<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tanbihun Online &#187; Sejarah</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/category/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 15:30:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Sekilas Isi Buku Dahlan Asy&#8217;ari Kisah Perjalanan Wisata Hati</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/buku/sekilas-isi-buku-dahlan-asyari-kisah-perjalanan-wisata-hati/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/buku/sekilas-isi-buku-dahlan-asyari-kisah-perjalanan-wisata-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 05:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=40536</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Dahlan Asy&#8217;ari kisah perjalanan wisata hati Penulis: Susatyo Budi Wibowo, Elis Widayanti Penerbit: Diva Press, 2011 ISBN: 6029785532, 9786029785531 Tebal: 268 halaman Sekilas tentang isi buku  KH. Ahmad Dahlan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/02/377_Dahlan.jpg"><img class="size-full wp-image-40537 alignnone" title="Ebook Dahlan Asyari" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/02/377_Dahlan.jpg" alt="Ebook Dahlan Asyari" width="200" height="300" /></a>Judul: <strong>Dahlan Asy&#8217;ari kisah perjalanan wisata hati</strong><br />
Penulis: <strong>Susatyo Budi Wibowo, Elis Widayanti</strong><br />
Penerbit: <strong>Diva Press, 2011</strong><br />
ISBN: <strong>6029785532, 9786029785531</strong><br />
Tebal: <strong>268 halaman</strong></p>
<h2><span style="color: #ff6600;">Sekilas tentang isi buku</span></h2>
<p style="text-align: justify;"> KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari adalah sama-sama keturunan Sunan Giri (Syekh Maulana ‘Ainul Yaqin), yang apabila ditarik garis ke atas, nasabnya sampai kepada Rasulullah Saw. Ketika keduanya lahir, oleh orang tua mereka masing-masing diberi nama depan yang sama, yaitu Muhammad. Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis, sedangkan nama kecil KH. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim. Keduanya pernah berguru kepada ulama besar yang sama, yaitu kepada KH. Saleh Darat al-Samarangi, Syekh Mahfud al-Tarmasy, dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Apakah ini sebuah kebetulan?</p>
<p style="text-align: justify;">KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yang berlambang matahari,  KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdhatul Ulama (NU) yang berlambang bumi dan bintang. Muhammadiyah banyak dijiwai oleh semangat QS. Ali Imran ayat 104, sedangkan NU, QS. Ali Imran ayat 103. Dan, K.H. Hasyim Asy’ari mendirikan NU tidak lama setelah K.H. Ahmad Dahlan wafat. Apakah ini juga sekadar kebetulan?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, di samping menjawab pertanyaan di atas, buku istimewa ini bakal mengupas lebih jauh kedua tokoh ulama karismatik abad ke-20 tersebut yang dalam pentas pergulatan sosial keagamaan di Indonesia namanya sudah sangat-sangat populer.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat membaca buku biografi sejarah yang ditulis dengan teknik penyampaian menarik, gaya tutur mengalir, kaya data, dan sangat informatif ini!</p>
<p style="text-align: justify;">Dan, terutama sangat cocok untuk Anda yang ingin melakukan perjalanan wisata hati</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/buku/sekilas-isi-buku-dahlan-asyari-kisah-perjalanan-wisata-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Kitab Yang Memuat Tentang Taubatnya Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah</title>
		<link>http://tanbihun.com/usulidin/inilah-kitab-yang-memuat-tentang-taubatnya-imam-taqiyuddin-ibnu-taimiyah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/usulidin/inilah-kitab-yang-memuat-tentang-taubatnya-imam-taqiyuddin-ibnu-taimiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 20:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[kitab Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=39933</guid>
		<description><![CDATA[PROLOG KE TIGA Taubatnya Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah Banyak di kitab-kitab yang cenderung melaporkan masalah aqidah atas ucapan ucapan dan karangan karangan yang di nisbatkan/sandarkan kepada imam Taqiyuddin Ahmad ibnu...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah1.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39935" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah1" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah1-789x1024.jpg" alt="" width="620" height="804" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PROLOG KE TIGA</strong><br />
<strong>Taubatnya Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
Banyak di kitab-kitab yang cenderung melaporkan masalah aqidah atas ucapan ucapan dan karangan karangan yang di nisbatkan/sandarkan kepada imam Taqiyuddin Ahmad ibnu Taimiyah Rahimahullah. Sebagian dari mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya imam besar ini telah bertaubat dari aqidah aqidahnya dan telah kembali kepada kebenaran. Saya disini akan menukilkan tanggal-sejarah itu berikut dengan teks nya yang saya salin dari kitab “Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah” karya amirul mukminin dalam hadis, yaitu imam al hafidz Abi Fadl ibnu Hajar Al Atsqolani terbitan 1414H cetakan Darul Jail-Juz 1 hal.148. Namun sebelum itu ada pemaparan <strong>Imam Nuwairi</strong>. Beliau adalah ulama yang hidup sejaman dengan imam ibnu taimiyah dan pemaparan orang orang yang menyaksikan peristiwa pertaubatan tersebut. Imam Nuwairi mengatakan bahwa peristiwa pertaubatan ibnu taimiyah ini juga disaksikan oleh golongan yang menyimpang (pro ibnu taimiyah)penj. atau maksudnya golongan yang bersebrangan dengan ibnu taimiyah (maaf jk salah terjemah). Ibnu Hajar berkata:”Yang menyaksikan peristiwa pertaubatan ini terdiri dari aliansi ulama dll.</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong>Imam Nuwairi</strong> berkata:”Masalah imam Taqiyuddin ini berkelanjutan hingga beliau di jebloskan ke dalam penjara bawah tanah yang berada di benteng gunung hingga datanglah amir Hisamuddin ke pintu pemerintahan untuk melayani beliau pada bulan Rabi’ul awwal tahun 707 H. Hingga kemudian Hisamuddin menanyakan duduk permasalahan ibnu taimiyah ini kepada pemerintah yang berwajib dan akan menolongnya sehingga pemerintah memberi grasi kepada ibnu taimiyah dan akhirnya beliau bebas pada hari jum’at tanggal 23 bulan (?) (pada bulan itu pula)penj. Yaitu rabi’ul awwal. Dan kemudian ibnu taimiyah di hadirkan ke gedung penuntutan (pengadilan)penj. Yang berada disitu (benteng gunung). Dan terjadilah pembahasan bersama para pakar ilmu kemudian kumpullah golongan dari ulama yang terkemuka, namun acara tersebut tidak dihadiri oleh hakim ketua yaitu Zainuddin Al Maliky dikarnakan beliau sakit dan tak hadir pula dari para hakim yang lain. Namun hasil dari pembahasan tersebut ibnu taimiyah menulis kemudian ditulis oleh dewan majlis dengan tulisan yang terjamin dan di tanda tangani oleh para saksi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong>BISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM</strong><br />
Kesaksian orang yang telah ikut membubuhkan tulisannya ketika telah ada teken dari dewan majlis untuk Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah Al harani Al Hanbali ini dihadapkan kepada markas besar yang mulia amir adil Assaifi raja sultan Salar Al Maliky An Nashiri wakil dari sultan agung. Dan hadir pula didalamnya golongan dari para ulama.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah2.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39940" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah2" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah2-717x1024.jpg" alt="" width="620" height="885" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dan pembesar pembesar ahli fatwa terdepan mesir disebabkan apa yang pernah di nukil dari pemikiran ibnu taimiyah dan tulisan beliau yang sudah di ketahui sebelum itu yaitu masalah masalah yang berhubungan dengan akidah beliau seperti “Sesungguhnya Allah itu berbicara dengan suara”, dan “bahwa makna istiwa’ itu atas makna hakikat/dhohirnya dll yang bertentangan dengan ahli kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;">
Akhirnya majlis itu selesai setelah pembahasan itu berjalan lama. Ibnu taimiyah mengembalikan akidahnya itu kembali sehingga beliau berucap dihadapan para saksi (SAYA ASY’ARI) sambil mengangkat kitab faham asy’ariyah di atas kepalanya. Dan saya bersaksi atasnya dengan apa yang tertulis berikut ini:</p>
<p>“Segala puji milik Allah yang aku beri’tikad pada-Nya bahwa Al Qur’an berdiri diatas makna Dzat Allah. Dan itu sifat dari beberapa sifatNya yang qodim dan ajali. Dan Ia bukan makhluk. Bukan dengan huruf dan bukan pula dengan suara.<br />
Ini di tulis oleh Ahmad Ibnu Taimiyah.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Demi Dzat yang aku beri’tikad kepadaNya dari firmanNya yang berbunyi:</p>
<h2 style="text-align: justify;">
(الرحمن على عرش استوى) طه:5</h2>
<p style="text-align: justify;">Itu di pahami seperti apa yang telah dipahami banyak orang, yaitu bukan seperti hakikat dan dhohirnya lafad. Saya tidak tahu makna ganti dan maksudnya, bahkan tidak diketahui itu kecuali hanya Allah swt.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Ini ditulis oleh Ahmad Ibn Taimiyah.</p>
<p>Pendapatnya dalam masalah “turunnya” (Allah) itu juga sama seperti masalah “istiwa”. Aku katakan seperti apa yang aku katakan, yaitu “Saya tidak mengetahui makna ganti dan maksudnya, bahkan tidak akan diketahui kecuali Allah swt. Bukan atas hakikat dan dhohir lafadnya.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
<strong>Ahmad ibnu Taimiyah telah menulis ini.</strong></p>
<p>Tulisan pengakuannya ini ia tulis pada hari minggu tanggal 25 rabi’ul awwal tahun 707 H.</p>
<p>Dan inilah naskah/salinan apa yang telah ia tulis dengan tulisannya sendiri. Dan saya (imam nuwairi) menjadi saksinya pula bahwa beliau bertaubat kepada Allah dari apa yang ia yakini selama ini (4 masalah). Dan dia (ibnu taimiyah) melafadzkan dua kalimah syahadat yang agung. Saya bersaksi atasnya dengan sukarela dan seleksi dalam masalah itu semua di benteng gunung yang terjaga dari gedung gedung mesir. Semoga Allah menjaganya. Amien..</p>
<p>Dengan sejarah hari minggu tanggal 25 robi’ul awwal tahun 707 yang di saksikan oleh golongan orang orang yang terkemuka yang patuh dan tunduk dan golongan yang menyimpang.<br />
Aku keluarkan ini dan aku tetapkan di kairo. (selasai ucapan imam nuwairi).<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Ini dari kitab “Nihayatul arob fi fununil adab” milik hakim Syihabuddin an nuwairy. Beliau wafat pada tahun 733 H. cetakan darul kutub mesir 1998M juz 32 hal.115-116.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah3.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39949" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah3" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah3-793x1024.jpg" alt="" width="620" height="800" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Imam al hafidz ibnu hajar al asqolani</strong> berkata: &#8220;Ibnu taimiyah masih tetap di penjara bawah tanah hingga ditolong/diberi grasi oleh amir ali fadl sehingga beliau akhirnya bebas dibulan rabiul awwal tanggal 23 dan kemudian di hadapkan di sebuah benteng dan dilaksanan pembahasan (dialog terbuka)penj. Bersama sebagian pakar fikih hingga akhirnya tercatat sebuah catatan pengakuan ibnu taimiyah bahwa dia berkata:”Saya berpaham asy’ariyah”. Dan di jumpai pula tulisan beliau dengan teks sbb:</p>
<p>“Segala puji milik Allah yang aku beri’tikad pada-Nya bahwa Al Qur’an berdiri diatas makna Dzat Allah. Dan itu sifat dari beberapa sifatNya yang qodim dan ajali. Dan Ia bukan makhluk. Bukan dengan huruf dan bukan pula dengan suara.<br />
Sedangkan firman Allah yang berbunyi:</p>
<h2 style="text-align: justify;">
(الرحمن على عرش استوى)</h2>
<p style="text-align: justify;">
ini bukan seperti dhohirnya lafadnya. Saya tidak tahu makna ganti dan maksudnya, bahkan tidak diketahui itu kecuali hanya Allah swt. Dan pendapatnya dalam masalah “turunnya” (Allah) itu juga sama seperti masalah “istiwa”. (bukan seperti dhohirnya dan tidak diketahui muradnya).<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
