<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Media Dakwah Rifaiyah</title>
	<atom:link href="http://tanbihun.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanbihun.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 06:24:08 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>3 Pertanyaan Untuk Rifaiyah?</title>
		<link>http://tanbihun.com/rifaiyah/3-pertanyaan-untuk-rifaiyah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/rifaiyah/3-pertanyaan-untuk-rifaiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 06:23:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>em.yazid</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[rifaiyah]]></category>

		<category><![CDATA[generasi muda rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2940</guid>
		<description><![CDATA[Setelah satu tahun lebih tabihun.com online banyak suka duka yang kami alami, dengan keterbatasan SDM dan dana kami berusaha selalu menghidupkan nafas kerifaiyah di media ini. Tidak sedikit approve yang kami terima, juga tidak sedikit cibiran yang dialamatkan kepada kami, namun bukan itu yang akan coba kami sajikan kepada para pembaca.
Seiring bergulirnya sang waktu, banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2941" title="tanda-tanya" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/03/tanda-tanya.jpg" alt="tanda-tanya" width="205" height="205" />Setelah satu tahun lebih tabihun.com online banyak suka duka yang kami alami, dengan keterbatasan SDM dan dana kami berusaha selalu menghidupkan nafas kerifaiyah di media ini. Tidak sedikit approve yang kami terima, juga tidak sedikit cibiran yang dialamatkan kepada kami, namun bukan itu yang akan coba kami sajikan kepada para pembaca.</p>
<p>Seiring bergulirnya sang waktu, banyak sudah ide,usulan yang singgah ke redaksi media dakwah rifaiyah, ide-ide cemerlang itu muncul bak air bah pasca digelarnya MUKERNAS RIFAIYAH di Temanggung setahun yang lalu. Kami tertegun,takjub, demi mendengar &amp; membaca berbagai macam usulan tersebut, disana kami menemukan semangat yang menyala-nyala, nafas harakah berkobar penuh kobaran api yang menyuarakan perubahan. Diantara ide-ide itu ;</p>
<ul class="unIndentedList">
<li> Dibentuknya lembaga khusus percetakan yang menerbitkan kitab-kitab rifaiyah dengan harga relatif lebih murah dibandingkan yang sudah beredar</li>
<li> Dibentuknya Ikatan Cendekiawan Rifaiyah, yang didalamnya berisi para cendekiawan rifaiyah yang nantinya tentu didominasi oleh para sarjana dan intelektual muda</li>
</ul>
<p>Dan masih banyak lagi yang lainnya, namun inti dari semua ide tersebut bermuara pada satu titik, yaitu perubahan, kalimat perubahan oleh sebagian orang sering dimaknai dengan suatu tindakan extrem yang menghendaki dilucutinya sistem/program lama dengan yang baru.</p>
<p>Bagi kami semua itu penting, tapi yang terpenting adalah kesiapan, seperti sudah menjadi penyakit menahun yang akut, kita sering terjebak pada satu kondisi atau kebiasaan, dimana dalam kondisi semangat yang menyala-nyala kita secara aklamasi mencetuskan satu ide, tanpa diimbangi dengan persiapan,tanpa dilakukan uji kesiapan,kita tidak begitu melihat kedalam, tapi lebih sering melihat keluar, ibarat kata &#8221; Ormas lain punya ini, rifaiyah juga harus punya &#8221; tanpa pernah berpikir lebih dalam, paling tidak 3 pertanyaan ini bisa dijadikan langkah awal :</p>
<p>1.       sudah butuhkah rifaiyah ?</p>
<p>2.       sudah mampukah Rifaiyah?</p>
<p>3.       Sudah Siapkah Rifaiyah? &#8221;</p>
<p>Kemungkinan besar pertanyaan nomor satu jawabannya &#8220;YA&#8221;, tinggal 2 pertanyaan berikutnya, kalau dilihat dari usulan/ide diatas point pertama kebutuhan dan kemampuan rifaiyah sudah nyaris terpenuhi, semua kejumudan program-program rifaiyah kandas, terkapar pada pertanyaan nomor 3.</p>
<p>Terlepas dari alasan lain yang mungkin ada, kami punya pemikiran, salah satu ruh dari sebuah pergerakan atau pun nyawa dari sebuah program adalah &#8220;KESIAPAN&#8221;,siap secara mental, pendanaan, dan waktu, karena kita sering mendapati diri kita bergerak maju dengan langkah gagah memulai suatu program, tapi ketika kita dihadapkan pada waktu yang sudah mulai tersita oleh aktifitas pribadi atau keluarga, ketika fulus mulai bercabang yang membutuhkan kucurannya, kita pun mulai kacau balau, secara teratur mundur pelan-pelan,bahkan yang lebih tragis kita mendadak lemah &#8220;jantung&#8221; dan nafas pergerakan itu terhenti tiba-tiba pada kondisi yang tidak pas atau belum saatnya.</p>
<p>Untuk itu sebelum atau sambil menentukan langkah konkrit yang lebih besar marilah kita bersama-sama belajar menuangkan ide,pemikiran atau apapun namanya itu di media ini, anggaplah di media ini kita adakan test untuk diri kita masing-masing ;</p>
<ul class="unIndentedList">
<li> Seberapa besar ghirah/semangat kita untuk kemajuan rifaiyah?</li>
<li> Sekuat apa mental kita menghadapi kendala?</li>
<li> Se-istiqomah apa kita memijakkan kaki diatas nilai yang telah kita yakini?</li>
<li> Seikhlas apa kita membagi isi kantong untuk Lillah, Billah,Fillah ?</li>
</ul>
<p>Akhirnya, sebagai penutup, jangan jadikan tulisan ini sebagai bentuk perlawanan atau upaya membenarkan diri sendiri, jadikan ini sebagai salah satu pemicu koreksi untuk kita, sehingga langkah-langkah selanjutnya akan tetap tegap berdiri diatas kaki-kaki yang kokoh dan sehat.</p>
<p>Salam tanbihun</p>
<p>Em. Yazid  10 maret 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/rifaiyah/3-pertanyaan-untuk-rifaiyah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sisi Lain Dari Dosa dan Maksiat</title>
		<link>http://tanbihun.com/tasawuf/sisi-lain-dari-dosa-dan-maksiat/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/tasawuf/sisi-lain-dari-dosa-dan-maksiat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 05:11:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>em.yazid</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<category><![CDATA[maksiat dan dosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2934</guid>
		<description><![CDATA[Tidak sepatutnya bagi seorang hamba hanya melihat lahiriyyah perwujudan dari keta&#8217;aan atau maksiat, sebaliknya lihatlah isi atau hakikatnya. Karena wujudnya ta&#8217;at bukan berarti pertanda diterimanya amal ibadah atau keta&#8217;atan itu sendiri, karena dalam ta&#8217;at ada bahaya yang mengancam bisa berupa riya atau ujub. Begitu juga dengan maksiat, tidak selamanya wujud maksiat dan dosa menjauhkan hamba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2935" title="katakan-tidak-kpd-maksiat" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/03/katakan-tidak-kpd-maksiat.jpg" alt="katakan-tidak-kpd-maksiat" width="312" height="320" />Tidak sepatutnya bagi seorang hamba hanya melihat lahiriyyah perwujudan dari keta&#8217;aan atau maksiat, sebaliknya lihatlah isi atau hakikatnya. Karena wujudnya ta&#8217;at bukan berarti pertanda diterimanya amal ibadah atau keta&#8217;atan itu sendiri, karena dalam ta&#8217;at ada bahaya yang mengancam bisa berupa riya atau ujub. Begitu juga dengan maksiat, tidak selamanya wujud maksiat dan dosa menjauhkan hamba dari Tuhannya dan tertolak segala amal perbuatannya. Boleh jadi maksiat dan dosa tersebut menjadi sebab dalam mendekatkan diri (<em>taqarrub</em>) kepada Alloh.</p>
<p><em>&#8221; Terkadang Alloh menolong hambaNya sehingga bisa menunaikan keta&#8217;atan, namun tidak dibukakan baginya pintu diterimanya keta&#8217;atan tersebut, dan terkadang Alloh menggariskan bagi hambaNya terperosok kedalam dosa dan kemaksiatan, dengannya hamba itu mencapai (</em><em>wushul) kepadaNya.&#8221;</em></p>
<p>Karena dalam keta&#8217;atan terdapat bahaya yang bisa menghilangkan nilai dari keta&#8217;atan itu, bisa berupa pamer,bangga diri, mengandalkan amalnya, atau menghina orang lain yang tidak menjalankan amal ibadah, yang demikian ini menjadikan amal/keta&#8217;atan tersebut menjadi tidak diterima oleh Alloh SWT.</p>
<p>Sedangkan orang yang tergelincir kejurang dosa dan maksiat terkadang merasa dirinya hina, menganggap orang lain yang tidak terjebak dosa itu lebih mulia dari dirinya, selanjutnya dia sangat mengharapkan pertolongan Alloh, yang demikian ini bisa menjadi sebab diampuninya dosa-dosanya,dan menjadi perantara dekatnya dia dengan Alloh.</p>
<p><em>&#8221; Maksiat yang menyebabkan merasa hina dan mengharap pertolongan Alloh, itu lebih baik daripada ta&#8217;at yang menyebabkan diri merasa mulia dan takabbur &#8220;</em></p>
<p>______________________________________________________</p>
<p>disarikan dari matan kitab al-hikam li sayikh Ahmad bin &#8220;Atho&#8217;illah ra</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/tasawuf/sisi-lain-dari-dosa-dan-maksiat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pengembaraan Mencari Kitab Riayah</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/pengembaraan-mencari-kitab-riayah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/pengembaraan-mencari-kitab-riayah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 08:01:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bebas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2931</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu bulan purnama begitu sempurna. Terlihat cahayanya berpendar menerangi kolong langit. Sesekali segulungan awan bergerak menutupi keelokannya. Cahaya itu membangunkan yang tidur, juga menidurkan yang siang hari bertebaran. Aku terus saja mempercepat langkahku. Sudah terasa remuk redam balung-balung yang sudah dua puluh jam tak dihempaskan dalam ketenangan istirahat. Waktu itu: selepas mengikuti pelatihan kader [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-2932" title="mbah" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/03/mbah-266x200.jpg" alt="mbah" width="266" height="200" />Malam itu bulan purnama begitu sempurna. Terlihat cahayanya berpendar menerangi kolong langit. Sesekali segulungan awan bergerak menutupi keelokannya. Cahaya itu membangunkan yang tidur, juga menidurkan yang siang hari bertebaran. Aku terus saja mempercepat langkahku. Sudah terasa remuk redam balung-balung yang sudah dua puluh jam tak dihempaskan dalam ketenangan istirahat. Waktu itu: selepas mengikuti pelatihan kader dakwah Pimpinan Daerah Rifaiyah Pekalongan, pada 27 Februari 2010.</p>
<p>Ku hempaskan jasad ini di amben yang biasa menyangga ketenanganku dalam mengembalikan sel-sel yang rusak. Aku terlelap begitu saja, seperti kelelapan orang kelelahan. Sebenarnya kelelapan yang tidak tenang, karena sesekali tidur, laksana masuk dalam alam mimpi yang berliku.</p>
<p>Ruang mimpi itu selalu tiba-tiba. Sebuah dunia seperti lorong waktu, karena bisa saja kemudaan kita sekarang menjadi rupa tua renta dalam alam mimpi. Mimpi laksana relativitasnya Einstein yang melepaskan ruang dan waktu. Ia juga laksana kuda terbang yang melegenda bisa menembus batas-batas alam, dan spasial, temporal. Tiba-tiba suara itu begitu keras dan membahana di kolong langit yang menembus atap rumah. Suara itu seperti peringatan yang memanggil-manggil.</p>
<p>&#8220;ojo turu&#8230;.turu lali&#8230;&#8221; aku tergeregap mencari asal muasal suara yang membahana itu. Mataku mengelilingi seisi ruangan. Kepalaku siap menoleh kemanapun untuk menemukan hembusan suara yang serasa dari kejauhan itu. Sambil menajamkan daya <em>pangrungu</em>, aku terus saja mencoba mengenali suara yang sayup-sayup menghilang, lalu datang lagi.</p>
<p>&#8220;hai&#8230;cucuku&#8230;ojo turu-turu lali&#8230;&#8221; beberapa kali suara itu muncul menerjang telingaku, dan terasa sangat jelas sekali suara itu bersumber dari manusia yang sudah udzur. Hatiku berujar, &#8220;ia&#8230;seperti suara simbah-simbah&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku mulai berjalan untuk menemukan sumber suara itu. Ku buka pintu rumah, langkahku mengendap-endap berjalan ke arah suara muncul. Aku terus memasang telinga untuk menangkap suara yang menggetarkan itu. Aneh, sepertinya suara itu dari arah pekuburan yang berada di beberapa meter dari rumahku. Setelah segala daya pangrunguku sudah ku pasang, suara itu enggan muncul. &#8220;kalau ku lanjutkan bisa jadi sampai ke ujung pekuburan sana&#8230;.iiii serem.&#8221;</p>
<p>Hembusan angin malam yang semakin dingin membuat badan ini semakin merinding. Aku harus menghentikan langkah berbalik arah untuk pulang istirahat kembali. Tapi baru saja terbersit niat untuk kembali ke persemayaman, suara itu muncul lagi dari berbagai arah. Ia seperti serombongan anak panah, menyerangku bertubi-tubi: &#8220;ojo turu&#8230;.turu lali&#8230;mati sak jeroning urip&#8230;urip sak jeroning mati. Tan hasil angen-angen beloko dienggoni&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku panik dihantui ketakutan yang mendalam. Aku mengitari segala arah penjuru mata angin, ingin sekali menemukan satu saja sumber suara. Aku tak kuasa menahan penasaran, lalu aku menjawab dengan lantang. &#8220;siapa kau&#8230;.wahai suara kegelapan&#8230;siapa kalian&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;wa..ha&#8230;ha&#8230;ha..ha&#8230;kamu bertanya pada dirimu sendiri&#8230;.iiii&#8230;.hehehehe&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;maksudnya apa?&#8221; aku semakin penasaran dibuatnya. Dentingan jam mushola sudah berbunyi sampai dua kali. Pertanda malam ini sudah mencapai seperempat malam yang menggetarkan bagi para hamba yang selalu bermunajat. Bertrilyun malaikat turun ke bumi untuk menebar rahmat dan barakah dari Allah kepada hambanya yang mau menerima dengan panjatan puja puji dan doa. Ingatanku tertuju pada seperempat malam yang menjadikan aku mulai ingin melangkah mencari sumber suara, dalam hatiku berkata: &#8220;jangan-jangan itu panggilan arwah para wali, atau sejenis malaikat yang dijanjikan turun pada seperempat malam.&#8221;</p>
<p>Aku bersuara lagi dengan tangan ku cungkupkan di depan mulut, agar suaraku sampai terjangkau jauh.</p>
<p>&#8220;wwwweeeeeeiiiii&#8230;.siapa sebenarnya kau&#8230;dan kalau kau mau, aku bisa menemui mu sekarang juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;tak usah susah payah mencariku&#8230;carilah aku dalam hatimu&#8230;&#8221; suara itu sangat jelas di telingaku, bahkan seakan ia bersumber dari gendang telingaku. Aneh&#8230;suara yang kedengarannya jauh, tapi mendadak bisa terdengar begitu jelas.</p>
<p>Mendadak tubuhku bergetar kencang dan sekencang-kencangnya, saking tidak kuatnya aku terpelanting membentur pohon belimbing. Lalu tak aku sadari tubuhku melayang seperti tebang di bawa angin. Berputar-putar melayang dan sepertinya aku dilempar ke tengah pekuburan.</p>
<p>&#8220;aaaaaaa&#8230;.&#8221; aku berteriak dan menjerit karena punggungku terbentur dengan batu nisan.</p>
<p>Dari beribu pori-poriku keluar asap tipis. Saat itu tubuhku terasa panas, lebih dari sekedar panas dalam atau panasnya tubuh ketika duduk di dekat perapian. Sungguh panas luar biasa.</p>
<p>&#8220;aaaaaa&#8230;..panaaaaas&#8230;.paaaannaaaas&#8230;&#8221; raunganku yang begitu keras seperti ditelan malam begitu saja. Sepertinya kalah dengan derik suara jangkrik, dan suara gesekan bulu belalang. Heran tak ada seorang pun yang mendengar suaraku.</p>
<p>Asap itu terus keluar membumbung menjadi gumpalan asap yang semakin menebal&#8230;terus menebal&#8230;menebal&#8230;dan asap itu membentuk semacam jasad manusia yang aku tak mengenalinya. Tiba-tiba ia tersenyum padaku.</p>
<p>&#8220;Ssssiiiiiaaaapppaaaa Engkau&#8230;.&#8221; Aku ketakutan. Tapi sebisa mungkin aku lawan, karena rasa penasaranku lebih besar, ketimbang ketakutanku.</p>
<p>&#8220;hahahahaha&#8230;.aneh kalau kamu tanya begitu&#8230;bukankah aku ini kau&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;ttttaaaaak mungkin&#8230;.karena wujudmu tak serupa dengan wujudku&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;aneh kamu Sep&#8230;<em>lah wong</em> aku ini hatimu masak ya&#8230;harus serupa dengan wadakmu..&#8221; aku tambah penasaran atas ucapan-ucapannya.</p>
<p>&#8220;tapi tak mungkin juga hati bisa menguap menjadi asap yang membentuk wadak manusia.&#8221; Aku memojokkannya dengan pertanyaan yang sekiranya juga bisa membuat penasaranku terjawabkan. Rasa penasaranku berlapis-lapis, kayak kue lapis.</p>
<p>&#8220;tak usah kau mencariku, karena justru aku yang akan mencarimu.&#8221; Asap itu menjawab dengan tenang seperti bukan asap yang diam disapa semilirnya angin malam. Ia tidak membumbung keangkasa, dan tak pula pudar. ia begitu tenang dalam kegelapan.</p>
<p>&#8220;tapi kenapa kau memanggil-manggilku?&#8221; aku bertanya dan terus mengamati asap yang bisa bicara ini. Rasa penasaranku menimbul kan keinginan meniup asap yang ada dihadapanku.</p>
<p>&#8220;karena kau telah meninggalkanku dari wadak mu. Maka aku harus memanggilmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;kenapa aku harus menunggumu, aku kenal saja tidak sama kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;hahahahaha&#8230;itulah kesalahan mu dan kesalahan hampir sebagian besar manusia&#8230;mengenal saja tidak apalagi memelihara kesehatan hatinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Akulah hatimu yang tak kau pelihara. Kau bisa menyebutku Mbah Asep, atau Mbah Ipul, Mbah Pollah, Mbah Ahsa, atau bisa Mbah Ipul kakean polah&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah berapa tahun kau telah meninggalkanmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tak mengerti apa yang kau ucapkan Mbah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau ini manusia. Anatomimu terdiri dari akal, hati, ruh, jasad, nafsu. Tapi kenapa kau cuek terhadap akal, hati, dan ruh. Yang kau pelihara hanya nafsu keinginanmu sendiri, dan kemekaran jasad Mu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau itu bukan nafsu, bukan sekedar jasad seperti binatang, tak pula sekadar ruh laksana malaikat, juga tak hanya akal dan hati. Kau keseluruhan dari itu semua, bahkan setiap diri manusia terdapat nur Muhammad dan semuanya akan bermuara kepada Allah SWT. jadi dalam dirimu ada unsur ilahiah, potensi ketuhanan yang tak satupun makhluk dianugerahinya selain para manusia&#8230;.. bersyukurlah&#8230;. bersyukurlah&#8230;.bersyukurlah&#8230;.&#8221;</p>
<p>Aku tak kuasa berdiri lagi melihat kilauan cahaya keputihan yang keluar dari asap yang semakin menebal. Juga sayatan suara yang melengking terasa menoreh dalam batin.</p>
<p>Asap tebal itu tak membuatku sempurna bisa menatapnya, karena keterbatasan kekuatan mata atas umpan balik cahaya yang semakin menyala. Kakiku tak bisa lagi menyangga jasad, dan seperti ada yang menuntunnya aku bersujud dihadapan hatiku sendiri.</p>
<p>&#8220;apa akibatnya jika yang kau urusi hanya keinginan dan kemauan jasadmu, kau tak pernah memperhatikan dimensi ruh, frekuensi akal, energi hati, dan mengkhalifahi seluruh anatomi dan potensimu untuk membekali diri menjadi manusia Sang Khalifatullah. Kau hanya sebentuk binatang, dan tak berlaku lagi makhkota <em>akhsani taqwim </em>bagi dirimu, dan sebangsamu. Kau sungguh mengurangi, mereduksi, kesempurnaan ciptaan Tuhan, kau mengingkari nikmatnya. Maka maaf seandainya aku bilang dirimu sebagai Kafir, kufur, kau tertutup, kau terhalang-halangi oleh kesempurnaanmu sendiri, tak mau memandang potensimu yang lain selain nafsumu.&#8221;</p>
<p>Tak terasa mataku mengeluarkan air mata dan hatiku terenyuh atas kata-katanya. Serasa diri ini dibanduli dengan kesalahan yang begitu besar dan berat yang menjadikan aku tak kuat lagi untuk menyangga jasad ini berdiri. Aku hanya termangu duduk di hadapan asap yang kelihatannya mulai bersila. &#8220;aku tak lebih dari seekor binatang melata yang tiap hari hanya biasa mencari makan dan minum. Hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar dan melayani keindahan-keindahan keinginan hawa nafsu.&#8221; Saat sujudku menitikkan air mata penyesalan yang tiada terkira, dari arah yang tak aku duga menggema suara lantunan ayat-ayat Qur&#8217;an.</p>
<p>رَبَّنَاظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَسِرِيْنَ</p>
<p>Duh pangeran sesembahan kita</p>
<p>Satuhune kita sampung nganiyaya</p>
<p>Ing awak kita</p>
<p>Menawi paduka boten kersa ngapura</p>
<p>Serta boten karsa</p>
<p>Paring kawelasan dumateng kita</p>
<p>Satuhune kita</p>
<p>Kalebet golonganipun tiyang ingkang sami tuna</p>
<p>&#8220;Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.&#8221;</p>
<p>Suara itu berulang-ulang sampai beberapa kali, dan terasa menyentak di hati setiap manusia. Menggetarkan sanubari setiap makhluk yang mambaktikan dirinya untuk selalu bertasbih. Mungkin gunungpun akan terpekur, membatalkan untuk memuntahkan lahar mendengar ayat-ayat pertobatan itu dilantunkan dari sangkakala kehidupan.</p>
<p>Pada detik itu angin terasa berhenti, dedaunan sangat khusyuk menyimak lengkingan yang begitu hening dan bening. Suaranya menyayat setiap hati kehidupan makhluknya. Memberi energi kehidupan baru bagi semua yang dikaruniai kehidupan. Bahwa hidup hanya dihidupkan oleh sang Maha Hidup&#8230;.ya&#8230;Hayyu&#8230;ya&#8230;Hayyu&#8230;</p>
<p>Doa ini sebagai pertanda permohonan dan pertobatan manusia pertama setelah melanggar perjanjian dengan Khaliknya. Doa kehambaan ini sebagai doa awal kehidupan manusia mulai menyemai cinta, benci, sedih, bahagia, serakah, <em>nrimo ing pandum</em>, syukur, kufur, ridlo, pamer, berkeluh kesah&#8230;dan masih sangat banyak komponen kehidupan manusia di maya pada ini.</p>
<p>Karena ketamakan manusia, sehingga sorga yang menjanjikan kenikmatan yang tiada terkira: tak pernah di dengar oleh pendengaran, tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah di hirup oleh penciuman, tak pernah dirasa oleh lidah, pun belum cukup bagi makhluk yang bernama manusia. Ia selalu serakah, dan tak kuasa menahan nafsunya memakan buah keabadian (buah khuldi).</p>
<p>&#8220;cukup&#8230;cukup&#8230;kau tak usah lagi menangis tersedu sedan, yang paling penting dirimu sekarang mempunyai komitmen untuk tidak mengulang meninggalkan ku lagi, aku bagian komponen terpenting dalam hidupmu, maka kalau kau meninggalkanku lagi, kau tak lebih dari seekor kambing, bahkan lebih jelek dari itu.&#8221; Angin pun sudah mulai bersepoi kembali, cakrawala terlihat bersih dari awan-awan yang tadi berseliweran menutupi purnamanya rembulan. Aku mengangkat kepala untuk bangkit dari sujudku. Aku menghadap ke arah hatiku yang masih saja sebagai gumpalan asap yang bersila dihadapanku.</p>
<p>&#8220;hi&#8230;hi&#8230;hihihihi&#8230;.dasar cengeng&#8230;trus kau akan memformat kehidupanmu yang bagaimana. Butuh visi, pemikiran, paradigma baru dalam kehidupanmu, sehingga kau tak bakal meninggalkanku lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;iya Mbah&#8230;<em>sendiko dawuh, </em>tapi maksudnya visi yang bagaimana Mbah?&#8221;</p>
<p>&#8220;visi itu cita-cita, cita-cita mu harus kau rubah dari cita-cita yang materiil duniawiyah, menuju cita-cita abadi yakni menjangkau akherat.&#8221;</p>
<p>&#8220;trus Mbah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau harus berusaha menghadirkan Allah dalam setiap laku hidupmu, bekerja bukan atas dasar keinginan mempunyai mobil mewah, rumah mewah, dan semua jenis kekayaan yang sifatnya sementara, tetapi bekerja adalah mensyukuri saham Allah berupa tangan, kaki, mata, telinga, hidung, udara, air, yang seratus persen dipinjamkan Allah kepadamu. Maka kalau saham itu tak digunakan sesuai kehendak Allah, itu sebuah bentuk kekufuran. Kekufuran berawal dari hati yang tidak dijaga dari kebeningannya, seringnya dihinggapi penyakit hati yang bisa menyambar kepada hati setiap manusia, dari yang Nabi sampai orang awam.&#8221;</p>
<p>Dia terus saja nerocos laksana menasehatiku bertubi-tubi. Aku terpekur mencerna apa yang dia nasehatkan. Sayup-sayup tapi pasti suara bening itu muncul lagi bersemilir menyapa setiap telinga yang siaga. Ia jelas melantunkan kata-kata arab yang familiar di telinga. Sepertinya kata-kata itu berasal dari kitab Riayatul Himmah.</p>
<p>وَطَهِرِ الْقَلْبَ وَصَحِحِ النِّيَّةْ وَابْتَغِ بِاالْأَسْبَابِ لَاالْأَمْنِيَة</p>
<p>Lan nucekna sira ing ati kebatinan</p>
<p>Ngupaya ilmu syara neja ing pangeran</p>
<p>Rasikna aja reged haram riyaan</p>
<p>Iku regede ati dosa rinesikan</p>
<p>Lan angesahna sira ing ati niat</p>
<p>Karana Allah amrih munfaat akherat</p>
<p>Ngalindunga ing Allah saking sasar lepat</p>
<p>Gegeyongan ing Allah kanugerahan rahmat</p>
<p>Lan amriha sira kelawan amal ngelakoni</p>
<p>Sekehe sababe becik arep di dalani</p>
<p>Tan hasil angen-angen belaka dienggoni</p>
<p>Balik wajib ikhlas ati ditemeni</p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan sucikanlah batin hatimu</p>
<p>Mencari ilmu syariat menuju kepada Tuhan</p>
<p>Bersihkanlah jangan sampai kotor oleh riya yang haram</p>
<p>Yaitu, kotornya dosa hati dibersihkan</p>
<p>Dan sahihkanlah niatmu</p>
<p>Hanya untuk Allah supaya manfaat akherat</p>
<p>Berlindunglah kepada Allah dari kesesatan dan kesalahan</p>
<p>Berpegangan kepada Allah supaya dianugerahi rahmat</p>
<p>Dan berusahalah untuk melakukan</p>
<p>Beberapa sebab kebaikan harus dilakukan</p>
<p>Tak kan berhasil kalau hanya berangan-angan</p>
<p>Hati harus ikhlas sepenuhnya<em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>&#8220;coba renungkan suara bening itu!&#8221; asap yang mendayu-dayu itu memerintahkan agar aku merenungkan pesan suara itu. &#8220;Iya&#8230;&#8221; jawabku menyanggupi perintahnya. Aku bagian dari dirimu tapi kenapa kau yang memerintahku.</p>
<p>&#8220;kau tidak terima begitu. Saya ingin tanya, dalam anatomi keseleruhan tubuh ini siapa yang harus memerintah? Hati atau Nafsu?&#8221;</p>
<p>&#8220;tidak semuanya, tidak hati dan tidak nafsu, yang harus memerintah seluruh organ-organ komponen manusia adalah akal!&#8221; aku tak mau kalah, dari tadi aku dibuatnya sedih, menangis, marah, dan ketakutan. Setidaknya mulai sekarang aku harus menggunakan argumen untuk membantah. Aku harus melantunkan dasarnya yang aku ambil dari kitab andalan dari perguruan Kalisalak. Kulantunkan seleret kalimat itu dengan nada tinggi, agar semua makhluk yang ada disitu mendengarnya. Karena aku yakin suara bening tadi bukan milik asap tebal yang mengaku sebagai hatiku ini. Ku lengkingkan kalimat yang sempat aku hafal waktu dulu ku ulang-ulang di sorogan selepas maghrib di mushola mustakim.</p>
<p>طُوْبَى لِمَنْ كَانَ عَقْلُهُ أَمِيْرً وَهَوَاءُهُ يَكُوْنُ أَسِيْراً</p>
<p>Begjo temen kaduwe wong ono tinamune</p>
<p>Aqale dadi ratu marintah lakune</p>
<p>Lan hawane kalah ana dadi boyongane</p>
<p>Ikulah mukmin adil sabab merangi hawane</p>
<p>Beruntung sekali kepada keberadaan seseorang</p>
<p>Yang akalnya menjadi ratu memerintah kelakuannya</p>
<p>Dan hawa nafsunya kalah</p>
<p>Itulah Mukmin Adil karena dia telah memerangi hawa nafsunya</p>
<p>&#8220;ha&#8230;ha&#8230;ha&#8230;ternyata kau juga bisa ndalil kayak gitu&#8230;.&#8221; Suara bening dari kejauhan muncul lagi, kata-katanya seperti mengejek, mungkin dia tak percaya kalau aku mengetahui tentang beberapa dalil dari kitab Riayah. Ia bertanya dengan lantang.</p>
<p>&#8220;kamu bawa contekan ya&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;jangan meledek kayak gitu, emang yang punya pengetahuan tentang kayak gitu cuma kamu apa.&#8221;</p>
<p>Aku bersungut-sungut sambil menahan diri, agar aku tetap tenang.</p>
<p><em>Bersambung</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Paesan, 6 Maret 2010</p>
<p>Ahmad Saifullah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/pengembaraan-mencari-kitab-riayah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengakrabi Radikalisme</title>
		<link>http://tanbihun.com/analisis/mengakrabi-radikalisme/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/analisis/mengakrabi-radikalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 23:26:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>em.yazid</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Analisis]]></category>

		<category><![CDATA[radikalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2921</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Akhmad « Elang » Muttaqin
Pendahuluan
Rabu 21 Maret 2007 Densus 88 anti teror membongkar sebuah bunker milik Sikas di daerah Sukoharjo Jawa Tengah, dan menemukan sedikitnya 2009 butir amunisi, 200 detonator aktif, 20 kilogram TNT, 16 bom lontar, 25 karung potasium seberat 625 kg 1 pucuk senjata AR organik, 1 Pucuk senjata rakitan laras [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2922" class="wp-caption alignleft" style="width: 386px"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/03/pejuang.jpg"><img class="size-full wp-image-2922" title="pejuang" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/03/pejuang.jpg" alt="pejuang" width="376" height="282" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi Pejuang Mujahidin</p></div>
<p>Oleh : Akhmad « Elang » Muttaqin<br />
<strong>Pendahuluan</strong><br />
Rabu 21 Maret 2007 Densus 88 anti teror membongkar sebuah bunker milik Sikas di daerah Sukoharjo Jawa Tengah, dan menemukan sedikitnya 2009 butir amunisi, 200 detonator aktif, 20 kilogram TNT, 16 bom lontar, 25 karung potasium seberat 625 kg 1 pucuk senjata AR organik, 1 Pucuk senjata rakitan laras panjang dan sebilah golok berukuran 35 cm<br />
Penemuan barang-barang tersebut berkaitan erat dengan penangkapan beberapa orang yang dicurigai sebagai teroris,  di daerah Sleman Yogyakarta. Diantara nama-nama tersangka tersebut adalah Sutarjo 33 tahun, Sikas 37 tahun, Amir Ahmadi 34 tahun, Edi 40 tahun, Aman Suryanto 40 tahun. Dikediaman Sutarjo pihak kepolisian juga menemukan sebuah senjata api laras panjang jenis M 16, 1 Pucuk senjata rakitan, 2 revolver, 2 pipa aluminium, detonator, cairan kimia dalam jiregen 550 gram TNT, Buku petunjuk perakitan bom serta buku catatan bersisi kawan-kawan sutoarjo. Selang sehari kemudian, polisi dapat membekuk tersangka lain bernama Brekele, Cholis dan Khairul. Di tempat tersangka terakhir polisi kembali menemukan sekitar 12,5 Kg TNT.<br />
Penangkapan dan penemuan tersebut kontan mengemparkan publik. Bukan saja karena barang-barang tersebut ditemukan dalam jumlah yang cukup besar, namun juga karena ditemukan di tempat orang-orang yang selama ini dikenal masyarakat sekitar sebagai orang baik. Sikas misalnya, dikenal sebagai seorang petani  lugu, bersahaja, sering menolong orang lain dan tidak sedikit pun menunjukan  gelagat mencurigakan. Bahkan Sikas dikenal sebagai seorang takmir masjid di kampungnya. Hal yang sama dialami oleh Sutarjo dan Amin Ahmadi  yang seorang pengelola bengkel, pekerja pabrik dan pengajar Taman Pendidikan Al-Qur’an.<br />
Kasus Sukoharjo semakin meneguhkan munculnya fenomena radikalisme di Indonesia pasca runtuhnya Orde Baru. Jatuhnya Pemerintahan Orde baru satu sisi menandai berjalannya proses liberalisasi, dimana setiap individu maupun kelompok bebas berekspresi dan menyalurkan aspirasi sesuai dengan keinginannya. Disisi lain juga memunculkan fenomena kekerasan atas nama agama. Tragisnya, seorang patani lugu yang juga  seorang takmir masjid  seperti Sikas dapat turut ambil bagian dalam proses radikalisasi tersebut. Pertanyaan yang kemudian terbesit adalah, mengapa fenomena tersebut dapat muncul dan menjadi wacana publik ?. Bagaimanakah seharusnya kita melihat dan menyikapi fenomena radikalisai di Indonesia ?. Bagaiman cara menemukan formula yang tepat untuk  mengikis pengaruh tersebut ?. Apakah radikalisasi menemukan justifikasi dalam sejarah Islam Indonesia ?<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Wajah Islam Indonesia</strong><br />
Basam Tibi dalam buku Ancaman Fundamentalisme, pernah menyinggung tentang kekagumannya terhadap Islam di Indonesia. Menurut Tibbi, Indonesia dapat menjadi jantung Islam yang menentukan mainstream peradaban Islam.  Ini dikarenakan Islam di Indonesia adalah Islam yang mempraktikan toleransi, pluralisme dan pandangan terbuka para pengikutnya, sebuah kondisi yang susah ditemui di tempat saudara-saudara mereka di Timur Tengah. Kedati demikian, Indonesia juga menyimpan bara fundamentalisme yang dapat membara setiap saat. Meski beliau juga menyebut bahwa para kaum fundamentalis tersebut tidaklah berbahaya selama berada dipinggiran kekuasaan dan tidak masuk dalam lingkaran kekuasaan dan selama pandangan absolutis-arabosentris mereka tidak menjadi preferensi publik Indonesia.<br />
Pendapat Tibbi tentang Islam Indonesia yang dikemukakan pada penghujung tahun 1995  memang dapat dibenarkan jika kita melihat sejarah dialektika Islam Indonesia. Memahami karakter Islam Indonesia memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Islam Indonesia itu sendiri. Islam menaklukan Nusantara tidak dengan perantaraan Pedang melainkan dengan penetrasi damai yang dibawa oleh para sufi maupun pedagang dari Persia dan India. Penetrasi damai dengan implikasi positif dan negatifnya lah yang nantinya memberi corak kuat Islam Indonesia.<br />
Sebagaimana diketahui, jauh sebelum kedatangan Islam ke Nusantara masyarakat Nusantara telah lebih dahulu mengenal dan menganut beberapa kepercayaan seperti Animisme, Dinamisme maupun Hindu dan Budha dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun dengan pelan dan pasti Islam mampu meraih simpati para pemeluk agama lain tersebut. Kedati demikian Islam tidak secara otomatis menggerus budaya dan peran penting agama tersebut bagi masyarakat nusantara. Peninggalan-peninggalkan meraka baik dalam bentuk situs maupun candi-candi seperti Borobudur dan Prambanan masih tetap ada dan eksis hingga saat ini.<br />
Penetrasi damai sebagaimana disinggung di atas memiliki implikasi positif dan negatif terhadap corak Islam Indonesia. Penetrasi damai biasanya menghasilkan suatu Islam yang lunak dengan unsur-unsur esoteris kesufian yang menonjol dan sedikit mengesampingkan eksoteris yang berpangkal pada ajaran-ajaran Islam berkenaan dengan hukum atau syari’at. Kompromi antara ajaran-ajaran Islam dan unsur-unsur budaya lokal menjadi sesuatu yang tak terelakkan, sehingga tidak heran Islam di Indonesia disebut sebagai Islam Pinggiran.   Pinggiran karena secara geografis Indonesia jauh dari pusat budaya dan spiritual Islam di Timur Tenggah yang juga berimplikasi pada minimnya proses Arabisasi pada masyarakat Indonesia. Juga karena banyaknya kompromi antara ajaran-ajaran Islam dengan unsur-unsur budaya lokal.<br />
Perkembangan Islam selama berabad-abad berjalan stagnan,  bahkan  ketika bangsa-bangsa Eropa mulai berdatangan ke nusantara, Islam belumlah mapan sebagai agama mayoritas. Kedatangan kolonial bagai pisau bermata dua, disatu sisi membantu penyebaran Islam kepenjuru nusantara, namun disisi lain juga  membuat Islam di Indonesi jauh lebih efektif sebagai senjata ideologis-politis daripada sebagai sistem ajaran yang lengkap. Ini karena tekanan dan perhatian yang tak terelakkan dari perjuangan melawan penjajah. Maka jika dibandingkan dengan daerah lain, Islam Indonesia kurang mendalam dari segi pemahaman ajaran dan pengembangan intelektual.<br />
Hal ini terkait erat dengan masa konsolidasi Islam di Jawa dan nusantara umumnya yang terjadi pada masa-masa kemunduran Islam internasional di Timur Tengah  yang berimplikasi pada stagnannya perkembangan intelektual di Nusantara. Menegaskan hal itu, Nurkholis Majid mencatat bahwa  hingga tahun 1945-an jumlah HIS di Hindia Belanda hanya 285 buah dengan 72.514 orang, sedang jumlah Sekolah Rakyat hanya 17.719 buah dengan murid 1.896.371 orang. Sekolah-sekolah tersebut didedikasikan untuk mereka yang disebut sebagai kelas-kelas bangsawan. Sementara kelas-kelas bawah hanya dapat menikmati pendidikan alternatif yakni pesantren, sisanya lagi—yang merupakan jumlah mayoritas—adalah mereka yang tidak bisa menikmati pendidikan apaun.<br />
Pemandangan tersebut secara perlahan mulai terkikis. Pada era 1980-an terjadi perubahan yang cukup signifikan, dimana terjadi lonjakan kaum bawah menjadi kaum kaya baru, karena keberhasilan ekonomi pemerintah Soeharto. Ditahun tersebut juga ditandai munculnya ledakan mahasiswa Islam dari perguruan-perguruan tinggi, yang nantinya berperan besar terhadap intelektualisme dan reislamisasi.<br />
Terjadinya perubahan mendasar dalam masyarakat Islam Indonesia, membawa juga perubahan wajah Islam Indonesia sendiri. Jika dulu Islam Indonesia sering diasosiasikan sebagai Islam Abangan,   jenis Islam yang mempraktekkan ajaran-ajaran Islam secara longgar.  Kini Islam Indonesia telah berrubah wajah menjadi Islam yang taat. Pendapat ini disandarkanpada hasil penelitian Wiliam Lidlle dan Saiful Mujani. Setelah melakukan beberapa kali riset ditahun 2000-an tentang kondisi Islam di Indonesia, mereka mencatat terjadi perubahan signifikan keberagamaan umat Islam Indonesia. Dari Abangan menjadi santri (taat).<br />
Kembali kependapat Tibbi sebagaimana disinggung di atas, kiranya pendapat tersebut mulai dapat dipertanyakan dengan munculnya aneka kekerasan dengan nama agama yang kian hari eskalasinya semakin meningkat. Sejak tahun 1998 hingga tahun 2004 Tempo mencatat telah terjadi 61 kasus pemboman, dimana tempat-tempat umum seperti gereja serta tempat-tempat pemerintah dan tempat hiburan  dijadikan sebagai sasarannya.</p>
<p><strong>Memahami Radikalisme</strong><br />
Sampai saat ini belum ada kesepakatan di antara para pengamat Islam tentang istilah yang tepat untuk menggambarkan gerakan radikal. Fazlur Rahman menyebut gerakan ini sebagai gerakan neorevivalisme atau neofundamentalisme untuk membedakan gerakan modern klasik dengan gerakan fundamentalisme post-modernisme, sebuah gerakan yang berelan anti Barat.  Hampir senada, Olivier Roy menyebut gerakan ini sebagai Neofundamentalisme.  Sementara Esposito  dan Dekmejian  lebih menggunakan istilah Islamic Revivalism dari pada istilah fundamentalisme yang dinilainya adalah khas Protestan. Sementara  itu Al-Jabiri sebagaimana dikutip oleh Khamami melabeli gerakan tersebut sebagai ekstrimisme Islam.  Sementara Al Fadl menyebut gerakan tersebut sebagai gerakan Islam Puritan.<br />
Meski para pengamat Islam tersebut memberikan label yang berbeda, label dalam tulisan ini bersifat longgar guna menghindari perdebatan penggunaan salah satu label tersebut. Penting dicatat bahwa kendati terdapat aneka pelabelan, namun ada benang merah ideologi yang dapat ditarik dari gerakan dimaksud, yakni; Absolutisme, skriptualis, opositionalis, puritan dan radikal<br />
Radikalisme baik dalam karakternya yang Skriptualis, opsitionalis, dan puritan  sekalipun, sejatinya merefleksikan semangat pembaruan ke arah yang lebih baik.  Ia berfungsi sebagai pengaturan kolektif agar pesan dasar perubahan tetap berpengaruh atas umat dan berada dalam koridor-koridor Islami. Ia juga berperan penting sebagai kritik atas  modernisme yang tidak jarang melahirkan ekses-ekses negatif  bagi masyarakat. Kedati demikian sangat disayangkan bila ide pembaruan kemudian dinodai oleh kuatnya semangat absolutis maupun radikalis. Pandangan absolutis, bagaimanapun mencerminkan sebuah kedangkalan intelektual. Munculnya kedangkalan intelektual ini telah jauh-jauh di peringatkan oleh Fazlur Rahman,  bahwa mereka tidak mampu menciptakan sistem pendidikan, tidak mampu menciptakan metodologi, strategi struktural untuk memahami Islam dan menafsirkan Al-Qur’an sehingga mereka terjebak pada pandangan yang Absolutis, skriptualis, puritan dan tidak jarang radikal. Paradigma absolutis maupun radikalis juga mengerdilkan nilai asasi dari Islam itu sendiri. Islam selalu mengajarkan kepada uamtnya untuk selalu bersikap egaliter, pluralis dan melarang penggunaan cara-cara kekerasan.<br />
Gerakan-gerakan radikal baik yang mengambil  bentuk pengeboman, perusakan tempat ibadah maupun tindakan lainnya biasanya dilatar belakangi  oleh munculnya krisis. Dekmejian mengurai krisis ini dalam empat bentuk yakni krisis pervasif, komperhensif, kumulatif dan xenophobisme.  Krisis pervasif merupakan krisis yang tidak terbatas pada negara-negara tertentu, namun terjadi diseluruh dunia Islam. Krisis Komperhensif dan Kumulatif adalah krisis yang meliputi berbagai bidang sekaligus; sosial, ekonomi, politik, budaya, spiritual dan juga menggambarkan puncak kegagalan upaya pembangunan bangsa, pembangunan sosial-ekonomi serta keperkasaan militer. Sedang krisis xenophobisme adalah kebencian terhadap orang-orang asing<br />
