<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tanbihun Online &#187; Analisis</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/category/kajian/analisis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 15:30:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Melakukan Perubahan Adalah WAJIB</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/melakukan-perubahan-adalah-wajib/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/melakukan-perubahan-adalah-wajib/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 01:26:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[al qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Analisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=39758</guid>
		<description><![CDATA[MAKALAH TAFSIR SUNNATULLAH TENTANG PERUBAHAN KEADAAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN DOSEN : DR. AHZAMI SAMIUN JAZULI.MA HAFIDZOHULLAH &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; OLEH : AHMAD RIFA’I &#160; PROGRAM PASCA SARJANA...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;" align="center">MAKALAH TAFSIR</p>
<p style="text-align: left;" align="center"><strong>SUNNATULLAH TENTANG PERUBAHAN KEADAAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN</strong></p>
<p style="text-align: left;" align="center">DOSEN :</p>
<p style="text-align: left;" align="center">DR. AHZAMI SAMIUN JAZULI.MA HAFIDZOHULLAH</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">OLEH :</p>
<p align="center">AHMAD RIFA’I</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">PROGRAM PASCA SARJANA</p>
<p align="center"><strong>UNIVERSITAS ISLAM JAKARTA</strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong>2011</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">DAFTAR ISI</p>
<p style="text-align: justify;">BAB 1</p>
<p style="text-align: justify;">PENDAHULUAN…………………………………………………………………….3</p>
<p style="text-align: justify;">BAB II</p>
<p style="text-align: justify;">PEMBAHASAN………………………………………………………………………4</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pengertian Taghyiir…………………………………………………………….4</li>
<li>Ayat-ayat Yang Berkaitan Dengan Perubahan………………………………&#8230;5</li>
<li>Dasar-dasar Perubahan…………………………………………………………7</li>
<li>Hukum-hukum Perubahan…………………………………………………….. 12</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">BAB III</p>
<p style="text-align: justify;">KESIMPULAN…………………………………………………………………………18</p>
<p style="text-align: justify;">DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………&#8230;19</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">BAB I</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">PENDAHULUAN.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Swt telah meletakkan aturan-aturan baku di alam ini, siapapun yang dapat menjalankan aturan Allah swt tersebut maka ia akan meraih kesuksesan setidaknya dalam kehidupan dunia ini. Aturan baku itu disebut dengan sunnatullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi manusia pada dasarnya bisa dirubah apabila ada kemauan dari manusia itu sendiri untuk merubahnya. Iman, akhlak dan tingkah laku yang baik akan dapat merubah kondisi negative yang dialami seseorang menjadi kondisi positif yang penuh kenikmatan. Sebab Allah subhanahu wa ta’ala telah memberlakukan hokum sebab akibat di dunia ini. Siapapun orangnya yang melaksanakan sebab dengan baik maka ia akan mendapatkan akibat yang baik. Suatu contoh, ada anak orang Islam, ia tidak pernah masuk sekolah dan tidak pernah belajar sama sekali, maka ia dipastikan tidak naik kelas atau tidak lulus ujian. Akan tetapi meskipun ia kafir, namun ia rajin belajar dan masuk sekolah maka ia akan dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini mestinya disadari oleh orang islam, bahwa untuk mencapai kemajuan tidak mungkin dapat dicapai dengan berkhayal dan berpangku tangan semata sambil menunggu pertolongan Allah, akan tetapi kemajuan itu harus diusahakan dan dijemput dengan ikhtiyar yang maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan keadaan manusia itu merupakan sunnatullah, yang letak keberhasilannya digantungkan dari usaha manusia itu sendiri untuk berubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Makalah ini hadir dalam rangka mengungkap sunnatullah fi taghyiiri ahwalinnaasi fil qur’anil kariim, sehingga diharapkan dapat menambah motivasi bagi siapapun yang membacanya untuk selalu berbuat baik dan berusaha kearah yang lebih baik lagi.</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">BAB II</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">PEMBAHASAN</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pengertian  Taghyiir.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Taghyiir berasal dari Isim Masdar dari Fiil Madzi<strong>غير</strong> yang berarti merubah, menukar atau mengganti.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu pengertian taghyiir menurut Ibnu Mandzur dalam kitab Lisaanul Arab disebutkan</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>تغيَّر الشيءُ عن حاله تحوّل وغَيَّرَه حَوَّله وبدّله كأَنه جعله غير ما كان</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Artinya yaitu berubahnya sesuatu dari kondisinya, menukar, merubah dan menggantinya seolah-olah ia menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>ذلك بأَن الله لم يَكُ مُغَيِّراً نِعْمةً أَنعمها على قوم حتى يُغَيِّروا ما بأَنفسهم</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Artinya : Demikianlah Allah tidak akan merubah kenikmatan yang telah Ia berikan kepada suatu kaum hingga mereka merubahnya sendiri.(QS.Al-Anfal :53)</p>
<p style="text-align: justify;">Tsa’labi berkata bahwa makna dari <strong>حتى يُغَيِّروا ما بأَنفسهم</strong><strong> </strong>adalah<strong> </strong><strong> </strong><strong>حتى يبدِّلوا ما أَمرهم الله</strong><strong> </strong>(sehingga mereka merubah apa yang diperintahkan Allah kepada mereka).<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Ibnu ‘Asyur dalam At Tahriir Wat Tanwiir berkata :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>و«التغيير» تبديل شيء بما يضاده فقد يكون تبديلَ صورة جسم كما يقال : غَيّرتُ داري ، ويكون تغيير حال وصفة ومنه تغيير الشيب أي صباغه</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Taghyiir (perubahan) yaitu mengganti sesuatu dengan sesuatu yang berlawanan, terkadang perubahan itu mengganti corak dan bentuk sesuatu seperti ungkapan, aku telah merubah rumahku. Dan terkadang perubahan itu mengganti keadaan atau sifat, termasuk di dalamnya adalah merubah uban yang berarti menyemirnya.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Ayat-ayat yang berkaitan dengan perubahan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">Ayat pertama yang berbicara tentang perubahan keadaan manusia adalah Surat Al-Anfal ayat 53, dimana allah berfirman :<strong style="text-align: justify;">  </strong></p>
<p style="text-align: justify;">(siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.(QS. Al-Anfal:53)</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut At Thobariy ayat ini berkaitan dengan azab Allah yang ditimpakan kepada kaum kafir quraisy diperang badar sebab dosa-dosa yang mereka lakukan.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Imam Al-Baghowiy berkata, sesungguhnya makna dari ayat di atas adalah</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>أن الله تعالى لا يغير ما أنعم على قوم حتى يغيروا هم ما بهم، بالكفران وترك الشكر، فإذا فعلوا ذلك غير الله ما بهم، فسلبهم النعمة</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kenikmatan atas suatu kaum sehingga mereka merubah sesuatu yang ada pada mereka dengan kekufuran dan tidak syukur. Ketika mereka melakukan hal itu maka Allah pun akan merubah kenikmatan yang ada pada mereka.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Syaikh Mustafa Al Maraghi menegaskan :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>وفى الآية إيماء إلى أن نعم اللّه على الأمم والأفراد منوطة ابتداء ودواما بأخلاق وصفات وأعمال تقتضيها ، فما دامت هذه الشئون ثابتة لهم متمكنة منهم ، كانت تلك النعم ثابتة لهم ، واللّه لا ينتزعها منهم بغير ظلم منهم ولا جرم ، فإذا هم غيّروا ما بأنفسهم من تلك العقائد والأخلاق وما يلزم ذلك من محاسن الأعمال ، غيّر اللّه حالهم وسلب نعمتهم منهم فصار الغنى فقيرا والعزيز ذليلا والقوى ضعيفا.</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat di atas terdapat isyarat bahwa sesungguhnya kenikmatan Allah atas suatu umat atau individu baik permulaan ataupun langgengnya nikmat tersebut tergantung dengan akhlak, sifat dan perbuatan yang mereka lakukan, maka ketika sikap tersebut tetap mereka miliki dan meresap pada diri mereka, maka kenikmatan Allahpun akan tetap bersama mereka, Allah tidak akan mencabut kenikmatan mereka tanpa kedhaliman dan dosa yang mereka perbuat. Dan ketika mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka baik yang berupa aqidah maupun akhlak dan perbuatan-perbuatan baik yang selama ini ada pada diri mereka, maka Allahpun akan merubah keadaan mereka dan mencabut kenikmatanNya, maka yang kaya menjadi fakir, yang mulia menjadi hina dan yang kuat menjadi lemah.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">Ayat kedua yang berbicara tentang sunnatullah dalam perubahan ahwal manusia adalah Surat Ar Ra’d : 11.<strong style="text-align: justify;"></strong><strong>   </strong></p>
<p style="text-align: justify;">bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(QS. Ar Ra’d:11).</p>
<p style="text-align: justify;">Wahbah Zuhaily dalam tafsir al wasithnya berkata : “Allah tidak akan merubah kenikmatan, kesehatan, keselamatan yang dimiliki suatu kaum kecuali kaum tersebut merubahnya sendiri dengan perbuatan dholim, maksiyat, fasad dan melakukan hal-hal yang berdosa.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Dasar-dasar Perubahan</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Manusia menginginkan perubahan dalam pelbagai aspek kehidupan. Kerap kali mereka merasa jenuh dan bosan terhadap cara hidup yang tidak bervariasi. Mereka ingin hari ini lebih baik dari kemarin, dan yang akan datang jauh lebih baik dari sekarang. Itulah fitrah perubahan yang ada dalam diri setiap manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Olehnya itu, sejak dari awal Al-Qur’an meletakkan batasan-batasan perubahan guna memenuhi kebutuhan fitrah yang cinta perubahan.</p>
<p style="text-align: justify;">kedua ayat di atas telah menggarisbawahi dasar-dasar perubahan sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h4>Kelanggengan suatu nikmat lebih ditentukan oleh kesiapan manusia menjaga nikmat itu sendiri</h4>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ini telah ditegaskan oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha’ beliau berkata,“Kelanggengan nikmat Allah SWT terhadap suatu kaum lebih jauh ditentukan oleh akhlaq, aqidah, dan tingkah laku mereka sendiri, selagi dasar-dasar ini melekat dalam pribadi mereka, maka selama itu juga nikmat Allah SWT tetap kekal, dan mustahil Allah SWT mencabutnya dari mereka secara paksa tanpa ada dosa dan kezhaliman. Tetapi, di saat mereka merubah apa yang ada pada diri mereka dari aqidah, akhlaq dan perilaku baik, maka dengan sendirinya Allah SWT merubah apa yang ada pada diri mereka, nikmat pun dicabut, yang kaya menjadi miskin, yang mulia menjadi hina, dan yang kuat menjadi lemah, itulah dasar berkehidupan yang ada pada setiap kaum dan umat.”<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Contoh sederhana sebagai penjabaran dari penjelasan di atas dapat dilihat dalam dunia pendidikan. Tentunya, setiap pelajar punya potensi yang sama untuk lulus di ujian akhir tahun, dan setiap dari mereka menginginkan kelulusan. Akan tetapi, aturan kehidupan ini lebih jauh ditentukan oleh sikap pelajar itu sendiri. Selagi dia belajar dengan tekun, maka ia akan meraih kesuksesan dengan izin Allah SWT. Tentunya, yang gagal dari mereka telah mengabaikan aturan tersebut. Bukankah menginginkan kelulusan tanpa belajar dan kerja keras merupakan kesombongan dan pembangkangan tersendiri terhadap sunnatullah?</p>
<p style="text-align: justify;">Syekh Mutawalli Sya’rawi  berkata: “Kerusakan datang dari jiwa manusia itu sendiri tatkala mereka sesat dari metode kehidupan yang Allah tetapkan (manhajullah). Olehnya itu, kami  bertanya: “apakah manusia mengeluhkan cahaya? Tentu tidak, karena matahari tidak dapat digapai, demikian pula mereka tidak pernah mengeluhkan adanya krisis udara, tetapi mereka mengeluhkan krisis makanan karena sumber makanan datang dari perut bumi, maka di antara mereka ada yang malas bekerja, ada juga yang bekerja dengan kemalasan, dan ada pula dari mereka yang bekerja dan memetik jerih payahnya, tetapi tidak menafkahkan sebagiannya kepada orang lain. Contoh seperti ini salah satu sebab terjadinya kerusakan dan ketimpangan sosial di alam.”<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Di tempat lain perkataan ini dipertajam dan dipertegas dengan argumen baru, Beliau berkata: “Jika Anda melihat awal kehidupan manusia, Anda pasti tahu bahwa Allah SWT menciptakan Adam sebagai khalifah di muka bumi, dan menciptakan hawa demi kelangsungan generasi manusia, dan sebelum ia diturunkan ke bumi Allah membekalinya aturan hidup. Seandainya mereka mengikuti aturan hidup tersebut, maka pasti mereka menuai kebahagiaan, tetapi mereka telah berubah, dan mengingkari nikmat-nikmat itu, bahkan ingkar terhadap Sang Pemberi Nikmat. Apakah Allah SWT akan melanggengkan terhadap mereka rasa aman, keselamatan, dan pelbagai nikmat, sedangkan mereka telah melakukan perubahan ke arah negatif? Tentu tidak, dan justru Allah akan mengangkat nikmat tersebut dari mereka.”<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Objek perubahan ada pada diri sendiri</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Imam As Suyuthi dalam Ad Duurul Manshur menukil sebuah hadis dari Abi Syaibah dalam kitab Al Arsy :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>وعزتي وجلالي وارتفاعي فوق عرشي ، ما من أهل قرية ولا أهل بيت ولا رجل ببادية ، كانوا على ما كرهته من معصيتي ، ثم تحوّلوا عنها إلى ما أحببت من طاعتي ، إلا تحوّلت لهم عما يكرهون من عذابي إلى ما يحبون من رحمتي؛ وما من أهل بيت ولا قرية ولا رجل ببادية كانوا على ما أحببت من طاعتي ، ثم تحولوا عنها إلى ما كرهت من معصيتي ، إلا تحولت لهم عما يحبون من رحمتي إلى ما يكرهون من غضبي » .</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman : Demi kemuliaan dan kehormatan serta ketinggian-Ku di atas Arsy, tidaklah penduduk suatu kampung, penghuni suatu rumah, dan seorang lelaki di suatu  padang pasir yang berada dalam kondisi Kubenci karena bermaksiat kepada-Ku  kemudian mereka mengubah keadaan itu kepada keadaan yang Ku-cintai karena ketaatan kepada-Ku, melainkan pasti akan Kuubah keadaan mereka dari adzab-Ku  yang tidak mereka sukai kepada rahmat-Ku yang mereka sukai.  Dan tidaklah penghuni suatu rumah, kampung, dan seorang lelaki di padang pasir yang berada dalam keadaan yang Kucintai lantaran ketaatan mereka kepada-Ku lalu mereka berubah kepada keadaan yang Kubenci karena bermaksiat kepada-Ku, melainkan Aku ubah keadaan mereka dari mendapatkan rahmat-Ku yang mereka sukai kepada kemarahan-Ku   yang tidak mereka sukai.<a title="" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian jelaslah bahwa Allah SWT memberikan respon tentang perubahan yang dimulai dari perubahan dari apa yang ada dalam diri manusia itu sendiri, baik kondisi manusia secara individual, di suatu rumah, maupun di masyarakat.   Dan perubahan kondisi baik dan buruk itu terkait dengan ketatan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia kepada Allah SWT, baik secara individual maupun secara kolektif.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Perubahan merupakan hukum general yang meliputi seluruh ras, suku baik mukmin maupun kafir.</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Hal itu ditunjukkan dengan kata قَوْمٌ yang berbentuk nakirah (indefinitif). Kata ini termasuk kata mutlak dan ia tetap bermakna mutlak selama Syari’ tidak membatasinya dengan suatu sifat seperti iman dan selainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, maknanya tetap mencakup setiap kelompok, organisasi, masyarakat, atau negara, tanpa memandang agamanya. Ia juga mencakup setiap ruang danw aktu. Hal itu karena lafazh tersebut mencakup setiap masyarakat di masa lalu, masa kini dan masa depan, sebagaimana ia mencakup setiap negara di dunia.Jadi, Allah telah menetapkan berbagai sunnah dalam kehidupan dan meletakkan faktor penyebab dan undang-undang di alam semesta dan kehidupan insani. Sunnah, faktor penyebab dan undang-undang ini menimbulkan akibat-akibatnya dan mendatangkan buahnya berdasarkan pengaruh dari Allah Tabaraka wa Ta’ala.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah telah menganjurkan umat manusia ini untuk mencari faktor penyebab, undang-undang dan hukum, supaya mereka dapat mengikuti petunjuknya dan berbuat menurutnya, agar mereka memperoleh buahnya. Allah menundukkan faktor penyebab, undang-undang dan hukum itu untuk kebahagiaan manusia dan untuk melayaninya di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Bekerja adalah sarana untuk mencari rezki. Tidak ada yang bisa dilakukan manusia selain serius dan bersungguh-sungguh dalam mencari rezkinya dengan mengerahkan seluruh tenaga dan potensinya. Baik rezki itu bersifat materi atau immateri, atau kedua-duanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Petani membajak tanah dan menabur benih, kemudian ia menunggu rezki dari Rabb. Seandainya ada seseorang berdiam diri di rumahnya tanpa mengerahkan tenaga sedikit pun untuk bercocok tanam, lalu ia mengira bahwa rezkinya akan datang dari pertanian, padahal ia tidak membajak, tidak menabur benih dan tidak memupuk tanah, maak dia akan kecewa dan tertinggal dari bahtera kehidupan insani. Bahkan ia dianggap berdosa karena menolak melakukan sebab, sunnah dan undang-undang.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula para da‘i yang mencita-citakan perubahan itu harus mengerahkan segenap tenaga dan mencurahkan segenap potensi, ide, harta benda, jiwa dan hal-hal yang berharga untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka canangkan.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Perubahan adakalanya positif dan adakalanya negative.</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Karena perubahan itu berarti beralih dari satu kondisi ke kondisi lain dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dengan demikian, ada kalanya perubahan diri itu bersifat positif, yaitu perubahan dari jelek menjadi baik, atau dari baik menjadi lebih baik, sehingga hasilnya pun positif.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ada kalanya perubahan itu bersifat negatif, dimana manusia mengubah diri dari lebih baik menjadi baik, sehingga hasilnya adalah baik dan terkadang manusia mengubah diri dari baik menjadi jelek, sehingga kondisi mereka menjadi jelek.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah telah merubah keadaan kaum Yunus yang semula ditimpakan adzab, menjadi kaum yang dilimpahkan kesenangan karena mereka beriman, sebagaimana yang Ia firmankan :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>فَلَوْلاَ كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلاَّ قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُواْ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الخِزْيِ فِي الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ<em> </em></strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu</em>.( QS Yunus:98)</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu ‘Asyur menerangkan bahwa ketika Allah menghendaki kebaikan pada suatu kaum, maka Allah akan mengutus seorang Rasul untuk memberikan hidayah kepada mereka. Jika mereka memperbaiki perbuatannya maka kenikmatan Allah akan diberikan kepada mereka sebagaimana yang telah terjadi pada kaumnya Nabi Yunus yaitu penduduk Nainawa.<a title="" href="#_ftn14">[14]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Hukum-hukum perubahan</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">DR. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris berkata, Siapapun yang membaca Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Saw. pasti memahami bahwa dakwah dan perjuangan untuk mengubah masyarakat dan sistem menjadi masyarakat dan sistem yang Islami merupakan kewajiban syar’i. Sebagaimana mengubah kemungkatan dan menegakkan ketaatan merupakan perintah Rabbani yang ditujukan kepada setiap muslim. Sebagaimana yang dijelaskan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Allah berfirman,</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104)</p>
<p style="text-align: justify;">Kata `ä3tFø9ur (dan hendaklah) adalah kata perintah, karena ia berbentuk fi’il mudhari’ yang didahului dengan lam amr (lam yang menunjukkan arti perintah). Kita tahu bahwa perintah itu menghasilkan hukum wajib selama tidak ada indikasi yang mengalihkan hukum wajib itu kepada hukum yang lain. Lagi pula, ada banyak nash dan indikasi yang menguatkan kewajiban ini.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Allah berfirman,</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">“Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS Al-Maidah [5]: 63)</p>
<p style="text-align: justify;">Kata الربنيونberarti agamawan Nasrani. Kataالاخبار adalah jamak dari kata حَبْرٌ yang berarti agamawan Yahudi. Dan maksud dari kalimat …. (Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu) adalah celaan dan kecaman Allah terhadap para agamawan Nasrani dan Yahudi lantaran tidak menjalankan tugas perubahan. Yang dicela dari mereka adalah keengganan mereka untuk menjalankan kewajiban tersebut. Hal itu karena celaan tidak diberikan lantaran perbuatan yang mubah, tetapi karena meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang diharamkan. Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan tugas mencegah kemungkaran itu sama seperti orang yang melakukan kemungkaran. Karena ayat ini mengandung kecaman terhadap para ulama terkait tindakan mereka meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar.”</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Allah berfirman melalui lisan Luqman AS,</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS Luqman [31]: 17)</p>
<p style="text-align: justify;">Kata وآمر adalah fi’il amr (kata kerja perintah). Menurut kaidah, kata perintah itu menunjukkan arti wajib selama tidak ada indikasi yang mengalihkannya kepada hukum sunnah atau mubah. Berbagai nash dan indikasi menegaskan kewajiban ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam Sunnah Nabawiyyah pun terdapat banyak hadits yang menunjukkan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar. Di antaranya adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Sa’id Al Khudri RA, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,</p>
<h2 style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ</strong></h2>
<p style="text-align: justify;">“Barangsiapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Kalau ia tidak mampu (dengan tangannya), maka dengan lisannya. Kalau ia tidak mampu (dengan lisannya), maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”<a title="" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kata مَنْ (barangsiapa) adalah bentuk kalimat umum, karena ia adalah isim maushul yang mencakup setiap mitra bicara yang sudah mukallaf, baik laki-laki atau perempuan. Dan bentuk kata فَلْيُغَيِّرْهُ (maka hendaklah ia mengubahnya) adalah fi’il mudhari’ yang didahului dengan lam amr. Jadi, kata ini berbentuk perintah dan menunjukkan hukum wajib.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud RA, bahwa Rasulullah Saw. bersabda,</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ</strong></h2>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">“Tidak seorang Nabi pun yang diutus Allah di tengah suatu umat sebelumku melainkan ia memiliki para pengikut setia dan sahabat dari umatnya. Mereka mengikuti sunnahnya dan mematuhi perintahnya. Kemudian muncul sesudah mereka generasi penerus yang mengucapkan sesuatu yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka dia orang mukmin. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya, maka dia orang mukmin. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka dia orang mukmin. Sesudah itu tidak ada iman sebiji sawi pun.”<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini mewajibkan setiap mukallaf untuk memerangi orang-orang yang rusak itu untuk mengubah kondisi mereka dan memperbaiki keadaan mereka, supaya mereka berhenti berbuat rusak dan komitmen untuk berbuat baik.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Mengenai firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS Al-Maidah [5]: 105), sebagian umat Islam memahami bahwa ini adalah perintah agar seorang muslim berdiam diri saja di rumahnya, tidak berusaha melawan kezhaliman dan orang-orang zhalim. Kemudian khalifah Rasulullah Saw., yaitu Abu Bakar RA, mengoreksi pemahaman yang keliru ini. Imam Abu Daud dalam Sunan-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Qais, katanya: Setelah memuji dan menyanjung Allah, Abu Bakar berkata, “Wahai umat Islam! Sesungguhnya kalian membaca ayat ini dan menempatkannya tidak pada tempatnya: “Jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” Dalam riwayat dari Khalid, Abu Bakar berkata, “Dan sesungguhnya kami mendengar Nabi Saw. bersabda,</p>
<h2 style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ</strong></h2>
<p style="text-align: justify;">“Jika manusia melihat orang zhalim lalu mereka tidak menahannya, maka tak lama lagi Allah akan menjatuhkan hukuman yang meliputi mereka semua.”<a title="" href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Arti lafazh ِ<strong> فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ</strong> adalah mencegahnya dan menghalaunya dari berbuat zhalim. Hadits tersebut mengancam umat Islam dengan suatu hukuman jika mereka meninggalkan upaya perbaikan, enggan mencegah orang zhalim agar tidak berbuat zhalim. Ancaman yang demikian itu tidak diberikan kecuali karena meninggalkan kewajiban atau melakukan sesuatu yang diharamkan. Dan yang diancam dalam hadits ini adalah meninggalkan upaya perubahan. Jadi, hadits ini menunjukkan bahwa hukum upaya perubahan adalah wajib.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal itu ditegaskan dengan riwayat ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali kalian berdiri di samping seseorang orang yang dibunuh secara zhalim. Karena sesungguhnya laknat itu turun pada orang yang menyaksikannya tetapi tidak membelanya. Dan janganlah sekali-kali kamu berdiri di samping orang yang dipukul secara zhalim. Karena sesungguhnya laknat itu turun pada orang yang menyaksikanya tetapi tidak membelanya.”<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align: justify;" align="center">BAB III</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">KESIMPULAN</p>
<p style="text-align: justify;">Kenikmatan yang dilimpahkan Allah kepada manusia, bisa saja hilang dan berubah menjadi adzab apabila manusia berbuat durhaka dan maksiyat kepada Allah. Begitupun sebaliknya, keadaan yang buruk yang menimpa manusia akan berubah menjadi menyenangkan dan penuh nikmat apabila manusia berlaku takwa dan beramal sholeh.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan keadaan manusia dari positif ke negative ataupun sebaliknya tersebut sudah menjadi sunnatullah. Allah telah membuat aturan-aturan baku di ala mini, siapapun yang dapat menjalankan aturan-aturannya ini maka ia telah berhasil merengkuh sunnatullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada anggapan keliru dikalangan masyarakat, bahwa makna surat Ar Ra’d ayat 11 selalu diartikan Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka sendiri mau merubahnya, ini adalah tafsir yang keliru dan sesat, sebab yang dirubah oleh Allah dalam ayat itu adalah keadaan seseorang terkait dengan hokum sebab akibat.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan yang mesti dilakukan adalah perubahan secara individu yang dapat berdampak secara universal, karena perubahan secara bersama inilah yang dikehendaki oleh Allah terbukti dengan penggunaan kata kaum. Perubahan yang dilakukan secara bersama-sama ini akan membawa imbas yang lebih luas.</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">DAFTAR PUSTAKA</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad warson munawwir, <em>Kamus Al-Munawwir</em>, Pustaka Progresif 1997</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Dawud, <em>Sunan Abi Dawud</em>, Hadits no.3775, Maktabah Syamilah versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu ‘Asyur, <em>At Tahriir Wat Tanwiir</em>, Juz 6, hal.174, Maktabah Syamilah versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Mandzur, <em>Lisaanul Arob</em>, Dar ash Shodir Beirut, 2004</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Jarir Ath Thobari, <em>Tafsir Ath Thobariy</em>, juz.14.hal.19, Mkatabah Syamilah Versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Muslim Bin Hajjaj, <em>Shahih Muslim</em>, Toha Putra, Semarang 1990</p>
<p style="text-align: justify;">Syekh Mutawalli as-Sya’rawi, <em>Tafsir as-Sya’rawi</em>, vol. 5</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad Rasyid Ridha’, <em>Tafsir al-Manâr</em>, Dâr al-Manâr, Cairo-Egypt, cet. 2, 1368</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Mas’ud Al-Baghowiy, <em>Mu’alimut Tanzil,</em> Dar At Thaibah Riyadh 1997</p>
<p style="text-align: justify;">Wahbah Zuhaily, <em>Tafsir Al Wasith</em>, Dar el Kitab Beirut, 1999,</p>
<p style="text-align: justify;">Mustafa Al-Maraghi, <em>Tafsir Al-Maraghi,</em> , Maktabah Syamilah versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">http:// eramuslim.com</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al Munawwir, Pustaka Progresif Surabaya, cet.ke.14,1997, hal.1025</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ibnu Mandzur, Lisaanul Arob, Dar ash Shodir Beirut, Juz 5. Hal.34</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Ibid.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Ibnu “Asyur, At Tahriir Wa Tanwiir, juz 6 hal.175, Maktabah Syamilah Versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Ibnu Jarir Ath Thobari, Tafsir Ath Thobariy, juz.14.hal.19, Mkatabah Syamilah Versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Ibnu Mas’ud Al-Baghowiy, Mu’alimut Tanzil, Dar At Thaibah Riyadh 1997, Juz 3, hal.368.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Juz 10 hal.18, Maktabah Syamilah versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Wahbah Zuhaily, Tafsir Al Wasith, Dar el Kitab Beirut, 1999, juz 2. Hal.1152</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Muhammad Rasyid Ridha’, Tafsir al-Manâr, Dâr al-Manâr, Cairo-Egypt, cet. 2, 1368 h, vol. 10, hlm. 42</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Syekh Mutawalli as-Sya’rawi, Tafsir as-Sya’rawi, vol. 5, hlm. 2860</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Ibid, vol. 8, hlm. 4758</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> As Suyuthi, Ad Dur Al Mantsur, Maktabah Syamilah Vol.3, Juz 5 hal.484</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> http://www.eramuslim.com</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> Ibnu ‘Asyur, At Tahriir Wat Tanwiir, Juz 6, hal.174, Maktabah Syamilah versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a> Imam Muslim Bin Hajjaj, Shahih Muslim, Toha Putra, Semarang, hadist no.70</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> Imam Muslim Bin Hajjaj, Shahih Muslim, Toha Putra, Semarang, Hadits no.71</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a> Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Hadits no.3775, Maktabah Syamilah versi 3</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;"><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a> <a href="http://www.eramuslim.com/">http://www.eramuslim.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/melakukan-perubahan-adalah-wajib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masihkah  Merasa Angkuh?!</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/masihkah-merasa-angkuh/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/analisis/masihkah-merasa-angkuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 09:35:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>majid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[masihkah angkuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=37962</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun.com - Awal mula sebuah Pembangkangan adalah perilaku Iblis yang dengan lancang menolak perintah Allah SWT. sebelumnya, jauh sebelum Manusia di ciptakan iblis adalah hamba Allah yang paling taat. karena...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><strong><a href="http://tanbihun.com/kajian/analisis/masihkah-merasa-angkuh/attachment/sombong1/" rel="attachment wp-att-37963"><img class="alignleft size-full wp-image-37963" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/12/sombong1.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Tanbihun.com -</strong> Awal mula sebuah Pembangkangan adalah perilaku Iblis yang dengan lancang menolak perintah Allah SWT. sebelumnya, jauh sebelum Manusia di ciptakan iblis adalah hamba Allah yang paling taat. karena merasa diri lebih mulia dan terhormat maka iblis enggan mematuhi titah Allah untuk sujud menghormati Adam yang hanya diciptakan dari tanah.</p>
<p style="text-align: justify">Oleh karenanya Iblis dilaknat oleh Allah SWT, serta diturunkan martabatnya menjadi makhluk yang sangat hina dina, bahkan dilaknat Allah SWT serta dijanjikan masuk neraka jahanam. Singkatnya, sang Iblis menaruh rasa dendam terhadap nabi Adam as. Karena kesombongannya itu pula, Iblis pun rela menjadi pembangkang dan bersumpah kepada Allah bahwa dia akan selalu menyesatkan seluruh umat manusia hingga akhir zaman, kecuali manusia-manusia yang mau berpikir dan beriman.</p>
<p style="text-align: justify">Sombong dan membanggakan diri adalah watak iblis, dengan lihai iblis menanamkan sifat tersebut kedalam diri manusia. tak terbilang kerusakan yang ditimbulkan akibat sifat yang satu ini. sebagai contoh, Al-qur&#8217;an mengisahkan Qorun berikut harta kekaya&#8217;anya yang melimpah. menjadi orang yang sangat kaya raya membuat Qorun lupa diri. bahkan ketika Kaumnya mengingatkan agar tidak berlaku sombong, Qorun dengan pongah berkata bahwa harta kekayaanya ia peroleh karena kepandaianya. kemudian Allah membinasakanya beserta seluruh hartanya.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Kesombongan adalah menolak kebenaran dan melecehkan orang. (H.R Muslim).</strong> setidaknya model kesombongan terbagi atas batin dan lahir, <em>kesombongan batin</em> adalah perangai dalam jiwa, yaitu tidak mau menerima kebenaran khususnya kebenaran yang bersumberkan pada hukum syariah dan ajaran Islam. Walaupun kebenaran tersebut, telah jelas di depan matanya. Namun karena “egonya”, ia menolak kebenaran tersebut. Seperti seseorang yang menentang Al_qur&#8217;an, menentang ajaran Islam, menganggap bahwa syariah sebagai penghambat kemajuan, dsb.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Kesombongan lahir</em> sebagaimana sikap merendahkan martabat dan derajat orang lain, serta merasa bahwa dirinya lebih baik, lebih pintar, lebih shaleh, lebih berprestasi dibandingkan dengan orang lain. Biasanya sifat sombong tercermin antara lain, dengan mudahnya si pelaku ini menghina, merendahkan, atau mempermalukan orang lain. Bahkan terkadang tidak segan-segan mencemoohnya. Inilah yang dilakukan oleh Iblis, sehingga ia menjadi makhluk terlaknat. Dan Iblis pun menginginkan manusia memiliki sifat yang sama dengannya.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Waba&#8217;du;</em> Selagi kita berpikir, tak ada salahnya kita mengenang pertama kali tangis kita memulai kehidupan, nyaris tak ada bekal apapun yang kita bawa, pun demikian ketika kita kembali nanti. <em>lalu patutkah kita berbangga diri dan berlaku sombong?!</em> <strong>untuk apa bangga dengan kecantikan atau ketampanan jika pada ahirnya akan menjadi tulang. buat apa bangga dengan pakaian bila pakaian yang terakhir nanti adalah kain kafan. buat apa bangga dengan kendaraan mewah jika kendaraan yang terakhir nanti adalah keranda jenazah. buat apa bangga dengan tempat tidur yang empuk jika tempat tidur yang terakhir nanti adalah tanah. buat apa bangga dengan rumah yang megah jika rumah yang terakhir nanti adalah kuburan. buat apa bangga dengan titel yang tinggi, padahal titel yang terakhir nanti adalah ALMARHUM.</strong></p>
<p style="text-align: justify">Hanya kepada Allah kita berlindung&#8230;</p>
<p style="text-align: justify"><em>Sukorejo, 19 Desember 2011</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/analisis/masihkah-merasa-angkuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Ada Agama Selain Islam</title>
		<link>http://tanbihun.com/usulidin/tidak-ada-agama-selain-islam/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/usulidin/tidak-ada-agama-selain-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 02:08:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[beriman kepada risalah]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=32299</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: AHMAD AR RIFAI[1] Tanbihun- Pluralisme yang dihembuskan oleh sebagian intelektual Muslim, dengan mengusung semangat bahwa semua agama adalah benar dan memungkinkan pengikutnya untuk memasuki surga sungguh kebablasan. Allah Swt...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/kaligrafi-bismillah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-32325" title="kaligrafi bismillah" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/kaligrafi-bismillah-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Oleh: AHMAD AR RIFAI<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong>- Pluralisme yang dihembuskan oleh sebagian intelektual Muslim, dengan mengusung semangat bahwa semua agama adalah benar dan memungkinkan pengikutnya untuk memasuki surga sungguh kebablasan. Allah Swt sudah menegaskan dengan sangat jelas dalam firmannya.</p>
<h2 style="text-align: center;">ان الدين عند الله الاسلام</h2>
<p style="text-align: center;">(Sesungguhnya agama yang diridhoi Allah adalah agama Islam).</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad diutus oleh Alloh Swt untuk menyempurnakan risalah para Nabi terdahulu. Oleh sebab itu semua umat manusia yang telah mendengar syariat Nabi Muhammad Saw wajib untuk mengikutinya dan masuk ke dalam agama Islam, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi dalam Shahih Muslim.</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ</strong><strong> </strong><strong>عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ</strong><strong> ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><strong>Artinya:</strong> dari abu Hurairoh RA, Rasulullah Saw bersabda,” Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggamanNya, siapapun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar berita tentang aku, lalu ia mati sebelum beriman kepada risalah yang diberikan kepadaku, maka ia akan menjadi penghuni neraka (H.R Muslim No.218)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadis di atas menegaskan bahwa siapa saja yang dakwah islamiyyah telah sampai kepadanya namun ia tidak mau menerima Islam sebagai agamanya maka ia akan masuk ke dalam neraka. Yahudi maupun Nashrani sekalipun, jika mereka mengingkari kerasulan Nabi Muhammad Saw maka mereka akan masuk ke dalam neraka. Hadist ini sangat jelas menolak ajaran pluralisme agama yang dalam pengertian semua agama adalah benar. Sebab jika mereka semua benar pastilah Nabi Muhammad Saw tidak akan mengancam mereka dengan ancaman neraka.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan ketika Umar bin Khottob menunjukkan kitab taurat kepada Nabi, beliau sontak bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">لواصبح موسي حيا فاتبعتمواه وتركتمواني لضللتم</h2>
<p>Seandainya Musa masih hidup lalu kalian mengikutinya dan meninggalkan aku, maka kalian pasti tersesat. (HR. Ahmad).</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi bersabda demikian karena Islam adalah agama yang komplit dan selalu dinamis hingga akhir zaman tanpa memerlukan tambahan dari agama atau ajaran lain. Sisipan-sisipan ajaran Nashrani atau Yahudi masih sering kita jumpai di majelis-majelis ta’lim dan ceramah-ceramah agama yang disampaikan para ustadz, hal ini dikarenakan kurang dalamnya pengetahuan mereka tentang agama sehingga menganggap bahwa cerita Israiliyyat adalah bagian dari Islam itu sendiri, padahal cerita israiliyyat inilah yang dapat mereduksi kemurnian Islam sehingga muncul praktek-praktek keagamaan yang menyimpang dari tuntunan Islam bahkan mirip dengan ajaran agama lain. Syariat Nabi terdahulu hanya untuk umat terdahulu, sehingga sudah out of date dan tidak berlaku untuk umat sekarang. Sementara itu Islam datang untuk mengganti dan menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya, sehingga sudah sewajarnyalah jika Allah mewajibkan kepada seluruh mukallaf di dunia ini untuk memeluk agama Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Legalitas Islam sebagai agama satu-satunya yang harus dianut oleh umat ini juga ditegaskan dalam firman Allah :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ<strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><strong>Artinya :</strong> Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.(QS.Ali Imron :85).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Imam Fachruddin Ar Raziy</strong> dalam tafsirnya mengatakan, sesungguhnya tidak ada agama selain Islam dan semua agama selain Islam tidak akan diterima disisi Allah. (Tafsir Ar Raziy Juz 4 hal.287).</p>
<p style="text-align: justify;">Jika demikian, masihkan kita menganggap bahwa agama diluar Islam sama nilainya dimata Allah dengan agama Islam?.</p>
<p>Wallahu A’lam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Disampaikan Di STIAMI Rabu, 12 Oktober 2011</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/usulidin/tidak-ada-agama-selain-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Yang Dipilih Jadi Ketua Dia?</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/kenapa-yang-dipilih-jadi-ketua-dia/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/analisis/kenapa-yang-dipilih-jadi-ketua-dia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Sep 2011 15:29:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Dasar Pemimpin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=30493</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- “Kenapa yang dipilih jadi ketua dia kang?” begitulah pertanyaan yang membuat penasaran banyak orang, terutama oleh para kyai dan ustadz muda di musholla al-kisruh. Seperti diketuhui malam ini baru...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/bayi.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-30502" title="bayi" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/bayi.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Tanbihun</strong>- “Kenapa yang dipilih jadi ketua dia kang?” begitulah pertanyaan yang membuat penasaran banyak orang, terutama oleh para kyai dan ustadz muda di <a title="Fatwa Kentongan Musholla &quot;Al-Kisruh&quot; " href="http://tanbihun.com/sosbud/hikayah/fatwa-kentongan-musholla-al-kisruh/" target="_blank">musholla al-kisruh</a>. Seperti diketuhui malam ini baru saja selesai acara penetapan pengganti (badal) kyai sepuh yang sudah berhalangan, sakit yang dideritanya tidak lagi mengijinkan beliau beraktifitas seperti biasanya. Demi kepentingan ummat, beliau memutuskan untuk memilih salah satu dari sekian banyak kyai dan ustadz yang berada di antero jama’ah musholla al-kisruh.</p>
<p style="text-align: justify;">Isu pergantian kyai sepuh sebenarnya sudah lama berhembus, isu itu kian santer saat sakit kyai sepuh bertambah parah. Secara sembunyi-sembunyi dan terselubung dikalangan kayai dan ustadz ada gerakan kampanye, ada yang terang-terangan memproklamirkan diri sebagai pengganti kyai sepuh dengan alasan-alasan menurut versi mereka tentunya. Kasak-kusuk pun semakin ramai, seperti tak mau kalah dengan politisi-politisi saat menjelang pemilu, pertemuan-pertemuan tingkat tinggi  juga kian intens dilakukan untuk menggalang dukungan dan kekuatan, namun sehebat apapun intrik-intrik politisnya, tetap saja yang memegang hak preogatif adalaah kyai sepuh sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh tak pernah disangka justru yang dipilih oleh kyai sepuh adalah kang ahmad Fattah yang nonabenenya bukan keturunan kyai, dia hanya orang biasa yang pernah lama menjadi santri, secara keilmuan boleh dibilang tidak ada yang lebih unggul. “Tapi kenapa kyai sepuh memilih kang abdul Fattah?”</p>
<p style="text-align: justify;">Karuan saja rumah saya yang sering dijadikan tempat curhat ustadz-ustadz  itu menjadi ramai, sambil menyulut rokok saya hanya tersenyum mendengar pertanyaan penasaran mereka, karena sebenarnya saya sendiri sudah lama tahu siapa yang akan dipilih kyai sepuh, karena saya pernah diundang beliau diajak musyawarah dimintai pendapat.</p>
<p style="text-align: justify;">“menurutmu siapa yang pas untuk menggantikanku kang?”</p>
<p style="text-align: justify;">“njenengan lebih tahu yai, tapi saya punya pemikiran begini,mohon diingatkan kalau saya salah ;</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Menjadi pemimpin itu ibarat “ngemong bayi” (mengasuh bayi) , namanya bayi, watak perangainya  macam-macam, ada yang rewel, mintanya digendong terus, ada yang usil, ada yang pendiam. Jadi pemimpin harus siap-siap dan ikhlas malam-malam diketok pintunya, Cuma ada umat yang minta dido’akan karena istrinya mau melahirkan, atau malam-malam bermunajat berdo’a , riyadhoh saat umat lalai,bukan Cuma dinasihati tapi juga dido’akan, bagi yang malas jama’ah sekali-kali disambangi, jangan malah disindar-sindir. Sering juga bayi kencing buang hajat digendongan kita, jadi pemimpin harus siaga, rela meluangkan waktunya untuk mendengar keluh kesah umat.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi pengasuh bayi harus tahu ilmunya, dia tahu kapan saatnya memberinya asi, kapan saatnya memberikannya makanan, kalau salah waktu bisa membahayakan bayinya sendiri. kalau umat rewel banyak tuntutan itu wajar, kalau kyai rewel dan banyak menuntut itu kurang ajar.</p>
<p style="text-align: justify;">kyai itu kan bukan pekerjaan tapi pekerjaannya super lengkap. Pemimpin itu mottotnya melayani, bukan minta dilayani, jadi pemimpin <strong>“OJO WATON BENER, TAPI BISOHO DADI BENERE”</strong> (jangan asal benar,tapi hendaknya diusahakan yang menjadi baiknya bagi semuanya). Orang yang mempunyai jiwa semacam ini sudah jarang, pinter,alim tak jadi jaminan bahwa ia mampu berlaku bijak,.”</p>
<p style="text-align: justify;">
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">“itulah yang aku suka dari sampeyan kang, selalu lugas ora tedeng aling-aling(blak-blakan)” kata kyai sepuh</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu diketahui kyai sepuh dulunya sangat membenci saya,karena  saya dinilai terlalu blak-blakan, tak segan dengan kyai sekalipun, ketika punya pendapat saya dinilai lantang menyuarakannya, meski kadang pendapat kami berseberangan, tapi disaat akhir-akhir ini beliau malah memilih saya untuk berdiskusi perihal penggantinya, bagi saya ini bukan hal yang luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu kyai sepuh menyidirkan satu nama saya langsung setuju, karena sudah dijelaskan oleh kyai sepuh, pilihannya itu sudah melalui proses istikharah dan musyawarah dengan orang-orang yang dianggap berkompeten.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya setelah para ustadz itu capek dengan diskusi penasaran mereka, saya nyeletuk :</p>
<p style="text-align: justify;">“maju karena Alloh, mundur karena Alloh, dimana dan apapun posisi kita tak ada penghalang untuk beramal”</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah kalimat yang terakhir mereka dengar sebelum mereka pamit pulang. Semoga barokah ilmu kita memanggil-manggil kita saat kita lupa. Amiin.(zid)</p>
<p style="text-align: justify;">Cepokomulyo, 19 September 2011    22:27</p>
<p style="text-align: justify;">em.yazid</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/analisis/kenapa-yang-dipilih-jadi-ketua-dia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesalahan Berfikir Pemerintah</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/kesalahan-berfikir-pemerintah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/analisis/kesalahan-berfikir-pemerintah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Aug 2011 08:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Saifullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Wajah Kemiskinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=28450</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Beberapa hari ini saya mendapati kabar, bahwa ada tiga lembaga negara yang bersiap untuk memerangi kemiskinan. Tentu maksudnya mungkin agar kemiskinan di babat habis, dihilangkan. Slogan dan gerakan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/wajah-kemiskinan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-28451" title="Kesalahan Berfikir Pemerintah" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/wajah-kemiskinan.jpg" alt="Kesalahan Berfikir Pemerintah" width="300" height="200" /></a>Tanbihun</strong> &#8211; Beberapa hari ini saya mendapati kabar, bahwa ada tiga lembaga negara yang bersiap untuk memerangi kemiskinan. Tentu maksudnya mungkin agar kemiskinan di babat habis, dihilangkan. Slogan dan gerakan pemberantasan kemiskinan didengungkan lebih tua dari usia penulis. Tetapi masih saja pemberantasan kemiskinan sampai sekarang menjadi isu seksi, toh walau seiring itu juga kemiskinan terus tumbuh besar. Aku bisa menjamin bahwa peperangan melawan kemiskinan tidak akan berhasil. Karena apa? Sejak pertama kita telah mengalami kesalahan berfikir, berlogika atau kesalahan mengidentifikasi mana sebab, mana akibat. <strong>Maka pertanyaannya adalah kira-kira kemiskinan itu sebab atau akibat?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau toko kaki lima anda kalah bersaing harga dengan alfamart, indomart, karena disebabkan anda kulakan dengan mengecer, sedangkan mart-mart itu adalah pengkulak klas kakap, tentunya kulak dengan harga grosir. Maka sangat lazim kalau harga jual komoditas anda lebih mahal dibandingkan para tengkulak itu. Efeknya tentu konsumen lebih memilih pergi ke pasar swalayan yang telah menggurita di perkampungan itu, dengan harapan: harga murah, banyak hadiah, dan penuh diskon. Efek dari kasus itu adalah kelelahan para pedagang kaki lima untuk mendapatkan keuntungan. Ujung-ujungnya kepepet, akhirnya  timbul kemiskinan. Hukum ekonomi dlolim disini adalah <em><strong>&#8220;Asu gede menang kerahe&#8221;</strong></em> alias pemodal besar akan memenangkan persaingan pasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah lazim kita mendengar kalau para petani menanam kemudian panen, tetapi tidak menuai keuntungan. Menanam dengan modal hutang pupuk, pestisida, dll, dengan harapan nanti ketika panen bisa ditutup. Tetapi keadaan ekonomi petani semakin hari semakin memburuk, hutang-hutangnya tak tertutupi. Bahkan data menunjukkan bahwa banyak petani yang membiayai pertaniannya bukan dari hasil pertanian, tetapi riski yang datang dari usaha lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa sebabnya? Coba kita simak deskripsi ini. Beberapa bulan yang lalu harga beras lokal anjlok disebabkan karena banyaknya beredar beras import di pasar. Anehnya beras impor lebih murah dibanding harga beras lokal. Hukum ekonomi selalu bilang : banyak barang harga turun. Akhirnya beras lokal tak laku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika hasil panen raya petani saja beras surplus, maka untuk menjaga kestabilan harga beras dalam negeri pemerintah harus menyetop semua impor beras, bahkan seharusnya pemerintah berusaha melempar beras lokal ke pasaran internasional. Bahkan beberapa negara tetangga menjual berasnya ke pasar internasional dengan harga murah dibandingkan dengan harga beras di dalam negeri. Penjualan beras keluar negeri sebenarnya mempunyai tujuan menyetabilkan harga beras dalam negeri.</p>
<p style="text-align: justify;">Ulah beberapa gelintir para tengkulak pengimpor beras bisa merusak harga beras dalam negeri. Rusak harga beras berujung pada kebangkrutan para petani, yang akhirnya berbuntut pada kemiskinan. Abstainnya negara untuk mengatur keadilan pasar menjadi sebab pasar mempraktikkan hukum rimba. Hukum determinasinya bilang ”yang miskin akan semakin miskin, dan yang kaya tentu akan semakin kaya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari penulis sempat bertandang ke rumah teman di salah satu perkampungan di Kabupaten Demak. Di sana sebagian besar masyarakatnya bercocok tanam. Kebetulan waktu itu para petani masih panen raya kacang hijau. Masa panen dilalui dengan wajah lesu. Aku jadi bertanya-tanya, kenapa panen tidak membawa kebahagiaan wajah para petani?</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa kali aku bertanya, ternyata sebabnya penentu harga kacang hijau adalah tengkulak. Tengkulak yang kebetulan berdarah Tionghoa itu memonopoli harga. Petani sama sekali tidak bisa menentukan harga kacang hijau miliknya sendiri. Karena dikampung itu para petani hanya bisa menjual kepada satu tengkulak. Alasannya karena tengkulak itulah yang telah meminjami modal selama proses menanam. Maka petani semakin hari semakin terbelit oleh gaya tengkulak renternir dengan model baru ini. Katidakadilan sistem ekonomi semacam inilah yang membuat kemiskinan semakin membengkak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari uraian beberapa kasus di atas kita sepakat bahwa <em><strong>kemiskinan ternyata bukan sebab tetapi akibat</strong></em> dari ketidakadilan sistem ekonomi Indonesia. Selama koreng sebab: katidakadilan ekonomi tidak diobati, maka akibatnya: infeksi kemiskinan terus berlangsung dan sukses. Kalau tak tertolong maka jalan satu-satunya amputasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi ketika ketiga lembaga negara ingin membrantas kemiskinan, maka rakyat sama-sama bilang: itu mustahil Bung? Karena seberapa banyakpun pengharum ruangan dihempaskan ke udara, selama bangkai belum di buang, maka bau bacin selalu akan jadi aroma. Karena bau hanyalah akibat dari sebab ada bangkai. Inilah kesalahan fatal cara berfikir para intelektual yang telah menghabiskan uang negara untuk sekolah di luar negeri.</p>
<p style="text-align: justify;">Paesan, 27 Agustus 2011</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ahmad Saifullah</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/analisis/kesalahan-berfikir-pemerintah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berjuang (Ibadah) Jangan Menunggu Fasilitas</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/berjuang-ibadah-jangan-menunggu-fasilitas/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/analisis/berjuang-ibadah-jangan-menunggu-fasilitas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 13:06:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Bekal Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Modal Utama Dalam Berjuang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=14503</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun – Nabi Muhammad SAW diutus setelah kerasulan Nabi Isa AS berakhir. Belajar dari pengalaman Isa as yang dinisbatkan Tuhan oleh kaumnya, Nabi Muhammad SAW mengambil metode yang berbeda dengan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/berjuang.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-14511" title="berjuang" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/berjuang.jpeg" alt="" width="300" height="250" /></a>Tanbihun</strong> – Nabi Muhammad SAW diutus setelah kerasulan Nabi Isa AS berakhir. Belajar dari pengalaman Isa as yang dinisbatkan Tuhan oleh kaumnya, Nabi Muhammad SAW mengambil metode yang berbeda dengan Rasul seniornya ini, yakni Nabi Isa as.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Nabi Isa as Nampak Sempurna</h4>
<p style="text-align: justify;">Sebagai seorang nabi sekaligus rasul Allah, Isa as dimata kaumnya terlihat begitu relative sempurna, beliau lahir atas kuasa Allah langsung, tanpa perantara hubungan biologis seorang bapak dan ibu, dalam kesehariannya pun beliau Nampak sempurna, seperti kita ketahui Isa as selama hidupnya membujang, praktis beliau tidak mempunyai masalah dengan anak atau istri, sehingga boleh dikatakan 100% hidupnya diabdikan diri untuk Tuhannya.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Nabi Muhammad SAW Sangat Manusiawi</h4>
<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan pendahulunya, Muhammad SAW malah sebaliknya, beliau menonjolkan sisi manusiawinya, yang dalam kitab dikenal dengan sifat jaiz <em><strong>arodhul basyariyah</strong></em>,yaitu sifat-sifat sebagaimana manusia pada umumnya, berjalan-jalan ke pasar,punya anak-istri,sakit,marah, sedih dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad SAW juga pernah sedih, sering menahan lapar,pernah dimarahi istri, pendek kata sama seperti kita, punya masalah, baik dalam rumah tangga maupun hubungan social lainnya. Namun justru inilah yang menyelamatkan umat islam dari pengkultusan atau penisbatan kepada Tuhan, yang paling berhak disembah hanya Allah, Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya, beliau utama-utamanya makhluk, beliau makhluk yang paling mulia,tapi umat Islam tidak pernah menganggap Nabinya sebagai Tuhan atau anak Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kesehariannya Nabi Muhammad SAW sangat-sangat manusiawi, seperti saat beliau sholat malam, beliau tidak membuat atau menyiapkan sebuah ruangan khusus, beliau sholat ditempat dimana biasa beliau tidur bersama istrinya, ini mengajarkan kepada kita,untuk menjaga hubungan dengan Alloh tidak harus memutus hubungan atau memutuskan interaksi dengan keluarga atau masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam menyampaikan sabda-sabdanya yang kemudian disebut hadits beliau juga bersikap wajar, tidak mempersiapkan diri dengan pakaian khusus, tempat khusus layaknya seorang tokoh yang akan menyapaikan amanat penting yang sibuk dengan segala protokoler.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Hikmahnya Bagi Kita</h4>
<p style="text-align: justify;">Seandainya nabi Muhammad SAW tidak menonjolkan sifat-sifat manusiawinya, kehidupannya serba cukup, rumahnya megah, segala keperluannya tak pernah bertemu kurang, tentu sebagian orang akan berkata “Nabi Muhammad tegak berdakwah karena mendapat fasilitas yang mendukung,wajar sajalah”. Faktanya, beliau juga manusia punya masalah pribadi,punya keluarga,punya kekurangan dari segi ekonomi, tapi ditengah-tengah semuanya itu beliau tetap tegak menyeru kepada seluruh umat manusia untuk menyembah hanya kepada Allah,beliau juga menyempatkan diri untuk menyelesikan segala problematika yang dihadapi ummatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pun demikian dengan kita, hendaknya dalam berjuang,berdakwah tidak menunggu fasilitas atau keadaan yang longgar, jangan berkata :</p>
<p style="text-align: justify;">“nanti kalau perekonomian sudah mapan saya akan berdakwah”.</p>
<p style="text-align: justify;">“ntar,kalau studi saya sudah selesai, saya akan berjuang”.</p>
<p style="text-align: justify;">“tunggu,kalau saya sudah sakti saya akan berjuang dibarisan paling depan”.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;bentar,kalau masalah sudah selesai, saya akan konsen ibadah&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;kapan saja istri saya sudah tidak marah-marah,saya akan berdakwah&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Justru dengan segala kekurangan yang melekat kepada kita inilah yang akan menyelamatkan kita. Kalau keadaan kita sudah mapan, ekonomi bagus,mobil bagus,rumah mewah,istri cantik,anak-anak tertata rapi, orang akan berkata”ya, wajarlah dia tegak berdakwah,lha wong semua sudah tersedia”.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Penutup</h4>
<p style="text-align: justify;">Marilah kita kembali meneladani junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW, yang tetap istiqomah menyerukan kebenaran tauhid ditengah-tengah keadaan yang tidak jauh berbeda dengan kita.(zid)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/analisis/berjuang-ibadah-jangan-menunggu-fasilitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Hutang Juga Rejeki?</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/apakah-hutang-juga-rejeki/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/analisis/apakah-hutang-juga-rejeki/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jun 2011 07:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Em. Yazid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Cara menghadapi hutang]]></category>
		<category><![CDATA[Sisi lain Hutang-piutang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6466</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun – Pak de harjo mempunyai 2 orang anak laki-laki, anak pertama bernama saiful anam, yang lebih akrab disebut kang ipul, dia merantau di ibu kota, usaha toko computer yang...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/hukum-hutang.png"><img class="alignright size-medium wp-image-6467" title="hukum hutang" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/hukum-hutang-300x300.png" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong> – Pak de harjo mempunyai 2 orang anak laki-laki, anak pertama bernama saiful anam, yang lebih akrab disebut kang ipul, dia merantau di ibu kota, usaha toko computer yang dirintisnya maju pesat, sedangkan anak kedua bernama ahmad yasin, berbeda dengan kakaknya, yasin lebih memilih hidup dikampung dekat dengan orang tuanya, meski tidak 1 rumah. Yasin aktif mengajar ngaji anak-anak tiap habis maghrib, pagi sampai sore dia habiskan untuk mencari nafkah menjadi tenaga serabutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari kedua anak ini sowan kepada orang tuanya, pak de harjo memandangi kedua anaknya,</p>
<p style="text-align: justify;">“ipul, kenapa wajahnmu murung? Adakah sesuatu yang membuat gundah hatimu?”</p>
<p style="text-align: justify;">“saya lagi bingung abah,bingung mencari dana pinjaman”.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian ipul menceritakan dengan detail perihal usahanya, toko komputernya dapat tawaran kerja sama menjadi importer tunggal merk laptop yang sudah terkenal, dengan syarat harus mempunyai modal awal yang lumayan banyak. Saat ini dia baru mempuyai suntikan modal 500 juta dari tabungannya sendiri, sedangkan yang dibutuhkan 1 milyar.</p>
<p style="text-align: justify;">“jadi kamu mau pinjam serifikat rumah dan tanah abah untuk mengajukan kredit ke bank?”</p>
<p style="text-align: justify;">“kalau abah tidak keberatan”.</p>
<p style="text-align: justify;">“bukannya abah keberatan, tapi abah hanya menasihati, wahai anak-anakku, hutang memang tidak dilarang, namun hutang juga bukan sesuatu yang dianjurkan, karena disana ada kemungkinan kita kesulitan untuk mengembalikannya, apalagi hutang dibank yang memakai system bunga, kalau tidak bisa membayar cicilan tepat waktu,bisa jadi bunganya melebihi dari jumlah yang kita pinjam.”</p>
<p style="text-align: justify;">“kalau sudah begini, kita akan mencari-cari alasan, akhirnya kebohongan demi kebohongan akan menghiasi lisan kita”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nabi Muhammad SAW selalu berlindung dari hutang yang tidak mampu dibayarkan, seperti hadits ini ;</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Arial; font-size: 170%;">خْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي صَفْوَانَ قَالَ حَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ عَطِيَّةَ وَكَانَ خَيْرَ أَهْلِ زَمَانِهِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرَ مَا يَتَعَوَّذُ مِنْ الْمَغْرَمِ وَالْمَأْثَمِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكْثَرَ مَا تَتَعَوَّذُ مِنْ الْمَغْرَمِ قَالَ إِنَّهُ مَنْ غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ</span></p>
<p style="text-align: justify;">(NASAI &#8211; 5359) : Telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Utsman bin Abu Shafwan ia berkata; telah menceritakan kepadaku Salamah bin Sa&#8217;id bin &#8216;Athiah -ia adalah orang yang paling baik di masanya- ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ma&#8217;mar dari Az Zuhri dari &#8216;Urwah dari &#8216;Aisyah ia berkata; &#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam paling sering berlindung dari hutang yang tak terbayar dan sesuatu yang menyebabkan dosa. Aku pernah bertanya; &#8220;Wahai Rasulullah, kenapa engkau sering berlindung dari hutang yang tak terbayar?&#8221; beliau menjawab: &#8220;Sebab orang yang berhutang, ia akan banyak berbicara lalu berdusta, berjanji lalu mengingkari.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kang ipul dan adiknya mendengarkan nasihat abah mereka dengan seksama. Ditengah-tengah perbincangan yang hangat, ibunda merka keluar dari ruang dapur dengan membawa 3 gelas kopi dan sepiring singkong rebus yang masih mengepul.</p>
<p style="text-align: justify;">“jangan ngobrol saja, ini kopi sama singkong kesukaan kalian, monggo bah dinikmati”</p>
<p style="text-align: justify;">Yasin menyongsong ibundanya dan mengambil alih nampan yang dibawa ibundanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“sini umi biar yasin yang bawa”</p>
<p style="text-align: justify;">“o…iya leee…. Kapan acara puputan anakmu?”</p>
<p style="text-align: justify;">“insya Alloh besok malam umi, kedatangan saya memang untuk mengabarkan berita bagus ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">“syukurlah kalau begitu,abah dan umi tidak bisa membantu apa-apa lee, Cuma bantu do’a, semoga anak-anakmu, cucu-cuku abah dan umi menjadi anak-anak yang sholih-sholihah.”</p>
<p style="text-align: justify;">“amiin… do’a abah dan umi merupakan anugerah yang tidak bisa dinilai dengan materi, terima kasih abah….terima kasih ummi.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pasca persalinan anak keduanya, yasin kelimpungan  mencari duit untuk membayar biaya persalinan dan biaya untuk kenduri puputan sekaligus memberi nama anaknya. Setiap kali istrinya bertanya ,</p>
<p style="text-align: justify;">“bagaimana abi, apakah biayanya sudah dapat?”.</p>
<p style="text-align: justify;">“insya Alloh, duitnya masih ditangan orang, semoga sebelum jatuh tempo, sudah ada ditangan kita”.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa yasin menjawab begitu? Benarkah dia mempunyai uang yang dipinjam orang? Sebenarnya dia tidak mempunyai harta yang dipinjam orang, namun dia yakin rejeki untuk anak dan istrinya pasti lewat tangan makhluk-Nya. Dia yakin akan tiba saatnya Allah mengutus makhluk-Nya untuk membagikan rejeki yang saat ini sangat dibutuhkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yasin tidak tega mengatakan yang sesungguhnya, dia membesarkan hati istrinya, usaha dan do’a tidak pernah ia tinggalkan, tiap habis sholat dia selalu membaca do’a yang diajarkan oleh abahnya ;</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Arial; font-size: 170%;">اَللّهُـمَّ يَاغَنِيُّ يَاحَمِيْد يَامُبْدِئُ يَامُعِـيْد يَارَحِـــيْمُ يَاوَدُوْدُ وَاغْنِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَــرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْـصِيَّتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“ Ya Alloh … wahai yang Maha Kaya, wahai Dzat yang dipuja, wahai yang menciptakan, wahai yang menghidupkan kembali, wahai penyayang,wahai sang penyayang, perkayalah hamba dengan anugerah halalmu, jauhkan kami dari rejeki laranganmu, dan limpahkan kepadaku keta’atan kepada-Mu, jauhkan kami dari maksiat kepada-Mu, limpahi kami dengan anugerah-Mu, jauhkan kami dari selain-Mu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Alhamdulillah 1 hari sebelum jatuh tempo tagihan biaya persalinan, ada salah seorang temannya yang meminta bantuan kepada yasin untuk menukarkan uang asing yang dikirim oleh saudara temannya dari luar negeri. Setelah yasin berhasil menukarkannya dia iseng bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“apakah uang ini kamu butuhkan dalam waktu ini?”</p>
<p style="text-align: justify;">“tidak kang yasin, uang ini akan saya tabung, sementara ini belum akan aku pakai.”</p>
<p style="text-align: justify;">“apa boleh aku pinjam 700 ribu?”</p>
<p style="text-align: justify;">“boleh saja kang”.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah yasin bersyukur dapat pinjaman 700 ribu, 500 ribu untuk membayar bidan yang membantu persalinan istrinya, 200 ribu untuk biaya syukuran puputan anaknya. Sedangkan ipul dengan 500 juta ditangan masih merasa kurang karena yang dibutuhkan 1 milyar.</p>
<p style="text-align: justify;">“anak-anakku …. hutang juga termasuk bagian dari rejeki, namun demikian berlindunglah dari hutang yang tidak mampu kita bayar. dan ketahuilah  &#8230; rejeki yang denganya kamu merasa cukup itu lebih baik, semoga Alloh menganugerahkan kepada kita rejeki yang demikian”. Perbicangan malam itu ditutup dengan do’a oleh pak de harjo.</p>
<p style="text-align: justify;">Ipul kembali pulang ke rumahnya dengan rasa syukur dan berniat menjalankan usahanya dengan modal apa adanya tanpa hutang dari bank, yasin pulang dengan wajah ceria, sambil mencari-cari nama yang baik untuk anak keduanya.(zid)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/analisis/apakah-hutang-juga-rejeki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pacaran Dalam Islam</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/pacaran-dalam-islam/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/analisis/pacaran-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 00:56:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Asmara]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6373</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Ketika pertama kali Alloh menjadikan nabi adam as di surga, Dia menciptakannya dalam keadaan sendirian. Perasaan yang menghampiri jiwa nabi adam membuat ia sering termenung dan melamun ditengah...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/cinta-sejati.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-6374" title="cinta sejati" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/cinta-sejati-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Tanbihun</strong> &#8211; Ketika pertama kali Alloh menjadikan nabi adam as di surga, Dia menciptakannya dalam keadaan sendirian. Perasaan yang menghampiri  jiwa nabi adam membuat ia sering termenung dan melamun  ditengah kenikmatan surgawi yang mengelilinginya. Tidak ada teman yang bisa diajak bicara dan diajak berbagi cerita. Hanyalah merdu kicau burung yang beterbangan ditaman firdaus yangh setia menemaninya. Alloh swt. Sebagai dzat pencipta mengetahui dan memahami kegelisahan dan kesepian  hati hambanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahirnya, ketika nabi adam dalam keadaan tertidur, Alloh mengambil tulang rusuk sebelah kirinya, lalu menjadikanya seorang perempuan bernama siti hawa. Alangkah terkejutnya nabi adam ketika terjaga dari tidur telah didapatinya seorang perempuan cantik berada disampingnya. Tanpa pikir panjang nabi adam langsung reflek  ingin menyentuhnya. Namun hawa  secepat kilat menghindar dari sentuhan tersebut sambil berkata</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“engkau boleh menyentuh tubuhku dan memiliki diriku seutuhnya, dengan syarat kau harus melamarku dan membayar maskawin kepadaku.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“apa mas kawinya?”</em> Tanya nabi adam.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“kau harus membaca shalawat kepada nabi Muhammad saw”</em> jawab siti hawa. Setelah itiu terjadilah pernikahan yang disaksikan oleh para malaikat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepenggak kisah yang terjadi pada diri nenek moyang kita ini memberikan suatu pelajaran bahwasanya manusia membutuhkan kehadiran pasangan dalam kehidupannya. Tidak ada manusia yang sanggup bertahan dalam kesendirian. Kecuali bagi orang – orang yang hati mereka telah dijauhkan oleh Alloh dari segala kesibukan duniawi dan syahwat.</p>
<p style="text-align: justify;">Islam adalah agama yang membawa kedamaian, <em>rahmatan lil ‘alamin</em> , membawa misi suci penyelamat manusia dari jurang kehancuran. Memahami fithrah manusia sebagai mahluk social yang selalu membutuhkan pasangan dalam menjalankan aktifitasnya, baik urusan bisnis, politik, budaya, dan urusan syahwatnya, maka islam mengaturnya dengan ketentuan – ketentuan syari’at agar lebih mudah , terarah , dan mendatangkan kemanfa’atan.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, dalam islam dikenal sebuah lembaga perkawinan yang mengatur dan membimbing manusia supaya dapat menyalurkan hasrat birahinya dengan baik dan benar. Betapa indahnya dan bahagianya sepasang insan yang telah diikat dalam tali suci perkawinan. Rasa damai ,tentram dan suka cita akan bercampur menjadi satu dalam hati sanubarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, dewasa ini lembaga suci perkawinan telah sedikit ternoda dan dilecehkan oleh sebagian tingkah manusia yang terpengaruh oleh budaya hidup bebas ala barat. Mereka tanpa malu dan sngkan hidup serumah dengan pasanganya, bahkan sampai melahirkan anak tanpa ada ikatan suci sebagai seorang suami istri yang sah. Sungguh sangat memalukan dan tidak sesuai dengan tradisi ketimuran serta norma agama yang benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum memasuki gerbang perkawinan, perlu diadakan persiapan baik fisik, mental , dan materi. Hal ini dikarenakan ketika seorang sudah berada dalam suatu kehidupan rumah tangga, maka segalanya akan berubah. Dan yang paling penting adalah bagaimana agar dua hati yang saling berbeda bisa disatukan dalam satu pandangan, satu tujuan hidup, seia – sekata, seirama – senada dalam mengarungi bahtera kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, agar tujuan perkawinan, yakni membentuk keluarga sakinah bisa tercapai, maka sebelum calon suami dan istri melangsungkan pernikahan harus mengenal kepribadian masing – masing. Disinilah peran penting pacaran. Pacaran muncul sebagai wahana atau media pengenalan kepribadian masing – masing pasangan calon pengantin.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun patut disayangkan. Pada masa sekarang ini, utamanya yang dilakukan oleh remaja yang memproklamirkan dirinya remaja gaul, remaja modern, dan aneka atribut lainya. Mereka menjadikan pacaran bukan sebagai pengenalan pribadi. Melainkan sebagai uji coba dalam arti yang lebih luas. Ujicoba kesetiaan, kejantanan, keperawanan dan yang paling memalukan dan menyebalkan adalah pacaran hanya sebagai alat mencari kesenangan alias <em>just for fun.</em> Akibatnya mudah ditebak, karena hanya ingin mencari kesenangan saja tanpa bertujuan kearah hubungan yang lebih serius, ketika sudah mendapatkan madunya maka ia akan mudah begitu saja mencampakkan bunga yang sudah layu ditanah.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka dari itu, bagi orangh yang sedang dilanda cinta dan dimabuk asmara, berhati – hatilah dan waspadalah !!! Jangan mudah tergoda dan terbuai oleh kenikmatan sesa’at dengan mengatas namakan cinta. Banyak sudah korban berguguran dengan menanggung segala akibat yang ditimbulkanya. Hamil diluar nikah, aborsi, pernikahan yang dilaksanakan merupakan sederetan permasalahan yang ditimbulkan oleh gaya pacaran yang tidak sehat dan menyimpang dari norma – norma susila.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya dalam islam pun dikenal yang namanya pacaran. Ketika seorang lelaki ingin mempersunting gadis pujaanya, maka ia diperkenankan untuk melihat wajah dan telapak tanganya. Tujuanya agar sang lelaki bisa mengenal bentuk tubuh calon istrinya yang dapat digambarkan dengan hanya melihat wajah dan kehalusan telapak tangannya. Cara ini memang ketinggalan zaman. Namun inilah gaya pacaran yang islami, lantas untuk mengenal kepribadian, watak, karakter serta sifatnya menukil dari keterangan <span style="text-decoration: underline;"><em>kitab tanwirul qulub</em></span>, hendaknya sang lelaki mengutus seorang perempuan yang dipercayainya untuk menanyakan perihal kehidupan pribadi calon istrinya. Begitupun sebaliknya. Dengan cara ini biasanya seorang lelaki dapat mengetahui kepribadian sifat calon istrinya  dengan jelas dan gamblang. Mengapa demikian? Dikarenakan perempuan akan terbuka menceritakan sifat kepribadianya tatkla curhat dengan sesamaj enisnya. Lain halnya seorang laki – laki yang secara langsung menanyakan kepadanya yang sering kita jumpai dalam gaya pacaran masa kini. Ini disebabkan karena ketika masa pacaran sesuatu akan terlihat indah semua dan apapun yang menimpa dan melakat pada diri gadisnya akan terlihat dan dikatakan baik semua. Penyesalan baru datang dikemudian hari setelah melangsungkan pernikahan. Sifat yang baik, tuitur kata yang lembut, wajah yang cantik semuanya akan berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi buruk, tutur kata yang kasar dan sifat yang jelek lainnya. Ternyata sifat yang baik selama pacaran hanyalah kedok untuk menutupi sifatnya yang buruk, tentu tidak semua berubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang tinggal bagaimana kita menentukan pilihan apakah ingin memilih cara yang kuno sesuai dengan syri’at ataukah memilih cara modern yang penuh dengan resiko dan menyimpang dari aturan syara’. Tentu kalau naluri sehat kita lebih memilih yang tidak ada resikonya, namun terkadang nafsu lebih menguasai kita akhirnya semua dikembalikan  bagaimana panda – pandainya kita memilih dan memboikot nafsu. wallohu a’lam.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh : <strong><a href="http://www.facebook.com/media/set/?set=pa.100000773543257" target="_blank">Nur Arifuddin</a></strong></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/analisis/pacaran-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bisakah Melupakan Masa Lalu?</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/bisakah-melupakan-masa-lalu/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/analisis/bisakah-melupakan-masa-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 May 2011 01:50:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Em. Yazid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah hidup]]></category>
		<category><![CDATA[taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6124</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Ada 3 masa yang menghiasi kehidupan anak cucu adam, masa lalu,masa kini dan masa depan, konon diantara 3 masa itu yang paling berpengaruh bagi kehidupan kita adalah masa...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-6125" title="masa lalu" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/masa-lalu-300x132.png" alt="" width="300" height="132" />Tanbihun</strong> &#8211; Ada 3 masa yang menghiasi kehidupan anak cucu adam, masa lalu,masa kini dan masa depan, konon diantara 3 masa itu yang paling berpengaruh bagi kehidupan kita adalah masa lalu, karena masa depan yang masih menjadi mistery,masa kini  sedang sedang kita jalani pada akhirnya akan berkumpul menjadi masa lalu semua. Masa lalu terpahat rapi dimemori setiap manusia,takkan bisa dilupakan untuk selamanya, tidak bisa dihapus secara permanen, sekuat apapun kita berusaha melupakannya, pada saat-saat tertentu bayang masa lalu akan datang tanpa bisa dicegah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang bilang masa lalu tidak penting, yang lebih penting dipikirkan adalah masa depan, toh masa lalu takkan bisa diulang lagi, tak ada gunanya membahasnya. mungkin kalau masa lalu itu indah efeknya bagus untuk masa depan, tapi berbeda dengan masa lalu yang buruk. Banyak keputusan dimasa sekarang dan masa depan yang dipengaruhi masa lalu. Orang yang dimasa lalunya sering ditimpa atau menyaksikan pengkhianatan dari orang-orang terdekat, ia akan cenderung menjadi pribadi yang extra hati-hati, tidak mudah percaya sama orang lain, dampak buruknya dia akan dihantui rasa was-was, curiga yang berlebihan.</p>
<h5 style="text-align: justify;">Bagaimana Menyikapi Masa Lalu?</h5>
<p style="text-align: justify;">Hal pertama yang harus dilakukan adalah menerima kenyataan, bahwa masa lalu adalah hal biasa dan akan menimpa setiap manusia yang berakal, dengan begitu kita tidak akan disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan &#8220;kenapa harus ada masa lalu? kenapa ia tidak bisa dilupakan? dan pertanyaan-pertanyaan senada. Dengan cara ini pula masa lalu tetap akan terlihat sebagai mana mestinya, jangan memandangnya secara berlebihan,sebab itu akan memperburuk keadaan.</p>
<h5 style="text-align: justify;">Masa Lalu Tidak Harus Dilupakan</h5>
<p style="text-align: justify;">Yang terpenting bagi setiap sesuatu adalah pengelolaannya, banjir yang melanda akan menjadi &#8220;berkah&#8221; kalau kita bisa mengelola keadaan ini,misalnya dengan menjual jasa gerobak pengangkut motor yang terjebak banjir dijalanan. Begitu pun yang terjadi dengan masa lalu, dia akan menjelma menjadi &#8220;monster&#8221; atau menjadi penyemangat untuk menapaki masa sekarang dan masa depan tergantung bagaimana kita mengelola masa lalu itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak yang menasihati untuk mengubur hidup-hidup masa lalu kita, apalagi masa lalu yang buruk, jika yang dimaksud mengubur disini adalah untuk melupakan, maka usaha ini hanya akan sia-sia, sebab ia sudah kadung merasuk menjadi bagian dari jiwa kita. Mungkin kita akan lupa akan sesuatu hal, namun tak ada jaminan ia akan sirna selamanya, sangat bisa jadi saat mata,telinga,atau situasi dan kondisi merangsang ingatan kita, tiba-tiba masa lalu muncul entah dari mana asalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan kematian pun takkan bisa menghapus masa lalu, justru saat nyawa meninggalkan raganya, saat itu kita mulai akan dihadapkan pada pemutaran ulang amal perbuatan kita kala hidup didunia. dari hal yang besar smapai hal terkecil, secara detail dan tak ada yang ditambahi atau dikurangi. Bukan cuma itu saja, kita pun dihadapkan pada saksi-saksi yang takkan mungkin bisa dibantah, karena mereka adalah tangan,kaki (anggota badan kita).</p>
<h5 style="text-align: justify;">Terus Bagaimana?</h5>
<p style="text-align: justify;">biarkan saja masa lalu itu, tidak usah capek-capek untuk melupakannya, jika masa lalu itu adalah sebuah kesalahan atau berupa perbuatan maksiat, akan lebih baik jika saat kita ingat kesalahan itu, lalu kita sulam dengan perbuatan baik (amal shalih), sambil memperbanyak istighfar mengharap ampunan-Nya. Jadikanlah masa lalu buruk sebagai bahan bakar untuk beramal kebajikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya masa lalu-masa lalu itu akan menumpuk dibelantara ingatan kita, kadang kita lupa untuk beberapa waktu,kadang tiba-tiba saja ingat.(zid)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/analisis/bisakah-melupakan-masa-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyikapi semangat pemurnian ajaran KH Ahmad Rifa&#8217;i</title>
		<link>http://tanbihun.com/rifaiyah/menyikapi-semangat-pemurnian-ajaran-kh-ahmad-rifai/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/rifaiyah/menyikapi-semangat-pemurnian-ajaran-kh-ahmad-rifai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2011 09:35:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6057</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; KH. Ahmad Rifa’i adalah seorang ulama yang membawa misi perubahan. Ajaran Islam yang berkembang di Pulau Jawa pada waktu itu sudah mengalami pendangkalan. Sinkretisme ajaran Islam dengan tradisi-tradisi...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong> &#8211; KH. Ahmad Rifa’i adalah seorang ulama yang membawa misi perubahan. Ajaran Islam yang berkembang di Pulau Jawa pada waktu itu sudah mengalami pendangkalan. Sinkretisme ajaran Islam dengan tradisi-tradisi kuno berujung pada praktek ibadah yang salah kaprah dan jauh dari ajaran kanjeng Nabi Muhammad saw. Oleh sebab itulah, semenjak kepulangan beliau dari menuntut ilmu di Timur Tengah, beliau senantiasa menggelorakan semangat untuk kembali kepada ajaran Islam yang sesungguhnya. Berbagai aral dan rintangan beliau hadapi dengan tabah, sehingga berpuluh-puluh karya ilmiah beliau sebagai pedoman para santrinya untuk menghidupkan kembali ajaran Islam berhasil beliau rampungkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya saja, jeda waktu yang begitu panjang antara zaman syaikhina dengan zaman kita sekarang, sangat memungkinkan terjadinya proses akulturasi dan pendistorsian ajaran beliau. Kitab-kitab karangan beliau mulai dijadikan buku pegangan sekunder oleh para santrinya, sehingga berdampak pada aspek amaliah ubudiyah yang lambat laun juga mengalami pergeseran dengan apa yang dikehendaki oleh Syaikhina.</p>
<p style="text-align: justify;">Berawal dari keprihatinan inilah maka sekelompok anak muda pengkaji ajaran KH Ahmad Rifa’i berupaya untuk memurnikan ajaran KH Ahmad Rifa’i dari ajaran lain yang mengotorinya. Semangat dan cita-cita luhur kaum muda Rifaiyyah sepatutnya mendapat apresiasi serta dukungan dari semua pihak, bukan malah mematikan kreativitas mereka dengan labelisasi fasiq, penentang pakem atau yang lebih ekstrim lagi SESAT.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengawasan dan pembinaan kaum sepuh akan upaya pemurnian ajaran KH Ahmad Rifa’i ini mutlak diperlukan, sebab jika tidak, yang terjadi bukan pemurnian ajaran Kh Ahmad Rifa’I namun lebih jauh lagi yaitu perubahan ajaran KH Ahmad Rifa’i. sepanjang pengetahuan penulis, jargon pemurnian ajaran KH Ahmad Rifa’I ini sudah mulai berbelok dari tujuan semula. Jika tujuan awalnya adalah mengembalikan ajaran KH Ahmad Rifa’I sesuai dengan apa yang beliau kehendaki dalam kitab karangannya, maka sekarang tujuan itu malah terjadi penggerusan ajaran beliau dengan fatwa-fatwa ulama WAHABI.</p>
<p style="text-align: justify;">KH Ahmad Rifa’I dalam beberapa kitab karangannya dengan jelas menyebutkan bahwa dalam bidang Ushuliddin beliau berkiblat pada Abu Hasan Al Asy’ari dan Abu Manshur Al Ma’turidi. Dalam urusan fiqih beliau bertaklid kepada Al Imam Asy Syafii. Sementara dalam bidang tasawwufnya beliau mengikuti Abu Qosim Junaid Al Baghdadi. Pengakuan beliau ini bisa dilihat adalam kitab Riayah al Himmah, Asnal Maqoshid, Husnul Matholib, Abyanal Hawaij dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seharusnya pemurnian ajaran KH Ahmad Rifa’i tetap berpijak pada koridor tersebut, baik dalam ushuliddinnya, fiqih ataupun tasawwufnya. Adalah sangat tidak wajar kalau memurnikan ajaran KH Ahmad Rifa’i tapi barometer yang digunakan adalah Kitab-kitab Ibnu Taimiyyah yang Hanbali, Asy Syathibi yang Maliki ataupun al Albani yang tidak bermadzhab. Paham Ahlu Sunnah ala Asy’ari yang di usung oleh KH Ahmad Rifa’I tentu tidak akan sejalan dengan paham Ahlu Sunnah ala Imam Ahmad. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Adz Dzahabi : “Ketika al-Asy`ari datang ke Baghdad, dia mendatangi Abu Muhammad al-Barbahari (ketua mazhab Hanbali) dan berkata : Aku telah membantah al-Jubba’i. Aku telah membantah Majusi. Aku telah membantah Kristen. Abu Muhammad menjawab, Aku tidak mengerti maksud perkataanmu dan aku tidak mengenal kecuali apa yang dikatakan oleh al-Imam Ahmad. Kemudian al-Asy`ari pergi dan menulis kitab al-Ibanah. Ternyata al-Barbahari tetap tidak menerima al-Asy`ari”. ( Lihat Siyar A’lam An Nubala’ karangan Adz Dzahabi, Juz 12 Hal 82 ). Lebih fatal lagi bila yang digunakan untuk mengukurnya adalah kitab-kitab WAHABI yang dengan sangat tegas mengatakan bahwa Asya’iroh adalah paham sesat, masuk dalam cabang jahmiyyah (Lihat bagaimana Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa Asya’iroh termasuk dalam bid’ah jahmiyah dalam Syarah Al aqidah al Washitiyyah karangan Ibnu Utsaimin, hal 18). Bahkan penyesatan paham Asya’iroh dan ma’turidiyyah ini tersebar dalam berbagai karangan ulama’ Wahabi semisal Bin Baz, Utsaimin, Al Albani dan lainnya. Jika paham Wahabi ini yang dipakai untuk memurnikan Ajaran KH Ahmad Rifa’i, maka bukan pemurnian yang akan di hasilkan tapi perubahan konsep ushuliddin atau tauhid yang akan terjadi, sebab secara tidak langsung paham Wahabi telah menghukumi KH Ahmad Rifa’I sebagai orang sesat , bid’ah jahmiyyah yang melakukan ta’thil, karena KH Ahmad Rifa’I termasuk ulama Asyairoh. Sikap kebablasan juga ditunjukkan oleh kaum muda rifalyah dalam aspek fiqih. Pertanyaan-pertanyaan sering dilontarkan untuk menghujat legalitas amaliyah warga Rifaiyyah yang Syafiiyah, seperti, manakah dalilnya dalam kitab KH Ahmad Rifa’I yang menyebutkan sunnahnya qunut Subuh ?. jika KH Ahmad Rifa’i di setiap muqodimah kitabnya selalu mengatakan Syafi’I Madzhabe, maka seluruh amaliah fiqih dalam madzhab syafi’I pun menjadi amaliah KH Ahmad Rifa’i, termasuk Qunut Subuh, apalagi seluruh ulama syafiiyah mengamalkan qunut subuh ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang lebih unik lagi, ketika upaya pemahaman teks kitab tarjamah yang menyangkut masalah bid’ah, kaum muda Rifaiyyah menggunakan kitab Al I’tishom karangan Imam Syathibi yang bermadzhab maliki sebagai pijakannya. Beliau berpendapat bahwa semua bid’ah adalah sesat dan menolak adanya bid’ah hasanah, pemikiran semacam ini pernah dikemukakan pula oleh ibnu Taimiyah dalam Kitab Iqtidho Shirothil mustaqimnya. Berdasarkan acuan tersebut, maka pemikiran KH Ahmad Rifa’i pun digiring kearah pemikiran asy Syathibi atau Ibnu Taimiyyah. Sehingga teks-teks tentang bid’ah yang tersebar dalam Abyanal Hawaij dipahami sebagaimana asy Syathibi memahami bid’ah, KH Ahmad Rifa’i digambarkan seolah  sebagai ulama’ yang berpemikiran seperti Syathibi yang menghukumi semua bid’ah adalah sesat dan menolak adanya bid’ah hasanah. Pemahaman dan pemikiran seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi, jika kita sekali lagi mau mengakui bahwa KH Ahmad Rifa’i adalah ulama yang sangat konsisten terhadap Madzhab Imam Syafi’i, sebagaimana yang telah beliau akui sendiri dalam kitab karangannya. Ketika Imam Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah yang bertentangan dengan qur’an, hadits, ijma’ adalah bid’ah dholalah, sementara bid’ah yang tidak bertentangan atau sesuai dengan qur’an, hadits dan ijma adalah bid’ah mahmudah / hasanah ( lihat Manaqib Asy Syafi’i karangan Imam Baihaqi, juz 1 hal 469 ), maka Syaikhina Ahmad Rifa’i sebagai pengikutnya pun akan berpendapat yang sama dengan Imam Syafi’i. Hal ini bisa dibuktikan dalam salah satu karya Syaikhina asnal Maqoshid beliau berkata :</p>
<p style="text-align: justify;">Aran wong <strong>BID’AH SASAR</strong> ketoro,</p>
<p style="text-align: justify;">Iku nyebal saking dalil patang perkoro</p>
<p style="text-align: justify;">Qur’an hadits Ijma’ qiyas wicoro</p>
<p style="text-align: justify;">Wus ono wicarane ngarep kapikiro</p>
<p style="text-align: justify;">Yang dinamakan pelaku bid’ah sesat</p>
<p style="text-align: justify;">Yaitu yang menyimpang dari dalil yang empat</p>
<p style="text-align: justify;">Qur’an hadits ijma’ qiyas</p>
<p style="text-align: justify;">seperti yang telah dibicarakan dengan jelas</p>
<p style="text-align: justify;">uraian singkat ini menunjukkan bagaimana KH Ahmad Rifa’i mendefinisikan bid’ah dholalah atau dalam bahasa Kh Ahmad Rifa’i disebut Bid’ah sasar yaitu segala sesuatu yang menyimpang dari Al Qur’an, Hadits, ijma dan qiyas. Definisi ini sama persis dengan apa yang disampaikan oleh imam Syafi’Iidi atas. Dalam Abyanal Hawaij beliau lebih jauh membicarakan tentang praktik-praktik bid’ah dholalah yang terjadi di masyarakat, oleh sebab itu beliau selalu menggandeng kata bid’ah dengan kata sasar, maksiyatan, kadosan, gede dosane dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa yang sedang beliau bicarakan secara panjang lebar adalah bid’ah dholalah, atau bid’ah sayyi’ah. Adapun terhadap praktik bid’ah hasanah beliau tidak menentangnya asal tidak bercampur dengan perbuatan maksiyat lainnya seperti munkar majelis atau ikhtilath. Dalam kitab Riayah al Himmah beliau berkata :</p>
<p style="text-align: justify;">Lan ing hale siro kabeh moho kadosan</p>
<p style="text-align: justify;">Podho weruh siro kabeh ing kesalahan</p>
<p style="text-align: justify;">Weruh ing sabenere syara’ nejo ingumpetan</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Penggawe becik harom ginawe woworan</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Podho rame dzikiran kerono dunyane</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dicampuri harom ing dalem majlisane</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dzikir tahlil lan maulud gede dosane</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Podho ringan akeh mungkar becampurane</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Akeh alim wajib amar naha katinggal</p>
<p style="text-align: justify;">Sabenere ilmu syara’ tan di amal</p>
<p style="text-align: justify;">Podho mburu sunah tinggal wajib asal</p>
<p style="text-align: justify;">Syahadat ibadat nyengojo digawe bathal.</p>
<p style="text-align: justify;">Untaian kalimat ini beliau paparkan saat beliau menafsirkan ayat Al Qur’an yang berbunyi         <strong>ولا تلبسوا الحق بالباطل </strong> , lihat kalimat yang di tebali, makna terjemahan bebasnya adalah <strong><em>perbuatan baik dan haram dicampur aduk, melaksanakan dzikir dicampuri dengan majelis haram. Dzikir tahlil dan maulid berubah jadi dosa besar sebab banyak tercampur oleh perbuatan munkar.</em></strong> dari perkataan beliau ini dapat dipahami bahwa :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Dzikir, tahlil dan maulid adalah perkara yang baik ( becik) atau hasanah.</li>
<li>Dzikir, tahlil dan maulid bisa jadi haram jika dicampur dengan munkar majelis atau munkar yang lainnya.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Kepahaman yang dapat diambil adalah syaikhina Ahmad Rifa’i menganggap bahwa maulid dan tahlil adalah bid’ah hasanah. Sangat tidak mungkin beliau menganggap bahwa maulid itu perbuatan baik jika beliau berpendapat bahwa setiap bid’ah adalah sesat dan menolak adanya bid’ah hasanah. Bukankah Asy Syatibi, ulama’ yang menolak adanya bid’ah hasanah ini mengatakan bahwa maulid adalah perbuatan bid’ah?.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemurnian ajaran KH Ahmad Rifa’i terkait dengan masalah bid’ah ini akan lebih tepat dan bijaksana apabila dalil rujukannya diambil dari karya ulama’-ulama’ besar Syafi’iyyah seperti Ibnu hajjar Al asqolaniy, Imam Nawawi, Abu Syamah Al Maqdisi, Al Qostholaniy dan lainnya, sehingga akan didapati pemahaman teks yang valid dan sesuai dengan apa yang dikendaki oleh Saikhina KH Ahmad Rifa’i.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulannya, upaya pemurnian ajaran KH Ahmad Rifa’i harus terus dilakukan supaya tidak terkotori oleh paham-paham bathil, namun tetap pada koridor pemahaman serta madzhab yang beliau ikuti. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan supaya tidak terjadi penisbatan ajaran-ajaran lain seperti WAHABI ke dalam ajaran KH Ahmad Rifa’i.</p>
<p style="text-align: justify;">Wallohu a’lam</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/rifaiyah/menyikapi-semangat-pemurnian-ajaran-kh-ahmad-rifai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