<strong>Ibnu taimiyah telah menulisnya ini</strong>.</p>
<p>Kemudian para hadirin menyaksikannya bahwa dia bertaubat sebagai pilihannya dari apa yang ia yakini dulu dan itu terjadi pada tanggal 25 rabiul awwal tahun707 H. Dan peristiwa itu di saksikan pula oleh sebagian besar dari ulama dll. Setelah kasus ini reda, akhirnya di rilis (pengakuan taubat ibnu taimiyah ini)penj. ke permukaan. Dan beliau tinggal di kairo.</p>
<h3 style="text-align: justify;">
Adapun selain imam ibnu hajar dan imam nuwairi yang menuturkan tentang pertaubatan ibnu taimiyah ini terdiri dari ulama dan para pakar sejarah, yaitu:</h3>
<p style="text-align: justify;">
<strong>1. ابن المعلم(w.725) فى نجم المعتدى salinan paris nomor 638 </strong><br />
<strong>2. الدواداى(w.736) فى كنزالدرر- الجامع 239</strong><br />
<strong>3. ابن تغري بردي الحنفى (w.874) فى المنهل الصافى- الجامع 576</strong></p>
<p>Yang ke semua ini isinya sama seperti penuturannya ibnu hajar. Dan juga telah dinukil pula di kitab<br />
<strong>النجوم الزاهرة – الجامع 580</strong></p>
<h3 style="text-align: justify;">
SITUASI ORANG ORANG KARNA PERTAUBATAN IBNU TAIMIYAH:</h3>
<p style="text-align: justify;">
Seluruh ulama sepakat atas kebenaran peristiwa pertaubatan imam ibnu taimiyah rahimahullah ini. Namun setelah itu terjadi perselisihan tentang sikap ibnu taimiyah tsb. Ia jujur taubat sebenarnya atau murni permainan kata-kata/kamuflase atau taqiyah (kepura puraan)penj. (Agar segera dibebaskan).</p>
<p><strong>Sikap orang orang ada dua kelompok:</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>: Kubu yang membenarkan hal itu dan menaruh simpati kepada ibnu taimiyah, karena telah membawa kaum muslimin keluar menuju yang terbaik dan mendorong kepada kaum muslimin yang lain, oleh karena itu banyak ulama yang membelanya (taubat)penj. dan menentang siapa saja yang menuduh dia bid’ah. (karena taubat)penj.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Kubu yang berasumsi bahwa pertaubatannya itu tidak benar/tidak terbukti. Kubu ini ada dua versi, yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah4.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39951" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah4" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah4-721x1024.jpg" alt="" width="620" height="880" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PIHAK PERTAMA MENGATAKAN</strong>:”Orang orang telah memaksa ibnu taimiyah telah berbuat bid’ah dan memaksa keluar dari aqidahnya ahli kebenaran seperti yang telah ditegaskan dalam kitab kitab beliau. Dan atau seperti yang sudah banyak dinukil oleh para pengikut fanatiknya bahwa beliau ditetapkan dibanyak kitab bahwa beliau meninggal dunia di penjara.</p>
<p>Adapun ucapan mereka yang menyatakan bahwa ibnu taimiyah menghembus nafas terakhirnya di penjara, JAWABANNYA ADALAH:”Memang benar, namun itu dalam tahanan yang terakhir, yaitu beliau di jebloskan ke penjara lagi karena tersandung masalah fiqhiyah dan furu’iyah, seperti masalah fatwa haramnya bagi orang yang bepergian untuk berziarah kemakam Nabi Saw dll. Jadi bukan masalah akidah yang telah ia taubati itu.</p>
<h3 style="text-align: left;">
Mengenai tidak ditemukannya dalil penguat/pembenaran atas taubatnya beliau di kitab kitab beliau atau referensi valid dari beliau JAWABANNYA ADALAH:</h3>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Ibnu Taimiyah tidak mencetak semua kitab kitabnya. Sehingga dengan indikasi ini kami menguatkan.</strong></p>
<p><strong>2. Alasan lain bahwa kitab kitabnya yang telah tercetak terdapat banyak kekeliruan puluhan halaman seperti yang terjadi dalam kitab fatawanya terutama dari lembaran lembaran dan kalimatnya. Sebuah kesalahan jika kami menetapkan tidak adanya pencabutan ibnu taimiyah atas akidahnya atau tidak memungkinkannya kembalinya beliau kepada kebenaran.</strong></p>
<p><strong>3. Kitab kitab yang beredar kini dan fatwa fatwa yang di nisbatkan kepada beliau, itu semua di kumpulkan 5 abad/lebih setelah beliau wafat. Dan itu semata mata hanya salinan-salinan yang tidak jelas yang tak bisa membenarkan dan yang tak bisa menyanggah hal itu.</strong></p>
<p><strong>PIHAK KEDUA MENGATAKAN</strong>:”Ini mengenai martabat sebuah akidah yang beliau taubati. Pihak ini mengatakan bahwa taubatnya ibnu taimiyah ini hanyalah permainan kata kata dan taqiyyah (menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati untuk menyelamatkan diri-pent) bukan yang lain. Dan inilah yang banyak di anut oleh pengikutnya hingga sekarang. Dan menurut mereka pula, ini tidak benar jika taubat dari keyakinannya di nisbatkan kepada sosok seorang ibnu Taimiyah rahimahullah karena ia beri’tikad bahwa akidahnya-lah yang diatas kebenaran. Bagaimana pula dia menyerah/tidak berpegang teguh dalam pendiriannya sedangkan beliau adalah seorang pemimpin dan panutan dalam masalah kebenaran ini. Pihak ini berdalih seperti teguh dan sabarnya imam Ahmad bin Hambal [yang memilih tetap dipenjara-pent]. (tatkala disuruh mengakui bahwa Al Qur’an itu adalah makhluk-pent) dan ulama ulama yang lain.</p>
<p><strong>[Penulis kitab berkata]</strong><br />
Adapun yang benar adalah yang menguatkan bahwa ibnu Taimiyah telah bertaubat dari akidahnya, segala puji milik Allah. Tujuan saya dari semua ini adalah setiap bantahan dan sanggahannya mengenai pesan ini. Saya tidak bermaksud membahas secara personal seorang ibnu taimiyah, saya hanya bermaksud dengan apa yang telah disebutkan dalam kitab kitabnya, entah itu pendapat beliau disaat belum taubat (Allah bersemayam)red. Atau itu hanya ucapannya orang yang berbuat buat atas nama ibnu taimiyah rahimahullah.</p>
<p style="text-align: justify;">
Sehingga kesimpulannya adalah:’Bantahan/sanggahan ini ditujukan pada pendapat/opini yang berkembang saat ini, bukan pada sang penutur/pengucap(ibnu taimiyah)red. seperti yang ada sekarang ini.</p>
<p style="text-align: center;">
<p>……………………&#8230;<strong>T A M A T</strong>…………………….</p>
<p style="text-align: justify;">
<p>Semoga bermanfaat, sehingga menjadi khazanah ilmu pengetahuan anda semua…<br />
Saya ucapkan banyak terima kasih bagi kawan kawan disini yang telah mendukung atas terbitnya scan kitab ini : )</p>
<p>Saya juga mohon maaf jika ada terjemahan yang kurang berkenan dalam hati kawan kawan disini. Jangan lupa di copy paste atau hanya di download saja gambar scan kitab ini (scan#1-2-3-4). Afwan bagi rekan rekan yang tidak kena [Tag] oleh saya karena keterbatasan pertemanan atau perangkat saya. Saya ijinkan pula bagi siapa saja yang ingin menyebarkannya dengan cara mengeTag teman temannya /dll.</p>
<p style="text-align: center;">
<p>::::::::::::: KEBENARAN HANYA MILIK ALLAH:::::::::::</p>
<p style="text-align: justify;">
Scan ini adalah kitab:</p>
<h2 style="text-align: justify;">د ررالالفاظ العاوالي فى الرد على الموجان والحوالي</h2>
<p style="text-align: justify;">Karya:</p>
<h2 style="text-align: justify;">غيث بن عبدالله الغالبي</h2>
<p style="text-align: justify;">Adapun riwayat pertaubatan ibnu taimiyah ini ada dalam kitab:</p>
<h2 style="text-align: justify;">الدررالكامنة فى اعيان المائة الثامنة</h2>
<p style="text-align: justify;">Karya ulama pakar hadis dan fikih abad ke-8, yaitu Ibnu Hajar Al Asqolany.<br />
Seperti yang tertera dalam scan#1.</p>
<p>Saya meriwayatkan ini dari SANAD berikut ini:</p>
<h2 style="text-align: right;">
ارويها عن الشيخ محمد أمين الهرري عن الشيخ محمد ياسين بن محمد عيسى الفادني عن السيد جعفر بن محمد الحداد, والسيد منصور بن عبدالحميد الفلمباني المكي, كلاهما عن والد الثاني السيد عبد الحميد بن محمود الفلمباني عن ابيه المعمر السيد محمود بن كنان الفلمباني عن المعمر الشيخ عبد الصمد بن عبد الرحمن الأشي الشهير بالفلمباني عن السيد عمادالدين يحي بن عمر مقبول الأهدل الزبيدى عن محمد بن عمر بن مبارك بحرق الحضرمي عن السيد أحمد بن حسين العدروس التريمي عن السيد محمد بن على خرد التريمي عن محمد بن عبد الرحمن الخاوي عن مؤلفها الحافظ أبي الفضل أحمد بن علي بن حجر العسقلاني.</h2>
<p style="text-align: justify;">Kalau memang riwayat scan#1-2-3-4 ini dikatagorikan lemah, mungkin karena ada satu rowinya yang penuh dosa, hina dan tidak pandai berdebat ini, yaitu saya sendiri.. hehehehe..</p>
<p>Salam Aswaja !!</p>
<div id="fbPhotoPageAuthorName"><a href="https://www.facebook.com/profile.php?id=100001572504293" data-hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=100001572504293">Kaheel Baba Naheel</a></div>
<div>Ini hasil dari scan saya sendiri (bukan ngambil dari link) dan berikut dengan terjemahannya saya sendiri.<br />
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan atau terjemahannya dikarenakan keterbatasan ilmu yang saya miliki.</div>
<div></div>
<div>Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.</div>
<p style="text-align: justify;">
<p>► Jgn Lp Copas Download<br />
█║▌│█│║▌║││█║▌║▌║</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/usulidin/inilah-kitab-yang-memuat-tentang-taubatnya-imam-taqiyuddin-ibnu-taimiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KH. Ahmad Rifa’i &amp; KH. Ahmad Dahlan Dua Sosok “Reformis” Yang Berbeda</title>
		<link>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/kh-ahmad-rifa%e2%80%99i-kh-ahmad-dahlan-dua-sosok-%e2%80%9creformis%e2%80%9d-yang-berbeda/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/kh-ahmad-rifa%e2%80%99i-kh-ahmad-dahlan-dua-sosok-%e2%80%9creformis%e2%80%9d-yang-berbeda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 15:02:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama-ulama Yang Menjadi Pahlawan Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=33258</guid>
		<description><![CDATA[Keduanya sama-sama memperjuangkan ajaran Islam sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. Akan tetapi, terdapat perbedaan yang mendasar dari keduanya, yakni persfektif terhadap Kolonial Belanda. Tanbihun- ULAMA sejatinya berfungsi sebagai panutan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: justify;"><span style="color: #333399;">Keduanya sama-sama memperjuangkan ajaran Islam sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. Akan tetapi, terdapat perbedaan yang mendasar dari keduanya, yakni persfektif terhadap Kolonial Belanda.</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/2-tokoh-reformis-islam.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-33260" title="2 tokoh reformis islam" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/2-tokoh-reformis-islam-300x181.png" alt="" width="300" height="181" /></a>Tanbihun</strong>- ULAMA sejatinya berfungsi sebagai panutan masyarakat. Memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran agama sebagaimana yang sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada masyarakat muslim sebelumnya. Ulama dituntut untuk bisa memberikan rujukan yang otentik tentang ajaran agama Islam atas problematika kehidupan masyarakat muslim yang tak pernah surut.Dalam wilayah ini ulama berperan sebagai pewaris ajaran Nabi. Sebagaimana hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Khathib melalui Jabir, Rasul Saw bersabda: “Muliakanlah oleh kalian para ulama, karena mereka adalah pewaris para nabi; barangsiapa memuliakan mereka berarti ia memuliakan Allah dan Rasul-Nya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits lain yang cukup panjang dijelaskan pula bahwa ulama adalah orang-orang yang terpilih diantara sekian banyaknya manusia, “Orang-orang yang terpilih dari umatku adalah para ulama dan para ulama yang terpilih adalah orang-orang yang paling belas kasihan. Ingatlah, sesungguhnya Allah SWT, benar-benar memberi ampunan kepada orang alim sebanyak empat puluh macam dosa, sebelum Dia memberi ampunan satu macam dosa terhadap orang yang jahil (tidak mengerti agama), ingatlah, sesungguhnya orang alim yang belas kasihan itu kelak di hari kiamat ia datang dalam keadaan bercahaya, dan sesungguhnya cahaya orang alim itu selalu menerangi jalan yang ditempuhnya sejauh antara arah timur dan arah barat, cahayanya itu seakan-akan bintang yang kemilau cahayanya.” (HR. Al-Qudha’i melalui Ibnu Umar r.a.)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini menjelaskan bahwa ulama adalah sebaik-baik manusia setelah Nabi. Mereka adalah pewaris sekaligus penerus ajaran Nabi. Kemilau cahaya Ilahi dalam perangai mereka, mampu menerangi dunia yang gelap -antara timur dan barat- dari cahaya kemuliaan agama. Begitu luasnya pengaruh kemuliaan ulama, sampai-sampai Allah SWT mengabadikannya di dalam Al-Qur’an, “Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Fathir [35]: 28)</p>
<p style="text-align: justify;">Pantas saja, kehidupan para ulama dahulu yang memperjuangkan integritas ajaran Islam selalu dirundung oleh berbagai macam tudingan, ancaman, serta hukuman yang sangat berat dari musuh Islam yang benci kepada pergerakan dakwah mereka. Hal itu tidak lekas menyurutkan pergerakan dakwah mereka. Mereka (para mujahid) lebih gencar lagi mendakwahkan Islam sebagai sebuah agama rahmatan lil’alamin. Berikut adalah profile dua tokoh pejuang Islam yang sama-sama memperjuangkan identitas Islam atas dasar Al-Qur’an dan as-Sunnah. Akan tetapi, terdapat perbedaan yang cukup kontras diantara keduanya, yakni sikap terhadap Kolonial Belanda.</p>
<h4 style="text-align: left;">Ahmad Rifa’i, Ulama Sekaligus Pahlawan Nasional</h4>
<p style="text-align: justify;">Ia adalah ulama besar ahli Tarekat. Ia sangat gigih melawan kolonialisme Belanda ketika menancapkan pengaruhnya di Nusantara. Oleh karena itu, Presiden Susilo Bambang Yudoyono memberikan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional, melalui Kepres Nomor: 089/TK/2004. Selain itu, Kyai Rifa’i juga dikenal sebagai sosok pemimpin rakyat yang tegas, ulet dan teguh dalam pendirian. Sehingga, DR. Karel Steenbring dalam salah satu tulisannya, menyebut Kyai Rifa’i sebagai reformis fundamentalis sejati. Kekuatan tokoh ini menurut beliau, terletak pada prinsip dan semangat juangnya, yakni tekad untuk mengembalikan Islam pada Al-Qur’an dan Sunnah. Ahmad Rifa’i dilahirkan di Desa Tempuran, Kabupaten Semarang pada hari Kamis tanggal 9 Muharram tahun 1200 Hijriah bertepatan dengan tahun 1786 Masehi (dalam versi lain 1785). Ayahnya bernama Muhammad Marhum bin Abi Sujak Wijaya, seorang penghulu di Kendal, Jawa Tengah. Ibunya bernama Siti Rohmah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad Rifa’i merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara. Mungkin sudah menjadi ketentuan dari Allah bahwa dalam sejarahnya seorang calon mujahid yang tangguh akan mengalami cobaan yang bertubi-tubi. Begitu pula dengan Ahmad Rifa’i. Beliau ditinggal pergi oleh ayahanda tercinta untuk selama-lamanya. Pada waktu itu ia masih berusia enam tahun. Inilah awal cobaan yang diterima oleh Ahmad Rifa’i dari Allah Swt sebelum cobaan lain yang lebih besar menimpa dirinya. Setelah kepergian ayahnya, Ahmad Rifa’i diasuh oleh kakaknya, Nyai Rajiyah binti Muhammad, yang merupakan istri dari ulama pendiri dan pengasuh Pesantren Kaliwungu, KH. Asy’ari. Maka, dimulailah perjuangan Ahmad Rifa’i dalam menebarkan pesan-pesan ajaran agama Islam kepada masyarakat luas.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia berjuang dan menyebarkan Islam dengan gigih dan tak kenal menyerah. Relasi ia kumpulkan agar lebih mudah dalam menyebarkan pesan-pesan agama bagi masyarakat luas. Perjalanan hidup Kyai Rifa’i amatlah panjang dan berliku. Ketika masih kecil, ia mulai berdakwah dengan melakukan tabligh keliling di daerah Kendal dan sekitarnya. Disamping menyampaikan masalah tentang keagamaan, Rifa’i juga menyampaikan masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat, terutama masalah tentang arti kemerdekaan dan perjuangan melawan kolonial. Bentuk dakwah seperti ini lah yang menjadi cikal bakal diasingkannya KH Ahmad Rifa’i beserta para ulama lainnya oleh pemerintah kolonial ke daerah Ambon, dan selanjutnya ke Manado. Namun, berkat kegigihan dan girah yang tinggi tak lekas menyurutkan semangat juang Kiayi Rifa’i beserta pengikutnya untuk terus mendakwahkan ajaran Islam. Kyai Rifa’i tetap konsisten dalam menyebarkan ajaran Islam. Bahkan, ketika ia diasingkan oleh kolonial, bukannya surut, pergerakannya malah semakin membuat pihak kolonial takut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 1838, ia dibuang ke kalisalak, sebuah desa terpencil di Kecamatan Limpung, Batang, namun mujahid yang tak pernah patah arang ini pada tahun 1841 justru membangun sebuah Pesantren Al-Qur’an di kawasan Hutan Belantara itu. Pesantren baru ini berkembang pesat, lama kelamaan santrinya berdatangan dari berbagai penjuru pulau jawa. Tapi gara-gara aktivitasnya itulah pemerintah Belanda lagi-lagi gerah. Apalagi karena Kyai Rifai tetap saja menggembleng para patriot desa dengan semangat anti penjajah yang kafir. Dalam mengompori gerakannya, Kyai Rifa’i tampil menentang penjajah dengan Gerakan Tarajumah. Gerakan ini lebih menekankan pada aspek keagamaan dengan budaya masyarakat lokal. Ia membuka kesadaran masyarakat untuk menjadikan Islam sebagai roh kehidupan dan perjuangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata Tarajumah, dialek Sunda untuk kata Tarjamah dari bahasa Arab, diambil dari kitab agama karangannya yang ia susun di sela-sela mengajar. Selain Tarajumah, Kyai Rifa’i berhasil menyusun Kitab Nazam Wikayah. Kitab ini berisi anjuran kepada kaum muslim Jawa untuk menentang dan melawan orang kafir Belanda serta mereka yang bersekutu dengannya. Slamete dunya akherat wajib kinira nglawan raja kafir sekuasane kafikira tur perang sabil lewih kadene ukara kacukupan tan kanti akeh bala kuncara (Keselamatan dunia-akherat wajib diperhitungkan melawan raja kafir sekemampuannya perlu dipikirkan‟ demikian juga perang sabil lebih dari pada ucapan cukup tidak menggunakan pasukan yang besar) Selain doktrin kepada pemerintah kolonial Belanda, K.H. Ahmad Rifa’i juga mengajarkan doktrin protesnya terhadap birokrat feodal tradisional yang menjadi kaki tangan Belanda. Merekalah musuh yang paling berbahaya bagi pergerakan dakwah Kyai Rifa’i beserta para pengikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Doktrin ini terlihat dalam Kitab Tarqhib. Tanbihun, tinemu negara Jawi rajane kufur Iku amar naha ora gugur Saben mukalaf ghalib ana kuasa milahur Uga bisa ghalib derajate luwih luhur Tinemu alim fasiq ngilmune ketanggungan Ningali ing negara Jawi dhalim rajane kinaweruhan Iku aweh pitutur tinemu linakonan Wajib amar naha sabab akeh kamaksiatan (Ingatlah! Sekarang didapati penjajah sudah menguasai negara Jawa Berjuang mencegah selalu diharapkan Tiap-tiap rakyat dewasa kalau mampu melaksanakan Kalau memang benar-benar mampu mencegahnya akan memperoleh kemulyaan Kamudian, kalau didapati ada alim penghianat yang ilmunya diragukan Otomatis mereka melihat Jawa jelas dikuasi penjajah dan menindas rakyat Sikapnya mestinya harus memberi penjelasan ke arah yang baik untuk dilaksanakan Sebab wajib bagi mereka mencegah kalau sudah terjadi wabah kemaksiatan). Dalam serangkaian tulisannya, Kyai Rifa’i selalu menyebut Belanda sebagai penjajah kafir, dan siapapun yang berkolaborasi dengan Belanda, maka hukumnya juga Kafir, dan halal untuk diperangi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandangan seperti itu, akhirnya menjadi fatwa yang tersebar luas di kalangan masyarakat Kalisalak dan sekitarnya. Sehingga membuat Belanda sangat marah dan mengejeknya dengan julukan “Setan Kalisalak”. Bahkan atas suruhan Belanda pula, sejumlah ulama yang pro Belanda sempat menggelarinya sebagai “Ulama Sesat”. Karena sikapnya yang begitu keras memerangi Belanda, mengakibatkan ia harus mendapat kecaman, bahkan ancaman serius dari pemerintah Belanda, maupun ulama yang bersebrangan dengannya. Akhirnya larangan berdakwah pun dikeluarkan, tapi ia tetap jalan terus, bahkab semakin gencar. KH. Ahmad Rifa’i adalah ulama sekaligus mujahid, pejuang Islam, ia dicintai dan sangat dekat dengan rakyat, terutama karena ia mampu mengajar agama dengan bahasa lokal Jawa, campur Sunda, sebagai bahasa perantara. Ia menulis puluhan kitab Agama dalam bahasa Jawa dengan menggunakan huruf Pegon, huruf Arab berbahasa Jawa. Tak kurang dari 55 judul kitabnya, kini masih dibaca oleh para pengikutnya. Kyai Rifa’i menyebut kitab-kitab dalam bahasa Jawa itu sebagai Tarajumah, yang berarti Terjemahan. Hingga saat ini masih ada beberapa murid Kyai Rifa’i yang melanjutkan dakwah dan perjuangannya. Antara lain, Abdul Aziz (Wonosobo) Ishak (Kendal), Imam Puro (Batang) Abu Salim (Pekalongan) dan masih banyak lagi. Para pengikut Kyai ini membentuk sebuah organisasi yang bernama Rifa’iyah, berpusat di Kedungwuni, Pekalongan, Jawa Tengah. KH. Ahmad Rifa’i berpulang ke Rahmatullah pada tahun 1870 (pada umur 84 tahun) sewaktu diasingkan oleh Kolonial Belanda di Kampung Jawa Tondano, Manado, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kyai Mojo. Semoga semangat perjuangan dakwah beliau yang sangat tinggi bisa kita miliki dalam menjalankan kewajiban kita sebagai seorang muslim. Serta semoga ia mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.</p>
<h4 style="text-align: left;">Ahmad Dahlan, Menentang Tradisi Lokal</h4>
<p style="text-align: justify;">Ahmad Dahlan adalah salah satu ulama besar di zamannya yang berani dengan keras menentang kebijakan Kolonial Belanda atas sistem kastaisasi pendidikan untuk kaum bumi putera. Ia lahir di Yogyakarta pada 1 Agustus 1868 dengan nama kecil Muhammad Darwis. Adapaun nama Ahmad Dahlan adalah pemberian gurunya sewaktu belajar di Kota Mekah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad Dahlan adalah putera keempat dari tujuh bersaudara (lima saudaranya perempuan dan dua lelaki yakni ia sendiri dan adik bungsunya) dari pasangan dari K.H. Abu Bakar (seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu) dengan Nyai Abu Bakar (puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu). Jadi, secara genealogis Ahmad Dahlan adalah keturunan darah biru dari Kasultanan Yogyakarta. Jika ditelusuri lebih jauh dalam silsilah keluarga, Ahmad Dahlan termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar diantara Wali Songo.</p>
<p style="text-align: justify;">Silsilahnya lengkapnya ialah Muhammad Darwis (Ahmad Dahlan) bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadla bin Kyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlul’llah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim. Wajar saja jika pergerakan dakwah Ahmad Dahlan bersikap ideologis dan keras menentang kolonialisme Belanda di Nusantara. Keluasan ilmu Ahmad Dahlan di kemudian hari berawal dari pendidikan keluarga yang sangat mengutamakan pendidikan agama. Ia dididik oleh keluarganya melalui metode pendidikan nabawi dengan hidup di lingkungan pesantren. Sehingga wajar, Dahlan kecil memiliki pemikiran berbeda dari kebanyakan remaja seusianya pada waktu itu yang lebih sibuk dengan agenda hura-hura. Dahlan kecil lebih berfikir ke depan tentang realitas keagamaan masyarakat sekitar yang banyak mengusik naluri pembaharuannya di masa depan. Tak ayal, ketika usia 15 tahun ia memutuskan untuk pergi haji dan belajar agama Islam lebih dalam di Kota Mekah. Ketika berada di Mekah, Ahmad Dahlan semakin intens berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibn Taimiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Interaksi ini sangat berpengaruh pada semangat, jiwa dan pemikiran Dahlan ketika pulang ke Indonesia. Setelah lima tahun belajar di Mekah, tepatnya pada tahun 1888, saat berusia 20 tahun, Dahlan kembali ke kampungnya. Lalu, ia pun diangkat menjadi khatib amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Pada tahun 1902, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya, sekaligus dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Mekah hingga tahun 1904. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syekh Ahmad Khatib, pembaharu dari Minangkabau yang juga guru dari pendiri organisasi NU, KH. Hasyim Asyari. Sepulang dari Mekah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil. Siti Walidah, kemudian lebih dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah (salah satu organisasi intern Muhammadiyah).</p>
<p style="text-align: justify;">Pasangan ini mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Zaharah. Di samping itu, KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman dari Yogyakarta. Perjalanan spiritual Ahmad Dahlan dalam memahami Islam cukuplah panjang dan berliku. Berguru ke berbagai tempat, serta mendapatkan banyak pemahaman tentang agama Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal terpenting dari perjalanan spiritual Ahmad Dahlan adalah ketika ia berhasil mengubah paradigma masyarakat kampungnya yang bersifat ortodok menjadi lebih modern. Menurutnya, ortodok mengakibatkan kejumudan berfikir, stagnasi pemikiran yang semakin menurunkan aspek nalar intelektual. Hal ini menjadi nilai tambah bagi Kolonial Belanda yang sedang menancapkan faham kolonialismenya di Indonesia dan menjadi nilai kurang bagi bangsa dan negara Indonesia sendiri. Karena perilaku keagamaannya berlainan dengan kebiasaan masyarakat sekitar -seperti menjauhi tradisi sesajenan, mengubah arah kiblat- ia sempat digelari oleh masyarakat dengan sebutan “Kyai Kafir.” Hal terberat dalam perjalanan dakwah Ahmad Dahlan adalah ketika langgar tempat mengajinya dirobohkan oleh masyarakat sekitar karena mendapat hasutan dari kyai yang bersebrangan dengan idealismenya dalam menentang praktek keagamaan yang ortodok.</p>
<p style="text-align: justify;">Perjuangan Ahmad Dahlan dalam memurnikan ajaran Islam dari unsur tradisi lokal yang puritan, banyak didorong oleh sang istri Siti Walidah, serta murid-murid setianya. Sempat beliau berputus asa ketika dakwah Islamiyahnya terganjal oleh hasutan Kyai pro Belanda. Namun, atas kebesaran hati Ahmad Dahlan serta dorongan kuat dari keluarga, terutama sang istri, akhirnya Ahmad Dahlan kembali membangun semangat untuk memurnikan niatnya dalam mendakwahkan ajaran Islam. Ahmad Dahlan adalah pendiri organisasi besar Muhammadiyah yang berpusat di Yogyakarta. Beliau mendirikan Muhammadiyah pada tanggal 18 Noember 1912 Masehi bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 Hijriah. Dalam website resmi PP Muhammadiyah, dijelaskan bahwa kata “Muhammadiyah” secara bahasa berarti “pengikut Nabi Muhammad”.</p>
<p style="text-align: justify;">Penggunaan kata “Muhammadiyah” dimaksudkan untuk menisbahkan (menghubungkan) dengan ajaran dan jejak perjuangan Nabi Muhammad. Penisbatan nama tersebut menurut H. Djarnawi Hadikusuma mengandung pengertian sebagai berikut: “Dengan nama itu dia bermaksud untuk menjelaskan bahwa pendukung organisasi itu ialah umat Muhammad, dan asasnya adalah ajaran Nabi Muhammad saw, yaitu Islam. Dan tujuannya ialah memahami dan melaksanakan agama Islam sebagai yang memang ajaran yang serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, agar supaya dapat menjalani kehidupan dunia sepanjang kemauan agama Islam. Dengan demikian ajaran Islam yang suci dan benar itu dapat memberi nafas bagi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.” Pada masa kepemimpinan Ahmad Dahlan (1912-1923), pengaruh Muhammadiyah terbatas hanya di karesidenan-karesidenan, seperti: Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam. Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatera Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Singkat cerita, pada tahun 1938 Muhammadiyah telah tersebar keseluruh wilayah Indonesia dan mulai mengembangkan program dakwahnya secara lebih besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat;</li>
<li style="text-align: justify;">Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam;</li>
<li style="text-align: justify;">Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan</li>
<li style="text-align: justify;">Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Mengenai langkah pembaharuan Kyai Dahlan, yang merintis lahirnya Muhammadiyah di Kampung Kauman, Adaby Darban (2000: 31) menyimpulkan hasil temuan penelitiannya sebagai berikut: “Dalam bidang tauhid, KH. Ahmad Dahlan ingin membersihkan aqidah Islam dari segala macam syirik. Dalam bidang ibadah, membersihkan cara-cara ibadah dari bid’ah. Dalam bidang mumalah, membersihkan kepercayaan dari khurafat, serta dalam bidang pemahaman terhadap ajaran Islam, ia merombak taklid untuk kemudian memberikan kebebasan dalam ber-ijtihad.” Ketauhidan menjadi prioritas utama organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan ini. Hal ini berawal dari realitas masyarakat Kauman Yogyakarta yang melakukan ritual keagamaan bercampur mistik. Ahmad Dahlan mengetahui bahwa hal tersebut adalah syirik yang sangat berbahaya dilakukan oleh seorang muslim karena perilaku syirik adalah hal yang paling dibenci oleh Allah dan tidak akan pernah diampuni.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh : <a title="Dian kurnia" href="http://initialdastroboy.wordpress.com/2011/08/20/dua-sosok-“reformis”-yang-berbeda-kh-ahmad-dahlan-kh-ahmad-rifa’i/" target="_blank">Dian Kurnia</a> Mahasiswa Sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/kh-ahmad-rifa%e2%80%99i-kh-ahmad-dahlan-dua-sosok-%e2%80%9creformis%e2%80%9d-yang-berbeda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KH. AHMAD RIFA&#8217;I:Pahlawan Nasional Melawan Penjajah dengan Dakwah</title>
		<link>http://tanbihun.com/sejarah/kh-ahmad-rifaipahlawan-nasional-melawan-penjajah-dengan-dakwah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sejarah/kh-ahmad-rifaipahlawan-nasional-melawan-penjajah-dengan-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 09:42:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[kh ahmad rifai]]></category>
		<category><![CDATA[Pahlawan Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=33240</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- KH. Ahmad Rifa’i adalah sosok ulama dan pejuang yang gigih, istiqomah dan kreatif. Halangan, tantangan, intimidasi tak mampu menyurutkan semangatnya untuk menyerukan kebenaran dalam beragama sesuai tuntutan syari’at Islam....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/merah-putih.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-33241" title="merah putih" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/merah-putih-298x300.jpg" alt="Hari Pahlawan Nasional 2011" width="298" height="300" /></a>Tanbihun</strong>- KH. Ahmad Rifa’i adalah sosok ulama dan pejuang yang gigih, istiqomah dan kreatif. Halangan, tantangan, intimidasi tak mampu menyurutkan semangatnya untuk menyerukan kebenaran dalam beragama sesuai tuntutan syari’at Islam. Penjara dan pengasingan tidak membuatnya jera untuk melawan penindasan penjajah Belanda. Sungguh hari demi hari disibukkan dengan mendidik santri-santrinya yang datang dari berbagai penjuru tanah jawa, pada hari-hari tertentu beliau sempatkan untuk mengunjungi murid-muridnya yang telah pulang dan menyebarkan ilmu yang telah dipelajarinya dipesantren Kalisalak asuhan KH. Ahmad Rifa’i.</p>
<p style="text-align: justify;">Keberanian yang lahir dari keikhlasan KH. Ahmad Rifa’i sangat Nampak jelas, ratusan kitab karya-karya beliau dapat dijadikan bukti keistiqomahan beliau. Perjuangan melawan penjajah belanda semakin hari semakin kuat diteriakkan, lambat laun kesadaran masyarakat akan pentingnya kemerdekaan kian menyebar, kondisi ini membuat resah para petinggi pribumi yang menghamba kepada pemerintahan belanda, para kyai yang bekerja kepada pemerintahan belanda juga merasa kepentingannya terganggu dan terancam oleh dakwah yang dimotori oleh KH. Ahmad Rifa’i.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melalui berbagai cara, akhirnya fitnah yang mereka lontarkan berbuah manis, KH. Ahmad Rifa’I diasingkan ke Ambon. Meskipun hidup ditanah buangan semangat dakwah dan perjuangan beliau tak kenal surut. Ini bisa dibuktikan dengan surat-surat beliau kepada keluarga, anak dan murid-muridnya yang ada dijawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Semangat beliau melawan penjajahan belanda terus beliu gemakan dalam kitab-kitab yang ditulisnya. Berkat keteguhan dan keberaniannya menentang penjajahan lewat gerakan dakwah Islamiah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberinya gelar sebagai pahlawan nasional melalui Kepres Nomor 089/TK/2004. Sosoknya menjadi teladan bagi para ulama dan menjadi panutan bagi umat Islam dalam membela agama dan bangsa.(zid)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sejarah/kh-ahmad-rifaipahlawan-nasional-melawan-penjajah-dengan-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Bayangkare Islah” Cikal Bakal Walisongo</title>
		<link>http://tanbihun.com/sejarah/%e2%80%9cbayangkare-islah%e2%80%9d-cikal-bakal-walisongo/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sejarah/%e2%80%9cbayangkare-islah%e2%80%9d-cikal-bakal-walisongo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 00:44:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Walisongo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=31984</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- “Tiada seyogyanya seseorang patut menjadi pemimpin, Kecuali tatkala ia telah menguasai tiga hal, yakni: Ilmunya para cendekia, Kebijaksanaan para bijak bestari, Dan Ia telah memiliki siasat raja- raja……”. (Syekh...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/Masjid-Demak.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-31985" title="Masjid Demak" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/Masjid-Demak.jpeg" alt="" width="300" height="210" /></a>Tanbihun</strong>- “Tiada seyogyanya seseorang patut menjadi pemimpin, Kecuali tatkala ia telah menguasai tiga hal, yakni: Ilmunya para cendekia, Kebijaksanaan para bijak bestari, Dan Ia telah memiliki siasat raja- raja……”. (Syekh Abdul Qodir Al- Jiilany).</p>
<p style="text-align: justify;">Peng- Islaman tanah Jawa tidak bisa dipungkiri adalah hasil strategi dakwah yang jitu dari Raden Rahmat, bergelar Sunan Ampel, bernama asli Haji Bong Tak Keng.  Beliau lahir di Champa- Kamboja (menurut Rafles yang dimaksud dengan Champa adalah Jeumpa- suatu daerah di Aceh).</p>
<p style="text-align: justify;">Kedatangan beliau ketanah Jawa pada tahun 1443 H adalah untuk menemui bibinya, putri Dwarawati yang menjadi permaisuri Raja Majapahit : Prabu Kertawijaya, namun sekaligus menyiapkan strategi dan lahan untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa yang saat itu secara resmi dan dominan beragama Hindu dibawah naungan Kerajaan Hindu Majapahit yang saat itu makin sering dilanda pertikaian dan intrik antara keluarga kerajaan dan berada dalam ambang kehancuran.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka dengan strateginya beliau membentuk suatu Dewan Dakwah (yang sering dikenal sebagai Dewan Wali) yang disiapkan dan diambil terutama dari kader- kader keluarga dekatnya, kemudian menugaskan mereka berdakwah didaerah- daerah penugasan mereka pada seluruh wilayah dan provinsi Kerajaan Majapahit.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu diketahui bahwa kerajaan Majapahit pada pertengahan abad ke-15 dibagi menjadi sembilan provinsi: Trowulan (ibukota), Daha, Blambangan, Matahun, Tumapel, Kahuripan, Lasem, Wengker, dan Pajang. Sunan Ampel menunjuk seorang misionaris untuk setiap daerah strategis di provinsi-provinsi:</p>
<p><strong>Dalam strategi dakwahnya </strong><strong>Sunan Ampel </strong><strong>mengatur susunan dewan sebagai berikut:</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Sunan Ampel</strong> sendiri, bertindak sebagai pemimpin dan mengelola ibukota Majapahit, yakni Trowulan, Jenggala Manik (dekat Ampel), Canggu, dan Jedong.</li>
</ol>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Raden Ali Murtadho</strong>, saudara Sunan Ampel, ditunjuk untuk berdakwah  di wilayah Gresik dan Tuban. Dia juga disebut Raden Santri Ali di daerah itu.</li>
