Beberapa Pandangan Imam Syafi’i Tentang Adabul Jum’at

Oleh : KH. Ahmad Syadzirin Amin

Tanbihun.com – mukallaf berkewajiban mengetahui ilmu tentang syarat-syarat kedua khutbah, seperti kewajiban mukallaf mengetahui ilmu tentang cara ibadah kepada Allah Swt. Karena meninggalkan salah satu dari syarat-syarat ibadah, tanpa adanya keuzuran syara’ itu tidak dibenarkan oleh agama.

Sangat tepat mencari ilmu tentang bilangan Jum’at yang sah kurang dari 40 orang. Kenyataan di lapangan membuktikan, bahwa salah satu dari bilangan (penanggung jawab) penyelenggaraan ibadah Jum’at ternyata banyak yang tidak memenuhi ilmu keberan shalat dan khutbah.

Sebagi penganut mazhab Syafi’I yang murni, setiap melaksanakan shalat Jum’at harus memnuhi syarat-syarat yang ditentukan. Diantara salah satu syarat ialahberdirinya 40 orang yang memenuhi kriteria bilangan Jum’at (Adabul Jum’at). Tetapi, apabila hal tersebut tidak memungkinkan, maka bolehlah mengamalkan ucapan Imam Syafi’I48 ) yang lain, sehingga kegiatan shalat Jum’at tetap bisa dilaksanakan. Pendapat Imam Syafi’I tersebut anatara lain sebagai berikut:

Pertama, Qaul Jadid49 ) dari pendapat Imam Syafi’I di Mesir, bahwa bilangan mendirikan shalat Jum’at minimal 40 orang yang kamil, yaitu: beragama Islam, berakal, baligh, lelaki, merdeka dan muqim mustauthin. Pendapat Imam Syafi’I ini didukung serta dipercaya oleh golongan mayoritas ulama mujtahid mazhab,50 ) mujtahid fatwa,51 ) dan ulama penganut Imam Syafi’I (syafi’iyah), maka pendapat itu disebut Qaulul Mu’tamad.

Kedua, Qaulul Qadim52 ) yang pertama. Sebelum menetap di Mesir, Imam Syafi’I di Baghdad (Irak) berpendapat bahwa shalat Jum’at boleh didirikan dengan 12 bilangan Ahlul Jum’at.53 ) Yaitu dengan orang-orang Islam, berakal sehat, berusia baligh, kaum lelaki, merdeka dan muqim mustauthin, dengan syarat-syarat sebagimana berlaku dalam bilangan 40 orang. Pendapat lama ini tidak banyak dukungan dari pengikut-pengikut Imam Syafi’I, maka disebut sebagai pendapat yang lemah (Qaul Dhaif).

Ketiga, Qaul Qadim yang kedua. Ketika di Baghdad (Irak) Imam Syafi’I ra. Berpendapat bahwa shalat Jum’at boleh didirikan dengan empat orang54) bilangan Jum’at tersebut dengan syarat-syarat sebagaimana berlaku dalam bilangan 40 orang di atas. Pendapat lama ini tidak banyak pula mendapat dukungan dari pengikut-pengikut Imam Syafi’I, maka disebut sebagai pendapat lemah (Qaulul Dhaif).55 )

Bagi orang-orang yang akan mengamalkan salah satu ucapan Imam Syafi’I, hendaklah lebih dahulu mempelajari ilmu yang berhubungan dengan pengamalan tersebut meskipun pendapat yang diamalkan itu lemah.

Akan halnya semua amal ibadah harus disertai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam kitab-kitab fiqih.56 ) Beramal ibadah tanpa usaha memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, maka amal ibadahnya menjadi batal.

Sudah terang boleh atas orang yang bermaksud taqlid57 ) qaul dhaif berbuat ibadah di dalam haknya sendiri. Atau berbuat maslahat58 ) untuk orang lain karena sengketa misalnya. Dan tidak boleh taqlid mengamalkan pendapat yang lemah untuk memutuskan perkara hukum (qadla’)59 ) atau memberi fatwa, sebagaimana dikatakan :

60 )

Boleh mengamalkan dengan pendapat yang lemah untuk diamalkan kepentingan pribadi atau karena untuk maslahat orang lain. Tidak boleh untuk memutuskan hukum di pengadilan dan tidak boleh (pula) untuk memberi fatwa agama secara ithlaq (tanpa menyebut kelemahan pendapat yang disampaikan)”.


48) Nama lengkapnya ialah Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’I bin Saib bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib bin Abdul Manaf bin Qushai. Adapun dari pihak ibunya, Fathimah binti Abdullah bin Hasan bin Husain bin Ali bin Abdul Muthalib. Ia lahir tahun 150 H. di Ghazwah, lalu dibawa oleh ibunya ke Makkah pada usia dua tahun. Di Makkah selama duapuluh tahun berguru al-Qur’an kepada Imam Muslim bin Khalid al-Zanji; di Madinah kepada Imam Malik membaca al-Muwatha’ dihadapannya; di Yaman ia berguru kepada Mathraf bin Mazin; di Irak kepada Waqi’ bin Jarrah dan puluhan guru yang lain. Pada usia 7 tahun ia sudah hafal al-Qur’an di luar kepala; usia 15 tahun diizinkan oleh Imam Muslim menjadi dosen di Makkah; dan usia 17 tahun resmi menjadi mujtahid muthlaq. Diantara kitab-kitabnya ialah al-Risalah, Ihtilaf al-Hadis, al-Um, Muhtashar Muzani, al-Jadid, al-Imla’. Imam Syafi’I wafat pada hari Kamis malam Jum’at tanggal 29 Rajab 204 H./19 Juli 820 M. dalam usia 54 tahun di Mesir (al-Risalah: I/2)

49) Qaul Jadid Imam Syafi’I di Mesir ini berdasarkan hadis dari Ibnu Mas’ud: “Bahwasannya nabi Muhammad kumpul shalat Jum’at di Madinah adalah 40 orang lelaki”. Sabda nabi: “tatkala kumpul 40 orang, maka wajib atas mereka shalat Jum’at”. Dan: “Tidak sah shalat Jum’at kecuali di dalam 40 orang”. (Ianat al-Thalibin: II/56).

