Tanbihun.com- Hukum mensucikan kotoran najis yang keluar dari dua jalan, yakni qubul (jalan kotoran depan) dan dubur (jalan kotoran belakang) adalah wajib dengan air yang suci mensucikan atau dengan sesuatu benda yang keras (istijmar).
Adapun fardhu-fardhu (pokok-pokok) yang harus dilakukan ketika mensucikan kotoran (najis) dengan air adalah tiga perkara ;
1. Dalam membersihkan najis harus hilang rasanya (diraba dengantangan,bukan dengan lidah-pen)
2. Dalam membersihkan najis harus hilang baunya
3. Dalam membersihkan najis harus hilang warnanya
Apabila terjadi kesulitan dalam menghilangkan warnanya najis, atau baunya saja maka dima’afkan karena udzur, Tapi apabila ternyata masih terdapat rasanya najis tau berkumpul keduanya, yakni antara bau dan warnanya najis, maka tidak dima’afkan, karena masih ringan dan mudah untuk menghilangkannya.
Bersuci dengan air dapat dilakukan untuk menghilangkan segala macam kotora najis yang menenmpel di semua barang dan tempat yang terkena najis.



klo warna n bau pd pakaian ttp ada,pdahal udh dicuci brkali2,apa ttp dihukum najis?
Jawab:
ﺑﺴﻡ ﺍﻠﻠﻪ ﺍﻠﺮﺤﻤﻦ ﺍﻠﺮﺤﻴﻡ
ﺍﻠﻠﻬﻢ ﺼﻞ ﻋﻠﻰ ﺴﻴﺪﻨﺎ ﻤﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻞ ﺴﻴﺪﻨﺎ ﻤﺤﻤﺪ
Bila sudah berusaha keras mencucinya, namun sisa bau anyir najis (misal darah haidh) dan sisa warnanya susah hilang, maka yang demikian itu di maafkan karena darurat.
Dasar dalil:
ثم الباقي من اللون والرائحة مع العسر طاهر على الصحيح – وقيل نجس معفو عنه (كفاية الأخيار للإمام تقي الدين الدمشقي كتاب النجاسة)
ﻮﺍﻠﻠﻪ ﺃﻋﻠﻡ