Tanbihun.com - Jalanan jakarta memang benar-benar tidak bisa terlepas dari kemacetan, apalagi pada jam-jam orang berangkat kerja atau pulangnya.
Juga saat-saat ramai seperti siang ini, jam baru menunjukkan pukul 11.15 wib tapi jalan sudah mulai macet, aku yang membonceng motor hanya bisa mengikuti temanku yang meliuk-liuk diantara mobil, motor dan kendaraan-kendaraan lain, berusaha mencari celah untuk dapat mencapai garis finish terdepan dilampu merah yang seakan tertawa angkuh merasa dirinya menjadi “raja jalanan” yang selalu ditakuti sekaligus dibenci.
Garis finish masih jauh, kami sudah terjebak, didepan ada metromini, disamping kiri motor yang juga terjebak tidak bisa melaju, disebelah kanan baje dengan suara yang meraung-raung. Tiba-tiba dari aarah belakang suara klakson motor menyalak dengan lantang.
” sudah tahu lampu merah masih juga bunyiin klakson, dasar wong edan”. kata temanku sambil menoleh kebelakang
Aku cuma tersenyum saja, lampu hijau yang ditunggu-tunggu pun menyala, tapi kendaraan didepan kami belum juga bergeser maju, tak pelak suara puluhan klakson dari depan,belakang,kanan,kiri memekakkan telinga, diantara suara-suara yang membuat pusing aku mendengar tukang baje disampingku ngomong,
” kalau mau jalan duluan ya terbang sana”. begitu aku lihat dia sudah menyalakan rokoknya sambil mengangkat satu kakinya ke atas jok.
” nggak ikutan meraung-raung pak?” iseng saja aku tanya tukang baje yang sedang menikmati rokoknya, seakan tak peduli dengan kemacetan
” kalau tidak bisa menerima kenyataan ya bisa makan hati sendiri ” jawabnnya singkat sambil “kedal-kedul” menghisap rokoknya
setelah polisi turun tangan kemacetan pun bisa terurai, perlahan motor kami kembali meliuk-liuk diantara kendaraan lainnya. Sementara perjalanan kami semakin mendekati tujuan, aku masih terngiang dan terbayang si tukang baje yang nyantai saja menghadapi kemacetan, seakan dia sedang memperlihatkan kepadaku, inilah hidup ! setiap orang berlomba-lomba ingin berada di garis paling depan, hasrat mendahului selalu membuatnya melupakan keadaan, ketika bertemu dengan “jalan buntu” dia akan teriak-teriak, tidak terima dengan “kemacetan” bisnisnya, tidak rela laju jabatannya tersumbat “kendaraan” lainnya.
Si tukang baje menerima keadaan itu bahkan menikmatinya, ini mungkin kuncinya, ” menerima dan menikmatinya “. kalau sudah begini tak ada lagi beban, kenyataan diterima apa adanya tanpa didramatisir. Semoga aku bisa./my/to/jkt/10.



lats go… nikmati aja .lama2 akan terbiasa..