2:05 pm - Sunday July 15, 4756

Khutbah Idul Fitri 1433 H

Thursday, 16 August 2012 10:14 | Bebas | 8 Comments | Read 1226 Times

khutbah idul fitri 2012Oleh: Abi Azka Fathullah Rifa’i[*]

Tanbihun.com – Alhamdulillah, segala puji bagi Alloh seru sekalian Alam. Rabb yang Maha pengasih yang tak pernah pilih kasih dan Maha penyayang yang kasih sayangnya tidak terbilang, atas limpahan nikmat, hidayah dan taufikNya sehingga sampai saat ini kita masih dapat mengerjakan perintah-perintahNya dengan baik.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas Nabinya Rasulullah Muhammad Saw beserta seluruh keluarga beliau, sahabat, kerabat dan pengikutnya yang senantiasa istiqomah dalam menjalankan sunnahnya hingga akhir zaman nanti.

Allohu akbar 3x laailaha illallohu wallohu akbar walillaahilhamd.

Saat ini jutaaan kamu muslimin sedang menampakkan rasa syukur dan gembiranya yang tiada tara, setelah mampu mengerjakan dengan baik perintah Alloh shoum Ramadhan sebulan penuh. Mereka berbondong-bondong mendatangi masjid, mushola dan lapangan untuk mengumandangkan takbir, memuji kebesaran Alloh. Wajah mereka ceria berhias senyum memancarkan cahaya ilahi yang memantul dari hati-hati orang mukmin yang mendapat predikat muttaqin.

Sebulan penuh di Bulan Ramadhan kemarin, kita semuanya mengendalikan nafsu kita serta berupaya meningkatkan kualitas iman kita agar pasca ramadhan nanti kita semuanya mendapatkan rahmat dari Alloh Swt. Sebab sungguh celakalah kita jika Ramadhan telah berlalu dari hadapan kita, namun ampunan Alloh justru jauh dari kita. Dalam sebuah hadist yang dikenal dengan hadist doa jibril dijelaskan.

أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، خَرَجَ يَوْمًا إِلَى الْمِنْبَرِ، فَقَالَ حِينَ ارْتَقَى دَرَجَةً:”آمِينَ، ثُمَّ ارْتَقَى الأُخْرَى، فَقَالَ: آمِينَ، ثُمَّ ارْتَقَى الثَّالِثَةَ فَقَالَ: آمِينَ”، فَلَمَّا نَزَلَ عَنِ الْمِنْبَرِ وَفَرَغَ، قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَقَدْ سَمِعْنَا مِنْكَ كَلامًا الْيَوْمَ مَا كُنَّا نَسْمَعُهُ قَبْلَ الْيَوْمِ؟، قَالَ:”وَسَمِعْتُمُوهُ؟”، قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ:”إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ الَسَلامَ، عَرَضَ لِي حِينَ ارْتَقَيْتُ دَرَجَةً، فَقَالَ: بَعُدَ، مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبْرِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلاهُ الْجَنَّةَ، قَالَ: قُلْتُ: آمِينَ، وَقَالَ: بَعُدَ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ: آمِينَ، ثُمَّ قَالَ: بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ، فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَقُلْتُ: آمِينَ”

Sesungguhnya Rasulullah saw pada suatu hari menuju mimbar, lalu beliau berkata ketika naik pada undakan pertama,” amiin. Hal ini berulang tiga kali. Ketika beliau turun dari mimbar maka kami bertanya, duhai Rasulullah kami telah mendengar suatu ucapan pada hari ini yang tidak pernah kami dengar pada hari sebelum ini. Nabi berkata, apakah kalian mendengarnya?. Sahabat menjawab, ia benar. Lalu beliau bersabda, sesungguhnya Jibril mendatangiku dan dia berkata, celakalah orang yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah satunya berusia lanjut namun keduanya tidak dapat memasukkannya kesurga. Aku menjawab, amiin. Lalu beliau berkata lagi celakalah bagi orang yang ketika namamu disebut ia tidak mau membaca shalawat kepadamu, akupun menjawab, amiin. Lalu Jibril berkata lagi, celakalah bagi orang yang menjumpai Ramadhan namun dia tidak mendapat ampunan dari Allah. Akupun menjawab, amiin. (Al Haitsami dlm majma’ zawaid dengan sanad sahih).

Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan maghfiroh, oleh sebab itu kemarin sebulan penuh kita saling berlomba dalam rangka mereguk rahmat dan ampunannya, melalui ibadah yang disyariatkan oleh Nya seperti Puasa, baca Alqur’an, Qiyamurramadhan, I’tikaf dan sebagainya.

Predikat Muttaqin yang dijanjikan Allah bagi siapapun yang dapat menjalankan Shaum dengan baik dan benar betul-betul direspon oleh sebagian Muslim dengan amalan shalih dan tambahnya ketaatan kepada Tuhannya. Akan tetapi sebagian diantara kita meresponnya dengan ala kadarnya dan bahkan tidak merespon sama sekali. Berkah Ramadhan dibiarkan berlalu begitu saja tanpa sedikitpun usaha untuk meraih janji-janji Allah dan RasulNya.

Yang lebih mengherankan, ada sebagian diantara kita yang dengan berlalunya ramadhan adari hadapannya maka berlalu pula aktifitas ibadahnya. Seolah-olah dia hanya mengenal Allah dibulan Ramadhan saja. Ulama salaf berkata, bi’sal kaum alladzina la ya’rifuuna illa firramadhan (seburuk-buruknya kaum adalah orang yang hanya kenal Allah dibulan ramadhan semata). Pasca Ramadhan nafsu syahwat lebih ia dahulukan disbanding dengan iman dan akalnya, sehingga seakan-akan tarbiyah Ramadhan tidak menimbukan dampak apapun terhadap jiwanya.

Ma’ashiral muslimiin yang berbahagia.

Ramadhan yang lalu telah memberikan tarbiyah ruhani kepada kita untuk lebih disiplin dalam menjalani hidup serta merangsang kepekaan kita terhadap sesama. Rasa lapar dan haus diharapkan mampu memompa empati kita terhadap orang yang tak punya diiringi kesyukuran yang mendalam akan karunia rizki yang diberikan kepada kita. Rasa empati ini kemudian kita manifestasikan dalam bentuk pelaksanaan zakatul fitri yang mana fungssinya adalah memberikan makan bagi orang yang tidak mampu. Nabi menjelaskan bahwa zakat fitri fungsinya adalah :طهرة للصائم من اللغو و الرفث وطعمة للمساكن sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan keji serta memberikan makan bagi orang-orang miskin. Mestinya kepedulian kita terhadap kaum dhuafa’ tidak berhenti pada pelaksanaan zakatul fitri semata, namun sepanjang tahun bahkan sepanjang hayat kita harus terus menyantuni mereka dan memperhatikan nasib mereka.

Kata “ thu’matan lil masaakiin “ seringkali dipahami bahwa zakat fitri hanya berfungsi sebagai pemberi makan bagi orang miskin dihari raya saja. Jika seperti itu pemahaman kita, maka kita seolah melegalkan dan merestui mereka kelaparan lagi dihari-hari selanjutnya. Mestinya hadits di atas kita respon semangatnya, bahwa kemiskinan harus bisa dientaskan atau minimal dikurangi dengan distribusi zakat fitri ini. Hanya saja pandangan mayoritas kaum muslimin masih berkutat pada wilayah normatif yaitu pahalaisme atau dosaisme belum menyentuh pada pemahaman ajaran Islam secara fungsional. Mestinya dengan penduduk muslim terbesar di dunia, negara Indonesia cukup potensial untuk mengentaskan kemiskinan, jika zakat fitri ataupun zakat mal serta shadaqoh terkelola dengan baik, bukan mimpi apabila dalam lima tahun ke depan bangsa kita sudah dapat menghilangkan kemiskinan yang menjeratnya selama bertahun-tahun. Jika kita asumsikan bahwa jumlah muslimin yang membayar zakat fitri adalah 200 juta, sementara zakat fitri yang harus dibayarkan dalam bentuk beras adalah 2.5 kg perorang, maka akan kita dapati angka 500.000 ton beras pertahun dari pembayaran zakat fitri semata.

