<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tanbihun Online &#187; Ilmu Falak Online</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/category/kajian/ilmu-falak-online/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 15:30:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Prediksi 1 Dzulhijjah 1432 H (2011 M) Di Saudi Arabia Dan DI Indonesia</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/prediksi-1-dzulhijjah-1432-h-2011-m-di-saudi-arabia-dan-di-indonesia/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/prediksi-1-dzulhijjah-1432-h-2011-m-di-saudi-arabia-dan-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 05:17:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Falak Online]]></category>
		<category><![CDATA[Penentuan 1 Dzulhijjah 1432 H]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=33323</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: H.Khaeruddin Khasbullah Tanbihun- Masalah dominan yang sering mewarnai penentuan 10 Dzul Hijjah/ Hari Raya Idhul Ad-ha di tanah air adalah factor keputusan pemerintah Saudi dalam menentukan masuknya bulan Dzul...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: left;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/qurban.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-33328" title="qurban" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/qurban.jpeg" alt="" width="300" height="210" /></a>Oleh: <strong>H.Khaeruddin Khasbullah</strong></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong>- Masalah dominan yang sering mewarnai penentuan 10 Dzul Hijjah/ Hari Raya Idhul Ad-ha di tanah air adalah factor keputusan pemerintah Saudi dalam menentukan masuknya bulan Dzul Hijjah, yang oleh mereka selalu dilakukan dengan cara Rukyatul Hilal. Ini terutama disebabkan karena ada hubungannya dengan saat wukuf di Arofah, sementara ada usaha propaganda teman- teman yang mengusung dan menganjurkan diberlakukannya Rukyat Global. Masalahnya adalah bila posisi Hilal masih terlalu rendah, ada kemungkinan terjadi salah pengamatan seperti terjadi pada penentuan 1 Syawal 1432 yang lalu di Saudi yang kemudian keputusannya diikuti oleh beberapa Negara Islam lainnya, yang ternyata kemudian menimbulkan polemik karena  menurut Lembaga Resmi Astronomi Arab Saudi sendiri, ternyata yang disangka Hilal saat sore akhir Romadhon 1432 H itu adalah bukan Hilal (moon crescent), akan tetapi Planet Saturnus/Zuhal.(Lihat: <a href="../../../../../kajian/ilmu-falak-online/kajian/ilmu-falak-online/penentuan-1-syawal-1432-h-di-saudi-menyisakan-polemik/" rel="bookmark">Penentuan 1 Syawal 1432 H Di Saudi Menyisakan Polemik</a>: <a href="http://sabq.org/sabq/user/news.do?section=5&amp;id=29468" rel="nofollow" target="_blank">sabq.org</a> ).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana dengan penentuan IDUL- AD-HA  tahun ini?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menurut kami, kemungkinan salah lihat seperti kemarin adalah lebih kecil, karena IJTIMA’ insya Alloh akan terjadi pada tanggal 27 Oktober- 2011 jam 2: 56: 52 dengan ketinggian bulan: +5. 42’. 47”, (besoknya ketinggian bulan sudah diatas 20 derajat). Umur bulan sampai saat tenggelam sudah 13 jam, dimana menurut beberapa Pakar Astronomi Kontemporer sudah memasuki keadaan Imkaanur Rukyat (Possibility Visibility of  Moon Sight) walaupun ada juga yang menetapkan minimal umur bulan harus lebih 14 jam dan ketinggian Hilal harus sudah diatas 7 derajat sebagaimana tulisan pada Sabag Org tersebut diatas. Posisi Hilal ini di Indonesia tidak akan jauh berbeda (Irtifa’= +6.56’.12”), sehingga bila mengacu kepada kesepakatan MABIMS (Menteri- menteri agama Brunei- Indonesia- Malaysia dan Singapura pada tahun 1994) yang menetapkan Imkaanur Rukyat dengan ketinggian bulan diatas 2 derajat, maka insya Alloh pada tahun ini tanggal 1- Dzul- Hijjah- 1432 H akan jatuh pada tanggal 28 Oktober- 2011, sehingga tanggal 10 Dzul Hijjah/ HARI RAYA IDUL AD-HA  insya Alloh akan jatuh pada Hari <strong>AHAD </strong>tanggal 6- Nopember- 2011, berarti insya Alloh kita akan berlebaran haji bersama tanpa perbedaan. Amiin. Kita tunggu saja dan kita taati keputusan siding ITSBAT yang akan dilakukan ULIL AMRI/ pemerintah TGL 27 Oktober 2011 nanti.<strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/prediksi-1-dzulhijjah-1432-h-2011-m-di-saudi-arabia-dan-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Ilmu Falak Bagian-9</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-9/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-9/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Sep 2011 23:53:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Falak Online]]></category>
		<category><![CDATA[Dasar-dasar Ilmu falak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=30861</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Segi tiga bola dapat terjadi bila ada tiga buah lingkaran yang busurnya berpotongan. Lingkaran-lingkaran ini dalam Ilmu Falak berupa dairoh-dairoh besar yang terjadi dari gerakan benda-benda Falak. Pada prakteknya...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong>- Segi tiga bola dapat terjadi bila ada tiga buah lingkaran yang busurnya berpotongan. Lingkaran-lingkaran ini dalam Ilmu Falak berupa dairoh-dairoh besar yang terjadi dari gerakan benda-benda Falak.</p>
<h5>Pada prakteknya terdapat dua macam segi tiga bola yaitu :</h5>
<p>a. Segi tiga bola siku-siku.</p>
<p>b. Segi tiga bola serong. (lihat gambar).</p>
<p>Pada segi tiga bola berlaku dua dalil pokok yang telah ditemukan oleh para Ilmuwan Falak, yaitu :</p>
<p>1. Dalil Cosinus</p>
<p>2. Dalil Sinus.</p>
<p>Dibawah ini akan diterangkan sedikit tentang Dalil Cosinus, sebagai contoh sedang dalil sinus karena cukup panjang tidak akan dijelaskan di sini.</p>
