<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tanbihun Online &#187; Kajian</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/category/kajian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 15:30:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Sekilas Isi Buku Dahlan Asy&#8217;ari Kisah Perjalanan Wisata Hati</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/buku/sekilas-isi-buku-dahlan-asyari-kisah-perjalanan-wisata-hati/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/buku/sekilas-isi-buku-dahlan-asyari-kisah-perjalanan-wisata-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 05:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=40536</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Dahlan Asy&#8217;ari kisah perjalanan wisata hati Penulis: Susatyo Budi Wibowo, Elis Widayanti Penerbit: Diva Press, 2011 ISBN: 6029785532, 9786029785531 Tebal: 268 halaman Sekilas tentang isi buku  KH. Ahmad Dahlan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/02/377_Dahlan.jpg"><img class="size-full wp-image-40537 alignnone" title="Ebook Dahlan Asyari" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/02/377_Dahlan.jpg" alt="Ebook Dahlan Asyari" width="200" height="300" /></a>Judul: <strong>Dahlan Asy&#8217;ari kisah perjalanan wisata hati</strong><br />
Penulis: <strong>Susatyo Budi Wibowo, Elis Widayanti</strong><br />
Penerbit: <strong>Diva Press, 2011</strong><br />
ISBN: <strong>6029785532, 9786029785531</strong><br />
Tebal: <strong>268 halaman</strong></p>
<h2><span style="color: #ff6600;">Sekilas tentang isi buku</span></h2>
<p style="text-align: justify;"> KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari adalah sama-sama keturunan Sunan Giri (Syekh Maulana ‘Ainul Yaqin), yang apabila ditarik garis ke atas, nasabnya sampai kepada Rasulullah Saw. Ketika keduanya lahir, oleh orang tua mereka masing-masing diberi nama depan yang sama, yaitu Muhammad. Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis, sedangkan nama kecil KH. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim. Keduanya pernah berguru kepada ulama besar yang sama, yaitu kepada KH. Saleh Darat al-Samarangi, Syekh Mahfud al-Tarmasy, dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Apakah ini sebuah kebetulan?</p>
<p style="text-align: justify;">KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yang berlambang matahari,  KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdhatul Ulama (NU) yang berlambang bumi dan bintang. Muhammadiyah banyak dijiwai oleh semangat QS. Ali Imran ayat 104, sedangkan NU, QS. Ali Imran ayat 103. Dan, K.H. Hasyim Asy’ari mendirikan NU tidak lama setelah K.H. Ahmad Dahlan wafat. Apakah ini juga sekadar kebetulan?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, di samping menjawab pertanyaan di atas, buku istimewa ini bakal mengupas lebih jauh kedua tokoh ulama karismatik abad ke-20 tersebut yang dalam pentas pergulatan sosial keagamaan di Indonesia namanya sudah sangat-sangat populer.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat membaca buku biografi sejarah yang ditulis dengan teknik penyampaian menarik, gaya tutur mengalir, kaya data, dan sangat informatif ini!</p>
<p style="text-align: justify;">Dan, terutama sangat cocok untuk Anda yang ingin melakukan perjalanan wisata hati</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/buku/sekilas-isi-buku-dahlan-asyari-kisah-perjalanan-wisata-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perayaan Maulid Dalam Pandangan Islam</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/perayaan-maulid-dalam-pandangan-islam/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/perayaan-maulid-dalam-pandangan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 02:45:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=40522</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abi Azka Ar Rifa’i Tanbihun.com- Rasulullah SAW tidak pernah melakukan seremoni peringatan hari lahirnya, itu memang fakta. Kita pun belum pernah menjumpai suatu hadits yang menerangkan bahwa pada setiap...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;" align="center"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/02/maulid-nabi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-40554" title="maulid-nabi" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/02/maulid-nabi-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Oleh:<strong> Abi Azka Ar Rifa’i</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun.com</strong>- Rasulullah SAW tidak pernah melakukan seremoni peringatan hari lahirnya, itu memang fakta. Kita pun belum pernah menjumpai suatu hadits yang menerangkan bahwa pada setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal (sebagian ahli sejarah mengatakan 9 Rabiul Awwal), Rasulullah SAW mengadakan upacara peringatan hari kelahirannya. Bahkan ketika beliau sudah wafat, kita belum pernah mendapati para shahabat r.a. melakukannya. Tidak juga para tabi`in dan tabi`it tabi`in.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Imam As-Suyuthi dalam Husnul Maqoshidnya, orang pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah saw ini dengan perayaan yang meriah luar biasa adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktakin (l. 549 H. &#8211; w.630 H.) (lihat Husnul Maqoshid fi amali maulid, 6). Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid ini. Intinya menghimpun semangat juang dengan membacakan syi’ir dan karya sastra yang menceritakan kisah kelahiran Rasulullah SAW.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as-Suyuthi mengatakan ketika menjawabi pertanyaan tentang hukum perayaan maulid Nabi SAW:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">وَالجَوَابُ عِنْدِيْ أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ المَوْلِدِ الَّذِيْ هُوَ اِجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَأَةُ مَاتَيَسَّّرَ مِنَ القُرْآنِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَأِ أَمْرِالنَّبِيّ صَلَّّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّّمَ مَاوَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الاَياَتِ ثُمَّ يَمُدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَهُ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَالِكَ مِنَ البِدَعِ الحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيْ صََلََّى اللهُُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِالفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ</h2>
<p style="text-align: justify;">Menurut saya asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu tergolong bid’ah hasanah(sesuatu yang baik). Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad saw yang mulia. (<em>Al- Hawi Lil-Fatawa</em>, juz I, h. 251-252, juga dalam Husnul Maqoshid, h 5)</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun tidak pernah dilakukan Nabi, namun perayaan Maulid memiliki landasan, baik dari Al-Qur’an maupun Hadits serta tidak bertentangan dengan sumber-sumber hokum Islam, sehingga masuk dalam kategori bid’ah hasanah. Adapun landasannya antara lain :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Allah SWT berfirman:</li>
</ol>
<h2 style="text-align: center;" dir="RTL">قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ</h2>
<p style="text-align: justify;">“<em>Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan</em>.’ ” (QS.Yunus:58).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sementara kita tahu bahwa Rasulullah Saw adalah Rahmatan Lil alamin. Maka sudah selayaknya lah apabila kita bergembira dengan kelahirannya.</strong></p>
<ul>
<li>Rasulullah SAW merayakan kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa setiap hari kelahirannya, yaitu setia hari Senin Nabi SAW berpuasa untuk mensyukuri kelahiran dan awal penerimaan wahyunya.</li>
</ul>
<h2 style="text-align: right;" align="right">عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ” : فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم</h2>
<p style="text-align: justify;">“<em>Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku</em>.” (H.R. Muslim)</p>
<ul>
<li>Rasulullah menganjurkan umatnya untuk berpuasa asyura’ karena pada hari itu Musa diselamatkan oleh Allah dari Fir’aun, Nabi bersabda dalam riwayat Imam Bukhori dan Muslim :</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya ketika Rasulullah Saw datang ke Madinah, beliau menemukan orang Yahudi puasa pada hari Asyura’. Kemudian beliau bertanya kepada mereka, hari apakah yang kalian puasai ini ? mereka menjawab, ini adalah hari yang agung, Alloh telah menyelamatkan Musa dan kaumnya pada hari ini dan Alloh juga menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya pada hari ini, maka Musa lalu berpuasa sebagai tanda syukur, maka kamipun berpuasa. Dalam riwayat lain dalam Bukhori Muslim “ maka kami berpuasa karena memuliakannya.” Maka Nabi Saw bersabda,” Kami lebih berhak dan lebih utama terhadap apa yang dilakukan Musa dibanding kalian semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Suyuthi berkata, dalil ini lah yang digunakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajjar sebagai <span style="text-decoration: underline;"><em><strong>dasar disyariatkannya Maulid</strong></em></span>. Ibnu Hajjar dengan pemahaman Hadits dan agamanya yang luas telah mampu menemukan dalil yang kuat untuk menetapkan masyru’nya perayaan maulid.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang menyatakan bahwa menjadikan maulid dikatakan bid&#8217;ah adalah adanya pengkhususan (<em>takhsis</em>) dalam pelakanaan di dalam waktu tertentu, yaitu bulan Rabiul Awal yang hal itu tidak dikhususkan oleh syariat. Pernyataan ini sebenarnaya perlu di tinjau kembali, karena <em>takhsis </em>yang dilarang di dalam Islam ialah <em>takhsis </em>dengan cara meyakini atau menetapkan hukum suatu amal bahwa amal tersebut tidak boleh diamalkan kecuali hari-hari khusus dan pengkhususan tersebut tidak ada landasan dari <em>syar&#8217;i </em>sendiri(Dr Alawy bin Shihab, <em>Intabih Dinuka fi Khotir</em>: hal.27).</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini berbeda dengan penempatan waktu perayaan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, karena orang yang melaksanakan maulid Nabi sama sekali tidak meyakini, apalagi menetapkan hukum bahwa maulid Nabi tidak boleh dilakukan kecuali bulan Robiul Awal, maulid Nabi bisa diadakan kapan saja, dengan bentuk acara yang berbeda selama ada nilai ketaatan dan tidak bercampur dengan maksiat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengkhususan waktu maulid disini bukan kategori takhsis yang di larang syar&#8217;i tersebut, akan tetapi masuk kategori <em>tartib </em>(penertiban). Pengkhususan waktu tertentu dalam beramal sholihah adalah diperbolehkan, Nabi Muhammad sendiri mengkhusukan hari tertentu untuk beribadah dan berziaroh ke masjid kuba, seperti diriwatkan Ibnu Umar bahwa Nabi Muhammad mendatangi masjid Kuba setiap hari Sabtu dengan jalan kaki atau dengan kendaraan dan sholat sholat dua rekaat di sana (HR Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar mengomentari hadis ini mengatakan: &#8220;Bahwa hadis ini disertai banyaknya riwayatnya menunjukan diperbolehkan mengkhususan sebagian hari-hari tertentu dengan amal-amal salihah dan dilakukan terus-menerus&#8221;.(<em>Fathul Bari, </em>3/84)</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara orang yang mengatakan maulid adalah bid&#8217;ah adalah karena acara maulid tidak pernah ada di zaman Nabi, sahabat atau kurun salaf. Yang pertama kali menggunakan jargon ini adalah Ibnu Taymiyah, dia mengatakan ,” seandainya hal itu baik pastilah mereka ( salaf ) sudah mengerjakannya, karena mereka lebih mencintai Rasul dibanding dengan kita.” ( Iqthidho Shirothil Mustaqim, 2/619), tapi kelihatannya Ibnu Taymiyah sendiri inkonsisten dalam hal ini, sebab dalam Majmu’ Al fatawa, pada pembahasan Masuk ke kamar mandi, beliau berkata,” tidak ada seorangpun yang berhujjah makruhnya masuk kamar mandi atau tidak sunnahnya masuk ke kamar mandi dikarenakan Rasulullah tidak pernah memasukinya. ( sampai perkataan ) karena adamul fi’li (tidak dikerjakannya sebuah amalan) itu merupakan salah satu dari dalil syari’ah. Lebih lanjut Ibnu Taimiyyah berkata, menafikan suatu kesunahan karena tidak adanya dalil yang menjelaskan secara khusus tanpa melihat pada dalil-dalil yang lain adalah kesalahan fatal.( Majmu’ Al fatawa, 21/313). Ketika beliau bisa berkomentar seperti itu pada kasus masuk kamar mandi, kenapa beliau tidak mau melakukan hal yang sama pada kasus maulid ?. Tidak adanya contoh dari salaf tentang maulid dan tidak adanya dalil yang menjelaskan secara khusus bukan berarti meniadakan kesunahannya, bahkan wajib untuk meneliti dalil-dalil yang lain.dan ternyata Ibnu Hajjar Al-Asqolaniy berhasil mengkaji dan menemukan dalil-dalil maulid itu”</p>
