cak Nun, Garin, dan banyak orang hadir. Cak Nun bercerita tentang bagaimana cara Ashadi mentraktir teman-temannya. Menurutnya ada aturan main dalam traktiran itu: bagi yang mentraktir berpendapat kalau mentraktir itu harus makan lebih (tak sama) dari yang ditraktir, tetapi yang ditraktir juga punya aturan main sendiri. Mereka berpendapat, karena kita ditraktir, maka mengambil makanan mengikuti yang mentraktir. Jadi setiap kali Ashadi menambah makanan, teman-temannya juga menambah. “kalau diterus-teruskan, jadi bahaya ini, menguras dompet.”

Aturan main yang misalnya terjadi di angkringan itu bisa dinamakan sebagai syariat. Jadi syariat itu tidak mesti yang berbau ‘agama’. Syariat harus dimaknai secara luas. Cak Nun bilang, “yang punya syariat itu bukan hanya Hizbut Tahrir saja, Ashadipun punya syariatnya sendiri.” Disambut kelekar para hadirin.

Kita juga belajar berfikir metode ibda binafsik ala Romone Sabrang. Semua masalah mikro atau makro akan dikembalikan kepada intropeksi diri. Beberapa tahun lalu Cak Nun dipercaya oleh korban lumpur Lapindo untuk menyelesaikan permasalahan korban lumpur dengan PT. Minarak Lapindo. Kecenderungan yang berkembang di tengah masyarakat menyalahkan PT. Minarak Lapindo sebagai biang kerok, hal ini dapat dilihat dari tuntutan demo masyarakat korban.

Kecenderugan itu tanpa disadari melupakan korban lumpur lapindo dan masyarakat luas untuk intropeksi diri. Cak Nun memberi pernyataan bahwa bencana lumpur Lapindo adalah cobaan bagi semua bangsa Indonesia. Dalam daya tangkap saya Cak Nun mengajak masyarakat untuk berfikir bahwa kita semua punya andil atas kejadian Lumpur Lapindo, karena bencana itu merupakan akumulasi dari tumpukan kesalahan bangsa ini, bukan kesalahan PT. Minarak Lapindo semata.

Satu kasus menimpa Inul Daratista, karena goyang ngebor kontroversialnya. beberapa ulama melarang pementasan di beberapa kota. tetapi apa tanggapan Cak Nun. Beliau melihat dalam kasus ini Inul hanya sebagai korban industri, bukan subyek sehingga naif kalau kita mendlolimi korban.

Kita semua harus intropeksi, karena kita juga menonton goyang ngebor. “Peradaban bangsa cap opo iki. Orang dengan suka rela membayar untuk dipantati,”  Kita cenderung munafik karena walau mulut kita seperti membenci, kita tetap menikmati tontonan. Dalam bilik ingatan saya, Cak Nun pernah berujar entah secara lisan atau tulisan, tetapi secara redaksi saya sendiri yang ngarang: “gak usah nyuruh-nyuruh wanita berjilbab, kalau kita masih seneng nonton video porno. itu namanya munafik.”

Seandainya kita sempat hadir dalam acara maiyah seperti Mocopat Syafaat di Yogyakarta, kita akan mengenal bermacam-macam ilmu yang tak dibatasi secara fakultatif seperti di Universitas, diantaranya: Cak Nun meneladankan kepada kita tentang komunikasi yang komunikatif. Suatu saat dalam batin teman saya berujar “saya justru mengalami komunikasi yang komunikatif di forum ini, bukan di kelas Public Relation Kampus sana.”

Pernah aku membaca tulisan Cak Nun yang berujar, “belum tentu profesor komunikasi bisa ngobrol komunikatif dengan para kuli di warung kopi.” Kalau begitu apa sesungguhnya manfaat ilmu itu. teori tak berarti apa-apa kalau tidak dipraktekan.

Jutaan petani terus menanam dengan baik, tanpa harus ‘mangan bangku sekolahan pertanian. Tapi itu semua tak harus menjadikan kita merendahkan satu sama lain. Yang sekolah tidak merendahkan yang awam sekolah, dan yang tak sekolah terampil tak boleh melecehkan ilmu sekolahan. Demikian anjuran guru kita.

Kalau menilik ajaran Jawa: ilmu kelakune kanti laku. Ukoro ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan tentang pentingnya ilmu yang bermanfaat (ilmu nafi’).

