<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tanbihun Online &#187; Tasawuf</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/category/tasawwuf/tasawuf/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 15:30:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Dosa Besar Ke-7: Taruhan Atau Judi</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/dosa-besar-ke-7-taruhan-atau-judi/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/dosa-besar-ke-7-taruhan-atau-judi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 00:16:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Bahaya Judi]]></category>
		<category><![CDATA[macam-macam dosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=35002</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Melanjutkan pembahasan sebagian dosa-dosa besar yang ke tujuh adalah berjudi atau taruhan. Syaikh Ahmad Rifa’I menyebutnya dalam kitab Ri’ayah al-Himmah jilid 2 bab sebagian dosa-dosa besar “Kaping pitu totohan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/11/judi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-35004" title="judi" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/11/judi-300x196.jpg" alt="" width="300" height="196" /></a>Tanbihun</strong>- Melanjutkan pembahasan sebagian dosa-dosa besar yang ke tujuh adalah berjudi atau taruhan. Syaikh Ahmad Rifa’I menyebutnya dalam kitab Ri’ayah al-Himmah jilid 2 bab sebagian dosa-dosa besar<strong> “Kaping pitu totohan kinaweruhan-Dadiyo kedik  arto gede kadosan”. </strong></p>
<h5 style="text-align: justify;">Definisi Taruhan atau judi</h5>
<p style="text-align: justify;">Cukup banyak definisi taruhan atau judi yang sudah masyhur, diantaranya adalah; <strong>DR Yusuf Qardhawi</strong> yang mengatakan <em>&#8220;semua permainan yang didalamnya ada perjudian, maka hukumnya haram. Sedang apa yang dinamakan judi adalah segala permainan yang mengandung untung atau rugi bagi pelakunya&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibrahim Anis</strong> Al-Mu’;jam Al-Wasith hal 7589, adalah <em>&#8220;setiap permainan (la’bun) yang mengandung taruhan dari kedua pihak (muraahanah).&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Al-Jurani</strong> dalam At-Ta’rif hal. 17910, judi adalah <em>&#8220;setiap permainan yang didalamnya di isyaratkan adanya suatu (berupa material) yang diambil dari pihak yang kalah kepada pihak yang menang.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ali Ash-Shabuni</strong> dalam Rawa’i Al-Bayanfi Ayat Al-Ahkam(I/279), judi adalah <em>&#8220;setiap permainan yang menimbulkan keuntungan (riba) bagi satu pihak dan kerugian (khasarah) bagi pihak lainnya&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Secara bahasa, judi adalah mempertaruhkan sejumlah uang dalam suatu permainan. Dalam Fatwa al Azhar dijelaskan, judi dalam bahasa Arab &#8220;al maisir&#8221; atau &#8220;al qimmar&#8221;. Dikatakan &#8220;al maisir&#8221; yang bermakna mudah. Karena dengan berjudi seseorang bisa mengambil harta orang lain dengan cara yang sangat mudah. Dalam judi, beberapa orang akan bertaruh dengan hartanya dan melakukan sebuah permainan seperti dadu, tebak angka atau yang lain. Kemudian yang menang akam mengambil kumpulah harta tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa definisi tersebut saling melengkapi, sehingga dari kesemuanya dapat disimpulkan definisi judi yang secara menyeluruh. Jadi, judi adalah segala permainan yang permainan yang mengandung unsur taruhan (harta/materi) dimana pihak yang menang / untung mengambil (merampas) harta material dari pihak yang kalah.</p>
<h5 style="text-align: justify;">Berdasarkan definisi itu, dalam judi ada 3 (tiga) unsur aktiviti utama :</h5>
<ol>
<li>
<p style="text-align: justify;">Pertama, adanya taruhan harta yang berasal dari para pihak yang sedang berjudi.</p>
</li>
<li style="text-align: justify;">Kedua, ada suatu permainan, untuk menentukan pihak yang menang dan yang kalah.</li>
<li>
<p style="text-align: justify;">Ketiga, pihak yang menang mengambil harta yang menjadi taruhan(murahanah), sedang pihak yang kalah akan kehilangan hartanya.</p>
</li>
</ol>
<h5 style="text-align: justify;">Judi Kan Tidak Beda Dengan Dagang, Sam-sama Cari Untung?</h5>
<p style="text-align: justify;">Perbincangan masalah judi cukup sempat menghangat juga, ada yang berpendapat bahwa judi tak ada bedanya dengan berdagang, sama-sama mencari untung, sama-sama mempertaruhkan harta, seperti orang main saham, dia bertaruh juga. Anggapan macam ini tak jauh beda dengan anggapan orang yang menyamakan antara riba dan dagang, meskipun keduanya ada kesamaan mencari keuntungan, namun ada perbedaan yang cukup prinsipil, dan itu sangat jelas dibedakan oleh Alloh, adapun firman yang berhubungan dengan taruhan atau judi adalah firman Alloh;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.&#8221;</em> (Al-Maidah : 90)</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap kita ingin mencari keuntungan, tapi jangan sampai keuntungan dengan cara dan versi kita yang bertentangan dengan aturan baku yang telah digariskan oleh Alloh, karena pada hakikatnya apapun yang dilarang-Nya pasti membawa dampak buruk bukan saja bagi diri pelakuknya, juga berakibat buruk dan sangat fatal bagi keluarga, lingkungan dan masyarakat. Semoga kita semua dijauhkan dari keinginan dan godaan taruhan sekecil apapun. Amin.(zid)</p>
<p style="text-align: justify;">Referensi:</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/download/kitab-rifaiyah/download-ebook-kumpulan-kitab-rifaiyah/" target="_blank">Ri&#8217;ayah Al-himmah jilid 2</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.rakanmasjid.com/artikel/28-qalam-mt-rm/608-judi-dan-kesannya-kepada-masyarakat.html" target="_blank">rakan masjid dot com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/dosa-besar-ke-7-taruhan-atau-judi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dosa Besar Ke-6: Mencuri atau Korupsi</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/dosa-besar-ke-6-mencuri-atau-korupsi/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/dosa-besar-ke-6-mencuri-atau-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 16:42:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Bahaya mencuri dan korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[macam-macam dosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=33694</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Melanjutkan artikel tentang sebagian dosa-dosa besar yang empat puluh (baca: Dosa Besar Ke-1 Membunuh Orang Islam, Dosa Besar Ke-2 Zina,Homoseksual dan Lesbian,  Dosa Besar Ke-3 Khamer (Minuman Keras ), Dosa...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/Karikatur-bahaya-Korupsi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-33695" title="Karikatur bahaya Korupsi" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/Karikatur-bahaya-Korupsi-300x209.jpg" alt="Karikatur Koruptor" width="300" height="209" /></a>Tanbihun</strong>- Melanjutkan artikel tentang sebagian dosa-dosa besar yang empat puluh (baca: Dosa Besar Ke-1 <a title="Membunuh Orang Islam" href="../tasawwuf/tasawuf/membunuh-orang-islam/" target="_blank">Membunuh Orang Islam</a>, Dosa Besar Ke-2 <a title="Zina,Homoseksual dan Lesbian" href="../tasawwuf/tasawuf/zinahomoseksual-dan-lesbian/" target="_blank">Zina,Homoseksual dan Lesbian</a>,  Dosa Besar Ke-3 <a title="Khamer (Minuman Keras )" href="../tasawwuf/tasawuf/khamer-minuman-keras/" target="_blank">Khamer (Minuman Keras )</a>, Dosa Besar Ke-4 <a title="Dosa Besar Memakan Harta Anak Yatim" href="../tasawwuf/tasawuf/dosa-besar-memakan-harta-anak-yatim/" target="_blank">Dosa Besar Memakan Harta Anak Yatim</a>, Dosa Besar Ke-5 <a title="Dosa Besar Ke-5:Makan Harta Riba" href="../tasawwuf/tasawuf/dosa-besar-ke-5makan-harta-riba/" target="_blank">Makan Harta Riba</a> ) Dosa besar ke-6 adalah <a title="Dosa Besar Ke-6: Mencuri atau Korupsi" href="http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/dosa-besar-ke-6-mencuri-atau-korupsi/" target="_blank">mencuri</a> ,mengambil harta atau milik orang lain dengan sembunyi-sembunyi, korupsi termasuk dalam kategori mencuri dengan samar-samar. Syaikh Ahmad Rifa’i menyebutkan dalam kitab <a title="Mengenal Kitab-Kitab Syaikh Ahmad Rifa’i: Kitab Ri'ayah Al-Himmah" href="http://tanbihun.com/download/kitab-rifaiyah/mengenal-kitab-kitab-syaikh-ahmad-rifa%e2%80%99i-kitab-riayah-al-himmah/" target="_blank">Ri’ayah al-himmah jilid 2</a> ;</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>“kaping enem nyolong arto nyelimpe nyelamur,seqodar sejampel setali reregan”</strong></span></p>
<p><em>“dosa besar ke enam adalah mencuri harta dengan sembunyi-sembunyi, meski sekedar satu rupiah atau sedikit”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Islam melarang keras aksi pencurian termasuk juga korupsi, bahaya yang ditimbulkannya sangat besar, apalagi jika pencurian (baca: korupsi) sudah menjadi sebuah system, maka tanpa perlawanan yang sungguh-sungguh dari segenap lapisan masyarakat akan sulit memberantasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita simak firman Alloh SWT yang berhubungan dengan masalah pencurian, didalam surah Ali &#8216;Imran  ayat 161 disebutkan :</p>
<h2 style="text-align: right;" align="right">وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.</em>(QS. 3:161)</p>
<p><strong>Asbabun Nuzul</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada perang Badar ada selembar selimut merah dari barang rampasan hilang sebelum dibagi-bagi. Sebagian dari orang-orang munafik mengatakan bahwa selimut itu mungkin diambil oleh Rasulullah saw atau pasukan pemanah. Tidak pantas dan tidak mungkin terjadi Rasulullah saw berbuat khianat mengambil barang ganimah (rampasan dalam peperangan) Hal itu bertentangan dengan sifat-sifat kemaksuman Nabi (terpeliharanya dari perbuatan yang tercela), akhlaknya yang tinggi yang menjadi contoh utama. Barang siapa berbuat khianat serupa itu maka ia pada hari kiamat akan datang membawa barang hasil pengkhianatannya dan tidak akan disembunyikannya. Setiap orang akan menerima balasan atas amal perbuatannya baik atau buruk, dan dalam hal balasan itu ia tidak akan teraniaya. Seperti orang yang berbuat baik dikurangi pahalanya atau orang yang berbuat buruk di tambah siksaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang dimaksud dengan <em>ghulul</em> pada ayat 161 ialah mengambil secara sembunyi-sembunyi milik orang banyak. Jadi pengambilan itu sifatnya semacam mencuri. Seorang Rasul sifatnya antara lain amanah, dapat dipercaya. Karena itu sangat tidak mungkin Rasulullah saw berbuat ghulul bahkan dalam masalah ghulul ini</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw pernah bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right;">يا أيهاالناس من عمل لنا منكم عملا فكتم محيطا فما فوقه فهو غل يأتي به يوم القيامة</h2>
