Hukum Memakai Celana atau Sarung Melebihi Mata Kaki

Hosting Unlimited Indonesia


Tanya:

Bagaimana hukumnya seseorang memakai sarung/ celana melebihi mata kaki(sampai dibawah mata kaki) disaat sholat atau diluar sholat?

Jawab:

ﺑﺴﻡ ﺍﻠﻠﻪ ﺍﻠﺮﺤﻤﻦ ﺍﻠﺮﺤﻴﻡ

ﺍﻠﻠﻬﻢ ﺼﻞ ﻋﻠﻰ ﺴﻴﺪﻨﺎ ﻤﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻞ ﺴﻴﺪﻨﺎ ﻤﺤﻤﺪ

Hukumnya makruh/ tidak disukai menurut hukum Syar’i.
Bahkan kalau dilakukan karena Sombong (Khuyalaa’ Wal Bathr), maka hukumnya DOSA.

Dasar dalil: “ Kasyifatus Saja” Li Syaikh Nawawi Al- Bantani halaman 17. “Daliilul Faalikhiin Li thuruqi Riyaadhis Shooloihiin” Juz III halaman 72

ﻭﺍﻟﻤﻜﺭﻭﻫﺎﺖ ﻔﻲ ﺍﻟﺻﻼﺓ ﺇﺤﺪﻯ ﻭﻋﺸﺮﻮﻥ …ﺇﻟﻰ ﺍﻥ ﻗﺎﻞ ….ﻮﺴﺑﻊ ﻋﺸﺮﻫﺎ ﺍﻹﺴﺑﺎﻞ ﻮﻫﻭ ﺇﺭﺧﺎﺀ ﺍﻹﺯﺍﺮ ﻋﻟﻰ ﺍﻷﺮﺾ

ﻮﺃﻧﻪ ﻻ ﻴﺠﻮﺯ ﻔﻴﺤﺭﻡ ﺇﺮﺴﺎﻟﻪ ﺗﺤﺖ ﺍﻟﻜﻌﺑﻴﻦ ﺇﺬﺍ ﻜﺎﻦ ﻋﻟﻰ ﻭﺠﻪ ﺍﻟﺧﻴﻼﺀ ﻭﺍﻟﺑﻁﺮ ﻭﺇﻦ ﻻ ﻔﻴﻜﺮﻩ

14 Comments on Hukum Memakai Celana atau Sarung Melebihi Mata Kaki

  1. DALIL-DALIL HARAMNYA ISBAL
    Pertama.
    “Dari Abu Dzar bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan bagi mereka adzab yang pedih. Rasulullah menyebutkan tiga golongan tersebut berulang-ulang sebanyak tiga kali, Abu Dzar berkata : “Merugilah mereka! Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab : “Orang yang suka memanjangkan pakaiannya, yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.” [Hadits Riwayat Muslim 106, Abu Dawud 4087, Nasa’i 4455, Darimi 2608. Lihat
    Irwa': 900]
    Kedua.
    “Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” [Hadits Riwayat Bukhari 5783, Muslim 2085]
    Ketiga.
    “Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi ersabda : “Apa saja yang di bawah kedua mata kaki di dalam neraka.” [Hadits Riwayat Bukhari 5797, Ibnu Majah 3573, Ahmad 2/96]
    Keempat
    “Dari Mughiroh bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu, adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Sufyan bin Sahl! Janganlah kamu isbal, sesungguhnya Allah tidak menyenangi orang-orang yang isbal.” [Hadits Riwayat. Ibnu Majah 3574, Ahmad 4/26, Thobroni dalam Al-Kabir 7909. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 2862]
    Kelima
    “Waspadalah kalian dari isbal pakaian, karena hal itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan” [Hadits Riwayat Abu Dawud 4084, Ahmad 4/65. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 770]
    Keenam
    Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, : “Saya lewat di hadapan Rasulullah sedangkan sarungku terurai, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurku seraya berkata, “Wahai Abdullah, tinggikan sarungmu!” Aku pun meninggikannya. Beliau bersabda lagi, “Tinggikan lagi!” Aku pun meninggikannya lagi, maka semenjak itu aku senantiasa menjaga sarungku pada batas itu. Ada beberapa orang bertanya, “Seberapa tingginya?” “Sampai setengah betis.”[Hadits Riwayat Muslim 2086. Ahmad 2/33]
    Berkata Syakh Al-Albani rahimahullah, : “Hadits ini sangat jelas sekali bahwa kewajiban seorang muslim hendaklah tidak menjulurkan pakaiannya hingga melebihi kedua mata kaki. Bahkan hendaklah ia meninggikannya hingga batas mata kaki, walaupun dia tidak bertujuan sombong, dan di dalam hadits ini terdapat bantahan kepada orang-orang yang isbal dengan sangkaan bahwa mereka tidak melakukannya karena sombong! Tidakkah mereka meninggalkan hal ini demi mencontohkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu Umar?? Ataukah mereka merasa hatinya lebih suci dari Ibnu Umar?” [Ash-Shahihah: 4/95]
    Berkata Syaikh Bakr Abu Zaid :” Dan hadits-hadits tentang pelarangan isbal mencapai derajat mutawatir makna, tercantum dalam kitab-kitab shohih, sunan-sunan, ataupun musnad-musnad, diriwayatkan dari banyak sekali oleh sekelompok para sahabat. Beliau lantas menyebutkan nama-nama sahabat tersebut hingga dua puluh dua orang. Lanjutnya : “ Seluruh hadits tersebut menunjukkan larangan yang sangat tegas, larangan pengharaman, karena di dalamnya terdapat ancaman yang sangat keras. Dan telah diketahui bersama bahwa sesuatu yang terdapat ancaman atau kemurkaan, maka diharamkan, dan termasuk dosa besar, tidak dihapus dan diangkat hukumnya. Bahkan termasuk hukum-hukum syar’i yang kekal pengharamannya.”[Hadd Tsaub Wal Uzroh Wa Tahrim Isbal Wa Libas Syuhroh, hal. 19]

