Standarisasi kelulusan UN yang ditetapkan oleh pemerintah telah memakan korban. Anak-anak bangsa yang potensial dikebiri haknya dan dipasung kreatifitasnya untuk mengikuti apa yang dikehendaki oleh pemerintah. Pemerintah berusaha untuk menyeragamkan kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh siswa, hal ini dapat dibuktikan dengan hanya meng UN kan pelajaran-pelajaran tertentu saja . sementara itu sama-sama kita ketahui bahwa bakat, minat dan kemampuan manusia itu beraneka ragam. Adanya UN seakan memberikan penghakiman kepada siswa yang tidak lulus dengan predikat bodoh, akibatnya anak yang bersangkutan tersebut akan merasa malu, minder dan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan tragis.
Pemerintah dalam hal ini mendiknas harus kembali mengevaluasi ujian nasional, karena bukan saja pelaksanaannya cacat hukum namun juga ujian nasional ini berpotensi untuk memangkas daya cipta dan bakat luar biasa yang dimiliki siswa. Karena bias jadi terdapat siswa yang tidak menguasai pelajaran eksak seperti matematika, fisika, dan kimia namun ia mahir dalam seni music atau seni kaligrafi. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bersifat mengarahkan bakat yang dimiliki oleh peserta didik agar lebih terasah lagi, bukan malah mematikannya dan memaksakan suatu keahlian tertentu kepada mereka. Mungkin mendiknas perlu sedikit membuka mata dan fikirannya bahwa didunia ini terdapat beberapa tokoh terkenal yang semula diberikan label sebagai orang bodoh seperti tokoh-tokoh berikut ini :
Adam Khoo:
Dia orang Singapura. Waktu kecil, ia adalah penggemar berat games dan TV. Sehari, ia bisa berjam-jam di depan TV. Baik main PS atau nonton TV.
Adam Khoo pun dikenal sebagai anak bodoh. Ketika kelas empat SD, Ia dikeluarkan dari sekolah. Ia pun masuk ke SD terburuk di Singapura. Ketika akan masuk SMP, ia ditolak oleh enam SMP terbaik di sana. Akhirnya, ia bisa masuk ke SMP terburuk di Singapura. Begitu terpuruknya prestasi akademisnya, tapi lama kelamaan membaik justru karena cemoohan teman-temannya, hingga akhirnya memperoleh kesuksesan di dunia bisnis.
Prestasi Adam di dunia bisnis ditandai pada saat Adam berusia 26 tahun. Ia telah memiliki empat bisnis dengan total nilai omset per tahun US$ 20 juta.
Kisah bisnis Adam dimulai ketika ia berusia 15 tahun. Ia berbisnis music box. Bisnis berikutnya adalah bisnis training dan seminar. Pada usia 22 tahun, Adam Khoo adalah trainer tingkat nasional di Singapura. Klien-kliennya adalah para manager dan top manager perusahaan-perusahaan di Singapura. Bayarannya mencapai US$ 10.000 per jam.
Albert Enstein:
Siapa yang belum tahu Albert Einstein? Dialah Ilmuwan terkenal abad 20 yang terkenal dengan teori relativitasnya. Dia juga salah satu peraih Nobel. Siapa sangka dia adalah seorang anak yang terlambat berbicara dan juga mengidap Autisme. Waktu kecil dia juga suka lalai dengan pelajaran.
Aristotle Onassis:
Di sekolah, ia bodoh dan suka mencari perkara, mengikuti contoh banyak orang kaya. Tidak aneh kalau ia diusir dari beberapa sekolah. Ia paling sering menduduki ranking terbawah di kelasnya. Salah seorang gurunya berkata:
Teman-teman sekelas memuja dia, tetapi guru guru dan keluarganya berputus asa. Selagi ia masih muda, dengan mudah orang dapat melihat bahwa dia akan menjadi seorang di antara mereka yang akan menghancurkan diri sama sekali atau sukses secara gilang-gemilang. Walaupun raportnya di sekolah jauh dari bagus, bakatnya untuk berdagang dan mencari uang telah tampak sejak dini. Akhirnya dia menjadi seorang milyuner.
Thomas Alva Edison:
Suatu hari, seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. ibunya membaca kertas tersebut,
Tommy, anak ibu, sangat bodoh. kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah.
Sang ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang teguh, ” anak saya Tommy, bukan anak bodoh. saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia.”
Tommy kecil adalah Thomas Alva Edison yang kita kenal sekarang, salah satu penemu terbesar di dunia. dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju.
Siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai-sampai diminta keluar dari sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang genius? jawabannya adalah ibunya! Ya, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja dengan pendapat pihak sekolah terhadap anaknya.
Mereka semua adalah anak yang pernah dianggap bodoh oleh sekolahnya, karena mereka kurang tertarik terhadap suatu mata pelajaran tertentu. Akan tetapi bakat dan minatnya terhadap keahlian yang lepas dari pengamatan para gurunya begitu menonjol.
Oleh sebab itu pemerintah seharusnya menghapuskan UN dan menggantikannya dengan pendidikan yang berorientasi pada penelusuran bakat dan minat sehingga potensi-potensi luar biasa yang dimiliki oleh anak-anak bangsa bisa tereksplorasi dengan maksimal.