Gerakan radikalisasi di Indonesia yang muncul begitu masif pasca jatuhnya Orde Baru, jika dianalisis dengan kerangka Dekmejian, tentu bukanlah suatu peristiwa yang bersifat spontanitas dan reaksional atas perubahan sistem politik. Ia ada, tumbuh dan berkembang oleh faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhinnya. Latar belakang kemunculan mereka dapat dilacak jauh sebelum kejatuhan Orde Baru—bahkan jauh sebelum Orde Baru terbentuk. Pemunculannya ke permukaan hanya tinggal menunggu waktu, dan kejatuhan Soeharto adalah momentum tersebut. Sehingga tidak lama setelah jatuhnya Soeharto, organisasi-organisasi seperti FKASWJ, FPI, MMI, Hizbuttahrir yang berhaluan puritan, berkarakter militan, radikal skriptualis, konservatif dan ekslusif unjuk gigi.  Sedang para teroris setiap saat hadir  menebar ancaman. Hasilnya, Poso membara, ribuan nyawa hilang sia-sia, Bali mengelegar, ratusan orang mati terbakar dan kebebasan beragama terpasung oleh tentara-tentara tuhan.<br />
Terlepas dari dampak negatif yang ditimbulkan, kiranya menarik untuk melihat apa faktor yang melatar belakangi lahirnya kelompok-kelompok tersebut,  bagaimana kelompok ini dapat bertahan dan menunggu kemunculannya.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Kebijakan Pemerintah</strong><br />
Beberapa umat Islam berpandangan bahwa Islam adalah agama yang holistis, agama yang mencakup semua sistem sosial, ekonomi, budaya dan politik. Pandangan ini  menuntut  pengimplementasian Islam dalam sistem politik, ekonomi, budaya dan sosial masyarakat. Tuntutan terhadap sebuah negara Islam, pelaksanaan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari, perwujudan ekonomi dan budaya Islam menjadi tak terelakkan.<br />
Islam sebagai agama mayoritas masyarakat Indonesia harus diakui memainkan peran penting dalam memberi warna dan corak berbangsa kita. Bahkan kemerdekaan bangsa kita mustahil di rebut tanpa kontribusi besar Islam dan umat Islam. Namun beberapa kebijakan yang diambil oleh para elit politik dipandang—baik secara langsung atau tidak—justru mengecewakan umat Islam.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Kebijakan Tentang Dasar Negara</strong><br />
Kekecewaan pertama terkait dengan ditolaknya usulan yang dibawa oleh Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Kasman Singodimejo dan Teuku Muhamad Hasan tentang pengakuan Islam sebagai agama resmi negara, Persyaratan presiden harus seorang muslim dan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya dalam sidang PPKI. Meski penolakan tersebut dapat diterima karena beberapa alasan, namun dipandang oleh para pemimpin Islam maupun masyarakat muslim Indonesia sebagai suatu penipuan yang dilakukan terhadap umat dan pengurungan cita-cita umat Islam.  Menurut Bahtiar, peristiwa tersebut manandai kekalahan pertama kelompok Islam dalam upayanya merealisasikan gagasan Islam yang legalistik dan formalistik.  Kedati kekalahan ini bisa diterima untuk sementara waktu hingga majlis konstituante hasil pemilihan umum amenjalankan tugasnya membuat undang-undang baru. Namun kekecewaan harus kembali direguh oleh umat Islam karena dipenghujung sidang konstituante presiden Soekarno mengeluarkan dekrit presiden yang bersisi maklumat pembubaran majlis konstituante hasil pemilu dan kembali kepada UUD 1945.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Kebijakan Rasionalisasi Militer</strong><br />
Salah satu kebijakan yang berperan sentral terhadap lahirnya gerakan radikalisme di Indonesia adalah rasionalisasi militer yang dilakukan  pada masa pemerintahan Soekarno karena krisis yang berkepanjangan. Disebut sentral karena banyak gerakan radikal nantinya mengaitkan diri baik secara historis maupun ideologi terhadap kelompok yang lahir karena kebijakan rasionalisasi militer ini.<br />
Sebagaimana disinggung di atas bahwa peran Islam dan umat Islam dalam mewujudkan Indonesia merdeka adalah sentral, termasuk dalam hal menyediakan relawan dan milisi-milisi yang siap berjihad mengorbankan harta dan nyawa untuk mengusir penjajah. Milisi Hizbullah yang berjumlah sekitar 300.000 ribu orang di bawah pimpinan Kartosuwiryo misalnya, dapat mengamankan daerah Jawa Barat ketika para Tentara Nasional Indonesia—tentara Siliwangi—dipaksa meninggalkan wilayah Jawa Barat konsekwensi perjanjian Renvill pada tahun 1948—perjanjiann yang oleh Kartosuwiryo di tolak.<br />
Ketika krisisis ekonomi makin parah menerpa Indonesia, sehingga memaksa para petinggi republik ini mengambil beberapa langkah strategis, maka kebijakan rasionalisasi—termasuk rasionalisasi dalam bidang militer—menjadi pilihan yang ditempuh. Kebijakan tersebut terang mengorbankan ribuan milisi-milisi yang tersebar hampir diseluruh Indonesia. Milisi di Jawa Barat di bawah pimpinan ulama karismatik Marijan Kartosuwiryo melakukan protes dengan memplokamirkan berdirinya Darul Islam atau Negara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat  Menyusul kemudian milisi di Sulawesi dan Aceh yang menggabungkan diri dengan DI/TII Kartosuwiryo pada 7 Agustus 1953 dan 21 September 1953.<br />
Gerakan DI/TII ini berimplikasi panjang, kendati pemerintah berhasil menumpas dan membunuh pemimpin serta memenjarakan para pengikut gerakan ini. Namun pemerintah tidak sepenuhnya dapat melumpuhkan jaringan dan menjinakkan pengaruh DI/TII dalam benak umat Islam Indonesia—khususnya di daerah-daerah dimana DI/TII pernah menancapkan kekuasannya. Pasca reformasi, romantisme DI/TII mengilhami  beberapa ormas Islam dan kepemudaan daerah untuk membentuk sebuah komite yang berjuang untuk memperjuangkan penegakan syari’at Islam. Diantara komite-komite tersebut adalah : Komite Persiapan Penegakan Syari’at Islam di Banten, Front Thoriqatul Jihad di Kebumen, Gerakan Penegak Syari’at Islam di Yogyakarta, Lembaga Pengembangan dan pengkajian Syari’at Islam di Sukabumi, dan Lembaga Pengkajian Penerapan Syari’at Islam di Pamekasan.<br />
Tidak hanya sampai disana, sepeninggal Kartosuwiryo jaringan-jaringan ini masih tetap dapat hidup dan bekerja. Tiga pelaku bom kedutaan Australia pada September 2004 misalnya diidentifikasi memiliki keterkaitan dengan DI melalui orang tua mereka. Mereka juga direkrut oleh kelompok DI Ring Banten, yang beroperasi di basis-basis lama DI di Jawa Barat.<br />
Organisasi terorisme internasional  seperti Jamaah Islamiah (JI) sekalipun baik secara langsung atau tidak juga memiliki keterkaitan dengan DI/TII melalui Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar. Melalui  Abu Bakar dan Sungkar lah perekrutan anggota gerakan ini berjalan. Sebagaimana diketahui oleh publik, baik Abu Bakar Ba’asyir maupun Abdullah Sungkar adalah tokoh penting DI pada era 1980 dan 1990 an.  Boleh dikatakan bahwa gerakan DI/TII akhirnya menjadi simbol gerakan-gerakan radikal untuk mengaitkan diri dan menyambungkan sejarah masa lalu mereka.<br />
Dibalik terpeliharanya jaringan DI/TII bisa jadi memang terpelihara oleh orang-orang seperti Ba’asir dan Sungkar. Namun ada indikasi bahwa sisa gerakan ini pada masa Soeharto juga  sengaja dipelihara untuk dimanfaatkan memerangi komunisme. Kelompok yang dinamakan Komando Jihad atau Teror Warman yang merupakan kumpulan para veteran DI ternyata menjalin komunikasi intensif dengan Ali Murtopo, tokoh sentral dan otak Orde Baru dan berperan aktif dalam perang terhadap kominisme.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Pembubaran Masyumi </strong><br />
Keterlibatan dan dukungan para petinggi partai Masyumi dalam beberapa pembrontakan di daerah menyebabkan Soekarno membekukan partai ini pada tahun 1960 dan memenjarakan para pemimpin partainya. Secercah harapan seiring terjadinya pergantian pimpinan nasional. Orde Baru diharapkan dapat berperan lebih dalam upaya rehabilitasi nama Masyumi dan mengaktifkan kembali Masyumi sebagai partai politik. Harapan mereka pupus karena Soeharto tidak juga mau melakukan rehabilitasi nama Masyumi dan bahkan memaksa Masyumi berganti nama Parmusi dan melarang pimpinan-pimpinan  Masyumi untuk terlibat aktif dalam partai.<br />
Setelah pembebasan mereka sebagai balas jasa atas peran mereka mengantar Soeharto ketampuk kekuasaan. Muhamad Natsir dan petinggi Masyumi lainnya memilih menyalurkan energinya untuk berdakwah dengan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) pada tahun1967. DDII menjadi saluran alternatif bagi kalangan masyumi setelah merasa gagal berdakwah lewat politik-kepartaian.</p>
<p>Berdirinya DDII memiliki arti penting dalam gerakan fundamentalisme di Indonesia, karena melalui lembaga inilah sayap fundamentalisme mulai dikepakkan jauh hingga menjangkau Timur Tengah. Imdadun mencatat tiga peran penting DDII dalam membantu semakin mapannya gerakan fundamentalisme di Indonesia.<br />
<em><strong>Pertama</strong></em>, berperan dalam usaha mengirim mahasiswa-mahasiswa Islam untuk belajar di Timur Tengah  dengan suplai dana dari Rabitah Alam Al-Islami , sebuah organisasi bentukan arab saudi. Sampai tahun 2004 lalu, DDII tercatat telah memberangkatkan tidak kurang dari 500 mahasiswa ke Timur Tengah dan Pakistan.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, berperan sebagai penggagas dan mediator berdirinya Lembaga Ilmu Islam dan Arab (LIPIA) yang merupakan cabang Universitas Islam Muhamad Ibnu Saud di Riyadh. Melalui lembaga inilah gagasan Wahabisme yang puritan dan radikal di tanamkan dan disebarkan oleh  ribuan alumnusnya. Salah satunya adalah Jafar Umar Thalib. Ia belajar di LIPIA pada tahun 1980 an, kemudian bekerja di DDII antara 1983-1984, memperoleh biasiswa dari DDII untuk belajar di Arab Saudi pada tahun 1984, dan pada tahun 1986 atas dukungan Liga Dunia Arab berangkat ke Afganistan dimana ia bertemu dengan Osama bin Laden, setelah itu ia kembali keyaman meneruskan studi dan kembali ke Indonesia pada 1993 dan mendirikan pondok pesantren di sebelah utara Yogyakarta. Pada tahun 2002 ia mendirikan organisasi Laskar Jihad, yang berperan penting dalam konflik Poso.<em><strong></strong></em></p>
<p><em><strong>Ketiga</strong></em>, berperan dalam meletakkan landasan awal gerakan dakwah kampus dengan program Latihan Mujahid Da’wah. Melalui lembaga-lembaga LDK lah pemikiran-pemikiran Islam Fundamentalis yang di bawa oleh para alumni-alumni Timur Tengah hasil kiriman DDII di transmisikan.<br />
Keempat, berperan secara tidak langsung untuk mendorong penterjemahan karya-karya dari pemikir utama gerakan Islam fundamentalis Timur Tenggah ke dalam bahasa Indonesia. Lembaga ini juga berperan penting dalam mendistribusikan buku-buku karangan para tokoh Ikwanul Muslimin.</p>
<p><strong>Orde Baru dan Trilogi Pembangunan</strong><br />
Belajar dari pemerintahan orde baru yang menjadikan politik sebagai panglima yang justru membawa bangsa Indonesia pada krisis berkepanjangan maka Orde baru menempuh strategi pembangunan dan modernisasi (program oriented), daripada orientasi yang bersifat ideologis. Untuk itu dicanangkankanlah program dasar yang disebut “Trilogi Pembangunan”, meliputi pemantapan stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan dengan menggunakan pendekatan dan strategi pragmatis dalam memecahkan persoalan-persoalan yang muncul saat itu.<br />
Tekad untuk melaksanakan pembangunan ekonomi yang kontinuitas hanya bisa dijamin oleh stabilitas dan kokohnya integrasi telah menentukan Orde Baru mengambil langkah politis. Kekhawatiran bahwa agama (Islam) bisa menjadi ancaman dan sumber konflik yang dapat menggangu stabilitas kehidupan politik merupakan pokok persoalan yang menjadi salah satu perimbangan lahirnya kebijakan politik pemerintah terhadap kehidupan umat Islam di Indonesia.<br />
Berbagai kebijaksanaan politik yang bersangkutan dengan kehidupan umat Islam antara lain: Pertama, Fusi partai-partai Islam (NU, PERTI, PSII, dan Parmusi) kedalam satu partai politik yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada tahun 1973, yang diperkuat dengan  UU No. 3 tahun 1975. Usaha ini dipandang sebagai upaya untuk memecah belah kekuatan politik Islam, karena ‘fusi artifisial’ tidak akan membawa persatuan. Sejarah telah membuktikan bahwa PPP hampir tidak pernah luput dari konflik.  Usaha ini juga dipandang sebagai penggiringan umat Islam menjauh dari pentas politik dan mencoba mendesain agama untuk ditempatkan pada peranan pengontrol moral dan etis, yang menjadi bagian dari peranan aktif umat beragama dalam pembangunan.<br />
Selanjutnya, untuk alat kontrol mekanisme kehidupan sosial secara ideologis, maka diberlakukanlah ideologi tunggal Pancasila. Hal itu dilakukan dengan menetapkan pancasila sebagai sumber segala sumber hukum, setelah sebelumnya dilakukan “kampanye” pemasyarakat ideologi pancasila melalui penetapan Pedoman Penghayatan Pengalaman Pancasila atau P4 (Tap MPR No.2 tahun 1978) dan akhirnya penetapan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi seluruh kekuatan sosial politik pada tahun 1983 (Tap MPR No. 2/1983) yang dilanjutkan dengan penetapan UUD No. 3 dan No. 8 tahun 1985.<br />
Pemberlakuan asas tunggal menyulut  protes masal umat Islam. Di Tanjung Priok ribuan umat Islam datang dalam sebuah tabligh Akbar menolak pemberlakuan asas tunggal. Tabligh akbar tersebut disikapi keras oleh pemerintah dengan menerjunkan tentara untuk membubarkan tabligh akbar. Tabligh Akbar akhirnya berujung kerusuhan, beberapa orang meninggal dunia termasuk penceramah  Amir Bikki yang ditembak mati oleh tentara. Sampai sekarang penyelesaian kasus ini tidak jelas rimbanya.<br />
Buntut kasus Tanjung Priuk, tanggal 4 Oktober 1984 Bank BCA di tiga tempat yakni BCA Pecenongan Jakarta Barat, BCA Komplek Pertokoan Glodok dan BCA Gajah Mada diledakkan oleh beberapa anggota Gerakan Pemuda Ka’bah—sebuah organisasi kepemudaan yang merupakan under brow partai PPP—sebagai protes atas tragedi Tanjung Priok. Kasus ini pula yang mengantar  AM.Fatwa dan HM Sanusi mendekam dalam penjara.<br />
Tidak sampai disana saja, beberapa kejadian lain sebagai bentuk protes atas kasus Tanjung Priuk adalah diledakkannya Candi Borobudur oleh Mubaligh Ali al Habsyi pada 20 Januari 1985. Selang beberapa bulan tepatnya 16 Maret 1985, seorang jamaah Majlis Taklim di Jawa Timur bernama Abdul Kadir al Habsy juga meledakkan sebuah Bus Pemudi Ekspress di Banyuwangi dengan menggunakan bahan TNT batangan PE 808, juga sebagai protes atas kasus Tanjung Priok dan pemberlakuan asas tunggal.<br />
Depolitisasi Kampus dan Generasi Baru Islam  Fundamentalis.<br />
Dalam upayanya melancarkan program trilogi pembangunan, orde baru berupaya membungkam gerakan kritis mahasiswa dengan malakukan kebijakan depolitisasi kampus. Kebijakan ini dijalankan melalui departemen Pendidikan dengan memberlakukan program NKK/BKK. Dengan NKK/BKK, Orde Baru berharap mahasiswa mengalami proses pengerdilan berpikir dan pembonsaian visi dan ideologi.<br />
Era 80 an memang merupakan masa sulit bagi gerakan-gerakan mahasiswa. Birokrasi kampus, yang merupakan representasi negara orde baru, mengawasi dan mengontrol setiap kegiatan mahasiswa di dalam kampus. Mereka mengiliminasi kegiatan-kegiatan yang secara tidak langsung berhubungan dengan politik dan pergerakan mahasiswa. Infra struktur politik mahasiswa seperti dewan mahasiswa, perploncoan, dan pres kampus dihapuskan atau diubah fungsinya, tidak lagi mandiri ditangan mahasiswa.<br />
Di tengah iklim politik kampus dan nasional yang tidak menguntungkan memaksa para mahasiswa-khususnya mahasiswa muslim—untuk mencurahkan aspirasi mereka dengan mengelar diskusi-diskusi di masjid. Masjid menjadi bengkel utama menumpahkan kegundahan dan kegelisahan fikiran mahasiswa.<br />
Adalah Imdadun Abdurrahim, matan ketua Pengurus Besar  Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (PB LDMI)  pada era 60 an dan Sekjen International Islamic Federation of Student Organization (IIFSO)  menyusun konsep pengkajian keislaman di Masjid Salman. Konsep inilah yang kemudian menjadi model dan berkembang di seluruh masjid kampus di Indonesia dengan melahirkan Gerakan Tarbiyah. Gerakan ini melalui alumni-alumni salman mengepakkan sayap de daerah-daerah lain seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, medan, bahkan sampai ke Malaysia dan Australia. Pada masa-masa berikutnya,  gerakan ini tumbuh di perguruan tinggi umum  di Indonesia dari Aceh hingga Irian Jaya.<br />
Gerakan Tarbiyah ini sangat mirip dengan gerakan Ikhwanul Muslimin di Timur Tengah, baik dalam pemikiran maupun sistem Organisasi. Watak keagamaan gerakan ini meski tidak radikal namun secara ideologis, kelompok ini secara keseluruhan menganut paham salafi radikal, yang berorientasi pada penciptaan kembali masyarakat salaf dengan cara-cara non kompromistis dan skriptualis.  Pertemuan Gerakan Tarbiyah dengan pemikiran Ikwan, menurut Imdadun dibawa oleh Imdadun Rahmad dan alumnus LIPIA Jakarta yang pernah langsung berinteraksi dengan aktivis-aktivis Ikwanul Muslimin di Timur Tengah.  Dengan tampilannya yang terlihat a politis, gerakan ini selamat dari pembredelan pemerintahan Soeharto. Bahkan di akhir tahun 1990 an kelompok ini diakomodir oleh pemerintah dalam wadah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)<br />
Gerakan ini setelah kejatuhan Soharto membentuk Partai Politik dengan nama Partai Keadilan (PK). Kendati tidak lulus elektroral treshort untuk berkompetisi dalam pemilu tahun 2004, namun dalam pemilu 1999  PK berhasil mendudukkan 7 calonnya di lembaga legislatif. Dalam pemilu 2004, PK Berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS dengan jargon-jargon bersih dan pedulinya, ternyata mampu mengambil hati masyarakat luas Indoenesia. Hasilnya dalam pemilu 2004 suara PKS melambung tinggi, bahkan bisa mendudukan ketua partainya Hidayat Nurwahid menjadi ketua MPR saat ini. Pamor PKS tidak berhenti disana saja, lewat momen-momen Pemilihan kepala daerah, beberapa kader PKS tampil sebagai pemenang. Pemilihan Walikota Depok dimenangkan oleh Nur Mahmudi—mantan ketua umum PK, di Bekasi dan Serang juga dimenangi oleh kader PKS, pilkada gubernur Banten juga hampir-hampir menempatkan kader mereka menjadi gubernur, sayang Zul harus kalah dari Ratu Atut dengan selisih yang tipis.</p>
<p>Salah satu faktor lain yang ta bisa dinafikan berperan penting dalam menyumbang kekecewaan umat Islam terhadap pemerintah adalah dengan diberlakukannya kebijakan kontrol ketat atas dakwah Islam. Orde Baru barang kali masa yang sulit bagi berkembangnya gerakan dakwah Islam di Indonesia. Kebijakan yang ketat memaksa seorang Dai harus mengantongi ijin dakwah dari pemerintah dan militer setiap kali ingin melakukan dakwah. Sensor yang ketat juga diberlakukan terhadap materi ceramah para Dai, sehingga tidak terdapat materi yang mengganggu setabilitas nasional maupun lokal. Bagi para Dai yang sedikit Mbeling, dingginya jeruji besi nampaknya akan menjadi hadiah mereka.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Rangsangan Eksternal</strong><br />
Konflik Timur Tenga dan Aliansi Tak Sici; Benih Subur Radikalisme Lokal<br />
Kemajuan pesat teknologi dan informasi di abad ke 20 ini sangat terasa sekali manfaatnya bagi semua manusia. Orang tidak lagi harus menempuh waktu lama untuk pergi haji atau pergi ke Amerika, cukup dengan hitungan jam, berkat ditemukannya pesawat terbang. Begitu juga dengan bidang Informasi. Kita tidak perlu repot-repot pergi ke Old Traford untuk menyaksikan Mencester Unitet berlaga di lapangan hijau.,  kita cukup duduk manis di depan pesawat televisi sambil menikmati segelas kapucino. Teknologi  memudahkan setiap orang untuk  mengakses informasi dari seluruh penjuru dunia hanya dengan duduk di depan internet atau televisi.<br />
Perkembangan luar biasa teknologi telah menghilangkan—atau paling tidak mengecilkan—fakta geografis dan teritorial bagi setiap orang. Kejadian yang terjadi di suatu daerah tertentu  bisa jadi direspons oleh orang di daerah lainnya. Begitu pula konflik kepanjangan Timur Tengah antara Israel vs Arab atau Israel vs Palestina atau juga konflik Afganistan vs Soviet yang telah mengorbankan ribuan nyawa,  dengan cepat mengundang keprihatinan luar biasa masyarakat dunia khususnya umat muslim di Indonesia.<br />
Agresi Soviet atas wilayah Afganistan di tahun 1978 merupakan medan magnet yang mampu menyedot ribuan relawan perang dari penjuru dunia untuk membantu Afganistan mengusir agresor Rusia yang Komunis. Di tempat bernama Pashwarlah perlawanan gerakan ini diorganisir.<br />
