Jelang magrib tiba, anak-anak, ramaja, dan orang dewasa bergegas menuju masjid. Sebelum maghrib datang menyapa, anak-anak yang belum genap berusia belasan tahun itu telah berebut tabuh kentongan. Mereka merasa bangga kalau seandainya mendahului menabuh kentongan, sebelum mereka saling mendahului meraih micropon untuk mengumandangkan adzan. Sebelumnya juga terdengar kemeriahan dalam berkecipak mengambil air wudlu. Suara gaduh itu bukan bertanda celaka, tetapi kemeriahan kebersamaan sesama bocah. Tiba-tiba keceriaan mereka tercekat dengan teguran keras dari mulut seseorang “wudlu koyo ngono ke salah” (cara wudlu seperti itu itu… salah) teguran keras itu laksana rem menghentikan kemeriahan anak-anak. Mereka semuanya menghentikan aktifitasnya dan seara reflek menoleh ke arah suara. Ternyata dibelakang mereka berwudlu, ada orang yang super perhatian terhadap jejegke kebenaran beribadah. Beliau dengan pakaian serba putih dan aroma parfumnya yang khas tanpa ba bi bu menegur cara wudlu seseorang yang kurang pas menurut pandangan dia.
Terlihat kemerahan nampak jelas di wajah ayah dari satu anak itu. Ia menimpali dengan nada agak kesal “lha terus sing bener kpreiye…” (lha…terus yang benar itu gimana). Mungkin ia kesal karena malu, disana ada banyak orang, juga anak-anak, termasuk anaknya sendiri yang menyaksikan ayahnya tak becus berwudlu. Tetapi ayah yang pendiam itu hanya terdiam dan terlihat ia menyadari benar bahwa yang menegur itu salah seorang yang dituakan di kampungnya. Ia menyadari bahwa dirinya salah. Tetapi ekspresi wajah tak bisa membohongi bahwa dia kesal ditegur dengan gaya terang-terangan seperti itu. Dalam diamnya bisa saja dia menggerutu dalam hati “mentang-mentang alim….”. Buktinya setiap teguran selalu berbuntut pada rerasan di majlis grumungan tentang kesewenangan seseorang yang katanya alim tetapi sering menyakitkan perasaan dalam menegakkan apa yang dia yakini sebagai kebenaran.
Peristiwa yang sama juga juga dialami teman-teman kita yang senasib. Diantara teman bercerita saat dirinya hendak melakukan shalat jamaah, secara tak sengaja ia membaca tulisan dengan nada agak keras pada kalender sebuah pondok pesantren yang ditempel di pelataran Masjid. Langsung saja sang pemerhati jejegke ibadah itu langsung menyambar dengan kasar kalender itu dan melemparnya entah kemana. Mungkin dalam hati teman kita itu berbisik, “untung bukan aku yang dilempar….”
Nasib yang sama dialami penulis sendiri, pada suatu waktu saat hendak meliput perhelatan kompetisi antar pelajar TPQ-Diniyah Rifaiyah di salah satu Kecamatan Kota Pekalongan. Tanpa beban, penulis jepret sana-sini dengan kamera digital. Ketika lagi asyik hunting moment, secara tiba-tiba suara teguran membahana “Sep……orang usah moto ning kene (gak usah memfoto disini).” Suara lantang larangan itu keluar dari mulut dari salah seorang Ustadz. Semburan itu teramat menohok perasaan karena dilontarkan di depan banyak orang.
Tetapi harus disadari, bahwa akulah biang keroknya, dalam hati berkata “sudah tahu orang Rifaiyah itu masih anti foto, kok masih saja menangkap view mereka.” Setelah itu perburuan dimulai, beberapa Kiai ditugaskan untuk menangkap sang penjepret yang bernama Ahmad Saifullah itu. Tentunya bukan untuk digebuki, tetapi dilarang dengan kata-kata halus “jangan sekali-kali lagi ya….memfoto apapun di tempat ini?” dalam hati aku menjawab, “ooooo…..jadi disini zona larangan mengambil gambar tho, tapi bukan zona terlarang bagi para Ustadz yang pegang HP berkamera….aneh..” Dalam hatiku juga menggerutu “kayak maling aja dikejar-kejar. Memang aku pendosa tetapi bukan kayak gini caranya untuk menyadarkan pendosa.”
Pada suatu malam ada seseorang wali santri yang mengeluh kepada teman-teman muda, tentang bagaimana merembug kelakuan seorang Ustadz yang selalu menyindir, bahkan kata-katanya nyinyir (bawel) dalam pengajiannya selalu mengungkap tentang kenakalan anak-anak yang dianggap sebagai maksiat. Kebanyakan yang disindir adalah mereka para remaja. “walau dia tak menyebutkan nama, tapi aku juga malu disebut-sebut aibku di depan orang banyak, karena sebagian teman tahu kalau aku melakukan hal itu.” keluh seorang teman remaja.
Mendengar, menyaksikan, dan mengalami peristiwa semacam itu menjadikan aku teringat pada pesan seorang guru yang waktu ngaji membahas amar ma’ruf nahi munkar. Masih terngiang-ngiang dalam ingatanku Beliau berpesan: “jangan sekali-kali kita melakukan amar ma’ruf nahi munkar itu dengan cara yang kasar dan menyakitkan hati seseorang, karena telah banyak amar ma’ruf nahi munkar yang justru menimbulkan amar munkar nahi thaat (memerintahkan kemungkaran dan mencegah ketaatan). Lebih dikawatirkan lagi, karena sebab salah cara dalam ber amar ma’ruf nahi munkar menimbulkan kebencian seseorang kepada hukum Allah. Maka bisa juga amar ma’ruf nahi munkar itu dapat menyebabkan kekafiran seseorang karena bencinya terhadap Syariat.”
Pesan di atas mengandung pelajaran bahwa yang penting itu tidak hanya ngandani (menasehati), tetapi bagaimana cara kita menasehati seseorang supaya nasehat itu sampai di hati, juga penting dipelajari. Nasehat itu ditujukan kepada hati manusia yang mempunyai perasaan. Untuk masuk ke hati manusia, tentunya kita melalui pintu. Pintu hati sama dengan kebahagiaan seseorang. Sedangkan kuncinya adalah membuatnya bahagia, bukan membuatnya marah. Bagaimana seorang akan menerima nasehat kalau hatinya tertutup karena kebencian atas isi nasehat yang menyakitkan atau dengan cara arogan. Beda nasehat beda sanksi. Dalam nasehat seseorang tak harus bernafsu untuk memberikan sanksi dengan kata-kata, karena itu sungguh menyakitkan hati, apalagi disampaikan di depan umum. Nasehat itu lahir karena cinta kita kepada saudara kita, agar ia tak melakukan keburukan yang dapat merugikan dirinya sendiri. Maka, kata-kata yang keluar dari cinta akan menangguk cinta pula.
Dalam Al-Qur’an selalu mewanti-wanti agar dalam mengajak harus dilakukan dengan cara yang baik, kalau seandainya terpaksa dengan berdebatpun harus secara baik.
Serulah (manusia) kepada jalan Robb mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Robb mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(An-NAhl [16]:125)
Kita juga bisa mengaca jejak akhlak Kiai Ahmad Nasihun Pekalongan yang dari dulu menjadi teladan kearifan dalam ber amar ma’ruf nahi munkar. Menurut cerita turun temurun bahwa sosok K. Ahmad Nasihun sangat disegani masyarakat karena kesantunannya dalam menasehati seseorang. Pernah pada suatu kesempatan Kiai Nasihun bertandang kerumah para penjudi. K. Ahmad Nasihun mengunjungi rumah mereka satu persatu. Beliau bermaksud menasehati secara muwajahah berduaan, tanpa orang lain, karena baginya menasehati seseorang di depan orang lain, sama halnya mengungkap aib dan menyakiti perasaannya. Padahal sebelumnya K. Nasihun sudah lebih dulu menyaksikan perjudian dilaksanakan di suatu tempat. Beliau menyamar seperti orang biasa bertandang ke tempat judi itu. Para penjudi itu kaget bukan kepalang. Mereka hendak hengkang, tetapi sang Kiai hanya tersenyum melarang mereka pergi dari tempat. Sang Kiai tak menasehati apapun, kemudian beliau pamit pulang. Esok harinya Kiai kharismatik ini mengunjungi tiap rumah orang-orang yang dijumpainya.
Pada musim orang hobi memelihara burung merpati di kampong Paesan. Penduduk cenderung mengabaikan efek negatif keberadaan burung merpati, sehingga menjadi masalah, ketika burung-burung itu nembelek (beol) disembarang tempat, termasuk di jemuran pakaian, di mushola dan masjid. Kiai Nasihun sebagai penjaga kesucian tempat ibadah dan kesahihan ibadah segera ingin menyelesaikan masalah itu. K. Nasihun selalu punya ide kreatif yang tak terpikirkan oleh orang lain. Sembari menunggu bulan rajab datang, beliau berencana mengumpulkan burung merpati itu untuk disembelih secara masal.
<blockquote>Sudah menjadi kebiasaan orang Rifaiyah selalu memperingati Isro Mi’roj Nabi Muhammad SAW, dengan menyelenggarakan Rajaban atau Rojabiyah yang diisi dengan pembacaan kitab Arja karangan KH. Ahmad Rifa’I. Kitab ini berisi tentang perjalanan Isro Mi’roj Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya itu, sebagai penarik pengunjung sekaligus sedekah masyarakat kampung, biasanya tiap keluarga secara otomatis membuat besek sekitar 30 besek, juga ada yang sampai 50 besek.
Dalam kesempatan itu K. Nasihun mengumumkan kepada warga kampung Paesan yang punya burung dara segera mengumpulkannya di pelataran masjid untuk segera disembelih sebagai sedekah pengisi lauk besek. Spontan saja warga Paesan yang sebagian besar mempunyai burung dara membawa masing-masing merpatinya ke Masjid. Maka tak heran dulu ada lontaran dari orang-orang mbudiyah kalau rajaban di Paesan lauknya burung merpati.</blockquote>
Hal tersebutlah yang membayangi fikiran banyak orang, mengapa manusia dalam beramar makruf, seringkali tak mempertimbangkan perasaan yang diamar makrufi. Mejaga perasaan sesama manusia adalah akhlak seseorang muslim yang menentukan kualitas imannya, bahkan Nabi sendiri pernah bersumpah atas nama Allah sampai tiga kali “Demi Allah, Demi Allah, Demi Allah tidak beriman seseorang yang perbuatan dan ucapannya menyakitkan tetangganya.”
Paesan, 4 Pebruari 2010
Ahmad Saifullah




Saya juga sering mengalamai nasib yang hampir mirip:
alkisah : anak-anak yg belum khitan tidak boleh jamaah didalam masjid ( ruang utama tengah )karena saya mencoba mengajari anak-anak praktek shalat jamaah akhirnya saya suruh mereka bikin shof di samping (diluar ruangan utama, dengan cara pintu smping yg ke arah shof anak-anak ini saya buka, namanya anak-anak, gaduh,guyon itu wajar,itu pun hanya sesaat sebelum sholat dimulai, tapi alangkah terkejutnya, secara tiba2 seseorang yang termasuk tokoh, membentak menyuruh anak-anak bubar, saya yang baru selesai wudhu kaget mendapati anak-anak lari keluar masjid, saya pun bertanya, setelah tahu, saya suruh anak-anak kembali ke barisan shof yang tadi.
saya sholat dibelakang mereka, otomatis anak-anak pun diam dan tertib. setelah sholat selesai, saya datangi orang yang tadi berulah, saya tanya apa alasannya? kalau alasannya gaduh, ya wajarlah namanya anak-anak, tapi kalau itu kemudian dijadikan alasan untuk mereka tidak boleh ikut jamaah, itu adalah kesalahan besar, dengan bermacam argumen dan fakta yang saya sampaikan,beliau pun diam tanpa bisa membantah, karena sedikit kesal, saya pun bilang ” sampeyan iku tuo, tapi tuo kebrangas ( tua karena kebakar )/tua kejemur, ga punya kebijaksanaan dlm menghadapi anak-anak” orang2 macam ini yang selalu menjadi batu sandungan buat anak-anak generasi sekarang. senang menyalahkan,memvonis, tanpa disertai memberi pemahaman,
.
dan masih banyak kisah-kisah aneh,lucu,tragis,menjengkelkan dll…. kalau mau ditulis mungkin bisa jadi buku, bagaimana kang asep kalau dibikin buku saja?
salam Damai …..
assalaamualaikum, saya andhika putra am yang juga belum khitan mengalami hal tersebut, saat jamaah sholat maghrib saat makmum yang lain malas maju ke barisan terdepan (memang jamaahnya sedikit tidak sampai memenuhi sof depan), saat sudah siap mau sholat, imam tanya kepada kami , itu anak sudah khitan belum, sampai di situ saya orang tuannya belum paham apa yang dimaksud imam, lalu makmum yang disebelah menjelaskan kalo imam tersebut tidak memperbolehkan, dengan serta merta saya diajak oleh ortu saya mundur ke barisan belakang trus pulang dan sholat dirumah saja, dari pada tetep sholat di masjid tersebut, toh sholat tidak harus di masjid tersebut, dirumah atau dimasjid lain juga bisa, wassalam semoga kiai atau imam tersebut mendapat pencerahan supaya islam menjadi lebih indah. wassalam
ada lagi….. soal irama pukul beduk saja dipermasalahkan, saya pernah sengaja bikin masalah, ceritanya, pas bulan puasa,biasanya di masjid setiap jam 12 malam beduknya dipukul,istilahnya drodek, ketukan irama beduk itu pun ada aturannya, kebetulan waktu itu semua jamaah sedang menghadiri pengajian di pondok, saya bersama seorang kawan, memuku beduk persis seperti irama orang mukul beduk pas takbiran…tidak pakai lama, orang2 pun pada datang dengan didahului suara marah2, tapi begitu lihat saya yang mukul, mereka serba salah dan diam, saya iseng bertanya, ” kenapa, apa salah mukul beduknya? apa tidak boleh? siapa yang mau melarang silahkan kumpul kesisni!
Itu hanya wujud kedongkolan saya dengan para tetua yang kadang “mematenkan” sesuatu, dan memvonis salah setiap apapun yang tidak sesuai dengan patent mereka.
saya pun tahu cara saya ini tidak seluruhnya benar, tapi sekali-kali memang harus di gituin, biar kita tidak terjebak pada pematenan yang tdk semestinya.
Bener sampeyan Kang, hal-hal semacam ini perlu dikaji lebih mendalam, tetang penyebab mengapa orang lebih mementingkan fikih dibanding Akhlak dalam sisi-sisi kehidupan. atau yang lebih celaka kebiasaan-kebiasaan budaya yang dianggap sebagai ajaran agama. Dan metode masa lalu yang kurang arif di empan papan untuk manusia model sekarang. butuh kajian dari beberapa sisi karena bisa menentukan metode dakwah, cara beramar makruf yang menyadarkan bukan menyakitkan. ini lah yang terjadi di masyarakat Rifaiyah di mana-mana.
memang bener sekali amar ma’ruf tidak harus di sampaikan di depan umum dan memang peraturannya seperti itu,melainkan melalui pendekatan secara halus dan penuh kasih sayang
salam kenal dari saya SYAEFUN NADZIR di JIMBARAN AMBARAWA untuk semua sahabat2 rifaiyyah di seantero indonesia dan sekitarnya
@BLOG UNTUK PERUBAHAN, apa ini mas nadzir yang dulu pernah mondok di al-insap paesan ya? yang seangkatan dengan mas nur yaten mas bibit dan mas munawar kalau iya tolong dong kasih almt emailnya kan udah 20 th gak ketemu,kalau bisa bernostalgia seru X ya?………………….
salam kenal juga Mas…lestari bersama dalam hidup dan hidup untuk kebersamaan
jadi inget di kampung jaman dulu, …. apa sampai sekarang masih seperti itu ya. klo kita lihat pake kacamata lain, mungkin yg spt itu dia-nya lagi ada masalah, jadi perlu kearifan semua pihak. itu mungkin kenapa bunyinya itu bilhikmah dulu baru wal mauidlotil hasanah, kok nggak dibalik.
matur nuwun