<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tanbihun Online</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 05:53:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Sekilas Isi Buku Dahlan Asy&#8217;ari Kisah Perjalanan Wisata Hati</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/buku/sekilas-isi-buku-dahlan-asyari-kisah-perjalanan-wisata-hati/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/buku/sekilas-isi-buku-dahlan-asyari-kisah-perjalanan-wisata-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 05:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=40536</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Dahlan Asy&#8217;ari kisah perjalanan wisata hati Penulis: Susatyo Budi Wibowo, Elis Widayanti Penerbit: Diva Press, 2011 ISBN: 6029785532, 9786029785531 Tebal: 268 halaman Sekilas tentang isi buku  KH. Ahmad Dahlan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/02/377_Dahlan.jpg"><img class="size-full wp-image-40537 alignnone" title="Ebook Dahlan Asyari" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/02/377_Dahlan.jpg" alt="Ebook Dahlan Asyari" width="200" height="300" /></a>Judul: <strong>Dahlan Asy&#8217;ari kisah perjalanan wisata hati</strong><br />
Penulis: <strong>Susatyo Budi Wibowo, Elis Widayanti</strong><br />
Penerbit: <strong>Diva Press, 2011</strong><br />
ISBN: <strong>6029785532, 9786029785531</strong><br />
Tebal: <strong>268 halaman</strong></p>
<h2><span style="color: #ff6600;">Sekilas tentang isi buku</span></h2>
<p style="text-align: justify;"> KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari adalah sama-sama keturunan Sunan Giri (Syekh Maulana ‘Ainul Yaqin), yang apabila ditarik garis ke atas, nasabnya sampai kepada Rasulullah Saw. Ketika keduanya lahir, oleh orang tua mereka masing-masing diberi nama depan yang sama, yaitu Muhammad. Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis, sedangkan nama kecil KH. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim. Keduanya pernah berguru kepada ulama besar yang sama, yaitu kepada KH. Saleh Darat al-Samarangi, Syekh Mahfud al-Tarmasy, dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Apakah ini sebuah kebetulan?</p>
<p style="text-align: justify;">KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yang berlambang matahari,  KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdhatul Ulama (NU) yang berlambang bumi dan bintang. Muhammadiyah banyak dijiwai oleh semangat QS. Ali Imran ayat 104, sedangkan NU, QS. Ali Imran ayat 103. Dan, K.H. Hasyim Asy’ari mendirikan NU tidak lama setelah K.H. Ahmad Dahlan wafat. Apakah ini juga sekadar kebetulan?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, di samping menjawab pertanyaan di atas, buku istimewa ini bakal mengupas lebih jauh kedua tokoh ulama karismatik abad ke-20 tersebut yang dalam pentas pergulatan sosial keagamaan di Indonesia namanya sudah sangat-sangat populer.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat membaca buku biografi sejarah yang ditulis dengan teknik penyampaian menarik, gaya tutur mengalir, kaya data, dan sangat informatif ini!</p>
<p style="text-align: justify;">Dan, terutama sangat cocok untuk Anda yang ingin melakukan perjalanan wisata hati</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/buku/sekilas-isi-buku-dahlan-asyari-kisah-perjalanan-wisata-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perayaan Maulid Dalam Pandangan Islam</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/perayaan-maulid-dalam-pandangan-islam/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/perayaan-maulid-dalam-pandangan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 02:45:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=40522</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abi Azka Ar Rifa’i Tanbihun.com- Rasulullah SAW tidak pernah melakukan seremoni peringatan hari lahirnya, itu memang fakta. Kita pun belum pernah menjumpai suatu hadits yang menerangkan bahwa pada setiap...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;" align="center"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/02/maulid-nabi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-40554" title="maulid-nabi" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/02/maulid-nabi-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Oleh:<strong> Abi Azka Ar Rifa’i</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanbihun.com</strong>- Rasulullah SAW tidak pernah melakukan seremoni peringatan hari lahirnya, itu memang fakta. Kita pun belum pernah menjumpai suatu hadits yang menerangkan bahwa pada setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal (sebagian ahli sejarah mengatakan 9 Rabiul Awwal), Rasulullah SAW mengadakan upacara peringatan hari kelahirannya. Bahkan ketika beliau sudah wafat, kita belum pernah mendapati para shahabat r.a. melakukannya. Tidak juga para tabi`in dan tabi`it tabi`in.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Imam As-Suyuthi dalam Husnul Maqoshidnya, orang pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah saw ini dengan perayaan yang meriah luar biasa adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktakin (l. 549 H. &#8211; w.630 H.) (lihat Husnul Maqoshid fi amali maulid, 6). Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid ini. Intinya menghimpun semangat juang dengan membacakan syi’ir dan karya sastra yang menceritakan kisah kelahiran Rasulullah SAW.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam as-Suyuthi mengatakan ketika menjawabi pertanyaan tentang hukum perayaan maulid Nabi SAW:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">وَالجَوَابُ عِنْدِيْ أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ المَوْلِدِ الَّذِيْ هُوَ اِجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَأَةُ مَاتَيَسَّّرَ مِنَ القُرْآنِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَأِ أَمْرِالنَّبِيّ صَلَّّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّّمَ مَاوَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الاَياَتِ ثُمَّ يَمُدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَهُ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَالِكَ مِنَ البِدَعِ الحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيْ صََلََّى اللهُُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِالفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ</h2>
<p style="text-align: justify;">Menurut saya asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu tergolong bid’ah hasanah(sesuatu yang baik). Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad saw yang mulia. (<em>Al- Hawi Lil-Fatawa</em>, juz I, h. 251-252, juga dalam Husnul Maqoshid, h 5)</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun tidak pernah dilakukan Nabi, namun perayaan Maulid memiliki landasan, baik dari Al-Qur’an maupun Hadits serta tidak bertentangan dengan sumber-sumber hokum Islam, sehingga masuk dalam kategori bid’ah hasanah. Adapun landasannya antara lain :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Allah SWT berfirman:</li>
</ol>
<h2 style="text-align: center;" dir="RTL">قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ</h2>
<p style="text-align: justify;">“<em>Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan</em>.’ ” (QS.Yunus:58).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sementara kita tahu bahwa Rasulullah Saw adalah Rahmatan Lil alamin. Maka sudah selayaknya lah apabila kita bergembira dengan kelahirannya.</strong></p>
<ul>
<li>Rasulullah SAW merayakan kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa setiap hari kelahirannya, yaitu setia hari Senin Nabi SAW berpuasa untuk mensyukuri kelahiran dan awal penerimaan wahyunya.</li>
</ul>
<h2 style="text-align: right;" align="right">عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ” : فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم</h2>
<p style="text-align: justify;">“<em>Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku</em>.” (H.R. Muslim)</p>
<ul>
<li>Rasulullah menganjurkan umatnya untuk berpuasa asyura’ karena pada hari itu Musa diselamatkan oleh Allah dari Fir’aun, Nabi bersabda dalam riwayat Imam Bukhori dan Muslim :</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya ketika Rasulullah Saw datang ke Madinah, beliau menemukan orang Yahudi puasa pada hari Asyura’. Kemudian beliau bertanya kepada mereka, hari apakah yang kalian puasai ini ? mereka menjawab, ini adalah hari yang agung, Alloh telah menyelamatkan Musa dan kaumnya pada hari ini dan Alloh juga menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya pada hari ini, maka Musa lalu berpuasa sebagai tanda syukur, maka kamipun berpuasa. Dalam riwayat lain dalam Bukhori Muslim “ maka kami berpuasa karena memuliakannya.” Maka Nabi Saw bersabda,” Kami lebih berhak dan lebih utama terhadap apa yang dilakukan Musa dibanding kalian semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Suyuthi berkata, dalil ini lah yang digunakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajjar sebagai <span style="text-decoration: underline;"><em><strong>dasar disyariatkannya Maulid</strong></em></span>. Ibnu Hajjar dengan pemahaman Hadits dan agamanya yang luas telah mampu menemukan dalil yang kuat untuk menetapkan masyru’nya perayaan maulid.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang menyatakan bahwa menjadikan maulid dikatakan bid&#8217;ah adalah adanya pengkhususan (<em>takhsis</em>) dalam pelakanaan di dalam waktu tertentu, yaitu bulan Rabiul Awal yang hal itu tidak dikhususkan oleh syariat. Pernyataan ini sebenarnaya perlu di tinjau kembali, karena <em>takhsis </em>yang dilarang di dalam Islam ialah <em>takhsis </em>dengan cara meyakini atau menetapkan hukum suatu amal bahwa amal tersebut tidak boleh diamalkan kecuali hari-hari khusus dan pengkhususan tersebut tidak ada landasan dari <em>syar&#8217;i </em>sendiri(Dr Alawy bin Shihab, <em>Intabih Dinuka fi Khotir</em>: hal.27).</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini berbeda dengan penempatan waktu perayaan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, karena orang yang melaksanakan maulid Nabi sama sekali tidak meyakini, apalagi menetapkan hukum bahwa maulid Nabi tidak boleh dilakukan kecuali bulan Robiul Awal, maulid Nabi bisa diadakan kapan saja, dengan bentuk acara yang berbeda selama ada nilai ketaatan dan tidak bercampur dengan maksiat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengkhususan waktu maulid disini bukan kategori takhsis yang di larang syar&#8217;i tersebut, akan tetapi masuk kategori <em>tartib </em>(penertiban). Pengkhususan waktu tertentu dalam beramal sholihah adalah diperbolehkan, Nabi Muhammad sendiri mengkhusukan hari tertentu untuk beribadah dan berziaroh ke masjid kuba, seperti diriwatkan Ibnu Umar bahwa Nabi Muhammad mendatangi masjid Kuba setiap hari Sabtu dengan jalan kaki atau dengan kendaraan dan sholat sholat dua rekaat di sana (HR Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar mengomentari hadis ini mengatakan: &#8220;Bahwa hadis ini disertai banyaknya riwayatnya menunjukan diperbolehkan mengkhususan sebagian hari-hari tertentu dengan amal-amal salihah dan dilakukan terus-menerus&#8221;.(<em>Fathul Bari, </em>3/84)</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara orang yang mengatakan maulid adalah bid&#8217;ah adalah karena acara maulid tidak pernah ada di zaman Nabi, sahabat atau kurun salaf. Yang pertama kali menggunakan jargon ini adalah Ibnu Taymiyah, dia mengatakan ,” seandainya hal itu baik pastilah mereka ( salaf ) sudah mengerjakannya, karena mereka lebih mencintai Rasul dibanding dengan kita.” ( Iqthidho Shirothil Mustaqim, 2/619), tapi kelihatannya Ibnu Taymiyah sendiri inkonsisten dalam hal ini, sebab dalam Majmu’ Al fatawa, pada pembahasan Masuk ke kamar mandi, beliau berkata,” tidak ada seorangpun yang berhujjah makruhnya masuk kamar mandi atau tidak sunnahnya masuk ke kamar mandi dikarenakan Rasulullah tidak pernah memasukinya. ( sampai perkataan ) karena adamul fi’li (tidak dikerjakannya sebuah amalan) itu merupakan salah satu dari dalil syari’ah. Lebih lanjut Ibnu Taimiyyah berkata, menafikan suatu kesunahan karena tidak adanya dalil yang menjelaskan secara khusus tanpa melihat pada dalil-dalil yang lain adalah kesalahan fatal.( Majmu’ Al fatawa, 21/313). Ketika beliau bisa berkomentar seperti itu pada kasus masuk kamar mandi, kenapa beliau tidak mau melakukan hal yang sama pada kasus maulid ?. Tidak adanya contoh dari salaf tentang maulid dan tidak adanya dalil yang menjelaskan secara khusus bukan berarti meniadakan kesunahannya, bahkan wajib untuk meneliti dalil-dalil yang lain.dan ternyata Ibnu Hajjar Al-Asqolaniy berhasil mengkaji dan menemukan dalil-dalil maulid itu”</p>
<p style="text-align: justify;">Al Hafidz Assuyuthi memberikan jawaban yang bagus tentang masalah ini (yakni maulid tidak dilakukan oleh salaf ), beliau berkata: “sesungguhnya tidak dikerjakannya suatu amalan oleh salaf itu berarti sukut ( diam ). Dan juga tidak pernah ada larangan dari mereka untuk mengadakan perayaan. Dan sukut itu dijadikan hujjah ketika tidak ada dalil. Dan ketika ada dalil yang menetapkannya ( lebih dalil qauliy yang telah dinukilkan oleh Ibnu Hajjar di atas), maka dalil yang menetapkan itu didahulukan atas sukut.( Bayanun Nabawiy, DR Mahmud Ahmad Zein, 12 )</p>
<p style="text-align: justify;">Jika demikian, maulid Nabi adalah amalan yang baik, dan akan diberikan pahala bagi siapapun yang melakukannya dengan niat mencintai Nabi, sepanjang perayaan tersebut tidak terdapat suatu kemungkaran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/perayaan-maulid-dalam-pandangan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amar Ma&#8217;ruf Nahi Munkar Dan Kecelakaan Maut</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/hikmah/amar-maruf-nahi-munkar-dan-kecelakaan-maut/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/hikmah/amar-maruf-nahi-munkar-dan-kecelakaan-maut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 17:45:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Em. Yazid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=40192</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun.com- Cukup lama juga saya tidak menulis, bukan karena sibuk atau kehilangan ide, namun lebih pada kemauan. Dalam beberapa bulan terakhir ini banyak kejadian-kejadian yang tertangkap oleh panca indera saya...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/foto-Fitria-Apriliani.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-40193" title="foto Fitria Apriliani" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/foto-Fitria-Apriliani-300x185.jpg" alt="" width="300" height="185" /></a>Tanbihun.com</strong>- Cukup lama juga saya tidak menulis, bukan karena sibuk atau kehilangan ide, namun lebih pada kemauan. Dalam beberapa bulan terakhir ini banyak kejadian-kejadian yang tertangkap oleh panca indera saya yang belum sempat saya tuangkan kedalam bentuk tulisan. Insya Allah, semoga ini adalah tulisan yang akan menjadi titik awal bagi tulisan-tulisan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kita mau merenungi setiap kejadian, baik yang kita alami sendiri maupun yang terjadi dilingkungan sekitar kita, niscaya akan kita dapati berbagai macam hikmah pelajaran, yang akan menjadi bahan bagi pendewasaan jiwa, menuju ke arah kebaikan dan perbaikan diri sendiri, keluarga,lingkungan dan dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Minggu ini nampaknya menjadi minggu yang penuh kejadian, mulai dari tingkah polah wakil rakyat yang tidak mencerminkan wakil rakyat, sementara kebanyakan rakyat masih hidup dicekam kekurangan, para elite pemegang kekuasaan malah mempertontonkan kemewahan, sehingga duit yang sebaiknya digunakan untuk mensejahterakan rakyat dipakai untuk memanjakan diri mereka dengan membeli dan membangun fasilitas diatas kebutuhan pokok. Itulah manusia, kita jangan merasa paling benar dengan melihat polah wakil-wakil kita di senayan, bisa jadi kita kalau dikasih kesempatan yang sama dengan mereka kan bertingkah sama seperti mereka atau bahkan lebih buruk lagi.Marilah kita menjalankan fungsi kita sebagian bagian dari masyarakat sesuai kemampuan dan posisi masing-masing untuk bersinergi bagi kemashlahatan bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Minggu ini kita juga dikejutkan dengan peristiwa kecelakaan maut yang merenggut 9 nyawa pejalan kaki. Semua mata hampir kompak &#8220;menyalahkan&#8221; si sopir mobil yang menabrak para pejalan kaki. Dari hasil tes urine dan darah, si sopir dan penumpang satu mobil tersebut positif pemakai narkoba atau sejenisnya. Mungkin sebagian dari para pemakai narkoba tidak terima ketika dinasihati, bahwa perbuatannya itu dosa dan bisa berakitat buruk bagi orang lain serta lingkungan, sebagian dari mereka  bilang <em>&#8220;yang teler gue, beli pakai duit gue,kalau berdampak buruk gue sendiri yang nanggung,ngapain kalian yang ribut?&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian kecelakaan maut yang diakibatkan oleh seorang wanita bernama <em>Fitria Apriliani</em> cukuplah sebagai bukti sekaligus peringatan, bahwa kesalahan yang diperbuat individu, efek negatifnya bukan cuma sipelaku saja yang menanggungnya, orang lain atau lingkungan sekitarnya pun bisa terkena dampaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini mengingatkan kita untuk kembali bersama-sama melakukan <em>amar ma&#8217;ruf nahi</em> <em>munkar</em> dimana saja dan kapan saja kepada siapa saja. <strong>Amar ma&#8217;ruf</strong> (memerintahkan yang baik) dan <strong>nahi munkar</strong> (mencegah hal yang buruk) ini termasuk bagian dari wujud kepedulian terhadap lingkungan. JIka rasa peduli terhadap lingkungan ini hilang, besar kemungkinannya lingkungan kita akan hancur, entah secara perlahan atau serta merta.(zid)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/hikmah/amar-maruf-nahi-munkar-dan-kecelakaan-maut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Kitab Yang Memuat Tentang Taubatnya Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah</title>
		<link>http://tanbihun.com/usulidin/inilah-kitab-yang-memuat-tentang-taubatnya-imam-taqiyuddin-ibnu-taimiyah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/usulidin/inilah-kitab-yang-memuat-tentang-taubatnya-imam-taqiyuddin-ibnu-taimiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 20:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Usulidin]]></category>
		<category><![CDATA[kitab Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=39933</guid>
		<description><![CDATA[PROLOG KE TIGA Taubatnya Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah Banyak di kitab-kitab yang cenderung melaporkan masalah aqidah atas ucapan ucapan dan karangan karangan yang di nisbatkan/sandarkan kepada imam Taqiyuddin Ahmad ibnu...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah1.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39935" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah1" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah1-789x1024.jpg" alt="" width="620" height="804" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PROLOG KE TIGA</strong><br />
<strong>Taubatnya Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
Banyak di kitab-kitab yang cenderung melaporkan masalah aqidah atas ucapan ucapan dan karangan karangan yang di nisbatkan/sandarkan kepada imam Taqiyuddin Ahmad ibnu Taimiyah Rahimahullah. Sebagian dari mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya imam besar ini telah bertaubat dari aqidah aqidahnya dan telah kembali kepada kebenaran. Saya disini akan menukilkan tanggal-sejarah itu berikut dengan teks nya yang saya salin dari kitab “Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah” karya amirul mukminin dalam hadis, yaitu imam al hafidz Abi Fadl ibnu Hajar Al Atsqolani terbitan 1414H cetakan Darul Jail-Juz 1 hal.148. Namun sebelum itu ada pemaparan <strong>Imam Nuwairi</strong>. Beliau adalah ulama yang hidup sejaman dengan imam ibnu taimiyah dan pemaparan orang orang yang menyaksikan peristiwa pertaubatan tersebut. Imam Nuwairi mengatakan bahwa peristiwa pertaubatan ibnu taimiyah ini juga disaksikan oleh golongan yang menyimpang (pro ibnu taimiyah)penj. atau maksudnya golongan yang bersebrangan dengan ibnu taimiyah (maaf jk salah terjemah). Ibnu Hajar berkata:”Yang menyaksikan peristiwa pertaubatan ini terdiri dari aliansi ulama dll.</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong>Imam Nuwairi</strong> berkata:”Masalah imam Taqiyuddin ini berkelanjutan hingga beliau di jebloskan ke dalam penjara bawah tanah yang berada di benteng gunung hingga datanglah amir Hisamuddin ke pintu pemerintahan untuk melayani beliau pada bulan Rabi’ul awwal tahun 707 H. Hingga kemudian Hisamuddin menanyakan duduk permasalahan ibnu taimiyah ini kepada pemerintah yang berwajib dan akan menolongnya sehingga pemerintah memberi grasi kepada ibnu taimiyah dan akhirnya beliau bebas pada hari jum’at tanggal 23 bulan (?) (pada bulan itu pula)penj. Yaitu rabi’ul awwal. Dan kemudian ibnu taimiyah di hadirkan ke gedung penuntutan (pengadilan)penj. Yang berada disitu (benteng gunung). Dan terjadilah pembahasan bersama para pakar ilmu kemudian kumpullah golongan dari ulama yang terkemuka, namun acara tersebut tidak dihadiri oleh hakim ketua yaitu Zainuddin Al Maliky dikarnakan beliau sakit dan tak hadir pula dari para hakim yang lain. Namun hasil dari pembahasan tersebut ibnu taimiyah menulis kemudian ditulis oleh dewan majlis dengan tulisan yang terjamin dan di tanda tangani oleh para saksi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong>BISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM</strong><br />
Kesaksian orang yang telah ikut membubuhkan tulisannya ketika telah ada teken dari dewan majlis untuk Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah Al harani Al Hanbali ini dihadapkan kepada markas besar yang mulia amir adil Assaifi raja sultan Salar Al Maliky An Nashiri wakil dari sultan agung. Dan hadir pula didalamnya golongan dari para ulama.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah2.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39940" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah2" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah2-717x1024.jpg" alt="" width="620" height="885" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dan pembesar pembesar ahli fatwa terdepan mesir disebabkan apa yang pernah di nukil dari pemikiran ibnu taimiyah dan tulisan beliau yang sudah di ketahui sebelum itu yaitu masalah masalah yang berhubungan dengan akidah beliau seperti “Sesungguhnya Allah itu berbicara dengan suara”, dan “bahwa makna istiwa’ itu atas makna hakikat/dhohirnya dll yang bertentangan dengan ahli kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;">
Akhirnya majlis itu selesai setelah pembahasan itu berjalan lama. Ibnu taimiyah mengembalikan akidahnya itu kembali sehingga beliau berucap dihadapan para saksi (SAYA ASY’ARI) sambil mengangkat kitab faham asy’ariyah di atas kepalanya. Dan saya bersaksi atasnya dengan apa yang tertulis berikut ini:</p>
<p>“Segala puji milik Allah yang aku beri’tikad pada-Nya bahwa Al Qur’an berdiri diatas makna Dzat Allah. Dan itu sifat dari beberapa sifatNya yang qodim dan ajali. Dan Ia bukan makhluk. Bukan dengan huruf dan bukan pula dengan suara.<br />
Ini di tulis oleh Ahmad Ibnu Taimiyah.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Demi Dzat yang aku beri’tikad kepadaNya dari firmanNya yang berbunyi:</p>
<h2 style="text-align: justify;">
(الرحمن على عرش استوى) طه:5</h2>
