1:20 pm - Sunday April 14, 2013

Amar Munkar Nahi Thoat

Thursday, 4 February 2010 3:59 | isi hati | 8 Comments | Read 1205 Times
homeimageashx

Ojo waton bener, tapi sing dadi benere !

Jelang magrib tiba, anak-anak, ramaja, dan orang dewasa bergegas menuju masjid. Sebelum maghrib datang menyapa, anak-anak yang belum genap berusia belasan tahun itu telah berebut tabuh kentongan. Mereka merasa bangga kalau seandainya mendahului menabuh kentongan, sebelum mereka saling mendahului meraih micropon untuk mengumandangkan adzan. Sebelumnya juga terdengar kemeriahan dalam berkecipak mengambil air wudlu. Suara gaduh itu bukan bertanda celaka, tetapi kemeriahan kebersamaan sesama bocah. Tiba-tiba keceriaan mereka tercekat dengan teguran keras dari mulut seseorang “wudlu koyo ngono ke salah” (cara wudlu seperti itu itu… salah)  teguran keras itu laksana rem menghentikan kemeriahan anak-anak. Mereka semuanya menghentikan aktifitasnya dan seara reflek menoleh ke arah suara. Ternyata dibelakang mereka berwudlu, ada orang yang super perhatian terhadap jejegke kebenaran beribadah. Beliau dengan pakaian serba putih dan aroma parfumnya yang khas tanpa ba bi bu menegur cara wudlu seseorang yang kurang pas menurut pandangan dia.

Terlihat kemerahan nampak jelas di wajah ayah dari satu anak itu. Ia menimpali dengan nada agak kesal “lha terus sing bener kpreiye…” (lha…terus yang benar itu gimana). Mungkin ia kesal karena malu, disana ada banyak orang, juga anak-anak, termasuk anaknya sendiri yang menyaksikan ayahnya tak becus berwudlu. Tetapi ayah yang pendiam itu hanya terdiam dan terlihat ia menyadari benar bahwa yang menegur itu salah seorang yang dituakan di kampungnya. Ia menyadari bahwa dirinya salah. Tetapi ekspresi wajah tak bisa membohongi bahwa dia kesal ditegur dengan gaya terang-terangan seperti itu. Dalam diamnya bisa saja dia menggerutu dalam hati “mentang-mentang alim….”. Buktinya setiap teguran selalu berbuntut pada rerasan di majlis grumungan tentang kesewenangan seseorang yang katanya alim tetapi sering menyakitkan perasaan dalam menegakkan apa yang dia yakini sebagai kebenaran.

Peristiwa yang sama juga juga dialami teman-teman kita yang senasib. Diantara teman bercerita saat dirinya hendak melakukan shalat jamaah, secara tak sengaja ia membaca tulisan dengan nada agak keras pada kalender sebuah pondok pesantren yang ditempel di pelataran Masjid. Langsung saja sang pemerhati jejegke ibadah itu langsung menyambar dengan kasar kalender itu dan melemparnya entah kemana. Mungkin dalam hati teman kita itu berbisik, “untung bukan aku yang dilempar….”

Nasib yang sama dialami penulis sendiri, pada suatu waktu saat hendak meliput perhelatan kompetisi antar pelajar TPQ-Diniyah Rifaiyah di salah satu Kecamatan Kota Pekalongan. Tanpa beban, penulis jepret sana-sini dengan kamera digital. Ketika lagi asyik hunting moment, secara tiba-tiba suara teguran membahana “Sep……orang usah moto ning kene (gak usah memfoto disini).” Suara lantang larangan itu keluar dari mulut dari salah seorang Ustadz. Semburan itu teramat menohok perasaan karena dilontarkan di depan banyak orang.

Tetapi harus disadari, bahwa akulah biang keroknya, dalam hati berkata “sudah tahu orang Rifaiyah itu masih anti foto, kok masih saja menangkap view mereka.” Setelah itu perburuan dimulai, beberapa Kiai ditugaskan untuk menangkap sang penjepret yang bernama Ahmad Saifullah itu. Tentunya bukan untuk digebuki, tetapi dilarang dengan kata-kata halus “jangan sekali-kali lagi ya….memfoto apapun di tempat ini?” dalam hati aku menjawab, “ooooo…..jadi disini zona larangan mengambil gambar tho, tapi bukan zona terlarang bagi para Ustadz yang pegang HP berkamera….aneh..” Dalam hatiku juga  menggerutu “kayak maling aja dikejar-kejar. Memang aku pendosa tetapi bukan kayak gini caranya untuk menyadarkan pendosa.”

Pada suatu malam ada seseorang wali santri yang mengeluh kepada teman-teman muda, tentang bagaimana merembug kelakuan seorang Ustadz yang selalu menyindir, bahkan kata-katanya nyinyir (bawel) dalam pengajiannya selalu mengungkap tentang kenakalan anak-anak yang dianggap sebagai maksiat. Kebanyakan yang disindir adalah mereka para remaja. “walau dia tak menyebutkan nama, tapi aku juga malu disebut-sebut aibku di depan orang banyak, karena sebagian teman tahu kalau aku melakukan hal itu.” keluh seorang teman remaja.

Mendengar, menyaksikan, dan mengalami peristiwa semacam itu menjadikan aku teringat pada pesan seorang guru yang waktu ngaji membahas amar ma’ruf nahi munkar. Masih terngiang-ngiang dalam ingatanku Beliau berpesan: “jangan sekali-kali kita melakukan amar ma’ruf nahi munkar itu dengan cara yang kasar dan menyakitkan hati seseorang, karena telah banyak amar ma’ruf nahi munkar yang justru menimbulkan amar munkar nahi thaat (memerintahkan kemungkaran dan mencegah ketaatan). Lebih dikawatirkan lagi, karena sebab salah cara dalam ber amar ma’ruf nahi munkar menimbulkan kebencian seseorang kepada hukum Allah. Maka bisa juga amar ma’ruf nahi munkar itu dapat menyebabkan kekafiran seseorang karena bencinya terhadap Syariat.”

Pesan di atas mengandung pelajaran bahwa yang penting itu tidak hanya ngandani (menasehati), tetapi bagaimana cara kita menasehati seseorang supaya nasehat itu sampai di hati, juga penting dipelajari. Nasehat itu ditujukan kepada hati manusia yang mempunyai perasaan. Untuk masuk ke hati manusia, tentunya kita melalui pintu. Pintu hati sama dengan kebahagiaan seseorang. Sedangkan kuncinya adalah membuatnya bahagia, bukan membuatnya marah. Bagaimana seorang akan menerima nasehat kalau hatinya tertutup karena kebencian atas isi nasehat yang menyakitkan atau dengan cara arogan. Beda nasehat beda sanksi. Dalam nasehat seseorang tak harus bernafsu untuk memberikan sanksi dengan kata-kata, karena itu sungguh menyakitkan hati, apalagi disampaikan di depan umum. Nasehat itu lahir karena cinta kita kepada saudara kita, agar ia tak melakukan keburukan yang dapat merugikan dirinya sendiri. Maka, kata-kata yang keluar dari cinta akan menangguk cinta pula.

Dalam Al-Qur’an selalu mewanti-wanti agar dalam mengajak harus dilakukan dengan cara yang baik, kalau seandainya terpaksa dengan berdebatpun harus secara baik.

Serulah (manusia) kepada jalan Robb mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Robb mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(An-NAhl [16]:125)

Kita juga bisa mengaca jejak akhlak Kiai Ahmad Nasihun Pekalongan yang dari dulu menjadi teladan kearifan dalam ber amar ma’ruf nahi munkar. Menurut cerita turun temurun bahwa sosok K. Ahmad Nasihun sangat disegani masyarakat karena kesantunannya dalam menasehati seseorang. Pernah pada suatu kesempatan Kiai Nasihun bertandang kerumah para penjudi. K. Ahmad Nasihun mengunjungi rumah mereka satu persatu. Beliau bermaksud menasehati secara muwajahah berduaan, tanpa orang lain, karena baginya menasehati seseorang di depan orang lain, sama halnya mengungkap aib dan menyakiti perasaannya. Padahal sebelumnya K. Nasihun sudah lebih dulu menyaksikan perjudian dilaksanakan di suatu tempat. Beliau menyamar seperti orang biasa bertandang ke tempat judi itu. Para penjudi itu kaget bukan kepalang. Mereka hendak hengkang, tetapi sang Kiai hanya tersenyum melarang mereka pergi dari tempat. Sang Kiai tak menasehati apapun, kemudian beliau pamit pulang. Esok harinya Kiai kharismatik ini mengunjungi tiap rumah orang-orang yang dijumpainya.

Pada musim orang hobi memelihara burung merpati di kampong Paesan. Penduduk cenderung mengabaikan efek negatif keberadaan burung merpati, sehingga menjadi masalah, ketika burung-burung itu nembelek (beol) disembarang tempat, termasuk di jemuran pakaian, di mushola dan masjid. Kiai Nasihun sebagai penjaga kesucian tempat ibadah dan kesahihan ibadah segera ingin menyelesaikan masalah itu. K. Nasihun selalu punya ide kreatif yang tak terpikirkan oleh orang lain. Sembari menunggu bulan rajab datang, beliau berencana mengumpulkan burung merpati itu untuk disembelih secara masal.

<blockquote>Sudah menjadi kebiasaan orang Rifaiyah selalu memperingati Isro Mi’roj Nabi Muhammad SAW, dengan menyelenggarakan Rajaban atau Rojabiyah yang diisi dengan pembacaan kitab Arja karangan KH. Ahmad Rifa’I. Kitab ini berisi tentang perjalanan Isro Mi’roj Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya itu, sebagai penarik pengunjung sekaligus sedekah masyarakat kampung, biasanya tiap keluarga secara otomatis membuat besek sekitar 30 besek, juga ada yang sampai 50 besek.

Dalam kesempatan itu K. Nasihun mengumumkan kepada warga kampung Paesan yang punya burung dara segera mengumpulkannya di pelataran masjid untuk segera disembelih sebagai sedekah pengisi lauk besek. Spontan saja warga Paesan yang sebagian besar mempunyai burung dara membawa masing-masing merpatinya ke Masjid. Maka tak heran dulu ada lontaran dari orang-orang mbudiyah kalau rajaban di Paesan lauknya burung merpati.</blockquote>

Hal tersebutlah yang membayangi fikiran banyak orang, mengapa manusia dalam beramar makruf, seringkali tak mempertimbangkan perasaan yang diamar makrufi. Mejaga perasaan sesama manusia adalah akhlak seseorang muslim yang menentukan kualitas imannya, bahkan Nabi sendiri pernah bersumpah atas nama Allah sampai tiga kali “Demi Allah, Demi Allah, Demi Allah tidak beriman seseorang yang perbuatan dan ucapannya menyakitkan tetangganya.”

Paesan, 4 Pebruari 2010

Ahmad Saifullah

Share on :
 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with: ,

Apa arti thoat

Anda mungkin juga menyukaiclose