<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tanbihun Online &#187; Usulidin</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/category/usulidin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 15:30:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Inilah Kitab Yang Memuat Tentang Taubatnya Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah</title>
		<link>http://tanbihun.com/usulidin/inilah-kitab-yang-memuat-tentang-taubatnya-imam-taqiyuddin-ibnu-taimiyah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/usulidin/inilah-kitab-yang-memuat-tentang-taubatnya-imam-taqiyuddin-ibnu-taimiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 20:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[kitab Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=39933</guid>
		<description><![CDATA[PROLOG KE TIGA Taubatnya Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah Banyak di kitab-kitab yang cenderung melaporkan masalah aqidah atas ucapan ucapan dan karangan karangan yang di nisbatkan/sandarkan kepada imam Taqiyuddin Ahmad ibnu...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah1.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39935" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah1" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah1-789x1024.jpg" alt="" width="620" height="804" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PROLOG KE TIGA</strong><br />
<strong>Taubatnya Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
Banyak di kitab-kitab yang cenderung melaporkan masalah aqidah atas ucapan ucapan dan karangan karangan yang di nisbatkan/sandarkan kepada imam Taqiyuddin Ahmad ibnu Taimiyah Rahimahullah. Sebagian dari mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya imam besar ini telah bertaubat dari aqidah aqidahnya dan telah kembali kepada kebenaran. Saya disini akan menukilkan tanggal-sejarah itu berikut dengan teks nya yang saya salin dari kitab “Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah” karya amirul mukminin dalam hadis, yaitu imam al hafidz Abi Fadl ibnu Hajar Al Atsqolani terbitan 1414H cetakan Darul Jail-Juz 1 hal.148. Namun sebelum itu ada pemaparan <strong>Imam Nuwairi</strong>. Beliau adalah ulama yang hidup sejaman dengan imam ibnu taimiyah dan pemaparan orang orang yang menyaksikan peristiwa pertaubatan tersebut. Imam Nuwairi mengatakan bahwa peristiwa pertaubatan ibnu taimiyah ini juga disaksikan oleh golongan yang menyimpang (pro ibnu taimiyah)penj. atau maksudnya golongan yang bersebrangan dengan ibnu taimiyah (maaf jk salah terjemah). Ibnu Hajar berkata:”Yang menyaksikan peristiwa pertaubatan ini terdiri dari aliansi ulama dll.</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong>Imam Nuwairi</strong> berkata:”Masalah imam Taqiyuddin ini berkelanjutan hingga beliau di jebloskan ke dalam penjara bawah tanah yang berada di benteng gunung hingga datanglah amir Hisamuddin ke pintu pemerintahan untuk melayani beliau pada bulan Rabi’ul awwal tahun 707 H. Hingga kemudian Hisamuddin menanyakan duduk permasalahan ibnu taimiyah ini kepada pemerintah yang berwajib dan akan menolongnya sehingga pemerintah memberi grasi kepada ibnu taimiyah dan akhirnya beliau bebas pada hari jum’at tanggal 23 bulan (?) (pada bulan itu pula)penj. Yaitu rabi’ul awwal. Dan kemudian ibnu taimiyah di hadirkan ke gedung penuntutan (pengadilan)penj. Yang berada disitu (benteng gunung). Dan terjadilah pembahasan bersama para pakar ilmu kemudian kumpullah golongan dari ulama yang terkemuka, namun acara tersebut tidak dihadiri oleh hakim ketua yaitu Zainuddin Al Maliky dikarnakan beliau sakit dan tak hadir pula dari para hakim yang lain. Namun hasil dari pembahasan tersebut ibnu taimiyah menulis kemudian ditulis oleh dewan majlis dengan tulisan yang terjamin dan di tanda tangani oleh para saksi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong>BISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM</strong><br />
Kesaksian orang yang telah ikut membubuhkan tulisannya ketika telah ada teken dari dewan majlis untuk Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah Al harani Al Hanbali ini dihadapkan kepada markas besar yang mulia amir adil Assaifi raja sultan Salar Al Maliky An Nashiri wakil dari sultan agung. Dan hadir pula didalamnya golongan dari para ulama.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah2.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39940" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah2" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah2-717x1024.jpg" alt="" width="620" height="885" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dan pembesar pembesar ahli fatwa terdepan mesir disebabkan apa yang pernah di nukil dari pemikiran ibnu taimiyah dan tulisan beliau yang sudah di ketahui sebelum itu yaitu masalah masalah yang berhubungan dengan akidah beliau seperti “Sesungguhnya Allah itu berbicara dengan suara”, dan “bahwa makna istiwa’ itu atas makna hakikat/dhohirnya dll yang bertentangan dengan ahli kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;">
Akhirnya majlis itu selesai setelah pembahasan itu berjalan lama. Ibnu taimiyah mengembalikan akidahnya itu kembali sehingga beliau berucap dihadapan para saksi (SAYA ASY’ARI) sambil mengangkat kitab faham asy’ariyah di atas kepalanya. Dan saya bersaksi atasnya dengan apa yang tertulis berikut ini:</p>
<p>“Segala puji milik Allah yang aku beri’tikad pada-Nya bahwa Al Qur’an berdiri diatas makna Dzat Allah. Dan itu sifat dari beberapa sifatNya yang qodim dan ajali. Dan Ia bukan makhluk. Bukan dengan huruf dan bukan pula dengan suara.<br />
Ini di tulis oleh Ahmad Ibnu Taimiyah.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Demi Dzat yang aku beri’tikad kepadaNya dari firmanNya yang berbunyi:</p>
<h2 style="text-align: justify;">
(الرحمن على عرش استوى) طه:5</h2>
<p style="text-align: justify;">Itu di pahami seperti apa yang telah dipahami banyak orang, yaitu bukan seperti hakikat dan dhohirnya lafad. Saya tidak tahu makna ganti dan maksudnya, bahkan tidak diketahui itu kecuali hanya Allah swt.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Ini ditulis oleh Ahmad Ibn Taimiyah.</p>
<p>Pendapatnya dalam masalah “turunnya” (Allah) itu juga sama seperti masalah “istiwa”. Aku katakan seperti apa yang aku katakan, yaitu “Saya tidak mengetahui makna ganti dan maksudnya, bahkan tidak akan diketahui kecuali Allah swt. Bukan atas hakikat dan dhohir lafadnya.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
<strong>Ahmad ibnu Taimiyah telah menulis ini.</strong></p>
<p>Tulisan pengakuannya ini ia tulis pada hari minggu tanggal 25 rabi’ul awwal tahun 707 H.</p>
<p>Dan inilah naskah/salinan apa yang telah ia tulis dengan tulisannya sendiri. Dan saya (imam nuwairi) menjadi saksinya pula bahwa beliau bertaubat kepada Allah dari apa yang ia yakini selama ini (4 masalah). Dan dia (ibnu taimiyah) melafadzkan dua kalimah syahadat yang agung. Saya bersaksi atasnya dengan sukarela dan seleksi dalam masalah itu semua di benteng gunung yang terjaga dari gedung gedung mesir. Semoga Allah menjaganya. Amien..</p>
<p>Dengan sejarah hari minggu tanggal 25 robi’ul awwal tahun 707 yang di saksikan oleh golongan orang orang yang terkemuka yang patuh dan tunduk dan golongan yang menyimpang.<br />
Aku keluarkan ini dan aku tetapkan di kairo. (selasai ucapan imam nuwairi).<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Ini dari kitab “Nihayatul arob fi fununil adab” milik hakim Syihabuddin an nuwairy. Beliau wafat pada tahun 733 H. cetakan darul kutub mesir 1998M juz 32 hal.115-116.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah3.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39949" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah3" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah3-793x1024.jpg" alt="" width="620" height="800" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Imam al hafidz ibnu hajar al asqolani</strong> berkata: &#8220;Ibnu taimiyah masih tetap di penjara bawah tanah hingga ditolong/diberi grasi oleh amir ali fadl sehingga beliau akhirnya bebas dibulan rabiul awwal tanggal 23 dan kemudian di hadapkan di sebuah benteng dan dilaksanan pembahasan (dialog terbuka)penj. Bersama sebagian pakar fikih hingga akhirnya tercatat sebuah catatan pengakuan ibnu taimiyah bahwa dia berkata:”Saya berpaham asy’ariyah”. Dan di jumpai pula tulisan beliau dengan teks sbb:</p>
<p>“Segala puji milik Allah yang aku beri’tikad pada-Nya bahwa Al Qur’an berdiri diatas makna Dzat Allah. Dan itu sifat dari beberapa sifatNya yang qodim dan ajali. Dan Ia bukan makhluk. Bukan dengan huruf dan bukan pula dengan suara.<br />
Sedangkan firman Allah yang berbunyi:</p>
<h2 style="text-align: justify;">
(الرحمن على عرش استوى)</h2>
<p style="text-align: justify;">
ini bukan seperti dhohirnya lafadnya. Saya tidak tahu makna ganti dan maksudnya, bahkan tidak diketahui itu kecuali hanya Allah swt. Dan pendapatnya dalam masalah “turunnya” (Allah) itu juga sama seperti masalah “istiwa”. (bukan seperti dhohirnya dan tidak diketahui muradnya).<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
<strong>Ibnu taimiyah telah menulisnya ini</strong>.</p>
<p>Kemudian para hadirin menyaksikannya bahwa dia bertaubat sebagai pilihannya dari apa yang ia yakini dulu dan itu terjadi pada tanggal 25 rabiul awwal tahun707 H. Dan peristiwa itu di saksikan pula oleh sebagian besar dari ulama dll. Setelah kasus ini reda, akhirnya di rilis (pengakuan taubat ibnu taimiyah ini)penj. ke permukaan. Dan beliau tinggal di kairo.</p>
<h3 style="text-align: justify;">
Adapun selain imam ibnu hajar dan imam nuwairi yang menuturkan tentang pertaubatan ibnu taimiyah ini terdiri dari ulama dan para pakar sejarah, yaitu:</h3>
<p style="text-align: justify;">
<strong>1. ابن المعلم(w.725) فى نجم المعتدى salinan paris nomor 638 </strong><br />
<strong>2. الدواداى(w.736) فى كنزالدرر- الجامع 239</strong><br />
<strong>3. ابن تغري بردي الحنفى (w.874) فى المنهل الصافى- الجامع 576</strong></p>
<p>Yang ke semua ini isinya sama seperti penuturannya ibnu hajar. Dan juga telah dinukil pula di kitab<br />
<strong>النجوم الزاهرة – الجامع 580</strong></p>
<h3 style="text-align: justify;">
SITUASI ORANG ORANG KARNA PERTAUBATAN IBNU TAIMIYAH:</h3>
<p style="text-align: justify;">
Seluruh ulama sepakat atas kebenaran peristiwa pertaubatan imam ibnu taimiyah rahimahullah ini. Namun setelah itu terjadi perselisihan tentang sikap ibnu taimiyah tsb. Ia jujur taubat sebenarnya atau murni permainan kata-kata/kamuflase atau taqiyah (kepura puraan)penj. (Agar segera dibebaskan).</p>
