<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tanbihun Online &#187; Rifaiyah</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/category/rifaiyah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 15:30:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Obrolan Tanpo Waton Tentang Rifaiyah</title>
		<link>http://tanbihun.com/rifaiyah/obrolan-tanpo-waton-tentang-rifaiyah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/rifaiyah/obrolan-tanpo-waton-tentang-rifaiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 03:31:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rifaiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=32013</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Suatu hari, disebuah acara akbar milik Rifaiyah, penulis ditanya oleh salah satu kyai kharismatik Rifaiyah. &#8220;Menurut sampeyan, darimana kita harus mulai darimana untuk membangun Rifaiyah ini?&#8221;. Waktu itu saya...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/ngobrol.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-32020" title="ngobrol" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/ngobrol-300x231.jpg" alt="" width="300" height="231" /></a>Tanbihun</strong>- Suatu hari, disebuah acara akbar milik Rifaiyah, penulis ditanya oleh salah satu kyai kharismatik Rifaiyah. &#8220;Menurut sampeyan, darimana kita harus mulai darimana untuk membangun Rifaiyah ini?&#8221;. Waktu itu saya jawab,&#8221; Kita perlu pendataan ulang, berapa jumlah konkretnya warga Rifaiyah diseluruh Indonesia ini, dengan demikian kita akan dapat mengukur dengan cermat potensi dan kekuatan kita.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa sampeyan berfikir kesitu?&#8221; lanjut beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Coba pak Kyai bayangkan, jika kita memiliki jumlah anggota yang loyal terhadap ajaran KH Ahmad Rifa&#8217;i Rahimahullah sejuta orang saja, dan sebagaimana dalam kaidah organisasi setiap anggota dikenai iuran wajib seumur hidup sekali sebesar Rp.10.000, maka akan terkumpul dana sebesar 10 milyar rupiah. Itu baru dari iuran wajib belum iuran suka rela, wakaf dan lain-lain. oleh sebab itu naif apabila pengurus PP kemarin memberikan pernyataan bahwa PP Rifaiyah tidak punya dana sama sekali.&#8221; Jawab saya berapi-api.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Kyai tampak manggut-manggut, seolah beliau menyetujui pemikiran saya. &#8220;Lalu teknis pendataannya bagaimana?&#8221; sambung beliau. &#8221; Kita sekarang disetiap daerah sudah tersusun pengurus dengan rapih, mulai dari ranting sampai wilayah, kita optimalkan mereka untuk mendata warga Rifaiyah diwilayahnya masing-masing, untuk kemudian data tersebut dikirim ke PP melalui email atau bahkan SMS. nah&#8230;tinggal pusat menyusunnya dalam bentuk tabulasi hingga diperolehlah data valid tentang jumlah warga Rifaiyah. saya punya keyakinan bila hal-hal sepele ini dikerjakan terlebih dahulu, maka roda Rifaiyah ke depannya akan berjalan mulus. hanya saja kalau dananya sudah terkumpul harus digunakan dengan sebaik-baiknya, bukan dikorupsi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah obrolan singkat antara penulis dengan pak kyai, dan cuma begitu sajalah kontribusi kami, orang-orang bawah ini terhadap organisasi tercinta ini, hanya numpang usul dan titip ide. kalau didengar alhamdulillah, namun bila tak diindahkanpun tidak jadi soal, yang penting kami telah berani untuk berteriak untuk menyerukan perubahan.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/rifaiyah/obrolan-tanpo-waton-tentang-rifaiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengasingan Membawa Berkah</title>
		<link>http://tanbihun.com/rifaiyah/pengasingan-membawa-berkah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/rifaiyah/pengasingan-membawa-berkah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 03:04:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rifaiyah]]></category>
		<category><![CDATA[kh ahmad rifai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=32004</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Semalam suntuk aku baca dan hayati satu demi satu kata-kata curahan hati sang guru tercinta, Syaikh Haji Ahmad Ar Rifa’I dalam kalam wasiyatnya yang dikirimkan kepada menantu tercintanya K....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/Makam-Syaikh-Ahmad-rifai.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-32028" title="Makam Syaikh Ahmad rifai" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/Makam-Syaikh-Ahmad-rifai-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Tanbihun</strong>- Semalam suntuk aku baca dan hayati satu demi satu kata-kata curahan hati sang guru tercinta, Syaikh Haji Ahmad Ar Rifa’I dalam kalam wasiyatnya yang dikirimkan kepada menantu tercintanya K. Maufuro. Surat yang ditulis tangan langsung oleh beliau itu merupakan tanbih, nasehat dan wejangan kepada seluruh santri beliau yang beliau tinggalkan di jawa sebab saat itu beliau sedang menjalani hukuman pengasingan di Ambon oleh Laknatullah Alaih colonial Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Surat yang kemudian dikemas menjadi buku saku oleh KH Ahmad Syadzirin Amin tersebut begitu inspiratif. Tidak ada keluh kesah di dalamnya, meskipun beliau diasingkan tanpa proses peradilan dan juga harus berpisah dengan keluarga yang begitu dicintainya. Beliau bahkan berpesan,” anak-anak cucuku dan anak-anak muridku, janganlah diantara kamu ada yang timbul keragu-raguan (was-was ) dan berucap, bahwa aku sudah dibuang ke Ambon dengan sangat menderita, tetapi cintailah dirimu sendiri dengan melihat kerusakan agama Allah dan Rasulnya yang sedang terjadi dipulau jawa.”</p>
<p style="text-align: justify;"> Beberapa kali bahkan beliau menampakkan kesyukurannya atas pengasingan yang menimpa beliau. Beliau merasa bahwa Allah swt telah memperlihatkan janjinya untuk memberikan pahala yang besar kepada beliau, sebab dengan diasingkannya beliau di Ambon, beliau bisa mengarang kitab berbahasa melayu, sehingga cakupan dakwah beliau menjadi luas, bukan hanya untuk orang jawa, tapi bisa sampai seluruh nusantara. Siapapun yang telah dengan sengaja mendengarkan kitab tarjamah beliau, beliau sudah merasa bahwa kitab beliau tersebut manfaat.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tersenyum, begitu tegarnya beliau. Seolah pembuangan yang beliau rasakan adalah tamasya Cuma-Cuma yang diberikan oleh pemerintah kafir Belanda. Beliau tidak pernah menghiraukan apapun yang menimpa pribadi beliau sepanjang beliau masih bisa menyerukan agama Allah. Aku ingin mengecup tangan beliau sebagai ungkapan rasa salut dan ta’dzim akan sikap beliau yang tidak mau tunduk terhadap kedzaliman, kefasikan dan kemunkaran, dan senantiasa mendedikasikan umurnya untuk memasarkan ajaran Islam. Aku jadi ingat salah satu pesan beliau dalam nadzom syarihul iman…sakuwasane agamane Alloh di payokno ( sekuat tenaga Agama Alloh harus dipasarkan ( didakwahkan)).</p>
<p style="text-align: justify;">Aku lalu bertanya dalam hati, apakah aku sudah memasarkan Agama Allah ini sebagaimana yang dicontohkan dan diamanahkan oleh Beliau ?. apa yang sudah aku berikan untuk kemajuan Islam?. Apa yang sudah aku lakukan untuk mendakwahkan ajaran-ajaran beliau yang tertuang dalam puluhan karangannya?.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku malu, malu untuk menatap sorot mata beliau yang tajam. Aku tutup rapat mataku. Aku Cuma berjanji dalam hati, sembari berbisik. Amanah dan semangatmu akan aku kobarkan lagi dalam sanubariku kembali esok hari</p>
<p style="text-align: justify;">By. Ahmad Ar Rifa’i</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/rifaiyah/pengasingan-membawa-berkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerakan Protes K.H. Ahmad Rifa’i Dalam Prespektif Sejarah ( 1850 – 1859 ) Bagian Terakhir</title>
		<link>http://tanbihun.com/rifaiyah/gerakan-protes-k-h-ahmad-rifa%e2%80%99i-dalam-prespektif-sejarah-1850-%e2%80%93-1859-bagian-terakhir/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/rifaiyah/gerakan-protes-k-h-ahmad-rifa%e2%80%99i-dalam-prespektif-sejarah-1850-%e2%80%93-1859-bagian-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 23:32:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rifaiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=30025</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Berdasarkan dari ajaran atau doktrin protes kyai haji Ahmad Rifa’i  di atas, maka berikut ini digambarkan aktualisasi dari gerakan Rifa’iyah. Untuk membahas gerakan protes social ini digunakan pendekatan behavioral....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/KH.jpg"><img class="size-full wp-image-30041 alignleft" title="KH" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/KH.jpg" alt="" width="300" height="220" /></a>Tanbihun</strong>- Berdasarkan dari ajaran atau doktrin protes kyai haji Ahmad Rifa’i  di atas, maka berikut ini digambarkan aktualisasi dari gerakan Rifa’iyah. Untuk membahas gerakan protes social ini digunakan pendekatan behavioral. Dalam hal ini dibahas tentang actor yang memimpin dan umat yang dipimpin , kemudian interprestasi terhadap situasi pada jamanya, dan bentuk geraakan ( action ) serta apa yang akan terjadi setelah adnay gerakn itu.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>Lebih lanjut untuk mengetahui seberapa jauh jalannya gerakan protes social itu , maka perlu diungkapkan:</strong></p>
<ol start="1">
<li>Kondisi struktur social dan budaya yang mendorong munculny gerakan.</li>
<li>Ketergantungan social</li>
<li>Pertumbuhan dan perkembangan serta perataan kepercayaan sebagai dasar gerakan.</li>
<li>Factor pencetus gerakan</li>
<li>Mobilisasi ummat ( pengikut ) dan</li>
<li>Adanya factor counter action terhadap gerakan social.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Dalam gerakan protes Rifa’iyah , sebagai actor adalah <a href="http://tanbihun.com/rifaiyah/mengenal-rifaiyah/" target="_blank">KH. Ahmad rifa’i </a>dengan pengikutnya yang disebut <span style="text-decoration: underline;"><em>santri Budiah</em></span> atau <span style="text-decoration: underline;"><em>Santri Tarjumah</em></span>. Mereka dihadapkan pada situasi jaman pemerintah colonial , merosotnya kepemimpinan tradisional , dan dalam proses westernisasi dijawa.KH.Ahmad Rifa’i bersama pendukungnya tidak puas dengan kondisi seperti itu , kemudian mengadakn gerakan menentang colonial dan birokrat tradisional itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun gerakan protesnya tidak sampai pada taraf perang fisik, namun gerakan Rifa’iyah berhasil membuat kerisauan , sehingg menggunjangkan stabilitas pemerintah di jawa. Untuk mengtahui gerakan protes Rifa’iyh dapat diikuti bahas selanjutnya .</p>
<p style="text-align: justify;">            KH.Ahmad Rifa’i mulai melancarkan protes sejak di Kaliwungu , yaitu ketika menjadi pembantu kakak iparnya <span style="text-decoration: underline;"><em>Kyai Haji Asy’ari</em></span> sebagai ustadh di pondok pesantrenya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia mengecam pengulu yang dipandang sebagai penanggung  jawab kebobrokan moral ummat islam, oleh karena itu terjadi pertentangan tajam dan terbuka dengan penghulu kaliwungu.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> Penghulu kaliwungu kemudian melaporkan kepada pemerintah Distrik Kendal , tentang adanya protes- protes dan pertentangan dengan KH.Ahmad Rifa’i . dalam laporan itu KH. Ahmad Rifa’i dituduh membuat kerusuhan, sehingga diminta agar pemerintah colonial distri k Kendal menangkapnya, demi ketentraman daerah. Atas laporan itu, pemerintah Distrik Kendal menahan KH.Ahmad Rifa’i , dan kemudian diminta untuk tidak bertempat tingal didaerah Kendal dan kaliwungu. Selanjutnya ia dilepas , dan kemudian hijrah ke daerah kalisalak, didaerah inilah ia mulai membangun pesantren yang lebih besar.</p>