<p><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/falak-1.png"><img class="alignnone size-full wp-image-30862" title="falak 1" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/falak-1.png" alt="" width="381" height="367" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penentuan 1 Syawal 1432 H Di Saudi Menyisakan Polemik</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/penentuan-1-syawal-1432-h-di-saudi-menyisakan-polemik/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/penentuan-1-syawal-1432-h-di-saudi-menyisakan-polemik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 09:57:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Falak Online]]></category>
		<category><![CDATA[Penentuan 1 Syawal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=30341</guid>
		<description><![CDATA[Seperti diketahui bahwa pemerintah Saudi dalam menentukan Awal Tanggal Qomariyah guna menentukan waktu- waktu ibadah seperti Romadhon- Syawal- Dzul Hijjah- selalu  mengacu berdasar Rukyat. Kemudian atas dasar kesaksian orang yang...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Seperti diketahui bahwa pemerintah Saudi dalam menentukan Awal Tanggal Qomariyah guna menentukan waktu- waktu ibadah seperti Romadhon- Syawal- Dzul Hijjah- selalu  mengacu berdasar Rukyat. Kemudian atas dasar kesaksian orang yang mengaku melihat hilal dimalam Senin 29 Agustus- 2011 pula pemerintah Saudi menentukan 1 Syawal- 1432 jatuh hari Selasa 30- Agustus 2011. Ternyata keputusan tersebut menimbulkan polemic di Saudi. Diantara isi polemic tersebut adalah seperti yang di siarkan secara khusus oleh Harian Sabaq di Riyadh, yang dicoba untuk diterjemahkan sebagiannya sebagaimana tulisan dibawah ini:</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/hilal.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-30342" title="hilal" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/hilal-300x187.jpg" alt="" width="300" height="187" /></a>Tanbihun</strong>- Abdullah Barqawi – (SABAQ &#8211; 30-08-2011) – Riyadh &#8211; Saudi Arabia : Astronomical Society (Lembaga Masyarakat Astronomy/ Falak) di Jeddah, hari ini, mengeluarkan sebuah pernyataan yang menggegerkan yang membenarkan kurangnya kemampuan untuk melihat bulan sabit dari awal bulan Syawal 1432 kemarin, sebagaimana yang dipertanyakan oleh Lembaga Falakiyah Saudi yang meragukan cara menentukan malam bulan baru Syawal kemarin dan mengumumkan pernyataan itu pada Selasa hari pertama Iedul Fitri 1432 H.</p>
<div id="yui_3_2_0_1_1316339000935107" style="text-align: justify;">
Lembaga Astronomy/ Falakiyah tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan khusus oleh harian &#8220;SABAQ&#8221;, yakni apa yang telah dilihat sebagai  Hilal  pada malam itu untuk penentuan Idul Fitri, kemungkinan adalah planet Saturnus (bintang Zuhal, bukan Hilal). Seperti diketahui bahwa planet Saturnus, setelah matahari terbenam, ia akan berada di selatan matahari, dan  Lembaga Falakiyah mengkonfirmasi bahwa   hal ini mengingatkan apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu di Saudi  dalam kejadian yang sama dengan planet Merkurius (bintang Athorid, yang juga disangkakan dan dianggap sebagai Hilal).</p>
<p>Dan apa yang telah dituduhkan sebagian  tentang ketidakmampuan Observatorium Astronomi Saudi merukyat Hilal di bulan Syawal dimana banyak para Perukyat justru dapat melihatnya dengan mata telanjang, Asosiasi berkata:” Observatorium Astronomi dikembangkan agar tidak gagal untuk memantau bulan sabit pada hari Senin malam, tetapi bukan peran mereka untuk menemukan benda angkasa yang MEMANG TIDAK ADA, dan di sini adalah permasalahan yang nyata.</p>
<p>Merekapun memberikan penjelasan:<br />
Lembaga Astronomy  menekankan dengan tegas  di Jeddah bahwa laporan yang diterbitkan sebelumnya tentang mungkin tidaknya  melihat bulan sabit malam Senin Syawal, tanggal 29 bulan Ramadhan, yang menyatakan bahwa MERUKYAT HILAL adalah  tidak akan mungkin dengan mata telanjang, bahkan juga dengan  teleskop Kerajaan. Segala pernyataan ini adalah benar adanya dan tidak ada yang menentang dari para pakar yang memiliki  pengetahuan tentang keadaan hilal dan dengan suara bulat para astronom di seluruh dunia Arab mereka setuju tentang hal ini.</p>
<p>Masyarakat Astronomy menjelaskan bahwa ilmu Astronomy dan Ilmu perhitungan gerakan benda- benda langit termasuk bulan adalah QOTH’IYYAH (pasti berdasar mathematics) dan tidak ada keraguan tentang hal itu. Adapun  bukti terbesar adalah perhitungan yang dipakai selama ini untuk menentukan jadwal waktu  yang tepat untuk sholat, dan kalender waktu yang telah ditetapkan oleh UMMUL QURO yang dipakai diseluruh masjid- masjid untuk menentukan waktu dari sejak dulu  maupun waktu yang akan datang adalah tepat sesuai perhutungan Astronomy.</p></div>
<div style="text-align: justify;">
Disamping itu terjadinya fenomena gerhana matahari dan gerhana bulan dan kapan matahari dan bulan tepat melewati  Ka&#8217;bah (Yaum Roshdul Qiblah), dan kapan waktu rendezvouz/ crossing Stasiun Ruang Angkasa Internasional, semua ini adalah hasil dari perhitungan astronomi hiperbolik, Juga hal yang tidak banyak diketahui banyak orang yaitu kapan terjadinya gerhana bulan dan matahari di planet lain (selain bumi)  dan menetapkan kapan tanggal pasti  Jupiter melintas sejajar berhadapan dengan bumi. Dan kapan ketika planet- planet  tersebut berada pada posisi dekat dengan bumi, dan banyak lagi. Ini semuanya telah diamati dan terbukti tepat selama beberapa tahun terakhir.-</div>
<div style="text-align: justify;">
Presisi perhitungan ilmiah ini telah terbukti untuk menentukan bulan-bulan Qomariyah dan menentukan masa awal terjadinya bulan Qomariyah (IJTIMA’/ CONJUNCTIE). Kita tahu bahwa Tuhan menciptakan bulan sebagai  jam kosmik yang akurat, sehingga dapat  menandai awal bulan bulan dengan cara sederhana, bebas dari kerumitan.</p>
<p>Menentukan Awal bulan bagi kita umat Islam adalah berdasar RUKYAT,  atas dasar sabda Nabi SAW:  “Berpuasalah kalian ketika  melihat bulan dan berhenti berpuasa lah kalian ketika Anda melihat bulan”. (Hadist Riwayat Bukhory dan Muslim) dan hal ini seluruh astronom bersepakat untuk menentukan beberapa syarat dan kondisi yang tidak boleh tidak harus dipenuhi agar dapat MERUKYAT  hilal dengan mata telanjang pada malam pengamatan, yaitu:</p></div>
<div style="text-align: justify;">
1 &#8211; Saat matahari terbenam, usia Bulan Baru/ Hilal (sejak conjuctie) tidak  di bawah 14 jam.<br />
2 &#8211; Jarak bulan  dari matahari (saat terbenam),tidak kurang dari 8 derajat lengkung langit.<br />
3 &#8211; Tertunda  terbenamnya bulan dari matahari setidak– tidaknya  29 menit.<br />
4 &#8211; Permukaan b ulan yang diterangi minimal 1%.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Dan tatkala mengetahui kepastian syarat- syarat ini adalah bisa diprediksi sebelumnya, maka menjadi mungkin pula untuk memprediksi mungkin tidaknya me Rukyat Hilal (Possibility of visibility of Moon Crecent). Memperhatikan bahwa ketiga syarat yang  terakhir adalah saling berhubungan  dengan syarat yang pertama, maka adalah sangat mungkin untuk mencukupkan dengan memastikan syarat pertama ini  akan batasan Imkaanur Rukyat Hilal di Negara manapun. Yaitu dengan cara membandingkan saat terbenamnya Bulan  dinegara tersebut dengan saat Iqtiroon/ Ijtima’/ Conjuctie. Apabila hasil (perbedaan waktunya) adalah 14 jam,  maka kesempatan  itulah saat yang tepat untuk  melihat Hilal.</p>
<p>Suatu hal yang sangat mengherankan adalah bahwa ada  beberapa orang yang mengaku dapat merukyat hilal di suatu ketinggian bulan  kurang dari satu derajat atau mengaku melihat Hilal di sebelah barat matahari di saat matahari terbenam, klaim ini bertentangan dengan logika ilmu pengetahuan, bertolak belakang  yang nyata dengan sunnatulloh,……</p></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Dan apabila kita melihat kembali pelaksanaan rukyat pada sore hari Senin tgl 29- Romadhon- 1432 H, maka diketahui Ijtima’/ conjunctive terjadi pada jam 6.04 pagi. Bulan TERBENAM SEBELUM  TERBENAMNYA MATAHARI pada daerah Timur kerajaan, dan pada saat tersebut tidak diberitakan adanya seorangpun, bahwa dia dapat MERUKYAT  hilal disana. Begitu juga pada daerah barat dan selatan Kerajaan, kecuali Kerajaan bagian tengah (yang katanya dapat me rukyat hilal. Pent)</div>
<div style="text-align: justify;">Dan yang demikian itu bertentangan dengan segala ABCD pengetahuan tentang ilmu Falak. Maka Hilal itu- jika memang dapat di rukyat- dengan rukyat yang benar dan sesungguhnya memang terjadi di daerah tengah Kerajaan, tentu rukyatnya pun akan mudah dilakukan jika kita berada di daerah barat atau sepanjang tepian pantai barat atau selatan kerajaan.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Dan ini adalah ilmu pengetahuan tentang Ilmu Falak/ Astronomy yang paling mendasar, namun kita tidak mendengar mereka dapat me RUKYAT  hilal pada daerah manapun diseluruh Kerajaan kecuali didaerah yang telah disebutkan tadi……..dst&#8230;..dst</div>
<div style="text-align: justify;">Karawang, 16-09- 2011.</div>
<div style="text-align: justify;">Lihat sumbernya <a href="http://sabq.org/sabq/user/news.do?section=5&amp;id=29468" target="_blank">sabq.org</a></div>
<div style="text-align: justify;">Penerjamah: KHD- Karawang</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/penentuan-1-syawal-1432-h-di-saudi-menyisakan-polemik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Ilmu Falak Bagian-8</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-8/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-8/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jul 2011 12:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Falak Online]]></category>
		<category><![CDATA[Perhitungan Goniometri]]></category>
		<category><![CDATA[Rubu’ Mujayyab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6787</guid>
		<description><![CDATA[Mengenal Ilmu Sudut dan Segi Tiga Bola Tanbihun &#8211; Karena makin seringnya kita berhadapan dengan hitungan yang menggunakan Ilmu Ukur Sudut dan Segitiga Bola, maka alangkah baiknya kita mengenal serba...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4 style="text-align: justify;">Mengenal Ilmu Sudut dan Segi Tiga Bola</h4>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong> &#8211; Karena makin seringnya kita berhadapan dengan hitungan yang menggunakan Ilmu Ukur Sudut dan Segitiga Bola, maka alangkah baiknya kita mengenal serba sedikit tentang hal tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4><strong>I.     Ilmu ukur sudut.</strong></h4>
<p style="text-align: justify;">Seperti kita ketahui bahwa pada sebuah segitiga siku-siku, sudutnya selalu berubah besarnya sesuai perubahan perbandingan antara sisinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Contoh :</em></strong>  Bila sisi tegak sama panjang dengan Alas, maka sudut antara Alas dengan sisi miring = 45<sup>0</sup>.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi bila Alas panjang separuh dari sisi tegaknya, maka sudut antara Alas dengan Sisi Miring = 64<sup>0</sup>.</p>
<p>Para cerdik pandai telah menemukan rumus demikian :</p>
<p><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/07/falak8.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-6788" title="falak8" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/07/falak8.gif" alt="Gambar Sinus" width="550" height="858" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Segala perhitungan Goniometri tersebut dapat dengan mudah dilakukan dengan suatu alat yang disebut <strong><em>Rubu’ Mujayyab </em></strong>( <strong>ربع مجيب</strong>)yang insya Allah nanti akan diterangkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalender Edisi Khusus 2011</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/kalender-edisi-khusus-2011/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/kalender-edisi-khusus-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 16:15:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Falak Online]]></category>
		<category><![CDATA[1 Ramadhan 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6616</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/07/Almanac-1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-6617" title="Almanac 1" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/07/Almanac-1.jpg" alt="Kalender Hijriyyah 2011" width="550" height="726" /></a><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/07/Almanac-2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-6618" title="Almanac 2" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/07/Almanac-2.jpg" alt="Kalender Hijriyyah 2011" width="550" height="782" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/kalender-edisi-khusus-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Ilmu Falak Bagian-7</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-7/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-7/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 01:42:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Falak Online]]></category>
		<category><![CDATA[Daqoiqul Ikhtilaf]]></category>
		<category><![CDATA[Dasar-dasar Ilmu falak]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Falak Praktis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6542</guid>
		<description><![CDATA[25.  Mengukur Tinggi Matahari Dengan Ilmu Ukur Sudut pula kita dapat memperoleh berapa besarnya sudut yang terjadi antara puncak bayangan dengan puncak benda pada suatu saat yang kita hendaki. Sudut...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>25.  Mengukur Tinggi Matahari </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan Ilmu Ukur Sudut pula kita dapat memperoleh berapa besarnya sudut yang terjadi antara puncak bayangan dengan puncak benda pada suatu saat yang kita hendaki. Sudut tersebut disebut <em> <strong>Tinggi Matahari</strong> </em> <strong>الأرتفاع </strong>)) Yaitu :</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/falak25_1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-6543" title="falak25_1" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/falak25_1.jpg" alt="" width="406" height="77" /></a></p>
<p><strong><em>Misal :</em></strong><strong> </strong></p>
<p>Pada suatu waktu kita lihat panjang bayangan = 24,7509 cm dari suatu tiang pancang setinggi 10 cm.</p>
<p>Berapa derajatkah tinggi matahari ?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Jawab :</em></strong> Cotangens   h<sub>m</sub> = <span style="text-decoration: underline;">2,47509 </span> = 2,47509.</p>
<p>10</p>
<p>h<sub>m</sub> =  21<sup>0</sup>60&#8242;  (lihat daftar logaritma).</p>
<p><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/falak25_2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-6544" title="falak25_2" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/falak25_2.jpg" alt="" width="405" height="213" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Catatan :</em></strong> Derajat tinggi matahari sesungguhnya harus pula kita perhitungkan Refractie <strong> </strong>(<strong> دقاْئق الإختلاف</strong> )nya. Besarnya bisa dilihat dalam daftar <strong><em>Daqoiqul Ikhtilaf</em></strong>. Hasil perhitungan harus dikurangi dengan harga <strong><em>Daqoiqul Ikhtilaf</em></strong> tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan cara ini saat Kulminasi kita bisa tahu <em>Meil</em>-nya pada saat tersebut dengan menghitung : Z<sub>m</sub> = 180<sup>0 </sup>– 90<sup>0 </sup>– h<sub>m</sub><sub> </sub>– Bila lebar<sub> </sub>tempat = 0. Bila lebar tempat tidak nol maka : <strong>Dikurangi</strong> bila berlawanan. <strong>Ditambah </strong>bila searah <strong><em>Meil</em></strong><em>-</em>nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Ilmu Falak Bagian-6</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-6/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-6/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 01:59:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Falak Online]]></category>
		<category><![CDATA[Dasar-dasar Ilmu falak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6362</guid>
		<description><![CDATA[22.  Kerendahan Ufuk Dari keliling bumi, kita tahu bahwa setiap 01&#8242; adalah sejauh 1,85 km. Bila jarak kaki langit  = 17,32 km maka kerendahan ufuk adalah sebesar x 01&#8242; =...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4 style="text-align: justify;">22.  Kerendahan Ufuk</h4>
<p style="text-align: justify;">Dari keliling bumi, kita tahu bahwa setiap 01&#8242; adalah sejauh 1,85 km. Bila jarak kaki langit  = 17,32 km maka kerendahan ufuk adalah sebesar</p>
<p style="text-align: justify;">x 01&#8242; = 9&#8217;36&#8243;.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Catatan:</em></strong> Keliling bumi     =  40076630 m.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiap 1<sup>0</sup> =     <span style="text-decoration: underline;">40076630</span> =  111323,97 m = 111,3 km.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 90px;">360°</p>
<p style="text-align: justify;">Tiap 1&#8242;  =    <span style="text-decoration: underline;">111,3 </span> =  1,855 km.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">60</p>
<h4 style="text-align: justify;">23.  Meil Awal dan Meil Tsani</h4>
<ul>
<li style="text-align: justify;"><strong>Meil Awal</strong> atau <strong><em>Meil</em></strong> <strong>الميل</strong> )  )  adalah jauh suatu benda langit (termasuk matahari, bulan, dsb) dari Khottul Istiwa&#8217; dihitung dengan derajat sepanjang lingkaran declinatie (<strong> د وائرالميل</strong> ) .</li>
