Mengapa harus menghujat

tanda-tanya

Mengapa masih menghujat?

Perbedaan pendapat dan pemikiran adalah hal yang lumrah bahkan diakomodasi oleh Al Qur’an. Sebagai contoh batas iddah bagi perempuan yang dicerai oleh suaminya disebutkan oleh al Qur’an dengan kata tsalaastati quruu’. padahal makna quruu’ sendiri dalam bahasa Arab itu musytarok bisa berarti haidh juga bisa berarti suci. oleh sebab itu maka Imam Asy Syafii memberikan makna suci pada lafadh quruu’, sementara imam Ahmad memberikan makna haidh.

Hal-hal yang sifatnya masih dhoniyyuddalaalah maka masih sah untuk diperdebatkan, apalagi kalau hal itu tidak dijumpai nash atau dalil yang shorih karena memang permasalahan itu belum muncul dizaman Nabi. perbedaan pemahaman, pemikiran dan penafsiran dalam masalah ini masih dapat ditoleransi sepanjang mengacu kepada kaidah-kaidah yang baku yang telah disepakati.  Adapun suatu perkara yang qoth’iyyutsubuut ataupun qath’iyyuddalaalah harus kita terima apa adanya dan tidak menerima ijtihad sama sekali, seperti sholat lima waktu, puasa Romadhon dsb.

Dewasa ini, semenjak arus informasi mendobrak peradaban kita dan pemikiran serta pemahaman agama semakin beragam macamnya, muncul ke depan sekelompok golongan yang dengan sangat radikal menghujat golongan lain, membid’ahkan bahkan mengkafirkan, padahal mereka yang disesatkan adalah ahlul qiblat, berTuhan hanya kepada Alloh dan bernabikan Muhammad saw. mereka mengklainm bahwa golongan mereka lah yang paling benar dan paling sesuai dengan amaliyah Nabi sementara yang lain tidak.

Bila setiap perbedaan pemahaman dan pemikiran harus disikapi dengan menghujat, maka yang terjadi adalah tumbuh suburnya akhlakudzamiimah di kalangan umat islam sendiri. Rasa persaudaraan dan persatuan akan luntur, hingga yang tersisa hanyalah sikap saling mencurigai satu sama lain.

Oleh sebab itu, silahkan anda berbeda dengan kami, namun kita tetap saudara. Perbedaan justru akan membuat Islam makin indah dan kokoh.

Wallahu a’lam

8 Comments on Mengapa harus menghujat

  1. ibn khasbullah // 15 Maret 2010 at 9:39 am // Balas

    Kalau dahulu saat perang Khaibar dizaman Nabi, Allah menyebutkan sebab kekalahan Yahudi adalah: “Tahsabuhum jamii’an- wa quluubuhum syattaa….= Mereka seperti bersatu tapi hati mereka bercerai berai…Bunyi ayat ini dicatat benar- benar oleh para pakar Yahudi dalam karya karya mereka, terutama yang berhubungan dengan” Ritsaa’ul Khoibar” = Ratapan dan rintihan kekalahan Khaibar” dengan suatu tekad, keadaan ini harus dibalikkan kepada keadaan ummat Islam sebagai dendam kesumat mereka. Maka dengan dana, strategi, taktik dan media mereka yang mendunia, mereka mencoba menyusup dan berusaha bagaimana caranya memecah belah kekuatan Islam. Dan “mesiu” yang paling mudah meledak adalah dengan menembakkan masalah- masalah khilafiyah/ debatable. Maka sepertinya ummat Islam sekarang ini dengan amat mudahnya termakan taktik dan intrik mereka sehingga keadaannya berbalik: “Tahsabuhum jamii’an wa quluubuhum syattaa….. Ummat Islam kelihatannya seperti bersatu, padahal mereka tercerai berai satu sama lain. alias tidak punya kekuatan. kewibawaan, dan di’Rencak” oleh kekuatan- kekuatan asing….Maasyaa Allah!!!Maukah kita terus menerus dikondisikan seperti ini?

  2. setuju kang……
    ibarat naik ya kang, makin tinggi seorang itu naik, maka semakin luas bumi yng di dapat dilihat, dan makin kecil kita melihat diri kita. demikian juga dengan pengetahuan…… yg suka menghujat itu tandanya …..

  3. if you see a great animated man,exert become like him and if you see a weak animated ma,look over yuor own self
    jika kamu melihat orang yang memiliki jiwa, maka pertimbangkanlah untuk menjadi seperti dia,dan jika kamu melihat orang yang berjiwa lemah maka periksalah dirimu.

    Dont always longing for all happened in conformity with yuor desire.
    janganlah selalu mengharap semua terjadi sesuai dengan yang kamu kehendaki.

    Take the place at your competency and do in conformity with the place that you set.
    Ambilah tempat yang memang telah menjadi hakmu dan bekerjalah sesuai dengan yang kamu duduki.

  4. Wong awam // 10 Mei 2010 at 9:59 pm // Balas

    @ibn khasbullah, Itulah yang terjadi dengan dunia islam saat ini kang kasbullah,umat islam saat ini layaknya buih di lautn yang diombang ambing ombak ke sama ke mari tak berdaya tak mampu berbuat apa apa dengan jumlah umat yang demikian banyak ini,selama ini kita hanya saling ribut dengan sesama saudara seagama hanya karna persoalan2 yang gak penting atas nama khilafiyah,kenapa kita musti beda kalo sumbernya hanya satu dan kalo musti beda kenapa kita nggak bisa akur dalam perbedaan kita?
    piss…………..

  5. he…he…he…tuh bisa dilihat disamping kanan kita…yang diminati banyak orang justru tulisan-tulisan yang berbau khilafiyah…

    • @ahsa,
      bener mas asep…….. kalau ada yang khilaf2 begitu banyak yang muncul, kalau sudah adem ayem.mboh do umpetan nang ndi….????

  6. Vievie gocak el-huda // 24 Maret 2013 at 9:38 pm // Balas

    Good

Leave a comment

Your email address will not be published.

*