TANBIHUN ONLINE

BAB lll – Tentang Hukum Hukum Bersuci

 Breaking News
  • Sesungguhnya Do’a-Do’a Yang Dipanjatkan Pada 5 Malam Ini Akan Di Kabulkan Oleh Alloh SWT Tanbihun.com- Selamat datang Bulan Mulia (haram) Rojab 1436 H. وقال الإمام الشافعي رضي الله عنه: “بلغنا أنه كان يقال: إن الدعاء يُستجاب في خمس ليال: في ليلة الجمعة، وليلة الأضحى،...
  • Inilah Do’a Malam 1 Rojab (Lengkap) Doa Syeikh Abdul Qodir Al-Jilani radhiyallaahu ‘anhu إِلَهِيْ تَعَرَّضَ لَكَ فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ الْمُتَعَرِّضُوْنَ، وَقَصَدَكَ الْقَاصِدُوْنَ، وَأَمَّلَ فَضْلَكَ وَمَعْرُوْفَكَ الطَّالِبُوْنَ؛ وَلَكَ فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ نَفَحَاتٌ وَجَوَائِزُ، وَعَطَايَا وَمَوَاهِبُ، تَمُنُّ بِهَا...
  • Kisah Kang Santri (True Story Bag.2) TANBIHUN.COM- Setahun berselang aku pulang ke rumah. Kisahnya berawal ketika aku menelpon salah satu saudaraku di Jakarta, lalu saudaraku itu memberikan nomer telponku kepada ayahku Allohu yarhamuh. Girang luar biasa...
  • Tetaplah Semangat Dalam Segala Kondisi TANBIHUN.COM- Kenapa Aku selalu merasa sedih? Kamu tidak sedih, hanya kurang semangat.dan itu bisa mencair lagi seiring dengan pikiranmu yang lebih positif. Tapi Aku belum bisa mencapai hal yang aku...
  • Masihkah Kau Meratap Didinding facebook? TANBIHUN.COM- Mark Zuckerberg, seorang anak muda Yahudi ingin membawa tradisi Yahudi dengan Tembok Ratapan nya ke ranah dunia maya dengan menciptakan Facebook. Disana setiap orang bisa meratap dan mengungkapkan uneg-unegnya,...
May 29
13:06 2011

Tanbihun.com – Kata Thaharah adalah semakna dengan Nadhafah, artinya bersih atau suci’. sedangkan menurut istilah, thaharah mempunyai banyak pengertian yang antara lain ialah ‘suatu perkara yang menyebabkan Sese’orang di perbolehkan mengerjakan Shalat’. contohnya seperti wudhu, mandi, tayamum, dan menghilangkan najis.

Macam-Macam air Suci

Mengingat karena air merupakan alat bersuci, maka perlu dijelaskan macam-macamnya. Bahwa air yang sah untuk bersuci dari mani’, hadas dan najis itu ada tujuh macam, yaitu :

  1. Air hujan
  2. Air laut
  3. Air sungai
  4. Air sumur
  5. Sumber mata air
  6. Air es ( burd, salju )
  7. Air embun

Ketujuh macam air di atas, kemudian diringkas menjadi dua, yaitu air yang turun dari langit dan yang bersumber dari bumi, demikian itu bila di lhat dari ke’adaan yang wujud. sedangkan hakikatnya semua air itu berasal dari langit, sebagaimana di jelaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an yang artinya ;

“…dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu ( dengan hujan itu ) dan menghilangkan darimu gangguan-gangguan Syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh ( denganya ) telapak kakimu”.

Pembagian Air

Ketujuh jenis air tersebut kemudian di bagi menjadi lima kriteria, yaitu ;

1. Air Mutlaq, yaitu air yang suci ke’adaanya dan dapat mensucikan selainya, tidak di hukumi makruh menggunakanya serta tanpa terikat oleh sebutan atau penama’an.

2. Air suci mensucikan, akan tetapi makruh menggunakanya untuk keperluan tubuh. sedangkan untuk mensucikan pakaian tidak terbilang makruh, yaitu air yang panas akibat sengatan sinar matahari. alasan di makruhkanya memakai untuk keperluan tubuh, dikarenakan dapat membahayakan kulit. namun ketika sudah dingin, hukumnya tidak makruh lagi.

