Ibnu Athoillah Al Askandariyyah dalam kitab Al Hikamnya berkata,” Khoirul Ilmi maa kaanatil khosyatu ma’ah.” ( Sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang bisa mendatangkan ketakutan kepada Alloh bersamanya ).
Ilmu yang baik bukanlah ilmu yang banyak dan berapa jilid kitab yang telah dipelajarinya, namun tolok ukur dari suatu ilmu dikatakan baik dan manfaat yaitu apabila ilmu tersebut bisa mendatangkan rasa takut kepada Alloh. Takut dalam arti tidak berani meninggalkan yang diperintahkan dan menjalankan apa yang dilarang.
Oleh sebab itu Alloh Azza Wa jalla mendeskripsikan bahwa yang dinamakan Ulama adalah orang-orang yang takut kepada Alloh, Dia berfirman,” Innama Yakhsyalloha min ‘ibaadihil ulamaa’.” Ilmu yang dimiliki oleh seseorang hendaknya membuat ia semakin dekat kepada Alloh dengan rajin menjalankan perintahnya dan sekuat tenaga menjauhi laranganNya karena dilandasi takut akan murka Alloh Swt.
Sayyidina Ali pernah berkata bahwa yang disebut orang alim bukanlah orang yang banyak ilmunya, akan tetapi yang disebut orang alim adalah orang yang dapat mengamalkan ilmunya. Mencari ilmu itu berat dan susah akan tetapi mengamalkannya jauh lebih susah.
Oleh sebab itu agar ilmu yang kita miliki tersebut membawa imbas terhadap rasa khosyah kita kepada Alloh, maka sangat perlu diperhatikan darimana kita memperoleh ilmu tersebut. Nabi bersabda,” Al Ilmu Minaddiin, fan dzuruu min aina ta’khudzuuna diinakum.” ( Ilmu adalah bagian dari agama, oleh sebab itu lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian ). Guru yang sifat alim adil memilki peranan penting dalam membimbing ruhani kita, sebab salah dalam mengambil guru itu sama halnya salah tujuan ynag berakibat salahnya akidah dan pola pikir kita. Jangan sampai ilmu yang kita miliki hanya “menthok” pada dinding-dinding perpustakaan atau pada jilid-jilid buku dan kitab karena tidak bersambung hingga Nabiyyuna Muhammad Saw. Mendalami ilmu dari buku ataupun kitab tidaklah tercela hanya saja ketika menemukan sejumlah musykilah hendaklah bertanya kepada ahlinya,” Fas aluu ahladzdzikri inkuntum laa ta’lamuun.”




Alhamdulllah…… sebuah pengingat yang sangat bermanfaat. semakin banyak ilmu (pengetahuan ) tentang agama, semakin berat tanggung jawabnya. disamping ia diwajibkan mengamalkan ilmunya untuk diri sendiri, juga terkena kewajiban ” muruk” ( mengajarkan ) ilmunya kepada orang lain yang belum tahu.
itulah sebenarnya kewajiban seorang ‘alim, melihat kondisi ummat jaman sekarang yang ogah ngaji,mungkin karena ketidak tahuan mereka akan pentingnya ilmu agama, sepatutnya seorang ‘alim ” jemput bola”.