</ol>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Abu Hurairah</strong>, sepupu Sunan Ampel berdakwah  di Majagung daerah dan memiliki gelar Pangeran (Pangeran) Majagung. Dia juga disebut Raden Burereh oleh masyarakat setempat.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Syekh Maulana Ishak</strong>, paman Sunan Ampel itu, pergi untuk berdakwah  di provinsi Blambangan dan memiliki gelar Waliyul Syekh Islam. Dia juga disebut Syekh Wali Lanang.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Maulana Abdullah</strong>, paman Sunan Ampel itu, berdakwah  di Pajang dan memiliki gelar Syekh SutaMaharaja.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Kyai Banh Tong</strong> ditugaskan untuk berdakwah  di provinsi Lasem dan disebut Syekh Bentong oleh masyarakat setempat. Putrinya adalah salah satu dari banyak istri raja Majapahit.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Khalif Husain</strong>, sepupu Sunan Ampel itu, berdakwah  di Madura, sebuah timur laut pulau Jawa.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Usman Haji</strong>, putra Husain Khalif, berkhotbah di Ngudung di Matahun provinsi dan memiliki gelar Pangeran Ngudung.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Kedelapan Pendakwah  disebut sebagai  <strong>“</strong><strong>Bayangkare ishlah</strong><strong>”</strong>  oleh Sunan Ampel. Mereka semua guru sufi dan tasawuf itu kemudian membuat dan menetapkan konsep dasar mereka dalam menyebarkan Islam. Karisma dan kecerdasan mereka membantu memenangkan simpati dari penguasa lokal dan banyak dari para Pendakwah itu yang kemudian menikah (ditugaskan agar mereka bisa menikah) dengan gadis dari keluarga bangsawan. Sunan Ampel sendiri menikah dengan Nyi Ageng Manila (atau Dewi Condrowati), putri dari seorang perwira tinggi di kerajaan Majapahit, yakni Arya Teja, Sang Bupati Tuban. Syekh Maulana Ishak menikahi putri Prabu Menak Sembuyu (Sadmuddha), raja Blambangan. Kalifah Husain dan Ali Murtadho menikahi putri dari Arya Baribin, penguasa Madura. Maulana Abdullah menikahi  Endang Senjanila dari Tirang. Dengan memiliki hubungan keluarga dengan penguasa lokal mereka bisa mengajarkan Islam secara efektif.</p>
<p><strong>Gelombang kedua </strong><strong>Team Pendakwah </strong><strong>dikirim beberapa tahun kemudian oleh Sunan Ampel untuk memperkuat</strong><strong> para Pendakwah </strong><strong> yang pertama:</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Raden Hasan atau Raden Fatah,</strong> putra Sri Kertawijaya dengan istrinya yang keturunan Cina, berdakwah  di Glagah Wangi, Bintara, di provinsi Lasem untuk menggantikan kakeknya, Syekh Bentong. Dia memiliki gelar Pangeran Bintara.</li>
</ol>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Raden Husen,</strong> setengah-saudara Raden Hasan, ditunjuk untuk berdakwah di Trowulan, ibukota Majapahit.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Raden Makdum Ibrahim</strong>, putra Sunan Ampel, dikirim ke Daha, dan memiliki gelar Pangeran Anyakrawati. Ia kemudian dikenal sebagai Sunan Bonang.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Raden Hamzah</strong>, putra Sunan Ampel, ditugaskan untuk berdakwah  di Tumapel dan memiliki gelar Pangeran Tumapel. Dia juga dikenal sebagai Syekh Ambyah atau Syekh Kambyah.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Raden Mahmud</strong>, putra Sunan Ampel, juga dikenal sebagai Syekh Sahmut, berdakwah di Sepanjang, Kahuripan, dan memiliki judul Pangeran Sepanjang.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Sunan Ampel dan para rekannya menggunakan pendekatan persuasif untuk menarik orang Jawa masuk Islam. Mereka mengeksploitasi mitos Hindu dan kepercayaan untuk menyebarkan ajaran Islam. Mereka membuat cerita baru yang terkait dengan mitos  seperti ceritera wayang  dan memasukkan akidah Islam ke dalamnya, seperti adanya JIMAT KALIMUSODO alias kalimat Syahadat yang dimiliki oleh Pramu Samiaji. Cerita-cerita yang telah berisi ajaran Islam secara bertahap menjadi populer di kalangan umat Hindu dan membuat mereka akrab dengan Islam, dan kemudian sanggup membentuk kultur Islam (Islamic culture) yang melekat kuat dihati sanubari rakyat Jawi.</p>
<p>Para Bhayangkare Islah juga mencoba untuk menghindari konflik dengan penguasa lokal dengan membuat hubungan baik dengan mereka. Tetapi gerakan mereka bukannya tanpa hambatan dan kesulitan. Syekh Maulana Ishak terpaksa meninggalkan Blambangan karena tuduhan palsu dan fitnah keji dari salah satu perwira raja. Isterinya yang sedang  hamil pun terpaksa ditinggal di Blambangan. Kemudian ia melahirkan seorang putra, Raden Ainul Yaqin atau Raden Paku, yang diambil oleh Sunan Ampel sebagai muridnya. Syekh Maulana Ishak, menurut &#8220;Babad Tanah Jawi&#8221;, setelah meninggalkan Blambangan kembali ke kerajaan Pasai di Sumatera. Namun menurut &#8220;Serat Kandaning Ringgit Purwa&#8221;, ia pergi ke Semarang dan mengajarkan Islam kepada Batara Katong dari Wengker.</p>
<p>Di daerah lain mereka masih ditolak oleh para penguasa Hindu seperti Makdum Ibrahim yang punya kesulitan dengan bangsawan Daha ketika dia mencoba untuk membangun masjid di sana.<br />
Di Pajang, basis Syekh Suta Maharaja diserang oleh tentara Prabu Andayaningrat dari Pengging, yang tidak menyukai perkembangan Islam di daerah itu. Syekh Suta Maharaja melarikan diri ke Demak dan meninggal di sana. Kemudian, tentara Pengging akhirnya dikalahkan oleh Raden Hasan.</p>
<p>Konfrontasi ini memaksa Sunan Ampel untuk merekonstruksi strategi dalam menyebarkan Islam di Jawa. Dia harus membentuk kelompok karismatik Penceramah Islam yang didukung oleh kekuatan politik yang kuat yang menyebabkan kelahiran Walisongo, sebuah dewan yang dengan pendekatan tasawuf akhirnya berhasil dalam mengkonversi hampir semua orang Jawa dari Hindu ke Islam.</p>
<p><strong>KelahiranWalisongo</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Alasan Keputusan Sunan Ampel untuk membentuk sebuah dewan misionaris Islam untuk membangun para Pendakwah Islam ber-tipe fleksibel. Dewan dapat dipandang sekaligus sebagai gerakan agama serta gerakan politik, karena Sunan Ampel juga mulai membangun kekuatan militer di Demak, Giri (Gresik) dan Tuban. Beberapa guru Sufi sebelumnya tidak termasuk dalam dewan karena berbagai alasan. Syekh Suta Maharaja telah meninggal setelah serangan dari kerajaan Pengging. Raden Husen telah ditugaskan sebagai Tandha (posisi pemerintah di kerajaan Majapahit) di Terung. Sementara Ali Murtadho, saudara Sunan Ampel, ditugaskan untuk mempertahankan unit militer Muslim di Gresik dan Tuban dengan Raden Burereh.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Akhirnya pada 1474, Sunan Ampel membentuk dewan Walisongo pertama yang terdiri dari:</strong><strong></strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Raden Rahmat (Sunan Ampel)</strong><strong>,</strong> sebagai pemimpin dewan dan tinggal di Ampel.</li>
</ol>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Raden Hasan</strong> ditempatkan di Bintara, Demak dengan gelar Pangeran Bintara. Kemudian ia dikenal sebagai Raden Fatah atau Raden Patah, raja pertama dari Kesultanan Demak.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Raden Makdum Ibrahim</strong>, putra pertama dari Sunan Ampel, tinggal di Daha dengan judul Pangeran Anyakrawati. Ia kemudian dikenal sebagai Sunan Bonang.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Raden Qosim</strong> atau Raden Alim, putra kedua dari Sunan Ampel, Raden diganti Burereh di Majagung, dan mendapat gelar Pangeran Majagung. Ia kemudian dikenal sebagai Sunan Drajad.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Haji Usman</strong> masih berdakwah di Ngudung, Matahun, dan memiliki judul Pangeran Ngudung.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Raden Ainul Yaqin</strong> atau Raden Paku, putra Maulana Ishak, pergi ke Giri (dekat Gresik) dan memiliki gelar Pangeran Giri. Kemudian ia dikenal sebagai Sunan Giri.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Syekh Abdul Jalil</strong> Syekh Suta Maharaja diganti di Lemah Abang, Pajang, dan memiliki gelar Syekh Lemah Abang. Ia kemudian dikenal sebagai Syekh Siti Jenar.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Raden Hamzah</strong> ditempatkan di Singosari, Tumapel. Dia memiliki gelar Pangeran (Pangeran) Tumapel.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Raden Mahmud</strong> membangun sebuah basis di Drajad, dekat Tuban, kemudian berjuluk SunanDrajat..</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu pusat dewan masih di Ampel, yang dekat ke ibukota Majapahit, Trowulan. Sunan Ampel berpikir bahwa itu perlu untuk memindahkan pusat ke tempat baru jauh dari Trowulan sehingga mereka bisa memiliki lebih banyak kebebasan untuk mengatur gerakan mereka. Walisongo memiliki dua basis yang kuat pada waktu itu, Demak dan Giri, yang memiliki banyak pengikut dan unit militer yang kuat. Demak dikelola oleh Raden Fatah (Raden Hasan), sedangkan Giri dikelola oleh Raden Ainul Yaqin (Raden Paku). Basis-basis ini adalah alternatif pusat baru dewan, tapi Giri masih dekat dengan Trowulan, sehingga pilihan terbaik adalah untuk memindahkan pusat ke Demak. Segera setelah dewan mulai membangun masjid besar di Demak yang akan digunakan tidak hanya sebagai pusat dewan untuk menyebarkan Islam, tetapi juga sebagai pusat studi Islam dan tasawuf. Masjid Demak selesai sekitar 1477 Masehi. Kemudian untuk mencegah persaingan antara Raden Fatah dan Raden Paku, Sunan Ampel secara bijak mengadopsi mereka sebagai anaknya secara hukum syari’ah, yakni dengan menikahkan mereka berdua dengan putri- putrinya.  Raden Fatah menikah dengan Dewi Murthosiyah, sementara Raden Paku menikah dengan Dewi Murthosimah. Keduanya putri Sunan Ampel dari perkawinan dengan isteri kedua, Nyai Karimah.</p>
<p>Dua basis kekuatan Walisongo , yakni Demak dan Giri, makin hari makin bertambah kuat sehingga membuat penguasa Majapahit  melakukan  pengawasan yang ketat. Penguasa baru dari Majapahit, Bhre Kertabumi, penerus ketiga Sri Rajasawardhana, curiga terhadap kedua  pemimpin dari dua basis kekuatan itu. Itu karena Raden Fatah adalah putra dari Sri Kertawijaya, raja Majapahit sebelumnya yang digulingkan dan digantikan oleh Sri Rajasawardhana. Sementara ibu Raden Paku adalah cucu dari Bhre Wirabumi dari Blambangan, musuh lama Majapahit yang mereka dikalahkan jauh sebelum-itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, posisi mereka di dewan Walisongo memberi mereka perlindungan sementara, karena Sunan Ampel masih dihormati oleh penguasa Majapahit, dan ada banyak perwira tinggi Majapahit masih setia ke Sri Kertawijaya dan putranya, Raden Fatah.</p>
<p><strong>Pemberontakan</strong><strong>-</strong><strong>di</strong><strong>-</strong><strong>Majapahit</strong></p>
<p>Saat itu kerajaan Majapahit berada di masa- masa penurunan pamor. Banyak negara bawahan dan provinsi telah mencoba untuk membebaskan diri dari mereka. Dua di antaranya adalah Kerajaan Daha dan Kerajaan Blambangan di bagian timur Jawa. Blambangan kurang kuat dari Daha, sehingga Majapahit bereaksi dengan mengirimkan pasukan besar untuk wilayah ini yang mereka anggap lebih mudah untuk ditangani. Raja Blambangan, Prabu Menak Sembuyu (Sadmuddha) yang juga disebut dalam cerita rakyat lokal sebagai Prabu Menak Jingga, memimpin pasukannya ke pertempuran melawan Majapahit. Prabu Menak Sembuyu tewas dalam perang, tapi banyak dari pengikutnya melarikan diri ke Giri dan mencari perlindungan dari Sunan Giri, yang merupakan cucu dari-raja-mereka.</p>
<p>Tentara Majapahit kemudian merencanakan serangan kedua, tapi kali ini ke Giri, untuk menghilangkan sisa-sisa tentara Blambangan yang melarikan diri di sana. Menurut ceritera rakyat, sebelum mereka bisa mencapai Giri, Sunan Giri mengalahkan mereka dalam perang dengan menggunakan kekuatan mistik seperti yang digambarkan dalam naskah &#8220;Babad Tanah Jawi&#8221;. Tentara Majapahit mundur ke Trowulan, dikejar oleh para pengikut Sunan Giri itu. Meja peperangan  itu pun kini beralih, kali ini Majapahit yang berada di bawah pengepungan. Sebelum perang menjadi lebih ganas, Sunan Ampel memerintahkan Sunan Giri agar menghentikan pasukannya dan menahan diri serta membuat gencatan senjata dengan Majapahit. Sunan Ampel tidak ingin Majapahit  dihancurkan karena mereka telah sangat toleran dengan pertumbuhan Islam di Jawa. Selain itu, ada banyak bangsawan dan perwira di Majapahit yang sudah memeluk Islam.</p>
<p>Dalam gencatan senjata, Giri diberi otonomi di bawah kerajaan Majapahit dan begitu juga Demak. Bhre Kertabumi, raja Majapahit, juga mengadopsi Raden Hasan sebagai anaknya, sehingga ia tidak akan membalas kematian ayahnya. Posisi Walisongo menjadi kuat dan Majapahit tidak lagi merupakan ancaman bagi penyebaran Islam.</p>
