Tanbihun Online

Merokok, Haramkah? Makruhkah?

Merokok, Haramkah? Makruhkah?

Merokok, Haramkah? Makruhkah?
March 26
01:56 2010

oleh : Abu Royhan Firdausi

rokok

Merokok= .... ???

Merokok adalah kebiasaan suku Indian Amerika yang ditiru oleh orang Eropa kemudian di ekspor kenegara- negara yang dijajahnya, kemudian kebiasaan inipun menyebar keseluruh dunia.

Kini dunia melalui W.H.O sedang gencar mengkampanyekan anti merokok, karena dianggap merokok sangat merugikan kesehatan dan mencemari dunia.

Di Indonesia pun rokok sedang ramai dibicarakan, khususnya setelah munculnya Fatwa Haram merokok, tak kurang ramainya menandingi kasus- kasus korupsi besar yang sekarang sedang popular ditayangkan dimedia- media.

Pertama Fatwa haram merokok dikeluarkan oleh M.U.I Indonesia. Tak lama berselang Fatwa haram muncul dari Muhammadiyah. Yang elok, Mas Amin yang sedang ber- ancang- ancang masuk kembali kedalam bursa calon PP Muhammadiyah, berseberangan dengan lembaga yang membesarkannya itu, dan menyatakan: tak ada dalil yang PASTI dalam Al- Qur’an maupun hadist. Sedangkan NU (Nahdlatul Ulama) tetap konsisten menyatakan bahwa merokok dihukumi makruh, tak sampai haram.

Adapun dalil- dalil yang mereka pakai baik oleh MUI, NU maupun Muhammadiyah sebenarnya sama, yakni:

  1. Al- Qur’an: “Jangan jatuhkan dirimu pada kerusakan”. Karena dianggap merokok itu dapat merusak kesehatan seseorang dengan banyaknya kandungan racun yang ada pada rokok itu. (lihat: //novaku.wordpress.com/2006/12/04/kandungan- rokok/).
  2. Al- Qur’an: “Allah mengharamkan untuk kalian segala sesuatu yang buruk”. Merokok dipandang sebagai sesuatu yang buruk.
  3. Al- Qur’an:” Jangan lah berbuat hambur, karena orang yang suka hambur (tabdzir) itu mereka adalah teman- teman syaitan”. Merokok sama dengan membakar uang yang berarti hambur, maka para perokok itu dianggap sebagai para teman syaitan sesuai ayat tersebut diatas.
  4. Rokok merupakan pintu masuk dan sarana dikonsumsinya bahan adiktif lainnya seperti hasyis, ganja dan narkoba lainnya. Melalui kebiasaan merokoklah kemudian para pelajar akhirnya mencoba ganja, heroin, kokain dan bahan adiktif lainnya.

Adapun yang berpendapat makruh tidak sampai jatuh ke HARAM adalah karena hal- hal berikut:

1.  Rokok memang membahayakan, namun bahayanya tak langsung, butuh waktu lama tidak sebagaimana minum alcohol, ganja, minum racun atau bunuh diri yang bahaya

nya langsung saat itu juga.

Bukankah makanan yang mengandung kolesterol seperti daging kambing itu juga membahayakan dan dapat menyebabkan kematian bila dimakan berlebihan dan dalam jangka panjang?

Bukankah Karbo Hydrat/ Glukose/ gula juga merupakan sesuatu yang membahayakan yang dalam jangka waktu lama dan berlebihan dapat mengakibatkan obesitas/ diabetis mellitus yang membahayakan kehidupan?

Bukankah minum kopi juga dapat mengganggu irama jantung dan dapat meningkatkan resiko kena heart stroke (serangan jantung) dan dapat berakibat kematian?

2.  Rokok tidak seluruhnya sesuatu yang buruk, tidak ada nash yang pasti tentang hal itu. Bahkan dalam beberapa experience, para pemikir akan dapat lebih focus dalam beker

ja bila ditemani rokok. Tentu saja asas manfaat ini akan tertolak bila memang ada nash   Qoth’i yang menyatakan haramnya rokok, seperti tertolaknya orang yang menyatakan semangatnya naik saat minum alcohol, karena ada nash Qoth’i/pasti tentang larangan Khomr/ Alkohol dalam Al- Qur’an maupun hadist.

3.  Rokok masih merupakan sumber kehidupan masyarakat banyak seperti masyarakat kota Kudus atau masyarakat petani tembakau lainnya seperti daerah Magelang- Wonosobo yang akan berakibat fatal bila ada fatwa yang mengikat tentang keharaman merokok. Bila merokok hukumnya haram, maka konsekwensinya bekerja di pabrik rokok, menanam / menjual tembakau atau menjual rokok juga hukumnya haram sebagaimana menjual minuman keras.

Yang penulis ketahui, melalui beberapa pondok yang dikelola dan ber- afiliasi dengan NU seperti misalnya Pondok Pesantren Al- Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor dengan 16.000 santrinya dan beberapa pesantren lain yang pernah penulis kunjungi, mereka telah lama menetapkan LARANGAN MEROKOK. Bagi santri- santri yang merokok dikenakan tindakan amat keras tanpa ampun, yakni dikeluarkan dari pesantren. Rupanya NU memilih tidak melakukan REVOLUSI dengan mengeluarkan fatwa melarang merokok, namun lebih memilih proses EVOLUSI melalui pendidikan yang memang butuh waktu lebih lama.

Bagaimana dengan Rifa’iyah? Akankah mengikuti fatwa haram atau tetap mengacu kepada fatwa makruh, walau dengan ungkapan MAKRUH TAHRIM, makruh berat yang mendekati haram? Atau memasukkannya kedalam UMUR  MUSYTABIHAT  yang lebih aman dijauhi?

Penulis sendiri sudah sejak awal tidak pernah merokok, dan bukan petani tembakau, jadi tak ada masalah dengan munculnya Fatwa haram tersebut.

Share

About Author

Related Articles

Hubungi Kami:

Admin1:
Admin2:
Admin3:
Admin4:
Admin5:
Admin6:

Home Office :
Jl.Napak Tilas No.2 Cepokomulyo Gemuh
Kendal Jawa Tengah 51356
Email: admin@tanbihun.com
Phone: +62 85781738844

Who's Online

46 visitors online now
Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site