<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tanbihun Online &#187; Fikih</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/category/fikih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 05:53:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Kewajiban Mencari Ilmu Ushuluddin, Fiqih dan Tasawuf</title>
		<link>http://tanbihun.com/fikih/kewajiban-mencari-ilmu-ushuluddin-fiqih-dan-tasawuf/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/fikih/kewajiban-mencari-ilmu-ushuluddin-fiqih-dan-tasawuf/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 23:34:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=39175</guid>
		<description><![CDATA[MASALAH KE DUAPULUH DELAPAN KEWAJIBAN MENCARI ILMU USHUL, FIQIH &#38; TASAWUF TANBIHUN! Hendaknya janganlah berhenti hanya berbicara tentang hukum orang menyembelih halal dan haram, tetapi wajib segera diketahui masalah-masalah lahir...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;" align="center"><strong>MASALAH KE DUAPULUH DELAPAN</strong><br />
<strong> KEWAJIBAN MENCARI ILMU USHUL, FIQIH &amp; TASAWUF</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TANBIHUN!</strong> Hendaknya janganlah berhenti hanya berbicara tentang hukum orang menyembelih halal dan haram, tetapi wajib segera diketahui masalah-masalah lahir bathin, halal dan haram hukum syariat, ilmu Ushuluddin, Fiqih dan Tasawuf yang sudah ada dalam ilmu syara’ yang tertulis dalam Nadhoman tarjamah .”</p>
<p style="text-align: justify;">Wajib ‘ain atas setiap orang mukalaf menghias dhahir dan bathin dirinya dengan ilmu agama seperti kata ulama dalam bait syair:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">فزين الظاهر والبواطن . بكل علم ظاهر وباطن.</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>“Maka hiasilah dirimu pada prilaku lahir dan perilaku bathin dengan tiap ilmu dhahir dan ilmu bathin.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<h3 style="text-align: justify;">Kitab-Kitab Ushuluddin, Fiqih dan Tasawuf</h3>
<p style="text-align: justify;">Ilmu dhahir ialah ilmu Fiqih, yaitu ilmu untuk mengetahui hukum dalam sahnya ibadah (dan mualamah). Ilmu fiqih digunakan untuk menghiasi  badan lahiriyah. Dan ilmu bathin, Ushuliddin bicara sah iman dan I’tiqad (Ahlis Sunnah). Dan ilmu Tasawuf bicara thariqat (jalan) kepada Allah dengan ikhlas. Ketiga ilmu tersebut wajib di tuntut dan diamalkan segera. Hendaknya luaskanlah  pengetahuan syariat ilmu tiga perkara. Lihat lah dalam kitab nadzam <em><strong>Husnul Mithalab</strong> (Husnul Mathalib)</em> 12 koras (240 halaman) atau <strong>Ri’ayatal Himmah</strong> 25 koras (500 hala-man), nadzam <em><strong>Asnal Miqashad</strong> (Asnal Maqashid)</em> 30 koras (600 halaman) dan <strong><em>Abyanal Hawaij</em></strong> 82 koras (1640 halaman) dan apabila akan melihat dalam bab Nikah, maka lihatlah dalam nadzam <strong><em>Tabjinal Islah</em></strong> II koras (220 halaman), terdiri dari dua Bab dan 20 Pashal. Kalau akan mengetahui dalam muamalah Bai’ dan lainnya yang relevan, lihatlah dalam nadzam <strong><em>Tasyrihatal Muhtaj</em></strong> 10 koras (200 halaman) 26 Fashal. Setelah itu jika ingin mengetahui ilmu sya-riat Tajwidal Qur’an, maka lihatlah nadzam <strong><em>Tahsinah</em></strong>, 5 koras (100 halaman) dan 10 Fashal.”</p>
<p>Oleh: <strong>KH. Ahmad Syadzirin Amin</strong></p>
<p>Sumber: <strong>Kitab Tadzkiyah, Syaikh Ahmad Rifa’i</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/fikih/kewajiban-mencari-ilmu-ushuluddin-fiqih-dan-tasawuf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kewajiban Mencari Guru Dan Syarat Sah Guru</title>
		<link>http://tanbihun.com/fikih/kewajiban-mencari-guru-dan-syarat-sah-guru/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/fikih/kewajiban-mencari-guru-dan-syarat-sah-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 18:44:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Tadzkiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=38635</guid>
		<description><![CDATA[MASALAH KE DUAPULUH TUJUH KEWAJIBAN MENCARI SEORANG GURU Tanbihun- Umat manusia yang hidup pada masa periode Al Qur’an diturunkan, memperoleh keputusan hukum Allah Ta’ala langsung dari ucapan, perbuatan serta taqrir...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;" align="center"><strong>MASALAH KE DUAPULUH TUJUH<a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/12/habib_umar_habib_munzir.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-38636" title="habib_umar_habib_munzir" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/12/habib_umar_habib_munzir-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a></strong></p>
<p style="text-align: right;" align="center"><strong>KEWAJIBAN MENCARI SEORANG GURU</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong>- Umat manusia yang hidup pada masa periode Al Qur’an diturunkan, memperoleh keputusan hukum Allah <em>Ta’ala</em> langsung dari ucapan, perbuatan serta taqrir Rasulullah, umat pada masa periode Khulafaur Rasyidin mendapatkan legitimasi hukum dari para sahabat, terutama Abubakar Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan yang lain. Adapun umat pada masa periode selanjutnya mendapat fatwa hukum dari para ulama Mujtahid.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk umat sekarang, sudah tidak lagi memperoleh kepastian hukum langsung dari Nabi atau Khulafaur Rasyidin dan para Mujtahidin. Yang ada sekarang ini tinggal para ulama yang berfungsi sebagai pewaris Nabi dan pelanjut Risalah. Mereka mendapat warisan ilmu agama dari Rasulullah dan di perintah menyampaikan kepada umat yang hidup pada periode sekarang dan menda-tang. Ulama punya kewajiban menerangkan hukum secara benar dan kontinu kepada semua umat manusia. Demikian juga bagi ummat Islam berkewajiban mempelajari hukum-hukum Islam melalui para ulama yang bersumber dari Al Qur’an Al Karim dan Al Hadits, agar umat manusia memperoleh kesenangan serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Demikian pula seterusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kewajiban seseorang mukalaf mencari seorang Syaikh atau guru yang pandai dalam soal agama dan dapat dipercaya kebenar-annya, telah disebutkan dalam akhir kitab Tadzkiyah sebagai berikut:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">طلب الشيخ فى الطريق إلى الله واجب على كل مكلف ولو كان من أكابر العلماء إن لم يعلم فى الطريق إلى الله .</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>            “Bahwa mencari seorang guru alim adil memberitahukan sebenarnya jalan kepada Allah itu wajib atas setiap orang mukalaf yang bodoh, meskipun ada baginya sebagian dari besarnya ulama, jika tidak tahu didalam jalan makrifat kepada Allah itu wajib hajat kepada alim adil mengambil fatwahnya.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt berfirman:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">وماأرسلنا من رسول إلا بلسان قومه ليبين لهم فيضل من</h2>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">يشاء ويهدى من يشاء وهو العزيز الحكيم (الأنبياء :7)</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>            “Kami tidak mengutus rasul-rasul sebe-lum kamu (Muhammad) melainkan beberapa orang laki-laki; yang kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (Al Anbiya’:7)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<h3 style="text-align: justify;">Syarat Sah Guru</h3>
<p style="text-align: justify;">Syarat sah orang yang dijadikan guru (syaikh) secara ringkas ada dua:<strong> Pertama</strong>, orang yang pandai dalam bidang hukum syara’ yaitu pandai mengajar hukum syara’ secara tuntas, terutama dalam bidang ilmu ushuluddin, ilmu fiqih dan ilmu tasawuf (akhlaq), sehingga dapat untuk membenar kan iman dan ibadah serta muamalah. Sekira orang yang mengikuti tidak berdosa. <strong>Kedua</strong>, orang yang adil riwayat (terpercaya terhdap hukum yang disampaikan), tidak melanggar salah satu dosa besar dan tidak mengekal kan salah satu dosa haram kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang disebut <em>Adil Riwayat</em> itu kumpul empat perkara, (<strong>1</strong>) Islam (<strong>2</strong>) Aqil (<strong>3</strong>) Baligh dan (<strong>4</strong>) tidak fasiq. Mengikuti kepada ulama yang adil dikatakan sebagai orang yang ber <em>I’timad</em> percaya kepada guru segala apa yang disampaikan oleh gurunya tanpa mengetahui dalil-dalil atau mujtahid yang bersangkutan. Jika mengetahui langsung atas pendapat para imam mujtahid dan ia memilih lalu mengikutinya, itu disebut sebagai <em>Muqallid</em> (orang yang bertaqlid) kepada ulama imam mujtahid. Mengenai <em>I’timad </em>ini dijelaskan sebagai berikut:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">يلزم محتجان استفتاء عالم عادل عرف أهليته ثم إن وجد مفتيين فإن كان أحدهما أعلم تعبن تقديمه.</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>“Wajib orang berhajat benar mengambil fatwanya alim adil yang sudah diketahui ahli pengajar ilmu syariat dengan cukup. Maka kemudian apabila ia dapati dua Mufti (yang berbeda), maka yang seperti itu dibicara.    Apa bila ada salah satunya lebih banyak pengetahuan ilmu syariat, tentu wajibnya mendahulukan segera mengikuti Mufti yang lebih banyak pengetahuan ilmu syariatnya”.</em></p>
<p style="text-align: justify;"> Apabila terdapat dua orang <em>Mufti</em> itu telah menyusun kitab fatwa, yang satu berisi ilmu agama secara lengkap mencukupi un-tuk beriman dan beribadah sahihah sedang yang lain hanya berisi sebagian saja, maka yang wajib didahulukan, adalah kitab mufti yang pertama. Mufti ialah seorang alim yang berlaku benar dan ahli melaksanakan perin-tah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik pada diri sendiri, keluarga dan masyarakat.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Muqallid Dapat Memilih Salah Satu Mazhab</h3>
<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan <em>i’timad</em>, ialah orang yang taklid (<em>Muqallid)</em> dapat mengamalkan memilih salah satu pendapat ulama mujtahid yang dikehendaki. Adalah keterangan ulama yang dikemukakan oleh Syaikh H. Ahmad Rifa’i di dalam karangannya <em>Abyanal Hawaij</em> juz IV halaman 858 sebagai berikut:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">فلواختلف جواب المجتهدين فالأصح أن للمقلد أن يتخير بقول من شاء منها.</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>            “Maka apabila berbeda jawabnya para ulama mujtahid, maka qaul Ashah: Sesungguh nya bagi orang taklid sah boleh ikut qaulnya ulama, maka beramal dengan qaul mujtahid apa yang ia kehendaki mengikuti salah satu ulama mujtahid.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pengertian i’timad dan <span style="text-decoration: underline;"><em>taqlid dalam bidang Furu’iddin</em></span> (cabang agama) mempunyai fungsi dan jalur masing-masing. I’timad untuk dasar pegangan kaum awam (bodoh), sedang taqlid untuk dasar pegangan kaum alim yang belum mampu berijtihad.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Ulama Sebagai Pemimpin Umat</h3>
<p style="text-align: justify;"> Seperti disebutkan diatas seseorang dapat memperoleh berita kebenaran ajaran Islam melalui tangan para ulama (cendekiawan muslim), sebab mereka adalah para pemimpin, pengayom dan pembina umat. Para ulama telah siap mengorbankan segala yang ada untuk perjuangan menegakkan agama di bumi ini, tidak lain karena terpanggil oleh rasa tanggung jawab terhadap agama dan masyarakat. Ulama adalah sebagai tempat bertanya segenap masyarakat, sehingga per-lu menempatkan ulama dalam kelas yang lebih tinggi dibanding dengan lainnya</p>
<p style="text-align: justify;">Sehubungan dengan itu Syaikh menjelaskan: Apabila terdapat seorang Alim Adil menyalahi dari para alim fasiq, maka wajib beri’timad kepada sorang Alim Adil. Apabila tertdapat beberapa orang alim adil yang masih kurang pengajarannya sekedar kebu-tuhan orang awam di dalam sahnya iman dan ibadah, sedangkan orang Alim Adil yang satu cukup pengajarannya dalam sah iman dan ibadah, maka wajiblah mukalaf beri’timad kepada seorang Alim Adil sekalipun berbeda dengan yang lain itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika seumpama ada salah satu tempat, semua orang alimnya sama-sama bersifat fasiq, yang berbeda hanya kadar banyak dan sedikit kefasiqannya, maka wajiblah muka-laf beri’timad kepada orang alim yang sedi-kit fasiqnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh H. Ahmad Rifa’i menerapkan kalimat ‘<em>seumpama’</em>  ini dimaksudkan agar tidak terjadi hal-hal yang seperti itu, karena walaupun seorang fasiq dapat dijadikan panutan, namun masih juga dikhawatirkan akan terjadi kemerosotan di bidang agama, karena sifat fasiq itu pada ghalibnya akan menyeret manusia ke dalam sifat nifaq dan pelakunya menjadi munafiq yang apabila di biarkan, lambat laun akan kemungkinan be-sar menjadi kufur. Maka selanjutnya beliau mengantarkan beberapa ayat-ayat Al Qur’an sebagai peringatan:</p>
<p style="text-align: justify;">Firman Allah dalam Al Qur’an:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">وعد الله لا يخلف الله وعده ولكن أكثر الناس لا يعلمون . يعلمون ظاهرا من الحيوة الدنيا وهم عن الأخرة هم عافلون . أولم يتفكروا فى أنفسهم ماخلق الله السموات والأرض وما بينهما إلا بالحق وأجل مسمى وإن كثيرا من الناس بلقاءى ربهم لكافرون (ألروم: 7-</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>(“Mengimankan mukmin) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia. Sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. Dan mereka mengapa tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka. Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya. Melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhan-Nya.” (Ar Ruum: 7-8).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Firman Allah swt.:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">وأنيبوا إلى ربكم واسلموا له من قبل أن يأتيكم العذاب ثم لا تنصرون . واتبعوا أحسن ما انزل إليكم من ربكم من قبل أن يأتيكم العذاب بغتة وأنتم لا تشعرون (ألزمر: 54-55).</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan kembalilah (bertaubatlkah) kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada -Nya, sebelum datang azab kepadamu kemu-dian kamu tidak dapat di tolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu den-an tiba-tiba sedang kamu tidak menyadarinya.” (Az Zumar: 54-55)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Firman Allah dalam Al Qur’an:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">فما تنفعهم شفاعة الشافعين . فمالهم عن التذ كرة معرضين . كأنهم حمر مستنفرة . فرت من قسورة (المدثر: 48-51)ز</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat (Nabi, Rasul, Wali dan Ulama). Maka mengapa mereka (orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah). Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut. Lari daripada singa.” ( Al Muddatsir: 48-49-50-51).</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Firman Allah di dalam Al Qur’an:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">وعد الله المنافقين والمنافقات والكفار جهنم خالدين فيها هى حسبهم ولعنهم الله ولهم عذاب مقيم (التوبة : 68).</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>“Allah mengancam orang-orang muna-fiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka jahannam. Mereka kekal didalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka siksa yang kekal.” (At Taubah: 68)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Sabda Rasulullah saw.:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">تكون فتن يصبح الرجل فيها مؤمنا ويمسي كافرا الا من أحياه الله بالعلم (رواه إبن ماجه والطبرانى).</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>“Ada fitnahnya zaman, dimana pagi-pagi seorang beriman, di dalam zaman itu mukmin dan sore-sore menjadi kafir, kecuali orang yang sudah menghidupkan Allah pada-nya dengan ilmu agama.” (Ibnu Maajah, dan Thabrani dalam jani’us Shaghir: 172 dengan isnad Shahih).</em></p>
<p>Oleh: <strong>KH. Ahmad Syadzirin Amin</strong></p>
<p>Sumber: <strong>Kitab Tadzkiyah, Syaikh Ahmad Rifa’i</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/fikih/kewajiban-mencari-guru-dan-syarat-sah-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>19 Peringatan (Tanbih) KH.Ahmad Rifa&#8217;i Untuk Murid-muridnya</title>
		<link>http://tanbihun.com/fikih/19-peringatan-tanbih-kh-ahmad-rifai-untuk-murid-muridnya/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/fikih/19-peringatan-tanbih-kh-ahmad-rifai-untuk-murid-muridnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 21:56:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Tadzkiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=38302</guid>
		<description><![CDATA[MASALAH KE DUAPULUH ENAM SEBAGIAN TATACARA MENUNTUT ILMU SYARA’ Tanbihun- Syaikhina Kh. Ahmad Rifa&#8217;i  telah membahas beberapa masalah, tidak hanya masalah menyembelih (zakiyah), melainkan juga membahas masalah makanan yang dimakan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;" align="center"><strong>MASALAH KE DUAPULUH ENAM</strong></p>
<p style="text-align: right;" align="center"><strong>SEBAGIAN TATACARA MENUNTUT ILMU SYARA’</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong>- Syaikhina Kh. Ahmad Rifa&#8217;i  telah membahas beberapa masalah, tidak hanya masalah menyembelih (<em>zakiyah</em>), melainkan juga membahas masalah makanan yang dimakan <em>(ath’imah)</em> baik yang boleh halal ataupun yang haram bermaksud agar para murid, santri dan masyarakat dapat mempratikan masalah-masalah tersebut dengan sebenarnya sesuai hukum syariat Islam, sehingga manfaat dunia dan akhirat. Untuk itu sebelum kitab <em>Tadzkiyah</em> ini berakhir, ia memandang perlu disisipkan kata mutiara sebagai wahana murid dan santri untuk memperoleh hasil maksimal dalam menuntut ilmu agama. pada masalah mendekati akhir ini dikemukakan oleh beliau tentang nasihat bagi pencari ilmu, agar bertujuan hanya kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan berguru kepada orang alim dan adil.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TANBIHUN!!!!</strong>. Hendaknya para murid dan santri tergugah dengan peringatan ini agar selamat di dunia dan akhirat, yaitu:</p>
<p>1.  Orang belajar ilmu hendaknya cenderung kepada kebenaran haqiqi</p>
<p>2.  Berlindung kepada Allah memohon perto-longan dari keburukan hati,</p>
<p>3.  Mengetahui hukum halal dan haram</p>
<p>4.  Hasil maksud ilmu syara’ yang dipikirkan di dalam sah iman dan ibadah,</p>
<p>5.  Mensaksikan semua syarat dan iman dan ibadah itu kepada alim adil,</p>
<p>6.  Bercita-cita pada benarnya riyadhat bera-mal menurut jalan syara’,</p>
<p>7.  Riyadlat kepada Nabi dan Rasul Muham-mad dan mengikuti fatwa alim adil,</p>
<p>8.  Hati bergantung kepada keagungan rah-mat dan anugerah Allah,</p>
<p>9.  Tidak diperkenankan riyadlat(melatih diri) mengikuti adat maksiat,</p>
<p style="text-align: justify;">10. Riyadlat (melatih diri/belajar) ibadah yang benar mencari sah benar manfaat akhirat itu sabar dalam sukarnya mencari ilmu tentang rukun dan syarat, belajar Fatihah dan Tahiyat</p>
<p style="text-align: justify;">11. Riyadlat mendapatkan perilaku keadilan,</p>
<p style="text-align: justify;">12.Riyadlat menjauhi dari tiap majelis  yang haram,</p>
<p style="text-align: justify;">13.Melaksanakan amar ma&#8217;ruf dan nahi munkar (dakwah Islam),</p>
<p style="text-align: justify;">14.Mengajar dan membina orang awam dengan sekedar kemampuan yang ada,</p>
<p style="text-align: justify;">15.Mencegah (mengantisipasi) orang yang berbuat bid’ah dlalalah,</p>
<p style="text-align: justify;">16.Tidak dibenarkan riyadlat mengurangi tidur, makan dan minum jika mengakhir kan fardlu mudlayaq,</p>
<p style="text-align: justify;">17.Syahadat ibadah hendaknya riyadlat cukup rukun dan syarat,</p>
<p style="text-align: justify;">18.Hendaknya tidak takut mesyakat(berat) dalam riyadlat memenuhi rukun syarat,</p>
<p style="text-align: justify;">19.Wajib mukalaf memperbaiki niat didalam menuntut ilmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ulama mengatakan dalam salah satu bait syair:</p>
<h2 style="text-align: left;" dir="RTL">وطهرالقلب وصحح النية * وابتغ بالأسباب لاالأ منية</h2>
<p style="text-align: justify;"><em> Dan sucinkanlah hati Anda, mencari ilmu syara’ bertujuan karena Allah saja, Bersihkan diri Anda jangan sampai terkotor haram riya. Kotoran hati, hendaknya dibersihkan . dan sahkan niat hati Anda karena Allah semata, agar manfaat akhirat, berlindung kepada Allah dari bid’ah dlalalah, bergantung kepada rahmat dan anugerah Allah semata. Dan berkehendaklah Anda dengan melaksanakan segala sebab yang baik. Tidak akan berhasil hanya berangan-angan belaka tanpa adanya tindakan nyata, tetapi wajib bekerja dan ikhlas karena Allah jua.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em></em><strong>Mencari ilmu yang ikhlas karena Allah oleh mualif <em>Ta’limul Muta’allim</em> disebutkan: Dan bagi penuntut ilmu itu hendaknya:</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Bertujuan mencari keridlaan Allah <em>Ta’ala</em> Semata,</li>
<li>Bertujuan menghilangkan kebodohan di-rinya dan orang lain,</li>
<li>Bertujuan menghidupkan syiar agama Allah (Islam),</li>
<li>Bertujuan memperoleh kebahagiaan akhi-rat dan jalan menuju ke sorga,</li>
<li>Bertujuan melestarikan agama karena kelestarian agama itu dengan ilmu.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Firman Allah swt:</p>
<h2 style="text-align: left;" dir="RTL">وأتيناه من كل شيىء سببا * فأتبع سببا (الكهف : 84-85).</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>            “Dan kami telah memberikan kepada-nya jalan untuk mencapai segala sesuatu sebab, maka diapun menempuh suatu sebab jalan.” (Al Kahfi: 84-85).</em></p>
<p>Oleh: <strong>KH. Ahmad Syadzirin Amin</strong></p>
<p>Sumber: <strong>Kitab Tadzkiyah, Syaikh Ahmad Rifa’i</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/fikih/19-peringatan-tanbih-kh-ahmad-rifai-untuk-murid-muridnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ghashab(Menjarah) Binatang Atau Tanah Untuk Didirikan Bangunan Atau Tanaman</title>
		<link>http://tanbihun.com/fikih/ghashabmenjarah-binatang-atau-tanah-untuk-didirikan-bangunan-atau-tanaman/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/fikih/ghashabmenjarah-binatang-atau-tanah-untuk-didirikan-bangunan-atau-tanaman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 20:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Definisi Ghashab]]></category>
		<category><![CDATA[Huku Ghashab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=36893</guid>
		<description><![CDATA[MASALAH KE DUAPULUH DUA HUKUM MENJARAH BINATANG KERBAU BETINA Tanbihun- Orang yang menjarah binatang kerbau betina kemudian anak beranak lebih banyak jumlahnya, seluruh anak binatang tersebut tidak menjadi hak milik...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;" align="center"><strong>MASALAH KE DUAPULUH DUA</strong><br />
<strong> HUKUM MENJARAH BINATANG KERBAU BETINA</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tanbihun- Orang yang menjarah binatang kerbau betina kemudian anak beranak lebih banyak jumlahnya, seluruh anak binatang tersebut tidak menjadi hak milik penjarah melainkan masih tetap hak miliknya orang aslinya yang punya kerbau itu. Ia tidak mendapat bagian biaya perawatan. Jelas ia tidak punya hak menuntut uang bayaran ganti perawatan bagi orang yang ghashab. Sudah jelas pula bagi orang ghashab haram, di dunia kena azab dan di akhirat kena ancaman siksa.”</p>
<p style="text-align: justify;" align="center"><strong>MASALAH KE DUAPULUH TIGA</strong><br />
<strong> MENJARAH TANAH DIDIRIKAN BANGUNAN</strong> <strong>ATAU TANAMAN</strong></p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">ولوغصب أرضا وبنى فيها أوغرس أوزرع فللمالك إجبارها على القلع وإن لم يقلع قلع المالك عايه (كمافى نهاية المحتاج : 5/72).</h2>
<p style="text-align: justify;"><em> Dan apabila ghasab seseorang pada tanah dan didirikan diatasnya suatu bangunan atau ditanami pepohonan, atau ditanami tana-man padi, maka hendaknya pemilik tanah itu memaksa atas perintah memindahkan bangu-nan atau mencabut tanaman. Dan jika jelas tidak mau, maka ber</em><em>-</em><em>haklah pemilik tanah itu memindahkan atau mencabutinya.</em><em></em></p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">ولو غصب أرضا وبنى فيها دارا من ترابها لزمه اجرة الدار وان كان من غير ترابها لزمه اجرة العرصة (القليوب: 3/23).</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan apabila ghashab seseorang pada tanah milik orang lain, dan didirikan di dalam nya itu bangunan rumah dari tanah tersebut, maka tetap kewajiban orang itu membayar sewanya rumah (tanah-rumah), dan apabila mendirikan rumah itu bukan dari hasil tanah tersebut, maka ia ketetapan membayar sewa-nya hanya karena awang-awang. Ada juga uj-rat pembayaran sewanya itu dikurangi.</em><em></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em></em>Termasuk ghashab pula orang yang mengambil barang milik orang lain, permohonan izin tidak dilakukan. Itu haram sebab tidak tahu relanya pemilik barang. Tetapi ketahuilah dalam ketentuan syariat, bahwa ada perbedaan cara antara mukmin yang jujur dan mukmin yang <em>ngawur</em>. Terdapat hukum halal mengambil harta milik orang lain dengan jalan dhani di dalam hati.</p>
<p><strong>MASALAH KE DUAPULUH EMPAT</strong><br />
<strong> HALAL MENGAMBIL MILIK DENGAN DHANNI</strong></p>
<p>Bahwa boleh dan halal bagi seorang manusia mengambil harta milik orang lain  yang menyangka atau menduga atas kerelaan pemiliknya untuk diambil sebagian dari hartanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MASALAH KE DUAPULUH LIMA</strong><br />
<strong> DZAN TIDAK DIHARUSKAN PENGGANTI</strong></p>
<p>Bahwa karena sesungguhnya ulama-ulama. ketika membolehkan mengambil barang milik orang lain dengan mengetahui ridhanya pemilik barang atau dhan secara cuma-cuma  tanpa adanya ganti rugi, maka sesungguhnya dibolehkannya mengambil barang orang lain ketika terdapat gantinya tersebut adalah “Aula” lebih halal. Karena sesungguhnya berputar nya masalah itu tidak terdapat atas ganti, dan tidak terdapat pula tidak adanya ganti itu, tetapi atas dasar bab dhan. Maka sekiranya terdapat perbuatan itu dengan dhanur ridha. Dan ketika itu tidak ada pengambilannya barang tersebut wenang, halal atas dasar dari bab jual beli karena uzur tidak terdapat bai’ yang benar, tetapi dari bab dhanur ridha.</p>
<p>Oleh: <strong>KH. Ahmad Syadzirin Amin</strong></p>
<p>Sumber: <strong>Kitab Tadzkiyah, Syaikh Ahmad Rifa’i</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/fikih/ghashabmenjarah-binatang-atau-tanah-untuk-didirikan-bangunan-atau-tanaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>11 Syarat Untuk Mengambil Milik Orang Lain Berdasarkan Dhan(Praduga)</title>
		<link>http://tanbihun.com/fikih/11-syarat-untuk-mengambil-milik-orang-lain-berdasarkan-dhanpraduga/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/fikih/11-syarat-untuk-mengambil-milik-orang-lain-berdasarkan-dhanpraduga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 04:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Tadzkiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=35286</guid>
		<description><![CDATA[MASALAH KE DUAPULUH SATU MENJARAH BINATANG DAN KENDARAAN TANBIHUN- Apabila seorang ghashab binatang kendaraan, misalnya kuda, perahu atau sejenisnya, diketahui sering dimuati untuk berdagang, maka keuntungannya adalah halal, karena modal...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><strong>MASALAH KE DUAPULUH SATU</strong><br />
<strong> MENJARAH BINATANG DAN KENDARAAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TANBIHUN</strong>- Apabila seorang <a title="Definisi Ghasab" href="http://tanbihun.com/fikih/hukum-harta-ghashab-tanah-tanpa-tuan/" target="_blank">ghashab</a> binatang kendaraan, misalnya kuda, perahu atau sejenisnya, diketahui sering dimuati untuk berdagang, maka keuntungannya adalah halal, karena modal uangnya milik sendiri bersumber dari halal. Perbuatannya dosa, karena ghashab keduanya, kuda dan perahu untuk berdagang. Akan tetapi keuntunganya halal, karena modal uangnya halal. Hanya ia wajib membayar sewanya kuda atau perahu. Dunia dan akhirat menjadi piutang, dan juga wajib segera melunasi hutang itu kepada orang yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika salah satu keduanya, kuda dan perahu itu disewakan kepada orang lain dan menerima bayaran, maka hukumnya haram, karena uang sewanya itu di peroleh keluar dari kuda dan perahu. Demikian juga orang ghashab bumi/tanah kemudian di sewakan kepada orang lain dan ia menerima bayaran, maka hukumnya jelas haram, sebab uang itu berasal hasil dari tanah yang dighashab itu. <strong>Berbeda</strong> kalau tanah itu ditanami sendiri dengan biji-bijian yang halal, maka tidak haram hasil tanaman itu dimakan, hanya haram perbuatannya dan wajib membayar sewanya bumi tersebut. Itulah faham kita.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TANBIHUN!!!</strong> Bahwa sangkaan atau dugaan  seseorang yang mengambil harta milik orang lain, halal dan haramnya terdapat perbedaannya: <strong><em>Pertama</em></strong> bagi orang yang ceroboh, kurang rasa takutnya kepada Allah <em>Ta’ala </em>itu melampaui batas, hingga jatuh pada perbuatan haram, disangka halal. Hal ini dapat menyebabkan dirinya jatuh pada perbuatan kufur. Perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan hati yang menyangkut soal iman dan aqidah, yang menghalalkan sesuatu yang haram. Bahaya!</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Kedua</strong>,</em> bagi orang mukmin yang punya rasa takut kepada Allah di dalam mengambil barang milik orang lain dengan dhan(dugaan), supaya menjaga batas kesederhanaan <em>(lebih baiknya),</em> sebaiknya dimufakatkan dengan orang mukmin adil dan alim, dapat mengetahui sesuatu pelanggaran hukum, melalui jalan ijtihadnya. Apabila timbul keragu-raguan di dalam mengambil harta milik orang lain, maka hukumnya haram. Untuk itu sebelumnya harus mensiapkan ijtihad yang benar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ijtihad</strong> yang dimaksud bukan seperti ijtihad yang menghasilkan produk hukum seperti yang dilaksanakan oleh para ulama Mujtahid, melainkan ijtihad dalam arti mempersiapkan diri dengan baik sesuai petunjuk hukum, mempertimbangkan segala sesuatunya berdasarkan hukum dhan diantaranya ialah:</p>
<p>1.   Sudah kenal baik dengan pemilik barang</p>
<p>2.   Mengetahui watak dan perilaku pemilik barang</p>
<p>3.   Barang yang di ambil termasuk bagian yang halal</p>
<p>4.   Barang yang di ambil hendaknya sebagian saja (<em>lebih baiknya</em>)</p>
<p>5.   Barang yang di ambil bukan termasuk ba-rang mewah yang mahal harganya</p>
<p>6.   Barang yang diambil tak perlu izin lebih dulu dari pemiliknya</p>
<p>7.   Tidak timbul keragu-raguan dalam mengambil barang tersebut</p>
<p>8.   Barang yang di ambil itu milik orang yang disangkanya</p>
<p>9.   Sebaiknya dimufakatkan dengan orang yang adil dan alim</p>
<p style="text-align: justify;">10.Tidak perlu adanya jaminan berupa barang dari pengambil</p>
<p style="text-align: justify;">11.Adanya hajat mengambil barang tersebut untuk keperluan yang manfaat.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian antara lain persyaratan atau ijtihad yang harus dipersiapkan lebih dulu bagi orang yang akan mengambil barang orang lain secara dzan.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh: <strong>KH. Ahmad Syadzirin Amin</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: <strong><span style="color: #008080;">Kitab Tadzkiyah, Syaikh Ahmad Rifa&#8217;i</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/fikih/11-syarat-untuk-mengambil-milik-orang-lain-berdasarkan-dhanpraduga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Harta Ghashab &amp; Tanah Tanpa Tuan</title>
		<link>http://tanbihun.com/fikih/hukum-harta-ghashab-tanah-tanpa-tuan/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/fikih/hukum-harta-ghashab-tanah-tanpa-tuan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 16:45:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Definisi Ghashab]]></category>
		<category><![CDATA[Huku Ghashab]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Tadzkiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=34002</guid>
		<description><![CDATA[MASALAH KE DELAPAN BELAS MAGHSUB DAN TIDAK DIKETAHUI PEMILIKNYA Berkata ulama yang mendapat rahmat Allah: Masalah harta yang maghshub(sesuatu yang dighasab*) tidak diketahui alamat pemiliknya secara jelas. Adakah haram, syubhat,...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><strong>MASALAH KE DELAPAN BELAS</strong><br />
<strong> MAGHSUB DAN TIDAK DIKETAHUI PEMILIKNYA</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berkata ulama yang mendapat rahmat Allah: Masalah harta yang <em>maghshub<span style="color: #000000;">(sesuatu yang dighasab<span style="color: #0000ff;">*</span>)</span></em> tidak diketahui alamat pemiliknya secara jelas. Adakah haram, syubhat, atau halal menggunakan d harta tersebut, seperti menggunakan harta temuan (<em>luqathah</em>)?” Jawaban fatwa Ibnu Hajar terjelaskan: “Yaitu tidak halal tasaruf (menjalankan atau menggunakan) harta maghshub selama masih dapat diharap kedatangan pemiliknya, tetapi diantarkan kehadapan penghulu yang terpercaya (<em>Qadli Amin</em>), Apabila tidak didapati Qadli Amin, maka diantarkan kepada orang alim demikian adil dalam mentasarufkan harta itu. Bila sudah tidak dapat diharapkan kedatangan atau kepulangan pemilik harta tersebut, maka termasuk harta itu sebagian dari bagian kekayaan “<em>Baitul Maal</em>”. Seperti tersebut dalam <em>Syarah Al Muhadzab</em> karangan Imam Nawawi juz 9 halaman 351, <em>Ihya’ Ulu-middin </em>karya Ghazali juz II hal. 129-130.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;" align="center"><strong>MASALAH KE SEMBILAN BELAS</strong><br />
<strong> APABILA SUDAH MERATA KEHARAMAN BUMI</strong></p>
<p style="text-align: justify;"> Apabila sudah merata haramnya tanah maka bolehlah apabila menanam tanaman dan mendirikan rumah sekedar memenuhi kewajibannya (kebutuhan yang mendesak) dan tidak boleh untuk kekayaan. apabila masih dapat di harap kedatangannya pemilik bumi tersebut. Dan bila tidak dapat diharapkan, maka bumi itu menjadi milik Baitulmal karena termasuk harta tak bertuan, maka ambilah dari bumi itu sekedar bagiannya (dari Baitulmal) di dalam bumi tersebut.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;" align="center"><strong>MASALAH KE DUAPULUH</strong><br />
<strong> BINATANG YANG DI BERI MAKAN HARAM</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Apabila diberi makan kambing dengan haram hingga lama sekali waktunya, maka tidak haram bila daging kambing itu dimakan. Seperti yang sudah diketahui berkata Imam Ghazali bersama Syaikh Abdullatif Ibni Abdulaziz bin Abdissalam (wafat 697 H.) karena kambing itu kenyataan halal dalam zatnya. Adapun yang haram itu diketahui, karena makanan yang berikan itu hak milik orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi orang yang <em>ghashab</em> menjadi piutang, dan segera wajib membayar hutang tersebut kepada orang yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">_____________________________________________</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">*</span> Secara harfiah, <em>ghashab </em>adalah mengambil sesuatu secara paksa dengan terang-terangan. Sedangkan secara istilah, ulama bermacam-macam mendefinisikannya. <strong>Mazhab Hanafi</strong> mendefinisikan gasab sebagai mengambil harta orang lain yang halal tanpa izin sehingga barang itu berpindah tangan. <strong>Mazhab Maliki</strong> mendefinisikan ghashab sebagai mengambil harta orang lain secara paksa dan sengaja, tetapi tidak dalam arti merampok. Sementara <strong>mazhab Syafii</strong> dan <strong>Hanbali</strong> memaknai gasab sebagai penguasaan terhadap harta orang lain secara sewenang-wenang atau secara paksa tanpa hak. Secara “terang-terangan” menunjukkan perbedaan gasab dengan mencuri. Mencuri dalam arti gasab tidak hanya barang tapi juga manfaat barangnya, termasuk di dalamnya meminta dan meminjam tanpa izin pemilik aslinya, sekalipun dikembalikan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/fikih/hukum-harta-ghashab-tanah-tanpa-tuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Hukum Sumpah</title>
		<link>http://tanbihun.com/fikih/tentang-hukum-sumpah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/fikih/tentang-hukum-sumpah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 14:13:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah palsu]]></category>
		<category><![CDATA[sumpah sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah wajib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=33989</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : KH. Ahmad Syadzirin Amin Pasal 124 Tentang Hukum Sumpah Ketauhilah bahwa sesungguhnya hukum sumpah itu makruh kecuali di dalam melakukan kepatuhan atau karena hajat syara’, seperti sumpah mengokohkan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;">Oleh : <strong>KH. Ahmad Syadzirin Amin<a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/11/kaligrafi-arabic.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-33990" title="kaligrafi arabic" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/11/kaligrafi-arabic.jpg" alt="kaligrafi arabic" width="300" height="190" /></a></strong></p>
<h4 style="text-align: justify;">Pasal 124 Tentang Hukum Sumpah</h4>
<p style="text-align: justify;">Ketauhilah bahwa sesungguhnya hukum sumpah itu makruh kecuali di dalam melakukan kepatuhan atau karena hajat syara’, seperti sumpah mengokohkan ucapan yang benar atau mengagungkan perintah Allah. Dan demikian pula tidak makruh sumpah dengan membuat kesungguhan di dalam menuduh orang lain dengan tuduhan benar. Demikian pula sumpoah karena sebab disangka menggelapkan barang milik orang lain oleh orang yang sengaja menfitnah dan lain-lain yang menyebabkan kemelaratan. Yang demikian itu wajib sumpah bagi orang yang tidak melakukan. (Al Minhaj, Fathul Mu’in dan lainnya).</p>
<h4 style="text-align: justify;">Pasal 125 Tentang Sumpah Wajib dan Sunnah</h4>
<p style="text-align: justify;">Bila sumpah seseorang atas perbuatan wajib dan meninggalkan larangan, maka orang itu wajib melaksanakan sumpahnya tanpa udzur. Bila melanggar, maka ia berdosa dan wajib kaffarat. Dan apabila sumpah seseorang atas kebalikannya, yaitu sumpah meninggalkan kewajiban dan melakukan larangan, maka wajiblah melanggar sumpah dan kaffarat. Atau apabila sumpah meninggalkan sunnah, seperti sumpah tinggal salam atas orang yang disunahkan, hukumnya adalah makruh, dan disunnahkan melanggar sumpah tersebut. Ketika melanggar sumpah, maka wajib menunaikan kaffarat.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Pasal 126 Tentang Sumpah Perbuatan Mubah</h4>
<p style="text-align: justify;">Kalau sumpah seseorang atas perbuatan atau meninggalkan suatu mubah, maka bolehlah memilih salah satunya. Ketika ia melanggar, maka wajib kaffarat. Bahwa yang lebih utama ialah memegang tegus atas sumpahnya.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Pasal 127 Tentang Sumpah Palsu</h4>
<p style="text-align: justify;">Terang haram bagi seorang yang sumpah palsu. Itu lebih jelas wajib kaffarat serta wajib segera bertaubat dari dosa besar sumpah bohong.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/fikih/tentang-hukum-sumpah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Ilmu Usul Fikih Online:Definisi &amp; Indikasi Hukum Wajib</title>
		<link>http://tanbihun.com/fikih/usulfikih/belajar-ilmu-usul-fikih-onlinedefinisi-indikasi-hukum-wajib/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/fikih/usulfikih/belajar-ilmu-usul-fikih-onlinedefinisi-indikasi-hukum-wajib/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 06:53:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zuhurul Fuqohak</dc:creator>
				<category><![CDATA[UsulFikih]]></category>
		<category><![CDATA[Usul Fikih Bagi Pemula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=33572</guid>
		<description><![CDATA[a). 1 Hukum Ijab dan Wajib Pembahasan hukum ijab dan wajib ini meliputi empat term, yaitu definisi, indikasi, dan klasifikasi serta konsekwensi hukum tersebut. a). 1. a Definisi Wajib Secara...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h5>a). 1 Hukum Ijab dan Wajib</h5>
<p>Pembahasan hukum ijab dan wajib ini meliputi empat term, yaitu definisi, indikasi, dan klasifikasi serta konsekwensi hukum tersebut.</p>
<p><strong>a). 1. a Definisi Wajib</strong></p>
<p style="text-align: left;">Secara bahasa, kata wajib bermakna <em>as-saqith </em>(yang gugur), <em>al-lazim</em> (yang tetap). Sedangkan menurut istilah, wajib adalah:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL" align="center">ما طلبَ الشَّارعُ فعله على وجهِ اللُّزومِ، ورتَّب على امتثالهِ المدحَ والثَّوابَ،</h2>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL" align="center">وعلى تركهِ مع القُدْرةِ الذَّم والعقابِ<strong></strong></h2>
<p style="text-align: left;" align="center"><em>&#8220;Sesuatu yang diperintahkan oleh syarak untuk dikerjakan dengan adanya tekanan, dan diruntutkan pujian serta pahala dengan mengerjakannya atau celaan serta siksaan dengan meninggalkannya&#8221;.</em><a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Mudahnya, wajib menurut ahli fikih adalah:</p>
<h2 style="text-align: right;" align="center">ما يثاب على فعله ويعاقب على تركه<strong></strong></h2>
<h2 style="text-align: right;" align="center"> او ما أمر الشارع به أمراً جازماً، أو ما طلب الشارع من المكلف فعله طلباً جازماً</h2>
<p style="text-align: left;" align="center"><em>&#8220;Sesuatu yang diberi pahala bila dikerjakan dan disiksa apabila ditinggalkan atau sesuatu yang diperintahkan syarak dengan perintah yang jazim atau dituntut dengan jazim&#8221;.</em><a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Misalnya adalah salat lima waktu itu hukumnya wajib, mendapat pahala ketika dikerjakan dan disiksa apabila ditinggalkan, begitu juga dengan hukum zakat, puasa, dan hajji bagi yang telah mampu, serta kewajiban-kewajiban yang lain. Sedangkan hukum <em>ijab</em> menurut ahli usul fikih adalah :</p>
<h2 style="text-align: right;" align="center">طلب الفعل طلباً مشعراً بالذم على الترك<strong></strong></h2>
<p style="text-align: left;" align="center"><em>&#8220;Menuntut (untuk mengerjakan)</em><em> sesuatu dengan tuntutan yang memberikan petunjuk adanya celaan ketika ditinggal&#8221;.</em><a title="" href="#_ftn3">[3]</a><em></em></p>
<p>Misalnya adalah firman Allah yang menyebutkan:</p>
<h2 dir="RTL">يا ايها الذين آمنوا أنفقوا من طيبات ما كسبتم ومما أخرجنا لكم من الارض<em> </em>(البقرة : 287)</h2>
<p style="text-align: left;" align="center"><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu&#8221;.</em><a title="" href="#_ftn4">[4]</a><em></em></p>
<p><strong>a). 1. b Indikasi Hukum Wajib</strong></p>
<p style="text-align: left;">Indikasi hukum wajib bisa dipahami dari bentuk-bentuk kata dan redaksi (<em>sighot</em>) yang digunakan dalam hukum tersebut, di antaranya adalah:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Setiap fi&#8217;il Amar</strong> (yang mengikuti wazan <strong>افعـل</strong> dalam <em>Tsulasi</em> dan wazan-wazan lain yang telah ditentukan). Misalnya:  <strong>أقـيـمـوا الصـلاة  (الانعام</strong> : 72) poinnya pada kata ‘<em>Aqimu’</em>. Redaksi amar dari wazan tersebut secara sepintas dan mutlak berindikasi wajib, dan jika ada indikasi tertentu yang mengarahkan pada selain hukum wajib, misalnya sunah atau mubah, maka tidak lagi menunjukkan hukum wajib.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Fi&#8217;il Mudhori&#8217;</strong> yang kemasukan Lam Amar (Lam yang berguna menun- jukkan perintah). Misalnya:   <strong>فـَـلْيَـتـَّقُوا اللهَ وَلْيَقـُولُوا قَوْلا سَدِيدًا</strong> (النساء : 9)  poinnya pada kata ‘<em>falyattaqu’</em> dan <em>‘walyqulu’.</em><strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Isim Fi&#8217;il Amar</strong> (kalimah isim yang bermakna fi&#8217;il tetapi tidak bisa mene- rima alamatnya fi&#8217;il). Misalnya:</p>
<h2 style="text-align: right;" align="center">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ  (المائدة : 105)</h2>
<p>poinnya pada kata ‘<em>alaikum’</em> yang disebut isim fiil dan bermakna ‘<em>ilzamu/tetaplah’.</em></p>
<p><strong>4. Masdar yang mengganti</strong> (kedudukan) Fi&#8217;il Amar, artinya mempunyai arti perintah.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> Misalnya:</p>
<h2 style="text-align: right;">فَإِذَا لَقـِيـتُمُ الَّذِينَ كـَفـَرُوا فـَضَرْبَ الـرِّقَابِ  (محمد : 4)</h2>
<p>poinnya pada kata ‘<em>fadhorbarriqob’</em> yang bermakna fiil ‘<em>idhribu’</em>.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>5. Formula (<em>sighot</em>)</strong> dari kata &#8216;<em>amara&#8217; </em>dan yang ke<em>tasrif</em> dari lafadz tersebut.</p>
<p>Misalnya:</p>
<h2 style="text-align: right;">ان الله يأمر بالعدل والإحسان (النحل : 90)</h2>
<p>poinnya pada kata ‘<em>ya’muru’</em>.</p>
<p><strong>6. Formula dari kata <em>&#8216;kataba&#8217; </em></strong>dan yang ke<em>tasrif </em>dari lafadz tersebut.</p>
<p>Misalnya:</p>
<h2 style="text-align: right;">كـتب عليـكم الـقـتـال وهو كـره لـكم (البقرة : 216)</h2>
<p>poinnya pada ‘<em>kutiba’</em>.</p>
<p><strong>7. Formula dari kata <em>&#8216;farodho&#8217;</em></strong> dan yang ke<em>tasrif </em>dari lafadz tersebut.</p>
<p>Misalnya:</p>
<h2 style="text-align: center;">سـورة انـزلـناها وفـرضناها  (النور : 1)</h2>
<p>poinnya pada ‘<em>farodhnaha’</em>.</p>
<p><strong>8. Formula dari kata له عليك فعل كذا </strong><em><strong>&#8216;</strong>(ketetapan) atas kamu mengerjakan ini untuknya&#8217;.</em> Misalnya:</p>
<h2 style="text-align: center;">ولله على الناس حج البيت الاية (آل عمران : 97)</h2>
<p style="text-align: justify;"><strong>9. Kalam <em>khobar </em></strong>(perkataan yang mempunyai realita, yang sesuai {benar} atau tidak sesuai {salah} dengan realita tersebut), yang memosisikan tujuan dalam posisi sempurna wujudnya, sebagai bentuk penguat (<em>ta&#8217;kid</em>). Misal:</p>
<h2 style="text-align: right;" align="center">والذين يتوفون منكم ويذرون ازواجا يتربصن بأنفسهن اربعة أشهر وعشرا (البقرة : 234)</h2>
<p style="text-align: left;" align="center"><em>&#8220;Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber&#8217;iddah) selama empat bulan sepuluh hari&#8221;.</em><a title="" href="#_ftn6">[6]</a><em></em></p>
<p><strong>9.  Ada ancaman siksa</strong> jika meninggalkan sesuatu. Contoh:</p>
<h2 style="text-align: right;" align="center"> فان لم تفعلوا فأذنوا بحرب من الله ورسوله (البقرة : 279)</h2>
<p style="text-align: left;" align="center"><em>&#8220;Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu&#8221;.</em></p>
<p><strong>10. Peninggalnya</strong> dianggap durhaka, bermaksiat, dzolim, atau sifat-sifat buruk lainnya. Misalnya:</p>
<h2 style="text-align: center;">ومن لم يتب فأولئك هم الظالمون (الحجرات : 11)</h2>
<p><strong>11. Peninggalnya mempunyai</strong> konsekwensi tidak sah ibadahnya. Contoh:</p>
<h2 style="text-align: center;" align="center">لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكــتاب، لا نكاح الا بولي</h2>
<p style="text-align: left;" align="center"><em>&#8220;Tiada salat (yang sah) bagi yang tidak membaca Fatihah, tidak ada nikah (yang sah) kecuali dengan seorang wali nikah&#8221;.</em></p>
<p><strong>a). 1. c Klasifikasi Hukum Wajib</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Secara mendasar, hukum wajib dapat diklasifikasikan dalam tiga aspek, yaitu aspek <em>dzati</em> (substansi hukum wajib), aspek waktu pelaksanaan, dan pelaku (mukallaf). Dari aspek substansi, wajib terbagi dalam dua poin, yaitu wajib mu&#8217;ayyan dan wajib mubham. <em>Wajib mu&#8217;ayyan</em> berarti tuntutan sesuatu yang posisinya tidak bisa digantikan oleh sesuatu lainnya, misalnya: perintah tentang salat, zakat, puasa dan kewajiban-kewajiban yang tidak ada pilihan pengganti lainnya. Sedangkan <em>wajib mubham</em> artinya tuntutan beberapa sesuatu yang sifatnya boleh memilih di antara hal tersebut, dan harus dikerjakan salah satunya serta tidak boleh ditinggalkan semuanya. Misalnya adalah: kewajiban memerdakan budak atau memberi pakaian sepuluh fakir-miskin atau memberi makan mereka bagi penerjang sumpah. <a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dari aspek waktu pelaksanaan, wajib terbagi menjadi dua poin, yaitu wajib mudhoyyaq (terdesak) dan wajib muwassa&#8217; (diperpanjang). Wajib <em>mudhoyyaq</em> berarti waktu pelaksanaannya tidak menerima kewajiban lain yang sifatnya sejenis, misalnya kewajiban puasa di bulan Ramadhan, tidak boleh menjalankan ibadah puasa selain fardu tersebut, baik puasa sunah maupun puasa fardhu lainnya. Sedangkan wajib <em>muwassa&#8217;</em> artinya waktu pelaksanaannya tersebut masih menerima kewajiban lain yang sejenis, misalnya dalam waktu salat Dzuhur, boleh menjalankan salat sunah, salat fardhu qodho, maupun fardhu yang i&#8217;adah (diulang) karena ada jama&#8217;ah.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Namun, kadang <em>mudhoyyaq</em> dan <em>muwassa&#8217;</em> itu dipahami lain. Artinya, <em>mudhoyyaq</em> dipahami untuk kewajiban yang waktunya hampir tidak cukup (istilahnya sampai waktu <em>tahrim</em>/haram mengakhirkan ibadah sampai waktu ini), sedangkan <em>muwassa&#8217;</em> waktunya masih panjang.<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Adapun dari aspek pelaku, wajib terbagi menjadi dua pula, yaitu wajib <em>&#8216;aini</em> (secara personil) dan wajib <em>kafai</em> (secara plural). Maksudnya <em>wajib &#8216;aini</em> adalah tuntutan itu diarahkan kepada perindividu orang mukallaf, sehingga tidak boleh untuk diwakilkan kepada orang lain. Misalnya: salat lima waktu dan puasa wajib. Adapun <em>wajib kafai</em> adalah tuntutan yang berlandaskan terhadap wujudnya pekerjaan, kalau obyek fardhu &#8216;ain adalah individu orang mukallaf, maka obyek fardhu kifayah adalah pekerjaan itu terwujud dan terlaksana. Misalnya: menolong orang yang tenggelam, memandikan mayit, atau mensalatinya.<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Untuk lebih mudahnya perhatikan bagan berikut:</p>
<p><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/usul-fikih2.png"><img class="size-full wp-image-33585 alignnone" title="usul fikih2" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/usul-fikih2.png" alt="" width="500" height="255" /></a></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Abdullah bin Yusuf al-Jadik. t.t. <em>Taisiru Ilmi Usul al-Fikih.</em> t.tp.: t.pn. hlm: 09.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ada perbedaan di antara kedua definisi di atas, definisi yang menggunakan redaksi <em>tsawab</em> (pahala) dan <em>Iqob </em>(siksa) disebut dengan <em>ta&#8217;rif rosmi</em> (definisi rasm), karena yang digunakan adalah pahala dan siksa yang menjadi lazimiah (konsekuensi yang sebagai khossoh) hukum tersebut yang sifatnya masih khofi (samar) dan belum diketahui keberadaanya. Sedangkan definisi yang menggunakan redaksi <em>jazim</em> (penekanan yang jelas), ini menggunakan <em>ta&#8217;rif haddi</em> (yang menggunakan fasl), hal ini juga berlaku untuk definisi hulum yang lain. Muhamad al-Hasan as-Siqinthi. t.t. <em>Syarah Waroqot Fi Usul al-Fikih</em>. t.tp.: t.pn. Maktabah: Syamilah isdar 3,5. hlm. 15</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>  Iyyad bin Nami as-Silmi. <em>Usul Fikih al-Ladzi La Yasau li al-Fakihi Jahluhu</em>. Ibid, hlm. 21.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>  Sebagai dalil wajibnya mengeluarkan zakatnya <em>zuru&#8217;</em> (tanaman pepadian). Sayyid Sabiq. t.t.<em> Fikih Sunnah.</em> t.tp.: t.pn. Maktabah: Syamilah isdar 3,5. Vol. 01. hlm. 374.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a>  Abdulah bin Yusuf al-Jadik. t.t. <em>Taisiru Usul al-Fikih</em>. t.tp.: t.pn. Maktabah: Syamilah isdar 3,5. Vol. 01. hlm. 09.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Ayat di atas menggunakan redaksi <em>khobar</em>, namun tujuan utamanya adalah menyuruh perempuan tersebut untuk melaksanakan <em>&#8216;iddah</em>. Faktor penyampaian hukum dengan metode ini adalah menguatkan perintah tersebut, seakan-akan sudah terjadi dan tidak bisa dielakkan lagi. Al-Jadik. Ibid. hlm. 11.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a>  Hal ini menolak anggapan muktazilah yang tidak setuju dengan pilihan tersebut dengan alasan menafikan konsekwensi wajib yang mengandung tuntutan bukan pilihan. Karena dalam wajib mubham ini masih ada tuntutan, sekalipun bersifat tidak menentu satu poin saja. Muhamad Amin bin al-Mukhtar as-Siqinthi. t.t. <em>Madzkaroh Fi Usul al-Fikih</em>. t.tp.: t.pn. Maktabah: Syamilah isdar 3,5. hlm. 09.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a>  Amin bin al-Mukhtar. Ibid.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Namun sebenarnya ini adalah cabang dari kaidah penentuan <em>muwassa&#8217;</em> dan <em>mudhoyyaq</em> tersebut. Sebab, jika kewajiban itu menerima ibadah sejenisnya, maka sudah barang tentu waktunya itu diperpanjang. Dan apabila sudah mepet waktunya, berarti tidak menerima ibadah sejenis lainnya. Dan ini menjadi kewajiban <em>mudhoyyaq</em>. <em>Talkih alAfham al-Aliyyah Bi Syarh al-Qowaid.</em> t.tp.: t.pn. Juz. 02. hlm. 39.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a>  Muhamad Amin as-Siqinthi. <em>Loc. Cit.</em> Hlm. 10.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/fikih/usulfikih/belajar-ilmu-usul-fikih-onlinedefinisi-indikasi-hukum-wajib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tadzkiyah:Mu&#8217;amalah Dengan Orang Yang Hartanya Banyak Haramnya</title>
		<link>http://tanbihun.com/fikih/kitab-tadzkiyahmuamalah-dengan-orang-yang-hartanya-banyak-haramnya/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/fikih/kitab-tadzkiyahmuamalah-dengan-orang-yang-hartanya-banyak-haramnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 23:12:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Tadzkiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=33215</guid>
		<description><![CDATA[MASALAH KE LIMA BELAS TENTANG HALAL HARAM REZKI YANG DIMAKAN Berkata ulama: Apabila harta halal ter-campur dengan harta haram, dan tidak bisa dibedakan keduanya (bentuk dan warnanya), maka jalan halalnya...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>MASALAH KE LIMA BELAS</strong><br />
<strong> TENTANG HALAL HARAM REZKI YANG DIMAKAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berkata ulama: Apabila harta halal ter-campur dengan harta haram, dan tidak bisa dibedakan keduanya (bentuk dan warnanya), maka jalan halalnya ialah, dipisahkan antara keduanya sesuai dengan kadar harta yang haram. Maka ditasarufkanlah kewajiban pa-da apa yang wajib tasaruf yang benar, yakni harta haram yang dipisahkan itu kemudian dikembalikan kepada pemiliknya. Dan harta sisanya yang berasal dari halal itu kembali menjadi halal lagi.</p>
<p style="text-align: left;" align="center"><strong>MASALAH KE ENAM BELAS</strong></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><strong>GHASHAB SEUMPAMA UANG ATAU GANDUM</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bersamaan dengan keterangan dalam <em>Fathul Mu’in, Hamisy I’anatut Thalibin</em> jilid IV: halaman 104 disebutkan, bahwa Imam Nawawi berfatwa Apabila sesorang mengambil barang milik orang lain secara bathil (<em>ghashab</em>) seumpama uang (<em>naqad</em>) atau gandum (makanan) dan ia mencampurkan dengan harta miliknya yang halal menjadi satu dan tidak dapat membedakan antara keduanya, maka boleh memisahkan kadar-nya harta tersebut, dan halal baginya meng-gunakan (mentasarufkan) harta sesudahnya (sisanya).</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat Imam Nawawi itu secara ak-lamasi para ulama lainnya telah menyetujui pendapat tersebut, adalah qaul Mu’tamad (yang terpercaya).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>MASALAH KE TUJUH BELAS</strong><br />
<strong> MUAMALAH DENGAN ORANG YANG HARTANYA BANYAK HARAM</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dan tidak haram muamalah jual beli dengan orang yang lebih banyak harta haram dari yang halal dan tidak haram pula memakan dari harta muamalah yang tercampur yang tidak jelas haram. Mengesahkan pada qaul itu Imam Nawawi di dalam kitabnya <em>Al Majmu’</em>. Imam Nawawi menolak pada pendapat Hujjatul Islam. Imam Ghazali, qaul dlaif yang mengharamkan harta syubhat, yang lebih banyak harta haramnya dari pada yang halal.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>FAIDATUN!!!</strong> Inilah suatu faidah terdapat dalam kitab <em>Al Majmu’</em> karangan <span style="text-decoration: underline;"><em>Imam Syarafudin An Nawawi</em></span> menuturkan: Makruh orang yang mengambil harta syubhat sebagian dari orang dengan sebab usahanya harta halal dan haram, seperti Sultan Jair (penguasa yang lacut/dholim) lebih banyak hartanya haram dan sedikit halalnya, itulah syubhat hukumnya. Dan berbeda-bedanya makruh dengan sebab sedikit banyaknya harta yang haram itu. Dan tidak haram, kecuali apabila yaqin itulah harta diketahui dari haram. Dan qaul Imam Ghazali, haram mengambil harta dari orang yang lebih banyak hartanya yang haram. Begitu pula hubungan muamalahnya pun haram adalah <em>Syaadzun</em>, nerecel atau tidak umum (eksklusif) hukumnya menyalahi dari <span style="text-decoration: underline;"><em>mazhab Syafi’i</em></span> yang menyatakan halal, tidak haram hukum harta syubhat yang berlaku pada kebiasaan suatu negara, yang banyak haramnya harta dari pada halalnya. Itulah hukum boleh mengambil harta syubhat, selagi tidak diketahui secara pasti harta tersebut berasal dari haram.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehalalan harta syubhat ini karena masih adanya <em>Ihtimal</em> (kemungkinan) masih terdapatnya harta halal meskipun yang ter-banyak adalah harta haram, tetapi ditang-gungkan harta halal yang akan diambil.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad saw. Berkata:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">قال النبى محمد رسول الله :  إن الحلا ل بين والحرام بين وبينهما شبهاة لا يعلمهن كثير من الناس . (رواه البخارى ومسلم).</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya harta halal itu, kenyata-an halalnya dan harta haram juga kenyataan ha-ramnya. Dan antara keduanya itu syubhat, tidak dapat mengetahui kenyataan syubhat itu sekian banyak dari manusia.” (dari Nu’man bin Basyir, riwayat Syaikhan; Bukhari dan Muslim).</em></p>
