Tanbihun Online

Kewajiban Mencari Guru Dan Syarat Sah Guru

Kewajiban Mencari Guru Dan Syarat Sah Guru

Kewajiban Mencari Guru Dan Syarat Sah Guru
December 30
01:44 2011

MASALAH KE DUAPULUH TUJUH

KEWAJIBAN MENCARI SEORANG GURU

Tanbihun- Umat manusia yang hidup pada masa periode Al Qur’an diturunkan, memperoleh keputusan hukum Allah Ta’ala langsung dari ucapan, perbuatan serta taqrir Rasulullah, umat pada masa periode Khulafaur Rasyidin mendapatkan legitimasi hukum dari para sahabat, terutama Abubakar Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan yang lain. Adapun umat pada masa periode selanjutnya mendapat fatwa hukum dari para ulama Mujtahid.

Untuk umat sekarang, sudah tidak lagi memperoleh kepastian hukum langsung dari Nabi atau Khulafaur Rasyidin dan para Mujtahidin. Yang ada sekarang ini tinggal para ulama yang berfungsi sebagai pewaris Nabi dan pelanjut Risalah. Mereka mendapat warisan ilmu agama dari Rasulullah dan di perintah menyampaikan kepada umat yang hidup pada periode sekarang dan menda-tang. Ulama punya kewajiban menerangkan hukum secara benar dan kontinu kepada semua umat manusia. Demikian juga bagi ummat Islam berkewajiban mempelajari hukum-hukum Islam melalui para ulama yang bersumber dari Al Qur’an Al Karim dan Al Hadits, agar umat manusia memperoleh kesenangan serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Demikian pula seterusnya.

Kewajiban seseorang mukalaf mencari seorang Syaikh atau guru yang pandai dalam soal agama dan dapat dipercaya kebenar-annya, telah disebutkan dalam akhir kitab Tadzkiyah sebagai berikut:

طلب الشيخ فى الطريق إلى الله واجب على كل مكلف ولو كان من أكابر العلماء إن لم يعلم فى الطريق إلى الله .

            “Bahwa mencari seorang guru alim adil memberitahukan sebenarnya jalan kepada Allah itu wajib atas setiap orang mukalaf yang bodoh, meskipun ada baginya sebagian dari besarnya ulama, jika tidak tahu didalam jalan makrifat kepada Allah itu wajib hajat kepada alim adil mengambil fatwahnya.”

 

Allah swt berfirman:

وماأرسلنا من رسول إلا بلسان قومه ليبين لهم فيضل من

يشاء ويهدى من يشاء وهو العزيز الحكيم (الأنبياء :7)

            “Kami tidak mengutus rasul-rasul sebe-lum kamu (Muhammad) melainkan beberapa orang laki-laki; yang kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (Al Anbiya’:7)

 

Syarat Sah Guru

Syarat sah orang yang dijadikan guru (syaikh) secara ringkas ada dua: Pertama, orang yang pandai dalam bidang hukum syara’ yaitu pandai mengajar hukum syara’ secara tuntas, terutama dalam bidang ilmu ushuluddin, ilmu fiqih dan ilmu tasawuf (akhlaq), sehingga dapat untuk membenar kan iman dan ibadah serta muamalah. Sekira orang yang mengikuti tidak berdosa. Kedua, orang yang adil riwayat (terpercaya terhdap hukum yang disampaikan), tidak melanggar salah satu dosa besar dan tidak mengekal kan salah satu dosa haram kecil.

Yang disebut Adil Riwayat itu kumpul empat perkara, (1) Islam (2) Aqil (3) Baligh dan (4) tidak fasiq. Mengikuti kepada ulama yang adil dikatakan sebagai orang yang ber I’timad percaya kepada guru segala apa yang disampaikan oleh gurunya tanpa mengetahui dalil-dalil atau mujtahid yang bersangkutan. Jika mengetahui langsung atas pendapat para imam mujtahid dan ia memilih lalu mengikutinya, itu disebut sebagai Muqallid (orang yang bertaqlid) kepada ulama imam mujtahid. Mengenai I’timad ini dijelaskan sebagai berikut:

يلزم محتجان استفتاء عالم عادل عرف أهليته ثم إن وجد مفتيين فإن كان أحدهما أعلم تعبن تقديمه.

“Wajib orang berhajat benar mengambil fatwanya alim adil yang sudah diketahui ahli pengajar ilmu syariat dengan cukup. Maka kemudian apabila ia dapati dua Mufti (yang berbeda), maka yang seperti itu dibicara.    Apa bila ada salah satunya lebih banyak pengetahuan ilmu syariat, tentu wajibnya mendahulukan segera mengikuti Mufti yang lebih banyak pengetahuan ilmu syariatnya”.

 Apabila terdapat dua orang Mufti itu telah menyusun kitab fatwa, yang satu berisi ilmu agama secara lengkap mencukupi un-tuk beriman dan beribadah sahihah sedang yang lain hanya berisi sebagian saja, maka yang wajib didahulukan, adalah kitab mufti yang pertama. Mufti ialah seorang alim yang berlaku benar dan ahli melaksanakan perin-tah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik pada diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Muqallid Dapat Memilih Salah Satu Mazhab

Berbeda dengan i’timad, ialah orang yang taklid (Muqallid) dapat mengamalkan memilih salah satu pendapat ulama mujtahid yang dikehendaki. Adalah keterangan ulama yang dikemukakan oleh Syaikh H. Ahmad Rifa’i di dalam karangannya Abyanal Hawaij juz IV halaman 858 sebagai berikut:

فلواختلف جواب المجتهدين فالأصح أن للمقلد أن يتخير بقول من شاء منها.

