Shaum Ramadhan Dan Relefansinya Terhadap Kesehatan

Hosting Unlimited Indonesia


Tanbihun – Apabila membicarakan masalah ibadah, semakin maju teknologi, maka semakin terungkap rahasia-rahasia menakjubkan yang terkandung dalam ibadah tersebut, tak terkecuali puasa. Allah tidak akan memerintahkan apapun yang akan memberatkan makhluk-Nya, melainkan perintah yang mudah dan banyak mengandung mutiara-mutiara terpendam di dalamnya, seperti yang temaktub di dalam firman-Nya:

Artinya: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Dibawah ini kami akan mencoba membahas puasa, waktu diwajibkannya, dan anjuran untuk besahur , serta sedikit membahas tentang relevansi dan mutiara-mutiara terpendam dalam ibadah ini. Walaupun kami berusaha menyusun makalah ini dengan baik, pastilah memiliki kekurangan, karena tak ada yang sempurna di dunia ini melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semoga makalah ini bermanfaat.

 

PEMBAHASAN

A. Ma’na Puasa

Puasa (Shouman, Shiyaaman ) adalah isim mashdar dari bentuk fi’il Shooma Yashuumu [1].Sedangkan secara lughah puasa adalah menahan diri. Dan secara istilah puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya dari mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari, karena perintah Allah, dengan disertai niat dan syarat-syarat tertentu[2]. Tetapi puasa tidak semata-mata hanya menahan makan, minum, seks, dan hal-hal yang membatalkan, namun juga diikuti dengan memelihara adab-adab puasa. Menghindari dosa. Menghindari hal-hal yang tidak pantas meski tidak membatalkan puasa. Anggota tubuh yang turut berpuasa tidak hanya perut dan kemaluannya, tetapi mata, telinga, hati, tangan, dan kaki juga harus turut serta beraktivitas menahan diri. Jika demikian, maka diampuninya dosa yang telah lalu merupakan nilai kebahagian tersendiri[3].

Asal diwajibkannya puasa adalah firman Allah dalam Al-quran:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqoroh 183)

Puasa mulai diwajibkan pada tahun kedua hijriyah[4], yaitu pada bulan Sya’ban saat diturunkannya ayat puasa diatas. Pada bulan Ramadhan tahun kedua Hijriyah itu, Rasulullah Salalluhu ‘Alaihi Wasallam bersama kaum Muslimin generasi pertama melakukan puasa perdana[5]. Sedangkan pada permulaan Islam, puasa dilakukan tiga hari dalam setiap bulan. Kemudian pelaksanaan itu dinasakh oleh puasa pada bulan Ramadhan[6].

B. Waktu Diwajibkan Puasa

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَاقَال َسَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ:

( إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya: “ Dari Ibnu Umar r.a, dia berkata, saya pernah mendengar Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Apabila kamu semua sudah melihat bulan, maka berpuasalah, dan apabila kamu melihat bulan, maka berbukalah. Apabila mendung bagi kamu, maka hitunglah (kira-kirakanlah). (Muttafaq Alaihi).

 

Hadits diatas menjadi dalil bahwa diwajibkannya puasa setelah melihat hilal dan menunjukkan kewajiban berbuka setelah melihat bulan pada awal bulan Syawal. Tetapi apabila cuaca mendung dan menutupi bulan, sehingga kita tidak dapat melihatnya, maka kita dapat menghitungnya dengan menyempurnakan bulan Sya’ban 30 hari. Seperti riwayat Muslim dari Ibnu Umar:

Artinya: “Apabila mendung atas kamu, maka kira-kirakanlah bulan itu 30 hari”

Dalam kitab Al-iqna’ puasa itu wajib karena salah satu dari dua perkara, yang pertama dengan menyempurnakan bulan Sya’ban dengan 30 hari, atau dengan melihat hilal pada malam ketiga puluh pada bulan Sya’ban.

غُمَّ : mendung

C. Anjuran Bersahur

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي اَلسَّحُورِ بَرَكَةً ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya : “ Dari Anas bin Malik r.a, dia berkata, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: makan sahurlah kamu semua, karna dalam makan sahur itu ada berkahnya.” (Muttafaq Alaih).

 

Ibnul Mundzir mengutip ijma’ Ulama yang menyatakan bahwa sahur itu hukumnya sunnah. Makan sahur itu akan menambah kuat semangat beribadah dan menambah rajin, dan aktif.

D. Relefansi

Puasa yang kita jalani selama ini, ternyata memiliki rahasia yang menakjubkan. Disamping memiliki dampak kesehatan psikis, puasa juga menumbuhkan kesehatan fisik. Menurut WHO, kesehatan psikis manusia dapat dirumuskan dengan delapan syarat, yaitu dapat disesuaikan pada kenyataan secara konstruktif meskipun kenyataan itu buruk, dapat memperoleh kepuasan dari perjuangan, merasa lebih puas memberi daripada menerima, bebas dari rasa tegang dan cemas, dapat berhubungan dengan lingkungan secara tolong menolong dan saling memuaskan, dapat menerima kekecewaan untuk dipakai sebagai pelajaran di hari depan, dapat menjuruskan rasa permusuhan pada penyelesaian secara kreatif dan konstruktif , dan memiliki kasih sayang yang besar disamping mempunyai keinginan untuk disayangi. Rumusan kesehatan psikis ini bisa terpenuhi dengan puasa yang dilakukan secara baik.

 

Seperti yang sudah kami sebutkan diatas, puasa juga memiliki dampak kesehatan psikis. Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Artinya: “Puasalah kamu, maka kamu akan sehat”. ( sanadnya Dhoif )

 

Puasa dapat mengistirahatkan mesin pencernaan. Seorang dokter utusan Raja Mesir untuk Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam sudah bermukim beberapa lama di Madinah, tetapi karena tidak satupun orang yang berobat kepadsanya, maka ia minta izin kepada Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam untuk pulang, sebelum pergi, dokter itu mengungkapkan kekagumannya dan bertanya, “ Tuan, izinkan kami mengethui rahasia apa yang menyebabkan tidak seorangpun yang mengeluh sakit di sini?”, maka Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “ Kami kaum yang tidak makan, sehingga merasa lapar, dan bila makan kami tak sampai kenyang[7].” ( Belakangan kami ketahui bahwa itu bukan hadits Nabi )

 

Para Ulama Muslim dan para pakar kesehatan menyatakan bahwa sumber dari berbagai penyakit yang sulit diobati adalah memasukkan makanan diatas makanan. Artinya, makanan yang belum tercerna dengan baik di lambung, sudah dimasukkan lagi makanan berikutnya dan seterusnya. Sehingga mesin pencernaan terus bekerja tanpa ada waktu istirahat.

 

Selain itu, puasa juga dapat meningkatkan daya serap makanan, menyeimbangkan kadar asam dan Basa dalam tubuh, meningkatkan fungsi organ reproduksi, meremajakan sel-sel tubuh, membuat kulit lebih sehat dan berseri, meningkatkan daya tahan tubuh (Menambah jumlah sel darah putih dan memblokir bakteri, virus dan sel kanker), memperbaiki sistem hormon, dan lainnya.

 

Rasulullah Salallahu ‘Aalaihi Wasallam menganjurkan kita untuk bersahur, anjuran bersahur ini memiliki makna bahwa puasa perlu persiapan agar mendapatkan tenaga yang prima selama berpuasa. Dengan bersahun, kita akan bangun lebih pagi dan mendapatkan udara yang dibutuhkan oleh tubuh, disamping makanan dan zat cair, tubuh juga memerlukan zat asam, zat asam ini dapat diperoleh dengan menghirup udara segar.

PENUTUP

Demikianlah pembahasan sederhana dari kami, mudah-mudahan bermanfaat, walaupun banyak hikmah yang terkandung dalam berpuasa, tetaplah meniatkan ibadah ini hanya untuk Allah, sedangkan hikmah yang terkandung hanya kita jadikan sebagai motivasi untuk selalu beribadah kepada-Nya.

 

 

 

 

 


[1] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2002), p. 763.

[2] Moh Rifa’I, Ilmu Fiqih Islam Lengkap, (Semarang: CV. Toha Putra, 1978), p. 322.

[3] Ahmad Syarifuddin, Puasa Menuju Sehat Fisik dan Psikis, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004), p. 83.

[4] Abu Bakar Muhammad, Terjemahan Subulussalam, (Malang: Al-ikhlash, 1991), p. 591.

[5] Ahmad Syarifuddin, Op. Cit. p. 43-44.

[6] Muhammad nashib Ar-rifa’i, Ringkasan Tafsir Ibn Katsir, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), p. 287.

[7] Hadits Riwayat Abu Daud

1 Trackbacks & Pingbacks

  1. Shaum Ramadhan | PPI 148 Khalid Bin Walid

Leave a comment

Your email address will not be published.

*