<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tanbihun Online &#187; Filsafat</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/category/tasawwuf/filsafat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 15:30:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Jika Kita Mati Besok,Bekal Apa Yang Kita Bawa?</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/jika-kita-mati-besokbekal-apa-yang-kita-bawa/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/jika-kita-mati-besokbekal-apa-yang-kita-bawa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jun 2011 09:20:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Em. Yazid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[amal ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[amal shodaqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Bekal akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah kematian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6576</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Hari tua bagi sebagian orang merupakan hari yang menakutkan, dimana raga tak segagah waktu muda, otot tidak sekuat dulu lagi, pendapatan pun akan merosot tajam seiring usia yang...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong></strong><strong>Tanbihun</strong> &#8211; Hari tua bagi sebagian orang merupakan hari yang menakutkan, dimana raga tak segagah waktu muda, otot tidak sekuat dulu lagi, pendapatan pun akan merosot tajam seiring usia yang sudah uzur. Senyum yang dulu memikat lawan jenis, kini tak ada lagi yang tertarik, tubuh yang dulu padat berisi bak biola, sekarang kendur, kulit yang dulu dirawat hampir tiap hari di salon, kini penuh keriput, mata yang berbinar berganti dengan mata yang agak rabun</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu lemahnya masa tua, sehingga banyak dari kita yang mempersiapkan hari tua dengan menabung, tak jarang orang lebih memilih menjadi PNS karena dianggap menjanjikan dimasa tua, ada uang pensiun yang bisa diandalkan. Bagi yang bukan pegawai negeri pun tak mau kalah, mereka mendaftar asuransi jaminan hari tua, yang tidak suka dengan sitem asuransi juga tak mau ketinggalan, mereka mengumpulkan sepeser demi sepeser dalam pundi-pundinya untuk bekal dihari tua.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian semangatnya kita mempersiapkan bekal untuk hari tua kita, apakah kita juga sudah mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak? padahal hari tua belum tentu datang kepada kita, setiap saat kita bisa saja dipanggil Yang Maha Kuasa. kematian senantiasa mengintai manusia, tak kenal usia, tak kenal waktu dan tempat, bila datang ajal tak lagi bisa diundur meski sedetik pun.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Lalu, bekal apa yang sudah kita persiapkan?</h4>
<p style="text-align: justify;">Iman yang sah, iman yang terbebas dari perkara-perkara yang membatalkan, seperti ragu atau benci terhadap syari&#8217;at Allah merupakan modal utama. Kemudian amal ibadah (amal sholih) akan menjadi bekal untuk kehidupan kita kelak setelah kematian. Marilah kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang tidak kenal mati. kehidupan yang abadi.(zid)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/jika-kita-mati-besokbekal-apa-yang-kita-bawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkembangan Filsafat Pasca Al-Ghazali</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/perkembangan-filsafat-pasca-al-ghazali/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/perkembangan-filsafat-pasca-al-ghazali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 21:33:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat dan ilmu pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6241</guid>
		<description><![CDATA[A. Pendahuluan Filsafat adalah Illmu pengetahuan yang mempersoalkan hakikat dari segala ‎yang ada. Kata filsafat atau falsafat dalam bahasa Arab berasal dari bahasa ‎Yunani philosophia yang secara harfiah berarti cinta...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h5>A. Pendahuluan</h5>
<p style="text-align: justify;">Filsafat adalah Illmu pengetahuan yang mempersoalkan hakikat dari segala ‎yang ada. Kata <a href="http://tanbihun.com/pendidikan/definisi-atau-pengertian-filsafat-dan-ilmu-pengetahuan-serta-perbedaannya/" target="_blank"><span style="color: #3366ff;">filsafat</span></a> atau falsafat dalam bahasa Arab berasal dari bahasa ‎Yunani philosophia yang secara harfiah berarti cinta kepada pengetahuan atau ‎cinta kepada kebijaksanaan. Orang yang cinta kepada pengetahuan atau ‎kebijaksanaan disebut philosophos atau dalam bahasa Arab failosuf (filsuf). ‎Pencinta pengetahuan atau kebijaksanaan adalah orang yang menjadikan ‎pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya, atau orang mengabdikan ‎hidupnya kepada pengetahuan. Istilah philosophia dan philosophos pertama kali ‎digunakan oleh phythagoras (582-507 SM), tetapi istilah ini menjadi populer dan ‎lazim dipakai pada masa Sokrates (469-399 SM) dan Plato (427-347 SM).‎ ‎  ‎Sedangkan Filsafat menurut  Prof.Dr. HM. Amin Abdullah adalah methodology ‎berfikir, yaitu berfikir kritis-analisis dan sistematis. Filsafat lebih mencerminkan ‎proses berpikir dan bukan sekedar produk pemikiran.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Pemikiran filosofis masuk ke dalam Islam melalui falsafat Yunani yang ‎dijumpai ahli-ahli fikir Islam di Suria, Mesopotamia, Persia dan Mesir. ‎Kebudayaan dan falsafat Yunani datang ke daerah-daerah itu dengan ekspansi ‎Alexander Yang Agung ke Timur di abad ke-empat sebelum Kristus. Politik ‎Alexander untuk menyatukan kebudayaan Yunani dan Persia meninggalkan bekas ‎besar di daerah-daerah yang pernah dikuasainya dan kemudian timbullah pusat-‎pusat kebudayaan Yunani di Timur, seperti Alexandria di Mesir, Antioch di Suria, ‎Jundisyapur di Mesopotamia dan Bacra di Persia.‎<br />
Al-Qur’an secara tegas telah memberi kemungkinan bagi pemikiran filosfis ‎‎. Di dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang menyuruh manusia untuk ‎menggunakan daya nalarnya dengan menjadikan alam semesta sebagai obyek ‎pikirannya. Ayat-ayat Al-Qur’an itu, disamping mendorong timbulnya ilmu ‎pengetahuan yang amat berguna buat kemakmuran hidup manusia juga ‎merangsang munculnya pemikiran filosofis dalam Islam. ‎</p>
<h5 style="text-align: justify;">B. Al-Ghazali Sebagai Filsuf</h5>
<p style="text-align: justify;">Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali terkenal dengan nama Al-Ghazali ‎adalah merupakan ulama’  yang hebat pada zaman itu dan termasuk salah satu ‎imam madzhab .Syafi’i. Beliau dilahirkan di Thus salah satu kota di Khurosan ‎pada tahun 450 H/1058 M, dan belajar berbagai ilmu di tempat kelahirannya, ‎kemudian  mencari ilmu ke Neisabur,  dan sejak kecil pada diri beliau sudah ‎terlihat tanda-tanda kecerdasan dan  kehebatan yang luar biasa. Dia menguasai ‎ilmu kalam (theologi) dan menekuni ilmu filsafat, inilah yang menjadi sebab al-‎Ghazali dipercaya Perdana Mentri Nidzom al Mulk  untuk mengurus sepenuhnya ‎Madrasah Nidzomiyah yang dibangun di Baghdad. Ketika beliau berumur 33 ‎tahun sudah menduduki tempat yang terhormat diantara ulama, masa itu. Dalam ‎dunia filsafat beliau dijuluki Khujjatul Islam dan Zainuddin.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Ghazali menjadi guru besar di Madrasah Nidzomiyah  selama empat ‎tahun dan di waktu itulah ia mengarang buku Maqasid Al Falasifah (pemikiran ‎Kaum Filosof) yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin dengan judul Logic et ‎Philosophia Al gazelis Arabis di tahun 1145 M, oleh Dominicus Gundissalinus. ‎Bukunya yang termashur tentang falsafat Tahafut Al-Falasifah (Kekacauan ‎Pemikiran Filosof-filosof) juga dikarang di periode ini. ‎<br />
Dalam mempelajari filsafat, al-Ghazali menemukan argument-argumen ‎filosofis yang dipandangnya menyalahi ajaran Islam. Karena itu, ia menyerang ‎kaum filsuf yang diungkapkannya dalam bukunya Maqasid al-Falasifah, .</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ‎untuk memperjelas kritiknya terhadap filsuf itu, ia menulis buku Tahafut al-‎Falasifah. Dalam buku itu al-Ghazali mengkritik 10 pendapat filsuf yang ‎mengatakan bahwa :‎</p>
<ol>
<li>‎Tuhan tidak mempunyai sifat.‎</li>
<li>‎Tuhan mempunyai subtansi sederhana (basit) dan tidak mempunyai ‎hakikat (mahiyah)‎</li>
<li>‎Tuhan tidak mempunyai perincian (juz’iyah)‎</li>
<li>‎Tuhan tidak dapat diberi sifat jenis (aljins/genus) dan al-fasl (spesies)‎</li>
<li>‎Planet-planet adalah bintang yang bergerak dengan kemauan</li>
<li>‎Jiwa planet-planet mengetahui semua juz’iyah (rincian).‎</li>
<li>‎Hukum alam tidak berubah.‎</li>
<li>‎Pembangkitan jasmani tidak ada.‎</li>
<li>‎Alam ini tidak bermula.‎</li>
<li>‎Alam ini kekal.‎</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Bahkan al-Ghazali berpendapat bahwa tiga diantara 10 pendapat filsuf di atas, ‎yaitu alam kekal (tidak bermula), tuhan tidak mengetahui rincian-rincian dan ‎pembangkitan jasmani tidak ada, dapat membawa kepada kekufuran.</p>
<h5 style="text-align: justify;">C. Pengaruh Filsafat Al-Ghazali</h5>
<p style="text-align: justify;">Akibat serangan Al-Ghazali terhadap pemikiran filsafat sebelumnya, meski ‎tidak sepenuhnya tepat dan benar, respon masyarakat muslim terhadap filsafat ‎menjadi berkurang, sehingga menyebabkan kelesuan berfikir dan berijtihad di ‎kalangan umat Islam. Sejak pertengahan abad ke 12 M, hampir semua khazanah ‎intelektual Islam justru selalu menyerang dan memojokkan filsafat, baik sebagai ‎sebuah pendekatan, metodologi maupun disiplin keilmuan.‎<br />
