3:54 pm - Selasa,22 Mei 2012

Ketika Mahasiswa Telah Menjadi Sarjana

Selasa, 5 Januari 2010 14:40 | Bebas | 6 Comments | Read 333 Times

graduationDulu saat acara wisuda disebuah Universitas ternama di Indonesia, seorang wisudawan yang mewakili rekan-rekannya memberikan pesan dan kesannya. Dengan suara lantang khas mahasiswa dia mengucapkan salam dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang dia anggap telah berjasa dalam hidupnya. Selanjutnya sebuah kalimat pendek yang menghentakkan seluruh ruangan meluncur deras dari sela-sela bibirnya yang bergetar. ” Kemarin kita masih bisa tertawa karena kita masih mahasiswa, akan tetapi mulai saat ini, kita akan menangis karena kita adalah pengangguran terdidik.”

Sekilas kalimat di atas memang benar, akan tetapi tidak layak dikeluarkan oleh seorang mahasiswa binaan universitas ternama. Kesan yang dapat ditangkap adalah sebuah perasaan apatis dan skeptis yang sedemikian kuat melanda bathinnya. kekhawatiran akan masa depannya karena jaminan kesejahteraan hidup yang dijanjikan oleh pemerintah hanya sekedar menjadi penghias kolom-kolom berita, telah membuat idealisme seorang mahasiswa menjadi pudar.

Mahasiswa memang identik dengan idealisme, mahasiswa tanpa idealisme ibarat singa tanpa auman. Jiwa muda yang meledak-ledak diiringi dengan keinginan untuk mengadakan perubahan seringkali membuat bangsa ini tersenyum bangga akan karakter kuat generasinya. Namun ketika mereka telah mengenakan toga dan berhak menyandang gelar kesarjanaan, idealisme dan semangat pembaharuan tersebut lambat laun memudar. Auman-auman para singa kampus yang ditakuti oleh para petinggi-petinggi busukpun berubah menjadi raungan lirih seekor kucing yang memelas mengharapkan lemparan sepotong ikan.

Mungkinkah tuntutan kebutuhan yang membuat karakter itu lenyap ? ataukah sistem yang demikian “ganas” yang menghimpit ruang idealisme mereka ?.

Mungkin masih segar dalam ingatan kita, bagaimana rezim orde lama tumbang oleh mahasiswa. Dan kini diantara mahasiswa-mahasiswapun ada yang menjadi pejabat negara, dan merekapun di goyang oleh mahasiswa. Demikian pula orde baru, harus berakhir ditangan para mahasiswa. Mahasiswa memang luar biasa, seandainya idealisme para sarjana semeledak saat masih menjadi mahasiswa dulu, maka bangsa ini tidak akan menunggu waktu lama untuk berhenti dari tangisannya insya Alloh.

Para sarjana juga lebih suka menjadi kuli dari orang lain daripada menciptakan peluang kerja sendiri. Bagaimanapun idealismenya seorang kuli tetap saja ia dibatasi oleh ketertundukannya kepada sang majikan, bahkan ia harus meredam idealismenya tersebut manakala hal itu berbenturan dengan kebijaksanaan dari majikannya. Lebih-lebih jika ia harus menjadi bagian dari pemerintahan, maka suaranya yang menggema dulu hanya akan menyumbat dalam tenggorokannya semata. Hal ini tentu berbeda dengan sarjana yang dapat memenej hidupnya sendiri, menciptakan peluang kerja sendiri, mereka lebih dapat memelihara idealismenya dan lebih nyaring menyuarakan kebenaran yang diyakininya.

Hidup mahasiswa….!!!

( tulisan ini adalah bentuk dari jeritan idealisme penulis yang menyumbat ditenggorakan, sebab penulis juga termasuk sarjana yang bermental kuli..)

Guru Online
Sebarkan Dan Simpan Dalam Bentuk Word & Pdf !

Penulis:

Manusia yang berusaha untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya, lahir di Demak, nyantri di Pati, kuliah di Jakarta, rumah di Bekasi...........

Tagged with: ,

kata pesan dan kesan kampus (18),Kesan dan pesan sela dikampus (1),konsep pesan dan kesan pada acara wisuda (1),pesan dan kesan mahasiswa pada saat wisuda (1),pesan kesan singkat untuk perguruan tinggi (1)

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda

Masukkan email disini,jangan lupa cek email anda untuk pengaktifannya :

Delivered by FeedBurner