Juga dalam salah satu hadis mengatakan man amila bima ulima waratsatullahu ma lam ya’lam. siapa yang mengamalkan ilmunya, maka ia akan diwarisi Allah sesuatu yang belum diketahuinya.

Untuk masalah cari ilmu. Cak Nun juga mengajarkan bahwa kedudukan muridlah yang harus aktif mencari, karena murid itu kata Arab yang asal katanya arada yang berarti menghendaki ilmu. Orang yang menghendaki pasti akan terus berusaha terus menggali, meneliti, mencari ilmu dimanapun, kapanpun.

Guru sejati kita adalah Allah. Dialah yang seratus persen punya saham terhadap kita. Ilmu yang kita punyai juga saham pinjaman dari Allah. jangan membatasi diri, bahwa mencari ilmu harus di sekolahan, karena betapa dimanapun Allah menebar ilmu dan hikmah. Jangan membatasi guru itu harus di sekolah, karena kita bisa berguru terhadap apapun, siapapun. Bisa berguru kepada air, api, tanah, cacing, anjing, mega, kilat, dan…tak terbatas.

Tafsir

Sudah menjadi kebiasaan Cak Nun adalah berfikir mandiri dan orisinal. Hal itu juga berlaku bagi daya tafsirnya atas ayat-ayat al-Qur’an. Dalam satu kesempatan, beliau sempat menafsirkan salah satu ayat dalam surat Al-Hujurat, yang berbunyi “janganlah kau meninggikan suaramu melebihi suara Nabi…” bagi Cak Nun, tidak meninggikan suara melebihi suara Nabi tak hanya berlaku bagi sahabat yang masih berjumpa dengan Rasul.

Ayat itu berlaku sepanjang masa dan sepanjang kehidupan manusia. Ketika ayat diartikan hanya sebatas suara yang keluar dari mulut, maka berlakunya ayat hanya terbatas pada masa ketika Nabi masih hidup. Sehingga ayat tersebut terasa kadaluarsa untuk saat ini. Padahal kandungan ayat al-qur’an selalu mewadahi zaman, dengan catatan ada tafsiran yang bisa menggali makna lebih lanjut.

“Jangan meninggikan suara…” bagi Cak Nun berarti juga jangan sampai dirimu terkenal, masyhur, melebihi kemasyhuran Allah dan Nabinya. Hal itu juga sesuai kenyataan pada masa sekarang yang banyak orang demam ingin terkenal; pingin dianggap sebagai orang baik, sehingga mereka mengusahakan sekuat mungkin mengiklankan diri di TV, Media Massa, bahkan di baliho-baliho yang biasa kita lihat di pinggir-pinggir jalan. Booming pingin terkenal juga dialami oleh para Dai, Ustadz, Kiai, dan oleh lembaga-lembaga komersial maupun non komersial.

Logika komersialisasi menelusup ke segala lini, upaya pembrandidan menjadi acuan bagi segala hal, tak kecuali agama dan keberagamaan, sehingga untuk menjadi dai supaya popular pun harus mengiklankan diri. Iklan seakan menghapus hinanya riya, sumah, ujub, dan semakin jarang keikhlasan dipertimbangkan oleh manusia kontemporer.

Cara yang harus dilakukan untuk mengamalkan ayat tersebut adalah dengan menyampaikan ajaran-ajaran Nabi Muhammad yang mengemban wahyu ilahi. Kata Cak Nun, “dihadapan orang kita membawa Allah dan Rasulnya, dihadapan Allah kita membawa umat.” Dengan begitu, maka tidak ada kesempatan bagi ego untuk memasyhurkan dirinya sendiri. Sehingga beliau dalam penggalan syairnya berkata “bukan diriku ini yang kurindukan, bukan diriku ini yang kuinginkan.”

Tafsir lain yang selalu saya ingat adalah tafsir atas ayat enam surat al-fatihah. Dalam kebanyakan terjemahan bahasa Indonesia selalu diakatakan “tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus…” bagi Cak Nun tidak ada jalan yang lurus, semua jalan pasti berkelok dan naik turun. Beliau bilang “yen jalan lurus yo nabrak-nabrak, dalan iku yo mesti ono belokane.” Kurang lebih begitu ungkapan beliau. Maka bagi beliau dalam mengartikan ayat ihdina ash-shirat al-mustaqim, diartikan sebagai “tunjukanlah jalannya orang-orang yang istiqomah.”

Dalam beberapa catatan literature tasawuf juga dikatakan bahwa “sesungguhnya hakekat karomah itu adalah tetapnya diri dalam keistiqomahan dalam mengabdi kepada Tuhannya.” Hakekat karomah itu bukan sebagaimana lazim dimengerti praktik sing ngowahi adat (khowariqul adat) bisa terbang, bisa menghilang, bisa mendatangkan angin, bisa menduplikat diri menjadi banyak (bolo sewu), bisa berjalan di atas air. Tetapi karomah sesungguhnya konsistensi dan keistiqomahan hamba dalam menjalani keimanan, keislaman, dan keikhsanan.

Sempat saya menemukan ujaran dari KH. Ahmad Rifai yang mengatakan, kalau seandainya karomah dimaknai sebagai bisa terbang, hal itu bisa dilakukan burung merpati yang hanya sebagai santapan manusia. Kalau karomah berarti bisa berjalan di atas air, maka hal itu cukup dilakukan bebek yang juga sebagai santapan manusia. Manusia yang akhsani taqwim terlahir di dunia bukan untuk mengejar hal-hal yang bisa dilakukan binatang. Tetapi bagaimana ia hidup bisa mengemban amanat sebagai khalifatullah.

Dalam menafsirkan ayat la yamassuhu illa al-muthoharun tidak seperti umumnya orang mengetahui bahwa ayat tersebut menunjukkan bahwa orang yang tidak suci dari hadas tidak boleh menyentuh al-Qur’an. Atau beberapa saudara berpendapat bahwa tidak bisa menyentuh kalam Allah yang ada di laukhil makhfudz kecuali makhluk yang telah disucikan yaitu para malaikat. Bagi Tafsir Cak Nun tak bisa menyentuh kebenaran makna ayat-ayat al-Qur’an, sehingga orang itu bebas dari hawa nafsu.

Hanya Allah Yang Maha Tahu dan Cak Nun lebih tahu tentang tafsirnya.

Batas

Manusia sangat terbatas, itu sudah menjadi kudrat setiap makhluk, khususnya manusia. baik keterbatasan dalam ilmu, materi, pengalaman dan lain sebagainya. Yang perlu diusahakan oleh manusia adalah selalu untuk berdiskusi, mencari terus ilmu sampai ke liang lahat dalam bahasa Nabi. Sehingga ia mampu memperluas border yang membatasinya. Sebagaimana diungkapkan Sabrang dalam forum Kenduri Cinta, bahwa perdaban manusia yang maju itu ketika ia selalu merasa kurang dan terbatas, sehingga ia selalu berusaha untuk berdiskusi dengan peradaban-peradaban lainnya, hal itu juga berlaku bagi manusia tentunya.

Bagi Cak Nun manusia memang terbatas, tetapi justru keterbatasan manusia itulah sejatinya yang menjadi tolok ukur keampuhannya. Pendekar tidak dikatakan hebat ketika ia bertempur membutuhkan luasnya ruang. Ia dianggap sakti ketika ia mampu mengalahkan dalam ruang yang sesempit apapun. Tidak hanya itu, sejatinya pendekar bukan bertujuan mengalahkan, tetapi memakai manhaj menang tanpo ngasorake.

Hal ini juga terkait dengan pengalaman hidup Cak Nun ketika di Patangpuluhan Yogyakarta. Beliau mengasuh diskusi sambil menulis. Sesekali ia memoderasi beberapa teman yang inten di acara yasinan. Kemudian ia segera menghadap mesin ketiknya untuk menulis mengejar deadline tulisan-tulisan di beberapa media masa.

Ia mampu menulis dalam keadaan rame dan sepi. Mitos penulis butuh konsentrasi dan suasana keheningan, bagi Cak Nun sebuah batas yang harus di tembus. Membaca buku sebelum menulis, bagi Cak Nun juga merupakan pagar, makanya ia menulis segala hal yang sempat ia baca, tak hanya bersumber dari buku, tetapi kebanyakan refleksi beliau terhadap apa yang sempat dia lihat dan fikirkan.

Banyak manusia yang terjebak pada batas-batas, lebih parahnya batas itu diyakininya sebagai kebenaran. Misalnya keyakinan sementara banyak guru, bahwa menyelenggarakan kegiataan belajar mengajar harus di dalam ruangan, bahkan keyakinan itu tak hanya sebagai anggapan kebenaran bagi guru, tetapi termasuk, Departemen Pendidikan meyakini, dan tak memberikan izin bagi masyarakat yang akan menyelenggarakan misalnya SD di tempatkan di rumah warga, atau belajar di halaman, kebun, sungai, sawah dan ladang. Kenyataan belajar wajib di dalam ruangan, termasuk sebagai batas yang telah dibantah oleh model pendidikan alternative, sebagaimana pendidikan ala SMP Qoryatun Thoyibah di Salatiga, juga beberapa sekolah-sekolah alam yang sekarang bermunculan.