<p style="text-align: justify;">Itu di pahami seperti apa yang telah dipahami banyak orang, yaitu bukan seperti hakikat dan dhohirnya lafad. Saya tidak tahu makna ganti dan maksudnya, bahkan tidak diketahui itu kecuali hanya Allah swt.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Ini ditulis oleh Ahmad Ibn Taimiyah.</p>
<p>Pendapatnya dalam masalah “turunnya” (Allah) itu juga sama seperti masalah “istiwa”. Aku katakan seperti apa yang aku katakan, yaitu “Saya tidak mengetahui makna ganti dan maksudnya, bahkan tidak akan diketahui kecuali Allah swt. Bukan atas hakikat dan dhohir lafadnya.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
<strong>Ahmad ibnu Taimiyah telah menulis ini.</strong></p>
<p>Tulisan pengakuannya ini ia tulis pada hari minggu tanggal 25 rabi’ul awwal tahun 707 H.</p>
<p>Dan inilah naskah/salinan apa yang telah ia tulis dengan tulisannya sendiri. Dan saya (imam nuwairi) menjadi saksinya pula bahwa beliau bertaubat kepada Allah dari apa yang ia yakini selama ini (4 masalah). Dan dia (ibnu taimiyah) melafadzkan dua kalimah syahadat yang agung. Saya bersaksi atasnya dengan sukarela dan seleksi dalam masalah itu semua di benteng gunung yang terjaga dari gedung gedung mesir. Semoga Allah menjaganya. Amien..</p>
<p>Dengan sejarah hari minggu tanggal 25 robi’ul awwal tahun 707 yang di saksikan oleh golongan orang orang yang terkemuka yang patuh dan tunduk dan golongan yang menyimpang.<br />
Aku keluarkan ini dan aku tetapkan di kairo. (selasai ucapan imam nuwairi).<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Ini dari kitab “Nihayatul arob fi fununil adab” milik hakim Syihabuddin an nuwairy. Beliau wafat pada tahun 733 H. cetakan darul kutub mesir 1998M juz 32 hal.115-116.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah3.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39949" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah3" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah3-793x1024.jpg" alt="" width="620" height="800" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Imam al hafidz ibnu hajar al asqolani</strong> berkata: &#8220;Ibnu taimiyah masih tetap di penjara bawah tanah hingga ditolong/diberi grasi oleh amir ali fadl sehingga beliau akhirnya bebas dibulan rabiul awwal tanggal 23 dan kemudian di hadapkan di sebuah benteng dan dilaksanan pembahasan (dialog terbuka)penj. Bersama sebagian pakar fikih hingga akhirnya tercatat sebuah catatan pengakuan ibnu taimiyah bahwa dia berkata:”Saya berpaham asy’ariyah”. Dan di jumpai pula tulisan beliau dengan teks sbb:</p>
<p>“Segala puji milik Allah yang aku beri’tikad pada-Nya bahwa Al Qur’an berdiri diatas makna Dzat Allah. Dan itu sifat dari beberapa sifatNya yang qodim dan ajali. Dan Ia bukan makhluk. Bukan dengan huruf dan bukan pula dengan suara.<br />
Sedangkan firman Allah yang berbunyi:</p>
<h2 style="text-align: justify;">
(الرحمن على عرش استوى)</h2>
<p style="text-align: justify;">
ini bukan seperti dhohirnya lafadnya. Saya tidak tahu makna ganti dan maksudnya, bahkan tidak diketahui itu kecuali hanya Allah swt. Dan pendapatnya dalam masalah “turunnya” (Allah) itu juga sama seperti masalah “istiwa”. (bukan seperti dhohirnya dan tidak diketahui muradnya).<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
<strong>Ibnu taimiyah telah menulisnya ini</strong>.</p>
<p>Kemudian para hadirin menyaksikannya bahwa dia bertaubat sebagai pilihannya dari apa yang ia yakini dulu dan itu terjadi pada tanggal 25 rabiul awwal tahun707 H. Dan peristiwa itu di saksikan pula oleh sebagian besar dari ulama dll. Setelah kasus ini reda, akhirnya di rilis (pengakuan taubat ibnu taimiyah ini)penj. ke permukaan. Dan beliau tinggal di kairo.</p>
<h3 style="text-align: justify;">
Adapun selain imam ibnu hajar dan imam nuwairi yang menuturkan tentang pertaubatan ibnu taimiyah ini terdiri dari ulama dan para pakar sejarah, yaitu:</h3>
<p style="text-align: justify;">
<strong>1. ابن المعلم(w.725) فى نجم المعتدى salinan paris nomor 638 </strong><br />
<strong>2. الدواداى(w.736) فى كنزالدرر- الجامع 239</strong><br />
<strong>3. ابن تغري بردي الحنفى (w.874) فى المنهل الصافى- الجامع 576</strong></p>
<p>Yang ke semua ini isinya sama seperti penuturannya ibnu hajar. Dan juga telah dinukil pula di kitab<br />
<strong>النجوم الزاهرة – الجامع 580</strong></p>
<h3 style="text-align: justify;">
SITUASI ORANG ORANG KARNA PERTAUBATAN IBNU TAIMIYAH:</h3>
<p style="text-align: justify;">
Seluruh ulama sepakat atas kebenaran peristiwa pertaubatan imam ibnu taimiyah rahimahullah ini. Namun setelah itu terjadi perselisihan tentang sikap ibnu taimiyah tsb. Ia jujur taubat sebenarnya atau murni permainan kata-kata/kamuflase atau taqiyah (kepura puraan)penj. (Agar segera dibebaskan).</p>
<p><strong>Sikap orang orang ada dua kelompok:</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>: Kubu yang membenarkan hal itu dan menaruh simpati kepada ibnu taimiyah, karena telah membawa kaum muslimin keluar menuju yang terbaik dan mendorong kepada kaum muslimin yang lain, oleh karena itu banyak ulama yang membelanya (taubat)penj. dan menentang siapa saja yang menuduh dia bid’ah. (karena taubat)penj.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Kubu yang berasumsi bahwa pertaubatannya itu tidak benar/tidak terbukti. Kubu ini ada dua versi, yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah4.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-39951" title="Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah4" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/Durarul-Kaminah-Fi-A’yanil-mi-ah-Atsaaminah4-721x1024.jpg" alt="" width="620" height="880" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PIHAK PERTAMA MENGATAKAN</strong>:”Orang orang telah memaksa ibnu taimiyah telah berbuat bid’ah dan memaksa keluar dari aqidahnya ahli kebenaran seperti yang telah ditegaskan dalam kitab kitab beliau. Dan atau seperti yang sudah banyak dinukil oleh para pengikut fanatiknya bahwa beliau ditetapkan dibanyak kitab bahwa beliau meninggal dunia di penjara.</p>
<p>Adapun ucapan mereka yang menyatakan bahwa ibnu taimiyah menghembus nafas terakhirnya di penjara, JAWABANNYA ADALAH:”Memang benar, namun itu dalam tahanan yang terakhir, yaitu beliau di jebloskan ke penjara lagi karena tersandung masalah fiqhiyah dan furu’iyah, seperti masalah fatwa haramnya bagi orang yang bepergian untuk berziarah kemakam Nabi Saw dll. Jadi bukan masalah akidah yang telah ia taubati itu.</p>
<h3 style="text-align: left;">
Mengenai tidak ditemukannya dalil penguat/pembenaran atas taubatnya beliau di kitab kitab beliau atau referensi valid dari beliau JAWABANNYA ADALAH:</h3>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Ibnu Taimiyah tidak mencetak semua kitab kitabnya. Sehingga dengan indikasi ini kami menguatkan.</strong></p>
<p><strong>2. Alasan lain bahwa kitab kitabnya yang telah tercetak terdapat banyak kekeliruan puluhan halaman seperti yang terjadi dalam kitab fatawanya terutama dari lembaran lembaran dan kalimatnya. Sebuah kesalahan jika kami menetapkan tidak adanya pencabutan ibnu taimiyah atas akidahnya atau tidak memungkinkannya kembalinya beliau kepada kebenaran.</strong></p>
<p><strong>3. Kitab kitab yang beredar kini dan fatwa fatwa yang di nisbatkan kepada beliau, itu semua di kumpulkan 5 abad/lebih setelah beliau wafat. Dan itu semata mata hanya salinan-salinan yang tidak jelas yang tak bisa membenarkan dan yang tak bisa menyanggah hal itu.</strong></p>
<p><strong>PIHAK KEDUA MENGATAKAN</strong>:”Ini mengenai martabat sebuah akidah yang beliau taubati. Pihak ini mengatakan bahwa taubatnya ibnu taimiyah ini hanyalah permainan kata kata dan taqiyyah (menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati untuk menyelamatkan diri-pent) bukan yang lain. Dan inilah yang banyak di anut oleh pengikutnya hingga sekarang. Dan menurut mereka pula, ini tidak benar jika taubat dari keyakinannya di nisbatkan kepada sosok seorang ibnu Taimiyah rahimahullah karena ia beri’tikad bahwa akidahnya-lah yang diatas kebenaran. Bagaimana pula dia menyerah/tidak berpegang teguh dalam pendiriannya sedangkan beliau adalah seorang pemimpin dan panutan dalam masalah kebenaran ini. Pihak ini berdalih seperti teguh dan sabarnya imam Ahmad bin Hambal [yang memilih tetap dipenjara-pent]. (tatkala disuruh mengakui bahwa Al Qur’an itu adalah makhluk-pent) dan ulama ulama yang lain.</p>
<p><strong>[Penulis kitab berkata]</strong><br />
Adapun yang benar adalah yang menguatkan bahwa ibnu Taimiyah telah bertaubat dari akidahnya, segala puji milik Allah. Tujuan saya dari semua ini adalah setiap bantahan dan sanggahannya mengenai pesan ini. Saya tidak bermaksud membahas secara personal seorang ibnu taimiyah, saya hanya bermaksud dengan apa yang telah disebutkan dalam kitab kitabnya, entah itu pendapat beliau disaat belum taubat (Allah bersemayam)red. Atau itu hanya ucapannya orang yang berbuat buat atas nama ibnu taimiyah rahimahullah.</p>
<p style="text-align: justify;">
Sehingga kesimpulannya adalah:’Bantahan/sanggahan ini ditujukan pada pendapat/opini yang berkembang saat ini, bukan pada sang penutur/pengucap(ibnu taimiyah)red. seperti yang ada sekarang ini.</p>
<p style="text-align: center;">
<p>……………………&#8230;<strong>T A M A T</strong>…………………….</p>
<p style="text-align: justify;">
<p>Semoga bermanfaat, sehingga menjadi khazanah ilmu pengetahuan anda semua…<br />
Saya ucapkan banyak terima kasih bagi kawan kawan disini yang telah mendukung atas terbitnya scan kitab ini : )</p>
<p>Saya juga mohon maaf jika ada terjemahan yang kurang berkenan dalam hati kawan kawan disini. Jangan lupa di copy paste atau hanya di download saja gambar scan kitab ini (scan#1-2-3-4). Afwan bagi rekan rekan yang tidak kena [Tag] oleh saya karena keterbatasan pertemanan atau perangkat saya. Saya ijinkan pula bagi siapa saja yang ingin menyebarkannya dengan cara mengeTag teman temannya /dll.</p>
<p style="text-align: center;">
<p>::::::::::::: KEBENARAN HANYA MILIK ALLAH:::::::::::</p>
<p style="text-align: justify;">
Scan ini adalah kitab:</p>
<h2 style="text-align: justify;">د ررالالفاظ العاوالي فى الرد على الموجان والحوالي</h2>
<p style="text-align: justify;">Karya:</p>
<h2 style="text-align: justify;">غيث بن عبدالله الغالبي</h2>
<p style="text-align: justify;">Adapun riwayat pertaubatan ibnu taimiyah ini ada dalam kitab:</p>
<h2 style="text-align: justify;">الدررالكامنة فى اعيان المائة الثامنة</h2>
<p style="text-align: justify;">Karya ulama pakar hadis dan fikih abad ke-8, yaitu Ibnu Hajar Al Asqolany.<br />
Seperti yang tertera dalam scan#1.</p>
<p>Saya meriwayatkan ini dari SANAD berikut ini:</p>
<h2 style="text-align: right;">
ارويها عن الشيخ محمد أمين الهرري عن الشيخ محمد ياسين بن محمد عيسى الفادني عن السيد جعفر بن محمد الحداد, والسيد منصور بن عبدالحميد الفلمباني المكي, كلاهما عن والد الثاني السيد عبد الحميد بن محمود الفلمباني عن ابيه المعمر السيد محمود بن كنان الفلمباني عن المعمر الشيخ عبد الصمد بن عبد الرحمن الأشي الشهير بالفلمباني عن السيد عمادالدين يحي بن عمر مقبول الأهدل الزبيدى عن محمد بن عمر بن مبارك بحرق الحضرمي عن السيد أحمد بن حسين العدروس التريمي عن السيد محمد بن على خرد التريمي عن محمد بن عبد الرحمن الخاوي عن مؤلفها الحافظ أبي الفضل أحمد بن علي بن حجر العسقلاني.</h2>
<p style="text-align: justify;">Kalau memang riwayat scan#1-2-3-4 ini dikatagorikan lemah, mungkin karena ada satu rowinya yang penuh dosa, hina dan tidak pandai berdebat ini, yaitu saya sendiri.. hehehehe..</p>
<p>Salam Aswaja !!</p>
<div id="fbPhotoPageAuthorName"><a href="https://www.facebook.com/profile.php?id=100001572504293" data-hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=100001572504293">Kaheel Baba Naheel</a></div>
<div>Ini hasil dari scan saya sendiri (bukan ngambil dari link) dan berikut dengan terjemahannya saya sendiri.<br />
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan atau terjemahannya dikarenakan keterbatasan ilmu yang saya miliki.</div>
<div></div>
<div>Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.</div>
<p style="text-align: justify;">
<p>► Jgn Lp Copas Download<br />
█║▌│█│║▌║││█║▌║▌║</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/usulidin/inilah-kitab-yang-memuat-tentang-taubatnya-imam-taqiyuddin-ibnu-taimiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melakukan Perubahan Adalah WAJIB</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/melakukan-perubahan-adalah-wajib/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/melakukan-perubahan-adalah-wajib/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 01:26:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[al qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Analisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=39758</guid>
		<description><![CDATA[MAKALAH TAFSIR SUNNATULLAH TENTANG PERUBAHAN KEADAAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN DOSEN : DR. AHZAMI SAMIUN JAZULI.MA HAFIDZOHULLAH &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; OLEH : AHMAD RIFA’I &#160; PROGRAM PASCA SARJANA...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;" align="center">MAKALAH TAFSIR</p>
<p style="text-align: left;" align="center"><strong>SUNNATULLAH TENTANG PERUBAHAN KEADAAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN</strong></p>
<p style="text-align: left;" align="center">DOSEN :</p>
<p style="text-align: left;" align="center">DR. AHZAMI SAMIUN JAZULI.MA HAFIDZOHULLAH</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">OLEH :</p>
<p align="center">AHMAD RIFA’I</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">PROGRAM PASCA SARJANA</p>
<p align="center"><strong>UNIVERSITAS ISLAM JAKARTA</strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong>2011</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">DAFTAR ISI</p>
<p style="text-align: justify;">BAB 1</p>
<p style="text-align: justify;">PENDAHULUAN…………………………………………………………………….3</p>
<p style="text-align: justify;">BAB II</p>
<p style="text-align: justify;">PEMBAHASAN………………………………………………………………………4</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pengertian Taghyiir…………………………………………………………….4</li>
<li>Ayat-ayat Yang Berkaitan Dengan Perubahan………………………………&#8230;5</li>
<li>Dasar-dasar Perubahan…………………………………………………………7</li>
<li>Hukum-hukum Perubahan…………………………………………………….. 12</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">BAB III</p>
<p style="text-align: justify;">KESIMPULAN…………………………………………………………………………18</p>
<p style="text-align: justify;">DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………&#8230;19</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">BAB I</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">PENDAHULUAN.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Swt telah meletakkan aturan-aturan baku di alam ini, siapapun yang dapat menjalankan aturan Allah swt tersebut maka ia akan meraih kesuksesan setidaknya dalam kehidupan dunia ini. Aturan baku itu disebut dengan sunnatullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi manusia pada dasarnya bisa dirubah apabila ada kemauan dari manusia itu sendiri untuk merubahnya. Iman, akhlak dan tingkah laku yang baik akan dapat merubah kondisi negative yang dialami seseorang menjadi kondisi positif yang penuh kenikmatan. Sebab Allah subhanahu wa ta’ala telah memberlakukan hokum sebab akibat di dunia ini. Siapapun orangnya yang melaksanakan sebab dengan baik maka ia akan mendapatkan akibat yang baik. Suatu contoh, ada anak orang Islam, ia tidak pernah masuk sekolah dan tidak pernah belajar sama sekali, maka ia dipastikan tidak naik kelas atau tidak lulus ujian. Akan tetapi meskipun ia kafir, namun ia rajin belajar dan masuk sekolah maka ia akan dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini mestinya disadari oleh orang islam, bahwa untuk mencapai kemajuan tidak mungkin dapat dicapai dengan berkhayal dan berpangku tangan semata sambil menunggu pertolongan Allah, akan tetapi kemajuan itu harus diusahakan dan dijemput dengan ikhtiyar yang maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan keadaan manusia itu merupakan sunnatullah, yang letak keberhasilannya digantungkan dari usaha manusia itu sendiri untuk berubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Makalah ini hadir dalam rangka mengungkap sunnatullah fi taghyiiri ahwalinnaasi fil qur’anil kariim, sehingga diharapkan dapat menambah motivasi bagi siapapun yang membacanya untuk selalu berbuat baik dan berusaha kearah yang lebih baik lagi.</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">BAB II</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">PEMBAHASAN</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pengertian  Taghyiir.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Taghyiir berasal dari Isim Masdar dari Fiil Madzi<strong>غير</strong> yang berarti merubah, menukar atau mengganti.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu pengertian taghyiir menurut Ibnu Mandzur dalam kitab Lisaanul Arab disebutkan</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>تغيَّر الشيءُ عن حاله تحوّل وغَيَّرَه حَوَّله وبدّله كأَنه جعله غير ما كان</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Artinya yaitu berubahnya sesuatu dari kondisinya, menukar, merubah dan menggantinya seolah-olah ia menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>ذلك بأَن الله لم يَكُ مُغَيِّراً نِعْمةً أَنعمها على قوم حتى يُغَيِّروا ما بأَنفسهم</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Artinya : Demikianlah Allah tidak akan merubah kenikmatan yang telah Ia berikan kepada suatu kaum hingga mereka merubahnya sendiri.(QS.Al-Anfal :53)</p>
<p style="text-align: justify;">Tsa’labi berkata bahwa makna dari <strong>حتى يُغَيِّروا ما بأَنفسهم</strong><strong> </strong>adalah<strong> </strong><strong> </strong><strong>حتى يبدِّلوا ما أَمرهم الله</strong><strong> </strong>(sehingga mereka merubah apa yang diperintahkan Allah kepada mereka).<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Ibnu ‘Asyur dalam At Tahriir Wat Tanwiir berkata :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>و«التغيير» تبديل شيء بما يضاده فقد يكون تبديلَ صورة جسم كما يقال : غَيّرتُ داري ، ويكون تغيير حال وصفة ومنه تغيير الشيب أي صباغه</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Taghyiir (perubahan) yaitu mengganti sesuatu dengan sesuatu yang berlawanan, terkadang perubahan itu mengganti corak dan bentuk sesuatu seperti ungkapan, aku telah merubah rumahku. Dan terkadang perubahan itu mengganti keadaan atau sifat, termasuk di dalamnya adalah merubah uban yang berarti menyemirnya.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Ayat-ayat yang berkaitan dengan perubahan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">Ayat pertama yang berbicara tentang perubahan keadaan manusia adalah Surat Al-Anfal ayat 53, dimana allah berfirman :<strong style="text-align: justify;">  </strong></p>
<p style="text-align: justify;">(siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.(QS. Al-Anfal:53)</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut At Thobariy ayat ini berkaitan dengan azab Allah yang ditimpakan kepada kaum kafir quraisy diperang badar sebab dosa-dosa yang mereka lakukan.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Imam Al-Baghowiy berkata, sesungguhnya makna dari ayat di atas adalah</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>أن الله تعالى لا يغير ما أنعم على قوم حتى يغيروا هم ما بهم، بالكفران وترك الشكر، فإذا فعلوا ذلك غير الله ما بهم، فسلبهم النعمة</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kenikmatan atas suatu kaum sehingga mereka merubah sesuatu yang ada pada mereka dengan kekufuran dan tidak syukur. Ketika mereka melakukan hal itu maka Allah pun akan merubah kenikmatan yang ada pada mereka.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Syaikh Mustafa Al Maraghi menegaskan :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>وفى الآية إيماء إلى أن نعم اللّه على الأمم والأفراد منوطة ابتداء ودواما بأخلاق وصفات وأعمال تقتضيها ، فما دامت هذه الشئون ثابتة لهم متمكنة منهم ، كانت تلك النعم ثابتة لهم ، واللّه لا ينتزعها منهم بغير ظلم منهم ولا جرم ، فإذا هم غيّروا ما بأنفسهم من تلك العقائد والأخلاق وما يلزم ذلك من محاسن الأعمال ، غيّر اللّه حالهم وسلب نعمتهم منهم فصار الغنى فقيرا والعزيز ذليلا والقوى ضعيفا.</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat di atas terdapat isyarat bahwa sesungguhnya kenikmatan Allah atas suatu umat atau individu baik permulaan ataupun langgengnya nikmat tersebut tergantung dengan akhlak, sifat dan perbuatan yang mereka lakukan, maka ketika sikap tersebut tetap mereka miliki dan meresap pada diri mereka, maka kenikmatan Allahpun akan tetap bersama mereka, Allah tidak akan mencabut kenikmatan mereka tanpa kedhaliman dan dosa yang mereka perbuat. Dan ketika mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka baik yang berupa aqidah maupun akhlak dan perbuatan-perbuatan baik yang selama ini ada pada diri mereka, maka Allahpun akan merubah keadaan mereka dan mencabut kenikmatanNya, maka yang kaya menjadi fakir, yang mulia menjadi hina dan yang kuat menjadi lemah.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">Ayat kedua yang berbicara tentang sunnatullah dalam perubahan ahwal manusia adalah Surat Ar Ra’d : 11.<strong style="text-align: justify;"></strong><strong>   </strong></p>
<p style="text-align: justify;">bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(QS. Ar Ra’d:11).</p>
<p style="text-align: justify;">Wahbah Zuhaily dalam tafsir al wasithnya berkata : “Allah tidak akan merubah kenikmatan, kesehatan, keselamatan yang dimiliki suatu kaum kecuali kaum tersebut merubahnya sendiri dengan perbuatan dholim, maksiyat, fasad dan melakukan hal-hal yang berdosa.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Dasar-dasar Perubahan</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Manusia menginginkan perubahan dalam pelbagai aspek kehidupan. Kerap kali mereka merasa jenuh dan bosan terhadap cara hidup yang tidak bervariasi. Mereka ingin hari ini lebih baik dari kemarin, dan yang akan datang jauh lebih baik dari sekarang. Itulah fitrah perubahan yang ada dalam diri setiap manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Olehnya itu, sejak dari awal Al-Qur’an meletakkan batasan-batasan perubahan guna memenuhi kebutuhan fitrah yang cinta perubahan.</p>
<p style="text-align: justify;">kedua ayat di atas telah menggarisbawahi dasar-dasar perubahan sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h4>Kelanggengan suatu nikmat lebih ditentukan oleh kesiapan manusia menjaga nikmat itu sendiri</h4>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ini telah ditegaskan oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha’ beliau berkata,“Kelanggengan nikmat Allah SWT terhadap suatu kaum lebih jauh ditentukan oleh akhlaq, aqidah, dan tingkah laku mereka sendiri, selagi dasar-dasar ini melekat dalam pribadi mereka, maka selama itu juga nikmat Allah SWT tetap kekal, dan mustahil Allah SWT mencabutnya dari mereka secara paksa tanpa ada dosa dan kezhaliman. Tetapi, di saat mereka merubah apa yang ada pada diri mereka dari aqidah, akhlaq dan perilaku baik, maka dengan sendirinya Allah SWT merubah apa yang ada pada diri mereka, nikmat pun dicabut, yang kaya menjadi miskin, yang mulia menjadi hina, dan yang kuat menjadi lemah, itulah dasar berkehidupan yang ada pada setiap kaum dan umat.”<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Contoh sederhana sebagai penjabaran dari penjelasan di atas dapat dilihat dalam dunia pendidikan. Tentunya, setiap pelajar punya potensi yang sama untuk lulus di ujian akhir tahun, dan setiap dari mereka menginginkan kelulusan. Akan tetapi, aturan kehidupan ini lebih jauh ditentukan oleh sikap pelajar itu sendiri. Selagi dia belajar dengan tekun, maka ia akan meraih kesuksesan dengan izin Allah SWT. Tentunya, yang gagal dari mereka telah mengabaikan aturan tersebut. Bukankah menginginkan kelulusan tanpa belajar dan kerja keras merupakan kesombongan dan pembangkangan tersendiri terhadap sunnatullah?</p>
