Saat adzan subuh berkumandang, bergegas engkau bangun dari ketiduranmu. Engkau selalu ketiduran, dan sebenarnya tidak mau tidur. Kasur yang sudah disediakan selalu kau tinggalkan. Gurat-gurat cap tikar masih nampak di wajahmu sampai di punggungmu. Di dalam batin kau hanya terdiam karena setiap hari kau tidak ingin berpendapat dan mengasumsikan sesuatu. Hanya terdiam membisu. Lingkungan tempat tinggalmu terasa pengap oleh aroma ngerasani. Setiap orang berpendapat dan menggurui kepada orang lain, dan kadang tak heran saling menyalahkan. Itu hal yang wajar di Kampung santri ini. Makanya kau lebih baik terdiam, tidak mau merespon setiap kata yang keluar dari orang. Masalahnya katamu, setiap pembicaraan dimanapun, bahkan di dalam masjid pasti berisi ngomongi orang.
“Aku tak mau makan bangkai saudaraku sendiri.” Akhirnya dia keceplosan ngomong juga setelah aku berbicara sendiri sampai berbusa-busa dihadapannya. Aku ingin tahu perihal laku tapa membisu yang telah dijalaninya selama tiga bulan. Orang-orang kampong pada geger perihal itu. Bahkan kau dituduh sudah bisu, tuli, bahkan sampai hati ada yang menuduhmu gila.
“Biarkan saja mereka membicarakan aku, tentang keanehanku, tentang aku yang sungkan ngomong pada mereka, tentang keaiban yang seharusnya ditutup-tutupi. Aku justru senang, karena aku akan mendapatkan pahala. Cuilan-cuilan pahala ibadah mereka, besok akan menjadi hadiah untukku. Aku tambah senang dengan semua ini.”
“Tetapi bukannya wajar mereka mengatai sampeyan seperti itu, karena sampeyan menolak untuk berbicara sedikit saja, bahkan untuk keperluan yang penting, yang bukan ghibah.” Aku menyergah pendapatnya yang terasa agak egois bagiku.
“kan semua orang ingin saling berinteraksi. Saling tegur sapa dan memberikan perhatian. Dengan kamu membisu, berarti kamu tidak mau merespon silaturahmi mereka.” Ia tertegun berfikir dalam-dalam dan kelihatannya mencerna apa yang barusan saya katakan. Matanya berkedip-kedip. Kacamata yang dipakai dilepasnya, kemudian diusap dengan bajunya. Matanya tajam menatap ke hamparan kebun di sampaing rumahnya. Waktu itu hari menjelang sore. Selepas kita melaksanakan shalat Ashar di Mushola Mustakim.
“ya coba nanti saya pikir lagi, tentang puasa membisuku ini. Tetapi sesungguhnya puasaku ini sudah cukup, karena sudah sampai tiga bulan.” Sambil tersenyum ia mulai memujiku tentang pertimbangan-pertimbangannya tadi. Ia mulai menawarkan minuman yang akan diambilkannya dari rumah, tetapi aku mencegahnya.
“rasakan dulu teh buatan simbahku, kamu pasti suka. Tehnya hasil racikan beberapa teh yang dicampur dan di tuang dari air yang baru saja mendidih dari tungku. Rasanya pasti beda.” Tawaran itu membuat aku mengiyakan dan mengangguk. Ia segera pergi masuk dengan tergopoh-gopoh seakan ingin memberikan surprise. Aku memang bisa merasakan perbedaan wedang teh di sini. Di rumahnya Kalam. Bahkan banyak tamu yang terkesan dengan wedang teh hasil racikan tangan lembut Bu Mustakimah.
Lalu lalang orang bersepeda kelihatan tambah ramai. Mereka ada yang berduaan. Berempat, sendiri bertiga. Jalan sore-sore kata mereka, untuk menyebut bersepeda menghabiskan siang hari dan mencari sore tiba. Selepas mereka bekerja, jalan-jalan sore merupakan hiburan tersendiri yang tidak tergantikan oleh TV, atau hiburan yang lainnya.
Biasanya teman-teman juga menghabiskan waktu sore dengan mancing di laut dan di sungai. Sungai Sengkarang yang ada di sebelah barat sekitar seratus meter dari rumah Kalam biasanya sudah dipadati para penunggu sore dengan memancing. Aktivitas belajar sabar ini banyak diminati teman-teman ku.
Waktu kecil dulu aku juga senang mancing di sungai Sengkarang. Bahkan tanpa alat sekalipun aku bisa memanen ikan yang berseliweran kelihatan dari permukaan. Udang juga banyak bersarang di balik bebatuan yang hitam kehijauan. Dulu ada istilah udang dibalik batu, mungkin pepatah itu sudah tidak bisa kita temui kenyataannya di sungai Sengkarang. Sungai bening bebatuan sekepalan tangan bertumpuk dan berjajar. Keroco atau keong kecil lumutan menempel di permukaan bebatuan. Sehingga kalau kita injak batu itu akan meleset dan keroco akan menyakiti kaki kita.
Pinggiran dan tengah kedung dihiasi ganggang-ganggang yang tebal. Ikan wader ijo, lunjar, kutuk, boso, delek sering bersemayam dan berseliweran di sekitar tumbunya ganggang. Pucuk ganggang pun biasanya untuk makanan ikan wader ijo dan lunjar yang biasa dimanfaatkan orang untuk mancing.
Gemericik aliran air sungai yang melewati bebatuan laksana suara kedamaian abadi yang akan menemani warga disetiap aktivitas menyuci, buang hajat, mandi, dan mencari ikan. Banyaknya batu dan pasir di Sungai Sengkarang merupakan kekayaan tiada banding. Pondok Pesantren Insap pada tahun 80-an juga dibangun dari bahan batu dan pasir sungai Sengkarang.
Dulu aku kecil dan Kakang-kakangku setiap ke sungai pasti membawa ceting untuk wadah batu. Kemudian setelah dapat banyak, sedikit demi sedikit ditata di tanah halaman rumah menjadi kesenian pafing alami, bahkan lebih ramah lingkungan, karena tidak seperti paving sekarang yang menghalangi penyerapan tanah atas air hujan. Paving model batu yang ditata masih tetap menghormati tugas tanah dalam menyerap air hujan yang setiap saat dianugerahkan oleh Allah.
Hanya berbekal ketrampilan kecepatan tangan, aku sudah bisa membawa serantai udang. Beberapa teman-temanku kadang membuat panah yang dibuatnya dari bamboo yang pada ujungnya dipasang peniti untuk memanah udang yang ada di balik-balik batu dan karang. Kelebatan udang kentara menimbulkan deru debu, seakan mereka tahu bahwa mereka sedang diburu. Tapi kemanapun udang lari biasanya ku kejar dengan ujung peniti. Sungguh mengasyikkan berburu udang sambil telanjang tanpa pakaian. Masa kecil, masa yang indah di perkampungan yang bernama Paesan. Desanya dibelah sungai Sengkarang, yang juga oleh masyarakat dimaknai sebagai tanda perbatasan antar kampung. Sungai Sengkarang merupakan perbatasan Kampung Paesan dan Madukaran, Karangdowo dan Paesan, Sebetok dengan Pengampon.
Sekarang keadaan sungai kelihatannya sudah berubah. Sejak mulai dikenalkan potas, warga lebih senang membeli potas untuk meracun ikan. Mereka tidak mau berpikir panjang tentang kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh sebaran potas di dalam air. Aku sedih menyaksikannya. Dulu ada aturan dari simbah-simbah, kalau kita menangkap ikan kecil kita harus melepaskannya demi melestarikan kelangsungan reproduksi dan perkembangan ikan. Dengan menjaganya maka kita menjaga ekosistem lingkungan yang telah membantu kita menyuplai kebutuhan air bersih, oksigen, bebatuan, kalori, dan beberapa protein yang diambil dari ikan. Saat orang-orang bersepakat memotas sungai, terlihat jelas ribuan ikan-ikan kecil binasa, untuk selanjutnya bisa mengancam kelestarian spesies ikan air tawar dan spesies lainnya. Keanekaragaman hayati sungai tidak disadari sebagai kekayaan yang sejati bagi bumi maritime dan agraris ini.
Kurangnya pendidikan masyarakat menjadikan itu semua sebagai hal “yang tak terpikirkan” atau sudah terpikirkan, tetapi karena kecuekan dan rasa permisif masyarakat atas semua hal yang merusak. Mendadak aku tergeregap dari lamunan menerawang di hilir sungai Sengkarang yang dulu laksana bocoran sorga.
Dari dalam Kalam membawakan dua cangkir teh yang masih kemebul. Warna teh kecoklatan mengeluarkan asap. Aromanya bisa dirasakan betapa enaknya kalau di sruput. Kursi rotan yang aku duduki berderit seakan kesakitan, ketika aku meraih cangkir. Deretan pohon worap warip yang dijadikan pagar rumah Kalam menghalangi pandangan mata langsung ke jalan.