<p style="text-align: justify;">Al Hafidz Assuyuthi memberikan jawaban yang bagus tentang masalah ini (yakni maulid tidak dilakukan oleh salaf ), beliau berkata: “sesungguhnya tidak dikerjakannya suatu amalan oleh salaf itu berarti sukut ( diam ). Dan juga tidak pernah ada larangan dari mereka untuk mengadakan perayaan. Dan sukut itu dijadikan hujjah ketika tidak ada dalil. Dan ketika ada dalil yang menetapkannya ( lebih dalil qauliy yang telah dinukilkan oleh Ibnu Hajjar di atas), maka dalil yang menetapkan itu didahulukan atas sukut.( Bayanun Nabawiy, DR Mahmud Ahmad Zein, 12 )</p>
<p style="text-align: justify;">Jika demikian, maulid Nabi adalah amalan yang baik, dan akan diberikan pahala bagi siapapun yang melakukannya dengan niat mencintai Nabi, sepanjang perayaan tersebut tidak terdapat suatu kemungkaran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/perayaan-maulid-dalam-pandangan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melakukan Perubahan Adalah WAJIB</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/melakukan-perubahan-adalah-wajib/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/melakukan-perubahan-adalah-wajib/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 01:26:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[al qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Analisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=39758</guid>
		<description><![CDATA[MAKALAH TAFSIR SUNNATULLAH TENTANG PERUBAHAN KEADAAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN DOSEN : DR. AHZAMI SAMIUN JAZULI.MA HAFIDZOHULLAH &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; OLEH : AHMAD RIFA’I &#160; PROGRAM PASCA SARJANA...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;" align="center">MAKALAH TAFSIR</p>
<p style="text-align: left;" align="center"><strong>SUNNATULLAH TENTANG PERUBAHAN KEADAAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN</strong></p>
<p style="text-align: left;" align="center">DOSEN :</p>
<p style="text-align: left;" align="center">DR. AHZAMI SAMIUN JAZULI.MA HAFIDZOHULLAH</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">OLEH :</p>
<p align="center">AHMAD RIFA’I</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">PROGRAM PASCA SARJANA</p>
<p align="center"><strong>UNIVERSITAS ISLAM JAKARTA</strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong>2011</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">DAFTAR ISI</p>
<p style="text-align: justify;">BAB 1</p>
<p style="text-align: justify;">PENDAHULUAN…………………………………………………………………….3</p>
<p style="text-align: justify;">BAB II</p>
<p style="text-align: justify;">PEMBAHASAN………………………………………………………………………4</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pengertian Taghyiir…………………………………………………………….4</li>
<li>Ayat-ayat Yang Berkaitan Dengan Perubahan………………………………&#8230;5</li>
<li>Dasar-dasar Perubahan…………………………………………………………7</li>
<li>Hukum-hukum Perubahan…………………………………………………….. 12</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">BAB III</p>
<p style="text-align: justify;">KESIMPULAN…………………………………………………………………………18</p>
<p style="text-align: justify;">DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………&#8230;19</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">BAB I</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">PENDAHULUAN.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Swt telah meletakkan aturan-aturan baku di alam ini, siapapun yang dapat menjalankan aturan Allah swt tersebut maka ia akan meraih kesuksesan setidaknya dalam kehidupan dunia ini. Aturan baku itu disebut dengan sunnatullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi manusia pada dasarnya bisa dirubah apabila ada kemauan dari manusia itu sendiri untuk merubahnya. Iman, akhlak dan tingkah laku yang baik akan dapat merubah kondisi negative yang dialami seseorang menjadi kondisi positif yang penuh kenikmatan. Sebab Allah subhanahu wa ta’ala telah memberlakukan hokum sebab akibat di dunia ini. Siapapun orangnya yang melaksanakan sebab dengan baik maka ia akan mendapatkan akibat yang baik. Suatu contoh, ada anak orang Islam, ia tidak pernah masuk sekolah dan tidak pernah belajar sama sekali, maka ia dipastikan tidak naik kelas atau tidak lulus ujian. Akan tetapi meskipun ia kafir, namun ia rajin belajar dan masuk sekolah maka ia akan dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini mestinya disadari oleh orang islam, bahwa untuk mencapai kemajuan tidak mungkin dapat dicapai dengan berkhayal dan berpangku tangan semata sambil menunggu pertolongan Allah, akan tetapi kemajuan itu harus diusahakan dan dijemput dengan ikhtiyar yang maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan keadaan manusia itu merupakan sunnatullah, yang letak keberhasilannya digantungkan dari usaha manusia itu sendiri untuk berubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Makalah ini hadir dalam rangka mengungkap sunnatullah fi taghyiiri ahwalinnaasi fil qur’anil kariim, sehingga diharapkan dapat menambah motivasi bagi siapapun yang membacanya untuk selalu berbuat baik dan berusaha kearah yang lebih baik lagi.</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">BAB II</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">PEMBAHASAN</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pengertian  Taghyiir.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Taghyiir berasal dari Isim Masdar dari Fiil Madzi<strong>غير</strong> yang berarti merubah, menukar atau mengganti.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu pengertian taghyiir menurut Ibnu Mandzur dalam kitab Lisaanul Arab disebutkan</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>تغيَّر الشيءُ عن حاله تحوّل وغَيَّرَه حَوَّله وبدّله كأَنه جعله غير ما كان</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Artinya yaitu berubahnya sesuatu dari kondisinya, menukar, merubah dan menggantinya seolah-olah ia menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>ذلك بأَن الله لم يَكُ مُغَيِّراً نِعْمةً أَنعمها على قوم حتى يُغَيِّروا ما بأَنفسهم</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Artinya : Demikianlah Allah tidak akan merubah kenikmatan yang telah Ia berikan kepada suatu kaum hingga mereka merubahnya sendiri.(QS.Al-Anfal :53)</p>
<p style="text-align: justify;">Tsa’labi berkata bahwa makna dari <strong>حتى يُغَيِّروا ما بأَنفسهم</strong><strong> </strong>adalah<strong> </strong><strong> </strong><strong>حتى يبدِّلوا ما أَمرهم الله</strong><strong> </strong>(sehingga mereka merubah apa yang diperintahkan Allah kepada mereka).<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Ibnu ‘Asyur dalam At Tahriir Wat Tanwiir berkata :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>و«التغيير» تبديل شيء بما يضاده فقد يكون تبديلَ صورة جسم كما يقال : غَيّرتُ داري ، ويكون تغيير حال وصفة ومنه تغيير الشيب أي صباغه</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Taghyiir (perubahan) yaitu mengganti sesuatu dengan sesuatu yang berlawanan, terkadang perubahan itu mengganti corak dan bentuk sesuatu seperti ungkapan, aku telah merubah rumahku. Dan terkadang perubahan itu mengganti keadaan atau sifat, termasuk di dalamnya adalah merubah uban yang berarti menyemirnya.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Ayat-ayat yang berkaitan dengan perubahan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">Ayat pertama yang berbicara tentang perubahan keadaan manusia adalah Surat Al-Anfal ayat 53, dimana allah berfirman :<strong style="text-align: justify;">  </strong></p>
<p style="text-align: justify;">(siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.(QS. Al-Anfal:53)</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut At Thobariy ayat ini berkaitan dengan azab Allah yang ditimpakan kepada kaum kafir quraisy diperang badar sebab dosa-dosa yang mereka lakukan.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Imam Al-Baghowiy berkata, sesungguhnya makna dari ayat di atas adalah</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>أن الله تعالى لا يغير ما أنعم على قوم حتى يغيروا هم ما بهم، بالكفران وترك الشكر، فإذا فعلوا ذلك غير الله ما بهم، فسلبهم النعمة</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kenikmatan atas suatu kaum sehingga mereka merubah sesuatu yang ada pada mereka dengan kekufuran dan tidak syukur. Ketika mereka melakukan hal itu maka Allah pun akan merubah kenikmatan yang ada pada mereka.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Syaikh Mustafa Al Maraghi menegaskan :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>وفى الآية إيماء إلى أن نعم اللّه على الأمم والأفراد منوطة ابتداء ودواما بأخلاق وصفات وأعمال تقتضيها ، فما دامت هذه الشئون ثابتة لهم متمكنة منهم ، كانت تلك النعم ثابتة لهم ، واللّه لا ينتزعها منهم بغير ظلم منهم ولا جرم ، فإذا هم غيّروا ما بأنفسهم من تلك العقائد والأخلاق وما يلزم ذلك من محاسن الأعمال ، غيّر اللّه حالهم وسلب نعمتهم منهم فصار الغنى فقيرا والعزيز ذليلا والقوى ضعيفا.</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat di atas terdapat isyarat bahwa sesungguhnya kenikmatan Allah atas suatu umat atau individu baik permulaan ataupun langgengnya nikmat tersebut tergantung dengan akhlak, sifat dan perbuatan yang mereka lakukan, maka ketika sikap tersebut tetap mereka miliki dan meresap pada diri mereka, maka kenikmatan Allahpun akan tetap bersama mereka, Allah tidak akan mencabut kenikmatan mereka tanpa kedhaliman dan dosa yang mereka perbuat. Dan ketika mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka baik yang berupa aqidah maupun akhlak dan perbuatan-perbuatan baik yang selama ini ada pada diri mereka, maka Allahpun akan merubah keadaan mereka dan mencabut kenikmatanNya, maka yang kaya menjadi fakir, yang mulia menjadi hina dan yang kuat menjadi lemah.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">Ayat kedua yang berbicara tentang sunnatullah dalam perubahan ahwal manusia adalah Surat Ar Ra’d : 11.<strong style="text-align: justify;"></strong><strong>   </strong></p>