Dibalik pengiriman para relawan perang sejatinya terjalin aliansi tak suci antara tiga negara AS, Arab Saudi dan Pakistan. AS berperan sebagai penyumpali dana, senjata dan memberikan pelatihan militer. Arab Saudi berperan menyuplai dana dan relawan, sementara Pakistan berperan dan pengorganisasian di lapangan. Pakistan berkepentingan terhadap bantuan uang Amerika, semenmtara Amerika berkepentingan untuk mengalihkan perhatian dan energi kalangan Islam fundamentalis yang militan, yang secara potensial sangat anti Barat, untuk melawan blok Soviet yang komunis dan musuh Islam. Sementara Arab Saudi berkepentingan untuk menandingi prestise Iran dikalangan Muslim Fundamentalis dengan mengedepankan jenis fundamentalisme Islam sendiri. sederhananya adalah untuk mempromosikan sebuah fundamentalisme yang dekat dengan aliran Wahabisme, yang merupakan ajaran resmi Arab Saudi, yang anti Syi’ah dan secara sosial bersifat konservatif.<br />
Bisa dibayangkan bagaiman jadinya kota Paswar saat itu, dimana jutaan orang yang berhaluan radikal dari derajat yang sedang hingga yang ekstrim bertemu, berkumpul. berdiskusi dan bertukar pengalaman. Pashar menjadi semacam workshop kaum radikalis untuk mentransmisikan pemikiran antar satu relawan dengan relawan lainnya, juga untuk merumuskan format gerakan radikalisasi internasional pasca kekalahan Soviet.<br />
Benar saja alumni-alumni perang Afgan inilah yang kemudian berperan penting dalam gerakan radikalisme atau terorisme internasional. Gerakan terorisme Indonesia juga tidak bisa dinafikan dari peran penting alumnus perang Afgan tersebut. Pelaku bom Bali I seperti Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra merupakan alumnus perang Afgan.      Buronan paling di cari karena keterkaitannya dengan gerakan terorisme saat ini, seperti Abu Dujana juga alumnus perang Afgan.<br />
Gerakan ini semakin kuat dengan dukungan dana dari luar negeri, khususnya Arab Saudi. Lembaga yang berperan sebagai penyalur dana radikalisasi di Indonesia menurut Ihsan Ali Fauzi salah satunya adalah Yayasan Al- Haramain—yayasan dimana Hidayat Nurwahid juga aktif di dalamny. Yayasan ini bergerak dalam bidang pendidikan, namun tidak sedikit dari dana ini digunakan untuk mendanai kerja terorisme Jamaah Islamiyah (JI).    hal ini terungkap setelah tertangkapnya Agus Dwikarna pada Maret 2001 di Filipina saat membawa tas berisi C4 eksplosif. Agus selain sebagai anggota JI dan operator Al-Qaida juga wakil yayasan Al Haramain di Makasar. Tertangkapnya Omar Al Faruq pada April 2001 menegaskan keterlibatan yayasan ini. Masih menurut Ihsan selain Al Haramain terdapat satu lagi yayasan penyuplai dana para islam radikal, yakni yayasan Darul Istiqomah Al-Haramain di Makasar dan di sebuah kota kecil di Jawa Tenggah.<br />
Selain faktor perang Afgan terdapat beberapa faktor lain yang mempengaruhi arus radikalisasi di Indonesia. Faktor tersebut adalah alumnus Timur Tengah. Sebagaimana diketahui secara umum bahwa kondisi intelektual Timur Tengah era 70 dan 80 an khususnya Mesir dimana kampus Al- Azhar berdiri, dikuasai oleh kaum Fundamentalis mengeser peran kaum liberal.  Para alumnus ini  membawa pulang  pemikiran dan ideologi Ikhwanul Muslimin sepulang mereka ke tanah air. Pemikiran tersebut kemudian di transformasikan lewat gerakan-gerakan dakwah di kampus-kampus. Penterjemahan yang masif tentang karya-karya Al-Bana, Sayyid Qutub, Qordhowi, Maududi maupun tokoh-tokoh Ihkwan lainnya oleh lembaga DDII—peredaran buku-buku kanan tersebut sejak era 70 an hingga saat ini terus membanjiri peredaran buku di Indonesia—juga turut menyumbang amunisi kaum radikal di Indonesia.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Latar Belakang Sosial Aktor </strong><br />
Meski belum ada penelitian serius yang mengupas secara mendalam latar belakang sosial para aktor radikalisme di Indonesia, kiranya pendapat Kepel dan Roy dapat dijadikan pintu masuk untuk memahami gerakan ini. Menurut Kepel ada beberapa kelompok dalam masyarakat modern yang rentan oleh serangan kaum radikalis, mereka adalah anak-anak muda atau tidak terlalu muda yang telah berproses melalui sebuah pendidikan sekular, beserta bias yang kentara terhadap disiplin-disiplin ilmu teknik dan kaum borjuis.   Dengan pemaparan yang hampir serupa Roy menyebut bahwa Sosiologi Islamisme banyak lahir dari kaum muda dengan latar belakang ilmu eksak dan teknik yang orang tua mereka berasal dari pedesaan dan beberapa kalangan elit, bahkan telah merampungkan studi mereka di Barat.<br />
Artinya bahwa latar belakang sosial kaum radikal dapat dijelaskan dengan dua pendekatan: pertama dengan melihat lokus dimana gerakan tersebut tumbuh dan berkembang. Kedua, dengan melihat afiliasi kelas sosial anggota gerakan radikal.<br />
Ditinjau dari tempat, gerakan radikal umumnya merupakan fenomena perkotaan. Ini dapat dibuktikan dari beberapa peristiwa yang dilakukan gerakan radikal terjadi di perkotaan. Beberapa kasus pengeboman baik bom Natal, bom Kedubes maupun bom Bali, misalnya dilakukan di perkotaan. Pengrusakan terhadap tempat-tempat yang disinyalir mempraktikkan kegiatan maksiat yang dilakukan oleh FPI misalnya juga berbasiskan perkotaan.<br />
Sedangkan ditinjau dari afiliasi kelasnya, anggota-anggota gerakan radikal sebenarnya dapat ditemui di semua segmen masyarakat dengan latar belakang kelas sosial yang beragam, mulai dari kelas yang paling atas hingga kelas yang paling bawah. Namun  demikian sebagian besar anggota gerakan radikal terutama para pemimpin mereka berasal dari kelas menegah dan bawah.<br />
Mereka adalah kaum-kaum yang terasing  oleh proses modernisasi. Proses modernisasi yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan mengubah arah kebijakan ekonomi dari yang berbasiskan agrasis berubah dengan berbasiskan industri, mau tidak mau juga turut  merubah karakter sosial masyarakat. Modernisasi yang dipusatkan di perkotaan tersebut, menarik penduduk desa untuk bermigrasi ke kota. Proses ini mengakibatkan meningkatnya populasi penduduk dan terjadinya urbanisasi yang cepat, akan tetapi hal tersebut tidak disertai dengan ketersediaan fasilitas yang mendukung.<br />
Dengan berbagai sebabnya, akhirnya modernisasi perkotaan yang tidak baik atau bahkan gagal, berkontribusi bagi munculnya gerakan radikalisme dengan sejumlah cara. s Sebagian karena kekecewaan masyarakat akan harapan-harapan yang ditimbulkan oleh sebab perpindahan ke kota, ataupun karena hasil pertambahan fasilitas komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi dalam satu lingkungan. Sebagian lain karena persepsi korupsi moral dilingkungan perkotaan yang lebih tinggi dibanding di perdesaan yang kohesif dan secara sosial lebih tradisional.<br />
Bagi mereka modernisasi telah menyebabkan masyarakat semakin terasing dari agamaya, sehingga melahirkan kekeringan Spiritual. Kekalahan menjinakkan modernisme memaksa mereka mencari sandaran pelipur lara. Dalam agamalah kemudian mereka menemukan penawar tersebut.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Gerakan Islam Radikal dan Alternatif-alternatifnya</strong><br />
Radikalisme adalah anak haram yang lahir dari agama. Tak ada agama tanpa radikalisme dan tak ada radikalisme yang tak mengajak agama, oleh karena itu ia selalu dirindu sekaligus dibenci. Radikalisme tak akan pernah bisa dihilangkan dari atas muka bumi ini. Sebab itu, setiap usaha untuk mematikannya hanya akan berakhir pada kegagalan. Upaya yang paling bijak adalah dengan mengakrabinya. Dengan mengakrabi radikalisme kita akan dapat menangkap pesan tersembunyi radikalisme, sehingga dapat mencarikan formula yang tepat untuk menguliti karakter-karakter destruktif gerakan radikal.<br />
Dalam rangka meminimalisir gerakan radikalisme, setidaknya ada tiga faktor yang harus diperhatikan oleh semua pihak,. Ketiga faktor tersebut adalah kebijakan pemerintah, ideologi dan geo politik internasional. Ketiganya saling berkaitan dan berkelindan, sehingga setiap usaha meminimalisir radikalismedengan hanya memfokuskan pada salah satu faktor saja niscaya akan mengalami kegagalan. Langkah pertama yang harus ditempuh adalah menekan tumbuhnya  Islamisme dengan melakukan langkah nyata mewujudkan kesejahteraan.<br />
Temuan Pusat Pengembangan Islam dan Masyarakat (PPIM) dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang melakukan riset diseputar Islam dan demokrasi, dari tahun 2001 hingga 2006 menyuguhkan data menarik tentang meningkatnya jumlah pendukung Islamisme dalam setiap tahunnya.   Islamisme penting dalam memahami radikalisme karena Islamisme berkorelasi secara signifikan terhadap prilaku kekerasan keagamaan di Indonesia.  Artinya bahwa mereka yang mendukung Islamisme adalah mereka yang juga cenderung berpartisipasi dan bersedia terlibat dalam berbagai tindakan kekerasan keagamaan di Indonesia. Islamisme sendiri merupakan suatu paham keyakinan bahwa Islam meliputi keseluruhan hidup manusia.<br />
Islamisme didiskripsikan sebagai Pertama, persetujuan atas pemerintahan Islam di Indonesia (2001; 57,8%. 2002; 67,1%. 2004 dan 2006; 72,2%). Kedua, persetujuan  diberlakukannya  Syari’at Islam (2001; 61,4%. 2002; 70,6%. 2004; 75,5%. 2006; 82,8%) . Meningkatnya dukungan terhadap Islamisme disetiap tahunnya sejatinya menunjukan pesan lain. Yakni pesan tentang kegagalan pemerintah dalam mengelola negara dan cermin ketidak percayaan umat Islam terhadap pemerintah. Ini rasional, sembilan tahun sudah sejak krisis pertama kali muncul masyarakat sampai saat ini belum juga merasakan perubahan yang berarti. Masyarakat semakin dihadapkan pada kehidupan yang sulit karena kenaikan BBM, harga sembako, listrik dan barang-barang lainnya, sementara penghasilan hanya pas-pasan. Bank Dunia mencatat hampir 50% atau sekitar 100 juta penduduk indonesia saat ini berpenghasilan di bawah US$2 atau kurang dari Rp 18.000,-.  Itu artinya bahwa sebagian besar warga kita hidup di bawah ancaman kemiskinan. Masih dijumpainya kasus-kasus kelaparan di beberapa daerah, tingginya angka pengangguran, sempitnya lapangan kerja, maraknya korupsi, seolah semakin meneguhkan pesimisme kita menjadi bangsa Indonesia.<br />
Tidak hanya sampai disana. Republik ini juga mengalami krisis kepemimpinan. Para pemimpin-pemimpin kita—baik di birokrasi, partai, maupun parlemen—tidak bisa bersikap amanah dan terjebak pada pasungan pragmatisme. Ditengah kesusahan rakyat, mereka justru sibuk dengan urusan bagi-bagi laptop atau asik meributkan jatah kekuasaan. Mereka cenderung melupakan kewajiban sebagai pelayan masyarakat.<br />
Dalam kondisi seperti ini kerinduan untuk kembali kepada Islam semakin menggelora. Ini menunjukan bahwa  kekuatan Islam sebagai ideologi alternative tidak bisa dinafikan. Pada waktu tertentu, ketika saluran sosial dan politik masyarakat tersumbat, Islam akan menawarkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi.<br />
Keseriusan pemerintah untuk melakukann perbaikan diseluruh sektor, baik terkait ekonomi, politik, sosial, budaya, kemanan maupun hukum adalah sebuah haraga mati. Keberhasilan pemerintah dalam pengelolaan negara berarti mempersempit ruang gerak radikalisme beroprasi, dan kegagalan pemerintah berarti menyuburkan radikalisme.<br />
Tingginya dukungan terhadap ide-ide Islamisme—sebagaimana disinggung di atas, ternyata tidak diiringi oleh dukungan terhadap organisasi-organisasi yang memperjuangkan Islamisme. Dukungan terhadap Hizbuttahrir hanya sebesar 3,3%, MMI sebesar 11% dan FPI sebesar 16,9%. Dukungan terbesar justru diberikan masyarakat kepada organisasi-organisasi seperti NU; 71% dan Muhamadiyah; 54%.<br />
Hal itu tentu menggembirakan, NU dan Muhamadiyah sebagai organisasi keagamaan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat bawah ternyata masih dipercaya oleh masyarakat. Hal tersebut menunjukan bahwa kerja NU dan Muhamadiyah selama ini besar dirasakan manfaatnya. Melalui kerja konkrit NU dan Muhamadiyahlah harapan mengikis pandangan Islam yang skriptualis-legaitik dan formalistik dimasyarakat digantikan  dengan pandanmgan Islam yang substantif di sandarkan.<br />
Radikalisme Indonesia terkait erat dengan peristiwa-peristiwa di Timur Tengah. Untuk itu pemerintah Indonesia dituntut untuk lebih berperan aktif dikancah internasional, baik melaui PBB maupun Organisasi OKI. Sampai saat ini kita terlihat tidak terlalu antusias membantu terwujudnya perdamaian abadi di Timur Tengah. Keterlibatan aktif Indonesia dalam menyelesaikan krisis Timur Tengah diharapkan dapat mengambil hati umat Islam.  Indonesia sebagai negara muslim terbesar ternyata juga perduli dengan kondisi saudara-saudara mereka di Timur Tengah. Prakarsa Bogor terkait persoalan Irak, merupakan langkah maju yang luar biasa. Namun sayang langkah maju tersebut dinodai dengan ikut sertanya Indonesia mengesahkan Resolusi PBB terkait nuklir Iran. Keputusan tersebut kontan menuai kritik dari umat Islam Indonesia secara luas.<br />
Pertemuan Dubes Arab Saudi dengan presiden SBY pada awal maret lalu bisa dijadikan titik masuk menekan radikalisme di Indonesia. Karena dari pertemuan tersebut akan dijalin sebuah kerjasama antara Arab Saudi – Indonesia dalam pengembangan dan penyebaran pendidikan serta pemikiran Islam yang moderat. Menurut Dubes Arab Saudi bahwa pengembangan pemikiran Islam radikal dinilai justru dapat merusak dakwah dan pemikiran Islam sendiri.  Meski secara pribadi saya meragukan,&#8211;melihat karakter Islam Arab Saudi yang Wahabis tersebut—tapi apa boleh buat, kesempatan telah diberikan kepada kita, kenapa tidak sekalian  kita mainkan saja. Hubungan baik dengan Arab Saudi juga dapat kita manfaatkan untuk menekan Arab Saudi untuk tidak lagi mengucurkan dana mereka kepada kelompok-kelompok radikal. Saya percaya bahwa ketika donasi Arab Saudi di putus, gerak dan aktifitas para radikalis akan semakin terbatas.<br />
Yang tak kalah penting adalah pengawasan ketat terhadap para veteran perang Afgan. Keterlibatan veteran perang Afgan dalam setiap kasus terorisme di Indonesia tak dapat dihindari. Amrozi, Imam Samudara, Mukhlas maupun Abu Dujana adalah para veteran perang Afgan. Belajar dari kasus tersebut, pemerintah diharapkan dapat memantau setiap gerak dan aktifitas para veteran lainnya. Sehingga jika tercium ada gelagat yang mencurigakan, aparat militer dapat langsung bergerak cepat meringkus mereka.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Penutup</strong><br />
Berdasarkan pemaparan panjang di atas kiranya terlihat jelas bahwa pertumbuhan dan perkembangan gerakan radikalisme di Indonesia sangat terkait dengan sejumlah faktor yang berlaku di kalangan masyarakat Indonesia secara umum. Faktor tersebut tidak semata-mata faktor agama, kedati agama diakui menyumbang peran penting dalam prilaku kekerasan keagamaan, namun aia menjadi sesuatu yang tidak berguna tanpa dukungan dari faktor-faktor lainnya, baik itu bersifat sosial, politis maupun geo politik internasional.   Dan bila demikian halnya, masa depan gerakan Islam ini juga bukan tidak mungkin ada, sejauh sejumlah faktor-faktor pendukungnya memang eksis. Namun itu berarti bahwa gerakan radikalisme indonesia tanpa perlawanan, ia juga akan selalu menuai perlawanan-perlawanan dari kelompok lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/analisis/mengakrabi-radikalisme/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Ilmu Tauhid bag;2</title>
		<link>http://tanbihun.com/usulidin/mengenal-ilmu-tauhid-bag2/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/usulidin/mengenal-ilmu-tauhid-bag2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 00:18:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>em.yazid</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Usulidin]]></category>

		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2927</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Tahta Najib Adz in KSA
Sesungguhnya pengertian dalam ilmu tauhid adalah sesuatu yang asasi dan prinsipil sekali dalam setiap kehidupan manusia sebab tauhid bisa menjadi landasan bagi setiap amal yang di kerjakan  manusia baik muamalah maupun munakhahah.Hanya amal yang di landasi dengan tauhidlah, menurut tuntunan islam yang akan menyampaikan manusia kepada kehidupan yang baik dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tahta Najib Adz in KSA<br />
<img class="alignleft" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/01/13arrad.jpg" alt="" width="320" height="300" />Sesungguhnya pengertian dalam ilmu tauhid adalah sesuatu yang asasi dan prinsipil sekali dalam setiap kehidupan manusia sebab tauhid bisa menjadi landasan bagi setiap amal yang di kerjakan  manusia baik muamalah maupun munakhahah.Hanya amal yang di landasi dengan tauhidlah, menurut tuntunan islam yang akan menyampaikan manusia kepada kehidupan yang baik dan bahagia hakiki di alam Akhirat nanti,karena hal ini telah terungkap dalam sebuah firman allah SWT dalam QS:An-nhhl:97.<br />
{Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh,baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman,maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan  yang  baik,dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik lagi dari apa yang telah mereka kerjakan.</p>
<p>Mengingat pentingnya peranan tauhid dalam kehidupan manusia,maka hal ini mejadi sebuah kewajiban bagi setiap orang untuk mempelajarinya.Tauhid tidak hanya sekedar mengenal dan memahami bahkan mengerti bahwa pencipta alam seisinya adalah allah,tidak hanya sekedar tahu bukti-bukti rasional akan kebenaran wujudNya(adaNya)juga wahdaniyahNya(Keesaan-Nya)dan bukan pula sekedar mengenal Asma dan sifatNya.<br />
Sebuah logika yang bisa kita tangkap dengan akal adalah ketika Iblis mempercayai bahwa Tuhannya adalah Allah bahkan dia mengakui  akan keesaan-Nya dan kemahakuasaan Allah dengan permintaanya kepada Allah melalui Asma dan sifat Allah.Kaum jahiliyah kuno yang dihadapi Rasulullah SAW juga meyakini bahwa Tuhan Pencipta,pengatur,pemelihara dan penguasa alam semesta ini adalah Allah,Namun kepercayaan mereka dan keyakinannya itu belum bisa menjadikan sebagai makhluk muslim,yang beriman kepada Allah SWT.Kalau demikian adanya,lalu apakah hakekat tauhid itu?<br />
Tauhid adalah pemurnian ibadah kepada allah dengan cara menghambakan diri kepada allah secara murni dan konsekwen,dengan mentaati segala perintahNya dan menjahui segala bentuk larangan-Nya dengan penuh rasa rendah diri dan penuh rasa cinta kepadanya.Untuk inilah sebenarnya manusia itu di ciptakan Allah.Dan untuk  menegakkan tauhid dengan pengertian tersebut sesungguhnya para rasul diutus Allah baik mulai dari rasul pertama hingga rasul terakhir yakni Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>Tentu saja sebuah usaha pemurnian  tauhid tidak akan tuntas dengan menjelaskan makna tauhid saja,tetapi perlu juga diserti dengan menjelaskan tentang berbagai hal yang dapat merusak atau menodai tauhid itu sendiri.Untuk itu penulis berusaha pada pasal-pasal selanjutnya ingin menjelaskan berbagai macam bentuk tindakan dan perbuatan yang dapat merusak tauhid dan menodai kemurniannya.</p>
<p>Apa yang diharapkan penulis bukanlah sekedar kita mengerti dan memahami, tapi lebih daripada itu,kita harus punya sikap dan pandangan hidup yang tercermin dalam keyakinan,tuturkata dan amalan dan semoga kita dapat mewujudkan ibadah kita kepada Allah dengan Ikhlas dan murni</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/usulidin/mengenal-ilmu-tauhid-bag2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Merevolusi Negeri Para Maling</title>
		<link>http://tanbihun.com/analisis/merevolusi-negeri-para-maling/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/analisis/merevolusi-negeri-para-maling/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 23:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>em.yazid</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Analisis]]></category>

		<category><![CDATA[korupsi]]></category>

		<category><![CDATA[koruptor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2917</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Akhmad &#8220;Elang&#8221; Muttaqin
&#8220;Sebab utama korupsi adalah nafsu untuk hidup mewah melalui jalur pintas. Korupsi yang dilakukan pada level atas akan menyebabkan kesulitan-kesulitan ekonomi dan kesulitan-kesulitan ini pada gilirannya membangkitkan korupsi yang lebih lanjut. Justru karena itu pemberantasan korupsi harus dimulai dari akarnya, yaitu pada level atas dan penanggulangannya harus pula melibatkan komponen bangsa&#8221;