<p>Situasi politik tak terduga pada waktu itu karena masih ada pemberontakan terhadap Majapahit di banyak daerah yang bisa membahayakan penyebaran lebih lanjut dari Islam. Kondisi ini memaksa Sunan Ampel untuk memperbarui strategi dalam mengelola Walisongo tersebut. Sunan Ampel juga melakukan kontak dengan Syarif Hidayatullah, seorang Guru Sufi dari Cirebon, sebuah pelabuhan penting kerajaan Pajajaran, saingan Majapahit di Jawa Barat. Syarif Hidayatullah adalah orang penting karena ia adalah keponakan dari Pangeran Cakrabuana, penguasa Cirebon. Dia juga cucu dari Prabu Silingawi, raja Pajajaran, sehingga jenderal Hindu Pajajaran tidak berani mengganggu umat Islam di Cirebon. Syarif Hidayatullah kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Untuk memperkuat kekuatan Islam di Jawa, Sunan Ampel diundang Syarif Hidayatullah untuk bergabung dengan dewan Walisongo, dan bentuk dewan tersebut  menjadi-seperti-ini:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><strong>Sunan Ampel</strong> masih memimpin dewan dan mengelola daerah Ampel, Canggu, dan Jedong. Raden Makdum Ibrahim ditarik dari Daha dan ditugaskan untuk mengelola Bonang, dekat Tuban.</li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Raden Makdum Ibrahim kemudian berjudul <strong>Sunan Bonang</strong>.</li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Raden Qosim atau Raden Alim ditarik dari Majagung dan ditugaskan untuk mengelola daerah Drajad, juga dekat Tuban, untuk menggantikan Raden Mahmud. Posisinya di Majagung digantikan oleh Syekh Sulaiman. Raden Qosim bergelar <strong>Sunan Drajad</strong><strong>.</strong></li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Raden Ainul Yaqin atau Raden Paku bertugas mengelola daerah  Giri. Dia berjudul <strong>Sunan Giri</strong><strong>.</strong></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Raden Fatah</strong> mengelola daerah Demak. Dia akhirnya menjadi <strong>Su</strong><strong>lthan</strong><strong> Demak. </strong>Oleh masyarakat beliau tak termasuk dalam dewan wali yang Sembilan karena tugas beliau kemudian sebagai Umaro’</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Syarif Hidayatullah mengelola Cirebon dan wilayah di Jawa Barat. Dia berjudul <strong>Sunan Gunung Jati.</strong><strong>.</strong></li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Syekh Abdul Jalil mengelola Lemah Abang, Pajang. Dia berjudul Syekh Lemah Abang atau <strong>Syekh Siti Jenar. </strong>Oleh karena persoalan theology, nanti Syekh Siti Jenar diadili oleh dewan wali dan dihukum mati.</li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Haji Usman masih berdakwah di Ngudung, Matahun, dan memiliki gelar Pangeran Ngudung dan juga <strong>Sunan </strong><strong>Ngudung</strong>.</li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Raden Hamzah ditarik dari Tumapel dan ditugaskan untuk berdakwah di Lamongan. Raden Hamzah berjudul Pangeran Lamongan dan juga <strong>Sunan Lamongan.</strong></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><strong>Sunan Bonang</strong>dibantu oleh muridnya, Raden Sahid, dalam menjaga wilayah Bonang. Raden Sahid adalah anak dari penguasa Tuban dan kemudian dia mendapat gelar Sunan Kalijaga. Haji Usman juga dibantu oleh putranya, Ja&#8217;far Shadiq, yang kemudian berjudul Sunan Kudus. Namun keduanya belum termasuk dalam dewan Walisongo-saat-itu.Formasi baru menempatkan semua anggota Walisongo di setiap pelabuhan penting di Jawa. Lokasi strategis, dengan bantuan dari pedagang Muslim, memungkinkan mereka untuk mendapatkan kontrol lebih dengan sistem ekonomi pulau dan memperkuat posisi Walisongo dan masyarakat Islam. Kontrol ekonomi di pelabuhan laut utara dan kekuatan militer yang kuat di Demak dan Giri, diperlukan untuk mengantisipasi panasnya politik di Majapahit. Selama berabad-abad, umat Islam Jawa selalu dilindungi di bawah kekuasaan Majapahit, yang toleran terhadap mereka, sementara sebagian besar pemberontak tidak seperti Islam. Jika sesuatu terjadi ke Majapahit, Walisongo memang sudah siap untuk membangun sebuah negara merdeka, kerajaan Islam pertama di Jawa untuk melindungi pertumbuhan agama baru, menggantikan Majapahit yang diambang keruntuhan.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Oleh:  KHD- dari beberapa sumber. Lihat pada: <a href="http://www.starbacks.ca/Athens/5738/hj-wali9.htm" target="_blank">http://www.starbacks.ca/Athens/5738/hj-wali9.htm</a></p>
<p style="text-align: justify;">Karawang : 05/ 10/ 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sejarah/%e2%80%9cbayangkare-islah%e2%80%9d-cikal-bakal-walisongo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pahlawan Penebar Cinta</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/pahlawan-penebar-cinta/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/pahlawan-penebar-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Aug 2011 03:23:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Much. Ehwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen,Puisi & Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[isi hati]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=28689</guid>
		<description><![CDATA[Jam tepat menunjukkan pukul 23.00 WIB. Waktu sidang segera dimulai. Orang-orang menunggu dengan hormat atau letih. Sulit diterjemahkan. Mereka siap menunggu keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Keputusan bebas...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><a href="http://tanbihun.com/bebas/pahlawan-penebar-cinta/attachment/cnta/" rel="attachment wp-att-28696"><img class="alignleft size-medium wp-image-28696" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/cnta-300x203.jpg" alt="" width="300" height="203" /></a>Jam tepat menunjukkan pukul 23.00 WIB. Waktu sidang segera dimulai. Orang-orang menunggu dengan hormat atau letih. Sulit diterjemahkan. Mereka siap menunggu keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Keputusan bebas yang bersifat universal. Tidak seperti produk hukum yang dibuat DPR atau badan hukum yang hanya untuk kewenangan politik atau muatan lainnya. Hukum yang benar-benar menjadi keputusan pembawa maslahat. Hatiku berdegub kencang. Khawatir, bingung, dan waswas apa yang akan beliau laksanakan sebagai bentuk kebijaksanaan untuk semua pihak. Aku membayangkan andai beliau salah tunjuk, keliru memberi keputusan, atau khotho’ dalam berpikir, niscaya kepercayaan yang masyarakat bentuk akan luntur. Atau keyakinan yang selama ini tertancap dalam hati mereka akan pudar. Sambil terus merenung dan menuntun beliau untuk sampai ke meja tamu putra, aku terus memandang dan berpikir  keras kejadian apa yang akan terjadi nanti. Dalam hati ku terus berdo’a, “<em>Ya Rabb ! Andaikan Engkau akan memberikan yang terbaik kepada beliau, tolong berilah beliau ilham yang dapat membuatnya bijaksana</em>”.</p>
<p style="text-align: justify">“<em>Ada apa mas?</em>”, aku memulai pembicaraan dengan membukakan pintu yang di belakangnya muncul dua pemuda “<em>Preman</em>” dengan gagah. Keduanya membawa seorang lagi. Ia tampak sedih. Bermuka durja. Seperti kelihatan penuh penyesalan. Aku melihatnya dengan penuh iba. Seakan ia ingin menerjemahkan duka di atas kesedihan dan nestapa yang berkepanjangan. Kedua pemuda itu mencangkingnya dengan kegaraman. Mata keduanya seakan jijik. Ekspresi wajah mereka kelihatan garang. Aku sulit menerjemahkan tatapan-tatapan asing yang terselimut dalam diri dan muka-muka mereka. Aku tanya apa dan bagaimana maksud kedatangan mereka di tengah malam seperti ini? Malam yang setahuku adalah waktu istirahat atau belajar malam. Dan memang begitulah kebiasaan beliau di tengah malam. Antara belajar, wiridan, atau bermunajat kepada Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify">“<em>Gini mas, kami dari perwakilan pemuda-pemuda kampung. Maksud kedatangan kami adalah untuk meminta keputusan dan kebijaksanaan Mbah Yai. Kami mencurigai seseorang yang mau mendongkel rumah teman kami. Kami lihat dia mencongkel jendela dan mencoba masuk. Dan al-hamdulillah, dia tertangkap basah. Sebenarnya massa ingin mengeroyok dan memukulinya. Namun, sebagian kami menawarkan penghukuman kepada Mbah Yai. Maka kami meminta kebijaksanaan beliau”, begitu kata-kata yang keluar dari lelaki gagah yang memperkenalkan dirinya, sebut saja Ahmad. “Oh, gitu! Sebentar saya tak matur dulu!</em>”, sahut saya dengan penuh kekhawatiran dan bimbang dalam penanganannya.</p>
<p style="text-align: justify">#      #    #</p>
<p style="text-align: justify">“<em>Gini mas !!!</em>”, beliau mulai menjawab permintaan mereka. Wibawa beliau muncul. Semua preman di hadapan beliau tertunduk dengan hormat. Menunggu keputusan yang akan beliau ucapkan. “<em>Secara hukum syara’, saya hanya berhak memberikan keputusan secara lahir. Untuk fakta dan realitasnya wallahu a’lam. Sebaiknya setelah njenengan-njenengan sedoyo dari sini, silahkan melapor kepada pihak yang berwajib juga</em>” pembukaan beliau membuatku sedikit lega. Sebuah mukadimah jawaban yang memang tepat menurutku. Sebab tidak semua keputusan yang diberikan seorang Kyai kepada terdakwa itu bersifat absolut kebenarannya. Ada lingkup terbatas yang tidak bisa ditangani kaum santri dan Kyai. Dan kita meski menyadari hal ini. Aku menjadi teringat kisah Nabi saw saat bertanya perkebunan kurma para sahabat di Madinah. Beliau menganjurkan untuk tidak mengawinkan antar kurma. Menurut Nabi saw kurma waktu itu sebaiknya dibiarkan saja. Dan para sahabat mengikuti petuah yang beliau isyaratkan. Namun, predikisi Nabi saw meleset. Ternyata semua kurma yang tidak dikawinkan mati tidak berkembang. Jatah waktu pernikahan yang semestinya dilakasanakan membuat sumbang semua harta kurma. Dan saat para sahabat mengadu kepada Nabi saw mengenai tragedi mengenaskan tersebut, dengan penuh kebijaksanaan beliau menjawab, “<em>antum a’lamu bi umûri dunyâkum (kalian lebih tahu urusan dunia kalian)</em>”. Inilah legitimasi yang dibuat Nabi saw. Beliau tidak menyalahkan para sahabat. Bahkan beliau memberikan konfirmasi penuh pengalihan kuasa tentang dunia kepada para sahabat selama hal itu menimbulkan sebuah maslahat.</p>
<p style="text-align: justify">Berbicara maslahat (kebaikan yang menjadi efek samping), berarti membicarakan sesuatu yang sulit ditebak. Hal yang perlu ijtihad dan konsentrasi penuh dalam pembicaraannya. Sesuatu yang akan menimbulkan kontroversial. Aku menjadi berpikir, akankah keputusan Abah nanti harus menjadi penyebab terpecahnya umat? Atau sebaliknya, dapat menyelesaikan keadaan yang rumit ini? Atau hanya memberikan konsentrasi dan penekanan sedikit yang tidak berarti apa-apa. Sudahlah biarkan waktu dan kenyataan yang menjawab kebenarannya.</p>
<p style="text-align: justify">#      #    #</p>
<p style="text-align: justify">Abah masuk ke rumah. Beliau mengambil mushaf kalam suci. Diambilnya penuh takdzim. Dengan penuh wibawa beliau berkata, “<em>Suruh terdakwa maling ini untuk baca syahadat, solawat, dan bersumpah di bawah persaksian kalam yang suci. Andai dia berbohong, niscaya dia akan melarat selamanya. Dan jika dia berani bersumpah nanti, tolong diklarifikasi lagi ke kantor polisi untuk diadili secara hukum Indonesia</em>”. Kemudian pria cangkring, hitam pekat, yang hanya mengenakan kaos dengan warna hitam itu maju ke depan dibimbing Abah membaca syahadat dan salawat. Kemudian beliau menuntunnya untuk mengucapkan sumpah:</p>
<p style="text-align: justify"><em><strong>Demi Allah! Demi Kitab Allah yang suci. Saya bersaksi dan mengakui bahwa saya tidak mencuri atau berniat mengambil harta orang desa Talun RT 02 RW 02 ini. Saya berani menanggung akibatnya jika saya telah berdusta.</strong></em></p>
<p style="text-align: justify">Sumpah itu diucapkan oleh terdakwa pencuri dengan lantang dan tegas. Tidak ada sedikit keraguan tersimpan dalam kata-katanya. Aku juga sulit mengartikan kesalahan pada wajahnya yang polos itu. “<em>Begini mas! Menurut aturan fikih ajaran kita, orang ini telah terbebas dari tuduhan pencurian. Dia dianggap suci tidak sesuai dengan dugaan saudara. Tapi ingat! Sebaiknya juga diklarifikasikan dulu ke pihak berwajib</em>”, Abah mulai memecahkan heningnya suasana. Lega aku mendengarnya. Bagaimanapun juga beliau adalah benar. Dengan keadaan dan penegasan seperti tadi tidak berarti secara hakiki dia terbebas dari tuduhan.</p>
<p style="text-align: justify">Sungguh arif keputusan yang beliau sampaikan. Aku sempat berpikir keras sebelumnya, tentang jawaban bagaimana yang sekira tepat dan sesuai dengan permintaan mereka. Sebab inilah hakikat dilema yang dihadapi penghukum. Jika dia membenarkan penduga atau penuntut hukum, padahal kenyataannya terdakwa bukanlah pencuri sebenarnya, maka bisa fatal akibatnya. Sang terdakwa bisa marah dan mengeluarkan temannya bersama menggrebek kami suatu malam nanti. Dan jika terdakwa itu dibenarkan secara mutlak, maka para penuntut hukum tidak akan menerima kenyataan dan sebaliknya, kami juga yang menjadi incaran bulanan-bulanan mereka. Atau hanya diam tanpa mengambil sikap, maka tercemar nama Abah, karena dianggap sebagai Kyai yang tidak berprinsip yang bisa diambil manfaat dan fatwanya. Sempat dilema. Namun terjawab dengan sehat oleh beliau, tanpa mengurangi martabat, kejujuran, menambah kesedihan atau kedengkian antar sesama. Alangkah indah dan bijaksana keputusan beliau. Tidak jauh dan berlebih jika kita memberikan predikat beliau dengan sebutan, “<em>Pahlawan Penebar Cinta</em>”. Bukan kedengkian dan kejanggalan antar sesama.</p>
<p style="text-align: justify">Oleh: Ust. MA. Zuhurul Fuqohak</p>
<p style="text-align: justify">Disadur dari Bulletin Kinaweruhan Edisi 4 Pondok Pesantren Miftahul Ulum Pati</p>
<p style="text-align: justify"><a href="http://ponpestalun.blogspot.com/2011/08/bulletin-kinaweruhan-edisi-4.html">DOWNLOAD BULLETIN</a></p>
<p style="text-align: justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/pahlawan-penebar-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyebaran Rifaiyyah Di Desa Tursino Kec. Kutoarjo Purworejo</title>
		<link>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/penyebaran-rifaiyyah-di-desa-tursino-kec-kutoarjo-purworejo/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/penyebaran-rifaiyyah-di-desa-tursino-kec-kutoarjo-purworejo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jun 2011 00:01:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Murid Generasi Pertama]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6388</guid>
		<description><![CDATA[Dakwah Murid Syaikh Ahmad Rifa’i Generasi Pertama Kyai Abdurrasid dan Kyai Murtasid serta kyai Hasan Murtojo, beliau-beliau ini termasuk murid generasi pertama Syaikh Ahmad Rifa’I, mereka mendapat tugas menyebarkan ajaran...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Dakwah Murid Syaikh Ahmad Rifa’i Generasi Pertama</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/khutbah.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-6389" title="khutbah" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/khutbah.jpeg" alt="" width="111" height="89" /></a>Kyai Abdurrasid dan Kyai Murtasid serta kyai Hasan Murtojo, beliau-beliau ini termasuk murid generasi pertama Syaikh Ahmad Rifa’I, mereka mendapat tugas menyebarkan ajaran rifaiyah di desa Meranti Kelurahan Tursino Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo. Di desa ini termasuk yang paling cepat penyebarn ajarn rifaiyah, karena didukung oleh Kades setempat yang bernama Suryoatmo. Dan puncaknya, digelarlah pengajian rutin setiap hari kamis wage, yang menghairkan pula Kyai Abu Hasan dari desa tangkilan bojong kec. Kepil wonosobo juga turut kyai abdul hamid dari karang sambu kec. Sapuran wonosobo.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu pesatnya penyebaran ajaran rifaiyah, sehingga pemerintah didaerah purworejo memandang kegiatan itu merugikan pemerintah belanda, puncaknya dilaranglah pelaksanaan sholat jum’at di desa tersebut. Tragedi ini terjadi pada tahun 1895 M. waktu itu warga tidak ada yang berani melaksanakan ibadah sholat jum’at, karena takut dengan ancaman belanda, padahal masjid tersebut baru saja selesai dibangun, masjid pun kosong tanpa aktifitas, ini berlangsung lama. Akhirnya fajar terang datang juga, tepatnya tahun 1930 M, seorang kyai yang bernama H. Agus asli penduduk tursino yang merantau ke sumpiuh, dia akhirnya pulang setelah hampir 30 tahun diperantauan. Dengan perjuangan beliau ini akhirnya sholat jum’at dan kegiatan pengajian bisa di laksanakan kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beliau wafat digantikan oleh Kyai Atmomiharjo bin rasidin, kemudian dilanjutkan oleh Kh. Zaenuri bin hasan, sehingga sampai sekarang ajaran rifaiyah masih hidup kian ramai, bahkan dibangun sebuah pesantren, kebanyakan murid-muridnya dari daerah wonosobo. Emye/2009/www.tanbihun.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/penyebaran-rifaiyyah-di-desa-tursino-kec-kutoarjo-purworejo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyebar Rifaiyah Di Temanggung</title>
		<link>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/penyebar-rifaiyah-di-temanggung/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/penyebar-rifaiyah-di-temanggung/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 May 2011 00:09:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Murid Generasi Pertama]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6391</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun.com — Yang pertama kali membawa ajaran dari Kh. Ahmad Rifa’i ( rifaiyah ) di daerah temanggung atau dulu terkenal dengan sebutan kedu adalah seseorang bernama jadikrama. yang bermukim dan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/khutbah.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-6389" title="khutbah" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/khutbah.jpeg" alt="" width="180" height="144" /></a>Tanbihun.com</strong> — Yang pertama kali membawa ajaran dari Kh. Ahmad Rifa’i ( rifaiyah ) di daerah temanggung atau dulu terkenal dengan sebutan kedu adalah seseorang bernama jadikrama. yang bermukim dan berasal dari desa wonoboyo kecamatan Tretep Kabupaten Temanggung.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau adalah salah satu murid dari Kyai Idris bin Muhammad Tubo Purwosari Patebon Kendal. Setelah cukup belajar dipesantren purwosari, beliau pulang ke kampung tercintanya, bermaksud hendak mengembangkan ilmunya kepada keluarga dan masyarakatnya, namun karena merasa belum mampu akhirnya beliau menemui seorang pendatang baru yang bernama Hasan Marwi yang bertempat tinggal di Batok Kelurahan kebonsari Kecamatan tretep, beliau terkenal ‘alim, dengan niat tulus untuk dakwah, maka beliau berdua kembali belajar di purwosari.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena Hasan Marwi ini sudah mempunyai dasar-dasar ilmu agama yang cukup, tidaklah membutuhkan waktu lama untuk menyerap pelajaran dari kitab-kitab Syaikh Ahmad Rifa’i yang berbahasa jawa itu, setelah cukup ilmunya, mulailah beliau berdua ini berdakwah menyampaikan syari’at islam ‘ala Syaikh Ahmad Rifa’i, yang menekankan tercapainya iman yang sah, ibadah yang memenuhi syarat dan rukun. Kesuksesan dakwahnya bisa kita lihat sampai sekarang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/penyebar-rifaiyah-di-temanggung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jabir ibn Hayyan,”Bapak Kimia” dan Ahli Praktik Medis dan Ilmu Kedokteran</title>
		<link>http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 May 2011 01:22:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ali Khumaeni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Cendekiawan Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6154</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Beliau mempunyai nama lengkap Abu Musa Jabir ibn Hayyan. Di daratan Eropa dan barat, beliau lebih dikenal dengan nama Geber. Jabir ibn Hayyan dilahirkan di Tus, Iran pada...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><cite></cite><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-6155" title="Abu Musa Jabir ibn Hayyan" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/Abu-Musa-Jabir-ibn-Hayyan-300x277.jpg" alt="" width="300" height="277" />Tanbihun</strong> &#8211; Beliau mempunyai nama lengkap Abu Musa Jabir ibn Hayyan. Di daratan Eropa dan barat, beliau lebih dikenal dengan nama Geber. Jabir ibn Hayyan dilahirkan di Tus, Iran pada tahun 721 M dan meninggal di Kufah, Iraq tahun 815 M. Beberapa guru yang telah mendidik beliau diantaranya adalah <span style="text-decoration: underline;"><em>Imam Ja`far Sadiq </em></span>dan <span style="text-decoration: underline;"><em>Khalifah Khalid ibn Yazid</em></span> Bani Umayyah. Beliau masyhur dalam sejarah Islam dan barat sebagai ”bapak kimia” dan ahli praktik medis dan ilmu kedokteran.</p>
<p style="text-align: justify;">Peran terbesar <span style="text-decoration: underline;"><em>Jabir ibn Hayyan</em></span> di bidang kimia adalah dengan memperkenalkan sebuah metode baru ”pendekatan ekperimen” dan laboratorium sebagai tempat eksperimen. Melalui metode ini, beliau telah mengubah ”ilmu kimia klasik” menjadi ilmu kimia modern. Terkait dengan peran penting eksperimen, ibn Hayyan berkata ”hal pertama yang paling penting dalam kimia adalah anda harus melakukan kerja praktik dan eksperimen. Seorang ilmuwan yang tidak melakukan kerja praktik atau eksperimen, maka dia tidak akan pernah mencapai puncak profesionalitas dalam bidangnya. Wahai anakku, lakukan eksperimen sehingga kamu akan menyerap dan menguasai ilmu pengetahuan secara sempurna. Seorang ilmuwan mencapai titik kesenangan dan kepuasan bukan karena melimpahnya kekayaan yang dimiliki, namun ilmuwan mencapai puncak kebahagiaannya karena cerdas dalam metode eksperimennya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Jabir ibn Hayyan telah mencurahkan usahanya untuk mengembangkan metode-metode dasar dalam ilmu kimia dan mempelajari berbagai mekanisme reaksi kimia. Dengan usahanya tersebut, beliau telah memberi sumbangan besar terhadap evolusi ilmu kimia menjadi ilmu kimia modern. Jabir juga menekankan bahwa kuantitas berbagai jenis bahan tertentu terlibat dalam suatu reaksi kimia. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa beliau telah membuka jalan dalam meletakkan dasar hukum konstanta keseimbangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa prestasi besar di bidang kimia yang dilahirkan oleh Jabir ibn Hayyan adalah penemuan mineral dan berbagai senyawa-senyawa asam. Selain itu, beliau juga telah mengembangkan aplikasi proses kimia, yang kemudian menjadi pionir di bidang aplikasi sains. Hasil pengembangan aplikasi proses kimia diantaranya adalah preparasi beberapa metal, pengembangan baja, penggunaan <em>manganese dioksida</em> dalam pembuatan gelas, pencegahan karat, penulisan karakter di logam emas, identifikasi <em>paints, grease</em> dan lain-lain. Selain itu, beliau juga mengembangkan <em>aqua regia</em> untuk melarutkan emas. Kontribusi lain yang dihasilkan beliau diantaranya adalah dengan memberikan sumbangan teknik-teknik saintifik seperti kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi dan penguapan, dan pengembangan beberapa instrumen dan peralatan eksperimen yang berkaitan dengan berbagai teknik tersebut. Jabir ibn Hayyan telah menyumbangkan penemuan dan pengembangan beberapa instrumentasi laboratorium yang masih digunakan sampai hari ini seperti gelas alembic yang digunakan untuk proses distilasi menjadi lebih mudah, aman dan efisien. Melalui distilasi dari berbagai garam dengan asam sulfur, beliau telah menemukan asam hidroklorik dan asam nitrat. Beliau juga telah sukses membuat skala yang mempunyai ketelitian sangat tinggi sekitar 1/6480 kilogram.</p>

<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/abu-musa-jabir-ibn-hayyan/' title='Abu Musa Jabir ibn Hayyan'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/Abu-Musa-Jabir-ibn-Hayyan-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Abu Musa Jabir ibn Hayyan" title="Abu Musa Jabir ibn Hayyan" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb00/' title='amcl_gb00'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb00-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb00" title="amcl_gb00" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb01/' title='amcl_gb01'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb01-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb01" title="amcl_gb01" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb02/' title='amcl_gb02'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb02-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb02" title="amcl_gb02" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb03/' title='amcl_gb03'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb03-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb03" title="amcl_gb03" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb04/' title='amcl_gb04'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb04-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb04" title="amcl_gb04" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb05/' title='amcl_gb05'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb05-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb05" title="amcl_gb05" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb06/' title='amcl_gb06'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb06-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb06" title="amcl_gb06" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb07/' title='amcl_gb07'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb07-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb07" title="amcl_gb07" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb08/' title='amcl_gb08'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb08-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb08" title="amcl_gb08" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb10/' title='amcl_gb10'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb10-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb10" title="amcl_gb10" /></a>

<p style="text-align: justify;">Gambar 2. Serangkaian kinerja Jabir ibn Hayyan tentang woodcuts of chemical dan perangkat penyulingan, (a)Sublimasi di Athanor, (b) Fiksasi dan sublimasi, (c) Descension furnace, (d) distilasi, (e) kalsinasi, (f) tempat air (water bath), (g) penampungan, dan (h) fiksasi dan sublimasi (sumber: <a href="http://www.alchemywebsite.com/bookshop/prints_series_geber.html">http://www.alchemywebsite.com/bookshop/prints_series_geber.html</a>)</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan pada sifat-sifatnya, beliau mengkategorikan material menjadi 3 bagian. Yakni, material yang menguap oleh panas seperti arsen dan <em>ammonia chlorida</em>. Kedua, material bahan metal seperti emas, perak, <em>lead</em> (Pb), tembaga dan besi. Dan yang ketiga adalah <em>compound</em> (senyawa) yang bisa diubah ke serbuk. Beliau kemudian menklasifikasi semua material tersebut menjadi tiga jenis yaitu metal, non-metal dan bahan yang mudah menguap <em>(volatile substance)</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Jabir telah menulis lebih dari 100 risalah yang terdiri atas berbagai bidang ilmu pengetahuan yang 22 diantaranya adalah tentang ilmu Kimia (Alkemi). Beberapa karya beliau di bidang kimia diantaranya <em>Kitab al Kimya</em> dan <em>Kitab al-Sabeen</em> yang banyak diterjemahkan ke bahasa latin dan bahasa eropa lainnya. Kitab <em>Alkhawwas al-kabir</em> (the great book of chemical properties) yang berisi tentang karakteristik kimia), <em>Kitab Almawazin</em> yang berisi tentang berat dan pengukuran <em>(weights dan measures)</em>, <em>Kitab Al-Mizaj</em> yang berisi tentang kombinasi kimia <em>(chemical combination)</em>, dan <em>Kitab Al-Asbagh</em> yang berisi tentang bahan-bahan celupan <em>(dyes)</em>. Terjemahan kitab-kitab tersebut berpengaruh besar terhadap evolusi kimia modern di wilayah benua Eropa.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain di bidang ilmu kimia, Jabir ibn Hayyan juga telah memberikan kontribusi penting untuk bidang ilmu kedokteran, astronomi, dan ilmu-ilmu lainnya. Sayangnya, hanya sedikit dari buku-bukunya telah disunting dan diterbitkan, dan lebih sedikit lagi yang tersedia dalam terjemahan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meneladani Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw</title>
		<link>http://tanbihun.com/sejarah/meneladani-kepemimpinan-nabi-muhammad-saw/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sejarah/meneladani-kepemimpinan-nabi-muhammad-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 08:45:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=5813</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wasalam adalah seorang agamawan, negarawan dan pemimpin yang bijaksana. Jika kita membaca sirah nabawiyah maka akan dapat kita jumpai beribu-ribu teladan yang ditampilkan oleh...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/04/2328536528_90f3495625_m.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-5816" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/04/2328536528_90f3495625_m.jpg" alt="" width="240" height="160" /></a><strong>Tanbihun</strong> &#8211; Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wasalam adalah seorang agamawan, negarawan dan pemimpin yang bijaksana. Jika kita membaca sirah nabawiyah maka akan dapat kita jumpai beribu-ribu teladan yang ditampilkan oleh beliau saat memimpin bangsa jahiliyyah menjadi masyarakat madani yang islamiyah. Bukan saja karena Allah sudah menetapkan beliau sebaga seorang uswah hasanah sebagaimana tertuang dalam Al-Ahzab ayat 21, tapi memang karena prilaku dan akhlak Nabi saw sangat indah dan terpuji.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti diketahui, Bangsa Arab sebelum kedatangan Islam sangat terkenal dengan budaya pengelompokan kabilah, klan, suku, dengan tingkat fanatisme yang sangat kental. Masing-masing mereka tidak hanya suka membanggakan kelompok sendiri, tapi juga merendahkan kelompok lain. Sedemikian fanatiknya masing-masing mereka terhadap kelompok sendiri, seolah-olah mereka punya ‘akidah’: <em>Kelompok sendiri selalu benar dan harus dibela mati-matian sampai mati.</em> Inilah yang disebut<em> ‘Ashabiyah</em>. Terjadinya banyak peperangan dan pertumpahan darah di antara mereka, umumnya diakibatkan oleh <em>‘ashabiyah</em> atau fanatisme kelompok ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Masalah sederhana seringkali bisa menjadi api penyulut peperangan besar apabila  menyangkut kehormatan atau kepentingan kelompok. Pertengkaran pribadi antar kelompok dapat dengan cepat membakar emosi seluruh anggota masing-masing kelompok oleh apa yang disebut dengan Da’wa al jahiliyyah, masing-masing pihak yang bertengkar meminta bantuan kelompoknya. Dan pertengkaran pribadi pun menjadi peperangan antar kelompok.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah salah satu ‘kegelapan’ Jahiliyah yang diperjuangkan Rasulullah s.a.w. untuk dikuakkan oleh cahaya Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad s.a.w., Nabi Kasih sayang yang membawa agama kasih sayang, memperkenalkan kehidupan kemanusiaan yang mulia. Nabi mengingatkan bahwa seluruh manusia berasal dari bapak yang satu yaitu Adam. Tak ada seorang atau sekelompok pun manusia yang lebih mulia dari yang lain. Orang Arab tidak lebih mulia dari orang non Arab. Kulit putih tidak lebih mulia dari kulit hitam. Yang termulia di antara mereka di hadapan Allah adalah yang paling takwa kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah berarti dia telah masuk Islam dan disebut muslim. Dan muslim satu dengan yang lain – menurut Nabi Muhammad s.a.w. – bersaudara; tidak boleh saling menghina, tidak boleh saling menjengkelkan, tidak boleh saling melukai. Masing-masing harus menjaga nyawa, kehormatan, dan harta saudaranya. Muslim satu dengan yang lain ibarat satu tubuh atau satu bangunan.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah; panutan agung semua orang yang mengaku muslim, Nabi Muhammad s.a.w., mempersaudarakan umat Islam di Madinah antara mereka yang berasal dari suku-suku asli Madinah (Kelompok Ansor dari suku Khazraj dan Aus) dan para pendatang dari Mekkah (Kelompok Muhajirin dari berbagai suku) dan mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Madinah yang non muslim. Dan dengan demikian kedegilan ‘ashabiyah Jahiliyah yang selama ini berakar kuat pun sirna, digantikan oleh kearifan akal budi kemanusiaan yang mulia.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang adakalanya penyakit ‘ashabiyah itu nyaris muncul lagi, namun kebijaksanaan Rasulullah s.a.w. segera menangkalnya sejak gejalanya yang paling dini; seperti peristiwa yang terjadi setelah perang Bani Musthaliq pada tahun kelima hijrah.<br />
Waktu itu, seorang buruh yang bekerja pada shahabat Umar Ibn Khatthab (dari Muhajirin) berkelahi dan memukul seorang sobat suku Khazraj. Orang ini pun berteriak memanggil-manggil dan meminta bantuan kelompok Khazraj; sementara si buruh pun berteriak-teriak meminta bantuan kaum muhajirin. Hampir saja terjadi tawuran antara kedua kelompok itu. Untung, Rasulullah segera keluar, sabdanya : “Maa baalu da’waa ‘l-Jahiliyah?” (“Lho mengapa ada seruan model Jahiliyah?”). Ketika diberitahu duduk perkaranya, Rasulullah s.a.w. pun bersabda: “Tinggalkan perilaku Jahiliyah itu! Itu busuk baunya!” Rasulullah pun meleraikan mereka dengan adil. Dan malapetaka pun terhindarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Fanatisme, terutama dalam pengertiannya yang ektrem, memang sering menghilangkan penalaran sehat; sebab memang emosi yang lebih berkuasa. Puncaknya – apabila emosi sudah sangat menguasai &#8212; orang yang bersangkutan pun tidak mampu lagi melihat dan mendengar, <em>shummum bukmun ‘umyun</em>. Itulah barangkali sebabnya, orang yang terlalu fanatik terhadap kelompoknya, tidak bisa bersikap obyektif dan cenderung tidak bisa diajak bicara oleh kelompok yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Di negeri kita yang bukan Arab, khususnya di zaman pasca orde baru ini, penyakit semacam <em>‘ashabiyah </em>Jahiliyah itu rupanya juga mulai mewabah. Bukan kelompok suku dan agama saja yang difanatiki berlebihan, bahkan kelompok politik pun sudah cenderung difanatiki melebihi agama. Lebih celaka lagi – agaknya karena pemahaman soal politik dan demokrasi yang masih cingkrang di satu pihak, dan pemahaman atau penghayatan agama yang dangkal di lain pihak – fanatisme kelompok politik ini membawa-bawa agama. Maka campur-aduklah antara kepentingan agama, kepentingan politik dan nafsu. Tidak jelas lagi apakah kepentingan politik mendukung agama; atau agama mendukung kepentingan politik; ataukah justru politik dan agama mendukung nafsu. Bahkan banyak mubalig atau da’i – yang seharusnya meneruskan missi kasih sayang Rasulullah s.a.w. – entah sadar atau tidak, justru lebih mirip jurkam atau malah provokator yang tidak merasa risi mengeluarkan kata-kata kotor yang sangat dibenci oleh Nabi mereka sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Itu semua ditambah kita ini sejak zaman kerajaan; zaman penjajahan; zaman orla; hingga zaman orba; tidak dididik untuk dapat berbeda, sebagai pelajaran awal berdemokrasi. Malah didikan yang kita terima terus-menerus adalah keharusan seragam. Akibatnya, ketika ‘euforia demokrasi’ marak mengiringi tumbangnya rezim Soeharto yang otoriter, orang hanya berpikir mendirikan partai tanpa sempat memikirkan kaitannya partai dengan kehidupan berdemokrasi yang menuntut sikap menghargai perbedaan. ‘Ashabiyah Jahiliyah pun menemukan bentuknya yang lebih busuk bahkan di kalangan kaum beragama.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau ini tidak cepat disadari khususnya oleh para pemimpin, umumnya oleh para pendukung kelompok atau partai, minimal mereka yang masih mengakui Allah sebagai Tuhan mereka dan Sayyidina Muhammad s.a.w. sebagai nabi dan pemimpin agung mereka, saya khawatir memang azablah yang sedang menimpa kita. Dan azab itu hanya Allah yang kuasa menimpakan dan menghilangkannya.<em> “Qul Hual Qaadiru ‘alaa ‘an yab’atsa ‘alaikum ‘azaaban …” </em>(Q.6: 65) “Katakanlah (Muhammad,) ‘Dialah yang berkuasa mengirimkan azab dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mengacaukan kalian dalam kelompok-kelompok (fanatik yang saling bertentangan) dan mencicipkan kepada sebahagian kalian keganasan sebahagian yang lain …’”</p>
<p style="text-align: justify;">Mudah-mudahan Allah memberi hidayah kepada kita semua untuk kembali ke jalanNya yang lurus, mengikuti jejak RasulNya yang berbudi dan mulia. Amin.</p>
<p style="text-align: justify;">1419</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sejarah/meneladani-kepemimpinan-nabi-muhammad-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