<p style="text-align: justify;">bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(QS. Ar Ra’d:11).</p>
<p style="text-align: justify;">Wahbah Zuhaily dalam tafsir al wasithnya berkata : “Allah tidak akan merubah kenikmatan, kesehatan, keselamatan yang dimiliki suatu kaum kecuali kaum tersebut merubahnya sendiri dengan perbuatan dholim, maksiyat, fasad dan melakukan hal-hal yang berdosa.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Dasar-dasar Perubahan</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Manusia menginginkan perubahan dalam pelbagai aspek kehidupan. Kerap kali mereka merasa jenuh dan bosan terhadap cara hidup yang tidak bervariasi. Mereka ingin hari ini lebih baik dari kemarin, dan yang akan datang jauh lebih baik dari sekarang. Itulah fitrah perubahan yang ada dalam diri setiap manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Olehnya itu, sejak dari awal Al-Qur’an meletakkan batasan-batasan perubahan guna memenuhi kebutuhan fitrah yang cinta perubahan.</p>
<p style="text-align: justify;">kedua ayat di atas telah menggarisbawahi dasar-dasar perubahan sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h4>Kelanggengan suatu nikmat lebih ditentukan oleh kesiapan manusia menjaga nikmat itu sendiri</h4>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ini telah ditegaskan oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha’ beliau berkata,“Kelanggengan nikmat Allah SWT terhadap suatu kaum lebih jauh ditentukan oleh akhlaq, aqidah, dan tingkah laku mereka sendiri, selagi dasar-dasar ini melekat dalam pribadi mereka, maka selama itu juga nikmat Allah SWT tetap kekal, dan mustahil Allah SWT mencabutnya dari mereka secara paksa tanpa ada dosa dan kezhaliman. Tetapi, di saat mereka merubah apa yang ada pada diri mereka dari aqidah, akhlaq dan perilaku baik, maka dengan sendirinya Allah SWT merubah apa yang ada pada diri mereka, nikmat pun dicabut, yang kaya menjadi miskin, yang mulia menjadi hina, dan yang kuat menjadi lemah, itulah dasar berkehidupan yang ada pada setiap kaum dan umat.”<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Contoh sederhana sebagai penjabaran dari penjelasan di atas dapat dilihat dalam dunia pendidikan. Tentunya, setiap pelajar punya potensi yang sama untuk lulus di ujian akhir tahun, dan setiap dari mereka menginginkan kelulusan. Akan tetapi, aturan kehidupan ini lebih jauh ditentukan oleh sikap pelajar itu sendiri. Selagi dia belajar dengan tekun, maka ia akan meraih kesuksesan dengan izin Allah SWT. Tentunya, yang gagal dari mereka telah mengabaikan aturan tersebut. Bukankah menginginkan kelulusan tanpa belajar dan kerja keras merupakan kesombongan dan pembangkangan tersendiri terhadap sunnatullah?</p>
<p style="text-align: justify;">Syekh Mutawalli Sya’rawi  berkata: “Kerusakan datang dari jiwa manusia itu sendiri tatkala mereka sesat dari metode kehidupan yang Allah tetapkan (manhajullah). Olehnya itu, kami  bertanya: “apakah manusia mengeluhkan cahaya? Tentu tidak, karena matahari tidak dapat digapai, demikian pula mereka tidak pernah mengeluhkan adanya krisis udara, tetapi mereka mengeluhkan krisis makanan karena sumber makanan datang dari perut bumi, maka di antara mereka ada yang malas bekerja, ada juga yang bekerja dengan kemalasan, dan ada pula dari mereka yang bekerja dan memetik jerih payahnya, tetapi tidak menafkahkan sebagiannya kepada orang lain. Contoh seperti ini salah satu sebab terjadinya kerusakan dan ketimpangan sosial di alam.”<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Di tempat lain perkataan ini dipertajam dan dipertegas dengan argumen baru, Beliau berkata: “Jika Anda melihat awal kehidupan manusia, Anda pasti tahu bahwa Allah SWT menciptakan Adam sebagai khalifah di muka bumi, dan menciptakan hawa demi kelangsungan generasi manusia, dan sebelum ia diturunkan ke bumi Allah membekalinya aturan hidup. Seandainya mereka mengikuti aturan hidup tersebut, maka pasti mereka menuai kebahagiaan, tetapi mereka telah berubah, dan mengingkari nikmat-nikmat itu, bahkan ingkar terhadap Sang Pemberi Nikmat. Apakah Allah SWT akan melanggengkan terhadap mereka rasa aman, keselamatan, dan pelbagai nikmat, sedangkan mereka telah melakukan perubahan ke arah negatif? Tentu tidak, dan justru Allah akan mengangkat nikmat tersebut dari mereka.”<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Objek perubahan ada pada diri sendiri</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Imam As Suyuthi dalam Ad Duurul Manshur menukil sebuah hadis dari Abi Syaibah dalam kitab Al Arsy :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>وعزتي وجلالي وارتفاعي فوق عرشي ، ما من أهل قرية ولا أهل بيت ولا رجل ببادية ، كانوا على ما كرهته من معصيتي ، ثم تحوّلوا عنها إلى ما أحببت من طاعتي ، إلا تحوّلت لهم عما يكرهون من عذابي إلى ما يحبون من رحمتي؛ وما من أهل بيت ولا قرية ولا رجل ببادية كانوا على ما أحببت من طاعتي ، ثم تحولوا عنها إلى ما كرهت من معصيتي ، إلا تحولت لهم عما يحبون من رحمتي إلى ما يكرهون من غضبي » .</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman : Demi kemuliaan dan kehormatan serta ketinggian-Ku di atas Arsy, tidaklah penduduk suatu kampung, penghuni suatu rumah, dan seorang lelaki di suatu  padang pasir yang berada dalam kondisi Kubenci karena bermaksiat kepada-Ku  kemudian mereka mengubah keadaan itu kepada keadaan yang Ku-cintai karena ketaatan kepada-Ku, melainkan pasti akan Kuubah keadaan mereka dari adzab-Ku  yang tidak mereka sukai kepada rahmat-Ku yang mereka sukai.  Dan tidaklah penghuni suatu rumah, kampung, dan seorang lelaki di padang pasir yang berada dalam keadaan yang Kucintai lantaran ketaatan mereka kepada-Ku lalu mereka berubah kepada keadaan yang Kubenci karena bermaksiat kepada-Ku, melainkan Aku ubah keadaan mereka dari mendapatkan rahmat-Ku yang mereka sukai kepada kemarahan-Ku   yang tidak mereka sukai.<a title="" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian jelaslah bahwa Allah SWT memberikan respon tentang perubahan yang dimulai dari perubahan dari apa yang ada dalam diri manusia itu sendiri, baik kondisi manusia secara individual, di suatu rumah, maupun di masyarakat.   Dan perubahan kondisi baik dan buruk itu terkait dengan ketatan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia kepada Allah SWT, baik secara individual maupun secara kolektif.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Perubahan merupakan hukum general yang meliputi seluruh ras, suku baik mukmin maupun kafir.</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Hal itu ditunjukkan dengan kata قَوْمٌ yang berbentuk nakirah (indefinitif). Kata ini termasuk kata mutlak dan ia tetap bermakna mutlak selama Syari’ tidak membatasinya dengan suatu sifat seperti iman dan selainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, maknanya tetap mencakup setiap kelompok, organisasi, masyarakat, atau negara, tanpa memandang agamanya. Ia juga mencakup setiap ruang danw aktu. Hal itu karena lafazh tersebut mencakup setiap masyarakat di masa lalu, masa kini dan masa depan, sebagaimana ia mencakup setiap negara di dunia.Jadi, Allah telah menetapkan berbagai sunnah dalam kehidupan dan meletakkan faktor penyebab dan undang-undang di alam semesta dan kehidupan insani. Sunnah, faktor penyebab dan undang-undang ini menimbulkan akibat-akibatnya dan mendatangkan buahnya berdasarkan pengaruh dari Allah Tabaraka wa Ta’ala.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah telah menganjurkan umat manusia ini untuk mencari faktor penyebab, undang-undang dan hukum, supaya mereka dapat mengikuti petunjuknya dan berbuat menurutnya, agar mereka memperoleh buahnya. Allah menundukkan faktor penyebab, undang-undang dan hukum itu untuk kebahagiaan manusia dan untuk melayaninya di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Bekerja adalah sarana untuk mencari rezki. Tidak ada yang bisa dilakukan manusia selain serius dan bersungguh-sungguh dalam mencari rezkinya dengan mengerahkan seluruh tenaga dan potensinya. Baik rezki itu bersifat materi atau immateri, atau kedua-duanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Petani membajak tanah dan menabur benih, kemudian ia menunggu rezki dari Rabb. Seandainya ada seseorang berdiam diri di rumahnya tanpa mengerahkan tenaga sedikit pun untuk bercocok tanam, lalu ia mengira bahwa rezkinya akan datang dari pertanian, padahal ia tidak membajak, tidak menabur benih dan tidak memupuk tanah, maak dia akan kecewa dan tertinggal dari bahtera kehidupan insani. Bahkan ia dianggap berdosa karena menolak melakukan sebab, sunnah dan undang-undang.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula para da‘i yang mencita-citakan perubahan itu harus mengerahkan segenap tenaga dan mencurahkan segenap potensi, ide, harta benda, jiwa dan hal-hal yang berharga untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka canangkan.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Perubahan adakalanya positif dan adakalanya negative.</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Karena perubahan itu berarti beralih dari satu kondisi ke kondisi lain dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dengan demikian, ada kalanya perubahan diri itu bersifat positif, yaitu perubahan dari jelek menjadi baik, atau dari baik menjadi lebih baik, sehingga hasilnya pun positif.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ada kalanya perubahan itu bersifat negatif, dimana manusia mengubah diri dari lebih baik menjadi baik, sehingga hasilnya adalah baik dan terkadang manusia mengubah diri dari baik menjadi jelek, sehingga kondisi mereka menjadi jelek.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah telah merubah keadaan kaum Yunus yang semula ditimpakan adzab, menjadi kaum yang dilimpahkan kesenangan karena mereka beriman, sebagaimana yang Ia firmankan :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>فَلَوْلاَ كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلاَّ قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُواْ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الخِزْيِ فِي الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ<em> </em></strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu</em>.( QS Yunus:98)</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu ‘Asyur menerangkan bahwa ketika Allah menghendaki kebaikan pada suatu kaum, maka Allah akan mengutus seorang Rasul untuk memberikan hidayah kepada mereka. Jika mereka memperbaiki perbuatannya maka kenikmatan Allah akan diberikan kepada mereka sebagaimana yang telah terjadi pada kaumnya Nabi Yunus yaitu penduduk Nainawa.<a title="" href="#_ftn14">[14]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Hukum-hukum perubahan</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">DR. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris berkata, Siapapun yang membaca Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Saw. pasti memahami bahwa dakwah dan perjuangan untuk mengubah masyarakat dan sistem menjadi masyarakat dan sistem yang Islami merupakan kewajiban syar’i. Sebagaimana mengubah kemungkatan dan menegakkan ketaatan merupakan perintah Rabbani yang ditujukan kepada setiap muslim. Sebagaimana yang dijelaskan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Allah berfirman,</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104)</p>
