11:48 am - Tuesday April 9, 2013

Khutbah Idul Adha 1433 H;Mengimplementasikan Semangat Kurban

Wednesday, 24 October 2012 14:05 | Bebas | 2 Comments | Read 250 Times

khutbah idul adha 1433 HMa’asyirol Muslimiin Jama’ah sholat Id yang dirahmati Alloh

Tanbihun.com- Ibadah Qurban merupakan salah satu syariat Nabiyullah Ibrahim yang dilestarikan oleh Nabi Muhammad Saw. Kualitas keimanan yang luar biasa tidak lantas membuat Nabi Ibrahim lepas dari ujian loyalitas dari Alloh Swt, karena semua orang yang mengaku beriman kepada Alloh pasti akan mendapat ujian keimanan dari Alloh sebagaimana yang ditegaskan dalam firmannya:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

(apakah orang-orang itu menyangka bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja untuk berkata,” Kami Beriman..! Sementara mereka tidak di uji.)

Ayat inipun berlaku juga kepada Khalilullah Ibrahim As. Ketika Nabi Ibrahim Alaihissalam sedang dalam puncak kebahagian atas anugrah dari Alloh berupa kehadiran anak tercinta yang bernama Ismail, yang selama puluhan tahun dinantikannya. Tiba-tiba Alloh memerintahkannya untuk menyembelih Ismail sebagai bentuk ketaatannya kepada Alloh Swt. Meskipun pada awalnya terjadi perang bathin pada diri Nabi Ibrahim, namun ketika Alloh berulang kali mengusiknya melalui mimpi-mimpinya, maka Ibrahim dengan lapang dada merespon perintah Alloh tersebut dengan segera.

Ma’asyiral muslimin

Seorang mukmin sejati yang imannya menancap dalam sanubari akan selalu merespon perintah Alloh dengan segera (سرعة الاستجابة لنداءالله ورسوله ). Seberat apapun perintah Alloh akan diterima dengan senang hati. Mungkin masih terngiang ditelinga kita kisah seorang sahabat yang bernama Handzolah, suatu ketika dia sedang bermesraan dengan istrinya tiba-tiba terdengar seruang “Naffiruu… sebuah seruan untuk berangkat berjihad. Mendengar itu, sontak Handzolah merapikan pakaiannya dan mengambil pedangnya lalu berjuang di jalan Alloh sampai meninggal. Lalu istrinya datang menghadap Rasul dan dia mengadu bahwa suaminya belum sempat mandi wajib. Apa kata Rasul?, tenanglah dia sudah dimandikan para malaikat. Kesigapan Ibrahim dan Handzolah dalam merespon perintah Alloh dan mencampakkan logikanya dalam rangka mendekatkan diri kepada Alloh haruslah menjadi inspirasi bagi kita, agar setiap saat dan waktu selalu bergegas dan sigap dalam menjalankan perintah Alloh dan RasulNya. Dan menumbuhkan keyakinan di dalam hati bahwa apapun perintah Alloh yang diberikan kepada kita pada hakekatnya adalah untuk kebaikan kita sendiri.

Ma’asyiral muslimin yang berbahagia

Nabi Ibrahim segera mengajak diskusi putranya, Ismail. Dia utarakan tentang mimpi yang ia terima dari Alloh Swt yang memerintahkannya agar menyembelih ismail. Ibarahim berkata:

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى

Wahai anakku sesungguhnya aku bermimpi, sesungguhnya aku (diperintahkan) untuk menyembelihmu, maka berikan pendapatmu.

Jawaban Ismail kecil ini sungguh menakjubkan, dia tersenyum sembari berkata dengan tegas tanpa ada rasa takut sama sekali

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Duhai ayahku, laksanakan saja apa yang diperintahkan kepadamu, kelak engkau akan dapati aku insya Alloh termasuk orang-orang yang sabar.

Kenapa Ismail yang menurut riwayat baru berusia 12 tahun ini memiliki keteguhan jiwa yang luar biasa? Karena ismail dibesarkan dan dididik dalam lingkungan tauhid. Keluarga yang dibina berdasarkan konsep tauhid akan mampu meletakkan kecintaannya kepada Alloh melebihi kecintaannya kepada diri sendiri. Mereka akan memandang segala macam ujian dan cobaan dari Alloh pada hakekatnya adalah bentuk manifestasi cinta Alloh kepadanya, sehingga mereka akan menerima segala macam ujian tersebut dengan senang hati dan tidak ada keluh kesah sedikitpun.

Nabiyullah Ibrahim dan Ismail akhirnya memperoleh buah dari loyalitas dan keteguhannya dalam menjalankan perintah Alloh, yaitu keridhoan Alloh Swt.

Sebagai bentuk penghormatan kepada kesetiaan dan kualitas keimanan Nabi Ibrahim inilah, maka umat Islam dianjurkan untuk napak tilas ajaran Qurban beliau dengan menyembelih binatang ternak. Esensi dari Qurban adalah pengabdian, jadi qurban yang hanya sebatas trend dan ingin meningkatkan status sosial semata maka tidak akan mendapat nilai sedikitpun dari Alloh. Bukan besar dan banyaknya binatang ternak yang ia sembelih di hari nahr ini yang sampai kepada Alloh, namun ketulusan dan ketaqwaannya dalam merespon perintah Allohlah yang akan mendapat apresiasi dari Alloh, sebagaimana yang Ia tegaaskan dalam firmannya:\

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Tidak akan sampai kepada Alloh daging-daging kurban dan darah kurban, akan tetapi hanya ketaqwaan kalian lah yang sampai kepada Alloh.

Imam Nawawi mengatakan bahwa hanya niat yang tulus sajalah yang akan sampai kepada Alloh.

Perintah Alloh untuk menyembelih anak bagi Nabi Ibrahim dan menyembelih binatang ternak bagi Umat Nabi Muhammad Saw pada dasarnya adalah perintah untuk menyembelih kecintaan kita pada dunia. Sebab Anak dan harta adalah simbol dari kemewahan dunia sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Harta dan anak adalah perhiasan kehidupan dunia.

Ketergantungan hati kita terhadap keindahan dunia harus disembelih jika kita menginginkan kedekatan dengan Alloh. Sepanjang hubbud dunya masih bercokol dalam hati kita, maka ibadah yang kita lakukan tidak akan maksimal. Hanya saja orang zaman sekarang sudah terkena wabah penyakit Al Wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati. Semua aktifitasnya selalu ditujukan untuk mendapatkan kemewahan duniawi, bahkan tidak sedikit orang yang menjual agamanya demi mendapat harta dunia.

Hubbuddunya adalah biang keladi semua kejahatan.korupsi, pencurian, pemalsuan dan sebagaianya muncul karena hubbuddunya. Oleh sebab itu penyakit hati ini harus dilenyapkan dan disembelih supaya kita bisa mencintai Alloh di atas segalanya.

Ma’asyirol muslimin yang dimuliakan Alloh.

Ibadah kurban juga memiliki dimensi sosial yaitu membentuk kepekaan dan empati kepada orang yang tidak mampu. Distribusi daging kurban seyogyanya diprioritaskan bagi mereka yang kurang mendapat asupan gizi dengan baik. Sehingga di hari raya ini mereka bisa ikut berbahagia dengan menikmati daging yang belum tentu mereka peroleh di hari-hari biasa.

Semangat untuk berbagi kasih dan perhatian yang tumbuh dari ibadah kurban ini hendaknya menerus sepanjang tahun pada setiap kaum muslimin. Orang yang berkurban mestinya tidak akan membiarkan anak-anak yatim dan faqir miskin putus sekolah. Orang yang berkurban seharusnya tidak akan membiarkan tetangganya kelaparan sementara dirinya tidur dalam kekenyangan. Dan orang yang berkurban seyogyanya memikirkan nasib dan derita saudaranya yang kurang beruntung.

Namun yang terjadi di masyarakat kita justru sebaliknya. Setiap tahun orang yang berkurban dengan memotong binatang ternak selalu bertambah. Ribuan ekor kambing dan sapi di alirkan darahnya di bumi Alloh ini, akan tetapi disaat bersamaan kesadaran untuk membantu sesama justru menurun, kepedulian untuk anak-anak yatim, janda-janda jompo dan kaum dhuafa justru menghilang. Mengapa demikian? Karena bagi sebagian orang, kurban hanyalah ibadah seremonial semata yang bahkan dalam pelaksanaannya di domplengi oleh kepentingan-kepentingan sesaat, seperti ada orang yang berkurban sapi karena ia mau mencalonkan diri sebagai anggota DPR dan sebagainya.

Orientasi ibadah yang dilakukan kaum muslimin saat ini masih berkutat pada wilayah norma yang berbasis pahalaisme, belum menyentuh pada wilayah fungsional dan operasional. Sehingga ibadah kurban terkesan hanya sebagai sebuah pesta besar untuk makan daging secara internasional yang tidak membawa dampak apapun dalam sikap dan pribadi seseorang. Padahal, sekali lagi…hakekat kurban adalah pengabdian dan kepedulian. Percuma saja kita berkurban kalau tidak memiliki kepedulian. Baik kepedulian terhadap sesama manusia maupun kepedulian terhadap semua makhluk Alloh.

Semoga semangat ibadah kurban kita kali ini betul-betul termanifestasi dengan baik dalam kehidupan kita, sehingga kita akan dapat b erkurban setiap saat dan disetiap waktu.

Mohon maaf atas segala kesalahan

Wassalamu’alaikum

Oleh: Abi Azka Ar Rifa’i[1]



[1] Disampaikan pada sholat idul adha di lap. Kali baru barat jak pus. 1433 H

Share on :

About

Manusia yang berusaha untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya, lahir di Demak, nyantri di Pati, kuliah di Jakarta, rumah di Bekasi...........

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with: , ,

idul adha

Anda mungkin juga menyukaiclose