Tanbihun.com -Kalau kita membuka buku-buku sejarah Indonesia pada umumnya kita tidak akan menjumpai nama-nama tokoh pemuka agama, seperti Haji Rifangi, H. Wasit dari peristiwa Cilegon, atau H. Kasan Mukmin dari peristiwa Gedangan dan sebagainya, yang terlalu banyak untuk disebut satu persatu. Hal ini dapat dipahami oleh karena penulisan sejarah itu masih berwawasan yang berpusat dari Belanda atau terbatas pada tingkat “nasional” sehingga tidak mampu mengungkapkan peranan rakyat kecil atau pedesaan beserta pemimpinnya.
Saya mengkaji peristiwa pemberontakan petani di Banten pada tahun 1988, sebagai usaha penulisan sejarah yang berwawasan Indonesia-sentris. Dalam studi itu, disamping perjumpaan dengan para petani, mau tak mau muncullah peranann tokoh-tokoh pemimpin agama yang memiliki otoritas kharisma terhadap rakyat. Tidak mengherankan apabila masyarakat mengalami krisis sebagai dampak penetrasi rejim kolonial beserta keresahan di lingkungan rakyat, kepemimpinan para ulamalah yang menonjol, antara lain untuk memobilisasi rakyat dalam pelbagai gerakan sosial.
Gerakan itu umumnya terbatas ruang lingkupnya, meskipun ideologinya secara laten hidup di mana-mana, lagi pula gerakan itu berusia pendek, sebab pemerintah kolonial yang diliputi oleh haji-phobia atau islamo-phobia, segera bertindak untuk memadamkannya.
Sesungguhnya seluruh abad ke-19 dan bagian pertama abad ke-20 ditandai oleh meledaknya gejolak atau protes sosial di kalangan petani secara silih berganti, maka tepatlah apabila dikatakan bahwa Indonesia pada umumnya dan Jawa pada khususnya dilanda oleh gerakan yang beraneka ragam. Semua itu dapat dipahami sebagai konflik sosial dimana kekuatan tradisional menentang rezim kolonial beserta segala kelembagaannya.
Proses itu lazim terjadi dan amat wajarlah apabila golongan-golongan sosial mengambil sikap sesuai dengan kedudukan sosialnya; para elite religius berada di pihak yang menolak, sedang elite birokrasi adalah pihak yang menerima. Dengan demikian konflik tidak dapat dihindari dan konfrontasi mudah terjadi. Boleh dikata bahwa gerakan protes itu mencapai momentumnya apabila ada pemimpin muncul yang dipandang rakyat sebagai orang keramat, ratu adil dan tokoh-tokoh kharismatik lainnya. Gerakan yang amat banyak jumlahnya, lazimnya terbagi atas beberapa jenis, antara lain: 1) ada gerakan melawan pemerasan, 2) gerakan milenaristik, termasuk gerakan mesianistis atau Ratu adil, 3) gerakan revivalistis atau sektaris, 4) gerakan semi-modern, seperti Sarekat Islam.
Berdasarkan ciri-ciri yang menonjol, gerakan H. Rifangi dapat dimasukkan sebagai gerakan ketiga, yaitu gerakan yang revivalistik. Dalam bagian berikut ini akan dibahas lebih lanjut.
Gerakan H. Rifangi
Uraian di atas dimaksud untuk memberi latar belakang sosial budaya serta politik gerakan itu. Pemahamannya secara lebih mendalam, khususnya mengenai sifat gerakan serta profil H. Rifangi perlu menempatkannya dalam konteks jiwa dan jaman beserta masyarakat.
Salah satu aspek dari latar belakang sosial budaya itu ialah perkembangan kehidupan beragama secara luas dan penghayatan yang meningkat. Disini gejala itu disebut sebagai revivalisme. Dari angka-angka statistik tentang jumlah yang naik haji, tersebarnya pesantren dan terekat sudah cukup menjadi bukti cukup adanya revivalisme itu. Oleh karena itu para penguasa kolonial melakukan pengawasan ketat terhadap lembaga-lembaga tersebut, maka tidak mengherankan apabila data mengenai hal itu cukup memadai. Terlebih mengenai lembaga-lembaga yang memiliki potensi kuat untuk melakukan gerakan anti-kolonial. Di samping itu aliran atau lembaga yang lebih mengutamakan penghayatan agama yang lebih terarah ‘ ke arah dalam’, seperti aliran tasawuf, politik kolonial pada umumnya memandang hal itu tidak berbahaya. Yang amat dicurigai ialah lembaga atau aliran yang militan dan yang dengan sendirinya merupakan ancaman terhadap kedudukan Belanda.
Dibanding dengan gerakan-gerakan lainnya gerakan H. Rifangi secara eksplisit merumuskan ideologi anti Belanda dengan anti pemerintah kafir. Karya H. Rifangi yang berjudul Nalam Wikayah mengungkapkan perjuangan anti-kafir, mencela sikap para pejabat pamong praja yang cenderung berafiliasi dengan pemerintah kolonial. Dikecamnya bahwa kehidupan agamanya sudah merosot, kecuali menujukkan loyalitas kepada Belanda, mereka mempunyai gaya hidup kekafiran, antaa lain suka mengadakan pertunjukan wayang, main gamelan, berjudi dan lain-lain. Di sini tampak jelas-jelas usaha untuk memurnikan penghayatan beragama. Karena itu tepatlah kiranya apabila gerakan itu mewujudkan revivalisme.
Dengan demikian jelaslah mengapa penguasa kolonial beserta kaum pamong praja berdaya-upaya keras untuk menjatuhkan pemimpin gerakan, antara lain dengan memerintahkan penyelenggaraan debat antara H. Rifangi dengan penghulu Belanda.
Menurut cerita dalam Serat Cebolek H. Rifangi menderita kekelahan, namun tidak seperti yang diharapkan oleh penguaa, kekalahan itu tidaa mengurangi popularitas serta otoritasnya di kalangan rakyat. Seperti dalam kasus-kasus sejenis penguasa menangkap dan membuangnya. Rupanya gerakan tetap berkesinambungan dan selanjutnya tidak labi menghadapi intervensi Belanda, sehingga dalam tahun 1920-an masih berdiri tegak kelompok-kelompok penganutnya.
Amat berbeda dengan gerakan mesianistis, di sini tidak terjadi konfrontasi dengan Kumpeni. Cerita saya berhenti di sini oleh karena tidak banyak sumber arsip yang mengungkapkan perkembangan selanjutnya. Mungkin para peneliti lain dapat meneruskan usaha pengumpulan data lewat tradisi lisan yang masih ada di kalangan mereka.
Beberapa Catatan
Pada waktu saya melakukan penelitian tentang pemberontakan Cilegon (1888), saya menjumpai daftar gejolak yang terjadi di Banten Utara, tetapi juha pelbagai gerakan protes di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur,diantaranya gerakan H. Rifangi. Hal ini dapat dikatakan sebagai suatu “penemuan”, artinya perjumpaan pertama kali dengan fakta tersebut seperti terungkapkan dari dokumen arsip. Sebelumnya peristiwa itu tidak dikenal oleh umum.
Bila dibandingkan dengan gerakan protes lain-lainnya dalam gerakan H. Rifangi tidak terjadi benturan bersenjata dengan Kumpeni serta ada ruang bergerak bagi pengikut untuk meneruskan kegiatan revivalismenya.
Kecuali H. Nawawi dari Banten, tidak terdapat pemuka agama yang menghasilkan karya amat banyak, yang terkenal sebagai Tarajumuh. Dengan demikian H. Rifangi juga diindetifikasikan sebagai ahli sastra (Man of letters).
Meskipun tidak mencapai momentum konfrontasi dengan Kumpeni, namun agitasi anti-kolonialismenya mampu membangkitkan kesadaran religio-politik di kalangan murid-muridnya sehingga berkembang sebagai kekuatan sosial politik yang kuat. Maka dari itu pembangunan H. Rifangi tidak menghentikan gerakan tersebut dan ada kontinuitas seperti dewasa ini.