Dengan angka sebesar itu, banyak yang dapat kita lakukan untuk membantu kaum fakir miskin seperti pemberian lahan usaha gratis kepada mereka sehingga dengan izin Alloh mereka tidak akan pernah kelaparan lagi selamanya. Potensi itu baru dilihat dari sisi zakat fitri saja, belum infak dan zakat maalnya. Kalau semua itu dapat terkelola dengan manajerial yang bagus maka tidak akan ada lagi orang muslim yang harus mengemis karena kemiskinan yang menghimpit mereka.

Jamaah sholat id yang berbahagia

Nabi mengajarkan :

المسلم للمسلم كالبنيان يشد بعضهم بعضا

(Muslim satu dengan muslim lain adalah laksana satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain). Kesenangan yang didapat oleh saudara muslim kita adalah kesenangan kita juga dan penderitaan yang mereka alami adalah penderitaan mereka juga. Pertalian aqidah hendaknya melahirkan rasa solidaritas yang kuat karena inilah persatuan yang dihendaki Allah. Bukan persatuan yang dilandasi kesukuan dan fanatisme golongan. Nabi mengutuk keras sikap ashobiyyah dengan sabdanya:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّة وليس منا من قاتل علي عصبية وليس منا من مات علي عصبية

Bukan termasuk umatku siapa saja yang menyeru orang pada ‘ashabiyah, bukan dari golongan kami orang yang berperang karena ashabiyyah, dan bukan dari golongan kami orang yang mati karena ashabiyyah (HR Abu Dawud).

Apapun sukunya, dimanapun daerahnya dan apapun warna kulitnya jika ia muslim maka ia adalah saudara kita.

Saat ini muslimin Rohingya sedang mengalami intimidasi lahir bathin dari kebrutalan Junta Militer Myanmar. Sebagai sesama muslim bathin kita mestinya teriris dan sedih melihat dan mendengar saudara kita dibantai dengan sadisnya. Refleksi sikap sedih kita mestinya tercermin lewat tindakan nyata, baik itu bantuan moril berupa pangan dan obat-obatan ataupun spritual dalam bentuk doa.

Hanya saja, banyak diantara kita yang egois serta tidak mau tahu atas penderitaan kaum Muslimin Rohingya, sebab mereka menganggap mereka adalah orang lain, bukan saudara sedarahnya. Sikap ini muncul karena Iman belum mengakar dalam sanubarinya, padahal Allah berfirman :

 kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. ( Al-Mujaadilah:22)

ayat ini adalah indikasi bahwa orang mukmin yang keimanannya sudah merasuk dalam sukmanya mereka akan mencintai saudara seakidahnya di atas kecintaannya kepada saudara sendiri.

Maashirol muslimin jamaah sholat id yang berbahagia.

Ramadhon juga mengajarkan kepada kita untuk membaca, memahami dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an. Selama ini sikap kaum muslimin terhadap al-Qur’an hanya berhenti pada ibadah membacanya semata, belum sampai pada tingkat pemahaman lebih-lebih pengamalan. Padahal fungsi Al-Qur’an sebagaimana diterangkan oleh Alloh adalah sebagai hudan linnaasi dan hudan lil mattaqiin. Bagaimana mungkin kita dapat menjadikan dan mengambil petunjuk dari Al-Qur’an tanpa memahami maksudnya?

Para generasi terdahulu (salaf) memiliki kepribadian yang tinggi ketika membaca Al-Qur’an, berbeda dengan generasi sekarang ini yang membaca Al-Qur’an tanpa memberi kesan yang berarti. Ini berarti suatu kedzaliman terhadap Al-Qur’an. Pola hidup Qur’aniy ini pernah tergambar dari pribadi Rasulullah Shalallohu alahi wasallam, beliau merupakan manifestasi nyata dari penjelasan Al-Qur’an, beliau adalah visualisasi konkret dari Al-Qur’an. Sayyidah A’isyah pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw dan beliau menjawab,

ان اخلاقه هو القراءن

Sesungguhnya akhlak beliau adalah Al-Qur’an (Shahih Muslim, Bab Shalat Al-Musaffirin).