  2. trus itu gmn hukumnya klo 1/2 betis itu kita malu,sedangkan itu adalah sunnah nabi?

    • para Ulama’ berbeda pendapat apakah larangan itu begitu saja tanpa ada illat (konsideran) atau karena sebuah illat (konsideran).
      Ada 2 pandangan :
      Pendapat 1. Yang mengatakan larangan itu tanpa adanya illat, maka isbal haram baik disertai kesombongan atau tidak

      Pendapat 2. Isbal haram karena sebuah illat kesombongan, jadi jika isbal dan disertai kesombongan makan hukumnya haram jika tidak maka hukumnya tidak apa-apa.(makruh)

      Bagaimana dengan kita, ambil aja yang lebih bijak.

  3. ARIF SUMINAR // 7 June 2011 at 10:47 am // Reply

    SAYA SANGAT SETUJU JIKA SEMUA MUSLIM MENJAUHI LARANGAN INI
    KARENA DASAR HUKUMNYA JELAS DAN KEDUDUKAN HADISNYA SOKHIH

  4. ARIF SUMINAR // 7 June 2011 at 10:50 am // Reply

    SAYA SANGAT SETUJU JIKA SEMUA MUSLIM MENJAUHI LARANGAN INI
    KARENA DASAR HUKUMNYA JELAS DAN KEDUDUKAN HADISNYA SOKHIH TAPI SAYANGNYA DARI SEKIAN BANYAK HADIS INI KEBANYAKAN ORANG MASIH AWAM.
    ALHAMDULILLAH JAZA KUMULLAHU KHOIRO.

  5. betul-betul, pendapat yang kuat, karena larangan yang ada larangan murni bukan karena sebab2 tertentu. lalu dimana hikmahnya?… Allah yang tau. menurut saya itu menjadi ujian bagi kita (jangan kita tolak dengan akal kita (yang kita rekayasa sendiri tampa dalil (Ql-Qur’an, Al-Hadist, Ijma’ dan Qiyas yang benar)).

  6. wong insyaf // 15 July 2011 at 10:49 am // Reply

    betul-betul, pendapat yang kuat, karena larangan yang ada larangan murni bukan karena sebab2 tertentu. lalu dimana hikmahnya?… Allah yang tau. menurut saya itu menjadi ujian bagi kita (jangan kita tolak dengan akal kita (yang kita rekayasa sendiri tampa dalil (Ql-Qur’an, Al-Hadist, Ijma’ dan “Qiyas yang benar”)).
    kalau ada yang berpendapat pengharamannya karena Illat, mana dalilnya biar kami tau ………..

    • Dari Ibnu ‘Umar diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

      “Barangsiapa memanjangkan pakaiannya KARENA SOMBONG, maka Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” Kemudian Abu Bakar bertanya, “Sesungguhnya sebagian dari sisi sarungku melebihi mata kaki, kecuali aku menyingsingkannya.” Rasulullah Saw menjawab, “Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” [HR. Jama’ah, kecuali Imam Muslim dan Ibnu Majah dan Tirmidizi tidak menyebutkan penuturan dari Abu Bakar.]