Gerakan anti-kolonialisme H. Rifangi belum dapat digolongkan sebagai gerakan nasionalis seperti Muhammadiyah, Sarekat Islam dan lain sebagainya. Lebih tepatnya disebut sebagai gerakan proto-nasionalis.
Harapan
Penggalian sejarah Indonesia pada umumnya dan sejarah gerakan protes beserta kepemimpinannya, telah berhasil “menemukan” tokoh-tokoh sepeti H.Rifangi. H. Wasit, H, Kasan Mukmin dan sebagainya.
Apa yang dikaji sampai kini belum tuntas, maka diharapkan agar setelah ini ada tindak lanjut, antara lain penerbitan karya-karya H. Rifangi, penelitian sumber sejarah lisan, dan lain sebagainya.
Dengan demikian ada kelonggaran mengenal tokoh tersebut secara lebih bulat, khususnya segi-segi kepahlawanannya. Dalam hal ini perspektif sejarah akan meluaskan cakrawala intelektual kita.
Jangan Sok Usial
Jamaah haji dari seluruh dunia berjumlah jutaan orang. Dalam praktek ibadahnya, tentu bermacam-macam. Misalnya, ada orang shalat sambil menggendong bayi. Ada pula orang shalat Subuh tak membaca kunut. Melihat perbedaan-perbedaan itu, hendaknya setiap jamaah haji tidak usil. Kembalikan saja kepada ajaran Allah: “Lanaa A’maalunaa walakum a’maalukum”. Arti bebasnya, “Kami akan mengerjakan amalan yang kami yakini kebenarannya dan Anda silakan mengerjakan amalan yang Anda yakini kebenarannya.”
Dalam protes perkembangan Islam di Indonesia, memang tidak sunyi dari orang-orang yang tidak senang melihat Islam berkembang maju. Karena itu, mereka selalu berusaha menghancurkan Islam. Menghantam Islam secara terang-terangan jelas mereka tidak berani. Sebab bagaimanapun bodohnya umat Islam, ada satu hal positif, yaitu fanatisme beragama. Biar dia tidak shalat, tapi jika agamanya dihina dia siap perang.
Itu sebabnya, untuk menghantam Islam, mereka belajar dari Van Der Plaas dan Snouck Horgrounje, kemudian masuk ke tengah-tengah umat Islam, jika perlu pakai pici, mereka pakai pici. Jika belum bisa mengucapkan Assalaamu’alaikum, mereka latihan untuk mengucapkan Assalaamu’alaikum.
Lihat saja Islam Sejati, Islam Jamaah, Islam Inkarussunah. Semuanya pakai label Islam, tapi bertujuan menghancurkan Islam. Dan jika cara ini tetap tidak berhasil, maka mereka memutar lagu lama, yaitu KHILAFIYAH. Soal-soal yang sepele dibesar-besarkan untuk menghancurkan Islam. Padahal, khilafiyah ini, sampai kiamat pun tak akan tuntas. Bukankah lebih baik mencari titik persamaan daripada memperbesar pola perbedaan, apalagi perbedaan itu tidak prinsip.
Karena itu, setiap jamaah haji, sebaiknya tidak usah usil dengan amalan orang lain. Shalat Subuh pakai kunut itu betul. Tidak pakai kunut juga betul. Yang tidak betul itu adalah orang yang tidak shalat Subuh. Nah, mengapa kita tidak mengajak teman-teman kita yang belum shalat Subuh? Bukankah garapannya jelas dan sasarannya juga jelas?
Ibadah haji itu, merupakann ibadah paling berat. Untuk bisa melakukan ibadah ini dengan baik, tentu dibutuhkan kesabaran. Karenanya, jamaah haji harus memperbanyak sabar selama di tanah suci. Sebab, gara-gara soal kecil saja, kadang-kadang orang mudah marah. Misalnya, soal air, soal makanan dansebagainya.