<p><strong>Sikap orang orang ada dua kelompok:</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>: Kubu yang membenarkan hal itu dan menaruh simpati kepada ibnu taimiyah, karena telah membawa kaum muslimin keluar menuju yang terbaik dan mendorong kepada kaum muslimin yang lain, oleh karena itu banyak ulama yang membelanya (taubat)penj. dan menentang siapa saja yang menuduh dia bid’ah. (karena taubat)penj.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Kubu yang berasumsi bahwa pertaubatannya itu tidak benar/tidak terbukti. Kubu ini ada dua versi, yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah4.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39951" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah4" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah4-721x1024.jpg" alt="" width="620" height="880" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PIHAK PERTAMA MENGATAKAN</strong>:”Orang orang telah memaksa ibnu taimiyah telah berbuat bid’ah dan memaksa keluar dari aqidahnya ahli kebenaran seperti yang telah ditegaskan dalam kitab kitab beliau. Dan atau seperti yang sudah banyak dinukil oleh para pengikut fanatiknya bahwa beliau ditetapkan dibanyak kitab bahwa beliau meninggal dunia di penjara.</p>
<p>Adapun ucapan mereka yang menyatakan bahwa ibnu taimiyah menghembus nafas terakhirnya di penjara, JAWABANNYA ADALAH:”Memang benar, namun itu dalam tahanan yang terakhir, yaitu beliau di jebloskan ke penjara lagi karena tersandung masalah fiqhiyah dan furu’iyah, seperti masalah fatwa haramnya bagi orang yang bepergian untuk berziarah kemakam Nabi Saw dll. Jadi bukan masalah akidah yang telah ia taubati itu.</p>
<h3 style="text-align: left;">
Mengenai tidak ditemukannya dalil penguat/pembenaran atas taubatnya beliau di kitab kitab beliau atau referensi valid dari beliau JAWABANNYA ADALAH:</h3>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Ibnu Taimiyah tidak mencetak semua kitab kitabnya. Sehingga dengan indikasi ini kami menguatkan.</strong></p>
<p><strong>2. Alasan lain bahwa kitab kitabnya yang telah tercetak terdapat banyak kekeliruan puluhan halaman seperti yang terjadi dalam kitab fatawanya terutama dari lembaran lembaran dan kalimatnya. Sebuah kesalahan jika kami menetapkan tidak adanya pencabutan ibnu taimiyah atas akidahnya atau tidak memungkinkannya kembalinya beliau kepada kebenaran.</strong></p>
<p><strong>3. Kitab kitab yang beredar kini dan fatwa fatwa yang di nisbatkan kepada beliau, itu semua di kumpulkan 5 abad/lebih setelah beliau wafat. Dan itu semata mata hanya salinan-salinan yang tidak jelas yang tak bisa membenarkan dan yang tak bisa menyanggah hal itu.</strong></p>
<p><strong>PIHAK KEDUA MENGATAKAN</strong>:”Ini mengenai martabat sebuah akidah yang beliau taubati. Pihak ini mengatakan bahwa taubatnya ibnu taimiyah ini hanyalah permainan kata kata dan taqiyyah (menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati untuk menyelamatkan diri-pent) bukan yang lain. Dan inilah yang banyak di anut oleh pengikutnya hingga sekarang. Dan menurut mereka pula, ini tidak benar jika taubat dari keyakinannya di nisbatkan kepada sosok seorang ibnu Taimiyah rahimahullah karena ia beri’tikad bahwa akidahnya-lah yang diatas kebenaran. Bagaimana pula dia menyerah/tidak berpegang teguh dalam pendiriannya sedangkan beliau adalah seorang pemimpin dan panutan dalam masalah kebenaran ini. Pihak ini berdalih seperti teguh dan sabarnya imam Ahmad bin Hambal [yang memilih tetap dipenjara-pent]. (tatkala disuruh mengakui bahwa Al Qur’an itu adalah makhluk-pent) dan ulama ulama yang lain.</p>
<p><strong>[Penulis kitab berkata]</strong><br />
Adapun yang benar adalah yang menguatkan bahwa ibnu Taimiyah telah bertaubat dari akidahnya, segala puji milik Allah. Tujuan saya dari semua ini adalah setiap bantahan dan sanggahannya mengenai pesan ini. Saya tidak bermaksud membahas secara personal seorang ibnu taimiyah, saya hanya bermaksud dengan apa yang telah disebutkan dalam kitab kitabnya, entah itu pendapat beliau disaat belum taubat (Allah bersemayam)red. Atau itu hanya ucapannya orang yang berbuat buat atas nama ibnu taimiyah rahimahullah.</p>
<p style="text-align: justify;">
Sehingga kesimpulannya adalah:’Bantahan/sanggahan ini ditujukan pada pendapat/opini yang berkembang saat ini, bukan pada sang penutur/pengucap(ibnu taimiyah)red. seperti yang ada sekarang ini.</p>
<p style="text-align: center;">
<p>……………………&#8230;<strong>T A M A T</strong>…………………….</p>
<p style="text-align: justify;">
<p>Semoga bermanfaat, sehingga menjadi khazanah ilmu pengetahuan anda semua…<br />
Saya ucapkan banyak terima kasih bagi kawan kawan disini yang telah mendukung atas terbitnya scan kitab ini : )</p>
<p>Saya juga mohon maaf jika ada terjemahan yang kurang berkenan dalam hati kawan kawan disini. Jangan lupa di copy paste atau hanya di download saja gambar scan kitab ini (scan#1-2-3-4). Afwan bagi rekan rekan yang tidak kena [Tag] oleh saya karena keterbatasan pertemanan atau perangkat saya. Saya ijinkan pula bagi siapa saja yang ingin menyebarkannya dengan cara mengeTag teman temannya /dll.</p>
<p style="text-align: center;">
<p>::::::::::::: KEBENARAN HANYA MILIK ALLAH:::::::::::</p>
<p style="text-align: justify;">
Scan ini adalah kitab:</p>
<h2 style="text-align: justify;">د ررالالفاظ العاوالي فى الرد على الموجان والحوالي</h2>
<p style="text-align: justify;">Karya:</p>
<h2 style="text-align: justify;">غيث بن عبدالله الغالبي</h2>
<p style="text-align: justify;">Adapun riwayat pertaubatan ibnu taimiyah ini ada dalam kitab:</p>
<h2 style="text-align: justify;">الدررالكامنة فى اعيان المائة الثامنة</h2>
<p style="text-align: justify;">Karya ulama pakar hadis dan fikih abad ke-8, yaitu Ibnu Hajar Al Asqolany.<br />
Seperti yang tertera dalam scan#1.</p>
<p>Saya meriwayatkan ini dari SANAD berikut ini:</p>
<h2 style="text-align: right;">
ارويها عن الشيخ محمد أمين الهرري عن الشيخ محمد ياسين بن محمد عيسى الفادني عن السيد جعفر بن محمد الحداد, والسيد منصور بن عبدالحميد الفلمباني المكي, كلاهما عن والد الثاني السيد عبد الحميد بن محمود الفلمباني عن ابيه المعمر السيد محمود بن كنان الفلمباني عن المعمر الشيخ عبد الصمد بن عبد الرحمن الأشي الشهير بالفلمباني عن السيد عمادالدين يحي بن عمر مقبول الأهدل الزبيدى عن محمد بن عمر بن مبارك بحرق الحضرمي عن السيد أحمد بن حسين العدروس التريمي عن السيد محمد بن على خرد التريمي عن محمد بن عبد الرحمن الخاوي عن مؤلفها الحافظ أبي الفضل أحمد بن علي بن حجر العسقلاني.</h2>
<p style="text-align: justify;">Kalau memang riwayat scan#1-2-3-4 ini dikatagorikan lemah, mungkin karena ada satu rowinya yang penuh dosa, hina dan tidak pandai berdebat ini, yaitu saya sendiri.. hehehehe..</p>
<p>Salam Aswaja !!</p>
<div id="fbPhotoPageAuthorName"><a href="https://www.facebook.com/profile.php?id=100001572504293" data-hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=100001572504293">Kaheel Baba Naheel</a></div>
<div>Ini hasil dari scan saya sendiri (bukan ngambil dari link) dan berikut dengan terjemahannya saya sendiri.<br />
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan atau terjemahannya dikarenakan keterbatasan ilmu yang saya miliki.</div>
<div></div>
<div>Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.</div>
<p style="text-align: justify;">
<p>► Jgn Lp Copas Download<br />
█║▌│█│║▌║││█║▌║▌║</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/usulidin/inilah-kitab-yang-memuat-tentang-taubatnya-imam-taqiyuddin-ibnu-taimiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghapus Ashobiyyah, Menebar Ukhuwah</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/menghapus-ashobiyyah-menebar-ukhuwah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/menghapus-ashobiyyah-menebar-ukhuwah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 22:39:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[ashobiyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=36076</guid>
		<description><![CDATA[AHMAD AR RIFA’I[1] Tanbihun- Akhir-akhir ini, umat Islam Indonesia sudah terjebak pada sikap ashobiyyah ( fanatic buta ) terhadap sukunya, rasnya, organisasi politiknya, bahkan tanah airnya. Masing-masing mereka tidak hanya...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;" align="center"><strong>AHMAD AR RIFA’I<a title="" href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong>- Akhir-akhir ini, umat Islam Indonesia sudah terjebak pada sikap ashobiyyah ( fanatic buta ) terhadap sukunya, rasnya, organisasi politiknya, bahkan tanah airnya. Masing-masing mereka tidak hanya suka membanggakan kelompok sendiri, tapi juga merendahkan kelompok lain. Sedemikian fanatiknya masing-masing mereka terhadap kelompok sendiri, seolah-olah mereka punya ‘akidah’: <em>Kelompok sendiri selalu benar dan harus dibela mati-matian sampai mati.</em> Inilah yang disebut<em> ‘Ashabiyah</em>. Terjadinya banyak peperangan dan pertumpahan darah di antara mereka, umumnya diakibatkan oleh <em>‘ashabiyah</em> atau fanatisme kelompok ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pengertian <em>‘ashabiyyah </em>itu sendiri. <em>‘Ashabiyah </em>adalah sifat yang diambil dari kata <em>‘ashabah</em>. Dalam bahasa Arab, <em>‘ashabah </em>berarti kerabat<em> </em>dari pihak bapak. Menurut Ibn Manzhur, <em>‘ashabiyyah </em>adalah ajakan seseorang untuk membela keluarga, tidak peduli keluarganya zalim maupun tidak, dari siapapun yang menyerang mereka. Menurutnya, penggunaan kata <em>‘ashabiyyah </em>dalam hadis identik dengan orang yang menolong kaumnya, sementara mereka zalim (Ibn Mandzur, <em>Lisan al-‘Arab,</em>I/606 ). Pandangan ini sama dengan pandangan al-Minawi ketika menjelaskan maksud hadis:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّة وليس منا من قاتل علي عصبية وليس منا من مات علي عصبية</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>Bukan termasuk umatku siapa saja yang menyeru orang pada ‘ashabiyah</em><em>, bukan dari golongan kami orang yang berperang karena ashabiyyah, dan bukan dari golongan kami orang yang mati karena ashabiyyah</em><em> </em>(HR Abu Dawud).</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau menyatakan, “Maksudnya, siapa yang mengajak orang untuk berkumpul atas dasar ‘<em>ashabiyah</em>, yaitu bahu-membahu untuk menolong orang yang zalim.” Sementara al-Qari menyatakan, “Bahu-membahu untuk menolong orang karena hawa nafsu.”( Muhammad Syamsu al-Haq, <em>‘Aun al-Ma’bud,</em> XIV/17.)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dalam hadis lain, larangan berperang di bawah bendera <em>‘Ummiyyah </em>atau <em>Immiyyah</em>, menurut as-Sindi, adalah bentuk <em>kinâyah</em>, yaitu larangan berperang membela jamaah (kelompok) yang dihimpun dengan dasar yang tidak jelas (<em>majhûl</em>), yang tidak diketahui apakah <em>haq</em> atau batil. Karena itu, orang yang berperang karena faktor <em>ta’âshub </em>itu, menurutnya, adalah orang yang berperang bukan demi memenangkan agama, atau menjunjung tinggi kalimah Allah (As-Sindi, <em>Hasyiyah as-Sindi ‘ala Ibn Majah,</em> VII/318)</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, jelas bahwa makna <em>‘ashabiyyah </em>di sini bersifat spesifik, yaitu ajakan untuk membela orang atau kelompok, tanpa melihat apakah orang atau kelompok tersebut benar atau salah; juga bukan untuk membela Islam, atau menjunjung tinggi kalimat Allah, melainkan karena dorongan marah dan hawa nafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Islam tidak mengakui setiap loyalitas kepada selain akidahnya, tidak mengakui persyerikatan kecuali ukhuwah Islamiyyah dan tidak mengakui cirri khas yang membedakan manusia kecuali iman dan kekafiran. Oleh karena itu, orang yang memusuhi Islam adalah musuh orang Islam, meskipun dia adalah tetangga, family, bahkan saudara seibu sekalipun, Allah berfirman :</p>
<p style="text-align: justify;"><em> kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. ( Al-Mujaadilah:22)</em></p>
<p style="text-align: justify;">dan juga dalam Surat Taubat Allah menegaskan :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan( At-Taubah:23).</em><em></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Islam tidak pernah menilai kemuliaan seseorang berdasarkan keturunan, ras, suku maupun bangsanya. Islam hanya mengukur kemuliaan seseorang berdasrkan ketaqwaan semata. Dalam hal ini Nabi bersabda  :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">انظر فإنك لست بخير من أحمر ولا أسود إلا أن تفضله بتقوي الله</h2>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Perhatikanlah sesungguhnya kamu tidak lebih baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam, kecuali jika kamu dapat mengunggulinya dengan ketakwaan kepada Alloh (HR. Ahmad )</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa Ketakwaan kepada Allah, keturunan tidak berarti sama sekali dihadapan Allah Swt, sampai dzuriyyahnya Nabi sekalipun jika mereka tidak bertakwa kepada Allah, maka mereka tidak akan mendapat kemuliaan sedikitpun dimata Allah Swt.</p>
<p><em> </em></p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Di sampaikan di STIAMI tgl 09 November 2011</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/menghapus-ashobiyyah-menebar-ukhuwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Ada Agama Selain Islam</title>
		<link>http://tanbihun.com/usulidin/tidak-ada-agama-selain-islam/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/usulidin/tidak-ada-agama-selain-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 02:08:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[beriman kepada risalah]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=32299</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: AHMAD AR RIFAI[1] Tanbihun- Pluralisme yang dihembuskan oleh sebagian intelektual Muslim, dengan mengusung semangat bahwa semua agama adalah benar dan memungkinkan pengikutnya untuk memasuki surga sungguh kebablasan. Allah Swt...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/kaligrafi-bismillah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-32325" title="kaligrafi bismillah" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/kaligrafi-bismillah-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Oleh: AHMAD AR RIFAI<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong>- Pluralisme yang dihembuskan oleh sebagian intelektual Muslim, dengan mengusung semangat bahwa semua agama adalah benar dan memungkinkan pengikutnya untuk memasuki surga sungguh kebablasan. Allah Swt sudah menegaskan dengan sangat jelas dalam firmannya.</p>
<h2 style="text-align: center;">ان الدين عند الله الاسلام</h2>
<p style="text-align: center;">(Sesungguhnya agama yang diridhoi Allah adalah agama Islam).</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad diutus oleh Alloh Swt untuk menyempurnakan risalah para Nabi terdahulu. Oleh sebab itu semua umat manusia yang telah mendengar syariat Nabi Muhammad Saw wajib untuk mengikutinya dan masuk ke dalam agama Islam, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi dalam Shahih Muslim.</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ</strong><strong> </strong><strong>عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ</strong><strong> ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><strong>Artinya:</strong> dari abu Hurairoh RA, Rasulullah Saw bersabda,” Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggamanNya, siapapun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar berita tentang aku, lalu ia mati sebelum beriman kepada risalah yang diberikan kepadaku, maka ia akan menjadi penghuni neraka (H.R Muslim No.218)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadis di atas menegaskan bahwa siapa saja yang dakwah islamiyyah telah sampai kepadanya namun ia tidak mau menerima Islam sebagai agamanya maka ia akan masuk ke dalam neraka. Yahudi maupun Nashrani sekalipun, jika mereka mengingkari kerasulan Nabi Muhammad Saw maka mereka akan masuk ke dalam neraka. Hadist ini sangat jelas menolak ajaran pluralisme agama yang dalam pengertian semua agama adalah benar. Sebab jika mereka semua benar pastilah Nabi Muhammad Saw tidak akan mengancam mereka dengan ancaman neraka.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan ketika Umar bin Khottob menunjukkan kitab taurat kepada Nabi, beliau sontak bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">لواصبح موسي حيا فاتبعتمواه وتركتمواني لضللتم</h2>
<p>Seandainya Musa masih hidup lalu kalian mengikutinya dan meninggalkan aku, maka kalian pasti tersesat. (HR. Ahmad).</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi bersabda demikian karena Islam adalah agama yang komplit dan selalu dinamis hingga akhir zaman tanpa memerlukan tambahan dari agama atau ajaran lain. Sisipan-sisipan ajaran Nashrani atau Yahudi masih sering kita jumpai di majelis-majelis ta’lim dan ceramah-ceramah agama yang disampaikan para ustadz, hal ini dikarenakan kurang dalamnya pengetahuan mereka tentang agama sehingga menganggap bahwa cerita Israiliyyat adalah bagian dari Islam itu sendiri, padahal cerita israiliyyat inilah yang dapat mereduksi kemurnian Islam sehingga muncul praktek-praktek keagamaan yang menyimpang dari tuntunan Islam bahkan mirip dengan ajaran agama lain. Syariat Nabi terdahulu hanya untuk umat terdahulu, sehingga sudah out of date dan tidak berlaku untuk umat sekarang. Sementara itu Islam datang untuk mengganti dan menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya, sehingga sudah sewajarnyalah jika Allah mewajibkan kepada seluruh mukallaf di dunia ini untuk memeluk agama Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Legalitas Islam sebagai agama satu-satunya yang harus dianut oleh umat ini juga ditegaskan dalam firman Allah :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ<strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><strong>Artinya :</strong> Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.(QS.Ali Imron :85).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Imam Fachruddin Ar Raziy</strong> dalam tafsirnya mengatakan, sesungguhnya tidak ada agama selain Islam dan semua agama selain Islam tidak akan diterima disisi Allah. (Tafsir Ar Raziy Juz 4 hal.287).</p>
<p style="text-align: justify;">Jika demikian, masihkan kita menganggap bahwa agama diluar Islam sama nilainya dimata Allah dengan agama Islam?.</p>
<p>Wallahu A’lam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Disampaikan Di STIAMI Rabu, 12 Oktober 2011</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/usulidin/tidak-ada-agama-selain-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iman Menenangkan Hati Dan Menentramkan Jiwa</title>
		<link>http://tanbihun.com/usulidin/iman-menenangkan-hati-dan-menentramkan-jiwa/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/usulidin/iman-menenangkan-hati-dan-menentramkan-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 01:45:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah Beriman Kepada Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=31499</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Manusia kadang takut dan cemas karena berbagai sebab. Masalah rizki kadang mendorong orang untuk berbuat kelewat batas. Menipu, korupsi, mencopet, merampok, membunuh dan sebagainya. Masalah itu mendorong orang tua...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/keluarga-sakinah.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-31500" title="keluarga sakinah" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/10/keluarga-sakinah-255x300.jpg" alt="" width="280" height="300" /></a>Tanbihun</strong>- Manusia kadang takut dan cemas karena berbagai sebab. Masalah rizki kadang mendorong orang untuk berbuat kelewat batas. Menipu, korupsi, mencopet, merampok, membunuh dan sebagainya. Masalah itu mendorong orang tua memfokuskan pendidikan anak-anaknya pada bidang-bidang yang kelak memberikan <em>income</em> sebanyak-banyaknya tanpa diimbangi pendidikan dan pengetahuan agamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang beriman yakin bahwa rizki ada pada Alloh yang maha kaya. Maka ia tidak terpukau untuk memusatkan segala aktifitasnya untuk rizki. Bertebaran ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan jaminan rizkinya. Diantaranya firman Alloh :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya apa yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.”</em>(QS Adz-Dzariyat [51]:22-23)</p>
<p style="text-align: justify;">Berkata <strong>Imam Al-Basri</strong>: <em>“Allah melaknat  orang yang tidak percaya bahwa Alloh telah bersumpah menjamin rizki mereka.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Berkata <strong>Ues Al-Qarni ra</strong>. <em>“Andaikata engkau beribadah kepada Alloh sebanyak ibadahnya penghuni langit dan bumi, tidak akan diterima ibadahmu sebelum engkau percaya kepada Allah akan jaminan-Nya.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Berkata <strong>Imam Al-Ghazali:</strong> “Kami dapat berita bahwa ada seorang Nabbas (pencuri kain kafan di kuburan) tobat didepan imam Abu Yazid Al-Bustomi ra. Maka<strong> Abu Yazid</strong> berkata:<em>&#8220;‘Syukur engkau taubat, tapi apa sebab maka engkau bertaubat?’</em> Berkata orang itu: <em>&#8220;Kurang lebih aku sudah menggali 1000 kuburan. Semua mukanya berpaling dari kiblat, hanya ada dua mayit yang tetap menghadap kiblat.</em>&#8221; Maka berkata Imam Yazid: <em>&#8220;Kasihan mereka, karena ragu-ragu tentang rizki sehingga memalingkan muka mereka daripada kiblat”</em>.(zid)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/usulidin/iman-menenangkan-hati-dan-menentramkan-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab-kitab Ahlussunnah Wal Jama&#8217;ah</title>
		<link>http://tanbihun.com/usulidin/kitab-kitab-ahlussunnah-wal-jamaah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/usulidin/kitab-kitab-ahlussunnah-wal-jamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 01:50:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[Nama-nama Kitab Aswaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=31452</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Saya mendengar seseorang berkata secara sinis; “Ach, apa itu faham ahlussunnah wal jama’ah, mana buku-bukunya, mana literaturnya. Apakah tidak cukup kalau kita hanya berpegang kepada Islam saja?. Rupanya orang...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun</strong>- Saya mendengar seseorang berkata secara sinis; “Ach, apa itu faham ahlussunnah wal jama’ah, mana buku-bukunya, mana literaturnya. Apakah tidak cukup kalau kita hanya berpegang kepada Islam saja?.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya orang ini benar-benar tidak tahu, bahwa literature tentang faham dan kepercayaan kaum ahlussunnah wal jama’ah sudah banyak dikarang oleh ulama-ulama sunny.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin orang ini tidak mengerti bahasa arab, sehingga ia tidak pernah membaca buku-buku ahlussunnah yang banyak dikarang dalam bahasa arab.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi kalau kita tidak mengerti hendaknya jangan dikatakan tidak ada literaturnya, tetapi haruslah dikatakan belum membaca.</p>
<p style="text-align: justify;">Kitab-kitab yang mengupas I’tiqad ahlussunnah wal jama’ah ini sudah banyak dikarang dari dulu sampai sekarang oleh ulama-ulama sunny,</p>
<h5 style="text-align: justify;">Diantaranya untuk diketahui, kami akan buatkan daftarnya dibawah ini :</h5>
<ul>
<li>Kitab Asma’ was Shifaat, karangan Imam Abu Manshur Abdul Qahir bin Thaher al Baghdadi.</li>
<li>Kitabus Sunnah, karangan Imam Abdul Qasim Hibbatullah bin Hasan at Thabari Allakai.</li>
<li>Kitab Tadzkiratul Qusyairiyyah, karangan Imam Abu Nashar Abdurrahim bin Abdul Karim al Qusyairi.</li>
<li>Kitab Madhkhalul Ausath ila ilmil kalam, karangan Imam Abu Bakar Muhammad bin Hasan bin Faurak.</li>
<li>Kitab Al Iqdus Shafi, karangan Imam Abdul Qasim Abdurrahman bin Abdus Shamad Al Iskafi an Nisaburi.</li>
<li>Kitab umdatul ‘Aqaid wal fawa’id, karangan Imam Yusuf bin Dzu Nas al Fondlai al Maliki.</li>
<li>I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah, karangan Imam Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al Juwaini.</li>
<li>I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah, karangan Imam Abdul Qasim Abdul Karim dan Hazin Al Qusyairi.</li>
<li>Lam’ul Adillah fi Qawa’id ‘Aqaid Ahlussunnah, karangan Imamul Haramain.</li>
<li>Kitab Syahril Kubra, karangan Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf as Sanusi.</li>
<li>Hidayatul Murid Syarah jauharut Tauhid, karangan Burhan al Laqani.</li>
<li>Hasyiyah Ummil Barahin, karangan Syihab Ahmad bin Muhammad Alganimi.</li>
<li>Kitab Al-‘Aqidah, karangan Imam Abi Ishak as Sirazi</li>
<li>Kitab Al’ Aqaidah, karangan ‘Izzuddin bin Abdussalam.</li>
<li>Kitab Asrarut Tanzil, karangan Fakhrur Razi</li>
<li>Tabyiin Kizbul Muftari, karangan Ibnu ‘Asakir</li>
<li>Ta’wilul Musytabihaat, karangan Syamsuddin Ibnul Luban</li>
<li>Ihya’ ‘Ulumuddin Bagian Qawa’id, karangan Imam Ghazali</li>
<li>Syarah ‘Aqidah Ibnul Hajib, karangan As Subki</li>
<li>Syarah Tijanuddari, karangan Syaikh Ibrahim al Bajuri</li>
<li>‘Aqidatun Najiin Fi Ilmi Usuliddin, karangan Syaikh Zaenal ‘Abidin al Fathari.</li>
<li>Tuhfatul Murid Syarah Jauharut Tauhid, karangan Syaikh Ibrahim al Bajuri.</li>
<li>Kitab Sakaki Syarah Huda-huda, karangan Imam Syarqawi</li>
<li>Kitab Al I’tiqad, karangan Imam Baihaqi</li>
<li>Kitab Kifayatul ‘Awam, karangan Syaikh Muhammad Al Fadhali</li>
<li>Kitab Al Bajuri Pensyarah Kitab Sanusi, karangan Ibrahim Al Bajuri.</li>
<li>Ummul Barahiin, karangan Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf As Sanusi.</li>
<li>Jauharut Tauhid, karya Burhanuddin Ibrahim bin harun Al Aqani.</li>
<li>Badul Amali, karya Sirajuddin Ali bin Ustman Al Usyi.</li>
<li>Al Aqidatun Nafisah, karangan Syaikh Namar bin Muhammad An Nasafi.</li>
<li>Risalah Fi Ilmittauhid, karangan Imam Ibrahim Al Bajuri.</li>
<li>Hushunul Hamidiyah, karangan Hasan Muhammad At Tharabilisi.</li>
<li>Bahrul Kalam, karangan Abu Mu’in An Nasafi.</li>
<li>Syarqawi Syarah Sanusi, karangan Syaikhul Islam As Syarqawi.</li>
<li>Kitabul Arba’in Fi Usuliddin, karangan Imam Ghazali.</li>
<li>Dan lain-lain.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah kitab-kitab Usuliddin dalam lingkungan kaum Ahlussunnah wal jama’ah yang dapat kita catat, disamping itu tentu masih banyak lagi yang tidak dapat kami sebutkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan seharusnya bagi setiap muslim, apalagi yang ulama-ulamanya supaya mengetahui sedalam-dalamnya bahasa arab, karena kitab-kitab itu kebanyakan dikarang dalam bahasa arab.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>KH. Siradjuddin Abbas</strong>, I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah,Pustaka tarbiyah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/usulidin/kitab-kitab-ahlussunnah-wal-jamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istilah-istilah Dalam Ilmu Usulidin</title>
		<link>http://tanbihun.com/usulidin/istilah-istilah-dalam-ilmu-usulidin/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/usulidin/istilah-istilah-dalam-ilmu-usulidin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Sep 2011 10:41:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Aswaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=30886</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- Dalam memahami soal-soal I’tiqad (kepercayaan) dalam Islam lebih baik terlebih dahalu dimaklumi istilah-istilah yang terpakai dalam lingkungan ini. Usulidin artinya : pokok agama. Ilmu usulidin artinya : Ilmu pokok-pokok...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/KHSirajuddin-Abbas.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-30887" title="KHSirajuddin Abbas" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/09/KHSirajuddin-Abbas.jpg" alt="" width="300" height="321" /></a>Tanbihun</strong>- Dalam memahami soal-soal I’tiqad (kepercayaan) dalam Islam lebih baik terlebih dahalu dimaklumi istilah-istilah yang terpakai dalam lingkungan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Usulidin artinya : pokok agama.</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmu usulidin artinya : Ilmu pokok-pokok agama.</p>
<p style="text-align: justify;">Didalam ilmu usulidin dibicarakan soal-soal I’tiqad yang menjadi pokok bagi agama, yaitu:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Kepercayaan (I’tiqad) yang bertalian dengan ketuhanan (Ilahiyat).</li>
<li>Kepercayaan yang bertalian dengan kenabian (Nubuwwat).</li>
<li>Kepercayaan yang bertalian dengan soal-soal yang gaib (hari akhirat, syurga, neraka, dan lain-lain).</li>
<li>Dan lain-lain soal kepercayaan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ilmu usulidin kadang-kadang dinamai ilmu kalam, yakni kalam Tuhan karena didalam ilmu ini banyak dibicarakan sifaf-sifat Tuhan, diantaranya sifat kala (berkata).</p>
<p style="text-align: justify;">Ulama-ulama dan ahli-ahli ilmu kalam dinamai mutakallimun atau mutakallimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada juga orang menamai ilmu ini dengan ilmu tauhid, yakni ilmu ke-Esaan Tuhan karena yang banyak dibicarakan dalam ilmu ini ialah tentang ke-Esaan Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada juga yang menamainya dnegan ilmu ‘Aqaid, yakni ilmu I’tiqad karena yang banyak dibicarakan dalam ilmu ini ialah soal-soal I’tiqad (kepercayaan).</p>
<p style="text-align: justify;">Di Indonesia ada orang-orang menamainya dengan ilmu sifat dua puluh, karena didalam ilmu ini dibicarakan 20 sifat yang wajib (mesti ada)vbagi Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendeknya perkataan-perkataan ilmu usulidin, ilmu kalam,ilmu tauhid, ilmu ‘aqaid, ilmu sifat dua puluh, sama artinya, yaitu ilmu yang didalamnya membicarakan soal-soal I’tiqad (kepercayaan tentang ketuhanan, kenabian, keakhiratan).</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kita berbicara tentang usul (pokok) sudah tentu ada yang furu’ (cabang).</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam istilah keagamaan, furu’ (syaria’at) berarti soal-soal ibadat yang dikerjakan setiap hari, umpamanya shalat, puasa,zakat, haji,nikah, jual beli dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulannya dapat ditegaskan bahwa usulidin ialah I’tiqad-I’tiqad, dan furu’ syari’at ialah ibadah-ibadah yang lahir.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber:</p>
<p style="text-align: justify;">KH. Siradjuddin Abbas   I’tiqad Ahlussunnah Wal  Jama’ah ; pustaka tarbiyah cetakan 15</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/usulidin/istilah-istilah-dalam-ilmu-usulidin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Nabi Muhammad SAW Juga Mempunyai Dosa?</title>
		<link>http://tanbihun.com/usulidin/benarkah-nabi-muhammad-saw-juga-mempunyai-dosa/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/usulidin/benarkah-nabi-muhammad-saw-juga-mempunyai-dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 08:42:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zuhurul Fuqohak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat-sifat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=25025</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Siapa Bilang Nabi  SAW Tidak  Mempunyai Dosa  Menurut Ahlusunnah? Apa Maksudnya? Sebagai manusia lumrah seperti kita, Nabi saw sebagaimana yang diceritakan al-Quran adalah insan yang mempunyai dosa dan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/tanda-tanya.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-25036" title="tanda tanya" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/tanda-tanya-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Tanbihun</strong> &#8211; Siapa Bilang Nabi  SAW Tidak  Mempunyai Dosa  Menurut Ahlusunnah?</p>
<h4 style="text-align: justify;">Apa Maksudnya?</h4>