<p style="text-align: justify;">Artinya:<br />
<em>&#8220;Wahai sekalian manusia! barang siapa di antaramu mengerjakan sesuatu untuk kita, kemudian ia menyembunyikan sehelai barang jahitan atau lebih dari itu, maka perbuatan itu ghulul harus dipertanggungjawabkan nanti pada hari kiamat.</em> &#8221; (HR Muslim dan Abu Daud)</p>
<p>Sayidina Umar bin Khattab pernah meriwayatkan:</p>
<h2 style="text-align: right;">لما كان يوم خيبر أقبل نفر من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا: فلان شهيد وفلان شهيد حتى أتى على رجل فقالوا: فلان شهيد. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كلا إني رأيته فى النار في بردة غلها أو عباءة ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذهب فناد فى الناس إنه لا يدخل الجنة إلا المؤمنون</h2>
<p style="text-align: justify;">Artinya:<br />
<em>Bahwa setelah selesai perang Khaibar beberapa sahabat menghadap Rasulullah saw seraya mengatakan: Si A mati syahid, Si B mati syahid dan sampai mereka menyebut Si C mati syahid Rasul menjawab: &#8220;tidak, saya lihat Si C ada di neraka, karena ia mencuri sehelai baju&#8217;. Akhirnya Rasul menyuruh mengumumkan: &#8220;bahwa tidak akan masuk surga, kecuali orang-orang mukmin&#8221;.</em>  (HR Muslim.)</p>
<p><strong>Referensi :</strong></p>
<p><a title="Download Kitab Ri'ayah Al-Himmah" href="http://tanbihun.com/download/kitab-rifaiyah/download-ebook-kumpulan-kitab-rifaiyah/" target="_blank"><span style="color: #333399;">Ri’ayah al-Himmah Jilid 2 bab dosa-dosa besar</span></a></p>
<p><span style="color: #333399;"><a title="Tafsir Al-Qur'an Depag" href="http://c.1asphost.com/sibin/Alquran_Surah.asp?pageno=9&amp;SuratKe=3" target="_blank">Terjemah Tafsir Online Al-Qur’an Depag</a> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/dosa-besar-ke-6-mencuri-atau-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tolong Kembalikan Rasa Takutku</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/tolong-kembalikan-rasa-takutku/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/tolong-kembalikan-rasa-takutku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 11:57:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Faried</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[cara mendatangkan rasa takut kepada allah]]></category>
		<category><![CDATA[takut kepada Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=32534</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun - Rasa takut disini adalah pergerakan hati, ia hadir sebagai penyeimbang saat manusia mulai lupa karena terlena dan sibuk oleh dunia. Juga rasa takut  yang bisa menumbuhkan kekhawatiran akan ancaman...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><em><a href="http://tanbihun.com/?attachment_id=32527" rel="attachment wp-att-32527"><img class="alignleft size-medium wp-image-32527" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/ulama-300x237.jpg" alt="" width="300" height="237" /></a></em>Tanbihun</strong> - Rasa takut disini adalah pergerakan hati, ia hadir sebagai penyeimbang saat manusia mulai lupa karena terlena dan sibuk oleh dunia. Juga rasa takut  yang bisa menumbuhkan kekhawatiran akan ancaman dan adzab Allah, sehingga ketika manusia mulai melupakan rasa ini, stabilitas keimanan dan rasa kehambaan akan semakin terkikis.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata <em>Khasyyah</em>, <em>wajal</em>, <em>rahbah</em> dan <em>haibah</em> adalah kata-kata memiliki makna yang sama, namun tidak sinonim dengan kata “takut” dalam segala sudutnya, tetapi kata <em>Khasyyah</em> lebih spesifik dari kata <em>khauf</em>, maka kata <em>khasyyah </em>adalah takut akan Allah dengan kualitas ilmu akan sifat-sifatNya sebagaimana Allah Swt berfirman:</p>
<h2 style="text-align: justify;" align="right">إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ</h2>
<p style="text-align: justify;">“<em>Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.</em>” (Fathir: 28)</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Wajal </em>adalah gejolak hati karena mengingatNya, yang karena kekuasaan dan azabNya menjadi ditakuti.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Rahabah </em>adalah lari dan menjauh dari hal-hal yang dibenci.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan <em>Haibah </em>adalah rasa takut yang dibarengi dengan pengakuan akan kebesaran Allah dan pengagungan kapadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn al-Qayyim –<em>rahimahullah-</em> Berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rasa takut (khauf) bagi ummat beriman secara umum, dan <em>khasyyah </em>bagi para ulama yang berpengetahuan, <em>haibah</em> bagi para pecinta, penghormatan bagi mereka yang senantiasa mendekatkann diri, dan munculnya <em>khasyyah </em>serta <em>khauf </em> tergantung pada kadar ilmu dan pengetahuan seseorang.&#8221; (Madarij al-Salikin.)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>“Sekali lagi, aku mohon kembalikan rasa takutku padaNya”.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sekali lagi, tolong kembalikan airmata takutku padaNya”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Pernahkan kita berfikir dan merasakan tingkat kehawatiran yang seperti itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas ditujukan kepada siapa pertanyaan itu, yang jelas pertanyaan  itu lahir dari hamba Allah yang begitu besar merasakan kehawatiran atas hilangnya kenikmatan anugerah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Ka’bul Ahbar berkata, “Sungguh, aku lebih suka menangis karena Allah, lalu air mataku mengalir diatas pipiku, daripada bersedekah dengan emas seberat timbanganku.” (Hilyatul Auliya&#8217; 5/366)</p>
<p style="text-align: justify;">Juga Syaikh Sufyan berkata: “Menangis itu ada 10 macam, yakni 9 karena selain Allah dan satu karena Allah. Bila menangis karena Allah itu datang sekali dalam setahun, maka itu sudah terbilang banyak.” (Hilyatul Auliya&#8217; 7/11)</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai seorang awam mungkin kita berfikir, kenikmatan seperti apa yang beliau dapatkan hingga sampai membuat ungkapan seperti itu? Sebegitu nikmatnya kah? Sebegitu sulitnya kah menghadirkan rasa itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, memang begitu nikmat dan teramat sulit menghadirkan rasa itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang yang menjadi pertanyaan “mengapa bisa demikian?” karena hati kita terlalu keras dan membeku hingga susah menghadirkan rasa itu. Lagi-lagi yang menjadi takarannya adalah seberapa besar rasa mahabbah kita kepada Robbul ‘Izzah yakni Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan siapakah sebenarnya yang sudah merampas? atau jangan-jangan  kita belum pernah kehilangan sama sekali, karena kita memang belum sekalipun mendapat anugerah itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia sendirilah yang merampas kenikmat munajatnya, dengan sifat tamaknya ia tutup pintu hidayah, dengan sifat riya’nya ia tarik kembali amal-amalnya hingga tidak pernah sampai ke Allah, dengan sifat takabburnya ia merasa sudah tidak lagi butuh dengan pertolongan Allah, dengan sifat ujub dan sum’ahnya ia sia-siakan setiap ibadahnya, dengan sifat hubbuddunya-nya ia lupa bahwa itu hanya akan membawanya kepada kematian hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Uwais al Qarni pernah berkata seperti yang tercantum dalam Bahjatul Majalis karya Ibnu Abdil Barr:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Memohonlah kepada Allah supaya memperbaiki hati dan niatmu, karena tidak ada sesuatu yang paling</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>berat untuk kau obati selain keduanya. Ketika hatimu sedang menghadap (Allah) maka seketika mungkin</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>untuk berpaling, maka ketika menghadap itulah engkau harus merampasnya supaya tidak berpaling.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hingga Rasulullah pernah bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">“Puncak kebijaksanaan ialah takut kepada Allah. Sebaik-baik yang tertanam dalam hati adalah keyakinan. Keragu-raguan (dalam beriman) termasuk kekufuran”.  (HR. Al-Baihaqi)</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai penutup, mari  tela’ah kembali hati. Masih ada kah rasa takut kita kepada Allah? Kapan terahir kali kita teteskan air mata takut meski  itu hanya sebesar kepala lalat karena takut juga rindu kepada Allah?</p>
<p style="text-align: justify;">Di banding cucuran airmata yang keluar karena menangisi dunia? Juga ketakutan yang teramat sangat ketika nikmat dunia diangkat/diambil lagi oleh sang pencipta?</p>
<p style="text-align: justify;">Karena “Barangsiapa takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu  takut kepadanya. Barangsiapa tidak takut kepada Allah, maka Allah menjadikannya takut kepada segala sesuatu”.  (HR. Al-Baihaqi)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Ilaahi Anta Maqsuudi Waridlooka Mathluubi&#8221; (wallahu a&#8217;lam)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/tolong-kembalikan-rasa-takutku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat &#8216;Ujub (Berbangga Diri)&amp; Penyebabnya</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/hakikat-ujub-berbangga-diri-penyebabnya/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/hakikat-ujub-berbangga-diri-penyebabnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jun 2011 03:57:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Bahaya 'Ujub]]></category>
		<category><![CDATA[Definisi 'Ujub]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Terecela]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6458</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; ‘Ujub secara bahasa adalah membanggakan (mengherankan) diri dalam hati (bathin), sedangkan dalam istilah diartikan memastikan (wajib) keselamatan badan dari siksa akhirat.  ‘Ujub termasuk dalam kategori dosa besar, dimana...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/berbangga-diri.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-6461" title="berbangga diri" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/berbangga-diri.jpg" alt="" width="156" height="178" /></a>Tanbihun</strong> &#8211; ‘Ujub secara bahasa adalah <strong><em>membanggakan (mengherankan)</em></strong> diri dalam hati (bathin), sedangkan dalam istilah diartikan memastikan (wajib) keselamatan badan dari siksa akhirat.  ‘Ujub termasuk dalam kategori dosa besar, dimana dalam hatinya bercongkol suatu sifat yang dapat menghilangkan kekuasaan Allah, termasuk dalam segala perbuatan yang telah Allah ciptakan (sifat baik dan buruk)<a rel="nofollow" href="http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c7r9l0m8o2rsv#_ftn2">[1]</a>, maka dari itu Allah berfirman dalam surah Al-A’raf  ayat 99:</p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ</strong></h3>
<p style="text-align: justify;">“Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah <em>(yang tidak terduga-duga)</em>? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi”.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pemaparan diatas dapat kita fahami bahwa ‘ujub yaitu suatu sikap membanggakan diri, dengan memberikan satu penghargaan yang terlalu berlebihan kepada kemampuan diri dalam hal menghindar dari siksa neraka. Sikap ini tercermin pada rasa tinggi diri <em>(superiority complex)</em> dalam bidang keilmuan, amal perbuatan ataupun kesempurnaan moral. Sehingga sampai pada sebuah kesimpulan sudah tidak memperdulikan bahwa sebenarnya Allah-lah yang membuat kebaikan ataupun keburukan, serta Dia-lah yang melimpahkan kenikmatan yang nyata<a rel="nofollow" href="http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c7r9l0m8o2rsv#_ftn3">[2]</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka dari itu, Allah kembali mengingatkan kepada orang-orang yang beriman mengenai sifat ‘ujub ini dalam surah Al-An’am ayat 82:</p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ</strong></h3>
<p style="text-align: justify;">“ Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman <em>(syirik)</em>, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat Syaikh Ahmad Rifai seiring dengan hadith Nabi SAW yang diriwatakan oleh <strong>Imam Tabrani</strong>, sebagaimana yang telah di kutip oleh <strong>Imam al-Ghazali</strong>, yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;">“Tiga perkara yang membinasakan yaitu: kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman<em>(takjub) </em>seseorang kepada dirinya sendiri <strong><em>(‘Ujub<a rel="nofollow" href="http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c7r9l0m8o2rsv#_ftn4"><strong>[3]</strong></a>)</em></strong>”.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang ahli hikmah berkata: “Ada seorang yang terkena penyakit ‘ujub, akhirnya ia tergelincir dalam kesalahan karena terlalu ujub terhadap dirinya sendiri. Ada sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dari orang itu, ketika ia berusaha jual mahal dengan kemampuan dirinya, maka Imam Syafi’i pun membantahnya seraya berseru di hadapan khalayak ramai: “<em>Barangsiapa yang mengangkat-angkat diri sendiri secara berlebihan, niscaya Allah SWT akan menjatuhkan martabatnya</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang terkena penyakit ujub akan memandang remeh dosa-dosa yang dilakukannya serta menganggapnya bagai angin lalu. Nabi SAW telah mengabarkan kepada kita dalam sebuah hadits: <em>“Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai dapat diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang siap menimpanya.” </em><strong>(HR. Al-Bukhari)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Bisyr Al-Hafi</em></strong> menjelaskan ‘ujub sebagai berikut: “ <em>Menganggap hanya amalanmu saja yang banyak dan memandang remeh amalan orang lain</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Sufyan Ats-Tsauri</em></strong> meringkas makna ‘ujub sebagai berikut: “Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih <em>wara’</em> dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Al-Fudhail bin Iyadh</em></strong> berkata: <strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>إذْظَفَرَ اِبْلِيْسُ مِنْ اِبْنِ آدَمَ بِاِحْدَىْ ثَلاَثٍ خِصَالٍ قَالَ: لاَأطْلُبُ غَيْرَهَا: إعْجَابُهُ بِنَفْسِهِ، </strong></h3>
<h3 style="text-align: right;"><strong>وَاسْتِكْثَارُهُ عَمَلَهُ، وَنِسْيَانُهُ ذُنُوْبَهُ</strong><strong> </strong></h3>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Iblis jika ia dapat melumpuhkan bani Adam dengan salah satu dari tiga perkara ini: ‘ujub terhadap diri sendiri, menganggap amalnya sudah banyak dan lupa terhadap dosa-dosanya. Dia (Iblis) berkata: “Saya tidak akan mencari cara lain.” Semua perkara di atas adalah sumber kebinasaan. Berapa banyak lentera yang padam karena tiupan angin? Berapa banyak ibadah yang rusak karena penyakit ‘ujub?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa seorang lelaki berkata: “Allah tidak akan mengampuni si Fulan! Maka AllahSWT berfirman: “<em>Siapakah yang lancang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni Fulan?! Sungguh Aku telah mengampuninya dan menghapus amalanmu!” </em><strong>(HR. Muslim)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lebih jauh, Syaikh Ahmad Rifa’I menukil dari pendapat <strong>Imam al-Ghazali </strong> dalam kitabnya <strong><em>Ihya’ Ulum al-Diin, Jilid III halaman 390-391<a rel="nofollow" href="http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c7r9l0m8o2rsv#_ftn5"><strong>[4]</strong></a>, </em></strong>yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>وَحَقِيْقَةُ الْعُجْبِ تَكَبُّرٌ يَحْصُلُ فِى الْبَاطِنِ بِتَحَيُّلِ كَمَالٍ مِنْ عِلْمٍ وَعَمَلٍ , فَإِنْ كَانَ خَائِفًا عَلَى زَوَالِهِ فَهُوَ غَيْرُ مُعْجِبٍ . وَإِنْ كَانَ يَفْرَحُ بِكَوْنِهِ نِعْمَةً مِنَ اللهِ فَهُوَ لَيْسَ مُعْجِبًا بَلْ هُوَ مَسْرُوْرٌ بِفَضْلِ اللهِ, وَإِنْ كَانَ نَاظِرًا إِلَيْهِ مِنْ حَيْثُ هُوَ صِفَةٌ غَيْرَ مُلْتَفِتٍ إِلَى إِمْكَانِ الزَّوَالِ وَلَا إِلَى الْمُنْعِمِ بِهِ إِلَى صِفَةِ نَفْسِهِ فَهَذَا الْعُجْبُ وَهُوَ مِنَ الْمُهْلِكَاتِ وَعِلاَجُهُ أَنْ يَتَأَمَّلَ فِى الْعَاقِبَةِ, وَأَنَّ بَلْعَامَ كَيْفَ خُتِمَ بِالْكُفْرِ وَكَذَلِكَ إِبْلِيْسَ, فَمَنْ تَأَمَّلَ فِى إِمْكَانِ سُوْءِ الْخَاتِمَةِ وَإِنَّهُ مُمْكِنٌ فَلاَ يَعْجُبُ بِشَيْئٍ مِنْ صِفَاتِهِ .</strong></h3>
<p style="text-align: justify;">“Bahwa hakikat ‘ujub adalah kesombongan yang terjadi dalam diri seseorang karena menganggap adanya kesempurnaan amal dan ilmunya. Apabila seseorang merasa takut kesempurnaan <em>(ilmu dan amalnya),</em> itu akan dicabut oleh Allah, maka berarti ia tidak bersifat ‘ujub.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga apabila ia merasa gembira karena menganggap dan mengakui bahwa kesempurnaan merupakan suatu nikmat dan karunia Allah, maka ia juga bukan masuk ke dalam jenis ‘ujub.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi sebaliknya, apabila ia menganggap bahwa kesempurnaan itu sebagai sifat dirinya sendiri tanpa memikirkan tentang kemungkinan kesempurnaan itu lenyap, serta tidak pernah memikirkan siapa Sang pemberi kesempurnaan tersebut, maka inilah yang dinamakan ‘ujub. Sifat ini sangat membahayakan bagi setiap manusia, karena ia mengajak kepada lupa dosa-dosa yang telah dibuatnya dan mengesampingkan <em>(acuh) </em>terhadap dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Satu-satunya jalan untuk terhidar dari sifat ‘ujub ini, kita selalu mencoba mengingat kembali apa yang telah kita lakukan supaya cepat kembali ke pangkal jalan <em>(insyaf)</em>, sebagaimana <strong>Ulama Bal’am</strong> dan<strong><em> Iblis La’natullah ‘alaih </em></strong>yang ibadahnya sudah mencapai ribuan tahun pun pengakhiran hidupnya dengan pengakhiran yang buruk<strong><em> (Su’u al-Khotimah),</em></strong> Karena, sifat ‘ujub menjadikan hati seorang mukmin menjadi ingkar akan segala nikmat yang telah Allah berikan padanya <strong><em>(kufr al-nikmat).</em>”</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Supaya kita lebih memahami makna yang tersirat dari perkataan Imam al-Ghazali  di atas, para ulama ahli sufi dengan jelas memberikan suatu gambaran kepada kita, yaitu<a rel="nofollow" href="http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c7r9l0m8o2rsv#_ftn6">[5]</a>:</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>لَا تُفَرِّحْكَ الطَّاعَةُ لِأَنَّهَا بَرَزَتْ مِنْكَ لِأَنَّهُ يُوْرِثُ الْعُجْبَ وَالْكِبْرَ وَإِهْمَالَ الشُّكْرِ</strong></h3>
<h3 style="text-align: right;"><strong>وَافْرَحْ بِهَا لِأَنَّهَا بَرَزَتْ مِنَ اللهِ إِلَيْكَ قُلْ بِفَضْلِ اللهِ الْإِسْلاَمِ وَبِرَحْمَتِهِ الْقُرْأَنِ</strong></h3>
<h3 style="text-align: right;"><strong>فَبِذَالِكَ الْفَضْلُ وَالرَّحْمَةُ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ .</strong><strong> </strong></h3>
<p style="text-align: justify;">“Jangan sesekali merasa diri kita paling taat kepada-Nya, karena ia dapat membawa malapetaka, seperti menganggap diri kita yang paling mulya (‘ujub), takabbur kemudian lupa akan segala nikmat-nikmat-Nya. Dan merasa-lah dalam hati kita, bahwa ketaatan itu sejatinya merupakan pemberian Allah semata, dengan petunjuk-Nya telah memberikan satu karunia cahaya ke-Islam-an dan iman yang diridhai-Nya, dengan kasih sayang-Nya turunlah Al-Quran sebagai pedoman sehingga kita mampu membedakan mana yang hak dan yang bathil, dengan demikian, merasalah bergembira dalam hati atas segala anugerah yang telah Allah limpahkan kepada kita.”</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Sebab-Sebab ‘Ujub<a rel="nofollow" href="http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c7r9l0m8o2rsv#_ftn7"><strong><span style="text-decoration: underline;">[6]</span></strong></a>:</span></strong></h3>
<h4 style="text-align: justify;"><strong>1. Faktor Lingkungan dan Keturunan</strong></h4>
<p style="text-align: justify;">Yaitu keluarga dan lingkungan tempat seseorang itu tumbuh. Seorang insan biasanya tumbuh sesuai dengan polesan tangan kedua orang tuanya. Ia akan menyerap kebiasaan-kebiasaan keduanya atau salah satunya yang positif maupun negatif, seperti sikap senang dipuji, selalu menganggap diri suci dan sebagainya.</p>
<h4 style="text-align: justify;"><strong>2. Sanjungan dan Pujian yang Berlebihan</strong></h4>
<p style="text-align: justify;">Sanjungan berlebihan tanpa memperhatikan etika agama dapat diidentikkan dengan penyembelihan, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:<strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقُ صَاحِبَك</strong>َ</h3>
<p style="text-align: justify;"><em>“Celakalah engkau, engkau telah memotong leher sahabatmu”. </em>(<em>Muttafaq &#8216;alahi</em>)</p>
<p style="text-align: justify;">Seringkali kita temui sebagian orang yang terlalu berlebihan dalam memuji hingga seringkali membuat yang dipuji lupa diri. Pujian adalah <strong><em>fatamorgana</em></strong> yang dihajatkan oleh nafsu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>At-Tsauri</strong> berkata:<strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>فَاِنْ لَمْ تَكُنْ مُعْجِبًا بِنَفْسِكَ فَإِيَّاكَ اَنْ تُحِبَّ مَحْمَدَةَ النَّاسِ وَمَحْمَدَتُهُمْ اَنْ تُحِبَّ اَنْ يُكَرِّمُوْكَ بِعَمَلِكَ، وَيَرَوْا لَكَ بِهِ شَرَفًا وَمَنْزِلَةً فِى صُدُوْرِهِمْ</strong><strong> </strong></h3>
<p style="text-align: justify;"><em>“Apabila kamu sudah tidak &#8216;ujub pada diri, kamu juga mesti menjauhi sifat &#8216;suka dipuji&#8217;. Bukti bahwa kamu suka pujian orang adalah bahwa kamu ingin agar mereka menghormati kamu kerana sesuatu amal yang kamu lakukan dan supaya mereka mengetahui kemuliaan dan kedudukan kamu di hadapan mereka”</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Pujian ditujukan kepada kerja yang kita lakukan atau ucapan yang telah kita sampaikan. Orang memuji mempunyai tujuan tertentu, sedangkan kita sendiri mengetahui hakikat sebenarnya apa yang ada pada diri kita, tetapi kita lupa atau terpedaya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> Fudhail bin &#8216;Iyadh </strong>mengemukakan parameter supaya kita dapat mengukur dan mengetahui hakikat diri sendiri:</p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong> إِنَّ مِنْ عَلاَمَةِ الْمُنَافِقِ اَنْ يُحِبَّ الْمَدْحَ بِمَا لَيْسَ فِيْهِ، </strong></h3>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>وَيَكْرَهَ الذَّمِّ بِمَا فِيْهِ، وَيَبْغَضَ مَنْ يَبْصُرُهُ بِعُيُوْبِهِ</strong><strong> </strong></h3>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya di antara tanda-tanda orang munafik adalah bahwa ingin mendapat pujian dengan perkara yang tidak ada padanya, sedangkan ia membenci terhadap celaan yang ada pada dirinya, dia marah kepada orang yang memandang berbagai kekurangan yang ada pada dirinya”.</em></p>
<h4 style="text-align: justify;"><strong>3. Bergaul Dengan Orang yang Terkena Penyakit Ujub.</strong></h4>
<p style="text-align: justify;">Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang akan mengikuti tingkah laku temannya. Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang jahat adalah seperti orang yang berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi.” </em><strong>(HR. Bukhari Muslim)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Teman akan membawa pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang.</p>
<h4 style="text-align: justify;"><strong>4. Kufur Nikmat dan Lupa Kepada Allah SWT</strong></h4>
<p style="text-align: justify;">Begitu banyak nikmat yang diterima seorang hamba, tetapi ia lupa kepada Allah SWT yang telah memberinya nikmatnya. Sehingga hal itu menggiringnya kepada penyakit ‘ujub, ia membanggakan dirinya yang sebenarnya tidak pantas untuk dibanggakan. Allah SWT telah menceritakan kepada kita kisah Qarun:</p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي &#8230;..</strong></h3>
<p style="text-align: justify;">“<em>Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”.</em> (Al-Qashash: 78)</p>
<p><strong>5. Menangani Suatu Pekerjaan Sebelum Matang Dalam Menguasainya dan Belum Terbina Dengan Sempurna</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari ini kita banyak mengeluhkan masalah yang telah banyak menimbulkan berbagai pelanggaran. Sekarang ini banyak kita temui orang-orang yang berlagak pintar persis seperti kata pepatah <em>‘sudah dipetik sebelum matang’</em>. Berapa banyak orang yang menjadi korban dalam hal ini! Dan itu termasuk perbuatan sia-sia. Yang lebih parah lagi adalah seorang yang mencuat sebagai seorang ulama padahal ia tidak memiliki ilmu sama sekali. Lalu ia berkomentar tentang banyak permasalahan, yang terkadang ia sendiri jahil tentang hal itu. Namun ironinya terkadang kita turut menyokong hal tersebut. Yaitu dengan memperkenalkannya kepada khalayak umum. Padahal sekarang ini, masyarakat umum itu ibaratnya seperti orang yang menganggap emas seluruh yang berwarna kuning. Kadangkala mereka melihat seorang qari yang merdu bacaannya, atau seorang sastrawan yang lihai berpuisi atau yang lainnya, lalu secara membabi buta mereka mengambil segala sesuatu dari orang itu tanpa terkecuali meskipun orang itu mengelak seraya berkata: “<em>Aku tidak tahu</em>!”. Perlu diketahui bahwa bermain-main dengan sebuah pemikiran lebih berbahaya daripada bermain-main dengan api. Misalnya beberapa orang yang bersepakat untuk memunculkan salah satu di antara mereka menjadi tokoh yang terpandang di tengah-tengah kaumnya, kemudian mengadakan acara penobatannya dan membuat-buat gelar yang tiada terpikul oleh siapa pun. Niscaya pada suatu hari akan tersingkap kebobrokannya. Mengapa? Sebab perbuatan seperti itu berarti bermain-main dengan pemikiran. Sepintas lalu apa yang mereka ucapkan mungkin benar, namun lambat laun masyarakat akan tahu bahwa mereka telah tertipu!</p>
<h4 style="text-align: justify;"><strong>6. Jahil dan Mengabaikan Hakikat Diri (Lupa Daratan)</strong></h4>
<p style="text-align: justify;">Sekiranya seorang insan benar-benar merenungi dirinya, asal-muasal penciptaannya sampai tumbuh menjadi manusia sempurna, niscaya ia tidak akan terkena penyakit ‘ujub. Ia pasti meminta kepada Allah SWT agar dihindarkan dari penyakit ujub sejauh-jauhnya. Salah seorang penyair bertutur dalam sebuah syair yang ditujukan kepada orang-orang yang terbelenggu penyakit ujub:</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Hai orang yang pongah dalam keangkuhannya.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Lihatlah tempat buang airmu, sebab kotoran itu selalu hina. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sekiranya manusia merenungkan apa yang ada dalam perut mereka, niscaya tidak ada satupun orang yang akan menyombongkan dirinya, baik pemuda maupun orang tua.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Apakah ada anggota tubuh yang lebih dimuliakan selain kepala?</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Namun demikian, lima macam kotoranlah yang keluar darinya!</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Hidung beringus sementara telinga baunya tengik.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Tahi mata berselemak sementara dari mulut mengalir air liur. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Hai bani Adam yang berasal dari tanah, dan bakal dilahap tanah, tahanlah dirimu (dari kesombongan), karena engkau bakal menjadi santapan kelak.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Penyair ini mengingatkan kita pada asal muasal penciptaan manusia dan keadaan diri mereka serta kesudahan hidup mereka. Maka apakah yang mendorong mereka berlagak sombong? Pada awalnya ia berasal dari setetes mani hina, kemudian akan menjadi bangkai yang kotor sedangkan semasa hidupnya ke sana ke mari membawa kotoran.</p>
<h4 style="text-align: justify;"><strong>7. Berbangga-bangga Dengan Nasab dan Keturunan</strong></h4>
<p style="text-align: justify;">Seorang insan terkadang memandang mulia diri-nya karena darah biru yang mengalir di tubuhnya. Ia menganggap dirinya lebih utama dari si <strong><em>Fulan</em></strong> dan <strong><em>Fulan</em></strong>. Ia tidak mau mendatangi si Fulan sekalipun berkepentingan. Dan tidak mau mendengarkan ucapan si Fulan. Tidak ragu lagi, ini merupakan penyebab utama datangnya penyakit ‘ujub.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah kisah pada zaman khalifah Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> disebutkan bahwa ketika Jabalah bin Al-Aiham memeluk Islam, ia mengunjungi <strong><em>Bait Al-Haram. </em></strong>Sewaktu tengah melakukan thawaf, tanpa sengaja seorang Arab badui menginjak kainnya. Tatkala mengetahui seorang Arab badui telah menginjak kainnya, Jabalah langsung melayangkan tangannya memukul si Arab badui tadi hingga terluka hidungnya. Si Arab badui itu pun melapor kepada sayyidina Umar dan mengadukan tindakan Jabalah tadi. Umar  pun memanggil Jabalah lalu berkata kepadanya: “Engkau harus diqishash wahai Jabalah!” Jabalah membalas: “Apakah engkau menjatuhkan hukum qishash atasku? Aku ini seorang bangsawan sedangkan ia (Arab badui) orang pasaran!”</p>
<p style="text-align: justify;">Umar menjawab: “Islam telah menyamaratakan antara kalian berdua di hadapan hukum!” Tidakkah engkau ketahui bahwa: <em>Islam telah meninggikan derajat Salman seorang pemuda Parsi</em><em>, </em><em>dan menghinakan kedudukan Abu Lahab karena syirik yang dilakukannya.</em> Ketika Jabalah tidak mendapatkan dalih untuk melepaskan diri dari hukuman, ia pun berkata: “Berikan aku waktu untuk berpikir!” Ternyata Jabalah melarikan diri pada malam hari. Diriwayatkan bahwa Jabalah ini akhirnya murtad dari agama Islam, lalu ia menyesali perbuatannya itu.</p>
<h4 style="text-align: justify;"><strong>8. Berlebih-lebihan Dalam Memuliakan dan Menghormati</strong></h4>
<p style="text-align: justify;">Barangkali inilah hikmahnya Rasul SAW melarang sahabat-sahabat beliau untuk berdiri menyambut beliau. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah bersabda:<em>“Barangsiapa yang suka agar orang-orang berdiri menyambutnya, maka bersiaplah dia untuk menempati tempatnya di Neraka.” </em><strong>(HR. At-Tirmidzi, beliau katakan: hadits ini hasan)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits lain Rasul bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Janganlah kamu berdiri menyambut seseorang seperti yang dilakukan orang Ajam (non Arab) sesama mereka.”</em> <strong>(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>9. Lengah Terhadap Akibat yang Timbul dari Penyakit ‘Ujub</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sekiranya seorang insan menyadari bahwa ia hanya menuai dosa dari penyakit ujub yang menjangkiti dirinya dan menyadari bahwa ‘ujub itu adalah sebuah pelanggaran, sedikitpun ia tidak akan kuasa bersikap ‘ujub. Apalagi jika ia merenungi sabda Rasul:<em>”Sesungguhnya seluruh orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat bagaikan semut yang diinjak-injak manusia.” </em> Ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasul, bukankah seseorang itu ingin agar baju yang dikenakannya bagus, sandal yang dipakainya juga bagus?”</p>
<p style="text-align: justify;">Rasul menjawab: <em>“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan, hakikat sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” </em></p>
<p style="text-align: justify;">(<strong>HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)</strong></p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>Dampak ujub</strong></h3>
<h4 style="text-align: justify;"><strong>1.</strong> Jatuh dalam jerat-jerat kesombongan, sebab ujub merupakan pintu menuju kesombongan.</h4>
<h4 style="text-align: justify;"><strong>2.</strong> Dijauhkan dari pertolongan Allah. sebagaimana firmannya:</h4>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ</strong></h3>
<p style="text-align: justify;">“<em>Orang-orang yang berjihad (untuk mencari keri-dhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” </em><strong>(Al-Ankabut: 69)</strong></p>
<h4 style="text-align: justify;"><strong>3.</strong> Terpuruk dalam menghadapi berbagai krisis dan cobaan kehidupan.</h4>
<p style="text-align: justify;">Bila cobaan dan musibah datang menerpa, orang-orang yang terjangkiti penyakit ‘ujub akan berteriak: ‘Oh kawan, carilah keselamatan masing-masing!’ Berbeda halnya dengan orang-orang yang teguh di atas perintah Allah SWT, mereka tidak akan melanggar rambu-rambu, sebagaimana yang dituturkan Ali bin Abi Thalib <em>karramallahu wajhahu:</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Siapakah yang mampu lari dari hari kematian?</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Bukankah hari kematian hari yang telah ditetapkan?</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Bila sesuatu yang belum ditetapkan, tentu aku dapat lari darinya.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Namun siapakah yang dapat menghindar dari takdir?</em></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<h4 style="text-align: justify;"><strong>4.</strong> Dibenci dan dijauhi orang-orang. Tentu saja, seseorang akan diperlakukan sebagaimana ia memperlakukan orang lain. Jika ia memperlakukan orang lain dengan baik, niscaya orang lain akan membalas lebih baik kepadanya.</h4>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman:</p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا</strong></h3>
<p style="text-align: justify;">“<em>Apabila kamu dihormati dengan suatu penghor-matan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).”<strong> </strong></em><strong>(An-Nisa’: 86)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Namun seseorang kerap kali meremehkan orang lain, ia menganggap orang lain tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya. Tentu saja tidak ada orang yang senang kepadanya. Sebagaimana kata pepatah ‘Jika engkau menyepelekan orang lain, ingatlah! Orang lain juga akan menyepelekanmu’</p>
<h4 style="text-align: justify;"><strong>5.</strong> Azab dan pembalasan cepat ataupun lambat. Se-orang yang terkena penyakit ujub pasti akan merasakan pembalasan atas sikapnya itu. Dalam hadits disebutkan:</h4>
<p style="text-align: justify;">“<em>Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaian yang necis, rambut tersisir rapi sehingga ia takjub pada dirinya sendiri, seketika Allah membenamkannya hingga ia terpuruk ke dasar bumi sampai hari Kiamat.” </em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>(HR. Al-Bukhari)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hukuman ini dirasakannya di dunia akibat sifat ‘ujub. Seandainya ia lolos dari hukuman tersebut di dunia, yang jelas amalnya pasti terhapus. Dalilnya adalah hadits yang menceritakan tentang seorang yang bersumpah atas nama Allah bahwa si Fulan tidak akan diampuni, ternyata Allah SWT mengampuni si Fulan dan menghapus amalnya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan begitu kita harus berhati-hati dari sifat ‘ujub ini, dan hendaknya kita memberikan nasihat kepada orang-orang yang terkena penyakit ujub ini, yaitu orang-orang yang menganggap hebat amal mereka dan menyepelekan amal orang lain.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Penjelasan mengenai ‘ujub diatas mengandung muatan kritik terhadap 3 kalangan<a rel="nofollow" href="http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c7r9l0m8o2rsv#_ftn8">[7]</a>:</h3>
<ol>
<li>
<h4>Orang yang mengaku suci tetapi amaliyah syariatnya masih banyak kekurangan. Mereka berbicara tentang upaya membersihkan hati namun masih belum sah dalam melaksanakan shalat (dengan tidak mengetahui syarat-rukun dan batal dalam urusan shalat).</h4>
</li>
<li>
<h4>Orang yang mengaku alim padahal belum sah iman dan shalatnya. Dalam dirinya merasa paling benar sedangkan sebenarnya dia mengikut kehendak syaitan dengan melakukan tindakan ‘ujub  serta takabbur tetapi tidak diketahuinya.</h4>
</li>
<li>
<h4>Guru yang munafik yaitu orang-orang yang sebenarnya bodoh tetapi karena takabbur dia mengaku menjadi guru.</h4>
</li>
</ol>
<div>mudah-mudahan Allah jauhkan kita daripada sifat ini, Amin.&nbsp;</p>
<p>Shollallahu &#8216;Ala Muhammad Wa Aalihi</p>
<p>Ibnu Dahlan El-Madary<br />
Seri Kembangan, Kuala Lumpur, 13 June 2011/12 Rajab 1432: 11PM</p>
<hr size="1" />
<div style="text-align: justify;">
<p><a rel="nofollow" href="http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c7r9l0m8o2rsv#_ftnref1"></a>.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a rel="nofollow" href="http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c7r9l0m8o2rsv#_ftnref2">[1]</a> Syeh Ahmad Rifa’i, <em>Riayah Akhir,</em> Bab Ilmu Tasawuf, Korasan 21, halaman 16, baris 9, bisa juga lihat dalam kitab karangan beliau lainnya seperti dalam <em>Abyan al-Hawaaij, </em>beliau menerangkan ‘ujub hukumnya haram dan dosa besar, dicontohkan seorang Ulama yang bernama <strong>Bal’am</strong> sudah rusak imannya, yaitu dengan pengakhiran hayatnya dalam keadaan kufur <em>(Su’u al-Khotimah)</em>.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a rel="nofollow" href="http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c7r9l0m8o2rsv#_ftnref3">[2]</a> Shodiq Abdullah, <em>Islam Tarjumah: Komunitas, Doktrin dan tradisi</em>, RaSAIL: Semarang, Desember 2006, halaman 135</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a rel="nofollow" href="http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c7r9l0m8o2rsv#_ftnref4">[3]</a> <em>Hadith ini disebutkan oleh Al-Mundziry dalam kitab At-Targhib wa Tarhib 1/162 yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Al-Baihaqi serta dibenarkan oleh Al-Albany</em></p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a rel="nofollow" href="http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c7r9l0m8o2rsv#_ftnref5">[4]</a> Opcit. Riayah Akhir, korasan 21, halaman 19, baris ke 2-9</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a rel="nofollow" href="http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c7r9l0m8o2rsv#_ftnref6">[5]</a> __________________, Riayah Akhir, Korasan  22, halaman 1, baris 10</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a rel="nofollow" href="http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c7r9l0m8o2rsv#_ftnref7">[6]</a> Risalah Al-Hujjah No: 54 / Thn IV / Rabiul Awal</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;"><a rel="nofollow" href="http://id.mg60.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=c7r9l0m8o2rsv#_ftnref8">[7]</a> Dr. Abdul Jamil, Perlawanan Kiai Desa: Pemikiran dan Gerakan Islam KH.Ahmad Rifa’I ,</p>
<p style="text-align: justify;">Kalisalak, LKiS, Yogyakarta, januari, 2001, halaman 152</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/hakikat-ujub-berbangga-diri-penyebabnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Do’a Yang Tidak Tertolak Dan Yang Menyebabkan Do’a Tertolak</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/do%e2%80%99a-yang-tidak-tertolak-dan-yang-menyebabkan-do%e2%80%99a-tertolak/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/do%e2%80%99a-yang-tidak-tertolak-dan-yang-menyebabkan-do%e2%80%99a-tertolak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jun 2011 05:49:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Faried</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[do'a yang ditolak]]></category>
		<category><![CDATA[do'a yang tidak ditolak]]></category>
		<category><![CDATA[kiat dalam berdo'a]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6417</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun - &#8220;Ada tiga orang yang tidak ditolak do&#8217;a mereka: (1) Orang yang berpuasa sampai dia berbuka; (2) Seorang penguasa yang adil; (3) Dan do&#8217;a orang yang dizalimi (teraniaya).  Do&#8217;a...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><a rel="attachment wp-att-6418" href="http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/do%e2%80%99a-yang-tidak-tertolak-dan-yang-menyebabkan-do%e2%80%99a-tertolak/attachment/doa2/"><img class="alignleft size-medium wp-image-6418" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/doa2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><strong>Tanbihun -</strong> &#8220;Ada tiga orang yang tidak ditolak do&#8217;a mereka: (1) Orang yang berpuasa sampai dia berbuka; (2) Seorang penguasa yang adil; (3) Dan do&#8217;a orang yang dizalimi (teraniaya).  Do&#8217;a mereka diangkat oleh Allah ke atas  awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, &#8220;Demi keperkasaanKu, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera.&#8221;<em> </em></p>
<p style="text-align: justify"><em>(HR. Tirmidzi)</em></p>
<p style="text-align: justify">Kalau ditelaah lagi ada kaitan yang sangat erat antara tiga criteria yang sudah dijelaskan Rasulullah diatas dalam segi social perilaku manusia.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<h3 style="text-align: justify">1.  Jalan  orang yang tertindas</h3>
<p style="text-align: justify">Adanya orang yang tertindas disebabkan dari adanya ke-dholiman, dan biasanya ke-dholiman dilakukan oleh mereka yang merasa lebih tinggi kedudukannya seperti halnya seorang pemimpin. Dalam situasi seperti ini orang yang didholimi secara reflek karena ketidak berdayaannya untuk melakukan perlawanan, langsung mengadukan kepada Tuhannya, dengan hancurnya martabat dan harga diri serta hati yang tersakiti  maka secara kontanitas menghilangkan beberapa sifat yang membuat do’a tertolak seperti halnya tidak khusu’ ketika berdo’a atau tidak yakin dengan do’anya.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam hal ini, orang yang tertindas akan berjuang keras untuk bisa  terbebas dari penindasan moral atau pun yang lainnya.</p>
<p style="text-align: justify">Sebagaimana firman Allah:</p>
<h2 style="text-align: right">ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ</h2>
<p style="text-align: justify"><em>&#8220;Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>(Q.S Al-Anfaal Ayat: 53)</em></p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<h3 style="text-align: justify">2.  Jalan pemimpin yang adil</h3>
<p style="text-align: justify">Setiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam (amir)  pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin   dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila mimbar telah turun mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify">(HR. Ath-Thabrani)</p>
<p style="text-align: justify">Disini ada kaitannya dengan pembahasan yang pertama, begitu beratnya beban seorang pemimpin untuk bisa  bersikap adil, supaya mereka yang dipimpin tidak terdholimi dengan kepemimpinannya.</p>
<p style="text-align: justify">Sehingga Allah memberi  tempat tersendiri  kepada mereka yang bertanggung jawab dengan kepemimpinannya.</p>
<p style="text-align: justify">“Sesunguhnya orang-orang yang berlaku adil, kelak disisi Allah ditempatkan diatas mimbar cahaya, yaitu mereka yang adil dalam hukum terhadap keluarga dan apa saja yang dikuasakan kepada mereka.”</p>