Cak Nun sendiri sosok figure yang melintas batas. Dia menyatakan sendiri, bahwa dirinya sempat melakoni 27 profesi selama hidupnya, bahkan akan selalu bertambah. Banyak orang menganggap bahwa Cak Nun merupakan sosok multyfaced, karena beliau dikatakan sebagai wali, budayawan, sastrawan, artis, kiai, maestro, dai, theolog, dukun, aktifis, penyair, vokalis, cerpenis, kolumnis, politikus, cendekiawan muslim, guru bangsa, guru, seniman, musikus, pengamat sosial, kritikus, ilmuwan, suaminya Novia Kolopaking, Bapak, dan masih banyak profesi lagi.

Beliau juga berteman dengan banyak manusia yang tak mengenal batas, dari manusia yang hidup sampai mereka yang dikatakan banyak orang sudah meninggal dunia. Kalau kurang percaya kita bisa membaca tulisan Cak Nun tentang Lumpur Lapindo, beliau mengaku sempat di SMS dengan tanpa nomor oleh Mbah….yang banyak orang menganggapnya telah meninggal dunia lama. Berteman dengan pencopet sampai rabbi yahudi internasional. Bersahabat dengan pemeluk berbagai macam agama, dan keyakinan bahkan beberapa temannya ada yang atheis.

Cak Nun juga tak pernah membatasi anaknya sendiri dengan intruksi layaknya seorang Bapak yang bernafsu agar anaknya jadi ini dan jadi itu. Menurut pengakuan Sabrang beliau hanya memberi pertanyaan-pertanyaan kritis kepada anak-anaknya, untuk dipecahkan dalam jangka waktu yang panjang. Ia mengajak orang lain untuk berfikir, kemudian secara mandiri memetakan, mencari penyelesaian-penyelesaiannya dalam hidup.

Dalam satu kesempatan di Mocopat Syafaat beliau sempat bercerita tentang batas antara ilmu agama dan ilmu umum. Dia menceritakan tentang Kiai Zarkasyi Gontor Ponorogo yang ditanyai oleh pegawai Departemen Pendidikan dalam satu kunjungan. “Di sini ilmu umumnya berapa persen, dan ilmu agamanya berapa persen?” Kira-kira begitu pertanyaannya pegawai negeri sipil itu. Kiai Zarkasyi menjawab, “disini yang diajarkan semuanya ilmu agama.” Pegawai yang menanyainya kaget atas pernyataan Kiai. Lho tapi kan disini diajarkan matematika, fisika, biologi?” Kiai Zarkasi menjawab, “Lha semua itukan ada kaitannya dengan agama.”

Cak Nun juga sering mengungkapkan bahwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) sebagai lembaga fatwa sangat terbatas, karena dalam satu perbincangan yang juga dihadiri oleh Jalaluddin Rakhmat dan Gus Dur, beliau berpendapat, seharusnya MUI terdiri dari ilmuwan-ilmuwan yang lengkap, tak hanya mereka para ahli fiqih, tetapi juga mereka yang fasih dalam biologi, fisika, kimia, dan ilmu-ilmu lainnya.

Agama bagi Cak Nun tidak terbatas pada fikih saja, tetapi juga berkaitan dengan bal-balan, kesehatan, budaya, seni, informasi, hiburan, pendidikan, politik, teknologi, penemuan-penemuan baru dan masih banyak lagi. Misalnya ketika MUI akan memberikan fatwa halal kepada acinomoto, maka dia harus punya orang yang mampu meneliti proses kimiawi pembuatan acinomoto, maka butuh ulama ahli kimia.

Dalam tulisan-tulisan Cak Nun juga selalu bercirikan melintas batas. Karena bal-balan dalam tulisannya bisa dilihat dari bermacam perspektif, dari perspektif global, sampai yang local, bahkan hal yang bagi orang mustahil untuk dihubungkan, bagi Cak Nun sebagai kelihaian daya piker beliau, sehingga mampu terhubung dan bisa menjadi perspektif baru.