<p style="text-align: justify;">            Di Kalisalak KH. Ahmad Rifa’i memulai gerakanya dengan membentuk kader pendukung inti ajaranya. Dengan penuh karisma, ia berhasil menanamkan faham yang dibawanya dan diajarkanya kepada para santri dan kader intinya. Diantara kader intnya terdapat nama-nama: <span style="text-decoration: underline;"><em>Imampuro</em></span>, <span style="text-decoration: underline;"><em>Arfani</em></span> Alias <span style="text-decoration: underline;"><em>Abdul Aziz</em></span>, <span style="text-decoration: underline;"><em>Kurdi</em></span> alias <em><span style="text-decoration: underline;">Abu Kasan</span></em> , <span style="text-decoration: underline;"><em>Muhammad Toyib</em></span>, <em><span style="text-decoration: underline;">Abdulhadi</span></em>, <span style="text-decoration: underline;"><em>Abu Mansyur</em></span>, <span style="text-decoration: underline;"><em>Ishak</em></span>, <span style="text-decoration: underline;"><em>Hadi Munawir</em></span>, <span style="text-decoration: underline;"><em>Ilham</em></span>, <span style="text-decoration: underline;"><em>Abdul Kohar</em></span>, <span style="text-decoration: underline;"><em>Abdul Fatah</em></span> , dan <span style="text-decoration: underline;"><em>Muhammad Tubo</em></span>.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Tugas kader inti disamping sebagai pengurus jama’ah , juga bertugas sebagai mubaligh yang diterjunkan ke pedesaan- pedesaan jawa tengah.melalui kadernya ajaran rifa’iyah berkembang,dan pengikutnya bertambah banyak. Ajaran KH.Ahmad Rifa’i yag dismpakan melalui syair-syair bahasa jawa , yang isinya merupakan terjemahan dari kitab-kitab agama islam , memang menarik masyarakat pedesaan untuk memahami islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Disamping itu masyarakat juga tertarik dengan doktrin Rifa’iyah yang menentang Penguasa Belanda dan Birokrasi Tradisional. Oleh karena itu tidaklah mengherankan, pengajian-pengajian Jama’ah Rifa’iyah berkembang sampai ke Wonosobo, Kendal, Kedu, Pati, Banyumas, dan Batang sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">            Setelah besar dan tersebar pengaruh ajarannya ,Kyai Haji Ahmad Rifa’i mulai berani terang – terangan mengadakan gerakan proteskepada penguasa tradisional, disamping itu juga kepada Belanda. Protes ini dilakukan dimasjid – masjid umum , dengan kotbah-kotbahnya,dan pengajian – pengajianya, mengecam pejabat lembaga keagamaan yang diangkat dan menghamba kepada Belanda. Di samping itu kaum birokrat tradisional sejak dari lurah sampai bupati, dikecam sebagai kaum feodal dan kaki tangan Belanda. Semuanya itu orang- orang yang mengabdi kepada raja kafir , dalam masalah keagamaan mereka dianggap sebagai tidak lebih dari  pada anjing dan babi.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align: justify;">            Atas prakarsa Mas Bagus Kenthol Jariyah , KH. Ahmad Rifa’i diberi kesempatan untuk berkhotbah dan kemudian ceramah pengajian di masjid Wanayasa. Dengan bahasa jawa yang bersyair, ia mengajarkan makna – makna ajaran islam dengan menarik , sehingga banyak yang mengikuti fahamnya. Apalagi ajaran faham yang menyatakan  bahwa islamnya belum syah , bagi yang belum mengikuti jama’ahnya , maka hal ini mengundang masyarakat mohon di islamkan.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align: justify;">            Pengaruh ajaran Rifa’iyah itu ternyata kemudian mengundang kaum muslimn untuk mendatangi pondok pesantren kalisalak. Mereka merasakn risau setelah mendapat ajaran , bahwa perkawinananya melalui penghulu belum sah. Disamping itu mereka juga merasakan risau keislamanya , dikarenakan belum dipersaksikan dihadapan KH.Ahmad Rifa’i . ummat yang mendatangi pondok pesantren Kalisalak tidak hanya lapisan masyarakst bawah, namun juga terdapat beberapa orang pemuka agama. Di antaranya yang minta diislamkan itu ialah seorang modin, ia dimandikan dalam kolam pesantren , digosok dengan daun ilalang oleh murid – murid KH.Ahmad Rifa’i . setelah upacara pemandian itu , kemudian dihadapkan kepada Kyai, sebelum diislamkan sang kyai menyatakan bahwa dosa- dosa modin dibersihkan , kemudian diadakan upacara syahadat , sebagai tanda peresmian jadi islam.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kebanyakan diantara yang mohon diislamkan oleh KH. Ahmad Rifa’i  ialah bertujuan agar dirinya selamt dan mengikuti jama’ah Rifa’iyah yang ditanggung dapat masuk surga.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Masjid dan pesantren Kalislak yang dahulunya sepi dan terpencil, kemudian menjadi ramai dkunjungi masyarakat. Disamping itu menjadi pusat perhatian ummat islam, baik yang tertarik untuk mengaji maupun yang mencurigainya . dari pihak penghulu dan para ulama yang mencurigai perkembangan jama’aah Rifa’iyah, mengkhawatirkan akan terjadi masjid kosong , dan pengaruhnya hilang. Oleh karena itu penghulu Batang yang ternama Haji Pinang mengadakan aksi pengecaman terhadap KH.Ahmad Rifa’i . penghulu itu mengadakan :</p>
<blockquote><p>            “ Tutura gurunireki</p>
<p>Sisetan ing Kalisalak</p>
<p>Iya iku iblis katon</p>
<p>Den age mrene praptaa</p>
<p>Sun kucere pisan</p>
<p>Eblis ing salugunipun</p>
<p>Si Ripangi Kalisalak</p>
<p>Wus sedya ing rina wengi</p>
<p>Nggoningsun bubujang setan</p>
<p>Si kaji Ripangi kowe</p>
<p>Ke didhadhung ing setan</p>
<p>Wus dadi jenis setan “<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p></blockquote>
<p>Artinya:</p>
<p>“katakanlah pada gurumu,</p>
<p>Si setan dari Kalisalak</p>
<p>Itulah iblis yang tampak</p>
<p>Cepat suruh kemari,</p>
<p>Akan kukucir ( ikat kepalanya ) sekalian</p>
<p>Sebab ia iblis Rifa’i  kalisalak.</p>
<p>Sudah disetiap malam</p>
<p>Saya marah pada setan</p>
<p>Si Haji Rifa’i itu</p>
<p>Sudah diikat oleh setan</p>
<p>Bahkan telah menjadi jenisnya setan “.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">            Demikian kecaman haji pinang terhadap KH. Ahmad Rifa&#8217;i yang disampaikan kepada Bagus Kenthol salah seorang murid Rifa’i . oleh para penghulu dan ulama yang menentang gerakan Rifa’iyah , menyebut ajaran itu denga nama <span style="text-decoration: underline;"><em>Ngelmu Kalisalak</em></span>. ajaran ngelmu Kalisalak ini diangap menyesatkan ummat islam , oleh karenanya diambil tindakan. Tindakan pertama yang dilakukan oleh para penghulu , ulama dan kaum birokrat tradisional ialah mengadakan perdebatan . dalam perdebatan yang disaksikan oleh Tumenggung <span style="text-decoration: underline;"><em>Aria Puspadiningrat</em></span> ( Bupati Batang ), dan masyarakat umum , ternyata KH.Ahmad Rifa’i berani menentang tuduhan yang ditimpakan kepadanya. Bahkan ia dengan menggunakan dalil –dalil agama, mengatakan bahwa para pejabat yang membantu Belanda itu kafir dan tidak perlu diturut serta ditaati .<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena jalannya perdebatan itu semakin panas , dan tidak ada pertemuan pendapat , maka oleh Tumenggung dihentikan untuk sementara . dari perdebatan itu Tumenggung lebih mengetahui dengan jelas sifaat , ajaran dan sikap KH. Ahmad Rifa’i  yang mengkafirkan pemerintah tradisional, dan tidak mentaatinya. Dengan demikian menjadi bahan laporan Bupati Batang kepada Residen Pekalongan , yang kemudian diteruskan ke Gubernur Jendral di Batavia.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan Rifa’iyah semakin aktif dan redikal , para mubalighnya mengadakan pengajian – pengajian di masjid – masjid desa, selain mengajarkan faham agama juga mengecam pemerintah. Hal ini meluaskan rasa sentiment anti colonial Belanda dan kaum birokrat tradisional, yang dianggapnya kafir .<a title="" href="#_ftn11">[11]</a> disamping itu pengaruh ajaran Rifa’iyah juga berkembang pesat , karena dengan menggunakan syair bahasa jawa mudah difahami oleh masyarakat. Dengan demikian karisma KH. Ahmad Rifa’i semakin kuat, dianggap oleh umatnya sebagai <strong>Imam</strong> yang <strong>alim-adil.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Perasaan  yang sentimen anti colonial dan birokrat tradisional tumbuh subur dikalangan kelompok jama’ah Rifa’iyah. Rasa sentimen itu diaktualisasikan dengan sikap-sikap tidak mentaati peraturan pemerintah dan tidak takut kepada para priyayi yang memimpin daerahnya. Bupati Batang sebagai penguasa daerah yang membawahi Kalisalak, merasakan daerahnya semakin tidak tentram. Hal ini dikarenakan sering mendapat hambatan dalam melaksanakan tugasnya. Disamping itu ia menjadi marah, dikarenakan sering mendapat laporan, bahwa KH. Ahmad Rifa’i selalu mengecamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mengendalikan ketentraman di wilayahnya, bupati Batang tidak menunggu adanya gerakan fisik dari jama’ah Rifa’iyah. Namun sedini mungkin gerakan itu diusahakan tidak meledak menjadi pemberontakan oleh karena itu, oleh Bupati Batang dilaporkan kepada residen Pekalongan, laporan itu kemudian diteruskan kepada Gubernur <span style="text-decoration: underline;"><em>Jendral A.J. Duymen Twist</em></span>, di Batavia. Tanggapan gubernur jendral tentang laporan Residen Pekalongan itu dituangkan dalam suratnya tertanggal 2 juni 1855, yang menyatakan bahwa gerakan rifa’iyah belum cukup kuat untuk di tindak. Lebih lanjut gubernur Jendral menyarankan agar KH. Ahmad Rifa’i di panggil ke pengadilan dan diproses secara hukum.<a title="" href="#_ftn12">[12]</a> Balasan surat dari Gubernur Jendral ini tidak memuaskan Residen Pekalongan maupun Bupati batang, sehingga untuk sementara waktu hanya dilakukan pengamatan dan penyusunan data tentang pelanggaran Gerakan Rifa&#8217;iyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tanggal 23 November 1858, Residen Pekalongan <span style="text-decoration: underline;"><em>Frensiscus Netscher</em></span> mengirim suar kepada Gubernur Jendral yang baru pahud (pengganti A.J. Duymaer Twist). Dalam suratnya, Residen meminta supaya KH. Ahmad Rifa&#8217;i diasingkan. Gubernur Jendral Pahud juga belum mengabulkan permohonan residen, dan menyarankan agar KH. Ahmad Rifa&#8217;i diperiksa terlebih dahulu. Oleh Karena tidak ada adanya ketegasan dari Gubernur Jendral, maka terjadi kegelisahan di kalangan pemerintah tradisioanal yang menghadapi langsung Gerakan rifa&#8217;iyah yang semakin berani. Sebagai tindakan preventive, penghulu Batang menghadapkan KH. Ahmad Rifa&#8217;i kepada tumenggung Aria Puspadiningrat, yang dihadiri pula oleh para ulam dan penghulu. Dari perdepatan kedua kalinya ini, berhasil dicatat beberapa kesalahan KH. Ahmad Rifa&#8217;i, yang kemudian hari digunakan sebagai data laporan. Setelah perdebatan selesai, KH. Ahmad Rifa&#8217;i tidak di perbolehkan pulang, dan di tahan dirumah penghulu Pekalongan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tanggal 30 April 1859, Residen Pekalongan mengirim surat kepada Gubenur Jendral Pahud, yang isinya memohon ketegasan agar KH. Ahmad Rifa&#8217;i diasingkan. Surat itu dilampiri dua surat dari Bupati Batang, masing-masing tertangal 24 April 1859 dan 29 April 1859, sebagai penguatnya. Adapun isi surat Bupati Batang tanggal 29 April 1859 itu mengandung data kesalahan KH. Ahmad Rifa&#8217;i, sebagai berikut :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">perkara kchadji achmad ripangie soeda biekien kietab-kietab bahasa djawa sepertie bikien bodo, dija ambil darie Alkoeran dan dari bebel Arab, die salin bahasa djawa die toelis mengertinja tapie bolenja toelias mengertinja trada pigimana maoenja kietab arab, orang pertjaja sebab tieada mengertie bahasa arab, mangka itoe dija poenja moerid orang jang tadinja beloem mengerie chal igama badrie of orang njang soeda mengertie tieada maoe bergoeroe kepadanja.</li>