</ul>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><strong><em> Misal :</em></strong><em> </em>Pada bulan Juni tanggal 21, <strong><em>Meil Awal</em></strong> matahari dari kota Pontianak (Lintang 0<sup>0</sup>) = 23<sup>0 </sup>27&#8242; Lintang Utara (+).</p>
<ul>
<li><strong>Meil Tsani</strong> adalah jauh suatu benda langit dihitung dengan derajat <strong><em>Dawairul Urudh </em></strong><em> </em>yang ditempati pada waktu itu.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><strong><em> Misal :</em></strong> Pekalongan letaknya 6<sup>0 </sup>55&#8242; Lintang Selatan (-6<sup>0 </sup>55&#8242;). Pada tanggal 21–Juni tersebut Meil Matahari dari Pekalongan = + 23<sup>0 </sup>27&#8242;– (-6<sup>0 </sup>55&#8242;).</p>
<p style="text-align: justify;">=  23<sup>0 </sup>27&#8242; + 6<sup>0 </sup>55&#8242;</p>
<p style="text-align: justify;">=  30<sup>0 </sup>22&#8242;.</p>
<h4 style="text-align: justify;">24.  Waktu Ashar</h4>
<p style="text-align: justify;">Waktu Ashar jatuh bila bayangan sudah sama dengan panjang bendanya. Menentukan waktu Ashar pada saat bayangan Dhuhur  hilang adalah sangat mudah. Bila benda tingginya 10 cm dan bayangannya sepanjang 10 cm, berarti waktu Ashar sudah tiba.</p>
<p style="text-align: justify;">Menentukan waktu Ashar dimana bayang-bayang waktu Dhuhur tidak hilang, namun bisa diukur dengan melihat ketinggian matahari. (Berapa besar sudutnya dari puncak bayangan ke matahari).</p>
<p style="text-align: justify;">Perhitungannya dapat kita jelaskan dengan menggunakan dalil Ilmu Ukur Sudut <strong><em>(Goneometri)</em></strong> demikian :</p>
<p style="text-align: justify;">Lihat gambar :</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/falak5.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-6363" title="falak5" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/falak5.jpg" alt="" width="300" height="253" /></a></p>
<p>A-B     =    Tongkat yang dipancangkan. Ujungnya mengarah ke <strong><em>Samtur Ro&#8217;si</em></strong><em> </em>(Zenith).</p>
<p>B-C      =    Panjang bayangan waktu Dhuhur.</p>
<p>C-D     =    Panjang bayangan waktu Ashar.</p>
<p><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/falak51.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-6364" title="falak51" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/falak51.jpg" alt="" width="400" height="155" /></a></p>
<p>Maka dengan demikian tinggi matahari pada waktu Ashar adalah =</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="198" height="54" bgcolor="white">
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p>Cotg h<sub>a</sub><sub> </sub>=     Tg. Z<sub>m</sub> + 1</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Dimana h<sub>² </sub>=         Tinggi matahari waktu Ashar.</p>
<p>Z<sub>m</sub> =         Tinggi matahari waktu Dhuhur.</p>
<p><sub> </sub></p>
<p>Sehingga pada tanggal 21-Juni tinggi matahari waktu Ashar adalah : Cotg.  h<sub>² </sub>=  Tg 30<sup>0 </sup>22&#8242; + 1 = 1,5205</p>
<p>h<sub>² </sub> =  33<sup>0 </sup>20&#8242; di Pekalongan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Ilmu Falak Bagian-5</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-5/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-5/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 23:44:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Falak Online]]></category>
		<category><![CDATA[falak online]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu falak online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6259</guid>
		<description><![CDATA[20.  Ufuk Hakiki dan Ufuk Mar’i Kalau kita berada ditengah laut dan memandang kearah kiri langit mungkin kita bisa melihat sebuah tiang layar dibatas kaki langit, namun kapalnya belum kelihatan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>20.  Ufuk Hakiki dan Ufuk Mar’i</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kita berada ditengah laut dan memandang kearah kiri langit mungkin kita bisa melihat sebuah tiang layar dibatas kaki langit, namun kapalnya belum kelihatan (dibawah ufuk). Ufuk yang kita lihat itu adalah <strong><em>Ufuk Hakiki</em></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila kemudian kita naik keatas tiang kapal, sekarang nampak di kaki langit ada sebuah kapal lengkap dengan layarnya. Kaki langit yang nampak setelah kita naik diketinggian disebut <strong><em>Ufuk Mar’i</em></strong><em>.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/falak1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-6260" title="falak1" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/falak1.jpg" alt="" width="450" height="172" /></a><br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian batas pandang kita ش setelah naik ke tiang kapal lebih jauh daripada batas pandang kita dipermukaan laut. Sudah pernah dijelaskan bahwa jarak dari <strong><em>Samtur Ro’si</em> </strong><strong> </strong>ke <strong><em>Ufuk Hakiki</em></strong><strong><em> </em></strong>adalah 90<sup>0</sup>.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka jarak dari <strong><em>Samtur Ro’si</em></strong> ke <strong><em>Ufuk Mar’i</em></strong> adalah 90<sup>0</sup> + X<sup>0</sup>. Jarak sebesar X<sup>0</sup> inilah biasa kita sebut dengan <em>Perbedaan Ufuk</em> ( <strong> اختلاف الأ فق</strong> )Makin tinggi kita naik, derajat kerendahan ufuknya makin besar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>21.   Jarak Kaki Langit<em> </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di sebutkan diatas bahwa batas pandang kita setelah naik ke tiang kapal menjadi lebih besar. Jarak ini kita sebut <strong><em>Jarak Kaki Langit</em></strong>. Besarnya jarak kaki langit dapat kita hitung demikian :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Diketahui     :</p>