Dalam Islam, sabar itu punya tiga tempat. Pertama, sabar dalam taat. Kedua, sabar dalam meninggalkan maksiat. Ketiga. Sabar menghadapi ujiam/cobaan. Sabar dalam taat, bisa dirasakan saat jamaah haji berihram. Dalam keadaan ihram, jamaah haji dilarang mencukur rambut, membunuh binatang,melakukan hubungan suami-istri dan sebagainya. Sabar dalam meninggalkan maksiat, misalnya seseorang yang semula hobi menenggak minuman keras, tiba-tiba berhenti. Selama berhenti meneggak minuman keras itu dia harus sabar, karena ada saja ejekan dari teman-temannya yang biasa menenggak minuman keras.
Pembangkangan Tarekat Rifaiyah Diseminarkan
Pembangkangan K.H. Ahmad Rifa’I, pendiri tarekat Rifaiyah, menjadi topik bahasan seminar nasional mengenai pembaruan Islam abad ke-19. Syaefudin Simon, selaku ketua penyelenggara, mengemukakan hal itu kepada . .. . kemarin, di Yogyakarta. Menurut Simon mengkaji keberadaan kisah pembangkangan agama dari Kalisalak, Batang, itu bisa dilakukan. Sebab dalam Serat cebolek, ulama itu dinilai pembangkang. Padahal pada kenyataannya KH. Ahmad Rifa’i mempunyai peran yang cukup besar, baik dalam menegakkan nilai-nilai Islam, maupun meruntuhkan Kolonialisme Belanda.
Seminar dua hari, sejak hari ini di Balai Kajrahnitra, Yogyakarta, tersebut dikelola empat lembaga. Mereka terdiri dari Yayasan Rifaiyah, jurnal ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an, Balai Kajrahnitra, dan Masyarakat Sejarawan Indonesia.
KH. Ahmad Rifai lahir 1786 di Desa Tempuran, Kendal Jawa Tengah. Ia ditinggal mati ayahnya, seorang penghulu priyayi Jawa, sejak usia tujuh tahun. Setelah itu kakak iparnyalah yang membantu mengarahkan kehidupannya. Karena kakak iparnya itu seorang kyai di Kaliwungu, ia pun dikader untuk menjadi seorang ulama.
Pada usia 30 tahun, Rifai menunaikan ibadah haji. Ia bermukim di kota suci Mekah selama delapan tahun, bersama-sama dengan Khalil dari Madura dan Nawawi dari Banten.
Setelah merasa mapan, ketiganya kembali ke tanah air. Dalam perjalanan pulang itu, mereka merencanakan untuk menyusun tiga kitab mengenai pokok-pokok agama Islam dalam bahasa Jawa. Pembagian tugas pun diatur. Rifa’i menyusun kitab mengenai fiqih (hukum), Khalil menyusun Kitab mengenai ushuluddin (teologi), dan Nawawi menyusun kitab mengenai tasawuf.
Setibanya di Indonesia, penyusun 56 kitab ini segera memulai dakwahnya, dengan tujuan mengembalikan pelaksanaan amalan Islam pada Qur’an dan sunah Rasul. Rifa’i menekankan materi pelajarannya pada kesadaran sosial.
Rifa’i juga sering menyampaikan kritik terhadap kaum priyayi yang feodal dan tradisonal. Menurut Rifa’i, kaum priyayi itu harus bertanggung jawab atas kebobrokan moral umat Islam.
Sembilan materi sudah disiapkan dalam seminar. Bagian pertama berupa pengantar, bagian kedua berisi pandangan Rifa’i mengenai pokok-pokok ajaran Islam, bagian ketiga mengenai gerakan Rifa’iyah dan bagian keempat membahas karya sastra Rifa’i.
Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo akan menyampaikan makalah pertama. Bagian kedua disampaikan KH. Khairudin Hasbullah (Tauhid), Drs. Mukhlisin (Fiqih), dan Drs. Nurosyidin Romli (Tasawuf).
oleh: Agus Nahrowi


