Pagi itu kampung gunung baru kedatangan seorang warganya yang sudah lama merantau ke jakarta. Hampir 20 tahun ia meninggalkan kampung halamannya.sebut saja namanya junaedi yang oleh teman-temannya akrab dipanggil jhoni.
Dua hari sudah dilalui jhoni dikampung halamannya yang dulu. Hampir semua kerabat dan sahabat ia kunjungi, pagi ini giliran guru ngajinya yang pernah menjadi guru yang pertama kali sebelum ia mengenal berbagai macam ilmu.
Pak Wahib begitu biasa beliau dipanggil oleh murid-muridnya. Memang ilmunya sekarang jauh di bawah murid-muridnya. Karena murid-muridnya sekarang ada yang jadi kyai,ustadz atau juga guru dan ada juga yang jadi pedagang atau petani biasa. Namun entah mengapa hampir semua murid-muridnya selalu ingin mengunjunginya, sepertinya ada satu kelebihan dari pak wahib yang tidak dimiliki oleh murid-muridnya.
Seulas senyam selalu terlihat diwajahnya yang mulai berkerut, sorot matanya yang tajam menggambarkan betapa luasnya pengalaman beliau, pantas saja jika beliau ini menjadi tempat curhat dan musyawarah bagi murid-muridnya. Seperti halnya si jhoni, kali ini pun ia tidak hanya datang dengan maksud silaturrahim, namun juga mau curhat soal problem hidupnya.
” Monggo….monggo….wedangnya diminum nak juned ! ” pak wahib menawarkan wedang jahe buatan istrinya kepada tamunya
” iya …..pak….wah wedang jahenya sungguh-sungguh melegakan tenggorokan ” jhoni berkata diselingi menyeruput wedangnya.
Bincang-bincang pun berlangsung cukup hangat dari mulai hal-hal yang kecil sampai hal-hal yang terbilang berat. Tibalah saatnya jhoni mengeluarkan unek-uneknya.
” begini pak saya mau minta nasihat bapak soal maslah yang saya hadapi ini ” jhoni dengan panjang lebar mengeluarkan semua isi hatinya…..
” begitulah pak ………” saya berharap bapak bisa kasih saya solusi
” hmmmm……” pak wahib menghela nafas panjang, sepertinya beliau berusaha mengurai permasalahan muridnya dalam hatinya sebelum dia ucapkan
” Nak juned, mendengar ceritamu, bapak ikut prihatin , tapi ketahuilah setiap nabi,wai dan mukmin itu pasti diuji, dan ujian itu disesuaikan dengan kadar keimanannya”
” setiap manusia pasti punya masalah, masalah takkan pernah selesai hanya dengan diratapi, do’a dan ikhtiyar harus ditunaikan dengan beriringan”
” dalam hidup kadang kita dihadapkan pada beberapa pilihan, yang memaksa kita harus menentukan pilihan, manusiawi jika untuk sesaat kita tertegun manakala jalan hidup yang kita tapaki berujung pada persimpangan.”
” diam bukan jawaban,melangkah tanpa pertimbangan, pijakan dan arah yang benar hanya akan memperparah keadaan.”
” kegelisahan dan kebingungan kadang hilang untuk sesaat,namun sejatinya hanya mengendap,kalau dibiarkan berlarut,maka akan tiba saatnya dia akan menyeruak mencari jalannya sendiri ”
” lakukan sholat istikharah dan bermusyawarahlah dengan orang yang memang bisa dibuat pertimbangan, setelah hatimu mantap bismillah…… langkahkan kakimu dengan keyakinan dan penuh berharap akan hidayah dan inayah Alloh”
” sejatinya nak juned ini sudah menemukan solusinya, tapi nak juned takut dengan resiko akibat dari pilihan nak juned nanti”
” berhenti tanpa melangkah pun sebenarnya sebuah pilihan dan tentu membawa dampak pula, sekarang coba ditimbang-timbang, resikonya berat mana antara diam dan melangkah? Kalau sudah ketemu jalani”
Yang ditanya hanya mengangguk-angguk, tak kuasa menjawab seakan pikirannya masuk kedalam hatinya menyatu dengan semua problem yang sedang melandanya.
debu jalanan




Leave a Reply: