Ketika Mahasiswa Telah Menjadi Sarjana | Media Dakwah Rifaiyah

Ketika Mahasiswa Telah Menjadi Sarjana

Januari 5th 2010 | Posted by rifai

graduationDulu saat acara wisuda disebuah Universitas ternama di Indonesia, seorang wisudawan yang mewakili rekan-rekannya memberikan pesan dan kesannya. Dengan suara lantang khas mahasiswa dia mengucapkan salam dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang dia anggap telah berjasa dalam hidupnya. Selanjutnya sebuah kalimat pendek yang menghentakkan seluruh ruangan meluncur deras dari sela-sela bibirnya yang bergetar. ” Kemarin kita masih bisa tertawa karena kita masih mahasiswa, akan tetapi mulai saat ini, kita akan menangis karena kita adalah pengangguran terdidik.”

Sekilas kalimat di atas memang benar, akan tetapi tidak layak dikeluarkan oleh seorang mahasiswa binaan universitas ternama. Kesan yang dapat ditangkap adalah sebuah perasaan apatis dan skeptis yang sedemikian kuat melanda bathinnya. kekhawatiran akan masa depannya karena jaminan kesejahteraan hidup yang dijanjikan oleh pemerintah hanya sekedar menjadi penghias kolom-kolom berita, telah membuat idealisme seorang mahasiswa menjadi pudar.

Mahasiswa memang identik dengan idealisme, mahasiswa tanpa idealisme ibarat singa tanpa auman. Jiwa muda yang meledak-ledak diiringi dengan keinginan untuk mengadakan perubahan seringkali membuat bangsa ini tersenyum bangga akan karakter kuat generasinya. Namun ketika mereka telah mengenakan toga dan berhak menyandang gelar kesarjanaan, idealisme dan semangat pembaharuan tersebut lambat laun memudar. Auman-auman para singa kampus yang ditakuti oleh para petinggi-petinggi busukpun berubah menjadi raungan lirih seekor kucing yang memelas mengharapkan lemparan sepotong ikan.

Mungkinkah tuntutan kebutuhan yang membuat karakter itu lenyap ? ataukah sistem yang demikian “ganas” yang menghimpit ruang idealisme mereka ?.

Mungkin masih segar dalam ingatan kita, bagaimana rezim orde lama tumbang oleh mahasiswa. Dan kini diantara mahasiswa-mahasiswapun ada yang menjadi pejabat negara, dan merekapun di goyang oleh mahasiswa. Demikian pula orde baru, harus berakhir ditangan para mahasiswa. Mahasiswa memang luar biasa, seandainya idealisme para sarjana semeledak saat masih menjadi mahasiswa dulu, maka bangsa ini tidak akan menunggu waktu lama untuk berhenti dari tangisannya insya Alloh.

Para sarjana juga lebih suka menjadi kuli dari orang lain daripada menciptakan peluang kerja sendiri. Bagaimanapun idealismenya seorang kuli tetap saja ia dibatasi oleh ketertundukannya kepada sang majikan, bahkan ia harus meredam idealismenya tersebut manakala hal itu berbenturan dengan kebijaksanaan dari majikannya. Lebih-lebih jika ia harus menjadi bagian dari pemerintahan, maka suaranya yang menggema dulu hanya akan menyumbat dalam tenggorokannya semata. Hal ini tentu berbeda dengan sarjana yang dapat memenej hidupnya sendiri, menciptakan peluang kerja sendiri, mereka lebih dapat memelihara idealismenya dan lebih nyaring menyuarakan kebenaran yang diyakininya.

Hidup mahasiswa….!!!

( tulisan ini adalah bentuk dari jeritan idealisme penulis yang menyumbat ditenggorakan, sebab penulis juga termasuk sarjana yang bermental kuli..)

Artikel Terkait

Pengembaraan Mencari Kitab Riayah

Malam itu bulan purnama begitu sempurna. Terlihat cahayanya berpendar menerangi kolong langit. Sesekali segulungan awan bergerak menutupi keelokannya. Cahaya itu membangunkan yang tidur, juga menidurkan yang siang hari bertebaran. Aku terus saja mempercepat langkahku. Sudah terasa remuk redam balung-balung yang sudah dua puluh jam tak dihempaskan [...]

10 Hal yang Bisa Kamu Lakukan untuk Lingkungan

Penggunaan bahan bakar fosil seperti gas alam, batubara, minyak dan bensin akan meningkatkan level karbon dioksida di atmosfer, dan karbon diaksoda merupakan penyumbang utama terhadap efek rumah kaca dan pemanasan global. Kamu bisa membantu mengurangi pemakaian bahan bakar fosil dengan menggunakan energi yang lebih ramah. Ada 10 tindakan [...]

Utusan Kuburan untuk Cinta Indonesia

Suatu malam pada Jumat kliwon, saat aku berkunjung ke pusara Simbah. Tiba-tiba guyuran gerimis menimpa bumi ini. Tubuhku kena rintikan gerimis yang mendadak datang itu. Aku bermaksud segera meninggalkan persemayamanmu.... Simbah. Tapi.... Tapi tiba-tiba saja asap tebal muncul dari kuburan yang pas ada di depanku, dan membentuk wujud [...]