3. Air suci yang tidak dapat mensucikan selainya, terdapat tiga macam;

  • Air musta’mal, yaitu sisa air yang telah di gunakan untuk menghilangkan mani’, hadas, atau najis sekiranya tidak berubah dan tidak bertambah dari ukuran semula.
  • Air yang berubah salah satu dari tiga sifatnya akibat bercampur dengan benda-benda suci, sehingga hilang kemutlakan namanya. seperti air teh, air kopi, air jeruk dan sejenisnya.
  • Air buah-buahan , seperti air kelapa dan sejenisnya. air tersebut suci akan tetapi tidak dapat mensucikan.

4. Air suci mensucikan, akan tetapi haram memakainya, yaitu air yang husus di sediakan untuk minum, tidak untuk keperluan lain.

5. Air tekena najis atau air mutanajjis, yaitu air suci yang terkena najis. ada dua jenis;

  • Air yang sedikit ( kurang dari dua qullah ), jika terkena najis baik berubah maupun tidak tetap di hukumi najis.
  • Air yang banyak ( lebih dari dua qullah ), akan tetapi berubah warna,rasa,dan baunya akibat kemasukan najis. baik berubahnya banyak maupun sedikit tetap di hukumi najis.

Dari Abu Umamah Al-Bahili ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya air itu tidak dapat dinajiskan oleh sesuatupun kecuali apabila berubah baunya, rasanya, atau warnanya.” (HR. lbnu Majah dan didha’ifkan oleh Abu Hatim)

Dan diriwayatkan Baihaqi: “Air itu suci mensucikan kecuali bila berubah baunya, rasanya atau warnanya karena najis yang menimpanya.”

Hadits di atas menerangkan bahwa air itu suci mensucikan dan tidak dapat menjadi najis karena sesuatu kecuali bila berubah bau, rasa, atau warnanya.

Jika air tidak berubah baunya, rasanya, dan warnanya, maka ia tetap suci mensucikan. Namun dalam madzhab Syafi’i ada tambahan syarat, yaitu air tersebut haruslah minimal 2 qullah (sekitar 216 liter). Jika kurang dari 2 qullah, maka menjadi najis; walau pun tidak berubah warnanya, baunya, atau rasanya. Pendapat ini didasarkan kepada hadits dari Ibnu ‘Umar.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila air telah sampai dua qullah, maka ia tidak menjadi kotor/cemar.” Dalam lafazh lain: “Tidak najis” (HR. Imam yang empat dan dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, dan Ibnu Hibban)

Pengertian Air Dua Qullah

Air dua qullah adalah air seukuran 500 rothl ‘Iraqi yang seukuran 90 mitsqol. Jika disetarakan dengan ukuran sho’, dua qullah sama dengan 93,75 sho’ (Lihat Tawdhihul Ahkam min Bulughil Marom, 1/116). Sedangkan 1 sho’ seukuran 2,5 atau 3 kg. Jika massa jenis air adalah 1 kg/liter dan 1 sho’ kira-kira seukuran 2,5 kg; berarti ukuran dua qullah adalah 93,75 x 2,5 = 234,375 liter. Jadi, ukuran air dua qullah adalah ukuran sekitar 200 liter. Gambaran riilnya adalah air yang terisi penuh pada bak yang berukuran 1 m x 1m x 0,2 m.atau sekitar 216 liter atau 60cm x 60cm x 60cm. apabila tempatnya berbentuk bulat pancang, maka ukuran dalamnya sepanjang dua hasta dan lebarnya satu hasta.

Adapun hadits mengenai air dua qullah adalah sebagai berikut.
“Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak mungkin dipengaruhi kotoran (najis).” (HR. Ad Daruquthni)

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatupun yang menajiskannya. ” (HR. Ibnu Majah dan Ad Darimi)

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

Latest Comments

ya ditunggu,semoga tidak lupa ..... hehehhe.... :) ...

menunggu sambungannya :) ...

Al-Faqir mohon halalnya MP3 manaqib dan doa yang sy unduh, terima kasih semoga bermanfaat JAZAKUMULLAH...