justru mereka yang disia-siakan, yang tak dianggap, biasanya menjadi sang Juara. mereka ditempa dengan kepahitan, makanya semua jamu rasanya pahit. siapa yang lulus dengan kepahitan-kepahitan maka hidupnya berpeluang luas untuk sukses.
sudah saatnya kita tidak menghakimi seseorang dg predikat “BODOH”..
@Rifai Ahmad, ha..ha…ketika seseorang mengatakan BODOH pada orang lain. berarti ia menganggap dirinya tidak bodoh..ha..ha…
jika kita menganalisis kata “bodoh” dengan ajarn filsafat Posmodernisme, maka sesungguhnya “bodoh” adalah sesuatu yang relaif. dan semua oang bisa dikatakan bodoh dalam bidang-bidang tertentu.
saya bisa dikatakan bodoh dalam komputer. karena memang tidak bisa kompeter
Rifa’i bisa saya katakan bodoh dalam bidang perang misalnya. karena tidak bisa pegang senjata…
ha..ha..saya hanya mau mengatakan tidak ada orang bodoh di dunia ini.
tapi anak2 kita jgn juga dibiarkan seenaknya nggak belajar ya…ntar kita kira kalo bodoh ujug2nya jd sukses kan nggak bener juga ya….
baiknya gimana tuh….
Saya faham kegalauan saudari Nafi.
Itulah dilema yang dihadapi pemerintah, karena budaya belajar dan membaca masih kurang sekali di Indonesia. Lihat saja ruang tamu Indonesia, pasti Almari dan rak- raknya hanya berisi guci dan piring kosong. Kalu dinegeri maju rak- rak di ruang tamu pasti isinya buku- buku.
Bila tidak dilakukan ujian nasional, siswa siswi bakal banyak yang hanya main- main, keluar masuk rental video game, bahkan tawuran, karena tak ada pressure agar lulus dalam ujian.
Disamping itu pemerintah tidak tahu bagaimana sebenarnya kualitas pendidikan nasional maupun regional tanpa adanya tolok ukur tingkat pendidikan saat ini, yang bila dibanding anak- anak negeri maju lain seperti Singapore, tertinggal sangat jauh.. Jadi ide nya Ujian Nasional itu seharusnya jangan untuk menentukan lulus atau tidak lulus, Tapi untuk menetapkan langkah dan policy pemerintah kedepan dalam hal memajukan dunia pendidikan.
Indonesia memang belum bisa dibandingkan dengan negara maju seperti Jepang. Di Jepang tidak ada Ujian Nasional. Bahkan ujian kenaikan kelas untuk level Compulsory education (Shougakkau)juga tidak ada, semua siswa setelah satu tahun belajar pasti naik kelas. Evaluasi tentu secara rutine dilakukan, nilainya A-B-C-D dan bagi siswa yang lemah mendapat perhatian khusus. Guru- guru tidak sembarangan dan berkemampuan standart yang diuji dan mendapat lisensi yang dikeluarkan oleh Perfecture Educational Board yang diawasi oleh Ministry of Education. Jadi tidak semua sarjana dapat menjadi seorang guru seperti di Indonesia.
Sekali lagi Indonesia bukan Jepang dan Jepang bukan Indonesia.
Saya usul Ujian Nasional tetap diselenggarakan tapi bukan untuk menentukan lulus/ tidak lulus, tapi untuk menentukan KUALIFIKASI dan KRITERIA. Mata ujian harus ditambah untuk menentukan apakah seseorang memiliki kemampuan EXACTA atau HUMANIORA. Jangan sampai gara- gara biologi, matematika, fisika, bahasa Indonesia jeblok dianggap anak bodoh.
Bukankah Adam Malik, mantan Sekjen PBB dan mantan Wakil President RI hanya lulus SMP?
Bukankah Prof Buya Hamka, juga hanya lulus SMP?
Bukankah Om Liem, si pengusaha sukses itu juga tidak mengerti kimia dan Fisika? tapi punya pabrik kimia seperti Indocement dll?
Juga Adam Khoo… Juga Thomas Alfa Edison… Juga Newton yang diusir dari kelas gara- gara suka melamun dan dianggap bodoh….
Saya yakin Albert Einstein pun disuruh bikin cendol pasti nggak bisa!
Tapi bukan berarti Einstein bodoh.
sedikit berbeda…
keempat tokoh yang saudara berikan mereka hidup dalam lingkuhan yang sama. yaitu lingkungan yang harus dituntut untu berfikir. karena eropa dan singapura itu adalah negara yang berbasis bisnis. maka pengalaman merupakan hal yang utama ketimbang pemikiran.
contoh tersebut secara terbuka telah membuktikan teori materials dealiktik yang di ajarkan oleh Kral Marx telah mengejawantahkan teorinya hegelian, yang mengajarkan otak adalah bahan primer untuk sebuah perubahan.
dalam ajaran Marx itu lebih mem-primerkan pengalam dari pada otak. bisa kita rasionalisasikan. kita punya air satu botol. dan kita berjalan di padang pasir secar otomatis kita akan menghemat air itu. itu menindentifikasikan bahwa keadaanlah yang mempengaruhi pikiran.
terlepas dari itu..memang saya sangat tidak suka UN..ha..ha…
ha..ha,, saya dan teman-teman Embun Pagi punya rencana mau membuat SMA FILSAFAT yang hanya untuk 30 murid saja. dan gratis mau gabung..ha…ha…ha..
biar bodoh asal sombong he he piss
lama gak ‘tebar pesona’ di tanbihun, apa kabar sodara sodara sebangsa setanah aer