<p>P  = Pusat bumi dengan R = 6.000 Km.</p>
<p>O  = Pengamat.</p>
<p>U  = Ufuk ———  O &#8211; U = Jarak kaki langit.</p>
<p>h   = Ketinggian mata.</p>
<p>Maka dari gambar dibawah dapat dihitung :</p>
<p><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/falak2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-6261" title="falak2" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/falak2.jpg" alt="" width="320" height="315" /></a></p>
<p><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/falak3.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-6262" title="falak3" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/falak3.jpg" alt="" width="450" height="240" /></a></p>
<p><strong><em>Contoh :</em></strong></p>
<p>Bila kita berada diatas layar setinggi 25 meter, maka jarak kaki langit  =  √¯  12 x 25 Km = 17,32 Km.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Ilmu Falak Bagian-4</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-4/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-4/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 01:22:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Falak Online]]></category>
		<category><![CDATA[falak online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6212</guid>
		<description><![CDATA[15.   Menentukan Waktu Dhuhur Mulainya waktu Dhuhur adalah setelah matahari bergeser ke Timur dari titik kulminasinya (Zawal), di daerah Khottul Istiwa&#8217; pada saat 21 Maret dan 22 September pada jam...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>15.   Menentukan Waktu Dhuhur</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mulainya waktu Dhuhur adalah setelah matahari bergeser ke <strong>Timur</strong><em> </em>dari titik kulminasinya <strong><em>(Zawal),</em></strong><em> </em>di daerah Khottul Istiwa&#8217; pada saat 21 Maret dan 22 September pada jam 12.00 bayangan akan hilang karena matahari berada tepat 90<sup>0</sup> diatas benda. Saat ada bayangan muncul di sebelah timur itulah saatnya waktu Dhuhur. Pada waktu dan tempat yang lain jam 12.00 siang bayangan tidak hilang sama sekali, tetapi berada di sebelah selatan atau utara benda tersebut. Hal ini terjadi karena posisi matahari yang bergeser sesuai Buruj-nya. Untuk itu dalam membuat suatu alat penunjuk waktu diperlukan suatu garis ke arah <strong>Utara Selatan Tepat</strong>, yang tegak lurus dengan benda/tiang pancang tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-6213" title="1" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/1.jpg" alt="" width="300" height="116" /></p>
<p><strong><em>Cara Pembuatan :</em></strong></p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Pilih tiang pancang, misalnya tebal 10 mm.</li>
<li style="text-align: justify;">Pilih suatu bidang datar di tempat yang lapang.</li>
<li style="text-align: justify;">Tentukan arah <strong>Barat Timur Tepat</strong> seperti keterangan nomor 12.</li>
<li style="text-align: justify;">Buatlah dua buah berjarak 10 mm (sesuai tebal tiang pancang), tegak lurus siku-siku dengan garis barat timur tepat. Itulah garis <strong>Utara Selatan Tepat</strong>.<strong> </strong></li>
<li style="text-align: justify;">Tancapkan tiang pancang tepat di titik silang garis <strong>Utara Selatan – Barat Timur</strong>. Buatlah benar-benar tegak lurus. Ukurlah dengan penggaris siku-siku.</li>
<li style="text-align: justify;">Waktu Dhuhur adalah bila bayangan telah keluar dari garis utara selatan tersebut diarah timurnya.<strong><em> </em></strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong><em> </em></strong><strong><em>Catatan :</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Garis-garis dan tiang pancang bisa kita buat dulu diatas sebuah papan/tegel. Kemudian baru dipasang di tempat yang telah ditentukan setelah diukur arahnya. Pemasangan diukur dengan <strong><em>Water Level</em></strong> agar-benar-benar datar dan tiangnya benar-benar tegak.</p>
<p style="text-align: justify;">-          Pembuatan Garis Utara Selatan – Barat Timur bisa juga memakai kompas, tetapi hasilnya kurang akurat karena :</p>
<p style="text-align: justify;">a.   Arah jarum utara tidak menunjuk tepat ke kutub utara, tetapi ke arah <strong>Basin Island</strong> (dekat Kanada).</p>
<p style="text-align: justify;">b.  Arah jarum kompas berubah-ubah karena perubahan medan magnet yang terjadi karena adanya <strong><em>Sun Spot</em></strong>, suatu efek yang timbul saat terjadi fusi nuklir di matahari.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-6214" title="2" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/2.jpg" alt="" width="300" height="202" /></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>16.</strong> <strong>Rembang Pagi dan Rembang Petang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat dini hari dimana matahari masih 17-19 derajat dibawah ufuk, langit sudah berpendar terang. Hal ini di sebabkan sinar matahari dipantulkan dan menyinari udara. Kejadian ini disebut <strong><em>Rembang Pagi</em></strong> atau <strong><em>Fajar</em></strong>. Waktu Shubuh dimulai saat Rembang Pagi sampai terbitnya matahari dari ufuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Sore hari matahari terbenam di ufuk barat. Sampai matahari terbenam sejauh 17-19 derajat di ufuk barat, langit masih nampak terang dengan warna kemerah-merahan. Kejadian ini disebut <strong><em>Rembang Petang</em></strong> atau <strong><em>Syafaq Ahmar</em></strong> sebagai pertanda mulainya Sholat Maghrib sampai warna cahaya merah hilang dari langit.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama Rembang tidak sama disemua tempat, tergantung dari posisi matahari pada waktu itu. Tempat dimana posisi matahari terbit atau terbenam dengan tegak lurus, lama Rembang adalah 17 derajat, atau sama dengan 17 x 4 menit = 68 menit. (1 derajat = 4 menit. &#8212;360<sup>0</sup><sub> </sub> = 360 x 4 : 60 = 24 jam). Seperti misalnya terbenam matahari di kota Pontianak pada tanggal 21 Maret.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tempat yang lurus atau naiknya matahari miring, lama Rembang akan lebih dari 68 menit.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-medium wp-image-6215" title="3" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/3-300x132.jpg" alt="" width="300" height="132" /></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>17.<em> </em>Udara<em> </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tadi sudah dijelaskan bahwa walaupun matahari masih di bawah ufuk, langit sudah nampak terang. Hal itu disebabkan adanya udara yang melingkupi Bumi kita sehingga cahaya dipantulkan oleh udara ke mata kita sehingga nampak terang. Bila tak ada udara, langit langsung terang saat terbit matahari.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena adanya udara pada siang hari, kita tidak bisa melihat bintang-gemintang di langit, karena mata kita silau melihat udara memantulkan cahaya matahari. Bila tidak ada udara, langit akan nampak hitam kelam walaupun di siang hari.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>18.   Ketebalan Udara</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tebal lapisan udara di atas kita tidak sama. Makin ke atas lapisan udara makin tipis. Makin ke bawah makin tebal. Oleh karena itulah saat pagi atau sore hari kita dapat memandang langsung ke arah matahari tanpa merasa terlalu silau, karena cahaya matahari harus menembus lapisan udara yang lebih tebal dan panjang pada waktu tersebut dibanding saat tengah hari.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-6216" title="4" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/4.jpg" alt="" width="375" height="176" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>19.</strong> <strong>Pembelokan Cahaya / <em>Refractie</em> </strong><strong> (-  دقائق الأختلاف &#8211; )</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pembelokan/pembiasan cahaya terjadi bila cahaya melewati beberapa benda tembus cahaya yang mempunyai kepadatan berbeda. Karena ketebalan udara dilapisan atas dan bawah berbeda, maka benda-benda langitpun akan mengalami <strong><em>Refractie</em></strong><em>,</em> dimana benda langit yang kita lihat itu pada hakekatnya mempunyai kedudukan lebih rendah dari posisinya saat kita lihat. Pada saat kedudukan benda berada di titik <strong><em>Samtur Ro’si</em></strong> (Zenith), benda tidak mengalami refractie. Makin ke bawah refractie-nya makin besar. Di <strong><em>Ufuq</em> </strong>besarnya refractie adalah sebesar 34&#8242; 5&#8243;, artinya saat kita melihat matahari tepat tenggelam, pada hakekatnya ia telah berada 24&#8242; 5&#8243; di <strong><em>Bawah Ufuq</em></strong><em>.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><img class="alignnone size-full wp-image-6217" title="5" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/5.jpg" alt="" width="375" height="142" /></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><img class="alignnone size-full wp-image-6218" title="6" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/6.jpg" alt="" width="375" height="152" /></em></p>
<p style="text-align: justify;">Bila diameter matahari adalah 32&#8242; bola langit, maka saat terbenam atau terbit, titik pusat matahari telah berada ½ x 32&#8242; +  34&#8242; 5&#8243; = 50&#8242; 5&#8243; (hampir satu derajat). Ini disebut <strong><em>Daqoiq Tamkiniyyah</em></strong><em>.</em> Sehingga kalau diukur dari <strong><em>Samtur Ro’si</em> </strong>(Zenith) Busurnya sebesar 90<sup>0</sup> + 50&#8242; 5&#8243; = 90<sup>0 </sup>50&#8242; 5&#8243;.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-6219" title="7" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/7.jpg" alt="" width="375" height="170" /></p>
<p style="text-align: justify;">Karena ketebalan lapisan udara yang tidak sama inilah maka besarnya refractie tidak tetap. Makin rendah suatu benda langit refractie-nya makin besar. Saat tinggi 1<sup>0</sup> refractie-nya = 24&#8242; 3&#8243;, saat ½<sup>0</sup> refractie-nya 28&#8242; 7&#8243;, dan saat 0<sup>0</sup> refractie-nya 34&#8242; 5&#8243; seperti telah disebutkan diatas.</p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Ilmu Falak Bagian-3</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-3/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 02:52:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Falak Online]]></category>
		<category><![CDATA[falak online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2770</guid>
		<description><![CDATA[9.    Thul dan Taqwim Matahari Thul Matahari adalah jauh derajat pergeseran matahari dari titik Haml. Dihitung dari 00-3600. (Bu&#8217;dud Darrojah hanya sampai 900), misal tanggal 31-April. Tanggal 21-April adalah Tsaur...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>9.    Thul dan Taqwim Matahari</strong></p>
<h4><strong><em>Thul Matahari</em></strong> adalah jauh derajat pergeseran matahari dari titik <strong><em>Haml</em></strong>. Dihitung dari 0<sup>0</sup>-360<sup>0</sup>. (Bu&#8217;dud Darrojah hanya sampai 90<sup>0</sup>), misal tanggal 31-April. Tanggal 21-April adalah Tsaur 0<sup>0</sup>.</h4>
<h4>Taqwim Matahari  adalah 31-21 = 10<sup>0</sup> Tsaur 10<sup>0</sup>.</h4>
<p>Tsaur adalah Buruj 1.           1 x 30<sup>0</sup> =  30<sup>0</sup>.</p>
<p>Jadi Thul Matahari pada tanggal itu adalah 30<sup>0</sup> + 10<sup>0</sup> = 40<sup>0</sup>.</p>
<p><strong>10.   Thul dan Taqwim Bulan</strong></p>
