<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tanbihun Online &#187; Profil Ulama</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/category/sejarah/profil-ulama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 15:30:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Sekilas Isi Buku Dahlan Asy&#8217;ari Kisah Perjalanan Wisata Hati</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/buku/sekilas-isi-buku-dahlan-asyari-kisah-perjalanan-wisata-hati/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/buku/sekilas-isi-buku-dahlan-asyari-kisah-perjalanan-wisata-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 05:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=40536</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Dahlan Asy&#8217;ari kisah perjalanan wisata hati Penulis: Susatyo Budi Wibowo, Elis Widayanti Penerbit: Diva Press, 2011 ISBN: 6029785532, 9786029785531 Tebal: 268 halaman Sekilas tentang isi buku  KH. Ahmad Dahlan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/02/377_Dahlan.jpg"><img class="size-full wp-image-40537 alignnone" title="Ebook Dahlan Asyari" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/02/377_Dahlan.jpg" alt="Ebook Dahlan Asyari" width="200" height="300" /></a>Judul: <strong>Dahlan Asy&#8217;ari kisah perjalanan wisata hati</strong><br />
Penulis: <strong>Susatyo Budi Wibowo, Elis Widayanti</strong><br />
Penerbit: <strong>Diva Press, 2011</strong><br />
ISBN: <strong>6029785532, 9786029785531</strong><br />
Tebal: <strong>268 halaman</strong></p>
<h2><span style="color: #ff6600;">Sekilas tentang isi buku</span></h2>
<p style="text-align: justify;"> KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari adalah sama-sama keturunan Sunan Giri (Syekh Maulana ‘Ainul Yaqin), yang apabila ditarik garis ke atas, nasabnya sampai kepada Rasulullah Saw. Ketika keduanya lahir, oleh orang tua mereka masing-masing diberi nama depan yang sama, yaitu Muhammad. Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis, sedangkan nama kecil KH. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim. Keduanya pernah berguru kepada ulama besar yang sama, yaitu kepada KH. Saleh Darat al-Samarangi, Syekh Mahfud al-Tarmasy, dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Apakah ini sebuah kebetulan?</p>
<p style="text-align: justify;">KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yang berlambang matahari,  KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdhatul Ulama (NU) yang berlambang bumi dan bintang. Muhammadiyah banyak dijiwai oleh semangat QS. Ali Imran ayat 104, sedangkan NU, QS. Ali Imran ayat 103. Dan, K.H. Hasyim Asy’ari mendirikan NU tidak lama setelah K.H. Ahmad Dahlan wafat. Apakah ini juga sekadar kebetulan?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, di samping menjawab pertanyaan di atas, buku istimewa ini bakal mengupas lebih jauh kedua tokoh ulama karismatik abad ke-20 tersebut yang dalam pentas pergulatan sosial keagamaan di Indonesia namanya sudah sangat-sangat populer.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat membaca buku biografi sejarah yang ditulis dengan teknik penyampaian menarik, gaya tutur mengalir, kaya data, dan sangat informatif ini!</p>
<p style="text-align: justify;">Dan, terutama sangat cocok untuk Anda yang ingin melakukan perjalanan wisata hati</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/buku/sekilas-isi-buku-dahlan-asyari-kisah-perjalanan-wisata-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Kitab Yang Memuat Tentang Taubatnya Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah</title>
		<link>http://tanbihun.com/usulidin/inilah-kitab-yang-memuat-tentang-taubatnya-imam-taqiyuddin-ibnu-taimiyah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/usulidin/inilah-kitab-yang-memuat-tentang-taubatnya-imam-taqiyuddin-ibnu-taimiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 20:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[kitab Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=39933</guid>
		<description><![CDATA[PROLOG KE TIGA Taubatnya Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah Banyak di kitab-kitab yang cenderung melaporkan masalah aqidah atas ucapan ucapan dan karangan karangan yang di nisbatkan/sandarkan kepada imam Taqiyuddin Ahmad ibnu...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah1.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39935" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah1" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah1-789x1024.jpg" alt="" width="620" height="804" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PROLOG KE TIGA</strong><br />
<strong>Taubatnya Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
Banyak di kitab-kitab yang cenderung melaporkan masalah aqidah atas ucapan ucapan dan karangan karangan yang di nisbatkan/sandarkan kepada imam Taqiyuddin Ahmad ibnu Taimiyah Rahimahullah. Sebagian dari mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya imam besar ini telah bertaubat dari aqidah aqidahnya dan telah kembali kepada kebenaran. Saya disini akan menukilkan tanggal-sejarah itu berikut dengan teks nya yang saya salin dari kitab “Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah” karya amirul mukminin dalam hadis, yaitu imam al hafidz Abi Fadl ibnu Hajar Al Atsqolani terbitan 1414H cetakan Darul Jail-Juz 1 hal.148. Namun sebelum itu ada pemaparan <strong>Imam Nuwairi</strong>. Beliau adalah ulama yang hidup sejaman dengan imam ibnu taimiyah dan pemaparan orang orang yang menyaksikan peristiwa pertaubatan tersebut. Imam Nuwairi mengatakan bahwa peristiwa pertaubatan ibnu taimiyah ini juga disaksikan oleh golongan yang menyimpang (pro ibnu taimiyah)penj. atau maksudnya golongan yang bersebrangan dengan ibnu taimiyah (maaf jk salah terjemah). Ibnu Hajar berkata:”Yang menyaksikan peristiwa pertaubatan ini terdiri dari aliansi ulama dll.</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong>Imam Nuwairi</strong> berkata:”Masalah imam Taqiyuddin ini berkelanjutan hingga beliau di jebloskan ke dalam penjara bawah tanah yang berada di benteng gunung hingga datanglah amir Hisamuddin ke pintu pemerintahan untuk melayani beliau pada bulan Rabi’ul awwal tahun 707 H. Hingga kemudian Hisamuddin menanyakan duduk permasalahan ibnu taimiyah ini kepada pemerintah yang berwajib dan akan menolongnya sehingga pemerintah memberi grasi kepada ibnu taimiyah dan akhirnya beliau bebas pada hari jum’at tanggal 23 bulan (?) (pada bulan itu pula)penj. Yaitu rabi’ul awwal. Dan kemudian ibnu taimiyah di hadirkan ke gedung penuntutan (pengadilan)penj. Yang berada disitu (benteng gunung). Dan terjadilah pembahasan bersama para pakar ilmu kemudian kumpullah golongan dari ulama yang terkemuka, namun acara tersebut tidak dihadiri oleh hakim ketua yaitu Zainuddin Al Maliky dikarnakan beliau sakit dan tak hadir pula dari para hakim yang lain. Namun hasil dari pembahasan tersebut ibnu taimiyah menulis kemudian ditulis oleh dewan majlis dengan tulisan yang terjamin dan di tanda tangani oleh para saksi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong>BISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM</strong><br />
Kesaksian orang yang telah ikut membubuhkan tulisannya ketika telah ada teken dari dewan majlis untuk Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah Al harani Al Hanbali ini dihadapkan kepada markas besar yang mulia amir adil Assaifi raja sultan Salar Al Maliky An Nashiri wakil dari sultan agung. Dan hadir pula didalamnya golongan dari para ulama.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah2.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39940" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah2" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah2-717x1024.jpg" alt="" width="620" height="885" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dan pembesar pembesar ahli fatwa terdepan mesir disebabkan apa yang pernah di nukil dari pemikiran ibnu taimiyah dan tulisan beliau yang sudah di ketahui sebelum itu yaitu masalah masalah yang berhubungan dengan akidah beliau seperti “Sesungguhnya Allah itu berbicara dengan suara”, dan “bahwa makna istiwa’ itu atas makna hakikat/dhohirnya dll yang bertentangan dengan ahli kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;">
Akhirnya majlis itu selesai setelah pembahasan itu berjalan lama. Ibnu taimiyah mengembalikan akidahnya itu kembali sehingga beliau berucap dihadapan para saksi (SAYA ASY’ARI) sambil mengangkat kitab faham asy’ariyah di atas kepalanya. Dan saya bersaksi atasnya dengan apa yang tertulis berikut ini:</p>
<p>“Segala puji milik Allah yang aku beri’tikad pada-Nya bahwa Al Qur’an berdiri diatas makna Dzat Allah. Dan itu sifat dari beberapa sifatNya yang qodim dan ajali. Dan Ia bukan makhluk. Bukan dengan huruf dan bukan pula dengan suara.<br />
Ini di tulis oleh Ahmad Ibnu Taimiyah.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Demi Dzat yang aku beri’tikad kepadaNya dari firmanNya yang berbunyi:</p>
<h2 style="text-align: justify;">
(الرحمن على عرش استوى) طه:5</h2>
<p style="text-align: justify;">Itu di pahami seperti apa yang telah dipahami banyak orang, yaitu bukan seperti hakikat dan dhohirnya lafad. Saya tidak tahu makna ganti dan maksudnya, bahkan tidak diketahui itu kecuali hanya Allah swt.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Ini ditulis oleh Ahmad Ibn Taimiyah.</p>
<p>Pendapatnya dalam masalah “turunnya” (Allah) itu juga sama seperti masalah “istiwa”. Aku katakan seperti apa yang aku katakan, yaitu “Saya tidak mengetahui makna ganti dan maksudnya, bahkan tidak akan diketahui kecuali Allah swt. Bukan atas hakikat dan dhohir lafadnya.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
<strong>Ahmad ibnu Taimiyah telah menulis ini.</strong></p>
<p>Tulisan pengakuannya ini ia tulis pada hari minggu tanggal 25 rabi’ul awwal tahun 707 H.</p>
<p>Dan inilah naskah/salinan apa yang telah ia tulis dengan tulisannya sendiri. Dan saya (imam nuwairi) menjadi saksinya pula bahwa beliau bertaubat kepada Allah dari apa yang ia yakini selama ini (4 masalah). Dan dia (ibnu taimiyah) melafadzkan dua kalimah syahadat yang agung. Saya bersaksi atasnya dengan sukarela dan seleksi dalam masalah itu semua di benteng gunung yang terjaga dari gedung gedung mesir. Semoga Allah menjaganya. Amien..</p>
<p>Dengan sejarah hari minggu tanggal 25 robi’ul awwal tahun 707 yang di saksikan oleh golongan orang orang yang terkemuka yang patuh dan tunduk dan golongan yang menyimpang.<br />
Aku keluarkan ini dan aku tetapkan di kairo. (selasai ucapan imam nuwairi).<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Ini dari kitab “Nihayatul arob fi fununil adab” milik hakim Syihabuddin an nuwairy. Beliau wafat pada tahun 733 H. cetakan darul kutub mesir 1998M juz 32 hal.115-116.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah3.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39949" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah3" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah3-793x1024.jpg" alt="" width="620" height="800" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Imam al hafidz ibnu hajar al asqolani</strong> berkata: &#8220;Ibnu taimiyah masih tetap di penjara bawah tanah hingga ditolong/diberi grasi oleh amir ali fadl sehingga beliau akhirnya bebas dibulan rabiul awwal tanggal 23 dan kemudian di hadapkan di sebuah benteng dan dilaksanan pembahasan (dialog terbuka)penj. Bersama sebagian pakar fikih hingga akhirnya tercatat sebuah catatan pengakuan ibnu taimiyah bahwa dia berkata:”Saya berpaham asy’ariyah”. Dan di jumpai pula tulisan beliau dengan teks sbb:</p>
<p>“Segala puji milik Allah yang aku beri’tikad pada-Nya bahwa Al Qur’an berdiri diatas makna Dzat Allah. Dan itu sifat dari beberapa sifatNya yang qodim dan ajali. Dan Ia bukan makhluk. Bukan dengan huruf dan bukan pula dengan suara.<br />
Sedangkan firman Allah yang berbunyi:</p>
<h2 style="text-align: justify;">
(الرحمن على عرش استوى)</h2>
<p style="text-align: justify;">
ini bukan seperti dhohirnya lafadnya. Saya tidak tahu makna ganti dan maksudnya, bahkan tidak diketahui itu kecuali hanya Allah swt. Dan pendapatnya dalam masalah “turunnya” (Allah) itu juga sama seperti masalah “istiwa”. (bukan seperti dhohirnya dan tidak diketahui muradnya).<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
<strong>Ibnu taimiyah telah menulisnya ini</strong>.</p>
<p>Kemudian para hadirin menyaksikannya bahwa dia bertaubat sebagai pilihannya dari apa yang ia yakini dulu dan itu terjadi pada tanggal 25 rabiul awwal tahun707 H. Dan peristiwa itu di saksikan pula oleh sebagian besar dari ulama dll. Setelah kasus ini reda, akhirnya di rilis (pengakuan taubat ibnu taimiyah ini)penj. ke permukaan. Dan beliau tinggal di kairo.</p>
<h3 style="text-align: justify;">
Adapun selain imam ibnu hajar dan imam nuwairi yang menuturkan tentang pertaubatan ibnu taimiyah ini terdiri dari ulama dan para pakar sejarah, yaitu:</h3>
<p style="text-align: justify;">
<strong>1. ابن المعلم(w.725) فى نجم المعتدى salinan paris nomor 638 </strong><br />
<strong>2. الدواداى(w.736) فى كنزالدرر- الجامع 239</strong><br />
<strong>3. ابن تغري بردي الحنفى (w.874) فى المنهل الصافى- الجامع 576</strong></p>
<p>Yang ke semua ini isinya sama seperti penuturannya ibnu hajar. Dan juga telah dinukil pula di kitab<br />
<strong>النجوم الزاهرة – الجامع 580</strong></p>
<h3 style="text-align: justify;">
SITUASI ORANG ORANG KARNA PERTAUBATAN IBNU TAIMIYAH:</h3>
<p style="text-align: justify;">
Seluruh ulama sepakat atas kebenaran peristiwa pertaubatan imam ibnu taimiyah rahimahullah ini. Namun setelah itu terjadi perselisihan tentang sikap ibnu taimiyah tsb. Ia jujur taubat sebenarnya atau murni permainan kata-kata/kamuflase atau taqiyah (kepura puraan)penj. (Agar segera dibebaskan).</p>
<p><strong>Sikap orang orang ada dua kelompok:</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>: Kubu yang membenarkan hal itu dan menaruh simpati kepada ibnu taimiyah, karena telah membawa kaum muslimin keluar menuju yang terbaik dan mendorong kepada kaum muslimin yang lain, oleh karena itu banyak ulama yang membelanya (taubat)penj. dan menentang siapa saja yang menuduh dia bid’ah. (karena taubat)penj.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Kubu yang berasumsi bahwa pertaubatannya itu tidak benar/tidak terbukti. Kubu ini ada dua versi, yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah4.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39951" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah4" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah4-721x1024.jpg" alt="" width="620" height="880" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PIHAK PERTAMA MENGATAKAN</strong>:”Orang orang telah memaksa ibnu taimiyah telah berbuat bid’ah dan memaksa keluar dari aqidahnya ahli kebenaran seperti yang telah ditegaskan dalam kitab kitab beliau. Dan atau seperti yang sudah banyak dinukil oleh para pengikut fanatiknya bahwa beliau ditetapkan dibanyak kitab bahwa beliau meninggal dunia di penjara.</p>