Dalam satu kesempatan beliau sempat mengungkapkan bahwa pendidikan itu kaitannya dengan rab atau dzat yang Maha Mengasuh, maka pendidikan dalam bahasa Arab dikatakan sebagai tarbiyah, karena memang pendidikan itu harus mengarahkan manusia untuk menuju tuhannya (rab). Kemudian mendadak ia melontarkan kenyataan budaya yang selama ini berlangsung. Dari dulu seorang ibu ketika ngemong anaknya, pasti dia akan bilang Ciluuuup Baaaa, bukan Ciiiluuuup Jim karena memang huruf ba itu sifatnya mangku, memadahi, menampung, maka huruf ba juga termasuk bagian huruf yang ada di lafadz rab. Wallahu Alaam

Air

Semua orang tentu tahu apa itu air. Dari sifatnya air sangat fleksibel. Karena ia bisa adaptasi dengan jenis tempat apapun. Misalnya ia menempati ruang kotak, maka tentu ia lihai menjadi bujur sangkar. Menempati botol ia akan mengikuti botol. Dicampur bersama kopi maka ia ‘pura-pura’ menjadi kopi. Di daur dengan gula, juga akan terasa manis. Tetapi yang perlu diingat adalah tidak ada istilah bahwa ‘air larut dalam gula, yang jelas pasti gula larut dalam air’. Sesungguhnya ia hanya melayani semua makluk lain yang ingin bersilaturahmi dengannya, walaupun silaturahmi mereka sangat banyak membawa kepentingan.

Air juga sering dipengaruhi, didlolimi dan tidak menjadi kalah, tetapi ia selalu ngalah. Ia bisa didzolimi jenis limbah manusia apapun. Dari limbah industri sampai limbah industri pencernaan setiap manusia. Kefitrahannya yang bening selalu mengalah dengan pekatnya air limbah. Tapi jangan dikira ia mustahil membebaskan diri dari semua itu. Karena ia selalu nga Allah atau mengalah, alias berserah diri sepenuhnya pada kudrat dan iradat Allah, maka yang pantas menolong air hanyalah Allah.

Ia diberi kelebihan oleh Allâh dengan mudah membebaskan diri dari hegemoni limbah dengan cara menguap. Merdeka dari pembentukan apapun dengan cara membeku, walaupun membeku juga merupakan jenis bentuk, tetapi dengan membeku maka ia memprinsipkan diri dalam satu bentuk.

Cak Nun dalam satu kesempatan, entah dari tulisannya atau dari lisannya pernah mengutarakan bahwa cacing bisa melubangi tanah tidak layaknya manusia dengan benda-benda keras seperti cangkul, linggis, bor biophori, tetapi cacing dengan mengairi tanah sehingga tanah menjadi gembur dan mudah untuk ditembus. Cacing sendiri komposisi tubuhnya sangat didominasi oleh air.

Setuju atau tidak kelebihan air dalam beberapa kesempatan melebihi cahaya. Menurut penglihatan mata kita cahaya tak bisa menembus beton cor-coran, tetapi air mampu merembesinya. Lokasi-lokasi yang tak bisa dijangkau cahaya, mampu di diami air. Maka tak heran juga apabila manusia dan bumi ini kurang lebih tujuh puluh persennya terdiri dari air.

Menurut Cak Nun jenis manusia Indonesia itu laksana air. Ia hobinya mengalah. Kata Cak Nun misalnya dalam bal-balan melawan kesebelasan negara lain itu bukan kalah, tetapi mengalah. “Mesakno rek…mosok yo wis adoh-adoh soko Prancis…ning kene malah dikalahno.” Demikian tanggapan Cak Nun terhadap kekalahan bal-balan Indonesia melawan Prancis.

Berdasaarkan catatan sejarah negara Indonesia dijajah selama tiga setengah abad. Layaknya air yang dijajah kopi, tetap tidak mungkin ia larut dalam kopi, tetapi kopilah yang larut dalam air. Buktinya di Indonesia tidak ada perkampungan londo, tetapi di negeri kincir angin itu ada perkampungan Suriname yang berbahasa Jawa Indonesia. Ayo coba tebak, siapa yang terpengaruh dan siapa yang dipengaruhi?