<p style="text-align: justify;">Syekh Mutawalli Sya’rawi  berkata: “Kerusakan datang dari jiwa manusia itu sendiri tatkala mereka sesat dari metode kehidupan yang Allah tetapkan (manhajullah). Olehnya itu, kami  bertanya: “apakah manusia mengeluhkan cahaya? Tentu tidak, karena matahari tidak dapat digapai, demikian pula mereka tidak pernah mengeluhkan adanya krisis udara, tetapi mereka mengeluhkan krisis makanan karena sumber makanan datang dari perut bumi, maka di antara mereka ada yang malas bekerja, ada juga yang bekerja dengan kemalasan, dan ada pula dari mereka yang bekerja dan memetik jerih payahnya, tetapi tidak menafkahkan sebagiannya kepada orang lain. Contoh seperti ini salah satu sebab terjadinya kerusakan dan ketimpangan sosial di alam.”<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Di tempat lain perkataan ini dipertajam dan dipertegas dengan argumen baru, Beliau berkata: “Jika Anda melihat awal kehidupan manusia, Anda pasti tahu bahwa Allah SWT menciptakan Adam sebagai khalifah di muka bumi, dan menciptakan hawa demi kelangsungan generasi manusia, dan sebelum ia diturunkan ke bumi Allah membekalinya aturan hidup. Seandainya mereka mengikuti aturan hidup tersebut, maka pasti mereka menuai kebahagiaan, tetapi mereka telah berubah, dan mengingkari nikmat-nikmat itu, bahkan ingkar terhadap Sang Pemberi Nikmat. Apakah Allah SWT akan melanggengkan terhadap mereka rasa aman, keselamatan, dan pelbagai nikmat, sedangkan mereka telah melakukan perubahan ke arah negatif? Tentu tidak, dan justru Allah akan mengangkat nikmat tersebut dari mereka.”<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Objek perubahan ada pada diri sendiri</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Imam As Suyuthi dalam Ad Duurul Manshur menukil sebuah hadis dari Abi Syaibah dalam kitab Al Arsy :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>وعزتي وجلالي وارتفاعي فوق عرشي ، ما من أهل قرية ولا أهل بيت ولا رجل ببادية ، كانوا على ما كرهته من معصيتي ، ثم تحوّلوا عنها إلى ما أحببت من طاعتي ، إلا تحوّلت لهم عما يكرهون من عذابي إلى ما يحبون من رحمتي؛ وما من أهل بيت ولا قرية ولا رجل ببادية كانوا على ما أحببت من طاعتي ، ثم تحولوا عنها إلى ما كرهت من معصيتي ، إلا تحولت لهم عما يحبون من رحمتي إلى ما يكرهون من غضبي » .</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman : Demi kemuliaan dan kehormatan serta ketinggian-Ku di atas Arsy, tidaklah penduduk suatu kampung, penghuni suatu rumah, dan seorang lelaki di suatu  padang pasir yang berada dalam kondisi Kubenci karena bermaksiat kepada-Ku  kemudian mereka mengubah keadaan itu kepada keadaan yang Ku-cintai karena ketaatan kepada-Ku, melainkan pasti akan Kuubah keadaan mereka dari adzab-Ku  yang tidak mereka sukai kepada rahmat-Ku yang mereka sukai.  Dan tidaklah penghuni suatu rumah, kampung, dan seorang lelaki di padang pasir yang berada dalam keadaan yang Kucintai lantaran ketaatan mereka kepada-Ku lalu mereka berubah kepada keadaan yang Kubenci karena bermaksiat kepada-Ku, melainkan Aku ubah keadaan mereka dari mendapatkan rahmat-Ku yang mereka sukai kepada kemarahan-Ku   yang tidak mereka sukai.<a title="" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian jelaslah bahwa Allah SWT memberikan respon tentang perubahan yang dimulai dari perubahan dari apa yang ada dalam diri manusia itu sendiri, baik kondisi manusia secara individual, di suatu rumah, maupun di masyarakat.   Dan perubahan kondisi baik dan buruk itu terkait dengan ketatan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia kepada Allah SWT, baik secara individual maupun secara kolektif.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Perubahan merupakan hukum general yang meliputi seluruh ras, suku baik mukmin maupun kafir.</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Hal itu ditunjukkan dengan kata قَوْمٌ yang berbentuk nakirah (indefinitif). Kata ini termasuk kata mutlak dan ia tetap bermakna mutlak selama Syari’ tidak membatasinya dengan suatu sifat seperti iman dan selainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, maknanya tetap mencakup setiap kelompok, organisasi, masyarakat, atau negara, tanpa memandang agamanya. Ia juga mencakup setiap ruang danw aktu. Hal itu karena lafazh tersebut mencakup setiap masyarakat di masa lalu, masa kini dan masa depan, sebagaimana ia mencakup setiap negara di dunia.Jadi, Allah telah menetapkan berbagai sunnah dalam kehidupan dan meletakkan faktor penyebab dan undang-undang di alam semesta dan kehidupan insani. Sunnah, faktor penyebab dan undang-undang ini menimbulkan akibat-akibatnya dan mendatangkan buahnya berdasarkan pengaruh dari Allah Tabaraka wa Ta’ala.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah telah menganjurkan umat manusia ini untuk mencari faktor penyebab, undang-undang dan hukum, supaya mereka dapat mengikuti petunjuknya dan berbuat menurutnya, agar mereka memperoleh buahnya. Allah menundukkan faktor penyebab, undang-undang dan hukum itu untuk kebahagiaan manusia dan untuk melayaninya di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Bekerja adalah sarana untuk mencari rezki. Tidak ada yang bisa dilakukan manusia selain serius dan bersungguh-sungguh dalam mencari rezkinya dengan mengerahkan seluruh tenaga dan potensinya. Baik rezki itu bersifat materi atau immateri, atau kedua-duanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Petani membajak tanah dan menabur benih, kemudian ia menunggu rezki dari Rabb. Seandainya ada seseorang berdiam diri di rumahnya tanpa mengerahkan tenaga sedikit pun untuk bercocok tanam, lalu ia mengira bahwa rezkinya akan datang dari pertanian, padahal ia tidak membajak, tidak menabur benih dan tidak memupuk tanah, maak dia akan kecewa dan tertinggal dari bahtera kehidupan insani. Bahkan ia dianggap berdosa karena menolak melakukan sebab, sunnah dan undang-undang.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula para da‘i yang mencita-citakan perubahan itu harus mengerahkan segenap tenaga dan mencurahkan segenap potensi, ide, harta benda, jiwa dan hal-hal yang berharga untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka canangkan.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Perubahan adakalanya positif dan adakalanya negative.</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Karena perubahan itu berarti beralih dari satu kondisi ke kondisi lain dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dengan demikian, ada kalanya perubahan diri itu bersifat positif, yaitu perubahan dari jelek menjadi baik, atau dari baik menjadi lebih baik, sehingga hasilnya pun positif.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ada kalanya perubahan itu bersifat negatif, dimana manusia mengubah diri dari lebih baik menjadi baik, sehingga hasilnya adalah baik dan terkadang manusia mengubah diri dari baik menjadi jelek, sehingga kondisi mereka menjadi jelek.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah telah merubah keadaan kaum Yunus yang semula ditimpakan adzab, menjadi kaum yang dilimpahkan kesenangan karena mereka beriman, sebagaimana yang Ia firmankan :</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>فَلَوْلاَ كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلاَّ قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُواْ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الخِزْيِ فِي الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ<em> </em></strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu</em>.( QS Yunus:98)</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu ‘Asyur menerangkan bahwa ketika Allah menghendaki kebaikan pada suatu kaum, maka Allah akan mengutus seorang Rasul untuk memberikan hidayah kepada mereka. Jika mereka memperbaiki perbuatannya maka kenikmatan Allah akan diberikan kepada mereka sebagaimana yang telah terjadi pada kaumnya Nabi Yunus yaitu penduduk Nainawa.<a title="" href="#_ftn14">[14]</a></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<h3>Hukum-hukum perubahan</h3>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">DR. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris berkata, Siapapun yang membaca Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Saw. pasti memahami bahwa dakwah dan perjuangan untuk mengubah masyarakat dan sistem menjadi masyarakat dan sistem yang Islami merupakan kewajiban syar’i. Sebagaimana mengubah kemungkatan dan menegakkan ketaatan merupakan perintah Rabbani yang ditujukan kepada setiap muslim. Sebagaimana yang dijelaskan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Allah berfirman,</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104)</p>
<p style="text-align: justify;">Kata `ä3tFø9ur (dan hendaklah) adalah kata perintah, karena ia berbentuk fi’il mudhari’ yang didahului dengan lam amr (lam yang menunjukkan arti perintah). Kita tahu bahwa perintah itu menghasilkan hukum wajib selama tidak ada indikasi yang mengalihkan hukum wajib itu kepada hukum yang lain. Lagi pula, ada banyak nash dan indikasi yang menguatkan kewajiban ini.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Allah berfirman,</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">“Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS Al-Maidah [5]: 63)</p>
<p style="text-align: justify;">Kata الربنيونberarti agamawan Nasrani. Kataالاخبار adalah jamak dari kata حَبْرٌ yang berarti agamawan Yahudi. Dan maksud dari kalimat …. (Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu) adalah celaan dan kecaman Allah terhadap para agamawan Nasrani dan Yahudi lantaran tidak menjalankan tugas perubahan. Yang dicela dari mereka adalah keengganan mereka untuk menjalankan kewajiban tersebut. Hal itu karena celaan tidak diberikan lantaran perbuatan yang mubah, tetapi karena meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang diharamkan. Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan tugas mencegah kemungkaran itu sama seperti orang yang melakukan kemungkaran. Karena ayat ini mengandung kecaman terhadap para ulama terkait tindakan mereka meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar.”</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Allah berfirman melalui lisan Luqman AS,</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS Luqman [31]: 17)</p>
<p style="text-align: justify;">Kata وآمر adalah fi’il amr (kata kerja perintah). Menurut kaidah, kata perintah itu menunjukkan arti wajib selama tidak ada indikasi yang mengalihkannya kepada hukum sunnah atau mubah. Berbagai nash dan indikasi menegaskan kewajiban ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam Sunnah Nabawiyyah pun terdapat banyak hadits yang menunjukkan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar. Di antaranya adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Sa’id Al Khudri RA, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,</p>
<h2 style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ</strong></h2>
<p style="text-align: justify;">“Barangsiapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Kalau ia tidak mampu (dengan tangannya), maka dengan lisannya. Kalau ia tidak mampu (dengan lisannya), maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”<a title="" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kata مَنْ (barangsiapa) adalah bentuk kalimat umum, karena ia adalah isim maushul yang mencakup setiap mitra bicara yang sudah mukallaf, baik laki-laki atau perempuan. Dan bentuk kata فَلْيُغَيِّرْهُ (maka hendaklah ia mengubahnya) adalah fi’il mudhari’ yang didahului dengan lam amr. Jadi, kata ini berbentuk perintah dan menunjukkan hukum wajib.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud RA, bahwa Rasulullah Saw. bersabda,</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ</strong></h2>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align: justify;">“Tidak seorang Nabi pun yang diutus Allah di tengah suatu umat sebelumku melainkan ia memiliki para pengikut setia dan sahabat dari umatnya. Mereka mengikuti sunnahnya dan mematuhi perintahnya. Kemudian muncul sesudah mereka generasi penerus yang mengucapkan sesuatu yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka dia orang mukmin. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya, maka dia orang mukmin. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka dia orang mukmin. Sesudah itu tidak ada iman sebiji sawi pun.”<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini mewajibkan setiap mukallaf untuk memerangi orang-orang yang rusak itu untuk mengubah kondisi mereka dan memperbaiki keadaan mereka, supaya mereka berhenti berbuat rusak dan komitmen untuk berbuat baik.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Mengenai firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS Al-Maidah [5]: 105), sebagian umat Islam memahami bahwa ini adalah perintah agar seorang muslim berdiam diri saja di rumahnya, tidak berusaha melawan kezhaliman dan orang-orang zhalim. Kemudian khalifah Rasulullah Saw., yaitu Abu Bakar RA, mengoreksi pemahaman yang keliru ini. Imam Abu Daud dalam Sunan-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Qais, katanya: Setelah memuji dan menyanjung Allah, Abu Bakar berkata, “Wahai umat Islam! Sesungguhnya kalian membaca ayat ini dan menempatkannya tidak pada tempatnya: “Jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” Dalam riwayat dari Khalid, Abu Bakar berkata, “Dan sesungguhnya kami mendengar Nabi Saw. bersabda,</p>
<h2 style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ</strong></h2>
<p style="text-align: justify;">“Jika manusia melihat orang zhalim lalu mereka tidak menahannya, maka tak lama lagi Allah akan menjatuhkan hukuman yang meliputi mereka semua.”<a title="" href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Arti lafazh ِ<strong> فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ</strong> adalah mencegahnya dan menghalaunya dari berbuat zhalim. Hadits tersebut mengancam umat Islam dengan suatu hukuman jika mereka meninggalkan upaya perbaikan, enggan mencegah orang zhalim agar tidak berbuat zhalim. Ancaman yang demikian itu tidak diberikan kecuali karena meninggalkan kewajiban atau melakukan sesuatu yang diharamkan. Dan yang diancam dalam hadits ini adalah meninggalkan upaya perubahan. Jadi, hadits ini menunjukkan bahwa hukum upaya perubahan adalah wajib.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal itu ditegaskan dengan riwayat ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali kalian berdiri di samping seseorang orang yang dibunuh secara zhalim. Karena sesungguhnya laknat itu turun pada orang yang menyaksikannya tetapi tidak membelanya. Dan janganlah sekali-kali kamu berdiri di samping orang yang dipukul secara zhalim. Karena sesungguhnya laknat itu turun pada orang yang menyaksikanya tetapi tidak membelanya.”<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align: justify;" align="center">BAB III</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">KESIMPULAN</p>
<p style="text-align: justify;">Kenikmatan yang dilimpahkan Allah kepada manusia, bisa saja hilang dan berubah menjadi adzab apabila manusia berbuat durhaka dan maksiyat kepada Allah. Begitupun sebaliknya, keadaan yang buruk yang menimpa manusia akan berubah menjadi menyenangkan dan penuh nikmat apabila manusia berlaku takwa dan beramal sholeh.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan keadaan manusia dari positif ke negative ataupun sebaliknya tersebut sudah menjadi sunnatullah. Allah telah membuat aturan-aturan baku di ala mini, siapapun yang dapat menjalankan aturan-aturannya ini maka ia telah berhasil merengkuh sunnatullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada anggapan keliru dikalangan masyarakat, bahwa makna surat Ar Ra’d ayat 11 selalu diartikan Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka sendiri mau merubahnya, ini adalah tafsir yang keliru dan sesat, sebab yang dirubah oleh Allah dalam ayat itu adalah keadaan seseorang terkait dengan hokum sebab akibat.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan yang mesti dilakukan adalah perubahan secara individu yang dapat berdampak secara universal, karena perubahan secara bersama inilah yang dikehendaki oleh Allah terbukti dengan penggunaan kata kaum. Perubahan yang dilakukan secara bersama-sama ini akan membawa imbas yang lebih luas.</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">DAFTAR PUSTAKA</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmad warson munawwir, <em>Kamus Al-Munawwir</em>, Pustaka Progresif 1997</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Dawud, <em>Sunan Abi Dawud</em>, Hadits no.3775, Maktabah Syamilah versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu ‘Asyur, <em>At Tahriir Wat Tanwiir</em>, Juz 6, hal.174, Maktabah Syamilah versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Mandzur, <em>Lisaanul Arob</em>, Dar ash Shodir Beirut, 2004</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Jarir Ath Thobari, <em>Tafsir Ath Thobariy</em>, juz.14.hal.19, Mkatabah Syamilah Versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Muslim Bin Hajjaj, <em>Shahih Muslim</em>, Toha Putra, Semarang 1990</p>
<p style="text-align: justify;">Syekh Mutawalli as-Sya’rawi, <em>Tafsir as-Sya’rawi</em>, vol. 5</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad Rasyid Ridha’, <em>Tafsir al-Manâr</em>, Dâr al-Manâr, Cairo-Egypt, cet. 2, 1368</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Mas’ud Al-Baghowiy, <em>Mu’alimut Tanzil,</em> Dar At Thaibah Riyadh 1997</p>
<p style="text-align: justify;">Wahbah Zuhaily, <em>Tafsir Al Wasith</em>, Dar el Kitab Beirut, 1999,</p>
<p style="text-align: justify;">Mustafa Al-Maraghi, <em>Tafsir Al-Maraghi,</em> , Maktabah Syamilah versi 3</p>
<p style="text-align: justify;">http:// eramuslim.com</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al Munawwir, Pustaka Progresif Surabaya, cet.ke.14,1997, hal.1025</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ibnu Mandzur, Lisaanul Arob, Dar ash Shodir Beirut, Juz 5. Hal.34</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Ibid.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Ibnu “Asyur, At Tahriir Wa Tanwiir, juz 6 hal.175, Maktabah Syamilah Versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Ibnu Jarir Ath Thobari, Tafsir Ath Thobariy, juz.14.hal.19, Mkatabah Syamilah Versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Ibnu Mas’ud Al-Baghowiy, Mu’alimut Tanzil, Dar At Thaibah Riyadh 1997, Juz 3, hal.368.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Juz 10 hal.18, Maktabah Syamilah versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Wahbah Zuhaily, Tafsir Al Wasith, Dar el Kitab Beirut, 1999, juz 2. Hal.1152</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Muhammad Rasyid Ridha’, Tafsir al-Manâr, Dâr al-Manâr, Cairo-Egypt, cet. 2, 1368 h, vol. 10, hlm. 42</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Syekh Mutawalli as-Sya’rawi, Tafsir as-Sya’rawi, vol. 5, hlm. 2860</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Ibid, vol. 8, hlm. 4758</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> As Suyuthi, Ad Dur Al Mantsur, Maktabah Syamilah Vol.3, Juz 5 hal.484</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> http://www.eramuslim.com</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> Ibnu ‘Asyur, At Tahriir Wat Tanwiir, Juz 6, hal.174, Maktabah Syamilah versi 3</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a> Imam Muslim Bin Hajjaj, Shahih Muslim, Toha Putra, Semarang, hadist no.70</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> Imam Muslim Bin Hajjaj, Shahih Muslim, Toha Putra, Semarang, Hadits no.71</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a> Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Hadits no.3775, Maktabah Syamilah versi 3</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;"><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a> <a href="http://www.eramuslim.com/">http://www.eramuslim.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/al-quran/melakukan-perubahan-adalah-wajib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sudahkah kita berbakti kepada orang tua kita</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/hikmah/sudahkah-kita-berbakti-kepada-orang-tua-kita/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/hikmah/sudahkah-kita-berbakti-kepada-orang-tua-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 13:57:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nanank Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[berbakti kepada orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[Hadit's berbakti kepada kedua orang tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=39080</guid>
		<description><![CDATA[بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا Artinya...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: right">بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</h2>
<h2 style="text-align: right">وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا</h2>
<p>Artinya :</p>
<p>Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan &#8220;ah&#8221; dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.</p>
<p>Surat Al Isra&#8217; (17) No. Ayat (23).</p>
<p><a href="http://tanbihun.com/tasawwuf/hikmah/sudahkah-kita-berbakti-kepada-orang-tua-kita/attachment/ayahanak/" rel="attachment wp-att-39685"><img class="alignleft  wp-image-39685" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/AyahAnak.jpg" alt="" width="300" height="237" /></a>Sore itu tak ada hujan tak ada angin tiba tiba petir menyambar nyambar itulah lukisan hatinya yang begitu pilu</p>
<p>sore itu seorang yang dia sayangi telah pergi meninggalkan dia tuk selamanya</p>
<p>seorang bapak yang telah merawatnya berkorban apapun untuknya dan untuk anak anak tercintanya kini meninggalkan dunia ini&#8230;</p>
<p>tanpa meninggalkan pesan atau pun wejangan untuk anak anak nya yang iya kasihi&#8230;</p>
<p>sore itu menjelang magrib saya mendapat pesan singkat dari ibuku &#8221; Inna lillahi wa inna lillahi roji&#8217;un nang pak dirjo ninggal dunia &#8221;</p>
<p>jawabku Inna lillahi wa inna lillahi roji&#8217;un oh iya saya segera pulang&#8230;</p>
<p>setelah sampai dirumah dan melaksanakan shalat magrib saya pun bergegas ke tempat pak dirjo yang telah meninggal dunia..</p>
<p>dan saya pun melihat pemandaqngan yang sangat haru penuh dengan kesedihan</p>
<p>ada yang tenang ada yang menangis meratap ratap ada pula yang terdiam membisu terlihat sekali suasana haru&#8230;</p>
<p>hati ku pun bertanya tanya oh kenapa sebagian anak anak nya samapai begitu sedih nya sampai menangis meratap ratap..</p>
<p>dan saya pun mengingat ingat seperti apa perlakuan anak anak nya sa&#8217;at pak dirjo masih hidup&#8230;</p>
<p>Anak yang tenang dan hanya sedikit memperlihatkan kesedihan ternyata dialah anak yang selalu mengurusi sa&#8217;at bapaknya masih hidup sa&#8217;at bapaknya sakit di rela meninggalkan pekerja&#8217;anya hanya untuk menunggui dan mengurusi segala sesuatu yang di perlukan bapaknya sa&#8217;at sakit dan sampai di panggil oleh yang maha kuasa, mungkin saja dialah anak yang sangat berbakti sehingga hanya sedikit kesedihan yang tampak di raut wajahnya..</p>
<p>beda dengan anak yang cuek dan malas malasan mengurusi orang tuanya sa&#8217;at sakit terlihat sekali kesedihan di raut wajahnya dengan tangisan yang meratap ratap dan tiada henti karna sangat merasa berdosa karna tak mampu meluangkan waktu untuk mengurusi orang tuanya seolah dunianya begitu sibuk dan tak bisa di tinggal kan barang semenit pun..</p>
<p>tapi apa mau di kata sekarang pak dirjo takan kembali lagi kehadapan keluarganya dia telah meninggal kan dunia tuk selamanya&#8230;</p>
<p>dan beruntung sekali anak anaknya yang semasa hidup orang tuanya ia mampu dan mau berbakti dengan sepenuh hati..</p>
<p>maka dari itu mari kita benahi diri merelakan waktu dan meng ikhlaskan hati serta perilaku kita untuk berbakti kepada kedua orang tua kita selagiu masih ada kesempatan&#8230;</p>
<p>dan sebagai penutup saya nukil kan beberapa terjemahan hadit&#8217;s</p>
<div>Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash berkata : Datang seseorang kepada Nabi</div>
<div>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</div>
<div></div>
<div>kemudian dia meminta ijin kepada beliau untukberjihad. Maka beliau bersabda : “Apakah kedua orang tuamu masih ada?” Orang itu berkata : “Ya!” Beliau bersabda :</div>
<div>“</div>
<div>Maka kepada keduanya, berjihadlah engkau.”</div>
<div></div>
<div>(HR. Bukhari dan Muslim)</div>
<div></div>
<div>Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radliyallahu &#8216;anhuma bahwa RasulullahShallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda :</div>
<div>“Ridla Allah terletak pada ridlaorang tua. Dan kemarahan Allah terletak pada kemarahan orang tua.”</div>
<div></div>
<div>(HR.Tirmidzi)</div>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/hikmah/sudahkah-kita-berbakti-kepada-orang-tua-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kendaraan Anda Berpeluang Menjadi Salah satu Dari 3 Hal</title>
		<link>http://tanbihun.com/kajian/hadits/kendaraan-anda-berpeluang-menjadi-salah-satu-dari-3-hal/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/kajian/hadits/kendaraan-anda-berpeluang-menjadi-salah-satu-dari-3-hal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 23:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[kuda adalah kendaraan terbaik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=39512</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun- “Kuda itu, bagi seorang lelaki, bisa menjadi sitrun (penyembunyi), bisa juga ajrun (pahala), dan bisa juga wizrun (dosa). “ demikian jawab Nabi kepada seorang yang bertanya tentang kuda yang...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/perang-uhud.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-39513" title="Memilih kuda terbaik" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/perang-uhud-300x198.jpg" alt="Rahasia Kuda" width="300" height="198" /></a>Tanbihun</strong>- <em>“Kuda itu, bagi seorang lelaki, bisa menjadi sitrun (penyembunyi), bisa juga ajrun (pahala), dan bisa juga wizrun (dosa). “</em> demikian jawab Nabi kepada seorang yang bertanya tentang kuda yang ditambatnya di muka pintu rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jawaban Nabi yang ringkas dan sarat makna ini memang menarik. Dalam kalimat yang begitu sederhana ini paling tidak ada empat hal yang bisa kita kaji, yaitu kuda, lelaki, penutup, pahala dan dosa. Di sini saya akan coba membahasnya walaupun mungkin tidak secara begitu mendalam dan sistematis layaknya sebuah esai.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan menariknya, <strong><em>kenapa yang ditanyakan kuda?</em></strong> Apa hubungannya dengan lelaki? Apakah dia istimewa dibandingkan hewan peliharaan lainya? The answer is “yes”. Kuda memang beda dan istemewa jika dibandingkan hewan peliharaan lainnya, seperti onta, lembu, domba, apalagi keledai. Kuda, dalam budaya arab, bahkan dalam budaya masyarakat dahulu secara umum adalah hewan kebanggaan, simbol keperkasaan, pakaian seorang kesatria dan merupakan sebuah indikator status sosial seseorang. Dihubungkan dengan lelaki karena lelakilah yang biasa menunggang kuda. Dan antara kepemilkian kuda, kemampuan menunggang dan nama baik sebuah keluarga/suku, ada hubungan yang erat. Nilai yang tidak dimiliki jika disandangkan kepada perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika ditanya tentang kuda ternyata Nabi tidak menjawab bahwa kuda itu adalah lambang keperkasaan dan status sosial seseorang. Nabi paham bahwa pandangan orang-orang saat itu adalah apabila seseorang memiliki kuda maka dia termasuk orang yang berada. Atau setidaknya ada jiwa kesatria bagi pemiliknya, karena memang tidak sembarang orang bisa memiliki kuda. Tapi lihatlah jawaban super bijak dari Nabi di atas tadi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kapan ia menjadi sitr(penutup/penyembunyi)?</strong> Jika ia menambatkannya dengan niat agar tidak disangka sebagai orang miskin, jawab Nabi. Dengan menambatkan kuda di muka pintunya, otomatis orang akan menyangkanya sebagai orang yang “punya”. Nabi memuji dan mengagumi orang seperti ini. Bahkan di dalam Alquran disebutkan bahwa ada sebagian sahabat yang disangka sebagai orang yang kaya lantran sifat iffah (menyembunyikan kesusahan) yang menghiasi pribadi mereka. Walaupun mereka kurang mampu, tapi itu tidak ditunjukkanya dengan penampilan keseharian mereka, apa lagi sampai mengemis, meminta-minta kepada orang lain. Di pagi hari mereka keluar dari rumah dengan muka berseri-seri, walaupun tidak punya apa-apa, dan kembali ke rumah mereka dengan hasil. Mereka bekerja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kuda menjadi ajr, idza robatoha fi sabilillah ay a’addaha liljihad</strong>. Kuda yang ditambat sebagai persiapan perang dalam membela dan menyebarkan Islam, itulah kuda yang menjadi sumber pahala bagi empunya. Lebih dahsyat dari itu, dijelaskan bahwa setiap satu rumput yang dimakan kuda itu akan menambah <em>deposito pahala</em> bagi pemiliknya yang telah menjadikan kudanya bagian dari kontribusinya untuk Islam. Itu baru rumput yang dimakan oleh kuda. Bernilai pahala. Padahal ia belum melakukan apa-apa dengan kudanya. Bagaimana setiap langkah yang diayunkan oleh kuda itu? Bagaimana kalau dengan perantara kuda itu kemenangan diperoleh? Bayangkan betapa banyak pahala Allah. Bayangkan betapa Allah sayang dengan kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Terakhir, ternyata kuda juga bisa menjadi sebab bertambahnya dosa seseorang</strong>. Yaitu kuda yang ditambatkan karena ingin berbangga-bangga, riya dan menyebabkan permusuhan bagi orang muslim lain. Artinya, dengan ia menambatkan kudanya, ia ingin menghasud muslim lain, seolah-olah ingin berkata hanya dia saja yang mampu. Inilah yang dimaksud dengan menyebabkan permusuhan. Kalau dengan orang luar Islam? Jawabnya boleh saja. Seseorang harus menampakkan bahwa dengan Islam dia bisa sejahtera, perkasa dan berwibawa.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Kuda sebagai kendaraan, lambang keperkasaan dan simbol status sosial, demikianlah yang diakui dan seakan menjadi kesepakatan masyarakat dahulu. Bahkan hingga zaman sekarang. Tidak banyak orang yang memiliki kuda, pun mengendarainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di zaman sekarang, kuda sudah berubah bentuknya menjadi kendaraan-kendaraan bermesin. Apakah itu motor, mobil, rumah, laptop, mobile phone atau properti lainnya yang berpeluang memilki tiga sisi tadi. Yaitu: <strong>1- Untuk menyembunyikan kemiskinan</strong>, sehingga tidak memancing iba orang lain dan bisa bekerja dengan leluasa. <strong>2- Sebagai sumber pahala</strong>, jika digunakan untuk ketaatan, mencari rezki yang halal atau diinfakkan untuk program-program yang bertujuan bagi pengembangan Islam. <strong>3- Dosa,</strong> jika untuk riya’, berbangga-bangga, mencari muka, meningkatkan status sosial, dan maksud-maksud yang hanya bersifat kepentingan pribadi dan menciptakan sekat-sekat dalam masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, cermatlah dengan kendaraan/alat anda. Jangan sampai ia menjadi sumber dosa bagi anda sendiri. Wallahu ‘alam.(Reno Ismanto)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/kajian/hadits/kendaraan-anda-berpeluang-menjadi-salah-satu-dari-3-hal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kewajiban Mencari Ilmu Ushuluddin, Fiqih dan Tasawuf</title>
		<link>http://tanbihun.com/fikih/kewajiban-mencari-ilmu-ushuluddin-fiqih-dan-tasawuf/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/fikih/kewajiban-mencari-ilmu-ushuluddin-fiqih-dan-tasawuf/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 23:34:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=39175</guid>
		<description><![CDATA[MASALAH KE DUAPULUH DELAPAN KEWAJIBAN MENCARI ILMU USHUL, FIQIH &#38; TASAWUF TANBIHUN! Hendaknya janganlah berhenti hanya berbicara tentang hukum orang menyembelih halal dan haram, tetapi wajib segera diketahui masalah-masalah lahir...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;" align="center"><strong>MASALAH KE DUAPULUH DELAPAN</strong><br />
<strong> KEWAJIBAN MENCARI ILMU USHUL, FIQIH &amp; TASAWUF</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TANBIHUN!</strong> Hendaknya janganlah berhenti hanya berbicara tentang hukum orang menyembelih halal dan haram, tetapi wajib segera diketahui masalah-masalah lahir bathin, halal dan haram hukum syariat, ilmu Ushuluddin, Fiqih dan Tasawuf yang sudah ada dalam ilmu syara’ yang tertulis dalam Nadhoman tarjamah .”</p>
<p style="text-align: justify;">Wajib ‘ain atas setiap orang mukalaf menghias dhahir dan bathin dirinya dengan ilmu agama seperti kata ulama dalam bait syair:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">فزين الظاهر والبواطن . بكل علم ظاهر وباطن.</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>“Maka hiasilah dirimu pada prilaku lahir dan perilaku bathin dengan tiap ilmu dhahir dan ilmu bathin.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<h3 style="text-align: justify;">Kitab-Kitab Ushuluddin, Fiqih dan Tasawuf</h3>
<p style="text-align: justify;">Ilmu dhahir ialah ilmu Fiqih, yaitu ilmu untuk mengetahui hukum dalam sahnya ibadah (dan mualamah). Ilmu fiqih digunakan untuk menghiasi  badan lahiriyah. Dan ilmu bathin, Ushuliddin bicara sah iman dan I’tiqad (Ahlis Sunnah). Dan ilmu Tasawuf bicara thariqat (jalan) kepada Allah dengan ikhlas. Ketiga ilmu tersebut wajib di tuntut dan diamalkan segera. Hendaknya luaskanlah  pengetahuan syariat ilmu tiga perkara. Lihat lah dalam kitab nadzam <em><strong>Husnul Mithalab</strong> (Husnul Mathalib)</em> 12 koras (240 halaman) atau <strong>Ri’ayatal Himmah</strong> 25 koras (500 hala-man), nadzam <em><strong>Asnal Miqashad</strong> (Asnal Maqashid)</em> 30 koras (600 halaman) dan <strong><em>Abyanal Hawaij</em></strong> 82 koras (1640 halaman) dan apabila akan melihat dalam bab Nikah, maka lihatlah dalam nadzam <strong><em>Tabjinal Islah</em></strong> II koras (220 halaman), terdiri dari dua Bab dan 20 Pashal. Kalau akan mengetahui dalam muamalah Bai’ dan lainnya yang relevan, lihatlah dalam nadzam <strong><em>Tasyrihatal Muhtaj</em></strong> 10 koras (200 halaman) 26 Fashal. Setelah itu jika ingin mengetahui ilmu sya-riat Tajwidal Qur’an, maka lihatlah nadzam <strong><em>Tahsinah</em></strong>, 5 koras (100 halaman) dan 10 Fashal.”</p>
<p>Oleh: <strong>KH. Ahmad Syadzirin Amin</strong></p>
<p>Sumber: <strong>Kitab Tadzkiyah, Syaikh Ahmad Rifa’i</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/fikih/kewajiban-mencari-ilmu-ushuluddin-fiqih-dan-tasawuf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Kita Malas Dalam Ibadah</title>
		<link>http://tanbihun.com/sosbud/opini/saat-kita-malas-dalam-ibadah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/sosbud/opini/saat-kita-malas-dalam-ibadah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 10:14:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Faried</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu yang bermanfaat]]></category>
		<category><![CDATA[supaya tidak malas ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=38977</guid>
		<description><![CDATA[Tanbihun - Secara teori keilmuan, banyak sekali yang mengupas tentang tips dan kiat-kiat  bagaimana supaya kita bisa tekun dan husu’ dalam beribadah.  Kita tidak jarang mendapati sebuah pertanyaan seperti ini...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tanbihun.com/sosbud/opini/saat-kita-malas-dalam-ibadah/attachment/kitab-4/" rel="attachment wp-att-38978"><img class="alignleft size-medium wp-image-38978" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2012/01/kitab-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><em><strong>Tanbihun -</strong></em> Secara teori keilmuan, banyak sekali yang mengupas tentang tips dan kiat-kiat  bagaimana supaya kita bisa tekun dan husu’ dalam beribadah.  Kita tidak jarang mendapati sebuah pertanyaan seperti ini baik dari diri sendiri ataupun dari orang lain, <em>“bagaimana sih caranya agar sholat kita bisa husu’? bagaimana sih caranya supaya kita bisa ihlas dalam beramal?&#8221;</em> Dan lain sebagainya.</p>
<p>Tidak sulit kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, tinggal buka kitab atau buku semua jawaban ada disitu. Atau yang lebih gampang  lagi tinggal search di internet.</p>
<p>Sekarang, ketika sudah mendapati  jawaban, seperti apa reaksi kita? <em>“oohh… seperti itu ya tipsnya? Kapan-kapan bisa saya praktekin”.  “hemm… banyak banget tipsnya sampai capek bacanya”. “semua tipsnya kok susah-susah ya..?”.</em></p>
<p>Mungkin disinilah peran dari <em>‘Ilmu an-nafi’</em>.  Yang benar-benar memberi  manfaat  bagi yang memilikinya. Karena tak jarang dari kita, ilmu hanya sebagai wacana dan bahan untuk diskusi semata. Hingga tak jarang kita tidak merasakan manisnya ilmu pengetahuan yang kita jadikan pegangan dalam kehidupan.</p>
<p>Ada kisah ringan yang menggerakkan hati saya, ada seorang pemuda bisa dibilang ia pandai ilmu agama. Namun satu kekurangannya yang paling mencolok dimata ibunya, ia sering mengahirkan shalat isya’ dan jarang membaca Qur’an . sang ibu tidak pernah lelah mengingatkannya untuk meninggalkan kebiasaan buruk itu, dengan enteng sang anak menjawab “iya bu&#8217;.. Insya Allah mulai besok saya tidak akan mengahirkan shalat isya&#8217; dan akan rajin baca Qur’an. Kejadian seperti itu terus berlangsung hampir satu tahun lamanya.</p>
<p>Hingga pada suatu hari sang ibu melihat kondisi kamarnya yang biasa pemuda tadi melakukan ibadah, “nak, coba diperluas lagi tempat ibadahmu biar lebih nyaman tidak sempit seperti itu”. Pemuda tadi pun menuruti perintah ibunya.</p>
<p>Subhanallah, ahirnya pemuda tadi bisa meninggalkan kebiasan buruknya dan kembali rajin baca Qur’an.</p>
<p><em><strong>Ada hikmah apa dibalik kisah ini?</strong></em></p>
<p>Bila kita kembalikan ke pertanyaan diatas, ternyata teori keilmuan yang dimiliki pemuda tadi belum bisa mengantarkan pada apa yang seharusnya seorang ahlul ‘ilmi lakukan, bukannya pemuda tadi tidak mahu berubah dari kebiasaan buruknya, hanya saja ia belum mampu. Dan ternyata salah satu kendala yang membuatnya seperti itu adalah kehilafannya tidak pernah memperhatikan sarana ibadah yang bisa membuatnya lebih tenang dan nyaman.</p>
<p>Tentu saja masing-masing pribadi mempunyai  kendala tersendiri, hanya Allah lah yang bisa memperlihatkan jalan keluar kepada kita dari kemalasan ibadah.</p>
<p>Maka dari itu, selayaknya kita mampu menciptakan suasana kenyamanan baik kenyamanan hati ataupun <em>“makanul ibadah”</em> sebelum kita menghadap Rabbul ‘izzah. Yang Insya Allah, kita benar-merasakan bahwa kita sedang shalat, merasakan nikmatnya niat, merasakan kedua tangan yang biasanya berlumur dosa kita gunakan untuk mengagungkan Tuhan dalam takbiratul ihram, menghadirkan keagungan ummul kitab (surah alfatihah) yang semakin menambah rasa kehambaan dan rasa butuh kita pada Tuhan, merasakan tuma’ninah, ruku’, sujud dan lan sebagainya.</p>
<p>Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan hasil dan pengaruh dari ilmu yang bermanfaat, yaitu menumbuhkan dalam hati orang yang memilikinya rasa tenang, takut dan ketundukan yang sempurna kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala.</em> Ini berarti bahwa ilmu yang cuma pandai diucapkan dan dihafalkan oleh lidah, tapi tidak menyentuh –apalagi masuk– ke dalam hati manusia, maka ini sama sekali bukanlah ilmu yang bermanfaat, dan ilmu seperti ini justru akan menjadi bencana bagi orang yang memilikinya, bahkan  menjadikan pemiliknya terkena ancaman besar –semoga Allah<em> </em><em>Subhanahu wa Ta’ala</em> melindungi kita semua– termasuk ke dalam tiga golongan manusia yang pertama kali menjadi bahan bakar api neraka.</p>
<p>Sebagai penutup, ada dua pertanyaan yang harus kita jawab dan kita segera perbaiki</p>
<p>Kapan terahir kali kita benar-benar merasakan kenikmatan ibadah?</p>
<p>Kapan terahir kali kita benar-benar menikmati bacaan Qur’an dengan tidak ada perasaan gerah?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/sosbud/opini/saat-kita-malas-dalam-ibadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Do&#8217;a Iblis Yang Dikabulkan</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawwuf/inilah-doa-iblis-yang-dikabulkan/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawwuf/inilah-doa-iblis-yang-dikabulkan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 05:36:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tasawwuf]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=38909</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: H. Khaeruddin Khasbullah Allah berfirman dalam Al- Qur’an: “ Mintalah kalian pada Ku, niscaya Aku kabulkan” Ini merupakan janji Allah yang akan diberikan kepada siapa saja dalam urusan dunia...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;" align="center">Oleh<em>: <strong>H. Khaeruddin Khasbullah</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Allah berfirman dalam Al- Qur’an: “ Mintalah kalian pada Ku, niscaya Aku kabulkan”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ini merupakan janji Allah yang akan diberikan kepada siapa saja dalam urusan dunia , bahkan kepada Iblis sekalipun. Sedang tentang urusan akherat hanya akan diberikan kepada orang- orang yang dikasihi Nya, yakni para mukminin- mukminat.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa demikian, karena bagi Allah, segala kekayaan materi dan segala kemewahan dunia adalah sesuatu yang tidak ada nilainya disisi Allah, bahkan jika dibanding dengan sayap seekor nyamuk sekalipun. Sebagaimana pernyataan sebuah hadist:</p>
<h2 style="text-align: right;" dir="RTL">عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>Dari Sahl bin Sa’d as-Saa’idiy rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata : “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam  bersabda, ‘Seandainya dunia itu bernilai di sisi Alloh seberat sayap nyamuk tentu Dia tidak akan sudi memberi minum pada orang kafir walau hanya seteguk air.’” ( HR. Tirmidzi, dia berkata : “Hadits Hasan Shohih” . Adapun Syaikh Al Albani rohimahulloh menilainya Shohieh lighoirihi dalam Shohiehut Targhieb wat Tarhieb no. 3240 )</em><em></em></p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah tatkala Iblis memohon- mohon untuk diberikan kesempatan umur panjang agar dapat selalu menggoda manusia, do’a ini dikabulkan Allah, sehingga Iblis beserta zuriyatnya tak akan mati sampai hari kiamat, sesuai firman Allah ketika menceriterakan permintaan Iblis:</p>
<h2 style="text-align: center;" align="center">ﻗﺎﻞ ﺮﺐ ﻔﺄﻨﻈﺮﻨﻲ ﺇﻟﻰ ﻴﻭﻡ ﻴﺑﻌﺛﻮﻦ</h2>
<p style="text-align: justify;" align="center"><em>“Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan”.</em> (Al- Hijr 36/ Shod 79).</p>
<p style="text-align: justify;">Allah pun mengabulkan permintaan Iblis tersebut dengan firman Nya:</p>
<h2 style="text-align: center;" align="center">ﻗﺎﻞ ﻔﺈﻨﻚ ﻤﻦ ﺍﻟﻤﻨﻈﺮﻴﻦ &#8211; ﺇﻟﻰ ﻴﻮﻡ ﺍﻟﻮﻗﺕ ﺍﻟﻤﻌﻟﻮﻡ</h2>
<p style="text-align: justify;" align="center"><em>“Sesungguhnya kamu termasuk golongan yang ditangguhkan (ajalnya). Sampai waktu yang telah dimaklumi (yakni hari kiamat)”.</em> Al- Hijr  37- 38.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan segala fasilitas yang dimiliki Iblis dalam hal kemampuan fisik, tidak dicabut oleh Allah, sebagaimana kemampuan terbang diawang- awang, kemampuan menempuh jarak yang jauh bahkan sanggup mengitari bumi dalam sekejap, atapun kemampuan masuk kedalam alam pikiran seseorang, kedalam relung jiwa bahkan masuk dalam peredaran darah, semuanya tetap ada pada Iblis.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga permintaan para musuh Allah dan para orang- orang kafir teman- teman Iblis lainnya tentang urusan duniawi, semua ini dikabulkan Allah bukan sebagai tanda kasih sayang Nya, namun sebagai <strong>ISTIDROJ (penglulu.jw).</strong> Artinya Allah memenuhi keinginan mereka disertai kemarahan dan laknat. Kita bisa melihat banyak orang kafir didunia ini sebagaimana Qorun, Fir’aun, Namruz, dan masih banyak lagi contoh lainnya baik di era pra sejarah maupun di era modern ini, bahkan oleh Allah kepada mereka telah dibukakan pintu- pintu rezki, kemewahan materi sebagai bentuk ISTIDROJ dan LAKNAT kepada mereka, sebagaimana firman Allah:</p>
<h2 style="text-align: right;" align="center"> فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ</h2>
<p style="text-align: justify;" align="center"><em>“Kemudian apabila mereka melupakan apa yang telah diperingatkan mereka dengannya, Kami bukakan kepada mereka pintu-pintu segala kemewahan dan kesenangan, sehingga apabila mereka bergembira dan bersukaria dengan segala nikmat yang diberikan kepada mereka, Kami timpakan mereka secara mengejutkan (dengan bala bencana yang membinasakan), maka mereka pun berputus asa (dari mendapat suatu pertolongan”). </em><strong><em>( Ayat 44 : Surah al-An’aam )</em></strong></p>
<h2 style="text-align: right;"> وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّىٰ عَفَوْا وَقَالُوا قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ فَأَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ</h2>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan Kami tidak mengutus dalam sesebuah negeri seorang nabi (yang didustakan oleh penduduknya), melainkan Kami timpakan mereka dengan kesusahan (kesempitan hidup) dan penderitaan (penyakit), supaya mereka tunduk merendah diri (insaf). Setelah (mereka tidak juga insaf) Kami gantikan kesusahan itu dengan kesenangan hingga mereka berkembang biak (serta bersuka cita)  dan berkata (dengan angkuhnya): “Sesungguhnya nenek moyang kita juga pernah merasai kesusahan dan kesenangan (sebagaimana yang kita rasakan)”.  Lalu Kami timpakan mereka (dengan azab seksa) secara mengejutkan , dan mereka tidak menyadarinya”. </em><strong><em>( Ayat 94 &amp; 95 : Surah al-A’raaf )</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Maka, datangnya karunia Allah berupa kekayaan materi jangan sampai menjadikan kita GR, atau menganggap bahwa kita sedang dicintai Allah. Bahkan banyak para kekasih Allah yang justru bergetar takut serta memohon ampun kepada Allah tatkala tiba- tiba karunia nikmat berdatangan kepada dirinya, mereka takut, seandainya nikmat karunia yang datang itu tidak disertai rahmat, tetapi bersamaaN dengan datangnya laknat Allah, Na’uudzu Billaahi Min Dzaalik. Sebagaimana pesan <strong>Ibnu Atho’illah As- Sukandari dalam Kitab Al- Hikam</strong>:</p>
<p style="text-align: justify;" align="center">
<p style="text-align: justify;" align="center"><em>Takutlah kamu terhadap karunia Allah yang terus menerus kamu peroleh, sedangkan saat itu kamu sedang melanggar perintah- Nya. Jangan sampai karunia itu datang semata- mata ISTIDROJ  bagimu, (Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al- A’rof 182):</em></p>
<p style="text-align: justify;" align="center"><em> “KAMI AKAN BINASAKAN MEREKA PERLAHAN-LAHAN DENGAN JALAN YANG MEREKA TIDAK SADARI”..</em></p>
<p style="text-align: justify;" align="center"><strong><em>INGAT: JARANG YANG MATI GARA- GARA SESUATU YANG PAHIT, NAMUN BETAPA BANYAK YANG JUSTRU TEWAS  KARENA RASA MANISNYA GULA!!!</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawwuf/inilah-doa-iblis-yang-dikabulkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