<p style="text-align: justify;">Sebagai manusia <em>lumrah </em>seperti kita, Nabi saw sebagaimana yang diceritakan al-Quran adalah <em>insan </em>yang mempunyai dosa dan telah diampuni Allah swt (Lih. Surat al-Fath: 2-4, At-Taubah: 117, Insyirah: 2). Beliau adalah manusia yang tidak seperti orang lumrahnya. Maka beliau juga berdosa yang tidak seperti dosa lumrahnya manusia.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Ini Kontroversial?</h4>
<p style="text-align: justify;">Ya.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Menurut Ahlussunnah?</h4>
<p style="text-align: justify;">Ya. Bahkan juga keyakinan Ulama salaf, misalnya: Imam Malik ra.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Mengapa Bisa Begitu? Padahal Beliau <em>Ma’shum</em>?</h4>
<p style="text-align: justify;">Inilah yang perlu dipahami. Dalam Al-Quran, ada dua term penting. Yaitu <em>ayat muhkamat </em>dan <em>mutasyabihat. </em>Muhkamat artinya ayat yang bermakna jelas tanpa mempunyai ambiguitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedang ayat <em>mutasyabihat </em>adalah ayat yang bisa bermakna selain eksplisitnya. Inilah yang termaktub dalam QS. Al-Imran: 7. Makna dan kandungannya belum jelas, masih membingungkan. Lalu bagaimana solusi ayat seperti ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Ada dua. Yaitu <em>tafwidh </em>dan <em>takwil. </em>Tafwidh berarti memasrahkan arti pada Allah swt tanpa mau menyelam lebih dalam mengenai arti sebenarnya ayat itu. Bahkan Imam Malik menyebutnya sebagai pertanyaan <em>bid’ah </em>bagi yang ingin menelusurinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun <em>takwil </em>adalah memberi makna lain dari arti lahir teks itu. Hal ini disetir oleh Imam al-Luqoni dalam <em>nadzam Jauharatut Tauhid:</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Wakullu nashshin auhamat tasybiha</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Awwilhu au fawwidh warum tanziha</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“(setiap teks yang mengindikasi tasybih, harus takwil atau tafwidh)”</em></p>
<h4 style="text-align: justify;">Intinya Bagaimana?</h4>
<p style="text-align: justify;">Menurut ulama yang ber<em>tafwidh </em>akan mengatakan bahwa Nabi saw mempunyai dosa, namun dosa yang mana dan seperti apa, kita tidak tahu. Dan harus tetap meyakini bahwa beliau saw tidak mungkin menjalani dosa besar ataupun dosa kecil seperti manusia pada umumnya. Intinya dosa bagaimana <em>wallahu a’lam, </em>namun kita masih mengatakan beliau juga mempunyai dosa. (<em>al-mufassal fir raddi ‘ala syubuhati a’dail Islam, </em>9/28).</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan jika kita tidak menyebutnya berdosa, berarti kita berselisih dengan statemen al-Quran. Ini pendapat ulama <em>mufawwidhun rahimahullah.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sedang ulama <em>takwil </em>akan memberikan segudang arti yang banyak bahwa itu bukan <em>dzanbun </em>yang berarti dosa besar atau dosa kecil. Namun itu berarti dosa-dosa orang sebelum Nabi saw dan umat setelahnya. Atau dosa yang berarti amal yang kurang <em>afdhal, </em>atau dosa-dosa kecil (Tafisir ar-Razi, psword: <em>lam yakun linnabi saw dzambun)</em>, atau ijtihad Nabi saw yang kurang tepat dan mendapat kritikan dari Allah swt. Jadi ini masuk dalam kaidah:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Hasanatul abrar sayyiatul muqarrabin</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Kebaikan orang saleh adalah keburukan orang yang terdekat di sisi Allah swt”.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<h4 style="text-align: justify;">Kesimpulannya apa?</h4>
<p style="text-align: justify;">Baik ulama <em>salaf </em>atau <em>khalaf, </em>ulama <em>takwil </em>atau <em>tafwidh </em>semuanya meyakini bahwa Nabi saw tidak melakukan dosa seperti kita manusia yang dengan dosa itu kita akan mendapatkan murka Allah swt. <em>Na’udzu billah mindzalik.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ini sama dengan kisah Nabi Adam as yang disebut <em>ma’siyyat </em>oleh Allah swt. Barang siapa menyebut Adam as “durhaka” sebagaimana manusia lumrahnya, dia disebut kufur, sebagaimana barang siapa yang menyebut Nabi Adam as tidak <em>ma’shiyat</em> maka dia juga telah kufur karena berseberangan dengan Quran. Begitu juga dengan Nabi saw. Kata dosa disebut Quran dengan jelas. Maka perlu diwaspadai, jangan terlalu mudah menyebut: Nabi saw berdosa atau tidak. Tapi katakan: dosa menurut Allah swt dan tidak berdosa seperti kita (<em>Tafsir ash-Shawi, </em>1/44).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Referensi :</strong></p>
<p><em>Al-Quran al-Karim.</em></p>
<p>Imam al-Luqoni<em>, Jauharatut Tauhid, </em>al-Anwar: Sarang.</p>
<p>Fakhruddin ar-Razi, <em>Tafsir Mafatihul Ghaib, </em>MS.</p>
<p>Ali bin Nayyif asy-Syakhud, <em>Al-Mufassal fir raddi ‘ala Syubuhati A’dail Islam</em>, MS.</p>
<p>Ahmad bin Muhammad ash-Shawi, <em>Tafsir ash-Shawi, </em>Berut: Darul Fikri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/usulidin/benarkah-nabi-muhammad-saw-juga-mempunyai-dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia Dalam Pandangan Mukmin,Munafik Dan Kafir</title>
		<link>http://tanbihun.com/usulidin/dunia-dalam-pandangan-mukminmunafik-dan-kafir/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/usulidin/dunia-dalam-pandangan-mukminmunafik-dan-kafir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 18:26:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[Pembagian Macam-macam Dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=16404</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun &#8211; Seorang kawan lama mengirimkan email kepada saya, yang isinya berikut : &#8220;Bukankah harta, tahta dan wanita semua tipu daya dunia ? lalu apa manfaatnya? Entah apa dia sedang...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/peta-pora.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-16460" title="peta pora" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/08/peta-pora.jpeg" alt="peta pora" width="300" height="200" /></a>Tanbihun</strong> &#8211; Seorang kawan lama mengirimkan email kepada saya, yang isinya berikut : &#8220;Bukankah harta, tahta dan wanita semua <em>tipu daya dunia</em> ? lalu apa manfaatnya? Entah apa dia sedang mengingatkan atau bertanya kepada saya?</p>
<p style="text-align: justify;">Demi membalas email sahabat saya ini, saya sempatkan untuk membuka kitab &#8220;<a href="http://forum.tanbihun.com/viewtopic.php?f=12&amp;t=2" target="_blank">Syarihul Iman</a>&#8221; karya <a href="http://tanbihun.com/rifaiyah/mengenal-rifaiyah/" target="_blank">Syaikhina Ahmad Rifa&#8217;i </a>rahimahullohu. Sebuah kitab yang membahas tentang iman (aqidah). Beliau mengutip kalam Sayyidina &#8216;Abdulloh Abnu &#8216;Abbas  Rodhiyallahu &#8216;anhuma ;</p>
<h2 style="text-align: right;">ان الله تعالي جعل الدنيا ثلاثة اجزاء جزء للمؤمن وجزء للمنافق و جزء للكافر فاالمؤمن يتزود  والمنافق يتزين<span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"> والكافر يتمتع</span></span></h2>
<p style="text-align: justify;"> &#8221;Sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala menjadikan dunia menjadi tiga bagian, bagian pertama untuk mukmin, bagian kedua untuk orang munafik, bagian ketiga untuk orang kafir. Maka, seorang mukmin menjadikan dunia sebagai bekal untuk akhiratnya, dan orang munafik menjadikan dunia sebagai perhiasan, dan orang kafir menjadikan dunia sebagai kesenangan&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">(Syarikul Iman:kurasan 15)</p>
<p style="text-align: justify;">
<h4>Allah Menjadikan Dunia Menjadi 3 Bagian :</h4>
<ol>
<li>
<p style="text-align: justify;"><strong>Untuk orang mukmin</strong>. Mereka menjadikan dunia sebagai ladang amal untuk bekal dikehidupan kekal kelak diakhirat. harta-benda,makanan,minuman,pakaian, semua yang mereka makan,mereka pakai semata-mata untuk menolong tegaknya ibadah kepada Allah SWT. Anak Istri yang dititipkan Allah kepadanya juga dididik dan diarahkan untuk hanya menyembah kepada Allah.</p>
</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Untuk Orang Munafik</strong>. Dunia ditangan orang munafik dijadikan sebagai hiasan, sepertinya mereka beramal, namun hanya sebatas lahirnya saja. Meskipun lahirnya beribadah, tapi tujuan utamanya tetap dunia juga. Beramal kesana-kemari tujuannya supaya menang pemilu. na&#8217;udzu billah min dzalik.</li>
<li>
<p style="text-align: justify;"><strong>Untuk orang kafir</strong>. Orang kafir menjadikan dunia hanya untuk kesenangan atau kenikmatan yang sifatnya ragawi. Allah menyamakan mereka ini dengan hewan. Dalam otaknya hanya ada mencari dan menikmati. dalam bahasa jawa kasar &#8220;jenggelek melek,nyekek,nelek,nggolek&#8221; (bangun tidur,trus makan,buang hajat,lalu bekerja).</p>
</li>
</ol>
<p>Allah berfirman :</p>
<h2 style="text-align: right;">يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الأنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ</h2>
<p>“Mereka bersenang-senang dan makan layaknya hewan-hewan, dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (<strong>Muhammad: 12</strong>).</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga Allah menolong kita semua agar tetap dianugerahi iman yang sah sampai ajal menjemput nanti.amin.(zid)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/usulidin/dunia-dalam-pandangan-mukminmunafik-dan-kafir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenalilah Yang Merusak Iman Kita</title>
		<link>http://tanbihun.com/usulidin/kenalilah-yang-merusak-iman-kita/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/usulidin/kenalilah-yang-merusak-iman-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 19:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nanank Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[2 hal yang merusak iman]]></category>
		<category><![CDATA[Iman Yang Sah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=6645</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun - Kita semua pastinya sudah mengetahui makna dari kata-kata iman,yaitu percaya. Dan manusia sudah dikatakan beriman jika mempercayai adanya Alloh swt, adanya para malaikat, adanya kitab-kitab Alloh, adanya para...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><strong>Tanbihun </strong>- Kita semua pastinya sudah mengetahui makna dari kata-kata iman,yaitu percaya. Dan manusia sudah dikatakan beriman jika mempercayai adanya Alloh swt, adanya para malaikat, adanya kitab-kitab Alloh, adanya para nabi dan rasul , adanya hari kiamat, dan adaya takdir yang kesemuanya itu merupakan rukun iman. namun masih banyak orang yang mengaku beragama islam dan beriman tetapi dengan ringanya meninggalkan kewajiban-kewajibannya sebagaimana orang islam. itu semua terjadi karena kita belum memahami hal-hal yang bisa memperkokoh dan merusak iman.</p>
