Tanbihun.com -Syaikh Haji Ahmad Rifa’i berkata :

Abiyanal Hawa'ij jilid 6 kurasan 81
Apakah kalian tidak berpikir sampai meresap dihati?
dunia ini pasti akan ditinggal pergi
lebih baik berharap bahagia di akhirat nanti
disana hanya ada 2 tempat
kalau tidak di surga nikmat pasti dineraka sekarat
itulah mengapa didunia harus memikirkannya
sahnya iman,dengan memenuhi syaratnya
jangan meniru keebanyakan orang islam
pura-pura syahadat,ta’at tapi tidak menggubris aturan syari’at
Ada beberapa poin penting dalam kalimat nadhoman diatas, dinataranya; Syaikh haji Ahmad Rifa’i selalu menekannya sebaiknya cita-cita yang paling mendasar adalah sahnya iman,kemudian ibadah yang sah, yang memenuhi syarat dan rukunnya. Jangan sampai seperti kelakuan orang islam pada umumnya (konteksnya pada masa hidup beliau,kira-kira tahun 1848 masehi) dimana keebanyakan orang islam saat itu banyak yang berpura-pura mengucapkan syahadat, juga beribadah, tapi tidak memperdulikan aturan syari’at, salah satu aturan syari’at adalah harus dipenuhinya ketentuan-ketentuan dalam ibadah, yaitu syarat-rukun yang wajib dipenuhi, serta meninggalkan perkara yang akan menggugurkan ibadahnya. Dalam prakteknya, banyak orang yang wudhu, hanya ikut-ikutan, banyak yang sholat, namun cuma latah, meniru gerakan-gerakan orang lain, tanpa mau belajar ilmunya, sehingga tidak tahu sholat yang benar itu bagaimana?
Ada yang bertanya, kenapa sholat harus ada syarat-rukunnya? dijaman Nabi tidak ada itu rukun sholat 18 !
Penulis mencoba menjawabnya dengan logika, memang benar Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya memerintahkan kita untuk sholat seperti sholatnya beliau, pertanyaannya, bagaimana kita tahu sholat beliau itu seperti apa? kalau para sahabat bisa langsung melihat bagaimana Nabi takbir,rukuk,sujud dll, para tabiin dikasih contoh oleh para sahabat, kemudian pada generasi selanjutnya mulailah dibuat standarisasi atau ukuran-ukuran atau aturan-aturan untuk keabsahan sholat agar sesuai seperti yang dicontohkan Rosulullah SAW yang kemudian dikenal dengan syarat-ruku-sah-batal.
Seperti juga diciptakannya standart-standart atau aturan-aturan didalam ilmu tata bahasa arab, untuk memudahkan orang selain arab belajar memahami bahasa arab dengan benar, kalau orang arab tentu tidak lagi perlu mempelajari nahwu shorof untuk bisa berbahasa arab, seperti juga orang Indonesia tidak perlu mendalami pelajaran Bahasa Indonesia untuk bisa bercakap dengan Bahasa Indonesia. Namun demikian tetap dibutuhkan aturan baku bagi tata bahasa demi menjamin keseragaman, untuk meminimalisir multi tafsir, sehingga didalam tata bahasa Indonesia dikenal dengan EYD (ejaan yang disempurnakan).
Wallahu a’lam bisshowab.
(zid)
gambar jangan meniru profil (1),ibadah dalam syarat dan rukunnya (1),kenapa ada harus sujud dan ruku (1),mengapa dalam shalat harus ada sujud (1),shalat harus dgn ilmu? (1),syarat dibalik rukun dalam solat (1),Www tambihun com (1)