Meski demikian, kajian dan pemikiran filasafat, sesungguhnya tidak benar-‎benar hilang oleh serangan al-Ghazali, filsafat Islam tetap berkembang. Apa yang ‎dianggap sebagai kematian filsafat oleh sebagian orang hanya terjadi di kalangan ‎sunni, khususnya Asy’ariyah. Pada bagian lain di dunia Islam, filsafat justru ‎menemukan arah baru dan semakin membumbung tinggi. ‎</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenai serangan al-Ghazali terhadap filsafat, ada beberapa hal yang ‎patut dicermati, yaitu: ‎</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">‎Bahwa ia sesungguhnya hanya menyerang persoalan metafisik, khususnya ‎metafisika al-Farabi dan Ibnu Sina yang neo platonisme, tidak menyerang ‎pemikiran filsafat secara keseluruhan. Sebab, di bagian lain al Ghozali tetap ‎mengakui pentingnya logika atau epistemologi dalam pemahaman dan ‎penjabaran ajaran-ajaran agama. Bahkan dalam al-Mustashfa fi ulum al-fiqh, ‎sebuah kitab tentang kajian hukum, al-Ghazali menggunakan epistemologi ‎filsafat, yakni burhani untuk melendingkan doktrin dan gagasannya.‎</li>
<li style="text-align: justify;">‎Bahwa tuduhan al-Ghazali terhadap doktrin al-Farabi dan Ibn Sina adalah ‎tidak tepat. Dalam tulisannya, al-Ghazali menilai bahwa ajaran al-Farabi dan ‎Ibn Sina, juga para filosof lain yang senada, telah jatuh dalam kekufuran, ‎karena mengajarkan tentang keqadiman alam, kebangkitan ruhani dan ‎ketidaktahuan Tuhan terhadap hal-hal yang partikular (juziyat). Padahal, kedua ‎tokoh filosof muslim ini sebenarnya tidak menyatakan persis seperti yang ‎dituduhkan. Tentang keqadiman alam misalnya, apa yang dimaksudkan ‎dengan qadim adalah karena alam tidak muncul dalam waktu tertentu. Apa ‎yang disebut sebagai “waktu” atau “zaman” muncul bersamaan dengan alam. ‎Tidak ada istilah waktu atau zaman sebelum munculnya alam. Kebersamaan ‎alam dengan waktu, atau tidak didahuluinya alam oleh waktu tertentu inilah ‎yang dimaksud qadim oleh para filosof, dan keqadiman alam ini tetap tidak ‎sama dengan keqadiman Tuhan, karena Tuhan qadim bi dzatihi, qadim dengan ‎diriNya sendiri tanpa berhubungan dengan ruang dan waktu atau yang lain. ‎Dengan kata lain, keqadiman alam hanya berhubungan dengan waktu tetapi ia ‎hadits (temporal) dibanding keqadiman Tuhan. Di sini telah terjadi salah ‎faham atau perbedaan pengertian tentang istilah-istilah yang digunakan antara ‎al-Ghazali dengan para filosof (sebelumnya).‎</li>
<li style="text-align: justify;">Tentang penilaian al-Ghazali pada al-Farabi dan Ibn Sina dalam kaitannya ‎dengan Aristoteles. Dalam al-Munqid, al-Ghazali membagi filsafat Yunani ‎dalam tiga bagian; materialisme (dahriyun), natrualisme (thabiiyyun) dan ‎theisme (ilahiyyun). Kelompok materialisme adalah mereka yang mengingkari ‎Sang Pencipta (Tuhan) seraya menyatakan bahwa semesta wujud dengan ‎sendirinya. Golongan ini dianggap sebagai tidak beragama. Ini mungkin ‎ditunjukkan pada para filosof Yunani purba. Golongan naturalisme adalah ‎mereka yang meyakini kekuatan material dan bahwa apa yang telah mati tidak ‎akan kembali, sehingga tidak ada hari kebangkitan dan pembalasan. Ini ‎ditujukan pada tokoh seperti Demokritos dan para filosof  Ionia yang hanya ‎meyakini eksistensi material. Kelompok theisme adalah para filosof yang lebih ‎modern yang meyakini Sang Pencipta, seperti Socrates, Plato, Aristoteles dan ‎menurut al-Ghazali al-Farabi serta Ibn Sina sebagai pengikutnya.‎ ‎ ‎</li>
<li>
<p style="text-align: justify;">Dalam kitab “ Tarikh Falasifah Al Islam fil Masyriq wal Maghrib“ Muhammad ‎Luthfi mengemukakan: “Sesungguhnya sebagian ahli filsafat, seperti Ibnu ‎Rusyd tidaklah yakin kalau al-Ghazali serius dalam kritikannya, sesungguhnya ‎perbedaan antara dia  dan para filsafat hanyalah pada batas-batas tertentu, ‎sesungguhnya dia mencela mereka dalam ha-hal tertentu hanya untuk ‎memperkuat ahli sunnah. Musa bin Narbur menyebutkan: Sesungguhnya ‎setelah menulis kitab At Tahafut, al-Ghazali kemudian menulis risalah kecil ‎yang hanya diketahui oleh orang-orang dekat saja, yang berisi penolakan ‎kepada apa  yang dikemukakan mengenai kritikan kepada dasar-dasar filsafat. ‎</p>
<p style="text-align: justify;">Kitab tersebut adalah:‎   ‎<strong>رسالة وضعها أبو حامد بعد التّهافت ليكشف عن فكره للحكماء وفيها ‏مقاصد المقاصد واللبيب تكفية الإشارة.‏‎ </strong>“. ‎ Kitab ini berisi pembahasan yang sangat penting tetapi bahasanya sulit di ‎pahami oleh masyarakat umum, dimulai dengan membahas planet/tata surya ‎dan pergerakannya serta jiwanya, membahas penggerak pertama dan sifat-‎sifatnya kemudian membahas tentang jiwa, dan di situ tidak ada bahasan yang ‎menghina filsafat seperti pada kitab At-Tahafut. Dia mengemukakan dalil-dalil ‎selayaknya seorang khukama’ bukan seorang ahli kalam, dan menetapkan dalil-‎dalil aqli tentang ketuhanan. Di akhir risalah ini al-Ghazali mengharamkan ‎untuk menerbitkannya (risalah ini) kecuali untuk ahli/orang yang jiwanya ‎memadai dan akalnya salimah, sesuai dengan hadits Nabi: ‎‏&#8221;<strong>خاطبوا النّاس على ‏قدر عقولهم</strong>&#8220;.‏‎ .‎</p>
</li>
</ol>
<h5 style="text-align: justify;">D. Filsafat Pasca Al-Ghazali</h5>
<h6>‎1. Ibnu Thufayl ( 1105 &#8211; 1185 M )</h6>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Thufayl  adalah seorang filosof , disamping dia seorang dokter juga ‎ahli di bidang geografi, juga seorang penyair dari Andalusia. Tulisan-‎tulisannya yang sampai ke tangan kita hanya dalam bidang filsafat. ‎Diantaranya kisah “Hayy bin Yaqzhan” yang sangat berpengaruh terhadap ‎dunia pemikiran dan ilmu pengetahuan.. Kisah itu menggambarkan ‎perkembangan akal manusia yang hidup sendirian di sebuah pulau. Melalui ‎berbagai kekuatan fitrahnya yang benar, dia dapat mencapai tingkat ‎filosofis dan melihat Tuhan.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Kisah ini telah ditejemahkan ke berbagai bahasa di Eropa. Orang-orang ‎non muslim pun banyak yang mencurahkan perhatiannya untuk mengkaji ‎kisah itu, suatu perhatian yang belum pernah diberikan kepada buku ‎filsafat bangsa Arab yang lain.‎</p>
<p style="text-align: justify;">‎“Hayyi bin Yaqzhan”, merupakan kisah yang pertama dalam filsafat dan ‎sastra Arab. Ketika membuat risalah mengenai simbol-simbola kesufian, ‎Ibnu Sina juga menulis judul yang sama bahkan meminjam istilah Ibnu ‎Thufayl untuk kisah pengembaraan imajinasinya tentang tingkatan makrifat ‎dan cara pencapaiannya. Khayalan Ibnu Thufayl mengembara ketika ‎mengisahkan “Hayy” yang dilahirkan yatim piatu disebuah pulau yang ‎tidak dihuni manusia. Hayy diasuh dan disusui serta dirawat oleh seekor ‎kambing. Ketika kambing betina itu mati, Hayy mulai mempertanyakan ‎kematian itu. Dibenaknya tersimpan berbagai persoalan mengenai ada dan ‎tiada, ruh dan jasad. Ketika berusia lima puluh tahun, melalui akalnya, ‎Hayy sampai kepada suatu pemahaman yang lengkap mengenai Allah swt. ‎dan alam Semesta.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Dari kisah tersebut dapat ditangkap bahwa makrifat itu ada tiga macam : ‎makrifat akliyah, makrifat batiniyah, dan makrifat lahiriah. Begitu pula ‎tingkatan manusia : ada filosof, ada sufi, dan ada pula orang awam. Batas-‎batas syariat dan hal-hal yang sifatnya lahiriah dari syariat tersebut ‎hanyalah merupakan jalan yang tidak boleh tidak harus dilalui oleh orang ‎awam, kelompok mayoritas manusia di dunia ini, yang belum mampu ‎mencapai ke tingkat filosof atau sufi.‎</p>
<h6 style="text-align: justify;">‎2.‎  Ibnu Rusyd ( 1126 &#8211; 1198 M ) ‎</h6>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Rusyd adalah seorang filosof dia juga ahli fiqh dari Andalusia, ‎disamping dia juga seoang dokter. Disamping dia menulis dalam bidang ‎kedokteran juga dia menulis dalam bidang fiqh. Namun kesuksesannya ‎yang paling penting adalah di bidang filsafat. Dalam bidang ini paling ‎tidak ada dua macam kesuksesannya yang diraihnya yaitu : Syarah ‎‎(penjelasan) ibnu Rusyd terhadap karya Aristoteles dan bakat aslinya.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Dia adalah pemberi syarah terbesar bagi filsafat Aristoteles. Dia brhasil ‎membedakan antara filsafat inti dan pemikiran Neo Platonisme, pada saat ‎para filosof Arab sebelumnya mencampuradukkan antara keduanya, serta ‎menisbatkan pendapat orang lain kepada Aristoteles. Ada tingkatan syarah ‎yang diberikan oleh ibnu Rusyd, yang sengaja dia tujukan untuk tiga ‎kelompok pembacanya : para pemula, kaelompok sedang,dan kelompok ‎lanjut dalam mengkaji filsafat.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun ibnu Rusyd bukan orang muslim pertama yang memberikan ‎syarah untuk buku Aristoteles, dialah pensyarah terbaik dan paling ‎berpengaruh pada peradaban Eropa yang begitu cepat meninggalkan para ‎pensyarah terdahulu dari bangsany sendiri. Mereka juga mulai mengkaji ‎buku-buku terjemahan ibnu Rusyd ke dalam bahasa Ibrani, dan bahasa ‎Latin, sebelum mengkajinya dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani. ‎Bahkan ada diantara buku-buku Aristoteles yang asli hilang, dn belum ‎sampai ke tangan para pemikir EAropa kecuali syarah yang diberikan oleh ‎ibnu Rusyd atau para filosof Arab yang lain, atau melalui buku ‎terjemahannya.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Dapat dikatakan bahwa syarah yang diberikan oleh ibnu Rusyd atas ‎filsafat Aristoteles sngat sarat dengan pemikiran. Hal itu boleh jadi karena ‎dalam bidang filsafat dia memiliki modal yang cukup, khususnya yang ‎berkaitan dengan peroblema keterkaitan antara filsafat dan agama. ‎Pendapat-pendapat di seputar masalah ini ituangkan dalam dua bukunya : ‎Tahafut al-Tahafut, sebagai jawaban atas buku al-Ghazali, dan Fashl al-‎Maqal fi ma bayn al-syari’ah wa al-Hikmah min al-Ittishal, dua buku yang ‎sangat penting.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam buku Fashl al- Maqal, dia berusaha membuktikan keberadaan Allah ‎melalui hukum kausalita, karena tidak ada sesuatu yang ada tanpa ‎musabab. Semua sebab beraturan hingga sebab pertama, yakni pembuat ‎alam semesta. Atau sebab penciptaan yang selalu bergerak dan terus ‎berganti secara tak diduga sebagai hasil perubahan yang terjadi dari waktu ‎ke waktu. Dari pernyataan ibnu Rusyd yang paling berharga adalah : ‎Warisan pemikiran Yunani tidak ada yang bertentangan dengan Islam., ‎sebagaimana dikatakan ; “Sesungguhnya hakekat itu hanya satu. ‎Manusialah yang menggambarkan bentuknya bermacam-macam”.‎</p>
<h6 style="text-align: justify;">‎3.‎  Ibnu Al-Arabi ( 1164 &#8211; 1248 M )‎</h6>
<p style="text-align: justify;">Filosuf berikutnya adalah Ibnu al-Arabi (560-638 H/1164-1240 M)  yang ‎merupakan orang pertama yag mengembangkan ide tentang alam semesta ‎sebagai ’macro anthropos (al-Insan al-akbar) atau macro-persona (as-syakhs ‎al-akbar). Manusia dinamakan micro-anthropos (al-insan as-shoghir). ‎Doktrin ini adalah kebalikan dari ide tentang makrokosmos dan ‎mikrokosmos. Dalam dokrin pertama, alam semesta dipolakan pada ‎manusia, sedang dalam ide makrokosmos dan mikrokosmos, manusialah ‎yang digambarkan menurut pola alam semesta.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Doktrin tentang realita multi-tingkatan dengan dunia imaginasi di ‎tengahnya ini, merupakan perkembangan yang khas dalam Islam abad ‎pertengahan, dan diterima oleh mayoritas besar kaum sufi ortodoks. ‎Doktrin ini memberikan ethosnya yang khas kepada banyak mistisisme ‎Islam. Akhirnya, doktrin ini melakukan reaksi kembali terhadap filsafat ‎dan menemukan dasar rasional dan perumusan filosofisnya dalam abad 11  ‎H/17 M dalam karya Shadaruddin asy-Syirozi, arsitek sistem filsafat besar ‎yang terakhir dalam Islam. Mulla Sandra (demikian umumnya Muhammad ‎Shadaruddin di kenal), setelah menerima dari Suhrawardi doktrin monistik ‎tentang tingkatan-tingkatan Wujud dalam batasan-batasan lebih atau ‎kurang, lalu mengembangkan doktrinnya sendiri tentang kognisi dan sifat ‎ruh manusia. ‎</p>
<p>Setelah penolakan (kritikan) al-Ghazali terhadap filsafat, pada abad ke 7 ‎H/13 M sendiri muncul sejumlah penulis-penulis dan kritikus-kritikus filsafat yang ‎terkemuka, yang sementara mempertahankan filsafat pada umumnya, namun ‎menerima pandangan-pandangan ortodoksi dalam masalah dogma yang paling ‎kritis dan sensitif. ‎</p>
<p style="text-align: justify;">Kontroversi filsafat salah satunya dipicu adanya ketegangan segitiga antara ‎theologi, tradisionis/ortodoks/ahl al-hadits dan filsafat. Kadang-kadang ‎ketegangan tersebut meletus menjadi gelombang  serangan keras kelompok ‎tradisionis terhadap intelektualisme. Ahlu-al Hadits ini menemukan ungkapan ‎momentalnya dalam abad ke 8 H/14 M dalam karya Ibnu Taymiyah yang kaya, ‎terutama dalam karyanya yang penting “Keserasian antara Tradisi yang Benar ‎dengan Bukti-bukti Akal“, Taymiyah  mengkritik keras thesis-thesis baik para ‎filosof maupun theolog. Di Universitas agama yang termasyhur di Mesir, al-Azhar, ‎filsafat dikeluarkan dari sylabus selama berabad-abad  dan baru dimasukkan ‎kembali setelah tibanya fajar modernisme Islam menjelang akhir abad kesembilan ‎belas melalui usaha-usaha pembaharu revolusioner Jamaluddin al-Afghani dan ‎muridnya Muhammad Abduh.‎ ‎ ‎</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya, suatu kelompok, termasuk diantaranya tokoh filosof-theolog ‎terkemuka Qadhi Abu’l Tsana al-Urmawi (w. 684 H/1285 M) telah menegaskan ‎bahwa doktrin tentang Tuhan haruslah dipisahkan dari doktrin tentang wujud, ‎yang mestinya merupakan jelajah yang lebih layak bagi metafisika kalam. Akan ‎tetapi pendapat ini ditolak oleh para theolog yang merasa iri atas hak khusus ‎filsafat atas masalah-masalah tertentu dengan alasan bahwa hal itu akan ‎menyebabkan munculnya suatu sains super yang akan melebihi kalam.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Ketegangan ini terus berlanjut, sampai ahirnya para pembela filsafat ‎menghapuskan kesimpulan-kesimpulan tertentu dari kesimpulan-kesimpulan anti ‎dogmatis yang lebih ekstrim dari filosof-filosof klasik. Kegiatan neo filosofis ini ‎terutama sekali hidup subur sejak abad ke 7 H/13 M ketika hubungan baik antara ‎filsafat dan theologi telah dikukuhkan kembali di atas dasar yang pasti dan telah ‎memperoleh kembali keseimbangan tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Teori filsafat tentang wahyu kenabian yang melihat dalam diri Nabi ‎adanya suatu roh dan kecerdasan yang tinggi, yang mampu berhubungan dengan ‎kecerdasan Universal atau Malikat tertinggi, tidaklah sama sekali ditolak, ‎sebaliknya beberapa dari unsur-unsurnya yang baru, khususnya perfeksionisme ‎intelektual Nabi, dimasukkan ke dalam doktrin kalam. Tetapi sifat wahyu, yang ‎secara esensial dinyatakan intelektual, dan terutama ide bahwa agama hanyalah ‎bentuk simbolis dari kebenaran intelektual ini, ditolak.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Juga yang termasuk warisan paling penting yang ditinggalkan oleh ajaran ‎filosofis ini bagi Islam dan yang tanpa ragu-ragu diterima oleh ortodoksi adalah ‎pembagian wujud menjadi wujud yang mesti (wajibul wujud) dan wujud yang ‎tergantung (mumkinul wujud), yang memberikan manfaat besar bagi pembuktian-‎pembuktian kalam tentang eksistensi Tuhan; alam semesta yang tercipta sebagai ‎efek yang tergantung memerlukan eksistensi Tuhan, yaitu wujud yang mesti, ‎sebagai penyebabnya.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, terbukalah dua jalan di mana filsafat dapat beroperasi, ‎dan kedua-duanya (kalam dan ortodoks)  memang ditembus oleh filsafat. Jalan ‎pertama adalah melanjutkan spekulasi filosofis, walaupun dikecam keras oleh ‎ortodoksi, dan mencari bagi dirinya suatu medium yang heterodoks. Medium ini ‎ditemukan dalam pemikiran sufi yang bersifat filosofis, suatu kenyataan yang tak ‎syak lagi ditunjang oleh kecenderungan-kecenderungan mistik dalam pemikiran ‎filosof-filosof islam sendiri. Alternatif yang lain adalah menghentikan ide untuk ‎menghasilkan sistem tandingan bagi theologi sejauh menyangkut dogma agama, ‎dan lebih baik bekerja di dalam sistem ortodoks. Ekspansi kalam menjadi ‎kumpulan pemikiran yang sistematis yang meliputi epistemologi dan metafisik, ‎suatu ekspansi yang pertama kali muncul dalam karya filosof theology Fakhruddin ‎ar-Razi (w.606 H/1209 M). Akan tetapi di dalam sistem ini ternyata ditemukan ‎ruang yang sangat luas bagi penggunaan penalaran spekulatif, suatu kegiatan yang ‎mempunyai karir yang hidup dan kaya selama berabad-abad, tetapi baru sedikit ‎sekali dipelajari oleh kesarjanaan modern; dan sepanjang yang terlihat hanya ‎berhenti pada penolakan al-Ghazali terhadap filsafat. Kalam ortodok telah ‎menerima doktrin filosofis tentang wujud yang mesti dan wujud yang ‎tergantung.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Pendukung-pendukung tradisi filosofis mengembangkan doktrin mereka ‎dengan mengemukakan pembedaan-pembedaan lebih jauh dan menyatakan bahwa ‎Wujud memiliki dua aplikasi yang berbeda. Dalam satu arti, ia berarti wujud yang ‎khusus dari sesuatu, dan dalam artian ini istilah tersebut adalah ekuivokal, karena ‎dalam hal ini segala sesuatu adalah khas. Dan konsekuensinya, wujud khas Tuhan, ‎mengalir ke dalam eksistent-eksistent yang lain, yang tak bisa diketahui.Tetapi ‎dalam arti yang lain, wujud adalah suatu ide yang abstrak, yang digeneralisir dari ‎eksisitent-eksistent yang aktual. Konsep yang abstrak ini mestilah univokal karena ‎ia diterapkan kepada Tuhan dan kepada makhluk. Wujud dalam artian yang kedua ‎ini, adalah obyek yang patut diselidiki oleh metafisika.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian muncul tradisi filosofis baru yang bermula dengah karya ‎syihabuddin as-Suhrawardi (w. 587 H‎    ‎/1191 M), pendiri “illuminasi ‎Filosofis”, yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Sufi Ibnu al-Arabi, dan ‎mencapai perumusan akhirnya dalam karya monumental Shadaruddin as-Syirazy ‎‎(w. 1050 H/1640 M), yang berjudul “Empat Perjalanan“. Doktrin fundamental ‎dari tradisi ini adalah prinsip “tingkatan-tingkatan wujud, yaitu suatu doktrin ‎pantheisme yang dibangun diperinci di atas dasar teori Neoplatonik tentang ‎emanasi . Teori besar lainnya yang erat hubungannya dengan prinsip “tingkatan-‎tingkatan wujud“ adalah teori kognisi yang meneguhkan persamaan pikiran dan ‎wujud. Dari kedua teori ini timbul doktrin ketiga yang lalu memainkan peranan ‎sentral dalam pandangan dunianya yang relegius, yang perkembangannya ‎memperoleh sumbangan yang esensial dari pemikiran Sufi, yaitu doktrin tentang ‎‎“alam misal“(’Alam al-Misal’), yakni suatu dunia citra-citra ontologis di mana ‎realitas spiritual dari ’alam atas’ mengambil bentuk citra-citra konkrit, dan di mana ‎jasad-jasad kasar dari alam materi ini ’alam bawah’ berubah menjadi jasad-jasad ‎halus dan citra-citra. As-Suhrawardi juga mengkritik thesis Ibnu Sina mengenai ‎pembedaan antara esensi dan eksistensi, menyingkirkan dasar pembedaan yang ‎dibuat para filosof antara Tuhan dan manusia, menyangkal pembedaan antara ‎kemungkinan dan kemustian, menyerang ide dualitas antara materi dan bentuk, ‎menolak semua kategori-kategori Aristoteles. ‎</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian muncul zaman baru dengan tampilnya Sayid Jamaluddien ‎Afghani (1254-1315 H/1838-1897 M) yang diikuti oleh muridnya Syikh ‎Muhammad Abduh (1265-1323 H./1849/1905 M), yang mengibarkan bendera ‎kebangkitan Dunia Islam.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Dan masih banyak lagi teori-teori filsafat yang dirilis dan dihasilkan oleh ‎filsuf-filsuf pasca al-Ghazali utamanya hubunganya dengan Theolog dan ‎Mistik/ortodoks. Dengan demikian, filsafat dalam Islam tidaklah mati dengan ‎kritik Al-Ghazali, sebagaimana diduga oleh para sarjana modern. Sebaliknya, ia ‎terus bergetar hidup, tetapi sifatnya berubah secara radikal karena pengaruh ‎mistisme. Dari usaha yang bersifat rasional untuk memahami sifat realita obyektif, ‎ia berubah menjadi usaha spiritual untuk hidup serasi dengan realita tersebut. ‎Maka filsafat sesudah al-Ghazali berkembang dalam sebuah arah yang baru dan ‎penting, yang dapat dinamakan filsafat keagamaan yang murni atau agama ‎filosofis.  Perkembangan ini, walaupun dalam perjalanannya sangat dipengaruhi ‎oleh sufisme dan gaya pemikirannya, tetapi tetap dibedakan dari sufisme. Karena, ‎fenomena yang telah kita sebut agama filosofis ini, walaupun sering ‎mengidentikkan dokrin-doktrinnya dengan doktrin-foktrin sufi, terutama Sufisme ‎spekulatif, tetapi bercirikan argumentasi rasional dan proses-proses pemikiran yang ‎logis dan murni intelektual. Sedangakan Sufisme semata-mata mengandalkan ‎pengalaman atau intuisignostik dan lebih mempergunakan imajinasi puitis proses-‎proses rasional.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Kritikan al-Ghazali kepada Filsafat tidak lepas dari rasa prihatinya ‎terhadap keadaan pada waktu itu, dia memprotes keras dalam hatinya akan ‎peristiwa yang tidak sehat, yang berkembang dan menguasai hidup (terpecah) ‎kepada berbagai agama, berbagai mazhab dan aliran, sedang masing-masing ‎bertahan bukan dengan akalnya tetapi karena semata-mata bertaklid kepada nenek ‎moyangnya. Masing-masing tidak mengalah, merasa dirinya benar dan ‎mengatakan kepercayaannya berasal dari Tuhan sedang orang lain salah semata, ‎sehingga timbul cekcok dan permusuhan. Golongan falsafah bertegang urat leher ‎memegang pendiriannaya karena semata-mata fanatik kepada nama filosuf-filosuf ‎yang mendahuluinya seperti socrates, hippocrates, Plato, Aristoteles dan lain-lain ‎dan menganggap bahwa orang-orang yang tidak mengemukakan nama-nama itu ‎adalah bodoh.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Al Ghazali mengutuk golongan taklid buta kaum agama maupun fanatik ‎dogmatis kaum terpelajar. “Sadarilah wahai saudara! Kata al-Ghazali “Kalau anda ‎berpegang kepada suatu kebenaran karena hanya menengok orangnya saja (baik ‎Imam maupun filosuf) dengan tidak bersandar kepada fikiran anda sendiri, maka ‎anda akan sia-sia belaka. Seorang yang ahli hanyalah sebagai matahari atau lampu ‎yang sanggup menimbang dan memutuskan sendiri. Tetapi kalau anda sendiri ‎memang buta, maka apalah gunanya lampu atau matahari itu.  karena dengan ‎taklid atau fanatik saja akan hancurlah dia secara total.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam suasana pertentangan tersebut, al-Ghazali tidak ikut larut di ‎dalamnya dan tidak memihak salah satu, tetapi al-Ghazali berusaha keras untuk ‎menemukan titik temu antara kelompok yang berbeda pendapat tersebut. Seperti ‎yang dikemukakan oleh DR. Akbar Ahmed: “Al-Ghazali berhasil mempertemukan ‎tiga aliran: teologi, filsafat dan mistik. Dengan demikian ia pun berhasil mengahiri ‎pertentangan antara pengikut ketiga aliran tersebut“. ‎</p>
<p style="text-align: justify;">Selaras apa yang di kemukakan oleh Dr. Sulaiman Dunya: “Adapun ‎kitab-kitab Imam Al-Ghazali, dikarenakan ia berbicara kepada orang banyak, maka ‎beliau mengikat di suatu tempat dan melepaskannya di tempat lain. Menutupi ‎sesuatu, lalu membukanya. ‎</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Al Ghazali berkata dalam Kitab Al Munqidz min Adh Dhalal: ‎‎“Sesungguhnya i’tikad beliau (filosuf) sama dengan kaum ahli tasawuf. Sebab, ‎masalahnya adalah setelah dilakukan pengkajiannya akan mengetahuinya secara ‎terperinci.‎ ‎“.‎<br />
Keyakinan akan pesatnya perkembangan filsafat pasca al-Ghazali ‎dibuktikan  dengan pesatnya pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan ‎dalam Islam. Seperti yang diungkapkan oleh Will Durant:“Filsafat dapat ‎diibaratkan pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan ‎infantri. Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang diantaranya adalah ‎ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak untuk kegiatan keilmuan. ‎Setelah itu pengetahuanlah yeng membelah gunung dan merambah hutan, ‎menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan.‎ ‎ ‎</p>
<h5 style="text-align: justify;">E. Analisis</h5>
<p style="text-align: justify;">Al-Ghazali bukanlah seperti yang digambarkan oleh sebagaian orang ‎terutama oleh para orientalis barat, dimana mereka memahami al-Ghazali sebagai ‎penyebab kemunduran berfikir bagi umat Islam atau dianggap sebagai pelopor ‎faham skeptis. Kritikan bahkan serangan al-Ghazali terhadap filsafat tidaklah ‎berarti al-Ghazali anti terhadap filsafat, tetapi lebih pada menempatkan  filsafat ‎tepat pada posisinya.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak bisa dipungkiri, kita sebagi umat Islam dalam mengemban amanat ‎sebagai Abdullah dan Khalifatullah membutuhkan filsafat, seperti apa yang ‎dinyatakan oleh Fazlur Rahman:“Bagaimanapun juga, filsafat merupakan alat ‎intelektual yang terus menerus diperlukan. Untuk itu, ia harus boleh berkembang ‎secara alamiah, baik untuk pengembangan filsafat itu sendiri maupun untuk ‎pengembangan disiplin-disiplin keilmuan yang lain. Hal itu dapat dipahami, karena ‎filsafat menanamkan kebiasaan dan melatih akal-pikiran untuk bersikap kritis-‎analitis dan mampu melahirkan ide-ide segar yang sangat dibutuhkan, sehingga ‎dengan demikian, ia menjadi alat intelektual yang sangat penting untuk ilmu-ilmu ‎yang lain, tidak terkecuali agama dan teologi. Karena itu, orang yang menjauhi ‎filsafat dapat dipastikan akan mengalami kekurangan energi dan kelesuhan darah ‎dalam arti kekurangan ide-ide segar dan lebih dari itu, ia berarti telah melakukan ‎bunuh diri intelektual.‎ ‎ ‎</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti halnya yang dikatakan Ali Syariati:“Keyakinaan yang benar tidak ‎bisa tumbuh kecuali dari pengetahuan yang benar dan pengetahuan yang benar ‎tidak bisa lahir kecuali dari cara berfikir yang benar, sementara cara berpikir yang ‎benar hanya bisa terjadi dari metode berpikir yang benar. Artinya, metodologi ‎adalah sesuatu yang sangat penting. Siapa yang tidak menguasai metodologi ‎berarti tidak akan mendapatkan sesuatu secara benar dan tidak akan bisa ‎mengembangkan apa yang dimiliki.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Disamping itu masih ada pemahaman dan cara studi yang salah terhadap ‎filsafat, dimana kajian filsafat hanya dilihat dari aspek sejarahnya dan sedikit ‎sekali dikaji dalam aspek persoalan/subtansinya.‎ ‎ Filsafat harus difahami sebagai ‎salah satu bentuk methodologi ilmu pengetahuan dan jangan dikaburkan filsafat ‎sebagai faham/aliran.‎ ‎ ‎</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan pemahaman kita yang benar terhadap al-Ghazali maka filsafat akan ‎terus tumbuh dan berkembang yang menghasilkan ilmu pengetahuan sejalan ‎dengan tuntutan zaman. Seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Luthfi  dalam ‎kitab “Tarikh Filasifah al Islam fi al Masyriq wa al Maghrib” bahwa: Al Ghazali ‎tidak begitu nampak pengaruhnya dalam hal Tasawuf tetapi pengaruh yang besar ‎adalah dalam hal filsafat.‎ ‎ ‎</p>
<h5 style="text-align: justify;">F.  Kesimpulan.‎</h5>
<ol>
<li>
<p style="text-align: justify;">‎Al-Ghazali adalah ilmuwan sejati yang mampu menguasai bahkan memadu ‎berbagai ilmu pengetahuan seperti teologi, tasawuf dan filsafat.‎</p>
</li>
<li style="text-align: justify;">Untuk menjaga kelestarian dan kemurnian ilmu pengetahuan  al-Ghazali ‎melontarkan anti thesis terhadap teori-teori filsafat yang akan menghasilkan ‎sintesis.‎</li>
<li style="text-align: justify;">Pasca al-Ghazali filsafat berkembang pesat dan itu bermuara pada lahirnya ‎berbagai ilmu pengetahuan dalam Islam.‎</li>
<li style="text-align: justify;">Tokoh filsafat sesudah Al-Ghazali diantaranya Adalah Ibnu Thufayl, dia ‎seorang filosof, disamping seorang pakar Geografi dan seorang penyair dari ‎Andalusia, bukunya dalam bidang filsafat yang tekenal yang sampai di ‎tangan kita  adalah tentang kisah “Hayy bin Yaqzhan” yang merupakan  ‎kisah pertama dalam filsafat dan sasta Arab.‎</li>
<li style="text-align: justify;">Juga tokoh filsafat lainnya yaitu : Ibnu Rusyd, dia seorang dokter dan alhi ‎fiqh. Kesuksesannya yang paling penting ialah di bidang filsafat, dalam ‎bidang ini paling tidak ada dua macam kesuksesan yang diraihnya, yaitu ‎Syarah (penjelasan) Ibnu Rusy terhadap karya Aristoteles, dan bakat aslinya.‎</li>
<li style="text-align: justify;">Tokoh filsafat berikutnya adalah Ibnu Al-Farabi, yang merupakan orang ‎pertama yang mengembangkan ide tentang alam semesta, yaitu : &#8211; Makro ‎Antropos ( alam semesta dipolakan pda manusia ), dan – Mikro Antropos ( ‎manusia di gambarkan menurut pola alam semesta ).‎</li>
