<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tanbihun Online &#187; Bebas</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/category/bebas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 05:53:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Perayaan Maulid Dalam Pandangan Islam</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/perayaan-maulid-dalam-pandangan-islam/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/perayaan-maulid-dalam-pandangan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 02:45:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=40522</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abi Azka Ar Rifa’i Tanbihun.com- Rasulullah SAW tidak pernah melakukan seremoni peringatan hari lahirnya, itu memang fakta. Kita pun belum pernah menjumpai suatu hadits yang menerangkan bahwa pada setiap...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;" align="center"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/02/maulid-nabi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-40554" title="maulid-nabi" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/02/maulid-nabi-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Oleh:<strong> Abi Azka Ar Rifa’i</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun.com</strong>- Rasulullah SAW tidak pernah melakukan seremoni peringatan hari lahirnya, itu memang fakta. Kita pun belum pernah menjumpai suatu hadits yang menerangkan bahwa pada setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal (sebagian ahli sejarah mengatakan 9 Rabiul Awwal), Rasulullah SAW mengadakan upacara peringatan hari kelahirannya. Bahkan ketika beliau sudah wafat, kita belum pernah mendapati para shahabat r.a. melakukannya. Tidak juga para tabi`in dan tabi`it tabi`in.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Imam As-Suyuthi dalam Husnul Maqoshidnya, orang pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah saw ini dengan perayaan yang meriah luar biasa adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktakin (l. 549 H. &#8211; w.630 H.) (lihat Husnul Maqoshid fi amali maulid, 6). Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid ini. Intinya menghimpun semangat juang dengan membacakan syi’ir dan karya sastra yang menceritakan kisah kelahiran Rasulullah SAW.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as-Suyuthi mengatakan ketika menjawabi pertanyaan tentang hukum perayaan maulid Nabi SAW:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">وَالجَوَابُ عِنْدِيْ أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ المَوْلِدِ الَّذِيْ هُوَ اِجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَأَةُ مَاتَيَسَّّرَ مِنَ القُرْآنِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَأِ أَمْرِالنَّبِيّ صَلَّّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّّمَ مَاوَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الاَياَتِ ثُمَّ يَمُدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَهُ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَالِكَ مِنَ البِدَعِ الحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيْ صََلََّى اللهُُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِالفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ</h2>
<p style="text-align: justify;">Menurut saya asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu tergolong bid’ah hasanah(sesuatu yang baik). Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad saw yang mulia. (<em>Al- Hawi Lil-Fatawa</em>, juz I, h. 251-252, juga dalam Husnul Maqoshid, h 5)</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun tidak pernah dilakukan Nabi, namun perayaan Maulid memiliki landasan, baik dari Al-Qur’an maupun Hadits serta tidak bertentangan dengan sumber-sumber hokum Islam, sehingga masuk dalam kategori bid’ah hasanah. Adapun landasannya antara lain :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Allah SWT berfirman:</li>
</ol>
<h2 style="text-align: center;" dir="RTL">قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ</h2>
<p style="text-align: justify;">“<em>Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan</em>.’ ” (QS.Yunus:58).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sementara kita tahu bahwa Rasulullah Saw adalah Rahmatan Lil alamin. Maka sudah selayaknya lah apabila kita bergembira dengan kelahirannya.</strong></p>
<ul>
<li>Rasulullah SAW merayakan kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa setiap hari kelahirannya, yaitu setia hari Senin Nabi SAW berpuasa untuk mensyukuri kelahiran dan awal penerimaan wahyunya.</li>
</ul>
<h2 style="text-align: right;" align="right">عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ” : فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم</h2>
<p style="text-align: justify;">“<em>Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku</em>.” (H.R. Muslim)</p>
<ul>
<li>Rasulullah menganjurkan umatnya untuk berpuasa asyura’ karena pada hari itu Musa diselamatkan oleh Allah dari Fir’aun, Nabi bersabda dalam riwayat Imam Bukhori dan Muslim :</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya ketika Rasulullah Saw datang ke Madinah, beliau menemukan orang Yahudi puasa pada hari Asyura’. Kemudian beliau bertanya kepada mereka, hari apakah yang kalian puasai ini ? mereka menjawab, ini adalah hari yang agung, Alloh telah menyelamatkan Musa dan kaumnya pada hari ini dan Alloh juga menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya pada hari ini, maka Musa lalu berpuasa sebagai tanda syukur, maka kamipun berpuasa. Dalam riwayat lain dalam Bukhori Muslim “ maka kami berpuasa karena memuliakannya.” Maka Nabi Saw bersabda,” Kami lebih berhak dan lebih utama terhadap apa yang dilakukan Musa dibanding kalian semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Suyuthi berkata, dalil ini lah yang digunakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajjar sebagai <span style="text-decoration: underline;"><em><strong>dasar disyariatkannya Maulid</strong></em></span>. Ibnu Hajjar dengan pemahaman Hadits dan agamanya yang luas telah mampu menemukan dalil yang kuat untuk menetapkan masyru’nya perayaan maulid.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang menyatakan bahwa menjadikan maulid dikatakan bid&#8217;ah adalah adanya pengkhususan (<em>takhsis</em>) dalam pelakanaan di dalam waktu tertentu, yaitu bulan Rabiul Awal yang hal itu tidak dikhususkan oleh syariat. Pernyataan ini sebenarnaya perlu di tinjau kembali, karena <em>takhsis </em>yang dilarang di dalam Islam ialah <em>takhsis </em>dengan cara meyakini atau menetapkan hukum suatu amal bahwa amal tersebut tidak boleh diamalkan kecuali hari-hari khusus dan pengkhususan tersebut tidak ada landasan dari <em>syar&#8217;i </em>sendiri(Dr Alawy bin Shihab, <em>Intabih Dinuka fi Khotir</em>: hal.27).</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini berbeda dengan penempatan waktu perayaan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, karena orang yang melaksanakan maulid Nabi sama sekali tidak meyakini, apalagi menetapkan hukum bahwa maulid Nabi tidak boleh dilakukan kecuali bulan Robiul Awal, maulid Nabi bisa diadakan kapan saja, dengan bentuk acara yang berbeda selama ada nilai ketaatan dan tidak bercampur dengan maksiat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengkhususan waktu maulid disini bukan kategori takhsis yang di larang syar&#8217;i tersebut, akan tetapi masuk kategori <em>tartib </em>(penertiban). Pengkhususan waktu tertentu dalam beramal sholihah adalah diperbolehkan, Nabi Muhammad sendiri mengkhusukan hari tertentu untuk beribadah dan berziaroh ke masjid kuba, seperti diriwatkan Ibnu Umar bahwa Nabi Muhammad mendatangi masjid Kuba setiap hari Sabtu dengan jalan kaki atau dengan kendaraan dan sholat sholat dua rekaat di sana (HR Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar mengomentari hadis ini mengatakan: &#8220;Bahwa hadis ini disertai banyaknya riwayatnya menunjukan diperbolehkan mengkhususan sebagian hari-hari tertentu dengan amal-amal salihah dan dilakukan terus-menerus&#8221;.(<em>Fathul Bari, </em>3/84)</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara orang yang mengatakan maulid adalah bid&#8217;ah adalah karena acara maulid tidak pernah ada di zaman Nabi, sahabat atau kurun salaf. Yang pertama kali menggunakan jargon ini adalah Ibnu Taymiyah, dia mengatakan ,” seandainya hal itu baik pastilah mereka ( salaf ) sudah mengerjakannya, karena mereka lebih mencintai Rasul dibanding dengan kita.” ( Iqthidho Shirothil Mustaqim, 2/619), tapi kelihatannya Ibnu Taymiyah sendiri inkonsisten dalam hal ini, sebab dalam Majmu’ Al fatawa, pada pembahasan Masuk ke kamar mandi, beliau berkata,” tidak ada seorangpun yang berhujjah makruhnya masuk kamar mandi atau tidak sunnahnya masuk ke kamar mandi dikarenakan Rasulullah tidak pernah memasukinya. ( sampai perkataan ) karena adamul fi’li (tidak dikerjakannya sebuah amalan) itu merupakan salah satu dari dalil syari’ah. Lebih lanjut Ibnu Taimiyyah berkata, menafikan suatu kesunahan karena tidak adanya dalil yang menjelaskan secara khusus tanpa melihat pada dalil-dalil yang lain adalah kesalahan fatal.( Majmu’ Al fatawa, 21/313). Ketika beliau bisa berkomentar seperti itu pada kasus masuk kamar mandi, kenapa beliau tidak mau melakukan hal yang sama pada kasus maulid ?. Tidak adanya contoh dari salaf tentang maulid dan tidak adanya dalil yang menjelaskan secara khusus bukan berarti meniadakan kesunahannya, bahkan wajib untuk meneliti dalil-dalil yang lain.dan ternyata Ibnu Hajjar Al-Asqolaniy berhasil mengkaji dan menemukan dalil-dalil maulid itu”</p>
<p style="text-align: justify;">Al Hafidz Assuyuthi memberikan jawaban yang bagus tentang masalah ini (yakni maulid tidak dilakukan oleh salaf ), beliau berkata: “sesungguhnya tidak dikerjakannya suatu amalan oleh salaf itu berarti sukut ( diam ). Dan juga tidak pernah ada larangan dari mereka untuk mengadakan perayaan. Dan sukut itu dijadikan hujjah ketika tidak ada dalil. Dan ketika ada dalil yang menetapkannya ( lebih dalil qauliy yang telah dinukilkan oleh Ibnu Hajjar di atas), maka dalil yang menetapkan itu didahulukan atas sukut.( Bayanun Nabawiy, DR Mahmud Ahmad Zein, 12 )</p>
<p style="text-align: justify;">Jika demikian, maulid Nabi adalah amalan yang baik, dan akan diberikan pahala bagi siapapun yang melakukannya dengan niat mencintai Nabi, sepanjang perayaan tersebut tidak terdapat suatu kemungkaran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/perayaan-maulid-dalam-pandangan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaya Hati VS Kaya Harta</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/isi-hati/kaya-hati-vs-kaya-harta/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/isi-hati/kaya-hati-vs-kaya-harta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2011 20:08:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Em. Yazid</dc:creator>
				<category><![CDATA[isi hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=36400</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Dini hari kian mendekati fajar, malam ini aku menginap ditempat kerja, bukan karena banyak pekerjaan, melainkan untuk kembali belajar, iya, belajar tentang banyak hal. Baik yang sudah pernah aku...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/11/munajat.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-36401" title="munajat" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/11/munajat-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Tanbihun</strong>- Dini hari kian mendekati fajar, malam ini aku menginap ditempat kerja, bukan karena banyak pekerjaan, melainkan untuk kembali belajar, iya, belajar tentang banyak hal. Baik yang sudah pernah aku ketahui dan kini hilang termakan lupa atau hal-hal baru yang sama sekali belum aku ketahui.</p>
<p style="text-align: justify;">2 minggu ditempat baru cukup banyak memberikan hal baru yang “memaksaku” untuk kembali belajar, <span style="text-decoration: underline;"><em>belajar menyiasati rasa</em></span> sayang, kangen, setia, belajar mengalihkan perasaan malu, sungkan, rendah diri, belajar menyesuaikan diri  dan setumpuk perasaan perusak lainnya. Tiap malam aku “berjuang” untuk sekedar melelapkan diri dalam buaian mimpi, acap kali aku tersungkur, mataku tak bisa terpejam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam gelapnya kamar aku mencoba menahan kemarau dipipiku agar mendung tebal yang menggelayuti hatiku tidak berubah menjadi rintik hujan yang mengalir dari dikedua mataku, sambil aku berbisik lirih <em>“Ya Alloh….inilah kerapuhanku, inilah kelemahanku…… inilah kebodohanku …… inilah kekerdilanku…… inilah kekuranganku”</em>.  Mendadak hadir 2 wajah yang sudah tidak asing lagi bagiku, merekalah anak dan istriku, aku semakin lirih bergumam <em>“Ya robb…. hamba sudah sangat bersyukur dan menerima keadaan ini, jika saat ini hamba memohon “dunia” kepada-Mu itu hanya untuk kebahagiaan anak dan istriku”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba dari relung hatiku ada suara keras menindih do’aku <em>“Apa kamu yakin harta benda akan membahagiakan mereka? Apa kamu kira mereka sekarang ini belum bahagia? Apa kamu kira kebahagiaan itu ada pada harta benda berlimpah? apa kamu akan menukar kekayaan hati yang selama ini sudah Alloh berikan dengan kekayaan harta?&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Lidahku kelu, pikiranku beku, hatiku membisu, wajahku menunduk lesu sekaligus malu, layaknya pesakitan menantikan vonis berat. Dalam diamku, Astaghfirullohal ‘adhiim ……Hanya Engkau Yang Maha Tahu, Maha Kaya, Maha Segalanya, hamba hanya makhluk lemah ciptaan-Mu, hamba manusia yang banyak dosa dan salah, tak ada lagi yang bisa hamba ucapkan demi melihat semua anugerah yang telah Engkau berikan kepada kami, hanya puji Alhamdulillah ….. alhamdulillah ….. segala puji hanya bagi-Mu.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga kami Engkau anugerahi iman yang benar-benar meresap kedalam relung hati kami dan keyakinan yang lurus, sehingga hati kami tahu bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-Mu, sehingga hati, akal pikiran kami menerima bagian taqdir-Mu yang telah Engkau gariskan untuk kami, meskipun itu getir.(zid)</p>
<p>Sukoharjo 28 November 2011             2:53 AM</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/isi-hati/kaya-hati-vs-kaya-harta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Tahun Baru 1433 H</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/isi-hati/selamat-tahun-baru-1433-h/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/isi-hati/selamat-tahun-baru-1433-h/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2011 08:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>majid</dc:creator>
				<category><![CDATA[isi hati]]></category>
		<category><![CDATA[Selamat Tahun Baru 1433 H]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=36328</guid>
		<description><![CDATA[Kawan, Sudah tahun baru lagi Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri Bercermin firman Tuhan Sebelum kita dihisabNya ( KH. Mustafa Bisri ) Tanbihun.com - Tidak ada bunyi...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><strong><a href="http://tanbihun.com/bebas/isi-hati/selamat-tahun-baru-1433-h/attachment/bulan-2/" rel="attachment wp-att-36333"><img class="alignleft size-full wp-image-36333" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/11/bulan1.jpeg" alt="" width="300" height="226" /></a>Kawan, Sudah tahun baru lagi<br />
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk<br />
memandang diri sendiri<br />
Bercermin firman Tuhan<br />
Sebelum kita dihisabNya<br />
</strong><br />
<em>( KH. Mustafa Bisri )</em></p>
<p style="text-align: justify"><strong>Tanbihun.com -</strong> Tidak ada bunyi terompet, tidak ada hiruk pikuk pesta kembang api di tengah alun-alun, tidak ada deru motor tanpa knalpot memadati jalanan, tidak ada panggung orkes dengan biduanya yang seperti ulat nangka_<em>menggelepar</em>_ seperti layaknya tahun baru Masehi. paling banter di sebagian masjid, kaum muslim berkumpul shalat ashar berjama&#8217;ah_<em>meski biasanya tidak</em>_ lalu bersama sama membaca do&#8217;a ahir tahun, memohon kepada Allah agar dosa dosa di tahun yang akan ditinggalkan diampuni OlehNYa, serta amal amal baiknya diganjar oleh Allah.</p>
<p style="text-align: justify">Kemudian menunggu salat Maghrib berjamaah lalu bersama sama berdoa awal tahun. Memohon kepada Allah agar di tahun baru dibantu melawan setan dan kroninya, ditolong menundukkan hawa nafsu, serta dimudahkan untuk melakukan amal amal yang lebih mendekatkan kepada Allah. Kalau di kampung mungkin kita masih dapat menyaksikan selamatan atau kendurinan nasi liwet dan jajanan pasar yang di gelar di tengah perempatan jalan, biasanya dilaksanakan agak larut malam_<em>supaya anak kecil tidak ikut nimbrung.<br />
</em><br />
Jika tahun baru berati bertambahnya usia, maka agak mengherankan apabila disambut dengan gembira dan sukacita, kecuali apabila selama ini umur memang dipergunakan dengan baik dan benar. kita akan tahu umur digunakan dengan baik atau tidak tentunya setelah melakukan muhasabah atau evaluasi, paling tidak setahun sekali. jika tidak, tentunya kita hanya akan mengulang ulang apa yang sudah. bahkan lebih buruk, padahal ada Dawuh; <em>“Barangsiapa yang hari-harinya sama, dialah orang yang merugi; barangsiapa yang hari ini-nya lebih buruk dari kemarin-nya, celakalah orang itu.”</em></p>
<p style="text-align: justify">Pergantian tahun selayaknya menjadi titik evaluasi, <strong>sudahkan keberagamaan kita mencapai tahap esensi atau sebaliknya hanya sebatas kulit.</strong> boleh jadi semarak ritual keagamaan kian mengagumkan, masjid_mushala dibangun megah, tak cukup satu pengeras suara, bahkan keempat penjuru mata angin. sehingga jika masuk waktu shalat kumandang adzan bertalu talu tak putus putus, tapi tengoklah jumlah shafnya, <em>memprihatinkan.</em></p>
<p style="text-align: justify">Atau, boleh saja sekolah sekolah berlabel islam semakin menjamur, simbol simbol agama tampak familiar, jilbab dan peci yang dulu ditertawakan sekarang menjadi trend, bahkan para koruptor yang duduk di pesakitan tiada sungkan memakainya, supaya tampak alim. jama&#8217;ah haji yang kian membludak tiap tahun, majlis taklim, pengajian, istighosah-istighosah yang dengan mudah kita jumpai di tiap masjid yang dinding dindingnya terpatri megah kalimat <em>&#8220;Inna Shalaata tanha anil fahsya wal munkar&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify">Namun, sekali lagi marilah kita tengok sisi lain untuk melihat kenyataan yang lebih ironis, budaya jujur dan rendah hati yang diajarkan Junjungan Nabi kita seakan menguap bersama kepongahan dan kemunafikan yang merajalela. di ranah ibadah, <strong>pelaku shalat setelahnya masih rajin bergunjing, mengolok sesama, menebar kebencian, didasari fanatik buta terhadap madzhabnya, bahkan dengan keji mengkafirkan kelompok lain</strong>.</p>
<p style="text-align: justify">Di ranah sosial, konsep fiqih yang mengatur kesejahteraan umat dengan mengambil hak faqir miskin 2,5 persen atas harta si kaya tinggalah cerita. <strong>jika ada si miskin yang  menanak nasi tiwul atau nasi aking adalah pemandangan lumrah</strong>, padahal rumah si miskin dan si kaya yang telah sembilan kali ke tanah suci itu hanya di batasi pagar. atau tengoklah slogan<em>&#8221; Annadhafatu minal imaan&#8221;</em> dengan terjemahan jelas <em>&#8221; kebersihan sebagian daripada iman&#8221; </em>yang semakin merana, diejek oleh <strong>sampah yang berjejal dan kotoran didalam hati.<br />
</strong><br />
<em>Waba’du;</em> jangan jangan selama ini <em>_meski kita selalu menyanyikan</em> ”Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”_hanya badan saja yang kita bangun. sedangkan Jiwa kita lupakan. Daging saja yang kita gemukkan, ruh kita biarkan merana. Sehingga sampai ibadah dan beragama pun masih belum melampaui batas daging. Lalu, bila benar, akan sampai kapan? Bukankah tahun baru ini merupakan momentum paling baik untuk melakukan perubahan?</p>
<p style="text-align: justify"><strong>&#8220;wafii Anfusikum afalaa tubsiruun&#8221;. </strong>Selamat tahun baru!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sukorejo, 27 November 2011<br />
<em>( disarikan dari Puisi Gus Mus )</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/isi-hati/selamat-tahun-baru-1433-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alhamdulillah, Ini Postingan ke 1.000</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/isi-hati/alhamdulillah-ini-postingan-ke-1-000/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/isi-hati/alhamdulillah-ini-postingan-ke-1-000/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 14:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[isi hati]]></category>
		<category><![CDATA[Senyum dan tangis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=35912</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Perjalanan tanbihun.com yang baru 2 tahun  289 hari alhamdulillah telah mempunyai jumlah postingan 1.000. Di postingan keseribu ini, kami mengucapkan puji syukur kehadhirat Alloh hanya berkat taufiq,hidayah dan &#8216;inayah-Nya...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/11/tanbih.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-35917" title="tanbih" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/11/tanbih-300x165.jpg" alt="" width="300" height="165" /></a>Tanbihun</strong>- Perjalanan tanbihun.com yang baru 2 tahun  289 hari alhamdulillah telah mempunyai jumlah postingan 1.000. Di postingan keseribu ini, kami mengucapkan puji syukur kehadhirat Alloh hanya berkat taufiq,hidayah dan &#8216;inayah-Nya tanbihun.com masih eksis hingga saat ini. Tak lupa kami ucapkan terima kasih tak terhingga kepada para donatur, penulis dan pembaca yang sudah ikut mewarnai dan menjadi warna sekaligus menjadi bagian dari tanbihun.com.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah apakah kehadiran tanbihun.com membawa arti bagi anda-anda, bagi kami sudah cukup untuk menjadi bahan pembelajaran, belajar berani menulis, belajar merangkai kata demi kata, menyusun kalimat demi kalimat, tempat kami-kami belajar istiqomah ditengah kesibukan &#8220;ngupoyo arto lan kamulyan&#8221;(bekerja dan belajar), tanbihun.com mampu menjadi &#8220;pengeling&#8221; (pengingat) bagi kami akan arti sebuah ikhtiyar dan perjuangan, dengan iringan do&#8217;a kami senantiasa berusaha meluangkan waktu, sebenarnya bukan waktu tapi lebih tepatnya memaksa diri untuk membagi sedikit waktu, tenaga, pikiran dan harta untuk bersama-sama berkreasi di media TANBIHUN ONLINE.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai penutup kami ucapkan terima kasih spesial untuk :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>KH. Syadzirin Amin</li>
<li>KH. Khaeruddin Khasbullah</li>
<li>Ustadz Ahmad Rifa&#8217;i</li>
<li>Ustadz Muchammad Ircham</li>
<li>Ustadz Zuhurul Fuqohak</li>
<li>Ahmad Saifullah</li>
<li>Ahmad Faried</li>
<li>Nanang Syaputra</li>
<li>Abdul Majid</li>
<li>Much. Ikhwandi</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Dan sahabat-sahabat yang tidak kamis sebutkan satu persatu, yang telah ikut mengirimkan artikelnya dan menjadi bagian dari penulis-penulis tanbihun, rasa terima kasih kami takkan berkurang. Semoga kebersamaan ini diridho&#8217;i Alloh dan mendapatkan berkah-Nya. amin.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk sahabat-sahabatku &#8230;.. <strong>&#8220;Jika ada keindahan didunia ini, Kalianlah keindahan itu, kalian telah menjadi bagian terindah dalam hidupku&#8221;.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Salam Hangat</p>
<p style="text-align: justify;">em.yazid</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/isi-hati/alhamdulillah-ini-postingan-ke-1-000/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khutbah Idul Adha 1432 H / 2011M</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/khutbah-idul-adha-1432-h-2011m/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/khutbah-idul-adha-1432-h-2011m/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 03:43:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[khutbah idul adha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=33812</guid>
		<description><![CDATA[PESAN DARI IBADAH QURBAN[1] Oleh : Abi Azka Ar Rifa’i  الله أكبر الله أكبر الله أكبر 3X اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;" align="center"><strong>PESAN DARI IBADAH QURBAN<a title="" href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></strong><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/Muhammad.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-33822" title="Muhammad" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/Muhammad.jpg" alt="" width="300" height="291" /></a></strong></p>
<p style="text-align: right;" align="center">Oleh : <strong>Abi Azka Ar Rifa’i</strong></p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"> الله أكبر الله أكبر الله أكبر 3X</h2>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ</h2>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.</strong></p>
<p><strong>Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita sendiri tidak akan mampu menghitung secara rinci tentang kenikmatan-kenikmatan itu. Karenanya dalam konteks nikmat, Allah Swt tidak memerintahkan kita untuk menghitung tapi mensyukurinya. Kehadiran kita pada pagi ini dalam pelaksanaan shalat Idul Adha bersamaan dengan kehadiran sekitar tiga sampai empat juta jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci merupakan salah satu dari tanda syukur kita kepada Allah Swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad Saw, beserta keluarga, sahabat,kerabat dan para pengikuti setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti. Semoga kita semua ini termasuk dari umat beliau, ummat dakwah ijabah yang kelak akan mendapat syafaatnya di hari akhir nanti.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Allahu akbar3X&#8230;</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ma’ashirol haadirin rahimakumullah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari ini jutaan kaum muslimin berduyun-duyun menuju musholla / tempat sholat baik kelapangan atau ke masjid untuk memuji keagungan Allah. Bersimpuh sembari menghaturkan pinta kepada Tuhan semesta alam ini. Setelah semalam suntuk berdzikir menyeru kebesaran Allah lewat bacaan takbir  dan tahmid yang mengalun dan mengalir lewat mulut-mulut ikhlas pengharap ridhonya semata.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Allahu akbar 3X&#8230;..</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jamaah sholat id yang dimuliakan oleh Allah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai seorang muslim yang cinta terhadap syariat nabiyullah Muhammad Saw, kita dianjurkan untuk mengorbankan sebagian harta kita dijalan Allah dengan jalan menyembelih binatang ternak dalam rangka taqorrub kepada Allah Swt. Bahkan Rasulullah  mengancam orang-orang yang memiliki kemampuan tapi tidak mau berqurban dalam sabdanya.</p>
<h2 style="text-align: right;" align="right">من كان له ساعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا</h2>
<p style="text-align: justify;">Barangsiapa memiliki keluasan rizki dan ia tidak mau berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat sholatku (HR Tirmidzi dengan sanad shahih ).</p>
<p style="text-align: justify;">Berawal dari hadits inilah para ulama berselisih pendapat tentang hokum berqurban, Imam Hanafi menegaskan bahwa berqurban hukumnya wajib bagi orang yang mampu, sementara Imam Syafii berpendapat hukumnya sunnah muakkad.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun hukumnya sunnah, namun ibadah qurban mengandung nilai filosofis yang sangat dalam, karena pada hakekatnya qurban adalah ujian loyalitas keimanan kita kepada Allah, kita sering mengaku sebagai seorang mukmin yang sejati,akan tetapi pernyataan kita tersebut belum dianggap oleh Allah jika belum diadakan ujian loyalitas keimanan dan salah satu dari ujian itu adalah perintah berqurban. Mampukah kita dan maukah kita menyisihkan kebutuhan-kebutuhan kita yang lain dan lebih mendahulukan berqurban ?. Oleh karena itu Allah berfirman :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan untuk berkata,” kmi beriman.” Sementara mereka tidak diuji. (Qs Al-Ankabut:2).</p>
<p style="text-align: justify;">Ujian adalah bukti dari keimanan, ujian juga simbol sayang sang penguji kepada hambanya dan ujian juga ajang untuk mencetak seseorang menjadi lebih berkualitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kita lihat dalam sejarah, tidak ada satu orang besarpun didunia ini yang meraih masa keemasannya tanpa melalui ujian sedikitpun. Panutan kita yang mulia, Rasulullah Saw harus mendapatkan ujian dari Allah semenjak beliau masih dikandungan, dengan wafatnya ayah tercintanya, umur enam tahun harus rela melanjutkan hidupnya tanpa kasih seorang ibu yang juga meninggalkannya. Musa Alaihissalam, harus merasakan ujian yang hebat saat ia baru saja merasakan segarnya udara di dunia, sebab ia harus dihanyutkan ke sungai NIL oleh ibunya pada hari kelahirannya untuk menghindari kekejaman tentara fir’aun. Isa Alaihissalampun harus terlahir di Baitullahmin sebuah tempat dekat kandang ternak, karena ibundanya terusir dari kampung halamannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ujian-ujian yang diberikan oleh Allah pada hakekatnya adalah jalan yang diberikan oleh Allah untuk membuat hambanya menjadi orang pilihan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ma’ashirol muslimin rahimakumullah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Disamping itu qurban juga berarti sebuah tekad untuk berani meninggalkan dan menyembelih nafsu duniawi kita dalam rangka mengabdi dengan total kepada allah Rabbul Izzati. Kesenangan kita terhadap dunia akan menghalangi kedekatan kita kepada Allah Swt, oleh sebab itu Malik Bin Dinnar pernah berkata :</p>
<h2 style="text-align: justify;" dir="RTL">حب الدنيا رأس كل خطيئة</h2>
<p style="text-align: justify;">Cinta dunia adalah biang dari segala kesalahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh sebab itu, kecintaan kita terhadap dunia harus disembelih agar kita bisa mendekat kepada Allah Swt. Islam tidak melarang umatnya untuk mencari dunia bahkan Allah cinta kepada umat ini yang mau bersusah payah mencari rizki yang halal, sebagaimana sabda Nabi :</p>
<h2 style="text-align: right;">ِانَّ اللهَ تَعَالىَ يُحِبُّ أَنْ  يَرَى تَعِبًا فىِ طَلَبِ الْحَلاَلِ</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hambanya lelah dalam mencari yang halal (HR. Ad Dailami).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Islam hanya melarang kita untuk mencintai dunia, sebab jika kita sudah jatuh cinta pada dunia, maka kita akan melakukan dan menghalalkan segala cara untuk meraih dunia  itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ma’ashirol muslimin rahimakumullah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Allahu akbar 3X laailaha illallah wallohu akbar walillahilhamdu.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Binatang qurban yang kita sembelih hanyalah simbol yang tidak akan pernah diperdulikan dan dinilai oleh Allah bila tidak didasari niat yang bersih dan ikhlas, dimana hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firmanNya :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَاوَلَا دِمَاؤُهَاوَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَالَكُمْ لِتُكَبِّرُوااللَّهَ عَلَى مَاهَدَاكُمْ وَبَشِّرِالْمُحْسِنِينَ</h2>
<p style="text-align: justify;">37. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. ( Al hajj :37 )</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Abbas menafsirkan kata taqwa pada ayat di atas dengan niat. Niat yang suci dan ikhlaslah yang dapat mencapai ridho Allah, bukan karena riya atau sombong. Kalau kita kembali buka sejarah, kita akan dapati bagaimana habil putra Adam as, ketika mendapat perintah untuk mempersembahkan qurban sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, maka ia dengan penuh keikhlasan dan ketulusan memilih hewan ternak terbaiknya untuk dipersembahkan kepada Tuhannya, Allah Azza wajalla. Sebab ia sadar bahwa Allah itu maha baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik-baik semata. Hingga karena niat dan keikhlasannya itulah Allah swt berkenan menerima qurban yang dilakukan oleh Habil.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh saudaranya yang bernama Qabil, dia merespon perintah Allah dengan keterpaksaan dan niat yang buruk, maka ia pun mempersembahkan hasil pertanian terburuk yang ia miliki dan akhirnya Allahpun menolak qurbannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ma’ashirol muslimin</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Qurban juga merupakan simbol ketakwaan dan ketaatan kita kepada Allah swt, perintah ini berawal dari bisikan Allah swt yang mengusik tidur abal anbiya’ Ibrahim As. Allah memberikan wahyu lewat Ru’yah shodiqoh kepada Ibrahim agar menyembelih putra semata wayangnya yang bernama Ismail. Ketika Ibrahim terjaga dari tidurnya, ia mengira bahwa apa yang mengganggu tidurnya adalah sebuah bisikan dari syaithan sebab sangat tidak mungkin Allah swt yang Maha penyayang dan pengasih memerintahkannya untuk menyembelih putra yang telah lama dinanti-nantikannya tersebut. Di sini Ibrahim As, merespon perintah Allah tersebut dengan akalnya ( ta’aquliy ), lalu dia menampik perintah tersebut lantaran tidak bisa diterima logika. Akan tetapi ketika Allah kembali mengusiknya dengan mimpi yang sama sampai tiga kali. Ibrahim Khalilullah ini mencampakkan akalnya dan menerima perintah Allah tersebut secara Taabbudiy,sebagai wujud ketundukan dan kepatuhan kepada Allah Swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga dikala ia dengan sabar dan penuh keikhlasan menjalankan perintah Allah tersebut, Allah bangga kepadanya dan mengganti tubuh anaknya dengan kambing kibas dari surga. Sebuah indikasi bahwa apabila kita bisa bersabar dalam menghadapi ujian dan musibah dari Allah dan ridho serta ikhlas dalam menjalaninya, bukan saja kita mendapat pahala dari Allah, namun Allahpun akan memberikan ganti dengan yang lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibadah qurban juga mengandung pesan kepada kita agar memiliki jiwa sosial dan peka terhadap penderitaan sesama. Pendistribusian daging qurban kepada kalangan fuqoro wal masaakin agar mereka dapat menikmati kegembiraan yang sama di hari raya ini adalah simbol agar kita mau berbagi dengan mereka serta ikut meringankan beban hidupnya bukan hanya pada hari-hari tertentu saja, akan tetapi setiap saat dan setiap waktu saat kita diberikan kemampuan oleh Allah Swt. Spirit qurban hendaknya tidak berlaku instan, artinya jika pada hari ini kita dengan kerelaan hati mengeluarkan sedikit harta kita untuk faqir miskin, maka dihari-hari setelah ini kita mestinya tetap memilki rasa empati terhadap saudara kita yang kekurangan dengan cara membantu dan menyantuninya. Apabila semangat ini terus menyala di hati setiap orang yang berqurban, maka insya Allah kemiskinan yang saat ini menjadi momok bangsa ini akan dapat dientaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Momentum Idul Adha sekarang ini yang teraplikasi dengan pelaksanaan ibadah haji dan qurban merupakan saat yang tepat untuk memacu diri kita berusaha lebih keras dan sungguh-sungguh agar terwujud negeri yang baik dan memperoleh ridha Allah Swt. Untuk itu, marilah kita tutup khutbah Ied kita pada hari ini dengan sama-sama berdo&#8217;a:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.</h2>
<p style="text-align: justify;">Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki<em> </em>sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.</p>
<h2 style="text-align: justify;" dir="RTL">اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ</h2>
<p style="text-align: justify;">Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا</strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><em>Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.</em></p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a. </em></p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"> رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p style="text-align: justify;"><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Di sampaikan pada Khutbah Sholat Iedul Adha di Masjid Al Ikhlas Vila Gading Harapan, 06 Nov 2011</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/khutbah-idul-adha-1432-h-2011m/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesan Error WP Security Scan 3.0.7 (wp-security-scan/libs/functions.php on line 253)</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/tips-wordpress/pesan-error-wp-security-scan-3-0-7-wp-security-scanlibsfunctions-php-on-line-253/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/tips-wordpress/pesan-error-wp-security-scan-3-0-7-wp-security-scanlibsfunctions-php-on-line-253/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Sep 2011 23:33:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Em. Yazid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tip's Wordpress]]></category>
		<category><![CDATA[Plug in Wordpress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=30834</guid>
		<description><![CDATA[Description WP Security Scan checks your WordPress website/blog for security vulnerabilities and suggests corrective actions such as: Passwords File permissions Database security Version hiding WordPress admin protection/security Removes WP Generator...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h5><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/scan-plug-in.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-30835" title="scan plug in" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/scan-plug-in-300x70.png" alt="" width="300" height="70" /></a>Description</h5>
<p>WP Security Scan checks your WordPress website/blog for security vulnerabilities and suggests corrective actions such as:</p>
<ol>
<li>Passwords</li>
<li>File permissions</li>
<li>Database security</li>
<li>Version hiding</li>
<li>WordPress admin protection/security</li>
<li>Removes WP Generator META tag from core code</li>
</ol>
<h4>Requirements</h4>
<ul>
<li>WordPress version 3.0 and higher (tested at &lt;= 3.2.1)</li>
<li>PHP5 (tested with PHP Interpreter &gt;= 5.2.9)</li>
</ul>
<p>For more information on the WP Security Scan and other WordPress security news, visit the <a href="http://www.websitedefender.com/blog">WebsiteDefender Blog</a> and join our <a href="http://www.facebook.com/websitedefender">Facebook</a> page. Post any questions or feedback on the <a href="http://www.websitedefender.com/forums/wp-security-scan-plugin/">WP Security Scan plugin forum</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kita update plug in tersebut ke versi 3.0.7 akan kita temukan pesan error saat kita membuka menu Database, kira-kira seperti ini :</p>
<blockquote><p>Warning: in_<span style="color: #0000ff;">array</span>() [function.in-array]: Wrong datatype for second argument in /home/equestre/public_html/wp-content/plugins/wp-security-scan/libs/functions.php on line 253</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Cara mengatasinya sangat mudah, silahkan buka file bernama &#8220;functions.php&#8221; yang berada di folder /home/equestre/public_html/wp-content/plugins/wp-security-scan/libs/functions.php. ganti line 253 , tepatnya seperti ini :</p>
<blockquote><p><span style="color: #ff9900;"><code>if (in_array($_right, $tooManyRights))</code></span></p></blockquote>
<p>Ganti dengan yang ini :</p>
<blockquote><p><span style="color: #ff9900;"><code>if (in_array($_right, $_tooManyRights))</code></span></p></blockquote>
<p>Dan alhamdulillah database menu sudah kembali normal.</p>
<p>Info didapat dari pengembang plug in <a title="Suber Info" href="http://www.websitedefender.com/forums/wp-security-scan-plugin/issue-warning-call_user_func_array-functioncall-user-func-array" target="_blank">disini</a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/tips-wordpress/pesan-error-wp-security-scan-3-0-7-wp-security-scanlibsfunctions-php-on-line-253/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sulitnya Menanamkan Al-Qur&#8217;an Pada Anak</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/sulitnya-menanamkan-al-quran-pada-anak/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/sulitnya-menanamkan-al-quran-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Sep 2011 03:54:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[al qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Bebas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=30425</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Derasnya arus globalisasi yang melanda dunia saat ini membawa dua dampak  yaitu dampak positif dan negatif pada perkembangan moral dan peradaban manusia  khususnya anak sebagai generasi penerus bangsa. Melesatnya...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/kiat-anak-baca-alquran3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-30449" title="kiat-anak-baca-alquran" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/kiat-anak-baca-alquran3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Tanbihun</strong>- Derasnya arus globalisasi yang melanda dunia saat ini membawa dua dampak  yaitu dampak positif dan negatif pada perkembangan moral dan peradaban manusia  khususnya anak sebagai generasi penerus bangsa. Melesatnya teknologi informasi telah membawa manusia  ke arah terbukanya cakrawala wawasan tanpa batas. Belum lagi masuknya kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan tanpa ada proses filterisasi ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hal ini jika tidak segera diantisipasi akan berakibat pada distorsi nilai dan norma Islam yang luhur. Oleh sebab itu, pembekalan  agama mutlak dilakukan sedini mungkin agar generasi muda Islam memiliki resistensi terhadap dampak negatif yaang ditimbulkan oleh kemajuan zaman ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Penanaman ajaran agama seyogyanya dimulai dari pengenalan dan pemahaman terhadap Al-Qur’an, sebab Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang diturunkan untuk menjadi pedoman hidup manusia untuk menghadapi tantangan zaman sepanjang masa. Al-Qur’an merupakan kitab petunjuk yang memiliki ruh pembangkit yang berfungsi sebagai penguat dan tempat berpijak bagi seluruh muslim dalam melangkah. Ia berisi aturan dan konsep global. Ia juga merupakan tempat kembali satu-satunya bagi seluruh umat Islam untuk mengambil rujukan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan dalam menyusun konsep gerakan selanjutnya (Yakub, 2006 : 92).</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur’an dapat dipahami dengan baik dan pesan-pesannya dapat tertangkap dengan maksimal apabila kita mampu membacanya dengan baik. Oleh sebab itu hal yang pertama kali diserukan oleh Allah kepada manusia sebelum melakukan penelitian dan pengamatan secara mendalam terhadap ayat-ayat Allah  baik yang Qur’aniyyah amaupun yang kauniyyah adalah perintah membaca. Dalam surat Al-Alaq Allah berfirman :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>                             Artinya    :               Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,</em><em>(1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah</em><em>(2). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah</em><em>(3), Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam</em><em>(4). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya</em><em>(5) (QS.96 : 1-5).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini dengan tegas memerintahkan kepada manusia untuk membaca agar dapat menemukan keagungan Allah S.W.T sehingga dengan demikian Allah S.W.T. akan memberikan kemurahan-Nya. Prof. Dr. M. Quraish Shihab ketika menjelaskan ayat ketiga dari surat Al-‘Alaq diatas berkata: “Kemurahan Allah S.W.T. dapat menghantarkan manusia yang mempelajari alam raya ini untuk menemukan rahasia-rahasia alam yang baru serta berbeda dengan ilmuwan terdahulu (Sihab,2004 : 122).”</p>
<p style="text-align: justify;">Pada wahyu pertama tersebut, perintah membaca ( iqro’ ) diulang dua kali, hal ini menunjukkan adanya penekanan terhadap perintah membaca tersebut serta menunjukkan bahwa membaca hanya akan berhasil apabila dilakukan terus menerus dan berulang-ulang ( Zuhailiy, 2002 : 3, 2902).</p>
<p style="text-align: justify;">Membaca Al-Qur’an memiliki tiga tingkatan. Pertama, tingkatan paling rendah, yaitu mampu membaca Al-Qur’an seolah-olah kita membacanya dihadapan Allah. Kedua, bersaksi di dalam hati seolah-olah Allah berbicara dengan kita dengan penuh kelembutan, pemberian dan kasih sayang. Ketiga, mampu melihat Yang Berbicara di dalam firman dan melihat sifat-sifat Tuhan di dalam kalimat-kalimat Al-Qur’an (Pasha , 2006 : 29 ).</p>
<p style="text-align: justify;">Membaca Al-Qur’an dapat menumbuhkan sikap cinta terhadapnya yang kemudian akan berujung pada keinginan untuk memahaminya. Tradisi para sahabat dalam memahami Al-Qur’an dimulai dengan membacanya lalu menghafalkan seayat demi seayat. Setelah Al-Qu’an terpatri erat dalam sanubari mereka, lalu mereka mulai merenungkan makna-maknanya satu persatu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal yang baik dan keberhasilan yang telah dicapai oleh generasi terdahulu sudah selayaknya ditiru dan dikembangkan oleh generasi sekarang. Penanaman kecintaan terhadap Al-Qur’an harus dimulai sedini mungkin. Pengajaran membaca dan menghafal Al-Qur’an sebagai langkah awal untuk menumbuhkan kecintaan terhadapnya, harus mulai digalakkan dikalangan anak-anak muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi kendala yang dihadapi oleh orang tua adalah sulitnya menemukan metode yang tepat yang dapat digunakan sehingga anak memiliki minat dan keinginan untuk belajar membaca, lebih-lebih menghafalkan Al-Qur’an. Metode yang beredar luas terkadang membosankan dan tidak memiliki daya dorong terhadap keinginan anak untuk belajar membaca Al-Qur’an, sehingga setelah bertahun-tahun belajar, perkembangan yang didapat oleh anak sangat sedikit.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi ini diperparah dengan minimnya kualitas guru yang mengajarkan Al-Qur’an. Perekrutan guru Al-Qur’an yang serampangan menimbulkan dampak buruk bagi anak yang belajar padanya. Sebuah ironi apabila sebuah lembaga menginginkan anaknya mampu membaca dengan fasih atau bahkan menghafal Al-Qur’an namun gurunya sendiri bukan ahli Al-Qur’an.</p>
<p style="text-align: justify;">Perkembangan teknologi juga membawa dampak negatif cukup besar bagi minat anak untuk belajar Al-Qur’an. Anak lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer untuk main game atau sekedar berselancar di dunia maya dibanding dengan mengeja huruf demi huruf Al-Qur’an. Mereka lebih senang mendengarkan musik daripada mendengarkan murotal. Ditambah lagi sikap acuh orang tua terhadap perkembangan anaknya sehingga para orang tua tidak peduli lagi tentang pendidikan agama anaknya. Akibatnya anak menjadi semakin jauh dari Al-Qur’an dan enggan untuk mempelajarinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/sulitnya-menanamkan-al-quran-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ikhtiar Dan Pasrah Dalam Perihal Jodoh</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/ikhtiar-dan-pasrah-dalam-perihal-jodoh/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/ikhtiar-dan-pasrah-dalam-perihal-jodoh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 15:49:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Faried</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[jodoh]]></category>
		<category><![CDATA[menjemput jodoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=29454</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun - Allah &#8216;Azza wajalla berfirman (dalam hadits Qudsi): &#8220;Apabila Aku menginginkan untuk menggabungkan kebaikan dunia dan akhirat bagi seorang muslim maka Aku jadikan hatinya khusyuk dan lidahnya banyak berzikir....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tanbihun.com/bebas/ikhtiar-dan-pasrah-dalam-perihal-jodoh/attachment/jodoh111/" rel="attachment wp-att-29457"><img class="alignleft size-medium wp-image-29457" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/jodoh111-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a><strong><em>Tanbihun -</em></strong> Allah &#8216;Azza wajalla berfirman (dalam hadits Qudsi): &#8220;Apabila Aku menginginkan untuk menggabungkan kebaikan dunia dan akhirat bagi seorang muslim maka Aku jadikan hatinya khusyuk dan lidahnya banyak berzikir. Tubuhnya sabar dalam menghadapi penderitaan dan Aku jodohkan dia dengan seorang isteri mukminah yang menyenangkannya bila ia memandangnya, dapat menjaga kehormatan dirinya, dan memelihara harta suaminya bila suaminya sedang tidak bersamanya. (HR. Ath-Thahawi)</p>
<p>Disebutkan juga pada sebuah hadits,</p>
<h2>لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ دُعَاءٌ</h2>
<p>“Tidak ada yang dapat menolak ketentuan Tuhan kecuali doa”</p>
<p>Usaha kita dalam mencari jodoh perlulah bersandarkan kepada iman dan diiringi dengan doa yang berpanjangan.  Berdoalah banyak-banyak dengan bersungguh-sungguh kerana mengharapkan rahmat daripada Allah agar insan yang kita pilih itu dijodohkan dengan kita.</p>
<p>Merupakan sebuah misteri yang tidak pernah basi untuk dikaji. Kebahagiaan, kesedihan, kesetiaan, penghianatan, keresahan, kegelisahan, hati yang gemetar, kebencian, kerinduan, cinta, nafsu, juga kepasrahan, semua bercampur dalam satu porsi yang elok, entah itu penantian ataupun pencarian dalam perihal jodoh.</p>
<p>Sengaja saya susun sebuah kisah sederhana ini, dengan tidak mendramatisir  dari kenyataan yang ada, bukanlah kisah suci yang akan anda temui dari kisah-kisah ini sepertihalnya kisah para shalafussholih yang memang sangat terjaga kesuciannya dalam urusan jodoh dan asmara.</p>
<p>Tapi setidaknya ada meskti  tidak banyak, ada beberapa pembelajaran yang bisa diambil hikmahnya.</p>
<p><strong><em>Diceritakan dari seorang sahabat,</em></strong></p>
<p>Dari sebuah perkenalan yang tidak disengaja dengan seorang gadis, aku tidak pernah menyangka ternyata terajut sebuah kisah yang tidak begitu panjang.</p>
<p>Hampir 1,5 bulan masa-masa ta’aruf  sama sekali aku tidak pernah menyangka, perhatiannya padaku melebihi perhatian seorang sahabat yang belum lama kenal.</p>
<p>Dari latar belakang kami yang berbeda, rupanya itu yang membuat dia (sarah) ingin lebih tahu banyak tentangku.</p>
<p>Aku masih ingat tulisanku dulu yang sempat membuatnya haru (katanya sih..)</p>
<p><em>Kemuliaan seorang wanita  </em></p>
<p><em>Tidak lahir dari paras ayunya</em></p>
<p><em>Tidak lahir dari lekuk tubuh indahnya</em></p>
<p><em>Tidak lahir dari putih mulus kulitnya</em></p>
<p><em>Tidak lahir dari tutur manis rayunya</em></p>
<p><em>Tidak lahir dari tatapannya yang menggoda</em></p>
<p><em>Tidak lahir dari gemerlap kekayaannya</em></p>
<p><em>Demi mendapati lelaki yang benar-benar bisa menjadi pelindungnya nanti</em></p>
<p><em>Dari fitnah keji dunia</em></p>
<p><em>Juga lalapan siksa api neraka</em></p>
<p><em>Tapi kemuliaannya lahir dari kuatnya menjaga harga diri dan kehormatannya</em></p>
<p>Hampir enam bulan sudah persahabatan terjalin, kalau dilihat dari cara perhatiannya saat itu aku sempat berfikir sepertinya dia menginginkah hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan. Tapi sengaja aku mengacuhkan itu dan pura-pura tidak tahu.</p>
<p>Ternyata dugaanku benar, malam itu sekitar pukul 19.17 wib. Handphone jadulku berdering, ternyata panggilan  dari Sarah, dengan tanpa sungkan dia mengungkapkan perasaannya padaku.</p>
<p>“bagaimana cara aku membalasnya” bisikku, karena waktu itu aku belum berfikir membawa hubungan yang lebih jauh. Bukannya aku tidak mempunyai perasaan yang sama pada Sarah,  saat itu aku berfikir</p>
<p>“apakah mungkin hubungan itu kita jalanin…?” karena kami dipisahkan jarak yang amat jauh, juga perbedaan suku. Karena aku hawatir,  suatu saat hanya akan membuat kita saling terluka.</p>
<p>Malam itu dengan memantapkan hati, ku baca sebuah ijazah amalan dzikir dari guru ku dulu dengan niat dan rasa kepasrahan “ wahai Allah, kalau memang dia jodohku mudahkanlah hati kami untuk menjalani buhungan ini, tapi andaikan kita tidak berjodoh dengan RahmatMu, pisahkanlah kami sesuai dengan caraMu yang maha bijak, agar diantara kami tidak saling terdholimi dengan hubungan ini..”</p>
<p>Tujuh hari kemudian,</p>
<p>“apakah tawaran kamu masih berlaku Sarah..?” ujarku setelah mengucapkan salam dan sedikit basa-basi.</p>
<p>“maksudnya apa…?” Sarah masih bingung nampaknya,</p>
<p>Setelah kujelaskan, terdengar dari expresi suaranya menyiratkan kebahagiaan yang teramat sangat.</p>
<p>Hubungan kami berjalan dengan biasa dan sederhana, seperti waktu kami masih berteman dulu. Dia sering menanyakan permasalahan tentang agama, terutama Fiqih dan cara membaca Al-Qur’an  yang sesuai dengan kaidah Tajwid.  Hingga sering menjelang tidur dia minta dibacakan Qur’an meski hanya mendengar suaraku lewat Handphone hingga tanpa sadar ia tertidur.</p>
<p>Hingga suatu saat, aku berbincang dengan Ibu’ guna memberitahukan kalau anaknya ini sedang dekat dengan wanita nan jauh disana, ia pun kaget mungkin dalam benak beliau ia sangat keberatan dengan kedekatanku pada Sarah. Beliau pun menjelaskan alasan tidak menyetujui hubungan kami, setelah ku pikir masuk akal juga sih alasan Ibu’ kalau melihat kondisi keluarga yang cuma pas-pasan  dan aku tidak ingin beban beliau bertambah karena keinginanku.</p>
<p>Disinilah aku dilema harus bagaimana, <a title="&quot;pasrah...&quot;" href="http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/jangan-pernah-berkata-“andai-saja-jikalau-seumpama…”/" target="_blank">“pasrah….”</a> Hanya itu yang pertama kali terpikirkan. Setelah ku beri tahu tentang kegelisahanku, tampak sambil tertunduk lesu Sarah hanya diam seribu bahasa.</p>
<p>Setengah bulan berselang, kami melakukan perenungan guna mendapat solusi yang terbaik. Masihku ingat percakan terahir sore itu,</p>
<p>“mungkin Allah tidak mentakdirkan kita berjodoh Sarah….” Suara ku pelan,</p>
<p>“tapi mas….” Sarah tidak jadi meneruskan kata-katanya,</p>
<p>“Sarah… yakin sama takdir ya, kalau kita da jodoh suatu saat nanti Allah pasti akan menyatukan kita lagi..” ucapku sambil memalingkan wajah karena tidak tega melihat airmata yang terus menggenang di kelopak matanya.</p>
<p>Setelah terdiam cukup lama,</p>
<p>“baiklah mas, aku bisa ngerti kok… dan aku gak ingin egois menuntut kamu menuruti keinginanku..” katanya sambil terbata,</p>
<p>“makasih ya, udah membimbing aku selama ini… mungkin kalau aku tidak mengenalmu aku belum bisa menjaga auratku..”</p>
<p>Sambil menunduk aku serasa tidak mampu membalas kata-katanya.</p>
<p>“Sarah, apa yang kau rasai saat ini… aku juga merasakan hal yang sama”.</p>
<p><strong><em>Juga ada kisah lain dari seorang sahabat,</em></strong></p>
<p>Sebut saja namanya Asror, dalam pencarian jodohnya ia termasuk sebagai seorang yang gigih dan pantang menyerah. Meski banyak wanita yang memandang sebelah mata, karena kekurang sempurnaan dalam fisiknya. Tapi patut diacungi jempol, karena rasa minder seolah tidak ditemukan dalam kamusnya.</p>
<p>Diumurnya yang hampir 35 tahun ia belum juga mendapati tanda-tanda siapa jodohnya kelak, aku masih ingat perjuangannya. Waktu itu ia memintaku untuk mendekatkan pada seorang gadis, dan menanyakan apakah dia mahu menjadi calon isterinya. Tapi ternyata gadis itu tidak bersedia dengan alasan sudah ada yang punya.</p>
<p>Setelah ku sampaikan pada Asror meskipun sedikit kekecewaan terlihat diraut mukanya,</p>
<p>“ya, sudahlah… gak apa-apa, makasih ya atas bantuannya…”</p>
<p>“sampeyan terlambat kang…  aku yakin ceritanya beda kalau dia masih sendiri, tapi tenang aja masih banyak yang lain heheee…” aku coba menghibur.</p>
<p>Berselang beberapa bulan kemudian Asror datang lagi padaku,</p>
<p>“menurut mu bagaimana dengan gadis diujung desa itu, kira-kira sudah ada yang punya belum..?”</p>
<p>“kayaknya belum kang…” jawabku,</p>
<p>“tapi kalau saran saya jangan yang itu kang, ahlaknya kurang bagus..” Karuan saja Asror langsung kecewa, tapi setelah ku beri penjelasan dia pun menurut.</p>
<p>Ternyata penilaianku benar, selang beberapa hari kemudian gadis itu mendapati sebuah aib yang sangat memalukan buat keluarganya karena salah dalam pergaulan.</p>
<p>Bulan berganti  tahun, Asror masih terus melakukan pengembaraannya.Siang itu dia amat berbunga-bunga datang kepadaku, karena merasa sudah menemukan bakal calon istrinya, tentu saja aku ikut bahagia. Namun setelah sekian lama ia berhubungan lagi-lagi takdir berkata lain, ia dihianati oleh perempuan itu dan ditinggalkannya dalam suasana  hati yang terkantung-kantung tanpa kejelasan.</p>
<p>Hingga ahirnya petunjuk dari Allah datang, lewat seorang temannya Asror dikenalkan pada seorang gadis, setelah keduanya saling kenal nampaknya timbul kecocokan pada mereka. Dan hebatnya lagi gadis itu menerima segala kekurangannya. Setelah melalui proses yang sangat rumit keduanya pun siap sedia membawa hubungan mereka ke <a title="mahligai pernikahan" href="http://tanbihun.com/bebas/menikahlah-jangan-kau-umbar-nafsumu/" target="_blank">mahligai pernikahan</a>.</p>
<p><em>Semoga ada pelajaran yang bisa diambil dari kedua kisah ini.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>(Terinspirasi dari kisah nyata)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/ikhtiar-dan-pasrah-dalam-perihal-jodoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pahlawan Penebar Cinta</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/pahlawan-penebar-cinta/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/pahlawan-penebar-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Aug 2011 03:23:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Much. Ehwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen,Puisi & Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[isi hati]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=28689</guid>
		<description><![CDATA[Jam tepat menunjukkan pukul 23.00 WIB. Waktu sidang segera dimulai. Orang-orang menunggu dengan hormat atau letih. Sulit diterjemahkan. Mereka siap menunggu keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Keputusan bebas...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><a href="http://tanbihun.com/bebas/pahlawan-penebar-cinta/attachment/cnta/" rel="attachment wp-att-28696"><img class="alignleft size-medium wp-image-28696" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/cnta-300x203.jpg" alt="" width="300" height="203" /></a>Jam tepat menunjukkan pukul 23.00 WIB. Waktu sidang segera dimulai. Orang-orang menunggu dengan hormat atau letih. Sulit diterjemahkan. Mereka siap menunggu keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Keputusan bebas yang bersifat universal. Tidak seperti produk hukum yang dibuat DPR atau badan hukum yang hanya untuk kewenangan politik atau muatan lainnya. Hukum yang benar-benar menjadi keputusan pembawa maslahat. Hatiku berdegub kencang. Khawatir, bingung, dan waswas apa yang akan beliau laksanakan sebagai bentuk kebijaksanaan untuk semua pihak. Aku membayangkan andai beliau salah tunjuk, keliru memberi keputusan, atau khotho’ dalam berpikir, niscaya kepercayaan yang masyarakat bentuk akan luntur. Atau keyakinan yang selama ini tertancap dalam hati mereka akan pudar. Sambil terus merenung dan menuntun beliau untuk sampai ke meja tamu putra, aku terus memandang dan berpikir  keras kejadian apa yang akan terjadi nanti. Dalam hati ku terus berdo’a, “<em>Ya Rabb ! Andaikan Engkau akan memberikan yang terbaik kepada beliau, tolong berilah beliau ilham yang dapat membuatnya bijaksana</em>”.</p>
<p style="text-align: justify">“<em>Ada apa mas?</em>”, aku memulai pembicaraan dengan membukakan pintu yang di belakangnya muncul dua pemuda “<em>Preman</em>” dengan gagah. Keduanya membawa seorang lagi. Ia tampak sedih. Bermuka durja. Seperti kelihatan penuh penyesalan. Aku melihatnya dengan penuh iba. Seakan ia ingin menerjemahkan duka di atas kesedihan dan nestapa yang berkepanjangan. Kedua pemuda itu mencangkingnya dengan kegaraman. Mata keduanya seakan jijik. Ekspresi wajah mereka kelihatan garang. Aku sulit menerjemahkan tatapan-tatapan asing yang terselimut dalam diri dan muka-muka mereka. Aku tanya apa dan bagaimana maksud kedatangan mereka di tengah malam seperti ini? Malam yang setahuku adalah waktu istirahat atau belajar malam. Dan memang begitulah kebiasaan beliau di tengah malam. Antara belajar, wiridan, atau bermunajat kepada Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify">“<em>Gini mas, kami dari perwakilan pemuda-pemuda kampung. Maksud kedatangan kami adalah untuk meminta keputusan dan kebijaksanaan Mbah Yai. Kami mencurigai seseorang yang mau mendongkel rumah teman kami. Kami lihat dia mencongkel jendela dan mencoba masuk. Dan al-hamdulillah, dia tertangkap basah. Sebenarnya massa ingin mengeroyok dan memukulinya. Namun, sebagian kami menawarkan penghukuman kepada Mbah Yai. Maka kami meminta kebijaksanaan beliau”, begitu kata-kata yang keluar dari lelaki gagah yang memperkenalkan dirinya, sebut saja Ahmad. “Oh, gitu! Sebentar saya tak matur dulu!</em>”, sahut saya dengan penuh kekhawatiran dan bimbang dalam penanganannya.</p>
<p style="text-align: justify">#      #    #</p>
<p style="text-align: justify">“<em>Gini mas !!!</em>”, beliau mulai menjawab permintaan mereka. Wibawa beliau muncul. Semua preman di hadapan beliau tertunduk dengan hormat. Menunggu keputusan yang akan beliau ucapkan. “<em>Secara hukum syara’, saya hanya berhak memberikan keputusan secara lahir. Untuk fakta dan realitasnya wallahu a’lam. Sebaiknya setelah njenengan-njenengan sedoyo dari sini, silahkan melapor kepada pihak yang berwajib juga</em>” pembukaan beliau membuatku sedikit lega. Sebuah mukadimah jawaban yang memang tepat menurutku. Sebab tidak semua keputusan yang diberikan seorang Kyai kepada terdakwa itu bersifat absolut kebenarannya. Ada lingkup terbatas yang tidak bisa ditangani kaum santri dan Kyai. Dan kita meski menyadari hal ini. Aku menjadi teringat kisah Nabi saw saat bertanya perkebunan kurma para sahabat di Madinah. Beliau menganjurkan untuk tidak mengawinkan antar kurma. Menurut Nabi saw kurma waktu itu sebaiknya dibiarkan saja. Dan para sahabat mengikuti petuah yang beliau isyaratkan. Namun, predikisi Nabi saw meleset. Ternyata semua kurma yang tidak dikawinkan mati tidak berkembang. Jatah waktu pernikahan yang semestinya dilakasanakan membuat sumbang semua harta kurma. Dan saat para sahabat mengadu kepada Nabi saw mengenai tragedi mengenaskan tersebut, dengan penuh kebijaksanaan beliau menjawab, “<em>antum a’lamu bi umûri dunyâkum (kalian lebih tahu urusan dunia kalian)</em>”. Inilah legitimasi yang dibuat Nabi saw. Beliau tidak menyalahkan para sahabat. Bahkan beliau memberikan konfirmasi penuh pengalihan kuasa tentang dunia kepada para sahabat selama hal itu menimbulkan sebuah maslahat.</p>
<p style="text-align: justify">Berbicara maslahat (kebaikan yang menjadi efek samping), berarti membicarakan sesuatu yang sulit ditebak. Hal yang perlu ijtihad dan konsentrasi penuh dalam pembicaraannya. Sesuatu yang akan menimbulkan kontroversial. Aku menjadi berpikir, akankah keputusan Abah nanti harus menjadi penyebab terpecahnya umat? Atau sebaliknya, dapat menyelesaikan keadaan yang rumit ini? Atau hanya memberikan konsentrasi dan penekanan sedikit yang tidak berarti apa-apa. Sudahlah biarkan waktu dan kenyataan yang menjawab kebenarannya.</p>
<p style="text-align: justify">#      #    #</p>
<p style="text-align: justify">Abah masuk ke rumah. Beliau mengambil mushaf kalam suci. Diambilnya penuh takdzim. Dengan penuh wibawa beliau berkata, “<em>Suruh terdakwa maling ini untuk baca syahadat, solawat, dan bersumpah di bawah persaksian kalam yang suci. Andai dia berbohong, niscaya dia akan melarat selamanya. Dan jika dia berani bersumpah nanti, tolong diklarifikasi lagi ke kantor polisi untuk diadili secara hukum Indonesia</em>”. Kemudian pria cangkring, hitam pekat, yang hanya mengenakan kaos dengan warna hitam itu maju ke depan dibimbing Abah membaca syahadat dan salawat. Kemudian beliau menuntunnya untuk mengucapkan sumpah:</p>
<p style="text-align: justify"><em><strong>Demi Allah! Demi Kitab Allah yang suci. Saya bersaksi dan mengakui bahwa saya tidak mencuri atau berniat mengambil harta orang desa Talun RT 02 RW 02 ini. Saya berani menanggung akibatnya jika saya telah berdusta.</strong></em></p>
<p style="text-align: justify">Sumpah itu diucapkan oleh terdakwa pencuri dengan lantang dan tegas. Tidak ada sedikit keraguan tersimpan dalam kata-katanya. Aku juga sulit mengartikan kesalahan pada wajahnya yang polos itu. “<em>Begini mas! Menurut aturan fikih ajaran kita, orang ini telah terbebas dari tuduhan pencurian. Dia dianggap suci tidak sesuai dengan dugaan saudara. Tapi ingat! Sebaiknya juga diklarifikasikan dulu ke pihak berwajib</em>”, Abah mulai memecahkan heningnya suasana. Lega aku mendengarnya. Bagaimanapun juga beliau adalah benar. Dengan keadaan dan penegasan seperti tadi tidak berarti secara hakiki dia terbebas dari tuduhan.</p>
<p style="text-align: justify">Sungguh arif keputusan yang beliau sampaikan. Aku sempat berpikir keras sebelumnya, tentang jawaban bagaimana yang sekira tepat dan sesuai dengan permintaan mereka. Sebab inilah hakikat dilema yang dihadapi penghukum. Jika dia membenarkan penduga atau penuntut hukum, padahal kenyataannya terdakwa bukanlah pencuri sebenarnya, maka bisa fatal akibatnya. Sang terdakwa bisa marah dan mengeluarkan temannya bersama menggrebek kami suatu malam nanti. Dan jika terdakwa itu dibenarkan secara mutlak, maka para penuntut hukum tidak akan menerima kenyataan dan sebaliknya, kami juga yang menjadi incaran bulanan-bulanan mereka. Atau hanya diam tanpa mengambil sikap, maka tercemar nama Abah, karena dianggap sebagai Kyai yang tidak berprinsip yang bisa diambil manfaat dan fatwanya. Sempat dilema. Namun terjawab dengan sehat oleh beliau, tanpa mengurangi martabat, kejujuran, menambah kesedihan atau kedengkian antar sesama. Alangkah indah dan bijaksana keputusan beliau. Tidak jauh dan berlebih jika kita memberikan predikat beliau dengan sebutan, “<em>Pahlawan Penebar Cinta</em>”. Bukan kedengkian dan kejanggalan antar sesama.</p>
<p style="text-align: justify">Oleh: Ust. MA. Zuhurul Fuqohak</p>
<p style="text-align: justify">Disadur dari Bulletin Kinaweruhan Edisi 4 Pondok Pesantren Miftahul Ulum Pati</p>
<p style="text-align: justify"><a href="http://ponpestalun.blogspot.com/2011/08/bulletin-kinaweruhan-edisi-4.html">DOWNLOAD BULLETIN</a></p>
<p style="text-align: justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/pahlawan-penebar-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Idul Fitri 1432 H</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/isi-hati/selamat-idul-fitri-1432-h/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/isi-hati/selamat-idul-fitri-1432-h/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 12:16:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[isi hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ucapan Lebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=28648</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Seluruh Keluarga Besar Tanbihun Online mengucapkan : جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ ”Semoga Allah menjadikan kita dan anda sekalian bagian dari orang-orang yang...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/lebaran1.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-28650" title="lebaran" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/lebaran1.jpeg" alt="" width="300" height="200" /></a>Tanbihun</strong> &#8211; Seluruh Keluarga Besar <a href="http://tanbihun.com" target="_blank">Tanbihun Online</a> mengucapkan :</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Arial; font-size: 200%;"><br />
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ</span></p>
<h3 style="text-align: center;"><span style="color: #008000;">”Semoga Allah menjadikan kita dan anda sekalian bagian dari orang-orang yang kembali (fitrah) dan oarng-orang yang beruntung, semoga Allah menerima ibadah dari kita dan anda sekalian. “</span><br />
<span style="color: #008000;"> Mohon maaf lahir dan batin.</span></h3>
<h2><span style="color: #008080;">TaqabbalAllohu minnaa wa minkum.</span></h2>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/isi-hati/selamat-idul-fitri-1432-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

