Berbagai Macam ‘Iddah

Pasal 137 Tentang Berbagai Macam Iddah

Apabila dicerai seorang wanita yang suci dengan masih tetap dari masa sucinya wanita setelah perceraian, maka melampaui iddahnya wanita itu dengan sebab masuk dalam haid yang kali ketiga. Atau diceraikan ketika keadaan haid atau nifas, maka melampaui iddahnya wanita itu dengan sebab masuk dalam haid yang kali keempat. Dan yang sesudahnya dari haid itu tidak dihitung dengan hitungan suci. (Hamisy Al Bajuri: II/171).

Pasal 138 Tentang Iddah Wanita Tidak Pernah Haid

Apabila terdapat seorang wanita kanak-kanak atau wanita dewasa tidak pernah haid sama sekali atau memang putus darah haid karena telah berumur 62 tahun maka iddahnya itu selama tiga bulan. Bahwa wanita yang diceraikan suaminya belum sampai dukhul, maka tidaklah terdapat hitungan iddah atas wanita itu. (Hamisy Al Bajuri: II/174).

Pasal 139 Tentang Iddah Wanita Haid Tiga Sucian

Wanita-wanita yang dicerai hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali sucian”. ( Al Baqarah: 228).

Pasal 140 Tentang Iddah Wanita Putus Haid

“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, yakni iddah mereka itu ialah sampai melahirkan kandungannya”. (At-Thalaq: 4).

Pasal 141 Tentang Iddah Wafat

Orang-orang mati diantaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis iddahnya, maka tidak dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”. (Al Baqarah: 234).

Pasal 142 Tentang Wanita Hamil Melahirkan Binatang

Itulah iddah wafat di dalam selain orang hamil. Adapun orang hamil yang suaminya wafat, maka iddahnya ialah kelahiran kandungan dengan sempurna berupa manusia. Bila lahir berupa binatang, seperti kerbau atau lembu, maka tidak terhitung lewat iddah. (Tafsir Jalalain: I/365).

Oleh: KH. Ahmad Syadzirin Amin

Tabyinal Ishlah Li Muridin Nikah Karya Syaikh Ahmad Rifa’i

Leave a comment

Your email address will not be published.

*