<li>
<p style="text-align: justify;">Kita sebagai Umat Islam harus menyikapi filsafat secara bijak karena untuk ‎menjadikan Al Islamu ya’lu wala  yu’la alaihi membutuhkan metodologi ‎berfikir yang benar (filsafat).‎</p>
</li>
</ol>
<h5 style="text-align: justify;">DAFTAR  PUSTAKA</h5>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Abdullah, Amin dkk. 2000</strong></span>. Mencari Islam Studi Islam Dengan Berbagai ‎Pendekatan. Yogyakarta: Tiara Wacana.‎<br />
<span style="color: #3366ff;"><strong>Akbar, Ahmed. 1992</strong></span>. Citra Muslim Tinjauan Sejarah dan Sosiologi. Jakarta: ‎Erlangga.‎<br />
<strong><span style="color: #3366ff;">Dewan Redaksi Ensikopedi Islam. 1994</span></strong>. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT. Ichtiar ‎Baru Van Hoeve.‎<br />
<strong><span style="color: #3366ff;">Dunya, Sulaiman. 2002</span></strong>. Al Haqiqat Pandangan Hidup  Imam Al Ghazali. ‎Surabaya: Pustaka Hikmah Perdana.‎<br />
<span style="color: #3366ff;"><strong>Husayn Ahmad Amin. 2001</strong></span>. Seratus Tokoh Dalam Sejarah Islam. Bandung: ‎Remaja Rosda Karya.‎<br />
<span style="color: #3366ff;"><strong>Luthfi, Muhammad. tt</strong></span>. Tarih Falasifah Al Islam Fil Masyriq wal Maghrib. Baerut: ‎Al Maktabah Al Ilmiyah<br />
<span style="color: #3366ff;"><strong>Nasution, Harun. 1984-985</strong></span>. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI ‎Press. ‎<br />
<span style="color: #3366ff;"><strong>Rahman, Fajzlur. 1984</strong></span>. Islam. Bandung: Pustaka.‎<br />
<span style="color: #3366ff;"><strong>Sholeh, A. Khudori. 2004</strong></span>. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka ‎Pelajar. ‎<br />
<span style="color: #3366ff;"><strong>Suriasumantri Jujun S. 2005</strong></span>. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: ‎Pustaka Sinar Harapan.‎<br />
<span style="color: #3366ff;"><strong>Zainal Abidin, Ahmad H. 1975</strong></span>. Riwayat Hidup Imam al-Ghazali. Jakarta: Bulan ‎Bintang.‎</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh : <span style="color: #0000ff;"><strong><a href="http://www.facebook.com/Hozaini" target="_blank">Hozaini Geresis</a></strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/perkembangan-filsafat-pasca-al-ghazali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seperti Apa Sahabat kita?</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/seperti-apa-sahabat-kita/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/seperti-apa-sahabat-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2011 19:54:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nanank Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=5778</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Seiring waktu berjalan sejak manusia dilahirkan yang mulanya sendiri pun kini mulai mempunyai teman. Teman,&#8230;.. hmm,,,,, seperti apakah teman kita? apakah dia memang pantas di pertahankan? apakah hanya cukup...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="/DOCUME%7E1/HPMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/04/nasihat-kawan.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-5796" title="nasihat kawan" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/04/nasihat-kawan.jpg" alt="" width="279" height="220" /></a><strong>Tanbihun</strong>- Seiring waktu berjalan sejak manusia dilahirkan yang mulanya sendiri pun kini mulai mempunyai teman.</p>
<p style="text-align: justify;">Teman,&#8230;.. hmm,,,,, seperti apakah teman kita? apakah dia memang pantas di pertahankan? apakah hanya cukup tahu dan kenal saja? dapatkah dia memberi manfa,at dan nilai positif kepada kita yang memang sejatinya manusia memerlukan teman kaarna takan sanggup manusia untuk hidup sendirian?</p>
<p style="text-align: justify;">maka semakin bertambahnya usia dan bertambahnya akal untuk makin dewasa,maka harusnya kita sanggup memberi penilaian kepaada sahabat-sahabat kita,seperti apa dia dan akan jadi apa kita kalau bergaul bersama dia apakah mampu memberi nilai plus pada ibadah kita apakah munngkin semakin menurun amal dan ibadah kita,kebih membahayakan lagi kalau semakin bersama semakin rusak iman kita, maka sepatutunya kita harus sangat-sangat jeli untuk bisa beri penilaian&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:</p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>« مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ  وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ</strong><strong> الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ،  فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ</strong><strong> يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا  أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ</strong><strong> مِنْهُ  رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ</strong><strong> ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً</strong><strong> »</strong></h3>
<p style="text-align: justify;"><em>“Permisalan teman yang baik dan teman duduk yang jelek seperti  penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak  wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau  membeli darinya, dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang  wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar  pakaianmu, dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.”</em> (<strong>H.R. Al-Bukhari</strong> dan <strong>Muslim}</strong></p>
<p style="text-align: justify;">hadits diatas memberikan penjelsan untuk kita agar sangat hati-hati memilih teman, berteman dengan orang Alim dan pintar akan memberi efek positif kepada kita,mungkin kita yang masih kurang akan pengetahuan agamanya lama-lama karna berteman dengan orang yang berilmu kita pun akan tertular ilmu dan kebaikanya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">lain halnya jika berteman dengan orang yg rusak imanya ,satu atau pertama kita akan tertular nama jeleknya&#8230;contoh kecilnya saja jika kita berteman dengan preman suka minum-minuman malakin orang(meminta harta orang dengan paksa) walaupun kita tak pernah berbuat,tapi karna kita sering kemana-mana bersama,pastinya tanggapan orang miring juga kepada kita mungkin orang berfikir ach itu pasti bosnya bagaimana tidak karna kita kmana-mana selalu bersama walau tak pernah berbuat seperti apa yang di lakukanya,parahnya lagi jika kita sampai ikut-ikutan sperti tingkahnya si preman waduh buahaya kan ya&#8230;???</p>
<p style="text-align: justify;">jadi lebih baiknya hati-hati jika mencari sahabat sejati,teringatsa&#8217;at dulu si penulis di ajar ngaji  &#8220;pergaulan kui lewih landep tinimbang pedang nang moko koe sing ati ati&#8221;(maksud nya adalah pergaulan itu lebih tajam dari pada pedang maka kamu harus hati-hati&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">bergaulah dengan teman yang bisa saling menguntungkan dalam hal ibadah dan tak terkecuali dalam mencari nafkah&#8230;    jangan bergaul dengan teman yang hanya bikin kita rugi dunia dan lebih-lebih akhirat&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">sahabat sejati harusnya bisa saling mengingatkan,jika teman berbuat salah janganlah segan untuk mencegah&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">jika teman berbuat baik  dan terpuji janganlah segan-segan untuk mengikuti&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">jadi mulai dari sa&#8217;at ini anda harus jeli dan sangat teliti&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">sperti apa teman kita dan akan jadi apa jika anda terus bersama&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">kalau hanya teman dalam urusan duniawi kita akan sangat mudah untuk mengetaui&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal  kita. Dalam kesengsaraan, kita  mengenal teman-teman kita. Ingatlah  kapan terakhir kali anda berada  dalam kesulitan. Siapa yang berada di  samping anda??. Siapa yang  mengasihi anda saat anda merasa tidak  dicintai??”</p>
<p style="text-align: justify;">tapi kata-kata diatas hanya untuk urusan duniawi tapi jika urusan akhirat patutnya agar kita lebih jeli&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">semua jawaban ada di tangan anda maka lebih baik untuk kita agar lebih waspada.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/seperti-apa-sahabat-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Spirit Kemandirian &#8216;ala Syaikh Ahmad Rifa&#8217;i</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/spirit-kemandirian-ala-syaikh-ahmad-rifai/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/spirit-kemandirian-ala-syaikh-ahmad-rifai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2011 10:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[jejak rifaiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Penyebar rifaiyah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=4409</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun.com &#8211; Mukmin bengkuk kasab nandur ketela, Iku luwih becik tinimbang bengkuk seba ing wong ala Subhanallah………………… Sungguh mendalam isi dari nadlom tarjumah di diatas, sebuah nadlom yang gampang di...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2009/05/santri.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-246" title="santri" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2009/05/santri.jpeg" alt="" width="218" height="198" /></a>Tanbihun.com</strong> &#8211; Mukmin bengkuk kasab nandur ketela, Iku luwih becik tinimbang bengkuk seba ing wong ala<br />
<em>Subhanallah…………………</em><br />
Sungguh mendalam isi dari nadlom tarjumah di diatas, sebuah nadlom yang gampang di ingat dan dulu sering di sampaikan sebagai petuah oleh para sesepuh dan juga mungkin bapak-bapak kita. saat belum mendalami isi petuah sederhana tersebut, dulu saya sering ngelah sambil bercanda, ngelahnya (membantah -red ) begini, itu kan untuk yang bungkuk, kalo yang masih lurus-lurus saja, tidak bungkuk, lebih baik gak nandur telo. Masih diterusin lagi ngelahnya, solanya kalo yang bungkuk itu mau cari kerjaan lain pasti gak diterima, ya yang bungkuk itu memang pas-nya ya nandur telo(ketela -red).</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk bisa memahami nadlom tarjumah sederhana <span style="text-decoration: underline;"><strong>“mukmin bengkuk “</strong></span> diatas, ternyata butuh waktu yang panjang, baru saya bisa resapi kedalaman maknanya. Kadang di saat jeda dari kesibukan, berbekal pikiran positif, kedalaman suatu makna dari apa yang pernah kita ingat bisa dipahami. Saat delay nunggu pesawat dibandara, saya teringat nadhom ini, dan saya buat sedikit coretan di buku agar tidak lupa idenya, siapa tahu suatu saat dapat saya tulis.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah lama saya ingin menulis makna batin yang saya tangkap dari nadlom mukmin bengkuk ini walau sedikit, tapi saya ingat nadhomnya hanya sepotong. saya coba cari lewat sms ke anak-anak santri tarjumah yang saya kenal , terus saya bertanya via Face book, belum juga ada jawaban. Akhirnya saya kirim email ke tanbihun com, Alhamdulillah saya mendapatkan komplet nadlomnya. Ada 4 baris pendek, yang katanya ada di kitab tarajumah Syarihul iman.<br />
Lengkap bunyi nadlomnya begini, syarikhul iman:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Mukmin bengkuk kasab nandur ketela,<br />
Iku luwih becik tinimbang bengkuk seba ing wong ala,<br />
Nanggung dosa gede tan bisa tobat katula,<br />
Ora patut wong duraka kede di pilala.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Terjemahan  bebasnya</strong></span><br />
Mukmin bengkuk bekerja menanam ketela (ubji jalar), Lebih bagus daripada bongkok sebo (sebo:berjalan sambil jongkok,biasanya adat2 dikeraton) dihadapan orang dholim . Menanggung dosa besar tidak pernah bisa bertaubat, Tidak patut orang durhaka biasa melakukan besar itu dihormati .</p>
<p style="text-align: justify;">Kesan mandalam yang saya tangkap dari nadlom tarjumah mukmin bengkuk itu adalah <span style="text-decoration: underline;"><strong>spirit kemandirian</strong></span>. Mandiri artinya tidak bergantung kepada manusia lain, karna memang seroang mukmin itu hanya menggantungkan dirinya kepada Allah SWT, dan itulah inti ajaran zuhud. Zuhud punya arti bebas atau tidak tergantung dari pengaruh-pengaruh dunia, makin tinggi tingkat kebebasan atau ketidak bergantungnya dari dunia materi, makin tinggi maqom zuhud seseorang.<br />
Nadlom diatas mengajarkan walaupun sangat susah dan payah( ibarat kata sampai badan membungkuk – bungkuk karna saking capek dan susahnya ), berusaha sendiri – seperti nandur telo (telo = komoditas yang value-nya rendah), usaha sendiri tersbut lebih punya makna (luwih becik), dari pada bekerja bengkuk ikut orang lain. Kalau di nadlom tersebut dibilang bengkuk sebo ing wong olo- bekerja bengkuk ikut sama orang dholim.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah salah satu makna mendalam yang diajarkan sebuah Kemandirian. Karna pribadi yang mandiri, dia akan punya Izzah, karna hidupnya ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan ditentukan oleh orang lain, pribadi yang bisa subject yang menjalankan dunia, bukan object yang ditentukan oleh orang lain. Sekecil apapun tingkat kemandirian itu, akan terasa nikmat dan Indah hidup ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi yang mendalami logika mukmin bengkuk ini, maka dapat difahami sekali bahwa para sesepuh dulu paling tidak mau menerima bantuan dari pihak luar, terutama dalam hal pembangunan sarana, bahkan bantuan-bantuan dari pihak pemerintah. Dan menurut logika saya saat ini ya harusnya seperti itu. Logikanya ya sangat sederhana sekali kita pasti akan memanfaatkan, merawat, menjaga semaksimal mungkin terhadap segala susuatu dari usaha jerih payaha kita sendiri, disamping mungkin ada <strong>efek bathiniah</strong> lain yang tidak bisa diungkapkan dalam tulisan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang logika mukmin bengkuk perlu di segarkan kembali. Spirit kemandirian yang terkandung dalam nadlom “mukmin bengkuk nandur telo “ itu harus ditanamkan. Dalamnya pesan para sesepuh dengan nadlom sederhana itu perlu dihidupkan . kenapa? Dengan majunya pemikiran dan berkembangnya jaman, disana sini sudah mulai terasa lunturnya logika mukmin bengkuk. Gambaran sederhananaya, saat ada pembangun sarana tarajumah (seperti masjid, pesantren, musollah), dibuatlah proposal canggih untuk menarik dana dari pihak-pihak luar. Bukanya hal itu tidak boleh, tapi semangat mukmin bengkuk, semangat kemandirian, semangat berdiri di atas kaki sendiri itu lebih bernilai (luwih becik).</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk membangkitkan insnpirasi, mungkin nadlom “mukmin bengkuk nandur telo “ bisa di jadikan benner untuk di temple di dinding seperti kaligrafi, tentunya dibuat dengan disain yang indah, dibingkai seperti lukisan. Dibuat sebagai kaligrafi juga indah, memakai tulisan arab seperti aslinya dalam kitab. Dan bisa dipasang sebagai hiasan di dinding rumah ataupun bisa juga di langgar dan juga masjid. Dengan harapan inspirasi mukmin bengkuk ini bisa membangkitkan semangat kemandirian yang dirasa saat ini sudah mulai luntur gregetnya. Baik juga mungkin kalau jadi benner di <a href="http://tanbihun.com/" target="_blank">tanbihun.com</a> untuk edisi tahun 2011 ini, sebagai tema sentral.(just usul).</p>
<p style="text-align: justify;">Bangsa yang mandiri adalah bangsa yang punya Izzah, yang zuhud, yang tidak bergantung pada bangsa lain. Mukmin bengkuk luwih mulyo nandur jagung…………</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Oleh : <strong>H. Zaenal Asikin</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Matur nuwun</p>
<p style="text-align: justify;">Bihaqqi Muhammad wa Ali Muhammad</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/spirit-kemandirian-ala-syaikh-ahmad-rifai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/renungan-sayyidina-ali-bin-abi-thalib-ra/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/renungan-sayyidina-ali-bin-abi-thalib-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Dec 2010 08:09:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah zaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=4199</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun.com -Kehidupan ini selalu bergulir tiada kenal henti, kerling mata sang waktu mampu mengubah umat manusia, yang tadinya jahat menjadi berbudi, yang paginya beriman sorenya kafir, yang siangnya bertahtakan amal...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/12/waktu.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-4200" title="waktu" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/12/waktu.jpeg" alt="" width="259" height="194" /></a>Tanbihun.com </strong>-Kehidupan ini selalu bergulir tiada kenal henti, kerling mata sang waktu mampu mengubah umat manusia, yang tadinya jahat menjadi berbudi, yang paginya beriman sorenya kafir, yang siangnya bertahtakan amal shalih, mendadak malamnya ia habiskan dalam pelukan hangat maksiat. Ada pula waktu mudanya lidahnya kelu dari ucapan dusta, dimasa tuanya lisannya begitu fasih mengolah kalimat tipu muslihat. Ada pula manusia yang waktu bujangnya berpenampilan apa adanya, ketika sudah berumah tangga ia menjadi pesolek, ia pintar membungkus kebohongan, lihai menyembunyikan watak dan niat jahatnya, jubah dan jenggotnya semakin memperteguh kemunafikannya, jilbab dan cadarnya melengkapi penyamarannya. Ada juga yang terang-terangan tanpa malu memproklamirkan kemunkaran, bahkan mengajak teman-temannya untuk ikut menikmati cawan-cawan kesesatan yang dimatanya nampak seperti anggur yang memabukkan.</p>
<p>Mari kita renungkan kalam sayyidina Ali Karramallahu Wajhah :</p>
<blockquote><p><span style="color: #333333;">Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan</span></p>
<p>Keyakinan hanya tinggal pemikiran yang tidak berbekas dalam perbuatan</p>
<p>Ada orang baik tapi tidak berakal, ada orang berakal tapi tidak beriman</p>
<p>Ada yang berlisan fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyu` namun sibuk dalam kesendirian</p>
<p>Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombong iblis, ada ahli maksiat tapi rendah hati bagaikan sufi</p>
<p>Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, ada yang banyak menangis karena kufur nikmat</p>
<p>Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat, ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut</p>
<p>Ada  yang berlisan bijak tapi tidak memberi teladan, ada juga penzina yang tampil sebagai figur panutan</p>
<p>Ada yang punya ilmu tapi tidak paham, ada yang paham ilmu tapi tidak mengamalkannya</p>
<p>Ada yang pintar tapi tukang membodohi umat, ada yang bodoh malah sok pintar</p>
<p>Ada yang beragama tapi tidak berakhlaq, ada yang berakhlaq tapi tidak bertuhan</p>
<p><strong>Lalu di antara semua itu, di mana aku berada ?</strong></p>
<p>(zid)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/renungan-sayyidina-ali-bin-abi-thalib-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Filsafat &#8220;Kebo Nusu Gudel&#8221;</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/filsafat-kebo-nusu-gudel/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/filsafat-kebo-nusu-gudel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 10:45:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Kebo Nusu Gudel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2740</guid>
		<description><![CDATA[Bisa disadari atau tidak, bahwa muatan dan metode berfikir kita sungguh sudah dijajah habis-habisan oleh filsafat yang tidak otentik dari peradaban kita. Seandainya kita tak terjajah, bagaimana mungkin kita menggunakan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2741" title="brainbulb" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/01/brainbulb1.jpg" alt="brainbulb" width="225" height="300" />Bisa disadari atau tidak, bahwa muatan dan metode berfikir kita sungguh sudah dijajah habis-habisan oleh filsafat yang tidak otentik dari peradaban kita. Seandainya kita tak terjajah, bagaimana mungkin kita menggunakan istilah &#8220;MAHA siswa&#8221; untuk seseorang yang belajar pasca SMA di kampus manapun. Itu jelas kata-kata yang <em>kempliti </em>dan <em>Gumede</em>. Sandangan kata &#8220;Maha&#8221; hanya pantas dilekatkan untuk Allah SWT semata. Makhluk sebagai hamba dan budak jangan sampai memakai pakaian, gelar, dan kehormatan yang hanya patut disandang oleh Allah saja. Pengajian pun jangan ikut-ikutan memakai kata sifat &#8220;akbar&#8221;, sebagaimana lazim dalam tulisan-tulisan pamflet yang berujar kunjungilah &#8220;pengajian akbar&#8221; karena Akbar sifatnya Allah, jangan sekali-kali ditempel di belakang kata pengajian, apalagi nama band.</p>
<p>Perkiraan penulis mengatakan bahwa kekeliruan-kekeliruan itu berasal dari pengaruh pondasi ilmu pengetahuan yang biasa disebut sebagai filsafat, atau dalam bahasa filsafat, dia memahkotai diri dengan slogan: <em>mother of science </em>(ibunya ilmu pengetahuan).</p>
<p>Rata-rata murid perguruan tinggi mengetahui ajaran Rene Descartes yang berujar <em>cogito ergo sum </em>(aku berfikir maka aku ada). Keberadaan manusia itu ditentukan oleh pikiran dan bagaimana manusia berfikir. Dalam ungkapan tersebut terasa sekulernya, karena eksistensi manusia tak bergantung kepada siapapun selain pada pikirannya sendiri. Maka pantas apabila yang digunakan kata &#8220;Mahasiswa&#8221; bukan kata murid. Kata murid diserap dari bahasa Arab yang berasal dari kata &#8220;arada&#8221; yang berarti menghendaki segala hal. Murid bisa menghendaki tambahan ilmu dari Allah, guru, dan dari proses kehidupannya. Ia tidak seperti Mahasiswa yang sudah <em>rumongso </em>Maha, maka tak usah mengharapkan apa-apa selain mengandalkan daya kritis dan pikirannya sendiri.</p>
<p>Dasar dari filsafat Jawa adalah ketawadluan sebagaimana ungkapan filosofi <em>bisoho rumongso ojo rumongso biso </em>(sebisa mungkin untuk sadar diri dan rendah hati, bukan merasa diri paling mampu, dan paling bisa). Maka yang patut menyandang dasar filosofi tersebut adalah seorang &#8220;murid&#8221; yang selalu berharap kepada Tuhannya, bukan &#8220;mahasiswa&#8221; yang <em>gumede </em>dengan Ke-Maha-annya dan pikirannya.</p>
<p>Mengamati dua ungkapan dasar filosofi dua peradaban yang berbeda ini juga menunjukkan bahwa alat untuk berfilsafat yang dipakai pun berbeda. Ungkapan filosofi barat memakai alat otak, karena dia berfikir. Maka kecenderungan pembangunan peradaban barat lebih berorientasi kepada pengetahuan dan pikiran, ia membuntutkan hati. Sedangkan alat yang pertama dipakai oleh orang timur, khususnya Jawa untuk berfilsafat, dan berperadaban adalah memakai hati, karena ia merasa (<em>rumongso</em>),  dan tawadlu (<em>bisoho rumongso</em>).</p>
<p>Nuansa dan citarasa kedua filosofi itu sungguh bertolak belakang. Tinggal kita memilih, sesungguhnya yang menjadi dasar peradaban dan filosofi kita adalah yang mana? Dan kira-kira yang sering kita pakai menjadi pandangan hidup selama ini adalah yang mana?</p>
<p>Kalau boleh saya meraba-raba, maka yang sering saya temukan adalah bahwa orang-orang terdidik, bahkan pola pendidikan kita berdiri di atas landasan filosofi <em>cogito ergo sum</em>. Dan mengubur dasar filosofi otentik kita <em>bisoho rumongso ojo rumongso biso</em>. Buktinya apa? Kita cukup menunjuk kepada bagaimana pendidikan kita diselenggarakan. Bukan menjadi hitungan lembaga pendidikan untuk menerima calon muridnya, tentang kebaikan akhlak calon akan didiknya. UGM tak mungkin menyeleksi tingkat kejujuran, keberanian, ketawadluan, kezuhudan mahasiswanya, ia juga tak mungkin menanyakan apakah calon mahasiswanya pernah nyopet, memperkosa, maling, bikin kisruh, dll. Universitas mempercayakan masalah akhlak cukup dengan selembar kertas yang berjudul: SKKB (Surat Keterangan Kelakuan Baik) yang dikeluarkan oleh Polres setempat.</p>
<p>Kita juga bisa melihat lagi kenyataan bahwa penyeleksian calon murid di lembaga pendidikan manapun cukup dilalui dengan mengisi soal-soal yang hanya memakai otak, tak perlu menyelesaikannya memakai hati, karena soal-soal sebatas pengetahuan dan akrobatik rumus dan logika. Semakin tinggi pendidikan murid, semakin tak diperhatikan pula akhlaknya. Dulu waktu duduk di bangku sekolah TK, kita sering ditegur oleh Ustadzah ketika kita berkata bohong, menghina, menyakiti temannya. Kita juga ditauladani bagaimana berinteraksi dengan Allah, Sahabat, manusia, dan makhluk lainnya. Semakin tinggi pendidikan murid, semakin tak menemukan teguran tentang berakhlak yang baik, apalagi tauladannya tapi ia akan mendapat dampratan tiada habis, hanya karena ia tak kuasa menjawab soal-soal ujian. Sehingga banyak kenyataan anak-anak menghabiskan waktunya hanya untuk mengikuti bimbingan belajar, kursus, privat, dan tak satupun bimbingan hati terlihat.</p>
<p>Mencermati hal tersebut penulis jadi suudzan, jangan-jangan dasar berfikir kita dan model hidup kita sudah sangat terjajah dengan pola berfikir sekuler yang tak menghitung perkembangan hati sebagai hitungan untuk masa depan anak didik. Padahal seandainya kita mau mencermati sejarah peradaban Indonesia sejak jaman kejayaan kerajaan Atlantis yang disinyalir Aryoso Desantos berada di Indonesia, maka sangat jelas bahwa dasar dari peradaban Indonesia adalah peradaban hati, peradaban akhlak.</p>
<p>Kalau seandainya tetangga kita ada yang ternak lebah, atau berkerajinan membuat tempe, maka sering ada kabar bahwa baik dan tidaknya hasil produksi madu, dan hasil produksi tempe sangat erat hubungannya dengan tingkat kebersihan hati seseorang, juga tingkat ketenangan hati seseorang. Maka ketika produsen hatinya lagi galau seringkali ia menghindari untuk memproduksi sendiri, ia memilih seseorang yang mengerjakan produksinya. itu artinya bahwa seandainya kita membangun usaha apapun, untuk menilai kesuksesannya dengan cara berfikir peradaban timur, maka akan mendahulukan untuk menilai hati seseorang, ketimbang hitung-hitungan otak tentang kebenaran takaran-takaran bahan baku untuk produksi. Logika timur juga mengatakan bahwa seandainya ada orang sakit, maka untuk menuju iklim yang sehat kembali, diperlukan perubahan mental, berfikir, hati manusianya, lingkungan bukan bagaimana kita menyediakan obat yang super mahal dan supercanggih.</p>
<p>Untuk urusan kesehatan ini pasti yang pertama kali dituding adalah diri manusianya sendiri, bukan unsur yang diluar manusia. Karena pengobatan timur berkeyakinan bahwa obat sudah disediakan Tuhan di dalam tubuh manusia, maka manusia tinggal mengkhilafahi agar obat itu bisa keluar. Jalan yang biasa dipakai untuk mengeluarkan obat dengan cara <em>accupuntur, accupressure, hijamah, bekam, reiki, </em>dll. Pengobatan-pengobatan tersebut seringkali tak mengandalkan obat kimiawi, karena sebagian memanfaatkan obat yang sudah berada dalam tubuh, juga mereka memanfaatkan bermacam energi yang beredar disekitarnya untuk dipinjam dalam rangka penyembuhan, hal ini biasa digunakan oleh pengobatan ala reiki.</p>
<p>Mungkin bagi logika barat terasa asing kalau seandainya pengobatan tanpa obat. Padahal obat tak perlu hanya berbentuk pil dan sirup. Ia mesti banyak ragam, metode, dan manfaatnya. Masih ingat Ponari kan? Berbagai macam penyakit hanya disembuhkan dengan satu obat, dan dalam pandangan masyarakat umum tak dipandang sebagai obat, tetapi sebagai bahan bangunan, berupa batu. Maka tak heran apabila teknologi jaman kerajaan atlantis yang ditengarai sebagai peradaban pertama di dunia ini memakai teknologi hati.</p>
<p>Inggrid Benetti seorang berkebangsaan Inggris yang bisa mengingat kehidupannya masa lalu. Ia menceritakan bahwa dulu dirinya termasuk petugas pengendali listrik Kerajaan Atlantis (baca: Peradaban Indonesia Keemasan). Listrik seluruh kota dikendalikan oleh bongkahan kristal besar yang disimpan di pusat kota. Listrik bisa terang dan remang-remang tergantung kepada kejernihan hati Benetti selaku petugas penjaga energi listrik, maka Benetti dalam keadaan apapun harus selalu bertahan dalam prinsip &#8220;jagalah hati, jangan kau nodai,&#8221;</p>
<p>Ketika cerita Benetti disampaikan ke khalayak umum biasanya mereka akan menuduh sebagai cerita fiksi yang penuh mitos dan khayal. Padahal tiap hari manusia juga dilingkupi mitos iklan, seperti iklan lotion pemutih yang selalu berujar &#8220;memutihkan wajah dalam dua minggu.&#8221; padahal tak mungkin bisa putih, kalau yang makai manusia berkebangsaan negroid. Ini sama absurnya dengan ketidakpercayaan para ilmuwan UGM kepada pawang hujan, tetapi setiap akan menyelenggarakan acara wisuda UGM pasti menghadirkan pawang hujan untuk mengalihkan hujan.</p>
<p>Pawang hujan semacam itulah pada jaman kejayaan Kerajaan Atlantis sebagai kekhasan teknologi peradaban atlantis. Maka cerita Benetti mengatakan bahwa manusia Atlantis banyak yang bisa berbicara dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan, kecanggihan teknologi internal masing-masing manusia itu ditentukan oleh kejernihan dan ketulusan hati manusia. Santet, pawang hujan, saipi angin, panglimunan, bolo sewu, aji bondowoso merupakan teknologi internal yang ilmiyah dan bisa dipelajari. Karena kita selama ini mengubur filosofi dasar peradaban kita, dan terpengaruh filosofi peradaban orang lain, maka kita sering menuduh apa yang sejatinya dari peradaban kita sendiri sebagai benda asing yang penuh khayalan.</p>
<p>Ciri khas dari peradaban timur, khususnya Jawa, atau lebih lamanya peradaban Atlantis selalu menggunakan teknologi internal, dan menomer buncitkan teknologi eksternal, sehingga manusia timur cenderung lebih mandiri dibandingkan dengan manusia barat. Untuk mengubah suhu ruangan seseorang yang biasa semedi akan bisa mengatur suhu yang melingkupi sekelilingnya. Udara akan berubah jadi hangat saat udara penuh kandungan air dan dingin, sebaliknya berubah menjadi dingin saat tingkat kepanasan suhu naik. Maka jangan heran apabila para pertapa di lereng Himalaya tak pernah terlintas dalam pikiran mereka untuk membeli jaket, apalagi memakainya. Berbeda manusia pengamal ilmu ketergantungan dengan teknologi eksternal. Mereka selalu akan tergantung kepada AC, Listrik, Kipas Angin dll.</p>
<p>Para pendekar dulu dalam cerita sandiwara di radio-radio selalu mudah untuk menempuh perjalanan jauh, dengan merapal ajian saipi angin sudah dapat merubah bobot tubuhnya menjadi laksana kapas yang bisa diterbangkan oleh angin. Hal itu bukan cerita khayalan tetapi benar-benar terjadi pada jaman dahulu, karena mereka semua pengamal ilmu laku teknologi internal.</p>
<p>Hukum Teknologi internal ini seamin dengan pendapat Iqbal tentang tiga maqom pengendalian seorang wali. Iqbal berujar, bahwa seseorang yang sudah lulus mengendalikan nafsu dirinya, maka dia akan tambah maqam, diantaranya ia bisa merubah, mengendalikan orang lain. Maka pada maqam lebih lanjut seseorang bisa mengendalikan alam lingkungannya. Maka tak heran apabila dulu sempat diceritakan tentang seorang wali yang tahu berapa daun pepohonan yang akan jatuh pada esok hari. Lebih lanjut, ketika seseorang mencapai pada maqam yang lebih tinggi, malaikat Izrail pun akan berkonsultasi kepadanya saat jatah hidup semakin sempit, &#8220;kira-kira mau dicopot kapan nyawa dari tubuh tuan.&#8221; demikian Izrail menawarkan.</p>
<p>yang perlu dilakukan, khususnya oleh generasi sekarang adalah menggali segala macam aspek hidup yang itu berasal dari asli filosofi peradaban kita. Filsafat yang selama ini kita pelajari dan mempengaruhi pikiran kita adalah mayoritas hasil olah pikir peradaban barat. Padahal filsafat atlantis dengan filsafat yang selama ini mempengaruhi pola pikir kita adalah sangat berbeda.</p>
<p>Filsafat hidup yang perlu digali oleh anak cucu bangsa Atlantis (Indonesia) adalah kata keadilan. Kita tidak punya kata dasar: adil, sebagaimana adil dalam bahasa Inggris yang berarti <em>justice</em>. Kata adil diserap dari bahasa Arab yang berarti <em>al-adl</em>, yang kita punyai adalah kata selaras. Kalau seandainya dalam peradaban kita tidak mempunyai kata adil yang asli dari peradaban kita, dan yang ada kata selaras. Maka perilaku manusia, bangsa, dan peradabannya pun lebih mementingkan keselarasan dibandingkan dengan keadilan.</p>
<p>Koruptor secara ramai-ramai dengan santai tanpa masalah maling uang rakyat tanpa memperhatikan keadilan, tetapi menjadi masalah ketika uang itu tidak dibagikan dengan orang-orang disekelilingnya, karena hal itu dirasa tidak selaras. Kalau uang hasil korupsi tidak dibagikan merata, Mesti ada yang bilang &#8220;mana uang dengarnya.&#8221; selama kita belum menggali kata, peradaban keadilan dari peradaban autentik Indonesia, maka selama itu pula kita tidak mementingkan peradaban keadilan.</p>
<p>Kita sebagai peradaban awal dunia, maka layaknya kebo yang tak boleh nyusu kepada gudel-gudel peradaban lainnya. Kita jangan asing di rumah sendiri, maka kalau kita asing dengan filosofi kita sendiri, bukti bahwa kita belum menemukan jati diri kita. Sehingga kita mau mengembik, berkokok, atau mengerik itu tergantung identifikasi jati diri kita dan peradaban kita. Kalau peradaban kita itu sebagai peradaban macan maka tak pantaslah kita berkokok laksana ayam, dan mengembik seperti kambing. Sudah saatnya peradaban kita mengaum!!!</p>
<p><em>Wallahu alaam bimuraadihi</em>.</p>
<p>Paesan, 22 Januari 2010</p>
<p>Ahmad Saifullah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/filsafat-kebo-nusu-gudel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Filsafat Islam Dan Pengaruhnya Terhadap Ilmu Pengetahuan</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/filsafat-islam-dan-pengaruhnya-terhadap-ilmu-pengetahuan/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/filsafat-islam-dan-pengaruhnya-terhadap-ilmu-pengetahuan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 23:57:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat islam]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh filsafat terhadap pemikiran islam]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh islam terhadap ilmu pengetahuan di dunia barat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2229</guid>
		<description><![CDATA[Dari segi bahasa, Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu gabungan dari kata Philo yang artinya cinta, dan Sofia yang artinya kebijaksanaan, atau pengetahuan yang mendalam. Jadi dilihat dari akar katanya,...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2242" title="al-kindi" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2009/10/al-kindi1.jpg" alt="al-kindi" width="277" height="383" />Dari segi bahasa, Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu gabungan dari kata Philo yang artinya cinta, dan Sofia yang artinya kebijaksanaan, atau pengetahuan yang mendalam. Jadi dilihat dari akar katanya, filsafat berarti ingin tahu dengan mendalam atau cinta terhadap kebijaksanaan.</p>
<p>Adapun makna filsafat menurut terminologi adalah berfikir secara sistematis, radikal dan universal, untuk mengetahui hakekat segala sersuatu yang ada, seperti hakekat alam, hakekat manusia, hakekat masyarakat, hakekat ilmu, hakekat pendidikan dan seterusnya. Dengan demikian maka muncullah apa yang disebut filsafat alam, filsafat manusia, filsafat ilmu dan sebagainya.</p>
<p>dalam pada itu perlu juga dijelaskan tentang ciri-ciri berfikir yang filosofis. Yaitu harus bersifat sistematis, maksudnya fikiran tersebut harus lurus, tidak melompat-lompat sehingga kesimpulan yang dihasilkan oleh pemikiran tersebut benar-benar dapat dimengerti. Kedua harus bersifat radikal, maksudnya harus sampai ke akar-akarnya sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk dipikirkan. Ketiga harus bersifat universal yaitu menyelurug, melihat hakekat sesuatu dari hubungannya dengan yang lain dan tidak dibatasi untuk kurun waktu tertentu.</p>
<p>Adapun pengertian Islam dari segi bahasa adalah selamat sentausa, berserah diri, patuh, tunduk dan taat. seseorang yang bersikap demikian disebut Muslim, yaitu orang yang telah menyatakan dirinya taat, menyerahkan diri, patuh dan tunduk kepada Alloh Swt.</p>
<p>Islam menurut terminologi adalah Agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan oleh Alloh kepada manusia melalui nabi Muhammad sebagai Rasul Allah.</p>
<p>dari pengertian-pengertian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Filsafat Islam adalah berfikir secara sistematis, radikal dan universal tentang hekekat segala sesuatu berdasarkan ajaran Islam. Singkatnya filsafat Islam itu adalah Filsafat yang berorientasi kepada Al Qur&#8217;an, mencari jawaban mengenai masalah-masalah asasi berdasarkan wahyu Allah.</p>
<p>Jadi ciri utama filsafat Islam adalah berfikir tentang segala sesuatu, dapat berfikir teratur, tidak cepat puas dalam penemuan sesuatu,selalu bertanya dan saling menghargai pendapt orang lain.</p>
<p>Filsafat adalah induknya segala ilmu, sebagai induk segala ilmu, maka filsafat mempengaruhi ilmu-ilmu lainnya, seperti ilmu fiqih, ilmu kalam, tafsir dan sebagainya. Berbicara mengenai hukum fiqih, maka fiqih sendiri bengandung arti mengerti dan memahami. Untuk memahami diperlukan pikiran dan penggunaan akal. Selain itu fiqih juga memakai ijtihad yang pada intinya adalah pemakaian akal untuk dalil-dalil yang bersifat dzonniy dan terhadap kasus-kasus hukum yang tidak jelas atau sama sekali tidak ada dasarnya baik dalam Al Qur&#8217;an maupun Al Hadits.</p>
<p>Demikian juga untuk menafsirkan Al Qur&#8217;an, menjelaskan hubungan manusia dengan Alloh dalam ilmu Tasawwuf, menjelaskan kandungan hadits, banyak sekali digunakan pemikiran. Dengan demikian filsafat sangat besar pengaruhnya terhadap ilmu pengetahuan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/filsafat/filsafat-islam-dan-pengaruhnya-terhadap-ilmu-pengetahuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

