Semua orang memiliki cita-cita, hayalan dan angan-angan. Bahkan Ibnul Jauzy dalam Talbisul Iblis berkata,” Orang Yahudi dan Nashranipun sebenarnya banyak yang mempunyai bersitan hati akan kecintaannya dengan Islam, hanya saja Iblis selalu membisikinya hingga ia meninggal dalam kekufuran.”
Cita-cita yang tinggi sangat dianjurkan dalam Islam. Ada sebuah syair Arab yang berkata,” Ar Rajulu man kaana rijluhu fil ardhi wa himmatuhu fissuroya.” ( Seorang laki-laki sejati adalah orang yang kakinya berpijak di bumi sementara cita-citanya menggantung di bintang surya ). Al Qur’an sendiri dalam surat Al Qoshshosh Ayat 77 menerangkan dan menganjurkan kepada kita agar memiliki cita-cita baik akherat maupun dunia. Namun terhadap angan-angan ( thuulul amal ) Islam sangat menentangnya, Kalau cita-cita didefinisikan sebagai sebuah keinginan yang tinggi disertai dengan usaha maksimal untuk menggapainya, maka angan-angan adalah sebuah keinginan yang melambung tinggi namun dibarengi dengan sikap pasif tanpa ada usaha untuk menggapainya.
sebagian Ulama salaf memperingatkan agar kita berhati-hati terhadap angan-angan, sebab angan-angan adalah pasukan Iblis yang paling besar. Orang yang terbuai dalam angan-angan akan menghabiskan banyak waktu dan umurnya serta akan melakukan aktifitas apapun dengan tanpa semangat. Hal yang paling sering dapat dilakukan hanyalah duduk termenung berpangku tangan sambil berandai-andai yang indah-indah terjadi pada dirinya.
Selama ini, sebagian dari generasi muda Islam khususnya dan santri-santri Rifaiyah pada umumnya masih baru sebatas memiliki angan-angan, namun belum berani bercita-cita. Kalau boleh meminjam istilah Film Laskar Pelangi,” mereka belum berani untuk mengejar pelanginya.” Keberhasilan tidak akan dapat dibangun dengan angan-angan semata sebab efek samping dari angan-angan adalah kemalasan. Islam butuh Mujahid bukan pemimpi.



(maaf) izin mau menyelamatkan PERTAMA dulu