2:05 pm - Thursday July 15, 1660

Perkara Yang Diharamkan Bagi Orang Haidh dan Nifas

Wednesday, 11 November 2009 10:42 | Fikih | 0 Comment | Read 1044 Times

Seorang wanita yang sedang haid atau nifas, diharamkan menger-jakan 11 perkara, yaitu sebagai berikut:

1.  Mengerjakan shalat fardlu maupun shalat sunnah,

2.  Mengerjakan thawaf di Baitullah Makkah, baik thawaf rukun, thawaf wajib atau thawaf sunnah.

3.  Mengerjakan rukun-rukun khutbah Jum’at

4.  Menyentuh lembaran al-Qur’an Apalagi kitab al-Qur’an

5.  Membawa lembaran al-Qur’an. Apalagi kitab al-Qur’an.

6.  Membaca ayat al-Qur’an, kecuali karena mengharap barakah, seperti membaca Bismillahirrahmaanirrahiim, memulai pekerjaan yang baik, Alhamdulilahi Rabbil ‘Alamiin, karena bersyukur dan Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun karena terkena musibah.

7.  Berdiam diri di dalam masjid, sekiranya dikhawatikan darahnya tertetes didalamnya.

8.  Mundar mandir didalam masjid, sekiranya dikahawatirkan darah-nya tertetes didalamnya.

9.  Mengerjakan puasa Ramadlan, tetapi diwajibkan qadla. Adapun shalat tidak diwajibkan qadla.

10.  Meminta cerai kepada suaminya, atau sebaliknya.

11.  Melakukan Istimta’, bersenang-senang suami istri dengan pertemuan kulit antara pusar sampai dengan kedua lutut,  baik bersyahwat atau tidak. Apalagi bersetubuh, meskipun kemaluannya lelaki di bungkus dengan kain, hukumnya jelas haram dosa besar.

Apabila haid atau nifas sudah berhenti, tetapi belum mandi, maka larangan 11 perkara ini tetap berlaku, kecuali puasa dan thalaq (Mahali serta Hasyiyah Al-Qalyubi: 1/100 dan Abyanal Hawaij: 11/269-270).

Suatu Faidah

Dikatakan oleh ulama Fuqaha: bahwa suami yang menyetubuhi istrinya sebelum mandi, baik istrinya masih dalam keadaan haid atau sudah berhenti akan mengakibatkan  terkena penyakit lepra (buduken: Jawa) terhadap anaknya (Hasyiyah Al-Qalyubi: 1/110).

Seseorang yang haid atau nifas nanti setelah berhenti, diwajibkan mengqadla puasa Ramadlan yang ditinggalkan, dan tidak wajib mengqa-dla shalat fardlu secara Ijma’ dalam keduanya, karena kesukaran di dalam qadla shalat ank arena berulang-ulangnya shalat. Tidak demi-kian halnya qadla puasa (Al-Mihajul Qawim serta Hasyiyah Al-Turmu-si:1/548 dan Husnul Mathalib: 70).

Hukum-hukum yang berpautan dengan haid, ada 20 perkara, 12 berupa hukum haram, yaitu:

1.  Mengerjakan shalat,

2.  Melakukan sujud tilawah (bacaan dalam al-Qur’an), sujud syukur,

3.  Melakukan thawaf rukun, wajib, atau sunnah,

4.  Mengerjakan puasa wajib maupun sunnah,

5.  Melakukan I’tikaf di dalam masjid,

6.  Memasuki masjid sekira kuatir akan tetesnya darah haid,

7.  Membaca al-Qur.an.

8.  Menyentuh al-Qur’an.

9.  Menulis al-Qur’an menurut sebagian ulama,

Sembilan perkara ini yang diharamkan bagi seorang wanita yang sedang haid. Adapun yang tiga selanjutnya, diharamkan bagi lelaki suaminya, yaitu:

10.  Melakukan persetubuhan

11.  Menceraikan istrinya dalam keadaan haid

12.  Melakukan istimta’, atau besenang-senang dengan cara memper-mukan kulit antara pusar sampai dengan lutut istrinya dengan selain bersetubuh.

Adapun delapan perkara yang lain tidak berupa hukum haram ialah sebagai berikut:

1.  Usia balig karena haid

2.  Kewajiban mandi, setelah haidnya berhenti

3.  Melaksanakan Iddat, apabila cerai atau suaminya meninggal

4.  Istibra’ atau menunggu seorang wanita amat yang baru dimiliki

5.  Bersihnya kandungan bayi

6.  Diterima ucapannya apabila wanita itu sudah haid

7.  Gugurnya kewajiban shalat ketika keluar darah haid

8.  Gugurnya thawaf wada’ ketika dalam keadaan haid.

(Hasyiyah Al-jamal ala Syarhi Al-Minhaj: 1/227)

Ri’ayatul Himmah: 1/152 153).

Peringatan!

Berhubungan dengan orang yang mempunyai hadas besar, dibo-lehkan membaca zikir yang diambil dari al-Qur’an, seperti ketika makan atau minum membaca lafadl

لبسم الله الرحمن الرحيم

“Dengan menyebut nama Allah Tuhan

Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”.

Ketika menerima nikmat dari Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa lalu membaca lafad

الحمد لله رب العالمين

“Segala puji bagi Allah seru sekalian alam semesta”.

Ketika naik kendaraan membaca bacaan al-Qur’an dengan harapan semoga selamat dengan lafad

سبحان الـذى سخر لنـا هـذا ومـا كنالـه مقـرنــين,  وإنـا إلى ربنـا لمنقـلبـون

“Maha Suci Dzat yang telah menundukkan

semua ini bagi kami sebelumnya tidak mampu mengasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami,. Sesungguhnya yang mewajibkan kepadamu Alqur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali”.

Ketika mendapat musibah atau cobaan sabar dan ridla dengan mengucapkan lafad:

إنـالله وإنـا إليه راجعون

Sesungguhnya kami kepunyaan Allah, dan sesungguhnya

kepada Allah lah tempat kami kembali.

(Al-Iqna’ pada Hamisy Hasyiyah Al-Bujarami:1/315 dan Abyanal Hawaij: 11/269).

_____________________________________________

Oleh : KH. Ahmad Syadzirin Amin

Ketua Dewan Syuro Rifaiyah

Share on :
 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with:

larangan saat nifas,larangan bagi wanita nifas,Larangan wanita nifas,larangan masa nifas,larangan ibu nifas,larangan selama nifas,larangan nifas,larangan orang nifas,larangan waktu nifas

Anda mungkin juga menyukaiclose