Kita dijajah sekian abad, tetapi hanya masih selang beberapa generasi saja, kita tak selera menggunakan bahasa Belanda. Berbeda dengan Malaysia yang hanya dijajah beberapa tahun oleh Inggris, langsung saja bahasa keduanya bahasa Internasional itu. Yang jelas Belanda sebagai penjajah yang sekarang justru terjajah atau terpikat dengan keindonesiaan. Buktinya mereka sangat sayang dengan dokumen-dokumen tempoe doeloe Indonesia. Saudara kita mantan penjajah itu ngopeni dokumen-dokumen sejarah kita sangat banyak dan lengkap, banyak orang yang sudah mampir di perpustakaan Leiden mengatakan, seadainya dokumen itu dijajar bisa sepanjang Yogyakarta – Semarang pulang pergi. Wallahu alaam.

Indonesia sebagai negara pengirim TKI, TKW, itu dikatakan banyak orang Indonesia sendiri sebagai bangsa bodoh. Karena tak mampu mengirim tenaga profesional lainnya yang lebih trampil dan terdidik, misalnya seperti teknisi. Jangan bilang begitu, karena sekali lagi kita itu bangsa Air kata Cak Nun.

Coba amati saja perubahan selera makan orang-orang Arab Saudi, Abudabi, dan bangsa timur tengah lainnya yang sempat dilayani para TKW Indonesia. Mereka ternyata banyak yang mengalami perubahan selera makan menjadi ngamel ngemplok nasi dan masakan ala Indonesia. Bukti yang lain, sekarang banyak orang Indonesia yang membuka warung masakan Indonesia yang dijajakan di Saudi Arabia, dan banyak penggemarnya asli orang sana. Kalau tidak salah lagi, Cak Nun pernah menceritakan banyak bayi di Hongkong yang tak mau diam dari tangisnya kalau belum di lelo-lelo dengan lengkingan shalawatan TKW Lamongan.

Kata Cak Nun, kalau Indonesia ada masalah dengan Malaysia, kita tak usah ngancam pakai kekuatan militer segala, cukup dengan menarik jutaaan TKW Indonesia, cukup mengguncang perekonomian nasional, karena bisa dibanyangkan bagaimana para Ibu Negeri Melayu itu tak jadi dinas ke kantor, gara-gara anaknya tak ada yang ngemong.

Kalau TKW Indonesia jadi dipulangkan semua ke Indoensia, juga keluarga masyarakat Malaysia jadi marah-marah karena tak ada lagi yang membersihkan rumah, kebun. Mulut mereka juga terasa kecut karena sudah ketagihan masakan ala TKW. Dari hal itulah bisa dikatakan bahwa Indonesia adalah bangsa air. Karena dia memposisikan diri selalu untuk melayani, mengerti, empati, terhadap keadaan yang lain, walau seringkali ia haru nga Allâh.

Gojeg

Gojek kata yang sering saya dengar di Jogja, sepaham saya kata itu sejajar dengan guyon di tempat saya Pekalongan. Atau dalam bahasa Indonesianya: bergurau. Cak Nun jagonya gojeg. Dia seorang humoris. Mungkin nuansa kelucuan-kelucuan itu juga yang membuat jamaah betah menemaninya, tentunya masih banyak faktor lain.
Kehadirannya pasti mengundang senyum banyak orang, bahkan tawa masal bisa terjadi atas ujaran-ujarannya. Mungkin kalau dikaitkan dengan ungkapan Cak Nun yang biasa kita dengar bahwa orang beriman itu kehadirannya harus membuat aman manusia, dan makhluk lainnya. Menurut saya humor merupakan cara untuk membuat orang lain merasa aman. Ia juga berfungsi sebagai bahan pelunak kekakuan-kekakuan dalam berkomunikasi.

Jamaah merasa jenak, kerasan, karena dalam forum itu tak ada ketegangan, tak ada formalitas, tak ada aturan tetek bengek. Itu semua karena selalu ada intermezo kelucuan-kelucuan gratis. Menurut anjuran Cak Nun, Jamaah Maiyah sebaiknya memilih hiburan yang bermakna untuk hidupnya. Untuk bisa tertawa dengan lepas, sebenarnya tak butuh biaya. Hiburan memang tak harus memakan milyaran rupiah seperti di acara-acara TV.