<p style="text-align: justify">(HR. Muslim)</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<h3 style="text-align: justify">3.  Jalan orang yang berpuasa</h3>
<p style="text-align: justify">Dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu &#8216;anhu, ia berkata :</p>
<p style="text-align: justify">Aku berkata : “Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amal yang dapat memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka”.</p>
<p style="text-align: justify">Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Engkau telah bertanya tentang perkara yang besar, dan sesungguhnya itu adalah ringan bagi orang yang digampangkan oleh Allah ta’ala. Engkau menyembah Allah dan jangan menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke Baitullah”.</p>
<p style="text-align: justify">Kemudian beliau bersabda : “Inginkah kuberi petunjuk kepadamu pintu-pintu kebaikan? puasa itu adalah perisai, shadaqah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam”.</p>
<p style="text-align: justify">Kemudian beliau membaca ayat :</p>
<h2 style="text-align: right">تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُون</h2>
<h2 style="text-align: right">فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</h2>
<p style="text-align: justify">Kemudian beliau bersabda: “Maukah bila aku beritahukan kepadamu pokok amal tiang-tiangnya dan puncak-puncaknya?”</p>
<p style="text-align: justify">Aku menjawab : “Ya, wahai Rasulullah”. Rasulullah bersabda : “Pokok amal adalah Islam, tiang-tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad”.</p>
<p style="text-align: justify">Kemudian beliau bersabda : “Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku : “Ya, wahai Rasulullah”. Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda : “Jagalah ini”.</p>
<p style="text-align: justify">Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?”</p>
<p style="text-align: justify">Maka beliau bersabda : “Semoga engkau selamat. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka, selain ucapan lidah mereka?”</p>
<p style="text-align: justify">(HR. Tirmidzi, ia berkata : “Hadits ini hasan shahih”)</p>
<p style="text-align: justify">Erat kaitannya dengan kedua pembahasan diatas, seorang yang tertindas manakala sudah berhasil menyingkirkan penindasannya namun tidak mampu menjadi seorang pemimpin yang adil ia pun akan terpuruk dan mendapat predikat sebagai penindas baru.</p>
<p style="text-align: justify">Disinilah peran puasa  diperlukan guna sebagai perisai untuk membentingi diri dari  sifat-sifat tercela yang menyebabkan terhalangnya sebuah do&#8217;a.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<h3 style="text-align: justify"><strong>Dari Ibrahim bin Adham beliau memberikan penjelasan, mengapa do’a  tidak terkabul:</strong></h3>
<ol>
<li>Kamu akui mengenal Allah, namun hak- hak- Nya tidak kamu penuhi.</li>
<li>Kamu baca Al- Qur’an berulang kali, namun isi yang terkandung di dalamnya tidak kamu amalkan.</li>
<li>Kamu akui cinta Rasulullah SAW, namun nasehat- nasehatnya tidak kamu jalankan.</li>
<li>Kamu akui syetan itu adalah musuh manusia yang nyata, namun kamu telah patuh kepadanya.</li>
<li>Kamu sering kali berdo’a mohon dihindarkan dari siksa api neraka, namun kamu jerumuskan dirimu ke dalamnya dengan banyak berbuat dosa dan maksiat.</li>
<li>Kamu sering kali berdo’a mohon supaya bisa masuk surga, namun kamu tidak mau beramal baik untuknya.</li>
<li>Kamu percayai kematian itu pasti datang, namun kamu tidak mau mempersiapkan diri menghadapi kematian.</li>
<li>Kamu sering sibuk mengurusi aib orang lain, namun aibmu sendiri kamu lupakan.</li>
<li>Kamu makan rizqi dari pemberian Allah, namun kamu tidak mau mensyukuri pemberian itu.</li>
<li>Kamu kuburkan orang yang meninggal dunia, namun kamu tidak mau mengambil pelajaran dari peristiwa itu.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Wallahu’alam.</em></p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/do%e2%80%99a-yang-tidak-tertolak-dan-yang-menyebabkan-do%e2%80%99a-tertolak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pahala Sabar Dalam 3 Perkara</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/pahala-sabar-dalam-3-perkara/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/pahala-sabar-dalam-3-perkara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 07:40:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Em. Yazid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala Sabar Ketika Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala Sabar Terhadap Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala Sabar Terhadap Musibah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6399</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun – Melanjutkan pembahasan tentang  sabar , bagi yang lupa Apa Sich Definisi Sabar Itu? Silahkan dibaca kembali artikel tersebut. Setelah paham definisi sabar, kita akan mengingat tentang pahala menahan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong> – Melanjutkan pembahasan tentang  sabar , bagi yang lupa <a href="../../../../../tasawwuf/tasawuf/apa-sich-definisi-sabar-itu/">Apa Sich Definisi Sabar Itu?</a> Silahkan dibaca kembali artikel tersebut. Setelah paham definisi sabar, kita akan mengingat tentang pahala menahan kesabaran dalam 3 hal.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Sabar Dalam 3 Perkara</h3>
<p style="text-align: justify;">Dalam kitab Bayan jilid 2 kurasan 21 Syaikh Ahmad Rifa’i menerangkan, bahwa sabar itu dalam 3 perkara ;</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Sabar menanggung  Kesulitan, Penderitaan, Kesengsaraan dalam keta’atan. Ta’at dan ibadah akan dirasakan berat oleh hawa nafsu, disana dijumpai kesulitan,penderitaan dan kesengsaraan. Sehingga dalam ta’at dan ibadah diperlukan kesabaran.</li>
<li>Sabar menaggung Kesukaran dalam taubat menjauhi maksiat. Seperti kita ketahui  untuk sampai pada taubat yang benar bukanlah perkara mudah, paling tidak dibutuhkan proses yang kadang penuh liku dan cobaan. Seseorang yang sudah terbiasa maksiat dan tergerak untuk kembali ke jalan Allah (taubat) akan menemui beberapa rintangan, entah itu dari dalam diri sendiri yang sudah ketagihan atau dari factor exsternal, lingkungan pergaulan dan keluarga. Sangat wajar dalam proses menuju taubat ini dibutuhkan kesabaran.</li>
<li>Sabar menanggung penderitaan dan kesengsaraan dalam menghadapi cobaan hidup atau musibah. Alam dunia adalah tempat ujian digelar, cobaan kekurangan sandang pangan, kehilangan harta benda bahkan nyawa orang-orang yang dikasihi,badai fitnah, cibiran tak jarang menyapa dalam kehidupan kita. Bukan Cuma cobaan lahir, juga ujian batin, seperti rasa gelisah, kwatir, takut pasti kadang kalanya akan menyelimuti hati,pikiran, jiwa kita. Dan semua itu harus dijalani dengan penuh kesabaran.</li>
</ol>
<h3 style="text-align: justify;">Pahala Sabar Dalam 3 Hal</h3>
<p><span style="font-family: Arial; font-size: 150%;">إِنَّمَا يُوَفَّى  	الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ</span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Orang-orang yang sabar disempurnakan pahalanya tanpa terhitung &#8221; (Az zumar: 10)</p>
<p style="text-align: justify;">Mengingat tidak mudahnya melakoni 3 kesabaran diatas, maka Allah SWT menganugerahi pahala bagi orang-orang yang mau dan mampu bersabar dengan pahala yang setimpal. Dengan tingkatan ;</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Sabar dalam ta’at dan ibadah mendapatkan pahala 300 derajat</li>
<li>Sabar dalam taubat dan menjauhi maksiat mendapatkan pahala 600 derajat</li>
<li>Sabar menanggung cobaan hidup dianugerahi pahala 900 derajat</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Semoga kesabaran selalu dilimpahkan kepada kita dalam menghadapi kehidupan akhir jaman yang semakin berwarna permasalahannya ini, aamiin.(zid)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sumber :</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;">◊ Kitab Bayan jilid 2 Karya Syaikh Ahmad Rifa’i</span></p>
<p style="text-align: justify;">◊ <span style="color: #3366ff;">Catatan kuliah pagi di <a href="http://tanbihun.com/rifaiyah/pesantren/pesantren-miftahul-ulum-pati/" target="_blank">PP. Miftahul Ulum</a> yang diasuh oleh KH.Rois yahya Dahlan Pati</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/pahala-sabar-dalam-3-perkara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Sich Definisi Sabar Itu?</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/apa-sich-definisi-sabar-itu/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/apa-sich-definisi-sabar-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 15:48:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Em. Yazid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Arti Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[definisi sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Kesabaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6384</guid>
		<description><![CDATA[Definisi Sabar Secara bahasa sabar berarti al-habsu ( menahan ) dan al-man&#8217;u ( mencegah ), yaitu lawan kata dari al-jaz&#8217;u ( keluh kesah ). Dikatakan: shabara shabran (صبر صبرا ,(...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4 style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/sabar2.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-6385" title="sabar2" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/06/sabar2-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Definisi Sabar</h4>