            “Maka apabila berbeda jawabnya para ulama mujtahid, maka qaul Ashah: Sesungguh nya bagi orang taklid sah boleh ikut qaulnya ulama, maka beramal dengan qaul mujtahid apa yang ia kehendaki mengikuti salah satu ulama mujtahid.”

Demikian pengertian i’timad dan taqlid dalam bidang Furu’iddin (cabang agama) mempunyai fungsi dan jalur masing-masing. I’timad untuk dasar pegangan kaum awam (bodoh), sedang taqlid untuk dasar pegangan kaum alim yang belum mampu berijtihad.

Ulama Sebagai Pemimpin Umat

 Seperti disebutkan diatas seseorang dapat memperoleh berita kebenaran ajaran Islam melalui tangan para ulama (cendekiawan muslim), sebab mereka adalah para pemimpin, pengayom dan pembina umat. Para ulama telah siap mengorbankan segala yang ada untuk perjuangan menegakkan agama di bumi ini, tidak lain karena terpanggil oleh rasa tanggung jawab terhadap agama dan masyarakat. Ulama adalah sebagai tempat bertanya segenap masyarakat, sehingga per-lu menempatkan ulama dalam kelas yang lebih tinggi dibanding dengan lainnya

Sehubungan dengan itu Syaikh menjelaskan: Apabila terdapat seorang Alim Adil menyalahi dari para alim fasiq, maka wajib beri’timad kepada sorang Alim Adil. Apabila tertdapat beberapa orang alim adil yang masih kurang pengajarannya sekedar kebu-tuhan orang awam di dalam sahnya iman dan ibadah, sedangkan orang Alim Adil yang satu cukup pengajarannya dalam sah iman dan ibadah, maka wajiblah mukalaf beri’timad kepada seorang Alim Adil sekalipun berbeda dengan yang lain itu.

Jika seumpama ada salah satu tempat, semua orang alimnya sama-sama bersifat fasiq, yang berbeda hanya kadar banyak dan sedikit kefasiqannya, maka wajiblah muka-laf beri’timad kepada orang alim yang sedi-kit fasiqnya.

Syaikh H. Ahmad Rifa’i menerapkan kalimat ‘seumpama’  ini dimaksudkan agar tidak terjadi hal-hal yang seperti itu, karena walaupun seorang fasiq dapat dijadikan panutan, namun masih juga dikhawatirkan akan terjadi kemerosotan di bidang agama, karena sifat fasiq itu pada ghalibnya akan menyeret manusia ke dalam sifat nifaq dan pelakunya menjadi munafiq yang apabila di biarkan, lambat laun akan kemungkinan be-sar menjadi kufur. Maka selanjutnya beliau mengantarkan beberapa ayat-ayat Al Qur’an sebagai peringatan:

Firman Allah dalam Al Qur’an:

وعد الله لا يخلف الله وعده ولكن أكثر الناس لا يعلمون . يعلمون ظاهرا من الحيوة الدنيا وهم عن الأخرة هم عافلون . أولم يتفكروا فى أنفسهم ماخلق الله السموات والأرض وما بينهما إلا بالحق وأجل مسمى وإن كثيرا من الناس بلقاءى ربهم لكافرون (ألروم: 7-

(“Mengimankan mukmin) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia. Sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. Dan mereka mengapa tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka. Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya. Melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhan-Nya.” (Ar Ruum: 7-8).

Firman Allah swt.:

وأنيبوا إلى ربكم واسلموا له من قبل أن يأتيكم العذاب ثم لا تنصرون . واتبعوا أحسن ما انزل إليكم من ربكم من قبل أن يأتيكم العذاب بغتة وأنتم لا تشعرون (ألزمر: 54-55).

“Dan kembalilah (bertaubatlkah) kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada -Nya, sebelum datang azab kepadamu kemu-dian kamu tidak dapat di tolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu den-an tiba-tiba sedang kamu tidak menyadarinya.” (Az Zumar: 54-55)

Firman Allah dalam Al Qur’an:

فما تنفعهم شفاعة الشافعين . فمالهم عن التذ كرة معرضين . كأنهم حمر مستنفرة . فرت من قسورة (المدثر: 48-51)ز

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat (Nabi, Rasul, Wali dan Ulama). Maka mengapa mereka (orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah). Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut. Lari daripada singa.” ( Al Muddatsir: 48-49-50-51).

 

Firman Allah di dalam Al Qur’an:

وعد الله المنافقين والمنافقات والكفار جهنم خالدين فيها هى حسبهم ولعنهم الله ولهم عذاب مقيم (التوبة : 68).

“Allah mengancam orang-orang muna-fiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka jahannam. Mereka kekal didalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka siksa yang kekal.” (At Taubah: 68)

 

Sabda Rasulullah saw.:

تكون فتن يصبح الرجل فيها مؤمنا ويمسي كافرا الا من أحياه الله بالعلم (رواه إبن ماجه والطبرانى).

“Ada fitnahnya zaman, dimana pagi-pagi seorang beriman, di dalam zaman itu mukmin dan sore-sore menjadi kafir, kecuali orang yang sudah menghidupkan Allah pada-nya dengan ilmu agama.” (Ibnu Maajah, dan Thabrani dalam jani’us Shaghir: 172 dengan isnad Shahih).

Oleh: KH. Ahmad Syadzirin Amin

Sumber: Kitab Tadzkiyah, Syaikh Ahmad Rifa’i

Tags
Share

About Author

admin

admin

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

Related Articles

Hubungi Kami:

Admin1:
Admin2:
Admin3:
Admin4:
Admin5:
Admin6:

Home Office :
Jl.Napak Tilas No.2 Cepokomulyo Gemuh
Kendal Jawa Tengah 51356
Email: admin@tanbihun.com
Phone: +62 85781738844

Who's Online

86 visitors online now
Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site