<p>Penerjamah: <strong>KH. Ahmad Syadzirin Amin</strong>.</p>
<p>Sumber : <strong>Kitab Tadzkiyah Karya Syaikh Ahmad Rifa’i </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/fikih/kitab-tadzkiyahmuamalah-dengan-orang-yang-hartanya-banyak-haramnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Pembagian Hukum Thalaq</title>
		<link>http://tanbihun.com/fikih/tentang-pembagian-hukum-thalaq/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/fikih/tentang-pembagian-hukum-thalaq/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 16:04:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[tarjamah bahasa Indonesia tabiyinal islah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=32966</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : KH. Ahmad Syadzirin Amin Pasal 114 Tentang Pembagian Hukum Thalaq Bahwa thalaq dibagi dengan menghitung warna hukum pada: Thalaq Wajib: ialah seperti thalaqnya orang yang ila’ (sumpah), Insya...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/kitab-tanbihun.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-32967" title="kitab tanbihun" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/kitab-tanbihun.jpg" alt="" width="300" height="303" /></a>Oleh : <strong>KH. Ahmad Syadzirin Amin</strong></p>
<h4 style="text-align: left;"><strong></strong>Pasal 114 Tentang Pembagian Hukum Thalaq</h4>
<h5 style="text-align: left;">Bahwa thalaq dibagi dengan menghitung warna hukum pada:</h5>
<ol style="text-align: justify;" start="1">
<li>Thalaq Wajib: ialah seperti thalaqnya orang yang ila’ (sumpah), Insya Allah nanti akan dibicarakan.</li>
<li>Thalaq Sunnah: ialah seperti thalaqnya seorang lelaki kepada istrinya yang tidak benar (baik) perangainya (istri yang rusak moralnya).</li>
<li>Thalaq Makruh: ialah seperti thalaqnya seorang lelaki kepada istrinya yang baik perilaku ibadanya dan berakhlak mulia.</li>
<li>Thalaq Haram: ialah seperti thalaqnya seorang lelaki kepada istrinya ketika dalam keadaan haidl, atau wanita di thalaq dalam keadaan sucinya yang telah menyetubuhi lelaki itu kepada istrinya di dalam keadaan suci, karena dikhawatirkan nanti wanita itu hamil. Dalam hal ini, iddahnya lama sekali, dan lelaki tersebut wajib memberi nafkah penuh kepada istrinya yang diceraikan dalam hamil itu. (Hamisy Al Bajuri: II/143).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
<h5 style="text-align: left;">Pasal 116 Tentang Thalaq Orang Merdeka dan Hamba</h5>
<p style="text-align: justify;">Bahwa thalaq seorang lelaki merdeka kepada istrinya adalah tiga, sekalipun istrinya itu orang amat. Dan memilikkan hamba thalaq atas istrinya adalah dua saja, baik wanita itu orang merdeka atau orang amat, muba’adl, mukatab, dan mudabbar, semuanya seperti hamba sahaya. (Hamisy Al Bajuri: II/145).</p>
<p style="text-align: justify;">Bahwa thalaq yang dijatuhkan sebelum menikah itu tidak terjadi dalam hujjah syara’. Kalau orang yang dipaksa menceraikan istrinya dengan thalaq tiga lalu ia menjatuhkan thalaq satu, maka jatuhlah thalaq satu kepadanya, sebab ia ikhtiar. Dan bila dipaksa menceraikan istrinya dengan thalaq satu, lalu menjatuhkan thalaq tiga, maka runtuhlah thalaq tiga kepadanya pula.</p>
<p style="text-align: justify;">
<h5 style="text-align: left;">Pasal 117 Tentang Iqrar Thalaq</h5>
<p style="text-align: justify;">Kalau lelaki berkata kepada wali istrinya, “Anda nikahkan wanita istriku”, maka lelaki itu telah iqrarcerai, dan dengan telah selesai iddah, bahwa tempat selesainya iddah, seperti yang tampak, bila diketahui wanita itu tidak mendustakan pernyataan suaminya. Kalau wanita itu mendustakan pada perkataan suaminya, maka wajib iddah baginya. (Hamisy I’anatut Thalibin: IV/10).</p>
<p style="text-align: justify;">
<h5 style="text-align: left;">Pasal 118 Tentang Tulisan Thalaq</h5>
<p style="text-align: justify;">Apabila seorang suami menulis tentang sharihnya thalaq atau tentang kinayah thalaq, padahal ia tidak bermaksud menjatuhkan thalaq kepada istrinya, maka tidak jatuh thalaqnya selama tidak melafalkan ketika menulis. Atau setelah menulis, tetapi ia tidak mengucapkan dengan thalaq sharih, maka tidak jatuh thalaq kepadanya. Begitu pula thalaq kinayah, karena tidak bermaksud untuk menceraikannya. (Hamisy I’anatut Thalibin: IV/260).</p>
<p style="text-align: justify;">
<h5 style="text-align: left;">Pasal 119 Tentang Salah Penyebutan Thalaq</h5>
<p style="text-align: justify;">Dan tidak menjadi thalaq pula bagi orang lelaki berkata “Talaq”, dengan huruf “Ta” tidak dengan “Tha”, untuk orang yang bisa benar bacaannya. Karena kata “Talaq” artinya “bertemu”. Tetapi menjadi thalaq bagi orang yang bodoh sebab memang sudah begitu bahasanya, membaca “tha” dan “ta” itu sama saja.</p>
<p style="text-align: justify;">
<h5 style="text-align: left;">Pasal 120 Tentang Ta’liq Thalaq</h5>
<p style="text-align: justify;">Hendaklah mengetahui seorang tentang ta’liq thalaq lelaki kepada istrinya. Yaitu ia berkata, “Sewaktu-waktu anda sengaja pergi ke tetangga itu saya ceraikan”. Lalu ternyata ia pergi ke tetangga, maka runtuhlah thalaq lelaki kepadanya. Sewaktu-waktu anda meminta cerai, maka saya ceraikan”. Kemudian wanita itu memintanya, maka runtuh thalaq satu kepadanya: “Kapan-kapan anda saya pukul, maka runtuh thalaqnya satu. “Kapan anda keluar dari rumah, maka thalaqku tiga jatuh”. Lalu ternyata keluar dari rumah, maka runtuh thalaq tiga kepada istrinya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<h5 style="text-align: left;">Pasal 121 Tentang Ilaa’ (Persumpahan)</h5>
<p style="text-align: justify;">Dan ketika bersumpah seorang lelaki tidak akan menyetubuhi istrinya secara mutlak (tanpa batas), atau masa lebih atas empat bulan, maka hukum lelaki itu dinamakan Ilaa’. (Hamisy Al Bajuri: II/ 155).</p>
<p style="text-align: justify;">
<h5 style="text-align: left;">Pasal 122 Tentang Batas Ilaa’</h5>
<p style="text-align: justify;">Maka kemudian, setelah lewat masa empat bukan, lelaki itu memilih di antara dua perkara:</p>
<ol style="text-align: justify;" start="1">
<li>Memilih setubuh dengan kenyataan memasukkan hasyafah ke dalam qubul istrinya dan membayar kafarat karena sumpah (yamin), bila terdapat sumpah “Bilaahi” itu atas tinggal setubuh kepada istrinya.</li>
<li>Atau segera memilih cerai. Maka, bila suami tidak hendak melaksanakan dari dua perkara itu, yakni tidak fi’ah dan tidak menjatuhkan thalaq. Maka dengan paksaan dari seorang hakim kepada lelaki itu memerintahkan perceraian.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Firman Allah SWT: “Kepada orang-orang yang meng-ila’ istrinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang”. (Al Baqarah: 226).</p>
<p style="text-align: justify;">
<h5 style="text-align: left;">Pasal 123 Tentang Kafaratul Yamin</h5>
<p style="text-align: justify;">Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi maka sepuluh orang miskin (setiap  orang satu mud), yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian (dari apa yang disebut pakaian seperti baju dan daster) kepada mereka atau memerdekakan seorang budak wanita mukmin jika mampu. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya, agar kamu bersyukur (kepada-Nya yang memberi kejelasan hukum)”. (Al Maidah : 89).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/fikih/tentang-pembagian-hukum-thalaq/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

