<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tanbihun Online &#187; al qur&#8217;an</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/category/kajian/al-quran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 15:30:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Melakukan Perubahan Adalah WAJIB</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/melakukan-perubahan-adalah-wajib/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/melakukan-perubahan-adalah-wajib/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 01:26:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[al qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Analisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=39758</guid>
		<description><![CDATA[MAKALAH TAFSIR SUNNATULLAH TENTANG PERUBAHAN KEADAAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN DOSEN : DR. AHZAMI SAMIUN JAZULI.MA HAFIDZOHULLAH &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; OLEH : AHMAD RIFA’I &#160; PROGRAM PASCA SARJANA...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;" align="center">MAKALAH TAFSIR</p>
<p style="text-align: left;" align="center"><strong>SUNNATULLAH TENTANG PERUBAHAN KEADAAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN</strong></p>
<p style="text-align: left;" align="center">DOSEN :</p>
<p style="text-align: left;" align="center">DR. AHZAMI SAMIUN JAZULI.MA HAFIDZOHULLAH</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">OLEH :</p>
<p align="center">AHMAD RIFA’I</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">PROGRAM PASCA SARJANA</p>
<p align="center"><strong>UNIVERSITAS ISLAM JAKARTA</strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong>2011</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">DAFTAR ISI</p>
<p style="text-align: justify;">BAB 1</p>
<p style="text-align: justify;">PENDAHULUAN…………………………………………………………………….3</p>
<p style="text-align: justify;">BAB II</p>
<p style="text-align: justify;">PEMBAHASAN………………………………………………………………………4</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pengertian Taghyiir…………………………………………………………….4</li>
<li>Ayat-ayat Yang Berkaitan Dengan Perubahan………………………………&#8230;5</li>
<li>Dasar-dasar Perubahan…………………………………………………………7</li>
<li>Hukum-hukum Perubahan…………………………………………………….. 12</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">BAB III</p>
<p style="text-align: justify;">KESIMPULAN…………………………………………………………………………18</p>
<p style="text-align: justify;">DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………&#8230;19</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">BAB I</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">PENDAHULUAN.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Swt telah meletakkan aturan-aturan baku di alam ini, siapapun yang dapat menjalankan aturan Allah swt tersebut maka ia akan meraih kesuksesan setidaknya dalam kehidupan dunia ini. Aturan baku itu disebut dengan sunnatullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi manusia pada dasarnya bisa dirubah apabila ada kemauan dari manusia itu sendiri untuk merubahnya. Iman, akhlak dan tingkah laku yang baik akan dapat merubah kondisi negative yang dialami seseorang menjadi kondisi positif yang penuh kenikmatan. Sebab Allah subhanahu wa ta’ala telah memberlakukan hokum sebab akibat di dunia ini. Siapapun orangnya yang melaksanakan sebab dengan baik maka ia akan mendapatkan akibat yang baik. Suatu contoh, ada anak orang Islam, ia tidak pernah masuk sekolah dan tidak pernah belajar sama sekali, maka ia dipastikan tidak naik kelas atau tidak lulus ujian. Akan tetapi meskipun ia kafir, namun ia rajin belajar dan masuk sekolah maka ia akan dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini mestinya disadari oleh orang islam, bahwa untuk mencapai kemajuan tidak mungkin dapat dicapai dengan berkhayal dan berpangku tangan semata sambil menunggu pertolongan Allah, akan tetapi kemajuan itu harus diusahakan dan dijemput dengan ikhtiyar yang maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan keadaan manusia itu merupakan sunnatullah, yang letak keberhasilannya digantungkan dari usaha manusia itu sendiri untuk berubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Makalah ini hadir dalam rangka mengungkap sunnatullah fi taghyiiri ahwalinnaasi fil qur’anil kariim, sehingga diharapkan dapat menambah motivasi bagi siapapun yang membacanya untuk selalu berbuat baik dan berusaha kearah yang lebih baik lagi.</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">BAB II</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">PEMBAHASAN</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pengertian  Taghyiir.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Taghyiir berasal dari Isim Masdar dari Fiil Madzi<strong>غير</strong> yang berarti merubah, menukar atau mengganti.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu pengertian taghyiir menurut Ibnu Mandzur dalam kitab Lisaanul Arab disebutkan</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>تغيَّر الشيءُ عن حاله تحوّل وغَيَّرَه حَوَّله وبدّله كأَنه جعله غير ما كان</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Artinya yaitu berubahnya sesuatu dari kondisinya, menukar, merubah dan menggantinya seolah-olah ia menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>ذلك بأَن الله لم يَكُ مُغَيِّراً نِعْمةً أَنعمها على قوم حتى يُغَيِّروا ما بأَنفسهم</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Artinya : Demikianlah Allah tidak akan merubah kenikmatan yang telah Ia berikan kepada suatu kaum hingga mereka merubahnya sendiri.(QS.Al-Anfal :53)</p>
<p style="text-align: justify;">Tsa’labi berkata bahwa makna dari <strong>حتى يُغَيِّروا ما بأَنفسهم</strong><strong> </strong>adalah<strong> </strong><strong> </strong><strong>حتى يبدِّلوا ما أَمرهم الله</strong><strong> </strong>(sehingga mereka merubah apa yang diperintahkan Allah kepada mereka).<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Ibnu ‘Asyur dalam At Tahriir Wat Tanwiir berkata :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>و«التغيير» تبديل شيء بما يضاده فقد يكون تبديلَ صورة جسم كما يقال : غَيّرتُ داري ، ويكون تغيير حال وصفة ومنه تغيير الشيب أي صباغه</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Taghyiir (perubahan) yaitu mengganti sesuatu dengan sesuatu yang berlawanan, terkadang perubahan itu mengganti corak dan bentuk sesuatu seperti ungkapan, aku telah merubah rumahku. Dan terkadang perubahan itu mengganti keadaan atau sifat, termasuk di dalamnya adalah merubah uban yang berarti menyemirnya.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Ayat-ayat yang berkaitan dengan perubahan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">Ayat pertama yang berbicara tentang perubahan keadaan manusia adalah Surat Al-Anfal ayat 53, dimana allah berfirman :<strong style="text-align: justify;">  </strong></p>
<p style="text-align: justify;">(siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.(QS. Al-Anfal:53)</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut At Thobariy ayat ini berkaitan dengan azab Allah yang ditimpakan kepada kaum kafir quraisy diperang badar sebab dosa-dosa yang mereka lakukan.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Imam Al-Baghowiy berkata, sesungguhnya makna dari ayat di atas adalah</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>أن الله تعالى لا يغير ما أنعم على قوم حتى يغيروا هم ما بهم، بالكفران وترك الشكر، فإذا فعلوا ذلك غير الله ما بهم، فسلبهم النعمة</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kenikmatan atas suatu kaum sehingga mereka merubah sesuatu yang ada pada mereka dengan kekufuran dan tidak syukur. Ketika mereka melakukan hal itu maka Allah pun akan merubah kenikmatan yang ada pada mereka.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Syaikh Mustafa Al Maraghi menegaskan :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>وفى الآية إيماء إلى أن نعم اللّه على الأمم والأفراد منوطة ابتداء ودواما بأخلاق وصفات وأعمال تقتضيها ، فما دامت هذه الشئون ثابتة لهم متمكنة منهم ، كانت تلك النعم ثابتة لهم ، واللّه لا ينتزعها منهم بغير ظلم منهم ولا جرم ، فإذا هم غيّروا ما بأنفسهم من تلك العقائد والأخلاق وما يلزم ذلك من محاسن الأعمال ، غيّر اللّه حالهم وسلب نعمتهم منهم فصار الغنى فقيرا والعزيز ذليلا والقوى ضعيفا.</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat di atas terdapat isyarat bahwa sesungguhnya kenikmatan Allah atas suatu umat atau individu baik permulaan ataupun langgengnya nikmat tersebut tergantung dengan akhlak, sifat dan perbuatan yang mereka lakukan, maka ketika sikap tersebut tetap mereka miliki dan meresap pada diri mereka, maka kenikmatan Allahpun akan tetap bersama mereka, Allah tidak akan mencabut kenikmatan mereka tanpa kedhaliman dan dosa yang mereka perbuat. Dan ketika mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka baik yang berupa aqidah maupun akhlak dan perbuatan-perbuatan baik yang selama ini ada pada diri mereka, maka Allahpun akan merubah keadaan mereka dan mencabut kenikmatanNya, maka yang kaya menjadi fakir, yang mulia menjadi hina dan yang kuat menjadi lemah.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">Ayat kedua yang berbicara tentang sunnatullah dalam perubahan ahwal manusia adalah Surat Ar Ra’d : 11.<strong style="text-align: justify;"></strong><strong>   </strong></p>
<p style="text-align: justify;">bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(QS. Ar Ra’d:11).</p>
<p style="text-align: justify;">Wahbah Zuhaily dalam tafsir al wasithnya berkata : “Allah tidak akan merubah kenikmatan, kesehatan, keselamatan yang dimiliki suatu kaum kecuali kaum tersebut merubahnya sendiri dengan perbuatan dholim, maksiyat, fasad dan melakukan hal-hal yang berdosa.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Dasar-dasar Perubahan</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Manusia menginginkan perubahan dalam pelbagai aspek kehidupan. Kerap kali mereka merasa jenuh dan bosan terhadap cara hidup yang tidak bervariasi. Mereka ingin hari ini lebih baik dari kemarin, dan yang akan datang jauh lebih baik dari sekarang. Itulah fitrah perubahan yang ada dalam diri setiap manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Olehnya itu, sejak dari awal Al-Qur’an meletakkan batasan-batasan perubahan guna memenuhi kebutuhan fitrah yang cinta perubahan.</p>
<p style="text-align: justify;">kedua ayat di atas telah menggarisbawahi dasar-dasar perubahan sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h4>Kelanggengan suatu nikmat lebih ditentukan oleh kesiapan manusia menjaga nikmat itu sendiri</h4>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ini telah ditegaskan oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha’ beliau berkata,“Kelanggengan nikmat Allah SWT terhadap suatu kaum lebih jauh ditentukan oleh akhlaq, aqidah, dan tingkah laku mereka sendiri, selagi dasar-dasar ini melekat dalam pribadi mereka, maka selama itu juga nikmat Allah SWT tetap kekal, dan mustahil Allah SWT mencabutnya dari mereka secara paksa tanpa ada dosa dan kezhaliman. Tetapi, di saat mereka merubah apa yang ada pada diri mereka dari aqidah, akhlaq dan perilaku baik, maka dengan sendirinya Allah SWT merubah apa yang ada pada diri mereka, nikmat pun dicabut, yang kaya menjadi miskin, yang mulia menjadi hina, dan yang kuat menjadi lemah, itulah dasar berkehidupan yang ada pada setiap kaum dan umat.”<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Contoh sederhana sebagai penjabaran dari penjelasan di atas dapat dilihat dalam dunia pendidikan. Tentunya, setiap pelajar punya potensi yang sama untuk lulus di ujian akhir tahun, dan setiap dari mereka menginginkan kelulusan. Akan tetapi, aturan kehidupan ini lebih jauh ditentukan oleh sikap pelajar itu sendiri. Selagi dia belajar dengan tekun, maka ia akan meraih kesuksesan dengan izin Allah SWT. Tentunya, yang gagal dari mereka telah mengabaikan aturan tersebut. Bukankah menginginkan kelulusan tanpa belajar dan kerja keras merupakan kesombongan dan pembangkangan tersendiri terhadap sunnatullah?</p>
<p style="text-align: justify;">Syekh Mutawalli Sya’rawi  berkata: “Kerusakan datang dari jiwa manusia itu sendiri tatkala mereka sesat dari metode kehidupan yang Allah tetapkan (manhajullah). Olehnya itu, kami  bertanya: “apakah manusia mengeluhkan cahaya? Tentu tidak, karena matahari tidak dapat digapai, demikian pula mereka tidak pernah mengeluhkan adanya krisis udara, tetapi mereka mengeluhkan krisis makanan karena sumber makanan datang dari perut bumi, maka di antara mereka ada yang malas bekerja, ada juga yang bekerja dengan kemalasan, dan ada pula dari mereka yang bekerja dan memetik jerih payahnya, tetapi tidak menafkahkan sebagiannya kepada orang lain. Contoh seperti ini salah satu sebab terjadinya kerusakan dan ketimpangan sosial di alam.”<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Di tempat lain perkataan ini dipertajam dan dipertegas dengan argumen baru, Beliau berkata: “Jika Anda melihat awal kehidupan manusia, Anda pasti tahu bahwa Allah SWT menciptakan Adam sebagai khalifah di muka bumi, dan menciptakan hawa demi kelangsungan generasi manusia, dan sebelum ia diturunkan ke bumi Allah membekalinya aturan hidup. Seandainya mereka mengikuti aturan hidup tersebut, maka pasti mereka menuai kebahagiaan, tetapi mereka telah berubah, dan mengingkari nikmat-nikmat itu, bahkan ingkar terhadap Sang Pemberi Nikmat. Apakah Allah SWT akan melanggengkan terhadap mereka rasa aman, keselamatan, dan pelbagai nikmat, sedangkan mereka telah melakukan perubahan ke arah negatif? Tentu tidak, dan justru Allah akan mengangkat nikmat tersebut dari mereka.”<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Objek perubahan ada pada diri sendiri</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Imam As Suyuthi dalam Ad Duurul Manshur menukil sebuah hadis dari Abi Syaibah dalam kitab Al Arsy :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>وعزتي وجلالي وارتفاعي فوق عرشي ، ما من أهل قرية ولا أهل بيت ولا رجل ببادية ، كانوا على ما كرهته من معصيتي ، ثم تحوّلوا عنها إلى ما أحببت من طاعتي ، إلا تحوّلت لهم عما يكرهون من عذابي إلى ما يحبون من رحمتي؛ وما من أهل بيت ولا قرية ولا رجل ببادية كانوا على ما أحببت من طاعتي ، ثم تحولوا عنها إلى ما كرهت من معصيتي ، إلا تحولت لهم عما يحبون من رحمتي إلى ما يكرهون من غضبي » .</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman : Demi kemuliaan dan kehormatan serta ketinggian-Ku di atas Arsy, tidaklah penduduk suatu kampung, penghuni suatu rumah, dan seorang lelaki di suatu  padang pasir yang berada dalam kondisi Kubenci karena bermaksiat kepada-Ku  kemudian mereka mengubah keadaan itu kepada keadaan yang Ku-cintai karena ketaatan kepada-Ku, melainkan pasti akan Kuubah keadaan mereka dari adzab-Ku  yang tidak mereka sukai kepada rahmat-Ku yang mereka sukai.  Dan tidaklah penghuni suatu rumah, kampung, dan seorang lelaki di padang pasir yang berada dalam keadaan yang Kucintai lantaran ketaatan mereka kepada-Ku lalu mereka berubah kepada keadaan yang Kubenci karena bermaksiat kepada-Ku, melainkan Aku ubah keadaan mereka dari mendapatkan rahmat-Ku yang mereka sukai kepada kemarahan-Ku   yang tidak mereka sukai.<a title="" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian jelaslah bahwa Allah SWT memberikan respon tentang perubahan yang dimulai dari perubahan dari apa yang ada dalam diri manusia itu sendiri, baik kondisi manusia secara individual, di suatu rumah, maupun di masyarakat.   Dan perubahan kondisi baik dan buruk itu terkait dengan ketatan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia kepada Allah SWT, baik secara individual maupun secara kolektif.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Perubahan merupakan hukum general yang meliputi seluruh ras, suku baik mukmin maupun kafir.</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Hal itu ditunjukkan dengan kata قَوْمٌ yang berbentuk nakirah (indefinitif). Kata ini termasuk kata mutlak dan ia tetap bermakna mutlak selama Syari’ tidak membatasinya dengan suatu sifat seperti iman dan selainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, maknanya tetap mencakup setiap kelompok, organisasi, masyarakat, atau negara, tanpa memandang agamanya. Ia juga mencakup setiap ruang danw aktu. Hal itu karena lafazh tersebut mencakup setiap masyarakat di masa lalu, masa kini dan masa depan, sebagaimana ia mencakup setiap negara di dunia.Jadi, Allah telah menetapkan berbagai sunnah dalam kehidupan dan meletakkan faktor penyebab dan undang-undang di alam semesta dan kehidupan insani. Sunnah, faktor penyebab dan undang-undang ini menimbulkan akibat-akibatnya dan mendatangkan buahnya berdasarkan pengaruh dari Allah Tabaraka wa Ta’ala.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah telah menganjurkan umat manusia ini untuk mencari faktor penyebab, undang-undang dan hukum, supaya mereka dapat mengikuti petunjuknya dan berbuat menurutnya, agar mereka memperoleh buahnya. Allah menundukkan faktor penyebab, undang-undang dan hukum itu untuk kebahagiaan manusia dan untuk melayaninya di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Bekerja adalah sarana untuk mencari rezki. Tidak ada yang bisa dilakukan manusia selain serius dan bersungguh-sungguh dalam mencari rezkinya dengan mengerahkan seluruh tenaga dan potensinya. Baik rezki itu bersifat materi atau immateri, atau kedua-duanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Petani membajak tanah dan menabur benih, kemudian ia menunggu rezki dari Rabb. Seandainya ada seseorang berdiam diri di rumahnya tanpa mengerahkan tenaga sedikit pun untuk bercocok tanam, lalu ia mengira bahwa rezkinya akan datang dari pertanian, padahal ia tidak membajak, tidak menabur benih dan tidak memupuk tanah, maak dia akan kecewa dan tertinggal dari bahtera kehidupan insani. Bahkan ia dianggap berdosa karena menolak melakukan sebab, sunnah dan undang-undang.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula para da‘i yang mencita-citakan perubahan itu harus mengerahkan segenap tenaga dan mencurahkan segenap potensi, ide, harta benda, jiwa dan hal-hal yang berharga untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka canangkan.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Perubahan adakalanya positif dan adakalanya negative.</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Karena perubahan itu berarti beralih dari satu kondisi ke kondisi lain dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dengan demikian, ada kalanya perubahan diri itu bersifat positif, yaitu perubahan dari jelek menjadi baik, atau dari baik menjadi lebih baik, sehingga hasilnya pun positif.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ada kalanya perubahan itu bersifat negatif, dimana manusia mengubah diri dari lebih baik menjadi baik, sehingga hasilnya adalah baik dan terkadang manusia mengubah diri dari baik menjadi jelek, sehingga kondisi mereka menjadi jelek.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah telah merubah keadaan kaum Yunus yang semula ditimpakan adzab, menjadi kaum yang dilimpahkan kesenangan karena mereka beriman, sebagaimana yang Ia firmankan :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>فَلَوْلاَ كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلاَّ قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُواْ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الخِزْيِ فِي الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ<em> </em></strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu</em>.( QS Yunus:98)</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu ‘Asyur menerangkan bahwa ketika Allah menghendaki kebaikan pada suatu kaum, maka Allah akan mengutus seorang Rasul untuk memberikan hidayah kepada mereka. Jika mereka memperbaiki perbuatannya maka kenikmatan Allah akan diberikan kepada mereka sebagaimana yang telah terjadi pada kaumnya Nabi Yunus yaitu penduduk Nainawa.<a title="" href="#_ftn14">[14]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Hukum-hukum perubahan</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">DR. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris berkata, Siapapun yang membaca Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Saw. pasti memahami bahwa dakwah dan perjuangan untuk mengubah masyarakat dan sistem menjadi masyarakat dan sistem yang Islami merupakan kewajiban syar’i. Sebagaimana mengubah kemungkatan dan menegakkan ketaatan merupakan perintah Rabbani yang ditujukan kepada setiap muslim. Sebagaimana yang dijelaskan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Allah berfirman,</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104)</p>
<p style="text-align: justify;">Kata `ä3tFø9ur (dan hendaklah) adalah kata perintah, karena ia berbentuk fi’il mudhari’ yang didahului dengan lam amr (lam yang menunjukkan arti perintah). Kita tahu bahwa perintah itu menghasilkan hukum wajib selama tidak ada indikasi yang mengalihkan hukum wajib itu kepada hukum yang lain. Lagi pula, ada banyak nash dan indikasi yang menguatkan kewajiban ini.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Allah berfirman,</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">“Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS Al-Maidah [5]: 63)</p>
<p style="text-align: justify;">Kata الربنيونberarti agamawan Nasrani. Kataالاخبار adalah jamak dari kata حَبْرٌ yang berarti agamawan Yahudi. Dan maksud dari kalimat …. (Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu) adalah celaan dan kecaman Allah terhadap para agamawan Nasrani dan Yahudi lantaran tidak menjalankan tugas perubahan. Yang dicela dari mereka adalah keengganan mereka untuk menjalankan kewajiban tersebut. Hal itu karena celaan tidak diberikan lantaran perbuatan yang mubah, tetapi karena meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang diharamkan. Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan tugas mencegah kemungkaran itu sama seperti orang yang melakukan kemungkaran. Karena ayat ini mengandung kecaman terhadap para ulama terkait tindakan mereka meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar.”</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Allah berfirman melalui lisan Luqman AS,</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS Luqman [31]: 17)</p>
<p style="text-align: justify;">Kata وآمر adalah fi’il amr (kata kerja perintah). Menurut kaidah, kata perintah itu menunjukkan arti wajib selama tidak ada indikasi yang mengalihkannya kepada hukum sunnah atau mubah. Berbagai nash dan indikasi menegaskan kewajiban ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam Sunnah Nabawiyyah pun terdapat banyak hadits yang menunjukkan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar. Di antaranya adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Sa’id Al Khudri RA, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,</p>
<h2 style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ</strong></h2>
<p style="text-align: justify;">“Barangsiapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Kalau ia tidak mampu (dengan tangannya), maka dengan lisannya. Kalau ia tidak mampu (dengan lisannya), maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”<a title="" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kata مَنْ (barangsiapa) adalah bentuk kalimat umum, karena ia adalah isim maushul yang mencakup setiap mitra bicara yang sudah mukallaf, baik laki-laki atau perempuan. Dan bentuk kata فَلْيُغَيِّرْهُ (maka hendaklah ia mengubahnya) adalah fi’il mudhari’ yang didahului dengan lam amr. Jadi, kata ini berbentuk perintah dan menunjukkan hukum wajib.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud RA, bahwa Rasulullah Saw. bersabda,</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ</strong></h2>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">“Tidak seorang Nabi pun yang diutus Allah di tengah suatu umat sebelumku melainkan ia memiliki para pengikut setia dan sahabat dari umatnya. Mereka mengikuti sunnahnya dan mematuhi perintahnya. Kemudian muncul sesudah mereka generasi penerus yang mengucapkan sesuatu yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka dia orang mukmin. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya, maka dia orang mukmin. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka dia orang mukmin. Sesudah itu tidak ada iman sebiji sawi pun.”<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini mewajibkan setiap mukallaf untuk memerangi orang-orang yang rusak itu untuk mengubah kondisi mereka dan memperbaiki keadaan mereka, supaya mereka berhenti berbuat rusak dan komitmen untuk berbuat baik.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Mengenai firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS Al-Maidah [5]: 105), sebagian umat Islam memahami bahwa ini adalah perintah agar seorang muslim berdiam diri saja di rumahnya, tidak berusaha melawan kezhaliman dan orang-orang zhalim. Kemudian khalifah Rasulullah Saw., yaitu Abu Bakar RA, mengoreksi pemahaman yang keliru ini. Imam Abu Daud dalam Sunan-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Qais, katanya: Setelah memuji dan menyanjung Allah, Abu Bakar berkata, “Wahai umat Islam! Sesungguhnya kalian membaca ayat ini dan menempatkannya tidak pada tempatnya: “Jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” Dalam riwayat dari Khalid, Abu Bakar berkata, “Dan sesungguhnya kami mendengar Nabi Saw. bersabda,</p>
<h2 style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ</strong></h2>
<p style="text-align: justify;">“Jika manusia melihat orang zhalim lalu mereka tidak menahannya, maka tak lama lagi Allah akan menjatuhkan hukuman yang meliputi mereka semua.”<a title="" href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Arti lafazh ِ<strong> فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ</strong> adalah mencegahnya dan menghalaunya dari berbuat zhalim. Hadits tersebut mengancam umat Islam dengan suatu hukuman jika mereka meninggalkan upaya perbaikan, enggan mencegah orang zhalim agar tidak berbuat zhalim. Ancaman yang demikian itu tidak diberikan kecuali karena meninggalkan kewajiban atau melakukan sesuatu yang diharamkan. Dan yang diancam dalam hadits ini adalah meninggalkan upaya perubahan. Jadi, hadits ini menunjukkan bahwa hukum upaya perubahan adalah wajib.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal itu ditegaskan dengan riwayat ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali kalian berdiri di samping seseorang orang yang dibunuh secara zhalim. Karena sesungguhnya laknat itu turun pada orang yang menyaksikannya tetapi tidak membelanya. Dan janganlah sekali-kali kamu berdiri di samping orang yang dipukul secara zhalim. Karena sesungguhnya laknat itu turun pada orang yang menyaksikanya tetapi tidak membelanya.”<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align: justify;" align="center">BAB III</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">KESIMPULAN</p>
<p style="text-align: justify;">Kenikmatan yang dilimpahkan Allah kepada manusia, bisa saja hilang dan berubah menjadi adzab apabila manusia berbuat durhaka dan maksiyat kepada Allah. Begitupun sebaliknya, keadaan yang buruk yang menimpa manusia akan berubah menjadi menyenangkan dan penuh nikmat apabila manusia berlaku takwa dan beramal sholeh.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan keadaan manusia dari positif ke negative ataupun sebaliknya tersebut sudah menjadi sunnatullah. Allah telah membuat aturan-aturan baku di ala mini, siapapun yang dapat menjalankan aturan-aturannya ini maka ia telah berhasil merengkuh sunnatullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada anggapan keliru dikalangan masyarakat, bahwa makna surat Ar Ra’d ayat 11 selalu diartikan Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka sendiri mau merubahnya, ini adalah tafsir yang keliru dan sesat, sebab yang dirubah oleh Allah dalam ayat itu adalah keadaan seseorang terkait dengan hokum sebab akibat.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan yang mesti dilakukan adalah perubahan secara individu yang dapat berdampak secara universal, karena perubahan secara bersama inilah yang dikehendaki oleh Allah terbukti dengan penggunaan kata kaum. Perubahan yang dilakukan secara bersama-sama ini akan membawa imbas yang lebih luas.</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">DAFTAR PUSTAKA</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad warson munawwir, <em>Kamus Al-Munawwir</em>, Pustaka Progresif 1997</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Dawud, <em>Sunan Abi Dawud</em>, Hadits no.3775, Maktabah Syamilah versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu ‘Asyur, <em>At Tahriir Wat Tanwiir</em>, Juz 6, hal.174, Maktabah Syamilah versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Mandzur, <em>Lisaanul Arob</em>, Dar ash Shodir Beirut, 2004</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Jarir Ath Thobari, <em>Tafsir Ath Thobariy</em>, juz.14.hal.19, Mkatabah Syamilah Versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Muslim Bin Hajjaj, <em>Shahih Muslim</em>, Toha Putra, Semarang 1990</p>
<p style="text-align: justify;">Syekh Mutawalli as-Sya’rawi, <em>Tafsir as-Sya’rawi</em>, vol. 5</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad Rasyid Ridha’, <em>Tafsir al-Manâr</em>, Dâr al-Manâr, Cairo-Egypt, cet. 2, 1368</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Mas’ud Al-Baghowiy, <em>Mu’alimut Tanzil,</em> Dar At Thaibah Riyadh 1997</p>
<p style="text-align: justify;">Wahbah Zuhaily, <em>Tafsir Al Wasith</em>, Dar el Kitab Beirut, 1999,</p>
<p style="text-align: justify;">Mustafa Al-Maraghi, <em>Tafsir Al-Maraghi,</em> , Maktabah Syamilah versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">http:// eramuslim.com</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al Munawwir, Pustaka Progresif Surabaya, cet.ke.14,1997, hal.1025</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ibnu Mandzur, Lisaanul Arob, Dar ash Shodir Beirut, Juz 5. Hal.34</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Ibid.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Ibnu “Asyur, At Tahriir Wa Tanwiir, juz 6 hal.175, Maktabah Syamilah Versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Ibnu Jarir Ath Thobari, Tafsir Ath Thobariy, juz.14.hal.19, Mkatabah Syamilah Versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Ibnu Mas’ud Al-Baghowiy, Mu’alimut Tanzil, Dar At Thaibah Riyadh 1997, Juz 3, hal.368.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Juz 10 hal.18, Maktabah Syamilah versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Wahbah Zuhaily, Tafsir Al Wasith, Dar el Kitab Beirut, 1999, juz 2. Hal.1152</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Muhammad Rasyid Ridha’, Tafsir al-Manâr, Dâr al-Manâr, Cairo-Egypt, cet. 2, 1368 h, vol. 10, hlm. 42</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Syekh Mutawalli as-Sya’rawi, Tafsir as-Sya’rawi, vol. 5, hlm. 2860</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Ibid, vol. 8, hlm. 4758</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> As Suyuthi, Ad Dur Al Mantsur, Maktabah Syamilah Vol.3, Juz 5 hal.484</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> http://www.eramuslim.com</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> Ibnu ‘Asyur, At Tahriir Wat Tanwiir, Juz 6, hal.174, Maktabah Syamilah versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a> Imam Muslim Bin Hajjaj, Shahih Muslim, Toha Putra, Semarang, hadist no.70</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> Imam Muslim Bin Hajjaj, Shahih Muslim, Toha Putra, Semarang, Hadits no.71</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a> Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Hadits no.3775, Maktabah Syamilah versi 3</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;"><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a> <a href="http://www.eramuslim.com/">http://www.eramuslim.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/melakukan-perubahan-adalah-wajib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aneka Ragam Makna Taqwa Menurut Syekh Abdul Qodir Al- Jilany</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/aneka-ragam-makna-taqwa-menurut-syekh-abdul-qodir-al-jilany/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/aneka-ragam-makna-taqwa-menurut-syekh-abdul-qodir-al-jilany/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 10:57:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[al qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[definisi taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[Taqwa Dalam Perspektif Al-Qur'an dan Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=31080</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Sering kita mendengar sang Khotib saat berkhotbah menjelaskan maksud dan arti makna kalimat TAQWA dengan definisi yang hampir seragam, yakni: ”Melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya”. Ternyata...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/Giat-ibadah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-31082" title="Giat ibadah" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/Giat-ibadah-191x300.jpg" alt="" width="300" height="325" /></a>Tanbihun</strong>- Sering kita mendengar sang Khotib saat berkhotbah menjelaskan maksud dan arti makna kalimat TAQWA dengan definisi yang hampir seragam, yakni: <em>”Melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya”.</em></div>
<div style="text-align: justify;">Ternyata definisi ini hanya merupakan sebagian kecil dari sekian banyak definisi yang diberikan ulama tentang hal itu. Berikut ini diantara beberapa definisi tentang TAQWA tersebut yang diberikan para ulama, di nukil dari kitab <span style="text-decoration: underline;"><em>AL- GHUNYAH</em></span> karya Syekh Abdul Qodir Al- Jiilany Jilid I yang telah beliau paparkan tak kurang dari 4 halaman dari halaman 141 sampai halaman 145, berisi lebih dari 50 definisi yang beraneka ragam yang semuanya setelah diteliti merujuk kepada Al- Qur’an dan Sunnah Rasul . Disini penulis hanya akan mengambil beberapa definisi saja yang dinukil dari halaman 141:</div>
<h5 style="text-align: justify;">Syekh Abdul Qodir Al- Jilany menulis:</h5>
<div style="text-align: justify;">“Para ulama berbeda pendapat tentang makna TAQWA dan hakekat Muttaqy (orang yang bertaqwa) itu.</div>
<h6 style="text-align: justify;">Adapun yang dapat di nukil dari Sabda Nabi SAW adalah pernyataan beliau SAW<strong>: </strong></h6>
<div style="text-align: justify;">“Makna TAQWA terkumpul dalam firman Allah:</div>
<div style="text-align: justify;"><em>Sesungguhnya Allah memerintahkan agar berbuat adil dan berbuat ihsan (baik)- serta menyantuni para kerabat, dan agar mencegah dari perbuatan keji dan munkar serta perbuatan lacur. Allah menasehati kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran”.</em><strong> (</strong>An- Nahl 90).</div>
<h6 style="text-align: justify;">Ibnu Abbas RA berkata:</h6>
<div style="text-align: justify;"><em><strong>”</strong>Orang Muttaqy itu seseorang yang menjaga diri dari syirik, dari dosa- dosa besar, dan dari segala perbuatan keji”.</em></div>
<div style="text-align: justify;"><em>Ibnu Umar RA berkata: “Taqwa itu hendaknya kamu jangan memandang diri kamu lebih baik dibanding orang lain”.</em></div>
<h6 style="text-align: justify;">Al- Hasan, semoga Allah merahmatinya- dia berkata<strong>: </strong></h6>
<div style="text-align: justify;">“Orang bertaqwa itu adalah seseorang yang berkata kepada setiap orang yang dia lihat: ”O,.. Orang ini lebih baik dariku”.</div>
<h6 style="text-align: justify;">Umar bin Khottob RA berkata kepada Ka’ab Al- Ahbar:</h6>
<div style="text-align: justify;"><em>“Ceriterakan padaku tentang makna taqwa”, Ka’ab balik bertanya: “Apakah anda pernah meliwati jalan yang penuh duri?”. Umar menjawab: “Tentu”. Ka’ab meneruskan: “Apa yang anda lakukan?”. “Aku berhati- hati dan berusaha kuat agar tak kena duri”. Kata Ka’ab: “Itulah makna taqwa”.</em></div>
<div style="text-align: justify;">Kemudian Ka’ab membacakan sebuah syair:</div>
<h2 style="text-align: right;" align="right">خل الذنوب صغيرها       وكبيرها  فهو التقي</h2>
<h2 style="text-align: right;" align="right">واصنع كماش فوق أر     ض الشوك يحذر ما يرى</h2>
<h2 style="text-align: right;" align="right">لا  تحقرن   صغيرة        إن الجبال  من الحصى</h2>
<div style="text-align: right;">Hindari  segala dosa- yang kecil dan yang besarnya- itulah ketaqwaan</div>
<div style="text-align: right;">Bertindaklah bagaikan seseorang melewati padang duri, dia berhati- hati kepada segala yang ia lihat.</div>
<div style="text-align: right;">Sungguh jangan menganggap remeh sebuah dosa kecil</div>
<div style="text-align: right;">(Karena) sesungguhnya gunung pun tersusun dari kerikil- kerikil.</div>
<h6 style="text-align: justify;">Umar bin Abdul Aziz berkata:</h6>
<div style="text-align: justify;"><em>“Ketaqwaan itu bukan sekedar puasa disiang hari dan qiyam dimalam hari atau melakukan keduanya itu. Tapi taqwa itu meninggalkan apa yang dilarang Allah, mengerjakan apa yang difardhu kanNya, Maka yang Alloh anugerahkan selebihnya adalah kebaikan”.</em></div>
<h6 style="text-align: justify;">Ditanyakan kepada Tholq bin Hubaib:</h6>
<div style="text-align: justify;"><em>“Terangkan untukku tentang taqwa”.</em></div>
<div id="yui_3_2_0_1_1316944865687106" style="text-align: justify;"><em>Maka Tholq berkata: “Taqwa itu ber-amal dengan penuh kebaktian pada Allah atas dasar petunjuk cahaya Ilahiyyah, penuh harap atas pahala dari Allah, dan malu kepada Allah (bila sampai melalaikan kebaktian kepada Allah)”.</em> dst &#8230;.. dst.</div>
<div style="text-align: justify;">Oleh: <strong>H. Khaeruddin Khasbullah</strong></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/aneka-ragam-makna-taqwa-menurut-syekh-abdul-qodir-al-jilany/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sulitnya Menanamkan Al-Qur&#8217;an Pada Anak</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/sulitnya-menanamkan-al-quran-pada-anak/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/sulitnya-menanamkan-al-quran-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Sep 2011 03:54:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[al qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Bebas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=30425</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Derasnya arus globalisasi yang melanda dunia saat ini membawa dua dampak  yaitu dampak positif dan negatif pada perkembangan moral dan peradaban manusia  khususnya anak sebagai generasi penerus bangsa. Melesatnya...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/kiat-anak-baca-alquran3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-30449" title="kiat-anak-baca-alquran" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/kiat-anak-baca-alquran3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Tanbihun</strong>- Derasnya arus globalisasi yang melanda dunia saat ini membawa dua dampak  yaitu dampak positif dan negatif pada perkembangan moral dan peradaban manusia  khususnya anak sebagai generasi penerus bangsa. Melesatnya teknologi informasi telah membawa manusia  ke arah terbukanya cakrawala wawasan tanpa batas. Belum lagi masuknya kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan tanpa ada proses filterisasi ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hal ini jika tidak segera diantisipasi akan berakibat pada distorsi nilai dan norma Islam yang luhur. Oleh sebab itu, pembekalan  agama mutlak dilakukan sedini mungkin agar generasi muda Islam memiliki resistensi terhadap dampak negatif yaang ditimbulkan oleh kemajuan zaman ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Penanaman ajaran agama seyogyanya dimulai dari pengenalan dan pemahaman terhadap Al-Qur’an, sebab Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang diturunkan untuk menjadi pedoman hidup manusia untuk menghadapi tantangan zaman sepanjang masa. Al-Qur’an merupakan kitab petunjuk yang memiliki ruh pembangkit yang berfungsi sebagai penguat dan tempat berpijak bagi seluruh muslim dalam melangkah. Ia berisi aturan dan konsep global. Ia juga merupakan tempat kembali satu-satunya bagi seluruh umat Islam untuk mengambil rujukan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan dalam menyusun konsep gerakan selanjutnya (Yakub, 2006 : 92).</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur’an dapat dipahami dengan baik dan pesan-pesannya dapat tertangkap dengan maksimal apabila kita mampu membacanya dengan baik. Oleh sebab itu hal yang pertama kali diserukan oleh Allah kepada manusia sebelum melakukan penelitian dan pengamatan secara mendalam terhadap ayat-ayat Allah  baik yang Qur’aniyyah amaupun yang kauniyyah adalah perintah membaca. Dalam surat Al-Alaq Allah berfirman :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>                             Artinya    :               Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,</em><em>(1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah</em><em>(2). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah</em><em>(3), Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam</em><em>(4). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya</em><em>(5) (QS.96 : 1-5).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini dengan tegas memerintahkan kepada manusia untuk membaca agar dapat menemukan keagungan Allah S.W.T sehingga dengan demikian Allah S.W.T. akan memberikan kemurahan-Nya. Prof. Dr. M. Quraish Shihab ketika menjelaskan ayat ketiga dari surat Al-‘Alaq diatas berkata: “Kemurahan Allah S.W.T. dapat menghantarkan manusia yang mempelajari alam raya ini untuk menemukan rahasia-rahasia alam yang baru serta berbeda dengan ilmuwan terdahulu (Sihab,2004 : 122).”</p>
<p style="text-align: justify;">Pada wahyu pertama tersebut, perintah membaca ( iqro’ ) diulang dua kali, hal ini menunjukkan adanya penekanan terhadap perintah membaca tersebut serta menunjukkan bahwa membaca hanya akan berhasil apabila dilakukan terus menerus dan berulang-ulang ( Zuhailiy, 2002 : 3, 2902).</p>
<p style="text-align: justify;">Membaca Al-Qur’an memiliki tiga tingkatan. Pertama, tingkatan paling rendah, yaitu mampu membaca Al-Qur’an seolah-olah kita membacanya dihadapan Allah. Kedua, bersaksi di dalam hati seolah-olah Allah berbicara dengan kita dengan penuh kelembutan, pemberian dan kasih sayang. Ketiga, mampu melihat Yang Berbicara di dalam firman dan melihat sifat-sifat Tuhan di dalam kalimat-kalimat Al-Qur’an (Pasha , 2006 : 29 ).</p>
<p style="text-align: justify;">Membaca Al-Qur’an dapat menumbuhkan sikap cinta terhadapnya yang kemudian akan berujung pada keinginan untuk memahaminya. Tradisi para sahabat dalam memahami Al-Qur’an dimulai dengan membacanya lalu menghafalkan seayat demi seayat. Setelah Al-Qu’an terpatri erat dalam sanubari mereka, lalu mereka mulai merenungkan makna-maknanya satu persatu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal yang baik dan keberhasilan yang telah dicapai oleh generasi terdahulu sudah selayaknya ditiru dan dikembangkan oleh generasi sekarang. Penanaman kecintaan terhadap Al-Qur’an harus dimulai sedini mungkin. Pengajaran membaca dan menghafal Al-Qur’an sebagai langkah awal untuk menumbuhkan kecintaan terhadapnya, harus mulai digalakkan dikalangan anak-anak muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi kendala yang dihadapi oleh orang tua adalah sulitnya menemukan metode yang tepat yang dapat digunakan sehingga anak memiliki minat dan keinginan untuk belajar membaca, lebih-lebih menghafalkan Al-Qur’an. Metode yang beredar luas terkadang membosankan dan tidak memiliki daya dorong terhadap keinginan anak untuk belajar membaca Al-Qur’an, sehingga setelah bertahun-tahun belajar, perkembangan yang didapat oleh anak sangat sedikit.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi ini diperparah dengan minimnya kualitas guru yang mengajarkan Al-Qur’an. Perekrutan guru Al-Qur’an yang serampangan menimbulkan dampak buruk bagi anak yang belajar padanya. Sebuah ironi apabila sebuah lembaga menginginkan anaknya mampu membaca dengan fasih atau bahkan menghafal Al-Qur’an namun gurunya sendiri bukan ahli Al-Qur’an.</p>
<p style="text-align: justify;">Perkembangan teknologi juga membawa dampak negatif cukup besar bagi minat anak untuk belajar Al-Qur’an. Anak lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer untuk main game atau sekedar berselancar di dunia maya dibanding dengan mengeja huruf demi huruf Al-Qur’an. Mereka lebih senang mendengarkan musik daripada mendengarkan murotal. Ditambah lagi sikap acuh orang tua terhadap perkembangan anaknya sehingga para orang tua tidak peduli lagi tentang pendidikan agama anaknya. Akibatnya anak menjadi semakin jauh dari Al-Qur’an dan enggan untuk mempelajarinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/sulitnya-menanamkan-al-quran-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bulan Ramadhan Adalah Bulan Qur&#8217;an</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/bulan-ramadhan-adalah-bulan-quran/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/bulan-ramadhan-adalah-bulan-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 06:21:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[al qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=17257</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Bulan Ramadhan disebut juga dengan sebutan Syahrul Qur’an, karena pada bulan ini Alloh menurunkan Al-Qur’an, sebagaimana yang telah dituturkan dalam surat Al-baqarah ayat 185, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/ramadhan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-17482" title="ramadhan" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/ramadhan.jpg" alt="{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ" width="300" height="200" /></a>Tanbihun</strong> &#8211; Bulan Ramadhan disebut juga dengan sebutan Syahrul Qur’an, karena pada bulan ini Alloh menurunkan Al-Qur’an, sebagaimana yang telah dituturkan dalam surat Al-baqarah ayat 185,</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ</h2>
<p style="text-align: justify;">Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk serta pembeda ( antara kebenaran dan kebathilan) (QS.Al-Baqarah:185).</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh sebab itu, selama bulan Ramadhan kaum muslimin dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan konon Nabi Saw selalu memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan ini dan beliau juga  bertadarrus dengan Jibril Alaihissalam setiap malam dibulan Ramadhan (HR. Bukhori bab Bad’il wahyi).</p>
<p style="text-align: justify;">Abdulloh Ibnu Aljarullah berkata, dari ayat diatas menunjukkan dianjurkannya mempelajari Al-Qur’an dan berkumpul untuk membaca Al-Qur’an dan juga dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an di bulan Ramadhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Disunnahkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun di bulan Ramadhan atau di tanah suci boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari seminggu karena memanfaatkan waktu dan tempat sebab nabi bersabda : اقراءه في كل ثلاث        ( Bacalah Al-Qur’an dalam setiap tiga hari. Lihat Fadhoilul qur’an Ibnu Katsir : 169)</p>
<p style="text-align: justify;">Moment ramadhan seharusnya dapat digunakan oleh kaum muslimin untuk kembali menghidupkan Al-Qur’an, bukan hanya sekedar membacanya semata akan tetapi juga harus disertai dengan penghayatan akan maknanya. Para generasi terdahulu (salaf) memiliki kepribadian yang tinggi ketika membaca Al-Qur’an, berbeda dengan generasi sekarang ini yang membaca Al-Qur’an tanpa memberi kesan yang berarti. Ini berarti suatu kedzaliman terhadap Al-Qur’an  ( Syaikh Muhammad Al-Ghazali, Berdialog dengan Al-Qur’an :19). Pola hidup Qur’aniy ini pernah tergambar dari pribadi Rasulullah Shalallohu alahi wasallam, beliau merupakan manifestasi nyata dari penjelasan Al-Qur’an, beliau adalah visualisasi konkret dari Al-Qur’an. Sayyidah A’isyah pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw dan beliau menjawab,</p>
<h2 style="text-align: center;" dir="RTL"><strong>ان اخلاقه هو القرأن</strong></h2>
<p>Sesungguhnya akhlak beliau adalah Al-Qur’an (Shahih Muslim, Bab Shalat Al-Musaffirin).</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh sebab itu Imam Syafii pernah berkata,” Sunnah adalah pemahaman Nabi sendiri terhadap Al-Qur’an yang benar-benar dijadikannya sebagai pembimbing hidupnya lahir dan bathin.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kejayaan umat terdahulu adalah dari pengamalan mereka terhadap nilai-nilai Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak hanya dibaca, namun lebih dari itu mereka merenungi maknanya untuk kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Seharusnya hal ini juga dapat diterapkan oleh kaum muslimin dewasa ini. Sebab Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi, yang berisikan tema-tema terbaik dalam masalah pendidikan umat, peradaban dan akhlak mulia. Bangsa Arab waktu itu benar-benar mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dalam arti disamping mereka melantunkan Al-Qur’an dengan penjiwaan juga mereka terapkan kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan mereka, sehingga mereka menjadi bangsa yang beradab meskipun awalnya mereka adalah komunitas barbar.</p>
<p>Terkait dengan hal ini, Rasulullah Saw bersabda :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>مثل المؤمن الذي يقرأ القرأن كمثل الاتروج  طعمه حلو  وريحه طيب.رواه مسلم</strong></h2>
<p>Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an itu seperti jeruk manis, rasanya manis dan baunya harum (HR Mjuslim)</p>
<p style="text-align: justify;">Maksud dari hadits di atas adalah seseorang yang membaca Al-Qur’an dan dapat mengamalkan kandungannya dengan baik, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi mukmin yang sholih yang berakhlak dengan Al-Qur’an sehingga ia akan dapat memberikan manfaat kepada siapapun orang yang ada disekitarnya. Suaranya yang merdu ketika melantunkan Al-Qur’an berbanding lurus dengan prilakunya yang qur’aniy, inilah mukmin jeruk manis.</p>
<p style="text-align: justify;">Berangkat dari keinginan mengembalikan dan memasyarakatkan Al-Qur’an, Syaikh Ali Ash-Shobuniy dalam At-Tibyan Fi Ulumil Qur’an berkata :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>من لم يقرأ القرأن فقد هجره, ومن قرأ القرأن ولم يتدبر معانيه فقد هجره, ومن قرأه وتدبره ولم يعمل بما فيه فقد هجره</strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Siapapun yang tidak membaca Al-Qur’an maka ia telah menyia-nyiakannya, siapapun yang membaca Al-Qur’an dan tidak mau merenungi makna-maknanya maka ia telah menyia-nyiakannya, dan siapapun yang membaca dan menghayati makna Al-Qur’an namun tidak mengamalkan isinya maka ia telah menyia-nyiakan Al-Qur’an ( Ash-Shobuni, At-Tibyan, 10).</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur’an memang diturunkan oleh Alloh sebagai petunjuk bagi manusia, dan Al-Qur’an hanya akan dapat berfungsi sebagai petunjuk apabila kita mampu mengetahui kandungannya dan dapat menangkap pesan-pesan yang disampaikannya.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Disampaikan di Masjid Baiturrahman Kabel Cempaka Putih 10 Ramadhan 1432 H</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/bulan-ramadhan-adalah-bulan-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 23-24</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/tafsir-al-qur%e2%80%99an-surah-al-baqarah-ayat-23-24/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/tafsir-al-qur%e2%80%99an-surah-al-baqarah-ayat-23-24/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2011 15:02:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[al qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Bahan Bakar Neraka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6837</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Melanjutkan pembahasan yang telah lalu : Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 21-22, mari kita teruskan kajian ayat-ayat selanjutnya. Ayat 23:   وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanbihun</strong> &#8211; Melanjutkan pembahasan yang telah lalu : <a href="../kajian/al-quran/tafsir-al-quran-surah-al-baqarah-ayat-21-22/" rel="bookmark">Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 21-22, </a>mari kita teruskan kajian ayat-ayat selanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat 23:<strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<h2 style="text-align: right;" align="center"><strong>وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ </strong></h2>
<h2 style="text-align: right;" align="center"><strong>وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ</strong></h2>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.</p>
<h4 style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Penjelasan Ayat</span></h4>
<p style="text-align: justify;">Penjelasan ayat ini bahwa sebelumnya Allah SWT telah menetapkan pokok agama, yaitu tauhid yang merupakan kegiatan spiritual beribadah, maka pada ayat ini Allah menetapkan pokok agama yang kedua, yaitu kerasulan: Nabi Muhammad SAW. Hal ini terjadi melalui cara pembuktian (tantangan): “Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami Muhammad SAW, maka buatlah satu surat (saja) dari yang semisal surat-surat yang ada dalam al-Qur’an, sekiranya kamu tidak mampu membuatnya karena kelemahanmu, maka jagalah dirimu dari api neraka yaitu dengan beriman kembali kepada wahyu ilahi dengan beribadah kepada Allah SWT sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan-Nya”.</p>
<h4 style="text-align: justify;">PETUNJUK AYAT</h4>
<p style="text-align: justify;"><strong>Diantara petunjuk ayat:</strong></p>
<ol>
<li>
<p style="text-align: justify;">Pengukuhan kenabian Rasul SAW yang dimantapkan dengan turunnya al-Qur’an.</p>
</li>
<li style="text-align: justify;">Menguatkan kelemahan manusia untuk membuat satu surat saja seperti surat-surat yang ada dalam al-Qur’an.</li>
<li>
<p style="text-align: justify;">Api neraka dapat dijauhi dengan keimanan dan amal yang shalih.</p>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Tantangan untuk itu tetap berlaku namun belum ada mereka yang mampu membuatnya, walaupun satu surat saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini dalam bahasa Arab namanya <em>tahaddi</em> yaitu <strong>tantangan</strong>. Di Mekkah dan Madinah zaman dahulu, bukan sedikit ahli­ahli syair dan <em>Kahin</em> (tukang mantra) yang dapat mengeluarkan kata dengan tersusun rapi. Namun tidak ada satupun yang dapat menandingi al-Qur&#8217;an. Bahkan sampai kepada zaman kita sekalipun, bangsa Arab masih tetap mempunyai pujangga-pujangga besar, akan tetapi mereka tetap tidak sanggup untuk membandingkan apalagi mengadakan satu tantangan dengan al­Qur&#8217;an. Seorang pujangga arab terkenal <strong>Dr.Taha Husain</strong><a title="" href="#_ftn2">[2]</a>, mengatakan bahwa bahasa Arab itu mempunyai dua macam sastra, yaitu prosa <em>(manzhum) </em>dan puisi <em>(mantsur)</em> dan yang ketiga ialah al-Qur&#8217;an. Beliau tegaskan bahwa al-Qur&#8217;an bukan prosa, bukan puisi, al-Qur&#8217;an ialah al-Qur&#8217;an. Tahaddi atau tantangan itu akan terus tejadi sampai akhir zaman. Dan untuk merasai betapa hebatnya tantangan dan betapa pula matinya jawaban atas tantangan itu, sebaiknya kita mengerti bahasa Arab dan dapat membaca al-Qur&#8217;an itu. Dengan demikianlah kita akan mencapai satu keyakinan <em>(‘ain al-yakin)</em> dari tantangan ini. Semakin bertambah kita mendalaminya, mempelajari sastra-sastra dan tingkatan-tingkatan kemajuannya, semakin bertambah yakinlah kita bahwa tidak dapat dikemukakan satu surat pun untuk menandingi al-Qur&#8217;an. Apalagi surat al­Baqarah yang terdiri dari 286 ayat, terlalu panjang untuk kita jadikan sebagai tandingan, surat-surat yang pendek seperti al-lkhash, surat al­Kautsar, itupun tidak ada manusia yang kuasa membuat surat tandingan untuk melawan dia (al-Qur’an).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibnu Jauzi</strong> di dalam kitabnya <em>Zaad al-Masir</em> menerangkan sebab turunnya ayat ini karena orang Yahudi<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> mengatakan bahwa ayat-ayat yang turun kepada Nabi Muhammad selama ini tidak menyerupai wahyu. Dengan demikian, mereka dalam keadaan <em>syak </em>(ragu), kemudian turunlah ayat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Allah menyebutkan dalil-dalil bukti tauhid sebagai hujah ke atas nabi, maka datanglah segala pembuktian kemukjizatan al-Quran melalui ayat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Maksud <em>buatlah satu </em>surat (saja) yang seperti al-Quran,<em> </em>yaitu buatkan satu surah yang <strong><em>seperti</em></strong> al-Quran dari segi balaghah, fasahah dan keterangannya. Imam Al-Syaukani dalam tafsirnya <em>Fath al-Qadir </em>berkata, “Yang <strong><em>seperti</em></strong><em> </em>itu, kembali kepada al-Quran”.</p>
<p><strong>Syeikh Rashid Ridha</strong> menyatakan bahwa yang ditarjihkan oleh gurunya, <strong>Syeikh Muhammad Abduh</strong>, <strong><em>seperti</em></strong><em> </em>itu kembali kepada nabi Muhammad adalah khusus dalam ayat ini, tidak menafikan kelemahan untuk mendatangkan dengan surah seperti surah-surah al-Quran sekalipun jumhur berpendapat yang lain. Allah memberikan satu tantangan kepada manusia mengenai isi dan kebenaran al-Quran dengan tiga tantangan sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama kalam, iaitu:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Memberikan tantangan untuk membuat al-Quran secara keseluruhan seperti dalam surah Al-Isra’</li>
<li>Tantangan untuk membuat sepuluh surah saja seperti dalam Surah Huud</li>
<li>Tantangan untuk membuat satu surah sebagaimana dalam ayat ke-23 ini.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Pendapat lain mengenai kalimat <strong><em>seperti</em></strong><em> </em>itu kembali kepada kitab Taurat dan Injil karena makna datangkan dengan surah daripada kitab-kitab seumpamanya, sudah tentu hanya sesuai dan layak dengan kitab-kitab seperti itu. Selanjutnya, Allah menantang mereka dengan kenyataan-Nya: <strong><em>dan ajaklah penolong-­penolongmu selain Allah</em></strong><em> </em>yang bermaksud panggillah pembantu-pembantu kamu yang dapat menolongmu dalam perlawanan menentang al-Quran. Dengan maksud meminta tolong dengan siapa yang kamu kehendaki selain daripada Allah. <strong>Al-Baidhawi</strong> berkata, “Makna ayat ini adalah mengajak dan memanggil baik itu manusia, jin ataupun tuhan-tuhan selain Allah, niscaya mereka tiada mampu dan kuasa untuk mendatangkan surah seumpama al-Quran kecuali Allah juga.”</p>
<p style="text-align: justify;">            <strong>Ibnu Jauzi</strong> berkata, “Terdapat tiga tafsiran pada kalimat  <em>penolong-penolongmu</em>,<em> </em>iaitu:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Tuhan-Tuhan mereka, ini seperti yang diungkapkan Ibnu Abbas,  al-Suddi, Muqatil dan Farra’</li>
<li>Mereka yaitu pembantu-pembantunya, seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas.</li>
<li>Datangkanlah manusia untuk menyaksikan apa yang kamu buat seperti dalam al-Quran, sebagaimana pendapat Mujahid. Adapun Ibnu Abbas memberikan pendapat mereka (yang masih ragu) menganggap bahwa Al-Quran datang bukan dari Allah.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Al-Samarqandi</strong> berkata, “ayat-ayat ini merupakan asal dan sumber bagi semua apa yang dikatakan oleh ahli kalam kerana pada awal ayat ia menisbahkan pencipta dan pada akhir ayat ia menisbahkan kenabian Muhammad SAW.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Abu Jaafar al-Tabari</strong> melalui tafsirnya <em>Sami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Quran</em> berkata, “Ini dari Allah yang berhujah untuk nabi-Nya ke atas orang-orang musyrikin dari kaum Arab, orang-orang munafikin dan orang-orang kafir ahli kitab yang sesat di kalangan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>AYAT 24:</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<h2 style="text-align: right;" align="center"><strong>فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ</strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuatnya, peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini meneruskan lagi cabaran Allah kepada mereka dengan kenyataan <strong><em>Maka jika kamu tidak dapat membuatnya</em></strong><em>, </em>bermaksud jika sekiranya kamu tidak mampu mendatangkan seumpama satu surah dan surah-surahnya, dan kamu telah lemah (gagal) pada masa lalu untuk mendatangkan setarafnya atau kurang sedikit sekalipun kamu minta bantuan daripada ahli-ahli bahasa dan pakar-pakar sastera, <strong><em>pasti kamu tidak dapat membuatnya</em></strong><em> </em>dengan maksud tidak kuasa pada masa akan datang juga. Dengan kata lain sebagaimana kamu lemah pada masa dulu, begitu juga pada masa akan datang.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibnu Katsir</strong> berkata, “Allah menantang mereka melalui al-Quran sekalipun mereka semua adalah sefasih-fasihnya manusia, walau bagaimanapun mereka tetap lemah. Huruf (<em>Lan</em>=<em>nafi</em>) selama-lamanya pada masa akan datang, maksudnya kamu selama-lamanya tidak mampu melakukan penciptaan seperti al-Quran. Ini menandakan bahwa al-Quran pasti tidak mungkin dan bukan tandingannya sebagai tantangan, baik masa dulu atau sampai kapanpun.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kemudian Allah SWT menyebut <strong><em>peliharalah dirimu dari neraka</em></strong><em> </em>dengan maksud takutlah azab Allah dan awaslah daripada terjerumus ke neraka Jahannam yang Allah sediakan sebagai balasan kepada pendusta-pendusta dimana neraka yang disifatkan seperti <strong><em>bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan untuk orang-orang kafir</em></strong>, iaitu bahan-bahannya yang terdiri dari orang kafir dan batu-bata yang dijadikan berhala untuk disembah selain daripada Allah. <strong>Mujahid</strong> berkata, “Batu-bata yang dijadikan api unggun dan bahan bakar lebih busuk daripada bangkai yang diazabkan bersama neraka.” Orang-orang kafir di sini adalah yang ingkar, layak menerima berbagai azab. <strong>Ibnu Jauzi</strong> berkata, ”Bahan bakarnya daripada batu-bata.”</p>
<h4 style="text-align: justify;"> Disini, ada dua pandangan ulama yang memberikan keterangan, yaitu:</h4>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Berhala-berhala yang mereka sembah, seperti pendapat al-Rabi’ Ibnu Anas</li>
<li>Batu-bata yang dijadikan sebagai api unggun panasnya melebihi atas semua jenis siksaan yang ada.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan daripada <strong>Ibnu Mas’ud</strong> tentang batu yang menjadi bahan bakar dikhususkan demikian kerana ia dilebihkan daripada segala batu-bata dengan lima jenis azab<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Cepat terbakar</li>
<li>Bau yang begitu busuk</li>
<li>Tebalnya asap yang dikeluarkan</li>
<li>Kuatnya melekat pada badan</li>
<li>Kuatnya rasa panas</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Al-Mawardi di dalam kitabnya <em>al-Nukat Wa Uyun </em>berkata, “Pada ayat <em>disediakan bagi orang-orang kafir  </em>terdapat dua pandangan:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Bahwa neraka(ini), sekalipun disediakan untuk orang-orang kafir, juga ditujukan kepada siapapun yang layak dikenakan azab walaupun bukan dari kalangan <em>kafirin</em>, maksudnya di tempat neraka yang sama, hanya jenis azabnya yang berbeda; sesuai dengan tahapannya masing-masing.</li>
<li>Neraka ini hanya disediakan untuk orang-orang kafir saja, adapun mereka (ingkar tetapi tidak sampai kepada ke-kafir-an) tetap dikenakan azab dan disediakan neraka lain.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibnu Atiyyah </strong>menafsirkan lafadz <strong><em>disediakan</em></strong><em> </em>adalah satu bentuk menolak <em>(counter attack)</em> kepada mereka yang berpendapat bahwa neraka belum lagi diciptakan, karena pendapat ini adalah pendapat yang lemah apabila kita tinjau dari lafadz kalimatnya pada ayat tersebut <strong>( أُعِدَّتْ )</strong><strong> </strong>merupakan  <em>fiil</em> <em>madhi</em> (perbuatan yang masa lalu: Allah sudah ciptakan dari dulu).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sayyid Qutub</strong> dalam tafsirnya <em>Fii Zilal al-Quran, </em>menyebutkan: “Kumpulan antara manusia dan batu dalam neraka adalah sebuah gambaran yang sangat menakutkan dan seolah-olah api neraka memamah (memakan) batu-batu, sedangkan manusia bersama batu-batu itu di dalam neraka”.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Wallahu A’lam Bi Al-Showwab………</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Ibnu Dahlan El-Madary</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Shollallahu ‘Alaa Muhammad Wa Aalihi</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Batu Pahat, 01.00 PM</p>
<p style="text-align: justify;">29 Rajab 1431H/01 July 2011</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al-Quran itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa karena ia merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>  Beliau diberi anugerah (gelar)<strong><em> Doctor Honoris Causa</em></strong> oleh beberapa Universitas Eropa seperti di Spanyol, Itali, Yunani sebagai bentuk pencapaian dari gelar Dr dari Sarbonne University, Paris.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>  Imam Muqatil berpendapat orang-orang Yahudi diantaranya: Rafa’ah Ibn Zaid, Zaid Ibn Umar, Adapun menurut Ibnu Abbas dan Muqatil yaitu Marwi</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;"><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>  Ibnu Atiyyah dalam kitabnya <em>al-Muharrar al-Wajiz </em>juga menyatakan pendapat mengenai perkara ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/tafsir-al-qur%e2%80%99an-surah-al-baqarah-ayat-23-24/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Al-Qur&#8217;an Surah Al-Baqarah ayat 21-22</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/tafsir-al-quran-surah-al-baqarah-ayat-21-22/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/tafsir-al-quran-surah-al-baqarah-ayat-21-22/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2011 12:40:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Em. Yazid</dc:creator>
				<category><![CDATA[al qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Surah Al-Baqarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Al-Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6658</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Setelah pada ayat sebelumnya sudah kita uraikan, ayat 1-5 tentang sifat-sifat mukmin sejati, dengan penuh keyakinannya mereka bisa menerima untuk kemudian menjalankan syariat yang telah di wahyukan melalui...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong> &#8211; Setelah pada ayat sebelumnya sudah kita uraikan, ayat 1-5 tentang  sifat-sifat mukmin sejati, dengan penuh keyakinannya mereka bisa  menerima untuk kemudian menjalankan syariat yang telah di wahyukan  melalui utusan-Nya,  kemudian ayat 6-7 menjelaskan tentang orang-orang  kafir yang dalam hatinya sampai akhir hayat tidak bisa menerima keimanan  karena disebabkan hatinya sudah di tutup oleh Allah, kemudian dalam  ayat 8-20 lebih jauh menjelaskan tentang sifat dan ciri khusus  orang-orang  munafik, dimana karakter manusia yang terakhir ini antara  jasmani dan rohani tidaklah sama, senang di kata manis di bibir lain di  hati, itulah orang-orang yang sering kita kenal Munafik (manusia  berkepala dua).</p>
<p>Selanjutnya, ayat 21 Allah SWT berfirman:</p>
<h2 style="text-align: justify;">يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</h2>
<p style="text-align: justify;">“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”.</p>
<p>Dalam  dua puluh ayat sebelumnya, Allah menjelaskan keadaan dan ‎karakteristik  tiga kelompok manusia yaitu orang-orang bertakwa, kafir dan ‎munafik.  Setelah membandingkan pikiran, kepercayaan, perbuatan dan kata-‎kata  tiga kelompok ini, ayat ke-21 ini menjelaskan jalan menuju ‎kebahagian  dan keselamatan. Untuk bergabung dengan kelompok pertama ‎dan mencapai  derajat takwa, hanya ada satu jalan yaitu membebaskan diri ‎dari yang  lain dan hanya menambatkan batin kepada Allah yang telah ‎menciptakan  kalian. Yakni mengabdilah hanya kepada Allah supaya kalian ‎terbebas  dari perbudakan orang lain.‎<br />
Sebagian besar umat manusia mengakui  Allah sebagai pencipta dirinya dan ‎alam semesta. Tetapi, dalam program  dan aturan hidupnya, mereka ‎mengambil cara orang-orang lain. Jadi,  seakan-akan mereka ini diciptakan ‎begitu saja, lalu dilepaskan dan  bebas berbuat apa saja yang mereka ‎kehendaki. ‎</p>
<p>Ayat ini  mengatakan bahwa Pencipta kalian juga merupakan zat yang ‎merawat dan  mengayomi, dan demi pertumbuhan dan perkembangannya, Allah telah  menentukan program dan kewajiban-kewajiban kalian. ‎Allah telah  menetapkan undang-undang. Ingatlah betapa meletakkan undang-‎undang dan  peraturan hanyalah hak Allah yang telah menciptakan kalian. ‎Dengan  demikian taatlah kepada-Nya. Hanya perintah-Nya-lah yang patut ‎kalian  junjung tinggi dan keuntungannya akan kembali kepada kalian sendiri.  ‎Jauhilah noda dan kejelekan serta dekatilah kebaikan dan kesucian.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari ayat tadi terdapat tujuh poin pelajaran yang dapat kita dipetik:</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Semua para nabi bersifat umum dan tidak terbatas pada sekelompok  orang ‎tertentu. Oleh karena itu, sekitar 20 kali lebih pernyataan dalam  Al-Quran ditujukan kepada ‎semua orang yaitu dengan kata-kata &#8220;Ya  Ayyuhan-Naas&#8221; yang artinya &#8220;Hai ‎Manusia&#8221;. Maksud dan kandungan pada  ayat ini yaitu bahwa Allah menyeru kepada siapapun dia yang masih merasa  sebagai manusia (makhluk Tuhan), masih diberikan kesempatan untuk  kembali ke pangkal jalan kebenaran.</li>
<li style="text-align: justify;">Salah satu sebab dan  falsafah ibadah kepada Allah ialah untuk ‎menyatakan rasa bersyukur atas  nikmat-nikmat Allah yang tak terhingga ‎kepada kita dan kepada  orang-orang tua kita. Karena itu Allah berfirman: ‎‎&#8221;Sembahlah Tuhan  kalian yang telah menciptakan kalian.&#8221;‎</li>
<li style="text-align: justify;">Nikmat penciptaan  adalah nikmat yang paling utama dan terbesar yang ‎telah diberikan Allah  kepada kita. Nikmat ini menuntut ketaatan kita kepada ‎seluruh perintah  Ilahi.‎</li>
<li style="text-align: justify;">Ibadah adalah faktor ketakwaan dan kesucian. Jika  ibadah tidak ‎menambah spirit ketakwaan dalam diri kita, maka itu bukan  ibadah. ‎</li>
<li style="text-align: justify;">Kita harus ingat dan waspada supaya jangan sampai  membuat dan ‎membiarkan adat dan tradisi orang-orang tua kita  bertentangan dengan ‎perintah Ilahi, sebab mereka juga merupakan  makhluk-makhluk Allah. Jangan ‎sampai ketaatan kepada mereka itu  menghalangi ketaatan kita kepada ‎perintah Allah.‎ ‎</li>
<li style="text-align: justify;">Allah  tidak memerlukan ibadah dan penyembahan kita. Shalat dan munajat ‎kita  tidak akan menambah kudrat (kekuasaan) dan keagungan Allah. Sesuatu yang  ada ‎pada Allah juga tidak akan berkurang jika kita meninggalkan  ibadah. Kitalah ‎yang memerlukan Allah demi perkembangan dan  kesempurnaan kita. Kita ‎harus pasrah mutlak kepada aturan dan ketentuan  Allah. ‎</li>
<li style="text-align: justify;">Kita jangan sombong dengan ibadah kita sebab ujub  (berbangga diri) yaitu rasa takjub ‎kepada diri sendiri serta sifat  riya&#8217; (pamer) akan mencegah kita untuk sampai kepada ‎takwa. Betapapun  banyaknya ibadah yang kita lakukan tetapi karena sifat itulah (riya’ dan  ujub), maka kita tidak akan sampai kepada ‎derajat takwa.‎‎</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini  termasuk dalam Tauhid Uluhiyah: Penyatuan tempat menyembah. Sebab Dia  yang telah menjadikan kita dan nenek-moyang kita; tidak bersekutu dengan  yang lain.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Ayat ke-22:</h4>
<h2 style="text-align: justify;">الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً<br />
فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ</h2>
<p style="text-align: justify;">“Dialah  yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap,  dan Dia menurunkan[1] air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan  dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu  janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah[2], padahal kamu  mengetahui”.<br />
Dalam ayat ini, Allah menyinggung berbagai nikmat Allah  yang masing-‎masing adalah sumber daripada nikmat yang lain. Allah  menjadikan bumi ini ‎sebagai hamparan bagi kehidupan manusia di bumi  ini. Gunung dan ‎saharanya, air dan tanahnya, mineral yang tersimpan di  dalam tanah dan di ‎bawah gunung-gunung, semuanya merupakan lingkungan  yang cocok untuk ‎kelestarian dan kehidupan manusia.‎‎ Kerjasama antara‏  ‏langit dan bumi telah mendatangkan hujan dan ‎menambahkan tanaman  serta memenuhi rezeki dan makanan manusia. ‎Semua ini berlangsung dan  terjadi sesuai dengan peraturan Allah dan ‎kudrat‏-‏Nya yang tak  terhingga. Dengan demikian, bagaimana mungkin orang-‎orang atau  makhluk-makhluk lain yang memerlukan Allah, dapat dijadikan ‎sebagai  sekutu‏-‏Nya dan bukannya perintah Allah, tetapi perintah merekalah  ‎yang diikuti.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibadah yang diperintahkan oleh Allah swt, semata juga  dalam kerangka menghilangkan salah satu dari Hijab yang menghalangi  hubungan hamba dengan Allah. Hijab pertama adalah Hijab Af&#8217;aal, kemudian  Hijab Sifat dan Hijab Dzat, melalui tahap pertama, yaitu Tajallinya  Af’aal Allah. Sebab, makhluk itu terhijabi untuk melihat ketiga-tiganya:  Af&#8217;aal, Sifat dan Dzat, terhalangi oleh semesta kemakhlukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di  dalam ayat tersebut dijelaskan bagaimana Allah memerintahkan beribadah  pada hamba-Nya, dengan menggambarkan latar belakang, seputar penciptaan,  fungsi bumi dan langit, kemakmuran akibat yang ditimbulkan bumi dan  langit, dan rizki dibalik penciptaan itu. Namun, manusia terhalangi  pandangannya sehingga merasa bahwa langit dan bumi seisinya itulah yang  bisa diandalkan sebagai tempat berpijak, tempat bergantung dan sumber  rezeki. Padahal semua itu dari Allah SWT. Artinya Allah yang mengerjakan  semua itu, menciptakan semua itu dan me-manage semuanya. Allah-lah yang  berhak disembah, sehingga manusia hanya menyembah kepada-Nya. Ibadah  hanya sah bagi hamba, dan tertuju kepada Pencipta hamba. Karena itu sang  hamba harus mengenal Penciptanya, dimana, Allah bertajalli melalui  ciptaan-Nya. Tajallinya Allah bukan penyatuan Wujud-Nya dengan wujud  makhluk-Nya yang disebut dengan pantheisme. Tetapi, Tajallinya Allah  adalah penampakan yang disaksikan oleh jiwa terdalam dari para  hamba-Nya, dan karena itu, seperti dalam hadits:</p>
<h2 style="text-align: justify;">مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ</h2>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Siapa yang mengenal jiwanya maka ia mengenal Tuhannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Allah  menurunkan air dari langit. Maksudnya, Allah menurunkan Air Tauhid  Af&#8217;aal Allah, lalu air itu menyebabkan tumbuhnya sikap pasrah total  kepada-Nya dari bumi hatinya. Disamping air itu juga menumbuhkan  amal-amal dan kepatuhan, juga akhlak hasanah, agar menimbulkan rizki  hati yang menumbuhkan buah-buah keyakinan, kondisi-kondisi ruhani yang  luhur, seperti sabar, syukur dan tawakkal. Inilah yang kemudian,  dibutuhkannya Risalah (Kerasulan) untuk menjembatani hubungan antara  hamba dengan Allah, sebagaimana dibutuhkan jasad untuk suatu kerangka  bagi jiwa kita. Risalah itu berfungsi untuk pertemuan Kalimat-kalimat  Ilahi dalam hati dari ruhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Proses demikian, akan menghilangkan  keragu-raguan atau pun dualitas dalam spirit kehambaan. Sebab tujuan  utama dari penyembahan kepada Allah adalah ketaqwaan. Sedangkan taqwa  itu sendiri merupakan sebuah prestasi atau maqam ruhani, dimana rahasia  ruh seorang hamba sama sekali tidak terpisah dari Allah, sedangkan  jasadnya bergerak menjalankan aturan-aturanNya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketaqwaan itu sendiri  berarti manifestasi Tauhid kehambaan. Tauhid dalam arti yang hakiki,  adalah perwujudan Syahadatain, yaitu penyaksian kepada KeMahaTunggalan  Allah dan hakikat nabi Muhammad itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Martabat dan tingkat  yang dapat dicapai oleh orang yang beriman karena menerima petunjuk  Tuhan sudah diterangkan, sebab-sebab orang menjadi kafirpun sudah  dijelaskan. Manusia yang mempergunakan akalnya dapat mengerti jalan mana  yang akan dia tempuh, jalan selamat atau jalan celaka. Maka pandanglah  dan renungkanlah itu semuanya, sejak dari buminya sampai kepada  langitnya, sampai kepada turunnya air hujan menyuburkan bumi itu.  Teratur turunnya hujan menyebabkan suburnya apa yang ditanam. Kebun  subur, sawah menjadi, dan hasil tanaman setiap tahun dapatlah diambil  buat dimakan. Pikirkan dan renungkan itu semuanya, niscaya hati sanubari  akan merasa bahwa tidak ada orang lain yang sekasih, sesayang itu  kepadamu. Dan tidak ada pula kekuasaan lain yang sanggup berbuat begitu;  menyediakan tempat diam bagimu, menyediakan air dan menumpahkan bahan  makanan yang boleh dikatakan tidak membayar. Sehingga jika terlambat  hujan turun dari jangka yang terbiasa, tidaklah ada kekuatan lain yang  sanggup mencepatkan datangnya. Ayat ini akan diikuti lagi oleh banyak  ayat yang lain, yang nadanya menyeru dan membangkitkan perhatian manusia  terhadap alam yang berada sekelilingnya. Ayat ini telah menunjukkan  kehidupan kita di atas bumi yang subur ini, menyambung keturunan dari  nenek-moyang kita. Disebutkan di sini bahwa bumi adalah hamparan,  artinya disediakan dan dikembangkan laksana mengembangkan permadani,  dengan serba-serbi keseluruhannya. Dan di atas kita terbentanglah langit  lazuardi, laksana satu bangunan besar. Di atas langit itu terdapat  matahari, bulan dan bintang dan awan gumawan dan angin yang berhembus  sejuk. Lalu diterangkan pula bahwa kesuburan bumi adalah karena turunnya  hujan dari langit, artinya dari atas. Ayat ini menyuruh kita berpikir  dan merenungkan, diikuti dengan merasakan. Bukanlah kemakmuran hidup  kita sangat bergantung kepada pertalian langit dengan bumi lantaran  hujan? Adanya gunung gunung dan kayu kayuan, menghambat air hujan itu  jangan tumpah percuma saja ke laut, tetapi tertahan-tahan dan  menimbulkan sungai­sungai. Setengahnya terpendam ke bawah bumi menjadi  persediaan air.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertalian langit dengan bumi, dengan adanya air hujan  itu teratur dengan sangat rapinya, sehingga kehidupan kita di atas bumi  menjadi terjamin. Ayat ini menyuruh renungkan kepada kita, bahwasanya  semuanya itu pasti ada yang menciptakan; itulah Allah. Tidak mungkin ada  kekuasaan lain yang dapat membuat aturan setertib dan seteratur itu.  Sebab itu maka datanglah ujung ayat mengatakan tidaklah patut kita  menyembah kepada Tuhan yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari ayat tadi terdapat enam poin pelajaran yang dapat dipetik:‎</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Memperhatikan nikmat-nikmat Allah merupakan cara terbaik untuk  ‎mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya. Oleh sebab itu ayat ini  ‎menjelaskan nikmat-nikmat Ilahi kepada manusia setelah ayat sebelumnya  ‎memerintahkan supaya kita menyembah Allah.‎</li>
<li style="text-align: justify;">Adanya  eko-sistem dan kerjasama antara langit dan bumi merupakan bukti ‎terbaik  mengenai adanya Zat Pencipta alam semesta yang Maha Perkasa.‎</li>
<li style="text-align: justify;">Dari dua kalimat &#8220;Ja&#8217;alla lakum&#8221; dan &#8220;Rizqan lakum&#8221; bisa kita pahami  ‎bahwa Allah menciptakan alam ini untuk manusia, dan tujuan terakhir  dari ‎diciptakannya makhluk-makhluk lain ialah supaya dimanfaatkan oleh  manusia.‎</li>
<li style="text-align: justify;">Keteraturan dan kerjasama antara anggota alam  semesta ini merupakan ‎bukti yang paling jelas mengenai adanya perhatian  Allah serta ke-Esaan-Nya. ‎Maka kita harus menyembaah Tuhan Yang Esa  dan jangan menjadikan ‎sekutu-sekutu bagi Allah dalam soal penciptaan.‎</li>
<li style="text-align: justify;">Mengenal dan menyembah Allah adalah masalah yang sesuai dengan  ‎tuntutan fitrah. Naluri semua manusia mengalami hal ini. Karena itu  Allah ‎berfirman: وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ : Sedangkan kalian  mengetahui.‎ ‎</li>
<li style="text-align: justify;">Air dan tanah adalah perantara, tetapi  tumbuhnya tanaman ada di tangan ‎Allah. Karena itu Allah berfirman:  &#8220;Maka Dia menghasilkan dengan air itu ‎buah-buahan sebagai rezeki untuk  kalian.&#8221; ‎ ‎</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Di ayat 22 masuk ke dalam Tauhid Rububiyah, yaitu Dia  yang menjadikan bumi sebagai hamparan, menjadikan langit sebagai  bangunan dan Dia yang menurunkan hujan, sehingga tumbuhlah  tumbuh-tumbuhan untuk rezeki bagi kamu. Oleh sebab itu janganlah  disekutukan Allah dengan yang lain; sebagaimana ayat sebelumnya yaitu  Tauhid Uluhiyah. Dengan  demikian, tauhid juga bisa kita pelajari dari  fenomena alam yang ada disekitar kita.</p>
<p>Wallahu A’lam…<br />
Shollallahu ‘Ala Muhammad Wa Aalihi<br />
Ibnu Dahlan El-Madary<br />
Seri Kembangan, 4 Sya’ban 1432H/6 July 2011:11PM</p>
<p>[1]  air hujan dari langit, lalu menumbuhkan dengan hujan itu, buah-buahan  sebagai rizki bagi kamu. Maka janganlah mengadakan sekutu-sekutu bagi  Allah, sedangkan sebenarnya kamu tahu (itu).<br />
[2] Ialah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/tafsir-al-quran-surah-al-baqarah-ayat-21-22/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ciri Pribadi Taqwa</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/ciri-pribadi-taqwa/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/ciri-pribadi-taqwa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 04:12:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[al qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[ciri takwa]]></category>
		<category><![CDATA[definisi taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[taqwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=3037</guid>
		<description><![CDATA[Allah SWT menurunkan Al-quran sebagai Mu&#8217;jizat yang luar biasa untuk kekasihnya: Nabi Muhammad SAW, melalui perantara Malaikat Jibril dalam kurun waktu lebih kurang selama 23 Tahun. Al-Quran terdiri dari 114...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah SWT menurunkan Al-quran sebagai Mu&#8217;jizat yang luar biasa untuk kekasihnya: Nabi Muhammad SAW, melalui perantara Malaikat Jibril dalam kurun waktu lebih kurang selama 23 Tahun. Al-Quran terdiri dari 114 surat, 6666 ayat (berdasarkan perhitungan mayoritas ulama, karena ada perbedaan versi [antara perhitungan ulama Syiria, Madinah ataupun Bashrah]tentang jumlah ayat dalam Al-Quran yang terdiri dari 30 juz ini), di awali dari Ummu al-Kitab (Al-Fatihah) dan di tutup dengan surat An-Naas. Al-Baqarah sebagai surat kedua, di awal ayat dengan jelas Allah SWT memberikan definisi bahwa Inilah Kitab (Al-Quran), kita di perintahkan untuk tidak memiliki rasa ragu atau tidak percaya kepada isi dan kandungan al-Quran, Kenapa? Karena Al-quran tidak di turunkan melainkan sebagai <em>petunjuk</em> untuk orang-orang yang bertakwa.</p>
<p>Kata Petunjuk kalau dalam bahasa arabnya adalah diambil dari lafadz <em>hudan, </em>dimana kata<em> hudan </em> ini, masih seakar kata dengan kata <em>hadiah, </em>bermakna; Al-Quran adalah kitab suci yang diberikan dengan penuh cinta dan rasa kasih sayang, hal ini masih sejalan dengan konsep hadiah, apabila seseorang memberikan suatu hadiah untuk kawan dekat, saudara, atau kekasih tercinta, pasti dia akan mengemas secantik mungkin, di balut dengan kertas dan berbagai aksesoris lainnya, dan disaat memberikan hadiah tersebut tanpa adanya suatu unsur paksaan, melainkan diberikan dengan penuh rasa suka cita, hati damai dan tanpa mengharap imbalan apapun, begitulah sejatinya Allah menurunkan Al-Quran  kepada kita sebagai <em>petunjuk (baca:hadiah)</em> untuk orang-orang yang bertaqwa.</p>
<p>Definisi taqwa yang sering di jelaskan oleh para ulama adalah <em>Imtisal al-awaamir Wajtinabu al-Nawahi</em> (melaksanakan apa yang diperintahkan Allah, dan menjauhi segala larangan-Nya). Seperti yang diungkapkan oleh Imam Hasan Al-Bashri bahwa taqwa adalah takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah, serta menunaikan apa yang diwajibkan-Nya. Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengartikan taqwa dapat di raih oleh orang-orang yang mampu menjadikan tabir penjaga antara dirinya dan neraka. Pandangan ini secara tidak langsung menyatakan bahwa orang yang bertaqwa tahu hal-hal apa sajakah yang menyebabkan Allah murka dan menghukumnya kelak di neraka.</p>
<p>Konsep taqwa kalau dalam surat Ath-Thalaq, selama ini hanya dijelaskan seputar imbalan akan diberikan jalan keluar (solusi) dalam segala problematika kehidupan, serta akan didatangkannya rezeki dari jalan yang tidak kita sangka, padahal pada ayat selanjutnya masih ada 3 point yang dengan tegas di jelaskan, bahwa orang-orang yang bertaqwa selain akan mendapatkan 2 point di atas, Allah SWT juga akan menjadikan segala urusan kehidupannya menjadi lebih mudah dalam melaluinya, akan dihapuskan segala kekhilafan(perbuatan buruknya), dan meraka akan selalu di lipat gandakan pahalanya dalam setiap amaliyah sholih yang dilakukannya. Begitu mulianya orang-orang yang bertaqwa dalam pandangan sang penguasa alam raya ini.</p>
<p>Rasulullah SAW suatu ketika pernah menasehati Sayyidina Ali Ibnu Abi Thalib, wahai Ali: Shalatlah apabila telah tiba waktunya karena itu akan menunjukkan engkau sebagai pribadi yang bertaqwa. Nasehat ini kalau dalam  surat An-Nisa sudah di jelaskan bahwa Sesungguhnya Shalat ada pada diri orang-orang yang beriman, dan telah di tetapkan waktunya. Maka wajar kalau baginda Rasulullah SAW dalam beberapa riwayat di katakan, suatu masa beliau sedang berasyik-masyuk, bersenda gurau dengan para istrinya, tetapi apabila tiba waktu shalat (adzan), <em>Kaannahu Lam Ya&#8217;rifna Walam Na&#8217;rifhu</em>: seakan-akan rasul tidak mengenal kami (para istri), dan kami pun tidak mengenalnya (rasul), beliau langsung menuju masjid untuk memenuhi panggilan-Nya, dan para istrinya pun langsung ikut berjamaah. Demikian dijaganya arti shalat jamaah oleh rasul dan keluarganya.</p>
<p>Besok di akhirat, ada 3 golongan manusia yang berbeda di dalam menjaga shalat jamaah waktu di dunia:</p>
<p>1.      <em>Wujuuhuhum Ka al-Kawakib</em> (Wajah seperti bintang)<em></em></p>
<p>Kelompok ini adalah mereka yang apabila mendengar adzan (panggilan shalat), mereka tidak melanjutkan aktivitasnya melainkan segera mengambil air wudlu&#8217; untuk melaksanakan shalat.</p>
<p>2.      <em>Wujuuhuhum Ka al-Qamar </em>(Wajah seperti bulan)<em></em></p>
<p>Golongan ini bisa dicapai kepada mereka yang selalu dalam keadaan suci, walaupun belum ada panggilan shalat(adzan).</p>
<p>3.      <em>Wujuuhuhum Ka al-Syams</em> (Wajah seperti Matahari)<em></em></p>
<p>Golongan eksekutif yang dapat merasakan kenikmatan ini, karena mereka selalu dalam keadaan suci, dan sudah duduk I&#8217;tikaf di dalam masjid walaupun adzan belum berkumandang.</p>
<p>Inilah beberapa tauladan yang dapat mengangkat martabat kita sebagai pribadi yang bertaqwa, yang mampu menjaga dan memelihara suatu <em>hadiah </em> (baca: pesan moral dalam Al-Quran) dari Tuhan-Nya, sehingga menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Sudah sejauh manakah kita dalam mengaplikasikan <em>hadiah indah </em> dari Allah ta&#8217;ala???</p>
<p>Sholli &#8216;Ala Muhammad Wa Aalihi</p>
<p>PG.2.7 Selangor</p>
<p>Amir el-Madary</p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/ciri-pribadi-taqwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkembangan Embrio Manusia &#8211; Keajaiban Ilmiah Al Qur&#8217;an</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/perkembangan-embrio-manusia-keajaiban-ilmiah-al-quran/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/perkembangan-embrio-manusia-keajaiban-ilmiah-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 22:12:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[al qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[embrio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2565</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam al Qur&#8217;an Allah menurunkan beberapa ayat tentang perkembangan embrio manusia. وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di dalam al Qur&#8217;an Allah menurunkan beberapa ayat tentang perkembangan embrio manusia.</p>
<p class="arabic">وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ<br />
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ<br />
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ</p>
<p class="terjemah">Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Al Qur&#8217;an, 23:12-14)</p>
<p>Secara bahasa, kata bahasa arab <strong>&#8216;alaqah</strong> mempunyai tiga makna: 1. lintah, 2. sesuatu yang menempel/tergantung, dan 3. gumpalan darah.</p>
<p>Jika kita membandingkan sebuah <strong>lintah</strong> dengan embrio pada fase &#8216;alaqah, kita akan menemukan kemiripan di antara keduanya, sebagaimana terlihat dalam gambar 1. Selain itu, sang embrio pada fase ini memperoleh makanan melalui aliran darah dari ibunya, mirip dengan lintah yang menghisap darah dari makhluk lain.</p>
<p>Makna ke dua dari kata &#8216;alaqah adalah <strong>sesuatu yang menempel/tergantung</strong>. Hal ini dapat kita lihat dalam gambar 2 dan 3, di mana embrio pada fase &#8216;alaqah, menggantung dan menempel pada rahim sang ibu.</p>
<p>Makna ke tiga dari kata &#8216;alaqah adalah <strong>gumpalan darah</strong>. Kita dapat melihat bahwa tampilan luar dari embrio dan kantungnya pada saat fase &#8216;alaqah sangat mirip dengan darah yang menggumpal. Hal ini disebabkan oleh kehadiran darah yang relatif banyak selama fase ini (lihat gambar 4). Pun pada fase ini, darah di dalam embrio belum mengalami sirkulasi hingga akhir minggu ke tiga. Dengan demikian, embrio pada fase ini memang mirip gumpalan darah.</p>
<p>Jadi, tiga makna dari kata &#8216;alaqah secara akurat amat bersesuaian dengan keaadaan embrio pada fase &#8216;alaqah.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Bagaimana bisa Nabi Muhammad mengetahui semua rincian ini lebih dari 1400 tahun yang lalu? Padahal para ilmuwan baru bisa mengetahui hal tersebut di masa moderen ini dengan bantuan peralatan mutakhir dan mikroskop yang amat kuat? Hamm dan Leeuwenhoek adalah ilmuwan pertama yang mengamati sel sperma manusia (spermatozoa) melalui mikroskop di tahun 1677 (lebih dari 1000 tahun setelah jaman Nabi Muhammad). Mereka berdua secara salah menganggap bahwa sel sperma mengandung manusia mini yang akan tumbuh ketika ia dibenihkan ke dalam kelamin wanita.</p>
<p>Di tahun 1981, dalam Konferensi Kedokteran Ke Tujuh di Dammam, Arab Saudi, Profesor Moore berkata: &#8220;Adalah sebuah kehormatan tersendiri bagi saya untuk bisa membantu memperjelas pernyataan Al Qur&#8217;an tentang perkembangan manusia. Sangat jelas bagi saya bahwa pernyataan tersebut tentulah sampai kepada Nabi Muhammad dari Allah, karena hampir semua pengetahuan mengenai hal ini baru ditemukan berabad-abad kemudian. Hal ini membuktikan kepada saya bahwa Nabi Muhammad tentulah merupakan Utusan Allah.</p>
<p>Kemudian, Profesor Moore ditanya: &#8220;Apakah ini berarti bahwa anda mempercayai Al Qur&#8217;an merupakan firman Allah?&#8221; Ia menjawab: &#8220;Saya tidak keberatan untuk menerima hal tersebut.&#8221;</p>
<p>Untuk melihat video komentar sang profesor silakan klik tautan berikut ini: (Bahasa Inggris, format RealPlyer)<br />
<a href="http://www.islam-guide.com/video/moore-1.ram">Video 1</a></p>
<p class="caption left w300"><img class="w300" src="http://www.islam-guide.com/ch1-1-a-img1.jpg" alt="Gambar 1. Bagan yang menggambarkan kemiripan dalam hal penampilan antara lintah dan embrio manusia pada fase 'alaqah." /><br />
Gambar 1. Bagan yang menggambarkan kemiripan dalam hal penampilan antara lintah dan embrio manusia pada fase &#8216;alaqah. (Dari Human Development as Described in the Quran and Sunnah, Moore dkk. hal. 37. Digubah dari Integrated Principles of Zoology, Hickman dkk. Gambar embrio dari The Developing Human, Moore dan Persad, ed. 5, hal. 73)</p>
<p class="caption left w300"><img class="w300" src="http://www.islam-guide.com/ch1-1-a-img2.jpg" alt="Kita dapat melihat pada bagan ini bagaimana embrio pada fase 'alaqah bergantung dan menempel di dalam rahim (uterus) sang ibu." /><br />
Gambar 2. Kita dapat melihat pada bagan ini bagaimana embrio pada fase &#8216;alaqah bergantung dan menempel di dalam rahim (uterus) sang ibu. (The Developing Human, Moore dan Persaud, ed 5, hal 66)</p>
<p class="caption left w300"><img class="w300" src="http://www.islam-guide.com/ch1-1-a-img3.jpg" alt="Gambar 3. Pada fotomikrograf ini kita dapat melihat bergantungnya embrio (panah B) pada fase 'alaqah (sekitar umur 15 hari) di dalam rahim sang ibu. Ukuran sebenarnya dari embrio ini adalah sekitar 0.6 mm." /><br />
Gambar 3. Pada fotomikrograf ini kita dapat melihat bergantungnya embrio (panah B) pada fase &#8216;alaqah (sekitar umur 15 hari) di dalam rahim sang ibu. Ukuran sebenarnya dari embrio ini adalah sekitar 0.6 mm. (The Developing Human, Moore, ed. 3, hal. 66, dari Histology, Leeson dan Leeson)</p>
<p class="caption left w300"><img class="w300" src="http://www.islam-guide.com/ch1-1-a-img4.jpg" alt="Gambar 4. Bagan sistem peredaran darah primitif pada embrio dalam fase 'alaqah. Penampilan luar dari embrio dan kantungnya mirip dengan gumpalan darah karena adanya darah yang relatif banyak di dalam embrio." /><br />
Gambar 4. Bagan sistem peredaran darah primitif pada embrio dalam fase &#8216;alaqah. Penampilan luar dari embrio dan kantungnya mirip dengan gumpalan darah karena adanya darah yang relatif banyak di dalam embrio. (The Developing Human, Moore, ed. 5, hal. 65)/<a href="http://www.al-habib.info/review/al-quran-perkembangan-embrio-manusia.htm" target="_blank">alhabib.info/my/09</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/perkembangan-embrio-manusia-keajaiban-ilmiah-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.islam-guide.com/video/moore-1.ram" length="43" type="audio/x-pn-realaudio" />
		</item>
		<item>
		<title>Sepenggal Mukjizat Al Qur&#8217;an</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/sepenggal-mukjizat-al-quran/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/sepenggal-mukjizat-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 06:03:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[al qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2540</guid>
		<description><![CDATA[KEMUKJIZATAN AL QUR&#8217;AN Oleh : Mr. Refa Adzdzamawiy Al Qur&#8217;an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia, namun didalam Al...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>KEMUKJIZATAN AL QUR&#8217;AN</strong></p>
<p align="center"><strong>Oleh : Mr. Refa Adzdzamawiy<br />
</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong>Al Qur&#8217;an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia, namun didalam Al Qur&#8217;an terkandung isyarat-isyarat ilmiah yang menunjukkan kemukjizatannya.</p>
<p>Salah satunya adalah seperti yang dikemukakan di konferensi Ilmuwan yang membahas isyarat ilmu pengetahuan dalam Al Qur&#8217;an belum lama ini di Saudi Arabia yang dihadiri oleh Prof. Tajatsat tajasan dari Muangthai yang merupakan ilmuwan ahli bedah kenamaan.</p>
<p>Dalam konferensi ini beliau membahas tentang saraf yang terletak langsung dibawah kulit, sehingga apabila kulit tubuh manusia terbakar maka hilanglah seluruh rasa yang biasa menyertainya sebab seluruh simpul saraf perasa sakit terletak tepat di bawah kulit.</p>
<p>Dan sehubungan dengan itu Allah SWT berfirman kepada ahli neraka :</p>
<p>&#8221; Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan Azab&#8221; (QS. An-Nissa:56)</p>
<p>Dengan ayat ini Allah SWT menerangkan kepada kita bahwa azab neraka itu kekal, terus menerus, tidak diringankan dan tidak pula dihentikan. Karena Allah SWT Maha Mengetahui bahwa kulit yang hangus itu menyebabkan hilangnya rasa sakitnya, maka bila kulit ahli neraka itu hangus diganti Nya dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab yang terus-menerus.</p>
<p>Ketika tafsir dan uraian ayat ini disampaikan kepada Prof. Tajatsat Tajasan, dia bertanya :</p>
<p><em>&#8221; Apakah kata-kata itu disampaikan empat belas abad yang lalu ?&#8221;</em></p>
<p>Dijawab : &#8220;<em>Ya</em>&#8220;.</p>
<p>Dia berkata <em>:&#8221;Hakekat ini belum pernah terungkap oleh ilmu pengetahuan kecuali pada kurun waktu akhir-akhir ini. Oleh karena hakekat ini diugkapkan Al Qur&#8217;an 14 abad yang lalu, tidak mungkin merupakan ucapan manusia dan pasti merupakan kalam Allah. Sekarang tiba saatnya bagi saya mengucapkan dua kalimah Sahadat <strong>Tiada Tuhan Selai Allah dan Muhammad Utusan Allah&#8230;..</strong></em></p>
<p>Dihadapan seluruh peserta knferensi Prof Tajatsat Tajasan mengikrarkan diri menjadi seorang Muslim. Alhamdulillah.</p>
<p align="right">By Ahmad Rifa&#8217;i</p>
<p align="right">
<p align="center">Diambil dari buku Al Adillatul Maadiyyah Ala Wujudillah Karya Prof. DR. M. Mutawalli Asy Sya&#8217;rawi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/sepenggal-mukjizat-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