<p style="text-align: justify;">Kata `ä3tFø9ur (dan hendaklah) adalah kata perintah, karena ia berbentuk fi’il mudhari’ yang didahului dengan lam amr (lam yang menunjukkan arti perintah). Kita tahu bahwa perintah itu menghasilkan hukum wajib selama tidak ada indikasi yang mengalihkan hukum wajib itu kepada hukum yang lain. Lagi pula, ada banyak nash dan indikasi yang menguatkan kewajiban ini.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Allah berfirman,</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">“Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS Al-Maidah [5]: 63)</p>
<p style="text-align: justify;">Kata الربنيونberarti agamawan Nasrani. Kataالاخبار adalah jamak dari kata حَبْرٌ yang berarti agamawan Yahudi. Dan maksud dari kalimat …. (Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu) adalah celaan dan kecaman Allah terhadap para agamawan Nasrani dan Yahudi lantaran tidak menjalankan tugas perubahan. Yang dicela dari mereka adalah keengganan mereka untuk menjalankan kewajiban tersebut. Hal itu karena celaan tidak diberikan lantaran perbuatan yang mubah, tetapi karena meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang diharamkan. Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan tugas mencegah kemungkaran itu sama seperti orang yang melakukan kemungkaran. Karena ayat ini mengandung kecaman terhadap para ulama terkait tindakan mereka meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar.”</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Allah berfirman melalui lisan Luqman AS,</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS Luqman [31]: 17)</p>
<p style="text-align: justify;">Kata وآمر adalah fi’il amr (kata kerja perintah). Menurut kaidah, kata perintah itu menunjukkan arti wajib selama tidak ada indikasi yang mengalihkannya kepada hukum sunnah atau mubah. Berbagai nash dan indikasi menegaskan kewajiban ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam Sunnah Nabawiyyah pun terdapat banyak hadits yang menunjukkan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar. Di antaranya adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Sa’id Al Khudri RA, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,</p>
<h2 style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ</strong></h2>
<p style="text-align: justify;">“Barangsiapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Kalau ia tidak mampu (dengan tangannya), maka dengan lisannya. Kalau ia tidak mampu (dengan lisannya), maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”<a title="" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kata مَنْ (barangsiapa) adalah bentuk kalimat umum, karena ia adalah isim maushul yang mencakup setiap mitra bicara yang sudah mukallaf, baik laki-laki atau perempuan. Dan bentuk kata فَلْيُغَيِّرْهُ (maka hendaklah ia mengubahnya) adalah fi’il mudhari’ yang didahului dengan lam amr. Jadi, kata ini berbentuk perintah dan menunjukkan hukum wajib.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud RA, bahwa Rasulullah Saw. bersabda,</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ</strong></h2>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">“Tidak seorang Nabi pun yang diutus Allah di tengah suatu umat sebelumku melainkan ia memiliki para pengikut setia dan sahabat dari umatnya. Mereka mengikuti sunnahnya dan mematuhi perintahnya. Kemudian muncul sesudah mereka generasi penerus yang mengucapkan sesuatu yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka dia orang mukmin. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya, maka dia orang mukmin. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka dia orang mukmin. Sesudah itu tidak ada iman sebiji sawi pun.”<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini mewajibkan setiap mukallaf untuk memerangi orang-orang yang rusak itu untuk mengubah kondisi mereka dan memperbaiki keadaan mereka, supaya mereka berhenti berbuat rusak dan komitmen untuk berbuat baik.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Mengenai firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS Al-Maidah [5]: 105), sebagian umat Islam memahami bahwa ini adalah perintah agar seorang muslim berdiam diri saja di rumahnya, tidak berusaha melawan kezhaliman dan orang-orang zhalim. Kemudian khalifah Rasulullah Saw., yaitu Abu Bakar RA, mengoreksi pemahaman yang keliru ini. Imam Abu Daud dalam Sunan-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Qais, katanya: Setelah memuji dan menyanjung Allah, Abu Bakar berkata, “Wahai umat Islam! Sesungguhnya kalian membaca ayat ini dan menempatkannya tidak pada tempatnya: “Jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” Dalam riwayat dari Khalid, Abu Bakar berkata, “Dan sesungguhnya kami mendengar Nabi Saw. bersabda,</p>
<h2 style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ</strong></h2>
<p style="text-align: justify;">“Jika manusia melihat orang zhalim lalu mereka tidak menahannya, maka tak lama lagi Allah akan menjatuhkan hukuman yang meliputi mereka semua.”<a title="" href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Arti lafazh ِ<strong> فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ</strong> adalah mencegahnya dan menghalaunya dari berbuat zhalim. Hadits tersebut mengancam umat Islam dengan suatu hukuman jika mereka meninggalkan upaya perbaikan, enggan mencegah orang zhalim agar tidak berbuat zhalim. Ancaman yang demikian itu tidak diberikan kecuali karena meninggalkan kewajiban atau melakukan sesuatu yang diharamkan. Dan yang diancam dalam hadits ini adalah meninggalkan upaya perubahan. Jadi, hadits ini menunjukkan bahwa hukum upaya perubahan adalah wajib.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal itu ditegaskan dengan riwayat ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali kalian berdiri di samping seseorang orang yang dibunuh secara zhalim. Karena sesungguhnya laknat itu turun pada orang yang menyaksikannya tetapi tidak membelanya. Dan janganlah sekali-kali kamu berdiri di samping orang yang dipukul secara zhalim. Karena sesungguhnya laknat itu turun pada orang yang menyaksikanya tetapi tidak membelanya.”<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align: justify;" align="center">BAB III</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">KESIMPULAN</p>
<p style="text-align: justify;">Kenikmatan yang dilimpahkan Allah kepada manusia, bisa saja hilang dan berubah menjadi adzab apabila manusia berbuat durhaka dan maksiyat kepada Allah. Begitupun sebaliknya, keadaan yang buruk yang menimpa manusia akan berubah menjadi menyenangkan dan penuh nikmat apabila manusia berlaku takwa dan beramal sholeh.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan keadaan manusia dari positif ke negative ataupun sebaliknya tersebut sudah menjadi sunnatullah. Allah telah membuat aturan-aturan baku di ala mini, siapapun yang dapat menjalankan aturan-aturannya ini maka ia telah berhasil merengkuh sunnatullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada anggapan keliru dikalangan masyarakat, bahwa makna surat Ar Ra’d ayat 11 selalu diartikan Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka sendiri mau merubahnya, ini adalah tafsir yang keliru dan sesat, sebab yang dirubah oleh Allah dalam ayat itu adalah keadaan seseorang terkait dengan hokum sebab akibat.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan yang mesti dilakukan adalah perubahan secara individu yang dapat berdampak secara universal, karena perubahan secara bersama inilah yang dikehendaki oleh Allah terbukti dengan penggunaan kata kaum. Perubahan yang dilakukan secara bersama-sama ini akan membawa imbas yang lebih luas.</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">DAFTAR PUSTAKA</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad warson munawwir, <em>Kamus Al-Munawwir</em>, Pustaka Progresif 1997</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Dawud, <em>Sunan Abi Dawud</em>, Hadits no.3775, Maktabah Syamilah versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu ‘Asyur, <em>At Tahriir Wat Tanwiir</em>, Juz 6, hal.174, Maktabah Syamilah versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Mandzur, <em>Lisaanul Arob</em>, Dar ash Shodir Beirut, 2004</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Jarir Ath Thobari, <em>Tafsir Ath Thobariy</em>, juz.14.hal.19, Mkatabah Syamilah Versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Muslim Bin Hajjaj, <em>Shahih Muslim</em>, Toha Putra, Semarang 1990</p>
<p style="text-align: justify;">Syekh Mutawalli as-Sya’rawi, <em>Tafsir as-Sya’rawi</em>, vol. 5</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad Rasyid Ridha’, <em>Tafsir al-Manâr</em>, Dâr al-Manâr, Cairo-Egypt, cet. 2, 1368</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Mas’ud Al-Baghowiy, <em>Mu’alimut Tanzil,</em> Dar At Thaibah Riyadh 1997</p>
<p style="text-align: justify;">Wahbah Zuhaily, <em>Tafsir Al Wasith</em>, Dar el Kitab Beirut, 1999,</p>
<p style="text-align: justify;">Mustafa Al-Maraghi, <em>Tafsir Al-Maraghi,</em> , Maktabah Syamilah versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">http:// eramuslim.com</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al Munawwir, Pustaka Progresif Surabaya, cet.ke.14,1997, hal.1025</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ibnu Mandzur, Lisaanul Arob, Dar ash Shodir Beirut, Juz 5. Hal.34</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Ibid.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Ibnu “Asyur, At Tahriir Wa Tanwiir, juz 6 hal.175, Maktabah Syamilah Versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Ibnu Jarir Ath Thobari, Tafsir Ath Thobariy, juz.14.hal.19, Mkatabah Syamilah Versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Ibnu Mas’ud Al-Baghowiy, Mu’alimut Tanzil, Dar At Thaibah Riyadh 1997, Juz 3, hal.368.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Juz 10 hal.18, Maktabah Syamilah versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Wahbah Zuhaily, Tafsir Al Wasith, Dar el Kitab Beirut, 1999, juz 2. Hal.1152</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Muhammad Rasyid Ridha’, Tafsir al-Manâr, Dâr al-Manâr, Cairo-Egypt, cet. 2, 1368 h, vol. 10, hlm. 42</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Syekh Mutawalli as-Sya’rawi, Tafsir as-Sya’rawi, vol. 5, hlm. 2860</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Ibid, vol. 8, hlm. 4758</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> As Suyuthi, Ad Dur Al Mantsur, Maktabah Syamilah Vol.3, Juz 5 hal.484</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> http://www.eramuslim.com</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> Ibnu ‘Asyur, At Tahriir Wat Tanwiir, Juz 6, hal.174, Maktabah Syamilah versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a> Imam Muslim Bin Hajjaj, Shahih Muslim, Toha Putra, Semarang, hadist no.70</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> Imam Muslim Bin Hajjaj, Shahih Muslim, Toha Putra, Semarang, Hadits no.71</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a> Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Hadits no.3775, Maktabah Syamilah versi 3</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;"><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a> <a href="http://www.eramuslim.com/">http://www.eramuslim.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/melakukan-perubahan-adalah-wajib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kendaraan Anda Berpeluang Menjadi Salah satu Dari 3 Hal</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/hadits/kendaraan-anda-berpeluang-menjadi-salah-satu-dari-3-hal/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/hadits/kendaraan-anda-berpeluang-menjadi-salah-satu-dari-3-hal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 23:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[kuda adalah kendaraan terbaik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=39512</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- “Kuda itu, bagi seorang lelaki, bisa menjadi sitrun (penyembunyi), bisa juga ajrun (pahala), dan bisa juga wizrun (dosa). “ demikian jawab Nabi kepada seorang yang bertanya tentang kuda yang...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/perang-uhud.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-39513" title="Memilih kuda terbaik" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/perang-uhud-300x198.jpg" alt="Rahasia Kuda" width="300" height="198" /></a>Tanbihun</strong>- <em>“Kuda itu, bagi seorang lelaki, bisa menjadi sitrun (penyembunyi), bisa juga ajrun (pahala), dan bisa juga wizrun (dosa). “</em> demikian jawab Nabi kepada seorang yang bertanya tentang kuda yang ditambatnya di muka pintu rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jawaban Nabi yang ringkas dan sarat makna ini memang menarik. Dalam kalimat yang begitu sederhana ini paling tidak ada empat hal yang bisa kita kaji, yaitu kuda, lelaki, penutup, pahala dan dosa. Di sini saya akan coba membahasnya walaupun mungkin tidak secara begitu mendalam dan sistematis layaknya sebuah esai.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan menariknya, <strong><em>kenapa yang ditanyakan kuda?</em></strong> Apa hubungannya dengan lelaki? Apakah dia istimewa dibandingkan hewan peliharaan lainya? The answer is “yes”. Kuda memang beda dan istemewa jika dibandingkan hewan peliharaan lainnya, seperti onta, lembu, domba, apalagi keledai. Kuda, dalam budaya arab, bahkan dalam budaya masyarakat dahulu secara umum adalah hewan kebanggaan, simbol keperkasaan, pakaian seorang kesatria dan merupakan sebuah indikator status sosial seseorang. Dihubungkan dengan lelaki karena lelakilah yang biasa menunggang kuda. Dan antara kepemilkian kuda, kemampuan menunggang dan nama baik sebuah keluarga/suku, ada hubungan yang erat. Nilai yang tidak dimiliki jika disandangkan kepada perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika ditanya tentang kuda ternyata Nabi tidak menjawab bahwa kuda itu adalah lambang keperkasaan dan status sosial seseorang. Nabi paham bahwa pandangan orang-orang saat itu adalah apabila seseorang memiliki kuda maka dia termasuk orang yang berada. Atau setidaknya ada jiwa kesatria bagi pemiliknya, karena memang tidak sembarang orang bisa memiliki kuda. Tapi lihatlah jawaban super bijak dari Nabi di atas tadi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kapan ia menjadi sitr(penutup/penyembunyi)?</strong> Jika ia menambatkannya dengan niat agar tidak disangka sebagai orang miskin, jawab Nabi. Dengan menambatkan kuda di muka pintunya, otomatis orang akan menyangkanya sebagai orang yang “punya”. Nabi memuji dan mengagumi orang seperti ini. Bahkan di dalam Alquran disebutkan bahwa ada sebagian sahabat yang disangka sebagai orang yang kaya lantran sifat iffah (menyembunyikan kesusahan) yang menghiasi pribadi mereka. Walaupun mereka kurang mampu, tapi itu tidak ditunjukkanya dengan penampilan keseharian mereka, apa lagi sampai mengemis, meminta-minta kepada orang lain. Di pagi hari mereka keluar dari rumah dengan muka berseri-seri, walaupun tidak punya apa-apa, dan kembali ke rumah mereka dengan hasil. Mereka bekerja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kuda menjadi ajr, idza robatoha fi sabilillah ay a’addaha liljihad</strong>. Kuda yang ditambat sebagai persiapan perang dalam membela dan menyebarkan Islam, itulah kuda yang menjadi sumber pahala bagi empunya. Lebih dahsyat dari itu, dijelaskan bahwa setiap satu rumput yang dimakan kuda itu akan menambah <em>deposito pahala</em> bagi pemiliknya yang telah menjadikan kudanya bagian dari kontribusinya untuk Islam. Itu baru rumput yang dimakan oleh kuda. Bernilai pahala. Padahal ia belum melakukan apa-apa dengan kudanya. Bagaimana setiap langkah yang diayunkan oleh kuda itu? Bagaimana kalau dengan perantara kuda itu kemenangan diperoleh? Bayangkan betapa banyak pahala Allah. Bayangkan betapa Allah sayang dengan kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Terakhir, ternyata kuda juga bisa menjadi sebab bertambahnya dosa seseorang</strong>. Yaitu kuda yang ditambatkan karena ingin berbangga-bangga, riya dan menyebabkan permusuhan bagi orang muslim lain. Artinya, dengan ia menambatkan kudanya, ia ingin menghasud muslim lain, seolah-olah ingin berkata hanya dia saja yang mampu. Inilah yang dimaksud dengan menyebabkan permusuhan. Kalau dengan orang luar Islam? Jawabnya boleh saja. Seseorang harus menampakkan bahwa dengan Islam dia bisa sejahtera, perkasa dan berwibawa.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Kuda sebagai kendaraan, lambang keperkasaan dan simbol status sosial, demikianlah yang diakui dan seakan menjadi kesepakatan masyarakat dahulu. Bahkan hingga zaman sekarang. Tidak banyak orang yang memiliki kuda, pun mengendarainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di zaman sekarang, kuda sudah berubah bentuknya menjadi kendaraan-kendaraan bermesin. Apakah itu motor, mobil, rumah, laptop, mobile phone atau properti lainnya yang berpeluang memilki tiga sisi tadi. Yaitu: <strong>1- Untuk menyembunyikan kemiskinan</strong>, sehingga tidak memancing iba orang lain dan bisa bekerja dengan leluasa. <strong>2- Sebagai sumber pahala</strong>, jika digunakan untuk ketaatan, mencari rezki yang halal atau diinfakkan untuk program-program yang bertujuan bagi pengembangan Islam. <strong>3- Dosa,</strong> jika untuk riya’, berbangga-bangga, mencari muka, meningkatkan status sosial, dan maksud-maksud yang hanya bersifat kepentingan pribadi dan menciptakan sekat-sekat dalam masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, cermatlah dengan kendaraan/alat anda. Jangan sampai ia menjadi sumber dosa bagi anda sendiri. Wallahu ‘alam.(Reno Ismanto)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/hadits/kendaraan-anda-berpeluang-menjadi-salah-satu-dari-3-hal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Itsar dan Pasar</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/kajian-online/itsar-dan-pasar/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/kajian-online/itsar-dan-pasar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 10:38:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Online]]></category>
		<category><![CDATA[prinsip-prinsip ekonomi islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=38567</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Reno Ismanto (anggota ISFI Malaysia) Pengertian Itsar dan Pasar Itsar, secara sederhana, bisa diartikan dengan sikap atau tindakan mendahulukan orang lain atas diri sendiri. Sifat itsar muncul dari orang...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/12/sedekah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-38568" title="sedekah" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/12/sedekah-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Oleh: <strong>Reno Ismanto</strong> (anggota ISFI Malaysia)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pengertian Itsar dan Pasar</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Itsar, secara sederhana, bisa diartikan dengan sikap atau tindakan mendahulukan orang lain atas diri sendiri. Sifat itsar muncul dari orang yang memang hatinya bersih. Ia muncul dari hati orang yang sangat suka dengan kebaikan, merasa kebahagiaan ketika ia bisa membantu saudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tentang itsar</strong> ini, kita teringat tentang kisah tiga tentara yang kesemuanya meninggal kehausan, dalam perang yarmuk. Kisahnya, seorang tentara mendapat tiga orang sudah terbaring, dengan luka di sekujur tubuh mereka dan mereka kehausan. Dengan cepat si prajurit memberikan air minum ke prajurit pertama. Akan tetapi ia menolak dan memerintahkan untuk diberikan ke kawan lainnya. Begitu juga seterusnya dengan prajurit kedua dan ketiga. Ketika ia mau kembali ke prajurit pertama, ia dapati prajurit tersebut telah gugur. Ia berlari ke prajurit kedua dan ketiga, pun sudah gugur. Sebegitu kuatnya sifat ini tertanam, bahkan dalam keadaan nyawa sebagai ancaman para prajurit islam tersebut lebih mengutamakan orang lain dari pada dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Itsar adalah sifat atau tingkatan tertinggi sebuah , melebihi kedermawanan. Ia bahkan disebut sebagai puncak ukhuwah(persaudaraan bukan karena sedarah).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sedangkan pasar</strong> adalah tempat bertemunya calon penjual dan calon pembeli barang dan jasa. Tetapi yang ingin ditekankan di sini bukanlah pasar secara pengertiannya, tetapi aham yang diikuti secara dalam kegiatan pasar, yaitu prinsip ‘mencari untung sebanyak mungkin dengan modal sekecil mengkin’.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Integritas antara keduanya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Definisi di atas dirasa cukup untuk memberikan gambaran apa itu pasar dan itsar. Intinya, tujuan utama pasar adalah memperoleh sesuatu. Pedagang memperoleh uang dan pembeli memperoleh barang. Sementara istsar, tujuan utamanya adalah membantu, jiwa sosial dan kepedulian. Dalam istsar memang ada unsur memperoleh sesuatu, walaupun jika dikembalikan kepada cara pandang pasar, sebenarnya pemberi mengalami kerugian.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari yang lalu saya berbincang dengan teman saya tentang bisnis saya yang gagal. Saya meminta pendapatnya. Dia kemudian memberikan pandangan bahwa kegagalan bisnis saya adalah karena sikap istsar yang berlebihan pada saya. Dia mencoba membandingkan temannya yang lain yang bisnisnya berhasil. Katanya, dalam bisnis kita harus berpikir bagaimana mendapat untung sebanyak mungkin. Inilah kunci keberhasilan bisnis. Karenanya, itsar akan mempunyai andil yang cukup besar dalam kegagalan bisnis(dagang). Sifat itsar harus diminimalisir sebisa mungkin jika ingin untung dalam bisnis.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya saya tidak terlalu setuju dengan alasan yang dikemukakannya tentang kegagalan bisnis saya. Pada pandangan saya, kegagalan saya lebih disebabkan buruknya managemen dan lemahnya publikasi dan pendekatan kepada pembeli.<br />
