Kita semua tentu sering mengalami saat mengendarai kendaraan. Tiba-tiba dengan santainya seekor ayam yang tadinya di pinggir jalan mendadak nyolong menyebrang. Bahkan seringkali nyaris terlindas ban kendaraan. Aneh memang. Karena ayam justru mendatangi bahaya. Seakan dia pingin mati menabrakkan diri. Kalau dalam peribahasanya ‘ulo marani gepuk’ atau ukoro sejenis: ‘gugah macan turu’ yang pada intinya kecenderungan makhluk dalam mencelakakan diri. Hal-hal kecil semacam itu adalah ayat-ayat kauniah, atau pertanda bahwa realitas semacam itu bukan hanya dilakukan oleh hewan tetapi justru pelaku utamanya adalah manusia yang punya akal.
Akhir-akhir ini, atau bahkan sejak dulu, pelaku utama dari ‘mencelakakan diri’ itu bernama manusia. Sangat banyak manusia berjenis mental seperti ayam yang menyerahkan keselamatan dunia akheratnya kepada roda dunia yang sedang berputar. Manusia banyak yang mengecer keselamatan akheratnya pada pembeli putaran hidup yang remeh temeh.
Kita semua menyaksikan akhir-akhir ini banyak pemilihan kepala daerah, atau yang biasa disingkat PILKADA, yang tentu memakan biaya ratusan milyar. Jelas dan gamblang: masing-masing kandidat menganggarkan dana riswah yang besar. Kalau ungkapan Nabi kita perhatikan yang berbunyi penyuap dan yang disuap masuk neraka. Maka momen pilkada ini mohon maaf sebagian orang sedang mengantri untuk beli tiket masuk neraka.
Yang lebih mencengangkan lagi, entah dari kebiasaan atau dari mainstream berfikir masyarakat yang menganggap bahwa riswah itu hadiah. Celaka bukan? Menerima riswah tetapi anggapannya menerima hadiah, hingga bersukacita bahagia mendapatkan uang yang sejatinya itu adalah tiket masuk ke neraka. Masyarakat kalau ditanya tentang perbedaan antara riswah dan hadiah selalu berkata begini. “Kiai anu juga menerima bantuan dari calon anu.” Tak hanya masyarakat awam, kebanyakan kiai yang terbuka untuk menerima ‘hadiah’ itupun berprinsip bahwa sesuatu yang diberikan oleh kandidat adalah hadiah, dan salah kalau ditegaskan sebagai riswah.
Momen yang lebih kecil dari pilkada adalah pilkades. Sudah sangat mafhum kita semua atas ritual semacam ini. Karena praktek ini biasa dilakoni oleh mayoritas desa di Indonesia. Bagi banyak orang, ritual pilkades merupakan ajang bagi-bagi duit. Kalau kita menyaksikan ajang bagi-bagi duit itu, juga terlihat sebagian besar masyarakat menerima dan menikmati. Maka silahkan tergantung hati kita. Apakah angpau yang bernama duit itu mau dicarikan argumentasinya sebagai hadiah. Monggo saja kalau memang Allah, Rasulullah, malaikat, dan akherat tak pernah masuk dalam orientasi berfikir, bertindak kita.
Kalau saya mudah saja membedakan mana riswah, mana hadiah. Keduanya bisa dibedakan berdasarkan tujuan. Jelas kalau hadiah bertujuan memberikan sesuatu bukan karena pamrih duniawi, tetapi pamrih nilai: cinta kasih, silaturahmi, solidaritas, dan juga kemurnian hati menjalankan perintah Allah. Pengertian mudahnya: Riswah diberikan dengan tujuan duniawi, sedangkan hadiah diberikan dengan tujuan akherat. Batas dunia dan akherat itu ada pada saat kematian seseorang.
Cara mendeteksi riswah atau hadiah lainnya bisa dilihat dari zaman wal makan. Kita harus jeli terhadap mongso. Kalau akhir-akhir ini saatnya Pilkada, dan yang memberi pemberian adalah salah satu kandidat, berarti pemberiannya ada motif supaya dia di pilih. Segala pemberian yang diberikan dengan motif jabatan, kekuasaan, dan duniawiyah adalah riswah.