“katanya tadi nggak mau.” Ledek Kalam kepadaku. Tetapi buruan ia mengucapkan “monggo-monggo diunjuk mawon.” Kalam menyilahkan aku yang barusan menelan ludah.
Sore ini memang kelihatan lebih rame dari hari-hari biasanya. Apalagi hari sudah mendekati lebaran. Mereka yang merantau mulai pada mudik. Santri-santri yang dari Pondok Pesantren juga mulai berdatangan di kampong. Setahun sudah mereka menimba ilmu di Ponpes. Mereka di rumah terasa berbinar-binar ketemu dengan orang tua dan sanak kadang mereka. Banyak santri putri yang ikut jalan-jalan sore. Mereka kelihatan cantik-cantik dan anggun. Kalam biasa menyapanya “Assalamu’alaikum….” Mereka biasanya tertunduk dan tersipu malu merona dan menjawab “wa’alaikum salam….” Saat mendapat jawaban tersebut kita serentak mengucapkan “Alhamdulillah…dengar tho …” terus kita tertawa kegirangan senangnya bukan main. Bagi kami hal semacam itu termasuk hiburan sekaligus aktivitas hati yang bikin kalbu deg-deg ser.
“tak salah apabila ada istilah al-mar’atu khairun min mata’iddunya,“
“istilah apa itu.”
“Cewek itu sebagus-bagusnya perhiasan dunia.”
“udah-udahlah…malah bahas cewek.”
“harus dibahas dong, wong itu merupakan bagian permasalahan dunia ini.”
“di al-Qur’an disebutkan bahwa manusia cenderung mencintai wanita, anak-anak, harta, kendaraan, modal, investasi.” Kenyataannya memang begitu dalam hidup ini. Manusia banyak yang memburu harta untuk memperoleh harta. Duit dijadikan tujuan. Apalagi dikampungku ini. Orang pikirannya duit trus. Panas-panasan dalam bab keduniaan. Impiannya pingin menjadi bos, karena bos disini symbol dari orang yang banyak duit. Mereka tidak melihat bahwa kebanyakan bos yang ada di Pekalongan menghidupi usahanya dari utang di Bank, kata temanku. “jarang bos-bos di Pekalongan yang murni tidak ngutang di Bank. Mereka kebanyakan pada ngutang.”
Maka kenyataan nasib yang instan sering terjadi di sini. Ada orang yang kaya mendadak, banyak orang yang miskin mendadak. Mereka yang kaya mendadak biasanya karena hasil utangan di bank bisa diputarkan menjadi usaha dagang. Tetapi sedikit saja melalaikan hutang di Bank, bisa saja tersungkur semua harta jaminan tersita. Beberapa orang malah dengan senang hati nyupang atau minta pesugihan kepada Dewi Lanjar Ny Roro Kidul, atau penguasa Gunung Kelud. Orang-orang yang nyupang bisa kaya mendadak.
Masyarakat kita sudah terlalu materialis dan hedonis. Tujuan hidup adalah hal-hal yang nikmat syahwatiyah. Orang yang tidak mempunyai duit, dia tidak percaya diri dalam setiap hal. Misalnya dalam musyawarah kampong. Orang-orang miskin hanya terdiam membisu. Tidak mau urun rembug. Karena bagi mereka percuma urun pikiran, karena selama ini pikiran-pikiran mereka tidak dipakai. Ide yang berhak dipakai adalah idenya orang yang akan membiayai jalannya sesuatu. Masalahnya kalau idenya orang kaya tidak dipakai, maka orang kaya tidak mau urun membiayai jalannya acara atau pembangunan. Itu merupakan replica contoh bahwa masyarakat kita telah belajar: mereka yang berkantong teballah yang berhak memutuskan dalam setiap permasalahan.
Di Kampungku ini ilmu adalah nomor dua setelah duit. Sampai ada yang bilang “nyatannya kalau tidak ada duit, tidak akan jalan.” Kuasa Allah sudah digantikan dengan kuasa harta.
Ashalatu khairun minannaumm. Kalimat itu mengalun ke segala penjuru kampong. Shalat lebih baik daripada tidur. Kalimat itu sempat membangunkan beberapa orang. Mereka ada yang mau memaksa dirinya untuk bangun, bangun dan mengambil baju koko, peci, dan sajadah langsung wudlu. Banyak juga mereka yang hanya mendengarkan alunan yang sempat singgah dalam hati, dan dia termasuk bisa memahami makna dari itu semua. Tapi bangun kemudian tidur lagi. Bantal, kasur, selimut masih terasa hangat tak mungkin ditinggalkan begitu saja. Akhirnya beberapa mereka terlelap. Sampai matahari membakar bumi. Jalan setapak yang ditanami bebatuan terasa memijit-mijit telapak kaki yang telanjang ini. Aku termasuk orang yang ingin memenuhi panggilan Allah melalui suara Kalam.