      Dari Ibnu ‘Umar dituturkan bahwa Rasulullah Saw telah bersabda:

      “Isbal itu bisa terjadi pada sarung, sarung dan jubah. Siapa saja yang memanjangkan pakaiannya KARENA SOMBONG, maka Allah swt tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” [HR. Abu Dawud, an-Nasa`i, dan Ibnu Majah]

      Kata khuyalaa’ berasal dari wazan fu’alaa’. Kata al-khuyalaa’, al-bathara, al-kibru, al-zahw, al-tabakhtur, bermakna sama, yakni sombong dan takabur.

      Mengomentari hadits ini, Ibnu Ruslan dari Syarah al-Sunan menyatakan, “Dengan adanya taqyiid “khuyalaa’” (karena sombong) menunjukkan bahwa siapa saja yang memanjangkan kainnya melebihi mata kaki tanpa ada unsur kesombongan, maka dirinya tidak terjatuh dalam perbuatan haram. Hanya saja, perbuatan semacam itu tercela (makruh).”

      Imam Nawawi berkata, “Hukum isbal adalah makruh. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Syafi’iy.”..

  7. Secara syar’i, isbal artinya memanjangkan sarung hingga di bawah mata kaki.

    Imam Nawawi mengatakan :” Adapun sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maknanya adalah memanjangkan ujungnya.” (Syarah Shahih Muslim juz 2 hal. 116, bab Ghalthu Tahrimil Isbalil Izari).

    Pengarang ‘Anunul Ma’bud mengatakan arti hadits “ hati-hati engkau terhadap Isbal kain ” yaitu hati-hatilah engkau, jangan menurunkan dan memanjangkannya di bawah mata kaki” (‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Daud juz 11 hal. 136 Kitabul Libas Bab Maa Ja’a Fii Isbalil Izar).

    Di antara hadist yang melarang isbal karena sombong adalah:

    عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة ,فقال أبو بكر إن أحد شقي ثوبي يسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه ,فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم إنك لست تصنع ذلك خيلاء ,قال موسى فقلت لسالم أذكر عبد الله من جر إزاره قال لم أسمعه ذكر إلا ثوبه (صحيح البخاري ج 3 ص 1340)

    Artinya : Dari Abdullah Ibn Umar ra., ia berkata : Telah bersabda Rasul SAW : “Barang siapa menjuntaikan pakaiannya KARENA SOMBONG (KHUYALAA’), maka Allah SWT tidak akan memandangnya pada hari kiamat”.

    Kemudian Abu Bakar berkata :

    “Sesungguhnya seseorang mencela pakaianku karena ia (sarungnya) melorot, kecuali aku memeganginya.

    Lalu Rasul SAW bersabda: Engkau bukanlah orang yang melakukannya KARENA SOMBONG”.
    Musa berkata : Saya berkata kepada Salim, bahwa Abdullah (Ayahnya –pent) pernah mengatakan : “Barang siapa menjuntaikankan sarungnya …. . Salim menjawab : Saya tidak mendengarnya mengatakan hal itu kecuali …… pakaiannya” (HR. Imam Bukhori jilid 5No. 5447hal. 2183).

    Ulama telah mengomentari hadist di atas dan hadist yang semakna. Di antaranya adalah:

    1. Al-Hafidz Ibn Hajar menyatakan:
    ويستفاد من هذا الفهم التعقب على من قال أن الأحاديث المطلقة في الزجر عن الإسبال مقيدة بالأحاديث الأخرى المصرحة بمن فعله خيلاء
    Artinya :faedah yang diperoleh dari pemahaman ini mengikuti pendapat dari kelompok yang mengatakan bahwa hadis-hadis itu (yang menunjukkan) kemutlakan tentang dosa pada isbal terikat (muqayyadah) dengan dengan hadis-hadis lain yang jelas bagi mereka yang melakukannya KARENA SOMBONG (Lihat Kitab Fath Al-bari jilid 10hal. 259) .

    2. Imam Nawawi Ad- Dimasyqy menyatakan:
    ظواهر الأحاديث في تقييدها بالجرخيلاء يقتضي أن التحريم مختص بالخيلاء

    Hadis-hadis itu secara dhohir memberi batasannya (taqyiid) dengan menjuntaikankan pakaian KARENA SOMBONG adalah menunjukkan bahwa pengharaman dikhususkan karena sombong (Fath Al-bari jilid 10hal. 259).