Memang ulama fikih berbeda pendapat tentang hal pemberian yang harus ada sighat sharikh secara lisan atas apa yang harus dijanjikan. Tetapi gerak nurani lebih sensitif daripada fikih, kita punya akal yang bisa mebedakan tentang: Pemberian apa? Dari siapa? Mengapa Memberi? Kenapa hanya saat ini memberi? Kenapa tiba-tiba memberi? Kenapa dia tidak kenal saya kok memberi? Kok bukan hanya saya, tetapi rata-rata diberi? Kenapa memberinya pilih-pilih? Kok hanya waktu jelang Pilkada orang ini kelihatan peduli? Bagaimana dia memberi? Apakah kemudian ritual bagi-bagi bantuannya diumumkan oleh media dengan cara membayar peliputnya. Afalaa tafakarun. Kalau terjemahan bebasnya begini Opo raimu ora mikir…kalau itu sebenarnya suap!!!
Dulu waktu aku ngaji, guru saya pernah bilang. Besok orang yang mengelabukan riswah menjadi hadiah akan dimasukkan ke dalam periuk yang digodok dengan api yang menyala-nyala. Kemudian hamba-hamba yang dimasak itu minta ampun. “Tuhan berilah ampun hamba, tolong dientas dari periuk ini.” Tuhan jawab dengan enteng. “aku tidak sedang menggodok kamu, tapi aku menggodok periuk.”
Seorang ketika di dunia selalu melakukan rupo jelmo atau menjelmakan sesuatu yang salah menjadi benar, maka siksaannyapun berupa jelmaan. Sesungguhnya menggodok manusia tetapi dijelmakan dengan membakar periuk. Kalau manusia dengan akal fikirannya pura-pura tidak tahu, dan menganggap riswah itu hadiah. Maka mungkin Tuhan juga pura-pura tidak tahu kalau dalam periuk yang selalu dibakar itu terdapat manusia.
Banyak cerita yang sampai di telinga kita, kalau suatu hari seorang caleg tiba-tiba minta kembali uang yang sudah dibagikan ke masyarakat, gara-gara masyarakat disana tidak memilihnya, dan diapun tidak menang dalam pemilihan. Itu bukti selanjutnya pasca pemilu yang mengetengahkan bahwa sesungguhnya orietasi bagi-bagi duit caleg itu satu: kekuasaan duniawiyah. Alias riswah bukan hadiah.
Juga tanpa tedeng aling-aling bagaimana praktek penyuapan menjalar di semua lini kehidupan manusia: dalam pebuatan SIM; di ujian masuk perguruan tinggi; di jembatan timbang; demi lolosnya tes CPNS; perpajakan, sampai praktek penyaluran berbagai bantuan pemerintah untuk tempat-tempat ibadah dan pendidikan. Bagaimana tidak disebut sebagai peradaban ajhalul mujahalah kalau bantuan untuk tempat ibadah juga penuh dengan keculasan suap menyuap, dan penipuan. Sekarang lah saat kebangkitan bukan ulama, tapi para maling nahdlotusy syariqin.
Ada seorang caleg yang rela menjual tanah, rumah, mobil, demi untuk modal mengangkat dirinya menjadi legislatif atau wakil rakyat. Wakil rakyat yang kalau dilihat dari kacamata akherat sangatlah ‘ngeri’. Mengacu kepada hadis Nabi Saw, yang berujar setiap orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya itu. Kalau hisab pribadi saja banyak belangnya, setumpuk salahnya, apalagi hisab yang mewakili puluhan ribu manusia. Tentu raportnya merah semua. Naudlubillah min dzalik.
Kalau pertimbangan-pertimbangan itu tak menjadi bahan berfikir dan bertindak, maka sudah tentu seseorang berpayah-payah untuk mengongkosi ratusan juta pembangunan kawah yang bahan bakarnya batu dan manusia, yang hiasannya api yang menyala-nyala, yang pohonnya adalah pohon bidara, pohon yang penuh duri, yang anehnya sengaja dibangun untuk persemayamannya besok. Kalau demikian ceritanya, bukankah itu manusia jenis ayam, yang instingnya selalu ingin mencelakakan dirinya sendiri. Di dunia dan diakhirat sana. Di dunia di penjara, di akherat di neraka. Astaghfirullahal’adziim.
Rowosari Kendal, 15 Januari 2011
Ahmad Saifullah
definisi riswah (1)






Sungguh, membaca artikel ini seperti sedang makan rempeyek, gurih dan tidak mau berhenti.
Dan gayanya itu lho, seperti gayanya Cak Nun. Ya- tho? ya- tho?
Wahai cucunya Mbah Misbah, Kapan ikut nulis di tanbihun dot com…jangan dipendam gagasannya nanti jadi udun lho…