Oleh sebab itu Imam Syafii pernah berkata,” Sunnah adalah pemahaman Nabi sendiri terhadap Al-Qur’an yang benar-benar dijadikannya sebagai pembimbing hidupnya lahir dan bathin.”

Kejayaan umat terdahulu adalah dari pengamalan mereka terhadap nilai-nilai Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak hanya dibaca, namun lebih dari itu mereka merenungi maknanya untuk kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Seharusnya hal ini juga dapat diterapkan oleh kaum muslimin dewasa ini. Sebab Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi, yang berisikan tema-tema terbaik dalam masalah pendidikan umat, peradaban dan akhlak mulia. Bangsa Arab waktu itu benar-benar mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dalam arti disamping mereka melantunkan Al-Qur’an dengan penjiwaan juga mereka terapkan kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan mereka, sehingga mereka menjadi bangsa yang beradab meskipun awalnya mereka adalah komunitas barbar.

Terkait dengan hal ini, Rasulullah Saw bersabda :

مثل الموءمن الذي يقراء القراءن كمثل الاتروجة  طعمها حلو  وريحها طيب.ومثل الموءمن الذي لايقراء القراءن كمثل التمرة طعمها حلو ولا ريح لها. ومثل المنافق الذي يقراء القراءن كمثل الريحنة ريحها طيب ةطعمها مر. ومثل المنافق الذي لا يقراء القراءن كمثل الحنظلة طعمها مر ولاريح لها. رواه مسلم

Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an itu seperti jeruk manis, rasanya manis dan baunya harum. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an itu seperti kurma, rasanya manis namun tidak beraroma sama sekali. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an itu seperti parfum, harum baunya tapi rasanya pahit. Perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kemarogan/maja, pahit rasanya dan tidak beraroma sama sekali. (HR Muslim nomor 797)

Maksud dari hadits di atas adalah seseorang yang membaca Al-Qur’an dan dapat mengamalkan kandungannya dengan baik, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi mukmin yang sholih yang berakhlak dengan Al-Qur’an sehingga ia akan dapat memberikan manfaat kepada siapapun orang yang ada disekitarnya. Suaranya yang merdu ketika melantunkan Al-Qur’an berbanding lurus dengan prilakunya yang qur’aniy, inilah mukmin jeruk manis.

Akan tetapi kenyataan yang ada sekarang, umat Islam saat ini baru sampai pada peringkat muslim raihani (muslim parfum) yang baunya semerbak namun rasanya pahit. Sedikit sekali yang mencapai muslim tamri (muslim kurma), yang mampu mengamalkan Al-Qur’an meskipun tidak menghafalkannya. Bahkan boleh jadi mayoritas umat islam saat ini baru sampai pada peringkat muslim khandholi (muslim kemarogan/maja) yaitu muslim yang tidak pernah membaca Al-Qur’an apalagi mengamalkan isinya.(Ali Mustafa Yakub, Haji Pengabdi Setan, 95)

Maraknya TPA dan pesantren tahfidz diberbagai daerah memang begitu terasa, akan tetapi perilaku umat Islam yang bertentangan dengan Al-Qur’an juga tidak kalah semaraknya. Mengapa demikian ? karena kurikulum pendidikan dalam pesantren-pesantren tahfidz ataupun dalam lembaga-lembaga Islam lainnya lebih menekankan pada kualitas formal daripada substansial. Seorang siswa yang sudah hafal 30 juz Al-Qur’an akan dinyatakan lulus dan mendapatkan ijazah tahfidz, kendati ia tidak memahami isinya sedikitpun bahkan tidak pernah mengamalkan isinya sama sekali. Bandingkan dengan pendidikan Al-Qur’an yang dialami oleh para sahabat. Abdullah Bin Mas’ud berkata, dikalangan kami para sahabat apabila mempelajari sepuluh ayat Al-Qur’an tidak akan pindah ke ayat lain sebelum memahami arti dan mengamalkannya. (Ibnu Taymiyyah, Muqoddimah Fi Ushulit Tafsir, 96)

Ma’asyirol Muslimin yang berbahagia

Semangat romadhon yang mulia tersebut seharusnya terus mengilhami kita dalam beragama, berbangsa dan bernegara. Bila hal itu dapat kita lakukan, maka kita layak untuk bergembira dan berbahagia menyambut datangnya idul fitri.