50) Mujtahid Mazhab ialah mujtahid yang mengikuti imam mazhabnya, dalam masalah ushul atau furu’. Kalaupun dia melakukan ijtihad, terbatas masalah yang hukumnya tidak ada dalam pendapat imam mazhabnya (Asn al-Maqashid: I/249).

51) Mujtahid Fatwa ialah mujtahid yang mentarjihkan, atau memilih dan menguatkan salah satu pendapat sahabat Imam Syafi’I – Atau mentarjihkan antara dua pendapat ulama yang berbeda (Ibid).

52) Berdasarkan hadis riwayat Imam Mutawalli dari Rabi’ah, dan Imam Mawardi dari Zuhri. Imam Nawawi dalam Syarh Muhazzab (al-Majmu’) dan Syarh Muslim memilih atas ucapan ini karena kuat hujjahnya. Dan dia menerangkan bahwa Rasulullah shalat Jum’at dengan 12 orang. Demikian juga imam yang yang lain senada dengan Imam Syafi’I (Abu Bakar al-Syattho, Jam’ al-Risalatain fi al-Jum’at: 21).

53) Ahlul Jum’at ialah orang-orang yang bertanggung jawab penuh atas berdirinya shalat Jum’at dengan memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Mereka wajib mendengarkan rukun-rukun, syarat-syarat khutbah dan menjaga agar shalatnya tidak batal sebelum imam mengucapkan salam. Karena batalnya salah satu dari ahlul Jum’at, dapat merusak pula semua jamaah shalat Jum’at, 39 bilangan pokok dan imam shalatnya (Riayat al-Himmat: I/177).

54) Berdasarkan hadis yang dikeluarkan Imam Daruquthni, dari Ummu Abdullah al-Dausiyah Rasulullah bersabda: “Bahwa shalat Jum’at adalah wajib atas tiap-tiap desa dan sekalipun tidak ada di desa itu kecuali empat orang”. (Jam’ al-Risalatain: 21).

55) Ternyata Imam Syafi’I berpendapat pula bahwa shalat Jum’at dapat dilakukan oleh tiga orang. Imam Ahmad bin Muhammad al-Madani mengatakan dalam kitab karangannya, Maniyyatu Ahli War’I fi ‘Adabi man Tashihha Bihimul Jam’I, bahwa mendirikan shalat Jum’at boleh dengan bilangan tiga orang, salah satunya menjadi imam (Ibid).

56) Karena sesungguhnya disyaratkan di dalam sahnya ibadah itu dengan nafsul amri, yitu praktek ibadahnya benar, dan Dhannul Mukallafi, yaiut disertai dengan sangkaan yang benar si mukallaf (menurut syara’). Berbeda dengan muammalah, maka tidak disyaratkan dhannul mukallaf, tetapi hanya disyaratkan nafsul amri saja (Fath al-Muin dan al-Bajuri).

Karena sesungguhnya mengetahui tatacara ibadah wudlu-shalat dan lain sebagainya itu menjadi syarat dalam sahnya ibadah, dan apabila tidak ada syarat, maka tidak ada pula yang disyarati (Syarh Sitiin Masalah: 9).

57) Taqlid ialah menerima pendapat orang lain yang berpendapat tanpa mengetahui sumber asalnya. Orang yang taqlid disebut Muqallid (Mabadi Awaliyah: 21). Atau hendaklah mengikuti (Ittiba’) pendapat orang lain dalam ucapan atau keyakinannya dan tidak akan mengetahui dalilnya. Adapun mengetahui dalilnya maka sungguh itu makrifat dan bukan taqlid (Riayat al-Himmat: I/83). Di dalam Ushuluddin, orang yang kurang akalnya memang  dibolehkan bertaqlid kepada orang lain yang dipercaya. Tetapi bagi orang yang sehat nalarnya, justru wajib makrifat. Adapun dalam furu’iddin (cabang agama) maka wajib taqlid atas orang yang belum mampu berijtihad kepada salah satu mujtahid (Ibid: 89).

58) Maslahat ialah orang yang bertindak menghukumi perkara antara dua pihak yang bersengketa dengan sistem kekluargaan. Hal ini hakim datang ke tempat mahkum.

59 Qadla’ ialah keputusan hukum yang ditetapkan oleh hakim dalam pengadilan agama atas mahkum yang berperkara dengan seadil-adilnya menurut hukum yang bersumber dari hujjah syariat yang lebih kuat.

60) Dalil bahasa Arab ini diambil dari kitab Riayat al-Himmat, jilid I, Hal. 98; Asn al-Maqashid, jilid I, Hal. 98, dan semakna pula dengan Bughyat al-Mustarsyidin, Hal. 10.

BACA JUGA!close