<p>Pada setiap akhir bulan Arab, bulan berada segaris dengan posisi matahari <strong><em>(Ijtima&#8217;/Conjuctie)</em></strong><em>,</em> maka <strong><em>Thul</em></strong>-nya sama dengan <strong><em>Thul </em></strong>matahari pada tanggal itu.</p>
<p>Bila ingin mengetahui Thul Bulan pada selain akhir bulan Arab, maka harus ditambah Buhut Bulan, yaitu 13<sup>0</sup>10&#8217;35&#8243;).</p>
<p>Misal Taqwim akhir bulan Sya&#8217;ban pada 26­-Mei.</p>
<p>21-Mei adalah Buruj Jauza&#8217; 0<sup>0 </sup>. 26-Mei = Jauza&#8217; 5<sup>0</sup>.</p>
<p>Jauza&#8217; adalah Buruj 2            Thul = 2 x 30<sup>0</sup> + 5  = 65<sup>0</sup>.</p>
<p>1-Romadhon adalah  27-Mei, jadi Thul Bulan = 65<sup>0</sup> + ( 1 x 13<sup>0</sup> 10&#8217;35&#8243;).            78<sup>0 </sup>10&#8217;35&#8243;.</p>
<p><strong>11.   Khottul Istiwa&#8217;.</strong></p>
<p>Yaitu garis khayal yang membagi bumi tepat menjadi dua bagian yaitu bagian bumi bagian utara dan bagian bumi bagian selatan.</p>
<p><strong>12.   Menentukan Garis Timur Barat Sejajar Khottul Istiwa&#8217;</strong>.</p>
<p><img class="size-full wp-image-2771 alignnone" title="4" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/01/41.jpg" alt="4" width="429" height="145" /></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>-    Buatlah lingkaran di tanah yang datar.</p>
<p>-    Tepat ditengahnya dipancangkan tiang tegak.</p>
<p>-         Pagi hari bayangan tiang memanjang ke <strong>Barat</strong>. Pada saat ujung bayangan tepat bertemu dengan lingkaran, tandailah. Itulah titik <strong>Barat.</strong></p>
<p>-    Sore hari bayangan tongkat memanjang ke <strong>Timur</strong>. Saat ujung bayangan tepat pada lingkaran, tandailah. Itulah titik <strong>Timur</strong>. Bila dari kedua titik tersebut ditarik <strong>Sebuah Garis</strong>, maka garis tersebut tepat mengarah <strong>Barat Timur</strong> dan <strong>Sejajar </strong>dengan garis <strong><em>Khottul Istiwa&#8217;</em></strong>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>13.   Urudlul Balad dan Thulul Balad (Panjang Tempat dan Lebar Tempat).</strong></p>
<p>-    <strong><em>Urudlul Balad</em></strong> adalah letak suatu kota/daerah diukur jauhnya dari <strong><em>Khottul Istiwa&#8217;</em></strong>, berapa derajat di utara atau di selatannya. Daerah yang berada tepat di <strong><em>Khottul Istiwa&#8217;</em></strong> seperti Pontianak, lebar tempatnya 0<sup>0</sup>.</p>
<p>Mekkah lebar tempatnya = 21<sup>0</sup> 30&#8242; sebelah <strong><em>Khottul Istiwa&#8217;</em></strong>.</p>
<p>Pekalongan lebar tempatnya 6<sup>0</sup> 55&#8242; sebelah selatan <strong><em>Khottul Istiwa&#8217;</em></strong>.</p>
<p>-    <strong><em>Thulul Balad</em></strong> adalah letak suatu tempat diukur jauhnya dari titik 0<sup>0</sup> (Kota Greenwich) di sebelah barat atau timur.</p>
<p>Mekkah panjang tempatnya 40<sup>0</sup> sebelah timur Greenwich.</p>
<p>Pekalongan panjang tempatnya 109<sup>0</sup> 41&#8242; timur Greenwich.</p>
<p>-    Garis-garis yang sejajar dengan Khottul Istiwa&#8217; disebut garis lintang <strong><em>(Dawairul Urudl).</em></strong></p>
<p>-    Garis-garis yang sejajar dengan garis yang membelah dari kutub ke kutub (Meridian) disebut <strong><em>Garis Bujur.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>14.   Menentukan Kiblat dengan Thul dan Urudhul Balad. </strong></p>
<h2>Misalnya arah kiblat kota Pekalongan. Thul  = 109<sup>0 </sup>41&#8242;  BT.</h2>
<p>Urudl =     6<sup>0 </sup>55&#8242;  LS.</p>
<p>a.       Buat garis <strong>Barat Timur Tepat</strong> keterangan nomor 12.</p>
<p>b.      Buat titik-titik yang berjarak sama (bisa dengan penggaris). sepanjang garis <strong>Barat Timur</strong>, sebanyak 109,68-40 = 69, 72.</p>
<p>c.       Pada awal titik kiri dibuat <strong>Garis Tegak </strong>keatas (utara ).</p>
<p>d.      Pada akhir titik 109,68 &#8211; 40 dibuat garis tegak ke <strong>Bawah</strong><em> </em>(selatan). (Tepatnya 39<sup>0 </sup>58&#8242;          39,96 )</p>
<p>e.       Pada garis tegak keatas dibuat titik-titik yang sama sebanyak 21,5 titik .</p>
<p>f.        Pada garis tegak ke bawah dibuat titik-titik yang sama sebanyak 6,91.</p>
<p>g.       Bila titik terakhir pada garis tegak keatas dan kebawah dihubungkan, maka itulah garis yang menunjukkan tepat kearah kiblat .</p>
<p align="center"><img class="alignnone size-full wp-image-2775" title="5" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/01/51.gif" alt="5" width="410" height="163" /><em></em></p>
<p align="center"><em>Gb. Mencari Arah Kiblat</em>.</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Catatan:</em></strong> Bila suatu tempat <strong><em>Thul</em></strong>-nya sama dengan Mekkah, maka :</p>
<p>-    Bila di sebelah <strong>Utara </strong>Khottul Istiwa&#8217;  kiblatnya tepat ke <strong>Selatan</strong>.<strong></strong></p>
<p>-    Bila di sebelah <strong>Selatan</strong> <strong><em>Khottul Istiwa&#8217;</em></strong> kiblatnya ke <strong>Utara Tepat</strong><em>.</em></p>
<p>Bila perbedaan <strong><em>Thul</em></strong>-nya 180<sup>0</sup> (tepat dibelakang Bola pada posisi Mekkah), maka :</p>
<p>-    Bila di <strong>Selatan </strong>Khottul Istiwa&#8217; 39<sup>0</sup>58&#8242;, kiblatnya ke <strong>Segala Arah</strong>.<strong></strong></p>
<p>-    Bila di <strong>Selatan</strong> Khottul Istiwa&#8217; lebih dari 39<sup>0 </sup>58&#8242;, maka kiblatnya ke <strong>Selatan Benar</strong><em>.</em></p>
<p>-    Bila di <strong>Selatan</strong> Khottul Istiwa&#8217; kurang dari 39<sup>0</sup>58&#8242;, maka kiblatnya adalah <strong>Utara Benar</strong><em>.</em> Bila lebar tempatnya di <strong>Utara </strong>Khottul Istiwa&#8217;, maka kiblatnya ke <strong>Utara Benar</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/ilmu-falak-online/belajar-ilmu-falak-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