Di hatiku selalu tergetar ketika panggilan itu menyelusup dibawa angin subuh. Tetapi seringkali hanya mampu menggetarkan telinga, tidak sampai menyentuh hati. “ayo bangun-bangun…..sudah subuh…” terdengar suara Pak De Harjo membangunkan teman-teman yang semaleman meronda dan istirahat di mushola. Kabut yang sedemikian tebal turun menjadi rintik-rintik hujan yang sangat lembut. Terasa udara dingin menyusup sampai tulang. Ruslan, Khumaidi, Juned, Ali, menggeliat membetulkan selimut. Sentuhan dingin kabut menjadikan mereka ogah-ogahan bangun. Suara kluruk ayam-ayam mulai terdengar. Derik jangkrik dan lolongan-lolongan srigala malam masih terdengar jelas.
“bangun-bangun…sholat dulu nanti tidur lagi, gak pa-pa” suara Pak De Harjo membangunkan sekawanan peronda semakin keras. Bergegas satu persatu mereka mulai bangun dan memberesi tikar dan selimut mereka. Bagi mereka mushola Mustakim ini merupakan tempat tinggal kedua setelah rumah mereka. Dari kecil dulu mereka menghatam qur’an, ngaji kitab fikih, tajwid, di mushola mungil ini. Mereka juga yang membersihkan dan mengurusi tamn-taman mushola. Mereka dari kecil lebih enjoy tinggal di mushola ini daripada tinggal di rumah mereka sendiri yang bau tinja sapi. Maklum sapi di perkampungan ini ada yang dikandang di salah satu kamar rumah.
“Allahu akbar, Allahu akbar, Asyhadu Alla….” Suara iqomat mulai terdengar. Jamaah subuh mulai cepat-cepat ambil shaf. Dan bergegas shalat.
Ada keintiman suara serak membahana dan berwibawa dari bacaan surat pendek Pak De Harjo. Di beberapa bagian ayat Pak De Harjo kurang fasih melafalkannya. Maklum giginya sudah mulai berguguran. Usianya sudah menapaki kepala tujuh. Tetapi badannya masih seger penuh otot-otot dan tonjolan tulang yang keras. Kulitnya legam kecoklatan menandakan seringnya di sentuh sinar matahari. Sehari-harinya ia menghabiskan sebagian hidupnya diladang, di sawah. Padi, singkong, ketela, dan jagung ditanami menyesuaikan siklus musim. Manusia sederhana ini mempunyai prinsip hidup nerimo ing pandum, alias apa yang sudah diberikan oleh Allah Swt harus benar-benar disyukuri. Shalat dua rakaat diselingi suara batuk yang bersahutan antar jamaah. Sehabis shalat membaca kalimat toyibah dan bergegas beberapa jamaah mulai menata bangku-bangku untuk pengajian selepas shalat subuh. Ruslan dan teman-teman mulai membuka-buka kitab yang sudah kelihatan lusuh. Kitab itu bersampul warna hitam, dinamakan sebagai kitab tarajumah. Bertuliskan arab pegon dan berbahasakan Jawa yang digubah dalam bentuk syair. Syairnya terdiri dari empat-empat. Sebelum pengajian dimulai, pujian-pujian yang dibaca dari kitab syair jawa ini dikumandangkan. Pujian-pujian ini bertujuan untuk mengundang ibu-ibu dan bapak-bapak yang masih singgah di rumah untuk segera menghadiri pengajian.
“Ruslan, kamu yang ngaji hari ini ya….” Perintah Pak De Harjo sambil terbatuk-batuk tak henti-hentinya. “hari ini Pak De tidak bisa ngisi pengajian. Sebab batuk Pak De deres kayak air hujan” timpal Pak De menerangkan tentang batuk yang menyerang dirinya. “maklum sudah tua, jadi wajar kalau sakit-sakitan.”
“Tapi Pak De bukannya diwakilkan sama Ustaz Makmur saja. Dia kan lebih alim dibandingkan saya?” sergah Ruslan, terus ditimpali sama Ali “Iya… biasanya kalau gak Pak De otomatis digantikan Ustadz Makmur.”
“Tapi hari ini tidak,” sergah Pak De dengan suara serak seakan mau mengeluarkan air liur. Jamaah sudah mulai berbondong-bondong datang ke mushola