Mengenal “SOMAT” (Serombongan Anak Muda Tarajumah)

Ngawinan, adalah sebuah dusun di Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang. Kurang lebih setengah kilometer ke arah Kota Bandungan dari dusun ini terdapat Terminal Agribisnis. Pusat terjadinya transaksi jual beli sayur mayur terbesar se-Jawa Tengah. Dusun ini pertama dibedol oleh Nyai Tangkisan yang makamnya terletak di bilangan sawah Lor [...]

Kisah Pohon Apel Dan Seorang Anak Kecil

Si Pohon Apel Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak [...]

6 Responses to “Ketika Mahasiswa Telah Menjadi Sarjana”

commenter

Sbenarnya apa sih yg salah??? sistem pendidikan kt atau rendahny kualitas SDM yg kt miliki.. Mmng sistem pndidikan kt slama ini hanya bisa melahirkan sarjana KULIah pencari kerja/KULI,bkn sarjana pembuka lapangan krja/wirausaha. mgkn ini krn sistem pndidikn kt yg lbh mngedepankan teori drpd praktek nyata, disamping brbagai faktor laen penghambat kmampuan untk brwirausaha. SDM kt jg kbnykn lbh mmilih cara cari krja expres drpd hrs brsusah payah membangun usaha sndiri.

[Balas]

commenter

hahahaha
dah jd sarjana kok malah bikin pusing yg lain. mending jd mahasiswa lagi aja, jgn dulu jd sarjana klo gitu. mungkin gini ide-nya. setiap mahasisa mau lulus, diharuskan bekrja dulu, nnt klo sudah dpt kerja, baru dia boleh jd sarjana. selama dia gak dpt kerja, selamanya dia jd mahsiswa, jd mash bisa minta duit sama org tuanya.
klo mahasisa yahudi lain lagi, waktu dia mau lulus, dia harus bikin proyek bisnis secara kelompok, dia akan dinyatakan lulus kalo proyek yg dia bikin bisa dpt profit minimal 1 juta dolar. dia gak akan lulus klo gak bisa bikin proyek bisnis…. bagaimana????? pasti gak ada sarjana yg nganggur kan?

[Balas]

commenter

semakin tinggi pendidikan kita, semakin tinggi gengsi sosial kita, sehingga kita pilih-pilih pekerjaan. akhirnya nganggur dah….mau buka lapangang kerja gak da modal….padahal modal tak kudu duit…kita inilah modalnya….

[Balas]

commenter

Sbenarny tujuan awal kt belajar/kuliah itu untk apa? Mencari ilmu agar kt brwawasan, atau dpt ijazah/titel biar bisa buat nglamar kerja?! Untk yg prtama tntu kt akan mnjd pribadi yg brkualitas+brdaya saing,maka dgn mudah kt bs mmbuka /mndpt pkerjaan krn kt mampu. Untk yg ke2 yg mrpkn cita2 kbnyakan dr kt hny akan mnghasilkn pngangguran2 yg hny pny titel tp tdk pny daya saing. ingat”jangan menunggu buah jatuh dr pohon tp panjatlah pohon dan petiklah buahnya” ‘jgn menunggu peluang datang,tp jemputlah dia ok!!

[Balas]

ibn khasbullah | Januari 7th, 2010 at 16:14
commenter

Ada suatu fenomena yang aneh di dua daerah di Pekalongan.
Fenomena ini penulis lihat sepintas, bukan merupakan hasil suatu penelitian yang mendalam terhadap dua daerah tersebut.
Asalnya dua daerah tersebut berbasis industri rumahan (batik dan tenun).
Di satu daerah anak- anaknya di sekolahkan dan kebanyakan bertitel.
Di satu daerah yang lain kebanyakan anak- anaknya ke pesantren, walaupun kemudian akhirnya sebagian kuliah juga.
Anehnya didaerah yang putra- putrinya bertitel, mereka pada pergi jauh, karena pada jadi pegawai di beberapa daerah, dan industri orang tuanya pun pada berhenti karena nggak ada yang nerusin.
Di daerah yang pada ke pesantren anehnya mereka pulang dan kebanyakan melanjutkan industri orang tuanya dan mereka banyak yang kini jadi milyarder.
Adakah yang dapat menjelaskan dan memberikan analysis terhadap satu femomena sosial yang aneh ini?

[Balas]

Rifai Ahmad Reply:

@ibn khasbullah, hehehe….saya merasa kesindir ama pak kyai niiihhh…

[Balas]

Leave a Reply:

Name (required):
Mail (will not be published) (required):
Website:
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA

Jangan Lupa Jawab Ini:

Copyright @ 2010 Media Dakwah Rifaiyah | Tegakkan | Syariat | Tharikat | Hakikat | Hubungi Kami | fbkcl twt