<li style="text-align: justify;">perkara kietab-kietabja seoewa olok-olok sama semoea badrie maoenja biar orang hanja  bergoeroe kepada dianja.</li>
<li style="text-align: justify;">perkara dia soeda berani toelis dikitabnja, orange islam beloem djadie islam betoel kaloe beloem die berseksie alime adiel, maoenja kalaoe beloem bergoeroe kepada diejanja atawa pada moeried.</li>
<li style="text-align: justify;">perkara semoewa missigiet orang poenja sembajang tiada tahoe of tiada betoel, sebab beloem die berseksie of beloem bergoeroe kapada aliem adil, maoenja beloem bergoeroe kepada dijanja.</li>
<li style="text-align: justify;">perkara soeda begitoe brani toelis die dalam dija poenja kietab olok-olok sama semoa perjanji dan kepala negerie trada patoet sekalie-sekalie….</li>
<li style="text-align: justify;">perkara kabarnja kalaoe orang sode ada bienie, masoek bergoeroe kepada dijanja lantas die kawinkan lagie, bolenja kawin doeloe dija kata beloem betoel, sebab jang ngawienken boekan alim adil.</li>
<li style="text-align: justify;">perkara soeda die larang mengadjar iegama trada cocok sama lain-lain badri poenja adjaran pigimana terseboet saja soerat tnggal 9 September 1858 die mana leter  C pasal 3, ia jogega tieda maoe toeroet misie pigimana adjaran lama, mangka saja minta boeangja of keloernja dari saja poenja keboepaten.”<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Data penguat kesalahan KH. Ahmad Rifa&#8217;i diatas sebagai desakan yang menyakinkan Gubernur Jendral. Disamping itu, diusulkan pula data hasil introgasi terhadap KH. Ahmad Rifa&#8217;i tertanggal 7 Mei 1859, yang disaksikan oleh residen Pekalongan Fransischus Nescher (penggnti van der poel) bupeti Batang raden tumenggung Ario Puspadiningrat, dan jaksa Pekalongan Raden Witiswaja. Hasil dari introgasi itu menambah kuat alas an agar KH. Ahmad Rifa&#8217;i diasingkan.<a title="" href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mendapatkan alasan yang kuat dari hasil introgasi dan surat dari residen Pekalongan itu, maka Gubernur Jendral Pahud menjatuhkan surat keputusan No.35 tertanggal 19 Mei 1859, yang pokoknya mengasingkan KH. Ahmad Rifa&#8217;i.<a title="" href="#_ftn15">[15]</a> adapun yang dijadikan dictum pertimbangan untuk mengasingkan KH. Ahmad Rifa&#8217;i ialah :</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama</strong> : KH. Ahmad Rifa&#8217;i tiddak mau menta’ti kepada kepala pemerintah pribumi yang diangkat pemerintah Belanda demikian yang demikian dianggap sebagai bahaya politik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua</strong> : tindakan itu bukan merupakan perkara hukum resmi oaleh karena itu tidak diadakan pengadilan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga</strong> : tindakan pengasingan ini merupakan usaha preventive untuk mencegah timbulnya bahaya ketertiban dan keamanan. Dengan demikian maka KH. Ahmad Rifa&#8217;i diasingkan ke Ambom.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam usia 73 tahun KH. Ahmad Rifa&#8217;i mulai menjalani masa pengasinganya di Ambon. Meskipun jauh dari pengikutnya ia sempat membuat surat dan mengirimkan 4 buah buku ajaranya yang ditulis dengan bahasa melayu. Keempat kitab yag dikirimkan itu ialah : <strong>Targhibul mithalab</strong>, terdiri dari dua koras tentang ushuluddin : <strong>kaifialatul mikosad</strong>, terdiri dari 7 koras tenteng ibadat : <strong>Hidayatul Himmat</strong>, terdiri dari 25 koras tentang tasawuf : dan <strong>Nashihatul Hak</strong>, terdiri dari 10 koras tentang tasawuf. Disamping itu 4 buah kitab KH. Ahmad Rifa&#8217;i di pengasingan juga mengirimkan <strong>60 lembar tanbih</strong> (perhatian), yang harus diamalkan oleh para santrinya.<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam surat yang ditinjukkan kepada maufuro (imampuro) menantunya, KH. Ahmad Rifa&#8217;i mewasiatkan kepada para santrinya, antara lain :<a title="" href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama</strong>, agar para santrinya tetep jazm mengamalkan kitab tarajumah, dengan jalan menyalin dan mengalami serta mengamalkan agar selamat didunia dan di akherat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua</strong>, para santri yang sudah dapat menetapi dan mendalami serta berlaku adil, dan menjadi saksi, memberi fatwa, mengesahakan keislaman orang yang membutuhkannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga</strong>, santrinya masih ada yang berani amar ma’ruf nahi munkar, untuk mengingatkan kepada kebanyakan ulama di jawa yang masih mengikuti hukum<strong> taghut, </strong>adapt negeri, bersekutu dengan pemerintah kafir Belanda. Amar ma’ruf yang ringan dengan menulis dan menyebarkan kitab, namun lebih baik dengan tangan dan lisan, walaupun resikonya berat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keempat</strong>, ia menghawatirkan adanya musibah kerusakan agama di jawa setelah ditinggalkanya. Kerusakan itu diperingatkan antara lain membaca Al qur’an untuk kemegahan, syahadat dan sholat kurang rukun sratnyadan mengakhirkan farzu’ain<strong> muzayyik. </strong>Hal itu para santrinya harus ikut meluruskanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelima</strong>, tentang dirinya, K.H. Ahmad Rifa’i meangajurkan para santrinya dan pengikutnya jangan mempunyai belas kasihan sebab di Ambon ia juga mempunyai pengikut dan kawan berdakwah, antara lain <span style="text-decoration: underline;"><strong>Sayid Abubakar</strong></span> dari Ambon, merekalah yang simpati dan ikut menyebarluaskan ajaranya. Mengenai penulisan 4 kitab terakhir bahasa Melayu, ia katakana bahwa agar dapat di baca oleh lingkungan yang lebih luas di Ambon. KH. Ahmad Rifa’i merasakan bahwa di asingkan hikmah, dan sedikit pun merasa menderita. Hanyalah yang diharapkan agar para santri dan keluargannya di jawa dapat mendoakan supaya ia mendapat derajad yang lebih tinggi di hadapan Allah Swt., jadi<strong> hawasul-hawas</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keenam</strong>, wasiat khusus disampaikan kepada istrinya Sujinah, bila belum kawin lagi, tetap dianggap sebagai istrinya, namun bila sudah kawin dengan orang lain, ia <strong>riza</strong> dan iklas. Kitab<strong> Asnal Mikosad</strong> supaya diberikan  kepada Sujinah, agar dapat dipelajari dan diwariskan kepada anaknya yang laki-laki. Sebagai kurir pembawa surat ditunjuk oleh K.H Ahmad Rifa’i ialah <span style="text-decoration: underline;"><em>haji Abdullah</em></span> dari Semarang, yang banyak kenal dengan juragan pemilik kapal dan sering berlayar ke Ambon.</p>
<p style="text-align: justify;">Menilik isi surat tersebut diatas K.H. Ahmad Rifa’i masih mempunyai idealisme dalam perjuanganya bahkan masih memberikan perintah untuk meluruskan gerakan Rifa’iyah kepada para santrinya. Oleh karena itu, sepeninggalan KH. Ahmad Rifa’i jama’ah Rifa’iyah tetap hidup dan melangsungkan keberadaanya sampai sekarang.<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Para pemimpin jama’ah Rifa’iyah pengganti K.H. Ahmad Rifa’i dalam menjalankan eksistensi jama’ahnya menggunakan taktik perdamaian., menjauhkan dari sifat radikal dan secara diam-diam mengembangakan jama’ahnya. Usaha itu dilakukan untuk melindungi diri dari pengawasan pemerintah, disamping itu tetap mengamalakan wasiat sang imam. Adapun bentuk kegiatanya lenih menekankan diri dalam bidang pendidikan pondok pesantren.</p>
<p><strong>Traskripsi </strong></p>
<blockquote><p>Slamete dunya akherat wajib kinara</p>
<p>Ngalawan raja kafir sakuasane kafikiran</p>
<p>Tur perang sabil luwih kadene uakara</p>
<p>Kacukupan tan kanti akeh bala kuncara</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ghalib alim lan haji fasik padha tulung</p>
<p>Maring raja kafir asih padha junjung</p>
<p>Ikulah wong alim munafik imane suwug</p>
<p>Dumeh diangkat derajad dadi tumenggung</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lamun alim weruha ing alane wong takabur</p>
<p>Maka ora tinemu dadi kadiniluhur</p>
<p>Sumerep badan ina ngelangsur</p>
<p>Munfaate ilmu aln amal dimaha lebur</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tinemu priyayi laku gawe gede kadosan</p>
<p>Ratu, bupati, demang, lurah, kebayan</p>
<p>Maring raja kafir pada asih anutan</p>
<p>Haji lan abid dadi tulung ma’siat</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nuli dadi khatib ibadah</p>
<p>Mu’adin lebai pada melu anggugat</p>
<p>Maring alim adil laku bener syari’at</p>
<p>Sebab kuatir yen ora nemu drajad</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ikulah lakune wong munafik iman suwung</p>
<p>Anut maksiat dadi tumenggung</p>
<p>Ikulah wong munafik lakune bingung</p>
<p>Badan ina rumangsa mulya dadi tumenggung</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mu’min mbungkuk utama nandur ketela</p>
<p>Tinimbang mu’min mbungkuk ngawula woang ala.</p>
<p>Iku tanda mu’min kang pratela</p>
<p>Ma’rifate madhep maring Allah ta’ala</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alim saleh milih angger tenimu merdika</p>
<p>Senadyan disengitana dene wong duraka</p>
<p>Tinimbang kumpul karo wong cilaka</p>
<p>Timahane bisa kecegur maring neraka</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ikilah dalil qur’an nunur wong antenar</p>
<p>Wa ja’alnahum a immatay yad’uwe na ilanar</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lan wus digawe isin ing kadonyan</p>
<p>Ing wong za lim iku kabeh dadi panutan</p>
<p>Pangajake maring neraka kemazaratan</p>
<p>Ikulah cobane Allah pangeran</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mu’min mbungkuk utama nandur jagung</p>
<p>Tinimbang mu’min mbungkuk ngawula tumenggung</p>
<p>Ngalim saleh milih <strong><em>merdika </em></strong>ingkang agung</p>
<p>Agawe kutha daerah yen bisa langsung.</p></blockquote>
<p>Dikutib dari <strong><em>kitab Sharkhul Iman  </em></strong>Salah Satu Kitab Tarjumah Karya KH. Ahmad Rifa’i, Tanpa Penerbitan, tahun terbit dan juga tanpa halaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Terjemahan :</strong></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>Keselamatan dunia akherat wajib diperhitungkan</p>
<p>Melawan raja kafir sekemampuannya perlu dikafirkan</p>
<p>Demkian juga perang sabil lebih dari upacara</p>
<p>Cukup tidak menggunakan pasukan yang besar</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ghalib alim dan haji fasik semuanya menolong</p>
<p>Kepada raja kafir mereka yang senang mendukung</p>
<p>Itulah orang alim munafik kosong imannya</p>