Tapi perbincangan tidak sampai di sini. Dari sini kami kemudian bicara banyak hal. Tentang itsar dan pasar ini, kami teringat dengan kehidupan di zaman Nabi ketika di madinah(fase madinah). Sebuah sejarah yang tidak pernah ada duanya di dunia ini adalah persaudaraan yang dijalin oleh nabi antara muhajirin dan anshar. Nama Muhajirin sendiri ketika disebut menggambarkan orang-orang yang teguh, kuat dan rela berkorban meninggalkan tanah kelahiran tercinta dan keluarga demi keyakinan yang dipegangnya. Sedang nama Anshar, menggambarkan orang-orang yang terdidik, berbudaya, mencintai kebenaran dan punya jiwa sosial yang tinggi dan dermawan dalam berkontribusi untuk kebenaran yang diyakininya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karakteristik yang unik antara keduanya adalah, bahwa<em> </em><span style="text-decoration: underline;"><em>kaum muhajirin</em></span> kebanyakan berasal dari pedagang karena Mekkah adalah tempat pertemuan kabilah-kabilah arab pada musim haji. Sedangkan <span style="text-decoration: underline;"><em>kaum anshar</em></span> kebanyakan dari petani (agrarian) dan peternak. Kaum muhajirin berasal dari daerah yang panas dan persaingan hidup yang ketat di perkotaan. Sedangkan kaum muhajirin berasal dari/hidup di daerah yang suhu udaranya normal antara panas dan dingin, daerah agraris dan perkampungan yang keterhubungan serta jiwa sosial antara masyarakat satu sama lainnya masih sangat kuat. Paduan dua karakteristik yang dibangun atas spirit Islam inilah yang kemudian melahirkan sebuah kebudayaan agung, sebuah contoh tatanan masyarakat ideal, yang tidak pernah ada bandingannya dalam sejarah manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika diringkas, pada kaum Muhajirin ada karakteristik pasar; orang-orang yang mampu membaca peluang terciptanya untung perniagaan. Sementara pada kaum anshar ada karakteristik itsar yang sangat tinggi, yang terlihat ketika mereka memberikan setengah harta kekayaan untuk para pendatang (Muhajirin) yang tidak membawa apa-apa karena terusir dari Mekkah. Bahkan direkamkan bahwa mereka menceraikan sebagian istri mereka untuk dinikahkan kepada saudaranya yang pendatang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka sebetulnya, antara kedua sikap ini tidak ada pertentangan. Bahwa karakteristik ‘pasar’ memang diperlukan dalam perniagaan. Tetapi sikap pasar ini tidak boleh sampai menjurus kepada sikap individualis, ignorance dan agnostik. karena sikap ini akan mengantarkan kepada perilaku cinta dunia, diperbudak oleh harta, yang pada akhirnya kehilangan jati diri dan terlalai dari tugas sebenarnya di dunia ini, bahwa dunia hanyalah ujian dan tempat berbekal untuk kehidupan yang kekal di sana, di sisi-Nya. Pada tataran ini, sikap peduli, dermawan dan itsar menjadi sangat penting. Tentunya tidak ada yang bisa menjadi pendorong munculnya sifat dermawan dan itsar pada seseorang melainkan dorongan dari agama. Karena hitung-hitunganan pasar, selamanya tidak akan bisa menjadi pendorong untuk sifat ini, karena ia dikategorikan rugi(margin) pada saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah mulai bisa disimpulkan bahwa itsar tidak membunuh karakteristk ‘pasar’ pada seseorang. Justru ia memberikan balance, agar tidak tenggelam dari sifat ‘pasar’ yang melampau. Lebih jauh, jika dilihat dari kacamata sosial, maka itsar ini menjadi komponen penting bagi kehidupan masyarakat, yang tidak hanya menciptakan keharmonisan, tetapi juga rasa saling menghormati dan mencintai satu sama lain. Inilah tujuan beragama. Dan inilah misi yang diemban islam ketika ia diturunkan kepada manusia; untuk menjadi aturan yang akan menuntun manusia kepada keseimbangan, kesejahteraan, keharmonisan, bertolong-menolong dan berkasih sayang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak dinafikan bahwa Allah tidak menjadikan manusia sama. Allah melebihkan sebagian di antara yang lainnya dalam kekayaan, kecantikan dan lain-lain. Inilah sunnatullah(nature). Lalu kalau seperti ini, bagaimana Islam menyikapinya. Bagaimana Islam melihat adanya kaum miskin dan kaum kaya? Pada jawaban akan pertanyaan inilah orang akan mendapati keagungan nilai-nilai dan misi-misi luhur yang ada pada Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Alquran menyebut ummat islam sebagai ummat wasatan, dalam segala hal. Islam sendiri datang dengan tujuan untuk menciptakan keseimbangan. Termasuk keseimbangan dalam kehidupan sebuah masyarakat. Maka, untuk permasalahan adanya kemiskinan pada sebagian orang, Islam memberikan instrumen yang bisa menjadi solusi, jika memang diikuti dan dilaksanakan dengan benar. Diantara instrument-instrumen itu ialah zakat, yang ini diwajibkan. Ada juga sadaqah, infaq, memberikan pinjaman hutang, dan termasuk diantaranya itsar.</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah nilai-nilai yang dibawa oleh Islam ini. Bahkan zakat dijadikan sebagai salahsatu bagian terpenting dari ajarannya. Kemudian untuk instrumen-instrumen lain yang bukan wajib, didapati islam menjanjikan pahala(reward) yang luar biasa bagi mereka yang mempraktekkannya. Dari isntrument-instrument inilah tercipta keseimbangan. Orang-orang miskin tidak akan terbiarkan. Orang-0rang kaya tertanam kepadanya kepedulian, tertanam di jiwanya paham bahwa pada hartanya juga terdapat hak orang lain, tertanam pada dirinya bahwa harta yang ada di tangannya bukan miliknya, tetapi amanah dari Allah untuk digunakan pada jalan yang telah ditentukan dalam agama, yaitu pada kebaikan diri sendiri, keluarga dan membantu sesama.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah pentingnya agama. Sehingga, ketika agama tidak dipandang hanya sebagai praktek-praktek ritual, sebuah gerakan dan perubahan kepada terciptanya sebuah masyarakat yang berbudaya akan terwujud dengan mudah. Maka, agama tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang zaman sekarang yang tenggelam dalam kehidupan yang mereka sebut modernization, masih bingung bagaimana mencari solusi akan ketimpangan dan kerusakan dalam masyarakat mereka. Sebabnya adalah mereka tidak punya pemahaman yang benar dalam memandang kehidupan ini, mereka masih bertanya-tanya bagaimana mereka hidup dan untuk apa, dan karena kebingungan ini mereka meninggalkan agama mereka. Jadilah mereka menciptakan agama mereka sendiri. Agama yang ajaran-ajarannya terpancar sangat jelas dari sikap hedonisme, menuhankan harta dan kesenangan, mementingkan diri sendiri, prinsp bahwa setiap kerja harus ada bayarannya, dan lain seterusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika ingin disimpulkan, semua kerusakan itu berpunca dari sikap ‘pasar’ yang melampau sehingga ia mematikan rasa kepedulian, kedermawanan dan itsar dari mereka, yang penyebab utamanya adalah hilangnya tuntunan agama (yang benar) dari kehidupan mereka.<br />
Wallahu’alam.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/kajian-online/itsar-dan-pasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masihkah  Merasa Angkuh?!</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/analisis/masihkah-merasa-angkuh/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/analisis/masihkah-merasa-angkuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 09:35:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>majid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[masihkah angkuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=37962</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun.com - Awal mula sebuah Pembangkangan adalah perilaku Iblis yang dengan lancang menolak perintah Allah SWT. sebelumnya, jauh sebelum Manusia di ciptakan iblis adalah hamba Allah yang paling taat. karena...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><strong><a href="http://tanbihun.com/kajian/analisis/masihkah-merasa-angkuh/attachment/sombong1/" rel="attachment wp-att-37963"><img class="alignleft size-full wp-image-37963" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/12/sombong1.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Tanbihun.com -</strong> Awal mula sebuah Pembangkangan adalah perilaku Iblis yang dengan lancang menolak perintah Allah SWT. sebelumnya, jauh sebelum Manusia di ciptakan iblis adalah hamba Allah yang paling taat. karena merasa diri lebih mulia dan terhormat maka iblis enggan mematuhi titah Allah untuk sujud menghormati Adam yang hanya diciptakan dari tanah.</p>
<p style="text-align: justify">Oleh karenanya Iblis dilaknat oleh Allah SWT, serta diturunkan martabatnya menjadi makhluk yang sangat hina dina, bahkan dilaknat Allah SWT serta dijanjikan masuk neraka jahanam. Singkatnya, sang Iblis menaruh rasa dendam terhadap nabi Adam as. Karena kesombongannya itu pula, Iblis pun rela menjadi pembangkang dan bersumpah kepada Allah bahwa dia akan selalu menyesatkan seluruh umat manusia hingga akhir zaman, kecuali manusia-manusia yang mau berpikir dan beriman.</p>
<p style="text-align: justify">Sombong dan membanggakan diri adalah watak iblis, dengan lihai iblis menanamkan sifat tersebut kedalam diri manusia. tak terbilang kerusakan yang ditimbulkan akibat sifat yang satu ini. sebagai contoh, Al-qur&#8217;an mengisahkan Qorun berikut harta kekaya&#8217;anya yang melimpah. menjadi orang yang sangat kaya raya membuat Qorun lupa diri. bahkan ketika Kaumnya mengingatkan agar tidak berlaku sombong, Qorun dengan pongah berkata bahwa harta kekayaanya ia peroleh karena kepandaianya. kemudian Allah membinasakanya beserta seluruh hartanya.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Kesombongan adalah menolak kebenaran dan melecehkan orang. (H.R Muslim).</strong> setidaknya model kesombongan terbagi atas batin dan lahir, <em>kesombongan batin</em> adalah perangai dalam jiwa, yaitu tidak mau menerima kebenaran khususnya kebenaran yang bersumberkan pada hukum syariah dan ajaran Islam. Walaupun kebenaran tersebut, telah jelas di depan matanya. Namun karena “egonya”, ia menolak kebenaran tersebut. Seperti seseorang yang menentang Al_qur&#8217;an, menentang ajaran Islam, menganggap bahwa syariah sebagai penghambat kemajuan, dsb.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Kesombongan lahir</em> sebagaimana sikap merendahkan martabat dan derajat orang lain, serta merasa bahwa dirinya lebih baik, lebih pintar, lebih shaleh, lebih berprestasi dibandingkan dengan orang lain. Biasanya sifat sombong tercermin antara lain, dengan mudahnya si pelaku ini menghina, merendahkan, atau mempermalukan orang lain. Bahkan terkadang tidak segan-segan mencemoohnya. Inilah yang dilakukan oleh Iblis, sehingga ia menjadi makhluk terlaknat. Dan Iblis pun menginginkan manusia memiliki sifat yang sama dengannya.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Waba&#8217;du;</em> Selagi kita berpikir, tak ada salahnya kita mengenang pertama kali tangis kita memulai kehidupan, nyaris tak ada bekal apapun yang kita bawa, pun demikian ketika kita kembali nanti. <em>lalu patutkah kita berbangga diri dan berlaku sombong?!</em> <strong>untuk apa bangga dengan kecantikan atau ketampanan jika pada ahirnya akan menjadi tulang. buat apa bangga dengan pakaian bila pakaian yang terakhir nanti adalah kain kafan. buat apa bangga dengan kendaraan mewah jika kendaraan yang terakhir nanti adalah keranda jenazah. buat apa bangga dengan tempat tidur yang empuk jika tempat tidur yang terakhir nanti adalah tanah. buat apa bangga dengan rumah yang megah jika rumah yang terakhir nanti adalah kuburan. buat apa bangga dengan titel yang tinggi, padahal titel yang terakhir nanti adalah ALMARHUM.</strong></p>
