11:41 am - Tuesday April 9, 2013

Jangan Remehkan Si “Bodoh”

Sunday, 9 May 2010 15:19 | Analisis, Bebas, Pendidikan | 7 Comments | Read 1219 Times
rubiks-cube

Jangan menyerah

Standarisasi kelulusan UN yang ditetapkan oleh pemerintah telah memakan korban. Anak-anak bangsa yang potensial dikebiri haknya dan dipasung kreatifitasnya untuk mengikuti apa yang dikehendaki oleh pemerintah. Pemerintah berusaha untuk menyeragamkan kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh siswa, hal ini dapat dibuktikan dengan hanya meng UN kan pelajaran-pelajaran tertentu saja . sementara itu sama-sama kita ketahui bahwa bakat, minat dan kemampuan manusia itu beraneka ragam. Adanya UN seakan memberikan penghakiman kepada siswa yang tidak lulus dengan predikat bodoh, akibatnya anak yang bersangkutan tersebut akan merasa malu, minder dan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan tragis.

Pemerintah dalam hal ini mendiknas harus kembali mengevaluasi ujian nasional, karena bukan saja pelaksanaannya cacat hukum namun juga ujian nasional ini berpotensi untuk memangkas daya cipta dan bakat luar biasa yang dimiliki siswa. Karena bias jadi terdapat siswa yang tidak menguasai pelajaran eksak seperti matematika, fisika, dan kimia namun ia mahir dalam seni music atau seni kaligrafi. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bersifat mengarahkan bakat yang dimiliki oleh peserta didik agar lebih terasah lagi, bukan malah mematikannya dan memaksakan suatu keahlian tertentu kepada mereka. Mungkin mendiknas perlu sedikit membuka mata dan fikirannya bahwa didunia ini terdapat beberapa tokoh terkenal yang semula diberikan label sebagai orang bodoh seperti tokoh-tokoh berikut ini :

Adam Khoo:

Dia orang Singapura. Waktu kecil, ia adalah penggemar berat games dan TV. Sehari, ia bisa berjam-jam di depan TV. Baik main PS atau nonton TV.
Adam Khoo pun dikenal sebagai anak bodoh. Ketika kelas empat SD, Ia dikeluarkan dari sekolah. Ia pun masuk ke SD terburuk di Singapura. Ketika akan masuk SMP, ia ditolak oleh enam SMP terbaik di sana. Akhirnya, ia bisa masuk ke SMP terburuk di Singapura. Begitu terpuruknya prestasi akademisnya, tapi lama kelamaan membaik justru karena cemoohan teman-temannya, hingga akhirnya memperoleh kesuksesan di dunia bisnis.
Prestasi Adam di dunia bisnis ditandai pada saat Adam berusia 26 tahun. Ia telah memiliki empat bisnis dengan total nilai omset per tahun US$ 20 juta.
Kisah bisnis Adam dimulai ketika ia berusia 15 tahun. Ia berbisnis music box. Bisnis berikutnya adalah bisnis training dan seminar. Pada usia 22 tahun, Adam Khoo adalah trainer tingkat nasional di Singapura. Klien-kliennya adalah para manager dan top manager perusahaan-perusahaan di Singapura. Bayarannya mencapai US$ 10.000 per jam.

Albert Enstein:

Siapa yang belum tahu Albert Einstein? Dialah Ilmuwan terkenal abad 20 yang terkenal dengan teori relativitasnya. Dia juga salah satu peraih Nobel. Siapa sangka dia adalah seorang anak yang terlambat berbicara dan juga mengidap Autisme. Waktu kecil dia juga suka lalai dengan pelajaran.

Aristotle Onassis:

Di sekolah, ia bodoh dan suka mencari perkara, mengikuti contoh banyak orang kaya. Tidak aneh kalau ia diusir dari beberapa sekolah. Ia paling sering menduduki ranking terbawah di kelasnya. Salah seorang gurunya berkata:
Teman-teman sekelas memuja dia, tetapi guru guru dan keluarganya berputus asa. Selagi ia masih muda, dengan mudah orang dapat melihat bahwa dia akan menjadi seorang di antara mereka yang akan menghancurkan diri sama sekali atau sukses secara gilang-gemilang. Walaupun raportnya di sekolah jauh dari bagus, bakatnya untuk berdagang dan mencari uang telah tampak sejak dini. Akhirnya dia menjadi seorang milyuner.

Thomas Alva Edison:

Suatu hari, seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. ibunya membaca kertas tersebut,
Tommy, anak ibu, sangat bodoh. kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah.
Sang ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang teguh, ” anak saya Tommy, bukan anak bodoh. saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia.”
Tommy kecil adalah Thomas Alva Edison yang kita kenal sekarang, salah satu penemu terbesar di dunia. dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju.
Siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai-sampai diminta keluar dari sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang genius? jawabannya adalah ibunya! Ya, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja dengan pendapat pihak sekolah terhadap anaknya.

Mereka semua adalah anak yang pernah dianggap bodoh oleh sekolahnya, karena mereka kurang tertarik terhadap suatu mata pelajaran tertentu. Akan tetapi bakat dan minatnya terhadap keahlian yang  lepas dari pengamatan para gurunya begitu menonjol.

Oleh sebab itu pemerintah seharusnya menghapuskan UN dan menggantikannya dengan pendidikan yang berorientasi pada penelusuran bakat dan minat sehingga potensi-potensi luar biasa yang dimiliki oleh anak-anak bangsa bisa tereksplorasi dengan maksimal.

Share on :

About

Manusia yang berusaha untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya, lahir di Demak, nyantri di Pati, kuliah di Jakarta, rumah di Bekasi...........

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with:

bodoh di pelajaran fisika,jangan remehkan ilmu humaniora

Anda mungkin juga menyukaiclose