(Ibnu khaldun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2918" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a href="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/03/awas-korupsi.jpg"><img class="size-full wp-image-2918" title="awas-korupsi" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/03/awas-korupsi.jpg" alt="awas-korupsi" width="360" height="394" /></a><p class="wp-caption-text">Bravo Indonesia, Ganyang Korupsi !!!</p></div>
<p>Oleh: Akhmad &#8220;Elang&#8221; Muttaqin</p>
<p><em>&#8220;Sebab utama korupsi adalah nafsu untuk hidup mewah melalui jalur pintas. Korupsi yang dilakukan pada level atas akan menyebabkan kesulitan-kesulitan ekonomi dan kesulitan-kesulitan ini pada gilirannya membangkitkan korupsi yang lebih lanjut. Justru karena itu pemberantasan korupsi harus dimulai dari akarnya, yaitu pada level atas dan penanggulangannya harus pula melibatkan komponen bangsa&#8221;</em><br />
(Ibnu khaldun 1332-1406 M)</p>
<p>Hidup di tengah masyarakat yang kompleks tentunya tidak pernah lepas dari munculnya gejala-gejala sosial. Korupsi adalah salah satu di antara gejala-gejala sosial tersebut. Sebagai gejala sosial maka keberadaan korupsi merupakan masalah yang cukup kompleks. Kompleks karena korupsi memiliki kaitan dengan aspek-aspek kehidupan manusia lainnya seperti politik, ekonomi, hukum maupun budaya. Korupsi sebagai penyakit sosial atau lebih dikenal dengan patologi sosial, keberadaannya sejajar dengan penyakit-penyakit sosial lainnya yang merugikan masyarakat. Namun demikian, korupsi berbeda dengan penyakit sosial lainnya, karena korupsi memiliki sifat yang mudah menyebar dari lefel elit sampai ke struktur masyarakat paling bawah. Korupsi dapat menyebabkan hancurnya moral sebuah bangsa, juga dapat meruntuhkan bangunan kekuasaan. Ferdinan Marcos dari Filipina misalnya, terpaksa harus terjungkal dari kursi kekuasaannya, karena skandal korupsi.<br />
Rezim Orde Baru yang sudah berkuasa hampir 32 tahun di Indonesia, harus tumbang oleh gelombang reformasi, juga berakar dari permasalahan korupsi yang sudah akut. Sayang reformasi yang digawangi para mahasiswa dan diharapkan mampu membawa perubahan cukup signifikan, ternyata tidak dapat dengan sendirinya menghilangkan korupsi di republik tercinta ini. Paradoksnya, reformasi justru menjadi pupuk bagi tumbuh suburnya korupsi. Simak saja celotehan para humoris ketika menggambarkan korupsi di Indonesia &#8220;korupsi masa Soeharto dilakukan di bawah meja, masa Habibie dan Gus Dur dilakukan di atas meja, masa Megawati, sampai meja-mejanya pun dikorupsi&#8221;.<br />
Terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden RI ke-enam, melalui pemilihan langsung pertama, yang berjalan dengan sangat demokratis, membawa agin segar bagi pemberantasan korupsi di negeri ini. Beberapa gebrakan langsung dilakukan oleh pemerintah SBY, sebagai komitmennya membrantas korupsi. Beberapa tim pun dibentuk, instruksi-intruksi di keluarkan guna mempercepat pemberantasan tindak pidana korupsi. Hasilnya cukup menggemberikan, KPK yang satu tahun lalu tidak terlihat kinerjanya, sekarang mulai unjuk gigi. Tidak tanggung-tanggung, kasus mega korupsi di tubuh Komisi Pemilihan Umum di bongkar, setelah sebelumnya menangkap gubernur Aceh Abdullah Puteh, disusul kemudian penangkapan pengacara Puteh, yang terbukti sedang melakukan transaksi dengan wakil ketua panitera Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.<br />
Kejaksaan juga terlihat mulai bergeliat, skandal korupsi kredit macet Bank Mandiri yang merugikan negara triliunan rupiah dan korupsi menyangkut Dana Abadi Umat Departemen Agama di bongkar. Hasilnya beberapa Dirut Bank Mandiri ditangkap, menyusul kemudian mantan menteri agama yang juga mantan rektor IAIN Jakarta, Said Aqil Husain al-Munawar dijadikan tersangka dalam kasus tersebut.<br />
Sejatinya terbongkarnya beberapa kasus korupsi di KPU, Depag maupun terbongkarnya jaringan mafia peradilan, membawa angin segar bagi prospek penegakan hukum di Indonesia, setidaknya hukum tidak lagi dipandang seperti golok yang tajam dan sanggup memotong apa saja jika diayunkan ke bawah tapi tumpul jika diayunkan ke atas. Di sisi lain terbongkarnya kasus-kasus korupsi tersebut mengandung sejuta tanya, sudah parahkah korupsi di negeri ini, sehingga mereka yang didaulat sebagai resi pencerdas generasi bangsa, mereka para penjaga moral bangsa harus ikut terjerumus melakukan tindakan kotor bernama korupsi. Celakanya lembaga yang diharapkan menjadi benteng terakhir bagi penegakan hukum sudah tidak bisa diandalkan, karena sudah tercemar virus korupsi. Mungkin benar, bukan hanya isapan jempol atau sekedar dongeng menjelang tidur, kalau Indonesia disebut-sebut sebagai surganya para koruptor dan negeri para maling. Kenapa korupsi bisa tumbuh begitu subur di negeri yang mayoritas rakyatnya terkenal relegius ini?<br />
Pertanyaan kecil tersebut yang mengantar saya mencoba menulis tulisan kecil ini. Tulisan ini menggunakan pendekatan studi analisis deskriptif. Deskriptif artinya mencari fakta lewat interpretasi yang tepat dengan maksud membatasi deskripsi, gambaran secara sistematis, faktual dan akurat, tentang fakta-fakta, sifat-sifat, serta relasi antar fenomena yang diselidiki.  Pertama-tama saya berharap dapat mengungkap kompleksitas masalah korupsi di Indoinesia, dengan sedikit memaparkan sejarah korupsi untuk kemudian menafsirkanya dalam kerangka teori yang digunakan dalam tulisan ini. Setelah mendapat gambaran tentang kompleksitas permasalahan korupsi, maka perhatian tulisan saya akan di fokuskan tentang bagaimana taktik dan strategi pemberantasan korupsi, urgensinya bagi penegakan hukum serta terciptanya keadilan bagi tegaknya sebuah negeri ideal. Negeri yang oleh Plato disebut sebagai Filusuf-Raja. Negeri yang dipenuhi kebaikan dan kebajikan-kebajikan, sebuah negeri yang bersendikan keadilan, kearifan, keberanian dan pengendalian diri dalam menjaga keselarasan dan keserasian negara, sehingga dapat mengupayakan kesenangan dan kebahagiaan hidup rakyat, yang berujung pada tercapainya kesejahteraan rakyat.<br />
Studi ini mendasarkan diri pada penelitian kepustakaan, baik dari sumber-sumber primer maupun sumber skunder. Yang pertama terdiri dari karya-karya yang ditulis oleh para intelektual dan laporan jurnalistik, sedang yang kedua mencakup publikasi-publikasi ilmiah lainnya tentang korupsi.<br />
&#8212; *** &#8212;<br />
Akhir tahun 2004 lalu Transparancy International (TI), sebuah lembaga yang konsen pada penelitian masalah korupsi, mengumumkan penelitian terbaru mereka tentang  negara terkorup di dunia. Dalam laporan tersebut, Indonesia kembali menempati angka lima besar dari 146 negara, sejajar dengan negara Angola, Pantai Gading, Georgia, Tajikistan dan Turkmenistan.<br />
Pada awal Maret 2005, lembaga PERC (Political and Ekonomic Risk Consultaty) yang berpusat di Hongkong, mengumumkan hasil penelitiannya tentang negara terkorup di Asia di mata pebisnis Asia. Hasilnya tidak begitu mengejutkan, Indonesia kembali menjadi pemenang diurutan pertama dengan sekor 9,25 disusul negara India dengan 8,9, Vietnam dengan 8,67, Thailand, Malaysia dan Cina dengan skor 7,3, serta menempatkan Singapura dan Hongkong sebagai negara terbersih.  Awal Juni 2005, lembaga yang sama juga mempublikasikan penelitiannya tentang korupsi peradilan di Asia. Hasilnya lagi-lagi Indonesia menempati posisi puncak dengan nilai 8,5 naik 0,4% dari tahun sebelumnya yang hanya 8,1.<br />
Tidak salah rasanya, berdasar penelitian-penelitian di atas bila Indoensia dinamakan negara kleptokrasi.  Sebuah negara yang dalam praktik penyelenggaraan pemerintahannya ditandai oleh keserakahan, ketamakan dan korupsi yang merajalela. Dengan kata lain korupsi di Indonesia bukan lagi sekedar penyakit sosial elitis yang menjangkiti para pejabat elit pemerintah, melainkan sudah menjadi penyakit sistemik, di mana setiap individu di dalam sistem terjangkit penyakit serupa. Dengan kata lain pula, bahwa korupsi di Indonesia bukan lagi fact of life, yaitu tindakan penyimpangan norma yang dilakukan individu, melainkan sudah menjadi way of life. Di mana korupsi terjadi secara tidak terkontrol disemua lini, bukan lagi penyimpangan norma, melainkan telah menjadi norma itu sendiri.<br />
&#8212; *** &#8212;<br />
Korupsi berasal dari bahasa latin Corruptio atau Corrupts, selanjutnya Corruptio berasal dari kata Corrumpere, bahasa latin yang lebih tua. Dari kata tersebutlah akhirnya banyak turun keberbagai bahasa di Eropa, seperti Inggris Corruption, Corrupt. Prancis, Corruption dan Belanda Corruptie. Dari bahasa Belanda inilah kemudia timbul kata korupsi. Arti harfiah kata ini adalah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian.  Sedang korupsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai perbuatan yang buruk (seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogokan dan lain-lain). Untuk mendapat gambaran yang lebih komperhensif tentang korupsi, Syed Hussein Alatas menjelaskan tentang ciri-ciri korupsi sebagai berikut:<br />
a)    Suatu penghianatan terhadap kepercayaan.<br />
b)    Penipuan terhadap badan pemerintah, lembaga swasta atau masyarakat umum.<br />
c)    Dengan sengaja melalaikan kepercayaan umum untuk kepentingan khusus.<br />
d)    Dilakukan dengan rahasia, kecuali dalam keadaan di mana orang-orang yang berkuasa atau bawahannya menggangap tak perlu.<br />
e)    Melibatkan lebih dari satu orang atau pihak.<br />
f)    Adanya kewajiban dan keuntungan bersama dalam bentuk uang atau lainnya.<br />
g)    Terpusatnya kegiatan (korupsi) pada mereka yang menghendaki keputusan yang pasti dan mereka yang dapat mempengaruhinya.<br />
h)    Adanya usaha untuk menutupi perbuatan korupsi dalam bentuk pengesahan hukum.<br />
i)    Menunjukan fungsi ganda yang kontadiktif pada mereka yang melakukan korupsi.<br />
Berdasar pengertian-pengertian tersebut di atas, korupsi dapat diartikan sebagai pencurian melalui penipuan dalam situasi yang mengianati kepercayaan atau penyalahgunaan kepercayaan untuk kepentingan pribadi.<br />
Korupsi sebenarnya bukan barang baru bagi masyarakat modern sekarang ini, karena korupsi yang sekarang terjadi sudah banyak dilakukan pada masa lalu. Dalam sejarah Mesir, Babilonia, Ibrani, India, Cina, Yunani maupun Romawi Kuno, korupsi seringkali muncul kepermukaan sebagai masalah. Hamurabi dari Babilonia yang naik tahta pada + 200 SM, pernah memerintahkan kepada seorang gubernur provinsi untuk menyelidiki suatu perkara penyuapan. Shamash seorang raja Ashina +200 SM, juga pernah menjatuhkan pidana kepada seorang hakim yang menerima suap.  Di India korupsi sudah dilakukan oleh sekurang-kurangnya sejak 1000 tahun sebelum Isa.  Di Romawi Kuno praktik korupsi sudah ada semasa pemerintahan Gaius Veres (115-43 SM), seorang gubernur wilayah Sisilia, yang dinilai sebagai korupsi terbesar saat itu.  Di Cina, korupsi pernah terjadi pada 74 SM, yang dilakukan oleh Yennin, seorang menteri pertanian pada masa kekaisaran Cina Kuno.<br />
Sejarah korupsi bangsa Indonesia, menurut banyak akademisi, berawal sejak Indonesia masih berupa kerajaan-kerajaan feodalis, yang tersebar dari ujung Sabang sampai Merauke. Kerajan-kerajaan feodalis tersebut menerapkan sistem birokrasi Patrimonial. Sebuah sistem yang tidak mengenal pemisahan antara lingkup pribadi dan lingkup resmi. Sehingga seorang pejabat dalam pelaksanaan pemerintahannya menganggap sebagai urusan pribadi sang pejabat dan kekuasaan politikpun dianggap sebagai bagian milik pribadinya. Konsekwensinya, kekuasaan politik dapat digunakan oleh pejabat sebagai alat eksploitasi untuk memenuhi kebutuahan pribadi dengan cara menarik upeti atau sumbangan, atau dengan kata lain sistem tersebut menelurkan konsepsi rulling clas, di mana seorang pejabat-penakluk suatu wilayah-berhak menarik apapun dari setiap orang yang tinggal di wilayah taklukannya. Rakyat dalam hal ini tidak dapat menolak, karena merasa sudah menjadi kewajibannya, meskipun dalam hati mengeluh.<br />
Birokrsi patrimonial juga memperbolehkan jual beli suatu jabatan. Di kerajaan Mataram bahkan mengenal Venality of Office di mana setiap orang dapat memperoleh jabatan-jabatan penting dengan cara membelinya. Pada awal abad ke 19, jabatan Bupati Madiun misalnya, dibeli dengan 10.000 real oleh Prawira Diningrat anak seoarang bandit, dari sultan Yogyakarta.  Praktek jual beli jabatan inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh VOC untuk membangun kekuatan politik bukan sekedar kekuatan ekonomi, sebagaimana tujuan awal kedatangan mereka. Kedatangan penjajah Belanda dan Jepang menggantikan VOC meneruskan kembali sistem tersebut, meskipun dengan wajah berbeda namun dengan nafas yang sama, yaitu sistem birokrasi yang mengabdi kepada kekuasaan.<br />
Penjajahan panjang berabad-abad telah membuat bangsa kita berada dalam jurang kegelapan. Namun yang sangat menyedihkan dan menyakitkan adalah para penjajah itu mewariskan mental-mental korup, mental pengabdi kekuasaan kepada para pemimpin-pemimpin kita di masa kemerdekaan. Hasilnya, kemerdekaan tidak serta merta menjamin perbaikan nasib bangsa ini, karena bangsa ini dipimpin oleh mereka yang selama ini dididik dengan mental penjajah. Krisis demi krisis menghampiri bangsa ini, Soekarno dengan demokrasi terpimpinnya telah membawa bangsa ini mendekati jurang kehancuran, pemotongan mata uang (sanering) yang mengantar kejatuhan Soekarno merupakan akibat dari korupsi yang melanda saat itu.<br />
Berdirinya Orde Baru, ternyata juga tak menyelesaikan masalah, hanya melanjutkan dinasti-dinasti korup sebelumnya. Bahkan rezim ini telah membawa bangsa ini di titik nol, sebuah bangsa yang tidak beradab, tidak mengenal norma, sehingga tidak bisa memisahkan mana yang baik dan mana yang buruk. Soeharto dengan orde barunya tampil sebagai Gainus Veres Romawi di abad modern, yang merampok uang rakyat dengan memprakarsai korupsi kepresidenan. Pendek kata Soeharto berhasil menciptakan lingkaran setan korupsi yang menyebar dan mempengaruhi birokrasi pemerintah, maupun swasta, dari atas hingga bawah, dengan ia sendiri sebagai poros utamanya. Ini pulalah yang menjadi penyebab tumbangnya rezim yang telah berjaya selama 32 tahun.<br />
Kejatuhan rezim orde baru yang melahirkan orde reformasi ternyata tidak membawa pelajaran berharga bagi para penggantinya. Ini tak heran karena selama ini mereka didik dengan sistem politik yang sama, dengan sistem penyelenggaraan pemerintahan yang sama, maka korupsi bukanya berkurang, tapi makin meraja lela dan bertambah, baik dari segi uang yang diambil maupun dari segi pelakunya serta dampaknya.<br />
&#8212; *** &#8212;<br />
Berkembang pesatnya korupsi di Indonesia bukannya tanpa perlawanan berarti. Perang terhadap korupsi sudah sejak lama dilakukan, beberapa peraturan perundang-undangan telah disusun. Peraturan tertanggal 16 April 1958 No. Prt/PePerpu/CB/1958 tentang sistem pendaftaran harta benda pejabat oleh Badan Penilik Harta Benda dan peraturan tentang pengajuan gugatan perdata berdasar perbuatan melanggar hukum bagi orang yang mempunyai harta benda yang tidak seimbang dengan pendapatan, tetapi tidak dapat dibuktikan secara pidana, di mana gugatannya langsung ke pengadilan tinggi.  Disusul dengan keluarnya Undang-undang No. 24 (Prp) tahun 1960, UU No.3 tahun 1971 dan UU No. 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, yang lahir pasca reformasi.<br />
Selain undang-undang maupun keputusan-keputusan lain era Soeharto, tim atau komisi juga dibentuk untuk memberantas korupsi. Tim pemberantasan korupsi tahun 1960 di bawah Jaksa Agung atau komisi 4 yang terdiri dari Wilopo, Kasimo, Johanes, Anwar Tjokroaminoto, May Jen Sutopo, dan Bung Hatta sebagai penasehat tim.  Di era reformasi, berbagai peraturan dan komisi dibentuk untuk merespon tuntutan pemberantasan korupsi, namun tetap saja peraturan-peraturan maupun komisi-komisi yang dibentuk belum mampu menjebol benteng kokoh korupsi. Pertanyaan kemudian muncul, kenapa korupsi begitu susah diberantas dan di mana letak akarnya?.<br />
Menelusuri akar korupsi selalu mengundang perdebatan, karena mencari akar korupsi sama sulitnya menemukan jawaban mana yang lebih dahulu antar telur atau ayam. Ada yang menyebut bahwa akar korupsi adalah kemiskinan, yang lainnya menyebutkan budaya, moral, sistem dan alasan lainnya. Semua alasan di atas mungkin benar, namun mungkin juga salah. Korupsi bisa muncul karena sebuah kemiskinan, banyak kasus membenarkan alasan ini, namun menurut saya ini tidak mutlak, karena tidak sedikit korupsi justru dilakukan oleh mereka yang berada. Korupsi timbul karena faktor budaya, mungkin benar dan siapapun tidak bisa membantah, betapa sejarah bangsa ini sejak zaman kerajaan hingga kini telah akrab dengan korupsi. Namun dikatakan korupsi sebagai sebuah budaya dan akar korupsi tentunya masih bisa diperdebatkan, karena hemat saya korupsi bukan budaya masyarakat, tapi budaya kekuasaan, sebagaimana adagium Lord Actor.<br />
Korupsi muncul karena orang tidak memiliki moral lagi, ini juga tidak sepenuhnya benar. Tengok saja korupsi di lembaga orang-orang bermoral dan penjaga moral bangsa-departemen agama-bahkan lembaga ini justru dikenal sebagai lembaga paling korup di Indonesia. Ada pula yang berargumen bahwa akar korupsi sebenarnya justru karena sistem yang lemah, ini juga tidak 100% benar, nyata banyak produk perundang-undangan dan tim yang dibentuk untuk menangkal tindakan korupsi. Lalu dimanakah sebenarnya letak akar korupsi?.<br />
Mencari akar korupsi sejatinya seperti menguarai benang kusut, sukar sekali menentukan ujungnya. Menurut hemat saya, akar korupsi terdapat di tiga wilayah. Pertama, wilayah individual. Individual di sini dilihat dari sikap, nilai-nilai yang melekat pada seseorang. Sikap dari nilai-nilai itulah yang memegang peranan penting, jika nilai yang dimiliki individu memang sudah rusak, maka korupsi akan mudah masuk, karena dinggap bukan hal yang merugikan dan menjijikan. Namun jika nilai yang melekat pada individu tersebut baik, tentu penyakit korupsi tidak akan mudah hinggap pada pribadi jenis ini. Namun demikian keberadaan individu juga akan kuat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Kemiskinan misalnya, bisa jadi pendorong individu yang baik melakukan korupsi untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Lebih-lebih bagi individu yang rusak, kemiskinan bisa menjadi bensin penggerak melakukan korupsi.<br />
Kedua, wilayah sistem-entah pada wilayah sistem hukumnya atau sistem penyelenggaraan pemerintahan atau birokrasinya. Kredo dasar kaum institusional misalnya menyebutkan bahwa prilaku individu ditentukan oleh sistem. Akibatnya bahwa perilaku korup muncul karena sistem yang ada rapuh dan tidak dapat bekerja secara efektif. Kerapuhan dan ketidak efektifan sistem hukum terdapat di tiga komponennya.  Pertama, komponen struktural, tumbuh suburnya mafia peradilan di lingkungan peradilan misalnya, bisa dilihat sebagai indikasinya. Sehingga orang tidak bisa berharap banyak memperoleh keadilan di sana. Karena hukum hanya menjadi milik mereka yang beruang, akhirnya kuasa uang berbicara di pengadilan. Kasus tertangkapnya pengacara Puteh, Tengku Syaifuddin Puppon, ketika sedang melakukan transaksi dengan wakil ketua panitera Pengadilam Tinggi Jakarta yang menangani kasus Puteh dengan barang bukti uang 250 juta  menggambarkan kerapuhan dan ketidak efektifan sistem yang berlaku di sana. Belum lagi mental korup para jaksa dan hakim dalam menangani kasus-kasus korupsi. Modusnya mereka akan sangat galak dalam tahap awal namun melembek dikemudian, ini tidak lain dilakukan demi mendapat uang suap yang cukup besar dari tersangka, akhirnya tidak sedikit para koruptor yang divonis bebas oleh para hakim. Lepasnya Nurdin Halid beberapa bulan yang lalu serta lepasnya koruptor-koruptor BLBI bisa dijadikan salah satu bukti.  Tragisnya banyak cendekiawan kita yang mau membela koruptor dengan menjadi saksi bayaran atau istilahnya ahli bersaksi, bukanya menjadi saksi ahli untuk membantu pemberantasan korupsi.   Sistem di lembaga kepolisian juga tidak kurang rapuhnya, indikasi kecilnya sudah bisa terlihat sejak perekrutan awal calon polisi. Untuk dapat menjadi seorang polisi, seseorang harus rela merogoh kocek sebesar 25 juta, itu pun belum ada jaminan masuk. Bagaimana menjelasakan hal itu?.<br />
Kedua komponen substantif, di mana produk perundang-undangan yang dihasilkan selama ini justru dijadikan untuk melegalkan kegiatan korupsi. Laporan Masyarakat Transparansi Indonesia yang menganalisa keputusan-keputusan di masa orde baru misalnya, menemukan 140 an peraturan atau keputusan, 50% di antaranya justru digunakan untuk melegalkan korupsi. Produk perundangan pasca reformasi yang diharapkan akan senantiasa garang mendukung upaya pemberantasan korupsi, justru terlihat sangat kental nuansa kompromi politiknya. Korupsi tidak lagi dijadikan agenda utama oleh orang-orang legislatif yang diimplementasikan melalui produk perundangannya, melainkan dijadikan sebagai alat untuk menekan rival-rival politik yang berujung pada  posisi tawar menawar untuk saling mencari selamat.<br />
Ketiga, komponen budaya hukum, kesadaran akan hukum di kalangan masyarakat kita sangat kecil kalau tidak mau menyebut tidak ada sama sekali. Mudah kita temui orang yang merokok di tempat-tempat umum, menyeberang tidak pada tempatnya, bersepeda motor tidak menggunakan helm. Mudah kita temui  dalam pengurusan KTP misalnya, masyarakat banyak yang tidak mau repot dalam birokrasi, mereka lebih memilih terima beres dengan hanya menyerahkan beberapa lembar uang puluhan ribu. Masayarakat tidak sadar-mungkin sebenarnya juga sadar-bahwa apa yang sedang mereka lakukan saat ini sebenarnya sedang memelihara drakula-drakula kecil yang perlahan dan pasti kelak akan menghisap darah dan membunuh kita. Mungkin ini adalah kondisi budaya yang disebut oleh Prof. Satjipto Raharjo sebagai budaya hukum personal, budaya masayarakat yang sedang berkembang.<br />
Adapun ketidak efektifan sistem penyelenggaraan pemerintahan terlihat dengan masih digunakannya birokrasi kekuasaan warisan zaman kolonial. Birokrasi yang berorientasi kepada kekuasaan an sich, yang menempatkan rakyat hanya sebagai pelengkap penderita atau objek kekuasaan. Birokrasi semacam ini hanya melahirkan birokrat-birokrat bermental priyayi nigrat, yang memiliki loyalitas dan pengabdian tinggi pada kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri. Tidak ada catatanya birokrasi semacam ini mengedepankan profesionalisme-kalu toh pun ada, hanya sekedar untuk memperpandai proses perampokan uang rakyat-apalagi mengedepankan moral demi kepentingan rakyat. Akibatnya mutu pelayanan publik berkurang dan menjadi sangat fariatif, tergantung pada besarnya uang suap yang menyertai, semakin besar uang suap maka semakin bagus pula pelayanannya, semakin kecil atau bahkan jika tidak ada uang suap, jangan diharap akan ada pelayanan. Inilah pemandangan setiap hari yang kita hadapi.<br />
Ketika birorasi sudah tidak lagi berpihak kepada rakyat, maka sejatinya akar korupsi ketiga lahir, yaitu wilayah politik di mana tidak adanya kemauan politik (political will) dari pemerintah maupun legislatif untuk memberantas korupsi. Ini juga yang sering kita saksikan sejak negeri ini dipimpin oleh Soekarno hingga jabatan presiden di jabat putrinya Megawati Soekano Putri.<br />
&#8212; *** &#8212;<br />
Taktik dan strategi pemberantasan korupsi<br />
Kesuksesan Hongkong dalam memberantas korupsi mungkin bisa kita jadikan sedikit rujukan, meski bukan bermaksud menyamakan bahkan menyederhanakan masalah. Karena bagaimanapun kondisi korupsi di Hongkong sangat berbeda dengan kondisi korupsi di Indonesai, sebagaimana akan terekam dalam catatan di bawah ini. Sukses ICAC (Independent Commision Against Corruption)  yang didirikan pada Oktober 1973 menggulung korupsi, tidak lain karena ICAC berhasail mengidentifikasi permasalahan korupsi, sehingga memfokuskan diri pada pembersihan lembaga kepolisian sebagai lembaga terkorup di sana. Keberhasilan ICAC juga didukung oleh faktor-faktor lain seperti di bawah ini:<br />
1.    Adanya Political will dari pemerintah untuk memberantas korupsi dengan cara represif maupun prefentif.<br />
2.    Masih terjaganya integritas dan kejujuran para hakim pada waktu ICAC didirikan.<br />
3.    Adanya budget yang sangat besar.<br />
4.    Memanfaatkan semua teknologi canggih dalam melaksanakan semua kegiatan.<br />
5.    Diikutsertakannya masyarakat dalam memberantas korupsi.<br />
Kesuksesan pemberantasan korupsi di Indonesia harus pula menyentuh akar korupsi itu sendiri, maka cara-cara baik represif maupun prefentif harus ditingkatkan, dengan mengutamakan pemberantasan di tingkat atas. Bagi saya keberhasailan pemberantasan korupsi di Indonesia tetap ada pada tangan pemerintah sebagai pemegang kebijakan, sejauh mana kemauan politik pemerintah untuk memberantas korupsi yang sudah sistemik ini. Jika political will tidak dimiliki oleh pemerintah, maka sehebat apapun taktik yang digunakan, hanya akan menemui kebuntuan dan berujung pada kegagalan. Jadi prasyarat utama pemberantasan korupsi di Indonesia adalah kemauan politik  dari pemerintah.<br />
Tindakan-tindakan represif seperti memenjarakan para koruptor terutama koruptor kelas kakap harus menjadi prioritas. Hal ini penting karena akan mempengaruhi psikologis seseorang yang akan melakukan korupsi, dengan kata lain bahwa tindakan represif dengan penangkapan tersebut dapat menimbulkan efek jera yang cukup luas kepada masayarakat.<br />
Selain upaya represif, langkah yang tidak kalah penting dan harus menjadi agenda utama pemerintah adalah pembersihan lembaga-lembaga hukum. Lembaga-lembaga hukum baik itu kepolisian, kejaksaan, kehakiman maupun pengacara di Indonesia sudah dikenal sangat rapuh ketika mengadapi masalah korupsi. Ini penting karena di sanalah kemudaian kasus-kasus korupsi akan diproses dan para koruptor dieksekusi. Tidak mungkin kiranya lembaga dan orang korup mengadili para koruptor. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam pembenahan lembaga-lemabaga hukum di antaranya adalah:<br />
1.    Jabatan-jabatan strategis harus steril dari wilayah politik atau tarik ulur kepentingan dan harus diberikan kepada orang-orang yang benar-benar bersih, jujur, cerdas dan kredibel.<br />
2.    Profesionalisme mekanisme perekrutan anggota.<br />
3.    Anggaran dan fasilitas memadai.<br />
4.    Pengawasan internal dan eksternal.<br />
Tanpa pengawasan yang ekstra yang ketat memungkinkan lembaga seperti KPK sendiri bisa menjadi gudang baru para perampok. Seperti yang menimpa lembaga KPU, meskipun kita sadar bahwa orang yang duduk di sana adalah orang-orang yang sangat kredibel dan kita tidak meragukan kapasitasnya.<br />
Sejalan dengan pembersihan lembaga hukum, berbagai produk perundang-undangan baru untuk mendukung pemberantsan korupsi harus segera disusun. UU Perlindungan saksi misalnya, harus segera dibahas dan disahkan, karena dapat membantu pembongkaran korupsi dan melindungi para saksi kasus korupsi. Ketidak berhasilan pengadilan menjebloskan para koruptor kepenjara selama ini, salah satunya juga disebabkan minimnya para saksi yang memberatkan para koruptor. Hal itu bisa dipahami, mengingat selama ini tidak adanya perlindungan hukum terhadap para saksi dan keluarganya. Kasus Endin Wahyudin misalnya, bisa kita jadikan preseden buruk dalam hal ini. Orang yang sepatutnya mendapat penghargaan karena dapat membongkar korupsi yang dilakukan para hakim agung, justru harus duduk di kursi pesakitan dan akhirnya mendekam dalam jeruji penjara dengan tuduhan pencemaran nama baik.<br />
Pembersihan di lembaga hukum seyogyanya harus diikuti lembaga pemerintah. Paradigma lama yang berorientasi pada kekuasaan yang selama ini diadopsi oleh birokrasi kita, harus segera diganti dengan paradigma baru. Birokrasi yang lebih berorientasi pada pelayanan masyarakat, sehingga loyalitas para birokrat tidak lagi pada kekuasaan tapi pada kesejahteraan rakyat. Bila kesejahteraan sudah dirasakan oleh masyarakat saya percaya dan yakin kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan akan muncul dengan sendirinya. Namun demikian peningkatan kesejahteraan para birokrat harus juga menjadi perhatian serius agar tidak terjerumus kembali untuk menyalahgunakan kekuasaan dengan mencari proyek-proyek guna menutupi kebutuhan sehari-hari. Profesionalisme dalam perekrutan calon birokrat juga harus menjadi agenda penting ke depan. Mengikut sertakan masyarakat-LSM dan Media-untuk berpartisipasi mengawasi setiap kebijakan pemerintah, sedari dini harus digalakkan untuk mengawal terciptanya good goverenment dan menjamin terwujudnya transparansi publik<br />
Langkah prefentif penanggulangan korupsi untuk jangka panjang yang tak kalah pentingnya adalah pemberdayaan budaya hukum bagi masyarakat, terutama para generasi muda, melalui media apapun. Ini penting agar tercipta masyarakat yang taat hukum yang melihat korupsi sebagai perbuatan terkutuk dan memalukan. Salah satu media yang dapat digunakan dalam rangka membangun budaya hukum adalah melalui pendidikan. Pendidikan dituntut untuk memberikan kesadaran kepada anak didiknya tentang kepatuhan hukum serta pemahaman tentang bahaya korupsi. Pendidikan harus dilakukan sejak dini, sejak anak-anak dalam lingkungan keluarga hingga anak sampai pada perguruan tinggi, agar nantinya tercipta sebuah generasi baru, sebuah generasi yang berideologikan anti korupsi.<br />
&#8212; *** &#8212;<br />
Akhirnya, korupsi merupakan mahluk misterius yang keberadaannya tidak akan pernah mati. Ia ada melintasi dimensi waktu, menembus zaman, sejak zaman kuno hingga zaman modern. Ia juga menjangkiti semua sistem, baik itu oligarki, monarki, sosialis, komunis, bahkan demokrasi sekali pun. Ia hadir sebagai monster yang menakutkan, lebih-lebih ketika korupsi sudah menjadi penyakit sistemik bukan sekedar penyakit elitis maupun endemik. Penyakit di mana setiap individu yang berada dalam sistem terjangkiti virus tersebut. Kondisi seperti inilah yang sedang menyelimuti Indonesia, semua elemen di negeri tercinta ini terinfeksi virus korupsi. Mulai dari birokrat pelayan rakyat, cendekiawan pencerdas bangsa, kyai penjaga moral bangsa, penegak hukum sebagai bentengnya hukum atau mungkin kita sendiri juga telah terjangkiti. Korupsi secara tidak sadar telah menjadi &#8220;Tickit Knowledge&#8221; atau pengetahuan diam-diam, di mana kita sadar dan paham bahwa korupsi itu bejar, korupsi itu menghianati rasa keadilan masyarakat tapi kita tidak bisa hidup tanpa korupsi itu.<br />
Jika sudah demikian, maka tiada kata dan bahasa yang lebih halus sekaligus sopan bagi korupsi selain revolusi. Langkah besar-besaran harus ditempuh untuk memutus habis virus korupsi. Di awali dengan merevolusi diri sendiri dengan berkomitmen tidak pada korupsi, hingga merevolusi sistem dan birokrasi bagi tercapainya keadilan, kearifan dan kesejahteraan di bumi Indonesia.<br />
Langkah-langkah strategis yang telah dipaparkan di atas, hendaknya juga didukung dengan semakin mengoptimalkan kerja dan meningkatkan komunikasi antar lembaga-lembaga pemerintah non struktural yang menangani korupsi. Komisi Obusmen, KHN, Komisi Kejaksaan, Komisi Kepolisian dan Komisi Yudisial harus semakin diberdayakan untuk mempersempir ruang gerak dan menjaga kekompakan menghardik korupsi. Peran aktif masyarakat dalam membantu membongkar kasus-kasus korupsi dan mengawasi kebijakan pemerintah harus segera digalakkan. Terhadap mereka yang gigih berjuang memerangi korupsi selayaknyalah diberikan apresiasi atau penghargaan, agar semangat perang terhadap korupsi akan terus terjaga ritmenya.<br />
Akhirnya peran maksimal dari lemabaga legislatif dalam memproduksi perundangan dan pengawasan kepada pemerintah maupun anggotanya menjadi penentu sukses dan tidaknya kerja bareng memerangi korupsi. Kerja bersama bagi terciptanya negeri khayalan a imagined comunity (komunitas khayalan).  Sebuah negeri yang bebas dari korupsi, negara yang dipimpin oleh para orang-orang bijak, adil, jujur, dan berilmu pengetahuan luas sehingga melahirkan sebuah kesejahteraan. Akhirnya untuk menutup tulisan ini saya nukilkan petuah bijak dari Gandi &#8220;seisi dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua umat manusia, tapi tidak untuk seorang yang serakah&#8221;.</p>
<p>&#8220;Bravo Indonesia, Ganyang Korupsi&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/analisis/merevolusi-negeri-para-maling/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>JEJAK WARGA RIFAIYAH</title>
		<link>http://tanbihun.com/rifaiyah/jejak-warga-rifaiyah/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/rifaiyah/jejak-warga-rifaiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 04:21:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[rifaiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2908</guid>
		<description><![CDATA[Setelah Berdirinya Yayasan Pendidikan Islam Rifaiyah
 
Masyarakat Rifa&#8217;iyah pada Pemilu pertama tahun 1955 bergabung dengan partai Masyumi, PSII, Perti dan NU. Setelah memasuki era awal Orde Baru, sebagian besar warga Rifa&#8217;iyah menyatakan keluar dari Partai NU dan partai-partai yang lain. Menurut pertimbangannya, karena selama menjadi anggota partai tidak menguntungkan, tetapi merugikan, secara materi maupun non [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignright size-medium wp-image-2911" title="rifa" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/03/rifa-208x200.jpg" alt="rifa" width="208" height="200" />Setelah Berdirinya Yayasan Pendidikan Islam Rifaiyah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Masyarakat Rifa&#8217;iyah pada Pemilu pertama tahun 1955 bergabung dengan partai Masyumi, PSII, Perti dan NU. Setelah memasuki era awal Orde Baru, sebagian besar warga Rifa&#8217;iyah menyatakan keluar dari Partai NU dan partai-partai yang lain. Menurut pertimbangannya, karena selama menjadi anggota partai tidak menguntungkan, tetapi merugikan, secara materi maupun non materi. Keluarnya Rifa&#8217;iyah dari partai NU, tidak disikapi oleh orang-orang partai dengan lapang dada. Justru mereka berusaha dengan berbagai cara, dari yang paling halus sampai yang paling kasar, supaya Rifa&#8217;iyah kembali ke partai mereka.</p>
<p>Kemarahan orang-orang partai NU tidak membuat surut Rifa&#8217;iyah dari kemauannya, walau kemungkinan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Peristiwa tersebut menjalar ke berbagai daerah, mereka melakukan hal yang sama, menyatakan keluar dari partai NU. Rifa&#8217;iyah ingin mempunyai wadah sendiri. Mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sendiri. Ingin mempunyai Pemimpin sendiri. Program sendiri dan mengatur rumah tangga sendiri. Oleh karena itu didirikan Yayasan Pendidikan Islam &#8220;Rifa&#8217;iyah&#8221;, pada tahun 1965 yang bergerak dalam bidang pendidikan formal dan pesantren, dakwah, sosial dan ekonomi.</p>
<p>Yayasan Rifa&#8217;iyah lahir di Pemalang, sebagai wadah komunitas Rifa&#8217;iyah di daerah kantong-kantong Rifa&#8217;iyah, termasuk di Pekalongan. Yayasan ini dideklarasikan dan ternyata mendapat sambutan dari masyarakat, terutama masyarakat Rifa&#8217;iyah. Namun Ada juga orang-orang yang merasa khawatir lahirnya organisasi baru itu, sehingga mereka dengan segala kemampuannya, berusaha agar laju perkembangan Rifa&#8217;iyah terhambat. Berbagai modus operandinnya dilakukan, agar Rifa&#8217;iyah tidak dapat bergerak leluasa. Berbagai tuduhan ftnah dialamatkan kepada Rifa&#8217;iyah. Bahkan dilaporkan ke Kejaksaan Agung di Jakarta sebagai aliran sesat menyesatkan.</p>
<p>Tuduhan itu bermula dari pengaduan seorang bernama Fadlun Amir dengan suratnya tertanggal 30 Nopember 1967 kepada Kejagung RI Jakarta. Oleh karena itu atas nama warga Rifa&#8217;iyah, Warsito Hadiprayitno segera mengirim surat sanggahan, tertanggal 20 Mei 1968 kepada Kejaksaan Agung cq. Pakem yang berisi sebagai berikut:</p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum W,W. Dengan penuh rasa terharu dan taajub kami segenap warga Rifa&#8217;iyah, setelah mendenga, memahami, mengetahui atas surat Saudara F. Amir tertanggal 30 Nopember 1967 yang ditujukan kepada Kejaksaan Agung, cq. Pakem di Jakarta.</p>
<p><strong>Mengingat:</strong></p>
<p>I.        UUD 1945 Negara Rep. Indonesia Pasal 29 yang berbunyi</p>
<p>1.       Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.</p>
<p>2.      Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.</p>
<p>II.     Ikut Melaksanakan dari pada: &#8220;Panca Tertib&#8221; Pemerintah.</p>
<p>Kami segenap warga Rifa&#8217;iyah: Menyatakan/ menolak/ membantah/ mengadukan/ menuduh bahwa:</p>
<p>1.       Surat saudara F. Amir tersebut merupakan suatu tuduhan tanpa alasan-alasan dan bukti yang konkrit.</p>
<p>2.       Isi surat tsb. Merupakan isue untuk/ bersifat pengadu domba antar umat beragama umumnya dan warga Islam pada khususnya.</p>
<p>3.       Kami segenap warga Rifa&#8217;iyah menuduh/ mengecap surat saudara F. Amir tersebut merupakan suatu tuduhan yang tak berdasarkan kenyataan dan tanpa pengetahuan sendiri, tapi baru merupakan suatu laporan secara individu dari seorang bernama KHUDOLI, yang dalam hal ini kami sangat meragukan akan kebenarannya dan dengan tegas kami membantah/ menolak laporan yang tak beralasan dan tak logis itu.</p>
<p>Berhubung dengan itu kami segenap warga Rifa&#8217;iyah mengadukan/mengajukan tuntutan kepada Kejaksaan Agung Republik Indonesia c.q. Pakem:</p>
<p>1.       Tidak terima dengan tuduhan saudara F. Amir.</p>
<p>2.       Mengajukan kepada Kejaksaan Agung cq. Pakem supaya mengadakan suatu penyelidikan secara mendetail, sehingga dapat diketahui dari pada proporsi yang sebenarnya.</p>
<p>3.       Kami segenap warga Rifa&#8217;iyah memohon dengan hormat, hendaknya persoalan ini dibahas dengan betul-betul dan dengan cara apapun dari pihak kami bersedia menghadapinya dan siap di setiap waktu untuk menghadap apabila dari pihak Kejaksaan Agung me-merlukan kami.</p>
<p>4.       Demikianlah hendaknya, kami mohon pertimbangan yang seadil-adilnya.</p>
<p>Atas Nama Warga Rifa&#8217;iyah, Warsito Hadiprayitno Mahasiswa UNNU Fak. Ekon, Anggota Resimen &#8220;MAHA JAYA&#8221; Jon. C. Badan Pendukung/Saksi Utama, H. Rahmatullah.</p>
<p>Sesuai dengan tuntutan permintaan warga Rifa&#8217;iyah, Kejaksaan Agung memanggil salah seorang tokoh agama dari Rifa&#8217;iyah untuk dibuat Berita Acara Perkara (BAP), pada tanggal 30 Nopember 1968.</p>
<p>Di dalam sidangnya kepada KH. Rahmatullah Muslani oleh Jaksa Agung diajukan beberapa pertanyaan sebagai berikut.</p>
<p>Jaksa bertanya: &#8220;Apakah betul bahwa Rukun Islam Satu?&#8221;</p>
<p>Rahmatullah menjawab: &#8220;Ya itu betul, bahwa rukun yang menetapkan jadi Islam/ muslim hanya satu. Barang siapa yang telah membaca kedua kalimah syahadat dengan cukup syarat-syaratnya, maka orang tersebut sudah Islam. Adapun yang lain seperti shalat, zakat, puasa dan haji merupakan kewajiban bagi setiap muslim.&#8221;</p>
<p>Jaksa: &#8220;Apakah Rifa&#8217;iyah shalat berjamaah/shalat Jum&#8217;at?&#8221;</p>
<p>Rahmatullah: &#8220;Ahli Rifa&#8217;iyah masalah shalat Jamaah mengikuti taqlid kepada ulama/imam yang menyatakan hukumnya sunah muakad, bila menghendaki pahala yang banyak/ besar, mereka mengerjakan, dan yang tidak menghendaki, mereka meninggalkan, tetapi tidak berdosa.&#8221;</p>
<p>Adapun mengenai shalat Jum&#8217;at sewaktu di Jakarta adalah bohong dan fitnah semata. Banyak saksi yang mengetahui dan kenal betul sama saya antara lain Imam shalat dan Panitia masjid Kebon Jeruk, atau masjid Petuju, saya biasa melaksanakan shalat Jum&#8217;at  disana, sebagaimana mestinya, dan bisa ditanyakan kepada orang bersang-kutan.&#8221;</p>
<p>Jaksa: &#8220;Apakah betul kitab Tarajumah pernah disita?&#8221;</p>
<p>Rahmatullah: &#8220;Adapun kitab Tarajumah pernah disita tahun l901, itu betul, sebab isi dari kitab tersebut. Ada sebagian kata-kata yang menentang terhadap pemerintah Kolonial Belanda. Yang bunyinya: &#8220;Mukmin bungkuk kasab nandur ketela, iku luwih becik tinimbang bungkuk ngawula ing londo.&#8221; Artinya Mukmin yang membungkuk sedang kasab menanam ketela, itu lebih baik daripada membungkuk rasa hurmat kepada Belanda.&#8221;</p>
<p>Jaksa: &#8220;Apakah menurut  Rifa&#8217;iyah ibadah haji tidak wajib?&#8221;</p>
<p>Rahmatullah: &#8220;Memang benar bahwa melaksanakan ibadah haji tidak wajib bagi orang yang fakir dan miskin, dan wajib melaksanakan haji bagi setiap orang yang mampu mengerjakannya.&#8221; (dibacakan bab haji dalam Ri&#8217;ayatal Himmat).</p>
<p>Jaksa: &#8220;Sahkan pernikahan yang dilaksanakan oleh negara?&#8221;</p>
