Rukun & Syarat Menyembelih Binatang

Hosting Unlimited Indonesia


Tanbihun.com – Di dalam praktik penyembelihan itu ada peraturan pokok yang disebut Rukun, dan ada peraturan tambahan yang disebut Sunnah. Rukun ialah merupakan sesuatu yang wajib terpenuhi dalam pelaksanaan pekerjaannya, sesuai dengan ketentuan hu-kum Syara’. Dan jika pelaksanaan pekerjaan tersebut memenuhi rukun-rukunnya sesuai dengan ketentuan Syara’, maka benarlah pekerjaannya tersebut. Tetapi jika ternyata pelaksanaan pekerjaan itu menyalahi dari ketentuan Syara’, misalnya kurang salah satu rukun dari rukun-rukun pekerjaan itu, maka rusaklah pekerjaan yang dimaksud dan sama sekali tidak akan memperoleh pahala dari Allah, tetapi mendapat dosa. Di samping itu rukun-rukun tersebut harus di sertai dengan berbagai syarat tertentu.

MASALAH PERTAMA

RUKUN & SYARATNYA MENYEMBELIH BINATANG

Rukun-rukun menyembelih binatang halal adalah empat perkara yaitu :

  1. Pelaksanaan pekerjaan menyembelih binatang
  2. Orang yang melaksanakan pekerjaan menyembelih binatang
  3. Binatang yang akan disembelih
  4. Peralatan untuk menyembelih binatang

Rukun-rukun tersebut, masing-masing mempunyai syarat-syarat tertentu, seperti di terangkan dalam hukum Syariat bab menyembelih binatang.

Syarat Pekerjaan Menyembelih

Syarat pelaksanaan pekerjaan menyembelih binatang itu harus terdapat niat atau tujuan menyembelih binatang. Tidak sah bagi orang yang tidak punya tujuan menyembelih seperti orang yang baru bangun tidur dalam keadaan ngingau (ngelindur bahasa Jawa) dan wajib putus sekaligus (Daf’atan Wahidatan) Khalqum dan Mar’i.

Syarat Orang Yang Menyembelih

Syarat orang yang menyembelih binatang adalah orang beragama Islam, kafir kitabi Nasroni dan Yahudi, anak-anak, orang mabuk dan orang gila, semua itu dapat sah menyembelih binatang asalkan memenuhi syarat-syaratnya yang lain.

Yang dimaksud kafir Kitabi adalah orang Yahudi dan Nasroni yang semula berasal keturunan asli dari Bani Israil. Adapun Yahudi dan Nasroni dari bangsa Arab adalah tidak termasuk Ahlul Kitab (kafir kitabi) karena mereka bukan asal keturunan dari Bani Israil. Apalagi Yahudi dan Nasroni bangsa-bangsa lain selain bangsa Arab, jelas bukan kafir Kitabi yang dimaksud di dalam kitab Tadzkiyah ini.

Al IMAM MUHAMMAD BIN IDRIS AS SYAFI’I dalam kitab AL UMM jus ke V/ 7 mengatakan:

أَخْبَرَنَا عَبْدُاْلمَجِيْدِ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ قَالَ عَطَاءُ لَيْسَ نَصَارَى اْلعَرَبِ بِأَهْلِ كِتَابٍ إِنَّمَاإَهْلُ اْلكِتَابِ بِنُو ِإِسْرَئِيْلَ وَالَّذِيْنَ جَاءَ تْهُمُ التَّوْرَاةُ وَاْلِأنْجِيْلُ فَأَمَّا مَنْ دَخَلَ فِيْهِمْ مِنَ النَّاسِ فَلَيْسُوْا مِنْهُمْ (ألام : 5/7).