    3. Al-Hafidz Ibn Abdil Al-Barr menyatakan:

    قال أبو عمر الخيلاء التكبر و هي الخيلاء و المخيلة يقال منه رجل خال و مختال أ شديد الخيلاء وكل ذلك من البطر والكبر والله لا يحب المتكبرين ب ولا يحب كل مختال فخور وهذا الحديث يدل على أن من جر إزاره خيلاء و لا بطر أنه لا يلحقه الوعيد ,أن جر الازار والقميص وسائر الثياب مذموم على كل حال

    Artinya : Ibn Umar berkata Al-Khuyala’ adalah Kesombongan (Takkabur), yaitu AL-KHUYALA’’ dan AL- MAKHILAH. Dikatakan Rijal Khol wa Mukhtal , artinya orang yang sangat sombong. Semua itu mencakup orang yang sombong dan takabur (Al-Bathor wa Al-Kibr). Sesuai firman Allah dalam Surat Luqman yang menyatakan: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri dan bermegah-megahan” (Q.S.Luqman 18). Hadis ini menunjukkan bahwa barang siapa menjuntaikankan sarungnya karena sombong dan apabila tidak karena sombong, maka ia tidak dikenai ancaman itu. Hanya saja menjuntaikankan sarung, gamis dan seluruh jenis pakaian adalah tercela dalam semua keadaan (At-Tamhid li Abdil Al-Barr jilid 4hal. 288-289).

    Anda bebas, boleh setuju pendapat para ulama sekaliber Abnu Hajar Al- Asqolany al- Hafidh- pensyarah sohih Bukhory, Imam Naway pensyarah Sohih Muslim, dan lain- lain Ulama kaliber dunia atau anda setuju Ulama zaman sekarang. Sumonggo……….

    • ini baru pendapat yang menenangkan….! jangan khawatir semuanya sudah di terangkan oleh para ulama yang sudah teruji kebenarannya ..mengikuti para ulama kenapa di anggap taqlid batil,,,ngasih coment kaya kesurupan ,,itu sombong namanya ..ingat sombong itu sangat di benci Allah iyah toh..

  8. Sya Mau nanya nie bang,
    Kenapa Para ustad di pesantren saya mayoritas memakai sarung di bawah mata kaki,padahal sudah di beri ta klo hukum memakai sarung di bawah mata kaki haram, klo saya mah ikut ikut ustad aja make sarung di bawah mata kaki.
    saya butuh penjelasanya

  9. K.H.A.Rifa’i menyatakan: ﻮ ﻻ ﻴﺠﻮﺯ ﺍﻟﺘﻘﻟﻴﺪ ﺑﻔﻌﻟﻬﻡ
    “Walaa yajuuzu at- taqliid BIFI”LIHIM (bal bi ilmihim)”
    “Dan tidak boleh ikut- ikutan terhadap PERBUATAN amaliyah seseorang (yang diperbolehkan itu TAQLID terhadap ilmu mereka). Maka kalau ada suatu amaliyah seseorang yang berbeda dengan hukum yang terang, walaupun itu ustadz atau guru kita, kita berhak menanyakan alasannya dan hujjah keilmuannya.
    Misalnya kalau kita melihat kiyai kita menangkap katak/ kodok dan kemudian memasak dan memakannya, kita tidak boleh taqlid buta kepada beliau tanpa mempertanyakan keilmuannya, mungkin beliau makan katak itu karena darurat, untuk mengobati suatu penyakit yang dideritanya, misalnya.
    Nah sebelum anda ikut- ikutan, tanyakan dulu alasan ustadz anda kenapa melakukan amaliyah yang minimal hukumnya makruh itu.

  10. mohon maaf kl untuk wanita dipkai tidak cra ini..??

  11. Yth.Akhi Alamsyah, semua permasalahan diatas, yakni memanjangkan sarung sampai matakaki adalah berlaku untuk kaum lelaki saja, tidak berlaku bagi kaum wanita, sesuai hadist Ummi Salamah:

    فقال أم سلمة :فكيف تصنع النساء بذيولهن ؟يرخين شبرا ,قالت :إذا تنكشف أقدامها ؟
    قال فيرخينه ذراعا لايزدن

    “Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Bagaimanakah bagi kaum wanita? Jawab Nabi: “Diturunkan satu jengkal”, berkata ummu salamah: “Kalau demikian kaki mereka akan terlihat, Nabi bersabda, rendahkan sehasta tidak boleh lebih dari itu “.
    (HR An Nasa`I :8/209 ).
    Jadi untuk kaum wanita,gaun sampai menutup mata kaki itu tidak mengapa, tapi menyeret- nyeret gaun seperti pada kebanyakan putri- putri raja atau pada para pengantin, tetap tercela menurut syar’i. Wallohu a’lam.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*