Islam mengajarkan pada kita untuk menampakkan kegembiraan dengan masuknya Iedil fitri ini dengan banyak menyebut dan mengagungkan asma Alloh. Oleh sebab itu, tadi malam diseluruh penjuru negeri ini, baik di masjid ataupun di mushola, di desa ataupun dikota semua kaum muslimin dengan semangat mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid hingga semalam suntuk.

Akan tetapi alangkah lebih indahnya jikalau makna mengagungkan asmaNya tidak kita pahami dalam terminologi sempit, akan tetapi mengagungkan asmaNya juga dapat berarti selalu mengerjakan apa yang diperintahkanNya dan menjauhi apa yang dilarangNya. Mengagungkan asmaNya juga bisa dipahami dengan senantiasa membaca dan merenungi kalamNya. Mengagungkan asmaNya juga bisa kita artikan dengan menjaga dan meramaikan rumahNya.

Betapa banyak diantara kita yang getol melaksanakan dan menggemakan takbir saat malam ied, namun ternyata tidak pernah melaksanakan sholat, tidak pernah membaca al-Qur’an dan membiarkan masjid kosong bahkan tidak terurus. Kita lebih mencintai rumah kita dibanding dengan masjid yang notabenenya adalah rumah Alloh. Rasulullah menyebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Al Hafidz Zubaidi Al Murtadho.

المسجد بيت كل تقي, وكفل الله لمن جعل المسجد بيته بالروح والرحمة والجوازالي الصراط الي الجنة

Masjid adalah rumah bagi orang yang bertaqwa, dan Alloh akan menjamin bagi orang yang menjadikan masjid sebagai rumahnya dengan kasih sayang, rahmat dan mempu melewati shirath al mustaqim menuju surga.

Jika kita menyadari bahwa rumah bagi setiap muttaqien adalah masjid, maka kita tidak akan ridho apabila melihat masjid kotor, bocor lebih-lebih sepi seperti kuburan.

الله اكبر, الله اكبر, الله اكبر, لا اله الا الله والله اكبر,الله اكبر ولله الحمد

Jama’ah sholat ied yang dimuliakan Alloh.

Sudah selayaknya apabila kita sebagai kaum muslimin berusaha untuk bangkit kembali dari keterbelakangan yang menjerat kita selama berabad-abad. Dan momen yang paling tepat adalah saat ini, saat kita baru saja dinyatakan lulus dari tarbiyyah ramadhon. Dimana semangat kita sedang tinggi-tingginya dan seluruh saraf kita sudah terprogram selama sebulan untuk melaksanakan aktifitas ibadah baik yang bersifat hablun minalloh maupun hablun minannaas.

Semangat romadhon harus senantiasa kita hidupkan bahkan kita tumbuhkan dalam kehidupan kita, sehingga islam akan kembali menjadi agama yang ya’lu wa laa yu’ala alaih.


[*] Disampaikan pada Sholat Idul Fitri 1 syawal 1433 H bertepatan dengan 19 Agustus 2012, di Masjid As-Sakinah Kompleks Perhubungan Rawamangun Jakarta

Share on :

About

Manusia yang berusaha untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya, lahir di Demak, nyantri di Pati, kuliah di Jakarta, rumah di Bekasi...........

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with: ,

Khutbah idul fitri,Khutbah idul fitri 1433 h,khutbah ied,Khutbah idul fitri 1433,khotbah idul fitri fersi tasawuf,maashirol puasa

Anda mungkin juga menyukaiclose