<p style="text-align: justify">Hanya kepada Allah kita berlindung&#8230;</p>
<p style="text-align: justify"><em>Sukorejo, 19 Desember 2011</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/analisis/masihkah-merasa-angkuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghapus Ashobiyyah, Menebar Ukhuwah</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/menghapus-ashobiyyah-menebar-ukhuwah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/menghapus-ashobiyyah-menebar-ukhuwah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 22:39:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[ashobiyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=36076</guid>
		<description><![CDATA[AHMAD AR RIFA’I[1] Tanbihun- Akhir-akhir ini, umat Islam Indonesia sudah terjebak pada sikap ashobiyyah ( fanatic buta ) terhadap sukunya, rasnya, organisasi politiknya, bahkan tanah airnya. Masing-masing mereka tidak hanya...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;" align="center"><strong>AHMAD AR RIFA’I<a title="" href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong>- Akhir-akhir ini, umat Islam Indonesia sudah terjebak pada sikap ashobiyyah ( fanatic buta ) terhadap sukunya, rasnya, organisasi politiknya, bahkan tanah airnya. Masing-masing mereka tidak hanya suka membanggakan kelompok sendiri, tapi juga merendahkan kelompok lain. Sedemikian fanatiknya masing-masing mereka terhadap kelompok sendiri, seolah-olah mereka punya ‘akidah’: <em>Kelompok sendiri selalu benar dan harus dibela mati-matian sampai mati.</em> Inilah yang disebut<em> ‘Ashabiyah</em>. Terjadinya banyak peperangan dan pertumpahan darah di antara mereka, umumnya diakibatkan oleh <em>‘ashabiyah</em> atau fanatisme kelompok ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pengertian <em>‘ashabiyyah </em>itu sendiri. <em>‘Ashabiyah </em>adalah sifat yang diambil dari kata <em>‘ashabah</em>. Dalam bahasa Arab, <em>‘ashabah </em>berarti kerabat<em> </em>dari pihak bapak. Menurut Ibn Manzhur, <em>‘ashabiyyah </em>adalah ajakan seseorang untuk membela keluarga, tidak peduli keluarganya zalim maupun tidak, dari siapapun yang menyerang mereka. Menurutnya, penggunaan kata <em>‘ashabiyyah </em>dalam hadis identik dengan orang yang menolong kaumnya, sementara mereka zalim (Ibn Mandzur, <em>Lisan al-‘Arab,</em>I/606 ). Pandangan ini sama dengan pandangan al-Minawi ketika menjelaskan maksud hadis:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّة وليس منا من قاتل علي عصبية وليس منا من مات علي عصبية</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>Bukan termasuk umatku siapa saja yang menyeru orang pada ‘ashabiyah</em><em>, bukan dari golongan kami orang yang berperang karena ashabiyyah, dan bukan dari golongan kami orang yang mati karena ashabiyyah</em><em> </em>(HR Abu Dawud).</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau menyatakan, “Maksudnya, siapa yang mengajak orang untuk berkumpul atas dasar ‘<em>ashabiyah</em>, yaitu bahu-membahu untuk menolong orang yang zalim.” Sementara al-Qari menyatakan, “Bahu-membahu untuk menolong orang karena hawa nafsu.”( Muhammad Syamsu al-Haq, <em>‘Aun al-Ma’bud,</em> XIV/17.)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dalam hadis lain, larangan berperang di bawah bendera <em>‘Ummiyyah </em>atau <em>Immiyyah</em>, menurut as-Sindi, adalah bentuk <em>kinâyah</em>, yaitu larangan berperang membela jamaah (kelompok) yang dihimpun dengan dasar yang tidak jelas (<em>majhûl</em>), yang tidak diketahui apakah <em>haq</em> atau batil. Karena itu, orang yang berperang karena faktor <em>ta’âshub </em>itu, menurutnya, adalah orang yang berperang bukan demi memenangkan agama, atau menjunjung tinggi kalimah Allah (As-Sindi, <em>Hasyiyah as-Sindi ‘ala Ibn Majah,</em> VII/318)</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, jelas bahwa makna <em>‘ashabiyyah </em>di sini bersifat spesifik, yaitu ajakan untuk membela orang atau kelompok, tanpa melihat apakah orang atau kelompok tersebut benar atau salah; juga bukan untuk membela Islam, atau menjunjung tinggi kalimat Allah, melainkan karena dorongan marah dan hawa nafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Islam tidak mengakui setiap loyalitas kepada selain akidahnya, tidak mengakui persyerikatan kecuali ukhuwah Islamiyyah dan tidak mengakui cirri khas yang membedakan manusia kecuali iman dan kekafiran. Oleh karena itu, orang yang memusuhi Islam adalah musuh orang Islam, meskipun dia adalah tetangga, family, bahkan saudara seibu sekalipun, Allah berfirman :</p>
<p style="text-align: justify;"><em> kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. ( Al-Mujaadilah:22)</em></p>
<p style="text-align: justify;">dan juga dalam Surat Taubat Allah menegaskan :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan( At-Taubah:23).</em><em></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Islam tidak pernah menilai kemuliaan seseorang berdasarkan keturunan, ras, suku maupun bangsanya. Islam hanya mengukur kemuliaan seseorang berdasrkan ketaqwaan semata. Dalam hal ini Nabi bersabda  :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">انظر فإنك لست بخير من أحمر ولا أسود إلا أن تفضله بتقوي الله</h2>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Perhatikanlah sesungguhnya kamu tidak lebih baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam, kecuali jika kamu dapat mengunggulinya dengan ketakwaan kepada Alloh (HR. Ahmad )</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa Ketakwaan kepada Allah, keturunan tidak berarti sama sekali dihadapan Allah Swt, sampai dzuriyyahnya Nabi sekalipun jika mereka tidak bertakwa kepada Allah, maka mereka tidak akan mendapat kemuliaan sedikitpun dimata Allah Swt.</p>
<p><em> </em></p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Di sampaikan di STIAMI tgl 09 November 2011</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/menghapus-ashobiyyah-menebar-ukhuwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Do&#8217;a Nabi Yang Tertolak</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/hadits/doa-nabi-yang-tertolak/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/hadits/doa-nabi-yang-tertolak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 22:58:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Perbedaan itu sunnatullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=33854</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: H.Khaeruddin Khasbullah Imam Bukhory dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadist yang bersumber dari Sa’ad bin Abi Waqqosh, bahwa suatu saat Nabi Muhammad datang dari gunung dan melewati Masjid Bani...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="yui_3_2_0_1_13200764437332016" style="text-align: right;" align="center">Oleh: <strong>H.Khaeruddin Khasbullah<a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/kartun-sombong.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-33856" title="kartun sombong" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/kartun-sombong-300x258.jpg" alt="" width="300" height="258" /></a></strong></div>
<div style="text-align: justify;" align="center"></div>
<p style="text-align: justify;">Imam Bukhory dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadist yang bersumber dari Sa’ad bin Abi Waqqosh, bahwa suatu saat Nabi Muhammad datang dari gunung dan melewati Masjid Bani Mu’awiyah*). Beliaupun memasuki mesjid tersebut dan sholat disana serta berdo’a sangat lama. Setelah selesai kemudian beliau menyatakan:</p>
<h2 style="text-align: right;" align="right">سَأَلْتُ رَبِيْ ثَلاَثاً – فَأَعْطَانِيْ اثْنَيْنِ – وَمَنَعَنِيْ وَاحِدَةً : سَأَلْتُ رَبِّيْ أَنْ لَا يُهْلِكَ أُمَّتِيْ بِالسَّنَةِ فَأَعْطَانِيْهَا- وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُهْلِكَ أُمَّتِيْ بِالْغَرَقِ فَأَعْطَانِيْهَا – وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُعَجِّلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيْهَا – رواه البخاري ومسلم عن سعد بن أبي وقاص</h2>
<div style="text-align: justify;">“Aku memohon kepada Rob/Tuhanku tentang tiga hal, maka Allah mengabulkan dua permintaanku dan menolak satu permintaanku: Aku memohon agar ummatku tidak diadzab atas dosanya dengan kelaparan, maka permohonanku ini dikabulkanNya. Aku juga memohon agar ummatku tidak diadzab atas dosanya dengan ditenggelamkan, maka permohonanku inipun dikabulkan oleh-Nya. <strong>Akupun memohon agar mereka tidak dirusak dengan perpecahan dan perbedaan pendapat</strong>, maka permohonanku yang ini tidak dikabulkan Allah”.(Lihat <span style="text-decoration: underline;"><em>Mukhtaarul Ahaadist An- Nabawiyyah</em></span> bab Siin).</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Rupanya perpecahan dan perbedaan pendapat sudah merupakan <span style="text-decoration: underline;"><em>Sunnatulloh</em></span> yang tak terelakkan. Ada masanya ummat Islam bersatu padu, tatkala mereka dipimpin oleh para <span style="text-decoration: underline;"><em>pemimpin Motivator</em></span> Persatuan sebagaimana ummat Islam tatkala dipimpin oleh Abu Bakar, Umar, Umar bin Abdul Aziz, Solahuddin Al- Ayyubi, Muhammad Al- Fatih, dll.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Para pemimpin seperti inilah para pemimpin GOLONGAN KANAN, yang selalu menebarkan motivasi tentang kesabaran dan menebarkan CINTA KASIH diantara ummat:</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<h2 style="text-align: right;" align="center">ثُمَّ كاَنَ مِنَ الَّذِيْنَ أمَنُوْا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِاْلمَرْحَمَةِ  ◙ أُولَئِكَ أَصْحاَبُ الْمَيْمَنَةِ</h2>
<div style="text-align: right;" align="center"><strong><br />
</strong></div>
<div style="text-align: justify;" align="center">“Maka kemudian adalah orang- orang yang beriman dan selalu berwasiyat tentang Kesabaran dan Cinta kasih, mereka itulah Golongan Kanan”<strong> (Q.S. Al- Balad 17).</strong></div>
<div style="text-align: justify;" align="center"><strong> </strong></div>
<div style="text-align: justify;">Namun adakalanya ummat terpecah disaat adanya penyusup yang menyusup dan mengadu domba umat Islam seperti tatkala dizaman Utsman dan Ali dimana peran Sang Kuda Troya Abdullah bin Saba’ sangat besar didalam <em><span style="text-decoration: underline;">mengadu domba sesama muslim</span></em>, namun adakalanya justru ummat Islam dipimpin oleh para pemimpin Provokator GOLONGAN KIRI  yang lebih mengutamakan perbedaan daripada persatuan. Semboyan mereka: <strong>“Kalau kita bisa berbeda dengan mereka, mengapa harus sama?” Bukan sebaliknya: ”Kalau masih bisa dipersatukan, kenapa harus berbeda?”.</strong> Maka dengan semboyan yang tersembunyi dalam lubuk  hati yang timbul dari rasa hasad dan dengki ini dengan berbagai dalih yang diungkapkan yang katanya demi segala kebaikan, para pemimpin provokator Golongan Kiri  ini akan selalu menampilkan sesuatu yang berbeda demi kepentingannya sendiri dan kelompoknya karena pengaruh egonya itu. Maka ummat Islam dibawah para pemimpin provokator ini masuk kedalam perangkap yang dahulu pernah dialami oleh para Ahlul Kitab:</div>