<p>Mentang-mentang diangkat berkedudukan jadi tumenggung</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Walaupun alim mengetahui jeleknya orang takabur</p>
<p>Pada hal tidak akan menjadi kadi terkenal</p>
<p>Mengetahui dari hina menghadap dengan merangkak</p>
<p>Manfaatnya ilmu dan amal jadi hancur lebur</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menemukan tindakan priyayi yang berbuat dosa-dosa besar</p>
<p>Ratu bupati demang lurah kebayan</p>
<p>Kepada raja kafir mereka senang menghamba</p>
<p>Haji dan abid jadi penolong kema’siyatan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kemudian menjadi kadi khatib ibadah</p>
<p>Mu’adin lebai semuaikut menggugat</p>
<p>Kepada alim adil yang bertindak benar menurut syariat</p>
<p>Sebab mereka khawatir kalau tidak mendapat pangkat</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Itulah tindakan orang munafik yang kosong imannya</p>
<p>Ikut berbuat ma’syiat orang menjadi tumenggung</p>
<p>Itulah orang munafik yang kebingungan</p>
<p>Pribadinya hina merasa mulia jadi tumenggung</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Orang mu’alim lebih utama membongkok untuk menanam singkong</p>
<p>Dari pada orang mu’min membongkok menghamba orang jelek</p>
<p>Itu merupakan tanda orang mu’min yang benar</p>
<p>Ma’rifatnya menghadap kepada Allah ta’ala</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Orang alim-saleh memiliki dapat kemerdekaan</p>
<p>Meskipun dibenci oleh orang durhaka</p>
<p>Dari pada berkumpul dengan orang celaka</p>
<p>Akibatnya dapat terperosok ke neraka</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Inilah dalil qur’an yang sudah dikenal orang</p>
<p><strong><em>Wa ja alnahum a’ immatayad ‘una ilannar</em></strong></p>
<p>(“Dan kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang mengundang orang ke neraka” Qur’an, S. Kosos : 41).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan sudah dibbuat malu di dunia</p>
<p>Kepada orang zalim itu mereka menghamba</p>
<p>Mengajak keneraka <strong><em>kemadaratan</em></strong></p>
<p>Itulah cobaan dari Allah yang kuasa</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Orang mu’min lebih utam membongkok untuk menanam jagung</p>
<p>Dari pada orang mu’min membongkok untuk, menghamba tumenggung</p>
<p>Orang ali-saleh memilih kemerdekaan yang agung</p>
<p>Membentuk Negara apabila dapat langsung</p></blockquote>
<p>Terjemahan dari bagian kitab <strong><em>Sharikhul Iman</em></strong> Salah satu dari kitab <strong><em>Tarjumah </em></strong>karya KH. Ahmad Rifa’i</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Robert f . Berkhofer, Jr., behafioral Approch to Historical Analysis, ( New york : the fre Press, 1971) hal 66- 74.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Neil J. Smelser, Theory of Collective Behavior,( London : Routledge dan Kegan paul , 1962 ), hal. 1 m- 23 dan 47 – 70.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Manakib Syekh Ahmad rifa’i  , manuskrip tanpa pengarang dan tanpa tahun, hal 13- 18. dalam laporan penelitian Lembaga Keagamaan no. 6 , Rifa’iyah ( Semarang , Balitbang , Depag, 1984).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Laporan…….ibid, hal 17</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Missive van Resident van Pekalongan ( J.F. Jasfer), tanggal 31 juli 1924, no . 504 / Zeer Geheim, afschift, Mailreport No. 14/ 25</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Serat Cebolek , Op. Cit., II Pupuh Asmaradana : 1-8</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> I bid</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> I b I d.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> I b I d ., hal 205</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Jalanya perdebatan dalam Serat Cebolek, ibid</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Surat Bupati Batang, 29 April 1859, Arsip Nasional Bt. 19 – 5- 1859 No. 35. lihat juga Jasquet , 1980, 304/5</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> Karel A. Steenbrink. Op. Cit., hal . 101.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> Ibid</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> Dalam Bt. 19-5-1859 no.35, 7 Mei 1859. No. IV / Gehim di arsip nasional Jakarta.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a> Lihat Oos Indish Besluit, 289 /59 geheim, 19 Mei 1859.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> Lihat surat KH. Ahmad Rifa&#8217;i dari Ambon, tertanggal 21 Zulhijjah 1277H / tahun jimawal.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a> Ibid</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a> Sartono Kartodirjo, Op. Cit., hal 126.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
</div>
<table cellspacing="”10″" cellpadding="”10″">
<tbody>
<tr>
<td align="”justify”" valign="”top”" width="”200″">Nama lengkap</td>
<td align="”justify”" valign="”top”" width="”300″">: Drs.H. Ahmad Adaby Darban, SU</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="”10″" cellpadding="”10″">
<tbody>
<tr>
<td align="”justify”" valign="”top”" width="”200″">Tempat Tanggal Lahir</td>
<td align="”justify”" valign="”top”" width="”300″">: Yogyakarta, 25 Pebruari 1952</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="”10″" cellpadding="”10″">
<tbody>
<tr>
<td align="”justify”" valign="”top”" width="”200″">Jabatan</td>
<td align="”justify”" valign="”top”" width="”300″">: Dosen Fakultas Sastra UGM</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="”10″" cellpadding="”10″">
<tbody>
<tr>
<td align="”justify”" valign="”top”" width="”200″">Alamat Rumah/Telepon</td>
<td align="”justify”" valign="”top”" width="”300″">: Kauman GM. I/355 Yogyakarta Kode Pos 55122</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="”10″" cellpadding="”10″">
<tbody>
<tr>
<td align="”justify”" valign="”top”" width="”200″">Alamat Kantor/Telepon</td>
<td align="”justify”" valign="”top”" width="”300″">Bulaksumur E. 12 Yogyakarta 3096</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="”10″" cellpadding="”10″">
<tbody>
<tr>
<td align="”justify”" valign="”top”" width="”200″">Pendidikan Terakhir</td>
<td align="”justify”" valign="”top”" width="”300″">: Lulusan Fak. Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="”10″" cellpadding="”10″">
<tbody>
<tr>
<td align="”justify”" valign="”top”" width="”200″">Pengalaman Karya</td>
<td align="”justify”" valign="”top”" width="”300″">: 1. Sejarah Kauman Yogyakarta2.Rifa’iyah: Gerakan Protes sosial di Pedesaan Jawa Tengah3. Fragmenta Sejarah Islam di Indonesia4. Snouck Horgronje dan islam di Indonesia</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: right;" align="right">Yogyakarta, 6 Desember 1990</p>
<p style="text-align: right;" align="right">(Ahmad Adaby Darban, SU.)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/rifaiyah/gerakan-protes-k-h-ahmad-rifa%e2%80%99i-dalam-prespektif-sejarah-1850-%e2%80%93-1859-bagian-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerakan Protes K.H. Ahmad Rifa’i Dalam Prespektif Sejarah ( 1850 – 1859 )</title>
		<link>http://tanbihun.com/rifaiyah/gerakan-protes-k-h-ahmad-rifa%e2%80%99i-dalam-prespektif-sejarah-1850-%e2%80%93-1859/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/rifaiyah/gerakan-protes-k-h-ahmad-rifa%e2%80%99i-dalam-prespektif-sejarah-1850-%e2%80%93-1859/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 23:05:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rifaiyah]]></category>
		<category><![CDATA[kh ahmad rifai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=29953</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ahmad Adaby Darban Muqoddimah Tanbihun &#8211; Pada abad ke–19 di Indonesia terdapat gelombang perjuangan rakyat dipimpin oleh para ulama untuk menentang penjajahan colonial Belanda.gerakan itu merata sampai dipelosok-...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;" align="center"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/02/Syaikh-Ahmad-Rifai.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-5576" title="Syaikh Ahmad Rifai" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/02/Syaikh-Ahmad-Rifai-300x137.jpg" alt="" width="300" height="137" /></a>Oleh<strong> : Ahmad Adaby Darban</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Muqoddimah</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong> &#8211; Pada abad ke–19 di Indonesia terdapat gelombang perjuangan rakyat dipimpin oleh para ulama untuk menentang penjajahan colonial Belanda.gerakan itu merata sampai dipelosok- pelosok pedesaan, tumbuh secara sporadic, sehingga cukup merepotkan dan mengguncang pemerintah .</p>
<p style="text-align: justify;">Billa ditelusuri secara mendalam , gerakan rakyat yan g dipimpin oleh para ulam itu memiliki benang hijau atau alur yang sama didalam pergerakanya. Benang hijau itu antara lain ialah, pertama ruhul islamy yang mendasari semangat perjuangan mereka. Kedua, munculnya kepimpinan ulama sebagai suatu alternative yang tepat, Karena ulama sebagai elite religious , dekat  dengan rakyat dan punya kharismatik sebagai pemimpin rakyat. Disamping itu, pihak birokat tradisional sebagian besar pada umumnya berpihak pada pemerintah colonial, menjadi agen colonial, sehingga rakyat yang tertindasnasibnya pada waktu itu mengangkat ulama sebagai pemimpinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu ulama yang memimpin gerakan protes melawan colonial Belanda dan agenya ( Birokrat tradisional) , adalah K.H. A Rifa’i yang bersifat protes , sehingga ajaran yang dikemukakan terbatas fatwa – fatwa protes kepada colonial dan birokrat tradisional.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>AJARAN PROTES K.H.A RIFA’I</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ajaran KH. Ahmad Rifa’i  yang bersifat doktrin protes kepada pemerintah colonial Hindia Belanda dan birokrat tradisional , serta para usu’. Ajaran doktrin protes ini terdapat dalam kitabnya Tarikh  dan Nazam Wikayah . dalam doktrin protesnya kepada pemerintah Kolonial hindia Belanda , ajaran KH.Ahmad Rifa’i mendasarkan pada argumentasi bahwa Belanda itu kafir. Disamping itu dianjurkan pada segenap anggota jama’ah Rifa’iyah agar berjuang menyelamatkan dunia , dengan jalan melawan raja kafir. Perjuangan mentang hokum kafir dan melawan dengan perang sabil, akan besar pahalanya.</p>
<h5 style="text-align: justify;">Doktrin itu berbunyi sebagai berikut:</h5>
<blockquote>
<p style="text-align: left;" align="center">“slameta dunya akherat wajib kinara</p>
<p style="text-align: left;">Ngalawan raja kafir sakuasane kafikira</p>
<p style="text-align: left;">Tur perang sabil luwih kadene ukara</p>
<p style="text-align: left;">Kacukupan tan kanti akeh bala kuncara”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: left;">Artinya :</p>
<p style="text-align: left;">“keselamatan dunia akherat wajib diperhitungkan</p>
<p style="text-align: left;">Melawan raja kafir semkemampuanya perlu difiqirkan</p>
<p style="text-align: left;">Demikian juga perang sabil lebih dari pada ucapan</p>
<p style="text-align: left;">Cukup tidak menggunakan pasukan yang besar</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">            Syair ini diajarkan kepad a para santri dan anggota jama’ahnya , sehingga makin lama tertanam rasa kebencian terhadap pemerintah Belanda. Disamping itu ia juga membangkitkan semangat untuk menentang penguasa Belanda, dengan menunujukan berbagai sikap anti beanda.</p>
