<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tanbihun Online &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/category/sosbud/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 15:30:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Saat Kita Malas Dalam Ibadah</title>
		<link>http://tanbihun.com/sosbud/opini/saat-kita-malas-dalam-ibadah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sosbud/opini/saat-kita-malas-dalam-ibadah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 10:14:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Faried</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu yang bermanfaat]]></category>
		<category><![CDATA[supaya tidak malas ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=38977</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun - Secara teori keilmuan, banyak sekali yang mengupas tentang tips dan kiat-kiat  bagaimana supaya kita bisa tekun dan husu’ dalam beribadah.  Kita tidak jarang mendapati sebuah pertanyaan seperti ini...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tanbihun.com/sosbud/opini/saat-kita-malas-dalam-ibadah/attachment/kitab-4/" rel="attachment wp-att-38978"><img class="alignleft size-medium wp-image-38978" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/kitab-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><em><strong>Tanbihun -</strong></em> Secara teori keilmuan, banyak sekali yang mengupas tentang tips dan kiat-kiat  bagaimana supaya kita bisa tekun dan husu’ dalam beribadah.  Kita tidak jarang mendapati sebuah pertanyaan seperti ini baik dari diri sendiri ataupun dari orang lain, <em>“bagaimana sih caranya agar sholat kita bisa husu’? bagaimana sih caranya supaya kita bisa ihlas dalam beramal?&#8221;</em> Dan lain sebagainya.</p>
<p>Tidak sulit kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, tinggal buka kitab atau buku semua jawaban ada disitu. Atau yang lebih gampang  lagi tinggal search di internet.</p>
<p>Sekarang, ketika sudah mendapati  jawaban, seperti apa reaksi kita? <em>“oohh… seperti itu ya tipsnya? Kapan-kapan bisa saya praktekin”.  “hemm… banyak banget tipsnya sampai capek bacanya”. “semua tipsnya kok susah-susah ya..?”.</em></p>
<p>Mungkin disinilah peran dari <em>‘Ilmu an-nafi’</em>.  Yang benar-benar memberi  manfaat  bagi yang memilikinya. Karena tak jarang dari kita, ilmu hanya sebagai wacana dan bahan untuk diskusi semata. Hingga tak jarang kita tidak merasakan manisnya ilmu pengetahuan yang kita jadikan pegangan dalam kehidupan.</p>
<p>Ada kisah ringan yang menggerakkan hati saya, ada seorang pemuda bisa dibilang ia pandai ilmu agama. Namun satu kekurangannya yang paling mencolok dimata ibunya, ia sering mengahirkan shalat isya’ dan jarang membaca Qur’an . sang ibu tidak pernah lelah mengingatkannya untuk meninggalkan kebiasaan buruk itu, dengan enteng sang anak menjawab “iya bu&#8217;.. Insya Allah mulai besok saya tidak akan mengahirkan shalat isya&#8217; dan akan rajin baca Qur’an. Kejadian seperti itu terus berlangsung hampir satu tahun lamanya.</p>
<p>Hingga pada suatu hari sang ibu melihat kondisi kamarnya yang biasa pemuda tadi melakukan ibadah, “nak, coba diperluas lagi tempat ibadahmu biar lebih nyaman tidak sempit seperti itu”. Pemuda tadi pun menuruti perintah ibunya.</p>
<p>Subhanallah, ahirnya pemuda tadi bisa meninggalkan kebiasan buruknya dan kembali rajin baca Qur’an.</p>
<p><em><strong>Ada hikmah apa dibalik kisah ini?</strong></em></p>
<p>Bila kita kembalikan ke pertanyaan diatas, ternyata teori keilmuan yang dimiliki pemuda tadi belum bisa mengantarkan pada apa yang seharusnya seorang ahlul ‘ilmi lakukan, bukannya pemuda tadi tidak mahu berubah dari kebiasaan buruknya, hanya saja ia belum mampu. Dan ternyata salah satu kendala yang membuatnya seperti itu adalah kehilafannya tidak pernah memperhatikan sarana ibadah yang bisa membuatnya lebih tenang dan nyaman.</p>
<p>Tentu saja masing-masing pribadi mempunyai  kendala tersendiri, hanya Allah lah yang bisa memperlihatkan jalan keluar kepada kita dari kemalasan ibadah.</p>
<p>Maka dari itu, selayaknya kita mampu menciptakan suasana kenyamanan baik kenyamanan hati ataupun <em>“makanul ibadah”</em> sebelum kita menghadap Rabbul ‘izzah. Yang Insya Allah, kita benar-merasakan bahwa kita sedang shalat, merasakan nikmatnya niat, merasakan kedua tangan yang biasanya berlumur dosa kita gunakan untuk mengagungkan Tuhan dalam takbiratul ihram, menghadirkan keagungan ummul kitab (surah alfatihah) yang semakin menambah rasa kehambaan dan rasa butuh kita pada Tuhan, merasakan tuma’ninah, ruku’, sujud dan lan sebagainya.</p>
<p>Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan hasil dan pengaruh dari ilmu yang bermanfaat, yaitu menumbuhkan dalam hati orang yang memilikinya rasa tenang, takut dan ketundukan yang sempurna kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala.</em> Ini berarti bahwa ilmu yang cuma pandai diucapkan dan dihafalkan oleh lidah, tapi tidak menyentuh –apalagi masuk– ke dalam hati manusia, maka ini sama sekali bukanlah ilmu yang bermanfaat, dan ilmu seperti ini justru akan menjadi bencana bagi orang yang memilikinya, bahkan  menjadikan pemiliknya terkena ancaman besar –semoga Allah<em> </em><em>Subhanahu wa Ta’ala</em> melindungi kita semua– termasuk ke dalam tiga golongan manusia yang pertama kali menjadi bahan bakar api neraka.</p>
<p>Sebagai penutup, ada dua pertanyaan yang harus kita jawab dan kita segera perbaiki</p>
<p>Kapan terahir kali kita benar-benar merasakan kenikmatan ibadah?</p>
<p>Kapan terahir kali kita benar-benar menikmati bacaan Qur’an dengan tidak ada perasaan gerah?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sosbud/opini/saat-kita-malas-dalam-ibadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia Maya, Dunia Nyata Dan Dunia Akhirat</title>
		<link>http://tanbihun.com/sosbud/opini/dunia-maya-dunia-nyata-dan-dunia-akhirat/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sosbud/opini/dunia-maya-dunia-nyata-dan-dunia-akhirat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 04:48:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Em. Yazid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sisi-sisi lain dunia jejaring sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=33751</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Tulisan ini akan diawali dengan cuplikan pendapat Sekjen Kemenag Bahrul Hayat dalam rangka menyambut digelarnya Konferensi Media Islam Internasional II  di Jakarta, 13-15 Desember mendatang, yang bertema “New Media...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/laptop-maya.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-33752" title="laptop maya" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/laptop-maya-277x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Tanbihun</strong>- Tulisan ini akan diawali dengan cuplikan pendapat Sekjen Kemenag Bahrul Hayat dalam rangka menyambut digelarnya <strong>Konferensi Media Islam Internasional II</strong>  di Jakarta, 13-15 Desember mendatang, yang bertema <strong>“New Media and Communication Technology in the Muslim World”. </strong>diselenggarakan Kemenag dan Rabithah Alam Islami yang berpusat di Arab Saudi. &#8220;Acara ini, bertujuan meningkatkan kerja sama dan membentuk jejaring antara negara-negara Islam untuk mengantisipasi persoalan yang merugikan umat Islam,&#8221; ujarnya</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Bahrul, latar belakangnya adalah fakta bahwa dunia informasi dan teknologi komunikasi saat ini memasuki era yang sangat mencengangkan. <em>&#8220;Di mana berbagai media tumbuh sangat pesat seiring berkembangnya internet, dan memicu perubahan tatanan politik sosial budaya dan keagamaan masyarakat,&#8221;</em> ucapnya.</p>
<h5 style="text-align: justify;">Dunia Maya,Dunia Nyata, Dunia Akhirat</h5>
<p style="text-align: justify;">Demam internet beberapa tahun terakhir ini melanda hampir seluruh lapisan masyarakat, tak berlebihan jika dikatakan dunia maya dan dunia nyata saling membawa dampak, dan puncaknya adalah dampak permanen yaitu kehidupan kita kelak diakhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika awal-awal diperkenalkan blog, masih sedikit yang tertarik apalagi yang mau memanfaatkannya untuk menjadi media penyebar informasi, pendidikan yang bersifat positif, saya masih ingat ketika dunia blogger mencapai puncak keterkenalannya, beberapa pendidik, tokoh agama masih memandang tidak perlu memanfaatkan media di dunia maya, alasannya pun beragam,mulai dari yang formal sampai yang terksan mengada-ada, <strong><em>“dunia maya itu haram,internet itu cabul,ustadz koq aktif internetan apalagi punya jaringan internet sendiri di rumah berarti dia itu fasiq”.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Itu suara-suara 1 tahun yang lalu, coba sekarang kita tengok ke jejaringan social, utamanya facebook, kita akan tercengang, sudah tidak terhitung lagi berapa ratus ustadz bahkan kyai yang mempuyai akun facebook. Saya tidak sedang membahas hokum menggunakan atau mempunyai akun jejaring social bagi seorang ustadz atau kyai, namun lebih pada pengamatan. Ada 1 hal yang menarik dalam pandangan saya;</p>
<p style="text-align: justify;">Saat mereka ditawari diajak menulis tentang pengetahuan agama, informasi pendidikan agama rame-rame “menolak”, tapi dengan adanya jejaring social tanpa undangan pun mereka serentak membuat akun dan aktif, ketidak tahuan (gaptek) tampaknya tidak menjadi soal, mereka punya prinsip <strong>“man jadda wajada”</strong> siapa giat berusaha maka akan mendapatkan”, usaha untuk mempunyai akun facebook dan mengoperasikannya mereka lakukan, dari mulai memanggil muridnya yang sudah ‘alim facebook, hingga begadang sampai pagi latihan mengoperasikan menu-menu yang ditawarkan facebook.</p>
<p style="text-align: justify;">Dunia facebook didominasi oleh kawula muda, tak ayal lagi banyak ustadz atau kyai yang “terjebak” ikut-ikutan gaya anak muda yang kadang kurang patut, sehingga mungkin akhir-akhir ini kita sering membaca status seseorang yang mengeluhkan perilaku ustadz yang memajang foto mesranya dengan pacarnya, kata rayuannya di status kekasihnya, atau kata-kata yang tak patut lainnya distatus-status lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak sedang menghakimi para pengguna jejaring social, tapi yang menjadi focus bahasan saya adalah; betapa sangat gamblang, dunia maya sangat membawa dampak perilaku kita didunia nyata, atau dunia maya menjadi pelarian mengekspresikan sifat “genit dan nakal” kita yang sellau kita tutup rapat didunia nyata. Dan yang lebih mencengangkan menurut saya, sebagian dari kita tergiur menjadi pengguna jejaring social bukan dalam rangka untuk memperluas cakupan dakwah, tapi lebih pada hiburan,memang tidak salah, namun snagat ironis.</p>
<p style="text-align: justify;">Jemari kita kelu saat diminta menulis sebuah artikel yang bermanfaat, tapi begitu lincahnya saat menulis status “guyonan” di jejaring social, apalagi jika status kita laris manis, jempol bersliweran tak terhitung, komentar pun bermunculan, ada kebanggan tersendiri katanya, dan itu menajdi pelecut penyemangat untuk update status yang lebih “heboh” lagi, sehingga lama-lama kita sudah terbiasa, akhirnya hamper sudah tak bisa dibedakan mana ahli agama dan orang awam, dilihat dari status, tingkah polah di media jejaring sosialnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat fakta yang demikian, jika sampai hari ini masih ada tokoh atau pun individu yang bergerak dalam bidang dakwah dan pendidikan masih memandang dunia maya tidak perlu disentuh, kita tidak perlu memanfaatkan dunia maya, maka bisa para muridnya akan mempunya 2 kejiwaan atau 2 kehidupan, dunia maya dan nyata yag keduanya bertolak belakang. Santun didunia nyata namun “liar” didunia maya. Na’udzubillahi min dzalik.(zid)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sosbud/opini/dunia-maya-dunia-nyata-dan-dunia-akhirat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Preman Dalam Pengajian</title>
		<link>http://tanbihun.com/sosbud/opini/preman-dalam-pengajian/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sosbud/opini/preman-dalam-pengajian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 04:45:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>majid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=32345</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun.com &#8211; Pada sa&#8217;at Anda menyimak acara ceramah di televisi, yang di bawakan dengan santai, tak jarang di selingi humor, bahkan Penceramah tak segan bernyanyi, berjoget ala Briptu Norman, bermain...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div style="text-align: justify"><strong></strong><strong><a href="http://tanbihun.com/sosbud/opini/preman-dalam-pengajian/attachment/dd/" rel="attachment wp-att-32346"><img class="alignleft size-full wp-image-32346" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/dd.jpeg" alt="" width="280" height="230" /></a>Tanbihun.com &#8211; Pada sa&#8217;at Anda menyimak acara <em>ceramah</em> di televisi, yang di bawakan dengan santai, tak jarang di selingi humor, bahkan Penceramah tak segan bernyanyi, berjoget ala Briptu Norman, bermain sulap macam Uya, guling guling, lompat lompat, pastinya anda betah berlama lama, senang dan merasa terhibur. <em>anda menerima.</em> tapi ketika materinya mulai menyentuh subtansi permasalahan, terkesan serius, menyo&#8217;al halal haram maka, tanpa membuang tempo jari terampil anda langsung mencet remote, pindah chanel lain, pilih OVJ atau Sinetron.<em> inilah cara anda menolak<br />
</em><br />
Akan lain ceritanya bila anda kebetulan di undang salah satu kerabat atau tetangga yang menyelenggarakan Tasyakuran, entah acara Pernikahan atau Khitanan. kebetulan lagi selain agenda acaranya berjubel juga akan di isi pengajian. mula mula anda datang senyum manis sambil jabat tangan, setelah minuman dan aneka rupa makanan berpindah ke tangan, anda tengak tengok cari tempat duduk yang nyaman. satu persatu acara bergantian kini giliran Pak Kyai bertausiyah, di tengah hadirin yang mulai resah suara Kyai terdengar lemah, di samping juga Beliau sudah <em>sepuh. </em>ceramah yang sesungguhnya menarik karena berisi wejangan wejangan bijak tak membuat anda berminat menyimak, lelah pencat pencet HP yang <em>SimCardnya</em> memasuki masa tenggang itu anda mulai jengah, berbagai makanan dan dua gelas minuman telah ludes dari tadi, demi menenangkan diri anda berupaya mengantuk, sialnya cuaca terik membuat ruangan itu seperti di dalam <em>kuali,</em>gagal mengantuk semakin membuat anda frustasi, jurus terahir rekan kiri kanan anda provokasi, mentoknya mulut tak bertanggung jawab anda berteriak kencang; cukuuup&#8230;! turuuun..turuuun!..teman teman anda susul menyusul menimpali.</strong>&nbsp;</p>
<p><strong>Kejadian diatas benar bukan karangan, betapa Manusia terkadang nekat menerjang norma, etika serta tata krama. mengingkari kudratnya sebagai mahluk sosial, demi alasan yang sesungguhnya di buat buat, bukankah dengan datang berarti anda telah faham konsekwensi yang di tanggung, yakni menjadi tamu yang baik, yang rela meluangkan waktunya demi menghormati Tuan rumah. ketika anda tau bahwa diri anda tak sanggup, kenapa memaksakan diri untuk datang lalu berlaku <em>barbar?!&#8230; </em></strong></p>
<p><strong>Adalah biasa, ketika Group Band kelas kecamatan di timpuki botol mineral diatas panggung lantaran Vokalisnya <em>compreng,</em> atau Pak Polisi gendut terbirit birit di keroyok para pengunjuk rasa yang notabene adalah rakyatnya yang selama ini di lindunginya, bahkan baru baru ini Institusi penegak hukum yang khusus menangani korupsi justeru babak belur di hajar  para koruptornya. tapi ketika Kyai yang sedang berceramah, menyampaikan nilai nilai kebaikan di tentang Pendengarnya, ini luar biasa!&#8230;</strong></p>
<p><em>Sukorejo, 25 September 2011</em></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sosbud/opini/preman-dalam-pengajian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rifa&#8217;iyah Lalu Kini Nanti</title>
		<link>http://tanbihun.com/sosbud/opini/rifaiyah-lalu-kini-nanti/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sosbud/opini/rifaiyah-lalu-kini-nanti/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 02:50:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>majid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Rifa'iyah Lalu Kini Nanti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=32308</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun.com &#8211; Dulu, sebelum bernama Rifa&#8217;iyah Orang menyebutnya Tarajumah, ada yang mengatakan Tarjumah, sedangkan yang Intelektualnya tingkat tinggi ngotot dengan menyebutnya Tarojumah, sebab huruf Ro&#8217; itu jika di kasih harokat...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p style="text-align: justify"><strong><em>Tanbihun.com &#8211; <a href="http://tanbihun.com/sosbud/opini/rifaiyah-lalu-kini-nanti/attachment/wee-3/" rel="attachment wp-att-32309"><img class="alignleft size-full wp-image-32309" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/wee2.jpeg" alt="" width="300" height="260" /></a>Dulu,</em> sebelum bernama Rifa&#8217;iyah Orang menyebutnya Tarajumah, ada yang mengatakan Tarjumah, sedangkan yang Intelektualnya tingkat tinggi ngotot dengan menyebutnya Tarojumah, sebab huruf <em>Ro&#8217;</em> itu jika di kasih harokat <em>Fathah</em> pasti berbunyi <em>Ro</em>, bukan <em>Ra</em>, apalagi <em>Ri</em>. itu pasti. jika tidak mau dianggap menghianati ilmu Tajwid katanya. contoh lainya, <em>Ahirot, Bathol, Rojab, Ibarot.</em> dan lain sebagainya. jadi kalau mau ilmunya bermanfa&#8217;at katakanlah dengan sepenuh hati <em>Manfa&#8217;at,</em> bukan <em>Munpangat.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify"><em>Santri</em> Tarajumah terbilang elit, karena mereka enggan berbaur selain dengan kelompoknya. sebutan untuk kelompok atau golongan lain adalah <em>Wong umum, Wong njobo, Ghoiru. </em>tentu saja klasifikasinya berdasarkan keyakinan beribadah, bukan yang lainya. Misalnya, mereka enggan mendatangi Pengajian atau Acara yang di gelar Wong umum, sebab yang terjadi antara laki-laki dan perempuan jadi satu majlis, tidak terpisah dan itu Munkar menurut mereka. Suatu sa&#8217;at mereka tidak mau bermakmum Sholat dengan Wong umum, karena didapati Imamnya <em>Grotal gratul</em> ketika membaca Fatihah, atau tidak <em>Madal</em> (menekan jari jari kakinya) ketika sujud. jika sudah tau begitu mereka lebih memilih sholat sendiri di pojok masjid, tidak tergiur lagi pahala yang 27 itu.</p>
<p style="text-align: justify">Yang lebih unik lagi misalnya, mereka mengulang prosesi Akad Nikah yang sudah di tangani Petugas KUA. Para sesepuh dan Ulama lebih membidangi so&#8217;al <em>tetek bengek</em> syarat menjadi Wali Hakim ketimbang Petugas yang suko molor datangnya itu. Biasanya kedua mempelai disuruh berikrar, melafalkan segenap jiwa dan raga kalimat <em>Syahadat beserta artinya. </em>jangan tanya lagi kalau salah, segenap orang yang hadir disitu dengan kejam akan menghardiknya. kalau sudah begitu keluarga besan dan guru ngajinya akan menanggung malu tak terperi. lalu, mempelai wanita ditanya macam macam, <em>sudah pernah Haid belum, Alqur&#8217;an khatam berapa kali, sudah ngaji lafadz makna berapa kitab, guru ngajinya siapa, suka nonton bioskop tidak, suka nyolong rokok tidak, </em>eh..sebab ada yang biasa ngembat rokok bapaknya lalu diberikan kepada tunanganya.</p>
<p style="text-align: justify">Nampaknya sikap menutup diri dan Antipati itulah yang kemudian menuai reaksi dari kelompok lain, berbagai tudingan serta rumor tak sedap bertubi tubi menghantam mereka. pernah semasa Orde baru kelompok ini nyaris dibubarkan Pemerintah karena dinilai menyimpang, yang konon jika meninggal tiba tiba secara ajaib berubah bentuk menjadi <em>celeng.</em> walaupun itu tak pernah terbukti dan hanya ada di filmnya <em>George Rudi.</em></p>
<p style="text-align: justify">Sekalipun santri Tarajumah terbilang keras dan tegas dalam mempertahankan Amaliyah ajaran guru besarnya yaitu KH. Ahmad Rifa&#8217;i, tapi tidak pernah ditemukan data dan fakta bahwa golongan ini pernah menganggap sesat golongan lain apalagi sampai mengkafirkan kelompok lain. sikap tegas dan antipati mereka semata mata hanya untuk membentengi diri dari pengaruh luar. Upaya lainya dalam menjaga Faham mereka yaitu dengan cara menikahkan anak anaknya dengan orang yang masih satu golongan.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Kini,</em> Se&#8217;iring berlalunya waktu Bayi itu tumbuh dewasa dan telah berganti nama menjadi Rifa&#8217;iyah. berbagai prestasi gemilang berhasil Ia torehkan, setidaknya Organisasi ini resmi diakui Oleh Pemerintah, pantas bersanding dengan Organisasi besar semisal NU dan Muhammadiyah. yang tidak kalah penting lainya, ditetapkanya sang Guru besar KH. Ahmad Rifa&#8217;i sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah. menjamurnya sekolah sekolah Rifa&#8217;iyah, menelusuri rekam jejak Sang Guru sudah, lalu memugar makam Sang Guru itu juga sudah. terahir, bahkan melakukan ziarah. cita cita agung bersama itu lunas sudah.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Nanti,</em> semua tugas telah selesai, Muktamar baru saja dilalui, Ketua dan Pengurusnya baru saja di perbaharui, <em>mau ngapain lagi?!</em></p>
<p style="text-align: justify"><em><br />
Sukorejo, 10 Oktober 2011</em></p>
</div>
</div>
<p><img class="alignleft" src="../forum/Themes/default/images/icons/modify_inline.gif" alt="Ubah pesan" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sosbud/opini/rifaiyah-lalu-kini-nanti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru Ngaji Ditampar Muridnya</title>
		<link>http://tanbihun.com/sosbud/opini/guru-ngaji-ditampar-muridnya/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sosbud/opini/guru-ngaji-ditampar-muridnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 13:56:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Cepat Membaca Al Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=31570</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Metode baca tulis Al-Qur’an mengalami banyak kemajuan. Dulu waktu masih anak-anak penulis hanya mengenal metode Baghdadi dengan pengjarnya yang “sangar”. Dengan tuding (tongkat kecil terbuat dari bambo) ditangan, sang...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/ngaji.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-31573" title="ngaji" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/ngaji-300x216.jpg" alt="" width="300" height="216" /></a>Tanbihun</strong>- Metode baca tulis Al-Qur’an mengalami banyak kemajuan. Dulu waktu masih anak-anak penulis hanya mengenal metode Baghdadi dengan pengjarnya yang “sangar”. Dengan tuding (tongkat kecil terbuat dari bambo) ditangan, sang guru ngaji tak segan membentak saat si murid membaca salah setelah diajari berulang-ulang.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“brakkk!!!!&#8230;.ban-bin-bun,”</em> suara sang guru setelah didahului suara meja yang digedor pakai tudingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Murid-muridnya maju satu persatu, sementara temannya sedang dag-dig-dug, was-was kalau-kalau kena tuding sang guru, tak jarang murid-murid lainnya yang menunggu giliran membaca <em>“kitab alif-alifan”</em> masih sempat bergurau dengan teman disebelahnya. Ada yang main jepretan gelang karet atau berbisik merencanakan permainan seusai pengajian.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“ayo pada nderes (tadarus), jangan guyonan”</em> suara sang guru kembali membuyarkan gurauan murid-muridnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk dapat membaca Al-Qur’an dengan benar dan fasih dibutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai bertahun-tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan jaman sekarang, dimana  budaya instan, ingin cepat mendapatkan sesuatu semakin mewabah, metode baca-tulis Al-Qur’an pun tak luput dari demam isntans, sehingga bermunculanlah metode-metode instan, praktis cepat membaca Al-Qur’an. Ada yang menjamin dalam beberapa bulan sudah mahir, ada juga yang menjamin dalam hitungan beberapa jam sudah lihai membaca Al-qur’an.</p>
<p style="text-align: justify;">Penulis tidak sedang membahas kelebihan dan kekurangan setiap metode, namun mencoba menyajikan sebuah “kenangan memori” dari metode-metode itu. Metode jadul menyisakan kenangan mendalam bagi murid-muridnya. Bacaan yang dengan susah payah dipelajarinya ternyata masih kuat bercokol dalam otaknya, lengkap dengan cerita dibalik bacaan itu. Ada orang tua yang dengan gamblang masih mengingat “riwayat” perjalanannya dalam meraih sukses melafalkan huruf <strong>“ض”</strong> setelah berhari-hari menerima pukulan tuding sang kyai, sehingga huruf itu menjadi kengan pahit sekaligus manis yang sulit dilupakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kala itu dia sempat bertanya-tanya kenapa sang kyai selalu membentaknya saat bacaannya salah? Kenapa pula kadang beliau memukul ringan tangannya dengan tuding saat berkali-kali tidak bisa melafalkan huruf  itu? Seperti tahu rasa penasaran murid-muridnya, sang guru pada suatu malam jum’at, dimana malam jum’at kliwon adalah malam yang paling dinanti oleh murid-muridnya, sebab pada malam itu semua membawa “jaburan” (makanan kecil) untuk dibagikan kembali kepada mereka setelah bersama-sama hafalan syarat-rukun kitab takhyiroh,syarat-rukun wudhu,sholat dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat memberikan nasihatnya, sang guru ngaji menerangkan, bahwa bentakan dan pukulan yang dilakukannya adalah dalam rangka membentak syetan, pukulannya adalah untuk memukul syetan yang mengganggu murid-muridnya. Syetan-syetan itu menggoda dan mengganggu orang ngaji, sehingga sulit menerima pelajaran, sering becanda. Itulah maksud bentakan dan pukulan sang guru. semua muridnya percaya, benar-benar percaya 100%.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam imajinasi penulis, mungkin kalau anak-anak jaman sekarang diperlakukan seperti itu, akan ada murid yang memukul guru ngajinya, ketika ditanya, <em>“kenapa kamu memukul gurumu?”</em> dia akan menjawab <em>“bukan saya yang memukul, tapi syetan”</em>.(zid)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sosbud/opini/guru-ngaji-ditampar-muridnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Bicara Soal AMRI(Angkatan Muda Rifaiyah)!!!</title>
		<link>http://tanbihun.com/sosbud/opini/ayo-bicara-soal-amriangkatan-muda-rifaiyah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sosbud/opini/ayo-bicara-soal-amriangkatan-muda-rifaiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 00:52:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah AMRI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=30068</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Angkatan Muda Rifaiyah(AMRI) sudah sepuluh tahun berdiri,namun keberadaannya masih belum menemukan posisi yang jelas, mau apa? Mau mengambil peran sebagai apa dalam percaturan dunia yang semakin terbuka lebar ini....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/amri.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-30069" title="amri" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/amri.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Tanbihun</strong>- Angkatan Muda Rifaiyah(AMRI) sudah sepuluh tahun berdiri,namun keberadaannya masih belum menemukan posisi yang jelas, mau apa? Mau mengambil peran sebagai apa dalam percaturan dunia yang semakin terbuka lebar ini. Kepengurusan dari pusat sampai ranting boleh dibilang bagai tonggak yang kokoh berdiri,hanya papan nama,tanpa kegiatan yang jelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini mungkin terlalu “kejam” terlampau “pedas”,tapi inilah realita,selama ini para pemuda rifaiyah sudah mati berdiri sebelum melangkah, kita lebih senang menimpakan semua kepada generasi tua, padahal keberadaan AMRI awal mulanya didirikan sebagai wadah kepemudaan yang independent.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai ormas selayaknya punya agenda dan program kerja dan tujuan yang ingin dicapai secara jelas,terarah,melalui sebuah perencanaan yang matang, disusul dengan aksi yang penuh semangat, yang akhirnya menghantarkan kita pada tujuan besar yang telah disepakati pada mukernas,mukerda.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau agenda atau program-program kerja yang didengung-dnegungkan hanya sebatas sederet kata diatas kertas yang disusun dengan bahasa formalitas,maka tidak perlu mengadakan mukernas,musda dan sejenisnya,kalau pun harus mengadakan,acaranya sederhana saja,seperti acara musyawarah ketika mau menggelar acara pengajian,cukup diteras masjid/musholla tidak perlu menyewa gedung, tidak perlu mengundang pejabat,cukup “wonge kito”, sederhana,murah meriah.</p>
<p style="text-align: justify;">Boleh dibilang amri selama ini “merampas” kegiatan-kegiatan kepemudaan yang sudah berjalan jauh sebelum keberadaan amri, seperti pengajian-pengajian, sebelum ada amri kegiatan ini sudah ada dan berjalan.kemudian lahirnya amri, “merebut” dan me”label”I semua kegiatan ini menjadi merk amri. Sehingga akhir-akhir ini marak terpampang undangan pengajian mengatas namakan amri. Kalaupun ada kegiatan yang benar-benar dibidani oleh amri, itu pun tak jauh, selalu “menjiplak” kegiatan yang sudah ada,masih berkutat seputar pengajian. Pengajian memang bagus,tapi sekali lagi kami tegaskan,tanpa ada amri,acara ta’lim sudah berjalan. Dan yang menjadi pertanyaan besarnya adalah “ UNTUK APA AMRI DIBENTUK?”</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini sebuah bentuk keprihatinan,semoga menjadi pelecut semangat untuk kita semua sebagai generasi muda khususnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk amri daerah jangan ragu untuk menemukan dan mengaktualisasikan ide baru, tantangan jaman semakin kompleks, diam dan gerak kita tetap dianggap respons, jika demikan,kenapa kita musti ragu dan takut merespons geliat jaman dengan sebuah gerakan nyata?</p>
<p style="text-align: justify;">Salam amri,</p>
<p style="text-align: justify;">Em.yazid</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sosbud/opini/ayo-bicara-soal-amriangkatan-muda-rifaiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia Yang Tertipu</title>
		<link>http://tanbihun.com/sosbud/opini/manusia-yang-tertipu/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sosbud/opini/manusia-yang-tertipu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2011 15:52:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Macam-macam Tingkah Polah Manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=27899</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Dengan perkembangan zaman tentunya terdapat beberapa perubahan yang begitu kompleks di dunia ini. Kebutuhan yang pada mulanya bersifat sekunder berubah menjadi kebutuhan primer. Sains dan teknologi pun berubah...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/piihan-hidup.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-27900" title="piihan hidup" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/piihan-hidup-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Tanbihun</strong> &#8211; Dengan perkembangan zaman tentunya terdapat beberapa perubahan yang begitu kompleks di dunia ini. Kebutuhan yang pada mulanya bersifat sekunder berubah menjadi kebutuhan primer. Sains dan teknologi pun berubah begitu cepatnya menjadi canggih dari yang tadinya tidak masuk akal menjadi realita/ kenyataan yang mau tidak mau harus diakui. Begitu juga dengan pemikiran seseorang. Sehingga manusia dituntut untuk berpikir dengan berpedoman pada Al-Quran, salah satu di antaranya, karena dirasa pada zaman sekarang tantangan dan godaan semakin mengganas dan dapat menyeret kita ke dalam arus kesesatan jika kita tidak lihai dalam menyikapinya. Maka dari itu, alangkah amat disayangkan jika pada zaman sekarang masih ada beberapa orang yang masih punya pemikiran/polah ngawur.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>Contoh Pertama:</strong></span> Terjadilah sebuah percakapan antara orang muda (A) dan orang tua (B), kebetulan mereka berdua masih kerabat dekat alias sedulur. B: ”Saya heran mengapa ya orang pada sibuk kuliah, susah payah mondok di ponpes, sekolah tinggi2? Buktinya, mereka yang kuliah tu liat si anu biasa-biasa saja ga ada bedanya sama yang di rumah kayak saya ini, si anu yang mondok setelah lulus sekarang biasa-biasa saja malahan kerja ”lubang kancing”? Mendingan kayak saya kerja bisa menghasilkan uang. A: Ya jelas ada bedanya. Dia berusaha menjelaskan kepada si B, tapi dasar orang tua yang tentunya merasa kepintarannya dianggap lebih mumpuni, tidak mau kalah dan tetap bersikukuh dengan pendapatnya. Masya Allah!. Sungguh orang yang berani mengatakan/ berpandangan dangkal seperti ini sangat menantang firman Allah dalam Al-Quran. Di antaranya adalah: ”Perintah untuk membaca atau belajar” (QS. Al-’Alaq: 1-5), ”Manusia beriman dan berilmu kedudukannya lebih tinggi” (QS. Al-Mujadilah: 11), ”Larangan melakukan sesuatu tanpa dasar ilmu” (QS. Al-Isra: 36), ”Perintah untuk menggunakan akal, pikiran dan pemahaman (QS. Al-Baqarah: 44), ”Perintah agar belajar terus agar ilmunya bertambah” (QS. Thaha: 114). Adapun dalam As-Sunnah adalah sebagai berikut: ”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim” (HR Ibnu Majah: lihat Sunan Ibn Majah Juz I hal.81), ”Orang yang menuntut ilmu berarti menuntut rakhmat; menjalankan rukun Islam baginya akan diberikan pahala bersama para Nabi” (HR Dailami dari Anas RA).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>Contoh Kedua:</strong></span> seorang guru di sela-sela KBM-nya mengatakan ”bahwa matematika, fisika, kimia, Bahasa Inggris, itu semua tidak penting untuk dipelajari, tidak akan ditanyakan oleh malaikat nantinya di alam kubur. Stop Press! Benarkah??? Lantas, apakah fiqih, bahasa arab akan ditanyakan nantinya?. Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Said bin Al-Musayyab dari Umar RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: ”Jika mukmin telah masuk kubur maka didatangi oleh kedua malaikat yang menguji dalam kubur, lalu mendudukkanya dan menanyainya, sedang ia mendengar suara derap sandal mereka ketika kembali, lalu ditanya oleh kedua malaikat. Siapa Tuhanmu? Dan apakah agamamu?, siapa Nabimu?”. Sudah jelas kiranya, bahwa yang ditanyakan itu bukan soal matematikanya, bahasa inggris atau bahasa arab dan fiqihnya. Kemudian pernyataan guru tentang tidak pentingnya matematika, fisika untuk dipelajari juga patut digarisbawahi dan bila perlu di”Bold”. Sayyid Abi Bakar dalam bukunya ”Kifayah al-Atqiya wa min haj al-Ashfiya menyebutkan bahwa ilmu yang wajib ain (Ilmu Qauliyah) dipelajari yaitu: (1) Ilmu aqidah shahih (2) Ilmu ibadah Shahih (3) Ilmu Tadzkiyatun Nafs (pembersihan jiwa). Namun, di samping itu seorang muslim juga terhukumi Fardhu Kifayah untuk mempelajari ilmu (Ilmu Kauniyah) yang bisa memberikan manfaat dan kemudahan bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia, seperti: mempelajari ilmu kedokteran, astronomi, peternakan dan pertanian, ilmu falak, fisika, kimia, dsb. Marilah kita perhatikan Firman Allah dalam Surat Al-Jatsiyah ayat 13: ”Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rakhmat) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir”. Perhatikan juga Surat Yunus: 101, ”Katakanlah (wahai Muhammad): periksalah apa-apa yang ada di langit dan di bumi”. Selain belajar ilmu Qauliyah kita juga dituntut untuk mempelajari ilmu kauniyah. Jika saja masih ada orang yang meragukan bahwa mencari ilmu kauniyah itu wajib, silakan membaca Haditz yang diriwayatkan Ibnu Uda: ”Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina sekalipun”. Pada zaman Rasulullah apa yang ada di Cina? Mengapa kita harus ke sana? Dari fakta sejarah bahwa bangsa Cina sudah sejak zaman kuno mengenal ilmu pengobatan tradisional, astronomi, ilmu tentang kertas, ramu-ramuan dan lain-lain pengetahuan yang tergolong ilmu kauinyah. Sangat jelaslah, bahwa di sini kita juga dituntut untuk mempelajari ilmu kauniyah itu, kegiatan ini termasuk kewajiban.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">Contoh Ketiga:</span></strong> Orang kaya yang berusaha menghindari agar dirinya tidak mengeluarkan zakat, dengan membelikan suatu barang yang merupakan ”kebutuhan sekunder/ tersier (tidak pokok)”. Misalnya: dirinya jika sudah saatnya mau/hampir mencapai batas kewajiban untuk mengeluarkan zakat, malah lebih mementingkan membeli motor lagi, sehingga dengan begitu maka dirinya tidak terhukumi wajib zakat lagi. Lantas apa yang terjadi? Handphone (HP), sepeda motor, pakaian jadi koleksi pribadinya. Dirinya beralasan, bahwa dengan punya motor banyak, hp banyak dan pakaian dengan beragam merk, maka akan tercipta rasa syukur kepada Allahnya lebih mudah. Sementara fakir miskin yang ada di sekitarnya masih memerlukan bantuan???.</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong><span style="color: #ff6600;"> Contoh Keempat:</span></strong> orang yang selalu was-was. Orang seperti ini adalah orang yang dikalahkan oleh bisikan setan ketika berniat melakukan sholat, setan tak membiarkan mereka melafalkan niat dengan benar. Setan terus menggodanya. Meskipun orang tsb selesai ber-takbiratulikhram dengan sempurna, namun dalam hatinya diliputi keraguan mengenai ke-sah-an niatnya. Kemudian, membaca fatihah dan tahiyatnya diulang-ulang hingga orang-orang yang shalat di sebelahnya merasa terganggu kekhusyuan dalam shalatnya. Dalam bersuci, juga selalu was-was. Dalam hatinya selalu diliputi dan terngiang-ngiang suara ”basuh lagi, itu belum suci” ”awas, tadi ada cipratan kotoran, basuh lagi, ayo siram lagi dengan air” begitu seterusnya, iblis terus saja menggelincirkan orang-orang yang tertipu seperti ini. Ingatlah kawan, tengiklah di Afrika sana masih ada orang yang harus jalan berkilo-kilo hanya untuk mencari sejerigen air bersih. Maka, janganlah memubazirkan air.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">Contoh Kelima:</span></strong> orang yang selalu kemakan/terbuai oleh isu-isu yang sudah jelas tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Mereka hanya mendengarkan selentingan-selentingan kurang jelas, tapi menjadikannya sebagai topik pembicaraan utama. Misalnya: ada orang yang mengecat rumahnya dengan warna kuning, atau biru, atau merah. Langsung geger. Apa-apa serbanya menjadi masyarakat yang ”serba geger”. Hingga mencuatlah tuduhan-tuduhan/ fitnah, bahwa dia Golkar, dia PDI, ah pantesan dia PPP. Lantas, bagaimanakah dengan orang yang mengecat warna rumahnya dengan warna putih? Apakah dia Golput. Alangkah baiknya seseorang menghindar dari kata-kata ”jangan-jangan”/ aliran ”Su’udzanisme” tersebut. Ada lagi contoh lain, si A yang kedatangan tamu Bupati. Kemudian si A tersebut seminggu kemudian membuat rumah, membeli mobil. Langsunglah menuai isu (bisikan-bisikan fitnah yang beraliran Su’udzanisme). ”Wah, dia ternyata disogok, dia bisa beli mobil karena diberi uang bupatinya, dia fasiq”. Masya Allah! Padahal si A melakukan semua itu bukan dari uang bupati, tetapi karena dia dapat warisan atau dia berhasil menjual (barang: misal sawah/kebunnya) dengan harga yang mahal. Akankah perbuatan-perbuatan tersebut terus membudaya dan mengakar di masyarakat? Bagaimana jika seandainya semua itu belum sempat ditobati sampai akhir hayatnya? Sementara orang lain yang menjadi korban merasa tercabik2 hatinya hingga membekas dan belum sempat memaafkan. Duhai ALLAH, Tuhan semesta alam. Lindungilah kami dari godaan syetan yang terkutuk, hindarkanlah kami dari amal yang tidak diterima dan semoga kita bukan termasuk golongan orang-orang seperti itu. Semoga kita bukan termasuk golongan orang2 yang amal kebaikannya malah ditamparkan ke mukanya lantaran amal buruknya menghalang2i ketika dibawa oleh malaikat melewati beberapa pintu langit. ”Wahai malaikat, tamparkan kebaikan2 orang itu ke mukanya, karena sewaktu di dunianya dia suka mengumpat, dia suka fitnah, dsb”.</p>
<p><em><span style="color: #0000ff;">REFERENSI:</span></em></p>
<p>Al-Ghazali, I. Al-Kasyf wa al-Tabyin fi Ghurur al-Khalq Ajma’in.</p>
<p>Assamarqandi, A. 1977. Tanbihul Ghafilin. 470 hlm.</p>
<p>Baiquni, A.B. 1995. Al-Quran: Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. PT Dana Bhakti Prima Yasa. Solo.168 hlm.</p>
<p>Tim Pendidik Agama Islam. 2008. Panduan Pelaksanaan Asistensi Pendidikan Agama Islam Semester Genap Tahun Ajaran 2007/2008. Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Institut Pertanian Bogor (IPB-Bogor). Bogor. 74 hlm.</p>
<p>Madjid, N., et.al. 1996. Al-Quran dan Tantangan Modernitas. SI Press. Yogyakarta.115 hlm.</p>
<p>Pekalongan, 17 Agustus 2011</p>
<p>Ahkamy</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sosbud/opini/manusia-yang-tertipu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Melatih Keberanian</title>
		<link>http://tanbihun.com/sosbud/belajar-melatih-keberanian/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sosbud/belajar-melatih-keberanian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2011 16:05:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Faried</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sosbud]]></category>
		<category><![CDATA[Melatih Keberanian]]></category>
		<category><![CDATA[membina keberanian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=27321</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun - Keberanian merupakan sifat kepahlawanan dalam diri manusia, tak ubahnya diantara sifat-sifat manusiawi lainnya, sering sifat keberanian mengalami pasang surut  dalam konteks ketika ia harus dihadapkan kepada suatu keadaan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/takut1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-27448" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/takut1.jpg" alt="" width="300" height="280" /></a>Tanbihun -</strong> Keberanian merupakan sifat kepahlawanan dalam diri manusia, tak ubahnya diantara sifat-sifat manusiawi lainnya, sering sifat keberanian mengalami pasang surut  dalam konteks ketika ia harus dihadapkan kepada suatu keadaan tertentu.</p>
<p style="text-align: justify">Sudah barang tentu, banyak hal yang menyebabkan nyali menjadi ciut ketika dihadapkan pada sesuatu hal yang baru. Bisa dilihat dari contoh sederhana ini,</p>
<p style="text-align: justify">Suatu malam Zaid pergi kerumah saudaranya, untuk sampai pada tempat tujuan Zaid pun harus melewati jalan yang teramat gelap dan sepi. Sesudah sampai dirimah saudaranya ia ditanya,</p>
<p style="text-align: justify">“Zaid tadi kamu lewat mana..?”</p>
<p style="text-align: justify">“Tadi saya lewat jalan itu..” jawabnya sambil menunjukkan jalan setapak</p>
<p style="text-align: justify">Saudaranya pun heran, “loh hebat kamu ya, berani lewat jalan yang itu..”</p>
<p style="text-align: justify">“loh emangnya kenapa..” Tanya Zaid sambil mengerutkan dahi</p>
<p style="text-align: justify">“kamu gak tahu ya, kalau jalan yang kamu lewati itu terkenal angker…” saudaranya menjelaskan.</p>
<p style="text-align: justify">Zaid yang terkenal penakut pun mulai merinding ngeri, hingga ahirnya dia memutuskan menginap dirumah saudaranya karena tidak berani pulang melewati jalan itu lagi.</p>
<p style="text-align: justify">Dari contoh diatas bisa diketahui, ternyata yang menjadikan pokok robohnya mental dari keberanian lahir dari pemikiran atau pun penilain kita sendiri, bukanlah dari media-media yang lain.</p>
<p style="text-align: justify">Begitu juga dalam dunia harokah, seperti yang sudah disinggung dalam artikel <a href="../kajian/analisis/berjuang-ibadah-jangan-menunggu-fasilitas/" rel="bookmark">Berjuang (Ibadah) Jangan Menunggu Fasilitas</a> hingga melawan arus terkadang menjadi suatu kewajiban kalau memang hanya itu satu-satunya jalan. Dan untuk mewujudkan semua itu akan sangat mustahil kalau tidak memiliki sifat keberanian.</p>
<h4 style="text-align: justify">Seperti halnya yang dilakukan Syaikhina Ahmad Rifa’i</h4>
<p style="text-align: justify">Dalam  doktrin  protesnya  terhadap  pemerintah  kolonial,  K.H.  Ahmad  Rifai mendasarkan  ajarannya  pada  argumentasi  bahwa  pemerintah  kolonial  Belanda  adalah kafir.  Di  samping  itu  dianjurkan  kepada  segenap  pengikut  K.H.  Ahmad  Rifai  agar berjuang  untuk  menyelamatkan  Jawa  khususnya  dan  Indonesia  umumnya.</p>
<p style="text-align: justify">Pernyataan ini dapat dilihat dalam kitab Nazam Wikayah 8:</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Slamete dunya akherat wajib kiniro</strong></p>
<p style="text-align: justify"><strong>nglawan raja kafir sekuasane kafikiro</strong></p>
<p style="text-align: justify"><strong>tur perang sabil lewih kadene ukaro</strong></p>
<p style="text-align: justify"><strong>kacukupan tan kanti akeh bala kuncaro</strong></p>
<p style="text-align: justify"><em>(Keselamatan dunia-akherat wajib diperhitungkan</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>melawan raja kafir sekemampuannya perlu dipikirkan</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>demikian juga perang sabil lebih dari pada ucapan</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>cukup tidak menggunakan pasukan yang besar)</em></p>
<p style="text-align: justify">Hal ini sesuai dengan wasiat-wasiat Rasulullah Saw adalah: “Jangan takut berada di jalan Allah terhadap celaan orang yang suka mencela.” Aku berkata, “Tambah lagi ya Rasulullah.” Beliau melanjutkan pesannya: “Katakanlah apa yang hak meskipun akibatnya terasa pahit.”<strong> ( HR. Ibnu Hibban)</strong></p>
<p style="text-align: justify">Hingga tidak berlebihan bila ada yang mengatakan, “dari generasi-kegenerasi murid Syaikh Ahmad Rifa’I mengalami kemunduran dalam perjuangan, kalau menilik pada kobaran semangat guru besarnya dulu..”.</p>
<p style="text-align: justify">Kembali lagi kita harus berani mengakui “kalau kutipan kalimat diatas adalah benar adanya..”  karena ucapan seperti ini akan sulit didapat  ketika kita masih berkutat pada kesombongan diri dan selalu merasa lebih tinggi. Bukankah sifat seperti ini bukanlah sifat dari  seorang yang pemberani? Karena saorang pemberani berani mengakui dengan kekurangan diri dan melakukan pembenahan, bukanlah mereka sibuk mencari aneka macam dalih pembelaan.</p>
<p style="text-align: justify">Begitu juga dengan keberanian menuangkan gagasan juga pemikiran menyebarkan syiar entah itu lewat media tulisan ataupun yang lainnya. Hal itu tidak akan pernah terwujud kecuali dengan adanya keberanian untuk berani memulai, karena biasanya yang terjadi rasa kurang percaya diri dan takut di kritik menjadi momok yang paling menakutkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sosbud/belajar-melatih-keberanian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Bulan Ramadhan Ada Asmara Subuh,Tadarus Al-Qur&#8217;an,Anda Mau Pilih Mana?</title>
		<link>http://tanbihun.com/sosbud/opini/di-bulan-ramadhan-ada-asmara-subuhtadarus-al-qurananda-mau-pilih-mana/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sosbud/opini/di-bulan-ramadhan-ada-asmara-subuhtadarus-al-qurananda-mau-pilih-mana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 13:51:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sesaat Di Bulan Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=7756</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Sebagian besar dari kita masih terpengaruh dengan istilah moment, dalam melakukan hal-hal tertentu kita akan menunggu saat tertentu, sehingga munculnya waktu atau bulan tertentu akan dijadikan ajang untuk...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/tadarus-quran.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-7813" title="tadarus quran" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/tadarus-quran.jpg" alt="tadarus quran" width="300" height="200" /></a>Tanbihun</strong> &#8211; Sebagian besar dari kita masih terpengaruh dengan istilah moment, dalam melakukan hal-hal tertentu kita akan menunggu saat tertentu, sehingga munculnya waktu atau bulan tertentu akan dijadikan ajang untuk meluapkan keinginan, maka terciptalah sebuah adat kebiasaan, yang kadang sulit untuk diurai, kapan kebiasaan tersebut pertama kali muncul?</p>
<h4 style="text-align: justify;">Momentum Ramadhan</h4>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dengan bulan ramadhan? Di bulan yang mulia. dimana amal kebaikan dilipat gandakan pahalanya juga tak sepi dari istilah moment. Banyak orang menjadikan bulan yang penuh berkah ini untuk melakukan hal-hal tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan cuma didalam bulan ramadhan, bahkan sehari sebelum masuk ke bulan ramadhan, ada kebiasaan ditengah masyarakat kita, khususnya di jawa yang terkenal dengan isilah &#8220;megeng&#8221;. Banyak cara untuk mengekspresikan &#8220;tradisi megeng&#8221; ini, ada yang merendam diri di danau atau laut, ada yang pergi ke pasar atau mall untuk refreshing sekalian berbelanja untuk keperluan persiapan sahur pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti pemanfatan momentum-momentum lain yang pastinya menyisakan dua sisi yang berlawanan, sisi positif dan negarif, sisi positifnya sepatutnya kita dorong agar lebih hidup, sisi buruknya harus diluruskan dengan cara-cara yang bijak.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Sisi Buruk</h4>
<p style="text-align: justify;">Banyak juga yang memanfaatkan moment ramadhan untuk melampiaskan hasrat, seperti yang baru-baru ini terjadi di medan, yang terkenal dengan istilah <span style="text-decoration: underline;"><em>&#8220;asmara subuh&#8221;,</em></span> dimana banyak muda-mudi sebahis waktu subuh jalan-jalan dan bergerombol ditempat-tempat yang sudah disepakati, disinyalir moment ini dimanfaatkan oleh para remaja yang sedang dimabuk asmara untuk meluapkan hasrat mereka. Wajar saja jika fenomena ini ditangkap oleh MUI Medan sebagai tindakan buruk yang harus diluruskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Fenomena jalan pagi sehabis subuh ini ternyata bukan cuma terjadi di Medan, mungkin disekeliling lingkungan kita juga ada gejala pemanfaatan moment ramadhan untuk mengisi waktu pagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada juga maling, copet yang menunggu bulan ramadhan untuk mengeruk keuntungan besar, dengan pakaian yang tak kalah sama jama&#8217;ah sholat tarawih, mereka menyusup dan beraksi ditengah-tengah jama&#8217;ah yang sedang khusuk ibadah, motor yang diparkir dihalaman masjid menjadi hal utama yang akan mereka sikat, bukan cuma itu, sampai sandal pun diembatnya juga.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Sisi Positif</h4>
<p style="text-align: justify;">moment ramadhan dijadikan ajang untuk mengaji dan mengkaji kitab-kitab salaf, tadarus Al-Qur&#8217;an, dialog agama Islam, semarak religius pun nampak menghiasi layar Tv, artis-artis yang biasanya &#8220;gundulan&#8221; sontak, saat ramadhan tiba mereka bak santriwan-santriwati berbusana yang menyejukkan hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Keinginan mereguk pengetahuan agama Islam pun kian membara, sebagai blogger saya melihat lonjakan ini berdasarkan artikel yang diakses oleh para pengunjung yang 99% berasal dari mesin pencari seperti google,yahoo dan bing. Ada peningkatan pengakses artikel pengetahuan agama Islam sebanyak 100%.</p>
<p style="text-align: justify;">Pantas saja kalau jam terbang ustadz-kyai naik tajam selama bulan ramadhan, sebab banyak dari kita yang menjadikan ramadhan untuk menambah wawasan kita tentang agama Islam.</p>
<h5 style="text-align: justify;">Penutup</h5>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana makna dari moment itu sendiri yang banyak padanan katanya, berdasarkan <span style="text-decoration: underline;"><em>google translite</em></span>, makna moment mempunyai padanan kata : <span style="text-decoration: underline;"><em>nomina, saat, momen, sesaat, sebentar, ketika, jurus, jenak, jamang, baru ini saja, kepentingan</em></span>. Melihat arti-arti tersebut, pemanfaatan bulan ramadhan menjadi moment untuk melakukan hal-hal tertentu sifatnya hanya sesaat, habis ramadhan, maka akan berakhir juga kegiatan yang sifatnya menebeng momentum.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepatutnya, perilaku positif yang kita lakukan saat bulan ramdhan akan dapat kita teruskan dibulan-bulan selanjutnya, dan tindak-tanduk yang negatif semoga akan semakin redup di bulan yang suci ini, untuk kemudian benar-benar padam dari hati, pikiran dan prilaku kita. amin.(zid)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sosbud/opini/di-bulan-ramadhan-ada-asmara-subuhtadarus-al-qurananda-mau-pilih-mana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penetapan Awal Ramadhan 1432 H,Ajang Ibadah Atau Kontroversial?</title>
		<link>http://tanbihun.com/sosbud/opini/penetapan-awal-ramadhan-1432-hajang-ibadah-atau-kontroversial/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sosbud/opini/penetapan-awal-ramadhan-1432-hajang-ibadah-atau-kontroversial/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jul 2011 14:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[tujuh penetapan awal ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6792</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; “Barang siapa merasa senang dengan datangnya ramadhan, maka diharamkan jasadnya masuk neraka” (belum jelas ini hadis). Bulan yang menuai berkah, pahala, dan kemuliaan di sisi Allah swt. Banyak...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/07/menentukan-awal-ramadhan.jpg"><img class="size-full wp-image-6793 alignleft" title="menentukan awal ramadhan" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/07/menentukan-awal-ramadhan.jpg" alt="menentukan awal ramadhan" width="300" height="200" /></a>Tanbihun</strong> &#8211; “Barang siapa merasa senang dengan datangnya ramadhan, maka diharamkan jasadnya masuk neraka” (belum jelas ini hadis). Bulan yang menuai berkah, pahala, dan kemuliaan di sisi Allah swt. Banyak cara dan ideal untuk mengetahuinya. Bahkan dalam komentar Dr. Ali Mustafa Ya’kub menyebutkan ada tujuh penetapan awal ramadhan tahun ini (lihat di situs MUI). Mulai dari rukyatul hilal, ikmal syakban, imkanurrukyah, wujudul hilal, dugaan adanya hilal, ilham Sang Guru Tarekat, dan kemauan bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Tampaknya, bulan dan tahun ini, mereka buat sebagai ajang kontroversial dan egoisme partai atau gerakan tertentu. Quran dan hadis tidak lagi menjadi pedoman. Cukup pandangan dan <em>rokyu</em> saja.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Hal ini bisa disebabkan beberapa hal di antaranya:</h4>
<p style="text-align: justify;"><strong>a)</strong>     Ketidakpuasan oknum dengan ketetapan pemerintah. Maka perlu solusi cepat. Misalnya diskusi bersama dengan pemaparan urgensi kesatuan <em>madzhab</em> dalam hal ini. Kemudian mencetuskan undang-undang khusus mengenai masalah <em>istbatu ramadhan </em>dan bulan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>b) </strong>   Fanatik buta satu komunitas terhadap ketua mereka. Mungkin solusinya adalah membenahi “Sang Kepala” dalam berijtihad penetapan awal ramadhan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>c)</strong>     Perbedaan <em>manhaj</em> (metode) penetapan bulan dari setiap pengajar ilmu falak. Maka di antara solusi yang harus diterapkan adalah mencari titik temu dengan menggunakan dalil lain, misalnya teropong, atau semacamnya. Artinya bukan ilmu falak murni, namun ditopang dengan sains tekhnologi yang ada.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Pertanyaan yang timbul:</h4>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Akankah perbedaan awal ramadhan seperti ini termasuk kategori <em>ikhtilaf </em>yang membawa rahmat?</li>
<li>Kapan perbedaan seperti ini bisa diselesaikan? Apakah cukup mulai dari diri kita atau semuanya tergantung pemerintah?</li>
<li>Apakah ketujuh dasar di atas mempunyai tendensi kuat dalam syariat?</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Dan jawaban yang paling mudah adalah: Entahlah ! yang jelas kami mengikuti yang berilmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align: justify;">Hamba Allah</p>
<p style="text-align: justify;">Fuqohak@gmail.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sosbud/opini/penetapan-awal-ramadhan-1432-hajang-ibadah-atau-kontroversial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