<h2 style="text-align: center;" align="center"><strong></strong><strong>تَحْسَبُهُمْ جَمِيْعاً وَقُلُوْبُهُمْ شَتَّى ( الحشر 14)</strong><strong></strong></h2>
<div style="text-align: justify;" align="center"><strong> </strong></div>
<div style="text-align: center;" align="center">“Mereka seperti bersatu, padahal hati mereka tercerai berai”.</div>
<div style="text-align: justify;" align="center"></div>
<div style="text-align: justify;">Maka sesungguhnya terkabul tidaknya do’a Nabi  yang ketiga itu sangat tergantung dari siapa pemimpin ummat saat itu. Adakah para pemimpin yang ada saat itu adalah Motivator Persatuan ataukah Provokator Perpecahan. Kita memohon agar kiranya Allah segera mengirim para <span style="text-decoration: underline;"><em>pemimpin Innovator</em></span> dan Motivator, bukannya  para pemimpin Provokator, agar kiranya ummat ini dapat menemukan kembali kejayaannya. Amiin.</div>
<div style="text-align: justify;">_____________________________________</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">*)Mesjid tersebut sekarang bernama <strong>Mesjid Ijabah</strong>, berlokasi di Jalan Malik Faishal, 385 meter sebelah utara Pemakaman Baqi’ Medinah, 580 meter dari Mesjid Nabawi.</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/hadits/doa-nabi-yang-tertolak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prediksi 1 Dzulhijjah 1432 H (2011 M) Di Saudi Arabia Dan DI Indonesia</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/prediksi-1-dzulhijjah-1432-h-2011-m-di-saudi-arabia-dan-di-indonesia/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/prediksi-1-dzulhijjah-1432-h-2011-m-di-saudi-arabia-dan-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 05:17:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Falak Online]]></category>
		<category><![CDATA[Penentuan 1 Dzulhijjah 1432 H]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=33323</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: H.Khaeruddin Khasbullah Tanbihun- Masalah dominan yang sering mewarnai penentuan 10 Dzul Hijjah/ Hari Raya Idhul Ad-ha di tanah air adalah factor keputusan pemerintah Saudi dalam menentukan masuknya bulan Dzul...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: left;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/qurban.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-33328" title="qurban" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/qurban.jpeg" alt="" width="300" height="210" /></a>Oleh: <strong>H.Khaeruddin Khasbullah</strong></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong>- Masalah dominan yang sering mewarnai penentuan 10 Dzul Hijjah/ Hari Raya Idhul Ad-ha di tanah air adalah factor keputusan pemerintah Saudi dalam menentukan masuknya bulan Dzul Hijjah, yang oleh mereka selalu dilakukan dengan cara Rukyatul Hilal. Ini terutama disebabkan karena ada hubungannya dengan saat wukuf di Arofah, sementara ada usaha propaganda teman- teman yang mengusung dan menganjurkan diberlakukannya Rukyat Global. Masalahnya adalah bila posisi Hilal masih terlalu rendah, ada kemungkinan terjadi salah pengamatan seperti terjadi pada penentuan 1 Syawal 1432 yang lalu di Saudi yang kemudian keputusannya diikuti oleh beberapa Negara Islam lainnya, yang ternyata kemudian menimbulkan polemik karena  menurut Lembaga Resmi Astronomi Arab Saudi sendiri, ternyata yang disangka Hilal saat sore akhir Romadhon 1432 H itu adalah bukan Hilal (moon crescent), akan tetapi Planet Saturnus/Zuhal.(Lihat: <a href="../../../../../kajian/ilmu-falak-online/kajian/ilmu-falak-online/penentuan-1-syawal-1432-h-di-saudi-menyisakan-polemik/" rel="bookmark">Penentuan 1 Syawal 1432 H Di Saudi Menyisakan Polemik</a>: <a href="http://sabq.org/sabq/user/news.do?section=5&amp;id=29468" rel="nofollow" target="_blank">sabq.org</a> ).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana dengan penentuan IDUL- AD-HA  tahun ini?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menurut kami, kemungkinan salah lihat seperti kemarin adalah lebih kecil, karena IJTIMA’ insya Alloh akan terjadi pada tanggal 27 Oktober- 2011 jam 2: 56: 52 dengan ketinggian bulan: +5. 42’. 47”, (besoknya ketinggian bulan sudah diatas 20 derajat). Umur bulan sampai saat tenggelam sudah 13 jam, dimana menurut beberapa Pakar Astronomi Kontemporer sudah memasuki keadaan Imkaanur Rukyat (Possibility Visibility of  Moon Sight) walaupun ada juga yang menetapkan minimal umur bulan harus lebih 14 jam dan ketinggian Hilal harus sudah diatas 7 derajat sebagaimana tulisan pada Sabag Org tersebut diatas. Posisi Hilal ini di Indonesia tidak akan jauh berbeda (Irtifa’= +6.56’.12”), sehingga bila mengacu kepada kesepakatan MABIMS (Menteri- menteri agama Brunei- Indonesia- Malaysia dan Singapura pada tahun 1994) yang menetapkan Imkaanur Rukyat dengan ketinggian bulan diatas 2 derajat, maka insya Alloh pada tahun ini tanggal 1- Dzul- Hijjah- 1432 H akan jatuh pada tanggal 28 Oktober- 2011, sehingga tanggal 10 Dzul Hijjah/ HARI RAYA IDUL AD-HA  insya Alloh akan jatuh pada Hari <strong>AHAD </strong>tanggal 6- Nopember- 2011, berarti insya Alloh kita akan berlebaran haji bersama tanpa perbedaan. Amiin. Kita tunggu saja dan kita taati keputusan siding ITSBAT yang akan dilakukan ULIL AMRI/ pemerintah TGL 27 Oktober 2011 nanti.<strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/prediksi-1-dzulhijjah-1432-h-2011-m-di-saudi-arabia-dan-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Ada Agama Selain Islam</title>
		<link>http://tanbihun.com/usulidin/tidak-ada-agama-selain-islam/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/usulidin/tidak-ada-agama-selain-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 02:08:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[beriman kepada risalah]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=32299</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: AHMAD AR RIFAI[1] Tanbihun- Pluralisme yang dihembuskan oleh sebagian intelektual Muslim, dengan mengusung semangat bahwa semua agama adalah benar dan memungkinkan pengikutnya untuk memasuki surga sungguh kebablasan. Allah Swt...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/kaligrafi-bismillah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-32325" title="kaligrafi bismillah" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/kaligrafi-bismillah-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Oleh: AHMAD AR RIFAI<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong>- Pluralisme yang dihembuskan oleh sebagian intelektual Muslim, dengan mengusung semangat bahwa semua agama adalah benar dan memungkinkan pengikutnya untuk memasuki surga sungguh kebablasan. Allah Swt sudah menegaskan dengan sangat jelas dalam firmannya.</p>
<h2 style="text-align: center;">ان الدين عند الله الاسلام</h2>
<p style="text-align: center;">(Sesungguhnya agama yang diridhoi Allah adalah agama Islam).</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad diutus oleh Alloh Swt untuk menyempurnakan risalah para Nabi terdahulu. Oleh sebab itu semua umat manusia yang telah mendengar syariat Nabi Muhammad Saw wajib untuk mengikutinya dan masuk ke dalam agama Islam, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi dalam Shahih Muslim.</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ</strong><strong> </strong><strong>عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ</strong><strong> ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><strong>Artinya:</strong> dari abu Hurairoh RA, Rasulullah Saw bersabda,” Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggamanNya, siapapun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar berita tentang aku, lalu ia mati sebelum beriman kepada risalah yang diberikan kepadaku, maka ia akan menjadi penghuni neraka (H.R Muslim No.218)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadis di atas menegaskan bahwa siapa saja yang dakwah islamiyyah telah sampai kepadanya namun ia tidak mau menerima Islam sebagai agamanya maka ia akan masuk ke dalam neraka. Yahudi maupun Nashrani sekalipun, jika mereka mengingkari kerasulan Nabi Muhammad Saw maka mereka akan masuk ke dalam neraka. Hadist ini sangat jelas menolak ajaran pluralisme agama yang dalam pengertian semua agama adalah benar. Sebab jika mereka semua benar pastilah Nabi Muhammad Saw tidak akan mengancam mereka dengan ancaman neraka.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan ketika Umar bin Khottob menunjukkan kitab taurat kepada Nabi, beliau sontak bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">لواصبح موسي حيا فاتبعتمواه وتركتمواني لضللتم</h2>
<p>Seandainya Musa masih hidup lalu kalian mengikutinya dan meninggalkan aku, maka kalian pasti tersesat. (HR. Ahmad).</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi bersabda demikian karena Islam adalah agama yang komplit dan selalu dinamis hingga akhir zaman tanpa memerlukan tambahan dari agama atau ajaran lain. Sisipan-sisipan ajaran Nashrani atau Yahudi masih sering kita jumpai di majelis-majelis ta’lim dan ceramah-ceramah agama yang disampaikan para ustadz, hal ini dikarenakan kurang dalamnya pengetahuan mereka tentang agama sehingga menganggap bahwa cerita Israiliyyat adalah bagian dari Islam itu sendiri, padahal cerita israiliyyat inilah yang dapat mereduksi kemurnian Islam sehingga muncul praktek-praktek keagamaan yang menyimpang dari tuntunan Islam bahkan mirip dengan ajaran agama lain. Syariat Nabi terdahulu hanya untuk umat terdahulu, sehingga sudah out of date dan tidak berlaku untuk umat sekarang. Sementara itu Islam datang untuk mengganti dan menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya, sehingga sudah sewajarnyalah jika Allah mewajibkan kepada seluruh mukallaf di dunia ini untuk memeluk agama Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Legalitas Islam sebagai agama satu-satunya yang harus dianut oleh umat ini juga ditegaskan dalam firman Allah :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ<strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><strong>Artinya :</strong> Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.(QS.Ali Imron :85).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Imam Fachruddin Ar Raziy</strong> dalam tafsirnya mengatakan, sesungguhnya tidak ada agama selain Islam dan semua agama selain Islam tidak akan diterima disisi Allah. (Tafsir Ar Raziy Juz 4 hal.287).</p>
<p style="text-align: justify;">Jika demikian, masihkan kita menganggap bahwa agama diluar Islam sama nilainya dimata Allah dengan agama Islam?.</p>
<p>Wallahu A’lam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Disampaikan Di STIAMI Rabu, 12 Oktober 2011</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/usulidin/tidak-ada-agama-selain-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