<p style="text-align: justify">Pertama akan saya bahas hal yang bisa merusak atau membatalkan iman.menurut KH.Ahmad Rifa&#8217;i  dalam kitab Takhyiroh mukhtasor diterangkan bahawa hal yang dapat membatalkan iman itu ada dua :</p>
<ol>
<li>Ragu dengan syari&#8217;at yang datangnya dari nabi Muhammad S.A.W</li>
<li>Benci terhadap agama nya nabi Muhammad</li>
</ol>
<p style="text-align: justify">Cukup jelas kiranya keterangan di atas perkara yang membatalkan iman. Hal selanjutnya yang harus kita perhatikan adalah sesuatu yang menjadi sah tidaknya iman seseorang.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam kitab takhyiroh mukhtasor karangan K,H Ahmad Rifa&#8217;i di sebutkan;</p>
<p style="text-align: justify"><em>Utawi syarat sahe iman lan syahadat iku arep asih ing sekabehe syare&#8217;ate nabi Muhammad.</em></p>
<p style="text-align: justify">artinya; syarat sahnya iman itu jendaknya mencintai syari&#8217;at nya nabi Muhammad S.A.W</p>
<p style="text-align: justify">Dalam kitab riayatal himmah karangan K.H.Rifa&#8217;i disebutkan kalam ulama;</p>
<h2 style="text-align: justify">شرط الايمان التسليم والانقياد</h2>
<p style="text-align: justify">Syarat sahnya iman adalah taslim[pasrah diri] dan inqiyad[mencintai dan patuh], baca artikel berikut :<a href="../usulidin/taslim-dan-inqiyad/">Taslim dan Inqiyad Merupakan Syarat Sah Iman</a>.</p>
<p style="text-align: justify">Orang yang sudah sah imannya adalah orang yang mencintai syari&#8217;at islam dengan menjalankanya tanpa ragu sesuai dengan syarat rukunnya.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam kitab tersebut dijelaskan lebih dalam lagi oleh K.H.Ahmad rifa&#8217;i:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><em>Tanbihun lamon tan ginawe taslim anutan </em></p>
<p style="text-align: justify"><em>iku dadi syarat sah e maqbule iman</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>moko dadi sepi syara&#8217; parintahan</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>muhung pangestu parintah tan linakonan</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>temah tan nono bedane wong mukmin jujur</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>lan antarane wong podo munafiq kufur</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>muhung ngucap amanna ginawe masyhur </em></p>
<p style="text-align: justify"><em>ngimanaken kawulo ing qur&#8217;an pitutur </em></p>
<p style="text-align: justify"><em>tan nono taslime anut parintahan</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>mukmin lan kafir ora nono kinaweruhan</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>wong ngucap amanna temen lan gorohan</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>podo kedhohir rusuh ilang parnatan</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>ikulah nyoto rusak ukarane syari&#8217;at </em></p>
<p style="text-align: justify"><em>ilang taslime ing rasul ulil amri di angkat</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>lan ben alim adil ulil amri tan lepat </em></p>
<p style="text-align: justify"><em>kulma&#8217;e rosululloh nabi kito muhammad</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify">Maksud dari kata-kata tersebut adalah jika taslim tidak menjadi syarat sahnya iman maka tidak ada syari&#8217;at yang dijalankan. sehingga tidak ada bedanya orang beriman dan tidak beriman )kafir). mereka yang beriman dengan menjalankan syari&#8217;atnya  dan mereka yang hanya mengaku punya iman tapi tidak mejalankan syari&#8217;at islam.</p>
<p style="text-align: justify">jadi orang yang benar-benar beriman adalah orang yang dengan setia menjalankan syariat islam yang dibawa oleh nabi muhammad S.A.W dan disampaikan kepada kita melalui para ulama&#8217;. bukan orang yang mengaku beriman tetapi enggan menjalankan sholat,puasa,haji bagi yang kuasa atau yang sering disebut islam KTP.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam kitab ri&#8217;ayatal himmah ada juga ulama&#8217; yang mengatakan:</p>
<h2 style="text-align: right">قال العلماء اهل السني ومن تلفظ بالشهادتين ولم يعتقد ﻔﻫﻭﻤﻨﺎﻔﻖ ومن اعتقد واقرولم يسلم حكما من احكم الشرع المظهر بعد قيام الحجة  ﻮﻴﺄﺑﻰ عنه فهو ابليس ﻤﻦﺍﻷﺑﺎﻠﺴﺔ ومن جملة الكافرين</h2>
<p style="text-align: justify">artinya:</p>
<p style="text-align: justify">Barang siapa mengucapkan dua kalimat syahadat dan tetapi didalam hatinya  tidak percaya maka dia adalah munafiq. Dan barang siapa percaya tetapi tidak taslim terhadap hukum-hukum syara&#8217; yg sudah jelas ada dan membiarkan saja [tidak peduli] dengan syara&#8217; tersebut maka dia adalah iblis dari golongannya para iblis,dan termasuk golongannya orang-orang kafir.</p>
<p style="text-align: justify">dari perkataan ulama&#8217; tersebut jelas kiranya bahwa mukmin sejati adalah mereka yang patuh menjalankan syari&#8217;at islam dengan setia dan sungguh-sungguh.</p>
<p style="text-align: justify">Alloh berfirman di dalam al-qur&#8217;an surat Al-baqoroh ayat 208:</p>
<p style="text-align: justify"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/07/Al-baqoroh-ayat-208.png"><img class="size-full wp-image-6649 alignnone" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2011/07/Al-baqoroh-ayat-208.png" alt="" width="406" height="62" /></a></p>
<div style="text-align: justify">
<div>
<div>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<p>artinya:</p>
<p>Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam agama islam keseluruhan,dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan.Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.</p>
</div>
</div>
<div><img src="http://quran.com/images/boxBottomBR.gif" alt="" /></div>
</div>
<div>
<div><img src="http://quran.com/images/corner_footer_tl.gif" alt="" /></div>
<div>inti dari article ini mengajak kita sebagai umat islam untuk melakukan segala sesuatunya berdasarkan syari&#8217;at islam baik ibadah kepada Allah maupun muamalah kita sehari hari harus sesuai dengan printah printah dan ajaran islam.(nank)</div>
</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p><img src="/DOCUME%7E1/HPMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-1.png" alt="" /></p>
<p><img src="/DOCUME%7E1/HPMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/usulidin/kenalilah-yang-merusak-iman-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemalsuan Kitab Al-Ibanah Imam Abu Hasan Al-Asy’ariy</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/pemalsuan-kitab-al-ibanah-imam-abu-hasan-al-asy%e2%80%99ariy/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/pemalsuan-kitab-al-ibanah-imam-abu-hasan-al-asy%e2%80%99ariy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 05:35:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[al ibanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=5876</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim. إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرإ ما نوى HR: al-Bukhari, Muslim, Abû Dâwûd, al-Nasâ’î dan Ibn Mâjah قال أبو إسحاق رحمه الله، كنت في جنب الشيخ أبي...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.</p>
<h2>إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرإ ما نوى</h2>
<p>HR: al-Bukhari, Muslim, Abû Dâwûd, al-Nasâ’î dan Ibn Mâjah</p>
<h2>قال أبو إسحاق رحمه الله، كنت في جنب  الشيخ أبي الحسن الباهلي كقطرة في البحر، وسمعت الشيخ أبا الحسن الباهلي  قال، كنت أنا في جنب الشيخ الأشعري كقطرة في جنب البحر</h2>
<p>Al-Ustâdz Abû Ishâq al-Isfarâyînî berkata, <em> “Berada di samping al-Syeikh Abû al-Hasan al-Bâhilî, aku terasa bagaikan setetes embun di lautan” </em>. Sementara aku dengar al-Syeikh Abû al-Hasan al-Bâhilî berkata, <em> “di samping al-Syeikh Abû al-Hasan al-Asy‘arî, aku terasa bagaikan tetesan embun di pinggir lautan” </em>. -Tabyîn Kidzb al-Muftarî, hal.141-</p>
<h2>لو لم يصنف عمره غير الإبانة واللمع لكفى</h2>
<p><em>Sekiranya semasa hidupanya al-Asy‘arî hanya menulis kitab al-Ibânah dan al-Luma‘, itu sudah memadai. </em> -Tabyîn Kidzb al-Muftarî, hal.134-</p>
<p>&nbsp;</p>
<div><a href="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-01.jpeg"><img src="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-01.jpeg?w=256&amp;h=400" alt="Dâr al-Anshâr Mesir edisi Doktor Fawqiyyah Husein Mahmûd (al-Ibânah dengan cetakan sama yang terdapat di Perpustakaan Utama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan edisi Syeikh Zâhid al-Kautsarî, seorang ulama pada masa Khilâfah ‘Utsmâniyyah)." width="256" height="400" /></a>Dâr  al-Anshâr Mesir edisi Doktor Fawqiyyah Husein Mahmûd (al-Ibânah dengan  cetakan sama yang terdapat di Perpustakaan Utama Universitas Islam  Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan edisi Syeikh Zâhid  al-Kautsarî, seorang ulama pada masa Khilâfah ‘Utsmâniyyah).&nbsp;</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div><a href="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-02.jpeg"><img src="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-02.jpeg?w=498&amp;h=720" alt="Maktabah al-Mu’ayyad Saudi Arabia bekerja sama dengan Maktabah Dâr al-Bayân Suriah edisi Basyîr Muhammad ‘Uyûn." width="498" height="720" /></a>Maktabah al-Mu’ayyad Saudi Arabia bekerja sama dengan Maktabah Dâr al-Bayân Suriah edisi Basyîr Muhammad ‘Uyûn.&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-03a.jpeg"><img src="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-03a.jpeg?w=259&amp;h=400" alt="Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah Lebanon edisi ‘Abdullâh Mahmûd Muhammad ‘Umar." width="259" height="400" /></a>Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah Lebanon edisi ‘Abdullâh Mahmûd Muhammad ‘Umar.&nbsp;</p>
</div>
<h3><strong>Al-Ibânah ‘an Ushûl al-Diyânah</strong></h3>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Al-Ibânah ‘an Ushûl al-Diyânah</em>. Itulah nama lengkap dari  salah satu karya Mishbâh al-Tawhîd Abû al-Hasan al-‘Asy‘arî (260-324H),  seorang Mujaddid peralihan abad ke-3 sampai ke-4 Hijriyah. Al-Ibânah  adalah salah satu karyanya dengan metode Tafwîdh dan membuktikan bahwa  ia telah melepaskan diri dari ideologi sekte Mu‘tazilah kepada ajaran  Salaf al-Shâlih yang dinilai steril mengikuti ajaran al-Qur’an dan  al-Sunnah. Istilah  “Salaf al-Shâlih”  telah memberi pukauan kuat  terhadap banyak kalangan terutama bagi pemerhati sejarah al-Asy‘ariyyah  dan Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ‘ah, sehingga masing-masing mereka merasa  sebagai pengikut Salaf al-Shâlih. Tak ayal, kandungan al-Ibânah yang  dinilai mengikuti Salaf al-Shâlih pun menjadi rebutan beberapa kalangan.</p>
<p>Kalangan al-Asy‘ariyyah menganggap bahwa merekalah yang berhak  terhadap al-Ibânah lantaran al-Asy‘ariyyah adalah penisbatan kepada  al-Asy‘arî sang penulis kitab, dan beberapa alasan lain. Begitu pun  kalangan yang mengaku sebagai pengikut Salaf al-Shâlih menganggap bahwa  merekalah yang berhak terhadap al-Ibânah meski keberatan disebut sebagai  al-Asy‘ariyyah, lantaran mereka menilai bahwa al-Asy‘ariyyah adalah  sekte bid‘ah dan sesat menyesatkan sehingga berimbas kepada pen-drop  out-an terhadap cendikiawan muslim yang dikenal sebagai al-Huffâzh,  bahwa mereka bukan pengikut Salaf al-Shâlih meski tidak secara mutlak.  Seperti al-Khathîb al-Baghdâdî, al-Bayhaqî, al-Nawawî, al-‘Asqalânî dan  al-Suyûthî yang dikenal sebagai pemuka al-Asy‘ariyyah, Radhiyallâhu  ‘Anhum.<br />
Jika al-Asy‘ariyyah mengaku sebagai pengikut Abû al-Hasan al-Asy‘arî,  hal ini tentunya sangat wajar. Sebagaimana al-Hanafiyyah adalah pengikut  Abû Hanifah, al-Mâlikiyyah sebagai pengikut Mâlik, al-Syâfi‘iyyah  sebagai pengikut al-Syâfi‘î, al-Hanâbilah sebagai pengikut Ibn Hanbal,  Radhiyallâhu ‘Anhum. Namun akan terasa janggal jika pengakuan itu muncul  dari kalangan yang mengaku sebagai pengikut Salaf al-Shâlih namun pada  sisi lain mereka mencerca kalangan al-Asy‘ariyyah. Bahkan al-Asy‘ariyyah  dianggap telah keluar dari paham al-Asy‘arî. Dan tentunya ini sah-sah  saja karena mereka pun boleh berpendapat. Dan yang menjadi barometer  bagi kalangan ini untuk mengatakan bahwa al-Asy‘ariyyah sebenarnya tidak  mengikuti al-Asy‘arî adalah isu-isu yang beredar bahwa al-Ibânah  merupakan bukti peralihan al-Asy‘arî dari paham -yang konon katanya-  Kullâbiyyah kepada Salaf al-Shâlih. Menurut mereka al-Asy‘arî dalam  al-Ibânahnya mengakui Allah subhânahû wa ta‘âlâ menetap, menempati,  bersemayam atau duduk di atas ‘arasy, sekaligus mereka beranggapan bahwa  al-Asy‘ariyyah sebetulnya mengikuti paham Kullâbiyyah, bukan  al-Asy‘arî. Lalu, ada apa dengan al-Ibânah sehingga kalangan ini begitu  yakin akan isu-isu yang beredar sehingga menjadi pegangan bagi mereka  untuk memisahkan al-Asy‘ariyyah dengan al-Asy‘arî? Dan siapakah  Kullâbiyyah yang mereka anggap sebagai panutan al-Asy‘ariyyah dan  dinilai sebagai sekte bid‘ah?</p>
<h3>Three in One (3 in 1); Tiga al-Ibânah, Satu al-Asy‘arî</h3>
<p>Proyek pengelabuan umat yang dilakukan beberapa kalangan sentak  menggelitik telinga para santri tradisional tanah air yang notabene  mereka mempelajari kitab-kitab karya para ulama al-Asy‘ariyyah seperti  al-Jawâhir al-Kalâmiyyah, al-Aqwâl al-Mardhiyyah, Kifâyah al-‘Awwâm,  Fath al-Majîd (bukan kitab Wahhâbî), Ummu al-Barâhîn, al-Dasûqî, Nazhm  Jawhar al-Tawhîd, dan lain sebagainya. Isu-isu yang mereka angkat adalah  bahwa para santri dan masyarakat yang mengaku sebagai pengikut  al-Asy‘arî yang disebut dengan al-Asy‘ariyyah telah menyalahi al-Asy‘arî  sendiri, terbukti bahwa al-Asy‘arî dengan kitab al-Ibânahnya dan  beberapa kitab lain berbeda akidah dengan orang-orang yang mengaku  sebagai pengikutnya atau al-Asy‘ariyyah. Al-Asy‘arî mengakui keberadaan  Allah subhânahû wa ta‘âlâ bertempat di atas ‘Arasy sementara  al-Asy‘ariyyah tidak. Tentunya hal ini bertolak belakang antara  al-Asy‘arî dengan pemahaman penggikutnya. Begitulah diantara argumen  mereka untuk merusak keharmonisan antara al-Asy‘arî dan al-Asy‘ariyyah.  Sebuah usaha yang amat buruk dan tercela. Namun apa benar seperti itu?  Kita akan mencoba membandingkan, al-Ibânah manakah kira-kira yang  menjadi landasan bagi sementara kalangan yang mengatakan bahwa  al-Asy‘arî meyakini Allah subhânahû wa ta‘âlâ bertempat (hulûl),  bersemayam, menetap. Berikut scannan tiga versi al-Ibânah karya  al-Asy‘arî;</p>
<ol>
<li>Dâr al-Anshâr Mesir edisi Doktor Fawqiyyah Husein Mahmûd (al-Ibânah  dengan cetakan sama yang terdapat di Perpustakaan Utama Universitas  Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan edisi Syeikh Zâhid  al-Kautsarî, seorang ulama pada masa Khilâfah ‘Utsmâniyyah).</li>
<li>Maktabah al-Mu’ayyad Saudi Arabia bekerja sama dengan Maktabah Dâr al-Bayân Suriah edisi Basyîr Muhammad ‘Uyûn.</li>
<li>Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah Lebanon edisi ‘Abdullâh Mahmûd Muhammad ‘Umar.</li>
</ol>
<div><a href="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-03.jpeg"><img src="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-03.jpeg?w=265&amp;h=400" alt="Dar Anshar" width="265" height="400" /></a>Dar Anshar&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-04.jpeg"><img src="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-04.jpeg?w=274&amp;h=400" alt="Maktabah Mu'ayyad" width="274" height="400" /></a>Maktabah Mu&#8217;ayyad&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-05.jpeg"><img src="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-05.jpeg?w=277&amp;h=400" alt="Dar Kutub" width="277" height="400" /></a>Dar Kutub&nbsp;</p>
</div>
<p>-Kalimat bergaris biru pada cetakan Dâr al-Anshâr hal.105 dan Maktabah al-Mu’ayyad/ Maktabah Dâr al-Bayân hal.97;</p>
<h3>استواءً يليق به من غير طول الاستقرار</h3>
<p>tidak terdapat pada cetakan Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah hal.46. Sehingga kalangan yang disebut oleh para ulama sebagai <em>Antropomorphisme</em> (Musyabbihah) akan memahami dengan artian bahasa yaitu bersemayam, duduk, menetap, dengan kata lain yaitu menempati ‘Arasy.</p>
<div><a href="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-06.jpeg"><img src="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-06.jpeg?w=234&amp;h=400" alt="Dar Anshar" width="234" height="400" /></a>Dar Anshar&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-07.jpeg"><img src="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-07.jpeg?w=262&amp;h=400" alt="Maktabah Mu'ayyad" width="262" height="400" /></a>Maktabah Mu&#8217;ayyad&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-08.jpeg"><img src="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-08.jpeg?w=256&amp;h=400" alt="Dar Kutub" width="256" height="400" /></a>Dar Kutub&nbsp;</p>
</div>
<p>* Kalimat bergaris biru pada cetakan Dâr al-Anshâr hal.113 dan Maktabah al-Mu’ayyad/ Maktabah Dâr al-Bayân hal.100;</p>
<h3>استواءً منزها عن الحلول والاتحاد</h3>
<p>tidak terdapat pada cetakan Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, hal.48.  Sehingga kalangan yang disebut oleh para ulama sebagai Antropomorphisme  (Musyabbihah) akan memahami dengan artian bahasa yaitu bersemayam,  duduk, menetap, dengan kata lain semua pemahaman ini adalah Hulûl.  Bahkan jika hadis Nuzûl dipahami secara lahirnya yaitu Allah subhânahû  wa ta‘âlâ turun ke langit dunia, turun dari atas ke bawah dan berpindah,  maka pemahaman ini akan melahirkan Ittihâd sekaligus Hulûl lantaran  langit ada tujuh lapis, dan Allah subhânahû wa ta‘âlâ turun ke langit  dunia atau langit pertama sehingga langit ke dua sampai ke enam bahkan  ‘Arasy akan berada di atas Allah subhânahû wa ta‘âlâ, na‘ûdzu billâh.</p>
<p>Jika konsep “Bi Lâ Kayf” telah tertanam dalam keyakinan kita, maka  segala karakter turunnya makhluk yaitu pergerakan dari atas ke bawah dan  berpindah pasti ternafi dari Allah subhânahû wa ta‘âlâ karena segala  bentuk perpindahan adalah sebuah “Kayf”. Maka, kata “nuzûl, istiwâ’”  lebih layak kita katakan Nuzûl-Nya Allah subhânahû wa ta‘âlâ adalah  Nuzûl yang layak bagi keagungan dan kemulian-Nya tanpa berpindah, tanpa  Kayf. Begitu pun dengan Istiwâ’, Allah Yang Maha beristiwâ’, tidak dapat  dikatakan “bagaimana” (sebuah kalimat istifhâm untuk menanyakan metode,  tata cara, visualisasi), karena bagaimana mungkin kita akan menanyakan  “bagaimana” padahal segala bentuk metode, tatacara, visualisasi  (Kayfiyyât) semuanya ternafi dari Allah subhânahû wa ta‘âlâ.</p>
<h3>الرحمن على العرش استوى، كما وصف نفسه، ولا يقال له كيف، وكيف عنه مرفوع</h3>
<p>Begitu ungkapan shahîh dari Imam Malik dan dinukil oleh al-Baihaqî  dan Ibn Hajar. Lihat al-Asmâ’ wa al-Shifât, Dâr al-Hadîts, 1426H,  hal.411 dan Fath al-Bârî, Dâr al-Hadîts, 1424H, vol.13, hal.461.</p>
<div><a href="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-09.jpeg"><img src="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-09.jpeg?w=236&amp;h=400" alt="Dar Anshar" width="236" height="400" /></a>Dar Anshar&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-10.jpeg"><img src="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-10.jpeg?w=264&amp;h=400" alt="Maktabah Mu'ayyad" width="264" height="400" /></a>Maktabah Mu&#8217;ayyad&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-11.jpeg"><img src="http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2011/03/al-ibanah-11.jpeg?w=279&amp;h=400" alt="Dar Kutub" width="279" height="400" /></a>Dar Kutub&nbsp;</p>
</div>
<p>* Kalimat bergaris biru pada cetakan Dâr al-Anshâr hal.117 dan  Maktabah al-Mu’ayyad/ Maktabah Dâr al-Bayân hal.102; بلا كيف ولا استقرار  tidak terdapat pada cetakan Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah hal.49. Tentunya  kita mengetahui arti penting dari ungkapan yang lenyap tersebut.  Sehingga dengan adanya ungkapan itu akan memberi penjelasan bahwa sifat  Istiwâ’ Allah subhânahû wa ta‘âlâ tidak dapat diartikan dengan pemahaman  bahasa kita seperti menetap, bersemayam, bertempat. Lalu mengapa  al-Qur’an tidak mencantumkan lafazh itu? Jawabannya adalah karena salah  satunya Allah subhânahû wa ta‘âlâ ingin menguji hamba-hamba-Nya agar  diketahui siapa saja orang-orang yang di dalam hatinya terdapat Zaigh  (kekeliruan). Oleh karena itu ungkapan “Bi Lâ Kayf” sangat berperan  dalam membentengi umat muslim dari pemahaman ala Antropomophisme. Dan di  sisi lain, dengan mengimani keberadaan sifat-sifat yang Allah subhânahû  wa ta‘âlâ tetapkan pada Zat-Nya begitupun yang ditetapkan oleh  Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam akan menjadi sanggahan bagi  sekte Jahmiyyah, Mu‘tazilah dan yang sepaham dengan mereka dari kalangan  Mu‘aththilah.</p>
<blockquote><p>Ini hanyalah sekelumit dari kitab al-Ibânah khususnya bab  Istiwâ’. Dan tidak menutup kemungkinan jika kita terus membandingkan  antara beberapa cetakan akan tampak penambahan ataupun pengurangan.  Namun yang terpenting adalah manakala kita membaca karya al-Asy‘arî  seperti al-Ibânah, perlu kiranya pembanding dan pendamping bacaan  tersebut seperti karya-karya ulama yang bersanad kepada al-Asy‘arî  seperti al-Inshâf karya al-Baqillânî, Musykil al-Hadîts wa Bayânuh karya  Ibn Fawrak, al-Jâmi‘ fî Ushûl al-Dîn karya Abû Ishâq al-Isfarâyînî,  Ushûl al-Dîn karya ‘Abd al-Qâhir al-Baghdâdî, al-Tabshîr fî al-Dîn wa  Tamyîz al-Firqah al-Nâjiyah ‘an al-Firaq al-Hâlikîn karya Abû  al-Muzhaffar al-Isfarâyînî, al-Asmâ’ wa al-Shifât karya al-Baihaqî,  al-‘Aqîdah al-Nizhâmiyyah fî al-Arkân al-Islâmiyyah karya Imam  al-Haramain al-Juwainî, al-Iqtishâd fî al-I‘tiqâd karya al-Ghazâlî, dan  masih banyak lagi karena terkadang seorang ulama menulis beberapa karya  dalam satu tema akidah.</p></blockquote>
<p>Di samping al-Ibânah, al-Asy‘arî juga mempunyai karya di antaranya  al-Luma‘ fî al-Radd ‘Alâ Ahl al-Zaigh wa al-Bida‘, Kasyf al-Asrâr wa  Hatk al-Astâr. Bersama kitab-kitab inilah al-Asy‘arî mengumumkan  peralihannya dari Mu‘tazilah ke Ahl al-Sunnah. Pada saat itu kitab-kitab  ini dibaca dan ditelaah oleh ahli hadis dan fiqih dari kalangan Ahl  al-Sunnah, lalu mereka mengamalkan kandungannya. Sehingga mereka  mengakui kelebihan al-Asy‘arî dan menjadikannya sebagai al-Imâm, lalu  mereka menisbatkan mazhab mereka kepada al-Asy‘arî, sehingga bernamalah  al-Asy‘ariyyah. Lihat Tabyîn Kidzb al-Muftarî, Al-Maktabah al-Azhâriyyah  li al-Turâts, cet.1, 1420H, hal.43.</p>
<blockquote><p>Nah, jikalau benar al-Asy‘arî melalui dua fase peralihan  dalam keyakinannya, yaitu dari Mu‘tazilah ke Salaf al-Shâlih (dan  ternyata -konon kata mereka- Kullâbiyyah), kemudian dari Kullâbiyyah ke  Salaf al-Shâlih yang sebenarnya, tentunya al-Asy‘arî juga mengumumkan  peralihannya itu sebagaimana yang ia lakukan saat beralih dari  Mu‘tazilah mengingat ini adalah hal yang sangat penting bagi diri  al-Asy‘arî dan masyarakatnya karena ia pernah menjadi seorang al-Imâm  bagi kalangan Mu‘tazilah dan akhirnya menjadi al-Imâm bagi kalangan Ahl  al-Sunnah wa al-Jamâ‘ah. Betapa beraninya Mishbâh al-Tawhîd ini  mengumumkan keluarnya ia dari paham Mu‘tazilah di tengah kekuasaan  Mu‘tazilah. Tentunya akan sangat ringan dan mudah jika ia melakukan hal  yang sama jika benar ia keluar dari Kullâbiyyah mengingat Kullâbiyyah  bukan sekte, juga bukan pemerintahan.</p></blockquote>
<p>Sejenak kita perhatikan lagi, adakah kalangan yang lebih baik dari  ahli hadis dan fiqh yang kesaksian mereka dapat dipercaya? Merekalah  yang menyaksikan al-Asy‘arî menanggalkan jubah Mu‘tazilahnya. Merekalah  yang menyaksikan akan kebenaran paham yang didengungkan oleh al-Asy‘arî.  Mereka pulalah yang menelaah karya al-Asy‘arî sehingga menjadikannya  sebagai al-Imâm untukk mazhab mereka. Jikalau paham yang dibawa oleh  al-Asy‘arî setelah beralih dari Mu‘tazilah masih terdapat percampuran  antara yang hak dengan yang batil, tentunya ahli hadis dan fiqh itulah  yang berada di garis terdepan untuk menangkal kebatilan itu. Namun yang  terjadi adalah sebaliknya, mereka membenarkan paham yang didengungkan  oleh al-Asy‘arî karena yang ditawarkan olehnya adalah akidah Salaf  al-Shâlih. Ingat, mereka adalah ahli hadis dan fiqh. Atau barangkali “di  sana” ada kriteria ahli hadis oleh kalangan yang mengaku pengikut Salaf  al-Shâlih yang lebih baik dari kriteria yang diterapkan oleh al-Hâfizh  Ibn ‘Asâkir?</p>
<h3>Mereka Bertutur Tentang al-Ibânah dan Ibn Kullâb</h3>
<p>1. Al-Hâfizh Ibn ‘Asâkir;</p>
<blockquote><p>Ibn ‘Asâkir berkata, “Aku pernah membaca tulisan ‘Alî ibn  al-Warrâq seorang ahli hadis daerah Mesir. Tulisan itu berisikan  risalah yang ditulis oleh Abû Muhammad ‘Abdullah ibn Abî Zaid  al-Qairuwânî seorang ahli fikih madzhab maliki. Ia adalah seorang pemuka  ahli fikih maliki pada masanya dari daerah Maghrib (Maroko  sekarang-pen). Risalah itu ditujukan kepada ‘Alî ibn Ahmad ibn Ismâ‘îl  seorang mu‘tazilah dari Baghdad sebagai jawaban terhadap risalah yang ia  (‘Alî ibn Ahmad-pen) kirimkan kepada kalangan malikiyyah Qairuwân  karena ia telah menyisipkan paham-paham mu‘tazilah. Risalah yang begitu  dikenal itu sangat panjang. Dan sebagian jawaban yang dituliskan oleh  Ibn Abî Zaid terhadap ‘Alî ibn Ahmad adalah sebagai berikut, Anda telah  menisbatkan Ibn Kullâb kepada bid‘ah, sementara anda tidak menyebutkan  bukti yang dengannya dapat diketahui bahwa Ibn Kullâb memang ahli  bid‘ah. Dan sama sekali kami tidak mengetahui adanya orang yang  menisbatkan Ibn Kullâb kepada bid‘ah (kecuali ‘Alî ibn Ahmad-pen). Namun  informasi yang kami terima, Ibn Kullâb adalah pengikut sunnah (Ahl  al-Sunnah-pen) dan ia banyak membantah kalangan Jahmiyyah dan ahli  bid‘ah lainnya. Ia adalah ‘Abdullah ibn Sa‘îd ibn Kullâb (al-Qaththân,  w.240H-pen)”. Lihat Tabyîn Kidzb al-Muftarî, Al-Maktabah al-Azhâriyyah  li al-Turâts, cet.1, 1420H, hal.298-299.</p></blockquote>
<p>2. Al-Hâfizh al-Dzahabî;</p>
<blockquote><p>Al-Dzahabî berkata, Ibn Kullâb adalah seorang pemuka  teolog daerah Basrah pada masanya. Kemudian lanjut al-Dzahabî sembari  menukil, Ia adalah teolog yang paling dekat kepada Ahl al-Sunnah, bahkan  ia adalah juru debat mereka (terhadap Mu‘tazilah-pen). Ia mempunyai  karya di antaranya, al-Shifât, Khalq al-Af‘âl dan al-Radd ‘alâ  al-Mu‘tazilah. Lihat Siyâr A‘lâm al-Nubalâ’, Maktabah al-Shafâ, cet.1,  1424H, vol.7, hal.453.</p>
<p>Al-Dzahabî juga menuturkan, Suatu ketika al-Asy‘arî mendatangi Abû  Muhammad al-Barbahârî di Baghdad, lalu ia berkata, “Aku telah membantah  al-Jubbâ’î (ayah tirinya-pen), aku telah membantah kaum Majûsi dan  Nasrani” . Al-barbahârî malah mengatakan, “Aku tidak paham apa yang anda  ucapkan, kami (al-Barbahârî dan kalangan Hanâbilah-pen) tidak mengerti  melainkan apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad”. Lalu al-Asy‘arî pergi dan  menuliskan al-Ibânah, namun pada akhirnya al-Barbahârî tetap saja tidak  menerimanya. Lihat Siyâr A‘lâm al-Nubalâ’, Maktabah al-Shafâ, cet.1,  1424H, vol.9, hal.372.</p></blockquote>
<p>3. Al-Hâfizh Ibn Hajar;</p>
<blockquote><p>Ibn Hajar berkata, Sesungguhnya al-Bukhârî dalam segala  hal yang berkaitan dengan teks-teks gharîb (asing-pen), ia menukil dari  pakarnya seperti Abû ‘Ubaidah, al-Nadhr ibn Syumail, al-Farrâ’ dan  lain-lain. Adapun perkara-perkara fikih, sebagian besar ia sandarkan  kepada al-Syâfi‘î, Abû ‘Ubaid dan yang seperti keduanya. Dan adapun  perkara-perkara kalâm (teologi-pen), maka sebagian besar ia ambil dari  al-Karâbîsî, Ibn Kullâb, dan yang seperti keduanya. Lihat Fath al-Bârî,  Dâr al-Hadîts, 1424H, vol.1, hal.293.</p>
<p>Ibn Hajar juga menuturkan sembari menukil, Ibn Kullâb menggunakan  metode Salaf al-Shâlih dalam hal meninggalkan takwîl terhadap ayat-ayat  dan hadis-hadis yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah. Mereka (Salaf  al-Shâlih-pen) disebut sebagai al-Mufawwidhah. Kemudian lanjut Ibn  Hajar, Dalam menuliskan al-Ibânah, al-Asy‘arî menggunakan metode Ibn  Kullâb. Lihat Lisân al-Mîzân, Dâr al-Fikr, cet.1, 1408H, vol.3, hal.361.</p></blockquote>
<h3>Al-Nuqath al-Muhimmah (Poin-poin penting)</h3>
<ol>
<li>Al-Asy‘arî, ia adalah Abû al-Hasan ‘Alî ibn Ismâ‘îl ibn Abî Bisyr  Ishâq ibn Sâlim ibn Ismâ‘îl ibn ‘Abdillah ibn Mûsâ ibn Amîr al-Bashrah  Bilâl ibn Abî Burdah ibn Abî Mûsâ ‘Abdillah ibn Qais ibn Hadhdhâr  al-Asy‘arî al-Yamânî al-Bashrî, Mishbâh al-Tawhîd.</li>
<li>Semenjak ibunya menikah dengan al-Jubbâ’î, ia digembleng oleh  al-Jubbâ’î sehingga ia menjadi pemuka Mu‘tazilah. Dan pada tahun 300H ia  beralih kepada metode Salaf al-Shâlih dan mengumumkannya di masjid  Bashrah di hadapan para ahli hadis dan fikih.</li>
<li>Adapun isu-isu yang mengatakan bahwa ia bertaubat dari akidah bid‘ah  sebanyak dua kali adalah tidak benar. Karena prosesi pengumuman yang  dilakukannya di masjid Bashrah di hadapan ahli hadis dan fikih adalah  yang pertama dan terakhir.</li>
<li>Sekiranya setelah ia bertaubat dari paham mu‘tazilah masih membawa  paham-paham menyimpang tentunya ahli hadis dan fikih yang menyaksikan  itu berada pada garis terdepan dalam menangkal pemikiran menyimpang itu.</li>
<li>Kitab al-Luma‘ fî al-Radd ‘Alâ Ahl al-Zaigh wa al-Bida‘, Kasyf  al-Asrâr wa Hatk al-Astâr dan beberapa kitab lainnya telah ditelaah oleh  ahli hadis dan fikih pada saat itu sehingga mereka menerimanya meskipun  al-Ibânah belum ditulis oleh al-Asy‘arî.</li>
<li>Al-Asy‘arî, Ibn Kullâb, al-Karâbîsî dan sebelumnya yaitu al-Bukhârî  dan Muslim mempunyai pandangan yang sama dalam masalah akidah Ahl  al-Sunnah wa al-Jamâ‘ah. Hal ini tampak ketika mereka berbicara tentang  konsep Af‘âl al-‘Ibâd.</li>
<li>Al-Ibânah ‘an Ushûl al-Diyânah, adalah salah satu karya al-Asy‘arî  yang mengikuti metode salaf yaitu tafwîdh. Isi dan kandungannya  mengikuti metode Ibn Kullâb terutama dalam menyanggah Jahmiyyah dan  Mu‘tazilah.</li>
<li>Boleh dikata; al-Asy‘arî, kitab al-Ibânah, Ibn Kullâb dan Ahl  al-Sunnah wa al-Jamâ‘ah bagaikan empat sisi pada segi empat yang saling  melengkapi karena semuanya mengikuti al-Qur’ân, al-Sunnah dan Salaf  al-Shâlih.</li>
<li>Untuk mengenal al-Asy‘ariyyah, rujukan utama adalah karya-karya para  ulama yang mempunyai silsilah keguruan kepada al-Asy‘arî seperti  al-Khaththâbî (w.319), Ibn al-Mujâhid (w.370H), al-Baqillânî (w.403H),  al-Lâlikâ’î (w.418), al-Baihaqî (w.458H), dll.</li>
<li>Al-Zabîdî berkata, “Jika disebutkan tentang Ahl al-Sunnah wa  al-Jamâ‘ah (setelah masa salaf) maka yang dimaksud adalah kalangan  al-Asyâ‘irah dan al-Mâturîdiyyah” . Lihat Ithâf al-Sâdât al-Muttaqîn,  Dâr al-Fikr, vol.2, hal.6.</li>
</ol>
<h3>Daftar Pustaka</h3>
<ol>
<li>Al-Asy‘arî, Al-Ibânah ‘an Ushûl al-Diyânah, Dâr al-Anshâr, Mesir, cet.1, 1379H.</li>
<li>Al-Asy‘arî, Al-Ibânah ‘an Ushûl al-Diyânah, Maktabah al-Mu’ayyid, Saudi Arabia, dan Maktabah Dâr al-Bayân, Suriah, cet.3, 1411H.</li>
<li>Al-Asy‘arî, Al-Ibânah ‘an Ushûl al-Diyânah, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Lebanon, cet.2, 1426H.</li>
<li>Al-‘Asqalânî, Fath al-Bârî bi Syarh Shahîh al-Bukhârî, Dâr al-Hadîts, Mesir, 1424H.</li>
<li>Al-‘Asqalânî , Lisân al-Mîzân, Dâr al-Fikr, Lebanon, cet.1, 1408H.</li>
<li>Al-Baihaqî, al-Asmâ’ wa al-Shifât, Dâr al-Hadîts, Mesir, 1426H.</li>
<li>Al-Dimasyqî, Tabyîn Kidzb al-Muftarî fî Mâ Nusiba ilâ Abî al-Hasan  al-Asy‘arî, Al-Maktabah al-Azhâriyyah li al-Turâts, Mesir, cet.1, 1420H.</li>
<li>Al-Dzahabî, Siyâr A‘lâm al-Nubalâ’, Maktabah al-Shafâ, Mesir, cet.1, 1424H.</li>
<li>Al-Zabîdî, Ithâf al-Sâdât al-Muttaqîn fî Syarh Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn, Dâr al-Fikr, Lebanon, t.t.</li>
</ol>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p>http://jundumuhammad.wordpress.com/2011/03/04/pemalsuan-kitab-al-ibanah-imam-abu-hasan-al-asyariy/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/pemalsuan-kitab-al-ibanah-imam-abu-hasan-al-asy%e2%80%99ariy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