Telah memberitahu kepada kami Abdul Majid dari Juraij Berkata ia: Telah berkata Imam ‘Atha’: “Tidaklah orang-orang Nasroni dari bangsa Arab itu tergolong Ahli Kitab, hanya saja Ahli Kitab itu adalah Bani Israil, dan mereka yang kedatangan Taurat dan Injil. Maka adapun orang yang masuk ke dalam agama mereka bukanlah dari Ahli Kitab”

Al Ustadz Al ‘Allamah Asy Syaikhul Muhaqqiqin, Thohir bin Sholih Al Jazairi dalam kitabnya, Al Jawahirul Kalamiyah fiddla-hil Aqidatil Islamiyah: 18–20 mengata-kan sebagai berikut:

إِعْتِقَادُاْلعُلَمَاءِ الَأعْلَامِ أَنَّ التَّوْرَاةَ اْلمَوْجُوْدَةَ اْلآن قَدْ لَحِقَهَا التَّعْرِيْفُ وَمِماَّ يَدُلُّ عَلىَ ذَلِكَ أَنَّهُ لَيْسَ فِيْهَا ذِكْر ُاْلجَنَّةِ وَالنَّارِ وَحَالِ اْلبَعْثِ وَالْحَشْرِ وَالْجَزَاءِ مَعَ أَنَّ ذَلِكَ أَهَمُّ مَايُذْكَرُ فِى كُتُبِ الِألَهِيَّةِ , وَمِمَّا يَدُلُّ أَيْضًا عَلَى كَوْنِهَا مُحَرَّفْةً ذِكْرُوَفَاةِ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامْ فِيْهَا فِى اْلبَابِ الأخِيْرِمِنْهَا وَاْلحَالُ أَنَّهُ هُوَالَّذِىْ أُنْزَلَتْ عَلَيْهِ (جواهر الكلا مية : 18-20).

Keyakinan para ulama terkemuka bahwa Taurat yang ada sekarang ini sesung-guhnya ialah terdapat padanya perubahan perubahan. Sebagian daripada yang menun-jukkan atas perubahan itu bahwa tidak ada dikatakan sebutan sorga, neraka, hari ba’ats, mahsyar dan hari pembalasan. Padahal soal-soal tersebut adalah termasuk perkara yang amat penting dalam kitab-kitab Ketuhanan (Kutubul Ilahiyah). Dan setengah apa yang menunjuki perubahan pula, ialah ada sebutan tentang wafatnya Nabiyullah Musa as. pada bab akhir dari padanya, padahal beliau itulah yang diturunkan Taurat kepadanya.

Selanjutnya beliau mengatakan:

إ إِعْتِقَادُ اْلعُلَمَاءِ الَأعْلَامِ أَنَّ اْلِأنْجِيْلَ اْلمُتَدَاوِلَ اْلآنَ لَهُ أَرْبَعُ نُسَخٍ أَلَّفَهَا أَرْبَعَةٌ بَعْضُهُمْ لمَ ْيَرَ اْلمَسِيْحَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَصْلًاوَهُمْ: مَتَّى وَمَرْقَصُ وَلُوْقَا وَيُوْحَنَا. وَإِنْجِيْلُ كُلٍّ مِنْ هَؤُلَاءِ مُتَناَقِصٌ لِلْآخِرِ فِى كَثِيٍْر مِنَ اْلمَطَالِبِ. وَقَدْ كَانَ لِلنَّصَارَى أَنَاجِيْلُ كَثِيْرَةٌ غَيْرَ هَذِهِ اْلَارْبَعَةِ لَكِنْ بَعْدَ رَفْعِ سَيٍّدِنَا عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ إِلَى السَّمَاءِ بِأَكْثَرَمِنْ مَائَتَىْ سَنَةٍ عَوَّلُوْا عَلَى إِلْغَائِهَا مَا عَدَا هَذِهِ اْلأَرْبَعَةَ تَحَلُّصًا مِنْ كَثْرَةِ التَّنَاقُسِ وَتَمَلُّصًا مِنْ وَفْرَةِ التَّضَادِّ وَالتَّعَارُضِ (جواهر الكلا مية : 18-20).