<p>Adapun ucapan mereka yang menyatakan bahwa ibnu taimiyah menghembus nafas terakhirnya di penjara, JAWABANNYA ADALAH:”Memang benar, namun itu dalam tahanan yang terakhir, yaitu beliau di jebloskan ke penjara lagi karena tersandung masalah fiqhiyah dan furu’iyah, seperti masalah fatwa haramnya bagi orang yang bepergian untuk berziarah kemakam Nabi Saw dll. Jadi bukan masalah akidah yang telah ia taubati itu.</p>
<h3 style="text-align: left;">
Mengenai tidak ditemukannya dalil penguat/pembenaran atas taubatnya beliau di kitab kitab beliau atau referensi valid dari beliau JAWABANNYA ADALAH:</h3>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Ibnu Taimiyah tidak mencetak semua kitab kitabnya. Sehingga dengan indikasi ini kami menguatkan.</strong></p>
<p><strong>2. Alasan lain bahwa kitab kitabnya yang telah tercetak terdapat banyak kekeliruan puluhan halaman seperti yang terjadi dalam kitab fatawanya terutama dari lembaran lembaran dan kalimatnya. Sebuah kesalahan jika kami menetapkan tidak adanya pencabutan ibnu taimiyah atas akidahnya atau tidak memungkinkannya kembalinya beliau kepada kebenaran.</strong></p>
<p><strong>3. Kitab kitab yang beredar kini dan fatwa fatwa yang di nisbatkan kepada beliau, itu semua di kumpulkan 5 abad/lebih setelah beliau wafat. Dan itu semata mata hanya salinan-salinan yang tidak jelas yang tak bisa membenarkan dan yang tak bisa menyanggah hal itu.</strong></p>
<p><strong>PIHAK KEDUA MENGATAKAN</strong>:”Ini mengenai martabat sebuah akidah yang beliau taubati. Pihak ini mengatakan bahwa taubatnya ibnu taimiyah ini hanyalah permainan kata kata dan taqiyyah (menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati untuk menyelamatkan diri-pent) bukan yang lain. Dan inilah yang banyak di anut oleh pengikutnya hingga sekarang. Dan menurut mereka pula, ini tidak benar jika taubat dari keyakinannya di nisbatkan kepada sosok seorang ibnu Taimiyah rahimahullah karena ia beri’tikad bahwa akidahnya-lah yang diatas kebenaran. Bagaimana pula dia menyerah/tidak berpegang teguh dalam pendiriannya sedangkan beliau adalah seorang pemimpin dan panutan dalam masalah kebenaran ini. Pihak ini berdalih seperti teguh dan sabarnya imam Ahmad bin Hambal [yang memilih tetap dipenjara-pent]. (tatkala disuruh mengakui bahwa Al Qur’an itu adalah makhluk-pent) dan ulama ulama yang lain.</p>
<p><strong>[Penulis kitab berkata]</strong><br />
Adapun yang benar adalah yang menguatkan bahwa ibnu Taimiyah telah bertaubat dari akidahnya, segala puji milik Allah. Tujuan saya dari semua ini adalah setiap bantahan dan sanggahannya mengenai pesan ini. Saya tidak bermaksud membahas secara personal seorang ibnu taimiyah, saya hanya bermaksud dengan apa yang telah disebutkan dalam kitab kitabnya, entah itu pendapat beliau disaat belum taubat (Allah bersemayam)red. Atau itu hanya ucapannya orang yang berbuat buat atas nama ibnu taimiyah rahimahullah.</p>
<p style="text-align: justify;">
Sehingga kesimpulannya adalah:’Bantahan/sanggahan ini ditujukan pada pendapat/opini yang berkembang saat ini, bukan pada sang penutur/pengucap(ibnu taimiyah)red. seperti yang ada sekarang ini.</p>
<p style="text-align: center;">
<p>……………………&#8230;<strong>T A M A T</strong>…………………….</p>
<p style="text-align: justify;">
<p>Semoga bermanfaat, sehingga menjadi khazanah ilmu pengetahuan anda semua…<br />
Saya ucapkan banyak terima kasih bagi kawan kawan disini yang telah mendukung atas terbitnya scan kitab ini : )</p>
<p>Saya juga mohon maaf jika ada terjemahan yang kurang berkenan dalam hati kawan kawan disini. Jangan lupa di copy paste atau hanya di download saja gambar scan kitab ini (scan#1-2-3-4). Afwan bagi rekan rekan yang tidak kena [Tag] oleh saya karena keterbatasan pertemanan atau perangkat saya. Saya ijinkan pula bagi siapa saja yang ingin menyebarkannya dengan cara mengeTag teman temannya /dll.</p>
<p style="text-align: center;">
<p>::::::::::::: KEBENARAN HANYA MILIK ALLAH:::::::::::</p>
<p style="text-align: justify;">
Scan ini adalah kitab:</p>
<h2 style="text-align: justify;">د ررالالفاظ العاوالي فى الرد على الموجان والحوالي</h2>
<p style="text-align: justify;">Karya:</p>
<h2 style="text-align: justify;">غيث بن عبدالله الغالبي</h2>
<p style="text-align: justify;">Adapun riwayat pertaubatan ibnu taimiyah ini ada dalam kitab:</p>
<h2 style="text-align: justify;">الدررالكامنة فى اعيان المائة الثامنة</h2>
<p style="text-align: justify;">Karya ulama pakar hadis dan fikih abad ke-8, yaitu Ibnu Hajar Al Asqolany.<br />
Seperti yang tertera dalam scan#1.</p>
<p>Saya meriwayatkan ini dari SANAD berikut ini:</p>
<h2 style="text-align: right;">
ارويها عن الشيخ محمد أمين الهرري عن الشيخ محمد ياسين بن محمد عيسى الفادني عن السيد جعفر بن محمد الحداد, والسيد منصور بن عبدالحميد الفلمباني المكي, كلاهما عن والد الثاني السيد عبد الحميد بن محمود الفلمباني عن ابيه المعمر السيد محمود بن كنان الفلمباني عن المعمر الشيخ عبد الصمد بن عبد الرحمن الأشي الشهير بالفلمباني عن السيد عمادالدين يحي بن عمر مقبول الأهدل الزبيدى عن محمد بن عمر بن مبارك بحرق الحضرمي عن السيد أحمد بن حسين العدروس التريمي عن السيد محمد بن على خرد التريمي عن محمد بن عبد الرحمن الخاوي عن مؤلفها الحافظ أبي الفضل أحمد بن علي بن حجر العسقلاني.</h2>
<p style="text-align: justify;">Kalau memang riwayat scan#1-2-3-4 ini dikatagorikan lemah, mungkin karena ada satu rowinya yang penuh dosa, hina dan tidak pandai berdebat ini, yaitu saya sendiri.. hehehehe..</p>
<p>Salam Aswaja !!</p>
<div id="fbPhotoPageAuthorName"><a href="https://www.facebook.com/profile.php?id=100001572504293" data-hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=100001572504293">Kaheel Baba Naheel</a></div>
<div>Ini hasil dari scan saya sendiri (bukan ngambil dari link) dan berikut dengan terjemahannya saya sendiri.<br />
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan atau terjemahannya dikarenakan keterbatasan ilmu yang saya miliki.</div>
<div></div>
<div>Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.</div>
<p style="text-align: justify;">
<p>► Jgn Lp Copas Download<br />
█║▌│█│║▌║││█║▌║▌║</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/usulidin/inilah-kitab-yang-memuat-tentang-taubatnya-imam-taqiyuddin-ibnu-taimiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KH. Ahmad Rifa’i &amp; KH. Ahmad Dahlan Dua Sosok “Reformis” Yang Berbeda</title>
		<link>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/kh-ahmad-rifa%e2%80%99i-kh-ahmad-dahlan-dua-sosok-%e2%80%9creformis%e2%80%9d-yang-berbeda/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/kh-ahmad-rifa%e2%80%99i-kh-ahmad-dahlan-dua-sosok-%e2%80%9creformis%e2%80%9d-yang-berbeda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 15:02:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama-ulama Yang Menjadi Pahlawan Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=33258</guid>
		<description><![CDATA[Keduanya sama-sama memperjuangkan ajaran Islam sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. Akan tetapi, terdapat perbedaan yang mendasar dari keduanya, yakni persfektif terhadap Kolonial Belanda. Tanbihun- ULAMA sejatinya berfungsi sebagai panutan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: justify;"><span style="color: #333399;">Keduanya sama-sama memperjuangkan ajaran Islam sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. Akan tetapi, terdapat perbedaan yang mendasar dari keduanya, yakni persfektif terhadap Kolonial Belanda.</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/2-tokoh-reformis-islam.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-33260" title="2 tokoh reformis islam" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/2-tokoh-reformis-islam-300x181.png" alt="" width="300" height="181" /></a>Tanbihun</strong>- ULAMA sejatinya berfungsi sebagai panutan masyarakat. Memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran agama sebagaimana yang sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada masyarakat muslim sebelumnya. Ulama dituntut untuk bisa memberikan rujukan yang otentik tentang ajaran agama Islam atas problematika kehidupan masyarakat muslim yang tak pernah surut.Dalam wilayah ini ulama berperan sebagai pewaris ajaran Nabi. Sebagaimana hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Khathib melalui Jabir, Rasul Saw bersabda: “Muliakanlah oleh kalian para ulama, karena mereka adalah pewaris para nabi; barangsiapa memuliakan mereka berarti ia memuliakan Allah dan Rasul-Nya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits lain yang cukup panjang dijelaskan pula bahwa ulama adalah orang-orang yang terpilih diantara sekian banyaknya manusia, “Orang-orang yang terpilih dari umatku adalah para ulama dan para ulama yang terpilih adalah orang-orang yang paling belas kasihan. Ingatlah, sesungguhnya Allah SWT, benar-benar memberi ampunan kepada orang alim sebanyak empat puluh macam dosa, sebelum Dia memberi ampunan satu macam dosa terhadap orang yang jahil (tidak mengerti agama), ingatlah, sesungguhnya orang alim yang belas kasihan itu kelak di hari kiamat ia datang dalam keadaan bercahaya, dan sesungguhnya cahaya orang alim itu selalu menerangi jalan yang ditempuhnya sejauh antara arah timur dan arah barat, cahayanya itu seakan-akan bintang yang kemilau cahayanya.” (HR. Al-Qudha’i melalui Ibnu Umar r.a.)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini menjelaskan bahwa ulama adalah sebaik-baik manusia setelah Nabi. Mereka adalah pewaris sekaligus penerus ajaran Nabi. Kemilau cahaya Ilahi dalam perangai mereka, mampu menerangi dunia yang gelap -antara timur dan barat- dari cahaya kemuliaan agama. Begitu luasnya pengaruh kemuliaan ulama, sampai-sampai Allah SWT mengabadikannya di dalam Al-Qur’an, “Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Fathir [35]: 28)</p>
<p style="text-align: justify;">Pantas saja, kehidupan para ulama dahulu yang memperjuangkan integritas ajaran Islam selalu dirundung oleh berbagai macam tudingan, ancaman, serta hukuman yang sangat berat dari musuh Islam yang benci kepada pergerakan dakwah mereka. Hal itu tidak lekas menyurutkan pergerakan dakwah mereka. Mereka (para mujahid) lebih gencar lagi mendakwahkan Islam sebagai sebuah agama rahmatan lil’alamin. Berikut adalah profile dua tokoh pejuang Islam yang sama-sama memperjuangkan identitas Islam atas dasar Al-Qur’an dan as-Sunnah. Akan tetapi, terdapat perbedaan yang cukup kontras diantara keduanya, yakni sikap terhadap Kolonial Belanda.</p>
<h4 style="text-align: left;">Ahmad Rifa’i, Ulama Sekaligus Pahlawan Nasional</h4>
<p style="text-align: justify;">Ia adalah ulama besar ahli Tarekat. Ia sangat gigih melawan kolonialisme Belanda ketika menancapkan pengaruhnya di Nusantara. Oleh karena itu, Presiden Susilo Bambang Yudoyono memberikan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional, melalui Kepres Nomor: 089/TK/2004. Selain itu, Kyai Rifa’i juga dikenal sebagai sosok pemimpin rakyat yang tegas, ulet dan teguh dalam pendirian. Sehingga, DR. Karel Steenbring dalam salah satu tulisannya, menyebut Kyai Rifa’i sebagai reformis fundamentalis sejati. Kekuatan tokoh ini menurut beliau, terletak pada prinsip dan semangat juangnya, yakni tekad untuk mengembalikan Islam pada Al-Qur’an dan Sunnah. Ahmad Rifa’i dilahirkan di Desa Tempuran, Kabupaten Semarang pada hari Kamis tanggal 9 Muharram tahun 1200 Hijriah bertepatan dengan tahun 1786 Masehi (dalam versi lain 1785). Ayahnya bernama Muhammad Marhum bin Abi Sujak Wijaya, seorang penghulu di Kendal, Jawa Tengah. Ibunya bernama Siti Rohmah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad Rifa’i merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara. Mungkin sudah menjadi ketentuan dari Allah bahwa dalam sejarahnya seorang calon mujahid yang tangguh akan mengalami cobaan yang bertubi-tubi. Begitu pula dengan Ahmad Rifa’i. Beliau ditinggal pergi oleh ayahanda tercinta untuk selama-lamanya. Pada waktu itu ia masih berusia enam tahun. Inilah awal cobaan yang diterima oleh Ahmad Rifa’i dari Allah Swt sebelum cobaan lain yang lebih besar menimpa dirinya. Setelah kepergian ayahnya, Ahmad Rifa’i diasuh oleh kakaknya, Nyai Rajiyah binti Muhammad, yang merupakan istri dari ulama pendiri dan pengasuh Pesantren Kaliwungu, KH. Asy’ari. Maka, dimulailah perjuangan Ahmad Rifa’i dalam menebarkan pesan-pesan ajaran agama Islam kepada masyarakat luas.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia berjuang dan menyebarkan Islam dengan gigih dan tak kenal menyerah. Relasi ia kumpulkan agar lebih mudah dalam menyebarkan pesan-pesan agama bagi masyarakat luas. Perjalanan hidup Kyai Rifa’i amatlah panjang dan berliku. Ketika masih kecil, ia mulai berdakwah dengan melakukan tabligh keliling di daerah Kendal dan sekitarnya. Disamping menyampaikan masalah tentang keagamaan, Rifa’i juga menyampaikan masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat, terutama masalah tentang arti kemerdekaan dan perjuangan melawan kolonial. Bentuk dakwah seperti ini lah yang menjadi cikal bakal diasingkannya KH Ahmad Rifa’i beserta para ulama lainnya oleh pemerintah kolonial ke daerah Ambon, dan selanjutnya ke Manado. Namun, berkat kegigihan dan girah yang tinggi tak lekas menyurutkan semangat juang Kiayi Rifa’i beserta pengikutnya untuk terus mendakwahkan ajaran Islam. Kyai Rifa’i tetap konsisten dalam menyebarkan ajaran Islam. Bahkan, ketika ia diasingkan oleh kolonial, bukannya surut, pergerakannya malah semakin membuat pihak kolonial takut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 1838, ia dibuang ke kalisalak, sebuah desa terpencil di Kecamatan Limpung, Batang, namun mujahid yang tak pernah patah arang ini pada tahun 1841 justru membangun sebuah Pesantren Al-Qur’an di kawasan Hutan Belantara itu. Pesantren baru ini berkembang pesat, lama kelamaan santrinya berdatangan dari berbagai penjuru pulau jawa. Tapi gara-gara aktivitasnya itulah pemerintah Belanda lagi-lagi gerah. Apalagi karena Kyai Rifai tetap saja menggembleng para patriot desa dengan semangat anti penjajah yang kafir. Dalam mengompori gerakannya, Kyai Rifa’i tampil menentang penjajah dengan Gerakan Tarajumah. Gerakan ini lebih menekankan pada aspek keagamaan dengan budaya masyarakat lokal. Ia membuka kesadaran masyarakat untuk menjadikan Islam sebagai roh kehidupan dan perjuangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata Tarajumah, dialek Sunda untuk kata Tarjamah dari bahasa Arab, diambil dari kitab agama karangannya yang ia susun di sela-sela mengajar. Selain Tarajumah, Kyai Rifa’i berhasil menyusun Kitab Nazam Wikayah. Kitab ini berisi anjuran kepada kaum muslim Jawa untuk menentang dan melawan orang kafir Belanda serta mereka yang bersekutu dengannya. Slamete dunya akherat wajib kinira nglawan raja kafir sekuasane kafikira tur perang sabil lewih kadene ukara kacukupan tan kanti akeh bala kuncara (Keselamatan dunia-akherat wajib diperhitungkan melawan raja kafir sekemampuannya perlu dipikirkan‟ demikian juga perang sabil lebih dari pada ucapan cukup tidak menggunakan pasukan yang besar) Selain doktrin kepada pemerintah kolonial Belanda, K.H. Ahmad Rifa’i juga mengajarkan doktrin protesnya terhadap birokrat feodal tradisional yang menjadi kaki tangan Belanda. Merekalah musuh yang paling berbahaya bagi pergerakan dakwah Kyai Rifa’i beserta para pengikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Doktrin ini terlihat dalam Kitab Tarqhib. Tanbihun, tinemu negara Jawi rajane kufur Iku amar naha ora gugur Saben mukalaf ghalib ana kuasa milahur Uga bisa ghalib derajate luwih luhur Tinemu alim fasiq ngilmune ketanggungan Ningali ing negara Jawi dhalim rajane kinaweruhan Iku aweh pitutur tinemu linakonan Wajib amar naha sabab akeh kamaksiatan (Ingatlah! Sekarang didapati penjajah sudah menguasai negara Jawa Berjuang mencegah selalu diharapkan Tiap-tiap rakyat dewasa kalau mampu melaksanakan Kalau memang benar-benar mampu mencegahnya akan memperoleh kemulyaan Kamudian, kalau didapati ada alim penghianat yang ilmunya diragukan Otomatis mereka melihat Jawa jelas dikuasi penjajah dan menindas rakyat Sikapnya mestinya harus memberi penjelasan ke arah yang baik untuk dilaksanakan Sebab wajib bagi mereka mencegah kalau sudah terjadi wabah kemaksiatan). Dalam serangkaian tulisannya, Kyai Rifa’i selalu menyebut Belanda sebagai penjajah kafir, dan siapapun yang berkolaborasi dengan Belanda, maka hukumnya juga Kafir, dan halal untuk diperangi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandangan seperti itu, akhirnya menjadi fatwa yang tersebar luas di kalangan masyarakat Kalisalak dan sekitarnya. Sehingga membuat Belanda sangat marah dan mengejeknya dengan julukan “Setan Kalisalak”. Bahkan atas suruhan Belanda pula, sejumlah ulama yang pro Belanda sempat menggelarinya sebagai “Ulama Sesat”. Karena sikapnya yang begitu keras memerangi Belanda, mengakibatkan ia harus mendapat kecaman, bahkan ancaman serius dari pemerintah Belanda, maupun ulama yang bersebrangan dengannya. Akhirnya larangan berdakwah pun dikeluarkan, tapi ia tetap jalan terus, bahkab semakin gencar. KH. Ahmad Rifa’i adalah ulama sekaligus mujahid, pejuang Islam, ia dicintai dan sangat dekat dengan rakyat, terutama karena ia mampu mengajar agama dengan bahasa lokal Jawa, campur Sunda, sebagai bahasa perantara. Ia menulis puluhan kitab Agama dalam bahasa Jawa dengan menggunakan huruf Pegon, huruf Arab berbahasa Jawa. Tak kurang dari 55 judul kitabnya, kini masih dibaca oleh para pengikutnya. Kyai Rifa’i menyebut kitab-kitab dalam bahasa Jawa itu sebagai Tarajumah, yang berarti Terjemahan. Hingga saat ini masih ada beberapa murid Kyai Rifa’i yang melanjutkan dakwah dan perjuangannya. Antara lain, Abdul Aziz (Wonosobo) Ishak (Kendal), Imam Puro (Batang) Abu Salim (Pekalongan) dan masih banyak lagi. Para pengikut Kyai ini membentuk sebuah organisasi yang bernama Rifa’iyah, berpusat di Kedungwuni, Pekalongan, Jawa Tengah. KH. Ahmad Rifa’i berpulang ke Rahmatullah pada tahun 1870 (pada umur 84 tahun) sewaktu diasingkan oleh Kolonial Belanda di Kampung Jawa Tondano, Manado, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kyai Mojo. Semoga semangat perjuangan dakwah beliau yang sangat tinggi bisa kita miliki dalam menjalankan kewajiban kita sebagai seorang muslim. Serta semoga ia mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.</p>
<h4 style="text-align: left;">Ahmad Dahlan, Menentang Tradisi Lokal</h4>
<p style="text-align: justify;">Ahmad Dahlan adalah salah satu ulama besar di zamannya yang berani dengan keras menentang kebijakan Kolonial Belanda atas sistem kastaisasi pendidikan untuk kaum bumi putera. Ia lahir di Yogyakarta pada 1 Agustus 1868 dengan nama kecil Muhammad Darwis. Adapaun nama Ahmad Dahlan adalah pemberian gurunya sewaktu belajar di Kota Mekah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad Dahlan adalah putera keempat dari tujuh bersaudara (lima saudaranya perempuan dan dua lelaki yakni ia sendiri dan adik bungsunya) dari pasangan dari K.H. Abu Bakar (seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu) dengan Nyai Abu Bakar (puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu). Jadi, secara genealogis Ahmad Dahlan adalah keturunan darah biru dari Kasultanan Yogyakarta. Jika ditelusuri lebih jauh dalam silsilah keluarga, Ahmad Dahlan termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar diantara Wali Songo.</p>
<p style="text-align: justify;">Silsilahnya lengkapnya ialah Muhammad Darwis (Ahmad Dahlan) bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadla bin Kyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlul’llah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim. Wajar saja jika pergerakan dakwah Ahmad Dahlan bersikap ideologis dan keras menentang kolonialisme Belanda di Nusantara. Keluasan ilmu Ahmad Dahlan di kemudian hari berawal dari pendidikan keluarga yang sangat mengutamakan pendidikan agama. Ia dididik oleh keluarganya melalui metode pendidikan nabawi dengan hidup di lingkungan pesantren. Sehingga wajar, Dahlan kecil memiliki pemikiran berbeda dari kebanyakan remaja seusianya pada waktu itu yang lebih sibuk dengan agenda hura-hura. Dahlan kecil lebih berfikir ke depan tentang realitas keagamaan masyarakat sekitar yang banyak mengusik naluri pembaharuannya di masa depan. Tak ayal, ketika usia 15 tahun ia memutuskan untuk pergi haji dan belajar agama Islam lebih dalam di Kota Mekah. Ketika berada di Mekah, Ahmad Dahlan semakin intens berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibn Taimiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Interaksi ini sangat berpengaruh pada semangat, jiwa dan pemikiran Dahlan ketika pulang ke Indonesia. Setelah lima tahun belajar di Mekah, tepatnya pada tahun 1888, saat berusia 20 tahun, Dahlan kembali ke kampungnya. Lalu, ia pun diangkat menjadi khatib amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Pada tahun 1902, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya, sekaligus dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Mekah hingga tahun 1904. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syekh Ahmad Khatib, pembaharu dari Minangkabau yang juga guru dari pendiri organisasi NU, KH. Hasyim Asyari. Sepulang dari Mekah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil. Siti Walidah, kemudian lebih dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah (salah satu organisasi intern Muhammadiyah).</p>
<p style="text-align: justify;">Pasangan ini mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Zaharah. Di samping itu, KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman dari Yogyakarta. Perjalanan spiritual Ahmad Dahlan dalam memahami Islam cukuplah panjang dan berliku. Berguru ke berbagai tempat, serta mendapatkan banyak pemahaman tentang agama Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal terpenting dari perjalanan spiritual Ahmad Dahlan adalah ketika ia berhasil mengubah paradigma masyarakat kampungnya yang bersifat ortodok menjadi lebih modern. Menurutnya, ortodok mengakibatkan kejumudan berfikir, stagnasi pemikiran yang semakin menurunkan aspek nalar intelektual. Hal ini menjadi nilai tambah bagi Kolonial Belanda yang sedang menancapkan faham kolonialismenya di Indonesia dan menjadi nilai kurang bagi bangsa dan negara Indonesia sendiri. Karena perilaku keagamaannya berlainan dengan kebiasaan masyarakat sekitar -seperti menjauhi tradisi sesajenan, mengubah arah kiblat- ia sempat digelari oleh masyarakat dengan sebutan “Kyai Kafir.” Hal terberat dalam perjalanan dakwah Ahmad Dahlan adalah ketika langgar tempat mengajinya dirobohkan oleh masyarakat sekitar karena mendapat hasutan dari kyai yang bersebrangan dengan idealismenya dalam menentang praktek keagamaan yang ortodok.</p>
<p style="text-align: justify;">Perjuangan Ahmad Dahlan dalam memurnikan ajaran Islam dari unsur tradisi lokal yang puritan, banyak didorong oleh sang istri Siti Walidah, serta murid-murid setianya. Sempat beliau berputus asa ketika dakwah Islamiyahnya terganjal oleh hasutan Kyai pro Belanda. Namun, atas kebesaran hati Ahmad Dahlan serta dorongan kuat dari keluarga, terutama sang istri, akhirnya Ahmad Dahlan kembali membangun semangat untuk memurnikan niatnya dalam mendakwahkan ajaran Islam. Ahmad Dahlan adalah pendiri organisasi besar Muhammadiyah yang berpusat di Yogyakarta. Beliau mendirikan Muhammadiyah pada tanggal 18 Noember 1912 Masehi bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 Hijriah. Dalam website resmi PP Muhammadiyah, dijelaskan bahwa kata “Muhammadiyah” secara bahasa berarti “pengikut Nabi Muhammad”.</p>
<p style="text-align: justify;">Penggunaan kata “Muhammadiyah” dimaksudkan untuk menisbahkan (menghubungkan) dengan ajaran dan jejak perjuangan Nabi Muhammad. Penisbatan nama tersebut menurut H. Djarnawi Hadikusuma mengandung pengertian sebagai berikut: “Dengan nama itu dia bermaksud untuk menjelaskan bahwa pendukung organisasi itu ialah umat Muhammad, dan asasnya adalah ajaran Nabi Muhammad saw, yaitu Islam. Dan tujuannya ialah memahami dan melaksanakan agama Islam sebagai yang memang ajaran yang serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, agar supaya dapat menjalani kehidupan dunia sepanjang kemauan agama Islam. Dengan demikian ajaran Islam yang suci dan benar itu dapat memberi nafas bagi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.” Pada masa kepemimpinan Ahmad Dahlan (1912-1923), pengaruh Muhammadiyah terbatas hanya di karesidenan-karesidenan, seperti: Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam. Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatera Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Singkat cerita, pada tahun 1938 Muhammadiyah telah tersebar keseluruh wilayah Indonesia dan mulai mengembangkan program dakwahnya secara lebih besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat;</li>
<li style="text-align: justify;">Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam;</li>
<li style="text-align: justify;">Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan</li>
<li style="text-align: justify;">Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Mengenai langkah pembaharuan Kyai Dahlan, yang merintis lahirnya Muhammadiyah di Kampung Kauman, Adaby Darban (2000: 31) menyimpulkan hasil temuan penelitiannya sebagai berikut: “Dalam bidang tauhid, KH. Ahmad Dahlan ingin membersihkan aqidah Islam dari segala macam syirik. Dalam bidang ibadah, membersihkan cara-cara ibadah dari bid’ah. Dalam bidang mumalah, membersihkan kepercayaan dari khurafat, serta dalam bidang pemahaman terhadap ajaran Islam, ia merombak taklid untuk kemudian memberikan kebebasan dalam ber-ijtihad.” Ketauhidan menjadi prioritas utama organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan ini. Hal ini berawal dari realitas masyarakat Kauman Yogyakarta yang melakukan ritual keagamaan bercampur mistik. Ahmad Dahlan mengetahui bahwa hal tersebut adalah syirik yang sangat berbahaya dilakukan oleh seorang muslim karena perilaku syirik adalah hal yang paling dibenci oleh Allah dan tidak akan pernah diampuni.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh : <a title="Dian kurnia" href="http://initialdastroboy.wordpress.com/2011/08/20/dua-sosok-“reformis”-yang-berbeda-kh-ahmad-dahlan-kh-ahmad-rifa’i/" target="_blank">Dian Kurnia</a> Mahasiswa Sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/kh-ahmad-rifa%e2%80%99i-kh-ahmad-dahlan-dua-sosok-%e2%80%9creformis%e2%80%9d-yang-berbeda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pahlawan Penebar Cinta</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/pahlawan-penebar-cinta/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/pahlawan-penebar-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Aug 2011 03:23:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Much. Ehwandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen,Puisi & Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[isi hati]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=28689</guid>
		<description><![CDATA[Jam tepat menunjukkan pukul 23.00 WIB. Waktu sidang segera dimulai. Orang-orang menunggu dengan hormat atau letih. Sulit diterjemahkan. Mereka siap menunggu keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Keputusan bebas...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><a href="http://tanbihun.com/bebas/pahlawan-penebar-cinta/attachment/cnta/" rel="attachment wp-att-28696"><img class="alignleft size-medium wp-image-28696" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/cnta-300x203.jpg" alt="" width="300" height="203" /></a>Jam tepat menunjukkan pukul 23.00 WIB. Waktu sidang segera dimulai. Orang-orang menunggu dengan hormat atau letih. Sulit diterjemahkan. Mereka siap menunggu keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Keputusan bebas yang bersifat universal. Tidak seperti produk hukum yang dibuat DPR atau badan hukum yang hanya untuk kewenangan politik atau muatan lainnya. Hukum yang benar-benar menjadi keputusan pembawa maslahat. Hatiku berdegub kencang. Khawatir, bingung, dan waswas apa yang akan beliau laksanakan sebagai bentuk kebijaksanaan untuk semua pihak. Aku membayangkan andai beliau salah tunjuk, keliru memberi keputusan, atau khotho’ dalam berpikir, niscaya kepercayaan yang masyarakat bentuk akan luntur. Atau keyakinan yang selama ini tertancap dalam hati mereka akan pudar. Sambil terus merenung dan menuntun beliau untuk sampai ke meja tamu putra, aku terus memandang dan berpikir  keras kejadian apa yang akan terjadi nanti. Dalam hati ku terus berdo’a, “<em>Ya Rabb ! Andaikan Engkau akan memberikan yang terbaik kepada beliau, tolong berilah beliau ilham yang dapat membuatnya bijaksana</em>”.</p>
<p style="text-align: justify">“<em>Ada apa mas?</em>”, aku memulai pembicaraan dengan membukakan pintu yang di belakangnya muncul dua pemuda “<em>Preman</em>” dengan gagah. Keduanya membawa seorang lagi. Ia tampak sedih. Bermuka durja. Seperti kelihatan penuh penyesalan. Aku melihatnya dengan penuh iba. Seakan ia ingin menerjemahkan duka di atas kesedihan dan nestapa yang berkepanjangan. Kedua pemuda itu mencangkingnya dengan kegaraman. Mata keduanya seakan jijik. Ekspresi wajah mereka kelihatan garang. Aku sulit menerjemahkan tatapan-tatapan asing yang terselimut dalam diri dan muka-muka mereka. Aku tanya apa dan bagaimana maksud kedatangan mereka di tengah malam seperti ini? Malam yang setahuku adalah waktu istirahat atau belajar malam. Dan memang begitulah kebiasaan beliau di tengah malam. Antara belajar, wiridan, atau bermunajat kepada Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify">“<em>Gini mas, kami dari perwakilan pemuda-pemuda kampung. Maksud kedatangan kami adalah untuk meminta keputusan dan kebijaksanaan Mbah Yai. Kami mencurigai seseorang yang mau mendongkel rumah teman kami. Kami lihat dia mencongkel jendela dan mencoba masuk. Dan al-hamdulillah, dia tertangkap basah. Sebenarnya massa ingin mengeroyok dan memukulinya. Namun, sebagian kami menawarkan penghukuman kepada Mbah Yai. Maka kami meminta kebijaksanaan beliau”, begitu kata-kata yang keluar dari lelaki gagah yang memperkenalkan dirinya, sebut saja Ahmad. “Oh, gitu! Sebentar saya tak matur dulu!</em>”, sahut saya dengan penuh kekhawatiran dan bimbang dalam penanganannya.</p>
<p style="text-align: justify">#      #    #</p>
<p style="text-align: justify">“<em>Gini mas !!!</em>”, beliau mulai menjawab permintaan mereka. Wibawa beliau muncul. Semua preman di hadapan beliau tertunduk dengan hormat. Menunggu keputusan yang akan beliau ucapkan. “<em>Secara hukum syara’, saya hanya berhak memberikan keputusan secara lahir. Untuk fakta dan realitasnya wallahu a’lam. Sebaiknya setelah njenengan-njenengan sedoyo dari sini, silahkan melapor kepada pihak yang berwajib juga</em>” pembukaan beliau membuatku sedikit lega. Sebuah mukadimah jawaban yang memang tepat menurutku. Sebab tidak semua keputusan yang diberikan seorang Kyai kepada terdakwa itu bersifat absolut kebenarannya. Ada lingkup terbatas yang tidak bisa ditangani kaum santri dan Kyai. Dan kita meski menyadari hal ini. Aku menjadi teringat kisah Nabi saw saat bertanya perkebunan kurma para sahabat di Madinah. Beliau menganjurkan untuk tidak mengawinkan antar kurma. Menurut Nabi saw kurma waktu itu sebaiknya dibiarkan saja. Dan para sahabat mengikuti petuah yang beliau isyaratkan. Namun, predikisi Nabi saw meleset. Ternyata semua kurma yang tidak dikawinkan mati tidak berkembang. Jatah waktu pernikahan yang semestinya dilakasanakan membuat sumbang semua harta kurma. Dan saat para sahabat mengadu kepada Nabi saw mengenai tragedi mengenaskan tersebut, dengan penuh kebijaksanaan beliau menjawab, “<em>antum a’lamu bi umûri dunyâkum (kalian lebih tahu urusan dunia kalian)</em>”. Inilah legitimasi yang dibuat Nabi saw. Beliau tidak menyalahkan para sahabat. Bahkan beliau memberikan konfirmasi penuh pengalihan kuasa tentang dunia kepada para sahabat selama hal itu menimbulkan sebuah maslahat.</p>
<p style="text-align: justify">Berbicara maslahat (kebaikan yang menjadi efek samping), berarti membicarakan sesuatu yang sulit ditebak. Hal yang perlu ijtihad dan konsentrasi penuh dalam pembicaraannya. Sesuatu yang akan menimbulkan kontroversial. Aku menjadi berpikir, akankah keputusan Abah nanti harus menjadi penyebab terpecahnya umat? Atau sebaliknya, dapat menyelesaikan keadaan yang rumit ini? Atau hanya memberikan konsentrasi dan penekanan sedikit yang tidak berarti apa-apa. Sudahlah biarkan waktu dan kenyataan yang menjawab kebenarannya.</p>
<p style="text-align: justify">#      #    #</p>
<p style="text-align: justify">Abah masuk ke rumah. Beliau mengambil mushaf kalam suci. Diambilnya penuh takdzim. Dengan penuh wibawa beliau berkata, “<em>Suruh terdakwa maling ini untuk baca syahadat, solawat, dan bersumpah di bawah persaksian kalam yang suci. Andai dia berbohong, niscaya dia akan melarat selamanya. Dan jika dia berani bersumpah nanti, tolong diklarifikasi lagi ke kantor polisi untuk diadili secara hukum Indonesia</em>”. Kemudian pria cangkring, hitam pekat, yang hanya mengenakan kaos dengan warna hitam itu maju ke depan dibimbing Abah membaca syahadat dan salawat. Kemudian beliau menuntunnya untuk mengucapkan sumpah:</p>
<p style="text-align: justify"><em><strong>Demi Allah! Demi Kitab Allah yang suci. Saya bersaksi dan mengakui bahwa saya tidak mencuri atau berniat mengambil harta orang desa Talun RT 02 RW 02 ini. Saya berani menanggung akibatnya jika saya telah berdusta.</strong></em></p>
<p style="text-align: justify">Sumpah itu diucapkan oleh terdakwa pencuri dengan lantang dan tegas. Tidak ada sedikit keraguan tersimpan dalam kata-katanya. Aku juga sulit mengartikan kesalahan pada wajahnya yang polos itu. “<em>Begini mas! Menurut aturan fikih ajaran kita, orang ini telah terbebas dari tuduhan pencurian. Dia dianggap suci tidak sesuai dengan dugaan saudara. Tapi ingat! Sebaiknya juga diklarifikasikan dulu ke pihak berwajib</em>”, Abah mulai memecahkan heningnya suasana. Lega aku mendengarnya. Bagaimanapun juga beliau adalah benar. Dengan keadaan dan penegasan seperti tadi tidak berarti secara hakiki dia terbebas dari tuduhan.</p>
<p style="text-align: justify">Sungguh arif keputusan yang beliau sampaikan. Aku sempat berpikir keras sebelumnya, tentang jawaban bagaimana yang sekira tepat dan sesuai dengan permintaan mereka. Sebab inilah hakikat dilema yang dihadapi penghukum. Jika dia membenarkan penduga atau penuntut hukum, padahal kenyataannya terdakwa bukanlah pencuri sebenarnya, maka bisa fatal akibatnya. Sang terdakwa bisa marah dan mengeluarkan temannya bersama menggrebek kami suatu malam nanti. Dan jika terdakwa itu dibenarkan secara mutlak, maka para penuntut hukum tidak akan menerima kenyataan dan sebaliknya, kami juga yang menjadi incaran bulanan-bulanan mereka. Atau hanya diam tanpa mengambil sikap, maka tercemar nama Abah, karena dianggap sebagai Kyai yang tidak berprinsip yang bisa diambil manfaat dan fatwanya. Sempat dilema. Namun terjawab dengan sehat oleh beliau, tanpa mengurangi martabat, kejujuran, menambah kesedihan atau kedengkian antar sesama. Alangkah indah dan bijaksana keputusan beliau. Tidak jauh dan berlebih jika kita memberikan predikat beliau dengan sebutan, “<em>Pahlawan Penebar Cinta</em>”. Bukan kedengkian dan kejanggalan antar sesama.</p>
<p style="text-align: justify">Oleh: Ust. MA. Zuhurul Fuqohak</p>
<p style="text-align: justify">Disadur dari Bulletin Kinaweruhan Edisi 4 Pondok Pesantren Miftahul Ulum Pati</p>
<p style="text-align: justify"><a href="http://ponpestalun.blogspot.com/2011/08/bulletin-kinaweruhan-edisi-4.html">DOWNLOAD BULLETIN</a></p>
<p style="text-align: justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/pahlawan-penebar-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyebaran Rifaiyyah Di Desa Tursino Kec. Kutoarjo Purworejo</title>
		<link>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/penyebaran-rifaiyyah-di-desa-tursino-kec-kutoarjo-purworejo/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/penyebaran-rifaiyyah-di-desa-tursino-kec-kutoarjo-purworejo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jun 2011 00:01:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Murid Generasi Pertama]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6388</guid>
		<description><![CDATA[Dakwah Murid Syaikh Ahmad Rifa’i Generasi Pertama Kyai Abdurrasid dan Kyai Murtasid serta kyai Hasan Murtojo, beliau-beliau ini termasuk murid generasi pertama Syaikh Ahmad Rifa’I, mereka mendapat tugas menyebarkan ajaran...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Dakwah Murid Syaikh Ahmad Rifa’i Generasi Pertama</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/khutbah.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-6389" title="khutbah" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/khutbah.jpeg" alt="" width="111" height="89" /></a>Kyai Abdurrasid dan Kyai Murtasid serta kyai Hasan Murtojo, beliau-beliau ini termasuk murid generasi pertama Syaikh Ahmad Rifa’I, mereka mendapat tugas menyebarkan ajaran rifaiyah di desa Meranti Kelurahan Tursino Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo. Di desa ini termasuk yang paling cepat penyebarn ajarn rifaiyah, karena didukung oleh Kades setempat yang bernama Suryoatmo. Dan puncaknya, digelarlah pengajian rutin setiap hari kamis wage, yang menghairkan pula Kyai Abu Hasan dari desa tangkilan bojong kec. Kepil wonosobo juga turut kyai abdul hamid dari karang sambu kec. Sapuran wonosobo.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu pesatnya penyebaran ajaran rifaiyah, sehingga pemerintah didaerah purworejo memandang kegiatan itu merugikan pemerintah belanda, puncaknya dilaranglah pelaksanaan sholat jum’at di desa tersebut. Tragedi ini terjadi pada tahun 1895 M. waktu itu warga tidak ada yang berani melaksanakan ibadah sholat jum’at, karena takut dengan ancaman belanda, padahal masjid tersebut baru saja selesai dibangun, masjid pun kosong tanpa aktifitas, ini berlangsung lama. Akhirnya fajar terang datang juga, tepatnya tahun 1930 M, seorang kyai yang bernama H. Agus asli penduduk tursino yang merantau ke sumpiuh, dia akhirnya pulang setelah hampir 30 tahun diperantauan. Dengan perjuangan beliau ini akhirnya sholat jum’at dan kegiatan pengajian bisa di laksanakan kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beliau wafat digantikan oleh Kyai Atmomiharjo bin rasidin, kemudian dilanjutkan oleh Kh. Zaenuri bin hasan, sehingga sampai sekarang ajaran rifaiyah masih hidup kian ramai, bahkan dibangun sebuah pesantren, kebanyakan murid-muridnya dari daerah wonosobo. Emye/2009/www.tanbihun.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/penyebaran-rifaiyyah-di-desa-tursino-kec-kutoarjo-purworejo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyebar Rifaiyah Di Temanggung</title>
		<link>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/penyebar-rifaiyah-di-temanggung/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/penyebar-rifaiyah-di-temanggung/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 May 2011 00:09:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Murid Generasi Pertama]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6391</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun.com — Yang pertama kali membawa ajaran dari Kh. Ahmad Rifa’i ( rifaiyah ) di daerah temanggung atau dulu terkenal dengan sebutan kedu adalah seseorang bernama jadikrama. yang bermukim dan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/khutbah.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-6389" title="khutbah" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/khutbah.jpeg" alt="" width="180" height="144" /></a>Tanbihun.com</strong> — Yang pertama kali membawa ajaran dari Kh. Ahmad Rifa’i ( rifaiyah ) di daerah temanggung atau dulu terkenal dengan sebutan kedu adalah seseorang bernama jadikrama. yang bermukim dan berasal dari desa wonoboyo kecamatan Tretep Kabupaten Temanggung.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau adalah salah satu murid dari Kyai Idris bin Muhammad Tubo Purwosari Patebon Kendal. Setelah cukup belajar dipesantren purwosari, beliau pulang ke kampung tercintanya, bermaksud hendak mengembangkan ilmunya kepada keluarga dan masyarakatnya, namun karena merasa belum mampu akhirnya beliau menemui seorang pendatang baru yang bernama Hasan Marwi yang bertempat tinggal di Batok Kelurahan kebonsari Kecamatan tretep, beliau terkenal ‘alim, dengan niat tulus untuk dakwah, maka beliau berdua kembali belajar di purwosari.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena Hasan Marwi ini sudah mempunyai dasar-dasar ilmu agama yang cukup, tidaklah membutuhkan waktu lama untuk menyerap pelajaran dari kitab-kitab Syaikh Ahmad Rifa’i yang berbahasa jawa itu, setelah cukup ilmunya, mulailah beliau berdua ini berdakwah menyampaikan syari’at islam ‘ala Syaikh Ahmad Rifa’i, yang menekankan tercapainya iman yang sah, ibadah yang memenuhi syarat dan rukun. Kesuksesan dakwahnya bisa kita lihat sampai sekarang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/penyebar-rifaiyah-di-temanggung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jabir ibn Hayyan,”Bapak Kimia” dan Ahli Praktik Medis dan Ilmu Kedokteran</title>
		<link>http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 May 2011 01:22:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ali Khumaeni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Cendekiawan Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6154</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Beliau mempunyai nama lengkap Abu Musa Jabir ibn Hayyan. Di daratan Eropa dan barat, beliau lebih dikenal dengan nama Geber. Jabir ibn Hayyan dilahirkan di Tus, Iran pada...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><cite></cite><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-6155" title="Abu Musa Jabir ibn Hayyan" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/Abu-Musa-Jabir-ibn-Hayyan-300x277.jpg" alt="" width="300" height="277" />Tanbihun</strong> &#8211; Beliau mempunyai nama lengkap Abu Musa Jabir ibn Hayyan. Di daratan Eropa dan barat, beliau lebih dikenal dengan nama Geber. Jabir ibn Hayyan dilahirkan di Tus, Iran pada tahun 721 M dan meninggal di Kufah, Iraq tahun 815 M. Beberapa guru yang telah mendidik beliau diantaranya adalah <span style="text-decoration: underline;"><em>Imam Ja`far Sadiq </em></span>dan <span style="text-decoration: underline;"><em>Khalifah Khalid ibn Yazid</em></span> Bani Umayyah. Beliau masyhur dalam sejarah Islam dan barat sebagai ”bapak kimia” dan ahli praktik medis dan ilmu kedokteran.</p>
<p style="text-align: justify;">Peran terbesar <span style="text-decoration: underline;"><em>Jabir ibn Hayyan</em></span> di bidang kimia adalah dengan memperkenalkan sebuah metode baru ”pendekatan ekperimen” dan laboratorium sebagai tempat eksperimen. Melalui metode ini, beliau telah mengubah ”ilmu kimia klasik” menjadi ilmu kimia modern. Terkait dengan peran penting eksperimen, ibn Hayyan berkata ”hal pertama yang paling penting dalam kimia adalah anda harus melakukan kerja praktik dan eksperimen. Seorang ilmuwan yang tidak melakukan kerja praktik atau eksperimen, maka dia tidak akan pernah mencapai puncak profesionalitas dalam bidangnya. Wahai anakku, lakukan eksperimen sehingga kamu akan menyerap dan menguasai ilmu pengetahuan secara sempurna. Seorang ilmuwan mencapai titik kesenangan dan kepuasan bukan karena melimpahnya kekayaan yang dimiliki, namun ilmuwan mencapai puncak kebahagiaannya karena cerdas dalam metode eksperimennya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Jabir ibn Hayyan telah mencurahkan usahanya untuk mengembangkan metode-metode dasar dalam ilmu kimia dan mempelajari berbagai mekanisme reaksi kimia. Dengan usahanya tersebut, beliau telah memberi sumbangan besar terhadap evolusi ilmu kimia menjadi ilmu kimia modern. Jabir juga menekankan bahwa kuantitas berbagai jenis bahan tertentu terlibat dalam suatu reaksi kimia. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa beliau telah membuka jalan dalam meletakkan dasar hukum konstanta keseimbangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa prestasi besar di bidang kimia yang dilahirkan oleh Jabir ibn Hayyan adalah penemuan mineral dan berbagai senyawa-senyawa asam. Selain itu, beliau juga telah mengembangkan aplikasi proses kimia, yang kemudian menjadi pionir di bidang aplikasi sains. Hasil pengembangan aplikasi proses kimia diantaranya adalah preparasi beberapa metal, pengembangan baja, penggunaan <em>manganese dioksida</em> dalam pembuatan gelas, pencegahan karat, penulisan karakter di logam emas, identifikasi <em>paints, grease</em> dan lain-lain. Selain itu, beliau juga mengembangkan <em>aqua regia</em> untuk melarutkan emas. Kontribusi lain yang dihasilkan beliau diantaranya adalah dengan memberikan sumbangan teknik-teknik saintifik seperti kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi dan penguapan, dan pengembangan beberapa instrumen dan peralatan eksperimen yang berkaitan dengan berbagai teknik tersebut. Jabir ibn Hayyan telah menyumbangkan penemuan dan pengembangan beberapa instrumentasi laboratorium yang masih digunakan sampai hari ini seperti gelas alembic yang digunakan untuk proses distilasi menjadi lebih mudah, aman dan efisien. Melalui distilasi dari berbagai garam dengan asam sulfur, beliau telah menemukan asam hidroklorik dan asam nitrat. Beliau juga telah sukses membuat skala yang mempunyai ketelitian sangat tinggi sekitar 1/6480 kilogram.</p>

<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/abu-musa-jabir-ibn-hayyan/' title='Abu Musa Jabir ibn Hayyan'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/Abu-Musa-Jabir-ibn-Hayyan-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Abu Musa Jabir ibn Hayyan" title="Abu Musa Jabir ibn Hayyan" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb00/' title='amcl_gb00'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb00-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb00" title="amcl_gb00" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb01/' title='amcl_gb01'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb01-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb01" title="amcl_gb01" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb02/' title='amcl_gb02'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb02-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb02" title="amcl_gb02" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb03/' title='amcl_gb03'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb03-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb03" title="amcl_gb03" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb04/' title='amcl_gb04'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb04-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb04" title="amcl_gb04" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb05/' title='amcl_gb05'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb05-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb05" title="amcl_gb05" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb06/' title='amcl_gb06'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb06-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb06" title="amcl_gb06" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb07/' title='amcl_gb07'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb07-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb07" title="amcl_gb07" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb08/' title='amcl_gb08'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb08-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb08" title="amcl_gb08" /></a>
<a href='http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/attachment/amcl_gb10/' title='amcl_gb10'><img width="150" height="150" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/amcl_gb10-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="amcl_gb10" title="amcl_gb10" /></a>

<p style="text-align: justify;">Gambar 2. Serangkaian kinerja Jabir ibn Hayyan tentang woodcuts of chemical dan perangkat penyulingan, (a)Sublimasi di Athanor, (b) Fiksasi dan sublimasi, (c) Descension furnace, (d) distilasi, (e) kalsinasi, (f) tempat air (water bath), (g) penampungan, dan (h) fiksasi dan sublimasi (sumber: <a href="http://www.alchemywebsite.com/bookshop/prints_series_geber.html">http://www.alchemywebsite.com/bookshop/prints_series_geber.html</a>)</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan pada sifat-sifatnya, beliau mengkategorikan material menjadi 3 bagian. Yakni, material yang menguap oleh panas seperti arsen dan <em>ammonia chlorida</em>. Kedua, material bahan metal seperti emas, perak, <em>lead</em> (Pb), tembaga dan besi. Dan yang ketiga adalah <em>compound</em> (senyawa) yang bisa diubah ke serbuk. Beliau kemudian menklasifikasi semua material tersebut menjadi tiga jenis yaitu metal, non-metal dan bahan yang mudah menguap <em>(volatile substance)</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Jabir telah menulis lebih dari 100 risalah yang terdiri atas berbagai bidang ilmu pengetahuan yang 22 diantaranya adalah tentang ilmu Kimia (Alkemi). Beberapa karya beliau di bidang kimia diantaranya <em>Kitab al Kimya</em> dan <em>Kitab al-Sabeen</em> yang banyak diterjemahkan ke bahasa latin dan bahasa eropa lainnya. Kitab <em>Alkhawwas al-kabir</em> (the great book of chemical properties) yang berisi tentang karakteristik kimia), <em>Kitab Almawazin</em> yang berisi tentang berat dan pengukuran <em>(weights dan measures)</em>, <em>Kitab Al-Mizaj</em> yang berisi tentang kombinasi kimia <em>(chemical combination)</em>, dan <em>Kitab Al-Asbagh</em> yang berisi tentang bahan-bahan celupan <em>(dyes)</em>. Terjemahan kitab-kitab tersebut berpengaruh besar terhadap evolusi kimia modern di wilayah benua Eropa.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain di bidang ilmu kimia, Jabir ibn Hayyan juga telah memberikan kontribusi penting untuk bidang ilmu kedokteran, astronomi, dan ilmu-ilmu lainnya. Sayangnya, hanya sedikit dari buku-bukunya telah disunting dan diterbitkan, dan lebih sedikit lagi yang tersedia dalam terjemahan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/pendidikan/jabir-ibn-hayyan%e2%80%9dbapak-kimia%e2%80%9d-dan-ahli-praktik-medis-dan-ilmu-kedokteran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persebaran Rifa’iyah di Indramayu</title>
		<link>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/persebaran-rifa%e2%80%99iyah-di-indramayu/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/persebaran-rifa%e2%80%99iyah-di-indramayu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Jan 2011 18:46:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[kalisalak]]></category>
		<category><![CDATA[Raden Kyai Misbahul Munir]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=4476</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun.com &#8211; Dalam literatur sejarah lisan yang bersumber dari beberapa koresponden sesepuh tokoh Ulama Rifa’iyah Jawa Barat yang selama menjadi tokoh pejuang gerakan ajaran Rifa’iyah Jawa Barat, dapat penulis ambil...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4486" class="wp-caption alignright" style="width: 290px"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/02/Raden-Misbah.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-4486 " title="Raden Misbah" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/02/Raden-Misbah-150x150.jpg" alt="" width="280" height="280" /></a><p class="wp-caption-text">Raden Misbah</p></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun.com</strong> &#8211; Dalam literatur sejarah lisan yang bersumber dari beberapa koresponden sesepuh tokoh Ulama Rifa’iyah Jawa Barat yang selama menjadi tokoh pejuang gerakan ajaran Rifa’iyah Jawa Barat, dapat penulis ambil sejarahnya mengenai persebaran ajaran Rifa’iyah di Jawa Barat. Ajaran Rifa’iyah mulai pertama kali masuk ke Jawa Barat di bawa oleh seorang santri <span style="text-decoration: underline;"><strong>Syaikh Ahmad Rifa’i</strong></span> yang bernama <span style="text-decoration: underline;"><strong>Kyai Idris bin Kyai Ilham</strong></span> Batang. Kedatangan Kyai Idris sangatlah membawa pengaruh keagamaan yang begitu tepat dan sebagai penolong kehancuran dan kemerosotan nilai-nilai akhlak dan moral masyarakat Indramayu, beliau menetap pertama kali di desa <strong><span style="text-decoration: underline;">Larangan Jambe Kec. Kertasmaya Kab. Indramayu</span></strong> dengan menyebarkan doktrin yang telah di bawa oleh gurunya. Beliau di temani seorang ulama besar dari Jateng yaitu <span style="text-decoration: underline;"><strong>Kyai Kosim</strong></span> dalam menyebarkan ajaran <strong><span style="color: #0000ff;">Rifa’iyah di Jabar</span></strong>. Saat itu pula ajaran Rifa’iyah mulai di kenal dan di terima oleh masyarakat awam Indramayu dan masyarakat Jawa Barat umumnya. Murid-muridnya berdatangan dari berbagai daerah daintaranya dari Cirebon, Kerawang, Subang, Indaramayu dan Cikampek. Diantara santri-santrinya antara lain:</p>
<ul>
<li><strong>Kyai Tasmiyah</strong> santri pertama</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Kyai Toyyib</strong>, setelah menimba ilmu dengan Kyai Idris kemudian mengajarkanya di daerah asalnya yaitu daerah cidempet hingga sampai ke daerah indramayu barat tepatnya desa patrol dan mempunyai seorang santri yang hingga kini masih melestarikan ajaran gurunya yaitu Kyai Warkum</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Kyai Tohir</strong>, setelah selesai belajar dengan Kyai Idris kemudian melanjutkan perjuanganya untuk mengajarkan ajaran Rifa’iyah di desa Bogis, santrinya yang masih aktif hingga sekarang ialah Kyai Marzuq.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Kyai Jalil</strong>, berasal dari Cidempet. Beliau di tugaskan untuk melanjutkan perjuangan Kyai Idris ke daerah Sukamandi kamplong, namun setelah lama menyebarkan Ajaran Rifa’iyah terdapat informasi bahwa istrinya dinikahi oleh Penjajah Kolonial Jepang hingga beliau pulang ke daerah asal dan mempunyai keturunan diantaranya Kyai Ahmad Ghozali dan Kyai Komarudin yang selama ini masih melestarikan perjuangan bapaknya.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Kyai Das,</strong> berasal dari Desa Pranggong Waled yang di mandatkan untuk menyebarkan ajaran Rifa’iyah di daerah asal. Diantara putra-putranya yang selama ini masih aktif melestarikan ajaran bapaknya ialah <strong>Nyi Mut, Kyai Tali</strong>, <strong>Kyai wadi (Abdullah)</strong>.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Kyai Madarum (Abu Bakar)</strong>, berasal dari Desa Pranggong Waled dan mempunyai dua putra diantaranya, <strong>Abdul Kohar</strong> sebagai (anak tirinya) dan <strong>Raden Kyai Misbahul Munir</strong> atau biasa di panggil <strong>Wa Misbah</strong>.</li>
</ul>
<ul>
<li>Dan masih banyak lagi santri-santri dari Kyai Idris. Namun pemulis tidak dapat menyebutkanya satu persatu karena waktunya tidak cukup untuk mencari data-data tentang Pergerakan dan Persebaran Ajaran Rifa’iyah secara sempurna.</li>
</ul>
<h3><strong>Biografi dan Sejarah Perjuangan Raden Kyai Misbahul Munir</strong></h3>
<p style="text-align: justify;">Raden Kyai Misbahul Munir (Wa Misbah), di lahirkan dari pasangan Raden Abu Bakar atau santri-santrinya memanggilnya dengan sebutan Kyai Madarum.  Raden Abu bakar di kenal sebagi seorang yang sakti di kalangan orang awam Indramayu kala itu, disamping itu beliau juga di sebut sebagai tokoh Ulama yang cerdas dan wira’i, bahkan konon ceritanya pada waktu istrinya mengandung putra keduanya yaitu Wa misbah Raden Abu bakar sempat membuat Syi’iran jawa dengan bahasa jawanya, yang sampai saat ini pula sya’ir-syair karanganya biasa di bacakan oleh para santrinya terutama di bacakan pada saat qobalan menjelang pengajian di berbagai majlis ta’lim seperti masjid dan mushola. Diantara isi dari sya’ir-syair tersebuta yang berisi tentang suatu saat nanti akan di lahirkan putra kedua yang akan diberi nama Raden Misbahul Munir, dan suatu saat nanti setelah Penjajahan Kolonial Jepang dikalahkan oleh bangsa Indonesia akan terjadi pengeboran minyak bumi pertamina di desanya dan dari karyawan pertamina tersebut akan menerima gajian setiap bulanya jatuh setiap hari sabtu, juga menceritkan tentang rumah kediamanya akan di gusur oleh pihak PT Pertamina namun tidak bisa. Dari isi syair-syair yang telah di karangnya itu dinilai oleh para santrinya yang masih hidup sampai sekarang telah menjadi bukti yang nyata di saat sekarang ini. Raden Abu bakar kemudian hijrah dan bersinggah di suatu desa yaitu desa Bangong Kec. Kroya Kab. Indramayu yang masih minim bahkan masyarkat di desa itu belum pernah menyentuh akan keagamaan untuk menyebarkan Ajaran Rifa’iyah di sana. Hingga beliau menghembuskan nafas terakhirnya disana dan dimakamkan di pemakaman umum, namun dalam ceritanya kini makam beliau telah dialihkan oleh cucunya (Kyai Abdul Jalil) di dekat rumah ponakanya itu tujuanya agar makam itu tidak hilang dan dapat di ziarahi oleh para santri-santrinya.</p>
<h4>Kembali pada sejarah dan biografi Raden Haji Kyai Misbahul Munir.</h4>
<p style="text-align: justify;">Nama : R.H. Misbahul Munir<br />
Alamat : Desa Pranggong Waled<br />
Lahir : Sekitar tahun 1930 an<br />
Wafat : Pada Hari Minggu tanggal 09 Ramadhan tahun 1995 M.</p>
<p style="text-align: justify;">Raden Misbah dilahirkan bersamaan dengan ramehnya isu pemberotakan penjajahan kolonial jepang. Sejak kecil Raden Misbah telah mempunyai sikap dan karakter yang berbeda dengan teman-teman sebayanya, dia seorang pendiam dan penakut. Kiranya sikap itu sama dengan yang dimiliki ayahnyanya keika masih kecil. Beliau di anggap mempunyai kelebihan dan keanehan dalam dirinya hingga ayahnya (Abu Bakar) tidak berani untuk memberikan ilmu-ilmu kesaktianya kepada Misbah, melainkan Abdul Koharlah yang sempat di bekali dengan ilmu-ilmu kesaktian oleh ayahnya itu. Ayahnya menilai misbah belum saatnya untuk di bekali ilmu-ilmu kesaktian dan di biarkan untuk mencari ilmu itu kepada orang lain. namun semua ilmu-ilmu kesaktian dan sikap kealiman itu malah di turunkan dan diwarisi oleh Misbahul Munir pada Abdul Kohar sebagai anak tirinya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Raden Misbah menginjak masa remaja sikap keberanianya mulai ditonjolkan, saat itulah Raden Misbah mulai populer dan terkenal hingga di berbagai daerah dan disegani oleh orang-orang. Layaknya seorang remaja normal sama dengan remaja lainya Raden Misbah mulai memendamkan rasa cinta dengan seorang gadis cantik putri dari seorang kontraktor tanah kaya raya di desa Bangong kala itu, ia bernama Mutinah. Berawal ketika ia main kerumah temanya. Dan ia punya cita-cita untuk menikah dengan seorang gadis yang ia cintai itu hingga akhirnya cita-cita yang telah lama di pendam itu terkabulkan, akhir cerita ia menikah dengan Mutinah dan menjalani rumah tangga yang harmonis dan romantis penuh dengan kasih sayang kerena keduanya saling mencintai satu sama lain. namun dalam hubungan perjalanan rumah tangganya tidak begitu lama hanya sekitar 2 tahunan dan tidak dikaruniayai seorang putra.</p>
<p style="text-align: justify;">Asal masalahnya karena mertuanya tidak suka dengan melihat sikap Misbah yang begitu aneh dan membebankan keluarga istrinya. Karena Raden Misbah sering pergi tanpa pamit kepada mertua dan istrinya layaknya seorang yang masih bebas dan tidak punya tanggung jawab keluarganya, setiap kali ia pulang mesti membawa teman untuk menetap di rumah istrinya serta di tanggung oleh istrinya kemudian ia pergi lagi dalam waktu yang lama lalu pulang lagi dengan membawa teman lagi sama persis ceritanya dengan teman yang pertama kemudian Raden Misbah pergi lagi dan begitu seterusnya sehingga mertuanya tidak suka melihat menantunya yang bersikap seperti itu sampai sempat ia melarikan istrinya bersama dengan teman-temanya ke suatu hutan diwilayah dekat tempat tinggalnya. untuk menghindar dari kebakhilan mertuanya itu, namun setelah sampai di hutan itu sikap Raden Misbah tidak mau berubah masih seperti biasa ia sering meninggalkan istrinya di hutan, hingga istrinya tidak sabar menahan amarahnya terhadap sikap suaminya yang selalu aneh itu akhirnya istrinya memutuskan untuk dipulangkan kepada ayahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">akhir cerita keduanya bercerai saat itu pula. Setelah ia cerai dengan istri pertamanya ia hidup seorang diri ditemani bersama teman-temanya. Disela sela kesendirianya beliau aktif sebagai anggota DI kemudian setelah lama menjadi aktifis DI, R.H. Misbah di tunjuk menjadi seorang ketua DI di alas Loyang ketika itu bersamaan dengan peristiwa <strong><span style="color: #0000ff;">NIPON</span></strong> dan ditemani oleh <strong>Kyai Rustam</strong>. R.H. Misbah di kenal sebagi sosok pemimpin yang cerdik dan pandai dalam memimpin anggotanya termasuk dalam mencarikan dana kesejahteraan para anggotanya untuk hidup selama tinggal di hutan. diantara kisah yang sangat menggembirakan anggotanya suatu saat R.H. Misbah pulang dengan membawa banayak alat-alat perang seperti senapan dan tembak entah darimana sumbernya, yang jelas beliau sangat handal dan pintar dalam mencarikan bekal hidup dan alat alat perang, namun sumber dana yang pasti yang dapat penulis ambil sumbernya dari dana swadaya masyarakat (himpunan zakat) dari berbagi daerah termasuk yang terbesar dalam mendonaturinya yaitu <strong>Kyai Jambari</strong> (Mama Jambari).</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 1960an R.H. Misbah mulai keluar dari DI bersama sebagian anggotanya, sangatlah aneh ketika R.H. Misbah keluar dari hutan, namun sebelum keluar beliau berpesan kepada sebagian anggotanya agar supaya memejamkan matanya dan terus mengikuti jejak langkah dirinya, bagi yang patuh dengan pesan itu tentu selamat namun bagi yang melanggar pesanya itu justru malah ketangkap oleh Penjajah Jepang. Setelah R.H. Misbah keluar, kemudian di gantikan oleh Danu dari Plumbon. Beliau melanjutkan perjuanganya di berbagai daerah termasuk di ambon, bali, sumatra dan masih banyak lagi daerah-faerah yang menjadi pusat perjuanganya.</p>
<h3>R.H. Misbah Menikah dengan Nyi Sukesih keturunan darah keraton cirebon</h3>
<p style="text-align: justify;">Isitri kedua setelah beliau pisah dengan Mutinah kemudian menikahi sukesih asli darah keturunan kerajaan keraton Cirebon. Demi mendapatkan gadis keturunan keraton cirebon itu beliau mati-matian berjuang untuk mendapatkanya. Awal mulanya R.H. Misbah mendapatkan inormasi dari temanya “siapa yang bisa mengalahkan calon suami Nyi Sukesih yang telah dipilih oleh ayahnya maka akan mendapatkan Nyi Sukesih”, dengan motifasi tersebut R.H. Misbah mulai mengasah ilmu kebatinannya dengan bertapa di sekitar keraton cirebon, setelah beberapa waktu lamanya beliau bertapa kemudian beliau menjadi optimis untuk bisa mengalahkan calon suami dari Nyi Sukesih, saat itulah mulai terjadi pergulatan yang begitu sengit dengan beberapa calon yang telah ditetapkan oleh ayah Nyi Sukesih, namun pada akhirnya pertandingan itu di menangkan oleh R.H. Misbah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak itulah kedigjayaan dan kesaktianya mulai dikenal dan diakui oleh masyarakat luas terutama masyarkat indramayu dan Cirebon sampai pemerintah kolonial Jepang pun menilai bahwa R.H. Misbah adalah seorang yang mempunyai kesaktian yang luar biasa, sehingga beliau dikagumi oleh kolonial jepang ketika masa itu. Singkat cerita Nyi Sukesih di nikah oleh R.H. Misbah namun dalam perjalanan hidup bersama Nyi Sukesih belum sampai dikaruniai keturunan. Kemudian R.H. Misbah menikah lagi dengan seoang gadis dari Ciledug- Cirebon yang bernama Nyi Ratmawati dari hasil pernikahan denganya dikaruniai seorang putra yang bernama Bahrudin namun belum sampai menginjak masa remaja bahrudin meninggal dunia. Kemudian beliau menyebarluaskan keilmuawan yang dimilikinya sampai ke beberapa wilayah Indonesia sekitar tahun 1982-an. Selain dikenal sebagai orang sakti dan digjaya beliau juga dikenal sebagai seorang pengusaha karet terkenal hingga sampai ke luar jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 1985-an R.H. Misbah mulai membangun rumah kediamanya di Desa Pranggong Waled hidup rukun bersama istri ketiganya yaitu Nyi Ratmawati, namun sepertinya karakter dan sikapnya yang sangat agresif dan penuh semangat dedikasi tinggi dalam menyebarkan kesaktianya beliau jarang sekali tinggal dikediamanya walau sudah punya rumah sendiri melainkan selalu pergi untuk berdagang sekalian mengembangkan dan menyebarkan keilmuwanya sampai-sampai rumah kediamanya yang terletak di desa Pranggaong itu rameh di penuhi oleh santri-santri dari berbagai wilayah terutama dari luar jawa hingga luar negri, malasyia dan singapur. Berkat dari perjuangan dan keseunguh-sungguhanya itu kemudian beliau mendirikan sebuah yayasan Pendidikan yang diberi nama <span style="color: #0000ff;"><strong>Rifa’iyah Syafi’iyah</strong></span>.</p>
<h3>Perjalanan Menuju Ke Singapur dan Malasyia</h3>
<p style="text-align: justify;">Konon menurut teman akrabnya sebut saja (Wakarman) ketika di Pranggong, Pada awal mulanya R.H. Misbah pergi ke malasyia dan singapur mengikuti temanya yang berdagang ke sana, perlu di ketahui bahwa kepergian beliau ke malasyia dan singapur bukan bertujuan untuk menyebarkan ilmunya melainkan tujuan utamanya yaitu berdagang karet, namun prinsip beliau ketika barang daganganya itu laku dan berhasil beliau justru malah meninggalkanya beliau malah menyebarkan dan mengajarkan keilmuwanya itu, terbukti ketika beliau masih berdagang di sumatera konon ceritanya beliau hampir saja di bohongi dan di bunuh oleh seorang bajingan yang licik, namun pada akhirnya R.H. Misbah sudah tahu bahwa bajingan itu akan membunuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan dagang ke malasyia dan singapur beliau mengalami lika-liku dan sangat rawan pembunuhan hampir saja beliau terbunuh dan akhirnya selamat. Setelah beliau mendarat di pelabuhan singapur didapati dua kelompok islam dan kristen yang sedang berkelahi entah gara-gara apa melihat tragedi itu mengundang R.H. Misbah untuk membantu dan menolong kelompok islam yang kala itu dari kelompok islam di pimpin oleh <span style="text-decoration: underline;">H. Abu Bakar</span>, setelah R.H. Misbah mulai maju ke barisan medan perkelahian itu akhirnya kemenangan itu di bawa oleh kelompok islam, hingga akhirnya H. Abu Bakar mengajaknya ke sebuah restoran ternama di singapur sambil bercerita dan mengucapkan terimaksih atas bantuanya. Dalam pertemuan kedua orang sakti itu menyimpulkan bahwa R.H. Misbah ditarik dan dimohon untuk mengajarkan dan mengembangkan keilmuanya di singapur. Singkat cerita beliau menetap dan tinggal disana selama tiga tahun lamanya di samping beliau mengajari keilmuwan bathin juga mengajari tentang kitab-kitab tarajumah karangan Syaikh Ahmad Rifai, namun bahsanya telah dialihkan oleh R.H. Misbah dengan menggunakan bahasa melayu.</p>
<p style="text-align: justify;">Diantara ilmu kesaktianya yang sangat terkenal ialah <span style="text-decoration: underline;">“pukul siji tapak telu”</span> artinya pukul siji yaitu <span style="text-decoration: underline;">makrifat</span> tapak telu yaitu <span style="text-decoration: underline;">syari’at, thoreqot, dan hakikat</span>. Adapun diantara ilmu tarajumahnya yang sangat populer diajarkan disana ialah mengenai ilmu tauhid (ushuludin) dan tasawuf (sifat terpuji dan cinela), kiranya kedua keilmuan yang beliau ajarkan sangatlah linear dan berkorelasi tinggi. Beliau adalah orang yang sangat fanatik dengan ketauhidan, makanya bagi siapa saja diantara santrinya yang mau belajar tentang ilmu kesaktian maka harus terlebih dahulu mengucapkan dua kalimah syahadat beserta artinya. Yang sangat unik dalam metode dan konsep pengajaranya yaitu sebelum para santri mengaji kitab tarajumah diajak dulu untuk bermain ilmu silat, begitulah seterusnya, dengan konsep seperti itulah mengundang banyak santri-santri yang kepengen belajar kesaktian sekaligus belajar kitab tarajumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama beliau di singapur selalu menganjurkan para santri-santrinya untuk memakai pakaian putih-putih terutama saat beribadah seperti sholat dan lain sebagainya, beliau meyakini bahwa ketika beribadah menghadap yang maha kuasa haruslah dalam keadaan suci dan bersih makanya menganjurkan santrinya untuk selalu memakainya. Hingga sekarang pun tradisi dan budaya itu masih selalu dipakai oleh santri-santrinya, malahan sampai di juluki dengan jamaah golput (golongan putih). Sebenarnya anjuran itu telah menjadi prinsip bagi beliau ketika masih di Indramayu, namun beliau masih belum berani untuk mewajibkan santri-santrinya dikhawatirkan bertentangan dengan para kyai di desanya sehingga itu hanya sebatas anjuran saja kepada santrinya. Diantara para santrinya yang hingga kini masih aktif melestarikan ejaran perjuangan beliau di singapura yaitu bapak <span style="text-decoration: underline;"><strong>H. Isnen</strong></span> dan bapa <strong><span style="text-decoration: underline;">H. Hamdan</span></strong> di malasyia, malahan putra dari kedua orang itu sempat dipondokan di desa Sukawera dengan bapak Kyai Nashori Effendi. Beliau tidak pernah pulang ke rumah kediamanya (Indramayu), bahkan konon ceritanya selama tiga tahun disana beliau sering hilang tanpa jejak entah kemana perginya kemudian kesitu lagi dan itu dilakukan secara terus menerus, sampai sempat ada isu bahwa R.H. Misbah telah meninggal dunia, masyrakat singapur dan indramayu terutama para santri-santrinya menganggap R.H. Misbah telah meninggal karena tidak ada kabar beritanya, bahkan ada diantara salah satu santrinya yang mengistikhoroi bahwa beliau telah meninggal.</p>
<h3>Kedigjayaan dan Kesaktian R.H. Misbahul Munir</h3>
<p style="text-align: justify;">Dari berbagai literatur koresponden yang dapat penulis ceritakan diantara kesaktian dan kedigjayaan R.H. Misbah yang sangat nampak di mata para muridnya yaitu saat tragedi keributan dan peperangan di Pasuruan. Saat itu R.H. Misbah dengan usahanya dalam merendamkan dua kelompok yang sedang bentrok hingga akhirnya kedua kelompok itu dapat damai dan saling memaafkan. Kemudian pada saat tragedi Bali, seperti yang telah menjadi adat istiadat orang bali ketika merayakan hari agamanya yaitu dengan membakar mayat massal namun dengan taktik dan usahanya pesta perayaan tersebut dapat dibatalkan dan akhirnya banyak dari orang-orang budha sendiri yang mau belajar kesaktian lantaran kagum dan salut dengan kesaktian beliau dan akhirnya tidak sedikit dari mereka yang memeluk islam. Kemudian saat tragedi penggempuaran rumah kediamnya oleh pihak pertamina untuk dijadikan jalan menuju pengeboran minyak bumi pertamina, beliau menolaknya karena beliau masih pengen menetap di lokasi itu, bahkan beliau sanggup menggantinya dengan tanah yanag lebih luas dari rumah kediamanya itu. Tapi pihak tetap bersikukuh akan menggusurnya, namun apa yang terjadi? Alat yang digunakan untuk mengeruk dan merusak rumah itu rusak dan fatal. Bukanya beliau pelit dan ingin menang sendiri, namun beliau prihatin dan merasa kasihan dengan tanah dan rumah-rumah yang ada di sekelilingnya karena andaikata beliau merelakan rumahnya untuk di gusur secara otomatis banyak tanah dan rumah-rumah yang akan digusur oleh pihak pertamina. Inilah bukti keberanian dan kasih sayangnya terhadap warga masyarakat di sekelilingnya. Dari kisah ini dapat kita ambil teladanya, Kemudian juga pada saat tragedi pembakaran kitab tarajumah di kab. Demak, beliau juga ikut andil dalam mensumbangsih untuk mengamankan keributan di sana. Pertamanya beliau diajak oleh KH. Khalali arjawinangun untuk menuntaskan keributan disana KH. Khalali menganggap Raden Misbah ialah orang yang sakti. Juga saat trgedi keributan di kerawang dan Taman Mini Jakarta. Dan masih banyak lagi diantara kedigjayaan dan kesaktian beliau yang telah tampak disoroti beberapa banyak orang.</p>
<h3>Wafatnya R.H. Misbahul Munir</h3>
<p style="text-align: justify;">Tepat pada hari Hari Minggu tanggal 09 Ramadhan tahun 1995 M. beliau menghembuskan nafas terakhirnya setelah lama menahan rasa sakit. Beliau wafat di negeri singapura, saat setelah wafat beliau sempat mau di makamkan di tempat kelahiranya, namun ketika itu dari keluarga dan saudara-saudaranya merasa kesulitan untuk menjemputnya di bandara singapur dikarenakan biaya transportasi yang begitu melunjak, lagi pula beliau sudah tidak punya keluarga lagi di tempat kediamannya itu, hingga dari pihak santri-santri mengikhlasknya untuk dimakamkan di negeri singapur. Mengenai masalah wafatnya hingga kini masih menjadi kontradiksi, sebagian diantara santrinya ada yang meyakini bahwa beliau masih hidup dan kini berada di negara Brunai Darussalam, malahan belum lama sekitar tahun 2000an ada seseorang yang mengaku bertemu dengan beliau. Sebagianya lagi menganggap bahwa beliau telah wafat. Namun yang jelas beliau telah tiada. R.H. Misbah adalah sosok yang penuh dengan misterius.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Nb:</strong><br />
Sebenarnya masih banyak sekali sejarah dari perjuangan dan pergerakan beliau selama hayatnya, namun penulis mohon maaf sekali karena tidak dapat menyempurnakan secara lebih luas lagi karena untuk menulis dan melacak sejarah itu butuh waktu lama. Dan penulis mohon maaf  bila ada penulisan yang salah dan sejarah yang tidak valid dengan realita yang ada. Dan ini sangat memungkinkan sekali karena penulis hanya mengambil dari beberapa koresponden saja. Sebenarnya masih banyak lagi koresponden yang akan penulis mintai keterangan tentang sejarah beliau namun waktu yang begitu singkat sehingga penulis belum sempat untuk mencarinya.(zid)</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh: <strong>Sholihun Alfahmi</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/persebaran-rifa%e2%80%99iyah-di-indramayu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guruku- Sahabatku- Motivatorku</title>
		<link>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/guruku-sahabatku-motivatorku/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/guruku-sahabatku-motivatorku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Jan 2011 03:11:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=4389</guid>
		<description><![CDATA[Oleh :KH.Khaeruddin Khasbullah KEHILANGAN BESAR Tanbihun.com &#8211; Hari itu- Rabo Kliwon, 2- Romadhon- 1410 H, bersesuaian dengan 28- Maraet- 1990, berita itu datang begitu mengejutkan bagiku, bagi selururuh ummat Islam...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh :<strong>KH.Khaeruddin Khasbullah</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>KEHILANGAN BESAR</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/10/kitab-quran.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-3768" title="kitab qur'an" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/10/kitab-quran.jpeg" alt="" width="259" height="194" /></a>Tanbihun.com</strong> &#8211; Hari itu- Rabo Kliwon, 2- Romadhon- 1410 H, bersesuaian dengan 28- Maraet- 1990, berita itu datang begitu mengejutkan bagiku, bagi selururuh ummat Islam di Pekalongan dan sekitarnya, dan khususnya bagi seluruh Jama’ah Rifa’iyah: “Innaa Lillahi Wa Innaa Ilaihi Rooji-uun. Telah berpulang kerahmatulloh: Bapak<span style="text-decoration: underline;"><strong> K.H. Abdul Aziz Badri Al- Mu’tashim</strong></span>. Di Rumah Sakit Islam Pekajangan Pekalongan dalam usia 48 tahun”.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sempat menyesali diriku yang hanya sempat satu kali menengok beliau dirumah sakit karena kesibukan- kesibukanku yang mulai sering mondar mandir ke Karawang, padahal beliau adalah salah seorang guruku yang paling memberikan warna dalam hidupku. Tak henti- hentinya aku berdoa’a: Alloohummaghfirlahuu- warhamhuu- wa’aafihii- wa’fu ‘anhu- wa akrim nuzuulahuu….Amiin.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau adalah seorang ulama’ kharismatik tidak hanya bagi masyarakat Rifa’yah, tapi juga bagi masyarakat Muslim lainnya lintas golongan khususnya didaerah Buaran- Kedungwuni Pekalongan dan sekitarnya. Maka sungguh, wafatnya beliau adalah sebuah kehilangan besar yang tak tergantikan khususnya bagi jama’ah Rifa’iyyah, lebih- lebih disaat Pondok Pesantren Al- Inshof yang baru didirikannya masih membutuhkan asuhan, bimbingan dan gemblengan langsung melalui sentuhan tangan dan kreatifitas beliau. Namun syukurlah, kader- kader yang beliau siapkan telah siap, diantaranya K.H. Syadlirin Amin. K. Ma’ruf, K.H. Amruddin Nasihun, dll. Lebih- lebih dengan tampilnya beliau K.H. Zaenal Abidin yang juga memiliki khazanah keilmuan yang setara dan memiliki kepakaran dalam Bahtsul Masa’il yang sepadan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><br />
PAKAR BAHTSUL MASA’IL</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Beliau adalah seorang Ulama’ Rifa’iyah jebolan Pondok Pesantren Tremas Pacitan (Pesantren itu telah menghasilkan tokoh- tokoh besar di Republik ini, diantaranya adalah <strong><span style="color: #0000ff;">Prof. Dr. Mukti Ali</span></strong> dan <strong><span style="color: #0000ff;">KH. Ali Maksum</span></strong> pendiri pesantren Krapyak Jogyakarta), dibawah asuhan langsung Bpk. <strong><span style="color: #0000ff;">K.H.Habib Dimyathi, KH. Haris Dimyathi, KH. Hasyim Ihsan</span></strong> dan <strong><span style="color: #0000ff;">Pak K.H.Hamid</span></strong>- yang kuburannya tak tentu rimbanya karena ulah pemberontakan PKI. Bahkan beliau <span style="text-decoration: underline;"><strong>K.H. Abdul Aziz</strong></span> (kemudian disebut kiyai Aziz) sempat beberapa tahun mengabdi sebagai guru di Pondok Pesantren tertua di Jawa itu, Sedang tentang ke Rifaiyahan, beliau digembleng lansung sebelumnya di Pondok Pesantren Kretegan Weleri Kendal Jawa Tengah oleh <span style="text-decoration: underline;"><strong><span style="color: #0000ff;">K.H. Bajuri (Mbah Bajuri)</span></strong></span>. Sehingga kaliber beliau sebagai Ulama, tak diragukan lagi kepakarannya. Semua kitab- kitab besar Madzhab Syafi’i yang penting penting beliau miliki seperti: <span style="text-decoration: underline;"><strong>Al- Umm Imam Syafi’i, Al- Majmu’ Syarah Muhaddzab Imam Nawawi, Nihayatul Muhtaj Imam Romly, Tuhfatul Muhtaj Imam Ibnu Hajar Al- Haitamy, Mughnil Muhtaj Imam Syarbini</strong></span>, apalagi <span style="text-decoration: underline;"><strong>I’anatut Tholibin Sayid Bakri Syatho, Al- Mahally (Qolyubi wa Umairoh), dll</strong></span>. Begitu juga Kitab- kitab Tafsir dan hadist yang besar- besar seperti <span style="text-decoration: underline;"><strong>Ibnu Katsier, Tafsir Khozien</strong></span> dan lain- lain bahkan <span style="text-decoration: underline;"><strong>Tafsir Al- Mannar</strong></span> yang lain madzhab juga beliau miliki, juga kitab hadist yang besar- besar seperti <span style="text-decoration: underline;"><strong>Fatkhul Bari Syarah Bukhory, Syarah Muslim Imam Nawawi, Abu Dawud</strong></span> dll beliau miliki. Apalagi memang Pondok Pesantren Tremas Pacitan memiliki SANAD HADIST melalui guru besar eyang mereka Yakni <strong><span style="color: #0000ff;">Syekh Mahfudh At- Termasi</span></strong>, pengarang Kitab<span style="text-decoration: underline;"><strong> Mustholah Hadist “Al- Manhaj Dzawin Nadhor”</strong></span> yang masyhur bahkan sampai kedunia Arab, (Saya ingat kisahnya KH Syafi’i, Pemimipin Yayasan Al- Husiniyyah Cakung Jakarta menceriterakan pada saya, saat Ujian mata pelajaran Ilmu Hadist Di Universitas Madinah ditanya oleh dosennya: ”Anda sudah pernah baca Al- Manhaj Dzawin Nadhor karya Syekh Mahfudh Al- Jawi?” Di jawab: “ Sudah”, maka mahasiswa ini langsung dianggap lulus dalam ilmu hadist tanpa test lagi !!!) yang pada zaman kiyai Aziz belajar, dibacakan oleh Kiyai Haris Dimyati…Allohu Yarhamuhum. Amiin.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sangat tahu akan kitab- kitab khazanah beliau karena setiap beliau mendapat undangan Bahtsul Masa-il, hampir selalu beliau mengundang saya kerumah beliau di Paesan (beliau adalah menantu Kiyai Nasehun yang dikisahkan dalam artikel sebelumnya, tokoh Rifa’iyah jebolan Tebuireng Murid langsung K.H.Hasyim Asy’ary). Maka saya biasa diperintah mengambil kitab ini- kitab itu, sampai seluruh lantai ruang tamu bertebaran dengan aneka kitab- kitab baik besar maupun kitab- kitab kecil. Serasa masih terngiang perintah- perintahnya kepadaku: “Din, cari bab ini pada kitab ini tentang masalah ini….. kalau ketemu tolong baca!”. Dapat anda bayangkan betapa pusingnya saya yang setengah matang dalam ilmu nahwu shorof ini dalam memenuhi perintahnya untuk membaca kitab. Tapi memang demikianlah cara- cara beliau meng- kader murid- muridnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu pantaslah pada setiap Bahtsul Masa’il yang diselenggarakan (beliau aktif di N.U sebagai A’wan Kecamatan Kedungwuni), selalu beliau yang pertama dimintai pendapatnya bahkan sering hasil akhir Bahtsul masa’il adalah sebagaimana temuan beliau pada kitab- kitab beliau, padahal didaerah Kedungwuni terkenal memiliki Ulama- Ulama yang memiliki tingkat kepakaran tinggi seperti Al Marhum K.H. Khoiron Jaza’. Dll.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>AHLI PENGKADERAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Aku teringat saat beliau baru pulang dari pondok, yang pertama dilakukan adalah mengumpulkan anak- anak main bola!. Yang aneh, beliau kalau main bola selalu pakai sarung setinggi lutut, nggak pernah pakai celana. Tentu saja Simbah saya Kiyai Kafrawi sebagai pengemban amanat Rifa’iyah di desa Sapugarut sewot melihat ada santri pulang mondok kok ngajari main bola. Maka Simbah segera memerintahkan saya untuk memanggil kiyai Aziz. Setelah menghadap dengan takzim, Simbah bertanya:” Ziz…benarkah kamu ngajak anak- anak main bola?”<br />
Kiyai Aziz menjawab:”Ya mbah betul, tapi itu hanya sekedar WASILAH…….”.<br />
Belum selesai kiyai Aziz berbicara, Simbah saya menimpali: “Wis- wis, aku ngerti. Terusno main bal-e!” (Sudah- sudah aku ngerti, sana teruskan main bolanya). Waktu itu aku belum faham arti dialog itu. Kini setelah dewasa aku baru ngerti, betapa bijak dan alimnya Simbah saya….<br />
Demikianlah kiyai Aziz dalam menarik anak- anak agar mau ngaji. Pertama diajak main bola, ngobrol sana sini, ujung- ujungnya diajak ngaji ke mesjid Az- Zuhud di Sapugarut Buaran Pekalongan. Bahkan anak- anak dibiasakan tidur bersama beliau diserambi mesjid sambil “disuapi pelajaran”, upahnya kita harus mau memijat badan beliau, karena beliau tak bisa tidur tanpa dipijat. Yang lebih aneh lagi walau beliau tidurnya sering bersama santri di mesjid, namun istrinya hamil lagi, hamil lagi….sampai sampai dipakai bahan banyolan dan guyonan sesama santri.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>MENGGIRING ANAK- ANAK KE PESANTREN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
Beliaulah seorang Ulama Rifa’iyyah yang sangat intens dan aktif membawa anak- anak ke pesantren khususnya ke Pon Pes Tremas, tidak hanya satu dua, tapi puluhan (bahkan ada yang menyebut ratusan). Yang lebih mengagumkan, beliau sendiri yang akan mengantarkan anak- anak untuk dipertemukan dan dipasrahkan langsung kepada kiyai pondok . Bayangkan, jarak Pekalongan Pacitan ditempuh dengan mobil sekitar 9 jam, tapi beliau serasa tak bosan- bosannya mengantarkan anak- anak nyantri disana. Alasan beliau sekalian sillatur rahim dengan guru- gurunya di Pondok. Subhanalloh!<br />
Nah, banyak anak- anak yang dulu diantar kiyai Aziz mondok, sekarang sudah memiliki / mengasuh pondok, diantaranya seperti K.H. Amruddin dan Kiyai Hamzah di Kesesi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>LATIHAN PIDATO</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saya masih teringat waktunya setiap malam Rabo. Namanya malam <span style="text-decoration: underline;"><strong>Lailatul Khitoba’,</strong></span> yakni malam latihan pidato, lengkap dengan podium dan microphon nya. Maka setelah lelah dan capai belajar ilmu- ilmu yang cukup berat seperti Ilmu Nahwu- Shorof- Fiqih- Hadist dll, kita bisa beristirahat sambil belajar pidato. Ternyata pidato itu bukan sekedar bakat, tapi harus banyak latihan. Saya masih ingat sewaktu nama saya disebut untuk pidato minggu depan, hati rasanya tidak karu- karuan. Satu minggu itu saya coba untuk menuliskan naskah pidato. Pada saatnya nama saya dipanggil, gemetar seluruh sendi saya, namun saya langkahkan juga kaki ini ke podium, lau aku mengucap salam pembukaan….eh, semua naskah yang sudah saya hafal hilang begitu saja, maka setelah tengok sana tengok sini, saya langsung menucapkan salam penutupan dan sambil nyengir ngeloyor ketempat semula. Langsung seluruh peserta tertawa terpingkal- pingkal melihat “kebodohan” saya. Beda dengan sekarang, walau tanpa persiapan, pidato satu jam dua jam tak ada masalah. “Alah bisa karena biasa dan terus belajar”.<br />
Yang belum saya temukan pada ulama lain, setiap beliau diundang ceramah, selalu beliau membawa “pasukan” murid- muridnya. Maka ia selalu meminta kepada panitiya penyelenggara agar sebelum beliau tampil panitiya diminta memanggil beberapa nama santrinya untuk memberikan sekedar “taushiyyah” pendahuluan, begitulah cara beliau mengkader <span style="text-decoration: underline;"><strong>KH. Syadlirin Amin, Kiyai Makruf Hawi, KH. Imdadiin</strong></span>, saya, dan juga beberapa kiya lain yang sekarang sudah jadi, diantaranya juga <span style="text-decoration: underline;"><strong>K.H. Akrom Khasani</strong></span> Cilamaya Karawang.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka sekali lagi sungguh, wafatnya beliau adalah sebuah kehilangan besar yang tak tergantikan khususnya bagi jama’ah Rifa’iyyah. Namun dengan methode pengkaderan yang beliau lakukan ibarat pepatah: Patah tumbuh hilang berganti…. walau yang sekaliber beliau dan memiliki methode pengkaderan sehebat beliau mungkin sampai sekarang belum nampak.(zid)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/guruku-sahabatku-motivatorku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JEJAK WARGA RIFAIYAH PEKALONGAN</title>
		<link>http://tanbihun.com/rifaiyah/jejak-warga-rifaiyah-pekalongan/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/rifaiyah/jejak-warga-rifaiyah-pekalongan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Jan 2011 08:07:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Saifullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Rifaiyah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=4263</guid>
		<description><![CDATA[Ahmad Nasihun, Figur Rifaiyah Multitalen Suatu hari beberapa pemuda berkerumun asyik menghabiskan sore menunggu maghrib tiba. Mereka bercengkrama, sesekali saling ejek, juga terlihat di sela-sela jarinya terselip rokok. Tiba-tiba terdengar...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4267" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/01/S4030192.jpg"><img class="size-medium wp-image-4267 " title="S4030192" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/01/S4030192-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Masjid Istiqomah pusat kegiatan keagamaan Paesan Kedungwuni Pekalongan</p></div>
<p><strong>Ahmad Nasihun, Figur Rifaiyah Multitalen</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari beberapa pemuda berkerumun asyik menghabiskan sore menunggu maghrib tiba. Mereka bercengkrama, sesekali saling ejek, juga terlihat di sela-sela jarinya terselip rokok. Tiba-tiba terdengar suara “<em>kletek kletek klek klek</em>” sontak saja mereka berhamburan melarikan diri laksana para teroris yang lagi diburu detasemen 88.</p>
<p style="text-align: justify;">Diantara mereka mampu melarikan diri, sedang beberapa pemuda terlanjur kepergok Sang Blawong. Perokok itu saking paniknya memasukkan rokok ke sakunya. Tak mungkin melempar putung rokok ke arah depan, samping, karena sudah terlanjur ada Kiai yang sangat ditakuti karena kharismanya. Sampai jelang akhir perjumpaan dengan sang Kiai pemuda tetap saja diam sambil menahan rasa panas api. Dan jeritanpun meledak saat beberapa langkah kiai meninggalkan sisa-sisa kerumunan itu. “aduuuuuhhh….” Sambil lari terbirit-birit</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu anda akan mengira-kira siapa Sang Blawong itu? Asal jangan sampai mengusik jelang tidur anda. Tak usah dijawab sekarang. Masih banyak cerita tentang beliau. Yang jelas dia salah seorang tokoh Rifaiyah kharismatik dari Pekalongan yang lahir pada 1334 H / 1915 M di dukuh menjangan. Waktu itu masa Indonesia belum lahir. Kemerdekaan masih diperjuangkan. Dan kita semua masih berdiam di negara yang punya julukan Hindia Belanda. He…he…jadi kita mendiami dua negara ya…Hindia dan Belanda…tentu bukan itu. Maksudnya kakek-nenek kita memang benar-benar mendiami negara yang bernama Hindia Belanda sebelum negara ini dinamai Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum juga mengetengahkan siapa ibu–bapaknya malah ngelantur kemana-mana. Oke..deh..yang jelas Beliau bukan sejenis Isa Almasih jadi kelahirannya pasti melalui prosesi dua orang yang melakukan reproduksi, yang bapak bernama KH. Abu Hasan dan ibunya bernama Wasri. Setujuuuu!!! Ya jelas setuju lah. <em>Wong</em> saya yakin pembacanya belum ada yang tahu…he..he…pisss coy.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Hasan bisa berarti bapaknya Hasan. alias Abu Hasan itu bukan nama sejak lahir, tapi nama kedua seseorang ketika mempunyai anak pertama yang bernama Hasan. Kok bisa ya…karena memang dulu ada tradisi seseorang dinamai dengan anak pertamanya. Semacam tradisi di Jogja, kalau <em>awewe</em> sudah disunting lelaki, maka lazim namanya berubah menjadi nama suaminya, misalnya Ibu Fadlan, Ibu Sumito, dll. Makanya kalo gak ingin berubah nama jangan cari pacar orang Jogja ya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau hampir disegani di setiap tempat yang disinggahi, dan keseganan masyarakat pada waktu itu hampir tak masuk akal untuk nalar manusia abad 21. Menurut pengakuan salah seorang muridnya, “Dalam setiap musyawarah di desa Paesan, hampir beliau saja yang bersuara dan H. Abdul Karim. Lainnya diam terpaku lalu <em>samina wa athona</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil keputusan dalam musyawarah kampung tentang berbagai hal sangat dimaklumi disetujui begitu saja oleh musyawirin. Karena sebelumnya Sang Blawong Ahmad Nasihun sudah lebih dulu keliling rumah penduduk untuk minta pendapat beberapa orang yang dianggap bisa diajak berfikir.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut H. Fakhrudin yang juga murid K. Ahmad Nasihun, menyatakan, “bahwa pola fikir Kiai Nasihun itu jarang dipunyai Kiai sekarang. Dulu kalau ada rencana punya hajat, entah itu membangun masjid, tajuk, dll beliau selalu menyaring pendapatnya orang-orang yang punya gagasan dalam maupun sebelum musyawarah. Walaupun seseorang itu dianggap oleh masyarakat sebagai orang awam, kalau gagasannya bagus akan dipakai. Kalau sekarang kan tidak! Walaupun gagasannya baik kalau dia orang miskin tentu idenya tak akan dipakai. Sudah kaping-kaping musyawarah hanya mendengarkan ide-ide orang kaya, sehingga rakyat jelata trauma untuk <em>urun rembug</em>.” Tegas muallim Pondok Pesantren Insap Pekalongan dari tahun 70an hingga sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang menjadi heran banyak muridnya, walaupun beliau kharismanya begitu menundukkan tetapi Ahmad Nasihun selalu berusaha mengakrabi anak-anak. Di masjid Istiqomah Paesan Kedungwuni Pekalongan beliau sering bercanda mengajak anak-anak untuk belajar qiro (qori). Hampir pengajiannya selalu dihadiri anak-anak. Pengajian pada masa Kiai penggagas koperasi Syajarun Thayyibatun ini dihadiri semua umur. Dari anak-anak sampai kakek-kakek.</p>
<p style="text-align: justify;">Para jamaah pengajian yang belum mempunyai kitab diperintah K. Ahmad Nasihun untuk menulis. Dengan telaten Kiai yang juga tukang kayu ini menuliskan bait demi bait kitab tarajumah yang dikaji untuk ditiru para murid. Menurut pengakuan H. Fahruddin, “setiap pengajian harus mencapai satu koras. Pengajian beliau minimal dua jam.” Sambil berusaha meyakinkan penulis. Penulis hanya manggut-manggut mengiyakan. “jadi setiap ngaji kita punya seratan kitab sebanyak satu koras.” Tambahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu pagi, matahari juga belum menampakkan wajahnya. Bunyi hentakan kaki, dan nafas tersengal terdengar beriringan dengan bunyi kicauan burung yang bersahutan. Embun pagi masih terus saja turun. Hentakan kaki itu terus melangkah dan terdengar semakin menjauh. Tiba-tiba ada suara memanggil dari arah langgar (mushola) “Sriiin” sontak saja orang yang dipanggil dari kejauhan bergegas balik arah menuju suara. Terdengar nafas tersengal, karena ia berlari untuk menuju seseorang yang memanggilnya “<em>enten nopo yai…</em>” “<em>mending awakmu olah raga nang kene bae.</em>” “<em>maksude pripun…</em>” “<em>yo iku kolah langgar diseni.</em>” Maksudnya agar orang itu tak jauh-jauh olahraga, cukup dengan menimba air diisikan ke kolah bisa juga sebagai ikhtiar olah raga. Dengan tujuan seseorang bisa olah raga sekaligus oleh pahala.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau di terima oleh masyarakat luas dari semua jenis golongan dan ormas. Walau pada waktu itu jamaah Rifaiyah di beberapa daerah mendapatkan perlawanan dari orang-orang yang kurang setuju dengan doktrin kitab Tarajumah tetapi Ahmad Nasihun malah dipercaya oleh orang-orang NU untuk memegang peranan dalam kepengurusan masjid jami NU menjangan. Beliau juga yang mempelopori kegiatan-kegiatan masjid jami itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang figur yang penuh kebijakan dan mengutamakan kemaslahatan masyarakat, kalimat itu yang mungkin sedikit bisa menggambarkan karakter selanjutnya. karena dalam masyarakat Rifaiyah sendiri tak jarang timbul gejolak. Entah disebabkan karena masing-masing figur ingin berperan, atau karena hal lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang jelas di Paesan Kedungwuni Pekalongan sendiri dapat ditengarai ada ‘kerenggangan’ warga Rifaiyah, pasca dibangunnya beberapa mushola selain masjid, seperti Mushola Mustakim, Langgar Fadhilah. Keberadaan dua mushola itu, waktu itu mengurangi konsentrasi kegiatan warga dalam beribadah di tempat tertentu, mengingat warganya masih sekitar 80 rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah yang diambil Nasihun adalah dengan mengajak musyawarah semua warga membentuk kesatuan kepanitiaan yang akan mengurusi semua pembangunan yang akan direncanakan di Paesan. Kemudian juga pembagian batas wilayah masing-masing jamaah. Maksudnya sebagai usaha pemerataan jamaah untuk setiap tempat ibadah.</p>
<p style="text-align: justify;">Nasihun juga melarang berdirinya shalat jumat di Paesan Utara yang dulu sempat direncanakan. Alasannya tentu agar konsentrasi beribadah di tempat tertentu membantu kesatuan lahir batin warga Rifaiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita tahu, kiai satu ini mempunyai keluasan ilmu dan pemantik kreatifitas. Karena hampir pemikirannya melampaui zamannya. Diantaranya beliau menggagas memperbanyak Kitab Tarajumah dengan teknologi cetak. Nasihun menyempatkan belajar ke jakarta untuk hal yang satu ini. Kemudian pencetakan kitab tarajumah dilanjutkan oleh teman seperjuanggannya KH. Rahmatullah sampai diwariskan kepada putranya yang bernama Ahmad Rifai.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada masa-masa selanjutnya dapat ditengarai dengan munculnya kecanggihan teknologi photocopy yang meremukkan semangat santri-santri untuk menuliskan kitab-kitab tarajumah. Dulu hampir sebagian besar santri di pesantren Rifaiyah selalu menulis kitab tarajumah, bahkan jika orang kampung berminat, maka santri tak segan menjualnya untuk ongkos <em>tholabul ilmi</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Metode menulis ini koheren dengan teori ingatan, yang kurang lebih berbunyi: “orang yang hanya membaca maka daya serap ingatannya atas materi yang dibacanya hanya 20 persen, seandainya ditambah dengan menuliskannya bisa mencapai 50 persen, sampai menginjak prosentase 90 persen jika seseorang membaca, menulis, dan mengajarkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengakuan tentang masalah ingatan hafalam kitab tarajumah ini juga dilontarkan H. Abdul Kholik menanggapi kenyataan turunnya minat untuk mempelajari kitab tarajumah. Beliau heran bahwa generasi dirinya kalau hafalan sampai sekarang masih pada nyantol (ingat). Tetapi generasi anak-anaknya walaupun pernah hafal menginjak beberapa tahun saja sudah hilang seperti ditelan usia.</p>
<p style="text-align: justify;">Kok berteori sih…tahan…tahan…konak mu berteori, beropini, itu menggurui gak baik bagi pembaca yang udah kebal teori. Oke deh kita lanjut kepada moyang kita yang kreatif itu. Kira-kira apalagi ya…kreativitasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kiai Nasehun pada awalnya berguru kepada Kiai Samian yang dikenal juga dengan Mbah Siti, Srinahan Kesesi. Nama Samian sekarang diabadikan oleh Kiai Abdullah Hamzah untuk nama pondok Pesanten Rifaiyah di Srinahan Kesesi, dengan As-Samiani. Pantas saja santri sana punya pendengaran semua…ya jelas tho ya…dalam hidup memang harus banyak mendengarkan dari pada banyak <em>mbacot</em>. Allah aja paling suka menyebut dirinya Samiun Bashir bukan Basirun Sami. Dengarkan dulu baru baca dan teliti.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun tidak di sahara padang pasir, Nasihun remaja tetap saja haus ilmu pengetahuan dan agama, selepas nyantri di Srinahan Kesesi di mengembara ke alam yang lebih kota, dia singgah beberapa tahun di Pesantren Watesalit Batang. beliau berguru kepada K. Imam Basyari. Saking hausnya, ia juga setiap minggu ngaji kepada KH. Badjuri Kretegan Kendal. Selepas memperdalam kitab-kitab tarajumah, beliau masih ingin menimba ilmu-ilmu dalam kitab salaf, makanya dengan niat, tekat bulat Ahmad Nasihun melesat sampai di Pesantren Tebuireng Jombang hingga tamat. Disana beliu nyucup barakah ilmu kepada KH. Hasyim Asyari, pendiri ormas Nahdlotul Ulama ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Jebol dari pesantrennya Gus Dur, beliau mulai menjejakkan kaki di Pekalongan, mengulurkan tangan melayani masyarakat, dan menyingsingkan lengan baju mempelopori berbagai macam bidang yang sangat varian. Diantaranya beliau membangun ekonomi umat, memberi peluang kerja kepada banyak orang dengan membuka usaha konveksi, pertukangan kayu, dan batik.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana diceritakan Nur Aini, salah satu putri pertama K. Nasihun, beliau memberikan tugas kepada Aini untuk mengacunt segala hal yang berkenaan dengan usaha beliau, khususnya batik. Hal itu dirasakan isteri KH. Abdul Aziz ini sebagai pendidikan secara langsung, sampai sekarang ilmu itu sangat bermanfaat, karena hingga sekarang Bu Nyai ini mengelola distributor batik yang jangkauan pemasarannya hingga luar kota. Dari hasil usahanya ini, beliau dapat membiayai kelangsungan pendidikan keenam putra-putrinya hingga lulus.</p>
<p style="text-align: justify;">Strategi dakwah sambil dagang diwariskan K. Nasihun dari sejak dimulainya pengajian selapanan yang diselenggarakan di Masjid Istiqomah. Pengajian selapanan ini dihadiri oleh warga masyarakat Rifaiyah dari berbagai penjuru Pemalang, Pekalongan, Batang. mereka berbondong untuk ngaji, sekaligus membawa dagangannya masing-masing. Selepas pengajian mereka bertukan informasi dan bertransaksi di tempat tertentu di masing-masing perumahan warga yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Diantara jamaah pengajian ada yang kulakan pakaian di Paesan, ada yang menawarkan tapih batik hasil karya tangan sendiri, ada beberapa pakaian yang di kulak dari pasar kemudian ditawarkan kepada warga <em>turut omah</em> (dor to dor). Hingga bekas rumah K. Nasihun sendiri sekarang sebagai tempat kulakan batik selepas pengajian selapanan Ahadan berakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Kiai Nasihun dalam membangun organisasi memang handal. Beliau dalam beberapa tahun sempat mengkoordinir setiap dukuh rifaiyah agar mengirimkan pemuda untuk dikader, dan diberi pendidikan keorganisasian dan kepemimpinan. Beliau juga berfikir tentang perlunya membentuk organisasi sebagai wadah penyatuan visi orang-orang Rifaiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ceritanya berawal dari tiga anak didik Kiai Nasihun yang dikirim ke tiga pesantren Rifaiyah: Pesantren Purwosari, Kretegan, dan Batang. Suatu saat selepas lebaran. Bapak Koperasi Rifaiyah ini memanggil ketiga anak santri tersebut. Nasihun mengajukan pertanyaan: “rokok itu hukumnya bagaimana?” ketiga santri itu masing-masing menjawab berbeda. Yang pertama halal, kedua haram, ketiga makruh, dengan dalil dan alasan yang mereka kemukakan. Sampai ujung-ujungnya Nasihun tertegun dan berfikir tentang nasib santri tarajumah (rifaiyah) ke depan, kalau selalu terjadi khilafiyah. Perbedaan bisa menjadi rahmat, sekaligus laknat. Maka harus butuh kecerdasan untuk mengelolanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Timbullah gagasan untuk membentuk organisasi sebagai langkah menyatukan visi dan mengelola perbedaan agar menjadi rahmat. Nasihun berdiskusi dengan teman sekaligus muridnya, K. Hambali Randudongkal, dan sowan kepada Bapak Carbin yang dirasa bisa memberikan sumbangsih untuk mengelola organisasi, karena beliaulah termasuk sarjana pertama Rifaiyah di Tanahbaya Randudongkal. Sampai lahirlah Yayasan Pendidikan Islam Rifaiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bolehlah kalau Mbah-mbah Sampeyan yang berjasa kepada Islam, khususnya Rifaiyah pingin dituliskan semacam diatas. Tinggal calling kami crew tanbihun.com Ahmad Saifullah dengan nomor: 082141181760. bisa kami bantu penulisannya untuk mendokumentasi keteladanan, dan tentunya mengetahui Jejak Warga Rifaiyah dimana-mana. Siiip.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Bersambung…..</em><br />
Wawancara dengan:<br />
KH. Ahmad Syadzirin, KH. Zaenal Abidin, KH. Ali Nahri, KH. Fakhruddin, KH. Abdul Khamid, Hj. Nuraini, Mbah Saluhi, Abdul Jalil, Alif Ayatullah, Nasir, Mufid Bani Adam.</p>
<p>Paesan tengah, 2 Januari  2010<br />
Ahmad Saifullah Ahsa</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/rifaiyah/jejak-warga-rifaiyah-pekalongan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