<p>Rahmatullah: &#8220;Pernikahan bisa dilaksanakan oleh siapa saja, asalkan cukup syarat-rukunnya, dan sebaliknya bila kurang syarat-rukunnya, maka tidak sah pernikahan tsb. Hanya ahli Rifa&#8217;iyah itu meneliti bila ada kekurangan-kekurangan agar bisa diperbaiki dan diberi nasihat-nasehat perkawinan agar kedua mempelai dapat hidup rukun, damai penuh kasih sayang.&#8221;</p>
<p>Jaksa: &#8220;Apakah ada tingkatan-tingkatan bagi pengikut Rifa&#8217;iyah?&#8221;</p>
<p>Rahmatullah: &#8220;Mengenai tingkatan-tingkatan derajat Waliyullah, barangkali penuduh lupa dengan firman Allah dalam Al-Qur&#8217;an surat Fatir ayat 32 yang berbunyi: &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Jaksa: &#8220;Apakah Rifa&#8217;iyah berbeda faham dengan umat lain?&#8221;</p>
<p>Rahmatullah: &#8220;Mengenai khilaful ulama antar ulama saudara penuduh lupa juga dengan sabda Rasulullah SAW. Berbunyi: &#8220;Ikhtilafu Ashaby Rahmatun.&#8221;</p>
<p>Jaksa: &#8220;Apakah benar Rifa&#8217;iyah kemasukan Gerpol PKI?&#8221;</p>
<p>Rahmatullah:&#8221;Saudara penuduh mengatakan: &#8220;Bahwa Gerpol PKI dan golongan dari luar Islam telah masuk ke dalam golongan Rifa&#8217;iyah itu semata-mata fitnah yang besar bagi golongan kami.&#8221;</p>
<p>Jaksa: &#8220;Apakah belum zakat itu menjadi hutang pada Kiai?&#8221;</p>
<p>Rahmatullah: &#8220;Saudara penuduh mengatakan: &#8220;Bahwa setiap orang yang belum melunasi zakat Fitrah itu dijadikan hutang oleh Kiainya, yang harus dibayar entah dengan tanah, pohon kelapa dan sebagainya, itu adalah juga fitnah. Kami sendiri sering menjadi Panitia penerima zakat Fitrah 25-30 orang yang semuanya dari warga Rifa&#8217;iyah sendiri, dan kami bagikan kepada fakir miskin di daerah lingkungan kami, dan tidak pandang dari golongan lain, habis semua kami bagikan kepada fakir miskin itu dan sedikitpun kami tidak mengambil bagian dari hasil zakat tsb. <em>Lillahi Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>(KH. Rahmatullah, Jl. Pembangunan Dalam No. 38 Gajahmada Jakarta, tanggal 7 Mei 1968)</p>
<p>Demikian peristiwa yang pernah dialami warga Rifa&#8217;iyah yang terwakili oleh Bapak KH. Rahmatullah dan Warsito Hadiprayitno ketika masih aktif usaha di Jakarta. Warga Rifa&#8217;iyah ingin memperkarakan lebih lanjut saudara F. Amir hingga pelapor bisa dikenakan hukuman tindak pidana, namun KH. Rahmatullah meminta supaya tidak dilanjutkan. Kesalahan pelapor harap dimaafkan. Dan dianggap selesai.</p>
<p>Fitnah-fitnah yang disebarkan orang-orang yang kurang berkenan terhadap perkembangan Rifaiyah, ternyata berhasil merasuk ke berbagai daerah Rifa&#8217;iyah di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Misalnya di Pekalongan, Batang, Kendal, Temanggung, Wonosobo, Pati, Demak dan Cirebon.</p>
<p>Di Kabupaten Pekalongan terjadi perbedaan pendapat dalam bidang <em>furu&#8217;iyyah</em> (cabang-cabang agama) antara orang-orang partai NU dengan warga Rifa&#8217;iyah. Perbedaan yang bersifat cabang agama yang tidak prinsip, ternyata berkembang menjadi konflik sosial, saling mengadu kekuatan ilmu untuk menunjukan kemahirannya, memamerkan kekuatan  fisik untuk memperlihatkan keberaniannya. Padahal permulaannya  hanya kepentingan partai dan golongan. Hampir semua masjid dan majelis taklim yang dibangun Rifa&#8217;iyah sementara ditutup tidak boleh mengadakan kegiatan keagamaan, karena faham Rifa&#8217;iyah dianggap mereka sebagai faham yang sesat.</p>
<p>Untuk klarifikasi peristiwa-peristiwa tersebut, Bupati Pekalongan sebagai pengayom masyarakat segera mengundang semua Instansi terkait serta perwakilan ormas-ormas Islam di Pendopo Kabupaten. A/n Bupati KDH Pekalongan, Sekda RS. Partokoesemo mengundang segera kepada 13 instansi terkait, ormas keagamaan dan ulama, yaitu Kepala Kejari Pekalongan, Komres Angkatan Kepolisian Kab. Pekalongan di Batang, Kepala Jawatan Pengadilan Agama Kab. Pekalongan,  Kepala Jawatan Agama Kab. Pekalongan, Kepala Jawatan Pendidikan Kab. Pekalongan, Kepala Jawatan Penerangan Kab Pekalongan, Kepala Jawatan Agama Kec. Kedungwuni, Orpol NU Cabang Kab. Pekalongan, Orpol PSII Cabang Kab. Pekalongan di Wiradesa, Ormas Muhammadiyah Cab. Pekalongan, Sdr. As&#8217;adi di desa Paesan Kedungwuni, Sdr. Rahmatullah di Paesan Kedungwuni, Sdr. Amat Syafi&#8217;i di Paesan Kedungwuni.</p>
<p>Sidang dilaksanakan hari Sabtu tanggal 25 Nopember 1967, jam 9.00 pagi di Pendopo Kab. Pekalongan. Dalam sidang yang cukup serius itu dari Orpol NU dan yang lain, mengusulkan agar supaya Rifa&#8217;iyah dibekukan dan kitab-kitab karangan KH. Ahmad Rifa&#8217;i (pelajaran buku Ubudiyah/Tarajumah) disita dan diamankan, karena dianggap oleh mereka Rifa&#8217;iyah dan kitab-kitab tersebut ajaran-ajarannya tidak sesuai dengan umumnya kitab-kitab yang dimiliki mereka. Usul tersebut nampaknya mendapat dukungan dari ormas yang lain, kecuali Muhammadiyah.</p>
<p>Lain halnya dengan Muhammadiyah. Ia mengusulkan, kalau Rifa&#8217;iyah harus dibubarkan dan kitab-kitabnya di sita, Muhammadiyah pun harus segera dibubarkan dan ajarannya dibekukan. Orpol NU dan semua ormas Islam di Pekalongan, bahkan di seluruh Indonesia juga harus dibubarkan dan ajarannya dibekukan. Alasan Muhammadiyah karena Rifa&#8217;iyah dan ajaran yang diamalkannya mendasarkan pada Al-Qur&#8217;an dan Hadits sebagaimana umumnya ormas Islam, juga mendasarkan pula pada kedua pedoman tersebut. Kalaulah terjadi <em>ikhtilaf </em>(perbedaan faham) hanyalah sebatas cabang agama yang tidak menyalahi dari pokok-pokok agama itu sendiri. Aqidahnya sama. Yang berbeda hanya pemahaman fiqih yang semestinya harus disikapi dengan rasa persaudaraan Islam.</p>
<p>Ketika rombongan kiai Rifa&#8217;iyah akan berangkat menghadiri pertemuan di Pendopo Kabupaten Pekalongan dengan kendaraan delman (<em>gelinding</em>: Jawa), tiba-tiba di tengah perjalanan, tepatnya di jalan sebelah barat pondoknya Kiai Zaenal Abidin, Banyuurip Alit, kedua roda dokar itu ringsek. Syukur mereka satupun tidak ada yang terluka. Setelah diperbaiki, rombongan tersebut kembali ke Kedungwuni dan kemudian lewat jalan lain, yaitu Bojong-Wiradesa menuju ke Pekalongan, karena ada rumor, rombongan dari Rifa&#8217;iyah akan dihadang oleh orang-orang tertentu di daerah Buaran, sehingga datangnya pun menjadi agak terlambat.</p>
<p>Dalam sidang di Pendopo, kedua kekuatan, satu sama lain saling mempertahankan pendapatnya. Orpol NU menginginkan Rifa&#8217;iyah dibubarkan, sementara Muhammadiyah yang didukung PSII menghendaki agar Rifa&#8217;iyah dan ajarannya tetap eksis dan berjalan sama-sama menegakkan kalimat Allah di muka bumi Indonesia.</p>
<p>Fenomena seperti di atas itulah, barangkali kemudian Bupati menunda sidang tanpa adanya kejelasan kapan sidang akan di buka kembali. Tetapi mereka tidak menyadari, bahkan lebih semangat berusaha dengan cara yang lain untuk menghambat laju perjuangan Rifa&#8217;iyah.</p>
<p>Masih di Tirto Meduri Pekalongan pada tahun 1967, terjadi pelarangan deklarasi dan pelantikan Pimpinan Rifa&#8217;iyah Cabang Tirto oleh masyarakat setempat. Karena Rifa&#8217;iyah dianggap merugikan Partai NU dengan mengembalikan KTA NU-nya. Mereka menyadari bahwa langkah itu mengakibatkan kerugian besar dan sekaligus bukan NU lagi. Khawatir bahwa cara ini merupakan langkah awal berdirinya shalat Jum&#8217;at di masjid Baiturahman Tirto Meduri Pekalongan. Setelah keluar dari partai NU, Rifa&#8217;iyah berencana akan mendeklarasikan ormas baru, Yayasan Pendidikan Islam Rifa&#8217;iyah dan melantik personal pengurusnya.</p>
<p>Selama tujuh hari sebelum pelaksanaan, oleh Panitia telah dipersiapkan tempat pelantikan pimpinan yayasan dan pengajian Rifa&#8217;iyah di jalan KH. Ahmad Dahlan Tirto Meduri.  Tetapi dirintangi oleh masyarakat setempat. Mereka memblokir jalan tersebut  dengan cara memenuhi pohon-pohon pisang, bambu-bambu dan lainnya. Semua lampu di matikan. Beberapa tokoh Rifa&#8217;iyah diancam akan di bunuh.</p>
<p>Dalam keadaan segawat itu Rifa&#8217;iyah mencari tempat lain untuk penyelenggaraan pelantikan pimpinan yayasan dan pengajian Rifa&#8217;iyah. Atas kebaikan Pemerintah dan hasil kerja keras segenap Pengurus akhirnya menempati gedung Pemuda di Pekalongan. Pelantikan dilaksanakan oleh Ketua Yayasan, Bapak Carbin dari Pemalang, dan pengajian oleh Bapak Kiai Suci Merdeka, tokoh Muhammadiyah Wiradesa Pekalongan. Sementara ulama-ulama Rifa&#8217;iyah datang ke lokasi yang dipimpin  Bapak KH. Ahmat Syafi&#8217;i dari Kedungwuni menempati kursi duduk yang disediakan, dan sebagian lagi berada di Bintang Kecil (kebun binatang) di sebrang jalan dari lokasi pelantikan yang di pimpin Bapak Kiai Ahmad Nasihun Paesan Kedungwuni. Acara dimulai tepat pukul  21.30 wib dan selesai jam 24.00 dalam keadaan aman dan kondusif.</p>
<p>Atas kejadian di atas, ulama-ulama Rifa&#8217;iyah berupaya agar kitab-kitab karangan KH. Ahmad Rifa&#8217;i didaftarkan, dapat diakui dan disahkan penggunaannya oleh Depag RI di Jakarta. Bapak Kiai Ahmad Nasihun, KH. Rahmatullah dan Saudara Warsito Hadiprayitno pada tahun 1967 mengajukan permohonan kepada Depag RI segera supaya memberi Rekomendasi tentang kebenaran kitab-kitab tarjamah tersebut untuk bisa diamalkan. Setelah diteliti secara seksama akhirnya oleh Depag  RI dikeluarkan dua rekomendasi/legalitas dan dari KH. Bisri Mustofa sebagai berikut:</p>
<p>1.       Direktur Direktorat Pendidikan Agama RI Jakarta tanggal: 29 Pebruari 1968 tentang Beberapa Kitab Karya KH. Ahmad Rifa&#8217;i,</p>
<p>2.       Direktur Direktorat Pendidikan Agama RI. Jakarta tanggal 2 Juli 1968 tentang Kitab-Kitab Karya KH. Ahmad Rifa&#8217;i,</p>
<p>KH. Bisyri Mustofa, Rembang Jawa Tengah dalam suratnya menggunakan kop surat Yayasan Mu&#8217;awanah Lil Muslimin Semarang menyatakan: bahwa amalan warga Rifa&#8217;iyah termasuk Ahlu Sunah wal Jama&#8217;ah.</p>
<p>Oleh: H. Ahmad Syadzirin Amin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/rifaiyah/jejak-warga-rifaiyah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Aqidah Ahlussunah dalam Ilmu Ushuluddin</title>
		<link>http://tanbihun.com/usulidin/aqidah-ahlussunah-dalam-ilmu-ushuluddin/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/usulidin/aqidah-ahlussunah-dalam-ilmu-ushuluddin/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 16:30:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Usulidin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2902</guid>
		<description><![CDATA[
AQIDAH AHLUSSUNNAH DALAM ILMU USHULUDDIN
 
 
A. Latar Belakang Sejarah Ahlussunah
Kemunculan I&#8217;tiqad Ahlussunah merupakan jawaban terhadap gejolak yang tumbuh dari berbagai paham keagamaan, antara lain paham Mu&#8217;tazilah yang mendapat dukungan dari tiga khalifah Abbasiyah pada abad ke-3 H. yaitu al-Makmun bin Harun al-Rasyid (198-218 H/813-833 M). Al-Muktashim (218-227 H/833-842 M). dan Al-Watsiq (227-232 H/842-847 M). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><strong><img class="alignright size-medium wp-image-2905" title="bis2" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/03/bis2-294x200.jpg" alt="bis2" width="294" height="200" /><span id="more-2902"></span><br />
</strong>AQIDAH AHLUSSUNNAH DALAM ILMU USHULUDDIN</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>A. </strong><strong>Latar Belakang Sejarah Ahlussunah</strong></p>
<p>Kemunculan I&#8217;tiqad Ahlussunah merupakan jawaban terhadap gejolak yang tumbuh dari berbagai paham keagamaan, antara lain paham Mu&#8217;tazilah yang mendapat dukungan dari tiga khalifah Abbasiyah pada abad ke-3 H. yaitu al-Makmun bin Harun al-Rasyid (198-218 H/813-833 M). Al-Muktashim (218-227 H/833-842 M). dan Al-Watsiq (227-232 H/842-847 M). Pada pemerintahan al-Makmun paham ini dijadikan paham resmi negara. Karena paham Mu&#8217;tazilah telah menjadi paham resmi negara, maka kaum Mu&#8217;tazilah mulai menyebarkan ajarannya dengan cara paksa, hal ini sampai berlanjut pada pemaksaan paham aliran melalui jalur kekuasaan.</p>
<p>Setelah Al-Makmun meninggal dunia pada tahun 833 M. Paham aliran Mu&#8217;tazilah ini menjadi surut, kemudian pemerintahan Abasyiah dipimpin oleh al-Mutawakil. Pada pemerintahan al-Mutawakil paham Mu&#8217;tazilah mulai tidak berlaku.</p>
<p>Orang-orang Mu&#8217;tazilah ini pada mulanya adalah kaum Syiah yang patah semangat, karena menyerahnya khalifah Hasan bin Ali bin Abi Thalib kepada khalifah Muawiyah dari Bani Umayah pada tahun 40 H.</p>
<p>Paham Mu&#8217;tazilah yang biasa dikenal sebagai paham rasional dan liberal ini (lebih mengedepankan akal dan kebebasan) biasanya dalam melahirkan fatwa, lebih memilih jalur mendahulukan akal dari pada al-Qur&#8217;an dan al-Hadits. Dalam arti lain, paham ini tidak menjadikan al-Qur&#8217;an dan al-Hadits sebagai sumber utama secara mutlak.</p>
<p>Sebagian orang Mu&#8217;tazilah menolak kebenaran al-Qur&#8217;an dan al-Hadits. Jika tidak dapat diterima oleh akal sehat. Misalnya, mereka tidak menerima bahwa Rasulullah SAW. Melakukan Isra&#8217; Mi&#8217;raj dengan jasadnya. Paham ini juga dikenal sebagai penganut paham Qodariyah atau paham yang mengajarkan ajaran <em>free will, free act</em> (bebas berkehendak dan berbuat).</p>
<p>Gerakan Mu&#8217;tazilah muncul di Basyrah (Irak) yang dipimpin oleh Wasil bin Atho&#8217; (80-131 H) dan Umar bin Ubaid (w. 144 H). Pada permulaan abad ke-3 Mu&#8217;tazilah muncul di Baghdad (Irak) yang dipelopori oleh Basyar bin Muktamar. Basyar merupakan salah satu pimpinan Mu&#8217;tazilah di Basyrah yang pindah ke Baghdad.</p>
<p>Seperti disebutkan di atas Mu&#8217;tazilah pernah memaksakan paham alirannya. Kasus ini terjadi pada penyiksaan ulama penganut Madzab Syafi&#8217;i diantarnya, penyiksaan Syaikh Buathi, Pemenggalan leher Imam Ahmad bin Nashir al-Khuza&#8217;I; penyiksaan Imam Ahmad bin Hanbal (Pendiri Mazhab Hanbali) dipenjarakan dan dicambuk, Isa bin Dinar dipenjarakan selama 20 tahun; Imam Bukhari lari karena menghindari fitnah dan kejaran penguasa Mu&#8217;tazilah. Peristiwa tersebut tercatat dalam sejarah sebagai &#8220;Tragedi Qur&#8217;an Mahluk&#8221;.</p>
<p>Menghadapi tantangan yang sangat menggoncangkan sendi-sendi I&#8217;tiqad Islam, maka lahirlah dua ulama dalam bidang Ushuluddin bernama Syaih Abu Hasan Al Asy-ari (260 H/935 M) di Basyrah (Irak) dan Syaih Abu Mansur al-Maturidi (238 H/852 M.) lahir di Maturid, dekat Samarkand (Asia Tengah).</p>
<p>Kemudian dua tokoh inilah yang dikenal sebagai pembangun Paham Ahlussunah. Dengan ajarannya yang lebih mengedepankan dalil <em>naqli</em> daripada dalil <em>aqli</em>. Paham inilah yang kemudian merespon (mencoba meluruskan) bentuk pemahaman aliran-aliran pada waktu itu.<strong></strong></p>
<p align="center"><strong><br />
DASAR-DASAR AKIDAH AHLUSSUNAH</strong></p>
<p align="center">
<p><strong>1. </strong><strong>Ilmu Ushuluddin</strong></p>
<p>a.       Pengertian Ilmu Ushuluddin</p>
<p>Ilmu Ushuluddin atau biasa disebut sebagai Ilmu Kalam, Ilmu Tauhid, Ilmu &#8216;Aqaid, Ilmu Sifat Dua Puluh, Theologi. Apapun istilah yang dipakai untuk ilmu ini, maksud dan tujuannya tetap sama yaitu, ilmu yang mempelajari tentang dasar-dasar keyakinan agama Islam (iman), dan segala hal yang berhubungan dengan iman, diantaranya sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah, dan sifat wajib jaiz, mustahil bagi para Rasul dan lain-lain.</p>
<p>b.      Menfaat Mempelajari Ilmu Ushuluddin</p>
<p>Sesuai hukum akal sehat, mendalami segala sesuatu yang berupa ilmu, pasti akan menimbulkan hukum manfaat. Demikian juga dengan ilmu Ushuluddin, mempelajari ilmu ini, akan memberi manfaat kepada kita berupa:<br />
Pertama, akan membuahkan keyakinan yang mendalam terhadap Allah SWT, sehingga dapat membebaskan manusia dari belenggu materi yang melalaikan, misalnya penyembahan terhadap kekuasaan, uang dan lain-lain. Membebaskan belenggu praktek kepercayaan yang menyesatkan. Seperti praktek sesajen yang diperuntukkan kepada ruh-ruh yang diyakininya.</p>
<p>Kedua, dengan keyakinan yang mendalam, akan mendorong kita melakukan kebaikan dan menjauhi larangan. Misalnya, mengerjakan amal ibadah, karena kita yakin akan adanya hari pembalasan.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Iman</strong></p>
<p>a.       Pengertian Iman</p>
<p>Iman secara bahasa (<em>lughat</em>) berasal dari bahasa Arab dari kata dasar (<em>Madly</em>) <em>aamana</em>, yang mengambil bentuk masdar <em>iimaanan</em> yang berarti, membenarkan dan mempercayakan. Iman secara Istilah berarti, percaya sepenuh hati kepada semua yang telah disampaikan oleh para Rasulullah, yang berupa hukum, perintah, larangan, khabar dan janji.</p>
<p>b.      Kategori Iman</p>
<p>Iman sebagai bentuk keyakinan yang tulus tidak hanya terbatas kepada keyakinan kepada Tuhan semata, tetapi iman merupakan bentuk keyakinan yang meliputi sebagai berikut:</p>
<p>1.      Keyakinan terhadap Tuhan yang Esa dengan beberapa kesempurnaan sifat-Nya, keyakinan ini biasa disebut sebagai <em>I&#8217;tiqad Ilahiyyat</em> (I&#8217;tiqad Uluhiyyat).</p>
<p>2.      Keyakinan yang berhubungan dengan kenabian biasanya disebut sebagai <em>I&#8217;tiqad Nubuwwiyat</em> (I&#8217;tiqad Nubuwwat).</p>
<p>3.      Keyakinan yang berhubungan dengan Alam Ghaib (metaphysic) disebut sebagai <em>I&#8217;tiqad Ghaibaat</em>.</p>
<p>c.       Syarat Sahnya Iman</p>
<p>Adapun syarat sahnya iman dalam ajaran Ahlussunah, dikenal sebagai penyerahan dengan ketulusan hati terhadap segala ketentuan hukum Allah SWT.</p>
<p>d.      Batalnya Iman</p>
<p>Pertama, akan membebaskan manusia dari belenggu materi yang melalaikan dan Membebaskan belenggu praktek kepercayaan yang menyesatkan. Seperti kepercayaan animisme, dinamisme, totemisme dan lain-lain.</p>
<p>Kedua, dengan keyakinan yang mendalam, akan mendorong kita melakukan kebaikan dan menjauhi larangan, Misalnya, mengerjakan amal ibadah, karena keyakinan akan adanya hari pembalasan.</p>
<p>e.       Rukun Iman</p>
<p>Di antara ajaran akidah Ahlussunah yang berhubungan dengan keyakinan (iman) digariskan dalam 6 rukun diantaranya:</p>
<p>1.      Iman kepada Allah</p>
<p>2.      Iman kepada Malaikat-malaikat Allah</p>
<p>3.      Iman kepada Kitab-kitab Allah</p>
<p>4.      Iman kepada Utusan-utusan Allah</p>
<p>5.      Iman kepada Hari Kiamat</p>
<p>6.      Iman Kepada Qadla dan Qadar Allah.</p>
<p>Beberapa Rukun Iman di atas didasarkan kepada Hadis Nabi Muhammad SAW:</p>
<p>&#8220;Maka beritahulah kami (ya Rasulullah) mengenai iman. Nabi menjawab: engkau mesti percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir (Qiamat) dan Qadar (nasib baik dan buruk dari Allah)&#8221;. (HR. Imam Muslim).</p>
<p>1.      Iman Kepada Allah</p>
<p>Iman kepada Allah, merupakan dasar keyakinan absolut (mutlak) bagi kehidupan setiap muslim. Dengan percaya dan yakin kepada Allah swt. Kita akan selalu percaya diri dalam berpijak, karena kita merasa dinangi dalam limpahan kasih-sayang-Nya. Serta kita tidak merasa sombong dengan hasil-hasil yang kita usahakan, karena semuanya tidak terlepas dari limpahan Rahmat-Nya. Adapun bentuk iman kepada Allah kita mesti:</p>
<p>a.       Mengakui Adanya Allah</p>
<p>b.      Mengakui ke-Esaan Allah</p>
<p>c.       Mengakui ke-Sempurnaan Allah</p>
<p>Menyakini adanya Allah dengan segala sifat kesempurnaan-Nya, dapat kita buktikan dengan melihat alam seisinya. Tak mungkin keberagaman alam terwujud dengan sendirinya tanpa ada yang mewujud-kan, dan satu-satunya yang mewujudkan adalah Allah. Jadi keberadaan alam semesta ini menunjukkan kepada keberadaan alam semesta ini menunjukan kepada keberadaan Allah. (Ri&#8217;ayatul Himmat: Kor. 5).</p>
<p>Sumber: H. Ahmad Syadzirin, <em>Ilmu Ushuluddin, </em>Yayasan Badan Wakaf Rifaiyah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/usulidin/aqidah-ahlussunah-dalam-ilmu-ushuluddin/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>10 Hal yang Bisa Kamu Lakukan untuk Lingkungan</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/10-hal-yang-bisa-kamu-lakukan-untuk-lingkungan/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/10-hal-yang-bisa-kamu-lakukan-untuk-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 08:53:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bebas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2898</guid>
		<description><![CDATA[Penggunaan bahan bakar fosil seperti gas alam, batubara, minyak dan bensin akan meningkatkan level karbon dioksida di atmosfer, dan karbon diaksoda merupakan penyumbang utama terhadap efek rumah kaca dan pemanasan global.