<p style="text-align: justify;">            Selain doktrin protes kepada pemerintah colonial belanda , KH. Ahmad Rifa’I juga mengajarakan doktrin protesnya kepada para pejabat birokrat tradisional.</p>
<h5 style="text-align: left;">Bunyi doktrin protes itu antara lain sebagai berikut:</h5>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">            “ghalib alim lan haji pasik pada tulung</p>
<p style="text-align: left;">            Marang raja kafir asih pada junjung.</p>
<p style="text-align: left;">            ikulah wong alim munafik imane suwung,</p>
<p style="text-align: left;">            dumeh diangkat drajad dadi tumenggung.</p>
<p style="text-align: left;">            Lamun wong alim weruho ing alane wong takabur</p>
<p style="text-align: left;">            Mengko ora tinemu dadi kadi miluhur”.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
</blockquote>
<h5 style="text-align: justify;">Artinya :</h5>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">            Ghalib alim dan haji fasik menolong,</p>
<p style="text-align: justify;">            Raja kafir dan senang mendukungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">            Itulah orang alim yang munafik kosong imannya ,</p>
<p style="text-align: justify;">            Karena mersa diangkat berkedudukan jadi tumenggung.</p>
<p style="text-align: justify;">            Jika orang alim menunjukan jeleknya orang takabur,</p>
<p style="text-align: justify;">            Nanti tidaklah mungkin dapat kadi terkenal.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dalam bait syair diatas pada intinya mengecam para alim ulama dan haji yang berbuat fasik , menolong dan menghamba kepada raja kafir ( Belanda ). Meskipun diangkat menjadi tumenggung , namun orang itu termasuk munafik dan tidak mempunyai iman.alm ulama dan para haji yang membantu para Belanda sebagai pejabat tradisional , dianggap takabur, yang dikemudian hari tidak akan menjadi kadi ( hakim) yang luhur.</p>
<p style="text-align: justify;">KH. Ahmad Rifa’i  dalam ajaranya juga menyatakan protes trhadap sifat feudal yang dijalankan oleh para penguassa tradisional. Sifat feudal yang dianggapnya sebagai cermin penindasan kepada rakyat di satu pihak, dan pengabdian kepada Belanda di pihak lain , dalam hal ini diutarakan syair protes sebagai berikut:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">            “sumerep badan hina ngelangsur</p>
<p style="text-align: justify;">            Manfaate ilmu lan amal dimaha lebur</p>
<p style="text-align: justify;">            Tinemune priyayi laku gawe gede kadosan</p>
<p style="text-align: justify;">            Ratu, bupati , lurah , tumenggung, kebayan</p>
<p style="text-align: justify;">            Haji, abdi , daditulung maksiat</p>
<p style="text-align: justify;">            Nuli dadi qodli khatib ibadah</p>
<p style="text-align: justify;">            Maring alim adil laku bener syare’ate</p>
<p style="text-align: justify;">            Sebab khawatir yen ora nemu derajaad</p>
<p style="text-align: justify;">            Ikulah lakune wong munafik imane suwung</p>
<p style="text-align: justify;">            Anut maksiat wong dadi tumenggung”<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
</blockquote>
<h5 style="text-align: justify;">Artinya:</h5>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">            “melihat tubuh hina menghadap dengan tubuh merayap</p>
<p style="text-align: justify;">            Manfaatnya ilmu dan amal hilang binasa.</p>
<p style="text-align: justify;">            Pendapat dan tindakan kaum priyayi membuat dosa besar.</p>
<p style="text-align: justify;">            Ratu, bupati, lurah, tumenggung , kebayan,</p>
<p style="text-align: justify;">            Kepada raja kafir senang jadi pengikut,</p>
<p style="text-align: justify;">            Termasuk haji abdi, abdi, menolong kemaksiatan.</p>
<p style="text-align: justify;">            Kemudian menjadi kadikhatib ibadah,</p>
<p style="text-align: justify;">            Kepada alim adil bertindak membenarkan syare’at,</p>
<p style="text-align: justify;">            Sebab khawatir bila tidak mendapat kedudukan.</p>
<p style="text-align: justify;">            Itulah amalan orang munafik yang kosong imanya,</p>
<p style="text-align: justify;">            Mengikuti perbuatan maksiat orang yang jadi tumenggung.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"> Syair diatas merupakan kecaman KH. Ahmad Rifa’i terhadap kaum priyayi yng duduk dalam jabatan : Kebayan, Lurah, Bupati, Tumenggung , dan ratupara pejabat itu dianggap sumber feudal yang menghina rakyat.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini pernah dialami KH.Ahmad Rifsa’i pada tahun 1835, dikabupaten Kendal. Ketika menghadiri resepesiperkawinan di pendopo kabupaten , para tamu termasuk dirinya diharuskan seba dihadapan Bupati dan para priyayi. Perbuatan itu dinilai sebagai tindak kemungkaran. Oleh karena itu terhadap sikap dan sifat feudal, ia menentangnya, lebih- lebih kaum feudal yang menjadi alat atau agen belanda , dikatakan kafir , munafik dan hina.</p>
<p style="text-align: justify;">            Para pemuka agama , seperti penghulu, ulama dan para haji, oleh KH. Ahmad Rifa’I di anggap sebagai pemuka agama yang menyesatkan. Merka tidak menurut perintah allah , tidak mengadili dengan hukum islam, melanggar ketentuan agama. Mereka dikatakn hidup dalam gelimang dosa, yaitu bid’ah, maksiat dan kafir, sebab ikut dan mendukung pemerintah kafir ( Belanda ). Oleh karena itu, siapa saja yang  nikah melalui pejabat keagamaan itu dianggap perkawinanya tidak syah.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kecaman yang diwujudkan didalam ajaranya tidak hanya disampaikan pada para santrinya di pesantren, namun juga secara langsung dilakukan dimasjid- masjid umum. Untuk melihat seberapa jauh doktrin protes dan kecaman ini dilancarkan dapat diterangkan pada bagian <a href="http://tanbihun.com/rifaiyah/gerakan-protes-k-h-ahmad-rifa%E2%80%99i-dalam-prespektif-sejarah-1850-%E2%80%93-1859-bagian-terakhir/" target="_blank">Terakhir</a>.</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>Ahmad Rifa’i, Nazam  Wikayah, manuskrip, selesai ditulis 1273 H tanpa halaman.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ahmad Rifa’i  , Tarikh, manuskrip, selesai ditulis tahun 1257 H , tanpa halaman.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> I b I d</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Sartono kadirdjo, protest Movements in Rural Java , ( kuala Lumpur : 1978), hal 120.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/rifaiyah/gerakan-protes-k-h-ahmad-rifa%e2%80%99i-dalam-prespektif-sejarah-1850-%e2%80%93-1859/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Santri Rifaiyah Dari Generasi Ke Generasi</title>
		<link>http://tanbihun.com/rifaiyah/santri-rifaiyah-dari-generasi-ke-generasi/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/rifaiyah/santri-rifaiyah-dari-generasi-ke-generasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jul 2011 16:14:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rifaiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Generasi Rifaiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Santri Rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6722</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Menerobos blokade kemapanan bukanlah langkah mudah, memecah kesunyian kebiasaan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Salah satu cara untuk menghadapi suasana yang sudah jumud bisa dimulai dengan ide-ide &#8220;gila&#8221;...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/07/Gotong-royong.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-6723" title="Gotong royong" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/07/Gotong-royong-300x201.jpg" alt="Gotong royong" width="300" height="201" /></a>Tanbihun</strong> &#8211; Menerobos blokade kemapanan bukanlah langkah mudah, memecah kesunyian kebiasaan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Salah satu cara untuk menghadapi suasana yang sudah jumud bisa dimulai dengan ide-ide &#8220;gila&#8221; dan langkah-langkah &#8220;gila&#8221;, tentu bukan gila dalam artian yang sebenarnya, melainkan sebuah ide dan langkah yang berani keluar dari kebiasaan. Terobosan-terobosan yang membawa manfaat untuk kemaslahatan umat.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Ahmad Rifa&#8217;i mendobrak adat kebiasaan yang pada jamannya ibadah yang dilakukan oleh sebagian umat terutama orang awamnya hanya ritual gerakan latah tanpa tahu syarat-rukunnya, dengan semangat pembaharuannya beliau menciptakan sebuah metode pengajaran dan pendidikan yang mudah dipelajari dan dipahami oleh orang awam sekalipun. Terciptalah <a href="http://tanbihun.com/download/kitab-rifaiyah/kenapa-syaikh-ahmad-rifai-membuat-kitab-dalam-bentuk-nadhoman-ini-dia-rahasianya/" target="_blank">kitab-kitab nadhoman</a> yang bukan saja bernilai sastra,tapi juga sangat memudahkan dalam proses belajar mengajar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditengah gempuran-gempuran kemajuan jaman, anak-murid Syaikh Ahmad Rifa&#8217;i dari jaman ke jaman selalu ada yang &#8220;berani&#8221; menawarkan bentuk lain demi mencapai tujuan sang guru besar, yakni iman yang sah, ibadah yang memenuhi syarat-rukun, langkah-langkah tersebut sudah barang tentu tidak boleh menyimpang dari tujuan semula apalagi sampai menggerus anyaman garis besar yang merupakan ruh dari metode dan pelajaran dari Syaikh Ahmad Rifa&#8217;i. silahkan dibaca <a href="http://tanbihun.com/download/kitab-rifaiyah/mengenal-kitab-kitab-syaikh-ahmad-rifai-kitab-bayan/" target="_blank">kitab  Bayan</a>, disana secara gamblang beliau memaparkan segala hal yang berhubungan dengan metode pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita mengenal Bapak Carbin, Bapak Kyai Hambali, KH. Nasihun dll, beliau-beliau ini berhasil menggulirkan yayasan Rifaiyah yang merupakan cikal-bakal Organisasi Rifaiyah, meskipun kita tahu, tergurat dalam sejarah, betapa tidak sedikit yang menentang berdirinya yayasan, yang pada waktu itu memang terdengar aneh dan nyleneh. Namun dengan niat yang tulus, &#8220;Amrih selamete dunyo, ora waton bener, tapi sing biso dadi benere&#8221; beliau-beliau ini tetap tegap melangkah, intimidasi dari penguasa saat itu yang dimotori oleh orang-orang yang tidak senang dengan ide pendirian yayasan tak sanggup menyurutkan langkah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Di era selanjutnya, setelah &#8220;bayi&#8221; Rifaiyah lahir, kita mengenal Bapak KH. Syadzirin Amin, bapak KH.Mukhlishin Muzarie, bapak KH. Khaeruddin Khasbullah, bapak KH. Zaenal Abidin, bapak KH. Rois Yahya Dahlan, bapak KH. Muhammad Sa&#8217;ud  dan tokoh-tokoh lainnya. Dengan kemampuan dan kelebihannya masing-masing, beliau-beliau ini bahu membahu menggerakkan roda organisasi yang baru lahir, berbagai target pun tercapai dengan gemilang, seperti pengukuhan Syaikh Ahmad Rifa&#8217;i sebagai pahlawan Nasional, buku-buku tentang pengenalan Rifaiyah pun terbit meski dengan swadaya dan swadana apa adanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Diera generasi kita sekarang, ada orang-orang yang berani menempuh jalan yang tidak popular, seperti group-group rebana yang dimotori oleh badur bopas. Tidak bisa disangkal, langkah ini sangat berdampak positif, terutama untuk anak-anak usia sekolah, biasanya mereka fasih menyanyikan lagu-lagu pop, baik tembang-tembang dalam negeri maupun manca, tapi dengan adanya sya’ir-sya’ir yang mengalun merdu dari group rebana, mulai terdengar lantunan sya’ir syarat-rukun dari anak-anak ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, apakah kita hanya akan menjadi penonton saja? kalau mau menunggu undangan, mereka yang disebutkan diatas, tak ada yang mengundang, semua murni panggilan hati nurani, demi kemaslahatan umat, sekali lagi demi kemaslahatan umat khusoson warga Rifaiyah. menjadi penonton mungkin posisi yang paling mudah, jika ini yang kita pilih, maka jadilah penonton yang baik, tut wuri handayani, jangan menjadi umat yang suka bikin orang mumet. Apalagi menjadi orang yang &#8220;nggadoki&#8221; (bahasa Kendal untuk menyebut orang cingkrang), dibelakang teriak-teriak, dikasih didepan tidak bisa apa-apa, diletakkan ditengah “nyrimpung”(menjegal).</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini hanya sebagai sarana untuk mengingatkan diri sendiri, syukur-syukur jika para pembaca bisa mengambil manfaat, kalau sekiranya cuma hembusan angin kosong, saya sarankan <strong><span style="color: #ff0000;">STOP !!!</span></strong> cukup sampai disini saja membacanya, jangan dilanjutkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai penutup, marilah kita bersama-sama, meneruskan estafet perjuangan dari pendahulu kita, dengan segala kemampuan yang ada, apapun bisa dicapai jika bersatu. Seperti orang membangun rumah, ada yang bagian angkat genting,angkat pasak, angkat batu pondasi, ada yang kerjaannya membikin tali dari bambu, sambil duduk dibawah pohon yang teduh, bahkan ada yang dari pagi cuma teriak-teriak, mengatur bala tentara yang biasanya tanpa bayaran. Dengan tugas yang berbeda-beda, namun tukuannya tetap satu, yaitu berdirinya rumah yang kokoh, dan coba perhatikan,meskipun kerjanya beda-beda, saat tiba waktunya istirahat makan, jatah makannya sama, malahan bisa jadi yang bagian berat-berat makannya cuma sama tempe, sebab dia tidak doyan dengan ayam goreng.(zid)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/rifaiyah/santri-rifaiyah-dari-generasi-ke-generasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengajian Rajaban dan Silaturrahim</title>
		<link>http://tanbihun.com/rifaiyah/galery-photo-kegiatan/pengajian-rajaban-dan-silaturrahim/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/rifaiyah/galery-photo-kegiatan/pengajian-rajaban-dan-silaturrahim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 08:57:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galery Photo Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Hari-hari Besar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Peringatan Isro' Mi'roj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6584</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun – Pengajian peringatan isro’ mi’roj Nabi Muhammad SAW yang familiar disebut Rajaban masih diselenggarakan oleh sebagian besar ummat Islam di Indonesia, tak terkecuali oleh jama’ah Rifaiyah di kabupaten Kendal...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong> – Pengajian peringatan isro’ mi’roj Nabi Muhammad SAW yang familiar disebut Rajaban masih diselenggarakan oleh sebagian besar ummat Islam di Indonesia, tak terkecuali oleh jama’ah Rifaiyah di kabupaten Kendal Jawa Tengah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiap-tiap desa menyelenggarakan acara tahunan ini dengan suka-cita, dari mulai Purwosari, Kedungasri, Juwiring, Cepokomulyo dan desa-desa lainnya diwilayah kecamatan Rowosari Kendal. Dengan guyup-rukun jama’ah Rifaiyah ini mendatangi acara rajaban yang dilaksanakan bergantian. Bukan Cuma menghadiri pengajian, pengajian rajaban ini sekaligus menjadi moment untuk bersilaturrahim, saling mengunjungi sesama saudara.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Rajaban Di Cepokmulyo</h4>
<p style="text-align: justify;">Ada yang unik didesa Cepokomulyo, desa  yang masuk wilayah kecamatan Gemuh , desa yang hampir 70% warganya merantau ke Jakarta ini akan menyempatkan diri pulang kampung untuk merayakan rajaban dikampung halaman, mereka. Bukan hanya orang tua yang senang, anak-anak pun bergembira karena acara rajaban berarti dapat uang saku dari orang tua, sanak saudara dan kerabat lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pedagang kaki lima dadakan pun menggelar lapak jauh sebelum hari pelaksanaan rajaban, malam hari ibu-ibu dibantu anak-anak menyiapkan snack bapak-bapak dibantu remaja masjid menyiapkan peralatan pengajian, pokoknya benar-benar ramai. Ada istilah yang berkembang “lebaran boleh tidak pulang, tapi rajaban harus pulang”. Ini bukan mengada-ada, lebaran boleh jadi pulangnya setelah hari raya, tapi tidak untuk rajaban, sebab rajaban hanya 1 hari digelar.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengunjungnya pun dari tahun ke tahun kian membludak, dikarenakan warga desa Cepokomulyo  yang menikah dengan warga kampung lain, pas rajaban mereka mengajak seluruh anak, mertua, dan saudara-saudaranya hadir di acara ini. Bagi tuan rumah tentu menyiapkan jamuan yang paling lezat untuk saudara-saudaranya yang akan mampir sebelum dan sesudah aacara pengajian rajaban.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah sekelumit tentang pengajian rajaban di desa kami.(zid)</p>
<p style="text-align: justify;">Foto-foto Acara Rajaban :</p>

<a href='http://tanbihun.com/rifaiyah/galery-photo-kegiatan/pengajian-rajaban-dan-silaturrahim/attachment/rajaban5/' title='rajaban5'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/rajaban5-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="rajaban5" title="rajaban5" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/rifaiyah/galery-photo-kegiatan/pengajian-rajaban-dan-silaturrahim/attachment/rajaban2/' title='rajaban2'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/rajaban2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="rajaban2" title="rajaban2" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/rifaiyah/galery-photo-kegiatan/pengajian-rajaban-dan-silaturrahim/attachment/rajaban6/' title='rajaban6'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/rajaban6-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="rajaban6" title="rajaban6" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/rifaiyah/galery-photo-kegiatan/pengajian-rajaban-dan-silaturrahim/attachment/rajaban3/' title='rajaban3'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/rajaban3-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="rajaban3" title="rajaban3" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/rifaiyah/galery-photo-kegiatan/pengajian-rajaban-dan-silaturrahim/attachment/rajaban4/' title='rajaban4'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/rajaban4-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="rajaban4" title="rajaban4" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/rifaiyah/galery-photo-kegiatan/pengajian-rajaban-dan-silaturrahim/attachment/rajaban1/' title='rajaban1'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/rajaban1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="rajaban1" title="rajaban1" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/rifaiyah/galery-photo-kegiatan/pengajian-rajaban-dan-silaturrahim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesantren Miftahul Ulum Pati</title>
		<link>http://tanbihun.com/rifaiyah/pesantren/pesantren-miftahul-ulum-pati/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/rifaiyah/pesantren/pesantren-miftahul-ulum-pati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 22:28:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren Rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6307</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Data diambil dari beberapa teks peninggalan Hadlratus Syaikh KH. Rois Yahya Dahlan dan wawancara dengan Ibu Nyai Hj. Millati Imronah serta pengamatan dan peninjauan langsung kepada pondok pesantren...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong> &#8211; Data diambil dari beberapa teks peninggalan Hadlratus Syaikh KH. Rois Yahya Dahlan dan wawancara dengan Ibu Nyai Hj. Millati Imronah serta pengamatan dan peninjauan langsung kepada pondok pesantren Miftahul Ulum.</p>
<h4>Awal Berdiri &amp; Pengasuh Pertama</h4>
<p style="text-align: justify;">Pengasuh pertama kali pondok pesantren Miftahul Ulum adalah Hadlratus Syaikh KH. Dahlan yang mempunyai istri Mbah Mardhiah dan lahir pada tahun 1911 M dan wafat tahun 1987 M. Pondok ini dimulai pada tahun 1945 dimana pada saat itu keadaan pesantren masih berbentuk pengajian  dengan suasana santri yang mengaji berada di serambi Masjid tanpa ada tempat khusus atau pun sistematika khusus lainnya. Kemudian pada hari Selasa Legi bulan Dzulhijjah tahun 1950, dari pasangan Hadlratus Syaikh KH. Dahlan dan Mbah Mardhiah terlahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama <span style="text-decoration: underline;"><em>Rois Yahya Dahlan</em></span>. Putra inilah yang kelak akan meneruskan perjuangan beliau dalam melestarikan ajaran Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu pondok pesantren Miftahul Ulum belumlah terbentuk menjadi suatu lembaga khusus dengan sistem pembelajaran dan bangunan fisik seperti sekarang ini. Baru setelah kepulangan Hadlratus Syaikh KH. Rois Yahya dari pondoknya, beliau memulai dengan lebih teratur dan baik.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Guru KH.Rois Yahya Dahlan</h4>
<p style="text-align: justify;">Pada awalnya, Hadlratus Syaikh KH. Rois Yahya belajar kepada <span style="text-decoration: underline;"><em>KH. Ahmad Sholeh</em></span> Kendal selama kurang lebih sebelas bulan. Kemudian beliau pulang ke rumah dan istirahat di rumah selama tiga bulan, kemudian beliau berangkat ke pondok di daerah Kretegan Weleri Kendal yang pada saat itu diasuh oleh <span style="text-decoration: underline;"><em>Hadlratus Syaikh Mbah KH. Bajuri</em></span> selama kurang lebih tujuh tahun. Setelah lulus dan dirasa cukup menguasai ilmu yang dipelajari dari Hadlratus <span style="text-decoration: underline;"><em>Mbah KH. Bajuri,</em></span> kemudian beliau pulang ke kampung halamannya. Karena beliau masih memiliki tekad dan semangat belajar yang tinggi, akhirnya beliau meneruskan pendidikannya ke pondok pesantren di daerah Kaliwungu Kendal yang pada waktu itu diasuh oleh Hadlratus <span style="text-decoration: underline;"><em>Mbah KH. Rukyat </em></span>selama kurang lebih tujuh tahun. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Kaliwungu dan menguasai semua ilmu yang dipelajarinya, kemudian beliau pulang kembali ke rumah dan dilanjutkan pengembaraannya dalam mencari ilmu dengan mondok ke daerah Sarang Rembang Jawa Tengah yang diasuh oleh Hadlratus <span style="text-decoration: underline;"><em>Syaikh KH. Zubair Dahlan</em></span> selama kurang lebih dua tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepulangnya dari Rembang, beliau istirahat di rumah selama empat puluh hari yang kemudian dilanjutkan lagi dengan berziarah ke daerah Batu Ampar Madura selama empat puluh satu hari untuk menjalankan <em>riyadhoh</em>. Disamping giat dan semangat belajar, Hadlratus Syaikh KH. Rois Yahya Dahlan juga selalu mendawamkan puasanya di semua pondok pesantren yang pernah beliau tempati.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kepulangan beliau dari <em>riyadhoh</em> tersebut dan meskipun beliau telah belajar selama bertahun-tahun di beberapa pesantren, beliau tak pernah lelah dalam mencari ilmu. Sehingga beliau kemudian melanjutkan kembali pengembaraannya dengan menimba ilmu ke daerah Magelang. Namun setelah beberapa bulan berselang, ayahanda beliau yaitu Hadlratus Syaikh KH. Dahlan sakit dan akhirnya beliau dijemput oleh sebagian kerabatnya untuk diajak pulang. Setelah ayah beliau sehat, kemudian beliau dinikahkan dengan <span style="text-decoration: underline;"><em>Hj. Millatina Imronah</em></span> yang selanjutnya mempunyai enam keturunan, KH. Ahus Jalaluddin, Ibu Zuhrotul Imamah, Ibu Qistiyatul Abidah, Gus M. A. Zuhurul Fuqohak, Neng sayidatul Muniroh, dan Neng Dzuriyatam Mubirokah. Meski telah berumah tangga, semangat belajar beliau tak pernah padam, sehingga beliau pun kembali mencari ilmu dengan mengkaji kitab <em>Ihya’ Ulumuddin</em> di daerah Magelang Jawa Tengah selama empat puluh hari. Sekembalinya kepulangan beliau dari Magelang, beliau memulai menetap di rumah, untuk melanjutkan perjuangan sang ayah. Di tangan beliau inilah, bibit-bibit pondok pesantren mulai berkembang, membesar, dan banyak muridnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat pertama kali berdiri, pondok masih berada di <em>emperan</em> (teras) rumah Hadlratus Syaikh KH. Dahlan. Namun karena semakin banyaknya santri yang ada, maka dipinjamkankanlah rumah Bapak KH. Ya’qub di sebelah utara rumah Hadlratus Syaikh KH. Dahlan sebagai pondok santri. Sehingga pada suatu saat ada santri yang terlihat dari pinggir jalan oleh Bapak ‘Abbas seorang petugas kepemerintahan yang sedang mengawasi daerah sekitar itu. Kemudian beliau mengikuti santri tersebut sampai ke pondok, dan ternyata beliau melihat belum adanya tempat yang nyaman dan layak bagi santri. Akhirnya beliau mengusulkan dan mengajukan bantuan kepada Depag Kecamatan Kayen untuk dapat memberikan sumbangkan bantuan pembuatan tempat yang lebih sesuai. Dari uang yang sebesar kurang lebih dua setengah juta inilah, kemudian terbentuk pondok pertama yang selanjutnya dinamakan dengan Miftahul Ulum dimana lokasinya adalah di depan masjid Baitul Izzah pada tanggal 17 Agustus 1954. pondok tersebut ditempatkan pada tanah wakaf milik Hadlratus Syaikh KH. Dahlan dengan ukuran 10&#215;24 M<sup>2</sup>.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak awal berdiri, pondok tersebut diasuh oleh Hadlratus Syaikh KH. Dahlan yang wafat pada tahun 1987. Kemudian mulai tahun 1985 perjuangan Hadlratus Syaikh KH. Dahlan dalam membangun dan membina pondok tersebut diteruskan oleh putranya yaitu Hadlratus Syaikh KH. Rois Yahya Dahlan. Pada tahun ini juga dibangun sebuah <em>Musholla</em> yang letaknya berada di sebelah pondok pesantren putri, yaitu di sebelah kiri rumah KH. Abdul Qodir.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 1988 M, dengan menimbang jumlah santri putri yang semakin bertambah, Hadlratus Syaikh KH. Rois Yahya Dahlan berinisiatif untuk membangun pondok putri baru di sebelah selatan rumah KH. Abdul Qodir agar dapat menampung santri yang lebih banyak serta memberikan kenyamanan bagi santri dalam menuntut ilmu. Tahun 1991 dilakukan perenovasian dan kemudian dibangunlah masjid Baitul Izzah yang terletak di samping pondok putra tersebut. Pada tahun ini pula, Hadlratus Syaikh KH. Rois Yahya Dahlan menunaikan ibadah haji untuk melengkapi kewajiban orang Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 2000 M, beliau kembali meneruskan pembangunan dengan membuat pondok putri baru yang letaknya di sebelah barat pondok lama, yaitu di samping rumah Hadlratus Syaikh KH. Abdul Qodir, sehingga di tempat tersebut ada dua buah bangunan pondok putri sebelah barat dan pondok putri sebelah timur.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah sampai akhirnya pondok tersebut menjadi semakin maju, baik dalam bidang fisik maupun aktivitasnya. Sengaja KH. Rois Yahya Dahlan memberikan nama pondok pesantrennya adalah Miftahul Ulum, karena beliau berharap kelak dari pondok tersebut memang benar-benar menjadi kunci para santri-santrinya untuk memasuki gudangnya ilmu dan menjadi perantara sebagai kapal bagi mereka dalam mengarungi samudra ilmu yang sangat luas dan dalam.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Sistem Pendidikan</h4>
<p style="text-align: justify;">Aktivitas dalam sistem pendidikan pondok pesantren Miftahul Ulum untuk pertama kali hanyalah kegiatan mengaji dan belum ada Madrasah Diniyah baik <em>Ula</em> maupun <em>Wusth</em>o. Dan pada waktu itu hanya menggunakan dua metode pembelajaan. Yaitu metode <em>bandongan</em> dan <em>sorogan</em>.</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Bandungan yaitu proses pembelajaran dengan dengan metode pengajaran yang aktivitasnya dipegang penuh oleh Hadlratus Syaikh KH. Dahlan atau Hadlratus Syaikh KH. Rois Yahya putranya. Sehingga santri hanya butuh pendengaran dan penulisan hal-hal yang dianggap penting, atau bertanya tentang sesuatu yang dianggap masih <em>musykil</em>.</li>
<li style="text-align: justify;">Sorogan yaitu proses pembelajaran dengan metode pengajaran tiap santri, satu persatu mempelajari bab pelajaran tertentu serta membacanya, dimana sebelumnya Sang Kiai terlebih dahulu membacakan bab pelajaan tersebut.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Kedua metode pembelajaran sepereti ini tetap berlanjut hingga Hadlratus Syaikh KH. Dahlan meninggal dunia. Kemudian selang beberapa tahun setelah itu, beliau Hadlratus Syaikh KH. Rois Yahya Dahlan berinisiatif untuk mendirikan madrasah diniyyah dalam pondok pesantren. Dan demi mengenang perjuangan sang ayah, madrasah tersebut dinamakan Madrasah Diniyyah Ad-Dahlaniyyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga sekarang metode dan sistem tersebut berkembang lebih rapi dan lebih maju. Ada pula penambahan beberapa metode pengajaran, yaitu dengan dimulai dari pagi ngaji bandongan di kediaman Syaikh dan terkadang diselingi dengan pembuatan makalah khusus oleh santri senior yang dilanjutkan dengan presentasi dan tanya-jawab selama kurang lebih satu jam. Kemudian setelah selesai pengajian dari kediaman Syaikh digunakan untuk istirahat, dan setelah Dzuhur dilanjutkan dengan pembacaan Bughyatal Mustarsyidin atau kitab-kitab lainnya oleh KH. Ahus Jalaludin untuk para asatidz dan asatidzah serta para murid senior, dan madrasah diniyyah untuk para santri kelas empat ke bawah yang dimulai dari jam setengah tiga sampai jam empat sore. Kemudian istirahat dan dilanjutkan dengan jamaah ashar bersama, serta mengaji bandongan para santri kepada para asatidz yang telah ditentukan. Setelah sholat maghrib berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan mengaji sorogan kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulai jam delapan malam, aktivitas dimulai dengan kegiatan belajar bersama yang diteruskan dengan musyawarah rutinan harian sampai sekitar jam setengah sebelas yang di lanjutkan dengan kegiatan terakhir yaitu pelatihan pembacaan kitab salaf sesuai dengan tingkatan kelas masing-masing bagi santri-santri yang masih duduk di kelas tiga ke bawah. Adapun para santri senior dan asatidz atau ustadzah mengikuti kegiatan pembacaan kitab tertentu seperti Fathul Wahhab, Al-Fiyyah, atau kitab-kitab lain yang diampu oleh Ust. M. A. Zuhurul Fuqohak sampai jam sembilan yang dilanjutkan dengan pembacaan masing-masing santri sampai jam sepuluh. Dan kemudian diteruskan musyawarah dengan penjagaan oleh asatidz yang telah ditentukan.</p>
<p>Demikianlah sejarah pondok pesantren Miftahul Ulum dari awal berdiri sampai sekarang beserta kegiatan-kegiatan yang telah berjalan di pondok pesantren Miftahul Ulum.</p>
<h4>Adapun untuk agenda pembelajaran dan tanggal kinerja pondok pesantren dapat dilihat dari jadwal berikut:</h4>
<div>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="43"><strong>No.</strong></td>
<td width="84"><strong>Tanggal</strong></td>
<td width="117"><strong>Bulan</strong></td>
<td width="410"><strong>Kegiatan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="43">1</td>
<td width="84">15</td>
<td width="117">Syawwal</td>
<td width="410">Masukan awal pondok pesantren Miftahul Ulum</td>
</tr>
<tr>
<td width="43">2</td>
<td width="84">11</td>
<td width="117">Dzul Qo’dah</td>
<td width="410">Pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani rutin tiap tanggal   sebelas</td>
</tr>
<tr>
<td width="43">3</td>
<td width="84">17</td>
<td width="117">Dzul Qo’dah</td>
<td width="410">Khaul Al-Marhum lahum KH. Abu Bakar, KH. Dahlan, dan KH. Rois   Yahya Dahlan</td>
</tr>
<tr>
<td width="43">4</td>
<td width="84">10</td>
<td width="117">Dzulhijjah</td>
<td width="410">Libur Hari Raya Idul Adha</td>
</tr>
<tr>
<td width="43">5</td>
<td width="84">01</td>
<td width="117">Muharram</td>
<td width="410">Ijazah Puasa ‘Asyuro</td>
</tr>
<tr>
<td width="43">6</td>
<td width="84">11</td>
<td width="117">Muharram</td>
<td width="410">Penampilan pembacaan Ghoribul Alfadz dan Khataman Al Qur’an oleh   kelas tiga</td>
</tr>
<tr>
<td width="43">7</td>
<td width="84">22</td>
<td width="117">Shofar</td>
<td width="410">Tes semester gasal</td>
</tr>
<tr>
<td width="43">8</td>
<td width="84">1 &#8211; 14</td>
<td width="117">Rabiul Awwal</td>
<td width="410">Libur semester gasal</td>
</tr>
<tr>
<td width="43">9</td>
<td width="84">15</td>
<td width="117">Rabiul Awwal</td>
<td width="410">Masukan kegiatan semester dua</td>
</tr>
<tr>
<td width="43">10</td>
<td width="84">01</td>
<td width="117">Rojab</td>
<td width="410">PKL (Praktek Kerja Lapangan kelas empat)</td>
</tr>
<tr>
<td width="43">11</td>
<td width="84">11</td>
<td width="117">Rojab</td>
<td width="410">Penampilan pembacaan Kitab Fathul Qorib</td>
</tr>
<tr>
<td width="43">12</td>
<td width="84">13 &#8211; 18</td>
<td width="117">Rojab</td>
<td width="410">Ujian Akhir Pesantren</td>
</tr>
<tr>
<td width="43">13</td>
<td width="84">22 &#8211; 29</td>
<td width="117">Rojab</td>
<td width="410">Tes Semester genap Madrasah Diniyyah</td>
</tr>
<tr>
<td width="43">14</td>
<td width="84">1 &#8211; 9</td>
<td width="117">Sya’ban</td>
<td width="410">Fastabiqul Khoirot (lomba-lomba menjelang Akhirussanah)</td>
</tr>
<tr>
<td width="43">15</td>
<td width="84">11</td>
<td width="117">Sya’ban</td>
<td width="410">Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Miftahul Ulum</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alamat Lengkap PPMU : Desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati Jawa Tengah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/rifaiyah/pesantren/pesantren-miftahul-ulum-pati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rifaiyah Bagian Dari Saya Atau Saya Bagian Dari Rifaiyah?</title>
		<link>http://tanbihun.com/rifaiyah/rifaiyah-bagian-dari-saya-atau-saya-bagian-dari-rifaiyah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/rifaiyah/rifaiyah-bagian-dari-saya-atau-saya-bagian-dari-rifaiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 13:06:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Saifullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Rifaiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Apa Rifaiyah Itu?]]></category>