Dalam satu pertemuan Cak Nun bertanya serius “ada yang tahu gak? Kenapa Israel menyerang Palestina lagi?” Jamaah terdiam. Beliau mulai menceritakan asal-usul kenapa Israel menyerang dengan gencar Palestina. Dulu ketika bantuan Israel datang untuk membantu korban gempa di Jogja, umat Islam Jogja tak ada yang berani menerima, bantuan itu. Terpaksa dari Himpunan Masyarakat Sholawat menerimanya. Sebagai tanda terima, mereka meminta tanda tangan dan stempel. Setelah beberapa minggu pasca bantuan itu diterima, Israel mulai menyerang Palestina membabibuta. Pemerintahan Israel dongkol, karena bantuannya salah sasaran, yang menerima ternyata HAMAS (Himpunan Masyarakat Sholawat) musuh bebuyutannya. Cerita itu langsung mengundang tawa ratusan, mungkin ribuan jamaah Mocopat Syafaat.

Bagi Cak Nun sesuatu yang lucu tak harus sesuatu ‘yang baru di dengar’. Buktinya Mbah Surip yang menyampaikan itu-itu saja, alias mengulang apa yang telah ia sampaikan, bahkan pendengarnya sebagian telah mendengarnya, tetapi masih saja mengundang tawa.

“Humor tak butuh banyak kosa kata.” Kata Cak Nun. Cukup dengan kata ‘saudara kembar’ jamaah sudah terpingkal-pingkal.

Ceritanya waktu itu Mocopat Syafaat dihadiri ‘Pendekar Syair Rusak-rusakan’ alias Pak Mustofa W Hasyim. Ketika pas pembahasan menyinggung masalah Presiden SBY, tak disangka terdengar cletukan dari Cak Mus, “saudara kembar.” Langsung hadirin terpingkal-pingkal. Bahwa menurutnya SBY adalah saudara kembar Cak Mus.

Cak Nun paling gemar menceritakan humor ala Madura. Beliau mengagumi peradaban Madura. Suatu hari Abang Becak yang berasal dari Madura menerobos lampu merah. Polisi yang kebetulan di seberang jalan memarahi dengan kata-kata “dasar goblok.” Dengan santainya driver roda tiga ini menjawab, “kalo pinter gak becak pak.” Tentunya dengan logat Madura.

Cak Nun bisa gojeg dimanapun, kapanpun, dengan siapapun. Dari Forum yang sangat formal, sampai forum-forum lesehan. Seperti dalam liputan di Tempo Online yang berjudul “Hanya Cak Nun yang mengundang Tawa” menerangkan bahwa dalam forum seformal pertemuan di Mahkamah Konstitusipun ketegangan bisa cair, karena lontaran jok-jok dari Cak Nun. “sebenarnya saya ini bukan ahlinya untuk membahas masalah ini, tetapi karena saya itu paling takut dengan orang Madura. Maka terpaksa saya menghadiri acara ini.” Karena waktu itu yang mengundang Cak Nun, Makhfudz MD yang kelahiran Madura.

Gojeg Cak Nun yang dilakukan dimanapun, kapanpun, dengan siapapun, bukan berarti bergojeg dengan sembarangan, beliau tetap melihat momentum yang pas untuk melepas jok-joknya. Dalam beberapa kesempatan beliau juga terlihat ‘tak berkenan’ ketika lelucon itu dilakukan terus-menerus di sembarangan tempat.

Misalnya ketika Pak Novi Budianto mendapat cobaan terpeleset dan tulang kakinya patah. Cak Nun menceritakan asal-usulnya, bahwa diantara personel Kiai Kanjeng ini ada yang suka memplesetkan setiap kata yang didengarnya. Ketika memasuki Makkah untuk beribadah umroh, mereka sudah menahan untuk tidak saling pleset-memplesetkan. Tetapi mereka saling pancing untuk memplesetkan lagi. Ketika mendengar istilah miqot, spontan Mas Novi bilang “Mi Kocok.”

“ora suwe de’e dikocok tenan” ujar Cak Nun yang tentunya mengundang gelak tawa lagi.
Dalam lingkaran Mocopat Syafaat, Cak Nun terlihat ‘ndagani’ ketika Kiai Harwanto almarkhum ujaran lucunya tak habis-habis. Karena waktu itu Pak Amin Rais sedang membahas masalah yang serius tentang Indonesia yang sangat tergantung dengan kebijakan negara lain, dan perekonomian liberal. Mungkin kurang pas karena besar humor dari pada serius. Waktu itu MH berujar “Cinta Pak Amin kepada Indonesia 100%. Maka kita juga mengapresiasinya 100%.”

Mohon maaf tulisan-tulisan saya hanya berdasarkan ingatan. Maka validitasnya ‘wajib’ diragukan. Semoga tak menambah madlarat.

Pekalongan 23 Juni 2010

Menguap

Aku pernah bertanya kepada temanku yang juga aktif di Mocopat Syafaat. “pernahkah engkau mendapati Cak Nun menguap?” ia menggelengkan kepala. Sepanjang perjumpaanku dengan beliau, tak secleretanpun aku melihat dia menguap. Tidak menguap, atau sedikit menguap, bagiku hal yang istimewa bagi manusia biasa (al-basyar). Kalau aku merasakan tubuh ini lelah, kurang tidur, biasanya dalam beberapa menit bisa menguap beberapa kali.

Selain dari kelelahan, juga kita rasakan, rasa kantuk itu juga berasal dari kejenuhan. Sudah biasa kita lihat beberapa diantara kita selalu terkantuk-kantuk ketika mendengakan semilir khutbah tiap Jum’at. Kata orang sih, “karena semilir surga menghampirimu, jadi setiap khutbah jum’at selalu dijenuhi dengan deretan shaf para pengantuk.” Mungkin tidak hanya anginnya surga yang menyapa kita tiap jumat, tetapi juga bisa karena kejenuhan mendengar khutbah yang normatif.

Tetapi seandainya jiwa raga ini hadir dalam minat memperhatikan sesuatu dengan kehadiran hati, atau dibawa oleh keadaan yang bahagia, penuh cinta, maka berjam-jam kita tak dilanda kantuk, apalagi menguap sebagai pintu tidur. Itu terjadi di setiap malam Mocopat Syafaat. Tidak hanya Cak Nun yang tidak menguap, tetapi mungkin beberapa jamaah maiyah juga ketimbalan tidak menguap. Bukan masalah mau kontes tak menguap dan tak kantuk, tetapi ini masalah yang tidak biasanya di forum-forum apapun juga. Selama tujuh jam kita duduk. Tak terasa juga kita seperti tersihir dengan alunan syair-musik Kiai Kanjeng, dengan diskusi yang panjang, tetapi tak terasa lama. Perjumpaan yang berjam-jam tetapi terasa hanya beberapa menit.

Tidak ada kejenuhan, karena dalam forum Mocopat Syafaat selalu ada yang baru. Kadang tiba-tiba kita berhadapan hanya beberapa meter dengan orang-orang yang tak terpikirkan kita bisa menjumpainya. Tiba-tiba tercengang dengan group musik dari madura, yang terdiri dari puluhan orang, bahkan waktu itu seingatku sampai enam puluh orang. Tiba-tiba kita berhadapan dengan para ‘korban lumpur’ yang mengutarakan laku hidupnya. Perjumpaan itu benar-benar menggetarkan. Sampai beberapa jamaah tak terasa meneteskan air mata, saat warga porong itu segera meninggalkan Mocopat Syafaat. tak bisa kita temukan oplosan pengajian, musik, humor, pementasan teater, diskusi, problem solving, istighosah, shalawatan, dan masih banyak lagi, selain dari forum-forum yang telah diselenggarakan oleh CNKK, dan jamaah maiyah.

Selain itu, mata yang tak dilanda kantuk juga disebabkan para ‘pelayan’ yang selalu menghibur kita dengan humor-humor yang bermakna, dan bernilai. Kita bisa mengenal Kiai Harwanto, dia paling cekatan kalau membuat kepanjangan dari singkatan-singkatan. Misalnya beberapa singkatan yang sempat saya ingat. KNKT: Komite Naik Kapal Tenggelam. Waktu itu pas menyinggung masalah tenggelamnya kapal KM Levina, yang tenggelam setelah beberapa anggota Komite Nasional Keselamatan Transportasi menaiki kapal Levina, jadi kepanjangannya kontekstual. Saat tampil bersama Cak Nun pasca gempa di Bantul, Harwanto memberikan kepanjangan kepada salah satu hadirin yang sempat kenalan di depan panggung. “namanya sinten Mas?” dia langsung jawab “Sutris” Harwanto tanya lagi “darimana?” Sutris jawab “dari Parangtritis.” Spontan Harwanto nyletuk “Suaaking Parangtritis.” Cak Nun waktu itu juga memberikan kepanjangan dari teman kita yang mengaku bernama Helmi. “helm miring”.

Jelas gojeg, guyon semacam inilah yang segera mungkin mengusir kantuk, dan mulut ini tak ingin lagi menguap.

Ahmad Saifullah

Leave a comment

Your email address will not be published.

*