Kamu bisa membantu mengurangi pemakaian bahan bakar fosil dengan menggunakan energi yang lebih ramah. Ada 10 tindakan sederhana yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi pemanasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-2899" title="lingkungan" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/03/lingkungan-157x200.jpg" alt="lingkungan" width="157" height="200" />Penggunaan bahan bakar fosil seperti gas alam, batubara, minyak dan bensin akan meningkatkan level karbon dioksida di atmosfer, dan karbon diaksoda merupakan penyumbang utama terhadap efek rumah kaca dan pemanasan global.</p>
<p>Kamu bisa membantu mengurangi pemakaian bahan bakar fosil dengan menggunakan energi yang lebih ramah. Ada 10 tindakan sederhana yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi pemanasan global.<br />
1. Reduksi, Pemakaian Ulang, Daur Ulang (Reduce, Reuse, Recycle)<br />
Kurangi sampah dengan memilih produk yang bisa digunakan kembali sebagai pengganti produk yang dapat dibuang. Membeli produk dengan kemasan yang minimal (termasuk ukuran ekonomi menurut ukuranmu) akan membantu mengurangi sampah. Dan kapanpun, usahakan kamu dapat mendaur ulang kertas, plastik, koran, gelas, dan kaleng alumunium. Jika di tempatmu, sekolah, atau di komunitasmu tidak ada program daur ulang, mulailah dari kamu sendiri. Dengan mendaur ulang separoh dari sampah rumah tangga, kamu akan menghemat 2.400 pond karbon dioksida setiap tahunnya.<br />
2. Menggunakan Sedikit Pemanas dan AC<br />
Tambahkan sekat di tembok dan loteng kamu, dan pasang bidang cuaca di sekitar pintu dan jendela yang dapat mengurangi biaya pemanas lebih dari 25%, dengan mengurangi tingkat energi yang kamu butuhkan untuk memanaskan dan mendinginkan rumah.<br />
Matikan pemanas di saat kamu tidur di malam hari atau hindari selamanya, dan jagalah temperatur sedang di setiap saat. Mengatur alat pengatur panas 2 tingkat lebih rendah di musim dingin dan lebih tinggi di musim panas dapat menghemat 2000 pond karbon dioksida setiap tahunnya.<br />
3. Ganti Lampu Bolam<br />
Ganti lambu bolam dengan lampu neon. Mengganti lampu bolam 60 watt dengan lampu neon akan menghemat 30 $ lebih dari lampu bolam. Lampu neon juga 10 jam lebih lama daripada lampu bolam, menggunakan kurang dari dua pertiga energi, dan mengurangi 70% pemanasan.<br />
Jika setiap setiap keluarga mengganti bolam dengan lampunneon, akan mengurangi 90 milliar pound dari gas rumah kaca, yang sama dengan mengurangi 7.5 juta mobil dari jalan.<br />
4. Kurangi berkendara dan Berkendara yang Cerdas<br />
Mengurangi berkendara berarti mengurangi emisi. Disamping menghemat bensin, jalan kaki dan bersepeda merupakan olahraga yang penting. Perhatikan sistem transportasimu, dan kurangi berkendaraan menuju ke tempat kerja atau sekolah.<br />
Ketika kamu berkendara, pastikan mobil kamu berjalan efesien. Misalnya, menjaga kondisi angin ban dengan benar dapat mempercepat jarak dan menghemat bensin lebih dari 3 %. Setiap galon bensin yang kamu hemat tidak hanya membantu pengeluaran kamu, tetapi juga menjaga 20 pound karbon dioksida keluar dari atmosfer.<br />
5. Belilah Produk-produk yang Hemat energi<br />
Ketika akan membeli mobil baru, pilihlah mobil berbahan bakar irit. Mulai sekarang pilihlah peralatan rumah yang efesien energi dan pilihlah lampu yang tidak kelewat terang yang didesain untuk memberikan cahaya yang nampak natural yang hemat energi.<br />
Hindari produk-produk yang dikemas berlebihan, khususnya dari bahan plastik atau kemasan lainnya yang tidak dapat didaur ulang. Jika kamu mengurangi 10% sampah rumah tanggamu, kamu akan menghemat 1200 pond karbon dioksida setiap tahunnya.<br />
6. Kurangi Penggunaan Air Hangat/Panas<br />
Atur pemanas airmu pada 120 untuk menghemat energi, dan lapisi pemanas dengan isolasi jika pemanas airmu sudah lebih dari lima tahun. Belilah kepala shower yang mempunyai pancaran air rendah untuk menghemat air panas dan menghemat sekitar 350 pond karbon dioksida setiap tahunnya. Cuci pakaian kamu dengan air panas atau dingin untuk mengurangi penggunaan air hangat dan energi yang dibutuhkan untuk memproduksinya. Perubahan tersebut akan manghemat 500 pond karbon dioksida setiap tahunnya. Gunakan pengaturan hemat energi pada pencuci piring dan pengering piring.<br />
7. Gunakan Tombol &#8220;Off&#8221;<br />
Hemat listrik dan kurangi pemanasan global dengan mematikan lampu ketika kamu meninggalkan kamar/ruang, dan gunakan lampu sesuai kebutuhan. Dan ingat, matikan televisi kamu, video player, radio, komputer ketika kamu tidak menggunakannya.<br />
Juga merupakan ide yang bagus kalau kamu mematikan air ketika kamu tidak menggunakannya. Ketika kamu menyikat gigi, memandikan anjing dengan memberi shampo atau mencuci mobil kamu, matikan air sampai kamu benar-benar memerlukan untuk membilasnya. Kamu akan mengurangi tagihan bayaran air kamu dan membantu menghemat sumber daya vital.<br />
8. Menanam Pohon<br />
Jika kamu berencana menanam pohon, mulailah dengan menggali. Selama fotosintesis, pohon dan tumbuhan lainnya akan menyerap karbon dioksida dan akan memberikan oksigen. Tumbuh-tumbuhan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pertukaran atmosfer di bumi, untuk melawan peningkatan karbon dioksida yang disebabkan oleh lalu lintas kendaraan, pabrik dan aktivitas manusia lainnya. Satu pohon akan menyerap kira-kira 1 ton karbon dioksida selama masa hidup pohon tersebut.<br />
9. Dapatkan Kartu Laporan dari Perusahaan Jasa Kamu<br />
Banyak perusahaan jasa memberikan audit energi rumah secara gratis untuk membantu konsumen mengidentifikasi area rumahnya yang mungkin tidak hemat energi. Banyak perusahaan jasa juga memberikan program diskon bagi siapa yang akan memperbarui energi rumahnya dengan hemat energi.<br />
10. Anjurkan Kepada Orang lain untuk Berhemat<br />
Bagi informasi tentang daur ulang dan konservasi energi kepada teman-teman kamu, tetangga dan teman kerja, dan mintalah kepada kantor-kantor publik untuk menyelenggarakan program-program dan kebijakan yang mendorong pelestarian lingkungan.<br />
Sepuluh tahap di atas akan menghemat energi yang kamu gunakan dan juga pengeluaran setiap bulannya. Dan peralatan yang hemat energi itu sedikit tergantung pada bahan bakar fosil yang menghasilkan gas rumah kaca dan menyumbangkan pada pemanasan global.</p>
<p>EM. Nasroel</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/10-hal-yang-bisa-kamu-lakukan-untuk-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Utusan Kuburan untuk Cinta Indonesia</title>
		<link>http://tanbihun.com/bebas/utusan-kuburan-untuk-cinta-indonesia/</link>
		<comments>http://tanbihun.com/bebas/utusan-kuburan-untuk-cinta-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 20:19:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bebas]]></category>

		<category><![CDATA[jum'at kliwon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanbihun.com/?p=2892</guid>
		<description><![CDATA[
Suatu malam pada Jumat kliwon, saat aku berkunjung ke pusara Simbah. Tiba-tiba guyuran gerimis menimpa bumi ini. Tubuhku kena rintikan gerimis yang mendadak datang itu. Aku bermaksud segera meninggalkan persemayamanmu&#8230;. Simbah. Tapi&#8230;.
Tapi tiba-tiba saja asap tebal muncul dari kuburan yang pas ada di depanku, dan membentuk wujud manusia. Manusia itu tak begitu jelas. Hanya sedikit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-2894" title="indonesia_mtmerapi4" src="http://tanbihun.com/wp-content/uploads/2010/03/indonesia_mtmerapi4-277x200.jpg" alt="indonesia_mtmerapi4" width="277" height="200" /></p>
<p>Suatu malam pada Jumat kliwon, saat aku berkunjung ke pusara Simbah. Tiba-tiba guyuran gerimis menimpa bumi ini. Tubuhku kena rintikan gerimis yang mendadak datang itu. Aku bermaksud segera meninggalkan persemayamanmu&#8230;. Simbah. Tapi&#8230;.</p>
<p>Tapi tiba-tiba saja asap tebal muncul dari kuburan yang pas ada di depanku, dan membentuk wujud manusia. Manusia itu tak begitu jelas. Hanya sedikit bias cahaya dari kejauhan yang bisa membantu penglihatanku. Lama-lama mataku bisa menangkap apa yang mewujud dihadapanku. Seorang simbah dengan janggut memutih dan pakaian serba putih. Bau wewangian semerbak mempesona hidungku. Mataku tak berani berpendar ke-mana-mana, juga karena terhalang oleh gelap pekat tak ada cahaya rembulan. Bintang gemintangpun serasa tidur bersama terlelapnya ayam, blentung, kodok, dan binatang lainnya.</p>
<p>Aku terpaku ketakutan dan terasa berat kaki ini melangkah. Apalagi lari, tak mungkin itu aku lakukan. Aku tetap saja terjaga dan mata ini menatap dengan penasaran kumpulan asap yang aneh itu. Dalam hati ku berbisik &#8220;apakah ini penguapan fospor tulang manusia yang terkubur, ala fisika itu? Hmmmm&#8230;.entah lah yang penting aku selamat.&#8221; Selangkah demi selangkah aku mundur. Tak terasa kaki ini menggelayut tersandung batu nisan. Aku jatuh duduk.</p>
<p>&#8220;tak usah takut cucuku. Ini simbahmu.&#8221;</p>
<p>Saat aku lahir simbah sudah tiada, dan tak satupun foto beliau ku temukan dari almari peninggalannya. Apalagi di bawah kasur, tempat simbah menyimpan sesuatu, pasti tak ada. Simbah putri juga tak ingat benar bahwa Simbah Kakung pernah foto.</p>
<p>&#8220;keresahan apa yang kau endapkan dalam hati sehingga cucu hadir ke sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;aaaaa&#8230;.aaaa&#8221; aku tergagap ingin menjawabnya tapi mulut ini terasa terkunci. Aku tak kuasa.</p>
<p>&#8220;tenang aja cucuku yang baik hati dan tidak sombong. Coba ungkapkan perasaan itu kepadaku. Kau kelihatannya masih menanggung beban yang berat dalam benakmu.&#8221;</p>
<p>Beliau melangkah mendekat. Aku semakin panik tak karuan. Hatiku dihantui rasa takut yang menyesakkan dada. Aku bermaksud bangkit dan lari. Tapi aku mengurungkan niatku setelah mendapat sapaan dari asap tebal yang membentuk jasad manusia itu. Mungkinkah ini pengalaman yang mengasyikkan, bisa berdialog dengan orang yang telah pindah alam. Talenta kewartawananku jadi muncul di kepala. &#8220;apa sebaiknya ku wawancarai saja asap putih yang membentuk jasad manusia tua ini.&#8221;</p>
<p>Beliau terus mendekat dan menghampiri, mengajakku untuk mendekat di pekuburannya. Rintik-rintik hujan telah membasahi tubuhku, tetapi tak terasa dingin. Angin yang bertubi-tubi menyapaku tak terasa sejuk. Malam yang gelap terasa mencekam dan menakutkan. Aku hanya terpaku.</p>
<p>Hatiku meyakinkan diri bahwa orang yang ada di hadapanku ini adalah simbah Amin. Atau jangan-jangan Simbah Ilyas, yang persemayamannya ada di samping pusara Simbah Amin. &#8220;lebih baik aku kenalan dulu sama Simbah ku ini.&#8221; Begitu hati kecilku berujar.</p>
<p>Dengan terbata-bata mulutku kupaksakan untuk mengucap dan bertanya.</p>
<p>&#8220;Sssss&#8230;siii&#8230;Simbah ini siapa?&#8221; mendengar pertanyaanku Simbah terasa kaget, dan wajahnya menunjukkan sedikit kekecewaan.</p>
<p>&#8220;Leeeee&#8230;..leeee&#8230;.lha aku ini Simbahmu&#8230;tapi kau tak mengenalku.&#8221;</p>
<p>&#8220;bbbuu&#8230;.buuu&#8230;bukan begitu Mbah&#8230;.tapikan dulu waktu simbah meninggal aku belum lahir ke dunia. Jadi aku tak bisa mengenali simbah.&#8221;</p>
<p>&#8220;apa kamu tidak diceritani tentang diriku oleh Bapakmu, tentang perangaiku, kesukaanku, dan perawakanku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bapak tak bercerita se mendetail itu&#8230;ia menceritakan sebatas kesaktian-kesaktian simbah.&#8221;</p>
<p>&#8220;hus&#8230;kayak gitu kok di ceritain sama cucu-cucuku. Aku tak punya kesaktian apa-apa, yang mempunyai kesaktian hanya Allah semata. Dialah sang Maha Sakti.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau kamu sudah tahu, tentang hobiku menempa ilmu kesakten. Tentunya cucu tahu siapa aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;aku tak bisa benar-benar tahu Mbah&#8230; Karena di pekuburan ini ada dua simbahku yang sakti&#8230;Mbah Ilyas dan Mbah Amin.&#8221; Rasa ketakutanku semakin memudar. Dan terasa aku kepingin pulang secepatnya mengambil kamera untuk merekam keindahan asap yang menjelma manusia ini.</p>
<p>&#8220;Simbah ini Mbah Ilyas, atau Mbah Amin?&#8221;</p>
<p>&#8220;itu tak penting. Yang penting cucu bisa silaturahmi kesini, simbah sudah bahagia. I Love You Full cucuku&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Iyaaa&#8230;.Mbah&#8230;aku ingin berkumpul dengan orang-orang yang sudah mengalami hidup yang sesungguhnya&#8230;.orang-orang yang ada didunia. Kebanyakan mereka Mati dalam hidupnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;heeee&#8230;.cucuku&#8230;jadi kamu ke sini itu mau mengetahui kehidupan yang sejatinya? Iya begitu?&#8221; Simbah nerocos menanyaiku. Aku hanya mengangguk.</p>
<p>Langit masih saja muram tak menampakkan gemerlip bintang-bintang. Hembusan angin menjatuhkan beratus bunga semboja. Gemerosak gesekan dedaunan bambu membuat pekuburan ini semakin mencekam. Aku mulai menengok ke kanan dan kekiri, sesekali menatap langit yang gelap. Suara gemericik sungai Sengkarang semakin jelas. Di kejauhan ada suara aneh. Suara deru dentuman seperti drum band masal.</p>
<p>&#8220;he&#8230;. Cucuku.&#8221; Aku tergeregap.</p>
<p>&#8220;kenapa Mbah?&#8221;</p>
<p>&#8220;hidup sejati itu harus dijalaninya tanpa kepentingan apapun juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;maksudnya apa Mbah?&#8221;</p>
<p>&#8220;kamu itu budak. Alias <em>abdun</em> yang berarti hamba. Sebagaimana budak yang tak berkepentingan apapun selain menjalankan titah sang majikan. Kita hidup di dunia juga harus kosong dari kepentingan, ambisi, keinginan duniawiyah apapun. Hanya dengan tulus mengabdi kepada Sang Juragan. Keinginan juragan lah yang harus kamu lakukan. Bukan keinginanmu sendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;tapi agak sulit <em>melik</em> apa yang diridloi Allah di dunia ini Mbah.&#8221;</p>
<p>&#8220;cuihh&#8230;jangan ngawur kamu ngomong ya&#8230; Untuk apa akalmu, kalo bukan dipakai untuk membedakan mana baik, mana jelek. Ditambah alquran dan hadis yang memperkaya pengetahuanmu tentang mana yang maksiat dan mana yang ibadah? Mana jalan untuk mengabdi kepada Juraganmu, dan mana yang mengingkariNya. Mengerti cucuku&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;I love you full, I love you full&#8230;.Mbah. aku semakin cinta sama simbah&#8230;ingat lho Mbah..yang selalu membasahi pekuburanmu tiap kamis sore dengan taburan kembang melati dan kenanga itu aku Mbaaah&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Ora ngalem&#8230;.</em>Kamu itu diajak ngomong ilmu laku, malah ngrayu&#8230;.malah <em>mlaku</em> <em>dewe</em>.&#8221;</p>
<p>&#8220;tidak Mbah. Seandainya Simbah masih hidup. Aku kan bisa menempa banyak ilmu, termasuk ilmu kesaktian, dan ilmu sejati.&#8221; Ngomongku sudah terasa enteng. Dan hawa ketakutan sudah tak menggelayuti lagi.</p>
<p>&#8220;ilmu sejati itu digali dari guru sejati, yakni diri mu sendiri. <em>Sejatine ilmu iku kanti laku</em>. Untuk apa kamu belajar dengan seribu guru, kalau ilmu itu tak pernah diamalkan menjadi amalan sedetik-detik, semenit-menit, sejam-jam dan sehari-hari.&#8221;</p>
<p>Aku terpana, dan aku sadar sepenuhnya bahwa aku sekarang sedang berhadapan dengan simbahku yang sudah meninggal hampir sudah setengah abad lalu. Apakah simbah sejatinya tak mati, kalau dia masih bisa mewejangani cucunya. Apakah beliau hanya pindah alam. &#8220;ah itu semua tak penting, yang penting dan membuatku bahagia, aku bisa bersilaturahmi dengan simbahku sendiri, bahkan aku tahu keadaan beliau dalam keadaan yang berbinar-binar.&#8221;</p>
<p>&#8220;gimana cucuku?&#8221;</p>
<p>&#8220;apanya Mbah&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;ya&#8230;itu tentang ilmu sejati.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku <em>sendiko dawuh mawon Mbah&#8230;.</em>&#8221;</p>
<p>&#8220;jangan begitu, kau harus berpendapat. Karena kau punya pikiran dan indera untuk menyampaikan pendapat.&#8221; Simbah kelihatan merapikan rambutnya yang memanjang. Dan aku tak bisa memastikan panjangnya seberapa meter. Karena aura asap putih saja membuat mata ini silau.</p>
<p>&#8220;menurutku ya guru sejati itu ya&#8230;.diri sendiri. Misalnya kita sehat ya harus kita sendiri yang menentukan. Akal yang selalu dikedepankan. Kebanyakan orang sekarang, makan minum dengan selera: enak atau tidak, bukan dengan pertimbangan: baik atau tidak untuk kesehatan sekarang dan hari yang akan datang.&#8221;</p>
<p>&#8220;benar cucuku. Orang-orang sekarang sudah banyak yang dibentuk dengan kebiasaan. Sudah biasa dia naik motor, sehingga tak pernah terbersit untuk naik sepeda ontel yang lebih sehat dan tak menghamburkan bensin yang berasal dari endapan fosil yang sama sekali tak dapat diperbaharui. Jalanan macet. Kecelakaan semakin terjadi karena motor tak pernah dibatasi. Karena manusia sudah semakin biasa naik motor, males untuk naik sepeda. Sehingga jarak ratusan meter pun terasa males untuk dijalani dengan kaki. Manusia sekarang semakin tergantung dengan teknologi. Dan itu menurutku sumber penyakit.&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>weleh</em>&#8230;<em>weleh</em> &#8230;Simbah walau Sampeyan sudah di alam sana, tapi masih saja perhatian dengan <em>tingkah polah</em> manusia yang ada di dunia.&#8221;</p>
<p>&#8220;jangan dikira yang menyangga negara Mu Indonesia ini cuma manusia yang secara lahir terlihat. Mereka para wali, energi dedaunan, frekuensi malaikat, energi udara, energi milyaran makhluk yang tak pernah terlintas dalam pikiranmu pun ikut menjaga, membangun, Indonesia agar tetap berdiri agar tak punah. Maka sangat mudah, seandainya Allah menghendaki perubahan, atau bahkan kelahiran kembali Indonesia.&#8221;</p>
<p>Aku sedikit mengerti apa yang disampaikan Simbah. Aku semakin terheran-heran mendapat ungkapan simbah yang tak selugu dalam anggapanku. Apakah mungkin di sana ada Koran, atau media yang bisa untuk meneropong keadaan dunia ini. Aku jadi semakin tak tahu dan penasaran saja.</p>
<p>&#8220;Dengarkan cucuku, aku ingin bacakan puisi untuk Negara Indonesia Mu&#8221;</p>
<p>Indonesia&#8230;aku cinta padamu selamanya</p>
<p>Indonesia &#8230;kau akan berubah atau punah</p>
<p>Indonesia &#8230;aku merindukanmu seuntuhnya</p>
<p>Indonesia &#8230;kau akan bersatu atau berseteru</p>
<p>Indonesia &#8230;Aku sayang padamu</p>
<p>Indonesia &#8230;kau punya cita-cita yang harus kau raih atau milih jadi buih</p>
<p>Indonesia &#8230;tanahnya subur makmur tapi sekarang banyak lumpur</p>
<p>Indonesia &#8230;aku ingin bersemayam dalam dadamu</p>
<p>Indonesia &#8230;perjuanganmu telah lama, dan terlalu lama, kau jadi menua</p>
<p>Indonesia &#8230;pujaanku</p>
<p>Indonesia &#8230;lama sudah kita bertemu, sudah kah kau jemu</p>
<p>Indonesia &#8230;aku tak pernah malu jadi wargamu</p>
<p>Indonesia &#8230;aku bangga punya Negara dan bangsa sebesar semesta<strong></strong></p>
<p>Indonesia&#8230;</p>
<p>Semesta&#8230;</p>
<p>sudah kau berikan nuansa untuk Indonesia.</p>
<p>tetapi ia terus sakit perasaan yang sangat lama.</p>
<p>Malaikat&#8230;</p>
<p>Sudah kau taburkan doa-doa selamat</p>
<p>tetapi ia selalu menuju ke tamat.</p>
<p>Semoga jangan dulu sampai ke jurang kiamat</p>
<p>Atau apakah Indonesia harus bermunajat</p>
<p>Aulia&#8230;</p>
<p>Sudah kau tebarkan karamah</p>
<p>untuk Indonesia</p>
<p>tetapi ia terasa jauh dari barakah.</p>
<p>Sirna gemah ripah</p>
<p>Tinggal gemah rapuh</p>
<p>Nabi&#8230;</p>
<p>asma dan pujianmu mengelilingi bumi ini</p>
<p>tapi tetap saja Indonesia tak mengerti</p>
<p>arti hidup sejati</p>
<p>Ini semua karena apa&#8230;aku tak mengerti..?</p>
<p>Indonesia&#8230;I love you full</p>
<p>Tiba-tiba saja asap itu mengepul dan berputar putar, kepulan itu seperti dihantam oleh segulungan angin yang menerjang. Asap itu hancur dan aku pun terpelanting dihantam kencangnya angin seperti puting beliung. Aku terkapar tak sadarkan diri di Indonesia.</p>
<p>Paesan, 27 Februari 2010</p>
<p>Ahmad Saifullah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanbihun.com/bebas/utusan-kuburan-untuk-cinta-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