“Kepercayaan para ulama terkemuka, bahwa Injil yang beredar sekarang ini, adalah empat naskah yang dikarang oleh empat orang, yang sebagian dari mereka belum pernah melihat Almasih as. sama sekali. Mereka itu adalah Matta, Markus, Lukas dan Johannus, dan Injil, tiap-tiap orang dari me-reka itu bertentangan ini yang satu dengan lainnya pada kebanyakan dari fasalnya. Sesu-ngguhnya bagi Nasoro itu masih banyak kitab selain yang empat ini, tetapi setelah lebih dua ratus tahun diangkatnya Sayyidina ‘Isa as. ke lang, mereka membuat suatu keputusan untuk menghapuskan semua itu, terkecuali empat buah kitab ini saja untuk membebaskan diri dari banyak perlawanan satu sama lain dan pertentangan.”

Memperhatikan uraian para ulama di atas, maka berarti orang-orang Nasroni dan yahudi keturunan ajam adalah bukan Nas-roni dan Yahudi asli, sehingga mereka tidak tergolong dalam kafir kitabi (Ahlul Kitab) tetapi termasuk dalam kafir musyrik (orang kafir yang menyekutukan Tuhan).Oleh sebab itu binatang halal yang secara jelas disem-belih oleh orang kafir musyrik, hukumnya binatang itu tidak halal.

Syarat Binatang Yang Disembelih

Selanjutnya rukun ke tiga dalam rukun rukun menyembelih ialah, binatang yang akan disembelih. Dan rukun ini mempunyai syarat-syarat tertentu, yaitu:

  1. Binatang yang akan disembelih harus jenis binatang yang halal dimakan
  2. Dan binatang itu dalam keadaan hayat mustaqirah, atau hidup yang pasti. Bukan hayat madzbuh, atau hidup yang kritis menjelang mati karena suatu sebab dan binatang tersebut tidak halal dimakan ka-rena termasuk bangkai.

Syarat Peralatan Menyembelih

Rukun menyembelih yang terakhir ialah perabot atau alat yang digunakan untuk menyembelih binatang halal. Perabot alat penyembelih itu disyaratkan, setiap sesuatu benda tajam yang bisa untuk menyembelih selain tiga macam, yaitu:

  1. Gigi, ialah jenis tulang yang letaknya di dalam mulut, yang berfungsi sebagai alat penggigit, pengunyah dan lainnya.
  2. Kuku, ialah benda keras dan tajam, letak-nya berada di jari-jari tangan atau jari-jari kaki, dan
  3. Tulang (balung) manusia atau binatang, ialah suatu benda keras dan tajam berada di dalam daging dan kulit, berfungsi seba-gai penyangga dan lainnya. Ketiganya ini tidak dapat digunakan untuk menyembe-lih binatang halal.

Masih termasuk benda yang tidak dapat digunakan untuk menyembelih ialah, mi-mis, patrum atau pelor bedil, sebab benda tersebut termasuk bagian dari salah satu tiga perkara di atas. Atau seperti hukum binatang mati dipukul. Maka binatang ha-lal yang disembelih dengan salah satu tiga macam benda alat tersebut di atas, hukumnya tidak halal, karena binatang tersebut termasuk dalam istilah Al Qur’-an, al maitatu, atau bangkai yang di telah di haramkan.(zid)

diambil dari : Buku Tarjamah Kitab Tazkiyah & Beberapa Keterangan Penting

Oleh : KH. AHMAD SYADZIRIN AMIN

2 Comments on Rukun & Syarat Menyembelih Binatang

  1. Assallamualaikum wr.wb
    nama saya marsiti
    Saya mau bertanya ,ketika kita pergi kepasar dan ingin membeli ayam ,,,, akan tetapi yang menjual adalah orang cina ,,,,bagaimanakah yang saya lakun membeli ataupun tidak ? terimakasih

  2. danu hidayatullah // 13 October 2013 at 7:13 pm // Reply

    yang benar jawabannya dong . . . ?

Leave a comment

Your email address will not be published.

*