Menunda Kiamat

Oleh Pada Monday, 27 July, 2009 11:24 AM. Under Bebas  

Siang itu tiba-tiba saja saudaraku berujar. “kira-kira satu hari bisa menghabiskan satu sampai tiga cepet.” Aku semakin tidak mengerti atas pernyataannya. “maksudnya apa Kang?” aku balik bertanya dengan mengernyitkan dahi.

“Itu lho….cucian (laundry) celana miliknya Bapak Haji Fulan itu sehari bisa menghabiskan beberapa unting kayu. Satu minggu bisa beberapa gerobak kayu menjadi bahan bakarnya.”

“Lha terus kenapa?”

“Lah iya….kalau lama-lama kan hilang sudah pepohonan di atas bumi ini”

“Bukannya pohon itu banyak sekali jumlahnya dan macamnya?”

“Untuk menghitung jumlah kayu untuk dadek geni cucian jeans, jangan dihitung satu atau dua hari ke depan, tapi lima sampai sepuluh tahun ke depan, kira-kira bagaimana nasib pepohonan itu. Masih banyak gak yang tertanam di atas bumi ini.” Dengan nada agak keras beliau menegaskan kata-katanya, lalu tercenung sambil mengira-ngira, dilanjutkan dengan menghitung-hitung.

“Hayo….sekarang kita mulai berhitung…kira-kira jumlah pabrik cucian jeans di Pekalongan ini keseluruhan ada berapa?”

“Ya tentunya puluhan sampai ratusan Kang. Wong sini itu alamatnya kota konveksi.”

“Lha dari sekian banyak itu yang menggunakan bahan bakar kayu berapa?”

“Ya kita tayang aja sekitar lima puluhan lah….”

“Sekarang kalau misalnya lima pabrik dalam sehari menghabiskan satu pohon. Kita bisa kehilangan sepuluh pohon dalam sehari. Bayangkan itu.”

“Iya-ya….” Aku mulai berfikir dan jadi membayangkan tumpukan kayu yang berada di samping kanan-kiri Pabrik konveksi yang saban hari ku lewati saat aku mengayuh sepeda menuju tempat cari maisyah. Batang, ranting, bahkan sampai akar-akar mejadi bahan baku pengolahan Jeans. Belum juga aku selesai merunut ingatan tentang tumpukan kayu berbagai jenis. Ia sudah menimpali pembicaraan lagi.

“Padahal saya membesarkan satu pohon Sengon itu saja bisa memakan waktu sampai enam tahun, kalau pohon Mahoni bisa sampai delapan tahun, kayu Jati bisa memakan waktu dua puluh sampai tiga puluh tahun.” Tangannya menggaruk-garuk rambut yang sebenarnya tidak gatal. Nada bicaranya semakin tinggi. Agaknya ia mulai resah. Dengan nafas panjang, ia kembali mengeluh agak berat.

“Sebenarnya ada yang salah Sep, terutama jalan berfikir kita.”

“Salah gimana maksud sampeyan.”

“ya…kalau dilihat fungsinya, trus lamanya tumbuh kan…jelas pohon itu lebih mulia dibanding beberapa kodi celana.”

“lha gimana maksudnya?”

“Maksudnya….. fungsi pohon itu kan macam-macam. Dan kita sudah seharusnya belajar, berterima kasih kepada pepohonan yang ada disekeliling bumi kita ini. Pohon bisa menjadi penyedia oksigen bagi manusia…dalam hasil laporan penelitian yang pernah saya baca, kalau pohon berdiameter sampai lima puluh centimeter, berarti ia sanggup menyuapi oksigen kepada sepuluh orang hidup. Kalau udah mati kan gak butuh oksigen tuh…”

“Trus…lanjut” aku semakin penasaran pada komentar-komentarnya yang menurutku baru terdengar di telingku. Aku jadi heran juga pada satu orang ini. Kok dari dulu gak pernah ngrembuk yang beginian.

“Trus dia kan juga berfungsi sebagai selang perantara air hujan menjadi air tanah. Selain perantara juga sebagai penyimpan air tanah. Air hujan yang diserap ke tanah itu ditangkap oleh akar dan air itu bernaung di batang, dedaunan, dan buah-buahan.”

“Berarti kalau tidak ada pohon, tanah itu akan cepat sekali menjadi kering. Dan sumur-sumur menjadi tanpa air”

“Benar sekali… maka sebenarnya apabila kita kepingin sungai kita tidak kering, sumur kita tidak kehausan ya….pohon-pohon itu jangan sampai ditebang, bila perlu setiap saat kita terus menanam untuk anak cucu kita. Bahkan perintah nabi sendiri ketika beliau hijrah ke madinah, perintah pertamanya adalah tanamlah-tanamlah…”

“Kita sekarang ini tidak saatnya lagi mengulang-ulang berapa air yang bisa untuk bersuci, tetapi sudah menginjak tahap berfikir dan berbuat mengatasi kekeringan yang semakin mengancam, karena perbuatan manusia telah lama merusak bumi ini.”

“kita semua tidak akan merasa bahwa membuang limbah ke sungai sebagai perbuatan dosa, karena fikih kita selama ini hanya mengatur hubungan hamba dengan Allah; hubungan manusia dengan manusia; dan masih absen dalam urusan hubungan manusia dengan lingkungannya.”

“Iya di ‘satengah maksiatnya’ Mbah Rifai juga belum ada dosa menebang pohon. Termasuk dosa besar atau kecil ketika limbah-limbah cucian celana dan limbah batik di buang ke sungai. Logikanya, kalau didalam fikih ada larangan untuk berbuat isrof, maka apalagi membuat air menjadi polusi, yang dampaknya jadi mubadzir”

“Kalau kategori besar kecilnya dosa itu ditentukan dari dampaknya, maka sangat jelas dampak dari limbah itu. Kita tahu…dulu simbah sampai ibu-bapak kita tiap pagi pergi ke sungai untuk buang hajat, nyuci pakaian, piring dan wajan, trus pulang membawa sentengan ikan dan udang. Tapi sekarang fungsi sungai kan sudah menjadi semacam penampungan limbah yang tak mungkin dimanfaatkan seperti dulu lagi…ya kan…”

Aku hanya manggut-manggut mengiyakan apa saja yang keluar dari mulutnya. Saking terbawanya aku mulai menghitung-hitung dosa lingkungan yang biasa terlewati dalam empati benak manusia. Pekalongan ini kota industri, dalam industri selalu menyisakan limbah industri, yang tak terurus dalam hitungan kalkulasi orang berbisnis. Orang membuang limbah seenaknya, tetapi tak pernah terlintas merasa berdosa, apalagi merasa ingin memperbaiki lingkungan dari kerusakan limbah pabriknya.

Kalau memang agama mewajibkan orang yang mempunyai usaha untuk mengeluarkan zakatnya, maka sudah saatnya zakat juga perlu dialokasikan untuk pemulihan lingkungan dari berbagai macam polusi. Bangsa beradab adalah bangsa yang mempunyai harapan hidup lebih panjang, mempunyai usia lebih panjang ternyata didasarkan pada kesehatan lingungan yang terus terjaga, sebagaimana panjangnya harapan hidup penduduk salah satu kota di Jepang yang rata-rata mencapai 90 tahun. Ternyata umur bukan ketentuan ilahi semata, tetapi juga ada kaitannya dengan ikhtiar kita memperlakukan lingkungan. Usia mencapai angka 90 sampai 100 tahun sangat wajar di Jepang, karena ditunjang dengan perlindungan lingkungan yang ketat. Berararti mencintai lingkungan sama halnya menunda kiamat sughra, atau bisa juga kiamat kubro.

Cerita Julius Aditjondro tentang Jepang mengatakan bahwa satu bukti bunga yang terkontaminasi zat-zat berbahaya dari limbah pabrik cukup mampu menjadi bukti bagi pengadilan untuk menutup operasi pabrik yang tak mau memenuhi standar keamanan lingkungan itu. Maka jangan heran, kalau disana operasi polisi bukan untuk menanyakan SIM dan STNK, tapi mengecek kadar polutan mobil-mobil yang dianggap sudah tak memenuhi standar kadar polusi yang ditolelir.

“kalau idemu tentang zakat yang dialokasikan ke perbaikan lingkungan, apakah masuk dalam kategori delapan asnaf atau tidak?” aku jadi agak serius mengumpulkan informasi yang sempat saya tangkap dari kolom-kolom di koran yang sempat beberapa tahun ku baca. Maklum dulu waktu kuliah aku sempat jadi penjaja Koran. Jadi bisa baca Koran gratis, selain baca Koran di kampus.

Paesan 27 Juli 2009

Ahmad Saifullah

Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :

About


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :