Utusan Kuburan untuk Cinta Indonesia

Oleh Pada Monday, 1 March, 2010 3:19 AM. Under Bebas  

indonesia_mtmerapi4

Suatu malam pada Jumat kliwon, saat aku berkunjung ke pusara Simbah. Tiba-tiba guyuran gerimis menimpa bumi ini. Tubuhku kena rintikan gerimis yang mendadak datang itu. Aku bermaksud segera meninggalkan persemayamanmu…. Simbah. Tapi….

Tapi tiba-tiba saja asap tebal muncul dari kuburan yang pas ada di depanku, dan membentuk wujud manusia. Manusia itu tak begitu jelas. Hanya sedikit bias cahaya dari kejauhan yang bisa membantu penglihatanku. Lama-lama mataku bisa menangkap apa yang mewujud dihadapanku. Seorang simbah dengan janggut memutih dan pakaian serba putih. Bau wewangian semerbak mempesona hidungku. Mataku tak berani berpendar ke-mana-mana, juga karena terhalang oleh gelap pekat tak ada cahaya rembulan. Bintang gemintangpun serasa tidur bersama terlelapnya ayam, blentung, kodok, dan binatang lainnya.

Aku terpaku ketakutan dan terasa berat kaki ini melangkah. Apalagi lari, tak mungkin itu aku lakukan. Aku tetap saja terjaga dan mata ini menatap dengan penasaran kumpulan asap yang aneh itu. Dalam hati ku berbisik “apakah ini penguapan fospor tulang manusia yang terkubur, ala fisika itu? Hmmmm….entah lah yang penting aku selamat.” Selangkah demi selangkah aku mundur. Tak terasa kaki ini menggelayut tersandung batu nisan. Aku jatuh duduk.

“tak usah takut cucuku. Ini simbahmu.”

Saat aku lahir simbah sudah tiada, dan tak satupun foto beliau ku temukan dari almari peninggalannya. Apalagi di bawah kasur, tempat simbah menyimpan sesuatu, pasti tak ada. Simbah putri juga tak ingat benar bahwa Simbah Kakung pernah foto.

“keresahan apa yang kau endapkan dalam hati sehingga cucu hadir ke sini.”

“aaaaa….aaaa” aku tergagap ingin menjawabnya tapi mulut ini terasa terkunci. Aku tak kuasa.

“tenang aja cucuku yang baik hati dan tidak sombong. Coba ungkapkan perasaan itu kepadaku. Kau kelihatannya masih menanggung beban yang berat dalam benakmu.”

Beliau melangkah mendekat. Aku semakin panik tak karuan. Hatiku dihantui rasa takut yang menyesakkan dada. Aku bermaksud bangkit dan lari. Tapi aku mengurungkan niatku setelah mendapat sapaan dari asap tebal yang membentuk jasad manusia itu. Mungkinkah ini pengalaman yang mengasyikkan, bisa berdialog dengan orang yang telah pindah alam. Talenta kewartawananku jadi muncul di kepala. “apa sebaiknya ku wawancarai saja asap putih yang membentuk jasad manusia tua ini.”

Beliau terus mendekat dan menghampiri, mengajakku untuk mendekat di pekuburannya. Rintik-rintik hujan telah membasahi tubuhku, tetapi tak terasa dingin. Angin yang bertubi-tubi menyapaku tak terasa sejuk. Malam yang gelap terasa mencekam dan menakutkan. Aku hanya terpaku.

Hatiku meyakinkan diri bahwa orang yang ada di hadapanku ini adalah simbah Amin. Atau jangan-jangan Simbah Ilyas, yang persemayamannya ada di samping pusara Simbah Amin. “lebih baik aku kenalan dulu sama Simbah ku ini.” Begitu hati kecilku berujar.

Dengan terbata-bata mulutku kupaksakan untuk mengucap dan bertanya.

“Sssss…siii…Simbah ini siapa?” mendengar pertanyaanku Simbah terasa kaget, dan wajahnya menunjukkan sedikit kekecewaan.

“Leeeee…..leeee….lha aku ini Simbahmu…tapi kau tak mengenalku.”

“bbbuu….buuu…bukan begitu Mbah….tapikan dulu waktu simbah meninggal aku belum lahir ke dunia. Jadi aku tak bisa mengenali simbah.”

“apa kamu tidak diceritani tentang diriku oleh Bapakmu, tentang perangaiku, kesukaanku, dan perawakanku.”

“Bapak tak bercerita se mendetail itu…ia menceritakan sebatas kesaktian-kesaktian simbah.”

“hus…kayak gitu kok di ceritain sama cucu-cucuku. Aku tak punya kesaktian apa-apa, yang mempunyai kesaktian hanya Allah semata. Dialah sang Maha Sakti.”

“Kalau kamu sudah tahu, tentang hobiku menempa ilmu kesakten. Tentunya cucu tahu siapa aku.”

“aku tak bisa benar-benar tahu Mbah… Karena di pekuburan ini ada dua simbahku yang sakti…Mbah Ilyas dan Mbah Amin.” Rasa ketakutanku semakin memudar. Dan terasa aku kepingin pulang secepatnya mengambil kamera untuk merekam keindahan asap yang menjelma manusia ini.

“Simbah ini Mbah Ilyas, atau Mbah Amin?”

“itu tak penting. Yang penting cucu bisa silaturahmi kesini, simbah sudah bahagia. I Love You Full cucuku…”

“Iyaaa….Mbah…aku ingin berkumpul dengan orang-orang yang sudah mengalami hidup yang sesungguhnya….orang-orang yang ada didunia. Kebanyakan mereka Mati dalam hidupnya.”

“heeee….cucuku…jadi kamu ke sini itu mau mengetahui kehidupan yang sejatinya? Iya begitu?” Simbah nerocos menanyaiku. Aku hanya mengangguk.

Langit masih saja muram tak menampakkan gemerlip bintang-bintang. Hembusan angin menjatuhkan beratus bunga semboja. Gemerosak gesekan dedaunan bambu membuat pekuburan ini semakin mencekam. Aku mulai menengok ke kanan dan kekiri, sesekali menatap langit yang gelap. Suara gemericik sungai Sengkarang semakin jelas. Di kejauhan ada suara aneh. Suara deru dentuman seperti drum band masal.

“he…. Cucuku.” Aku tergeregap.

“kenapa Mbah?”

“hidup sejati itu harus dijalaninya tanpa kepentingan apapun juga.”

“maksudnya apa Mbah?”

“kamu itu budak. Alias abdun yang berarti hamba. Sebagaimana budak yang tak berkepentingan apapun selain menjalankan titah sang majikan. Kita hidup di dunia juga harus kosong dari kepentingan, ambisi, keinginan duniawiyah apapun. Hanya dengan tulus mengabdi kepada Sang Juragan. Keinginan juragan lah yang harus kamu lakukan. Bukan keinginanmu sendiri.”

“tapi agak sulit melik apa yang diridloi Allah di dunia ini Mbah.”

“cuihh…jangan ngawur kamu ngomong ya… Untuk apa akalmu, kalo bukan dipakai untuk membedakan mana baik, mana jelek. Ditambah alquran dan hadis yang memperkaya pengetahuanmu tentang mana yang maksiat dan mana yang ibadah? Mana jalan untuk mengabdi kepada Juraganmu, dan mana yang mengingkariNya. Mengerti cucuku….”

“I love you full, I love you full….Mbah. aku semakin cinta sama simbah…ingat lho Mbah..yang selalu membasahi pekuburanmu tiap kamis sore dengan taburan kembang melati dan kenanga itu aku Mbaaah….”

Ora ngalem….Kamu itu diajak ngomong ilmu laku, malah ngrayu….malah mlaku dewe.”

“tidak Mbah. Seandainya Simbah masih hidup. Aku kan bisa menempa banyak ilmu, termasuk ilmu kesaktian, dan ilmu sejati.” Ngomongku sudah terasa enteng. Dan hawa ketakutan sudah tak menggelayuti lagi.

“ilmu sejati itu digali dari guru sejati, yakni diri mu sendiri. Sejatine ilmu iku kanti laku. Untuk apa kamu belajar dengan seribu guru, kalau ilmu itu tak pernah diamalkan menjadi amalan sedetik-detik, semenit-menit, sejam-jam dan sehari-hari.”

Aku terpana, dan aku sadar sepenuhnya bahwa aku sekarang sedang berhadapan dengan simbahku yang sudah meninggal hampir sudah setengah abad lalu. Apakah simbah sejatinya tak mati, kalau dia masih bisa mewejangani cucunya. Apakah beliau hanya pindah alam. “ah itu semua tak penting, yang penting dan membuatku bahagia, aku bisa bersilaturahmi dengan simbahku sendiri, bahkan aku tahu keadaan beliau dalam keadaan yang berbinar-binar.”

“gimana cucuku?”

“apanya Mbah…”

“ya…itu tentang ilmu sejati.”

“Aku sendiko dawuh mawon Mbah….

“jangan begitu, kau harus berpendapat. Karena kau punya pikiran dan indera untuk menyampaikan pendapat.” Simbah kelihatan merapikan rambutnya yang memanjang. Dan aku tak bisa memastikan panjangnya seberapa meter. Karena aura asap putih saja membuat mata ini silau.

“menurutku ya guru sejati itu ya….diri sendiri. Misalnya kita sehat ya harus kita sendiri yang menentukan. Akal yang selalu dikedepankan. Kebanyakan orang sekarang, makan minum dengan selera: enak atau tidak, bukan dengan pertimbangan: baik atau tidak untuk kesehatan sekarang dan hari yang akan datang.”

“benar cucuku. Orang-orang sekarang sudah banyak yang dibentuk dengan kebiasaan. Sudah biasa dia naik motor, sehingga tak pernah terbersit untuk naik sepeda ontel yang lebih sehat dan tak menghamburkan bensin yang berasal dari endapan fosil yang sama sekali tak dapat diperbaharui. Jalanan macet. Kecelakaan semakin terjadi karena motor tak pernah dibatasi. Karena manusia sudah semakin biasa naik motor, males untuk naik sepeda. Sehingga jarak ratusan meter pun terasa males untuk dijalani dengan kaki. Manusia sekarang semakin tergantung dengan teknologi. Dan itu menurutku sumber penyakit.”

welehweleh …Simbah walau Sampeyan sudah di alam sana, tapi masih saja perhatian dengan tingkah polah manusia yang ada di dunia.”

“jangan dikira yang menyangga negara Mu Indonesia ini cuma manusia yang secara lahir terlihat. Mereka para wali, energi dedaunan, frekuensi malaikat, energi udara, energi milyaran makhluk yang tak pernah terlintas dalam pikiranmu pun ikut menjaga, membangun, Indonesia agar tetap berdiri agar tak punah. Maka sangat mudah, seandainya Allah menghendaki perubahan, atau bahkan kelahiran kembali Indonesia.”

Aku sedikit mengerti apa yang disampaikan Simbah. Aku semakin terheran-heran mendapat ungkapan simbah yang tak selugu dalam anggapanku. Apakah mungkin di sana ada Koran, atau media yang bisa untuk meneropong keadaan dunia ini. Aku jadi semakin tak tahu dan penasaran saja.

“Dengarkan cucuku, aku ingin bacakan puisi untuk Negara Indonesia Mu”

Indonesia…aku cinta padamu selamanya

Indonesia …kau akan berubah atau punah

Indonesia …aku merindukanmu seuntuhnya

Indonesia …kau akan bersatu atau berseteru

Indonesia …Aku sayang padamu

Indonesia …kau punya cita-cita yang harus kau raih atau milih jadi buih

Indonesia …tanahnya subur makmur tapi sekarang banyak lumpur

Indonesia …aku ingin bersemayam dalam dadamu

Indonesia …perjuanganmu telah lama, dan terlalu lama, kau jadi menua

Indonesia …pujaanku

Indonesia …lama sudah kita bertemu, sudah kah kau jemu

Indonesia …aku tak pernah malu jadi wargamu

Indonesia …aku bangga punya Negara dan bangsa sebesar semesta

Indonesia…

Semesta…

sudah kau berikan nuansa untuk Indonesia.

tetapi ia terus sakit perasaan yang sangat lama.

Malaikat…

Sudah kau taburkan doa-doa selamat

tetapi ia selalu menuju ke tamat.

Semoga jangan dulu sampai ke jurang kiamat

Atau apakah Indonesia harus bermunajat

Aulia…

Sudah kau tebarkan karamah

untuk Indonesia

tetapi ia terasa jauh dari barakah.

Sirna gemah ripah

Tinggal gemah rapuh

Nabi…

asma dan pujianmu mengelilingi bumi ini

tapi tetap saja Indonesia tak mengerti

arti hidup sejati

Ini semua karena apa…aku tak mengerti..?

Indonesia…I love you full

Tiba-tiba saja asap itu mengepul dan berputar putar, kepulan itu seperti dihantam oleh segulungan angin yang menerjang. Asap itu hancur dan aku pun terpelanting dihantam kencangnya angin seperti puting beliung. Aku terkapar tak sadarkan diri di Indonesia.

Paesan, 27 Februari 2010

Ahmad Saifullah

Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :

About Ahmad Saifullah


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :