Tanbihun.com – Judul di atas merupakan bagian pernyataan dari Rasulullah yang pernah bersabda: “demi Allah, demi Allah, demi Allah, tidak beriman orang yang menyakiti tetangganya.” “tidak masuk sorga orang yang membuat resah tetangganya dengan keburukan prilakunya.” Hal ini juga didukung sabda Nabi yang lain “mukmin yang sempurna adalah mereka yang ahsan akhlaknya.”
Juga hadis-hadis lain dalam bab Iman, tentang kaitan erat antara iman dan akhlak. Misalnya hadis yang menerangkan bahwa tidak beriman seseorang yang tidak mencintai saudaranya, laksana mencintai dirinya sendiri. Tidak beriman seseorang yang dirinya kenyang sedang tetangganya lapar. Tidak beriman seseorang sehingga ia berkata benar atau diam. Tidak beriman seseorang sehingga ia meninggalkan bohong. Malu, bidzadzah (tawadlu dalam berpakaian dan hal-hal yang tampak, dan menghindari berbangga diri) itu bagian dari iman. Menyingkirkan duri (rintangan) dijalan juga bagian dari iman.
Sampai dalam al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa orang yang beriman itu adalah orang yang shalatnya khusyuk dan mereka yang mampu memelihara kemaluannya, dan mereka yang menunaikan zakat. Bahkan ditegaskan dalam al-Qur’an bahwa seseorang telah membohongi agama apabila dia shalat tetapi tidak memperhatikan kesejahteraan fakir miskin, dan anak yatim. Sebelum kita membahas akhlak mari kita lihat dulu apa arti iman.
Iman adalah kata Arab yang berasal dari kata dasar amana yu’minu imanan berarti percaya, setia, aman, melindungi dan menempatkan sesuatu pada tempat yang aman. Dalam kitab Riayat Al-Himmat karangan KH. Ahmad Rifai menyatakan bahwa Iman menurut bahasa berarti membenarkan (al-imaanu fi lughati al-tashdiqu). Maksudnya membenarkan semua yang datang dari Rasulullah (al-tashdiqu ma ja’a bihi rasulullah). Tak hanya membenarkan, kita harus pasrah atas segala ketentuan-ketentuan Allah dan Rasulullah atau dalam bahasa al-Qur’annya taslim wal inqiyad.
Metode pasrah bongkokan kepada Allah dan Rasulullah, adalah prioritas, memandang papan palungguhan, segala apa yang datang dari Rasulullah. Dengan cara pandang prioritas, maka umat Islam memandang bahwa yang paling penting dari agama yang dibawa Nabi itu adalah akhlak. Kita tahu hal itu atas petunjuk Rasulullah yang bersabda aku diutus untuk menyempurnakan (mengutamakan) akhlak (innamaa bu’itstu li utammima makarimal akhlaq).
Akhlak itu bisa diartikan perilaku manusia terhadap manusia, makhluk lain dan alam semesta. Makanya ada istilah bahwa Islam harus rahmatan lil alamin. Rahmat bagi alam semesta. Kehadirannya membawa manfaat kepada makhluk di seluruh alam semesta. Ilmu orang beriman harus membawa manfaat bagi kelangsungan lingkungan dan makhluk lain.
Sementara ini manusia masih sebaliknya. Ilmu manusia sekarang bukan membawa rahmat, tetapi mempercepat kiamat. Ambil emas, dengan meracuni air, mengotori tanah, mempolusikan udara, mengusir hewan, menebang tumbuhan dan merusak segala ekosistem dan habitat makhluk hidup.
Sama halnya mengambil ikan dengan cara mengebom, atau menjenu. Ingin dapat ikan tetapi dengan cara instan dan ngawur. Sehingga yang mati kucing karena makan ikan dengan kandungan potas; yang sakit manusianya karena memakan ikan yang telah menghirup racun; yang habis generasi ikannya, karena semuanya mampus di habisi obat kimia. Ganggang dan lumut juga ikut mati padahal mereka penyedia oksigen untuk kepentingan manusia. Mereka juga penyeimbang daur ulang kehidupan, dan ekosistem.
Kedudukan manusia sebagai khalifah harus didasari iman dan ilmu kemudian produknya iman dan ilmu itu akhlak. Maksudnya begini, misalnya kita buka bengkel, maka iman itu adalah yang selalu memberikan panduan kepada kita tentang tujuan membuka bengkel. Apakah mau cari uang semata, atau memprioritaskan tujuan membantu orang lain dalam menyelesaikan masalah kerusakan motor. Kalau meyakini bahwa taawun (tolong menolong) adalah kebaikan yang dianjurkan al-qur’an, maka prioritas buka bengkel adalah menolong.
Kalau iman kita tidak memandu, sedangkan iklim kapitalisme telah meracuni segala aspek kehidupan manusia, sehingga buka usaha selalu tujuannya terkumpulnya uang sebanyak-banyaknya. Demi uang seseorang rela berbuat apapun. Seperti kejadian bengkel tambal ban menyebar paku, supaya bengkelnya laris. Itu semua dikerjakan karena buka bengkel tujuannya uang tok til, maka imannya menyusut dan bisa sampai punah, karena gelap mata atas uang yang akan didapatnya.
Tanpa didasari iman, presiden bisa saja seenaknya memburu kekuasaan, jabatan, uang dengan mengabaikan kebenaran, dan buta perbedaan antara batil dan haq. Sehingga dana kampanye bisa dengan seenaknya ambil uang rakyat. Hal ini sangat gamblang di depan mata jutaan rakyat Indonesia, tentang ditutupnya kasus century, karena diduga melibatkan patgulipat korupsi istana.
Akhlak juga biasa diartikan sebagai perangai. Kalau perangai anda hanya pemarah. Maka anda belum punya akhlak yang baik. Akhlak yang baik adalah rangkaian dari berbagai macam perangai (akhlak). Karena kalau satu perangai dinamakan (khuluq). Orang marah ketika tepat pada waktu dan tempatnya, dalam arti marahnya didasari dengan landasan lillah billah, maka itu juga akhlak mahmudah tapi masih satu perangai, maka selanjutnya ia harus mempunyai perangai bercanda, menghibur orang yang kita marahi, ketika ia sudah sadar atas kesalahannya.
Orang serius yang tak bisa jenaka tak selamanya baik, karena dalam sisi kehidupan manusia pasti disandingkan dengan anak-anak yang butuh kejenakaan, kecandaan, keakraban, dan riang tawa. Juga tak hanya anak, semua orangpun membutuhkan romantisme itu.
Suatu ketika seorang bocah, belum genap umur lima tahun diajak ke dokter anak oleh bapaknya karena sakit. Setelah diperiksa, anak itu terus menatap dokter, terasa mengamatinya. Tiba-tiba anak itu bertanya, “bapak dokter anak ya?” “iya” jawab dokter tanpa menatap anak. Kemudian anak itu menimpali “dokter lebih tahu dokternya, ketimbang tahu anaknya.” Dokter itu agak kaget mendengarnya kemudian baru menatap ke arah anak cerdas itu.
Kalau lebih dalam kita cermati, pernyataan anak itu bagian peringatan bagi dokter anak yang berkepentingan mengobati anak secara mekanis, tanpa keramahan wajah, tanpa belas kasih kelembutan, tanpa ekspresi jenaka. Tanpa sadar dokter memandang Anak sebagai mesin yang apabila agak seret cukup dikasih minyak pelumas. Anak kalau sakit cukup dikasih sirup, dan resep. Padahal obat itu bukan hanya kaitannya dengan farmasi semata, tetapi perhatian, kelembutan, keramahan, keikhlasan dan pemenuhan atas kebutuhan psikologi anak juga bagian obat yang harus diketahui dokter. Dalam konteks diatas, dokter belum tahu bagaimana berperangai sebagai pelayan anak yang baik, ia lebih tahu kepentingan mencari uang.
Berperangai juga harus benar papan palungguhannya, atau tidak sekedar bener tetapi harus pener. Teori di atas bisa dilihat dari kisah berikut ini. Suatu hari pada siang bolong di pinggiran jalan seseorang mendadak berlari untuk mengejar beberapa orang yang menyatroni mobilnya. Tetapi naas, kawanan penjahat itu kabur dengan membawa hp dan laptop yang tertinggal di dalam mobil. Agak kesal si bos kehilangan, kemudian tiba-tiba sopirnya menyusul mengejar para pencongkel itu. Melihat sopirnya lari mengejar, langsung bosnya memanggil, “udah…udah…gak usah dikejar, mereka lebih membutuhkan dari pada kita.”
Kita bisa membayangkan, seandainya pernyataan cegahan itu keluar dari mulut supir. Memang benar para pencongkel itu lebih membutuhkan, karena mungkin mendesaknya kebutuhan di kota metropolitan. Benar kata bos. Walaupun pernyataan itu benar, tetapi tidak pener kalau seandainya ia dinyatakan sang supir. Karena jelas hp dan laptop itu kepunyaan bos, maka yang pener sopir mengejar penjahat sebagai usaha empati atas perasaan kehilangan juragannya.
Manusia harus punya banyak perangai. Ia bisa belajar dari perangai-perangai para pemeran teater. Misalnya menghadapi orang minder, kita harus berperangai meyakinkan dan membantu menemukan kelebihan dan peluangnya, agar orang itu bisa dibesarkan hatinya dan menemukan kepercayaan diri. Kalau ada orang sombong kita memberikan membeberkan kelebihannya maka sombongnya akan semakin menjadi. Maka akhlak itu adalah berkumpulnya banyak perangai, tetapi perangai-perangai itu harus dihadirkan dalam ketepatan ruang, waktu, dan kondisi.
Akhlak juga bisa diartikan sebagai khalaqa, ciptaan, makhluk dan akhlak bentuk jamaknya. Terasi makhluk. Bawang makhluk. Cabe makhluk. Tomat makhluk. Garam juga makhluk. Masing-masing makhluk ini kalau hidup sendiri-sendiri tanpa berinteraksi mempunyai rasa tetapi kurang sedap. Coba mereka berkumpul dalam satu cowek sehingga menjadi sambal, tentu akan menemani kenikmatan makan siang anda. Sehingga kumpulan beberapa makhluk itu menjadi jamak (akhlak), dan hasil interaksi mereka adalah kesedapan. Al-hamdulillah. Sampai disini dulu ya…wallahu ‘alaam bimuraadihi.
Paesan Tengah, 8 Januari 2011
Ahmad Saifullah.
orang yang tidak berakhlak (2),akibat orang yang tidak berakhlak (1),Iman aamana dari fiil apa (1),makalah menjadi mukmin yang berakhlak (1),orang tidak berakhlaq adalah (1),Orang yg tidak berakhalaq (1),tidak berakhlak (1)