<p style="text-align: justify;">Secara bahasa sabar berarti <em><span style="text-decoration: underline;">al-habsu</span></em> ( menahan ) dan <em><span style="text-decoration: underline;">al-man&#8217;u</span></em> ( mencegah ), yaitu lawan kata dari <em><span style="text-decoration: underline;">al-jaz&#8217;u</span></em> ( keluh kesah ). Dikatakan: <em><span style="text-decoration: underline;">shabara shabran</span></em> (صبر صبرا ,( maksudnya : tegar dan tidak berkeluh kesah.<em><span style="text-decoration: underline;">Shabara</span></em> berarti: menunggu, <em><span style="text-decoration: underline;">shabara nafsahu</span></em> berarti: menahan diri dan mengekangnya,shabara fulan: menahannya, shabartu shabran : aku menahan diriku dari berkeluh kesah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada pula yang mendifinisikan sabar adalah menyatukan antara pikiran dan badan kita didalam tempat yang sama. Misalnya; Sehabis lelah bekerja dalam perjalanan pulang kita terjebak macet, orang yang sabar berarti pikiran dan badannya tetap berada ditempat dimana ia terjebak macet. Kalau pikirannya melayang dan berpikir “wah kalau saja tadi tidak lewat jalan ini saya tidak akan kena macet”, maka ini namanya mengeluh bukan sabar lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang sabar merupakan orang yang bertumpu pada proses dan menikmati semua proses tersebut. Sehingga sabar juga merupakan ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan emosi onal. Orang yang sabar itu mampu  mengendalikan dirinya dan menahan respons yang bersifat jangka pendek untuk mendapatkan kenikmatan jangka panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan keluhan merupakan kesulitan didalam menerima sesuatu yang terjadi, penolakan terhadap sesuatu yang ada pada diri kita. Ketika ada kemacetan seperti pada contoh diatas, kita merasa badan dan pikiran tidak berada dalam satu tempat sehingga timbul rasa mengeluh, akhirnya kita pun tidak menikmati “proses” tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Definisi selanjutnya, <em><span style="text-decoration: underline;">Sabar adalah</span></em> menahan diri dari sesuatu yang tidak disenangi tepat ketika sesuatu itu terjadi pertama kali. Misalnya ; Saat kita kejedot pintu, secara refleks kita mengucapkan “Innalillah” atau diam saja. Namun kalau pertama kali itu terjadi dan kita mengumpat,atau ngedumel maka ini bukan sabar namanya,meski setelah dipikir-pikir akhirnya dapat menerima, tetap saja bukan sabar namanya melainkan ridho/rela. Harus diingat Sabar itu penerimaan kita saat pertama kali musibah itu datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Jelaslah bahwa makna sabar adalah mencegah dan menahan diri dari berkeluh kesah saat pertama kali hal yang tidak kita senangi datang, menahan lisan dari mengeluh, dan anggota badan dari mengamuk,seperti menampar pipi, merobek saku baju , membanting pintu dan semisalnya.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Hakikat Sabar</h4>
<p style="text-align: justify;">Hakikat sabar adalah akhlak utama yang merupakan bagian dari akhlak jiwa yang mampu menahan pemiliknya dari perbuatan yang tidak baik dan tidak senonoh. Sabar merupakan kekuatan jiwa yang dengannya jiwa menjadi baik dan tingkah laku menjadi lurus. Dan kekuatan ini menjadikan manusia mampu menahan jiwanya untuk memikul berbagai bentuk kelelahan, kesulitan dan penderitaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Insya Allah bersambung bab pahala menahan kesabaran dalam 3 hal.(zid)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Sumber</strong></span><strong>:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #3366ff;">Buku, &#8221; Indahnya Kesabaran &#8221; , Penulis: Sa&#8217;id bin Ali bin Wahf Al-Qahthany, Penerbit: At-Tibyan-Solo</span></li>
<li><span style="color: #3366ff;">Catatan kuliah pagi di PP. Miftahul Ulum yang diasuh oleh KH.Rois Yahya Dahlan Pati</span></li>
<li><span style="color: #3366ff;">Dan berbagai sumber lainnya.</span></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/apa-sich-definisi-sabar-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Pernah Berkata: “Andai Saja, Jikalau, Seumpama…”</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/jangan-pernah-berkata-%e2%80%9candai-saja-jikalau-seumpama%e2%80%a6%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/jangan-pernah-berkata-%e2%80%9candai-saja-jikalau-seumpama%e2%80%a6%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 May 2011 05:14:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Faried</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[jangan mendramatisir masalah]]></category>
		<category><![CDATA[menyikapi cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[perkataan: andai saja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6336</guid>
		<description><![CDATA[وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan,...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: right">وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ<a rel="attachment wp-att-6339" href="http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/jangan-pernah-berkata-%e2%80%9candai-saja-jikalau-seumpama%e2%80%a6%e2%80%9d/attachment/tanbihun-5/"><img class="size-medium wp-image-6339 alignleft" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/05/tanbihun4-300x300.jpg" alt="" width="293" height="293" /></a></h2>
<p><strong><em>“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”.</em> </strong></p>
<p><strong>(Q.S An-Nahl Ayat: 53)</strong></p>
<p>Gerak laju sempoyongan tak habis-habisnya seorang hamba itu mempertontonkan kepada Malaikat Roqib dan Atid, meski terus ia memerintah kedua kaki untuk berjalan namun kedua tangannya  terlihat malas kalau dilihat dari caranya melambai.  Hingga ia merasa beribu lembaran buku dari jutaan huruf dan harokat juga teori yang dulu pernah ia tekuni terasa semua tidak begitu berarti lagi.</p>
<p><strong>“aku sedang frustasiii…!!!”</strong> begitu teriaknya.</p>
<p>Nampaknya urusan duniawi sudah mulai menenggelamkannya. Hingga ia lupa dengan apa yang pernah dulu ia pelajari.</p>
<h4>“Jagalah Allah, niscaya engkau akan senantiasa mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu lapang niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan, ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidak akan pernah menimpamu dan apa yang telah ditetapkan menimpamu tidak akan pernah luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu selalu mengiringi kesabaran, jalan keluar selalu mengiringi cobaan dan kemudahan itu selalu mengiringi kesusahan.”</h4>
<p>Sejatinya kabanyakan dari kita tidak sadar kalau sebenarnya kita sendirilah yang suka mendramatisir  tiap kali Allah memberi cobaan, sehingga muaranya lupa untuk meminta pertolongan Allah dan berserah diri.</p>
<p>Hal itu bisa kita gambarkan dari contoh berikut.</p>
<p>Sebut saja namanya Zaid,dia merasa frustasi dengan permasalahan yang sedang ia hadapi. Kalau dilihat dari segi fisik sebenarnya dia tidak terlalu mengecewakan dan juga sebenarnya dia sudah bisa dikatakan sebagai seorang pemuda yang mapan. Namun sayang di umurnya yang sudah hampir kepala tiga belum juga dia menemukan jodohnya, hingga dia pun berpikir</p>
<p><strong>“duuhhh… gimana nih Allah kok masih belum juga ngasih jodoh buat aku? Bagaimana dengan masa tua ku nanti kalau aku sampai tidak mempunyai istri? Bagaimana aku bisa  mendapatkan keturunan? Terus iapa nanti yang akan mendo’akanku ketika aku mati nanti???”.</strong></p>
<p>Beribu-ribu pertanyaan seperti  itulah yang membuatnya frustasi menjalani hidup, aneh memang Zaid harus merasakan kesengsaraan dengan sesuatu yang belum tentu terjadi.</p>
<p>Coba kalau dia menanggapi masalah seperti itu dengan cara berpikir begini,</p>
<p><strong>“ku serahkan semua urusan duniawi ku kepada-Mu Ya Robb, karena sebelum aku lahir aku sudah membuat perjanjian dengan-Mu bahwa aku telah Ridlo dengan bagian rizki ku nanti, bahwa aku telah Ridlo siapakah  jodoh ku atau bahkan aku hidup tanpa didampingi isteri dan aku juga Ridlo dengan ketetapan-Mu di umur berapa aku mati nanti&#8230;”</strong></p>
<p>Ada  juga cerita yang dituturkan dari salah seorang Kyai, kepadanya datang seorang ibu setengah baya mencurahkan kegelisahannya</p>
<p><strong>“Pak Kyai, aku sangat gelisah dengan masalah yang aku hadapi..”,</strong></p>
<p><strong>“emang kenapa ibu’..”</strong> Tanya Kyai tadi,</p>
<p><strong>“barusan saya habis dari dokter, katanya penyakit yang saya alami ini ada kemungkinan ginjal saya yang bermasalah…”</strong> Sang Kyai manganggukkan kepala</p>
<p><strong>“terus yang membuat ibu gelisah apa..?”,</strong></p>
<p><strong>“ya itu Pak Kyai, kalau umpama betul ginjal saya yang bermasalah bagaimana dengan hidup saya nanti? Pasti hancur Pak Kyai…”</strong></p>
<p><strong>“berarti kan, ada kemungkinan suatu saat nanti bisa kena penyakit gagal ginja, terus dengan apa saya harus mengobati? Kalau harus cuci darah itu kan membutuhkan biaya yang sangat mahal? Padahal saya ini hanya ibu rumah tangga biasa Pak Kyai, dan pendapatan suami saya juga pas-pasan….”</strong> Ibu itu tampak gusar sekali.</p>
<p>Dengan tersenyum <strong>“Ibu….”,</strong></p>
<p><strong>“iya Pak Kyai…”</strong></p>
<p><strong>“masalah ibu itu sudah terjadi belum?”,</strong></p>
<p><strong>“ya belum Pak Kyai, itu kan seandainya…”</strong></p>
<p>Sambil tersenyum Kyai tadi melanjutkan,</p>
<p><strong>“itu kan hanya kemungkinan dan belum tentu terjadi kenapa deritanya sudah ibu rasain sekarang?”.</strong></p>
<p><strong>“mmm.. begitu ya Pak Kyai…”</strong> imbuh Ibu tadi dengan agak sedikit lega.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sahabat dari contoh diatas kita bisa melihat tentang betapa ruginya bagi orang yang alpha dengan pertolongan dan ketentuan Allah, karena dari kacamata umum kita bisa melihat<strong> “mereka resah dan gelisah bahkan menderita oleh ketakutan yang dibuat-buat sendiri,” </strong> Na’udzubillahi Min Dzalika.</p>
<p>Baginda Rasul pernah menyinggung tentang hal ini,</p>
<p>Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, <strong><em>&#8220;Oh andai kata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu&#8221;, tetapi katakanlah, &#8220;Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah</em></strong><strong> </strong><strong><em> pasti dikerjakan-Nya.&#8221; Ketahuilah, sesungguhnya ucapan: &#8220;andai kata&#8221; dan &#8220;jikalau&#8221; membuka peluang bagi (masuknya) karya (kerjaan) setan.&#8221;</em></strong><strong> </strong></p>
<p><strong>(HR. Muslim)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam.<strong> </strong><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/jangan-pernah-berkata-%e2%80%9candai-saja-jikalau-seumpama%e2%80%a6%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ghibah(menggunjing) Diperbolehkan Dalam 6 Kondisi</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/ghibahmenggunjing-diperbolehkan-dalam-6-kondisi/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/ghibahmenggunjing-diperbolehkan-dalam-6-kondisi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 02:04:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6290</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Ghibah atau ghaibah adalah menuturkan aib (cela) seseorang dibelakangnya. Hukum ghibah adalah haram. Ada salah kaprah ditengah-tengah masyarakat kita, misalnya dengan perkataan &#8220;apa yang saya omongin ini bukan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong> &#8211; Ghibah atau ghaibah adalah menuturkan aib (cela) seseorang dibelakangnya. Hukum ghibah adalah haram. Ada salah kaprah ditengah-tengah masyarakat kita, misalnya dengan perkataan &#8220;apa yang saya omongin ini bukan ghibah lho &#8230; ini kenyataan&#8221;. Dia kira kalau yang diomongin itu berupa fakta,maka bukan terbilang ghibah, justru ghibah itu menggunjing kenyataan-kenyataan buruk orang lain, kalau yang dibicarakan itu tidak sesuai kenyataan, malah disebut fitnah.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti dijelaskan disini <a title="Definisi Hukum Syara’, Akal dan Adat" href="../fikih/definisi-hukum-syara-akal-dan-adat/" target="_blank"><span style="color: #0000ff;">Definisi Hukum Syara’, Akal dan Adat</span></a>, dimana disitu dijelaskan <strong>Hukum syara’</strong>, ialah firman Allah yang berhubungan dengan segala pekerjaan orang-orang mukallaf, berupa perintah (thalab) atau mubah (ibahah) dan keduanya mempunyai sandaran (wadla’). Maka hukum dari ghibah pun ada yang diperbolehkan.</p>
<h4 style="text-align: justify;">6 Ghibah Yang Diperbolehkan ;</h4>
<h5 style="text-align: justify;">1. Bagi orang yang teraniaya</h5>
<p style="text-align: justify;">Ketika ada orang yang teraniaya, dia boleh membongkar aib orang yang menganiayanya dan menyampaiaknnya kepada pihak-pihak yang mampu menolak/melawan kedholiman orang tersebut. Dengan demikian orang yang teraniaya tetap diharamkan menuturkan kejelekan si dholim kepada pihak atau orang-orang yang tidak memiliki kemampuan mencegah kedholiman orang tersebut. Pihak-pihak yang berkompeten bisa berupa pihak berwenang atau tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki kewibawaan dan kemampuan melawan tindakan aniaya anggota masyarakat dilingkungannya.</p>
<h4 style="text-align: justify;">2. Mengharap Pertolongan</h4>
<p style="text-align: justify;">Diperbolehkan menuturkan perbuatan maksiat orang lain dengan tujuan meminta pertolongan kepada pihak yang mempunyai kekuasaan mencegah maksiat atau kemunkaran. bahkan kadang wajib membuka perbuatan dosa orang lain andai dipandang perbuatannya itu membahayakan agama, meskipun yang berbuat dosa itu seorang &#8216;alim atau orang awam.</p>
<h4 style="text-align: justify;">3. Untuk Meminta Fatwa</h4>
<p style="text-align: justify;">Ketika kita meminta fatwa hukum dari sebuah perbuatan orang lain, maka kita diperbolehkan menuturkan perbuatan buruk orang tersebut untuk memberikan contoh atau gambaran yang jelas. Apakah perbuatan orang itu baik atau buruk berdasarkan hukum-hukum syari&#8217;at. Dengan tujuan, kalau itu perbutan baik akan ditiru, kalau itu perbuatan salah, maka akan dihindarinya.</p>
<h4 style="text-align: justify;">4. Shock Therapy</h4>
<p style="text-align: justify;">Keburukan orang dibeberkan dengan tujuan agar orang lain takut mengikuti perbuatan buruk tersebut, seperti perbuatan korupsi yang sudah merajalela, keburukan koruptor dijadikan headline di media-media sebagai shock therapy agar menjadi pelajaran dan membuat orang lain berpikir ulang untuk menirunya.</p>
<h4 style="text-align: justify;">5. Menjelaskan Keberadaan Seseorang</h4>
<p style="text-align: justify;">Diperbolehkan menuturkan kekurangan orang lain, misalnya cacat tubuh dengan tujuan menjelaskan identitas seseorang. Misalnya, ada orang datang kepada kita mencari orang yang bernama ngajiyo,sedangkan ngajiyo di RT kita ada 2 orang, ngajiyo yang tangan kanannya buntung dan ngajiyo yang tangannya normal. maka orang yang mencari atau kita yang ditanyai boleh menuturkan, &#8220;apakah ngajiyo yang dimaksud itu ngajiyo yang tangan kanannya buntung atau tidak?&#8221;.</p>
<h4 style="text-align: justify;">6. Keburukan Yang Sudah Dilegalkan</h4>
<p style="text-align: justify;">Kemaksiatan yang sudah dilegalkan seperti prostitusi,perjudian,mabuk-mabukan itu diperbolehkan dibeber keburukannya. Atau perbuatan durhaka yang dilakukan dengan terang-terangan seperti saat siang hari di bulan ramadhan tidak puasa, makan-minum diluar rumah,padahal dia seorang muslim,maka diperbolehkan menuturkan keburukan orang tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah 6 kondisi yang diperbolehkan ghibah didalamnya, seperti yang dijelaskan <a href="http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/mengenal-kh-ahmad-rifai/" target="_blank"><span style="color: #0000ff;">Syaikh Ahmad Rifa&#8217;i</span></a> di dalam kitab Bayan kurasan 2. Semoga kita dihindarkan dari dosa menggunjing. amin.(zid)</p>
<p>Sumber : <strong>Kiatab Bayan Karya Syaikh Ahmad Rifa&#8217;i kurasan 2 halaman 6</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/ghibahmenggunjing-diperbolehkan-dalam-6-kondisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5 Dosa Besar Yang Belum Disebutkan Oleh Syaikh Ahmad Rifa’i (bagian 2)</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/5-dosa-besar-yang-belum-disebutkan-oleh-syaikh-ahmad-rifa%e2%80%99i-bagian-2/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/5-dosa-besar-yang-belum-disebutkan-oleh-syaikh-ahmad-rifa%e2%80%99i-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 May 2011 23:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa-dosa Besar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6285</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Yang  belum membaca bagian pertama, silahkan kunjungi 5 Dosa Besar Yang Belum Disebutkan Oleh Syaikh Ahmad Rifa’i (bagian 1). Dan berikut adalah Dosa besar kedua : Merampas Harta Ghonimah...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanbihun</strong> &#8211; Yang  belum membaca bagian pertama, silahkan kunjungi <a href="../tasawwuf/tasawuf/5-dosa-besar-yang-belum-disebutkan-oleh-syaikh-ahmad-rifai-bagian-1/"><span style="color: #0000ff;">5 Dosa Besar Yang Belum Disebutkan Oleh Syaikh Ahmad Rifa’i (bagian 1)</span></a><span style="color: #0000ff;">. <span style="color: #000000;">Dan berikut adalah Dosa besar kedua :</span></span></p>
<h4><strong>Merampas Harta Ghonimah Dengan Cara Sembunyi</strong></h4>
<p style="text-align: justify;">Allah SWT berfirman :</p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (١٦١)</strong></h3>
<p style="text-align: justify;"><em>Artinya: tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa Perang Uhud, ketika para sahabat melihat harta rampasan perang sebagian mereka mengambilnya, sebab ketika perang badar Rasulullah SAW membolehkan mereka mengambil harta tersebut. Maksudnya untuk mengalahkan para sahabat berjuang di medan perang. Sahabat menyangka apa yang terjadi pada Perang Uhud berkenaan (sama) dengan yang terjadi pada perang Badar padahal hukumnya berbeda, karena ayat yang mengatur pembagian harta rampasan telah turun.</p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>وأخرج ابن جرير وابن أبي حاتم عن ابن عباس { وما كان لنبي أن يغل } قال : أن يقسم لطائفة من المسلمين ويترك طائفة ويجور في القسمة ، ولكن يقسم بالعدل ، ويأخذ فيه بأمر الله ، ويحكم فيه بما أنزل الله يقول : ما كان الله ليجعل نبياً يغل من أصحابه فإذا فعل ذلك النبي صلى الله عليه وسلم استسنوا به</strong><strong>) </strong><strong>الدر المنثور [2 /473</strong><strong>(</strong></h3>
<p style="text-align: justify;">Dalam perang badar ada selembar selimut merah dari barang rampasan hilang sebelum dibagi bagi. Sebagian dari orang munafik mengatakan bahwa selimut itu mungkin diambil oleh Rosulullah saw atau pasukan pemanah.</p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>وأخرج أبو داود وعبد بن حميد والترمذي وحسنه وابن جرير وابن أبي حاتم من طريق مقسم عن ابن عباس قال : نزلت هذه الآية { وما كان لنبي أن يغل } في قطيفة حمراء افتقدت يوم بدر فقال بعض الناس : لعل رسول الله صلى الله عليه وسلم أخذها</strong><strong>) </strong><strong>الدر المنثور [2 /473</strong><strong>(</strong></h3>
<p style="text-align: justify;">Ayat 161 diatas menjelaskan bahwa Rosul tidak mungkin berhianat menyembunyikan harta rampasan perang seperti apa yang mungkin dilakukan oleh sebagian sahabat. Karena akhlak Rosulullah saw.berbeda dengan ahlak sahabatnya, ayat tersebut juga merupakan peringatan keras bagi para pejuang yang ikut berperang untuk tidak berhianat mengambil barang rampasan tanpa seizn Rosulullah, karena hal itu tidak diridoi Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang di maksud ghulul pada ayat di atas adalah mengambil secara sembunyi-sembunyi milik orang banyak maka pengambilan itu sifatnya semacam mancuri. Dan di antara sifat Rasul SAW adalah amanah <em>(dapat di percaya)</em> maka sangat tidak mungkin bagi Rosululloh berbuat ghulul.bahkan semacam ghulul ini Rosululloh pernah bersabda yang <em>artinya ;wahai sekalian manusia barang siapa di antaramu mengerjakan sesuatu untuk kita kemudian ia menyambunyikan sehelai barang jahitan atau lebih dari itu maka perbuaatan itu adalah ghulul harus di pertanggung jawabkan besok di hari kiamat.(H.R Muslim).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ghulul di katakan dosa besar karena mengambil harta yang tidak haknya,walaupun kenyataannya akan mengambil bagiannya sendiri. Karena dalam pembagian ghonimah itu ada aturan sendiri dilihat dari status orang yang ikut perang  seperti orang yang membunuh dengan kemampuan dirinya sendiri atau cuma ikut-ikutan tidak ikut membunuh hanya membawa fasilitas alat perang atau makanan,malah ada yang baru datang seteleh usainya peperangan.semua itu ada baginya sendiri mungkin bias dilihat dalm kitab-kitab fiqih .</p>
<p style="text-align: justify;">Hukum <em>ghulul</em> ghonimah itu haram karena merampas harta orang lain yang sama sekali tidak mempunyai hak untuk untuk memperolehinya, berbeda kalau ada hak untuk memperolehnya seperti bagi orang miskin untuk mengambil hartanya raja. Karena apabila harta itu miliknya maka tidak ada keraguan di perbolehkan untuk mengambilnya dan juga yang berasal dari harta fai’, maka orang miskin atau pelajar-pelajar agama yang lumayan cerdas di perbolehkan untuk mengambilnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ali Bin Abi Tholib berkata: “<em>Barang siapa masuk islam dengan tunduk dan membaca Al-Qur’an dengan jelas maka ia berhak untuk mendapatkan seratus dirham setiap tahunya dari baitul maal.</em><em>”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Para Ulama’ mengatakan harta raja yang tercampur dengan barang rampasan <em>(harom)</em> yang tidak mungkin untuk dikembalikan pada pemiliknya dan cucu-cucunya maka tidak ada jalan  keluar bagi raja kecuali untuk menyadekahkan.untuk itulah sangat di perbolehkan mengambilnya walaupun dengan cara mencuri kecuali barang barang rampasan yang masih di ketahui pemiliknya atau barang harom. sebagian contoh lagi yang agak mirip dengan perbuatan ghulul <em>(merampas harta dengan sembunyi )</em> yaitu menggunakan barang waqofan khusus buat orang yang belajar syariat, maka orang –orang yang tidak ikut belajar jika menggunakan barang itu hukumnya haram karena dia menggunakan memakai mengambil barang yang sama sekali dia tidak punya hak dalam memperolehnya .</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh: <strong>Siswa kelas IV PP. Miftahul ‘Ulum 2011-2012 Talun – Kayen – Pati – Jawa Tengah</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/5-dosa-besar-yang-belum-disebutkan-oleh-syaikh-ahmad-rifa%e2%80%99i-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