		<category><![CDATA[Kenapa Rifaiyah?]]></category>
		<category><![CDATA[ungkapan hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6236</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Untuk membahas Rifaiyah, kita bisa menggunakan teori 5W 1H. Pertama kita akan menanyakan Apa Rifaiyah, atau Siapa Rifaiyah. Lebih benar yang mana? Siapa atau apa? Siapa biasanya digunakan untuk...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><img class="alignright size-full wp-image-6237" title="bertanya" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/bertanya.jpg" alt="" width="200" height="300" />Tanbihun</strong>- Untuk membahas Rifaiyah, kita bisa menggunakan teori 5W 1H. Pertama kita akan menanyakan Apa Rifaiyah, atau Siapa Rifaiyah. Lebih benar yang mana? Siapa atau apa? Siapa biasanya digunakan untuk menanyakan makhluk yang berakal. Sedangkan apa menanyakan benda, atau makhluk tanpa akal. Apakah Rifaiyah berakal?</p>
<p style="text-align: justify;">
Aku lebih senang bertanya apa Rifaiyah itu? Karena sudah jelas Rifaiyah tidak berakal. Rifaiyah itu bikinan manusia. Seingat saya Istilah itu belum muncul pada tahun 1980 an. Baru terdengar lirihnya suara Rifaiyah pada tahun 90-an. Istilah Rifaiyah muncul setelah istilah Rifaiyah Tarajumah. Rifaiyah dimunculkan dalam pengetahuan umum dalam arti untuk merujuk kepada organisasi masyarakat yang bernama Rifaiyah. Yang dimaksud Rifaiyah itu yaa.. organisasi Rifaiyah. Karena Rifaiyah adalah organisasi maka dibuat oleh manusia, berarti setiap bikinan manusia pasti tidak berakal. Maka jangan menanyakan Siapa Rifaiyah, tapi yang benar Apa Rifaiyah?</p>
<p style="text-align: justify;">
Kalau Rifaiyah bikinan manusia berarti antara yang bikin dan bikinannya pasti mulia yang bikin, karena ia manusia yang dilabeli sebagai ahsani taqwim. Kalau manusia paling mulia, maka jangan sampai diperbudak bikinannya sendiri ya&#8230;? karena bisa jadi tahayul lho. Bisa jadi juga kena julukan penyembah berhala yang bernama ‘rifaiyah.’</p>
<p style="text-align: justify;">
Berkata seperti di atas bisa saja disangkal dengan pendapat kedua yang bertanya Siapa Rifaiyah? Karena Rifaiyah bisa dimaknai kang bongso rifai alias para anak murid Mbah Rifai, pengikut <a href="http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/mengenal-kh-ahmad-rifai/" target="_blank"><span style="color: #0000ff;">KH. Ahmad Rifa’i</span></a>. Tentu mereka terdiri dari ribuan, bahkan jutaan manusia yang berakal. Maka kalau bertanya yang pas dengan pertanyaan Siapa Rifaiyah?</p>
<p style="text-align: justify;">
Kalau memakai kacamata tata negara, kita bisa melihat Rifaiyah dengan menyejajarkan dengan negara. Negara itu bukan pemerintah. Tetapi seringkali para pakar terlena menyamakannya. Negara itu mempunyai komponen: Rakyat, Teritorial, Kedaulatan, Konstitusi, Sejarah, Pengakuan di dunia Internasional dll.<br />
Katakanlah Struktural kepengurusan Organisasi Rifaiyah dari Pusat sampai Ranting itu kita samakan dengan pemerintah. Dari mulai presiden hingga kepala desa. Bedanya pemerintah digaji dengan uang rakyat, sedangkan para pengurus Jamiyah Rifaiyah ini tak dibayar alias malaikatan. Secara Fiqih tidak ada tuntutan sama sekali untuk para pengurus untuk menjalankan kerjanya karena ia tidak pernah menerima haknya, maka sudah sewajarnya mereka tak menjalankan kerja yang bukan kewajibannya. Kalau anda diwajibkan shalat, karena anda sudah digaji dengan keseluruhan hidup anda yang gratis. Gimana kalau misalnya mata ditarik biaya sewanya. <em>Mampus deh lu&#8230;</em></p>
<p style="text-align: justify;">
Maka benar juga ada beberapa utusan daerah yang mengusulkan dalam mukernas Rifaiyah, agar pimpinan pusat digaji.  Seperti disinggung di depan, Rifaiyah itu negara. Ia punya rakyat yang bernama Jamaah Rifaiyah. Punya pemerintah yang bernama Rifaiyah. Punya Presiden yang bernama Mukhlisin Muzarie. Punya Konstitusi yang bernama Usfita. Punya wilayah dari DKI hingga Kalimantan. Punya kedaulatan, karena ia tak pernah di tuntun kekuatan lain di luar dirinya. Punya pengakuan dari ormas-ormas lainnya, MUI, juga dari pemerintah.</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong>Kedudukan Organisasi</strong><br />
Organisasi bisa dimengerti cukup dari kata-katanya saja. Organ bisa diupamakan dengan organ tubuh. Dalam organisasi ada yang berkedudukan sebagai tangan, kepala, mata, kaki, mulut. Dll. Misalnya begini. Sekretaris = tangan, Kepala = ketua, mulut = humas, perut bendahara, dll. Tentu keseluruhan organ itu harus berfungsi juga bekerja. Dan kesinergian antar organ-organ itu dinamakan dinamis.</p>
<p style="text-align: justify;">
Secara nyata organisasi di dalam Rifaiyah berkedudukan sebagai label atau stempel. Bukan penggerak amaliah, kegiatan, dan program. Pendapat ini tak seratus persen benar dan salah. Benarnya ketika ada beberapa kegiatan yang dipelopori warga Rifaiyah kemudian organisasi Rifaiyah kepingin melabeli dan mengakui bahwa kegiatan itu menjadi program pimpinan organisasi Rifaiyah. Kasus ini sangat banyak terjadi di tingkat Pimpinan Daerah.</p>
<p style="text-align: justify;">
Kalau keluarga kita punya ide, dan ingin dilaksanakannya, tentu musyawarah untuk menggodok ide dengan pelaksanaannya lebih berat pelaksanannya. Lebih banyak memakan biaya pelaksanaannya, bahkan mungkin bandingannya 1:9. Tapi dalam organisasi Rifaiyah terjadi sebaliknya 9:1.  Muktamar dan mukernas menghabiskan dana sekian puluh juta. Sedangkan pelaksanaan programnya menghabiskan beberapa juta saja. Itupun dengan menggunakan uang pribadi bendahara atau masing-masing individu pimpinan teras Rifaiyah. Itu bukti bahwa kerja organisasi yang seharusnya colective, justru dipanggul sendiri dananya oleh individu terkaya. Kalau tujuan organisasi itu mencapai mardlotillah secara berjamaah, maka kemungkinan banyak jamaah yang ditinggal di tengah jalan oleh supir. Orang-orang Rifaiyah sudah maklum menguras energi untuk menggodok ide. Setelah itu kita orgasme sebelum bertempur. Jadi lemes deh&#8230;pelcrut.<br />
Mungkin paradigmanya harus dibalik. Untuk menggodok ide tak harus membuat forum yang melelahkan, cukup berbarengan dengan acara-acara selapanan. Dan pelaksanaanya yang kita genjot pol energinya. Karena untuk membuat program itu enteng dan mudah. Pelaksanaannya sungguh, amat, sangat berat dan berkeringat.</p>
<p style="text-align: justify;">
Kalau ditanya apakah saya bagian dari Rifaiyah, atau Rifaiyah bagian dariku. Maka aku siap menjawab Rifaiyah bagian dariku. Karena didalam ku juga terdapat bagian-bagian lainnya: Ada NU, Muhammadiyah, Dusukiah, Maiyah, Salafiah, dll.</p>
<p style="text-align: justify;">
Semua wadah itu hanya cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan berjamaah. Kalau anda numpang perahu menuju pulau seberang, sedangkan perahu anda berlubang, maka cepatlah pindah perahu agar engkau tak tenggelam. Atau kalau punya keberanian berenanglah sendiri tanpa kapal, tanpa alat selam. Kalau anda numpang mobil bernama jamiyah rifaiyah menuju mardlotillah, tetapi di tengah jalan supirnya lupa mampir ke warung remang-remang. Apa yang akan anda lakukan. Bisa mengingatkan supir, tapi kalau supir ngeyel pindah mobil juga dihalalkan, karena masih banyak mobil di jalan.</p>
<p style="text-align: justify;">
Tidak hanya racun yang membahayakan. Semua makhluk di dunia punyai dua kemungkinan baik dan buruk. Berarti organisasi Rifaiyah pun juga punya kemungkinan buruk. Dalam konteks apa kira-kira. Semua lembaga punya potensi untuk menggali uang, dana dan pundi, termasuk organisasi Rifaiyah. Cukup dengan membuat program yang terserat dalam proposal. Kemungkinan anggaran pemerintah mengucur. Tetapi setelah mengucur dimanfaatkan diri sendiri. Itu namanya memanfaatkan Rifaiyah untuk kepentingan pribadi. Organisasi bisa menjadi racun, ketika ia dijadikan alat pencetak uang.</p>
<p style="text-align: justify;">
Kemungkinan negatif lainnya organisasi juga bisa dimanfaatkan pemimpinnya untuk mencari uang, jabatan, saat pemilihan daerah berlangsung. Misalnya dengan transaksi suara jamaah ditukar dengan imbalan uang, pemberian fasilitas, gedung, kaos kepada sejumlah massa calon pemilih fanatik.  Organisasi juga terbukti telah menjadikan orang tersekat-sekat. buktinya Sangat jarang Kiai NU mengisi pengajian di Muhammadiyah, dan sebaliknya. Otomatis pengajiannya juga sendiri-sendiri. Sehingga kiai yang tersekup dalam organisasi tertentu sangat langka bisa menjadi penengah. Dalam konteks ini keberadaan ormas juga malah menjadi penghalang kemaslahatan dan kebersamaan, kalau interaksinya tidak dimulai.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Paciran Lamongan, 10 Mei 2011<br />
Ahmad Saifullah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/rifaiyah/rifaiyah-bagian-dari-saya-atau-saya-bagian-dari-rifaiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesimpulan Majelis Mudzakarah Rifa’iyah Pusat Di Ponpes Raudhatul Ri’ayah Tanahbaya Randudongkal Pemalang, 23 April 2011/ 19 Jumadil Ula 1432 H (Update)</title>
		<link>http://tanbihun.com/rifaiyah/agenda-kegiatan/kesimpulan-majelis-mudzakarah-rifa%e2%80%99iyah-pusat-di-ponpes-raudhatul-ri%e2%80%99ayah-tanahbaya-randudongkal-pemalang-23-april-2011-19-jumadil-ula-1432-h/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/rifaiyah/agenda-kegiatan/kesimpulan-majelis-mudzakarah-rifa%e2%80%99iyah-pusat-di-ponpes-raudhatul-ri%e2%80%99ayah-tanahbaya-randudongkal-pemalang-23-april-2011-19-jumadil-ula-1432-h/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 May 2011 19:10:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6128</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/sk-mudzakaroh.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-6536" title="sk mudzakaroh" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/sk-mudzakaroh.jpg" alt="" width="546" height="1367" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/rifaiyah/agenda-kegiatan/kesimpulan-majelis-mudzakarah-rifa%e2%80%99iyah-pusat-di-ponpes-raudhatul-ri%e2%80%99ayah-tanahbaya-randudongkal-pemalang-23-april-2011-19-jumadil-ula-1432-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Protected: Menulis Bersama Tentang Bid&#8217;ah Hasanah</title>
		<link>http://tanbihun.com/rifaiyah/pesantren/menulis-bersama-tentang-bidah-hasanah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/rifaiyah/pesantren/menulis-bersama-tentang-bidah-hasanah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Apr 2011 10:14:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[rifaiyah anti wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6106</guid>
		<description><![CDATA[There is no excerpt because this is a protected post.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<form action="http://tanbihun.com/wp-pass.php" method="post">
<p>This post is password protected. To view it please enter your password below:</p>
<p><label for="pwbox-6106">Password:<br />
<input name="post_password" id="pwbox-6106" type="password" size="20" /></label><br />
<input type="submit" name="Submit" value="Submit" /></p></form>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/rifaiyah/pesantren/menulis-bersama-tentang-bidah-hasanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

