Dalil Qaul Imam Syafi’i Tentang Bilangan Jum’at

TANBIHUN!102 ) bahwa dalil tiga pendapat Imam Syafi’i ra. Di dalam masalah bilangan (‘adadu) orang shalat Jum’at itu, ialah perkataan diantara sekian dari ulama Syafi’iyah,103 ) Syaih Muhammad bin Abdul Aziz al-Jaisyi sebagai berikut:

“Sesungguhnya bagi Imam kita Syafi’i ra. Di dalam hal tersebut ada tiga semua pendapat. Salah satunya ialah Qaul Jadid di negeri Mesir, “Sesungguhnya paling sedikit bilangan berjamaah di dalam shalat Jum’at itu sebanyak empat puluh orang lelaki, merdeka, berakal, berusia baligh, yang benar-benar bacaan Fatihah,104 ) Tahiyat105 ) dan sebagainya, yang sudah benar shalatnya dan mereka berumah tangga di tempat yang di dalamnya didirikan shalat Jum’at”.

Adapun kedua Qaul Qadim ketika di negeri Baghdad (Irak), salah satunya ialah, “sesungguhnya paling sedikit bilangan berjamaah shalat Jum’at adalah empat orang dengan syarat-syarat tersebut, dan qaul yang kedua itu bilangan berjamaah shalat Jum’at dua belas orang dengan syarat-syarat tersebut juga”.

Labih dalam Syaih Muhammad bin Abdul Aziz menegaskan, bahwa sesungguhnya mengikuti pendapat Imam Syafi’i yang membenarkan bilangan shalat Jum’at dengan empat orang saja, adalah dapat dipertanggung jawabkan. Ketegasannya itu diungkapkan sebagai berikut:

“Bahwa sesungguhnya orang awam, menurut Imam Syafi’i, ketika mengikuti orang yang berkata, membolehkan dengan pendapat sebagian dari para sahabat Syafi’i, maka tidak ada kesukaran baginya di dalam taqlid menganut pendapat yang lemah. Dan tak terjadi kesukaran pula, bahkan, tatkala sudah diketahui hendak taqlid kepada orang yang berkata membolehkan, sebagian dari para sahabat Imam Syafi’i, mendirikan shalat Jum’at dengan berjamaah empat orang atau duabelas orang, maka tidaklah ada kesukaran dalam mengikuti pendapat seperti itu”.

Lebih lanjut Syaih Muhammad bin Abdul Aziz mengatakan :

“Bahwa diantara para sahabat106 ) Imam Syafi’i, merajihkan107 ) pada pendapat lama (qaul qadim) dengan sesungguhnya paling sedikit bilangan berjamaah mereka dalam shalat Jum’at adalah empat orang, dan diantara pula para sahabat merajihkan pendapat lama kedua (qaul qadim tsani), dengan sesungguhnya, paling sedikit bilangan shalat berjamaah mereka dalam shalat Jum’at, adalah duabelas orang”.108 )

Kebolehan Mengamalkan Pendapat yang Lemah

SYAIH Sulaiman al-Kurdi109 ) dalam pendapatnya mendukung dan membenarkan terhadap orang yang ingin mengamalkan pendapat Imam Syafi’i yang lemah tentang bilangan shalat Jum’at dengan duabelas atau empat orang ahli Jum’at. Pendapat ini diungkapkan oleh al-Kurdi dalam kitab karangannya sebagai berikut :

“Bahwa pendapat lemah dalam mazhab Syafi’i itu boleh juga sah menganut pada pendapat dengan mengamalkan ibadah dengan diketahui kelemahannya. Dan tidak boleh untuk berfatwa dengan ithlaq.110 ) Tegasnya, tidak haram memberikan fatwa dengan pendapat yang lemah, kalau disebutkan dalam kelemahannya¬† itu” (Hawasyi al-Madaniyah li Ibni Sulaiman al-Kurdi).

Cara Memilih Fatwa Ulama

BAHWA mengambil fatwa dari seorang ulama yang sudah dampai ke derajat mujtahid disebut “taqlid” atau “ittiba'”. Sedangkan mengambil fatwa seorang ulama yang belum sampai ke derajat mujtahid disebut “I’timad”.111 )

Bagi seseorang yang belum mampu membaca atau memahami kitab-kitab Arab karangan ulama mujtahid, karena keterbatasan kemampuan ilmu yang ia miliki, sehingga tidak bisa menemukan fatwa-fatwa secara benar, maka sebaiknya, malah dipandang perlu untuk mengambil fatwa-fatwa dari para guru atau syaih yang memenuhi kriteria guru dan sesuai dengan keahlian yang mereka kuasai. Tetapi, apabila menemukan dua orang mufti yang berbeda fatwanya, maka harus memilih salah satu mufti yang dianggap lebih pintar dan sesuai dengan keahliannya.112 )

Hal ini dijelaskan oleh Syaih Zaenuddin al-Malibari113 ) sebagai berikut :

“Yakni, wajib bagi orang yang hendak bertanya itu, mengambil fatwa dari orang yang bersifat alimdan adil yang diketahui dalam bidangnya itu. Kemudian bila menemukan dua orang mufti114 ) (yang berbeda) dalam fatwanya, apabila terdapat salah satu dari kedua mufti itu lebih banyak ilmu pengetahuan agamanya, maka tentu wajib padanya mendahulukan mufti yang lebih banyak pengetahuan agamanya” (Fath al-Muin pada pinggir Ianat al-Thalibin: IV/219).


102) Tanbihun ikilah pepeling lan pangeling. Gawe eling kang perayitna, ora gawe eling kang sembrana. Zaman akhir akeh maling, kang dimaling agama. Jalma pinter di peleter, jalma bodo dibebodo. Kang eling awake gering, kang ora eling dadine maling………………………………………

103) Syafi’iyah ialah kelompok ulama terkemuka, pendukung dan pengamal serta pemelihara faham mazhab Syafi’I, baik kelompok ulama terdahulu (mutaqaddimin) atau ulama kemudian (mutaakhirin).

104) Fatihah sebanyak 7 (tujuh) ayat, 16 tasydid dan 144 huruf (Abyan al-Hawaij: II/331). Surat Fatiah mempunyai 12 nama: al-Shalat, al-Hamdu, Fatihat al-Kitab, Umm al-Kitab, Umm al-Qur’an, Sab’ al-Matsani, al-Qur’an al-Adzim, al-Syifa’, al-Ruqyah, al-Asas, al-Wafiyat, al-Kaafiyat (Tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an

105) Adapun Tahiyat sebanyak 5 (lima) kalimah, 20 tasydid dan 129 huruf (Abyan al-Hawaij: II/123). Tahiyat diterima rasul ketika melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj dikawal malaikat Jibril dan Mikail, Senen, 27 Rajab kurang satu tahun dari hijrah Rasul ke Madinah.

106) Yang dimaksud sahabat di sini ialah para imam penerus faham mazhab Imam Syafi’I yang sudah sampai pada derajat mujtahid ahli dalam bidang tarjih diantaranya mujtahid fatwa.

107) Mentarjihkan berarti, membanding dan menimbang antara beberapa pendapat Imam Syafi’I dengan melihat sumber al-Qur’an atau al-Hadis yang dianggap paling kuat dan dapat diamalkan secara nyata dan benar oleh umat.

108) Pendapat Muhammad bin Abdul Aziz al-Jaisyi ini, kemudian ditemukan kesamaannya dalam karya Abu Bakar Satha, Jam’ al-Risalatain fi al-Jum’at: 23

109) Syaih Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi, lahir pada malam Kamis, 16 Rabiul Awal 1194 H. antara waktu Maghrib dan Isya’ dan dishalatkan di Raudhat al-Syarif Madinah. Dikuburkan di Baqi’ di atas kuburan ayahnya, Sulaiman al-Kurdi, berasal dari Kurdistan (Taqrirat Nafisah min Hasyiyat al-Kubra wa Ghairiha: 3).

110) Secara Ithlaq, yaitu tidak menyebutkan, bahwa pendapat yang disampaikan sebagai pendapat yang lemah atau qaul dhaif.

111) I’timad, sesungguhnya I’timad kepada orang yang dapat dipercaya (tsiqah) tidak disebut taqlid, seperti orang buta ingin mengetahui kiblat shalat. Maka sesungguhnya taqlid ialah mengambil qaul mujtahid tanpa mengetahui dalil asalnya (Sulaiman al-Jamal: I/321).

112) Tetapi lain halnya, kalau taqlid kepada mujtahid, dapat memilih pendapat salah satu pendapat imam mujtahid yang diinginkan atau yang mampu dilaksankan. Hal ini seperti yang diterangkan Syaih Syamsuddin al-Ramli…………dalam karangannya Ghayat al-Bayan li Syaih Ibnu Ruslan sebagai berikut :

“Apabila terjadi perbedaan jawaban kedua ulama mujtahid, maka yang lebih baik bahwasannya bagi orang yang taqlid, hendaklah memilih, maka beramal dengan pendapat yang ia kehendaki dari salah satu kedua jawaban itu” (Ghayat al-Bayan: 15).

113) Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zaenuddin bin Ali bin Ahmad al-Syafi’i al-Malibari al-Fanani, dilahirkan di Kosyan-Malabar, Pakistan. Ia murid Ibnu hajar al-Haitami. Ia wafat tahun 972 H. (Ianat al-Thalibin: I/2).

114) Mufti ialah seseorang yang mempunyai kemampuan menjelaskan dan menegaskan beberapa masalah keagamaan dari para imam mujtahid untuk kepentingan umat dalam mengamalkan syariat Islam.

Mufti adalah bagian dari tugas seorang qadli atau hakim. Sebagai seorang qadli atau mufti paling tidak harus menyempurnakan syarat sebanyak 15 syarat: (1) Islam (2) bulugh (3) berkal (4) merdeka, (5) lelaki, (6) adil, (7) mengetahui hukum-hukum al-Qur’an dan sunnah, (8) mengetahui ijma’, (9) mengetahui perbedaan masalah-masalah antara ulama mujtahid, (10) mengetahui metode istidlal dari adillah hukum-hukum, (11) mengetahui lughatul Arabiayah, (12) mendengar, (13) melihat, (14) bisa menulis, (15) kuat ingatan. (Fath al-Qarib pada pinggir al-Bajuri: II/326-329).

Adapun adab-adab qadli atau mufti adalah: (1) hendaklah berkantor di tengah-tengah negeri, (2) samakan antara orang-orang yang perkara, tempatnya, atau cara berbicara terhadap mereka, (3) jangan memutuskan perkara dalam keadaan marah, sedang sangat lapar atau haus, keadaan sangat gembira dan susah, ketika sakit, (4) tidak boleh menerima sesuatu pemberian dari yang berperkara, (5) memberi kesempatan kedua pihak untuk menyampaikan pembelaan, (6) tidak boleh menunjukan cara mendakwa dan membela, (7) surat-surat hakimkepada hakim lain di luar wilayahnya, hendaklah dilihatkan kepada kedua belah pihak (seperti dalam al-Bajuri: II/331-335).

BACA JUGA!close